Anda di halaman 1dari 5

http://cha2in-chemistry09.blogspot.co.id/2012/11/analisis-cemaran-udara-sox-dan.

html
UDARA AMBIEN
Udara ambien adalah udara bebas di permukaan bumi yang berada pada lapisan
troposfir yang dibutuhkan dan dapat mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk hidup serta
unsur lingkungan hidup lainnya. Kualitas udara ambien ini sendiri merupakan tahap awal
dalam memahami dampak negatif dari cemaran udara terhadap lingkungan, dimana kualitas
udara ambien dalam hal ini ditentukan oleh :
1.Kuantitas emisi cemaran dari sumber cemaran.
2.Proses transportasi, konversi dan penghilangan cemaran di atmosfer, dimana
kualitas udara ambien akan menentukan dampak negatif cemaran udara terhadap kesehatan
masyarakat dan kesejahteraan masyarakat seperti tumbuhan, hewan, material dan yang
lainnya.

Gambar 1. Skema Rantai Emisi-Dampak Cemaran Udara (Setyowati, 2009)


Pengukuran kualitas udara ambien bertujuan untuk mengetahui konsentrasi zat pencemar yang
ada di udara. Data hasil pengukuran tersebut sangat diperlukan untuk berbagai kepentingan,
diantaranya untuk mengetahui tingkat pencemaran udara di suatu daerah atau untuk menilai
keberhasilan program pengendalian pencemaran udara yang sedang dijalankan. Untuk
mendapatkan hasil pengukuran yang valid (yang representatif), maka dari mulai pengambilan
contoh udara (sampling) sampai dengan analisis di laboratorium harus menggunakan
peralatan, prosedur dan operator (teknisi, laboran, analis dan chemist) yang dapat
dipertanggungjawabkan (Sutardi, 2008).
Informasi mengenai efek pencemaran udara terhadap kesehatan dapat berasal dari
data pemaparan pada binatang, kajian epidemiologi, dan pada kasus yang terbatas mengenai
kajian pemaparan pada manusia (Setyowati, 2009).
Mutu udara ambien adalah kadar zat, energi atau komponen lain yang ada di udara bebas. Status
mutu udara ambien adalah keadaan mutu udara di suatu tempat pada saat dilakukan
inventarisasi. Baku mutu udara ambien adalah ukuran batas atau kadar zat, energi atau komponen
yang ada atau yang seharusnya ada atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam
udara ambien (Sukirno, 2011).
Baku Mutu Kualitas Udara Ambien dibagi menjadi dua, yaitu baku mutu primer dan baku
mutu sekunder. Baku mutu primer ditetapkan untuk melindungi pada batas keamanan yang
mencukupi (adequate margin safety) kesehatan masyarakat dimana secara umum ditetapkan
untuk melindungi sebagian masyarakat (15-20%) yang rentan terhadap pencemaran udara.
Sedangkan baku mutu sekunder ditetapkan untuk melindungi kesejahteraan masyarakat
(material, tumbuhan dan hewan) dari setiap efek negatif pencemaran udara yang telah
diketahui atau yang dapat diantisipasi (Setyowati, 2009).

Zat Pencemar Udara Ambien


Gambar 2. Sumber Zat Pencemar Udara Ambien (Anonim, 2010)

Berdasarkan proses pembentukannnya, zat pencemar di udara ambien dapat


dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Zat pencemar primer
Zat pencemar primer dapat didefinisikan sebagai zat pencemar yang terbentuk pada
sumber emisinya, seperti partikulat, NOx, CO dan SO2. Polutan udara primer mencakup 90%
dari jumlah polutan udara seluruhnya. Sumber polusi yang utama berasal dari transportasi, di
mana hampir 60% dari polutan yang dihasilkan terdiri dari karbon monoksida dan sekitar
15% terdiri dari hidrokarbon. Sumber-sumber polusi lainnya misalnya pembakaran, proses
industri, pembuangan limbah, dan lain-lain. Polutan yang utama adalah karbon monoksida
yang dapat mencapai hampir setengah dari seluruh polutan udara yang ada (Setio,2009).
2. Zat pencemar sekunder Zat pencemar sekunder merupakan zat pencemar yang
terbentuk di atmosfer yang merupakan produk dari reaksi kimia beberapa zat
pencemar, seperti NO2,O3,Peroxy Acetyl Nitrate (PAN), asam sulfat dan asam nitrat
(Anonim1, 2010).
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Udara Ambien
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas zat pencemar udara ambien, adalah sumber emisi
(alamiah dan anthropogenik), faktor meteorologi seperti temperatur, tekanan, kelembaban,
intensitas matahari, curah hujan, mixing height, arah dan kecepatan angin serta faktor
topografik (Sutardi, 2008). Apabila intensitas sumber emisi dan faktor meteorologis
khususnya arah dan kecepatan angin dapat selalu berubah, maka dengan demikian
konsentrasi zat pencemar di udara ambien juga selalu berubah (tidak konstan). Perubahan
konsentrasi zat pencemar di udara ambien ini terjadi karena perubahan waktu (temporal) dan
juga terjadi karena perubahan tempat (Anonim1, 2010).

