Anda di halaman 1dari 67

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Puskesmas adalah unit pelaksana teknik dinas kesehatan kabupaten / kota yang
bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan diwilayahnya.
Puskesmas berperan menyelenggarakan upaya kesehatan untuk meningkatkan
kesadaran,kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar
memperoleh

derajat kesehatan yang optimal.Dengan demikian pembangunan

berwawasan kesehatan,pusat pemberdayaan kesehatan strata pertama.


Upaya kesehatan
kesehatan wajib

yang diselenggarakan di Puskesmas terdiri dari upaya

dan upaya kesehatan pembangunan.Upaya kesehatan wajib

merupakan upaya kesehatan yang dilaksanakan oleh seluruh puskesmas di indonesai.


Upaya kesehatan wajib yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional, dan
global, serta yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat. Upaya kesehatan yang wajib diselenggarakan oleh Puskesmas adalah
promosi kesehatan, pelayanan pengobatan, kesehatan ibu dan anak, pemberantasan
penyakit menular, kesehatan lingkungan, dan gizi. Rincian informasi yang dikumpulkan
adalah apakah masing-masing upaya kesehatan wajib tersebut diselenggarakan atau
tidak. Upaya kesehatan wajib yang dilaksanakan di Puskesmas adalah : Promosi
Kesehatan, Pelayanan Pengobatan, Kesehatan Ibu dan Anak/Keluarga Berencana
(KIA/KB), Pemberantasan Penyakit Menular (P2M), Kesehatan Lingkungan (Kesling)
dan Gizi.
Salah satu upaya kesehatan wajib yang masih menjadi perhatian adalah
Pemberantasan penyakit menular. Dimana masih tingginya angka prevalensi penemuan
kasus di setiap tahun. Tetapi dengan berkembang zaman, penyakit manusia mulai
mengalami pergeseran. Yang awalnya penyakit menular memiliki prevalensi yang
tinggi, sekarang mulai muncul penyakit-penyakit tidak menular yang bersifat
degeneratif yang disebut Penyakit tidak menular (PTM). Sehingga di Indonesia muncul
istilah yang disebut Beban Ganda, maksudnya adalah kasus penyakit menular belum
tertangani secara tuntas tetapi prevalensi kasus penyakit tidak menular semakin tinggi
setiap tahun.

Diare sampai saat ini masih menjadi masalah utama di masyarakat yang sulit
untuk ditanggulangi. Dari tahun ke tahun diare tetap menjadi salah satu penyakit yang
menyebabkan mortalitas dan malnutrisi pada anak. Menurut data World Health
Organization (WHO) pada tahun 2009, diare adalah penyebab kematian kedua pada
anak dibawah 5 tahun.
Secara global setiap tahunnya ada sekitar 2 miliar kasus diare dengan angka
kematian 1.5 juta pertahun. Pada negara berkembang, anak-anak usia dibawah 3 tahun
rata-rata mengalami 3 episode diare pertahun. Setiap episodenya diare akan
menyebabkan kehilangan nutrisi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh, sehingga diare
merupakan penyebab utama malnutrisi pada anak (WHO, 2009).
Untuk skala nasional berdasarkan data dari Profil Kesehatan Indonesia tahun
2008, penderita diare pada tahun tersebut adalah 8.443 orang dengan angka kematian
akibat diare adalah 2.5%. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu 1.7%
dengan jumlah penderita diare adalah 3.661 orang. Untuk tahun 2006, penderita diare di
Indonesia adalah 10.280 orang dengan angka kematian 2.5%.
Di Provinsi NTB diare masih menjadi masalah, dikarenakan masih buruknya
kondisi sanitasi dasar, lingkungan fisik maupun perilaku masyarakat untuk hidup bersih
dan sehat. Pada Riskesdes 2013 diantara seluruh Provinsi di Indonesia, Nusa Tenggara
Barat (NTB) merupakan salah satu provinsi yang kejadian diare berada di atas rata-rata
nasional yaitu 4,1 persen. Pada tahun 2012 kejadian diare di NTB sebanyak 176,920
kasus yang tersebar di Kabupaten/Kota dan kejadian diare di Kabupaten Lombok Timur
sebanyak yaitu 39.461 kasus. (Dinas Kesehatan NTB, 2013).

Tabel 1. Kejadian Diare di Provinsi NTB Berdasarkan Kabupaten/Kota Tahun


2011

Pada tabel 1. Menunjukkan sebaran kejadian diare di NTB berdasarkan.


Kabupaten/Kota tahun 2012. Pada tabel tersebut terlihat bahwa kejadian diare di
Lombok Timur adalah kabupaten yang kejadian diare paling tinggi di provinsi NTB
yaitu sebanyak 39.461 kasus. Dan derdasarkan hasi studi pendahuluan yang telah
dilakukan di bulan Maret 2014 menunjukkan bahwa kejadian diare pada balita di
Puskesmas Aikmel pada tahun 2013 sebanyak 872 kasus diare.
Kejadian diare di Puskesmas Cakranegara sendiri pada bulan juli tahun 2015
adalah sebanyak 142 kasus. Dan termasuk dalam 10 penyakit terbanyak urutan ke 9.
Berbagai faktor mempengaruhi terjadinya kematian, malnutrisi, ataupun
kesembuhan pada pasien penderita diare. Pada balita, kejadian diare lebih berbahaya
dibanding pada orang dewasa dikarenakan komposisi tubuh balita yang lebih banyak
mengandung air dibanding dewasa. Jika terjadi diare, balita lebih rentan mengalami
dehidrasi dan komplikasi lainnya yang dapat merujuk pada malnutrisi ataupun
kematian.
Faktor ibu berperan sangat penting dalam kejadian diare pada balita. Ibu adalah
sosok yang paling dekat dengan balita. Jika balita terserang diare maka tindakantindakan yang ibu ambil akan menentukan perjalanan penyakitnya. Tindakan tersebut
dipengaruhi berbagai hal, salah satunya adalah pengetahuan.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang (overt behavior). Karena dari pengalaman dan penelitian ternyata

perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang
tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan ibu mengenai diare meliputi pengertian, penyebab, gejala klinis,
pencegahan, dan cara penanganan yang tepat dari penyakit diare pada balita berperan
penting dalam penurunan angka kematian dan pencegahan kejadian diare serta
malnutrisi pada anak. Pada penelitian sebelumnya oleh Pujiastuti (2003) di
Karanganyar didapati adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan
sikap ibu, dan juga antara pengetahuan ibu dengan tindakan ibu terhadap pencegahan
diare pada balita.
Dengan keadaan ini penulis tertarik untuk mengetahui apakah terdapat hubungan
antara tingkat pengetahuan ibu dengan tindakan ibu terhadap kejadian diare pada balita
di Puskesmas Cakranegara tahun 2015.
B.

Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare
pada balita di wilayah kerja Puskesmas Cakranegara tahun 2015.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tingkat pengetahuan ibu terhadap kejadian diare pada balita
diwilayah Puskesmas Cakranegara tahun 2015.
b.

Mengetahui prilaku ibu terhadap kejadian diare pada balita di Wilayah


Kerja Puskesmas Cakranegara tahun 2015.

c. Mengetahui sikap ibu terhadap kejadian diare pada balita di Wilayah


Kerja Puskesmas Cakranegara tahun 2015.
d. Mengetahui keadaan hygiene sanitasi terhadap kejadian diare pada balita
di Wilayah Kerja Puskesmas Cakranegara tahun 2015.
e. Mengetahuifasilitas pelayanan kesehatan terhadap kejadian diare pada
balita di Wilayah Kerja Puskesmas Cakranegara tahun 2015.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DIARE
1. Pengertian
Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4x pada bayi dan
lebih dari 3x pada anak, konsistensi cair, ada lendir atau darah dalam faeces
(Ngastiyah, 1999). Definisi Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara buang
air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair (Suriadi,2001). Sedangkan menurut
(Arief Mansjoer, 2000) Diare adalah defekasi lebih dari 3x sehari dengan atau tanpa
darah atau lendir. Adapun menurut (Richard,1993) Diare adalah suatu peningkatan
frekuensi, keenceran dan volume tinja serta diduga selama 3 tahun pertama
kehidupan, seorang anak akan mengalami 1 3x episode akut diare berat.
2. Etiologi
Adapun faktor penyakit diare yang dibagi menjadi 4(empat) faktor
(Ngastiyah,1997) antara lain :
a. Faktor Infeksi
1) Infeksi eksternal adalah infeksi saluran pencernaan makanan
a) Infeksi bakteri : vibrio, E coli, rotavirus
b) Infeksi virus : intervirus, adenovirus, rotavirus
c) Infeksi parasit : cacing, protozoa, jamur
2) Infeksi parental adalah infeksi di luar alat pencernaan makanan
a) Tonsilitis
b) Bronkopneumonia
c) Ensefalitis
b. Faktor Malabsorbsi
1) Malabsorbsi karbohidrat
2) Malabsorbsi lemak
3) Malabsorbsiprotein
c. Faktor Makanan
1) Makanan beracun
2) Makanan basi
3) Alergi terhadap makanan
5

d. Faktor Psikologis
Rasa takut dan cemas ( jarang terjadi pada anak yang lebih besar)
3. Penyebab Diare
Penyebab diare berkisar dari 70% sampai 90% dapat diketahui dengan pasti,
penyebab diare dapat dibagi menjadi 2 yaitu (Suharyono,2003) :
a. Penyebab Tidak Langsung

Penyakit tidak langsung atau faktor-faktor yang mempermudah atau


mempercepat terjadinya diare seperti : keadaan gizi, hygiene dan sanitasi,
kepadatan penduduk, sosial ekonomi.
b. Penyebab Langsung

Termasuk dalam penyakit langsung antara lain infeksi bakteri virus dan
parasit, malabsorbsi, alergi, keracunan bahan kimia maupun keracunan oleh racun
yang diproduksi oleh jasad renik, ikan, buah dan sayur-sayuran. Ditinjau dari
sudut

patofisiologi, penyakit diare akut dibagi menjadi 2 golongan yaitu

(Suharyono, 2003) :
1) Diare Sekresi
a) Disebabkan oleh infeksi dari golongan bakteri seperti shigella, salmonella,
E. coli, bacilluscareus, clostridium. Golongan virus seperti protozoa,
entamoeba histolitica, giardia lamblia, cacing perut, ascaris, jamur.
b) Hiperperistaltic usus halus yang berasal dari bahan-bahan makanan kimia
misalnya keracunan makanan, makanan pedas, terlalu asam, gangguan
psikis, gangguan syaraf, hawa dingin, alergi.
c) Definisi imun yaitu kekurangan imun terutama IgA yang mengakibatkan
terjadinya berlipat gandanya bakteri dan jamur.
2) Diare Osmotik yaitu malabsorbsi makanan, kekurangan kalori protein dan
berat badan lahir rendah
4. Patogenesis
Mekanisme yang menyebabkan timbulnya diare adalah (Ngastiyah,1997) :
a. Gangguan osmotik yaitu yang disebabkan adanya makanan atau zat yang tidak
diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat

sehingga penggeseran air dan elektrolit berlebihan akan merangsang usus dan
mengeluarkannya sehingga timbul diare.
b. Gangguan sekresi yang menyebabkan adanya rangsangan tertentu (misalnya:
foksin) pada dinding usus yang akan terjadi suatu peningkatan sekresi, selanjutnya
menimbulkan diare karena peningkatan isi rongga usus.
c. Gangguan motilitas usus yaitu hiperstaltik yang mengakibatkan kurangnya
kesempatan usus untuk menyerap makanan yang menimbulkan diare, sebaliknya
bila peristaltik usus menurun mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang
menimbulkan diare.
5. Tanda dan Gejala

1) Cengeng, gelisah
2) Suhu tubuh meningkat
3) Nafsu makan berkurang
4) Timbul diare, tinja encer, mungkin disertai lender atau lendir darah
5) Warna tinja kehijau-hijauan
6) Anus dan daerah sekitar lecet karena seringnya defekasi
7) Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare
8) Banyaknya kehilangan cairan dan elektrolit sehingga menimbulkan dehidrasi
9) Berat badan menurun, turgor kurang, mata dan ubun-ubun besar, menjadi cekung
(pada bayi) selaput lendir dan mulut serta kulit tampak kering (Ngastiyah,1997).
6. Cara Penularan

Kuman penyakit diare ditularkan melalui fecal oral antara lain melalui
makanan dan minuman yang tercemar tinja dan kontak langsung dengan tinja
penderita (Depkes,2000).
7. Pencegahan diare
Pencegahan diare dapat dilakukan dengan memberikan ASI, memperbaiki
makanan pendamping ASI, membuang sampah pada tempatnya atau menjaga
kebersihan lingkungan, menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, mencuci
tangan sebelum makan,menutup makanan atau menjaga kebersihan makanan,
menggunakan jamban, membuang tinja anak pada tempat yang tepat (Depkes, 2000).

B. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi

Frekuensi terjadinya diare pada balita

(Pudjiadi,2005; Notoatmodjo,2003) meliputi :


1. Faktor umum atau secara langsung
a. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba di mana sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh
melalui mata dan telinga. Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan merupakan
hasil tahu dan ini terjadi setelah melakukan penginderaan terhadap suatu objek
tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata (penglihatan) dan telinga
(pendengaran). Menurut Padmonodewo (2000) menyatakan pengetahuan sebagai
sesuatu yang diketahui oleh seseorang dengan jalan apapun dan sesuatu yang
diketahui orang dari pengalaman yang didapat.
b. Perilaku Cuci Tangan
Kebersihan pada ibu dan balita terutama dalam hal perilaku mencuci
tangan setiap makan, merupakan sesuatu yang baik. Sebagian besar kuman infeksi
diare ditularkan melalui jalur fecal-oral. Dapat ditularkan dengan memasukan ke
dalam mulut, cairan atau benda yang tercemar dengan tinja misalkan air minum
dan makanan. Kebiasaan dalam kebersihan adalah bagian penting dalam
penularan kuman diare, dengan mengubah kebiasaan dengan tidak mencuci tangan
menjadi mencuci tangan dapat memutuskan penularan. Penularan 14-18%
terjadinya diare diharapkan sebagai hasil pendidikan tentang kesehatan dan
perbaikan kebiasaan (Depkes,2000).
c. Hygiene Sanitasi
Hygiene adalah suatu usaha kesehatan masyarakat yang mempengaruhi
kondisi lingkungan terhadap lingkungan kesehatan manusia, upaya mencegah
timbulnya penyakit karena pengaruh lingkungan kesehatan serta membuat kondisi
lingkungan sedemikian rupa sehingga terjamin pemeliharaan kesehatan. Termasuk
upaya melindungi, memelihara dan mempertinggi derajat kesehatan manusia
(perorangan atau masyarakat). Sedemikian rupa sehingga berbagai faktor
lingkungan yang menguntungkan tersebut tidak sampai menimbulkan gangguan
kesehatan (Azwar,1990).
8

Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada


pengawasan terhadap faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia, lebih
mengutamakan

usaha

pencegahan

terhadap

berbagai

faktor

lingkungan

sedemikian rupa sehingga munculnya penyakit dapat terhindari (Azwar,1990).


Sanitasi lingkungan berupa adanya jamban umum, MCK (Mandi, Cuci, Kakus),
tempat sampah. Perilaku masyarakat khususnya ibu balita yang dalam
pemanfaatannya kurang terpelihara, hal ini berhubungan dengan pendidikan
kesehatan pada ibu balita yang berdampak pada tingkat kesadaran atau
pengetahuan dalam menjaga sanitasi lingkungannya. Selanjutnya menimbulkan
tercapainya perilaku kesehatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari
misalnya cara membuang sampah sembarangan hal ini akan menimbulkan
pencemaran pada sumber air, udara serta bau yang menyengat yang tidak sehat
dan mengganggu dalam segi kesehatan (Notoatmodjo,2003). Adapun macamnya
antara lain :
1) Kualitas Sumber Air
Bagi manusia minum merupakan kebutuhan utama bagi manusia yang
menggunakan air untuk berbagai keperluan seperti mandi, mencuci, kakus,
produksi pangan, pangan dan sandang. Berbagai penyakit dapat dibawa oleh
air kepada manusia pada saat memanfaatkannya, maka tujuan penyediaan air
bersih atau air minum bagi masyarakat adalah mencegah penyakit bawaan air.
Demikian diharapkan semakin banyak pengetahuan masyarakat yang
menggunakan air bersih maka akan semakin turun modifitas penyakit akibat
bawaan air (Soemirat,1994).
Sumber air minum merupakan sarana sanitasi yang penting berkaitan
dengan kejadian diare. Pada prinsipnya sumber air dapat diproses menjadi air
minum, sumber-sumber air ini dapat digambarkan sebagai berikut : air hujan,
di mana air hujan dapat ditampung dan kemudian dijadikan air minum. Air
sungai dan danau, kedua sumber air ini sering disebut air permukaan. Mata air
yaitu air yang keluar dan berasal dari tanah yang muncul secara alamiah. Air
sumur dangkal yaitu air yang berasal dari lapisan air di dalam tanah yang
dangkal biasanya berkisar antara 5-15 meter. Air sumur dalam yaitu air berasal
dari lapisan air kedua di dalam tana, dalamnya dari permukaan tanah biasanya
di atas 15 meter. Sebagian besar air sumur dalam ini adalah cukup sehat untuk
9

dijadikan air minum langsung. Sebagian besar kuman-kuman infleksius


penyebab diare ditularkan melalui jalur fecal-oral yang dapat ditularkan
dengan dimasukkan ke dalam mulut cairan atau benda yang tercemar dengan
tinja. Sumber air yang bersih baik kualitas maupun kuantitasnya akan dapat
mengurangi tertelannya kuman penyebab diare oleh balita. Kualitas air minum
hendaknya

diusahakan

memenuhi

persyaratan

kesehatan,

diusahakan

mendekati persyaratan air sehat yaitu persyaratan fisik yang tidak berasa,
bening atau tidak berwarna. Secara bakteriologi air harus bebas dari segala
bakteri terutama bakteri pathogen. Dari sisi kimiawi air minum yang sehat itu
harus mengandung zat-zat tertentu di dalam jumlah tertentu di dalam jumlah
tertentu seperti flour, chlor, besi.(Notoatmodjo, 2003)
2) Kebersihan Jamban
Dengan adanya jamban dalam rumah mempengaruhi kesehatan
lingkungan sekitar. Untuk mencegah atau mengurangi kontaminasi tinja
terhadap lingkungan maka tinja harus dibuang pada tempat tertentu agar
menjadi jamban yang sehat untuk daerah pedesaan harus memenuhi
persyaratan yaitu tidak mengotori permukaan air di sekitarnya, tidak
terjangkau oleh serangga, tidak menimbulkan bau, mudah digunakan dan
dipelihara, sederhana desainnya, murah, dapat diterima oleh pemakainya
(Notoatmodjo,1999).
2. Faktor Pendukung atau Tidak Langsung

a. Umur
Umur adalah usia yang menjadi indikator dalam kedewasaan di setiap
pengambilan keputusan untuk melakukan sesuatu yang mengacu pada setiap
pengalamannya. Umur seseorang sedemikian besarnya akan mempengaruhi
perilaku, karena semakin lanjut umurnya, maka semakin lebih bertanggung jawab,
lebih tertib, lebih bermoral, lebih berbakti dari usia muda (Notoatmodjo,2002).
Karakteristik pada ibu balita berdasarkan umur sangat berpengaruh terhadap cara
penanganan dalam mencegah terjadinya diare pada balita, semakin tua umur ibu
maka kesiapan dalam mencegah kejadian diare akan semakin baik dan dapat
berjalan dengan baik.

10

b. Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap
dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh. Dari kepentingan keluarga itu
sendiri amat diperlukan seseorang lebih tanggap adanya masalah kesehatan
terutama kejadian diare di dalam keluarganya dan biasa mengambil tindakan
secepatnya (Kodyat,1996).
Berdasarkan tingkat pendidikan ibu, prevalensi diare berbanding terbalik
dengan tingkat pendidikan ibu, semakin tinggi tingkat pendidikan ibu maka
semakin rendah prevalensi diarenya. Lamanya menderita diare pada balita yang
ibunya berpendidikan rendah atau tidak sekolah adalah lebih panjang
dibandingkan dengan anak dari ibu yang berpendidikan baik. Insiden diare lebih
tinggi pada anak yang ibunya tidak pernah sekolah menengah (Julianti,1999).
Pendidikan yang rendah, adat istiadat yang ketat

serta nilai

dan

kepercayaan akan takhayul di samping tingkat penghasilan yang masih rendah


merupakan penghambat dalam pembangunan kesehatan. Pendidikan rata-rata
penduduk yang masih rendah, khususnya ibu balita merupakan salah satu masalah
kesehatan yang berpengaruh terhadap cara penanganan diare, sehingga sikap
hidup dan perilaku yang mendorong timbulnya kesadaran masyarakat masih
rendah. Semakin tinggi pendidikan ibu maka mortalitas (angka kematian) dan
mordibilitas (keadaan sakit) semakin menurun, hal ini tidak hanya akibat
kesadaran ibu balita yang terbatas, karena kebutuhan status ekonominya yang
belum tercukupi (Suhardjo,1999).
c. Status Pekerjaan Ibu
Status pekerjaan ibu mempunyai hubungan yang bermakna dengan
kejadian diare pada anak balita. Pada pekerjaan ibu atau keaktifan ibu dalam
berorganisasi sosial berpengaruh pada kejadian diare pada balita. Dengan
pekerjaan tersebut diharapkan ibu mendapat informasi tentang pencegahan diare.
Terdapat 9,3% anak balita menderita diare pada ibu yang bekerja, sedangkan ibu
yang tidak bekerja sebanyak 12% (Irianto,1996).
d. Pendapatan Keluarga
Pendapatan keluarga menentukan ketersediaan fasilitas kesehatan yang
baik. Semakin tinggi pendapatan keluarga, semakin baik fasilitas dan cara hidup
11

mereka yang terjaga akan semakin baik (Berg, 1986). Pendapatan merupakan
faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas fasilitas kesehatan di suatu
keluarga. Demikian ada hubungan yang erat antara pendapatan dan kejadian diare
yang didorong adanya pengaruh yang menguntungkan dari pendapatan yang
meningkatkan, perbaikan sarana atau fasilitas kesehatan serta masalah keluarga
lainnya, yang berkaitan dengan kejadian diare, hampir berlaku terhadap tingkat
pertumbuhan pendapatan. (Berg, 1986).
Tingkat pendapatan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup, di mana
status ekonomi orang tua yang baik akan berpengaruh pada fasilitasnya yang
diberikan (Notoatmodjo, 2003). Apabila tingkat pendapatan baik, maka fasilitas
kesehatan mereka khususnya di dalam rumahnya akan terjamin, masalahnya
dalam penyediaan air bersih, penyediaan jamban sendiri atau jika mempunyai
ternak akan diberikan kandang yang baik dan terjaga kebersihannya. Rendahnya
pendapatan merupakan rintangan yang menyediakan orang tidak mampu
memenuhi fasilitas kesehatan sesuai kebutuhan (BPS, 2005). Pada ibu balita yang
mempunyai pendapatan kurang akan lambat dalam penanganan diare karena
ketiadaan biaya berobat ke petugas kesehatan yang akibatnya dapat terjadi diare
yang lebih parah.
e. Status Gizi Balita
Status gizi adalah keadaan tubuh yang diakibatkan oleh konsumsi
makanan,

penyimpanan

dan

penggunaan

makanan.

