Anda di halaman 1dari 3

Patofisiologi Penyakit Campak

a. Penyakit Campak Klasik


Penyakit campak adalah penyakit pada manusia, terutama menyerang anak-anak melalui
saluran nafas. Penyakit ini mempunyai masa inkubasi 10-14 hari, dan masa prodormal 2-3 hari,
dengan gejala batuk, pilek, demam, dan konjungtivitis, diikuti dengan munculnya ruam
makulopapular yang khas pada kulit. Terjadinya ruam pada kulit bersamaan dengan munculnya
respons imun, dan selanjutnya diikuti dengan pemberantasan virus. Bila sembuh dari penyakit,
maka penderita mempunyai imunitas terhadap infeksi ulang virus campak dalam rentang waktu
yang panjang. Bila monyet dipapar dengan orang yang terinfeksi virus campak tipe liar akan
berkembang penyakit yang sama. Banyak pengetahuan kita tentang pathogenesis dan lokasi
replikasi virus yang lebih mendetail berasal dari studi binatang menyusui bukan manusia.
b. Masuknya Virus dan Lokasi Replikasi Primer
Virus menyebar lewat udara dan masuk ke dalam tubuh melalui saluran nafas, dan
mungkin hanya dibutuhkan jumlah virus yang sedikit agar dapat menginfeksi orang yang rentan
terhadap penyakit. Virus bereplikasi pada saluran nafas selanjutnya menyebar ke jaringan limfe
di sekitarnya. Bertambah banyaknya virus di dalam kelenjar limfe mengakibatkan terjadi viremia
primer, kemudian virus menyebar ke berbagai jaringan dan organ limfoid termasuk kulit, ginjal,
saluran cerna, dan hati. Pada organ-organ ini virus bereplikasi pada sel endothelial, epielial, dan
monosit/makrofag. Karena sel yang diinfeksi virus campak mempunyai kemampuan untuk
mengadakan fusi maka terbentuk sel raksasa multinukleus.
Dari saluran nafas virus menyebar ke jaringan limfe sekitarnya, yang mungkin dibawa
oleh makrofag paru-paru. Replikasi virus campak pada jarinagn limfoid mengakibatkan
terbentuknya sel raksasa retikuloendotelial atau limfoid, yang pertama-tama ditemukan oleh
Wathin dan Finkeldey. Sel yang besar ini ukurannya mencapai 100nm atau lebih, dan di dekat
pusatnya mengandung lebih dari 100nm agregat nucleus. Badan inklusi umumnya tidak ada. Sel
Warthin-Finkeldey cenderung berada dibagian perifer germinal center, dan pada jaringan limfe
submukosa diperkirakan merupakan sumber utama penyebaran virus ke jaringan lain.
c. Penyebaran
Setelah terjadi amplifikasi virus pada kelenjar limfe regional, maka terjadi viremia
dimana virus menyebar melalui darah dan menginfeksi organ-organ di dalam tubuh. Banyak

studi telah membuktikan bahwa viremia mengikuti sel terjadi sebelum dan pada saat timbulnya
ruam, tetapi sangat jarang ditemukan adanya viremia di dalam plasma, dan bila ada hanya
ditemukan sebelum munculnya antibody netralisasi. Sel pertama yang diinfeksi di dalam darah
adalah monosit. Infeksi virus campak pada garis keturunan sel makrofag dapat meningkatkan
ekspresi LFA-1, merupakan molekul penempel yang dapat mendorong masuknya sel ke dalam
jaringan, sehingga ia ia ikut berpartisipasi untuk menyebarkan virus. Sel-sel leukosit selain
monosit dapat diinfeksi secara in vitro, dan mungkin juga dapat diinfeksi secara in vivo, yang
juga dapat membantu untuk menyebarkan infeksi. Pada fase akhir viremia dapat disertai dengan
leucopenia.
d. Sel dan Jaringan
Organ limfoid (thymus, lien, dan kelenjar limfe) dan jaringan limfoid (apendik dan tonsil)
yang terdapat di seluruh tubuh merupakan lokasi utama replikasi virus, dibuktikan dengan
adanya peningkatan jumlah sel raksasa Warthin-Finkeldey (retikuloendotelial) pada jaringan
limfatik sebelum munculnya ruam pada kulit. Pada lien, yang merupakan tempat yang banyak
terdapat makrofag adalah tempat replikasi utama virus campak. Sel epitel pada thymus juga
diinfeksi, sehingga terjadi penipisan kortek thymus dalam rentang waktu yang lama. Jaringan
limfoid lain mengalami penyembuhan dengan cepat. Viruds campak juga menyebar ke berbagai
organ lain termasuk kulit, konjungtiva, ginjal paru, saluran cerna, mukosa saluran nafas, mukosa
genital dan saluran kencing, dan hati. Pada lokasi-lokasi ini, virus bereplikasi terutama pada sel
endotel, sel epitel, dan/atau monosit, dan makrofag.
Sel endothelial pada pembuluh darah kecil di seluruh badan memperlihatkan bukti
adanya infeksi virus campak secara jelas (misalnya, ditemukan badan inklusi antigen virus
campak, atau RNA) pada saat gejala prodromal dan munculnya ruam pada kulit. Hal ini disertai
dengan pelebaran pembuluh darah, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, inflitrasi sel
mononuclear, dan terjadinya infeksi di sekitar jaringan. Sel endotel yang diinfeksi tampaknya
memegang peranan utama dalam pathogenesis, sehingga terjadi perubahan pada kulit,
konjungtiva, dan membrane mukosa.
Dari hasil pemeriksaan histopatologi ruam yang disebabkan oleh virus campak
memberikan kesan bahwa, kejadian pertama adalah infeksi sel endothelial kulit, selanjutnya
diikuti dengan penyebaran infeksi ke dalam epidermis yang tumpang-tindih dengan sel epithelial
pada stratum granulosum, sehingga terbentuk keratosis fokal dan edema, dan terjadi akumulasi

bentuk sel epithelial raksasa dan infiltrat perivaskuler. Kopliks spots secara patologi adalah
sama, karena terlibatnya glandula submukosa.
Pemeriksaan jaringan yang lain secara patologis memperlihatkan sel raksasa dengan
nucleus yang banyak, yang sama dengan yang terbentuk pada biakan jaringan. Berlwanan
dengan sel Warthin Finkeldey, sel raksasa ini umumnya mengandung badan inklusi eosinofilik
intrasitoplasmik dan intranukleus. Sel epithelial raksasa banyak ditemukan pada saat munculnya
ruam pada kulit dan dengan mudah ditemukan pada saat munculnya ruam pada kulit dan dengan
mudah ditemukan pada sekesi hidung dan konjungtiva pada saat masa prodromal dan hari
pertama timbulnya ruam. Sel epitel yang diinfeksi virus campak pada periode ini juga ditemukan
pada saluran genitalia dan kencing sehingga dikeluarkan melalui urine.
e. Sumber Penularan Virus
Data epidemiologi memberikan kesan bahwa seseorang yang tidak imun bila terinfeksi
virus akan menjadi infeksius beberapa hari sebelum munculnya ruam pada kulit. Pada periode ini
virus dapat dibiakkan dari membrane mukosa nasofaring, konjungtiva, dan mulut, sehingga
memberi kesan bahwa saluran nafas merupakan sumber penularan virus yang sangat penting.