Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Coal Bed Methane (CBM) adalah gas metana alami (CH4) pada lapisan batubara.
Hal ini disebut juga sebagai Coal Seam Methane (CSM), dan Batubara Seam Gas
(CSG). Methane yang terkait dengan operasi penambangan batubara disebut Coal
Mine Methane (CMM). Methane telah lama dianggap sebagai masalah utama di
bidang pertambangan batubara bawah tanah tetapi sekarang CBM diakui sebagai
sumber daya yang berharga.Metana ini biasanya dicampur dengan karbon dioksida,
hidrokarbon lain dan nitrogen.
Meskipun keberadaan metana telah dikenal sejak pertambangan batubara mulai,
produksi komersial yang terpisah dari CBM merupakan langkah yang relatif baru.
Hal ini dimulai di Amerika Serikat pada tahun 1970-an, dan eksplorasi CBM di
Australia dimulai pada tahun 1976 di Queensland Bowen Basin ketika Houston
Minyak dan Mineral Australia Incorporated dua sumur bor berhasil. Pada bulan
Februari 1996, CMM operasi komersial pertama di tambang Moura dalam proyek
drainase metana Queensland (kemudian dimiliki oleh Mitsui BHP Coal Pty Ltd).Pada
tahun yang sama di Appin dan Tower tambang bawah tanah (kemudian dimiliki oleh
BHP Pty Ltd) operasi CMM digunakan untuk bahan bakar generator set situs-on (gas
dipecat pembangkit listrik). Yang pertama berdiri sendiri produksi komersial dari
CBM di Australia dimulai pada bulan Desember 1996 di proyek Valley Dawson
(kemudian dimiliki oleh Conoco), berdampingan dengan tambang batubara Moura.
I.2. Maksud dan Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu dapat mengetahui konsep dasar
dari gas metana pada lapisan batubara dan proses terbentuknya gas metana di lapisan
batubara.

I.3. Rumusan Masalah


Adapun ruang lingkup masalah yang akan dibahas pada makalah ini sebagai berikut:
1.

Apa itu gas metana batubara/CBM?

2.

Bagaimana konsep dasar gas metana batubara/CBM?

3.

Bagaimana proses terbentuknya gas metana batubara/CBM di lapisan batubara?

BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Gas Metana Batubara/Coal Bed Methane (CBM)
Gas Metana Batubara (Coal Bed Methane) adalah gas bumi (hidrokarbon) di
mana gas metana merupakan komponen utamanya yang terjadi secara alamiah dalam
proses pembentukan batubara dalam kondisi terperangkap dan terserap (terabsorbsi)
di dalam batubara atau pada lapisan batubara.
Menurut wikipedia Gas metana batubara adalah bentuk gas alam yang diekstraksi
dari hamparan batubara di dalam bumi. Keberadaan gas ini sudah dikenal dalam
penambangan batubara bawah tanah yang sering menimbulkan ledakan kebakaran
yang membahayakan. Istilah CBM mengacu kepada gas methane yang teradsorpsi
dalam pori-pori batubara padat (matrix), tidak seperti reservoir gas bumi
konvensional. Gas methana yang terjebak di antara pori-pori batubara dalam fasa
mendekati cair, yang terdiri dari hidrokarbon ringan seperti propana dan butana.Gas
dalam batubara merupakan gas alam yang terjadi pada lapisan batubara, berada di
dalam mikropori batubara dalam bentuk terkondensasi karena serapan fisika dari
batubara. Gas ini berbeda dengan gas alam konvensional yang terjadi karena imigrasi
ke lapisan reservoir.
Gas metana batubara adalah gas metana (CH4) yang dihasilkan dari proses alami
yang terjadi selama proses pembatubaraan. Sisa-sisa tumbuhan yang mati akan
membentuk suatu lapisan dan terawetkan melalui proses biokimia.Gas dalam
batubara akan terbentuk secara biogenic akibat dekomposisi oleh mikroorganisme
lalu menghasilkan gas metana dan CO2.Selama proses pembentukan batubara,
sejumlah air dihasilkan bersama-sama dengan gas.
Pada tahap pembatubaraan yang lebih tinggi, tekanan dan temperature juga
semakin tinggi. Batubara yang kaya akan kandungan karbon, akan melepaskan
kandungan zat terbangnya (volatile matter) seperti metana, CO2, dan air. Pada kondisi
ini gas dalam batubara akan terbentuk secara termogenik.

