Anda di halaman 1dari 68

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Tingkat kesehatan perempuan Indonesia saat ini masih tergolong rendah.
Keberhasilan pembangunan nasional dapat dilihat dari derajat kesehatan masyarakat yang
dipantau dari tinggi rendahnya angka kematian ibu dan bayi.
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat
kesehatan perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah
ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan
kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai
resiko jumlah kematian ibu.
Kematian maternal menurut batasan dari The Tenth Revision of The International
Classification of Diseases (ICD 10) adalah kematian wanita yang terjadi pada saat
kehamilan atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung dari lama dan
lokasi kehamilan, disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan, atau yang
diperberat oleh kehamilan tersebut, atau penanganannya, akan tetapi bukan kematian yang
disebabkan oleh kecelakaan atau kebetulan.
Setiap tahun diperkirakan 529.000 wanita di dunia meninggal sebagai akibat
komplikasi yang timbul dari kehamilan dan persalinan, sehingga diperkirakan terdapat angka
kematian maternal sebesar 400 per 100.000 kelahiran hidup (estimasi kematian maternal dari
WHO/ UNICEF/ UNFPA tahun 2000). Hal ini memiliki arti bahwa satu orang wanita di
belahan dunia akan meninggal setiap menitnya. Kematian maternal 98% terjadi di negara
berkembang dan sebenarnya sebagian besar kematian ini dapat dicegah.
Indonesia sebagai negara berkembang, masih memiliki angka kematian maternal yang
cukup tinggi. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992 angka
kematian ibu (AKI) di Indonesia 425 per 100.000 KH dan menurun menjadi 373 per 100.000
KH pada SKRT tahun 1995. Sedangkan pada SKRT yang dilakukan pada tahun 2001, angka
kematian maternal kembali mengalami peningkatan yaitu sebesar 396 per 100.000 KH dan
dari SDKI 2002 / 2003 angka kematian maternal menjadi sebesar 307 per 100.000 KH. Hal
ini menunjukkan bahwa angka kematian maternal di Indonesia cenderung stagnan
1

Menurut survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan


bahwa

penyebab langsung Angka Kematian Ibu (AKI) antara lain: perdarahan 42%,

eklamsia/preekalmsia 13%, abortus 11%, infeksi 10%, partus lama/persalinan macet 9%, dan
penyebab lain 15 %. Sedangkan angka kematian ibu (AKI) di Kabupaten Kediri tahun 2012
antara lain disebabkan karena preeklamsia atau eklamsia 32,4%, perdarahan 8,1%, sepsis
atau infeksi 5,4%, partus lama 2,7% dan lain-lain 51,4% (Dinkes Kabupaten Kediri, 2012)
McCarthy dan Maine (1992) mengemukakan adanya 3 faktor yang berpengaruh
terhadap proses terjadinya kematian maternal. Proses yang paling dekat terhadap kejadian
kematian maternal, disebut sebagai determinan dekat yaitukehamilan itu sendiri dan
komplikasi yang terjadi dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas (komplikasi obstetri).
Determinan dekat secara langsung dipengaruhi oleh determinan antara yaitu status kesehatan
ibu, status reproduksi, akses ke pelayanan kesehatan, perilaku perawatan kesehatan /
penggunaan pelayanan kesehatan dan faktor faktor lain yang tidak diketahui atau tidak
terduga. Di lain pihak, terdapat juga determinan jauh yang akan mempengaruhi kejadian
kematian maternal melalui pengaruhnya terhadap determinan antara, yang meliputi faktor
sosio kultural dan faktor ekonomi, seperti status wanita dalam keluarga dan masyarakat,
status keluarga dalam masyarakat dan status masyarakat.
Hasil beberapa penelitian yang berhubungan dengan faktor risiko kematian maternal
di Indonesia maupun di negara lain menunjukkan bahwa kematian maternal dipengaruhi oleh
faktorfaktor yang berhubungan dengan faktor ibu, faktor status reproduksi, faktor yang
berhubungan dengan komplikasi obstetrik, faktor yang berhubungan dengan pelayanan
kesehatan, faktor sosial ekonomi dan faktor sosial budaya.
Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di Indonesia tahun 2001
menunjukkan bahwa 89,5% kematian maternal diIndonesia terjadi akibat komplikasi
kehamilan, persalinan dan masa nifas dan 10,5% terjadi karena penyakit yang memperburuk
kondisi ibu. Hasil SKRT tahun 2001 juga menunjukkan bahwa proporsi kematian maternal
tertinggi terjadi pada ibu yang berusia lebih dari 34 tahun dan melahirkan lebih dari tiga kali
(18,4%). Kasus kematian maternal terutama terjadi akibat komplikasi perdarahan (34,3%),
keracunan kehamilan (23,7%) dan infeksi pada masa nifas (10,5%). Kasus perdarahan yang
paling banyak adalah perdarahan post partum (18,4%). Kasus kematian karena penyakit yang
memperburuk kesehatan ibu hamil, terbanyak adalah penyakit infeksi (5,6%).
2

Upaya penurunan angka kematian maternal di Indonesia telah banyak dilakukan.


Kebijakan Departemen Kesehatan RI dalam upaya Safe Motherhooddinyatakan sebagai
empat pilar Safe Motherhood, yaitu pelayanan Keluarga Berencana, pelayanan antenatal,
persalinan yang bersih dan aman, dan pelayanan obstetri esensial. Departemen Kesehatan
mengupayakan agar setiap persalinan ditolong atau minimal didampingi oleh bidan dan
pelayanan obstetri sedekat mungkin kepada semua ibu hamil.
Target yang ingin dicapai dengan adanya program Safe Motherhood yang
dicanangkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1988 adalah penurunan angka kematian
maternal menjadi 225 per 100.000 KH pada tahun 2000. Selanjutnya dengan dicanangkannya
Gerakan Nasional Kehamilan yang Aman (Making Pregnancy Safer) pada tahun 2000 maka
target penurunan angka kematian maternal pada tahun 2010 adalah 125 per 100.000 KH, dan
pada tahun 2015 diharapkan angka kematian maternal telah mencapai 80 per 100.000 KH.
Dalam perkembangannya, penurunan angka kematian maternal yang dicapai tidak seperti
yang diharapkan.
Angka kematian ibu (AKI) dan bayi di NTB masih tinggi, bahkan tertinggi di
Indonesia. Tercatat angka kematian ibu melahirkan di Indonesia 91 orang per 100.000 proses
melahirkan dan angka kematian bayi menembus 57 jiwa per 1000 kelahiran. Penyebab
tingginya angka kematian ibu dan bayi seperti tingginya angka kelahiran usia remaja,
tingginya jumlah anemia pada ibu hamil yang mencapai 18,04 % dengan usia 14-25 tahun
pada 2013. Adapun penyebab lain adalah tingginya usia perkawinan dini yang mencapai
46,7%.
Salah satu upaya percepatan penurunan angka kematian ibu yang dilakukan oleh
Pemerintah Propinsi NTB adalah dengan mencanangkan gerakan AKINO (Angka kematian
ibu nol) pada tahun 2008. Program yang dilaksanakan adalah pemeriksaan ibu hamil minimal
4 kali selama kehamilan, persalinan normal di puskesmas dan persalinan dengan penyulit
yang dirujuk di rumah sakit umum pada ruang kelas III secara gratis, tidak memandang kaya
atau miskin (Dinkes NTB, 2010).
Dari data tahunan Puskesmas Cakra masih di dapatkan angka kematian maternal
sebanyak 1 orang per 1.234 kelahiran pada tahun 2014 dengan persentasi kematian 0.08 %
dari 1.234 angka persalinan yang telah di capai oleh puskesmas. Dari 8 kelurahan yang
tercatat pada puskesmas cakra sebagai wilayah kerja puskesmas angka kematian maternal
3

terjadi di wilayah kelurahan mandalika, kematian maternal di sebabkan karena infeksi pada
kehamilan. Berdasarkan definisi dari akino yaitu angka kematian ibu nol maka Angka
kematian 1 orang merupakan suatu masalah karena belum mencapai target angka kematian
ibu nol.
Berdasarka permaslahan yang telah di uraikan di atas, khususnya permasalahan yang
ada pada puskesmas cakra tentang angka kematian ibu yang masih di dapatkan, kami tertarik
untuk melakukan penelitian tentang hubungan factor ibu terhadap kejadian kematian
maternal.

1.2.

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan berbagai masalah
sebagai berikut: Apakah faktor faktor risiko yang terdiri dari determinan dekat, determinan
antara, dan determinan jauh mempengaruhi kematian maternal.

1.3.
TUJUAN PENELITIAN
1.3.1. Tujuan umum
Untuk mengetahui faktor faktor risiko yang mempengaruhi kematian maternal,
yang terdiri dari determinan dekat, determinan antara dan determinan jauh
1.3.2. Tujuan khusus
1.3.2.1. Untuk mengetahui pengaruh determinan dekat, yaitu:
a.Adanya komplikasi kehamilan mempengaruhi kematian maternal
b. Adanya komplikasi persalinan mempengaruhi kematian maternal.
c.Adanya komplikasi nifas mempengaruhi kematian maternal.
1.3.2.2. Untuk mengetahui pengaruh determinan antara, yaitu:
a.Usia ibu < 20 tahun atau > 35 tahun mempengaruhi kematian maternal
b.Paritas 1 atau paritas > 4 mempengaruhi kematian maternal
c.Jarak kehamilan < 2 tahun mempengaruhi kematian maternal
d.Adanya riwayat penyakit ibu mempengaruhi kematian maternal
e.Adanya riwayat komplikasi pada kehamilan sebelumnya mempengaruhi

kematian

maternal
4

f. Riwayat persalinan jelek memp engaruhi kematian maternal


g.Status gizi ibu saat hamil mengalami KEK mempengaruhi kematian maternal
h.Anemia ibu saat hamil mempengaruhi kematian maternal
i. Pemeriksaan antenatal tidak baik mempengaruhi kematian maternal
j.Tidak memanfaatkan fasilitas kese hatan saat terjadi komplikasi

mempengaruhi

kematian maternal
k.Penolong pertama persalinan bukan tenaga kesehatan mempengaruhi

kematian

maternal
l. Cara persalinan dengan tindakan mempengaruhi kematian maternal
m. Tempat persalinan bukan di tempat pelayanan kesehatan mempengaruhi kematian
maternal
n. Tidak pernah KB mempengaruhi kematian maternal
1.3.2.3 Untuk mengetahui pengaruh determinan jauh, yaitu:
a.Tingkat pendidikan ibu < SLTP me mpengaruhi kematian maternal
b.Status ibu bekerja mempengaruhi kematian maternal
c.Jumlah pendapatan keluarga < UMR mempengaruhi kematian maternal
d.Wilayah tempat tinggal di pedesaanmempengaruhi kematian maternal
1.3.2.4 Untuk mengetahui besar risiko faktor faktor risiko tersebut secara bersama sama
terhadap kematian maternal
1.4.

MANFAAT PENELITIAN

1.4.1. Memberikan informasi mengenai faktor faktor risiko yang mempengaruhi kematian
maternal, khususnya di puskesmas cakra.
1.4.2. Memberikan masukan bagi perumusan kebijakan, khususnya bagi upaya penurunan
angka kematian maternal dan peningkatan program Kesehatan Ibu dan Anak
1.4.3. Memberikan masukan bagi kegiatan penelitian sejenis di masa yang akan datang

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Batasan Kematian maternal


Kematian maternal menurut batasan dari The Tenth Revision of The International
Classification of Diseases (ICD 10) adalah kematian wanita yang terjadi pada saat
kehamilan, atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung dari lama
dan lokasi kehamilan, disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan, atau
yang diperberat oleh kehamilan tersebut atau penanganannya, tetapi bukan kematian yang
disebabkan oleh kecelakaan atau kebetulan.
Batasan 42 hari ini dapat berubah, karenaseperti telah diketahui bahwa dengan
adanya prosedur prosedurdan teknologi baru maka terjadinya kematian dapat diperlama
dan ditunda, sehingga ICD 10 juga memasukkan suatu kategori baru yang disebut
kematian maternal lambat (late maternal death) yaitu kematian wanita akibat penyebab
obstetrik langsung atau tidak langsung yang terjadi lebih dari 42 hari tetapi kurang dari
satu tahun setelah berakhirnya kehamilan.
Kematian kematian yang terjadi akibatkecelakaan atau kebetulan tidak
dimasukkan ke dalam kematian maternal.Meskipun demikian, dalam praktiknya,
perbedaan antara kematian yang terjadi karena kebetulan dan kematian karena sebab
tidak langsung sulit dilakukan. Untuk memudahkan identifikasi kematian maternal pada
keadaan keadaan dimana sebab sebab yang dihubungkan dengan kematian tersebut
tidak adekuat, maka ICD 10 memperkenalkan kategori baru yang disebut pregnancy
related death(kematian yang dihubungkan dengan kehamilan) yaitu kematian wanita
selama hamil atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung dari
penyebab kematian. Kematian maternal dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
1. Kematian obstetri langsung (direct obstetric death) yaitu kematian yang
timbul sebagai akibat komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas, yang
disebabkan oleh tindakan, kelalaian, ketidaktepatan penanganan, atau dari
rangkaian peristiwa yang timbul dari keadaan keadaan tersebut diatas.
Komplikasi komplikasi tersebut meliputi perdarahan, baik perdarahan
antepartum maupun postpartum, preeklamsia / eklamsia, infeksi, persalinan
macet dan kematian pada kehamilan muda.
2. Kematian obstetri tidak langsung (indirect obstetric death) yaitu kematian
yang diakibatkan oleh penyakit yang sudah diderita sebelum kehamilan atau

