Anda di halaman 1dari 14

Laporan Kasus

Campak

Oleh:
Melani Sugiarti 112014140
Pembimbing :
Dr. Sedyo Wahyudi, Sp.A
Fakultas Kedokteran UKRIDA
Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Periode 14 Maret-21 Mei 2016
RS Panti Wilasa Dr Cipto, Semarang
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)
Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebon JerukJakarta Barat
KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Hari/Tanggal Ujian/Presentasi Kasus :
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
Rumah Sakit Panti Wilasa dr. Cipto, Semarang
Tanda Tangan
Nama
NIM

: Melani Sugiarti
: 112014140

.............................

Dr. Pembimbing

: dr. Sedyo Wahyudi, Sp.A

............................
1

IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap: An. RAP
Tempat/tanggal lahir: Semarang, 24-01-2015
Suku bangsa: Jawa
Pendidikan: Belum sekolah
Hubungan dengan orang tua: Anak kandung

Jenis kelamin: Laki-laki


Umur: 1 tahun 1 bulan
Agama: Islam
Alamat: Sriwulan, Semarang
Tanggal masuk RS: 22 Maret 2016

IDENTITAS ORANG TUA


Nama ayah: Tn. SH
Usia: 28 tahun
Suku bangsa: Jawa
Alamat: Sriwulan, Semarang
Pendidikan: D3
Pekerjaan: Karyawan
Penghasilan: Rp 3.500.000

Nama ibu: Ny. TA


Usia: 28 tahun
Suku bangsa: Jawa
Alamat: Sriwulan, Semarang
Pendidikan: SMA
Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga
Penghasilan: -

ANAMNESIS
Diambil dari: Alloanamnesis terhadap ibu kandung, tanggal: 23 Maret 2016, jam: 11.05
Keluhan utama:
Demam sejak 3 hari SMRS.
Keluhan tambahan:
BAB cair sejak 2 hari SMRS.
Riwayat penyakit sekarang:
Tiga hari SMRS ibu pasien mengeluh anaknya demam. Demam dirasakan sejak pagi
dan dirasakan turun hanya bila meminum obat penurun panas, namun panas kembali tinggi
setelah beberapa jam kemudian. Namun saat demam ibu tidak mengecek suhunya. Napsu
makan menurun. Keluhan kejang, batuk pilek, BAB cair, keluhan pada BAK, sesak, mual
muntah, mimisan, gusi berdarah dan timbul bercak merah disangkal.
Dua hari SMRS demam tidak membaik. Ibu pasien juga mengeluh adanya BAB cair
sebanyak 5 kali. Kotoran berwarna kuning, bau seperti biasa, kurang lebih sebanyak gelas
aqua tiap BAB dan hanya cair tanpa ampas. Tidak ada darah dan lendir pada kotoran. Napsu
makan menurun. Keluhan kejang, batuk pilek, keluhan pada BAK, sesak, mual muntah,
mimisan, gusi berdarah dan timbul bercak merah disangkal.
Satu hari SMRS demam belum membaik. BAB cair masih 5 kali dan berwarna
kuning, bau seperti biasa, kurang lebih sebanyak gelas aqua tiap BAB dan hanya cair tanpa
ampas. Tidak ada darah dan lendir pada kotoran. Pasien pilek, ingus berwarna putih cair dan
2

