Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU BEDAH KHUSUS VETERINER

Bedah Cystotomy pada Kucing Jantan

Oleh :
Nina Inocensia Welndy
1309012025

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2016

1. PENDAHULUAN
Latar belakang
Tingginya kasus pada traktus urinary seperti kista kalkuli menyebabkan
berkembangnya berbagai metode yang dapat digunakan untuk menangani kasus
tersebut. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menangani kasus traktus
urinari adalah dengan cara cystotomi, cystocentesis maupun kateterisasi uretra.
Cystotomy adalah prosedur operasi untuk membuka kantung kencing.
Cystotomi dilakukan terutama untuk megeluarkan sistik kalkuli, neoplasia, trauma
maupun ruptur vesika urinaria untuk tujuan biopsi dan membantu diagnosa.
Cystotomy diawali dengan penyayatan pada dinding abdomen atau yang
biasa disebut dengan laparotomi. Dalam kasus ini digunakan metode laparotomi
caudal midline. Hal ini dikarenakan organ target cystotmi yaitu vesika urinaria
yang berada di daerah hipogastrium.

Indikasi

Indikasi dilakukannya cystotomi yaitu untuk mengangkat cystic dan urethral


calculi, identifikasi dan biopsi massa atau benda asing, memperbaiki ectopic
ureter, atau evaluasi pengobatan infeksi saluran urinari.

Tujuan

Tujuan praktikum cystotomi ialah mengetahui prosedur dan teknik pelaksanaan


cystotomi secara aseptis dan terapi penanganan post-operasi cystotomi.
2. TINJAUAN PUSTAKA
3. METODOLOGI
a. Waktu dan Tempat Praktikum
Prakikum cystotomy dilakukan pada :
Hari/tanggal
: Jumat/27 Mei 2016
Tempat
: Laboratorium Bedah Fakutas Kedokteran Hewan
Undana
b. Alat dan Bahan

Meja bedah
Peralatan bedah minor
Stetoskop
Termometer
Cat-gut chromic
Cat-gut plain

Benang silk
Kain kassa
Tampon
Cairan NaCl fisiologis
Alkohol 70%
Atropin

Ketamin
Xylazine

Amoxicillin
Penicillin (Penstrep)

Duk

c. Metode
Persiapan Ruang Operasi
Ruang operasi dan meja operasi disapu dan didesinfeksi menggunakan
desinfektan.
Persiapan Peralatan
Peralatan dicuci dengan cairan desinfektan dan air mengalir, disikat
kemudian dibilas dengan air mengalir. Dikeringkan menggunakan kain lap
bersih. Peralatan kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang bersih dan
dibungkus dengan dua lapis kain. Perlengkapan disterilkan dengan oven
bersuhu 121C selama 15 menit. Peralatan yang sudah disterilkan tadi
dibuka kemudian diletakkan pada meja yang telah steril
Persiapan hewan
Hewan dipuasakan makan selama kurang lebih 12 jam dan puasa minum
sekitar 8 jam sebelum operasi dilaksanakan. Bulu di daerah caudal
abdominal dicukur untuk mencegah kontaminasi bulu terhadap daerah
yang akan diincisi.
Dilakukan penimbangan berat badan, pemeriksaan fisik secara
menyeluruh meliputi suhu tubuh, pulsus, frekuensi napas per menit,
kondisi rambut dan kulit, selaput lendir, kelenjar limfe, pencernaan dan
genitalia.
Dilakukan pemberian premedikasi dan anestesi. Premedikasi
menggunakan atropine dengan dosis anjuran 0,04 mg/kg BB yang
diberikan secara subcutan (SC). Setelah 15 menit pasca pemberian
premedikasi, dilanjutkan dengan pemberian anastesi. Pembiusan
menggunakan kombinasi dari ketamine 10% dengan dosis 10-15 mg/kg
BB (dipilih dosis 10 mg/kg BB) dan xylazine 2% dengan dosis 1-2 mg/kg
BB(dipilh 2 mg/kg BB). Gabungan obat tersebut diaplikasikan melalui
intramuscular (IM) pada musculus semitendinosus dan musculus
semimembranosus.
Persiapan Obat-obatan
o Desinfektan : Alkohol 70%
o Prmedikasi
: Atropine sulfat (dosis 0,04 mg/kg BB) diberikan secara SC
o Sedatif
: Xylazine (dosis 2 mg/kg BB) diberikan secara IM
o Anestetik
: Ketamine (dosis 10 mg/kg BB) diberikan secara IM
o Antibiotik
: Amoxicillin (dosis 20 mg/kg BB) diberikan secara IM