persalinan atau penyakit yang timbul selama kehamilan yang tidak berkaitan
dengan penyebab obstetri langsung, akan tetapi diperburuk oleh pengaruh
fisiologik akibat kehamilan, sehingga keadaan penderita menjadi semakin
buruk. Kematian obstetri tidak langsung ini disebabkan misalnya oleh karena
hipertensi, penyakit jantung, diabetes, hepatitis, anemia, malaria, tuberkulosis,
HIV / AIDS, dan lain lain.
2.2 Epidemiologi Kematian Maternal
Menurut WHO, setiap tahun kurang lebih terdapat 210 juta wanita hamil di
seluruh dunia. Lebih dari 20 juta wanita mengalami kesakitan akibat dari kehamilannya,
beberapa diantaranya bersifat menetap. Kehidupan 8 juta wanita di seluruh dunia menjadi
terancam dan setiap tahun diperkirakan terdapat 529.000 wanita meninggal sebagai
akibat komplikasi yang timbul karena kehamilan dan persalinan, dimana sebagian besar
dari kematian ini sebenarnya dapat dicegah. Angka kematian maternal di seluruh dunia
diperkirakan sebesar 400 per 100.000 KH dan 98% terjadi di negara negara
berkembang.
Kematian maternal ini hampir 95% terjadi di Afrika (251.000 kematian maternal)
dan Asia (253.000 kematian maternal) dan hanya 4% (22.000 kematian maternal) terjadi
di Amerika Latin dan Karibia, serta kurang dari 1% (2500 kematian maternal) terjadi di
negara negara yang lebih maju.Angka kematian maternal tertinggi di Afrika (830
kematian maternal per 100.000 KH), diikuti oleh Asia (330), Oceania (240), Amerika
Latin dan Karibia (190).Angka kematian maternal di negara majutelah dapat diturunkan
sejak tahun 1940 an.
Angka kematian maternal di negara negara maju menurut estimasi WHO tahun
2000 yaitu 20 per 100.000 KH.Penurunan angka kematian maternal yang signifikan di
negara negara maju berkaitan dengan adanya kemajuan di bidang perawatan kesehatan
maternal, termasuk di dalamnya adalah kemajuan dalam pengendalian sepsis, tersedianya
transfusi darah, antibiotika, akses terhadap tindakan seksio sesaria dan tindakan aborsi
yang aman.Angka kematian maternal di negaraberkembang 20 kali lebih tinggi yaitu 440
per 100.000 KH dan di beberapa tempat dapat mencapai 1000 per 100.000 KH.Di
7

wilayah Asia Tenggara diperkirakan terdapat 240.000 kematian maternal setiap tahunnya,
sehingga diperoleh angka kematian maternal sebesar 210 per 100.000 KH.
Angka kematian maternal ini merupakan ukuran yang mencerminkan risiko
obstetrik yang dihadapi oleh seorang wanita setiap kali wanita tersebut menjadi
hamil.Risiko ini semakin bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah kehamilan
yang dialami.Tingginya angka kematian maternal di negara berkembang sebagian besar
berkaitan dengan masalah politik dan sosial, khususnya masalah kemiskinan dan status
wanita.
Sebagian besar kematian maternal terjadi dirumah, yang jauh dari jangkauan
fasilitas kesehatan. Menurut data SKRT 2001, proporsi kematian maternal terhadap
kematian usia reproduksi (15 49 tahun) di pedesaan hampir tiga kali lebih besar
daripada di perkotaan. Angka kematian maternal di Indonesia masih cukup tinggi.
Menurut hasil SKRT tahun 1992 angka kematian ibu (AKI) di Indonesia 425 per 100.000
KH dan menurun menjadi 373 per 100.000 KH pada SKRT tahun 1995, sedangkan pada
SKRT yang dilakukan pada tahun 2001, angka kematian maternal kembali mengalami
peningkatan menjadi sebesar 396 per 100.000 KH.Dari SDKI 2002 / 2003 angka
kematian maternal menunjukkan angka sebesar 307 per 100.000 KH. Bila dibandingkan
dengan negara negara anggota Asean seperti Brunei Darussalam (angka kematian
maternal menurut estimasi WHO tahun 2000 : 37 per 100.000 KH dan Malaysia : 41 per
100.000 KH) maka angka kematian maternal di Indonesia masih sangat tinggi.
Menurut WHO, kurang lebih 80% kematian maternal merupakan akibat langsung
dari komplikasi langsung selama kehamilan, persalinan dan masa nifas dan 20%
kematian maternal terjadi akibat penyebab tidak langsung. Perdarahan, terutama
perdarahan post partum, dengan onset yang tiba tiba dan tidak dapat diprediksi
sebelumnya, akan membahayakan nyawa ibu, terutama bila ibu tersebut menderita
anemia.
Pada umumnya, 25% kematian maternal terjadi akibat perdarahan hebat, sebagian
besar terjadi saat post partum. Sepsis / infeksi memberikan kontribusi 15% terhadap
kematian maternal, yang pada umumnya merupakan akibat dari rendahnya higiene saat
8

proses persalinan atau akibatpenyakit menular seksual yang tidak diobati sebelumnya.
Infeksi dapat dicegah secara efektif dengan melakukan asuhan persalinan yang bersih dan
deteksi serta manajemen penyakit menular selama kehamilan. Perawatan postpartum
secara sistematik akan menjamindeteksi penyakit infeksi secara cepat dan dapat
memberikan manajemen antibiotika secara tepat.
Hipertensi selama kehamilan, khususnya eklamsia memberikan kontribusi 12%
terhadap kematian maternal.Kematian ini dapat dicegah dengan melakukan monitoring
selama kehamilan dan dengan pemberian terapi antikonvulsan, seperti magnesium sulfat.
Abortus tidak aman (unsafe abortion) memberikan kontribusi 13% terhadap kematian
maternal, hal ini berkaitan dengan komplikasi yang ditimbulkan, berupa sepsis,
perdarahan, perlukaan uterus dan keracunan obat obatan. Di beberapa belahan dunia,
sepertiga

atau

lebih

kematian

maternal

berhubungan

dengan

abortus

tidak

aman.Kematian ini dapat dicegah apabila para ibu memiliki akses terhadap informasi dan
pelayanan keluarga berencana, dan apabila abortus tidak dilarang secara hukum, maka
abortus dapat dilakukan dengan pemberian pelayanan abortus secara aman.Partus lama
atau partus macet menyebabkan kurang lebih 8% kematian maternal.Keadaan ini sering
merupakan akibat dari disproporsi sefalopelvik (bila kepala janin tidak dapat melewati
pelvis ibu) atau akibat letak abnormal (bila janin tidakdalam posisi yang benar untuk
dapat melalui jalan lahir ibu).
Penyebab tidak langsung dari kematian maternal memberikan kontribusi sebesar
20% terhadap kematian maternal.Penyebab tidak langsung dari kematian maternal ini
terjadi akibat penyakit ibu yang telah diderita sebelumnya atau diperberat dengan
keadaan kehamilan atau penanganannya.Contoh penyebab kematian maternal tidak
langsung adalah anemia, infeksi hepatitis, malaria, tuberkulosis, penyakit jantung dan
infeksi HIV/AIDS.

Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia, seperti halnya dengan negara lain
adalah perdarahan, infeksi dan eklamsia. Ke dalam perdarahan dan infeksi sebagai
penyebab kematian, tercakup pula kematian akibat abortus terinfeksi dan partus
lama.Hanya sekitar 5% kematian ibu disebabkan oleh penyakit yang memburuk akibat
9

kehamilan, misalnya penyakit jantung dan infeksi kronis.Keadaan ibu pra hamil dapat
berpengaruh terhadap kehamilannya. Penyebab tidak langsung kematian maternal ini
antara lain adalah anemia, kurang energi kronis (KEK) dan keadaan 4 terlalu (terlalu
muda/ tua, terlalu sering dan terlalu banyak).Depkes RI membagi faktor faktor yang
mempengaruhi kematian maternal
sebagai berikut :
1.Faktor medik
a.Faktor empat terlalu, yaitu :
-Usia ibu pada waktu hamil terlalu muda (kurang dari 20 tahun)
-Usia ibu pada waktu hamil terlalu tua (lebih dari 35 tahun)
-Jumlah anak terlalu banyak (lebih dari 4 orang)
-Jarak antar kehamilan terlalu dekat (kurang dari 2 tahun)
b.Komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas yang merupakan penyebab langsung
kematian maternal, yaitu :
-Perdarahan pervaginam, khususnya pada kehamilan trimester ketiga, persalinan
dan pasca persalinan.
-Infeksi.
-Keracunan kehamilan.
-Komplikasi akibat partus lama.
-Trauma persalinan.
c. Beberapa keadaan dan gangguan yang memperburuk derajat kesehatan ibu selama
hamil, antara lain :
- Kekurangan gizi dan anemia.
- Bekerja (fisik) berat selama kehamilan.
2. Faktor non medik
Faktor non medik yang berkaitan dengan ibu, dan menghambat upaya penurunan
kesakitan dan kematian maternal adalah :
- Kurangnya kesadaran ibu untuk mendapatkan pelayanan antenatal.
- Terbatasnya pengetahuan ibu tentang bahaya kehamilan risiko tinggi.
-Ketidakberdayaan sebagian besar ibu hamil di pedesaan dalam pengambilan keputusan
untuk dirujuk.
10

- Ketidakmampuan sebagian ibu hamil untuk membayar biaya transport dan perawatan di
rumah sakit.
3. Faktor pelayanan kesehatan
Faktor pelayanan kesehatan yang belum mendukung upaya penurunan kesakitan dan
kematian maternal antara lain berkaitan dengan cakupan pelayanan KIA, yaitu :
-

Belum mantapnya jangkauan pelayanan KIA dan penanganan kelompok berisiko.


Masih rendahnya (kurang lebih 30%) cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga

kesehatan.
Masih seringnya (70 80%) pertolongan persalinan yang dilakukan di rumah, oleh dukun
bayi yang tidak mengetahui tanda tanda bahaya.

Berbagai aspek manajemen yang belum menunjang antara lain adalah :


-

Belum semua kabupaten memberikan prioritas yang memadai untuk program KIA
Kurangnya komunikasi dan koordinasi antara Dinkes Kabupaten, Rumah Sakit
Kabupaten dan Puskesmas dalam upaya kesehatan ibu.
Belum mantapnya mekanisme rujukan dari Puskesmas ke Rumah Sakit Kabupaten atau
sebaliknya.

Berbagai keadaan yang berkaitan dengan ketrampilan pemberi pelayanan KIA juga masih
merupakan faktor penghambat, antara lain :
-

Belum diterapkannya prosedur tetap penanganan kasus gawat darurat kebidanan secara

konsisten.
Kurangnya pengalaman bidan di desa yang baru ditempatkan di Puskesmas dan bidan

praktik swasta untuk ikut aktif dalam jaringan sistem rujukan saat ini.
Terbatasnya ketrampilan dokter puskesmas dalam menangani kegawatdaruratan

kebidanan.
Kurangnya upaya alih teknologi tepat (yang sesuai dengan permasalahan setempat) dari
dokter spesialis RS Kabupaten kepada dokter / bidan Puskesmas.
Semakin banyak ditemukan faktor risiko pada seorang ibu hamil, maka semakin
tinggi risiko kehamilannya.Tingginya angka kematian maternal di Indonesia sebagian
besar disebabkan oleh timbulnya penyulit persalinan yang tidak dapat segera dirujuk ke
fasilitas pelayanan yang lebih mampu.Faktor waktu dan transportasi merupakan hal yang
sangat menentukan dalam merujuk kasus risiko tinggi.
McCarthy dan Maine (1992) mengemukakan adanya 3 faktor yang berpengaruh
terhadap proses terjadinya kematian maternal. Proses yang paling dekat terhadap kejadian
kematian maternal (determinan dekat) yaitu kehamilan itu sendiri dan komplikasi dalam
11

kehamilan, persalinan dan masa nifas (komplikasi obstetri). Determinan dekat secara
langsung dipengaruhi oleh determinan antara yaitu status kesehatan ibu, status
reproduksi, akses ke pelayanan kesehatan, perilaku perawatan kesehatan / penggunaan
pelayanan kesehatan dan faktor faktor lain yang tidak diketahui atau tidak terduga. Di
lain pihak, terdapat juga determinan jauh yang akan mempengaruhi kejadian kematian
maternal melalui pengaruhnya terhadap determinan antara, yang meliputi faktor sosio
kultural dan faktor ekonomi, seperti status wanita dalam keluarga dan masyarakat, status
keluarga dalam masyarakat dan status masyarakat.
2.3 Faktor Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kematian Maternal
Faktorfaktor risiko yang mempengaruhi kematian maternal, yang dikelompokkan
berdasarkan kerangka dari McCarthy dan Maine (1992) adalah sebagai berikut :
1. Determinan dekat
Proses yang paling dekat terhadap kejadian kematian maternal adalah kehamilan
itu sendiri dan komplikasi dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas. Wanita yang
hamil memiliki risiko untuk mengalami komplikasi, baik komplikasi kehamilan maupun
persalinan, sedangkan wanita yang tidak hamil tidak memiliki risiko tersebut.
a. Komplikasi kehamilan
Komplikasi

kehamilan

merupakan

penyebab

langsung

kematian

maternal.Komplikasi kehamilan yang sering terjadi yaitu perdarahan, preeklamsia


/eklamsia, dan infeksi.
-Perdarahan
Sebab sebab perdarahan yang berperan penting dalam menyebabkan
kematian maternal selama kehamilan adalah perdarahan, baik yang terjadi pada usia
kehamilan muda / trimester pertama, yaitu perdarahankarena abortus (termasuk di
dalamnya abortus provokatus karena kehamilan yang tidak diinginkan) dan
perdarahan karena kehamilan ektopik terganggu (KET), maupun perdarahan yang
terjadi pada kehamilan lanjut akibat perdarahan antepartum. Penyebab perdarahan
antepartum pada umumnya adalah plasenta previa dan solusio plasenta.
a.Perdarahan karena abortus
Abortus adalah keadaan dimana terjadi berakhirnya kehamilan sebelum janin
dapat hidup di luar kandungan, atau keluarnya janin dengan berat kurang dari 500
12

gram atau usia kehamilan kurang dari 20 minggu. Abortus spontan diperkirakan
terjadi pada15% dari keseluruhan kehamilan, dan kasus kasus kematian yang ada
disebabkan oleh upaya upaya mengakhiri kehamilan secara paksa. Pada negara
negara tertentu, abortus mempunyai kontribusi sekitar 50% dari keseluruhan kematian
ibu yang berkaitan dengan kehamilan dan dari hasil laporan WHO, angka kematian
maternal karena abortus di seluruh dunia adalah 15%.Menurut perkiraan WHO,
terdapat 20 juta kasus abortus tak aman / berisiko (unsafe abortion) di seluruh dunia
pertahun. Setiap tahun terjadi 70.000 kematian maternal akibat abortus berisiko, dan
satu dari 8 kematian yang berkaitan dengan kehamilan, diakibatkan oleh abortus
berisiko.Hampir 90% abortus berisiko terjadi di negara berkembang.Kematian
maternal akibat abortus berisiko di negara berkembang 15 kali lebih banyak dari
negara industri.Abortus berisiko sulit untuk dilacak dan data yang pasti tentang
abortus ini sangat sulit diperoleh. Komplikasi dari aborsi yang

tidak aman

bertanggung jawab terhadap 13% proporsi kematian maternal.