tidak ada darah. Ibu pasien mengatakan tampak timbul bercak merah yang awalnya berada
dari belakang telinga hingga menjalar ke muka lalu ke bagian dada, perut dan menjalar
hingga ke punggung. Ibu pasien mengatakan pasien terlihat gatal namun tidak parah. Keluhan
gatal perih pada bercak merah disangkal. Pasien tampak lemas dan napsu makan pasien
menurun. Keluhan sariawan, mata merah dan silau disangkal. Ibu mengatakan tidak tahu
apakah terdapat keluarga, tetangga atau teman yang menderita demam dan bercak merah
yang sama. Keluhan kejang, batuk, keluhan pada BAK, sesak, mual muntah, mimisan dan
gusi berdarah disangkal.
Pasien di bawa ibunya berobat ke IGD RS Panti Wilasa, demam belum turun. Ibu
pasien sudah memberi obat penurun panas dan obat diare dari puskesmas dan terakhir
diminum 4 jam sebelumnya. BAB cair sebanyak 2 kali. Kotoran warna kuning, bau seperti
biasa, kurang lebih sebanyak gelas aqua tiap BAB namun kotoran sudah terdapat ampas.
Tidak ada lendir dan darah pada kotoran. Ibu pasien mengatakan berat badan anak turun
sebanyak 0,5 kg setelah sakit. Pilek belum membaik, namun ingus berwarna putih cair.
Bercak merah pasien tampak menjalar hingga kedua tangan. Pasien lemas dan tidak napsu
makan. Keluhan kejang, batuk, keluhan pada BAK, sesak, mual muntah, mimisan dan gusi
berdarah disangkal.
Riwayat penyakit dahulu:
(-) Sepsis
(-) Meningoencephalitis
(-) Kejang demam
(-) Tuberkulosis
(-) Pneumonia
(-) Alergi lainnya
(-) Asma
(-) Alergi rhinitis
(-) Gastritis
(+) Diare akut, pada usia 7 bulan (-) Diare kronis
(-) Amoebiasis
(-) Disentri
(-) Kolera
(-) Difteri
(-) Typhoid
(-) DHF
(-) Polio
(-) Cacar air
(-) Campak
(-) Penyakit Jantung Bawaan
(-) Batuk rejan
(-) Tetanus
(-) ISK
(-) Demam rematik akut
(-) Penyakit jantung rematik (-) Kecelakaan
(-) Glomerulonephritis
(-) Sindroma Nefrotik
(-) Operasi
Riwayat penyakit keluarga:
Penyakit

Ya

Tidak

Hubungan

Alergi

Asma

Tuberkulosis

Hipertensi

Diabetes

Kejang demam

Epilepsi

Silsilah keluarga:

Riwayat kehamilan:
Perawatan antenatal
Penyakit selama kehamilan

: kontrol teratur ke dokter


: tidak ada

Riwayat kelahiran:
Tempat kelahiran
Penolong persalinan
Cara persalinan
Masa gestasi
Keadaan bayi

: rumah sakit
: dokter obgyn
: sectio cesar atas indikasi oligohidramnion
: 38 minggu (cukup bulan)
:

Saat lahir, bayi langsung menangis


Seluruh badan bayi berwarna kemerahan
Berat badan lahir
: 3200 gram
Panjang badan lahir
: 49 cm
Lingkar kepala
: ibu tidak ingat
Pucat / biru / kuning / kejang : tidak ada
Kelainan bawaan
: tidak ada

Riwayat tumbuh kembang:


Tumbuh kembang sesuai usia, pasien dapat duduk tanpa berpegangan usia 6 bulan, usia 12
bulan dapat berdiri dengan berpegangan. Usia 6 bulan dapat meraih dan menggapai, usia 12
bulan dapat memasukkan mainan ke dalam cangkir. Usia 6 bulan anak sudah dapat berbicara
satu suku kata, usia 12 bulan memanggil mama. 6 bulan dapat memasukkan benda ke dalam
mulut, 12 bulan dapat bermain dengan orang lain.
Kesan: Tidak terdapat gangguan pertumbuhan dan perkembangan

Riwayat imunisasi:
Imunisas

Waktu pemberian
4

Bulan
lahi

Tahun
9

12

15

18

24

Hepatitis

1
2
3
B
Polio
0
1
2
3
BCG
1
DPT
1
2
3
Campak
Kesan: Imunisasi sudah lengkap sesuai usianya

Riwayat nutrisi:
ASI

: sejak lahir pasien mendapat ASI eksklusif hingga umur 6 bulan dan

Susu formula
Makanan padat
Makanan sekarang

melanjutkan ASI hingga 11 bulan


: mulai sejak 7 bulan hingga sekarang
: sejak usia 8 bulan pasien sudah mulai memakan bubur
: saat ini pasien dapat minum susu hingga 8 kali sehari namun kurang
mau makan makanan padat