Penstrep
dicampurkan
dengan
NaCl
dengan
perbandingan 1:100

Persiapan Operator

Cara perhitungan Volume obat =

dosis anjuran
x BB
dosis sediaan

o Perlengkapan operator dan co-operator disiapkan, yaitu 2 buah penutup


kepala, 2 buah masker, 2pasang sarung tangan, 4 buah sikat, 2 buah handuk
dan 2 buah baju bedah
o Perlengkapan dibungkus dengan kain denganurutan dari bawah yaitu sarung
tangan, baju operasi, handuk, dua buah sikat, masker dan penutup kepala.
Peralatan disterilkan menggunakan oven pada suhu 100C selama 30 menit
o Operator mencuci tangan dengan sabun dan dibilas dengan air mengalir
beberapa kali, dikeringkan dengan handuk. Penutup kepala dan masker
dipasang, kemudian dilakukan pencucian tangan dengan sabun, disikat dan
dibilas dengan air mengalir beberapa kali kemudian dikeringkan dengan
handuk.
o Operator dibantu dengan asisten memasang baju operasi dilanjutkan dengan
pemakaian sarung tangan
Teknik Operasi
o Setelah hewan teranestesi, hewan dibaringkan dorsal recumbency
o Area operasi yang sudah dicukur, dibersihkan menggunakan alkohol 70%
kemudian diolesi dengan povidone iodine dengan gerakan sirkuler dari dalam
ke luar. Setelah itu, hewan diikat di atas meja dan ditutupi duk/kain penutup
o Incisi dilakukan pada garis median posterior abdomen berturut-turut pada
kulit, subcutan dan peritoneum.
o Tepi peritoneum bagian kiri dan kanan dijepit dengan allis forcep dan sedikit
diangkat ke atas untuk memudahkan identifikasi vesika urinaria.
o Vesika urinaria diisolasi dari rongga abdomen kemudian diletakkan di atas
kassa steril yang telah dibasahi NaCl.
o Bila vesika urinaria penuh terisi urin maka dilakukan cystosentesis yaitu
pengeluaran urin dari vesika urinaria.
o Penyayatan pada bagian dorsal vesika urinaria
o Antibiotik dimasukkan ke dalam vesika urinaria
o Penutupan vesika urinaria dilakukan dengan pola jahitan sederhana menerus
menggunakan benang catgut chromic
o Dinding abdomen ditutup dengan pola sederhana tunggal menggunakan
benang catgut chromic
o Subkutan dijahit menggunakan benang catgut plain dengan pola sederhana
menerus
o Kulit dijahit menggunakan benang silk menggunakan pola sederhana tunggal
o Bekas sayatan dioleskan povidone iodine dan diinjeksikan antibiotik
amoxicillin
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Hasil
Ambulator

Lembaran Ambulator Pasien pasca Operasi


KLINIK HEWAN PENDIDIKAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA


Kampus Undana Lama Jalan Soeharto Naikoten

LEMBARAN KONSULTATIF/AMBULATOR

DATA PEMILIK
Nama
: Imel
Alamat
: Sikuman
No. Telepon :
085253775093

Dokter hewan : drh. Tri


utami, m.sc
Mahasiswa koas :

1. Samuel T. M. Karel s.kh

Umur
: 7 bulan
Sex
: jantan
Signalement :belang
hitam coklat
dan putih
pada kaki
Berat badan : 2,5 kg
Tanggal
: 27 mei
2016

ANAMNESIS

2
3
4
5
6
7
8

DATA PASIEN
Jenis hewan : kucing
Breed
: Lokal
Nama Hewan : Jono

:tidak divaksinasi ,belum pernah

diberikan obat cacing atau ektoparasit


STATUS PRAESENS

Keadaan umum
Frekuensi napas
Kulit dan rambut
Selaput lendir
Kelenjar-kelenjar limfe
Pernafasan
Peredaran darah
Pencernaan