Ada pula gas metana biogenic, yaitu gas metana yang terbentuk akibat aktivitas
mikroorganisme yang biasanya terjadi di rawa gambut. Gas jenis ini terbentuk pada
fasa awal proses pembatubaraan dengan temperature rendah. Gas biogenic dapat
terjadi pada dua tahap, yaitu tahap awal dan tahap akhir dari proses pembatubaraan.
Pembentukan gas pada tahap awal diakibatkan oleh aktivitas organisme pada tahap
awal pembentukan batubara, dan gambut, lignit, hingga subbituminous (Ro < 0,5%).
Pembentukan gas ini harus disertai dengan proses pengendepan yang cepat, sehingga
gas tidak keluar ke permukaan.
Pembentukan gas pada tahap akhir diakibatkan oleh aktivitas mikroorganisme
juga, tetapi pada tahap ini lapisan batubara telah terbentuk. Batubara umumnya juga
berperan sebagai akuifer yang dapat menyimpan dan mengalirkan air, sehingga
aktivitas mikroorganisme dalam akuifer dapat memproduksi gas biogenic. Gas
bigenik dari lapisan batubara subbituminous juga berpotensi menjadi gas metana
batubara. Gas biogenic tersebut terjadi oleh adanya reduksi bakteri dari CO 2, yang
menghasilkan metanogen, bakteri anaerobic yang kuat. Metanogen menggunakan H 2
yang tersedia untuk mengkonversi asetat dan CO2 menjadi metana sebagai produk
sampingan (by product) metabolismenya. Beberapa metanogen juga membuat amina,
sulfide, dan methanol untuk memproduksi metana.
CBM merupakan gas yang terjebak pada pori-pori lapisan batubara. CBM
banyak ditemukan di area pertambangan batubara atau pertambangan migas yang
terdapat lapisan batubara. Sebagai sumber energi alternatif yang berpotensi
dikembangkan di masa mendatang, sumber daya CBM di Indonesia telah
teridentifikasi terkandung di dalam 11 cekungan sedimen (basin) yang tersebar di
pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.
II.2. Konsep Dasar Gas Metana Batubara/Coal Bed Methane (CBM)
Batubara memiliki kemampuan menyimpan gas dalam jumlah yang banyak,
karena permukaannya mempunyai kemampuan mengadsorpsi gas. Meskipun
batubara berupa benda padat dan terlihat seperti batu yang keras, tapi di dalamnya