PEMERIKSAAN FISIK
Tanggal: 22 Maret 2016 jam: 10.10
PEMERIKSAAN UMUM
Keadaan umum
Kesadaran
Tanda tanda vital

o
o
o
o
o
o
o
o
o

Nadi
Pernapasan
Suhu

: tampak sakit sedang


: kompos mentis
:

: 132 x/menit
: 26 x/menit
: 38,6 oC

Data antropometri

Tinggi badan
Berat badan
BB tertinggi
BB/U
TB/U
BB/TB
Lingkar kepala
Lingkar dada
Lingkar lengan atas

: 77 cm
: 8,5 kg (turun 0,5kg)
: 9 kg
: -2 SD < Z < +2SD (Normal, berat badan sesuai usia)
: -2 SD < Z < +2SD (Normal, panjang badan sesuai usia)
: -2 SD (Normal, gizi baik)
: 45 cm
: 42 cm
: 14 cm

PEMERIKSAAN SISTEMATIS
Kulit : regio scalp, facial, throrax anterior dan posterior, abdomen, brachii dan
antebrachii bilateral plak eritematous lentikuler hingga plakat batas sirkumskrip
5

hingga diffuse multipel diskret hingga konfluens, turgor kulit kurang atau menurun,
tidak pucat, sianosis (-), ikterik (-)
Kepala :
Bentuk dan ukuran
: normocephali
Rambut dan kulit kepala : distribusi rambut merata, ubun-ubun besar sedikit
cekung
Mata

: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil bulat isokor, air mata sedikit,
mata sedikit cekung

Telinga: bentuk normal, liang telinga lapang, sekret -/-, membran timpani utuh, reflex cahaya
+/+
Hidung: deviasi septum (-), sekret (+), pernapasan cuping hidung (-)
Mulut : sianosis (-), mukosa kering (+), lidah kotor (-)
Tonsil : T1-T1 tenang, tidak hiperemis
Faring : hiperemis (-)
Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-), kaku kuduk (-)
Thorax :
Paru
Inspeksi

:
: bentuk normal, pergerakan dada simetris, pernafasan abdominal
torakal, retraksi sela iga (-)

Palpasi

: pergerakan dada simetris, massa (-), nyeri tekan (-)

Perkusi

: sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi : vesikular, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)


Jantung:
Inspeksi

: terlihat pulsasi ictus cordis di sela iga IV linea midklavikularis kiri

Palpasi

: ictus cordis teraba di sela iga IV linea midklavikularis kiri

Perkusi

: redup, batas jantung tidak dilakukan

Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni, regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen:
Inspeksi

: bentuk perut datar, benjolan (-)

Palpasi

: supel, turgor kulit kurang atau menurun, massa (-)


Hati

: tidak teraba pembesaran

Limpa : tidak teraba pembesaran


Ginjal : ballottement negatif, nyeri ketok CVA negatif
6

Perkusi

: timpani

Auskultasi

: bising usus (+), normoperistaltik

Anus dan rektum

: tidak tampak kelainan

Genitalia
Ekstremitas

: tidak tampak kelainan


: akral hangat, deformitas (-), sianosis (-), edema (-), ptekie (-), CRT <

2 detik
Pemeriksaan neurologis: tidak dilakukan
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 22 Maret 2016 jam 11.27 di Ruangan
Pemeriksaan darah lengkap
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Eritrosit
Trombosit
MCV
MCH
MCHC

Hasil
12.6 g/dL
7.1 x 103 /uL
37%
4.7 x 106 /uL
150 x 103 /uL
79 fL
27 pg
34 g/dL

Nilai rujukan
10.8 12.8 g/dL
6.0 17.0 x 103 /uL
35 43%
3.60 5.20 x 106 /uL
150 400 x 103 /uL
73 101 fL
23 31 pg
26 34 g/dL

Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 22 Maret 2016 jam 11.51 di Ruangan


Pemeriksaan sero imunologi
Widal
S. Typhi O
S. Typhi H
S. Paratyphi A
S. Paratyphi B
S. Paratyphi C

