Anda di halaman 1dari 14

Kata Pengantar

Puji syukur kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua,sehingga kami dapat menyelesaikan
tugas pembuatan makalah Pengelasan ini.
Kami tahu dalam era modern sekarang diperlukan SDM yang pintar dalam
praktek tanpa menguasai teorinya, karena seseorang dalam melaksanakan
pengerjaan harus memahami dalam teori dan prakteknya sehingga pembangunan
Negara menjadi lebih baik dan dapat disegani oleh Negara lainnya. Karena kami
tahu teori tanpa praktek itu adalah tidak akan bisa,dan praktek tanpa teori itu hal
ceroboh.
Dalam proses pembuatan makalah ini kami sangat berterima kasih kepada
pihak-pihak yang telah membantu kami,yang tak bisa kami ucapkan satupersatu.Dan pada kesempatan ini juga kami memohn maaf apabila dalam makalah
ini ada sebuah kesalahan ataupun hal yang menyinggung kami memohon maaf
yang sebesar-besarnya karena kesalahan itu tidak kami rencanakan
Makalah ini juga kami harapkan dapat membantu proses belajar
mengajar para insane yang berkecimpung di dunia pendidikan. Bila ada kritk dan
saran yang bersifat membangun dalam makalah ini bisa menghubungi kami.
Sekian, terima kasih.

Situbondo, Agustus 2014


Penyusun

Daftar Isi
Kata Pengantar...............................................................................................1
Daftar Isi........................................................................................................2
BAB I Pendahuluan
A.
B.
C.
D.

Latar belakang....................................................................................3
Masalah..............................................................................................3
Batasan Masalah................................................................................4
Tujuan................................................................................................4

BAB II Pembahasan
A.
B.
C.
D.
E.

Las Listrik..........................................................................................5
Perlengkapan Las Listrik...................................................................6
Teknik Dasar Pembentukan Busur.....................................................7
Memadamkan Busur Listrik..............................................................9
Jenis-Jenis Elektroda..........................................................................10

BAB III Penutup


A. Kesimpulan........................................................................................14
B. Saran..................................................................................................14

Daftar Pustaka................................................................................................15

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dengan semakin berkembangnya teknologi industri saat ini, tidak bisa
mengesampingkan pentingnya penggunaan logam sebagai komponen utama
produksi suatu barang, mulai dari kebutuhan yang paling sederhana seperti alatalat rumah tangga hingga konstruksi bangunan dan konstruksi permesinan. Hal ini
menyebabkan pemakaian bahan-bahan logam seperti besi cor, baja, aluminium
dan lainnya menjadi semakin meningkat. Sehingga dapat dikatakan tanpa
pemanfaatan logam, kemajuan peradaban manuasia tidak mungkin terjadi.
Dengan kemampuan akalnya, manusia mampu memanfaatkan logam sebagai alat
bantu kehidupannya yang sangat vital. Berbagai macam konstruksi mesin,
bangunan dan lainnya dapat tercipta dengan adanya logam. Logam tersebut
menimbulkan kebutuhan akan teknologi perakitan atau penyambungan. Salah satu
teknologi penyambungan tersebut adalah dengan pengelasan. Teknik
penyambungan logam sebenarnya terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu :
a. Penyambungan sementara (temporary joint), yaitu teknik
penyambungan logam yang dapat dilepas kembali.
b. Penyambungan tetap (permanen joint), yaitu teknik penyambungan
logam dengan cara mengubah struktur logam yang akan disambung
dengan penambahan logam pengisi. Termasuk dalam kelompok ini
adalah solder, brazing dan pengelasan. Dari teknik tersebut dijadikan
sebagai dasar dibentuknya benda-benda logam seperti yang dimaksud
pada uraian diatas. Dalam hal ini proses pengelasan terdiri dari las
listrik dan las gas.
B. Masalah
Dari uraian diatas dapat kita asumsikan bahwa manusia dalam kehidupannya
membutuhkan suatu peralatan yang sangat penting untuk mencapai tujuan
kesempurnaan hidup.
Peralatan ini tidak mungkin ada tanpa adanya kemajuan teknologi yang
mendorong manusia untuk berbuat sesuatu yang sifatnya berguna untuk
kehidupan sehari-hari.
Dalam pembuatan peralatan misalnya konstruksi mesin, konstruksi bangunan,
dan lain-lain dapat tercipta dengan adanya logam. Logam tersebut menimbulkan
kebutuhan akan teknologi perakitan atau penyambungan, salah satu teknologi
penyambungan tersebut adalah dengan penyambungan logam tetap, baik dengan
cara pengelasan dan penyambungan sementara atau yang dapat dilepas kembali.
Dari sinilah kebutuhan hidup sehari-hari yang berupa macam-macam peralatan
dapat terpenuhi. Perakitan peralatan yang bersifat tetap adalah dengan cara