Sifat Kimia dan Fisika


Sulfur dioksida (SO2) mempunyai karakteristik gas yang tidak berwarna, berbau tajam,
bersifat korosif (penyebab karat), beracun karena selalu mengikat oksigen untuk mencapai
kestabilan fasa gasnya dan tidak mudah terbakar diudara. Gas SO2 juga mudah larut dalam
air membentuk asam sulfat (Wisconsin Department, 2005). Di udara gas SO2ini selalu
terbentuk dalam jumlah besar. Jumlah SO2 yang terbentuk bervariasi dari 1 sampai 10% dari
total SOx. Mekanisme pembentukan SO2 dapat dituliskan dengan reaksi sebagai berikut
(Anonim2, 2004) :

Secara global, senyawa-senyawa belerang dalam jumlah cukup besar masuk ke atmosfer
melalui aktivitas manusia sekitar 100 juta metric ton setiap tahunnya, terutama sebagai SO2
dari pembakaran batu bara dan gas buangan pembakaran bensin. Jumlah yang cukup besar
dari senyawa belerang juga dihasilkan oleh kegiatan gunung berapi dalam bentuk H2S,
proses perombakan bahan organik, dan reduksi sulfat secara biologis. Jumlah yang dihasilkan
oleh proses biologis ini dapat mencapai lebih 1 juta metric ton H2S per tahun. Sebagian dari
H2S yang mencapai atmosfer ini secara cepat diubah menjadi SO2 melaui reaksi
(Anonim3,2011)

Selain itu, hampir setengahnya dari belerang yang terkandung pada batu bara dalam bentuk
pyrit, FeS2, dan setengahnya lagi dalam bentuk sulfur organik. Dimana pada dasarnya, semua
sulfur yang memasuki ke atmosfer dirubah dalam bentuk SO2.Sulfur dioksida yangdihasilkan
oleh perubahan pyrit dapat melalui reaksi sebagai berikut (Anonim3, 2011)

Kadar sulfur dioksida yang tinggi di udara telah diketahui dapat mengakibatkan kerusakan
bangunan. Namun meskipun kadar SO
2
rendah, kerusakan bangunan masih terjadi. Hal ini dapat diakibatkan meningkatnya
konsentrasi ozon dan nitrogen di dalam lingkungan perkotaan. Percobaan-percobaan yang
dilakukan telah memperlihatkan bahwa campuran pencemar-pencemar seperti ozon, nitrogen
dioksida dan sulfur merusak batu lebih cepat dibandingkan dengan satu persatu pencemar
tersebut (Civirily, 2011).

Cara uji kadar sulfur dioksida (SO2) dengan metode pararosanilin menggunakan
spektrofotometer
SNI 19-7119.7.2005
Peralatan pengambilan contoh uji disusun seperti pada gambar. Memasukkan larutan
tetrakloromerkurat (TCM) 0,04 M sebanyak 10 mL ke masing-masing botol penjerap. Botol
penjerap diatur agar terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung. Menghidupkan
pompa penghisap udara dan mengatur kecepatan alir 0,5 L/menit sampai 1 L/menit, setelah
stabil mencatat laju alir awal F1 (L/menit). Melakukan pengambilan contoh uji selama 1 jam
dan mencatat temperatur serta tekanan udara. Setelah 1 jam mencatat laju alir akhir F2
(L/menit) dan kemudian mematikan pompa penghisap. Didiamkan selama 20 menit setelah
pengambilan contoh uji untuk menghilangkan pengganggu.

Memindahkan larutan contoh uji ke dalam tabung uji 25 mL dan menambahkan 5 mL air
suling untuk membilas. Menambahkan 1 mL larutan asam sulfamat 0,6% dan tunggu sampai
10 menit. Menambahkan 2,0 mL larutan formaldehida 0,2%. Menambahkan 5,0 mL larutan
pararosanilin. Menepatkan dengan air suling sampai volume 25 mL, lalu mehomogenkan dan menunggu
sampai 30-60 menit. Mengukur serapan masing-masing larutan standar dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 550 nm kemudian menghitung konsentrasi dengan
menggunakan kurva kalibrasi. Melakukan langkah-langkah di atas untuk pengujian blanko
dengan menggunakan 10 mL larutan penjerap.