Hasil
Negatif
1/80
1/80
Negatif
Negatif

Rujukan
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

RESUME
Anak laki-laki usia 1 tahun 1 bulan dibawa ibunya ke IGD RS Panti Wilasa dengan
keluhan demam sejak 3 hari SMRS. Demam turun bila minum obat, namun tinggi kembali
setelah beberapa jam. Dua hari SMRS BAB cair 5 kali warna kuning, gelas aqua tiap
BAB dan tidak ada ampas. Satu hari SMRS BAB cair tidak membaik. Saat pasien datang
BAB cair 2 kali, gelas aqua tiap BAB dan sudah terdapat ampas. BB turun 0,5 kg setelah
sakit. Satu hari SMRS pasien pilek, ingus warna putih cair dan timbul bercak merah dari
belakang telinga menjalar ke muka lalu ke dada, perut, punggung hingga kedua tangan.
Bercak dirasakan sedikit gatal. Pasien lemas, napsu makan menurun. Pasien sudah minum
obat penurun panas dan diare terakhir 4 jam sebelum berobat.

PF: tampak sakit sedang, kompos mentis, nadi: 132 x/menit, RR: 26 x/menit, suhu: 38,6 oC.
BB: 8,5 kg, regio scalp hingga abdomen dan antebrachii bilateral plak eritematous lentikuler
hingga plakat batas sirkumskrip hingga diffuse multipel diskret hingga konfluens, turgor kulit
kurang atau menurun, ubun-ubun besar sedikit cekung, air mata sedikit, mata sedikit cekung,
hidung sekret +, mukosa mulut kering.
PP: pemeriksaan darah lengkap dalam batas normal. Pemeriksaan widal S.Typhi H 1/80, dan
S.Paratyphi A 1/80.
DIAGNOSIS KERJA
Campak
Dasar diagnosis: diagnosis campak biasanya dapat dibuat berdasarkan kelompok gejala
klinis, dalam kasus ini didapatkan adanya demam yang tinggi dan turun bila di beri obat
namun meningkat kembali menunjukkan adanya infeksi dari virus. Adanya pilek atau
koriza dan adanya sekret pada hidung. Adanya ruam atau bercak merah yang mulai dari
belakang telinga menyebar ke muka, badan, lengan dan kaki menunjukkan gambaran
khas ruam pada campak. Sesuai dengan data epidemiologi bahwa kisaran usia yang
proporsi terbesar menderita campak adalah golongan balita. Adanya diare yang biasanya
disebabkan karena invasi virus ke dalam sel mukosa usus.
Diare akut dehidrasi ringan-sedang ec suspect viral infection
Dasar diagnosis: diagnosis diare akut dapat dibuat karena adanya BAB lebih dari 3 kali
dalam 24 jam dengan konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 1 minggu pada pasien
ini. Pada kasus ini didapatkan keadaan umum pasien lemas dan adanya penurunan berat
badan sebanyak 0,5 kg menunjukkan adanya penurunan BB sebanyak 5% yang
mendukung kriteria untuk dikatakan dehidrasi ringan-sedang. Adanya turgor kulit kurang
atau menurun, ubun-ubun besar sedikit cekung, air mata sedikit, mata sedikit cekung,
mukosa mulut kering dan akral yang hangat juga mendukung diare akut dengan
dehidrasi ringan-sedang. Diare kemungkinan disebabkan karena virus karena adanya
virus campak yang seringkali invasi ke dalam mukosa usus dan menyebabkan diare.
Diare karena virus juga bisanya memiliki gambaran cair dengan volume banyak,
frekuensi BAB meningkat, pada kotoran umumnya tidak tampak gross blood namun
kemungkinan positif heme. Berdasarkan pemeriksaan penunjang didapatkan adanya
leukosit serum dan trombosit yang mendekati batas nilai normal menuju rendah yang
sering kali dapat disebabkan oleh virus.
8