Menurut

Reksodikusumo(1994) mendefinisikan status gizi adalah tanda-tanda atau


penampilan yang diakibatkan oleh keadaan keseimbangan di satu pihak dengan
pengeluaran oleh organisme dan pihak lain yang terlihat melalui variabel tertentu
disebut indikator misalnya Berat Badan dan Tinggi Badan.
Kurang gizi juga berpengaruh terhadap diare. Pada anak yang kurang gizi
karena pemberian makanan yang kurang, diare akut yang lebih berat, yang
berakhir lebih lama dan lebih sering terjadi pada diare persisten juga lebih sering
dan disentri lebih berat. Resiko meninggal akibat diare persisten atau disentri
sangat meningkat, apabila anak sudah kurang gizi secara umum hal ini sebanding
dengan derajat kurang gizinya dan paling parah jika anak menderita gizi buruk
(Depkes,1999).
12

Diare dan muntah merupakan gejala khas pada penyakit gastrointestinal,


gangguan pencernaan atau penyerapan merupakan terjadinya diare. Pemberian
diet pada penderita diare khususnya balita diusahakan makanan yang tidak
mengandung banyak serat. Pada diare yang menahun harus diwaspadai karena
akan terjadi penurunan berat badan yang selanjutnya akan mempengaruhi status
gizi balita. Pada diare menahun di samping makanan yang tidak mengandung
banyak serat, juga memperhatikan banyaknya energi dan zat gizi esensial yang
bertujuan untuk mempertahankan pertumbuhan yang normal (Pudjiadi,2005).
Penilaian status gizi balita secara antropometri, metode ini didasarkan atas
pengukuran keadaan fisik dan komposisi tubuh pada umur dan tingkat gizi yang
baik. Dalam penilaian status gizi khususnya untuk keperluan klasifikasi, maka
harus ada ukuran baku atau referensi. Baku antropomertri yang digunakan NCHS
(National Center Of

Healt Statistic USA) adalah grafik perbandingan yang

merupakan data baru yang dikatakan lebih sesuai dengan perkembangan jaman.
Dalam keadaan normal perkembangan berat badan sesuai dengan
pertambahan tinggi badan dengan percepatan tertentu. Indeks berat badan menurut
tinggi badan (BB/TB) merupakan indikator yang baik untuk mengetahui status
gizi saat ini, terlebih data umur yang sangat sulit diperoleh. Indeks BB/TB adalah
indeks yang independen terhadap umur dan merupakan indicator yang baik untuk
menilai gizi saat ini atau sekarang (Supariasa,2002).
Cara penyajian antopometri dari berbagai jenis indeks tersebut untuk
menginterpretasikan dibutuhkan ambang batas dapat disajikan dengan 3 cara yaitu
:Persen terhadap median, Persentil dan standar Deviasi Unit. Dari ketiga cara di
atas dipilih metode standar Deviasi Unit (Z_Score BB/TB) untuk menghitung
status gizi bayi (Supariasa,2002). Adapun rumus perhitungan Z_Score adalah :
Z_Score = nilai individu subyek nilai median baku rujukan
simpangan baku rujukan
Klasifikasi penilaian status gizi berdasarkan parameter antropometri berat
badan menurut tinggi badan (BB/TB) adalah :

13

Tabel. 1. Klasifikasi Status Gizi


Klasifikasi

Batas Ambang

Gizi lebih

> 2,0 SD

Gizi kurang

< -2,0 SD

Gizi baik

< -2,0 SD + 2 SD

Gizi buruk

< -3,0 SD

(Sumber : WHO NCHS, 1996)

C. Kerangka Teori
14

Tingkat pengetahuan

Perilaku Hidup bersih


dan sehat (cuci
tangan)
Sikap Ibu
Hygiene sanitasi:

Terjadinya Diare Pada


Balita

kualitas sumber
air
kebersihan
jamban
Fasilitas kesehatan

Umur
Tingkat
Pendidikan
Status Pekerjaan
Pendapatan
Keluarga
Status Gizi Balita

Keterangan :
Diteliti
Tidak Diteliti

Skema.1. Kerangka Teori: Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Frekuensi


Terjadinya Diare Pada Balita

BAB III
15

MASALAH KESEHATAN
3.1 Gambaran Umum Puskesmas Cakranegara

3.1.1

Keadaan Wilayah
Puskesmas sebagai penyambung tangan Pemerintah yang secara
langsung menangani masalah kesehatan di masyarakat.
Dalam

SKN

telah

dijelaskan

bahwa

untuk

mencapai

tujuan

Pembangunan Kesehatan Nasional perlu diselenggarakan upaya kesehatan yang


bersifat menyeluruh, terpadu, merata dapat diterima serta terjangkau oleh
seluruh masyarakat dengan peran aktif dari masyarakat dan menggunakan hasil
pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi tepat guna .
Disinilah letak peranan Puskesmas sebagai Pusat Pelayanan Kesehatan
Masyarakat yang dapat memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat
secara merata dan terpadu.
3.1.2

Data Geografi
Puskesmas Cakranegara adalah salah satu Puskesmas dari 11 Puskesmas
yang ada di wilayah Kota Mataram, yang terletak paling timur dari Kota
Mataram,

terletak

di

Kecamatan

Sandubaya

yang

merupakan

pusat

perdagangan/ekonomi berlokasi di Jalan Brawijaya No. 3b Cakranegara.


o Batas Wilayah

Sebelah timur

: Kecamatan Narmada

Sebelah barat

: Kelurahan Cakra Barat

Sebelah utara

: Kelurahan Cakra Utara

Sebelah selatan

: Kelurahan Babakan

16

Tabel 2.1 Luas Wilayah Kelurahan dan Jumlah Lingkungan


NO KELURAHAN

JUMLAH

LUAS

TOPOGRAFI

LINGKUNGAN
8
10
6
7
5
7

WILAYAH
67,02 Ha
88 Ha
238,572 Ha
100,480 Ha
17,442 Ha
90,130 Ha

Dataran
Dataran
Dataran
Dataran
Dataran
Dataran

1
Cakra Timur
2
Cakra Selatan
3
Bertais
4
Mandalika
5
Turida
6
Selagalas
3.1.3 Demografi
Tabel 2.2 Jumlah Penduduk dan Kepala Keluarga
NO KELURAHAN

JUMLAH

JUMLAH KEPALA KET.

PENDUDUK KELUARGA ( KK )
3.841
1.140
6.569
1525
8.448
2.141
11.050
2.647
9.218
2.167
10.266
2.653
49.392
12273

3.1.4

1
Cakra Timur
2
Cakra Selatan
3
Bertais
4
Mandalika
5
Turida
6
Selagalas
7
Puskesmas
Ekonomi dan Sosial
Tabel 2.3 Mata Pencaharian Penduduk Kelurahan Puskesmas Cakranegara
No

Kelurahan

Petani

Buruh

PNS

Pedagang

Pensiunan

Cakra Timur

249

113

274

Cakra Selatan

25

2500

50

Bertais

729

170

76

1166

Mandalika

256

321

247

632

Turida

39

34

711

166

24

Selagalas

440

249

315

135

Tabel 2.4 Sarana Pendidikan


No

Kelurahan

1
2

Cakra Timur
Cakra Selatan

Sarana Pendidikan
TK/PAUD SD
2
2
2
5

SLTP
0
1

SLTA
0
0

PT
0
0
17

3
4
5
6
7

Bertais
Mandalika
Turida
Selagalas
Puskesmas

1
4
2
3
14

4
3
3
4
23

2
2
2
1
8

0
2
1
1
4

0
1
1
0
2

Tabel 2.5 Tingkat Pendidikan Penduduk Wilayah Puskesmas Cakranegara


No

Kelurahan

1
2
3
4
5
6
7

Tingkat Pendidikan
Tdk Sekolah SD
247
869
111
708
1307
1392
1974
2363
2542
1816
359
931
6576
8079

Cakra Timur
Cakra Selatan
Bertais
Mandalika
Turida
Selagalas
Puskesmas

SLTP
603
165
709
2188
1586
1329
6580

SLTA
1161
538
990
1694
2207
1550
8140

DIII/S1
54/182
200
160
194
1161
396
2347

Tabel 2.6 Data Jumlah Posyandu, Kader Aktif dan Strata Posyandu
No

Kelurahan

1
2
3
4
5
6
7

Cakra Timur
Cakra Selatan
Bertais
Mandalika
Turida
Selagalas
Puskesmas

Jumlah
Posyandu
5
10
6
8
8
8
45

Kader
Aktif
25
50
30
40
40
40
225

Strata Posyandu
Pratama Madya
2
3
6
3
2
3
1
4
4
1
9
20

Purnama
4
1
3
3
3
14

Mandiri
2
2

Tabel 2.7 Sarana Kesehatan yang Ada Di Wilayah Puskesmas Cakranegara


No
1
2
3
4
5
6
7

Kelurahan
Cakra Timur
Cakra Selatan
Bertais
Mandalika
Turida
Selagalas
Puskesmas

Sarana Kesehatan
Pustu
Pokesdes
1
1
1
1
1
1
1
3
5

Puskesmas
1
1

Rumah Sakit
2
2

3.1.4 Fasilitas Kesehatan yang Ada Di Wilayah Puskesmas Cakranegara


o

Rumah Sakit

: 2 buah

Dokter UmumPraktek Swasta

: 16 buah
18

Dokter Gigi Praktek swasta

: 1 buah

Dokter Spesialis Praktek Swasta

: 1 buah

Bidan Praktek Swasta

: 6 buah

Puskesmas

: 1 buah

Puskesmas Pembantu

: 2 buah

Puskesmas Keliling

: 1 buah

Posyandu

: 45 buah

Pokesdes

: 4 buah

Ambulance

: 1 buah

3.1.5 Fasilitas Lain lain


o

Rumah Rehabilitas Sosial

: 1 buah

3.1.6 Tenaga Kesehatan yang Ada Di Puskesmas Cakranegara


o

Kepala Puskesmas

: 1 orang

Ka.Sub.Bag.TU

: 1 Orang

Dokter Umum

: 1 orang

Dokter Gigi

: 1 orang

Bidan

: 5 orang

Bidan Desa

: 4 orang

Perawat

: 13 orang

Perawat Gigi

: 3 orang

Tenaga Gizi

: 4 orang

Penyuluh Kesehatan

: 1 orang

Asisten Apoteker

: 1 orang

Apoteker

: 1 orang

Tenaga Laboratorium

: 4 orang

Tenaga HS

: 3 orang

Pekarya Kesehatan

: 3 orang

Administrasi Umum

: 3 orang

Jumlah seluruhnya

:49 orang

19

3.1.7 Sarana dan Prasarana


o

Gedung
Ruang Rawat Jalan

Poli KIA/KB

Poli Pemeriksaan Anak dan Dewasa

Poli Gigi

Poli Lansia

Poli Jiwa

Poli LKB

Poli Yankestrad

Poli Remaja

Laboraturium

Apotik/Gudang Obat

Loket

Ruang Konseling

Ruang Pelayanan TBC

UGD

Poli Akupresur

Ruang Imunisasi

Ruang Rawat Inap


-

Ruang Perawatan

Ruang Persalinan

o Ruang Administrasi
-

Ruang Tata Usaha

Ruang Bendahara

Ruang SP2TP

Ruang P2PL

o Ruang Lain lain


-

Ruang Aula
20

Ruang Gizi

Dapur Gizi

21

3.2

Ketenagaan
3.2.1

Struktur Organisasi

Gambar 3.1 Struktur Organisasi

22

3.3 Visi dan Misi


3.3.1

Visi Puskesmas Cakranegara


Terbentuknya masyarakat sehat diwilayah puskesmas cakranegara sebagai
investasi bangsa

3.3.2

Misi Puskesmas Cakranegara


1. Memberikan pelayanan masyarakat yang berkualitas secara professional
sesuai perkembangan ilmu dan teknologi
2. Meningkatkan kemampuan management puskesmas cakranegara
3. Mengembangkan pelayanan kesehatan yang terintegrasi
4. Meningkatkan SDM pegawai puskesmas cakranegara
5. Meningkatkan kualitas

surveillance epidemiologi dalam

rangka

kewaspadaan dini terhadap penyakit potensi wabah


3.4 Profil Kesehatan Masyarakat
Dalam SKN telah dijelaskan bahwa untuk mencapai tujuan Pembangunan
Kesehatan Nasional perlu diselenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh,
terpadu, merata dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh masyarakat dengan peran
aktif dari masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan serta
teknologi tepat guna. Adapun program yang telah dilksanakan oleh Puskesmas
Cakranegara adalah :
A. Upaya Kesehatan Wajib yaitu :
a. Promosi kesehatan
b. Penyehatan Lingkungan
c. Perbaikan Gizi
d. P2M (Pemberantasan Penyakit Menular)
e. KIA (Kesehatan ibu dan Anak) dan KB (Keluarga Berencana)
f. Pengobatan.