banyak sekali terdapat pori-pori yang berukuran lebih kecil dari skala mikron,
sehingga batubara ibarat sebuah spon. Kondisi inilah yang menyebabkan permukaan
batubara menjadi sedemikian luas sehingga mampu menyerap gas dalam jumlah yang
besar. Jika tekanan gas semakin tinggi, maka kemampuan batubara untuk
mengadsorpsi gas juga semakin besar.
Gas yang terperangkap pada batubara sebagian besar terdiri dari gas metana,
sehingga secara umum gas ini disebut dengan Coal Bed Methane atau disingkat
CBM. Dalam klasifikasi energi, CBM termasuk unconventional energy, bersamasama dengan tight sand gas, devonian shale gas, dan gas hydrate. High quality gas
dan low quality gas dianggap sebagai conventional gas.
Karakteristik gas metana batubara dipengaruhi beberapa parameter, seperti
lingkungan pengendapan, distribusi batubara, peringkat batubara, kandungan gas,
permeabilitas, porositas, struktur geologi, dan kondisi hidrologi. Gas metana bukan
satu-satunya gas yang terdapat dalam batubara, tetapi gas ini dapat mencapai 80-95%
dari total gas yang ada. Berbagai tipe batubara memiliki tingkat penyerapan gas yang
berbeda. Kapasitas penyerapan batubara meningkat seiring dengan meningkatnya
peringkat batubara, mulai dari lignit hingga bituminous, kemudian menurun pada
batubara bituminus tingkat tinggi hingga antrasit.
Gas metana batubara terdapat dalam dua bentuk, yaitu terserap (adsorbed) dan
bebas. Gas dapat tersimpan dalam mikropori batubara karena batubara mempunyai
kapasitas serap (adsorption). Besar kecilnya kapasitas serap di dalam batubara
dipengaruhi oleh beberapa factor, seperti tekanan, temperature, kandungan mineral,
kandungan air, peringkat batubara, dan komposisi maseral batubara. Makin besar
tekanan, kapasitas serapan juga semakin besar. Sewaktu mendekati batas jenuh,
kecepatan serapnya semakin berkurang. Apabila tekanan berkurang maka hal itu akan
memperbesar pelepasan gas (desorption). Oleh karena itu, dengan meningkatnya
kedalaman, kandungan gas dalam batubara akan makin besar.

Gambar 1. Perbandingan antara gas metana yang dapat dihasilkan dengan kedalaman
dan peringkat batubara (Kim, 1977 dalam presentasi Saghafi, 2009)
Kelimpahan kandungan gas dalam batubara juga dipengaruhi oleh komposisi
maseral dalam batubara, yaitu mineral khas batubara. Potensi pembentukan gas
metana secara langsung akan berkaitan dengan komposisi maseral. Maseral yang
mengandung banyak hydrogen akan lebih banyak menghasilkan gas metana.
Batubara yang kaya akan inertinit tidak akan menghasilkan metana yang banyak
karena inertinit relative berpotensi kecil untuk menghasilkan hidrokarbon. Maseral
inertinit dalam hamper semua batubara tidak cocok untuk proses hidrogenisasi karena
kandungan hydrogen yang rendah. Namun, maseral liptinit akan paling banyak
menghasilkan gas metana. Maseral liptinit cocok untuk proses hidrogenisasi karena
liptinit mempunyai kandungan hydrogen yang paling tinggi, disusul dengan maseral
vitrinit yang terdapat dalam batubara peringkat rendah dapat dengan mudah
terhidrogenisasi.

Gambar 2. Komposisi kimia maseral dalam diagram Van Krevelen (Pinetown, 2009)

Gas metana batubara pada dasarnya hanya akan terikat pada fraksi organic dari
batubara. Dalam batubara terdapat pengotor dalam berbagai bentuk yang biasanya
disebut unsur mineral, atau dalam analisis kimia dicerminkan oleh kandungan abu
dan sulfurnya. Dalam hal ini unsur mineral tersebut menepati ruang yang seharusnya
dapat dipakai untuk menempelnya gas dalam mikropori batubara. Makin tinggi
kandungan unsur mineral, semakin kecil kapasitas serapan gasnya. Pada prinsipnya
kandungan air (moisture) dalam batubara mempunyai sifat yang sama dengan unsur
mineral dalam kaitannya dengan kapasitas serapan gas dalam batubara. Makin tinggi
kandungan air dalam batubara, semakin kecil kapasitas serap gasnya.
II.3. Proses Terbentuknya Gas Metana Batubara di Lapisan Batubara
CBM (Coal Bed Methane) adalah gas metana yang dihasilkan selama proses
pembatubaraan dan (tetap) terperangkap dalam batubara. Gas tersebut dapat terbentuk
secara biogenic maupun thermogenic (dalam eksplorasi cbm yang dicari adalah
thermogenic). Ciri fisiknya gas ini: tak berwarna, tidak berbau, tidak beracun.
Batubara adalah batuan yang kaya karbon berasal dari bahan tumbuhan (gambut)
yang terakumulasi di rawa-rawa dan kemudian terkubur bersamaan dengan terjadinya
proses-proses geologi yang terjadi. Dengan meningkatnya kedalaman penguburan,
bahan tanaman mengalami pembatubaraan dengan kompaksi / pemampatan,
melepaskan zat fluida (air, karbon dioksida, hidrokarbon ringan, termasuk metana)
karena mulai berubah menjadi batubara. Dengan pembatubaraan dengan pendekatan
yang sedang berlangsung, batubara menjadi semakin diperkaya dengan karbon dan
terus mengusir zat terbang. Pembentukan metana dan hidrokarbon lain adalah hasil
dari pematangan termal pada bara, dan mulai di sekitar sub-bituminous untuk tahap
tinggi mengandung bitumen, dengan jumlah metan yang dihasilkan meningkat secara
signifikan.
Batubara dangkal memiliki peringkat rendah dan mungkin belum menghasilkan
metana dalam jumlah besar. Lebih dalam bara ini terkubur, maka akan mengalami