DIAGNOSIS BANDING
Rubela
Dasar yang mendukung: adanya demam yang tidak terlalu tinggi (38-38,7C), pilek dan
bercak merah seperti pada campak yang berawal dari belakang telinga menjalar ke muka
dan meluas secara kraniokaudal ke bagian lain di tubuh. Tidak ditemukannya bercak
Koplik yang merupakan patognomonik untuk campak. Pasien sudah imunisasi campak
pada usia 9 bulan.
Dasar yang tidak mendukung: tidak adanya enantema berupa makula atau ptekiae pada
palatum molle (Forschheimer spot) selama masa prodromal atau hari pertama erupsi.
Tidak ditemukan adanya pembesaran kelenjar getah bening pada kelenjar suboksipital,
postaurikular maupun servikal, dan disertai nyeri tekan. Pada hari ke 2 dan ke 3 bercak
merah timbul belum terlihat ruam pada muka dan di tempat lain yang mulai menghilang.
Tidak adanya kasus kontak rubella atau kasus lain di dalam lingkungan penderita.
Roseola infantum (Exanthem Subitum)
Dasar yang mendukung: adanya demam, tidak napsu atau tidak mau makan, pilek yang
mendukung diagnosis roseola infantum. Pada roseola infantum demam menetap 3-5 hari
dan menurun secara mendadak ke suhu normal disertai timbulnya ruam, sesuai dengan
kasus demam sejak 3 hari dan timbul ruam berwarna merah muda makulopapular,
diskret. Ruam pada roseola infantum dapat berbentuk morbiliform atau rubella-like.
Dasar yang tidak mendukung: anak pada roseola infantum umumnya tampak iritabel,
dan tampak adanya batuk dan konjungtivitis. Ruam umumnya tampak pertama kali di
punggung dan menyebar ke leher, ekstremitas atas muka dan ekstremitas bawah. Ruam
jarang menetap lebih dari 24 jam. Tidak terjadi limfadenopati servikal dan oksipital
posterior. Tidak ditemukan eksantema (Nagayanas spot) pada palatum mole dan uvula.
Tidak adanya penurunan hitung leukosit.
Diare akut dehidrasi ringan sedang ec suspect bakteri infection
Dasar yang mendukung: pada diare akut dehidrasi ringan-sedang telah dijelaskan pada
dasar diagnosis pada diagnosis kerja. Namun yang membedakan adalah penyebabnya,
karena masih mungkin disebabkan oleh bakteri. Nekrosis epitel yang disebabkan oleh
virus campak dapat mempermudah masuknya bakteri sekunder sehingga terjadi infeksi
sekunder yang memungkinkan terjadinya diare.
9

Dasar yang tidak mendukung: gambaran kotoran pada infeksi bakteri umumnya
mengandung mukus dan atau darah, volume tiap BAB umumnya sedikit, darah pada
infeksi bakteri dapat berupa grossly bloody.
PEMERIKSAAN PENUNJANG ANJURAN
Pemeriksaan sitologik untuk menemukan sel raksasa pada lapisan mukosa hidung dan
pipi (isolasi virus dari darah, urin, dan sekret nasofaring), dan pemeriksaan serologi
untuk mendapatkan IgM spesifik pada campak.
Pemeriksaan faeces rutin untuk mengetahui penyebab BAB cair
Pemeriksaan elektrolit darah untuk mengetahui kadar elektrolit dalam darah setelah BAB
cair yang frekuen dan profus.
Pemeriksaan serologi hemaglutination inhibition test (HAIR) atau antibody IgM yang
spesifik pada rubella untuk menyingkirkan diagnosis banding rubella
Pemeriksaan serologi IgM dan PCR untuk mendeteksi DNA HHV-6 pada saliva dan
kelenjar liur untuk menyingkirkan diagnosis banding roseola infantum.
PENATALAKSANAAN
Medika mentosa
Paracetamol syrup
Dosis: 10-15mg/kgBB/kali (3-4 kali sehari per oral)
Sediaan: 125mg/5ml
8,5 x (10-15) = 85 127.5 mg = 1 cth

BB: 8,5kg

R/ Paracetamol syr 125mg/5ml 60ml fl no I


S 3 dd cth 1
Vitamin A 200.000 IU (1 kapsul merah) per oral hanya diberikan satu kali untuk
mengurangi terkenanya komplikasi campak. Suplementasi vitamin A dapat mengatur
respon antibodi terhadap campak dan meningkatkan total limposit.
R/ Vitamin A caps 200.000 IU no 1
S 1 dd caps 1
Chlorpheniramine maleate
Dosis: 4 x 1 mg untuk anak usia 1-2 tahun dibuat dalam bentuk puyer untuk
mengurangi gatal dan pilek.
R/ CTM 1 mg
Mf pulv dtd no X
S 4 dd pulv 1
IVFD KaEN 3B
Dosis maintance: 4 cc/kgBB/jam
BB: 8,5kg
8,5 x 4 = 34cc/jam
Jumlah tetes/menit= (34 : 60) x 20 = 11,3 tpm makrodrips
Terapi diare dengan Terapi Rehidrasi Oral (TRO)
Oralit untuk 3 jam pertama 75cc/kgBB