23

B. Upaya Kesehatan Pengembangan.


a. Kesehatan Gigi dan Mulut
b. UKS (Usaha Kesehatan Sekolah)
c. Laboratorium Kesehatan
d. SP2TP (Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas)
e. Kesehatan Mata
f. Kesehatan Usia Lanjut.
g. Kesehatan Jiwa.
h. Kesehatan Remaja
i. Bina Kesehatan Kerja
j. Akupresur/Battra
Kegiatan dari masing-masing program tersebut adalah sebagai berikut :
1. Upaya Kesehatan Wajib yaitu :
a. Promosi Kesehatan
a. Mengumpulkan dan mengolah data untuk menyusun rencana bulanan
b. Mengumpulkan data primer dalam rangka identifikasi wilayah dengan cara
wawancara biasa, observasi atau pengamatan sesaat dan dengan cara
menggunakan angket secara langsung.
c. Mengumpulkan

data

skunder

dari

suatu

sumber

dalam

rangka

mengidentifikasi wilayah.
d. Menyusun laporan hasil pelaksa naan idedntifikasi dengan menggunakan
satu instrument
e. Menyusun rencana kerja/usulan kegiatan tingkat kecamatan
f. Melakukan pendekatan individu/kelompok terhadap masyarakat umum
dan tokoh masyarakat/tokoh agama.
g. Melaksanakan pertemuan koordinasi lintas program/sector di tingkat
kecamatan
h. Memberikan pelayanan konsling kepada masyarakat dengan dasar
pendidikan di bawah SMU/SMK.
i. Membimbing dan membantu masyarakat merencanakan Survey Mawas
Diri
b. Penyehatan Lingkungan
24

a. Membuat rencana kerja tahunan program penyehatan lingkungan.


b. Melakukan pengumpulan data dan masalah tentang kesehatan lingkungan
dalam rangka menggerakan potensi masyarakat.
c. Melakukan pengamatan penyakit
d. Melakukan pengamatan, penyelidikan dan pencegahan KLB dan wabah
e. Melakukan identifikasi KLB/wabah
f. Melakukan pemberantasan terhadap penyakit menular KLB/wabah
g. Melakukan pengamatan vector
h. Melakukan analisis dampak lingkungan.
i. Melakukan upaya perbaikan kualitas lingkungan.
j. Melakukan pemeriksaan tempat-tempat umum
k. Melakukan pemeriksaan tempat pengelolaan makanan
l. Melakukan pemeriksaan terhadap tempat usaha industri.
m. Melakukan pengawasan terhadap pengelolaan pestisida
n. Melakukan pengawasan kualitas air bersih
o. Melakukan perbaikan kualitas air bersih
p. Memberikan konseling tentang kesehatan lingkungan
q. Membuat laporan hasil kegiatan bulanan dan tahunan
r. Melaksanakan visualisasi data hasil kegiatan
s. Melaksanakan tugas-tugas lain yng diberikan oleh atasan.
c. Perbaikan Gizi
a. Membuat rencana kerja
a. Melaksanakan pelayanan gizi berupa pemberian paket pertolongan gizi
yang meliputi pemberian kapsul vitamin A, tablet besi?Fe, obat cacing,
PMT Penyuluhan dan PMT Pemulihan dan sosialisasi penggunaan gaber
b. Melakukan penyuluhan gizi sesuai dengan kebutuhan atau permasalahn
gizi yang dijumpai.
c. Menerima konsultasi/konseling dibidang gizi
d. Melatih dan membina kader gizi serta menggerakan masyarakat untuk
memanfaatkan tanaman pekarangan
e. Demonstrasi makanan sehat dan menyampaikan cara pemberian makanan
tambahan.
f. Membina Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)

25

g. Melaksanakan posyandu (memantau penimbangan bayi dan anak balita.


Menjelaskan cara pengisian dan penggunaan KMS, dan penyuluhan)
h. Melakukan rujukan kasus gizi ke rumah sakit jika tidak bias ditangani di
lapangn).
i. Melaksnakan lintas program dan lintas sektoral
j. Membuat laporan kagiatan bulanan
k. Memvisualisasikan data hasil krgiatan
l. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan atasan langsung
d. P2M (Pemberantasan Penyakit Menular)
a. Program Diare
1) Membuat rencana kerja tahunan program penyakit DBD
2) Penemuan kasus suspect/penderita DBD
3) Penegakan diagnose klinis
4) Melakukan pengobatan
5) Melakukan rujukan
6) Melakukan

pengamatan

dini

terhadap

KLB

dan

melakukan

penyelidikan epidemologi (pada setiap kasus DBD)


7) Melakukan pemeriksaan jentik berkala
8) Melaksanakan penyuluhan
9) Koordinasi lintas program dan lintas sector
10) Melakukan pencatatan dan pelaporan
11) Memvisualisasikan data hasil kegiatan
12) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan langsung
b. Program Malaria
1) Membuat rencana kerja tahunan program penyakit malaria
2) Penemuan kasus penderita malaria secara pasif (PCD)
3) Melakukan pengobatan sesuai prosedur terhadap penderita malaria
4) Melakukan kunjungan rumah untuk tindak lanjut pengobatan malaria
5) Pengamatan didi terhadap KLB
6) Melakukan rujukan penderita malaria
7) Melaksanakan penyuluhan
8) Koordinasi lintas program dan lintas sector
9) Melakukan pencatatan dan pelaporan
10) Memvisualisasikan data hasil kegiatan
26

11) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan langsung


c. Program Kusta
1) Membuat rencana kerja tahunan program penyakit kusta
2) Penemuan kasus penderita kusta
3) Memberikan penjelasan kepada penderita kustatentang pengobatan
penyakit kusta
4) Melakukan pengawasan dalam pemberian obat
5) Melakukan kunjungan rumah untuk tindak lanjut pengobatan kusta
6) Melakukan rujukan penderita kusta
7) Melakukan penyuluhan
8) Koordinasi lintas program dan lintas sector
9) Melakukan pencatatan dan pelaporan
10) Memvisualisasikan hasil kegiatan
11) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan langsung
d. Program P2TB
1) Membuat rencana kerja pedoman kpp program P2TB
2) Penemuan kasus penderita pentakit TB PAru
3) Memberikan penjelasan kepada penderita TB Paru tentang tata cara
minum obat, lama pengobatan dan perlunya berobat secara teratur tanpa
terputus untuk kesembuhan penderita sendiri
4) Melakukan pengawasan dalam pemberian obat
5) Melakukan kunjungan rumah bagi penderita yang tidak datang
mengambil obat
6) Melakukan rujukan penderita TB Paru
7) Melaksanakan penyuluhan
8) Koordinasi lintas program/lintas sektor
9) Melakukan pencatatan dan pelaporan
10) Memvisualisasikan hasil kegiatan
11) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan langsung
e. Program Ispa Diare
1) Membuat rencana kerja tahunan program ISPA DIARE
2) Melakukan penyuluhan tentang ISPA DIARE
3) Mengembangkan kemampuan masyarakat untuk berperan secara aktif
dalam pelayanan kesehatan melalui kader
27

4) Melakukan pembinaan kepada kader yang telah mendapatka pelatihan


tentang ISPA DIARE
5) Melakukan pemeriksaan kesehatan sekali setahun
Pemerikasaan kecacingan pada anak sekolah
6) Koordinasi lintas program/lintas sector
7) Membuat laporan kegiatan bulanan + tahunan
8) Memvisualisasikan hasil kegiatan
9) Melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh atasan langsung
f. Program Imunisasi
1) Menyiapkan perlengkapan/peralatan imunisasi
2) Mengkoordinir tenaga/vasinator ke posyandu
3) Membuat daftar sasaran (B4. 1)
4) Memberikan vaksinasi kepada bayi
5) Merangkap hasil pelaksanaan imunisasi dan pemakaian vaksin
6) Melakukan pertukaran data
7) Membuat jadwal imunisasi anak sekolah
8) Mengkoordinir pelaksanaan imunisasi anak sekolah kemasing-masing
SD
9) Melakukan permintaan vaksin ke DIKES
10) Memantau suhu lemari es/freezer
11) Membuat laporan bulanan
12) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan langsung
e. KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)
a. Melaksanakan pemeriksaan kehamilan (ANC)
b. Melaksanakan posyandu
c. Melaksanakan pemberian imunisasi pada ibu hamil
d. Melaksanakan pemberian imunisasi pada bayi
e. Melakukan rujukan pada bumil, bulin, bayi dengan resiko tinggi
f. Sweeping bumil normal dan risti
g. Pemantauan Neonatal Risti
h. Melaksanakan kunjungan neonatas
i. Penyuluhan /konseling KIA
j. Melakukan SDIDTK
k. Melaksanakan MTBM
28

l. Membuat laporan bulanan


m. Melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh atasan langsung
n. Melaksanakan pertolongan persalinan
o. Mempersiapkan kebutuhan ruang KIA
p. Meregistrasi ( KIA,kantong persalinan,Kohort Ibu dan Bayi )
f. KB (Keluarga Berencana)
a. Melaksanakan pelayanan KB
b. Membuat Pencatatan dan Pelaporan
c. Melakukan konseling
d. Mempersiapkan peralatan
g. Pengobatan
a. Melakukan anamnesa tentang penyakit yang diderita
b. Melaksanakan pemeriksaan fisik
c. Melaksanakan pemeriksaan diagnostic
d. Memberikan penyuluhan tentang penyakit yang diderita
e. Memberikan resep obat
f. Mendokumentasikan riwayat penyakit
g. Membuat data dan grafik
h. Penyakit setiap bulan
i. Membuat laporan bulanan penyakit (LBI)
j. Melaksanakan tugas-tugas lain yang dberikan oleh atasan langsung
2. Upaya Kesehatan Pengembangan
1) Kesehatan Gigi dan Mulut
a. Membuat rencana kerja program Kesgilut
b. Mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan program kesgilut
c. Melakukan koordinasi lintas program maupun lintas sector
d. Mengevaluasi hasil kegiatan program kesgilut
e. Memberikan Bintek kepada perawat gigi
f. Membuat laporan tahunan program kesgilut
g. Memvisualisasikan data hasil kegiatan program kesgilut
h. Membuat jadwal pelaksanaan dan petugas UKGMD
i. Persiapan administrasi (surat menyurat) ke instansi terkait dalam rangka
kegiatan UKGS
j. Melaksanakan kegiatan kesgilut sesuai jadwal
29

k. Membuat laporan UKGS


l. Bertanggung jawab kepada pemegang program kesgilut (Dokter Gigi)
m. Melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh atasan langsung
2) UKS (Usaha Kesehatan Sekolah)
a. Membuat rencana kerja tahunan program usaha kesehatan sekolah
b. Pembinaan teknis dan pemanatauan saraba keteladnan di sekolah yang
meliputi :
1) Sarana keteladanan gizi berupa kantin/warung sekolah yang meliputi
syarat sanitasi, hygiene dan gizi
2) Sarana keteladanan kebersihan lingkungan berupa pengelolaan sampah,
saluran air, kebersihan jamban dan kamar mandi, serta mencegah
terbentuknya tempat perkembangbiakan binatang penyebar penyakit.
c. Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berperan secara aktif
dalam pelayanan kesehatan melalui kegiatan pelatihan kader kesehatan
sekolah atau dokter kecil
d. Membimbing pelatihan teknis pelayanan kesehatan bagi dokter kescil dan
mengkoordinasikan materi pelatihan dengan tenaga kesehatan lain
e. Memantau peserta didik yang sudah dilatih
f. Penjaringan kesehatan pada peserta didik kelas 1 baru
g. Pemeriksaan kesehatan periodic sekali setahun
a) Untuk peserta didik
1. Mengukur ketajaman penglihatan dan pendengaran
2. Pemeriksaan Hb/tinja
3. Pelaksanaan bias
b) Untuk guru berupa pemeriksaan kesehatan secara sederhana
h. Melakukan rujukan kasus
i. Koordinasi lintas program dan lintas sector
j. Membuat laporan kegiatan bulanan dan tahunan
k. Memvisualisasikan data hasil kegiatan
l.

Melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh atasan langsung

3) Laboratorium Kesehatan
a. Mempersiapkan kegiatan lab. Kes :
1. Mempersiapkan peralatan dan bahan penunjang untuk pemeriksaan lab.
30

2. Pengambilan specimen/sampel secara sederhana


b. Melaksanakan pemeriksaan lab. Kes :
1. Melakukan penanganan dan pengelolaan specimen/sample secara
sederhana
2. Melakukan

pemeriksaan

specimen/sample

secara

makroskopik,

organoleptik dan mikroskopik.


c. Memelihara peralatan laboratorium
d. Melakukan sterilisasi dan desinfektan.
e. Melakukan perbaikan peralatan lab sederhana
f. Memusnahkan sisa specimen/sampel dan bahan penunjang
g. Melakukan registrasi hasil pemeriksaan lab
h.

Mengumpulkan dan mengolah data untuk menyusun laporan


bulanan, triwulan dan tahunan

i . Melaksanakan pemantapan mutu Internal dan eksternal


j.

Melaksanakan tugas lain yang ditugaskan oleh atasan

h. Membimbing dan membina tenaga kesehatan lain dalam bidang


tehnik lab
k. Melakukan cross check pemeriksaan TB dan Malaria
l. Menerima dan melakukan pemeriksaan sedian BTA dari puskesmas
lain
4) SP2TP (Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas)
a. Merkap laporan LB, yang masuk dari semua pustu dan program yang ada di
puskesmas
b. Membuat laporan LB 1, LB 3, LB 4 dari semua pustu dan program
puskesmas
c. Membuat laporan 10 penyakit terbanyak
d. Melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan tugas sebagai pemegang
program SP2TP
e. Merekap laporan kunjungan dari pustu dan pemegang program
f. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan langsung
5) Kesehatan Usia Lanjut
a. membuat rencana kerja tahunan kesehatan lansia
b. melakukan penyuluhan dengan materi antara lain tentang :
1. kesehatan dan pemeliharaan kebersihan diri
31

2. makanan dengan menu yang mengandung gizi seimbang


3. kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan
dengan kemampuan lansia agar tetap merasa sehat dan segar
4. pembinaan mental dalam meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa.
5. Meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat
6. Penggunaan berbagai alat bantu seperti kaca mata, alat bantu dengar,
dan lain-lain agar tetap dapat memberikan karya dan tetap merasa
berguna
7. Nasihat cara hidup yang sesuai dengan penyakit yang diderita.
c. Melakukan pemerikasaan kesehatan secara berkala dan teratur untuk
menemukan secara dini penyakit-penyakit lansia
d. Melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan spesialistik melalui system
rujukan
e. Koordinasi lintas program dan lintas sector
f. Membuat laporan kegiatan bulanan
g. Memvisualisasikan data hasil kegiatan
h. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan langsunga.
6) Kesehatan Jiwa
a. Melakukan pemeriksaan dan pengobatan
b. Melakukan penyuluhan
c. Membuat surat rujukan
d. Mencatat register kunjungan pasien
e. Membuat laporan
f. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan
7) Program DBD
1.

Membuat rencana kerja tahunan program penyakit DBD

2.

Penemuan kasus suspect/penderita DBD

3.

Penegakan diagnose klinis

4.

Melakukan pengamatan dini terhadap KLB dan melakukan penyelidikan


epidemologi (pada setiap kasus DBD)

5.

Melakukan pemeriksaan jentik berkala

6.

Melaksanakan penyuluhan

7.

Koordinasi lintas program dan lintas sector


32

8.

Melakukan pencatatan dan pelaporan

9.

Memvisualisasikan data hasil kegiatan

10. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan langsung.


8) Akupresur/Battra
1. Pemijatan
2. Konsultasi pengobatan dengan ramuan

33

B. Identifikasi Masalah
Melakukan identifkasi masalah pada data Cakupan Kegiatan Penilaian Kinerja Puskesmas
Cakranegara Tahun 2014.
a) KELOMPOK KRITERIA A : BESARNYA MASALAH
Besarnya masalah diperoleh dari selisih antara 100% dengan pencapaian suatu
program.
Pencapaian (<
100%)
73%

Besar
masalah
27%

2. Posyandu mandiri

11%

89%

3. Inspeksi sanitasi sarana air bersih

12%

88%

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga


4. kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan

97%

3%

5. Cakupan pelayanan nifas

97%

3%

6. Komplikasi neonatus yang ditemukan

80%

20%

7. Penanganan komplikasi neonatal

80%

20%

8. Cakupan kunjungan balita1

92%

8%

9. Cakupan kunjungan balita4

88%

12%

10. Akseptor KB aktif dipuskesmas

55%

45%

11. Akseptor MKEP di puskesmas

21%

79%

Upaya perbaikan gizi balita umur 6-24 bulan Gakin


12. mendapat MPASI

11%

89%

13. Cakupan asi eksklusif umur 0-5 bulan 29 hari

87%

13%

14. Balita yang akan datang dan ditimbang BB

97%

3%

15. Balita ditimbang dan naik Bbnya

82%

18%

16. Balita dibawah garis merah

28%

72%

17. Imunisasi polio

96%

4%

18. Imuniasai BCG

97%

3%

19. Imunisasi TT hamil 1

10%

90%

20. Imunisasi TT hamil 2

3%

97%

No

Program

1. Penyuluhan PHBS pada Rumah tangga/kelompok

21. Penemuan kasus diare di PKM dan kader

41%

59%

22. Kasus Diare ditangani dengan rehidrasi IV

3%

97%

23. Rehidrasi rumah tangga kasus diare

2%

98%

24. Pemberian obat zink selama 10 hari

55%

45%

Penemuan kasus pneumonia dan pneumonia berat


25. oleh puskesmas dan kader

45 %

55%

26 Jumlah pneumonia dan pneumonia berat ditangani

45%

55%

Menentukan interval kelas dengan menghitung selisih besar masalah dari presentasi
pencapaian terbesar dengan pencapaian terkecil.
Keterangan:
n = jumlah masalah
k = jumlah kelas
k = 1 + 3.3 log n
= 1 + 3.3 log (26)
= 5,66
= 6
Interval
=
nilai terbesar nilai terkecil
K
=
98 3
6
=
15,8

TABEL KRITERIA A: BESARNYA MASALAH (6 KELAS)


Untuk menentukan letak kelas, diperoleh dengan cara mengelompokkan besar masalah setiap program sesuai nilai interval pada tiap-tiap kelas.

No

Program

INTERVAL
(1)
3-18,8

Penyuluhan PHBS pada Rumah


1. Tangga/Kelompok

Besarnya masalah terhadap presentase pencapaian


INTERVAL INTERVAL INTERVAL INTERVAL
(2)
(3)
(4)
(5)
18,9-34,7
34,8-50,6 50,7-66,5
66,6-82,4

2. Posyandu Mandiri

5. Cakupan pelayanan nifas

Nilai
2

3. Inspeksi Sanitasi Sarana Air bersih


Cakupan pertolongan persalinan
4. oleh tenaga kesehatan yang
mempunyai kompetensi kebidanan

INTERVAL
(6)
82,5-98,3

6
6
1

Komplikasi neonatus yang


6. ditemukan

7. Penanganan komplikasi neonatal

8. Cakupan kunjungan balita1


9. Cakupan kunjungan balita4
10. Akseptor KB aktif dipuskesmas
11. Akseptor MKEP di puskesmas

Upaya perbaikan gizi balita umur


12. 6-24 bulan Gakin mendapat
MPASI

Cakupan asi eksklusif umur 0-5


13. bulan 29 hari

Balita yang akan datang dan


14. ditimbang BB

15. Balita ditimbang dan naik BBnya

16. Balita dibawah garis merah


17.

Imunisasi polio

18. Imuniasai BCG

19. Imunisasi TT hamil 1

20. Imunisasi TT hamil 2

Penemuan kasus diare di PKM dan


21. kader

Kasus Diare ditangani dengan


22. rehidrasi IV

Rehidrasi rumah tangga kasus


23. diare

Pemberian obat zink selama 10


24. hari

Penemuan kasus pneumonia dan


25. pneumonia berat oleh puskesmas
dan kader

Jumlah pneumonia dan pneumonia


26. berat ditangani

b)

KELOMPOK KRITERIA B : KEGAWATAN MASALAH


Kriteria ini dilakukan dengan cara menentukan kegawatan, tingkat urgensi, dan biaya
tiap masalah dengan system scoring (score 1 5)
1. Tingkat Kegawatan
Merupakan keriteria untuk menentukan apakah suatu program mempunyai
efek yang berat atau ringan. Memiliki 5 score, antara lain :
- Sangat gawat
:5
- Gawat
:4
- Cukup gawat
:3
- Kurang gawat
:2
- Tidak gawat
:1
2. Tingkat urgensi
Merupakan kriteria untuk menentukan apakah suatu program itu harus cepat
ditangani atau tidak. Memiliki score 5 dimana:
- Sangat mendesak : 5
- Mendesak
:4
- Cukup mendesak : 3
- Kurang mendesak : 2
- Tidak mendesak : 1
3. Tingkat biaya
Merupakan kriteria untuk menentukan apakah suatu program bisa ditangani
dengan biaya minimum atau tidak.
- Sangat murah
:5
- Murah
:4
- Cukup murah
:3
- Mahal
:2
- Mahal sekali
:1

Tabel. Kegawatan Masalah

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Masalah Kesehatan
Penyuluhan PHBS pada
Rumah tangga/kelompok
Posyandu mandiri
Inspeksi sanitasi sarana air
bersih
Cakupan pertolongan
persalinan oleh tenaga
kesehatan yang mempunyai
kompetensi kebidanan
Cakupan pelayanan nifas
Komplikasi neonatus yang
ditemukan
Penanganan komplikasi
neonatal

Kegawatan

Tingkat
Urgensi

Biaya yang
dikeluarka
n

Nilai

10

11

12

11

13

12

8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.

Cakupan kunjungan balita1


Cakupan kunjungan balita4
Akseptor KB aktif
dipuskesmas
Akseptor MKEP di
puskesmas
Upaya perbaikan gizi balita
umur 6-24 bulan Gakin
mendapat MPASI
Cakupan asi eksklusif umur
0-5 bulan 29 hari
Balita yang akan datang dan
ditimbang BB
Balita ditimbang dan naik
BBnya
Balita dibawah garis merah
Imunisasi polio
Imuniasai BCG
Imunisasi TT hamil 1
Imunisasi TT hamil 2
Penemuan kasus diare di
PKM dan kader
Kasus Diare ditangani
dengan rehidrasi IV
Rehidrasi rumah tangga
kasus diare
Pemberian obat zink selama
10 hari
Penemuan kasus pneumonia
dan pneumonia berat oleh
puskesmas dan kader
Jumlah pneumonia dan
pneumonia berat ditangani

3
3

3
3

5
5

11
11

10

10

11

13

11

11

4
3
3
4
4

4
3
3
4
4

3
5
5
5
5

11
11
11
13
13

15

13

12

12

11

11

c)

KELOMPOK KRITERIA C : KEMUDAHAN DALAM PENANGGULANGAN


Merupakan cara penilaian program, dimana suatu program dinilai mudah untuk
diintervensi atau tidak. Memiliki 5 kriteria score, yaitu
1 : sangat sulit, 2 : sulit, 3 : cukup mudah, 4 : mudah, 5 : sangat mudah

Tabel. Kemudahan dalam Penanggulangan

No
1.

Masalah
Penyuluhan PHBS pada Rumah tangga/kelompok

Nilai
4

2.

Posyandu mandiri

3.

Inspeksi sanitasi sarana air bersih

4.

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang


mempunyai kompetensi kebidanan

5.

Cakupan pelayanan nifas

6.

Komplikasi neonatus yang ditemukan

7.

Penanganan komplikasi neonatal

8.

Cakupan kunjungan balita1

9.

