Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Derajat kesehatan masyarakat di Indonesia masih rendah. Salah satu penyebabnya

adalah belum dimanfaatkannya saranan pelayanan kesehatan secara optimal oleh masyarakat,
termasuk posyandu. Sampai dengan tahun 2009 diperkirakan ada 240.000 posyandu yang
tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sejak 1997 dengan adanya krisis ekonomi, kegiatan
posyandu mulai menurun. Jumlah kunjungan balita di posyandu yang semula diperkirakan 6070 % menurun menjadi 30-40%.
Pendekatan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) dirumuskan sebagai
keterpaduan kesehatan dalam bentuk pelayanan terpadu (posyandu ) dimaksudkan untuk
menumbuhkan peran serta masyarakat dalam upaya untuk mendekatkan masyarakat terhadap
jangkauan pelayanankesehatan primer. Semakin tinggi masyarakat mendapat pelayanan
kesehatan, semakin meningkat derajat kesehatan masyarakat oleh dan untuk masyarakat, maka
salah satu keberhasilan dalam pelaksanaan posyandu diharapkan memperbaiki atau
meningkatkan derajat kesehatannya. 1
Salah satu bentuk peran serta masyarakat yang mulai dicanangkan kira kira sejak
pertengahan tahun 1980 an adalah Posyandu yang merupakan pos pelayanan keluarga
berencana (KB) dan kesehatan terpadu yang diselenggarakan oleh masyarakat dari masyarakat
dan untuk masyarakat. Karena Posyandu diselenggarakan untuk kepentingan masyarakat, maka
diharapkan masyarakat sendiri yang aktif membentuk, menyelenggarakan, memanfaatkan, dan
mengembangkan Posyandu tersebut sebaik baiknya. Penyelenggaraan diharapkan oleh kader
kader dari semua sektor terkait dan ibu ibu PKK dari desa atau kelurahan setempat . Dan
kegiatan pelayanan Posyandu harus dikoordinasikan dengan tenaga kesehatan atau Puskesmas.
Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) adalah unit pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh
masyarakat untuk masyarakat, dengan dukungan teknis petugas Puskesmas.Kegiatan posyandu
dikatakan meningkat apabila peran serta masyarakat semakin tinggi yang terwujud dalam
cakupan program kesehatan seperti imunisasi, pemantauan timbangan balita, pemeriksaan ibu
hamil dan keluarga berencana meningkat, salah satu indikasi pemanfaatan pelayanan kesehatan
adalah keaktifan kedatangan masyarakat ke pusat pelayanan kesehatan yang dalam hal ini
1

khususnya pemanfaatan posyandu.Kehadiran ibu di posyandu dengan membawa balitanya


sangat mendukung tercapainya salah satu tujuan posyandu yaitu meningkatkan kesehatan ibu
dan balita.1
Pada semua anak sampai usia lima tahun seharusnya dibawa ke posyandu setiap bulan.
Pelayanan posyandu yang diberikan secara cuma -cuma harus dimanfaatkan oleh ibu ibu
khususnya yang mempunyai balita dengan sebaik baiknya, program ini sangat didukung oleh
pemerintah

dengan menambah anggaran fungsi kesehatan yang digunakan untuk

menggulirkan pelayanan kesehatan yang salah satunya adalah Posyandu.


Ibu-ibu yang memiliki balita di kelurahan Pondok Labu, melakukan pemeriksaan di 18
posyandu dengan target kehadiran seharusnya mencapai 80% namun pada 2 posyandu di
kelurahan Pondok Labu kurang memanfaatkan keberadaan posyandu di wilayahnya, dimana
tingkat partisipasi masyarakat untuk datang ke posyandu khususnya untuk penimbangan
balitanya belum maksima, dan 2 posyandu yang sesuai dengan target partisipasi masyarakat
dalam kehadiran balita. Melalui data pada dokumentasi puskesmas, Posyandu di wilayah
kelurahan Pondok Labu, yang merupakan wilayah binaan puskesmas Kelurahan pondok labu
sebanyak dua posyandu yang terdiri dari posyandu Delima dan Jeruk I , sebanyak 2 posyandu
yang sesuai dengan target terdiri dari Posyandu Anggur I dan manggis I dengan jumlah balita
sebanyak 464 orang sedangkan yang ditimbang tiap bulannya belum mencapai target, yaitu
rerata 48 %, 46% dan 67% sedangkan target yang diinginkan 80 %.
Di posyandu kelurahan Pondok Labu kurangnya pemanfaatan posyandu sebagai sarana
untuk memantau tumbuh kembang balita yang optimal belum dimanfaatkan oleh sebagian ibu
ibu yang memiliki anak balitanya, dimana kebanyakan dari ibu ibu tersebut pergi ke
posyandu hanya mendapatkan imunisasi dan pengobatan. Tentunya ada banyak faktor yang
menyebabkan ibu tidak mengunjungi posyandu yang meliputi faktor pendidikan,status
kependudukan, usia, sosialisasi dari kader terhadap orangtua balita, tingkat pengetahuan, sikap
orang tua, perilaku orang tua dan jarak tempuh menuju posyandu.

1.2

PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan:


Apakah terdapat hubungan antara sosiodemografi orangtua (usia, pendidikan, status
kependudukan), peran kader (sosialisasi), perilaku keluarga (pengetahuan, tindakan), dan akses
ke posyandu (jarak tempuh, waktu tempuh, transportasi) terhadap partisipasi masyarakat pada
kehadiran balita di posyandu kelurahan Pondok Labu?
1.3

TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat pada
kehadiran balita di posyandu
2. Tujuan Khusus
a. Menentukan adanya hubungan antara faktor sosiodemografi orangtua (usia,
pendidikan, status kependudukan) dengan partisipasi

masyarakat pada

kehadiran balita
b. Menentukan adanya bubungan antara peran kader dengan partisipasi
masyarakat pada kehadiran balita
c. Menentukan adanya hubungan antara perilaku keluarga dengan partisipasi
masyarakat pada kehadiran balita
d. Menentukan adanya hubungan antara akses ke posyandu dengan partisipasi
masyarakat pada kehadiran balita
I.4

HIPOTESIS PENELITIAN
a. Faktor sosiodemografi (usia, pendidikan, status kependudukan) berhubungan dengan
partisipasi masyarakat pada kehadiran balita
b. Peran kader berhubungan dengan partisipasi masyarakat pada kehadiran balita
c. Perilaku keluarga berhubungan dengan partisipasi masyarakat pada kehadiran balita
d. Akses ke posyandu berhubungan dengan partisipasi masyarakat pada kehadiran balita

I.5

MANFAAT PENELITIAN
3

a. Bagi Masyarakat
Untuk meningkatkan pemahaman terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi
partisipasi masyarakat pada kehadiran balita di posyandu sehingga dapat menjadikan
masyarakat turut serta dalam meningkatkan angka kehadiran balita di Posyandu
Kelurahan pondok Labu.
b. Bagi Puskesmas
1. Agar dapat memberikan masukan bagi Puskesmas Kelurahan Pondok Labu dalam
meningkatkan partisipasi masyarakat pada kehadiran balita di posyandu.
2. Sebagai referensi untuk menurunkan angka ketidakhadiran balita di Posyandu
Pondok Labu.
c. Bagi Peneliti
Peneliti dapat menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman dalam
melaksanakan penelitian serta lebih memperkaya wawasan dalam bidang kesehatan
masyarakat pada umumnya, terutama yang berkaitan dengan bidang yang diteliti.