pengelasan mempunyai macam-macam peralatan las dan macam-macam elektroda


yang memiliki kegunaan masing-masing.
C. Batasan Masalah
Dari masalah diatas dapat kami membuat suatu batasan masalah yang
perlu dipecahkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga hingga konstruksi
bangunan dan konstruksi mesin yang bersifat penyambungan tetap yaitu
Pengaruh Peralatan Las Listrik dan Elektroda Terhadap Penggunaannya dalam
Pengelasan Las Listrik SMAW
D. Tujuan
Mengingat pentingnya peralatan las listrik dan elektroda dalam pengelasan
las listrik SMAW maka harus diketaui :
Macam-macam peralatan las listrik dan kegunaannya
Macam-macam elektroda dan kegunaannya

BAB II
PEMBAHASAN

A. LAS LISTRIK
Pengertian las listrik Pengelasan adalah suatu proses penyambungan logam
dimana logam menjadi satu akibat panas dengan atau tanpa tekanan, atau dapat
didefinisikan sebagai akibat dari metalurgi yang ditimbulkan oleh gaya tarik
menarik antara atom. Sebelum atomatom tersebut membentuk ikatan, permukaan
yang akan menjadi satu perlu bebas dari gas yang terserap atau oksida-oksida.
Mesin las listrik Mesin las merupakan sumber tenaga yang memberi jenis tenaga
listrik yang diperlukan serta tegangan yang cukup untuk terus melangsungkan
suatu lengkung listrik las.
Sumber tenaga mesin las dapat diperoleh dari: Motor bensin atau diesel
Gardu induk Tegangan pada mesin las listrik biasanya : 110 volt, 220 volt, 380
volt Antara jaringan dengan mesin las pada bengkel terdapat saklar pemutus.
Mesin las digerakkan dengan motor, cocok dipakai untuk pekerjaan lapangan atau
pada bengkel yang tidak mempunyai jaringan listrik. Busur nyala terjadi apabila
dibuat jarak tertentu antara elektroda dengan benda kerja dan kabel massa
dijepitkan ke benda kerja. Jenis-jenis mesin las las listrik terbagi atas : Mesin las
listrik Transformator arus bolak-balik (AC) Mesin ini memerlukan sumber arus
bolak-balik dengan tegangan yang lebih rendah pada lengkung listrik.
Keuntungan keuntungan mesin las AC antara lain : Busur nyala kecil,
sehingga memperkecil kemungkinan timbunya keropos pada rigi-rigi las
Perlengkapan dan perawatan lebih murah Mesin las listrik Rectifier arus searah
(DC) Mesin ini mengubah arus listrik bolak-balik (AC) yang masuk, menjadi arus
listrik searah (DC) keluar. Pada mesin AC, kabel masa dan kabel elektroda dapat
dipertukarkan tanpa
mempengaruhi perubahan panas yang timbul pada busur nyala.
Keuntungan-keuntungan mesin las DC antara lain : Busur nyala stabil Dapat
menggunakan elektroda bersalut dan tidak bersalut Dapat menggunakan elektroda
bersalut dan tidak bersalut Dapat mengelas pelat tipis dalam hubungan DCRP
Dapat dipakai untuk mengelas pada tempat-tempat yang lembab dan sempit 3.
Pengkutuban elektroda Pengkutuban Langsung Pada pengkutuban langsung, kabel
elektroda dipasang Pada terminal negatif dan . kabel massa pada terminal positif.
Pengkutuban langsung sering disebut sebegai sirkuit las listrik dengan elektroda
negatif. (DC-).
Pengkutuban terbalik Untuk pengkutuban terbalik, kabel elektroda dipasang
pada terminal positif dan kabel massa dipasang pada terminal negative.
Pengkutuban terbalik sering disebut sirkuit las listrik dengan elektroda positif
(DC+)