BB: 8,5kg
10

Jumlah oralit 3 jam pertama: 637,5 cc


Bila masih haus dan ingin minum harus diberi lagi. Namun bila dengan volume diatas
kelopak mata menjadi bengkak, pemberian oralit harus dihentikan sementara dan
diberikan minum air putih atau air tawar. Bila oedema kelopak mata sudah hilang
dapat diberikan lagi. Untuk anak dibawah 2 tahun cairan harus diberikan dengan
sendok dengan cara 1 sendok setiap 1 sampai 2 menit.
Rehidrasi dengan oralit baru untuk tiap BAB cair
Diberikan segera setelah anak diare, untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi. Oralit
dengan osmolaritas yang rendah ini berguna untuk menurunkan kebutuhan
suplementasi intravena dan mengurangi pengeluaran tinja dan kejadian muntah.
Dosis: 50-100ml tiap kali BAB.
Zinc
Dosis: 20 mg (1 tablet) per hari. Diberikan selama 10 hari berturut-turut untuk
mengurangi lama dan beratnya diare serta mengembalikan nafsu makan anak. Untuk
usia 1 tahun 1 bulan, zinc dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang atau oralit.
R/ Zinc tab 20 mg no X
S 1 dd tab 1
Non medika mentosa
Diet gizi tinggi kalori dan tinggi protein untuk meningkatkan daya tahan tubuh
penderita sehingga dapat mengurangi terjadinya komplikasi campak.
Cukup cairan untuk rehidrasi kekurangan cairan.
ASI dan makanan tetap diteruskan untuk mencegah kehilangan berat badan.
Makanan diberikan sedikit-sedikit tapi sering (lebih kurang 6 kali sehari) serta rendah
serat.
Buah-buahan diberikan terutama pisang.
Di rawat di bangsal isolasi sistem pernafasan sampai 4 hari timbulnya ruam untuk
mengurangi penyebaran.
Edukasi
Edukasi kepada orang tua mengenai campak dan diare
Memberikan nasihat kepada orang tua untuk kembali segera jika demam, tinja
berdarah, berulang, makan dan minum sedikit, sangat haus, diare makin sering, atau
belum membaik dalam 3 hari.
Edukasi kepada orang tua tentang melakukan rehidrasi
Menjelaskan kepada ibu mengenai ketentuan pemberian oralit formula baru
PROGNOSIS
11

Ad vitam
Ad fungsionam
Ad sanationam

: bonam
: bonam
: bonam

FOLLOW UP
Tanggal 23 Maret 2016 Jam: 11.05
S: Ibu pasien merasa masih demam namun tidak setinggi kemarin. BAB 1 kali, warna kuning,
bau biasa, kurang lebih gelas aqua, sudah tidak cair, ada ampas dan tidak ada lendir
darah. Pilek masih namun sudah membaik. Bercak merah belum ada perubahan. Pasien
sudah tidak lemas namun napsu makan belum membaik. Ibu pasien merasa pasien batuk
tidak berdahak.
O: Tampak sakit sedang, kompos mentis, nadi: 124 x/menit, RR: 25 x/menit, suhu: 37,8 oC
Turgor kulit kurang namun membaik, ubun-ubun besar sedikit cekung, air mata ada, mata
sedikit cekung, sekret hidung(+), mukosa mulut kering(+). Bercak merah belum
berkurang namun warna sedikit menjadi gelap.
Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 23 Maret 2016 jam 07.24 di Ruangan
Pemeriksaan faeces rutin
Amuba
Lekosit
Eritrosit
Telur cacing
Lain-lain
Lemak
Clinitest
Sudan III