BAB 2
4

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Partisipasi


2.1.1. Pengertian Partisipasi
Partisipasi masyarakat adalah ikut sertanya seluruh anggota masyarakat dalam
memecahkan

permasalahan-permasalahan

masyarakat

tersebut.

Partisipasi

masyarakat di bidang kesehatan berarti keikutsertaan seluruh anggota masyarakat


dalam memecahkan masalah kesehatan mereka sendiri. Di dalam hal ini, masyarakat
sendirilah

yang

aktif

memikirkan,

merencanakan,

melaksanakan,

dan

mengevaluasikan program-program kesehatan masyarakatnya. Institusi kesehatan


hanya sekadar memotivasi dan membimbingnya1.
Mikkelsen mengatakan bahwa pembangunan pada dasarnya merupakan proses
perubahan, dan salah satu bentuk perubahan yang diharapkan adalah perubahan
sikap dan perilaku2. Partisipasi masyarakat yang semakin meningkat baik secara
kualitatif maupun kuantitatif merupakan salah satu perwujudan dari perubahan sikap
dan perilaku tersebut.
2.1.2. Peranan Partisipasi Masyarakat
Di dalam partisipasi setiap anggota masyarakat dituntut suatu kontribusi atau
sumbangan. Kontribusi tersebut bukan hanya terbatas pada dana dan finansial saja
tetapi dapat berbentuk daya (tenaga) dan ide (pemikiran). Dalam hal ini dapat
diwujudkan di dalam 4 M, yakni manpower (tenaga), money (uang), material (bendabenda lain seperti kayu, bambu, beras, batu, dan sebagainya), dan mind (ide atau
gagasan)1. Supaya lebih jelas dapat digambarkan sebagai berikut:

2.1.3. Dasar-Dasar Filosofi Partisipasi Masyarakat


Dalam hubungannya dengan fasilitas dan tenaga kesehatan, partisipasi
masyarakat dapat diarahkan untuk mencukupi kelangkaan tersebut. Dengan kata lain,
partisipasi masyarakat dapat menciptakan fasilitas dan tenaga kesehatan. Pelayanan
kesehatan yang diciptakan dengan adanya partisipasi masyarakat didasarkan kepada
idealisme1.
1) Community felt need.
Apabila pelayanan itu diciptakan oleh masyarakat sendiri, ini berarti bahwa
masyarakat itu memerlukan pelayanan tersebut. Sehingga adanya pelayanan
kesehatan bukan karena diturunkan dari atas,

yang belum dirasakan perlunya,

tetapi tumbuh dari bawah yang diperlukan masyarakat dan untuk masyarakat.
2) Organisasi pelayanan kesehatan masyarakat yang berdasarkan partisipasi
masyarakat adalah salah satu bentuk pengorganisasian masyarakat. Hal ini berarti

bahwa fasilitas pelayanan kesehatan itu timbul dari masyarakat sendiri.


3) Pelayanan kesehatan tersebut akan dikerjakan oleh masyarakat sendiri. Artinya
tenaganya dan penyelenggaraannya akan ditangani oleh anggota masyarakat itu
sendiri yang dasarnya sukarela.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa filosofi partisipasi masyarakat
dalam pelayanan kesehatan masyarakat adalah terciptanya suatu pelayanan untuk
masyarakat, dari masyarakat dan oleh masyarakat.
2.1.4. Pendekatan Partisipasi Masyarakat
Pendekatan untuk memajukan partisipasi masyarakat yaitu3:
1. Pendekatan pasif, pelatihan dan informasi; yakni pendekatan yang beranggapan
bahwa pihak eksternal lebih menguasai pengetahuan, teknologi, keterampilan dan
sumber daya. Dengan demikian partisipasi tersebut memberikan komunikasi satu
arah, dari atas ke bawah dan hubungan pihak eksternal dan masyarakat bersifat
vertical.
2. Pendekatan partisipasi aktif; yaitu memberikan kesempatan kepada masyarakat
untuk berinteraksi secara lebih intensif dengan para petugas eksternal, contohnya
pelatihan dan kunjungan.
3. Pendekatan partisipasi dengan keterikatan; masyarakat atau individu diberikan
kesempatan untuk melakukan pembangunan, dan diberikan pilihan untuk terikat
pada sesuatu kegiatan dan bertanggung jawab atas kegiatan tersebut.
4. Pendekatan dengan partisipasi setempat; yaitu pendekatan dengan mencerminkan

kegiatan pembangunan atas dasar keputusan yang diambil oleh masyarakat


setempat.
Agar memperbaiki kondisi dan peningkatan taraf hidup masyarakat, maka
usaha untuk dapat menggerakkan partisipasi masyarakat:
1. Disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang nyata.
2. Dijadikan stimulasi terhadap masyarakat, yang berfungsi mendorong timbulnya
jawaban (respons) yang dikendaki.
3. Dijadikan motivasi terhadap masyarakat, yang berfungsi membangkitkan tingkah
laku (behavior) yang dikehendaki secara berlanjut4.
2.1.5. Strategi Partisipasi Masyarakat
Strategi partisipasi masyarakat1:
1. Lembaga Sosial Desa atau Lembaga Kerja Pembangunan Masyarakat Desa
(LKPMD) adalah suatu wadah kegiatan antar disiplin di tingkat desa, tiap
kelurahan atau desa mempunyai lembaga semacam ini. Tugas utama lembaga ini
adalah merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan
pembangunan di desanya, termasuk juga pembangunan di bidang kesehatan. Oleh
karena itu, tenaga kesehatan dari puskesmas dapat memanfaatkan lembaga ini
untuk menjual idenya, dengan memasukkan ide-idenya ke dalam program
LKPMD.
2. Program yang dijual oleh Puskesmas ke lembaga ini tidak harus kesehatan, tetapi
juga kegiatan-kegiatan non kesehatan yang akhirnya akan menyokong program
kesehatan, misalnya; pertanian, peternakan, pendidikan, dan lain-lain.

3. Puskesmas dapat dijadikan pusat kegiatan, walaupun pusat perencanaannya


adalah di desa (LKPMD), dan petugas kesehatan adalah merupakan motivator dan
dinamisatornya.
4. Dokter puskesmas atau petugas kesehatan yang lain dapat membentuk suatu team
work yang baik dengan dinas-dinas atau instansi-instansi lain.
5. Dalam pelaksanaan, program dapat dimulai desa demi desa tidak usah seluruh
desa di kecamatan tersebut. Hal ini untuk menjamin agar puskesmas dapat
memonitor dan membimbingnya dengan baik. Bilamana perlu membentuk suatu
proyek percontohan sebagai pusat pengembangan untuk desa yang lain.
6. Bila desa ini masih dianggap terlalu besar, maka dapat dimulainya dari tingkat
RW atau RT yang populasinya lebih kecil, sehingga mudah diorganisasi.

