Anda di halaman 1dari 6

Fisiografi Regional Gorontalo

Secara fisiografis, Gorontalo berada di bagian tengah Lengan Utara Sulawesi. Gorontalo dibagi ke dalam empat zona fisiografis utama, yaitu Zona Pegunungan Utara, Zona Depresi Limboto, Zona Pegunungan Selatan, Zona Perbukitan Bergelombang dan Zona Dataran Pantai (Bemmelen, 1949).

Lokasi penelitian
Lokasi penelitian

Peta Pembagian Zona Fisiografi Gorontalo

Zona Pegunungan Utara umumnya terdiri dari formasi-formasi batuan gunung api Tersier dan batuan plutonik. Zona ini dicirikan dengan pegunungan berlereng terjal dengan beberapa puncaknya antara lain Gunung Tentolomatinan (2207 m), Gunung Pentolo (2051 m), dan Gunung Boliohuto (2065 m).

Zona kedua merupakan cekungan di tengah-tengah Provinsi Gorontalo, yaitu Median Depression. Cekungan ini dibentuk oleh Sungai Paguat, Sungai Randangan, Sungai Paguyaman, Danau Limboto, Sungai Bone, Sungai Ongkang Dumoga. Depresi memanjang ini disebut sebagai Zona Limboto.

Zona Pegunungan Selatan umumnya terdiri dari formasi-formasi batuan sedimenter gunung api berumur sangat tua di Gorontalo, yaitu Eosen Oligosen (kira-kira 50 juta hingga 30 juta tahun yang lalu) dan intrusi-intrusi diorit,

granodiorit, dan granit berumur Pliosen. Zona ini terbentang dari Bone Bolango, Bone Pantai, Tilamuta, dan Gunung Pani.

Zona Perbukitan Bergelombang terutama dijumpai di daerah selatan dan di sekitar Tolotio. Satuan ini umumnya menunjukan bentuk puncak membulat dengan lereng relativ landai dan berjulang kurang dari 200 m. Zona ini ditempati oleh batuan gunungapi dan batuan sedimen berumur Tersier hingga Kuarter.

Zona terakhir adalah zona yang relatif terbatas di Dataran Pantai Pohuwato. Dataran yang terbentang dari Marisa di timur hingga Torosiaje dan perbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah di barat, merupakan aluvial pantai yang sebagain besar tadinya merupakan daerah rawa dan zona pasang-surut.

Dengan demikian, lokasi penelitian berada di Zona Pegunungan Selatan.

Stratigrafi Regional Daerah Penelitian

Tatanan stratigrafi regional daerah penelitian merujuk pada Apandi dan Bachri (1997). Jika disusun dari tua ke muda (gambar 2.3), urut-urutannya yaitu:

Batuan Gunungapi Bilungala, Diorit Bone, Batuan Gunungapi Pinogu, Batugamping Terumbu.

Batuan Gunungapi Bilungala

Satuan ini terdiri dari breksi, tuf, dan lava bersusunan andesit, dasit dan riolit. Zeolite dan kalsit sering dijumpai pada kepingan batuan penyusun breksi. Tuf umumnya bersifat dasitan, agak kompak dan berlapis buruk di beberapa tempat. Di daerah pantai selatan dekat Bilungala, satuan ini dikuasi oleh lava dan breksi yang umumnya bersusunan dasit, dan dicirikan oleh warna alterasi kuning sampai cokelat, mineralisasi pirit, perekahan yang intensif, serta banyak dijumai batuan terobosan diorit. Propilitisasi, kloritisasi, dan epidotisasi banyak dijumpai pada lava. Tebal

satuan diperkirakan lebih dari 1000 meter, sedangkan umurnya berdasarkan kandungan fosil dalam sisipan batugamping adalah Miosen Bawah Miosen Akhir.

Diorit Bone

Satuan ini terdiri dari diorit kuarsa, diorit, granodiorit, dan granit. Diorit kuarsa banyak dijumpai di daerah Sungai Taludaa, dengan keragaman diorit, granodiorit dan granit. Sedangkan granit banyak dijumpai di daerah Sungai Bone. Satuan ini menerobos Batuan Gunungapi Bilungala maupun Formasi Tinombo. Umur satuan ini sekitar Miosen Akhir.

Batuan Gunungapi Pinogu

Formasi ini terdiri dari produk vulkanik yaitu tuf, tuf lapilli, breksi dan lava. Breksi gunungapi di Pegunungan Bone, Mongadalia dan Pusian bersusunan andesit piroksin dan dasit. Tuf yang tersingkap di G. Lemibut dan G. Lolombulan umumnya berbatuapung, kuning muda, berbutir sedang sampai kasar, diselingi oleh lava bersusunan menengah sampai basa. Tuf dan tuf lapilli di sekitar Sungai Bone bersusunan dasitan. Lava berwarna kelabu muda hingga kelabu tua, pejal, umunya bersusunan andesit piroksin. Satuan ini secara umum termampatkan lemah sampai sedang, umumnya diduga berumur Pliosen Plistosen (John dan Bird, 1973 dalam Apandi dan Bachri, 1997).