Pengaruh pengkutuban pada hasil las Pemilihan jenis arus maupun


pengkutuban pada pangelasan bergantung kepada : Jenis bahan dasar yang akan
dilas Jenis elektroda yang dipergunakan Pengaruh pengkutuban pada hasil las
adalah pada penembusan lasnya. Pengkutuban langsung akan menghasilkan
penembusan yang dangkal sedangkan Pada pengkutuban terbalik akan terjadi
sebeliknya. Pada arus bolak-balik penembusan yang dihasilkan antara keduanya.
Tegangan dan arus listrik pada mesin las Volt adalah suatu satuan tegangan
listrik yang dapat diukur dengan suatu alat voltmeter. Tegangan diantara elektroda
dan bahan dasar menggerakkan electron-elektron melintasi busur. Ampere adalah
jumlah arus listrik yang mengalir yang dapat diukur dengan amperemeter.
Lengkung listrik yang panjang akan menurunkan arus dan menaikkan tegangan.
B. Perlengkapan Las listrik
a. Kabel Las
Kabel las biasanya dibuat dari tembaga yang dipilin dan dibungkus
dangan karet isolasi Yang disebut kabel las ada tiga macam yaitu :
1. kabel elektroda : Kabel elektroda adalah kabel yang pesawat
menghubungkan las dengan elektroda.
2. kabel massa : Kabel massa menghubungkan pesawat las dengan
benda kerja.
3. kabel tenaga : Kabel tenaga adalah kabel yang menghubungkan
sumber tenaga atau jaringan listrik dengan pesawat las. Kabel ini
biasanya terdapat pada pesawat las AC atau AC DC.
b. Pemegang elektroda
Pemegang elektroda Ujung yang tidak berselaput dari elektroda
dijepit dengan pemegang elektroda. Pemegang elektroda terdiri dari
mulut penjepit dan pegangan yang dibungkus oleh bahan penyekat.
Pada waktu berhenti atau selesai mengelas, bagian pegangan yang tidak
berhubungan dengan kabel digantungkan pada gantungan dari bahan
fiber atau kayu.

c. Palu Las
Palu Ias digunakan untuk melepaskan dan mengeluarkan terak las
pada jalur Ias dengan jalan memukulkan atau menggoreskan pada
daerah las. Berhati-hatilah membersihkan terak Ias dengan palu Ias
karena kemungkinan akan memercik ke mata atau ke bagian badan
lainnya.
6

d. Sikat kawat
Sikat Kawat Dipergunakan untuk :
Membersihkan benda kerja yang akan dilas
Membersihkan terak Ias yang sudah lepas dari jalur las oleh pukulan
palu las.
e. Klem Massa
Klem massa edalah suatu alat untuk menghubungkan kabel massa
ke benda kerja. Biasanya klem massa dibuat dari bahan dengan
penghantar listrik yang baik seperti Tembaga agar arus listrik dapat
mengalir dengan baik, klem massa ini dilengkapi dengan pegas yang
kuat. Yang dapat menjepit benda kerja. Walaupun demikian permukaan
benda kerja yang akan dijepit dengan klem massa harus dibersihkan
terlebih dahulu dari kotoran-kotoran seperti karat, cat, minyak.
f. Tang Penjepit
Penjepit (tang) digunakan untuk memegang atau memindahkan
benda kerja yang masih panas.