2.1.6. Metode
Metode yang dapat dipakai pada partisipasi masyarakat adalah sebagai
berikut5:
1. Pendekatan masyarakat, diperlukan untuk memperoleh simpati masyarakat.
Pendekatan ini terutama ditujukan kepada pimpinan masyarakat, baik yang formal
maupun informal.
2. Pengorganisasian masyarakat, dan pembentukan panitia (tim).
a. Dikoordinasi oleh lurah atau kepala desa.
b. Tim kerja, yang dibentuk ditiap RT.
Anggota tim ini adalah pemuka-pemuka masyarakat RT yang bersangkutan,
dan dipimpin oleh ketua RT.
3. Survei diri (Community self survey)
Tiap tim kerja di RT, melakukan survei di masyarakatnya masing-masing dan
diolah serta dipresentasikan kepada warganya.
4. Perencanaan program
Perencanaan dilakukan oleh masyarakat sendiri setelah mendengarkan presentasi
survei diri dari tim kerja, serta telah menentukan bersama tentang prioritas
masalah yang akan dipecahkan. Dalam merencanakan program ini, perlu
diarahkan terbentuknya dana sehat dan kader kesehatan. Kedua hal ini sangat
penting dalam rangka pengembangan partisipasi masyarakat.

5) Training
Training untuk para kader kesehatan sukarela harus dipimpin oleh dokter
puskesmas. Di samping di bidang teknis medis, training juga meliputi
manajemen kecil-kecilan dalam mengolah program-program kesehatan tingkat
desa serta sistem pencatatan, pelaporan, dan rujukan.
6) Rencana evaluasi
Dalam menyusun rencana evaluasi perlu ditetapkan kriteria-kriteria keberhasilan
suatu program, secara sederhana dan mudah dilakukan oleh masyarakat atau
kader kesehatan sendiri.
2.1.7. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Partisipasi Masyarakat
Dalam upaya mengembangkan dan membina partisipasi masyarakat ada
beberapa faktor yang bisa membantu atau mendorong upaya tersebut. Faktor-faktor
tersebut sebagian kita jumpai di masyarakat dan sebagian di provider sendiri9.
1.

Faktor-faktor di masyarakat
Konsep partisipasi masyarakat sebenarnya bukan hal baru bagi kita di
Indonesia. Dari sejak nenek moyang kita, telah dikenal adanya semangat gotong
royong dalam melaksanakan

kegiatan-kegiatan di masyarakat. Semangat ini

mendorong timbulnya partisipasi masyarakat.


2.

Faktor-faktor pendorong di pihak provider


Faktor pendorong terpenting yang ada dipihak provider ialah adanya kesadaran
di lingkungan provider, bahwa perilaku merupakan faktor penting dan besar
pengaruhnya terhadap derajat kesehatan. Kesadaran ini melandasi pemikiran

pentingnya partisipasi masyarakat. Selain itu, keterbatasan sumber daya di


pihak provider untuk mengembangkan dan membina partisipasi masyarakat.
Unsur penting yang menentukan gagal dan berhasilnya partisipasi6, yaitu:
1. Komunikasi yang menumbuhkan pengertian yang efektif atau berhasil.
2. Perubahan sikap,pendapat dan tingkah laku yang diakibatkan oleh pengertian
yang menumbuhkan kesadaran.
3. Kesadaran yang didasarkan pada perhitungan dan pertimbangan.
4. Kesediaan melakukan sesuatu yang tumbuh dari dalam lubuk hati sendiri tanpa
dipaksa orang lain.
5. Adanya rasa tanggung jawab terhadap kepentingan bersama.
Faktor penghambat untuk meningkatkan partisipasi publik di Indonesia
adalah:
1. Faktor sosial, seperti: tingkat pendidikan, pendapatan dan komunikasi
2. Faktor budaya, meliputi: sikap dan perilaku, pengetahuan dan adat istiadat.
3. Faktor politik
4. Faktor birokrasi para pengambil keputusan.
Rendahnya partisipasi masyarakat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:
1. Adanya penolakan secara internal di kalangan anggota masyarakat dan penolakan
eksternal terhadap pemerintah.

2. Kurangnya dana.
3. Terbatasnya informasi, pengetahuan atau pendidikan masyarakat, dan
4. Kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Banyak program pembangunan yang kurang memperoleh antusias dan
partisipasi masyarakat karena kurangnya kesempatan yang diberikan kepada
masyarakat untuk berpartisipasi. Di lain pihak juga sering dirasakan kurangnya
informasi yang disampaikan kepada masyarakat mengenai kapan dan dalam bentuk
apa mereka dapat atau dituntut untuk berpartisipasi. Pemberian kesempatan
berpartisipasi pada masyarakat, harus dilandasi oleh pemahaman bahwa masyarakat
setempat layak diberi kesempatan karena mereka juga punya hak untuk berpartisipasi
dan memanfaatkan setiap kesempatan membangun bagi perbaikan mutu hidupnya9.
2.2.

Konsep Dasar Posyandu

2.2.1. Pengertian
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya
Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan
bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna
memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam
memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka
kematian ibu dan bayi. Pelayanan kesehatan dasar adalah pelayanan kesehatan yang
mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi, yang sekurang-kurangnya
mencakup 5 (lima) kegiatan, yakni KIA, KB, imunisasi, gizi, dan penanggulangan
diare.7
2.2.2. Tujuan Posyandu

a. Meningkatnya peran masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan dasar,


terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB.
b. Meningkatnya peran lintas sektor dalam penyelenggaraan Posyandu, terutama
berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB.
c. Meningkatnya cakupan dan jangkauan pelayanan kesehatan dasar, terutama yang
berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB.7
2.2.3 Sasaran
Sasaran Posyandu adalah seluruh masyarakat, utamanya: Bayi, Anak balita,
Ibu hamil, ibu melahirkan, ibu nifas dan ibu menyusui, Pasangan Usia Subur (PUS).
2.2.4. Manfaat Posyandu
1. Bagi Masyarakat
a. Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan
kesehatan dasar, terutama berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB.
b. Memperoleh bantuan secara profesional dalam pemecahan masalah kesehatan
terutama terkait kesehatan ibu dan anak.
c. Efisiensi dalam mendapatkan pelayanan terpadu kesehatan dan sektor lain
terkait.
2. Bagi Kader, Pengurus Posyandu dan tokoh masyarakat
a. Mendapatkan informasi terdahulu tentang upaya kesehatan yang terkait
dengan penurunan AKI dan AKB.
b. Dapat mewujudkan aktualisasi dirinya dalam membantu masyarakat
menyelesaikan masalah kesehatan terkait dengan penurunan AKI dan AKB.
3. Bagi Puskesmas

a. Optimalisasi fungsi Puskesmas sebagai pusat penggerak pembangunan


berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat, pusat pelayanan
kesehatan strata pertama.
b. Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan masalah
kesehatan sesuai kondisi setempat.
c. Meningkatkan efisiensi waktu, tenaga dan dana melalui pemberian pelayanan
secara terpadu
4. Bagi sektor lain
a.

Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan masalah


sektor terkait, utamanya yang terkait dengan upaya penurunan AKI dan
AKB sesuai kondisi setempat.

b.

Meningkatkan efisiensi melalui pemberian pelayanan secara terpadu sesuai


dengan tupoksi masing-masing sektor.