: kucing dalam kondisi sehat. KT 2, temperamen aktif


: 80/mnt; frek. Pulsus : 133 x/menit; T : 37,90C
: sedkit kusam, tidak ada lesi, turgor kulit < 2
: CRT < 2 s, mukosa merah muda
: Tidak ada pembengkakan
: tipe thoraco abdominal
: degup jantung cepat, sistol diastole ritmis
: tidak diare, belum defekasi, daerah sekitar anus bersih,

penekanan pada abdomen tidak timbulkan reaksi sakit


9 Kelamin dan perkencingan : belum urinasi dari pagi, preputium bersih
10 Anggota gerak
: Simetris, dapt berdiri dan berjalan dengan baik
Diagnosis
Terapi

:
:

Perhitungan Volume Obat


Atropin

dosis anjuran
x BB
dosis sediaan

Volume =

mg
BB
kg
x 2,5 kg=0,4 ml
0,25 kg/ml

0,04

Ketamin

dosis anjuran
x BB
dosis sediaan

Volume =

mg
BB
kg
x 2,5 kg=0,25 ml
100 kg /ml
10

Xylazine

dosis anjuran
x BB
dosis sediaan

Volume =

mg
BB
kg
x 2,5 kg=0,25 ml
20 kg/ml
2

Antibiotik (Amoxicillin)

Volume =

dosis anjuran
x BB
dosis sediaan
mg
BB
kg
x 2,5 kg=0,5 ml
100 kg /ml
20

Monitoring Pasien Selama Operasi

Prosedur Operasi

G
a
m
ba
r

Ket

Kucing berbaring dalam posisi rebah


dorsal, kaki diikat pada meja operasi dan
proses pemasangan duk
Incisi median posterior abdomen dimulai
dari kulit, jaringan, subkutan, linea alba.
Tepi kiri dan kanan linea alba dijepit
dengan allis forcep, sedikit diangkat ke
atas untuk menemukan vesika urinaria

Pengangkatan vesika urinaria


menggunakan jari

Vesika urinaria dikeluarkan dari rongga


abdomen dan dilatakan di atas kassa
steril yang sudah dibasahi dengan NaCl
fisiologis, cystocentesis dilakukan untuk
mengeluarkan sisa urin dari vesika
urinaria

Pemasangan jahitan stay suture pada


kedua sisi lateral dari vesika urinaria
untuk memudahkan incisi vesika urinaria

Pemasukan antibiotik ke dalam vesika


urinaria

Proses penutupan vesika urinaria


dilakukan dengan dua lapis jahitan yaitu
sederhana menerus dan dibantu dengan
jahitan lembert menerus menggunakan
benang catgut chromic

Vesika urinaria yang sudah dijahit

Uji test kebocoran vesika urinaria

Proses penutupan dinding abdomen


berturut-turut dari linea alba
menggunakan benang catgut chromic
dengan pola sederhana menerus. Kulit
dijahit dengan benang silk menggunakan
pola sederhana tunggal

Bekas jahitan dioleskan povidone iodine

Pasca Operasi

(M

17

52

38,

b. Pembahasan

Cystotomy merupakan prosedur operasi untuk membuka vesika


urinaria. Kucing yang akan dicystotomy harus dipuasakan makan selama 12 jam dan
puasa minum selama 8 jam, hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya muntah,
urinasi, ataupun defekasi saat operasi berlangsung.

Hewan kemudian dicukur di bagian ventral abdomen hingga bersih


(tanpa ada sisa-sisa rambut disekitar daerah sayatan). Hal ini dilakukan untuk
mencegah terjadinya kontaminasi dan memudahkan persembuhan. Bagian yang telah
bersih kemudian didesinfeksi menggunakan alkohol 70% dengan searah tubuh hewan
dan dilanjutkan dengan pemberian antiseptik Iodine povidone dengan arah melingkar
dari arah dalam keluar.

Sebelum memasuki tahap operasi, kucing terlebih dahulu ditimbang


berat badannya untuk menentukan dosis berbagai sediaan obat yang akan diberikan
pada saat pre operasi, operasi dan post operasi. Tindakan operatif pada hewan
membutuhkan restrain dan handling yang tepat untuk bisa mengendalikan hewan.
Dalam hal ini dibutuhkan chemical restrain, yaitu mengendalikan hewan dengan cara
mengurangi/menghilangkan kesadaran hewan dengan menggunakan bahan kimia.
Sediaan tersebut dapat berupa transquilizer, sedative, maupun anastetikum. Pemberian
sediaan ini harus disesuaikan dengan jenis dan berat badan hewan, karena dosis
sediaan untuk setiap jenis hewan berbeda-beda.