C. Teknik dasar pembentukan busur


Teknik dasar Pengelasan Pembentukan busur listrik pada proses penyulutan
Pada pembentukan busur listrik elektroda keluar dari kutub negatif (katoda) dan
mengalir dengan kecepatan tinggi ke kutub positif (anoda).
Dari kutub positif mengalir partikel positif (ion positif) ke kutub negatif.
Melalui proses ini ruang udara diantara anoda dan katoda (benda kerja dan
elektroda) dibuat untuk menghantar arus listrik (diionisasikan) dan dimungkinkan
pembentukan busur listrik. Sebagai arah arus berlaku arah gerakan ion-ion positif.
Jika elektroda misalnya dihubungkan dengan kutub negatif sumber arus searah,
maka arah arusnya dari benda kerja ke elektroda. Setelah arus elektroda
didekatkan pada lokasi jalur sambungan disentuhkan dan diangkat kembali pada
jarak yang pendek (garis tengah elektroda). Kawat inti Selubung elektroda Busur
listrik Pemindahan logam Gas pelindung Terak Kampuh las
Dengan penyentuhan singkat elektroda logam pada bagian benda kerja
yang akan dilas,berlangsung hubungan singkat didalam rangkaian arus
pengelasan, suatu arus listrik yang kekuatannya tinggi mengalir, yang setelah
pengangkatan elektroda itu dari benda kerja menembus celah udara, membentuk
busur cahaya diantara elektroda dengan benda kerja, dan dengan demikian tetap
mengalir.Suhu busur cahaya yang demikian tinggi akan segera melelehkan ujung
elektroda dan lokasi pengelasan. Didalam rentetan yang cepat partikel elektroda
menetes, mengisi penuh celah sambungan las dan membentuk kepompong las.
7

Proses pengelasan itu sendiri terdiri atas hubungan singkat yang terjadi sangat
cepat akibat pelelehan elektroda yang terus menerus menetes.
Proses Penyulutan Setelah arus dijalankan, elekteroda didekatkan pada
lokasi jalur sambungan disentuhkan sebentar dan diangkat kembali pada jarak
yang pendek (garis tengah elektroda). Menyalakan busur listrik Untuk
memperoleh busur yang baik di perlukan pangaturan arur (ampere) yang tepat
sesuai dengan type dan ukuran elektroda, Menyalahkan busurd apat dilakukan
dengan 2 (dua) cara yakni :
1. Bila pesawat Ias yang dipakai pesewat Ias AC, menyalakan busur
dilakukan dengan menggoreskan elektroda pada benda kerja.
2. Untuk menyalakan busur pada pesawat Ias DC, elektroda disentuhkan
seperti pada gambar.
Bila elektroda harus diganti sebelum pangelasan selesai, maka untuk
melanjutkan pengelasan, busur perlu dinyalakan lagi. Menyalakan busur kembali
ini dilakukan pada tempat kurang lebih 26 mm dimuka las berhenti seperti pada
gambar. Jika busur berhenti di B, busur dinyalakan lagi di A dan kembali ke B
untuk melanjutkan pengelasan. Bilamana busur sudah terjadi, elektroda diangkat
sedikit dari pekerjaan hingga jaraknya sama dengan diameter elektroda. Untuk
elektroda diameter 3,25 mm, jarak ujung elektroda dengan permukaan bahan
dasar 3,25 mm. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan :

Jika busur nyala terjadi, tahan sehingga jarak ujung elektroda ke logam
induk besarnya sama dengan diameter dari penampang elektroda dan
geser posisinya ke sisi logam induk.

Perbesar jarak tersebut(perpanjang nyala busur) menjadi dua kalinya


untuk memanaskan logam induk.

Kalau logam induk telah sebagian mencair, jarak elektroda dibuat sama
dengan garis tengah penampang tadi.

D.Memadamkan busur listrik


Cara pemadaman busur listrik mempunyai pengaruh terhadap mutu
penyambungan maniklas. Untuk mendapatkan sambungan maniklas yang baik
sebelum elektroda dijauhkan dari logam induk sebaiknya panjang busur dikurangi
lebih dahulu dan baru kemudian elektroda dijauhkan dengan arah agak miring.
Pengaruh panjang busur pada hasil las. Panjang busur (L) Yang normal adalah
kurang lebih sama dengan diameter (D) kawat inti elektroda :

Bila panjang busur tepat (L = D), maka cairan elektroda akan mengalir
dan mengendap dengan baik. Hasilnya : rigi-rigi las yang halus dan
8

baik. tembusan las yang baik perpaduan dengan bahan dasar baik
percikan teraknya halus.
Bila busur terlalu panjang (L > D), maka timbul bagian-bagian yang
berbentuk bola dari cairan elektroda. Hasilnya : rigi-rigi kasar
tembusan las dangkal percikan teraknya kasar keluar jalur las.
Bila busur terlalu pendek, akan sukar memeliharanya, bisa terjadi
pembekuan ujung elektroda pada pengelasan. hasilnya : rigi las tidak
merata tembusan las tidak baik percikan teraknya kasar dan berbentuk
bola.