2.2.5. Kegiatan Posyandu8


1. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
a. Ibu Hamil
Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu hamil mencakup :
1. Pengembangan berat badan dan pemberian tablet besi yang dilakukan oleh
kader kesehatan. Jika ada petugas Puskesmas ditambah dengan
pengukuran tekanan darah dan pemberian imunisasi Tetanus Toksoid. Bila
tersedia ruang pemeriksaan, ditambah dengan pemeriksaan tinggi
fundus/usia kehamilan. Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk ke
Puskesmas.

2. Diselenggarakan Kelompok Ibu Hamil pada setiap hari buka Posyandu.


Kegiatan Kelompok Ibu Hamil antara lain sebagai berikut:
a) Penyuluhan: tanda bahaya pada ibu hamil, persiapan persalinan,

persiapan menyusui, KB dan gizi.


b) Perawatan payudara dan pemberian ASI
c) Peragaan pola makan ibu hamil
d) Peragaan perawatan bayi baru lahir
e) Senam ibu hamil

b. Ibu Nifas dan Menyusui


Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu nifas dan menyusui mencakup:
1) Penyuluhan kesehatan, KB, ASI dan gizi, ibu nifas, perawatan kebersihan
jalan lahir (vagina)
2) Pemberian vitamin A dan tablet besi.
3) Perawatan payudara.
4) Senam ibu nifas.
5) Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dan tersedia ruangan, dilakukan
pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan payudara, pemeriksaan tinggi
fundus dan pemeriksaan lochs. Apabila ditemukan kelainan, segera
dirujuk ke Puskesmas.
c. Bayi dan Anak balita
Adapun jenis pelayanan yang diselenggarakan Posyandu untuk balita
mencakup:

1) Penimbangan berat badan


2) Penentuan status pertumbuhan
3) Penyuluhan
4) Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan pemeriksaan kesehatan,
imunisasi dan deteksi dini tumbuh kembang. Apabila ditemukan kelainan,
segera dirujuk ke Puskesmas.
2. Keluarga Berencana (KB)
Pelayanan KB di Posyandu yang dapat diselenggarakan oleh kader adalah
pemberian kondom dan pemberian pil ulangan. Jika ada tenaga kesehatan
Puskesmas dilakukan suntikan KB, dan konseling KB. Apabila tersedia ruangan
dan peralatan yang menunjang dilakukan pemasangan IUD.
3. Imunisasi
Pelayanan imunisasi di Posyandu hanya dilaksanakan apabila ada petugas
Puskesmas. Jenis imunisasi. yang diberikan disesuaikan dengan program, baik
terhadap bayi dan balita maupun terhadap ibu hamil.8
4. Gizi
Pelayanan gizi di Posyandu dilakukan oleh kader. Sasarannya adalah bayi,
balita, ibu hamil dan WUS. Jenis pelayanan yang diberikan meliputi penimbangan
berat badan, deteksi dini gangguan pertumbuhan, penyuluhan gizi, pemberian
PMT dan pemberian vitamin A. Khusus untuk ibu hamil dan ibu nifas ditambah
dengan pemberian tablet besi serta kapsul Yodium untuk yang bertempat tinggal
di daerah gondok endemik. Apabila setelah 2 kali penimbangan tidak ada

kenaikan berat badan, segera dirujuk ke Puskesmas.


5. Pencegahan dan Penanggulangan Diare
Pencegahan diare di Posyandu dilakukan antara lain dengan penyuluhan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Penanggulangan diare di Posyandu
dilakukan antara lain penyuluhan, pemberian larutan gula garam yang dapat
dibuat sendiri oleh masyarakat atau pemberian Oralit yang disediakan.
6. Kegiatan Pengembangan/Tambahan
Dalam keadaan tertentu masyarakat dapat menambah kegiatan Posyandu
dengan kegiatan baru, disamping 5 kegiatan utama yang telah ditetapkan.
Kegiatan baru tersebut misalnya: perbaikan kesehatan lingkungan, pemberantasan
penyakit menular, dan berbagai program pembangunan masyarakat desa lainnya.
Posyandu yang seperti ini disebut dengan nama Posyandu Plus.
Penambahan kegiatan baru sebaiknya dilakukan apabila 5 kegiatan utama
telah dilaksanakan dengan baik dalam arti cakupannya di atas 50%, serta tersedia
sumber daya yang mendukung. Penetapan kegiatan baru harus mendapat
dukungan yang cukup dari seluruh masyarakat yang tercermin dari hasil Survei
Mawas Diri (SMD) dan disepakati bersama melalui forum Musyawarah
Masyarakat Desa (MMD).
2.2.6. Penyelenggaraan Posyandu
Kegiatan rutin Posyandu diselenggarakan dan dimotori oleh Kader Posyandu
dengan bimbingan teknis dari Puskesmas dan sektor terkait. Penyelenggaraan
Posyandu dilakukan dengan pola lima meja yaitu8:

Tabel 2.2. Langkah-Langkah Penyelenggaraan Posyandu


Langkah
Meja I
Meja II
Meja III
Meja IV

Pelayanan
Pendaftaran
Penimbangan
Pengisian KMS
Penyuluhan

Meja V

Pelayanan kesehatan

Pelaksana
Kader
Kader
Kader
Kader
Petugas kesehatan dan sektor
tersebut bersama kader

2.2.7. Tugas dan Tanggung Jawab Para Pelaksana


Terselenggaranya pelayanan Posyandu melibatkan banyak pihak8. Adapun
tugas dan tanggung jawab masing-masing pihak dalam menyelenggarakan Posyandu
adalah sebagai berikut :
1. Kader
Pada hari buka posyandu, antara lain9 :
a. Menyiapkan tempat pelaksanaan, peralatan, sarana dan prasarana posyandu
termasuk penyiapan makanan tambahan (PMT).
b. Melaksanakan pendaftaran pengunjung Posyandu.
c. Melaksanakan penimbangan balita dan ibu hamil yang berkunjung ke Posyandu.
d. Mencatat hasil penimbangan di KMS atau buku KIA
e. Melaksanakan kegiatan penyuluhan kesehatan dan gizi sesuai dengan hasil
penimbangan serta memberikan PMT.
f. Memberikan pelayanan kesehatan dan KB sesuai kewenangannya, misalnya
memberikan Vitamin A, pemberian tablet zat besi (Fe), oralit, pil KB, kondom.
Apabila pada hari buka tenaga kesehatan datang berkunjung (sebulan sekali),

pelayanan kesehatan dan KB ini diselenggarakan bersama petugas Puskesmas.


g. Setelah pelayanan Posyandu selesai, kader bersama petugas melengkapi
pencatatan dan membahas hasil kegiatan serta tindak lanjut.
Di Luar Hari Buka Posyandu, antara lain:
a. Mengadakan pemutakhiran data sasaran Posyandu: bayi, anak balita, ibu hamil
dan ibu menyusui.
b. Membuat grafik SKDN, yaitu: jumlah semua balita yang bertempat tinggal di
wilayah kerja Posyandu (S), jumlah balita yang mempunyai kartu Menuju Sehat
atau Buku KIA (K), jumlah balita yang datang pada hari buka Posyandu (D) dan
jumlah balita yang timbangan berat badannya naik (N).
c. Melakukan tindak lanjut terhadap :
1) Sasaran yang tidak datang
2) Sasaran yang memerlukan penyuluhan lanjutan
d. Memberitahukan kepada kelompok sasaran agar berkunjung ke Posyandu.
e. Melakukan kunjungan tatap muka ke tokoh masyarakat, dan menghadiri
pertemuan rutin kelompok masyarakat atau organisasi keagamaan.
2. Petugas Puskesmas
Kehadiran tenaga kesehatan Puskesmas yang diwajibkan di Posyandu hanya
satu kali dalam sebulan. Dengan perkataan lain kehadiran tenaga kesehatan
Puskesmas tidak pada setiap hari buka Posyandu (untuk Posyandu yang buka lebih
dari satu kali dalam sebulan). Peran petugas Puskesmas pada hari buka Posyandu
antara lain sebagai berikut:

a. Membimbing kader dalam penyelengggaraan Posyandu.


b. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan Keluarga Berencana di meja 5 (lima).