Batugamping Terumbu

Satuan ini tersusun dari batugamping terumbu terangkat dan batugamping klastik dengan komponen utama koral, setempat berlapis, terutama dijumpai di daerah pantai selatan dan utara, Gorontalo. Satuan ini berumur Holosen.

Endapan Danau

Satuan ini terdiri dari batulempung kelabu, setempat mengandung sisa tumbuhan dan lignit. Batu pasir berbutir halus sampai kasar serta kerikil dijumpai di beberapa tempat. Satuan ini termampatkan lemah.

Aluvium dan Endapan Pantai

Satuan yang berumur Holosen Resen ini terdiri dari material-metarial yang belum terkonsolidasikan seperti; pasir, lempung, lumpur, kerikil dan kerakal.

seperti; pasir, lempung, lumpur, kerikil dan kerakal. Peta Geologi dan Kolom Stratigrafi Regional Daerah

Peta Geologi dan Kolom Stratigrafi Regional Daerah Penelitian (Apandi dan Bachri, 1997)

Struktur Geologi dan Tektonik Regional Lengan Utara Sulawesi

Pulau Sulawesi dan sekitarnya, khususnya Sulawesi bagian utara merupakan salah satu margin aktif yang paling rumit dalam jangka waktu geologi, struktur dan juga tektonik. Wilayah ini merupakan pusat pertemuan tiga lempeng konvergen, karena interaksi tiga kerak bumi utama (lempeng) di masa Neogen (Simandjuntak, 1992). Konvergensi ini menimbulkan pengembangan semua jenis struktur di semua skala, termasuk subduksi dan zona tumbukan, sesar dan thrust. Saat ini sebagian besar struktur Neogen dan beberapa struktur pra-Neogen masih tetap aktif atau aktif kembali. Struktur utama termasuk Subduksi Sulawesi Utara (North Sulawesi Trench / Minahasa Trench), Sesar Gorontalo, Sulu Thrust, dan tumbukan ganda laut Maluku (Molluca sea collition) seperti ditampilkan dalam gambar 2.23.

( Molluca sea collition ) seperti ditampilkan dalam gambar 2.23. Peta Tektonik Pulau Sulawesi (Hall and

Peta Tektonik Pulau Sulawesi (Hall and Wilson, 2000)

Zona Subduksi Sulawesi Utara

Subduksi Sulawesi Utara (North Sulawesi Trench) diinterpretasikan merupakan zona subduksi konvergen antara Laut Sulawesi dan Lengan Utara Sulawesi. Zona subduksi Sulawesi Utara termasuk kedalam sistim penunjaman yang relatif tua (dying subduction) yang robekannya berkembang ke arah timur sepanjang tepian utara Sulawesi. Penunjaman Sulawesi Utara menyusup dengan sudut kemiringan sekitar 14º dan benioff zone menunjam sampai kedalaman 170-180 km, dengan sudut kemiringan sekitar 45º. Magnitudo maksimum (Mmax) gempa bumi di zona Subduksi Sulawesi Utara mencapai 8,0 dengan periode ulang gempa bumi sekitar 234 tahun (Kertapati, 2006).

Sesar Gorontalo

Pada bagian utara Pulau Sulawesi, secara morfologi akan terlihat kenampakan empat segmen sesar (Hall and Wilson, 2000). Bagian tengah dari utara Pulau Sulawesi terbagi kedalam tiga block yang kecil. Pada bagian timur dari lengan utara Pulau Sulawesi diberi nama Block Manado, yang bebas dari pengaruh North Sula Block. Sehingga secara geologi jelas terlihat pemisahan yang diakibatkan adanya Sesar Gorontalo.

Bachri, dkk., (1989) menerangkan bahwa sesar Gorontalo yang memanjang dari arah barat laut ke tenggara yaitu mulai dari Laut Sulawesi melewati Gorontalo hingga perairan Teluk Tomoni. Sesar normal yang terdapat di Gunung Boliohuto menunjukan pola memancar, sedang sesar jurus mendatar umumnya bersifat menganan (right lateral slip fault). Sesar tersebut memotong batuan berumur tua (Formasi Tinombo) hingga batuan yang berumur muda (Batugamping Klastik).

Struktur lipatan hanya terdapat setempat, terutama pada Formasi Dolokapa dan Formasi Lokodidi, dengan sumbu lipatan secara umum berarah Barat-Timur. Kelurusan banyak terdapat di daerah ini dengan arah yang sangat beragam.