Negatif
0-1
Negatif
Negatif
Negatif
Positif
Negatif
Positif

Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

A: Campak + diare akut dehidrasi ringan sedang ec viral infection


Demam yang semakin turun setelah timbulnya ruam, batuk dan pilek membantu
memperkuat diagnosis campak. Adanya keluhan bercak merah yang belum membaik
karena pada campak umumnya ruam bertahan lebih lama, namun ruam yang menjadi
lebih gelap dari sebelumnya menunjukan adanya campak yang mengalami perbaikan.
BAB cair sudah 1 kali dan sudah ada ampas, turgor kulit membaik, air mata sudah ada
menunjukkan diare mengalami perbaikan. Namun turgor kulit yang masih kurang, ubunubun besar sedikit cekung, mata sedikit cekung, mukosa mulut kering menunjukkan
bahwa pasien masih dalam keadaan dehidrasi, ini dapat disebabkan karena pasien belum
mau makan sehingga asupan untuk mengganti kehilangan cairan belum memadai. Dari
12

hasil pemeriksaan penunjang faeces rutin menunjukkan adanya viral infection dimana
jumlah leukosit pada kotoran yang disebabkan virus umumnya kurang dari 5/lpb,
sedangkan jumlah leukosit pada bacterial infection umumnya mencapai >10/lpb. Adanya
lemak pada tinja dan pemeriksaan sudan III positif dapat menunjukkan tinggi nya asupan
lemak yang dikonsumsi penderita atau adanya gangguan dalam mencerna lemak.
P: Paracetamol syrup 1 cth diminum hanya bila masih demam (>37,5C)
-Chlorpheniramine maleate 4x1mg + Gliseril Guaiakolat 3x34mg / 3xtablet (dosis
12mg/kgBB/hari, 3kali sehari, sediaan 100mg) dibuat dalam puyer untuk batuk pilek
R/ CTM 1 mg
Gliseril Guaiakolat 34 mg
Mf pulv dtd no X
S 3 dd pulv 1
-IVFD KaEN 3B 11,3 tpm makrodrips
-Bila masih BAB cair diberikan oralit dengan dosis 50-100ml tiap kali BAB
-Zinc 1x20mg
Tanggal 24 Maret 2016 Jam: 10.30
S: ibu mengatakan pasien sudah tidak demam. BAB 1 kali, tidak ada keluhan, konsitensi
sudah seperti pasta gigi. Sudah tidak batuk dan pilek. Pasien sudah mau makan sedikit
demi sedikit. Bercak merah sudah menjadi lebih gelap.
O: Tampak sakit sedang, kompos mentis, nadi: 120 x/menit, RR: 26 x/menit, suhu: 37,1 oC
Turgor kulit normal, ubun-ubun besar sudah tidak cekung, air mata ada, mata sedikit
cekung, sekret hidung(-), mukosa mulut kering(-). Bercak merah menjadi lebih gelap.
Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 23 Maret 2016 jam 07.35 di Ruangan
Pemeriksaan darah lengkap
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Eritrosit
Trombosit
MCV
MCH
MCHC

Hasil
12.0 g/dL
6.5 x 103 /uL
35%
4.6 x 106 /uL
169 x 103 /uL
78 fL
26 pg
34 g/dL

Nilai rujukan
10.8 12.8 g/dL
6.0 17.0 x 103 /uL
35 43%
3.60 5.20 x 106 /uL
150 400 x 103 /uL
73 101 fL
23 31 pg
26 34 g/dL

A: Campak + diare akut dehidrasi ringan sedang


13

Campak mengalami perbaikan dilihat dari suhu tubuh yang mulai normal, tidak ada batuk
pilek, dan bercak merah sudah menjadi lebih gelap. Diare mengalami perbaikan dilihat
dari BAB dengan kotoran dengan konsistensi seperti pasta gigi, pasien sudah mau makan,
turgor kulit menjadi normal, ubun-ubun besar sudah tidak cekung, air mata ada, mukosa
mulut kering(-).
P: Zinc 1 x 20mg diteruskan hingga 10 hari dihitung sejak awal minum zinc
Pasien boleh rawat jalan
Kontrol 1 minggu kemudian
Edukasi agar cukup kalori dan cairan.

14