Sesuai dengan kehadiran wajib petugas Puskesmas, pelayanan kesehatan dan KB


oleh petugas Puskesmas hanya diselenggarakan satu kali sebulan. Dengan
perkataan lain jika hari buka Posyandu lebih dari satu kali dalam sebulan,
pelayanan tersebut diselenggarakan hanya oleh kader Posyandu sesuai dengan
kewenangannya.
c. Menyelenggarakan penyuluhan kesehatan, KB dan gizi kepada pengunjung

Posyandu dan masyarakat luas.


d. Menganalisa hasil kegiatan Posyandu, melaporkan hasilnya kepada Puskesmas

serta menyusun rencana kerja dan melaksanakan upaya perbaikan sesuai dengan
kebutuhan Posyandu.
3. Stakeholder (Pemangku Kepentingan)
a. Camat, selaku penanggung jawab Pokjanal Posyandu kecamatan:
1) Mengkoordinasikan hasil kegiatan dan tindak lanjut kegiatan Posyandu.
2) Memberikan dukungan dalam upaya meningkatkan kinerja Posyandu.
3) Melakukan pembinaan untuk terselenggaranya kegiatan Posyandu.
b. Lurah/Kepala Desa, selaku penanggung jawab Pokja Posyandu kelurahan/desa
1)

Memberikan dukungan kebijakan, sarana dan dana untuk penyelenggaraan


Posyandu.

2)

Mengkoordinasikan penggerakan masyarakat untuk dapat hadir pada hari


buka Posyandu

3)

Mengkoordinasikan peran kader Posyandu, pengurus Posyandu dan tokoh


masyarakat untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan Posyandu.

4)

Menindaklanjuti hasil kegiatan Posyandu bersama LKMD/LPM/LKD atau


sebutan lainnya.

5)

Melakukan pembinaan untuk terselenggaranya kegiatan Posyandu secara


teratur.

c. Tokoh Masyarakat/Konsil Kesehatan Kecamatan (apabila telah terbentuk)


1) Menggali sumber daya untuk kelangsungan penyelenggaraan Posyandu.
2) Menaungi dan membina kegiatan Posyandu.
3) Menggerakkan masyarakat untuk dapat hadir dan berperan aktif dalam
kegiatan Posyandu.
d. Organisasi Kemasyarakatan/LSM
1) Bersama petugas Puskesmas berperan aktif dalam kegiatan Posyandu, antara
lain: pelayanan kesehatan masyarakat penyuluhan, penggerakan kader sesuai
dengan minat dan misi organisasi.
2) Memberikan dukungan sarana dan dana untuk pelaksanaan kegiatan
Posyandu.8
2.2.8. Tingkat Perkembangan Posyandu7
a. Posyandu Pratama
Posyandu Pratama adalah Posyandu yang belum mantap, yang ditandai oleh
kegiatan bulanan Posyandu belum terlaksana secara rutin serta jumlah kader
sangat terbatas yakni kurang dari 5 (lima) orang, frekuensi penimbangannya

kurang dari 8 kali per tahun, pencapaian cakupan 5 program kurang dari 50%,
tidak ada program tambahan, serta belum adanya dana sehat.
b. Posyandu Madya
Posyandu Madya adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih
dari 8 kali per tahun, dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang atau
lebih, tetapi cakupan kelima kegiatan utamanya kurang dari 50%, belum ada
program tambahan, serta belum adanya dana sehat.
c. Posyandu Purnama
Posyandu Purnama adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan
lebih dari 8 kali per tahun, dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang
atau lebih, cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%, mampu
menyelenggarakan

program tambahan, serta telah

memperoleh

sumber

pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya
masih terbatas yakni kurang dari 50% KK di wilayah kerja Posyandu.
d. Posyandu Mandiri
Posyandu Mandiri adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan
lebih dari 8 kali per tahun, dengan rata-rata jumlah kader sebanyak lima orang
atau lebih, cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%, mampu
menyelenggarakan

program

tambahan,

serta

telah

memperoleh

sumber

pembiayaan dari dana sehat yang pesertanya lebih dari 50% KK yang bertempat
tinggal di wilayah kerja Posyandu.

2.3. SKDN
2.3.1.Pengertian
KMS adalah suatu pencatatan lengkap tentang kesehatan seorang anak. KMS harus dibawa ibu
setiap kali ibu menimbang anaknya atau memeriksa kesehatan anak dengan demikian pada
tingkat keluarga KMS merupakan laporan lengkap bagi anak yang bersangkutan, sedangkan
pada

lingkungan

kelurahan

bentuk

pelaporan

tersebut

dikenal

dengan

SKDN.

SKDN adalah data untuk memantau pertumbuhan balita SKDN sendiri mempunyai singkatan
yaitu sebagai berikut10:

S= adalah jumlah balita yang ada diwilayah posyandu,


K =jumlah balita yang terdaftar dan yang memiliki KMS,
D= jumlah balita yang datang ditimbang bulan ini,
N= jumlah balita yang naik berat badanya.

Pencatatan dan pelaporan data SKDN untuk melihat cakupan kegiatan penimbangan (K/S),
kesinambungan kegiatan penimbangan posyandu (D/K), tingkat partisipasi masyarakat dalam
kegiatan (D/S), kecenderungan status gizi (N/D), efektifitas kegiatan (N/S).
2.3.2.Perhitungan SKDN
Pemantauan status gizi dilakukan dengan memanfaatkan data hasil penimbangan bulanan
posyandu yang didasarkan pada indikator SKDN tersebut. Indikator yang dipakai adalah N/D
(jumlah anak yang berat badannya naik dibandingkan dengan jumlah anak yang ditimbang
dalam %). Peramalan dilakukan dengan mengamati kecenderungan N/D dan D/S setiap bulan
pada wilayah masing-masing wilayah kecamatan. Pematauan status gizi dilaporkan setiap
bulan dengan mempergunakan format laporan yang telah ada.
Balita yang datang dan ditimbang (D/S)