Komplikasi yang berbahaya pada abortus ialah perdarahan, perforasi uterus,
infeksi, syok hemoragik dan syok septik.Komplikasi fatal juga dapat terjadi akibat
bendungan sistem pembuluh darah oleh bekuan darah, gelembung udara atau cairan,
gangguan mekanisme pembekuan darah yang berat (koagulasi intravaskuler
diseminata) dan keracunan obat obat abortif yang menimbulkan gagal
ginjal.Perdarahan pada abortus dapat disebabkan oleh abortus yang tidak lengkap atau
cedera pada organ panggul atau usus.Perdarahan yang berat atau perdarahan yang
bersifat persisten selama terjadinya abortus atau yang mengikuti kejadian abortus
dapat mengancam jiwa ibu. Semakin bertambah usia kehamilan, semakin besar
kemungkinan terjadinya kehilangan darah yang berat.Kematian maternal akibat
perdarahan karena abortus pada umumnya diakibatkan oleh tidak tersedianya darah
atau fasilitas transfusi di rumah sakit.Insidensi abortus dipengaruhi oleh usiaibu dan
sejumlah faktor yang terkait dengan kehamilan, termasuk riwayat jumlah persalinan
normal sebelumnya, jumlah abortus spontan yang terjadi sebelumnya, apakah pernah
terjadi lahir mati (stillbirth). Selain itu, risiko ini dipengaruhi juga oleh ada atau
tidaknya fasilitas kesehatan yang mampu memberikan pelayanan maternal yang
memadai, kemiskinan, keterbelakangan dan sikap kurang peduli, sehingga dapat
13

menambah angka kejadian abortus (abortus tidak aman).Komplikasi medis dari ibu
juga dapat mempengaruhi angka abortus spontan.
b. Perdarahan karena kehamilan ektopik terganggu
Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang terjadi dan tumbuh di luar
endometrium cavum uteri.Pada kehamilan ektopik, sel telur yang telah dibuahi tertanam,
tumbuh dan berkembang di luar uterus.Lebih dari 95% implantasi hasil konsepsi pada
kehamilan ektopik terjadi pada tuba fallopii.Kehamilan ektopik merupakan penyebab
perdarahan berat yang penting. Kehamilan ektopik ini sebagian berkaitan dengan
semakin tingginya insidensi salpingitis / penyakit menular seksual yang menginfeksi
tuba, peningkatan induksi ovulasi, peningkatan penggunaan metode kontrasepsi yang
mencegah kehamilan intrauterin akan tetapi tidak mencegah kehamilan ekstrauterin,
kegagalan sterilisasi tuba, induksi aborsi yang diikuti dengan infeksi, meningkatnya usia
ibu, dan operasi pelvis sebelumnya, termasuk salpingotomi karena kehamilan ektopik
pada kehamilan sebelumnya.Kehamilan ektopik merupakan penyebab penting dari
kesakitan dan kematian maternal, karena tempat tumbuh janin yang abnormal ini mudah
mengakibatkan gangguan berupa ruptur tuba, karena janin semakin membesar di tempat
yang tidak memadai (biasanya terjadi pada kehamilan 6 10 minggu). Hal ini akan
mengakibatkan perdarahan yang terkumpuldalam rongga perut dan menimbulkan rasa
nyeri setempat atau menyeluruh yang berat, disertai pingsan dan syok. Tanpa pengobatan,
kehamilan ektopik dapat menjadi fatal hanya dalam waktu beberapa jam, sehingga
mengancam kehidupan ibu.Menurut CDC 1995, kehamilan ektopik terganggu merupakan
penyebab utama kematian yang berhubungan dengankehamilan pada trimester pertama
dan merupakan 9 - 10% penyebab kematian maternal akibat komplikasi kehamilan.
c. Perdarahan antepartum
Perdarahan antepartum adalah perdarahan pervaginam yang terjadi pada
kehamilan antara 28 minggu sampai sebelum bayi lahir. Perdarahan antepartum
merupakan komplikasi kehamilan dengan frekuensi sekitar 5 10%.Perdarahan
antepartum merupakan keadaan gawat darurat kebidanan yang dapat mengakibatkan
kematian pada ibu maupun janin dalam waktu singkat.Penyebab perdarahan antepartum
yang berbahaya pada umumnya bersumber pada kelainan plasenta, yaitu plasenta previa
dan solusio plasenta, sedangkan perdarahan antepartum yang tidak bersumber pada
14

kelainan plasenta, misalnya perdarahan akibat kelainan pada serviks uteri dan vagina
(trauma, erosio porsionis uteri, polipus servisis uteri, varises vulva) pada umumnya tidak
seberapa berbahaya, karena kehilangan darah yang terjadi relatif sedikit dan tidak
membahayakan nyawa ibu dan janin, kecuali perdarahan akibat karsinoma invasif
cervisis uteri.Pada setiap perdarahan antepartum, pertama kali harus dicurigai bahwa
penyebabnya adalah plasenta previa sampai kemudian ternyata dugaan itu salah.Plasenta
previa adalah keadaan dimana plasenta terletak abnormal yaitu pada segmen bawah
uterus, sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum.Keadaan ini
mengakibatkan perdarahan pervaginam pada kehamilan 28 minggu atau lebih, karena
segmen bawah uterus telah terbentuk, dan dengan bertambah tuanya kehamilan, segmen
bawah uterus akan lebih melebar dan serviks mulai membuka.

Preeklamsia / eklamsia
Kehamilan dapat menyebabkan terjadinya hipertensi pada wanita yang
sebelum kehamilannya memiliki tekanan darah normal (normotensi) atau dapat
memperberat keadaan hipertensi yang sebelumnya telah ada.
Hipertensi pada kehamilan merupakan keadaan pada masa kehamilan yang
ditandai dengan terjadinya kenaikan tekanan darah lebih dari 140 / 90 mmHg atau
kenaikan tekanan darah sistolik lebih dari 30 mmHg dan atau diastolik lebih dari
15 mmHg.Hipertensi pada kehamilan yang sering dijumpai adalah preeklamsia
dan eklamsia.
Preeklamsia berat dan khususnya eklamsia merupakan keadaan gawat
karena dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin.Preeklamsia ringan dapat
mudah berubah menjadi preeklamsia berat, dan preeklamsia berat mudah menjadi
eklamsia dengan timbulnya kejang.
Tanda khas preeklamsia adalah tekanan darah yang tinggi, ditemukannya
protein dalam urin dan pembengkakan jaringan (edema) selama trimester kedua
kehamilan. Pada beberapa kasus, keadaan tetap ringan sepanjang kehamilan, akan
tetapi pada kasus yang lain, dengan meningkatnya tekanan darah dan jumlah
protein urin, keadaan dapat menjadi berat.
Terjadi nyeri kepala, muntah, gangguan penglihatan, dan kemudian anuria.
Pada stadium akhir dan paling berat terjadi eklamsia, pasien akan mengalami
15

kejang. Jikapreeklamsia / eklamsia tidak ditangani secara cepat, akan terjadi


kehilangan kesadaran dan kematian maternal karena kegagalan jantung,
kegagalan ginjal, kegagalan hati atau perdarahan otak.
Faktor predisposisi preeklamsia dan eklamsia adalah nullipara, usia ibu
kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, status ekonomi kurang, kehamilan
kembar, diabetes melitus, hipertensi kronis dan penyakit ginjal sebelumnya.
Kematian maternal akibat hipertensi pada kehamilan sering terjadi
(merupakan 12% dari seluruh penyebab kematian maternal) dan membentuk satu
dari tiga trias penyebab utama kematian maternal, yaitu perdarahan dan infeksi.
Menurut perkiraan, di seluruh duniakurang lebih 50.000 wanita meninggal
setiap tahun akibat preeklamsia.Menurut Depkes RI tahun 2004, kematian
maternal akibat hipertensi pada kehamilan sebesar 14,5% - 24%.

Infeksi pada kehamilan


Infeksi pada kehamilan adalah infeksi jalan lahir pada masa kehamilan,
baik pada kehamilan muda maupun tua. Infeksi dapat terjadi oleh sebab langsung
yang berkaitan dengan kehamilan, atau akibat infeksi lain di sekitar jalan lahir.
Infeksi pada kehamilan muda adalah infeksi jalan lahir yang terjadi pada
kehamilan kurang dari 20 22 minggu.Penyebab yang paling sering terjadi adalah
abortus yang terinfeksi.
Infeksi jalan lahir pada kehamilan tua adalah infeksi yang terjadi pada
kehamilan trimester II dan III. Infeksi jalan lahir ini dapat terjadi akibat ketuban
pecah sebelum waktunya, infeksi saluran kencing, misalnyasistitis, nefritis atau
akibat penyakit sistemik, seperti malaria, demam tifoid, hepatitis, dan lain lain.
Infeksi jalan lahir dapat juga terjadi selama persalinan (intrapartum) atau
sesudah

persalinan

mengakibatkan

(postpartum).Keadaan

sepsis,

yang

ini

mungkin

berbahaya

karena

menyebabkan

dapat

kematian

ibu.Sepsismenyebabkan kematian maternal sebesar 15%.


Pada abortus yang tidak lengkap (abortus inkomplitus), dimana sebagian
hasil konsepsi masih tertinggal dalam uterus, dan pada abortus buatan yang
dilakukan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis, sering mengakibatkan
komplikasi berupa infeksi (abortus infeksiosus).
16

Jika infeksi tidak diatasi, dapat terjadi infeksi yang menyeluruh (terjadi
penyebarankuman atau toksin ke dalam peredaran darah atau peritoneum)
sehingga menimbulkan abortus septik. Pada abortus septik, virulensi bakteri
tinggi, dan infeksi menyebar ke miometrium, tuba, parametrium, dan peritoneum.
Apabila infeksi menyebar lebih jauh, dapat terjadi peritonitis umum atau sepsis,
pasien dapat mengalami syok septik.
Kematian maternal akibat abortus septik sangat tinggi di negara negara
berkembang, dimana tidak terdapat akses terhadap abortus yang diinduksi dan hal
tersebut merupakan hal yang ilegal.
Risiko kematian maternal akibat abortus septik meningkat pada wanita
wanita yang tidak menikah, wanita usia muda, dan pada mereka yang melakukan
prosedur aborsi yang tidak secara langsung mengeluarkan hasil konsepsi dari
dalam uterus.
Infeksi pada kehamilan trimester II dan III dapat mengakibatkan
korioamnionitis.Korioamnionitis merupakan komplikasi serius yang dapat
mengancam jiwa ibu dan janinnya.
Mikroorganisme penyebab pada umumnyaadalah streptococcus B dan D
dan bakteri anaerob.Tanda dari infeksi ini adalah cairan amnion kotor dan berbau
busuk, demam, lekositosis, uterus melunak, dan takikardi.
d. Komplikasi persalinan dan nifas
Komplikasi yang timbul pada persalinandan masa nifas merupakan penyebab
langsung kematian maternal.Komplikasi yang terjadi menjelang persalinan, saat dan setelah
persalinan terutama adalah perdarahan, partus macet atau partus lama dan infeksi akibat
trauma pada persalinan.

Perdarahan
Perdarahan, terutama perdarahan postpartum memberikan kontribusi 25% pada
kematian maternal, khususnya bila ibu menderita anemia akibat keadaan kurang gizi atau
adanya infeksi malaria.
Insidensi perdarahan postpartum berkisar antara 5 8%.Perdarahan ini
berlangsung tiba tiba dan kehilangan darah dapat dengan cepat menjadi kematian pada
keadaan dimanatidak terdapat perawatan awal untuk mengendalikan perdarahan, baik
17

berupa obat, tindakan pemijatan uterus untuk merangsang kontraksi, dan transfusi darah
bila diperlukan.
Perdarahan postpartum adalah perdarahan yang terjadi setelah anak lahir dan
jumlahnya melebihi 500 ml. Perdarahan dapat terjadi sebelum, saat atau setelah plasenta
keluar. Hal hal yang menyebabkan perdarahan postpartum adalah atonia uteri,
perlukaan jalan lahir, terlepasnya sebagian plasentadari uterus, tertinggalnya sebagian
dari plasenta, dan kadang kadang perdarahan juga disebabkan oleh kelainan proses
pembekuan darah akibat hipofibrinogenemia yang terjadi akibat solusio plasenta, retensi
janin mati dalam uterus dan emboli air ketuban.

Partus Lama
Partus lama dapat membahayakan jiwa janin dan ibu. Partus lama adalah
persalinan yang berlangsung lebih dari 18 jam sejak in partu.Partus lama ataupun partus
macet menyebabkan 8% kematian maternal.Keadaan ini sering disebabkan oleh
disproporsi sefalopelvik (bila kepalajanin tidak dapat melewati rongga pelvis) atau pada
letak tak normal (bila terjadi kesalahan letak janin untuk melewati jalan lahir).
Disproporsi lebih sering terjadi bila terdapat keadaan endemis kurang gizi,
terutama pada populasi yang masih menganutpantangan dan tradisi yang mengatur soal
makanan pada para gadis dan wanita dewasa.Keadaan ini diperburuk lagi bila gadis
gadis menikah muda dan diharapkan untuk segera memiliki anak, sedangkan
pertumbuhan mereka belum optimal.

Infeksi Nifas
Infeksi nifas merupakan keadaan yang mencakup semua peradangan yang
disebabkan oleh masuknya kuman - kuman ke dalam alat genital pada waktu persalinan
dan nifas. Kuman penyebab infeksi dapat masuk ke dalam saluran genital dengan
berbagai cara, misal melalui tangan penolong persalinan yang tidak bersih atau
penggunaan instrumen yang kotor. Mula mula infeksi terbatas pada uterus, dimana
terdapat rasa nyeri dan nyeri tekan pada perut bagian bawah, dengan cairan vagina yang
berbau busuk. Demam, nyeri perut yang bertambah, muntah, nyeri kepala dan kehilangan
nafsu makan menandakan terjadinya penyebaran infeksi ke tempat lain. Selanjutnya
dapat terjadi abses di tuba fallopii, panggul dan diafragma bagian bawah.Pada kasus yang
berat, infeksi dapat menyebar ke dalam aliran darah (septikemia), menimbulkan abses
18

dalam otak, otot dan ginjal.Jika infeksi tidak dikendalikan, selanjutnya dapat terjadi
gangguan mental dan koma.
Infeksi nifas menyebabkan morbiditas dan mortalitas bagi ibu pasca persalinan.
Kematian terjadi karena berbagai komplikasi, termasuk syok, gagal ginjal, gagal hati, dan
anemia.Di negara negara sedang berkembang, dengan pelayanan kebidanan yang masih
jauh dari sempurna, peranan infeksi nifas masih besar.
Insidensi infeksi nifas berkisar antara 2 8% dari seluruh wanita hamil dan
memberikan kontribusi sebesar 8% terhadap kejadian kematian maternal setiap tahunnya.
Beberapa faktor predisposisi infeksi nifas adalah keadaan kurang gizi, anemia, higiene
persalinan yang buruk, kelelahan ibu, sosial ekonomi rendah, proses persalinan yang
bermasalah, seperti partus lama / macet, korioamnionitis, persalinan traumatik,
manipulasi yang berlebihan dan kurang baiknya proses pencegahan infeksi.
2. Determinan antara
a. Status kesehatan ibu
Status kesehatan ibu yang berpengaruh terhadap kejadian kematian maternal
meliputi status gizi, anemia, penyakit yadiderita ibu, dan riwayat komplikasi pada
kehamilan dan persalinan sebelumnya.
Status gizi ibu hamil dapat dilihat dari hasil pengukuran terhadap lingkar lengan
atas (LILA).Pengukuran LILA bertujuan untuk mendeteksi apakah ibu hamil termasuk
kategori kurang energikronis (KEK) atau tidak.Ibu dengan status gizi buruk memiliki
risiko untuk terjadinya perdarahan dan infeksi pada masa nifas.
Keadaan kurang gizi sebelum dan selama kehamilan memberikan kontribusi
terhadap rendahnya kesehatan maternal, masalah dalam persalinan dan masalah pada bayi
yang dilahirkan.Stunting yang dialami selama masa kanak kanak, yang merupakan hasil
dari keadaan kurang giziberat akan memaparkan seorang wanita terhadap risiko partus
macet yang berkaitan dengan adanya disproporsi sefalopelvik.
Anemia merupakan masalah penting yang harus diperhatikan selama kehamilan.
Menurut WHO, seorang ibu hamil dikatakan menderita anemia jika kadar hemoglobin
(Hb) kurang dari 11g/dl. Anemia dapat disebabkan oleh berbagai sebab, yang dapat saling
berkaitan, yaitu intake yang kurang adekuat, infestasi parasit, malaria, defisiensi zat besi,
asam folat dan vitamin A.
19