Pengaruh Besar Arus Besar arus pada pengelasan mempengaruhi hasil las.
Bila arus terlalu rendah sukarnya akan menyebabkan busur penyalaan listrik dan
busur listrik yang terjadi tidak stabil. Panas yang terjadi tidak cukup untuk
melelehkan elektroda dan bahan dasar sehingga hasilnya merupakan rigi-rigi las
yang kecil dan tidak rata serta penembusan yang kurang dalam. Sebaliknya bila
arus terlalu besar maka elektroda akan mencair terlalu cepat dan menghasilkan
permukaan las yang lebih lebar dan penembusan yang dalam. Besar arus untuk
pengelasan tergantung pada jenis kawat las yang dipakai, posisi pengelasan serta
tebal bahan dasar.
Pengaruh Kecepatan elektroda pada hasil pengelasan Kecepatan pengelasan
tergantung pada jenis elektroda, diameter inti elektroda, bahan yang dilas,
geometri sambungan, ketelitian sambungan dan lainlainnya. Dalam hampir tidak
ada hubungannya dengan tegangan las tetapi berbanding lurus dengan arus las.
Karena itu pengelasan yang cepat memerlukan arus las yang tinggi. Bila tegangan
dan arus dibuat tetap, sedang kecepatan pengelasan dinaikkan maka jumlah
deposit per satuan panjang las jadi menurun. Tetapi di samping itu sampai pada
suatu kecepatan tertentu, kenaikan kecepatan akan memperbesar penembusan.
Bila kecepatan pengelasan dinaikkan terus maka masukan panas per satuan
panjang juga akan menjadi kecil, sehingga pendinginan akan berjalan terlalu cepat
yang mungkin dapat memperkeras daerah HAZ Pada umumnya dalam
pelaksanaan kecepatan selalu diusahakan setinggitingginya tetapi masih belum
merusak kwalitas manik las. Pengalaman juga menunjukkan bahwa makin tinggi
kecepatan makin kecil perubahan bentuk yang terjadi.
Kecepatan pengelasan yang rendah akan menyebabkan pencairan yang
banyak dan pembentukan manik datar yang dapat menimbulkan terjadinya lipatan
manik. Sedangkan kecepatan yang tinggi akan menurunkan lebar manik dan
menyebabkan terjadinya bentuk manik yang cekung dan takik..

Lamanya pendinginan dalam suatu daerah temperatur tertentu dari suatu


siklus termal las sangat mempengaruhi kwalitas sambungan. Karena itu banyak
sekali usaha-usaha pendekatan untuk menentukan lamanya waktu pendinginan
tersebut. Pendekatan ini biasanya dinyatakan dalam bentuk rumus empiris atau
nomograf atau tabel
E. Jenis-Jenis Elektroda
1. E 6010 dan E 6011
Elektroda ini adalah jenis elektroda selaput selulosa yang dapat
dipakai untuk pengelesan dengan penembusan yang dalam. Pengelasan
dapat pada segala posisi dan terak yang tipis dapat dengan mudah
dibersihkan. Deposit las biasanya mempunyai sifat sifat mekanik yang
baik dan dapat dipakai untuk pekerjaan dengan pengujian Radiografi.
Selaput selulosa dengan kebasahan 5% pada waktu pengelasan akan
menghasilkan gas pelindung. E 6011 mengandung Kalium untuk
mambantu menstabilkan busur listrik bila dipakai arus AC.
2. E 6012 dan E 6013
Kedua elektroda ini termasuk jenis selaput rutil yang dapat
manghasilkan penembusan sedang. Keduanya dapat dipakai untuk
pengelasan segala posisi, tetapi kebanyakan jenis E 6013 sangat baik
untuk posisi pengelesan tegak arah ke bawah. Jenis E 6012 umumnya
dapat dipakai pada ampere yang relatif lebih tinggi dari E 6013. E 6013
yang mengandung lebih benyak Kalium memudahkan pemakaian pada
voltage mesin yang rendah. Elektroda dengan diameter kecil
kebanyakan dipakai untuk pangelasan pelat tipis.
3. E 6020
Elektroda jenis ini dapat menghasilkan penembusan las sedang dan
teraknya mudah dilepas dari lapisan las. Selaput elektroda terutama
mengandung oksida besi dan mangan. Cairan terak yang terlalu cair dan
mudah mengalir menyulitkan pada pengelasan dengan posisi lain dari
pada bawah tangan atau datar pada las sudut.
4. Elektroda Berselaput
Elektroda berselaput yang dipakai pada Ias busur listrik
mempunyai perbedaan komposisi selaput maupun kawat Inti. Pelapisan
fluksi pada kawat inti dapat dengah cara destrusi, semprot atau celup.
Ukuran standar diameter kawat inti dari 1,5 mm sampai 7 mm dengan
panjang antara 350 sampai 450 mm. Jenisjenis selaput fluksi pada
elektroda misalnya selulosa, kalsium karbonat (Ca C03), titanium
dioksida (rutil), kaolin, kalium oksida mangan, oksida besi, serbuk besi,