Pengertian
Balita yang datang dan ditimbang (D) adalah semua balita yang datang dan ditimbang berat
badannya.
Balita yang naik berat badannya (N/D)
Definisi Operasional Balita yang naik berat badannya (N) adalah balita yang ditimbang (D) di
posyandu maupun di luar posyandu yang berat badannya naik dan mengikuti garis
pertumbuhan pada KMS di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
2.3.3.Pengolahan
Dalam pengolahan penghitungan N dan D harus benar. Misalnya seorang anak setelah
ditimbang mengalami kenaikan berat badan 0,1 kg,ketika data berat tersebut dipindahkan ke
KMS ternyata tidak naik mengikuti pita warna, pada contoh ini anak tidak dikelompokkan
sebagai balita yang mengalami kenaikan BB (lihat buku pemantau pertumbuhan). Data SKDN
dihitung dalam bentuk jumlah misalnya S,K,D,N atau dalam bentuk proporsi N/D, D/S, K/S
dan BMG/D untuk masing-masing posyandu. Biasanya setelah melakukan kegiatan di
Posyandu atau di pospenimbangan petugas kesehatan dan kader Posyandu (petugas sukarela)
melakukan analisis SKDN. Analisinya terdiri dari10:
Tingkat partisipasi Masyarakat dalam Penimbangan Balita Yaitu jumlah balita yang ditimbang
dibagi dengan jumlah balita yangada di wilayah kerja Posyandu atau dengan menggunakan
rumus (D/Sx 100%), hasilnya minimal harus mencapai 80%, apabila dibawah 80% maka
dikatakan partisipasi masyarakat untuk kegiatan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan
berat badan sangatlah rendah. Hal ini akan berakibat pada balita tidak akan terpantau oleh
petugas kesehatan ataupun kader Posyandu akan memungkinkan balita ini tidak diketahui
pertumbuhan berat badannya atau pola pertumbuhan baerat badannya.
Tingkat Liputan Program Yaitu jumlah balita yang mempunyai KMS dibagi dengan jumlah
seluruh balita yang ada diwilayah Posyandu atau dengan menggunakan rumus (K/S x 100%).
Hasil yang didapat harus 100%. Alasannya balitabalita yang telah mempunyai KMS telah
mempunyai alat instrument untuk memantau berat badannya dan data pelayanan kesehatan
lainnya. Apabila tidak digunakan atau tidak dapat KMS makan pada dasarnya program
POSYANDU tersebut mempunyai liputan yang sangat rendah atau bisa juga dikatakan balita
tersebut. Khusus untuk Tingkat Kehilangan Kesempatan ini menggunakan rumus (S-K)/S x

100%), yaitu jumlah balita yang ada diwilayah Posyandu dikurangi Jumlah balita yang
mempunyai KMS, hasilnya dibagi dengan jumlah balita yang ada diwilayah Posyandu tersebut.
Semakin tinggi Presentasi Kehilangan kesempatan, maka semakin rendah kemauan orang tua
balita untuk dapat memanfaatkan KMS. Padahal KMS sangat baik untuk memantau
pertumbuhan berat badan balita atau juga pola pertumbuhan berat badan balita
Indikator lainnya2 adalah (N/D x 100%) yaitu jumlah balita yang naik berat badannya
dibandingkan dengan jumlah seluruh balita yang ditimbang. Sebaiknya semua balita yang
ditimbang harus mengalami peningkatan berat badan.
Indikator lainnya dalam SKDN adalah indicator Drop-Out, yaitu balita yang sudah mempunyai
KMS dan pernah datang menimbang berat badannya tetapi kemudian tidak pernah datang lagi
di Posyandu untuk selalu mendapatkan pelayanan kesehatan. Rumusnya yaitu jumlah balita
yang telah mendapatkan KMS dikurangi dengan jumlah balitayang ditimbang, dan hasilnya
dibagi dengan balita yang mempunyai KMS ((K-D)/K x 100%).10
Indikator lainnya dalam SKDN adalah indikator perbandingan antara jumlah balita yang status
gizinya berada di Bawah Garis Merah (BGM) dibagi dengan banyaknya jumlah balita yang
ditimbang pada bulan penimbangan (D). Rumusnya adalah (BGM/D 100%)A.
2.3.4.Cara Penyajian
Komponen Output
Menurut Azrul Azwar, DR,dr, MPH, output merupakan hasil dari statu pekerjaan administrasi,
dalam ilmu kesehatan dikenal dengan nama pelayanan kesehatan (health service). Kinerja
output disini meliputi cakupan hasil program gizi di Posyandu yang dapat dilihat dalam bentuk
persentase cakupan yang berhasil dicapai oleh suatu Posyandu. Adapun cakupan hasil program
gizi di Posyandu tersebut adalah sebagai berikut :
Cakupan Program (K/S)
Cakupan program (K/S) adalah Jumlah Balita yang memiliki Kartu Menuju Sehat (KMS)
dibagi dengan jumlah balita yang ada di wilayah Posyandu kemudian dikali 100%. Persentase

K/S disini, menggambarkan berapa jumlah balita diwilayah tersebut yang telah memiliki KMS
atau berapa besar cakupan program di daerah tersebut telah tercapai.
Cakupan Partisipasi Masyarakat (D/S)
Cakupan partisipasi masyarakat (D/S) adalah Jumlah Balita yang ditimbang di Posyandu dibagi
dengan jumlah balita yang ada di wilayah kerja Posyandu kemudian dikali 100 %. Persentase
D/S disini, menggambarkan berapa besar jumlah partisipasi masyarakat di dareah tersebut yang
telah tercapai.
Cakupan Kelangsungan Penimbangan (D/K)
Cakupan kelangsungan penimbangan (D/K) adalah Jumlah Balita yang ditimbang di Posyandu
dalam dibagi dengan jumlah balita yang telah memiliki KMS kemudian dikali 100%.
Persentase D/K disini, menggambarkan berapa besar kelangsungan penimbangan di daerah
tersebut yang telah tercapai.
Cakupan Hasil Penimbangan (N/D)
Cakupan Hasil Penimbangan (N/D) adalah : Rata rata jumlah Balita yang naik berat badan
(BB) nya dibagi dengan jumlah balita yang ditimbang di Posyandu kemudian dikali 100%.
Persentase N/D disini, menggambarkan berapa besar hasil penimbangan didaerah tersebut yang
telah tercapai.10

Contoh kms

2.4.Perilaku Keluarga
Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan.
Perilaku sebagai suatu proses interaksi individu dengan lingkungannya sebagai manifestasi
hayati

bahwa

dia

adalah

makhluk

hidup

Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, dan
kelahiran yang bertujuan untuk menciptakan dan mempertahankan bdaya umum, meningkatkan
perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial individu-individu yang ada di dalamnya
dilihat dari interaksi yang reguler dan ditandai dengan adanya ketergantungan dan hubungan
untuk mencapai tujuan . Menurut Departemen Kesehatan RI (1988) keluarga adalah unit terkecil
dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan
tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan 11.
Perilaku keluarga selanjutnya bisa diartikan sebagai suatu proses interaksi individu-individu
dalam satu rumah dengan lingkungannya. Perilaku keluarga ini sangat penting untuk diketahui
oleh perawat untuk mempermudah dalam melakukan tugas-tugas asuhan keperawatan pada
keluarga tersebut. Intervensi perilaku sebagai strategi-strategi perawatan diarahkan untuk
membantu anggota keluarga berinteraksi dan bertingkah laku satu sama lain secara berbeda
dengan

anggota

lain

di

luar

keluarga

2.4.1.Pembentukan perilaku keluarga


Para ahli psikologi telah mengembangkan model yang menggambarkan perilaku kita seharihari. Dengan mempelajari model bagaimana seseorang mengerti lingkungannya, kita dibawa
untuk melihat perasaan (perasaan mereka) yang mendasari kegiatan mereka. Ada dua alasan
mengapa model ini penting untuk dipelajari perawat, pertama adalah karena perawatan
psikologis mensyaratkan suatu pemahaman tentang pemberian perhatian, dan karena pendidikan
kesehatan serta perubahan perilaku akan semakin terpusat pada pekerjaan dari semua tenaga
kesehatan.11
Teori perilaku terencana (tindakan beralasan) dari Ajzent dan Fishbein (1980) seperti
berpendapat bahwa kita pada awalnya harus melihat keinginan masyarakat untuk berperilaku

pada tatanan tertentu. Kedua ahli tersebut mengusulkan bahwa latar belakang nilai/sikap dan
keyakinan tertentu menentukan keinginan berperilaku. Lebih lanjut, alasan perilaku seseorang
secara
1)

khusus
Keyakinan

2)

tentang

Letak/peran

hasil
nilai

diantaranya
yang

diharapkan

pada

hasil

dari

adalah:
perlilaku
yang

tertentu;
diinginkan;