Persiapan hewan sebelum operasi dimulai dengan melakukan


pemeriksaan fisik (Physical Examination) yang meliputi pemeriksaan suhu (oC),
frekuensi nafas (kali/menit), pulsus (kali/menit), berat badan (kg), selaput mukosa,
dan diameter pupil (cm). Hal ini dilakukan untuk mempermudah evaluasi hasil
monitoring hewan saat di lakukan operasi.
Sebelum dilakukan operasi, kucing diberikan obat preanastesi dengan
menyuntikkan atropin secara subcutan untuk mencegah terjadinya muntah. Atropin
termasuk antimuskarinik agen, yang bekerja dengan cara menurunkan kontraksi otot
polos, sehingga digunakan sebagai preanastetik untuk mencegah atau mengurangi
sekresi saluran pernafasan dan mencegah muntah. Aplikasi atropin dilakukan pada
pukul 14.30 WITA.
Beberapa saat setelah aplikasi atropin (kurang lebih 15 menit, pukul 14.45
WITA), kucing diinduksi menggunakan xylazin yang dicampur dengan ketamin HCL.
Xylazin diambil terlebih dahulu untuk mencegah tercampurnya ketamin ke dalam vial
xylazine. Injeksi agen anastetik pada kucing berupa ketamin yang dikombinasikan
dengan xylazine sebagai transquilizer, akan memberikan efek anastetik selama kurang

lebih 20-30 menit. Setelah pemberian anastesi, kucing mulai terbius pukul 14.48
WITA.
Xylazine menimbulkan efek relaksasi muskulus juga analgesi. Kondisi tidur
yang ringan sampai dalam dapat tercapai, tergantung pada dosis untuk masing-masing
spesies hewan. Obat ini dapat berfungsi sebagai sedatif yang efeknya tercapai
maksimal 20 menit setelah pemberian intramuskular dan berakhir setelah 60 menit.
Xylazin untuk tujuan relaksasi muskulus pada umumnya dikombinasikan dengan
ketamin untuk beberapa spesies termasuk kucing. Pada hewan kecil, efek sampingnya
meliputi bradikardia dan penurunan cardiac output, vomit, tremor, motilitas intestinal
menurun tetapi kontraksi uterus meningkat, selain itu juga mempengaruhi
keseimbangan hormonal antara lain menghambat produksi insulin dan ADH.
Ketamin mempunyai sifat analgesik, anastetik dan kataleptik dengan kerja
singkat. Sifat analgesiknya sangat kuat untuk sistim somatik tetapi lemah untuk sistim
visceral, tidak menyebabkan relaksasi otot lurik bahkan kadang-kadang tonusnya
sedikit meninggi. Ketamin HCl merupakan analgesia yang tidak menyebabkan depresi
dan hipnotika pada syaraf pusat tetapi berperan sebagai kataleptika. Setelah
pemberian ketamin, refleks mulut dan menelan tetap ada dan mata masih terbuka.
Menurut Katzung (2001), penggunaan ketamin mempunyai keuntungan dan
kerugian. Keuntungan penggunaan ketamin, yaitu; (1) dalam pengaplikasianya
ketamin sangat mudah, (2) menyebabkan pendepresan kardiovaskuler dan respirasi
minimal, (3) dapat digunakan dalam situasi darurat dimana hewan belum dipuasakan,
karena refleks faring tetap ada, (4) induksi cepat dan tenang, dan (5) dapat
dikombinasikan dengan agen preanestesi atau anestesi lainnya.

Kucing yang sudah teranestesi kemudian dibaringkan di atas disposible


underpad dalam posisi rebah dorsal, kemudian kaki kucing diikat ke meja operasi
menggunakan tali, hal ini untuk mencegah gerakan tambahan apabila kucing mulai
sadar selama proses operasi. Penggunaan disposible underpad bertujuan untuk
menyerap cairan yang tumpah seperti urin saat dilakukan cystocentesis.

Penyayatan dilakukan dengan pendekatan caudal midline atau


laparotomi medianus posterior dikarenakan cystotomy merupakan teknik operasi pada
vesika urinaria yang terletak di bagian hipogastrium. Penyayatan dimulai dari kulit,
subcutan hinggpa peritoneum. Tepi peritonium bagian kiri dan kanan dijepit
menggunakan allis tissue forcep dan sedikit diangkat ke atas untuk memudahkan
identifikasi vesika urinaria.