10

besi silikon, besi mangan dan sebagainya dengan persentase yang


berbeda-beda, untuk tiap jenis elektroda.
Tebal selaput elektroda berkisar antara 70% sampai 50% dari
diameter elektroda tergantung dari jenis selaput. Pada waktu
pengelasan, selaput elektroda ini akan turut mencair dan menghasilkan
gas CO2 yang melindungi cairan las, busur listrik dan sebagian benda
kerja terhadap udara luar. Udara luar yang mengandung O2 dan N akan
dapat mempengaruhi sifat mekanik dari logam Ias. Cairan selaput yang
disebut terak akan terapung dan membeku melapisi permukaan las yang
masih panas.
5. Elektroda dengan selaput serbuk besi
Selaput elektroda jenis E 6027, E 7014. E 7018. E 7024 dan E
7028 mengandung serbuk besi untuk meningkatkan efisiensi
pengelasan. Umumnya selaput elektroda akan lebih tebal dengan
bertambahnya persentase serbuk besi. Dengan adanya serbuk besi dan
bertambah tebalnya selaput akan memerlukan ampere yang lebih tinggi.
6. Elektroda Hydrogen rendah
Selaput elektroda jenis ini mengandung hydrogen yang rendah
(kurang dari 0,5 %), sehingga deposit las juga dapat bebas dari
porositas. Elektroda ini dipakai untuk pengelasan yang memerlukan
mutu tinggi, bebas porositas, misalnye untuk pengelasan bejana dan
pipa yang akan mengalami tekanan Jenis-jenis elektroda hydrogen
rendah misalnya E 7015, E 7016 dan E 7018.
7. Elektroda untuk besi tuang
Elektroda baja Elektroda jenis ini bila dipakai untuk mengelas besi
tuang akan menghasilkan deposit las yang kuat sehingga tidak dapat
dikerjakan dengan mesin. Dengan demikian elektroda ini dipakai bila
hasil las tidak dikerjakan lagi. Untuk mengelas besi tuang dengan
elektroda baja dapat dipakai pesawat las AC atau DC kutub terbalik.
8. Elektroda Nikel
Elektroda jenis ini dipakai untuk mengelas besi tuang, bila hasil las
masih dikerjakan lagi dengan mesin. Elektroda nikel dapat dipakai
dalam sagala posisi pengelasan. Rigi-rigi las yang dihasilkan elektroda
ini pada besi tuang adalah rata dan halus bila dipakai pada pesawat las
DC kutub terbalik. Karakteristik elektroda nikel dapat dilihat pada tabel
dibawah ini.
9. Elektroda Perunggu