Cakupan kunjungan balita4

10. Akseptor KB aktif dipuskesmas

11. Akseptor MKEP di puskesmas

12. Upaya perbaikan gizi balita umur 6-24 bulan Gakin mendapat MPASI

13. Cakupan asi eksklusif umur 0-5 bulan 29 hari

14. Balita yang akan datang dan ditimbang BB

15. Balita ditimbang dan naik Bbnya

16. Balita dibawah garis merah

17. Imunisasi polio

18. Imuniasai BCG

19. Imunisasi TT hamil 1

20. Imunisasi TT hamil 2

21. Penemuan kasus diare di PKM dan kader

22. Kasus Diare ditangani dengan rehidrasi IV

23. Rehidrasi rumah tangga kasus diare

24. Pemberian obat zink selama 10 hari

Penemuan kasus pneumonia dan pneumonia berat oleh puskesmas dan


25. kader

26. Jumlah pneumonia dan pneumonia berat ditangani

d)

KELOMPOK KRITERIA D : PEARL FAKTOR


Kelompok kriteria D terdiri dari beberapa factor yang saling menentukan dapat atau
tidak nya suatu program dilaksanakan, factor-faktor tersebut adalah PEARL faktor:
- Kesesuaian (Propriety)
- Ekonomi Murah (Economic)
- Dapat Diterima (Acceptability)
- Tersedianya Sumber ( Resources Availability)
- Legalitas Terjamin (Legality)
Dengan score, Ya : 1, Tidak : 0

Tabel. PEARL FAKTOR


No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.

Masalah
Penyuluhan PHBS pada Rumah
tangga/kelompok
Posyandu mandiri
Inspeksi sanitasi sarana air bersih
Cakupan pertolongan persalinan oleh
tenaga kesehatan yang mempunyai
kompetensi kebidanan
Cakupan pelayanan nifas
Komplikasi neonatus yang ditemukan
Penanganan komplikasi neonatal
Cakupan kunjungan balita1
Cakupan kunjungan balita4
Akseptor KB aktif dipuskesmas
Akseptor MKEP di puskesmas
Upaya perbaikan gizi balita umur 6-24
bulan Gakin mendapat MPASI
Cakupan asi eksklusif umur 0-5 bulan
29 hari
Balita yang akan datang dan ditimbang
BB
Balita ditimbang dan naik BBnya
Balita dibawah garis merah
Imunisasi polio
Imuniasai BCG
Imunisasi TT hamil 1
Imunisasi TT hamil 2
Penemuan kasus diare di PKM dan
kader
Kasus Diare ditangani dengan rehidrasi
IV
Rehidrasi rumah tangga kasus diare
Pemberian obat zink selama 10 hari
Penemuan kasus pneumonia dan
pneumonia berat oleh puskesmas dan
kader

Nilai

1
1

1
0

1
1

1
1

1
1

1
0

1
1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1

1
1

1
1

1
1

1
1

1
1

1
1

26.

Jumlah pneumonia dan pneumonia


berat ditangani

C. Prioritas Masalah
Setelah nilai dari kriteria A,B,C dan D didapat, hasil tersebut dimasukan dalam formula
nilai prioritas dasar ( NPD ) serta nilai prioritas total (NPT) untuk menentukan prioritas
masalah yang dihadapi:
-

NPD = (A+B) x C
NPT = (A+B) x C x D

Kemudia menentukan urutan sesuai besar nilai NPT.

Tabel. 1 Prioritas Masalah


No

Program

Penyuluhan PHBS pada Rumah


1. tangga/kelompok

10

48

48

URUTAN
PRIORITAS
6

2. Posyandu mandiri

11

68

68

3. Inspeksi sanitasi sarana air bersih

12

90

16

Cakupan pertolongan persalinan


oleh tenaga kesehatan yang
4. mempunyai kompetensi
kebidanan

11

22

22

13

5. Cakupan pelayanan nifas

20

20

14

Komplikasi neonatus yang


6. ditemukan

13

30

30

11

7. Penanganan komplikasi neonatal

12

14

14

15

8. Cakupan kunjungan balita1

11

36

36

9. Cakupan kunjungan balita4

11

36

36

10. Akseptor KB aktif dipuskesmas

10

39

39

11. Akseptor MKEP di puskesmas

10

45

45

NPD NPT

Upaya perbaikan gizi balita umur


12. 6-24 bulan Gakin mendapat
MPASI

11

51

51

Cakupan asi eksklusif umur 0-5


13. bulan 29 hari

13

28

28

12

Balita yang akan datang dan


14. ditimbang BB

11

48

48

15. Balita ditimbang dan naik Bbnya

11

36

36

16. Balita dibawah garis merah

11

32

32

10

17. Imunisasi polio

11

48

48

18. Imuniasai BCG

11

48

48

19. Imunisasi TT hamil 1

13

76

76

20. Imunisasi TT hamil 2

13

76

76

Penemuan kasus diare di PKM


21. dan kader

15

76

76

Kasus Diare ditangani dengan


22. rehidrasi IV

13

57

57

Rehidrasi rumah tangga kasus


23. diare

12

54

54

Pemberian obat zink selama 10


24. hari

12

30

30

11

Penemuan kasus pneumonia dan


25. pneumonia berat oleh puskesmas
dan kader

11

45

45

Jumlah pneumonia dan


26. pneumonia berat ditangani

11

45

45

Tabel. 2 Prioritas Masalah

1 Imunisasi TT hamil 1

URUTAN
PRIORITAS
1

2 Imunisasi TT hamil 2

3 Cakupan Penemuan kasus diare di PKM dan kader

4 Posyandu mandiri

No

PROGRAM

5
6
7
8
9

Kasus Diare ditangani dengan rehidrasi IV


Rehidrasi rumah tangga kasus diare
Upaya perbaikan gizi balita umur 6-24 bulan Gakin mendapat MPASI
Penyuluhan PHBS pada Rumah tangga/kelompok
Balita yang akan datang dan ditimbang BB

3
4
5
6
6

10 Imunisasi polio

11 Imuniasai BCG

12 Akseptor MKEP di puskesmas


13 Penemuan kasus pneumonia dan pneumonia berat oleh puskesmas
dan kader

7
7

14 Jumlah pneumonia dan pneumonia berat ditangani

15 Akseptor KB aktif dipuskesmas


16 Cakupan kunjungan balita1

8
9

17 Cakupan kunjungan balita4

18 Balita ditimbang dan naik Bbnya


19 Balita dibawah garis merah

9
10

20 Komplikasi neonatus yang ditemukan

11

21 Pemberian obat zink selama 10 hari


22 Cakupan asi eksklusif umur 0-5 bulan 29 hari
23 Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang
mempunyai kompetensi kebidanan
24 Cakupan pelayanan nifas
25 Penanganan komplikasi neonatal
26 Inspeksi sanitasi sarana air bersih

11
12
13
14
15
16

Jadi, pada tabel diatas dapat disimpulkan bahwa yang menjadi prioritas masalah
urutan pertama adalahImunisasi TT hamil 1,Imunisasi TT hamil 2, dan Cakupan Penemuan
Kasus Diare di PKM dan Kader . Jadi peniliti mengambil Cakupan Penemuan Kasus Diare
di PKM dan Kader yang diangkat sebagai kasus penelitian ini.

D. Metodologi
1. Desain penelitian
Rancangan penelitian kami menggunakan penelitian observatif deskriptif
dengan

desain

cross

sectional.Studicross

sectional

adalah

penelitian

non-

eksperimental dalam rangka mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko


dengan efek yang berupa penyakit atau status kesehatan tertentu, dengan model
pendekatan point time (titik waktu yang sama).
2. Waktu dan Tempat Pengambilan data
Data Sekunder
Waktu
: 8-14 September 2015
Tempat: Puskesmas Cakranegara
Data Primer
Waktu
: 16 September 2015
Tempat: Lingkungan Mandalika wilayah kerja Puskesmas Cakranegara
3. Populasi dan Sampel
Penelitian ini dilakukan dengan sasaran seluruh balita lingkungan Mandalika
wilayah kerja Puskesmas Cakranegara, yang berjumlah 1049orang.
Penentuan sampel dilakukan menggunakan metode simple random sampeling
dengan cara di lotre.
4. Besar Sampel
Penentuan besar sampel dilakukan dengan mengguanakan rumus Slovin
dimana jumlah populasinya diketahui.

Ket :
N

: Jumlah populasi yang diketahui

n:

: Jumlah sampel yang ingin di cari

: error tolerance (taraf signifikansi) -> ( ^2 = pangkat dua )

Dengan menggunakan rumus di atas dapat kita masukkan populasi yang digunakan
dengan taraf signifikansi yang kami gunakan adalah 10%=0.1.

n = 91
Jadi jumlah sampel yang digunakan adalah minimal 90 balita yang berada di
Lingkungan MandalikaCakranegara.
5. Instrument dan cara pengumpulan data
Instrument yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan metode
wawancara dengan menggunakan kuesioner. Kuesioneer mengacu pada faktor dari
H.L. Blum.
Cara pengumpulan data kami lakukan dengan mengumpulkan data sekunder yang
kami dapatkan dari puskesmas dasan agung. Sedangkan pengumpulan data primer
kami langsung turun ke lapanagna untuk melakukan wawancara dengan
menggunakan kuisioner.

PENILAIAN KUISIONER
Tabel 1. Contoh Penilaian kuisioner pada Responden atas nama (

No

PERTANYAAN

Ya

Jawaban
Jarang Tidak

Skor

I.

II.

III.

IV.

PERILAKU
1. Pernahkah mendengar tentang hipertensi
2. Berapa tekanan darah normal
3. Berapa dikatakan hipertensi
4. Riwayat hipertensi
5. Sering memeriksakan diri ke puskesmas
6. Sering mengkonsumsi obat penurun hipertensi
7. Biasa makan asin
8. jumlah konsumsi garam
9. biasa makan tinggi lemak
10. mengkonsumsi alcohol
11. merokok/pernah merokok
12. jumlah rokok batang/hari
13. lama merokok
14. sering berolahraga
JUMLAH
Herediter/Keturunan
15. Riwayat hipertensi dari keluarga
16. Riwayat penyakit jantung dari keluarga
17. riwayat stroke dari kelurga
18. Riwayat obesitas dari keluarga
JUMLAH
Lingkungan
19. Sering cemas, panik, tegang atau stress
20. Lingkungan sekitar menyebabkan stress
21. Sering terpapar asap rokok sehari-hari
JUMLAH
Pelayanan Kesehatan
1. Sering mendapat promosi kesehatan tentang
Hipertensi
2. Tempat pelayanan kesehatan susah dijangkau
3. Fasilitas puskesmas dilingkungan memadai
JUMLAH

0
0
1
0
1
0
2
2
2
0
0
0
0
0
8

0
0
0
0
0

0
0
2
2

0
0
2

Keterangan :
I. Perilaku

: Semakin kurang pengetahuan dan semakin jeleknya gaya hidup


maka semakin tinggi pula nilainya untuk menderita hipertensi,
begitupun sebaliknya semakin tinggi pengetahuan dan semakin

II. Herediter

bagusnya gaya hidup maka semakin kecil resiko terkena hipertensi.


: Adanya riwayat dari keluarga maka semakin tinggi pula faktor
risiko terkena hipertensi, sebaliknya tidak ada riwayat keluarga
maka semakin kecil pula risiko terkena hipertensi.