tingkat pematangan yang lebih besar. Sehingga pembatubaraan tinggi akan


menghasilkan kuantitas lebih banyak metan daripada batubara dangkal.
Mengenai pembentukan CBM, maka berdasarkan riset geosains organik dengan
menggunakan isotop stabil karbon bernomor massa 13,dapat diketahui bahwa
terdapat 2 jenis pola pembentukan.Sebagian besar CBM adalah gas yang terbentuk
ketika terjadi perubahan kimia pada batubara akibat pengaruh panas, yang
berlangsung di kedalaman tanah. Ini disebut dengan proses thermogenesis.
Thermogenic gas terbentuk secara alami melalui proses pembatubaraan (coalification
process) yang merubah humic organic material menjadi batubara. Gas tersebut
termasuk metana, CO2, dan bisa juga etana dan propane. Sedangkan untuk CBM
pada lapisan brown coal (lignit) yang terdapat di kedalaman kurang dari 200 m, gas
metana terbentuk oleh aktivitas mikroorganisme yang berada di lingkungan anaerob.
Ini disebut dengan proses biogenesis. Sedangkan biogenic gas sekunder terbentuk
pada masa geologi saat ini melalui mikroorganisme anaerobic yang terbawa dalam
system air bawah tanah yang aktif setelah proses pembatubaraan selesai. Baik
thermogenic maupun biogenic metana secara fisik diadsorpsi sebagai lapisan
monomolecular pada lapisan permukaan dari pori-pori di dalam matrix batubara. Baik
yang terbentuk secara thermogenesis maupun biogenesis, gas yang terperangkap
dalam lapisan batubara disebut dengan CBM.
Kuantitas CBM berkaitan erat dengan peringkat batubara, yang makin bertambah
kuantitasnya dari gambut hingga medium volatile bituminous, lalu berkurang hingga
antrasit. Tentu saja kuantitas gas akan semakin banyak jika lapisan batubaranya
semakin tebal.
Terkait potensi CBM ini, ada 2 hal yang menarik untuk diperhatikan:
Pertama, jika ada reservoir conventional gas (sandstone) dan reservoir CBM
(coal) pada kedalaman, tekanan, dan volume batuan yang sama, maka volume CBM
bisa mencapai 3 6 kali lebih banyak dari conventional gas. Dengan kata lain, CBM
menarik secara kuantitas. Kedua, prinsip terkandungnya CBM adalah adsorption pada
coal matrix, sehingga dari segi eksplorasi faktor keberhasilannya tinggi, karena CBM