11

Hasil las dengan memakai elektroda ini tahan terhadap retak,


sehingga panjang las dapat ditambah. Kawat inti dari elektroda dibuat
dari perunggu fosfor dan diberi selaput yang menghasilkan busur stabil.
10. Elektroda untuk aluminium
Aluminium dapat dilas listrik dengan elektroda yang dibuat dari
logam yang sama. Pemilihan elektroda aluminium yang sesuai dengan
pekerjaan didasarkan pada tabel keterangan dari pabrik yang
membuatnya. Elektroda aluminium AWS-ASTM AI-43 untuk las busur
listrik adalah dengan pasawat las DC kutub terbalik dimana pemakaian
arus dinyatakan dalam tabel berikut.
11. Elektroda untuk pelapis keras atau Elektroda tahan kikisan
Elektroda jenis ini dibuat dari tabung chrom karbida yang diisi
dengan serbuk-serbuk karbida. Elektroda dengan diameter 3,25 mm 6,5 mm dipakai peda pesawat las AC atau DC kutub terbalik. Elektroda
ini dapat dipakai untuk pelapis keras permukaan pada sisi potong yang
tipis, peluas lubang dan beberapa type pisau.
12. Elektroda tahan pukulan
Elektroda ini dapat dipakai pada pesawat las AC atau DC kutub
terbalik. Dipakai untuk pelapis keras bagian pemecah dan palu.
13. Elektroda tahan keausan
Elektroda ini dibuat dari paduan-paduan non ferro yang
mengandung Cobalt, Wolfram dan Chrom. Biasanya dipakai untuk
pelapis keras permukaan katup buang dan dudukan katup dimana
temperatur dan keausan sangat tinggi.
Macam-macam gerakan elektroda
1. Gerakan arah turun sepanjang sumbu elektroda. Gerakan ini dilakukan
untuk mengatur jarak busur listrik agar tetap.
2. Gerakan ayunan elektroda. Gerakan ini diperlukan untuk mengatur
lebar jalur las yang dikehendaki. Ayunan keatas menghasilkan alur las
yang kecil, sedangkan ayunan kebawah menghasilkan jalur las yang
lebar. Penembusan las pada ayunan keatas lebih dangkal daripada
ayunan kehawah. Ayunan segitiga dipakai pada jenis elektroda
Hydrogen rendah untuk mendapatkan penembusan las yang baik
diantara dua celah pelat. Titik-titik pada ujung ayunan menyatakan agar
gerakan las berhenti sejenak pada tempat tersebut untuk memberi
kesempatan pada cairan las untuk mengisi celah sambungan. Tembusan
las yang dihasilkan dengan gerekan ayun tidak sebaik dengan gerakan

12

lurus elektroda. Waktu yang diperlukan untuk gerakan ayun lebih lama,
sehingga dapat menimbulkan pemuaian atau perubahan bentuk dari
bahan dasar. Dengan alasan ini maka penggunaan gerakan ayun harus
memperhatikan tebal bahan dasar. Alur Spiral Alur Zig-zag

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah penulis membaca dari semua referensi yang di dapatkan dan dari
penyusunan ini maka penulis dapat menyimpulkan bahwa : Pada akhirnya penulis
mengetahui Pengertian las listrik, alat-alat yang digunakan pada proses
pengelasan las listrik, Posisi pengelasan las lstrik, kegunaan elektroda, tingkat
kesususahan dalam pengelasan las listrik serta keselamatan kerja yang semestinya
dilaksanakan dalam proses pengelasan las listrik. Penulis akhirnya dapat
mengetahui pengertian las gas, perlengkapan yang digunakan pada praktik las gas,
jenis-jenis nyala api, serta posisi pengelasan pada proses las gas.
B. Saran
Adapun saran-saran yang dapat diberikan kepada pembaca ini sebagai
berikut : Dalam pembuatan diperlukan kerja keras dalam mencari berbagai

13

referensi agar yang dibuat lebih baik. Pelajari yang telah dibuat, agar dapat
menambah wawasan lagi

DAFTAR PUSTAKA
Cary Howard B, Modern Welding Technology Prentice Hall, Englewood Cliffs,
New Jersey Q7632, USA, 1994. Messler R.W, Jr., Principles of Welding
John Wiley & Sons, Inc. USA, 1999.
http://.arcwelding&gasweldingblogspot.com/2009/06/.html
http://kamissore.blogspot.com/2009/06/kerja-las-listrik-dan-gas.html
http://laslistrik.blogspot.com/2009/06/.html
http://materi-kuliah.blogspot.com/2009/06/.html
www.labteknologimekanik.com

14