III.Lingkungan :

Adanya faktor lingkungan yang mempengaruhi maka semakin


tinggi risiko terkena hipertensi, sebaliknya tidak ada pengaruh
faktor lingkungan maka semakin kecil pula risiko terkena

hipertensi.
IV.Pelayanan Keesahatan : Semakin bagus pelayanan kesehatan maka semakin rendah
kejadian hipertensi dan semakin tinggi pula cakupan, begitupun
sebaliknya semakin jelek pelayanan kesehatan maka semakin
tinggi pulakejadian hipertensi dan semakin rendah penemuan kasus
hipertensi.
Dari tabel diatas didapatkan (I) faktor perilaku bernilai 8, (II) faktor herediter bernilai
0, (III)faktor lingkungan bernilai 2, dan (IV) faktor pelayanan kesehatan bernilai 2 dalam
menyebabkan hipertensi pada resopnden A( H. Suparto). Begitu pula cara perhitungan yang
dilakukang untuk responden yang berjumlah 85 orang sesuai dengan sampel.
Tabel 2. Penilaian Kuisioner pada 85 sampel berdasarkan HL BLUM
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Responden
H. Suparto
Mundah
Hj. Samsul
Hj. Badariah
Sumini
Fatimah
Inaq Piin
Jananiq
Maenah
Lalu Kertawang
Syahnun
Hj. Huriah
Safii
Masyah
Inaq Nurmsh
Maryuni
Hj. Siti asenah
M.akwan
Drs. M Said Ismail
Siti aminah
Lalu Buhari Akbar
Sainah
Sumaiah
Mahyudin

Umur
(tahun)
57
52
48
90
60
43
41
51
50
64
65
65
73
76
70
50
80
63
68
45
53
54
58
54

(I)
Perilaku
8
8
10
8
4
6
10
9
8
12
1
11
6
13
13
10
5
9
11
8
15
4
11
9

Kriteria HL BLUM
(II)
(III)
Herediter Lingkungan
0
2
2
2
2
4
0
0
4
4
0
2
0
2
2
6
2
0
2
6
0
0
2
2
6
0
0
2
2
4
4
2
0
0
0
2
2
0
4
0
5
6
2
2
8
2
4
4

(IV)
Yankes
2
2
4
2
0
2
0
2
2
2
2
2
0
2
4
2
4
4
2
2
0
2
0
2

25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72

Sahuri
Sutiyarni
Munah
Anwar
Murniati
M faozi
Sunarni
Inaq Rumiah
Mahyudin
Idris
Ny. Marwani
Kamariah
Siti aminah
Suhatini
Sadijah
Nuraini
Sri Hidayati
Yuslia
Hj. Samsidiah
H. Isa
Roharah
Hj. Rohaniah
Mahdan
Halimah
Lalu Muhnan
Masrah
Ruknu prawarawati
M. Munsir
Nursihan
Sakirin
Hj. Siti nurisah
H.M. Sahdan
Simah
Nispaini
H.rayahin
M.Saleh
Aspunah
Raimah
Rusnah
Budiman
Rainah
Risnadiati
Rahma
M. sanusi
Suarni
Hadi
Anisah
Rusniadi

51
58
71
63
50
85
58
71
61
59
65
50
45
45
100
65
43
41
59
55
52
60
60
65
50
42
52
52
60
55
50
57
64
45
58
43
40
40
45
46
50
43
50
44
43
47
43
44

5
5
9
8
7
6
10
9
10
10
3
5
6
8
8
8
3
8
8
15
8
7
8
10
13
8
5
13
7
13
1
9
4
8
6
6
14
9
7
14
2
2
1
11
3
5
2
3

0
4
0
0
4
2
0
0
4
0
4
4
0
4
0
4
6
2
2
0
4
2
2
8
4
2
2
2
2
0
0
0
0
0
2
0
0
0
2
4
0
6
2
2
4
0
2
2

2
2
2
0
0
2
2
0
4
2
2
0
0
2
0
6
0
6
4
4
0
0
0
4
4
2
1
0
4
2
2
4
0
0
0
2
4
0
4
2
0
0
6
2
4
0
4
0

0
0
0
2
2
0
2
4
2
2
4
2
0
2
2
2
2
2
2
2
4
0
4
2
2
2
2
0
0
0
0
0
0
0
0
2
2
2
2
2
0
0
2
0
0
0
2
2

73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85

Almah
Hj. Sulastri
Hj. Nurhayati
Sarah
Nurjanah
Sarafidin
Nurinah
Nurhidayati
Mariam
Sanati
Bahtiar
Suharni
Abidin
Total/Jumlah
Pertanyaan
Rata-rata

65
54
60
60
40
51
53
48
40
40
40
57
49

4
9
5
7
10
6
10
10
9
3
4
5
11

0
2
4
2
0
0
0
0
4
2
4
2
2

2
2
2
4
2
0
4
2
4
2
0
6
0

2
4
2
0
4
0
2
2
2
2
2
0
2

46,57

42,25

58,33

45,33

0,55

0,50

0,69

0,53

Berdasarkan grafik diatas dapat disimpulkan bahwa faktor pemicu terjadinya


hipertensi di Lingkungan Pelita yang pertama adalah faktor lingkungan, yang kedua
faktor perilaku, yang ketiga Yankes, dan keempat adalah faktor herediter.

POHON FAKTOR

DIARE
PENGETAHUAN
AIR MINUM
YG
DIKONSUMSI

PERILAKU
PENCEGAH
AN DIARE

SIKAP

PENANGANA
N DIARE
PEMBERI
AN
ORALIT

KEBIASAAN

HYGIENE
PERORANGA
N IBU

MEMBAW
A BALITA
KE
YANKES

TURUT
SERTA
PENYULUHA
N DIARE

AIR

JAMBA
N

KESLIN
G

FASILITAS MENUJU
PELAYANAN
KESEHATAN
JARAK

WAKTU
TEMPUH

TRANSPORTA
SI

E. Alternatif Pemecahan Masalah


Berdasarkan hasil identifikasi dan analisis masalah diperoleh alternative pemecahan
maslah sebagai berikut :
MASALAH
Hipertensi

PENYEBAB MASALAH
1. Kurangnya pengetahuan
masyarakat tentang hipertensi

ALTERNATIF SOLUSI
1. Promosi kesehatan
(penyuluhan/konseling) ke
masyarakat tentang
hipertensi

2. Sering mengalami kecemasan,


stres, panik atau tegang
3. Sering terpapar asap rokok

2. Promosi kesehatan
(konseling), olahraga
3. Penyuluhan masyarakat
untuk berhenti merokok dan

4. Diturunkan dari kelurga yang


mempuanyai riwayat hipertensi

rutin berolahraga.
4. (tidak bisa diintervensi)

5. Kurngnya informasi kesehatan


tentang hipertensi

5. Penyuluhan hipertensi

6. Pelayanan kesehatanyang kurang


memadai.

6. Melakukan pengadaan
fasilitas kesehatan yang

7. Sulitnya menemukan kasus


hiperetensi

masih kurang
7. Melakukan pengadaan
tempat pelayanan kesehatan
pembantu agar mudah
dijangkau
8. Melakukan kunjungan
untuk mengukuran tensi

8. Rendahnya pengobatan terhadap


penderita hipertensi.

masyarakat yang bersiko


9. Memberikan obat pada
penderita hipertensi

Berdasarkan alternative solusi yang kami buat, kami melakukan scoring dengan
menggunakanmetode Reinke yaitu berupa matriks EVEKTIVITAS DAN EFISIENSI :
SKOR = antara 1 sampai 5
Ket.
M

= Magnitude -> besarnya masalah yang dapat diatasi

= Importancy -> pentingnya mengatasi masalah

= Vulnerability -> kecepatan mengatasi masalah

= Cost -> biaya yang diperlukan

= Prioritas = P=

Ranking = urutan pemilihan kegiatan intervensi

No
1.

ALTERNATIF
SOLUSI
Promosi kesehatan

EFEKTIVITAS

EFISIENS

M
5

I
5

V
4

I
C
1

RANK

P=
100

80

(penyuluhan/konseling)
ke masyarakat tentang
hipertensi
2.

Penyuluhan masyarakat
untuk berhenti merokok
dan rutin berolahraga.

3.

Melakukan pengadaan
fasilitas kesehatan yang
masih kurang.

4.

Melakukan pengadaan
tempat pelayanan

kesehatan pembantu agar


mudah dijangkau.
Pelaksana Kegiatan
5
Melakukan
kunjungan
Penanggung
Jawab
Pembimbing
untuk mengukuran tensi

masyarakat yang bersiko.


Ketua
6.
Sekretaris
Memberikan obat pada
Bendahara
Pemberi
Materihipertensi
penderita
Sie. Acara

Sie. Perlengkapan
Sie. Publikasi & dokumentasi

Nama
4 MS
1
dr.4Indradjid,
- dr. Zainul
- dr. Iing
- dr. Suci Nirmala
Angger Bayu Wibisono
Feby Arirahmat
3 Artati
4 Putu3Ayu Septiari
Niluh
RianKarisma Loja
- Susan Dwi Oktulani
- Riska Leonita Fahmi
- Baiq Erika S.
- Uyun Mihwar
- Andry Wijaya
- Amy Aristasya Sintya
- A. Rina Rojiatul
- Putu Bagus Ananta
- Diana Kurniawati

68

12

Berdasarkan tabel pemilihan alternative solusi di atas dapat kami simpulkan bahwa
urutan pemilihan kegiatan yang kami lakukan adalah yang pertama adalah Penyuluhan
tentang hipertensi.

Panitia Pelaksanaan Kegiatan Intervensi Penyuluhan tentang Hipertensi

Tabel. Plan Of Action Peningkatan Penemun Kasus Hipertensi pada Lansia dilingkungan Pelita Kelurahan Dasan
Agung

Kegiatan
Penyuluhan
tentang
hipertensi

Tujuan
Meningk
atkan
pengeta
huan
masyara
kat
tentang
hiperten
si

Sasaran
Kader
dan
Masyarak
at
lingkunga
n pelita di
wilayah
kerja
Puskesma
dasan
agung

Tempat
Posyan
du
teratai

Pelaksana
1. Koordinato
r pihak
panitia
pelaksana
: kepala
puskesma
dasan
agung
2. Narasumb
er : Loja
3. Panitia
penyeleng
gara

Waktu Susunan Acara


Kamis 1. Registrasi dan
25 Juli
pengukuran tekanan
2013
darah oleh panitia
Pukul 2. Pembukaan :
09:00
09:20-09.40
WITA(Sambutan- sambutan
selesa
):
i
Sambuatan Ketua
Panitia
Sambutan Kepala
PKM Dasan Agung
Sambutan Lurah
Dasan Agung Baru
3. Isi acara :
09:40-09:50 (Pretest)
09.50.10.10
(Penyampaian materi
oleh narasumber )
10:10-10:30 ( sesi

Biaya
1. Fakulta
s:
UNIZA
R
- Total
biaya
sebesar
3,2juta.
(Rincian
Terlampi
r)

Metode
Ceram
ah dan
tanya
jawab

Tolak ukur
Meningkatn
pengetahu
dan peruba
pola hidup
masyaraka
yang berisi
terkena
hipertensi
Lingkungan
Pelita
Kelurahan
Dasan Agu
Baru serta
terlaksana
penyuluha
mengenai
hipertensid
pelita.

tanya jawab/diskusi)
10.30-10.40 (Postest)
10:40-10:50
(Doorprize dan
pmberian bingkisan)
4. Penutup :
10:50-111:00(
Penutup acara dari
panitia peyelenggara)

BAB IV
PROGRAM KEGIATAN INTERVENSI
A.

Program Kegiatan Intervensi Kesehatan


Program intervensi hipertensi yang kami lakukan meliputi :
a. Penyuluhan kelompok
Dengan mengumpulkan tokoh masyarakat dan kader di kelurahan Dasan
Agung Baru serta warga sekitar lingkungan pelita dengan menggunakan alat bantu
penyuluhan berupa LCD, MIC, sound system, meja, karpet, kursi, tensi meter,
steteskop, kamera, handicam, leaflat, pulpent, lembar pretest dan postest, kipas
angin.
b. Pembagian bingkisan (parcel)
Pembagian bingkisan kepada peserta sebagai kenang-kenangan dan tanda
terimakasih atas kehadiran.
c. Pengukuran tekanan darah
Pengukuran tekanan darah kepada peserta bertujuan untuk mengetahui tekanan
darah mereka saat itu.
d. Pembagian doorprize
Pembagian doorprizesebagai hiburan dan kenang-kenangan.

B.

Pelaksanaan dan Pembahasan Kegiatan Intervensi kesehatan


Pelaksanaan intervensi kesehatan berupa penyuluhan yang kami lakukan di Posyandu
Teratai Lingkungan Pelita Kelurahan Dasan Agung Baru. Dengan peserta berasal dari 4
lingkungan dikarenakan tujuan penyuluhan untuk meningkatkan penemuan kasus
hipertensi jadi mengambil tokoh masyarakat dan kader dari 4 lingkungan.
a.