Menurut WHO, 40% kematian ibu di negara berkembang berkaitan dengan


anemia dalam kehamilan.Anemia defisiensi besi merupakan 95% penyebab anemia
selama kehamilan.Kurang lebih 50% dari seluruh ibu hamil di seluruh dunia menderita
anemia.Wanita yang menderita anemia berat akan lebih rentan terhadap infeksi selama
kehamilan dan persalinan, akan meningkatkan risiko kematian akibat perdarahan dan
akan memiliki risiko terjadinya komplikasi operatif bila dibutuhkan persalinan dengan
seksio sesaria.
Anemia ibu hamil di Indonesia masih merupakan masalah nasional karena anemia
mencerminkan nilai kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat dan pengaruhnya sangat
besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Dari Menurut Soejoenoes (1989) anemia
memberikan risiko relatif 15,3 kali untuk terjadinya kematian maternal bila dibandingkan
dengan ibu hamil yang tidak menderita anemia.
b. Status reproduksi
Status reproduksi yang berperan penting terhadap kejadian kematian maternal
adalah usia ibu hamil, jumlah kelahiran, jarak kehamilan dan status perkawinan ibu.Usia
di bawah 20 tahun dan di atas 35 tahun merupakan usia berisiko untuk hamil dan
melahirkan.
The Fifth Annual State of the Worlds Mothers Report, yang dipublikasikan oleh
The International Charity Save The Children, melaporkan bahwa setiap tahun, 13 juta
bayi dilahirkan oleh wanita yang berusia < 20 tahun, dan 90% kelahiran ini terjadi negara
berkembang. Para wanita ini memiliki risiko kematian maternal akibat kehamilan dan
kelahiran dua sampai lima kali lebih tinggi bila dibandingkan wanita yang lebih tua.
Risiko paling besar terdapat pada ibu berusia 14 tahun. Penelitian di Bangladesh
menunjukkan bahwa risiko kematian maternal lima kali lebih tinggi pada ibu berusia 10
14 tahun daripada ibu berusia 20 24 tahun, sedangkan penelitian yang dilakukan di
Nigeria menyebutkan bahwa wanita usia 15 tahun memiliki risiko kematian maternal 7
kali lebih besar dibandingkan dengan wanita yang berusia 20 24 tahun.
Komplikasi yang sering timbul pada kehamilan di usia muda adalah anemia,
partus prematur, partus macet.Kekurangan akses ke pelayanan kesehatan untuk
mendapatkan perawatan kehamilan dan persalinan merupakan penyebab yang penting
bagi terjadinya kematian maternal di usia muda. Keadaan ini diperburuk oleh kemiskinan
20

dan kebuta hurufan, ketidaksetaraan kedudukan antara pria dan wanita, pernikahan usia
muda dan kehamilan yang tidak diinginkan.
Kehamilan di atas usia 35 tahun menyebabkan wanita terpapar pada komplikasi
medik dan obstetrik, seperti risiko terjadinyahipertensi kehamilan, diabetes, penyakit
kardiovaskuler, penyakit ginjal dan gangguan fungsi paru.
Kejadian perdarahan pada usia kehamilan lanjut meningkat pada wanita yang
hamil di usia > 35 tahun, dengan peningkatan insidensi perdarahan akibat solusio
plasenta dan plasenta previa.
Persalinan dengan seksio sesaria pada kehamilan di usia lebih dari 35 tahun juga
meningkat, hal ini terjadi akibat banyak faktor, seperti hipertensi kehamilan, diabetes,
persalinan prematur dan penyebab kelainan pada plasenta.
Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan bahwa kematian
maternal akan meningkat 4 kali lipat pada ibu yang hamil pada usia 35 39 tahun bila
dibanding wanita yang hamil pada usia 20 24 tahun.
Usia kehamilan yang paling aman untuk melahirkan adalah usia 20 30
tahun.Paritas 2 3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal.
Paritas 1 (belum pernah melahirkan / baru melahirkan pertama kali) dan paritas > 4
memiliki angka kematian maternal lebih tinggi.
Paritas 1 dan usia muda berisiko karena ibu belum siap secara medis maupun
secara mental, sedangkan paritas di atas 4 dan usia tua, secara fisik ibu mengalami
kemunduran untuk menjalani kehamilan. Akan tetapi, pada kehamilan kedua atau
ketigapun jika kehamilannya terjadi pada keadaan yang tidak diharapkan (gagal KB,
ekonomi tidak baik, interval terlalu pendek), dapat meningkatkan risiko kematian
maternal.
Jarak antar kehamilan yang terlalu dekat (kurang dari 2 tahun) dapat
meningkatkan risiko untuk terjadinya kematian maternal.Persalinan dengan interval
kurang dari 24 bulan (terlalusering) secara nasional sebesar 15%, dan merupakan
kelompok risiko tinggi untuk perdarahan postpartum, kesakitan dan kematian ibu.
Jarak antar kehamilan yang disarankan pada umumnya adalah paling sedikit dua
tahun, untuk memungkinkan tubuhwanita dapat pulih dari kebutuhan ekstra pada masa
kehamilan dan laktasi. Penelitian yang dilakukan di tiga rumah sakit di Bangkok pada
21

tahun 1973 sampai 1977 memperlihatkanbahwa wanita dengan interval kehamilan kurang
dari dua tahun memiliki risiko dua setengah kali lebih besar untuk meninggal
dibandingkan dengan wanita yang memiliki jarak kehamilan lebih lama.
Status perkawinan yang mendukung terjadinya kematian maternal adalah status
tidak menikah.Status ini merupakan indikator dari suatu kehamilan yang tidak diharapkan
atau direncanakan.Wanita dengan status perkawinan tidak menikah pada umumnya
cenderung kurang memperhatikan kesehatan diri dan janinnya selama kehamilan dengan
tidak melakukan pemeriksaanantenatal, yang mengakibatkan tidak terdeteksinya kelainan
yang dapat mengakibatkan terjadinya komplikasi.
Penelitian yang dilakukan di Jerman menemukan bahwa status wanita tidak
menikah memiliki risiko 2,6 kali untuk terjadinya kematian maternal bila dibandingkan
dengan wanita yang menikah.
c. Akses terhadap pelayanan kesehatan
Hal ini meliputi antara lain keterjangkauan lokasi tempat pelayanan
kesehatan, dimana tempat pelayanan yang lokasinya tidakstrategis / sulit dicapai
oleh para ibu menyebabkan berkurangnya akses ibu hamil terhadap pelayanan
kesehatan, jenis dan kualitas pelayanan yang tersedia dan keterjangkauan terhadap
informasi.
Akses terhadap tempat pelayanan kesehatan dapat dilihat dari beberapa
faktor, seperti lokasi dimana ibu dapat memperoleh pelayanan kontrasepsi,
pemeriksaan antenatal, pelayanan kesehatan primer atau pelayanan kesehatan
rujukan yang tersedia di masyarakat.
d. Perilaku penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan
Perilaku penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan antara lain meliputi
perilaku penggunaan alat kontrasepsi, dimana ibu yang mengikuti program
keluarga berencana (KB) akan lebih jarang melahirkan dibandingkan dengan ibu
yang tidak ber KB, perilaku pemeriksaan antenatal, dimana ibu yang melakukan
pemeriksaan antenatal secara teratur akan terdeteksi masalah kesehatan dan
komplikasinya, penolong persalinan, dimana ibu yang ditolong oleh dukun
berisiko lebih besar untuk mengalami kematian dibandingkan dengan ibu yang
melahirkan dibantu oleh tenaga kesehatan, serta tempat persalinan, dimana
22

persalinan yang dilakukan di rumah akan menghambat akses untuk mendapatkan


pelayanan rujukan secara cepat apabila sewaktu waktu dibutuhkan.
Program KB berpotensi menyelamatkan kehidupan ibu, yaitu dengan cara
memungkinkan wanita untuk merencanakan kehamilan sedemikian rupa sehingga
dapat menghindari kehamilan pada usia tertentu atau jumlah persalinan yang
membawa bahaya tambahan, dan dengan cara menurunkan tingkat kesuburan
secara umum, yaitu dengan mengurangi jumlah kehamilan. Di samping itu,
program KB dapat mengurangi jumlah kehamilan yang tidak diinginkan sehingga
mengurangi

praktik

pengguguran

yang

ilegal,

berikut

kematian

yang

ditimbulkannya.
Pemeriksaan antenatal adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan
untuk memeriksa keadaan ibu dan janinnya secara berkala, yang diikuti dengan
upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan.Pemeriksaan antenatal
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terlatih dan terdidik dalam bidang
kebidanan, yaitu bidan, dokter dan perawat yang sudah terlatih.Tujuannya adalah
untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilan, persalinan dan nifas
dengan baik dan selamat.
Pemeriksaan antenatal dilakukan minimal 4 kali selama kehamilan,
dengan ketentuan satu kali pada trimester pertama (usia kehamilan sebelum 14
minggu), satu kali selama trimester kedua (antara 14 sampai dengan 28 minggu),
dan dua kali selama trimester ketiga (antara minggu 28 s/d 36 minggu dan setelah
36 minggu). Pemeriksaan antenatal dilakukan dengan standar 5 T yang meliputi
1) timbang berat badan, 2) ukur tekanan darah, 3) ukur tinggi fundus uteri, 4)
pemberian imunisasi tetanus toksoid, dan 5) pemberian tablet tambah darah 90
tablet selama hamil.
3.

Determinan jauh
Meskipun determinan ini tidak secara langsung mempengaruhi kematian
maternal, akan tetapi faktor sosio kultural,ekonomi, keagamaan dan faktor faktor lain
juga perlu dipertimbangkan dan disatukan dalam pelaksanaan intervensi penanganan
kematian maternal.
23

Termasuk dalam determinan jauh adalah status wanita dalam keluarga dan
masyarakat, yang meliputi tingkat pendidikan, dimana wanita yang berpendidikan tinggi
cenderung lebih memperhatikan kesehatan diri dan keluarganya, sedangkan wanita
dengan tingkat pendidikan yang rendah, menyebabkan kurangnya pengertian mereka
akan bahaya yang dapat menimpa ibu hamil maupun bayinya terutama dalam hal
kegawatdaruratan kehamilan dan persalinan. Ibu ibu terutama di daerah pedesaan atau
daerah terpencil dengan pendidikan rendah, tingkat independensinya untuk mengambil
keputusanpun rendah.Pengambilan keputusan masih berdasarkan pada budaya Q
berunding yang berakibat pada keterlambatan merujuk.Rendahnya pengetahuan
ibu dan keluarga tentang tanda tanda bahaya pada kehamilan mendasari pemanfaatan
sistem rujukan yang masih kurang.
Juga ditemukan bahwa faktor yang berpengaruh paling penting dalam perilaku
mencari pelayanan kesehatan antenatal adalah pendidikan.Lebih dari 90% wanita yang
berpendidikan minimal sekolah dasar telah mencari pelayanan kesehatan antenatal.
Pekerjaan ibu, dimana keadaan hamil tidak berarti mengubah pola aktivitas
bekerja ibu hamil sehari hari.Hal tersebut terkait dengan keadaan ekonomi keluarga,
pengetahuan ibu sendiri yang kurang, atau faktor kebiasaan setempat.
Kemiskinan dapat menjadi sebab rendahnya peran serta masyarakat pada upaya
kesehatan.Kematian maternal sering terjadi pada kelompok miskin, tidak berpendidikan,
tinggal di tempat terpencil, dan mereka tidak memiliki kemampuan untuk
memperjuangkan kehidupannya sendiri.
Wanita wanita dari keluarga dengan pendapatan rendah (kurang dari US$ 1
perhari) memiliki risiko kurang lebih 300 kali untuk menderita kesakitan dan kematian
maternal bila dibandingkan dengan mereka yang memiliki pendapatan yang lebih baik.
2.4 Upaya Menurunkan Angka Kematian Maternal
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan angka kematian maternal.Pada
tahun 1987, untuk pertama kalinya di tingkat internasional diadakan Konferensi tentang
Kematian Ibu di Nairobi, Kenya. Kemudian pada tahun 1990 dilakukan World Summit
for Childrendi New York, Amerika Serikat, yang menghasilkan tujuh tujuan utama,
diantaranya adalah menurunkan angka kematian maternal menjadi separuh pada tahun
24

2000. Tahun 1994 diadakan International Conference on Population and Development


(ICPD) di Kairo Mesir, yang menyatakan bahwa kebutuhan kesehatan reproduksi pria
dan wanita sangat vital dalam pembangunan sosial dan pengembangan sumber daya
manusia.Di dalamnya termasuk pelayanan kesehatan ibu yang berupaya agar setiap ibu
hamil dapat melalui kehamilan dan persalinannya dengan selamat. Tahun 1995 di Beijing,
Cina diadakan Fourth World Conference on Women, kemudian pada tahun 1997 di
Colombo, Sri Lanka diselenggarakan Safe Motherhood Technical Consultation, yang
menekankan perlu dipercepatnya penurunan angka kematian maternal pada tahun 2000.
Konferensi yang terakhir, yaitu The Millenium Summit in 2000, dimana semua anggota
PBB berkomitmen pada Millenium Development Goals (MDGs) untuk menurunkan tiga
perempat angka kematian maternal pada tahun 2015.
Keinginan untuk mencapai target untuk menurunkan angka kematian maternal
menjadi tiga perempat (75%) pada tahun 2015 dilakukan karena kesakitan maternal
memberikan kontribusi terbesar bagi kesakitan yang menimpa wanita, terutama di negara
negara berkembang, dan karena intervensi yang dibutuhkan tidak membutuhkan biaya
besar (kurang lebih 3 230 dolar untuk setiap kematian maternal).
Intervensi strategis dalam upaya safe motherhood dinyatakan sebagai empat pilar
safe motherhood, yaitu :
a. Keluarga berencana, yang memastikan bahwa setiap orang / pasangan memiliki akses ke
informasi dan pelayanan KB agar dapat merencanakan waktu yang tepat untuk
kehamilan, jarak kehamilan dan jumlah anak. Dengan demikian diharapkan tidak ada
kehamilan yang tidak diinginkan, yaitu kehamilan yang masuk dalam kategori 4 terlalu
(terlalu muda atau terlalu tua untuk kehamilan, terlalu sering hamil dan terlalu banyak
anak).
b. Pelayanan antenatal, untuk mencegah adanya komplikasi obstetri bila mungkin, dan
memastikan bahwa komplikasi dideteksi sedini mungkin serta ditangani secara memadai.
c. Persalinan yang aman, memastikan bahwa semua penolong persalinan memiliki
pengetahuan, ketrampilan dan alat untuk memberikan pertolongan yang aman dan bersih,
serta memberikan pelayanan nifas kepada ibu dan bayi.
d. Pelayanan obstetri esensial, memastikan bahwa pelayanan obstetriuntuk risiko tinggi dan
komplikasi tersedia bagi ibu hamil yang membutuhkannya.