Setelah vesika urinari ditemukan kemudian dilakukan cystosentesis


yaitu teknik mengeluarkan urin dari vesika urinaria. Sebelum diincisi, vesika urinaria
harus benar-benar dalam keadaan kosong, hal ini bertujuan untuk mencegah
kontaminasi urin terhadap organ lain disekitar vesika urinari dan menjaga agar
prosedur operasi tetap aseptis.

Vesika urinaria diisolasi dari rongga abdomen kemudian diletakkan di


atas kassa yang dibasahi oleh larutan NaCl. Hal ini bertujuan untuk tetap

mempertahankan kelembaban vesika urinaria. Selama kegitan operasi, vesika urinaria


selalu disemprotkan dengan NaCl yang telah ditambahkan dengan penstrep dengan
perbandingan 100:1. Penstrep sebagai antibiotik berfungsi untuk mencegah terjadinya
infeksi akibat kontaminasi yang tidak diinginkan.

Penyayatan dilakukan pada bagian dorsal vesika urinaria. Setelah


disayat, vesika urinaria dimasukkan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi
akibat kontaminasi yang tidak diinginkan. Penjahitan vesika urinaria dilakukan
dengan metode sederhana menerus menggunakan benang catgut chromic.

Vesika urinaria yang sudah dijahit kemudian dilakukan uji kebocoran


dengan menginjeksikan NaCl ke dalam vasika urinaria kemudian diamati apakah
cairan NaCl bisa keluar dari vesika urinaria. Tes kebocoran ini bertujuan untuk
mencegah kontaminasi urin terhadap organ disekitar vesika urinaria.

Kemudian dilakukan penjahitan peritoneum menggunakan benang


catgut chromic dengan pola sederhana tunggal. Subkutan dijahit menggunang benang
catgut plain dengan pola sederhana menerus. Kemudian kulit dijahit menggunakan
benang silk dengan pola sederhana tunggal.

Selama proses operasi, kucing mulai mengalami kesadaran pada pukul


15.50 WITA. Hal ini diakibatkan kerja anestesi ketamin dan xylazine bertahan selama
60 menit, sedangkan operasi yang dilakukan membutuhkan waktu lebih dari 60 menit
sehingga dilakukan lagi penambahan dosis anestesi sebanyak setengah dosis (ketamin
0,125 ml dan Xylazine 0,125 ml) pada pukul 15.50 WITA.

Penanganan setelah operasi yang dilakukan adalah kucing dipuasakan


minum selama kurang lebih dua hari pasca operasi, hal ini bertujuan untuk
mengurangi kerja vesika urinaria setelah operasi dan untuk mempercepat proses
penyembuhan jahitan di vesika urinaria.

Obat-obatan yang diberikan pasca operasi yaitu antibiotik amoxicillin


sirup kering dengan dosis pemberian 1 ml dan pemberian vitamin (Scoot Emulsion)
sebanyak 2,5 ml. Bekas jahitan juga diolesi povidone iodine.
5. KESIMPULAN
Cystotomy adalah prosedur operasi untuk membuka vesika urinaria.
Indikasi dilakukannya cystotomi yaitu untuk mengangkat cystic dan urethral
calculi, identifikasi dan biopsi massa atau benda asing, memperbaiki ectopic
ureter, atau evaluasi pengobatan infeksi saluran urinari.
Pasca operasi Cystotomy, hewan harus dipuasakan untuk mengistirahatkan fungsi
vesika urinaria sehingga mempercepat proses kesembuhan
6. LAMPIRAN

Gambar

Keterangan
Kondisi jahitan hari ke-1 pasca
operasi

(Sabtu, 28 Mei 2016)

Kondisi jahitan hari ke-2 pasca


operasi
(Minggu, 29 Mei 2016)

Kondisi jahitan hari ke-3 pasca


operasi
(Senin, 30 Mei 2016)

Kondisi jahitan hari ke-4 pasca


operasi
(Selasa, 31 Mei 2016)

Kondisi jahitan hari ke-5 pasca


operasi
(Rabu, 01 Juni 2016)

Kondisi jahitan hari ke-6 pasca


operasi
(Kamis, 02 Juni 2016)

7. DAFTAR PUSTAKA