Pelakasanaan Intervensi kesehatan


Pelaksanaan intervensi kesehatan (Hipertensi) berupa kegiatan

penyuluhan

kelompok, yang pelaksanaannya ditujukan kepada tokoh masyarakat dan kader di


kelurahan Dasan Agung Baru serta warga sekitar lingkungan pelita yang diadakan
di Posyandu Teratai Lingkungan pelita Kelurahan Dasan Agung Baru.
Penyuluhan dilakukan pada hari kamis tanggal 25 Juli 2012 di aula
Posyandu Teratai pada pukul 10.00-12.00. Penyuluhan dilakukan dengan cara
mempresentasikan langsung menggunakan alat bantu penyuluh berupa tampilan
LCD yang memuat tulisan serta gambar yang diikuti dengan sesi diskusi (tanya

jawab) dan postest. Sebelum penyampaian materi dibagikan leaflet kepada


peserta sebagai informasi kesehatan. Penyuluh membagi diri menjadi seksi-seksi
dimana terdiri dari 1 ketua, 1 presentan, 1 MC, serta 10 mahasiswa
bertanggungjawab sebagai pengawas pelaksanaan penyuluhan agar berjalan
dengan sukses.
Pelaksanaan intervensi kesehatan (hipertensi) berupa pemberian bingkisan
yang ditujukan kepada setiap peserta, dimana pelaksanaannya pada akhir acara
dengan diikuti dengan pembagian doorprizesebagai kenang-kenangan dan ucapan
terimakasih atas kehadiarannya.
b.

Monitoring
Penyuluhan yang kami lakukan di aula Posyandu Teratai Lingkungan Pelita
Kelurahan Dasan Agung Baru yang pelaksanaan penyuluhannya dilakukan
dengan tokoh masyarakat dan kader dari kelurahan Dasan Agung Baru, target
responden kami sebanyak 50 orang, dan target yang datang sebanyak 25 orang.
Dan acara dimulai sedikit mundur dari jadwal, disebabkan karena peserta
penyuluhan belum semuanya hadir, adapun kronologis/urutan kegiatan adalah
sebagai berikut :

Jam
08.00 WITA
09.00 WITA
09.30 WITA
10.00 WITA
10.10 WITA

Pelaksaan kegiatan
Persiapan panitia,tempat, dan perlengkapan.
Registrasi dan pengukuran tekanan darah
Pretest
Acara di mulai/ pembukaan, ( sedikit mundur jadwal
dikarenakan perserta yang hadir masih kurang dari target).
Sambutan sambutan :
1. Ketua panitia oleh saudara Angger Bayu Wibisono
2. Kepala Puskesmas Dasan Agung Baru oleh pak
Irwansyah SKM.MM
3. Sambutan Lurah Dasan Agung Baru oleh staf yang

10.40 WITA
11.00 WITA
11.40 WITA
11.50 WITA
12.00 WITA

mewakili.
Penyampaian materi oleh saudara Ryan Kharisma Loja.
Diskusi/tanya jawab
Postest
Pembagian doorpizes
Penutup
Selama memberikan penyuluhan dimana dihadiri oleh Kepala Puskesmas

serta Dosen Pembimbing Fakultas, dan Dosen Pembimbing Lapangan. Antusias


peserta penyuluhan cukup baik, ditambah dengan hadirnya dokter sekaligus dosen

pembimbing fakultas yang memberikan banyak masukan kepada warga yang


hadir, peserta penyuluhan tersebut banyak mengajukan pertanyaan seputar
hipertensi dan cara hidup sehat, hal ini dikarenakan keingintahuan peserta atau
responden untuk mengetahui lebih banyak lagi.
Selama penyuluhan yang kami lakukan, setelah materi disampaikan oleh
pemateri, kami membuka sesi diskusi dan wargapun sangan antusias untuk
bertanya, sampai kami membuka 3 sesi pertanyaan dan untuk setiap sesi dibuka
untuk 3 penanya. Setelah kami menjawab semua pertanya dari warga DPF dan
DPL menambahkan penjelaskan untuk pertanyaan warga agar lebih jelas.
c.

Pembahasan
Penyuluhan yang kami lakukan dengan tujuan ingin memberikan
pengetahuan kepada tokoh masyarakat dan kader tentang hipertensi, agar tokoh
masyarakat dan kader bisa mengetahui, mengerti dan memiliki gambaran tentang
penyakit hipertensi yang merupakan salah satu penyakit degenerative dan dapat
mengakibatkan kematian serta dapat disampaikan kepada masyarakatnya. Selain
itu tokoh masyarakat dan kader bisa mengetahui faktor penyebab maupun
penanggulangan, cara pencegahan, gaya hidup atau perilaku yang sehat dan
bersih, serta pemanfaatan pelayanan kesehatan.
Penyuluhan yang kami lakukan di lingkungan pelita, dengan Tema Edukasi
tentang Hipertensi isi dari penyuluhan tersebut berupa:

d.

1.

Apa itu hipertensi

2.

Apa penyebab terjadinnya hipertensi

3.

Apa saja faktor risiko hipertensi

4.

Apa saja gejala yang mungkin muncul pada penderita hipertensi

5.

Apa saja makanan yang harus dikonsusmsi

6.

Apa saja makanan yang tidak boleh dikonsumsi

7.

Apa saja komplikasi hipertensi

8.

Bagaimana cara mencegah hipertensi

9.

Bagaimana pengobatan hipertensi, dan

10.

Bagaimanakah perilaku hidup sehat dan baik itu.

Evaluasi

Pada saat melakukan Tanya jawab, tingkat pengetahuan tentang hipertensi


dan perilaku hidup sehat lumayanrendah hal ini disebabkan karena kurangnya
pengetahuan.
Setelah kami melakukan penyuluhan tentang hipertensi, khususnya
mengenai pengertiannya, penyebab, faktor risiko, cara pencegahan, komplikasi
cara pengobatan, dan cara perilaku hidup bersih dan makanan. Dari penyuluhan
tersebut kami berharap para peserta bisa mengerti tentang hipertensi dan bisa
menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat agar dapat membantu pencegahan
terjadinya komplikasi dari penyakit hipertensi tersebut.
Dari segi faktor pengetahuan tentang perilaku hidup bersih, perubahan yang
diharapkan terjadi pada tokoh masyarakat dan kader sebagai berikut:
1. Pengetahuan tentang perilaku menjaga makanan yakni agar tidak memakan
makanan yang berlemak, makanan siap saji, makanan yang asin (garam), tidak
meminum kopi dan lebih bnyak meminum air putih.
2. Pengetahuan tentang gaya hidup yakni dengan berolahraga yang teratur
minimal 2 kali dalam seminggu dan maksimal 6 kali seminggu kira0kira 30
menit sehari.
3. Pengetahuan tentang perilaku masyarakat yang sebagian besar mengkonsumsi
rokok dengan adanya penyuluhan ini kami mengharapkan adanya kesadaran
dari masyarakat untuk lebih menjaga kesehatan dengan mengurangi rokok.
4. Pengetahuan untuk mengenal tanda dan gejala yang mungkin timbul karena
hipertensi
5. Pengetahuan untuk memeriksakan diri secara rutin ke tempat pelayanan
kesehatan minimal 1 kali sebulan.
6. Dan disampaikan kepada masyarakat-masyarakatnya.
Adapun hasil survey dengan pretest dan postest yang kami dapatkan adalah
sebagai berikut :
Tabel. Hasil Pretest dan Postest Peserta Penyuluhan
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Inisial Nama
S
MH
HR
H
M1
M2
NLS

Pretest
6
9
4
7
9
7
9

Postest
10
10
8
9
10
10
10

8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.

RF
HM
R
LS
SM
NA
M2
MT
PH
AB
MN
M3
F
M4
AK
U

9
8
10
9
9
10
7
8
9
7
7
7
9
8
7
5

10
10
10
10
10
10
8
10
9
9
8
9
10
10
8
8

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa hasil postest setelah pemberian
materi oleh pemateri mengalami peningkatan nilai benarnya dibandingkan dengan
nilai pretest. Ini berarti materi yang dismapaikan dapat di mengerti oleh peserta dan
memberi manfaat pengetahuan bagi peserta penyuluhan.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada penganalisaan data sekunder yang kami lakukan di Puskesmas Dasan
Agungmulai dari tanggal 01 05 Juli 2013kami mendapatkan Hipertensi sebagai sebuah
masalah dikarenakan angka kejadian Hipertensi yang tinggi pada Wilayah kerja

Puskesmas Dasan Agung dan menduduki peringkat ke-4 dari 10 penyakit terbanyak di
Puskesmas Dasan Agung, sehingga kami mengambil angka kejadian Hipertensi menjadi
sebuah prioritas masalah untuk dicari apa penyebab masalah ini. Namun kejadian
hipertensi yang tinggi diwilayah kerja Puskesmas Dasan ini ternyata belum mencapai
target penemuan kasus hipertensi berdasarkan Riskesdes, oleh sebab itu kami
mengangkat tentang Cakupan Penemuan Kasus Hipertensi
Kami mengambil data primer di Lingkungan Pelita Kelurahan Dasan Agung Baru
karena berdasarkan hasil survey yang kami lakukan kami menemukan banyak faktor
risiko terjadinya hipertensi disana, yaitu memiliki lansia paling banyak dari lingkunganlingkungan lain, dan merupakan lingkungan kalangan atas dan menengah yang beriso
hipertensi.
Dari hasil wawancara dan pembagian quisioner yang kami lakukan pada tanggal
09 13Juli 2013 di Wilayah kerja PuskesmasDasan Agung yaitu di Lingkungan Pelita
Keurahan Dasan Agung Baru kami mengetahui bahwa urutan faktor pemicu terjadinya
hipertensi adalah faktor ingkunga, faktor perilaku/pengetahuan, faktor Yankes dan faktor
herediter. Tingkat pengetahuan masyarakat yang masih sangat rendah tentang hipertensi,
perilaku masyarakat untuk mencegah hipertensi masih kurang, masyarakat masih kurang
peduli dengan bahaya yang dapat ditimbulkan dari penyakit hipertensi tersebut.
Karena pengetahuan tentang Hipertensi yang sangat kurang pada Wilayah kerja
Puskesmas Dasan Agung maka kami melakukan intervensi dengan cara penyuluhan guna
meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai Hipertensi untuk dapat melakukan
pencegahan hipertensi serta melakukan tindakan apabila terjadinya serangan hipertensi
dan penemuan kasus hipertensipun akan tercapai sesuai dengan data Riskesdes tahun
2007.
B. Saran

Puskesmas
- Melakukan penyuluhan yang lebih intens mengenai hipertensi sehingga dapat
-

meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penyakit hipertensi.


Lebih berperan aktif dalam melakukan kegiatan pengukuran tekanan darah

guna mengetahui jumlah angka kejadian hipertensi.


Lebih banyak mengajak masyarakat untuk peduli dengan penyakit hipertensi.

Mengajak masyarakat untuk melakukan pengontrolan tekanan darah secara

rutin di Puskesmas
Memberikan pengetahuan bahwa penyakit hipertensi adalah penyakit yang
tidak dapat disembuhkan sehingga memerlukan pengobatan secara rutin dan

bertahap.
Masyarakat
- Lebih peduli dengan penyakit hipertensi
- Lebih mengetahui tanda dan gejala hipertensi
- Mengetahui makanan yang dapat menyebabkan dan memperparah penyakit
-

hipertensi
Mengetahui penyebab penyakit hipertensi
Mengetahui tindakan yang akan dilakukan apabila telah terjadi serangan

hipertensi
- Mengetahui cara pencegahan penyakit hipertensi
Mahasiswa
- Lebih peduli dengan masalah yang terjadi pada masyarakat
- Lebih berperan aktif dalam peningkatan kesehatan masyarakat
- Meningkatkan pengetahuan tentang penyakit dan penyebarannya guna
meningkatkan kesehatan masyarakat baik secara promotif, preventif, kuratif
ataupun rehabilitatif.