25

2.4. Program AKINO


Salah satu pencapaian target MDGs 2015 dan komitmen Nasional Indonesia yaitu
menurunkan tingkat angka kematian ibu melahirkan yang relatif tinggi. Terutama
provinsi bagian timur Indonesia, salah satunya Nusa Tenggara Barat (NTB). Di NTB
untuk membantu keberhasilan pencapaian target MDGs 2015 yang tersisa waktu kurang
dari tiga tahun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) periode 2008-2013 yaitu Dr. TGH. M.
Zainul Majdi, MA dan Ir. H. Badrul Munir, MM selaku Gubernur dan Wakil Gubernur
mencanangkan AKINO (Angka kematian ibu nol) sebagai penunjang program prioritas
pada tahun 2008 lalu.AKINO secara tidak langsung ditunjukan untuk meminimalkan
keterlibatan peran dukun beranak dalam proses melahirkan secara langsung.
Implementasi

AKINO

yakni

menggalakan

persalinan

gratis

melalui

jaminan

persalinan.Selain itu, disertai berbagai program prioritas sebagai program lanjutan yang
telah dilakukan sebelumnya seperti peran penyuluh Keluarga Bencana (KB), jaminan
kesehatan masyarakat daerah (jamkesmasda), dan desa siaga.
Prioritas upaya yang dilakukan untuk mencapai AKINO meliputi infrastruktur,
SDM Kesehatan dan operasional program.Termasuk dalam infrastruktur meliputi semua
desa ada Pos Kesehatan Desa, obat dan alat kesehatan, optimalisasi Puskesmas PONED
(pelayanan obstetri neonatal dasar) beserta alat, adanya Tim PONED serta adanya sistem
informasi Desa-Kab-Provinsi.SDM Kesehatan meliputi semua desa ada bidan di desa
(BDD), semua BDD terlatih, semua Tim PONED terlatih dan semua Posyandu
aktif.Sedangkan operasional program meliputi tersedianya biaya operasional Poskesdes,
tersedianya biaya untuk kasus risiko tinggi dan tersedianya biaya stimulan untuk
operasional Kader Posyandu.
Pada dasarnya, AKINO adalah bentuk komitmen Pemerintah Pusat dengan
Pemerintah Daerah untuk mendukung pencapaian MDGs 2015 mendatang, di mana agar
dapat mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu melahirkan. AKINO salah satu
bagian program inovasi unggulan dalam bidang sosial yang diharapkan mampu
memberikan dorongan tinggi bagi percepatan pencapaian program prioritas pembangunan
NTB. Program prioritas pembangunan NTB berdasarkan rancangan strategi yang
26

bertumpu salah satunya pada masyarakat miskin, yaitu 3A AKINO (Angka Kematian Ibu
Nol), ABSANO (Angka Buta Aksara Nol), dan ADONO (Angka Droup Out Nol).
Hal ini ditandai dengan upaya peningkatan aksesibilitas dan kualitas pelayanan
KIA hingga tingkat desa.Melalui pembebasan biaya persalinan guna mendukung berbagai
program prioritas yang telah dilakukan sebelumnya dalam upaya penurunan Angka
Kematian Ibu.Selain itu, AKINO ditunjukkan sebagai upaya perbaikan dan peningkatan
posisi IPM NTB menjadi lebih baik secara nasional.Serta, sebagai bentuk realisasi
terhadap tujuan utama dalam visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) tahun 2009-2013 dalam NTB BERSAING (Nusa Tenggara Barat yang
Beriman dan Berdayasaing).
Pelaksanaan AKINO sebagai penunjang program prioritas bidang sosial dalam
pembangunan NTB secara dasar dilaksanakan sesuai pada prinsip good governance
sebagai tujuan utama. Penerapan sesuai prinsip good governance yaitu melibatkan secara
keseluruhan stakeholders baik Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, instansi nonpemerintahan serta masyarakat dalam pembangunan. Di sisi lain, agar percepatan
pencapaian program AKINO terealisasi dan sesuai prinsip good governance, Pemerintah
NTB mempersiapkan strategi berupa sosialisasi dan advokasi kepada seluruh pihak
terkait. Seperti badan eksekutif, legislatif, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan dan
organisasi lainnya.
Sosialisasi dilakukan melalui promosi kesehatan yang disusun sebagai buku
pedoman program AKINO sebagai acuan para stakeholder tersebut.Promosi dilakukan
melalui

penyuluhan

dan

kampanye

serta

pemberdayaan

masyarakat

tentang

kesehatan.Hal ini dilakukan guna mencapai perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat
yang masih cenderung tradisional serta minimnya mengenai informasi kesehatan
terutama kehamilan.
Promosi kesehatan yang diselenggarakan oleh pelayanan kesehatan (Puskesmas)
dilakukan melalui pendekatan melalui keterlibatan berbagai pihak.Mulai dari lembaga
pendidikan jenjang menegah pertama hingga atas melalui sosialisasi mengenai
pendidikan kesehatan terutama tentang reproduksi.Kemudian, di perguruan tinggi melalui
pemberdayaan masyarakat yang dilakukan melalui program kerja lapangan. Selain itu,
tokoh masyarakat dan agama turut berperan dalam sosialisasi program AKINO. Para
27

tokoh masyarakat dan agama yang memberikan selipan pesan dalam acara ceramah atau
diskusi yang diadakan dengan warga.Bahan selipan diskusi atau ceramah tersebut yakni
berbagai pesan yang mengarah pada penerapan AKINO.
Implementasi
AKINO merupakan program penunjang prioritas bagi para ibu hamil, bersalin,
nifas (sampai 42 hari pasca melahirkan), dan bayi baru lahir (sampai umur 28 hari)
melalui revitalisasi aksesbilitas dan penggunaan pelayanan kesehatan antenatal.
Pelayanan antenatal meliputi pemeriksaan kehamilan, persiapan persalinan, informasi
tanda bahaya, imunisasi, pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan, dan ketersediaan
darah.Revitalisasi direalisasikan berupa persalinan bebas biaya dan peningkatan
pelayanan terhadap kualitas kesehatan para ibu selama masa kehamilan hingga pasca
melahirkan.Hal ini dilakukan sebagai tujuan awal yakni dukungan atas program AKINO
untukpercepatan penekanan AKI di NTB, salah satunya Kabupaten Lombok Barat.
Bagan 2.1 Kerangka teori

Faktor-faktor penyebab
penyebab kematian
Factor-faktor
kematianmaternal
maternal
1. Determinan dekat

1.2. Determinan
Determinan dekat
antara
2.3. Determinan
Determinan antara
jauh
3. Determinan jauh

Komplikasi :
- Kehamilan
- Persalinan
- Nifas
Operasional program :
-

Biaya operasional
poskesdes
- Biaya kasus resiko
tinggi
- Biaya operasional
kader posyandu
ABSANO

Kematian
Maternal

Infrastruktur :
- Pos kesehatan desa
- Obat dan alat
MDGs (Millenium
kesehatan
Development Goals)
- PONED
- Sistem informasi
AKINO

SDM :
-

Bidan desa
Bidan desa terlatih
28
Tim PONED
terlatih
Posyandu
aktif
ADONO

2.6 Kerangka Konsep


Variable Bebas
Faktor-faktor resiko

Variable terikat
Kematian maternal

29

BAB III
MASALAH KESEHATAN
3.1 Gambaran umum Puskesmas
3.1.1

Keadaan Wilayah
Puskesmas sebagai penyambung tangan Pemerintah yang secara langsung
menangani masalah kesehatan di masyarakat.
Dalam SKN telah dijelaskan bahwa untuk mencapai tujuan Pembangunan
Kesehatan Nasional perlu diselenggarakan upaya kesehatan yang bersifat
menyeluruh, terpadu, merata dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh
masyarakat dengan peran aktif dari masyarakat dan menggunakan hasil
pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi tepat guna .

30

Disinilah letak peranan Puskesmas sebagai Pusat Pelayanan Kesehatan


Masyarakat yang dapat memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat secara
merata dan terpadu.
3.1.2

Data Geografi
Puskesmas Cakranegara adalah salah satu Puskesmas dari 11 Puskesmas
yang ada di wilayah Kota Mataram, yang terletak paling timur dari Kota Mataram,
terletak di Kecamatan Sandubaya yang merupakan pusat perdagangan/ekonomi
berlokasi di Jalan Brawijaya No. 3b Cakranegara.
o Batas Wilayah

Sebelah timur

: Kecamatan Narmada

Sebelah barat

: Kelurahan Cakra Barat

Sebelah utara

: Kelurahan Cakra Utara

Sebelah selatan

: Kelurahan Babakan

NO KELURAHAN

JUMLAH

LUAS

TOPOGRAFI

1
2
3
4
5
6

LINGKUNGAN
8
10
6
7
5
7

WILAYAH
67,02 Ha
88 Ha
238,572 Ha
100,480 Ha
17,442 Ha
90,130 Ha

Dataran
Dataran
Dataran
Dataran
Dataran
Dataran

Cakra Timur
Cakra Selatan
Bertais
Mandalika
Turida
Selagalas

Tabel 2.1 Luas Wilayah Kelurahan dan Jumlah Lingkungan


3.1.3

Demografi

31

NO KELURAHAN

JUMLAH

1
2
3
4
5
6
7

PENDUDUK KELUARGA ( KK )
3.841
1.140
6.569
1525
8.448
2.141
11.050
2.647
9.218
2.167
10.266
2.653
49.392
12273

Cakra Timur
Cakra Selatan
Bertais
Mandalika
Turida
Selagalas
Puskesmas

JUMLAH KEPALA KET.

Tabel 2.2 Jumlah Penduduk dan Kepala Keluarga

3.1.3

Ekonomi dan Sosial


No

Kelurahan

Petani

Buruh

Pegawai

Pedagang

Pensiunan

Negeri
1

Cakra

249

113

274

Timur
Cakra

25

2500

50

Selatan
Bertais

729

170

76

1166

Mandalika

256

321

247

632

Turida

39

34

711

166

24

Selagalas

440

249

315

135

Tabel 2.3 Mata Pencaharian Penduduk Kelurahan Puskesmas Cakranegara


No

Kelurahan

Sarana Pendidikan
TK/PAUD SD

SLTP

SLTA

PT
32

1
2
3
4
5
6
7

Cakra Timur
Cakra Selatan
Bertais
Mandalika
Turida
Selagalas
Puskesmas

2
2
1
4
2
3
14

2
5
4
3
3
4
23

0
1
2
2
2
1
8

0
0
0
2
1
1
4

0
0
0
1
1
0
2

Tabel 2.4 Sarana Pendidikan

No

1
2
3
4
5
6
7

Kelurahan

Cakra Timur
Cakra Selatan
Bertais
Mandalika
Turida
Selagalas
Puskesmas

Tingkat Pendidikan
Tdk
SD

SLTP

SLTA

DIII/S1

Sekolah
247
111
1307
1974
2542
359
6576

603
165
709
2188
1586
1329
6580

1161
538
990
1694
2207
1550
8140

54/182
200
160
194
1161
396
2347

869
708
1392
2363
1816
931
8079

Tabel 2.5 Tingkat Pendidikan Penduduk Wilayah Puskesmas Cakranegara


No

Kelurahan

Jumlah

Kader

Posyandu

Aktif

Strata Posyandu
Pratama Madya

Purna

Mandiri
-

Cakra

25

ma
-

Timur
Cakra

10

50

3
4
5
6

Selatan
Bertais
Mandalika
Turida
Selagalas

6
8
8
8

30
40
40
40

2
1
4

3
3
4
1

1
3
3
3

2
33

Puskesmas 45

225

20

14

Tabel 2.6 Data Jumlah Posyandu, Kader Aktif dan Strata Posyandu

No

1
2
3
4
5
6
7

Kelurahan

Cakra Timur
Cakra Selatan
Bertais
Mandalika
Turida
Selagalas
Puskesmas

Sarana Kesehatan
Pustu
Pokesdes Puskesmas

Rumah

1
1
3

Sakit
2
2

1
1
1
1
1
5

1
1

Tabel 2.7 Sarana Kesehatan Yang ada di Wilayah Puskesmas Cakranegara

3.1.4 Fasilitas Kesehatan yang ada di Wilayah Puskesmas Cakranegara


o

Rumah Sakit

: 2 buah

Dokter UmumPraktek Swasta

: 16 buah

Dokter Gigi Praktek swasta

: 1 buah

Dokter Spesialis Praktek Swasta

: 1 buah

Bidan Praktek Swasta

: 6 buah

Puskesmas

: 1 buah

Puskesmas Pembantu

: 2 buah

Puskesmas Keliling

: 1 buah

Posyandu

: 45 buah

Pokesdes

: 4 buah
34

Ambulance

: 1 buah

3.1.5 Fasilitas Lain lain


o

Rumah Rehabilitas Sosial

: 1 buah

3.1.6 Tenaga Kesehatan yang ada di Puskesmas Cakranegara


o

Kepala Puskesmas

: 1 orang

Ka.Sub.Bag.TU

: 1 Orang

Dokter Umum

: 1 orang

Dokter Gigi

: 1 orang

Bidan

: 5 orang

Bidan Desa

: 4 orang

Perawat

: 13 orang

Perawat Gigi

: 3 orang

Tenaga Gizi

: 4 orang

Penyuluh Kesehatan

: 1 orang

Asisten Apoteker

: 1 orang

Apoteker

: 1 orang

Tenaga Laboratorium

: 4 orang

Tenaga HS

: 3 orang

Pekarya Kesehatan

: 3 orang

Administrasi Umum

: 3 orang

Jumlah seluruhnya

:49 orang

3.1.7 Sarana dan Prasarana


o

Gedung
Ruang Rawat Jalan
-

Poli KIA/KB

Poli Pemeriksaan Anak dan Dewasa


35

Poli Gigi

Poli Lansia

Poli Jiwa

Poli LKB

Poli Yankestrad

Poli Remaja

Laboraturium

Apotik/Gudang Obat

Loket

Ruang Konseling

Ruang Pelayanan TBC

UGD

Poli Akupresur

Ruang Imunisasi

Ruang Rawat Inap


-

Ruang Perawatan

Ruang Persalinan

o Ruang Administrasi
-

Ruang Tata Usaha

Ruang Bendahara

Ruang SP2TP

Ruang P2PL

o Ruang Lain lain


-

Ruang Aula

Ruang Gizi

Dapur Gizi

36

3.2

Ketenagaan
3.2.1

Struktur Organisasi

Gambar 3.1 Struktur Organisasi

37

3.3 Visi dan Misi


3.3.1

Visi Puskesmas Cakranegara


Terbentuknya masyarakat sehat diwilayah puskesmas cakranegara sebagai
investasi bangsa