bisa terdapat pada antiklin maupun sinklin. Secara mudahnya dapat dikatakan bahwa
ada batubara ada CBM.
Di dalam lapisan batubara banyak terdapat rekahan (cleat), yang terbentuk ketika
berlangsung proses pembatubaraan. Melalui rekahan itulah air dan gas mengalir di
dalam lapisan batubara. Adapun bagian pada batubara yang dikelilingi oleh rekahan
itu disebut dengan matriks (coal matrix), tempat dimana kebanyakan CBM menempel
pada pori-pori yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian, lapisan batubara pada
target eksplorasi CBM selain berperan sebagai reservoir, juga berperan sebagai source
rock.
Gas ini terbentuk secara alamiah bersamaan dengan proses pembentukkan batu
bara (coalification) dan peatifikasi (peatification). Dengan demikian reservoir CBM
memiliki batubara sebagai source rock sekaligus reservoir rocks. Gas yang terbentuk
ini sebagian besar terabsorpsi pada permukaan dari mikropori matrik batubara
sedangkan sisanya berada di rekahan lapisan batubara dan atau pada macropores ,
sebagai gas bebas.
Reservoir CBM juga memiliki ukuran pori-pori yang lebih kecil, yaitu berkisar
antara 1 micrometer hingga 1 milimeter. Gas methana yang berada di dalam rservoir
ini juga tersimpan tidak seperti gas alam pada umumnya, melainkan terabsorpsi pada
permukaan dalam dari micropori matrik batubara. Oleh karena itu , aliran gas yang
terjadi di dalam matrik batu bara merupakan aliran secara divusi dan berupa aliran
darcy di bagian rekahannya.
Reservoir CBM merupakan reservoir dengan dual porosity, yaitu rekahan
(fracture) dan matrik. Rekahan tersebut dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu face
cleats dan butt cleats. Face cleats diartikan sebagai rekahan yang panjang dan
berkesinambungan sepanjang batu bara. Sedangkan Butt cleats adalah rekahan yang
tidak berkelanjutan karena diputus oleh oleh Face cleats. Pada matrik barubara
terdapat pori-pori yang sangat kecil, sehingga disebut micropori yang berukuran satu
mickrometer sampai satu milimeter. Methana yang terbentuk saat peatification dan
coalification sebagian besar akan teradsorpsi pada permukaan dari micropori ini.

Sejak kondisi awal pembentukan, rekahan batubara dijenuhi oleh air dan sedikt
methana . Sehingga pada umumnya untuk menurunkan tekanan reservoir, biasanya
dilakukan dengan memproduksi air atau biasanya disebut dengan dewatering process
secara besar- besaran. Inilah yang biasanya yang harus dipertimbangkan pada saat
produksi methana akan dilakukan.

10

BAB III
PENUTUP
III.1. Kesimpulan
Coal Bed Methane (CBM) adalah gas metana alami (CH4) pada lapisan
batubara.Gas metana batubara adalah gas metana (CH4) yang dihasilkan dari proses
alami yang terjadi selama proses pembatubaraan. Sisa-sisa tumbuhan yang mati akan
membentuk suatu lapisan dan terawetkan melalui proses biokimia.Gas dalam
batubara akan terbentuk secara biogenic akibat dekomposisi oleh mikroorganisme
lalu menghasilkan gas metana dan CO2.Selama proses pembentukan batubara,
sejumlah air dihasilkan bersama-sama dengan gas.
Mengenai pembentukan CBM, maka berdasarkan riset geosains organik dengan
menggunakan isotop stabil karbon bernomor massa 13,dapat diketahui bahwa
terdapat 2 jenis pola pembentukan.Sebagian besar CBM adalah gas yang terbentuk
ketika terjadi perubahan kimia pada batubara akibat pengaruh panas, yang
berlangsung di kedalaman tanah. Ini disebut dengan proses thermogenesis.
Thermogenic gas terbentuk secara alami melalui proses pembatubaraan (coalification
process) yang merubah humic organic material menjadi batubara. Gas tersebut
termasuk metana, CO2, dan bisa juga etana dan propane.
III.2. Kritik dan Saran
Demikian Makalah yang kami buat,semoga dapat bermanfaat bagi
pembaca.Apabila ada saran dan kritik yang ingin disampaikan,silahkan sampaikan
kepada kami.Apabila ada terdapat kesalahan mohon dimaafkan dan dimaklumi.

11