Anda di halaman 1dari 3

Si manis stevia, pengganti gula

tebu untuk diet rendah kalori


RAHMAT HIDAYAT | 21 JANUARI 2016

Foto: Pixabay

Gula yang kita tambahkan dalam makanan sehari-hari kebanyakan terbuat dari tebu.
Dewasa ini gula dituduh sebagai penyebab utama obesitas, karena hampir setiap
makanan lezat menggunakan gula sebagai pemanis. Gula yang dibuat dari tebu atau
jagung diketahui mengandung kalori yang tinggi. Dalam satu sendok teh gula pasir
ditengarai mengandung 30 kalori dan 8 gram karbohidrat. Padahal anjuran konsumsi
kalori gula per hari maksimal 100 kalori untuk perempuan dan 150 kalori untuk laki-laki.
Pertanyaanya berapa sendok gula yang kita konsumsi setiap hari? Survei di Amerika
Serikatmenyebutkan masyarakat rata-rata mengkonsumsi lebih dari 355 kalori dari gula

setiap harinya. Gula tersebut tercampur dalam makanan dan minuman. Hal ini yang
ditengarai menjadi penyebab obesitas dan penyakit diabetes.
Mengurangi asupan gula menjadi tantangan diet. Kurang meriah rasanya hidup ini kalau
kita menghindari yang manis-manis. Oleh karena itu masyarakat mulai berpaling pada
pemanis rendah kalori. Salah satu alternatif gula yang populer adalah stevia. Pemanis
ini memiliki tingkat kemanisan hingga ratusan kali lipat dibanding gula dengan
kandungan kalori yang minimal.

Apakah stevia itu?


Masyarakat sudah lama mengenal stevia sebagai pengganti gula tebu. Daun stevia
diketahui memiliki tingkat kemanisan 30 kali lipat dibanding tebu, bahkan setelah diolah
menjadi gula meja tingkat kemanisannya bisa mencapai 300 kali lipat dibanding gula
tebu. Walapun derajat kemanisannya tinggi, stevia mengandung kalori yang sangat
rendah. Sebagai perbadingan, 2 sendok gula tebu mengandung 30 kalori dan 8 gram
karbohidrat sedangkan 2 sendok stevia hanya mengandung 5 kalori dan 1 gram
karbohidrat dengan tingkat kemanisan jauh lebih tinggi.
Stevia atau nama ilmiahnya Stevia rebaudiana adalah tanaman herbal. Tanaman ini
berasal dari Amerika Selatan, yakni Paraguay dan Brasil. Di kawasan ini daun stevia
sudah digunakan sebagai pemanis sejak ratusan tahun yang lalu. Selain itu digunakan
juga sebagai pengobatan untuk masalah lambung, seperti kolik.
Namun di tingkat global stevia kalah populer dengan tebu atau jagung. Gula masih
mendominasi produksi pemanis hingga lebih dari 83%. Pemanis lainnya, termasuk
stevia hanya sekitar 7%, sisanya starch sweeteners and sugar alcohols (data tahun
2003).
Stevia pertama kali digunakan secara komersial di Jepang. Hingga saat ini masyarakat
Jepang menjadi konsumen terbesar pemanis stevia. Pemanis stevia menguasai 40%
pangsa pasar pemanis di Jepang. Mungkin hal ini yang membuat angka obesitas di
Jepang relatif rendah.

Manfaat stevia
Pemanis dari stevia banyak digunakan dalam produk-produk diet rendah kalori dan diet
diabetes tipe 2. Pada penderita diabetes, pemanis stevia dimanfaatkan sebagai
pengganti gula. Efek makanan terhadap diabetes biasanya diukur dengan glycemic
index (GI). Semakin rendah indeksnya semakin baik. Untuk diketahui, gula pasir
memiliki GI 80, buah apel 39, kentang goreng 95, sedangkan stevia memiliki indeks 0!

Manfaat lain dari stevia adalah untuk menurunkan tekanan darah. Cocok dikonsumsi
oleh penderita darah tinggi. Kebiasaan ini telah digunakan oleh masyarakat di Amerika
Selatan, teh dengan pemanis stevia digunakan untuk pengobatan darah tinggi, walau
secara belum ada penelitiannya secara klinis.
Stevia dianjurkan untuk diet obesitas. Memang mengkonsumsi stevia tidak
berhubungan dengan penurunan berat badan. Namun mensubtitusi gula tebu dengan
pemanis stevia bisa menurunkan asupan kalori harian. Sebagai gambaran, bila kita
setiap hari mengkonsumsi satu cangkir gula maka dengan stevia cukup dengan hanya
satu sendok saja, tanpa mengurangi rasa manis dari makanan atau minuman yang kita
konsumsi.

Anda mungkin juga menyukai