3.3.2

Misi Puskesmas Cakranegara


1. Memberikan pelayanan masyarakat yang berkualitas secara professional
sesuai perkembangan ilmu dan teknologi
2. Meningkatkan kemampuan management puskesmas cakranegara
3. Mengembangkan pelayanan kesehatan yang terintegrasi
4. Meningkatkan SDM pegawai puskesmas cakranegara
5. Meningkatkan kualitas surveillance epidemiologi dalam rangka kewaspadaan
dini terhadap penyakit potensi wabah

3.4 Profil Kesehatan Masyarakat


Dalam SKN telah dijelaskan bahwa untuk mencapai tujuan Pembangunan
Kesehatan Nasional perlu diselenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh,
terpadu, merata dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh masyarakat dengan peran aktif
dari masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi
tepat guna. Adapun program yang telah dilksanakan oleh Puskesmas Cakranegara adalah :
A. Upaya Kesehatan Wajib yaitu :
a. Promosi kesehatan
b. Penyehatan Lingkungan
c. Perbaikan Gizi
d. P2M (Pemberantasan Penyakit Menular)
e. KIA (Kesehatan ibu dan Anak) dan KB (Keluarga Berencana)

38

f. Pengobatan.
B. Upaya Kesehatan Pengembangan.
a. Kesehatan Gigi dan Mulut
b. UKS (Usaha Kesehatan Sekolah)
c. Laboratorium Kesehatan
d. SP2TP (Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas)
e. Kesehatan Mata
f. Kesehatan Usia Lanjut.
g. Kesehatan Jiwa.
h. Kesehatan Remaja
i. Bina Kesehatan Kerja
j. Akupresur/Battra
Kegiatan dari masing-masing program tersebut adalah sebagai berikut :
1. Upaya Kesehatan Wajib yaitu :
a. Promosi Kesehatan
a. Mengumpulkan dan mengolah data untuk menyusun rencana bulanan
b. Mengumpulkan data primer dalam rangka identifikasi wilayah dengan cara
wawancara biasa, observasi atau pengamatan sesaat dan dengan cara
menggunakan angket secara langsung.
c. Mengumpulkan

data

skunder

dari

suatu

sumber

dalam

rangka

mengidentifikasi wilayah.
d. Menyusun laporan hasil pelaksa naan idedntifikasi dengan menggunakan satu
instrument
e. Menyusun rencana kerja/usulan kegiatan tingkat kecamatan
f. Melakukan pendekatan individu/kelompok terhadap masyarakat umum dan
tokoh masyarakat/tokoh agama.
g. Melaksanakan pertemuan koordinasi lintas program/sector di tingkat
kecamatan

39

h. Memberikan pelayanan konsling kepada masyarakat dengan dasar pendidikan


di bawah SMU/SMK.
i. Membimbing dan membantu masyarakat merencanakan Survey Mawas Diri
b. Penyehatan Lingkungan
a. Membuat rencana kerja tahunan program penyehatan lingkungan.
b. Melakukan pengumpulan data dan masalah tentang kesehatan lingkungan
dalam rangka menggerakan potensi masyarakat.
c. Melakukan pengamatan penyakit
d. Melakukan pengamatan, penyelidikan dan pencegahan KLB dan wabah
e. Melakukan identifikasi KLB/wabah
f. Melakukan pemberantasan terhadap penyakit menular KLB/wabah
g. Melakukan pengamatan vector
h. Melakukan analisis dampak lingkungan.
i. Melakukan upaya perbaikan kualitas lingkungan.
j. Melakukan pemeriksaan tempat-tempat umum
k. Melakukan pemeriksaan tempat pengelolaan makanan
l. Melakukan pemeriksaan terhadap tempat usaha industri.
m. Melakukan pengawasan terhadap pengelolaan pestisida
n. Melakukan pengawasan kualitas air bersih
o. Melakukan perbaikan kualitas air bersih
p. Memberikan konseling tentang kesehatan lingkungan
q. Membuat laporan hasil kegiatan bulanan dan tahunan
r. Melaksanakan visualisasi data hasil kegiatan
s. Melaksanakan tugas-tugas lain yng diberikan oleh atasan.
c. Perbaikan Gizi
a. Membuat rencana kerja
a. Melaksanakan pelayanan gizi berupa pemberian paket pertolongan gizi yang
meliputi pemberian kapsul vitamin A, tablet besi?Fe, obat cacing, PMT
Penyuluhan dan PMT Pemulihan dan sosialisasi penggunaan gaber
b. Melakukan penyuluhan gizi sesuai dengan kebutuhan atau permasalahn gizi
yang dijumpai.
40

c. Menerima konsultasi/konseling dibidang gizi


d. Melatih dan membina kader gizi serta menggerakan masyarakat untuk
memanfaatkan tanaman pekarangan
e. Demonstrasi makanan sehat dan menyampaikan cara pemberian makanan
tambahan.
f. Membina Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)
g. Melaksanakan posyandu (memantau penimbangan bayi dan anak balita.
Menjelaskan cara pengisian dan penggunaan KMS, dan penyuluhan)
h. Melakukan rujukan kasus gizi ke rumah sakit jika tidak bias ditangani di
lapangn).
i. Melaksnakan lintas program dan lintas sektoral
j. Membuat laporan kagiatan bulanan
k. Memvisualisasikan data hasil krgiatan
l. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan atasan langsung
d. P2M (Pemberantasan Penyakit Menular)
a. Program Diare
1) Membuat rencana kerja tahunan program penyakit DBD
2) Penemuan kasus suspect/penderita DBD
3) Penegakan diagnose klinis
4) Melakukan pengobatan
5) Melakukan rujukan
6) Melakukan pengamatan dini terhadap KLB dan melakukan penyelidikan
epidemologi (pada setiap kasus DBD)
7) Melakukan pemeriksaan jentik berkala
8) Melaksanakan penyuluhan
9) Koordinasi lintas program dan lintas sector
10) Melakukan pencatatan dan pelaporan
11) Memvisualisasikan data hasil kegiatan
12) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan langsung
b. Program Malaria
1) Membuat rencana kerja tahunan program penyakit malaria
41

2) Penemuan kasus penderita malaria secara pasif (PCD)


3) Melakukan pengobatan sesuai prosedur terhadap penderita malaria
4) Melakukan kunjungan rumah untuk tindak lanjut pengobatan malaria
5) Pengamatan didi terhadap KLB
6) Melakukan rujukan penderita malaria
7) Melaksanakan penyuluhan
8) Koordinasi lintas program dan lintas sector
9) Melakukan pencatatan dan pelaporan
10) Memvisualisasikan data hasil kegiatan
11) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan langsung
c. Program Kusta
1) Membuat rencana kerja tahunan program penyakit kusta
2) Penemuan kasus penderita kusta
3) Memberikan penjelasan kepada penderita kustatentang pengobatan
penyakit kusta
4) Melakukan pengawasan dalam pemberian obat
5) Melakukan kunjungan rumah untuk tindak lanjut pengobatan kusta
6) Melakukan rujukan penderita kusta
7) Melakukan penyuluhan
8) Koordinasi lintas program dan lintas sector
9) Melakukan pencatatan dan pelaporan
10) Memvisualisasikan hasil kegiatan
11) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan langsung
d. Program P2TB
1) Membuat rencana kerja pedoman kpp program P2TB
2) Penemuan kasus penderita pentakit TB PAru
3) Memberikan penjelasan kepada penderita TB Paru tentang tata cara minum
obat, lama pengobatan dan perlunya berobat secara teratur tanpa terputus
untuk kesembuhan penderita sendiri
4) Melakukan pengawasan dalam pemberian obat

42

5) Melakukan kunjungan rumah bagi penderita yang tidak datang mengambil


obat
6) Melakukan rujukan penderita TB Paru
7) Melaksanakan penyuluhan
8) Koordinasi lintas program/lintas sektor
9) Melakukan pencatatan dan pelaporan
10) Memvisualisasikan hasil kegiatan
11) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan langsung
e. Program Ispa Diare
1) Membuat rencana kerja tahunan program ISPA DIARE
2) Melakukan penyuluhan tentang ISPA DIARE
3) Mengembangkan kemampuan masyarakat untuk berperan secara aktif
dalam pelayanan kesehatan melalui kader
4) Melakukan pembinaan kepada kader yang telah mendapatka pelatihan
tentang ISPA DIARE
5) Melakukan pemeriksaan kesehatan sekali setahun
Pemerikasaan kecacingan pada anak sekolah
6) Koordinasi lintas program/lintas sector
7) Membuat laporan kegiatan bulanan + tahunan
8) Memvisualisasikan hasil kegiatan
9) Melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh atasan langsung
f. Program Imunisasi
1) Menyiapkan perlengkapan/peralatan imunisasi
2) Mengkoordinir tenaga/vasinator ke posyandu
3) Membuat daftar sasaran (B4. 1)
4) Memberikan vaksinasi kepada bayi
5) Merangkap hasil pelaksanaan imunisasi dan pemakaian vaksin
6) Melakukan pertukaran data
7) Membuat jadwal imunisasi anak sekolah
8) Mengkoordinir pelaksanaan imunisasi anak sekolah kemasing-masing SD
9) Melakukan permintaan vaksin ke DIKES
43

10) Memantau suhu lemari es/freezer


11) Membuat laporan bulanan
12) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan langsung
e. KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)
a. Melaksanakan pemeriksaan kehamilan (ANC)
b. Melaksanakan posyandu
c. Melaksanakan pemberian imunisasi pada ibu hamil
d. Melaksanakan pemberian imunisasi pada bayi
e. Melakukan rujukan pada bumil, bulin, bayi dengan resiko tinggi
f. Sweeping bumil normal dan risti
g. Pemantauan Neonatal Risti
h. Melaksanakan kunjungan neonatas
i. Penyuluhan /konseling KIA
j. Melakukan SDIDTK
k. Melaksanakan MTBM
l. Membuat laporan bulanan
m. Melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh atasan langsung
n. Melaksanakan pertolongan persalinan
o. Mempersiapkan kebutuhan ruang KIA
p. Meregistrasi ( KIA,kantong persalinan,Kohort Ibu dan Bayi )
f. KB (Keluarga Berencana)
a. Melaksanakan pelayanan KB
b. Membuat Pencatatan dan Pelaporan
c. Melakukan konseling
d. Mempersiapkan peralatan
g. Pengobatan
a. Melakukan anamnesa tentang penyakit yang diderita
b. Melaksanakan pemeriksaan fisik
c. Melaksanakan pemeriksaan diagnostic
d. Memberikan penyuluhan tentang penyakit yang diderita
e. Memberikan resep obat
44

f. Mendokumentasikan riwayat penyakit


g. Membuat data dan grafik
h. Penyakit setiap bulan
i. Membuat laporan bulanan penyakit (LBI)
j. Melaksanakan tugas-tugas lain yang dberikan oleh atasan langsung
2. Upaya Kesehatan Pengembangan
1) Kesehatan Gigi dan Mulut
a. Membuat rencana kerja program Kesgilut
b. Mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan program kesgilut
c. Melakukan koordinasi lintas program maupun lintas sector
d. Mengevaluasi hasil kegiatan program kesgilut
e. Memberikan Bintek kepada perawat gigi
f. Membuat laporan tahunan program kesgilut
g. Memvisualisasikan data hasil kegiatan program kesgilut
h. Membuat jadwal pelaksanaan dan petugas UKGMD
i. Persiapan administrasi (surat menyurat) ke instansi terkait dalam rangka
kegiatan UKGS
j. Melaksanakan kegiatan kesgilut sesuai jadwal
k. Membuat laporan UKGS
l. Bertanggung jawab kepada pemegang program kesgilut (Dokter Gigi)
m. Melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh atasan langsung
2) UKS (Usaha Kesehatan Sekolah)
a. Membuat rencana kerja tahunan program usaha kesehatan sekolah
b. Pembinaan teknis dan pemanatauan saraba keteladnan di sekolah yang
meliputi :
1) Sarana keteladanan gizi berupa kantin/warung sekolah yang meliputi syarat
sanitasi, hygiene dan gizi
2) Sarana keteladanan kebersihan lingkungan berupa pengelolaan sampah,
saluran air, kebersihan jamban dan kamar mandi, serta mencegah
terbentuknya tempat perkembangbiakan binatang penyebar penyakit.

45

c. Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berperan secara aktif dalam


pelayanan kesehatan melalui kegiatan pelatihan kader kesehatan sekolah atau
dokter kecil
d. Membimbing pelatihan teknis pelayanan kesehatan bagi dokter kescil dan
mengkoordinasikan materi pelatihan dengan tenaga kesehatan lain
e. Memantau peserta didik yang sudah dilatih
f. Penjaringan kesehatan pada peserta didik kelas 1 baru
g. Pemeriksaan kesehatan periodic sekali setahun
a) Untuk peserta didik
1. Mengukur ketajaman penglihatan dan pendengaran
2. Pemeriksaan Hb/tinja
3. Pelaksanaan bias
b) Untuk guru berupa pemeriksaan kesehatan secara sederhana
h. Melakukan rujukan kasus
i. Koordinasi lintas program dan lintas sector
j. Membuat laporan kegiatan bulanan dan tahunan
k. Memvisualisasikan data hasil kegiatan
l.

Melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh atasan langsung

3) Laboratorium Kesehatan
a. Mempersiapkan kegiatan lab. Kes :
1. Mempersiapkan peralatan dan bahan penunjang untuk pemeriksaan lab.
2. Pengambilan specimen/sampel secara sederhana
b. Melaksanakan pemeriksaan lab. Kes :
1. Melakukan

penanganan

dan

pengelolaan

specimen/sample

secara

sederhana
2. Melakukan

pemeriksaan

specimen/sample

secara

makroskopik,

organoleptik dan mikroskopik.


c. Memelihara peralatan laboratorium
d. Melakukan sterilisasi dan desinfektan.
e. Melakukan perbaikan peralatan lab sederhana
f. Memusnahkan sisa specimen/sampel dan bahan penunjang
46

g. Melakukan registrasi hasil pemeriksaan lab


h. Mengumpulkan dan mengolah data untuk menyusun laporan bulanan,
triwulan dan tahunan
i . Melaksanakan pemantapan mutu Internal dan eksternal
j.

Melaksanakan tugas lain yang ditugaskan oleh atasan

h. Membimbing dan membina tenaga kesehatan lain dalam bidang tehnik


lab
k. Melakukan cross check pemeriksaan TB dan Malaria
l. Menerima dan melakukan pemeriksaan sedian BTA dari puskesmas lain
4) SP2TP (Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas)
a. Merkap laporan LB, yang masuk dari semua pustu dan program yang ada di
puskesmas
b. Membuat laporan LB 1, LB 3, LB 4 dari semua pustu dan program puskesmas
c. Membuat laporan 10 penyakit terbanyak
d. Melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan tugas sebagai pemegang
program SP2TP
e. Merekap laporan kunjungan dari pustu dan pemegang program
f. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan langsung
5) Kesehatan Usia Lanjut
a. membuat rencana kerja tahunan kesehatan lansia
b. melakukan penyuluhan dengan materi antara lain tentang :
1. kesehatan dan pemeliharaan kebersihan diri
2. makanan dengan menu yang mengandung gizi seimbang
3. kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan
kemampuan lansia agar tetap merasa sehat dan segar
4. pembinaan mental dalam meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa.
5. Meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat
6. Penggunaan berbagai alat bantu seperti kaca mata, alat bantu dengar, dan
lain-lain agar tetap dapat memberikan karya dan tetap merasa berguna
7. Nasihat cara hidup yang sesuai dengan penyakit yang diderita.
47

c. Melakukan pemerikasaan kesehatan secara berkala dan teratur untuk


menemukan secara dini penyakit-penyakit lansia
d. Melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan spesialistik melalui system
rujukan
e. Koordinasi lintas program dan lintas sector
f. Membuat laporan kegiatan bulanan
g. Memvisualisasikan data hasil kegiatan
h. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan langsunga.
6) Kesehatan Jiwa
a. Melakukan pemeriksaan dan pengobatan
b. Melakukan penyuluhan
c. Membuat surat rujukan
d. Mencatat register kunjungan pasien
e. Membuat laporan
f. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan
7) Program DBD
1.

Membuat rencana kerja tahunan program penyakit DBD

2.

Penemuan kasus suspect/penderita DBD

3.

Penegakan diagnose klinis

4.

Melakukan pengamatan dini terhadap KLB dan melakukan penyelidikan


epidemologi (pada setiap kasus DBD)

5.

Melakukan pemeriksaan jentik berkala

6.

Melaksanakan penyuluhan

7.

Koordinasi lintas program dan lintas sector

8.

Melakukan pencatatan dan pelaporan

9.

Memvisualisasikan data hasil kegiatan

10. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan langsung.


8) Akupresur/Battra
1. Pemijatan
2. Konsultasi pengobatan dengan ramuan

48

49

3.5 Identifikasi Masalah


Masalah adalah kesenjangan antara keadaan yang diinginkan dengan keadaan yang
nyata dan menimbulkan rasa tidak puas serta berkeinginan untuk memecahkannya.
Penentuan prioritas masalah menurut Hanlone dengan scoring teknik yaitu dengan
caramenentukan besar masalah, kegawatan masalah, kemudahan dalam penanggulangan
dan PEARL faktor dilakukan dengan memberikan scor atau nilai untuk berbagai parameter
tertentu yang telah ditetapkan.
1. KRITERIA A : Besarnya masalah
Langkah 1 : menentukan dasar masalah dengan cara menghitung selisih presentasi
pencapaian hasil kegiatan dengan target pencapaian
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Program
K4
Linakes
Kunjungan nifas
D/S
N/D-O-B
BGM/D
Garamberyodium
Vitamin A Biru
Vitamin A merah
Asiekslusif
P2PPL (DPT 1)
P2PPL (DPT 3)
P2PPL (POLIO IV)
P2PPL (Campak)
P2PPL (BCG)
P2 ISPA
PHBS (Rumah Tangga

Target
95 %
90 %
95%
85%
80%
5%
90%
90%
90%
80%
90 %
90 %
90 %
90 %
90 %
100 %
65 %

Pencapaian
94,56 %
87,44%
87,44 %
72,25%
65,32 %
1,41%
58,34%
67,32%
78,54%
69,61%
81,36%
81,87%
83,23%
82,98%
79,23%
50.18%
22,86 %

BesarMasalah
0,44 %
2,56 %
7,56 %
12,75 %
14,68%
3,59%
31,66%
22,68%
11,46%
10,39%
8,64 %
8,13 %
6,77 %
7,02%
10,77 %
49,82 %
42,14 %

Sehat)
Langkah II
Menentukan Interval Kelas dengan menghitung selisih besar masalah dari presentasi
pencapaian terbesar dengan pencapaian terkecil.
Interval = nilai terbesar-nilai terkecil
Keterangan

k
Nilai besar masalah : Maksimal

49,82

n= jumlah masalah
k= jumlah kelas
k=1+3.3logn
=1+3,3 log 26

50

Minimal
Interval

0,44

: nilai terbesar-nilai terkecil


k

Interval = 49,82-0,44
6
= 8,24 = 8
No
1
2
3
4
5
6

Interval
0,44-7,44
7,45-14,45
14,46-21,45
21,46-28,46
28,47-35,47
35,48-42,48

Nilai
I
II
III
IV
V
VI

No
1
2
3
4
5
6

Interval
ISPA
Garam beryodium
Vitamin A Biru
N/D-O-B
D/S
PHBS

Nilai
6
5
4
3
2
6

2. KRITERIA B : Kegawatan Masalah


Kriteria ini dilakukan dengan cara menentukan kegawatan, tingkat urgensi dan
biaya tiap masalah dengan system scoring (1-5)
Tingkat Kegawatan dengan skor 5 dimana:

Sangat gawat

:5

Gawat

:4

Cukup gawat

:3
51

Kurang gawat

:2

Tidak gawat

:1

Tingkat urgensi dengan skor 5 dimana:

Sangat mendesak

:5

Mendesak

:4

Cukup mendesak

:3

Kurang mendesak

:2

Tidak mendesak

:1

Tingkat biaya yang dikeluarkan dengan scor 5 dimana:

Sangat murah

:5

Murah

:4

Cukup murah

:3

Mahal

:2

Mahal sekali

:1

52

Masalah
Kesehatan

Kegawatan
dan

Tingkat

Biaya yang Nilai

urgensi

dikeluarkan

Pelayanan
Kesehatan
ISPA

10

Garamberyod.

10

D/S

11

Vitamin A Biru

PHBS

11

N/D-O-B

3. KRITERIA C : Kemudahan Dalam Penanggulangan


Kemudahan dalam penanggulangan masalah di ukur dengan sistem scoring dengan
nilai 1-5 dimana:

Sangat mudah

:5

Mudah

:4

Cukup mudah

:3

Sulit

:2

Sangat sulit

:1

Masalah
ISPA
GaramBeryodium
D/S
Vit. A Biru
PHBS
N/D-O-B

Nilai
4
4
4
3
2
3

4. KRITERIA D : Pearl Factor


53

Kelompok kriteria D terdiri dari beberapa faktor yang saling menentukan dapat
atau tidaknya suatu program dilaksanakan, faktor-faktor tersebut adalah PEARL
faktor:

Kesesuaian (Propriety)

Ekonomi murah (Economic)

Dapat diterima (Acceptability)

Tersedianya sumber (Resources availability)

Legalitas terjamin (Legality)

Masalah
ISPA
Garam beryod
D/S
Vit. A Biru
Vit. A Merah
N/D-O-B

P
1
1
1
1
1
1

E
1
1
1
1
1
1

A
1
1
1
1
1
1

R
1
1
1
1
1
1

L
1
1
1
1
1
1

Hasil kali
1
1
1
1
1
1

PrioritasMasalah
Setelah menilai dari kriteria A, B, C, dan D didapat, hasil tersebut dimasukkan dalam
formula nilai prioritas total (NPT) untuk menentukan prioritas masalah yang dihadapi.
NPD = (A+B) x C
NPT = (A+B) x C x D

54

Masalah

NPD

NPT

Urutan

ISPA
Vit. A Biru
PHBS
Garamberyod
N/D-O-B
D/S

6
4
6
5
3
2

10
9
11
10
9
11

4
3
2
3
3
4

1
1
1
1
1
1

64
39
34
45
36
52

64
39
34
45
36
52

Prioritas
I
IV
VI
III
V
II

3.6 ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH


3.6.1 MAN
3.6.1.1 Pengetahuan ibu hamil dan ibu balita di tingkat keluarga dirasa masih
kurang
3.6.1.2 Tenaga Bidan yang sering mutasi
Solusi :
1. Penggunaan buku KIA lebih di perhatikan dengan memberikan
penyuluhan agar ibu hamil dapat mengetahui perkembangan
kehamilannya.
2. Meskipun bidan di desa sering mutasi tetapi masing-masing bidan
harus tetap professional dan berkompeten di bidangnya dengan cara
mengikuti pelatihan.
3.6.2 METHOD
3.6.2.1 Dari segi kompetensi baik bidan Puseksmas maupun Bidan Desa belum
semua dapat pelatihan untuk meningkatkan kompetensinya
3.6.2.2 Format pencatatan dan pelaporan KIA yang diperlukan dalam kegiatan
pelayanan masih kurang
3.6.2.3 Dalam pelaporan hasil kegiatan dari BDD masih sering terjadi kesimpang
siuran dan keterlambatan.
Solusi :
1.

Setelah pelatihan mohon ditindak lanjuti dengan


Evaluasi Pasca Pelatihan ( EPP ), agar dapat teridentifikasikan masalah
serta hambatan ,dan bagi Bidan yang belum dilatih untuk segera di
usulkan pelatihan.
55

2.

Merencanakan

kebutuhan-kebutuhan

format

yang

diperlukan dalam pelayanan


3.
Perlu persamaan psersepsi terhadap pengisian format
pencatatan pelaporan dan perlu dilakukan validasi data secara rutin.
3.6.3

MACHINE
3.6.3.1 Penggunaan buku KIA atau media informasi sebagai sarana yang strategis
dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil masih dan ibu balita masih
kurang.
Solusi:
Memasang poster dan stiker ditempat-tempat umum yang strategis seperti
kantor kelurahan, balai desa dan di puskesmas, da meberikan penyuluhan
kepada ibu untuk menggunakan buku KIA dengan sebaik-baiknya.

3.6.4

MATERIAL
3.6.4.1.

Sarana dan prasaran polindes dalam proses persalinan masih

kurang.
Solusi :
Diharapkan ada dukungan dari dinas dalam pengadaan sarana dan
prasarana polides sehingga BDD dapat melaksanakan tugas pokoknya.
3.6.5. MONEY
5.6.5.1. masih banyak ibu hamil yang rumahnya jauh dari pilindes atau puskesmas
sehingga membutuhkan biaya lebih banyak untuk melakukan pemeriksaan ke
fasilitas kesehatan stempat.
Solusi ;
1. Dari pemerintah atau dinas kesehatan sebaiknya menyediakan alat transfortasi
lebih banyak lagi agar ibu hamil tidak mengeluarkan biaya yang banyak untuk ke
polindes atau puskesmas sehingga ibu hamil tetap dapat memeriksakan
kehamilannya sesuai jadwal.

3.6.6 P1 (perencanaan)
56

3.6.6.1Melakukan kerja sama antar institusi pemerintah maupun swasta , dalam


memperluas dan memelihara kegiatan posyandu serta penjadwalan untuk
pelatihan dari kader-kader disetiap lingkungan yang tetap terjadwal dengan
baik.
3.6.6 P1 (perencanaan)
3.6.6.1Melakukan kerja sama antar institusi pemerintah maupun swasta , dalam
memperluas dan memelihara kegiatan posyandu serta penjadwalan untuk
pelatihan dari kader-kader disetiap lingkungan yang tetap terjadwal dengan
baik.
3.6.7 P2 (pelaksanaan)
3.6.7.1 Melakukan kegiatan minilokakarya setiap satu bulan sekali
3.6.7.2 Membangun kerja sama yang baik dalam tim
3.6.8 P3 (pengawasan dan pengendalian)
3.6.8.1Disarankan untuk memperbaiki sistem pencatatan dan pelaporan di
puskesmas, untuk menunjang public-private mix, dan juga menyediakan
form pencatatan dan pelaporan untuk para dokter umum, spesialis dan RS
swasta agar memudahkan partisipasi UPK( unit pelayanan kesehatan)
tersebut dalam sistem pencatatan dan pelaporan dalam rangka mencegah
angaka kematian ibu.

BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain studi
cross-sectional, karena penelitianya melakukan observasi atau pengukuran variabel pada

57

satu saat tertentu untuk menilai adanya hubungan antara factor-faktor yang menyebabkan
kematian ibu di kelurahan Mandalika tahun 2014 di wilayah kerja Puskesmas Cakranegara.
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Kelurahan MadalikaKota Mataram.
4.3. Populasi dan Sampel
4.3.1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang tinggal di Kelurahan
Mandalika.Berdasarkan data yang diperoleh dari posyandu di wilayah kerja
Puskesmas Cakranegara, jumlah ibu hamil adalah 258.
4.3.2. Sampel
Mengingat tidak tersedianya kerangka sampel (sampling frame) dan berbagai
keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti baik berupa tenaga, waktu, maupun biaya
maka peneliti menetapkan sampel dengan teknik cluster sampling. Teknik cluster
sampling dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama menentukan sampel daerah
yang dalam hal ini adalah lingkungan.Wilayah kerja Puskesmas Cakranegara
mencakup 8 lingkungan.
Tahap berikutnya adalah penarikan sampel ibu hamil yang ada pada daerah
itudengan simple random sampling.Jumlah seluruh ibu hamil di 7 lingkungan yang
telah dipilih tersebut adalah 72 orang.
Rumus menetapkan besar sampel yang terdapat pada Notoatmodjo (2003) :
Rumus slovin:
N
n=
1+ (N x 0.1)
276
n=
1 + ( 276 x 0,01)

58

276
n=
1 + 2,76

276
n=
3,76

n = 73,4 = 73
Keterangan:
n = besar sampel
N = besar populasi
d = tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diizinkan
10%
Berdasarkan perhitungan dengan rumus diatas maka diperoleh besar sampel
sebanyak 73,4sampel dibulatkan menjadi 73ibu.
a. Tehnik pengambilan sampel
Berdasarkan perhitungan dengan rumus di atas maka diperoleh
besar sampel sebanyak 72orang. Adapun cara pengambilan sampel yaitu
dengan proporsional Stratified random sampling. Proporsional Stratified
random sampling adalah suatu teknik penetapan sampel dengan cara
menentukan anggota sampel dengan mengambil wakil-wakil dari tiap-tiap
kelompok yang ada dalam populasi yang jumlahnya disesuaikan dengan
jumlah anggota subjek yang ada di dalam masing-masing kelompok tersebut.
Puskesmas Cakranegara dengan kelurahan Mandalika yang memiliki
7 tempat posyandu yaitu lendang lekong timur,Gr.butun timur,Gr.butun
59

barat,Gr.apitaik,Asta, Edelwis, Montong Are dan Tembelok Berikut ini teknik


perhitungan proporsional Stratifiedrandom sampling berdasarkan jumlah
sampel yang dibutuhkan, dengan rumus :

Ni =

Lendan Lekong timur =

x 73= 10

Gr.Butun Timur

x73 =10

Gr.butun barat

x73 = 9

Gr.apitaik =

x 73 = 9

Gerung sayo indah=

Montong Are =

Tembelok =

x 73 = 6

x 73 = 13

x 73 = 13

Keterangan:
Ni : Ukuran tiap sub populasi
N : Ukuran (total) populasi
n : Ukuran (total) sample

60

b. Sampel penelitian
Kriteria Inklusi
1. Ibu yang sedang hamil
2. Mempunyaibuku KIA
Kriteria Eksklusi
1. Tidak bersedia dijadikan sampel
4.4. Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder, yaitu :
1. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan responden yang berpedoman
pada kuesioner penelitian.
2. Data sekunder diperoleh dengan cara melihat catatan/dokumen (file) yang berhubungan
dengan penelitian, di Puskesmas Cakranegara.
4.5. Definisi Operasional
Untuk memudahkan penelitian serta memiliki persepsi yang sama, maka definisi operasional
penelitian ini adalah :
No. Variable
1.
Kematian
maternal

Definisi operasional
Skala ukur
Adalah kematian yang terjadi pada ibu selama hamil dan Nominal
atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, (1)Ya (mengalami
disebabkan oleh komplikasi kehamilan, persalinan, dan Kematian maternal)
nifas atau penanganannya dan penyakit yang diderita (2)Tidak (tidak
sebelum atau

selama

kehamilan,

diperberat

oleh Mengalami kematian

kehamilan dan bukan kematian karena kecelakaan atau maternal )


kebetulan. Data diperoleh dari wawancara dengan
menggunakan kuesioner, catatan medik, atau dari
2

Komplikasi

dokumen otopsi verbal.


Adalah komplikasi yang terjadi selama kehamilan Nominal

kehamilan

terakhir,

dapat

berupa

perdarahan,

preeklamsia/ (1)ada

eklamsia, infeksi, ketuban pecah dini Data diperoleh dari (2)tidak ada
wawancara dengan kuesioner, data pada register kohort
ibu hamil / data pada KMS ibu hamil, dokumen otopsi
verbal. Ibu hamil berisiko tinggi untuk mengalami
61

kematian maternal bila terdapat komplikasi pada


3

Komplikasi

kehamilannya
Adalah komplikasi yang terjadi selama proses persalinan Nominal

persalinan

berupa perdarahan, partus lama, infeksi, preeklamsia/ (1)ada


eklamsia, syok, kelainan plasenta, kelainan letak yang (2)tidak ada
terjadi menjelang atau pada saat persalinan. Data
diperoleh berdasarkan wawancara, catatan persalinan,
dokumen otopsi verbal. Ibu hamil berisiko tinggi untuk
mengalami kematian maternal bila terdapat komplikasi
persalinan.

Komplikasi

Adalah komplikasi yang terjadi dalam waktu 42 hari Nominal

nifa

setelah berakhirnya kehamilan, berupa infeksi nifas, (1)ada


preeklamsia/ eklamsia, perdarahan pada masa nifas. Data (2)tidak ada
diperoleh berdasarkan wawancara, catatan persalinan,
dokumen otopsi verbal. Ibu hamil berisiko tinggi untuk
mengalami kematian maternal bila terdapat komplikasi
nifas.

Usia Ibu

Adalah usia ibu saat kehamilan terakhir yang diperoleh Rasio


dari wawancara dengan kuesioner, catatan medis,
dokumen otopsi verbal. Usia dihitung dalam tahun
berdasarkan ulang tahun terakhir. Ibu hamil berisiko
tinggi untuk mengalami kematian maternal bila ibu
berusia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun

Paritas

jumlah persalinan yang pernah dialami ibu. Data Rasio


diperoleh dari wawancara dengan kuesioner, catatan
medis dan dokumen otopsi verbal. Ibu hamil berisiko
pada paritas 1 (belum pernah/ baru melahirkan pertama
kali) atau paritas lebih dari empat.

Jarak

Adalah rentang waktu antara kehamilan sebelumnya Rasio


62

kehamila

dengan

kehamilan

terakhir.

Data

diperoleh

dari

wawancara dengan kuesioner, catatan medis. Ibu hamil


berisiko bila jarak kehamilan kurang dari dua tahun
8

Riwayat

Adalah riwayat penyakit yang diderita ibu sebelum atau Nominal

Penyakit

selama

Ibu

memberikanpengaruh

kehamilan

terakhir
pada

yang

kehamilan

akan (1)memiliki riwayat

atau

akan penyakit

diperberat oleh kehamilan tersebut, seperti penyakit (2)tidak memiliki


hipertensi, penyakit jantung, asma, diabetes melitus, riwayat penyakit
penyakit infeksi seperti TBC, malaria. Data diperoleh
dari catatan medik dan wawancara dengan kuesioner. Ibu
hamil berisiko tinggi untuk mengalami kematian
maternal bila terdapat riwayat penyakit.
9

10

Riwayat

Adalah

adanya

riwayat

komplikasi

terdahulu,

seperti

kehamilan Nominal

komplikasi

padakehamilan

pada

infeksi,preeklamsia / eklamsia. Data diperoleh dari (2)Tidak ada

kehamilan

wawancara dengan kuesioner dan catatan medik. Ibu komplikasi

sebelumnya

hamil berisiko bila terdapat riwayat komplikaspada

Riwayat

kehamilan sebelumnya
Adalah riwayat semua persalinan yang dialami ibu pada

persalinan

kehamilan sebelumnya, berupa persalinan normal atau (1)Jelek

sebelumnya

dengan tindakan. Riwayat persalinan baik, bila pernah (2)Baik

perdarahan, (1)Ada komplikasi

Nominal

partus normal dan riwayat persalinan jelek bila tidak


pernah partus normal. Data diperoleh dari wawancara
dengan kuesioner dan catatan medik. Ibu hamil berisiko
tinggi untuk mengalami kematian maternal bila riwayat
persalinan jelek.
11

Status gizi ibu Adalah keadaan gizi ibu sewaktu hamil yang diukur Nominal
saat hamil

berdasarkan ukuran lingkar lengan atas (LILA). Data (1)KEK


diperoleh dari KMS ibu hamil atau register kohort

(2)Tidak KEK
63

ibu hamil. Ibu hamil berisiko bila LILA < 23,5


cm(menderita KEK).
12

Status anemia

Adalah kadar hemoglobin (Hb) ibu pada saat hamil <

Nominal

11 gram/ dl. Data diperoleh dari catatan KMS ibu hamil, (1)Anemia
register kohort ibu hamil. Ibu hamil berisiko bila (2)Tidak anemia
menderita anemia pada saat kehamilan.
13

Pemeriksaaan

Adalah pemeriksaan yang dilakukan pada ibu selama Nominal

antenatal

masa kehamilan sesuai dengan standar yang telah (1)Tidak baik


ditetapkan. Data diperoleh dari KMS ibu hamil, register (2)Baik
kohort ibu hamil dan wawancara dengan kuesioner.
Pemeriksaan antenatal disebut baik bila ibu hamil
memeriksakan kehamilannya minimal 4 kali dengan
standar 5 T oleh tenaga kesehatan. Sebaliknya bila salah
satu atau lebih tidak dilakukan maka pemeriksaan
antenatal disebut tidak baik

14

Pemanfaatan

Adalah penggunaan sarana kesehatan oleh ibu pada saat

Nominal

fasilitas

terjadi komplikasi selama masa kehamilan, persalinan (1)Tidak

kesehatan

atau nifas, baik akibat komplikasi obstetri langsung Memanfaatkan

saat terjadi

maupun komplikasi tidak langsung. Data diperoleh dari (2)Memanfaatkan

komplikasi

wawancara dengan kuesioner, catatan medik, dokumen


otopsi verbal. Ibu hamil berisiko bila tidak menggunakan
fasilitas kesehatan saat terjadi komplikasi obstetri.

15

Penolong

Adalah orang yang pertama kali memberikanpertolongan Nominal

pertama

pada saat ibu melahirkan. Ibu hamil berisiko bila pada (1)Bukan

persalinan

saat persalinan ditolong oleh bukan tenaga kesehatan, kesehatan

tenaga

misal dukun bayi, anggota keluarga, atau bersalin (2)Tenaga kesehatan


sendiri.
16

Cara persalina Adalah cara ibu melahirkan pada saat persalinan terakhir, Nominal
64

yaitu

persalinan

spontan

atau

persalinan

dengan (1)Tindakan

tindakan. Data diperoleh dari wawancara, dokumen (2)Spontan


otopsi verbal dan catatan medik Ibu hamil berisiko untuk
mengalami kematian maternal bila persalinan dilakukan
dengan tindakan.
17

Tempat

Adalah tempat dimana ibu hamil melakukan persalinan, Nominal

persalinan

yaitu di tempat pelayanan kesehatan atau bukan tempat (1)Bukan tempat


pelayanan kesehatan. Data diperoleh dari wawancara pelayanan kesehatan
dengan kuesioner dan dokumen otopsi verbal. Ibu hamil (2)Tempat pelayanan
berisiko bila persalinan dilakukan di bukan tempat kesehatan
pelayanan kesehatan, misal di rumah atau rumah dukun

18

Riwayat KB

Riwayat

penggunaan

metode

kontrasepsi Nominal

(KB)sebelumnya Data diperoleh dari wawancara, catatan (1)Tidak pernah


medik.

Ibu

hamil

berisiko

bila

tidak

pernah menggunakan alat

menggunakan metode kontrasepsi (KB).

kontrasepsi.
(2)Pernah

19

Pendidikan

Pendidikan formal terakhir yang pernah dijalani ibu Rasio

ibu

sampai saat persalinan terakhir. Data diperoleh dengan


wawancara dengan kuesioner. Ibu hamil berisiko bila
memiliki pendidikan formal kurang dari 9 tahun atau
tidak pernah menempuh pendidikan formal sama sekali.

20

Status

Adalah kegiatan yang dilakukan selain sebagai ibu Nominal

pekerjaan

rumah

ibu

sampaipersalinan. Data diperoleh dengan wawancara (2)Tidak bekerja

tangga

dalam

kurun

waktu

kehamilan (1)Bekerja

dengan kuesioner. Ibu hamil berisiko tinggi bila selain


sebagai ibu rumah tangga, ibu juga bekerja di luar
rumah, yang memerlukan beban tenaga atau pikiran
selama masa kehamilan.
65

21

Jumlah

Adalah

banyaknya

penghasilan

setiap

bulan Rasio

pendapatan

untukmemenuhi kebutuhan keluarga inti yang diukur

keluarga

dengan
satuan rupiah. Data diperoleh dengan wawancara dengan
kuesioner. Ibu hamil berisiko bila jumlah pendapatan
keluarga berada di bawah rata rata upah minimum
regional

4.6. Analisa Data


Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda,
yaitu untuk menguji pengaruh factor-faktor ibu terhadap variabel kematian maternal.
Analisa data merupakan bagian penting dari suatu penelitian.Dimana tujuan dari
analisis ini adalah agar diperoleh suatu kesimpulan masalah yang diteliti. Data yang telah
terkumpul akan diolah dan dianalisis dengan menggunakan program computer (SPSS 20).
Adapun langkah-langkah pengolahan data meliputi:
1. Editing

adalah

kegiatan

untuk

melakukan

pengecekan

terhadap

hasil pengukuran yang diperoleh.


2. Coding adalah suatu kegiatan memberi tanda/ kode tertentu terhadap data yang telah
diedit dengan tujuan mempermudah pembuatan table (SPSS 20)
3. Entry adalah kegiatan memasukkan data yang telah didapat ke dalam program komputer
yang ditetapkan (SPSS 20)
Analisis dalam penelitian ini dengan menggunakan :
a. Analisa Univariat
Analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan masing-masing variabel, baik
variabel bebas, dan variabel terikat.Adapun variabel yang dianalisis adalah status gizi,
pengetahuan dan sikap ibu terhadap kegiatan posyandu.
b. Analisa Bivariat

66

Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara variable independen


(bebas) yaitu pengetahuan dan sikap ibu sedangkan variabel depentden (Tergantung) adalah
status gizi balita dengan menggunakan uji Spearman Corralation. Kriteria hubungan
berdasarkan p value (probabilitas) yang dihasilkan dengan nilai kemaknaan yang dipilih,
dengan kriteria sebagai berikut :
a. Jika nilai p value 0,05 maka Ho ditolak (ada hubungan)
b. Jika nilai P value >0,05 maka Ho diterima (tidak ada hubungan).

4.7. Cara Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengajukan ijin penelitian ke
puskesmas Cakranegara. Prosedur selanjutnya mengajukan ijin serta pengambilan
data ke Puskesmas Cakranegara. Setelah ijin penelitian diperoleh proses
pengumpulan data dimulai. Data yang dikumpulkan diambil dari data sekunder yang
diperoleh dari Puskesmas. Setelah itu peneliti menentukan responden dengan cara
mengkriteriakan menjadi kriteria inklusi yang sudah dijelaskan sebelumnya. Setelah
itu peneliti melakukan pendekatan pada responden, memperkenalkan diri serta
menjelaskan maksud dan tujuan kepada responden. Jika responden setuju peneliti
memberikan angket kuesioner kepada responden.
3.8.Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data.
Instrumen dalam penelitian ini adalah :
1. Alat tulis
2. Kuesioner
3.9 Etika Penelitian
1. Informed Consent

67

Peneliti memberikan suatu bentuk persetujuan antara peneliti dan subjek


responden berupa lembar persetujuan untuk menjadi subjek penelitian.
2. Confidentiality
Kerahasiaan informasi dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang
akan disajikan sebagai hasil.
3. Self Determination
Memberikan jaminan kepada subjek penelitian agar diperlakukan secara
manusiawi dan berhak untuk memutuskan apakah bersedia menjadi responden ataupun
tidak.

68