3) Keyakinan tentang persetujuan atau ketidaksetujuan orang lain terhadap perilaku kita;
4) Kekuatan keinginan kita untuk menyenangkan orang lain yang dianggap akan menyetujui atau
tidak

menyetujui

perilaku

kita;

dan

5) Keyakinan pada kemampuan, sumber-sumber, kesempatan dan hambatan yang berkaitan


dengan

perilaku.

Proses pembentukan perilaku karena adanya tiga faktor, yaitu adanya kebutuhan, dorongan
motivasi, faktor perangsang dan penguat, serta pengaruh sikap dan kepercayaan11
1. Adanya kebutuhan
Setiap individu memiliki kebutuhan-kebutuhan dasar. Abraham Maslow melukiskan manusia
sebagai makhluk yang tidak pernah berada dalam keadaan puas sepenuhnya, kepuasan hanya
bersifat sementara. Manusia akan berperilaku untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
Kebutuhan dasar manusia menurut Maslow terdapat lima tingkatan yang berturut-turut antara
lain kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan cinta dan memiliki,
kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan akan aktualisasi diri.
2.

Dorongan Motivasi

Kebutuhan dasar manusia merupakan sumber kekuatan yang mendorong ke arah tujuan
tertentu secara disadari maupun tidak didasari. Dorongan penggerak ini disebut motivasi.
Motivasi seseorang bisa timbul dari dalam diri individu atau datang dari lingkungannya.
Motivasi ini masih dibagi dua yaitu motif primer dan motif sekunder. Motif primer adalah
motif dasar dan tidak dipelajari, misalnya dorongan karena rasa haus, lapar, bernafas,
istirahat, takut, kasih sayang, dan sebagainya. Motif sekunder adalah motif yang dipelajari

dan berkembang karena pengalaman, misalnya motif belajar, motif berprestasi, motif bekerja,
dan sebagainya.
3.

Faktor perangsang dan penguat

Perangsang dan penguat ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi berperilaku. Hal-hal
yang dapat meningkatkan motivasi berperilaku tersebut antara lain: 1) ganjaran
(reward/insentif) berupa penghargaan, pujian, promosi; 2) situasi berkompetisi yang sehat; 3)
adanya tujuan/sasaran yang jelas; 4) informasi keberhasilan yang telah dicapai sehingga
mendorong untuk lebih berhasil lagi
4.

Pengaruh sikap dan kepercayaan

Tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh sikap, yaitu suatu tingkatan afek/perasaan
baik positif maupun negatif dalam hubungannya dengan obyek. Selain itu, perilaku seseorang
juga dipengaruhi oleh kepercayaan yang dimiliki seseorang. Jika kepercayaan tersebut
positif, maka akan muncul perilaku positif. Kepercayaan dan sikap akan sangat mendasari
perilaku seseorang
2.4.2.faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
1.

Faktor internal

Tingkah laku manusia adalah corak kegiatan yang sangat dipengaruhi oleh faktor yang ada dalam
dirinya. Faktor-faktor intern yang dimaksud antara lain jenis ras/keturunan, jenis kelamin, sifat
fisik, kepribadian, bakat, dan intelegensia. Faktor-faktor tersebut akan dijelaskan secara lebih
rinci

seperti

di

bawah

ini.

1) Jenis Ras/ Keturunan

Setiap ras yang ada di dunia memperlihatkan tingkah laku yang khas. Tingkah laku khas ini

berbeda pada setiap ras, karena memiliki ciri-ciri tersendiri. Ciri perilaku ras Negroid antara lain
bertemperamen keras, tahan menderita, menonjol dalam kegiatan olah raga. Ras Mongolid
mempunyai ciri ramah, senang bergotong royong, agak tertutup/pemalu dan sering mengadakan
upacara ritual. Demikian pula beberapa ras lain memiliki ciri perilaku yang berbeda pula.
2) Jenis Kelamin

Perbedaan perilaku berdasarkan jenis kelamin antara lain cara berpakaian, melakukan pekerjaan
sehari-hari, dan pembagian tugas pekerjaan. Perbedaan ini bisa dimungkikan karena faktor
hormonal, struktur fisik maupun norma pembagian tugas. Wanita seringkali berperilaku
berdasarkan perasaan, sedangkan orang laki-laki cenderug berperilaku atau bertindak atas
pertimbangan rasional

3) Sifat Fisik

Kretschmer Sheldon membuat tipologi perilaku seseorang berdasarkan tipe fisiknya. Misalnya,
orang yang pendek, bulat, gendut, wajah berlemak adalah tipe piknis. Orang dengan ciri
demikian dikatakan senang bergaul, humoris, ramah dan banyak teman.

4) Kepribadian

Kepribadian adalah segala corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya yang
digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsang baik yang datang
dari dalam dirinya maupun dari lingkungannya, sehingga corak dan kebiasaan itu merupakan
suatu kesatuan fungsional yang khas untuk manusia itu. Dari pengertian tersebut, kepribadian
seseorang jelas sangat berpengaruh terhadap perilaku sehari-harinya.

5) Intelegensia

Intelegensia adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah
dan efektif. Bertitik tolak dari pengertian tersebut, tingkah laku individu sangat dipengaruhi oleh
intelegensia. Tingkah laku yang dipengaruhi oleh intelegensia adalah tingkah laku intelegen di
mana seseorang dapat bertindak secara cepat, tepat, dan mudah terutama dalam mengambil
keputusan.

6) Bakat

Bakat adalah suatu kondisi pada seseorang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus
mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, misalnya berupa kemampuan
memainkan musik, melukis, olah raga, dan sebagainya.
2.

Faktor Eksternal

1) Pendidikan

Inti dari kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar. Hasil dari proses belajar
mengajar adalah seperangkat perubahan perilaku. Dengan demikian pendidikan sangat besar
pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Seseorang yang berpendidikan tinggi akan berbeda
perilakunya dengan orang yang berpendidikan rendah.
2) Agama

Agama akan menjadikan individu bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai yang
diajarkan oleh agama yang diyakininya.

3) Kebudayaan

Kebudayaan diartikan sebagai kesenian, adat istiadat atau peradaban manusia. Tingkah laku
seseorang dalam kebudayaan tertentu akan berbeda dengan orang yang hidup pada
kebudayaan lainnya, misalnya tingkah laku orang Jawa dengan tingkah laku orang Papua.

4) Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik,
biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan perilaku
individu karena lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan bagi individu untuk
mengatasinya. Individu terus berusaha menaklukkan lingkungan sehingga menjadi jinak dan
dapatdikuasainya.

5) Sosial Ekonomi

Status sosial ekonomi seseorang akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan
untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi perilaku
seseorang11
2.5.Akses ke Pelayanan Kesehatan
Akses ke pelayanan kesehatan merupakan pusat dari penyelenggaraan sistem pelayanan
kesehatan di seluruh dunia. Hal ini penting karena pengukuran kegunaan dan akses dalam
pemberian pelayanan merupakan bagian dari sistem kebijakan kesehatan yang ada. Meskipun
demikian, akses masih dianggap gagasan yang kompleks dimana ada beragam interpretasi dari
banyak ahli.12

Dalam pelayanan kesehatan, akses biasanya didefinisikan sebagai akses ke pelayanan, provider
dan institusi. Menurut beberapa ahl,i akses lebih daripada pelengkap dari pelayanan kesehatan
karena pelayanan dapat dijangkau apabila tersedia akses pelayanan yang baik. Sementara
umumnya para ahli menyadari bahwa karakteristik pengguna mempengaruhi karakteristik
provider dalam memberikan pelayanan. Atau dengan kata lain, akses ke pelayanan terbentuk dari
hubungan antara pengguna dan sumber daya pelayanan kesehatan.
Akses bisa dilihat dari sumber daya dan karakteristik pengguna. Namun, dalam rangka
meningkatkan pelayanan jangka pendek, sumber daya yang memegang peranan penting. Pada
umumnya, permasalahan harga, waktu transportasi dan waktu tunggu lebih direspon secara
spesifik daripada permasalahan karakteristik sosial ekonomi masyarakat seperti pendapatan,
sarana transportasi dan waktu luang. Akses merupakan kesempatan untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Akses bisa digunakan untuk
mengidentifikasi kebutuhan, mencari dan mendapatkan sumber daya dan menawarkan pelayanan
yang tepat sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Dari sisi provider, terdapat lima dimensi dari akses yaitu12 :
1. Kedekatan, pengguna mendapatkan pelayanan kesehatan yang bisa diidentifikasi dalam
bentuk keberadaan pelayanan, bisa dijangkau dan berdampak pada kesehatan pengguna.
2. Kemampuan menerima, berhubungan dengan faktor sosial budaya yang memungkinkan
masyarakat menerima pelayanan yang ditawarkan.
3. Ketersediaan, mengacu pada pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau kapanpun dan
dimanapun. Ketersediaan tidak hanya secara fisik, namun secara sumber daya mampu
memberikan pelayanan sesuai kemampuan.
4. Kesangguapan pengguna, mengacu pada kemampuan dari pengguna untuk menggunakan
fasilitas kesehatan secara ekonomi maupun sosial.
5. Kesesuaian, mengacu pada kesesuaian antara pelayanan yang diberikan dan kebutuhan
dari pengguna.

Selain itu, akses ke pelayanan kesehatan juga dipengaruhi oleh kemampuan pengguna
diantaranya:
1. Kemampuan menerima (kepercayaan dan harapan)
2. Kemampuan mencari (nilai sosial, budaya dan gender)
3. Kemampuan menjangkau (lingkungan tempat tinggal, transportasi dan dukungan sosial)
4. Kemampuan membayar (pendapatan, asset dan asuransi)
5. Kemampuan ikut serta (ketaatan, support)
Seluruh kemampuan itu saling berhubungan baik dari provider maupun pengguna, sehingga bisa
dikatakan akses merupakan keterkaitan dari faktor-faktor tersebut. Provider sebagai penyedia
layanan harus mempertimbangkan karakteristik dari calon pengguna misalnya pendapatan,
kemampuan membayar, lokasi tempat tinggal dan lain-lain. Karakteristik pengguna dipengaruhi
oleh hal yang lebih luas misalnya nilai-nilai dalam keluarga, nilai-nilai dalam organisasi, nilainilai budaya dan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat. Meskipun pengguna memiliki
pengetahuan yang benar tentang pelayanan kesehatan, tidak dipungkiri nilai-nilai tersebut juga
memberikan sedikit dampak kepada pengguna dalam mengambil keputusan menggunakan
pelayanan kesehatan. Nilai-nilai tersebut bisa berasal dari rumah tangga dan lingkungan tempat
tinggal12.
Pelayanan kesehatan yang dinikmati oleh masyarakat sebenarnya merupakan cerminan
karakteristik demografi, sosial dan ekonomi maupun karakteristik sistem kesehatan dan
lingkungan dimana mereka tinggal.
Bagaimana di Indonesia? Indonesia merupakan negara kepulauan dengan masyarakat yang
heterogen,

sehingga

layanan

kesehatan

yang

disediakan

oleh

provider

seharusnya

mempertimbangkan keadaan ini. Dengan kondisi geografis yang beragam dan penyebaran
fasilitas kesehatan yang tidak merata tentunya masalah akses merupakan hal yang penting untuk
diselesaikan demi memberikan pelayanan yang bermutu bagi seluruh masyarakat.

Oleh karena itu, dalam menyelesaikan masalah akses, perlu kombinasi dari karakteristik
pelayanan, provider dan sistem yang sejalan dengan karakteristik pengguna, rumah tangga dan
kemampuan dari masyarakat12.

KERANGKA TEORI
SOSIODEMOGRAFI
Usia
Jenis kelamin
Suku
Agama
Tingkat pendidikan
Pekerjaan
PERAN
KADER
Syatus
perkawinan
posyandu
StatusMenyiapkan
kependudukan
Sosialisasi kegiatan posyandu
Melakukan program posyandu
Membuat grafik SKDN

PERILAKU KELUARGA
-sifat fisik
- kepribadian
- pengetahuan
-kebudayaan
-tindakan
-lingkungan
- sosial ekonomi

PARTISIPASI MASYARAKAT
PADA KEHADIRAN BALITA
DI POSYANDU

AKSES KE POSYANDU
Jarak tempuh
Waktu tempuh
Transportasi dan biaya

BAB III

Dukungan social
KERANGKA KONSEP, VARIABEL DAN DEFINISI OPERASIONAL
Pendapatan

3. 1

Kemampuan ikut serta


KERANGKA KONSEP

SOSIODEMOGRAFI:

VARIABEL BEBAS
TERGANTUNG

Usia
Pendidkan
Status
kependudukan

PERAN KADER :
Sosialisasi

PERILAKU
KELUARGA:
Pengetahuan
Tindakan

AKSES KE
POSYANDU :
Jarak
tempuh
Waktu
tempuh

Partisipasi
Masyarakat Pada
Kehadiran Balita
di Posyandu

VARIABEL

3.2

VARIABEL
3.2.1 Variabel dependen
Partisipasi Masyarakat Pada Kehadiran Balita di Posyandu
3.2.2 Variabel independen
1. Sosiodemografi
a. Usia
b. Pendidikan
c. Status kependudukan
2. Peran Kader
a. Sosialisasi
3. Perilaku Keluarga
a. Pengetahuan
b. Tindakan
3. Akses ke posyandu
a. Jarak tempuh
b. Waktu tempuh
c. Transportasi

3.3

DEFINISI OPERASIONAL

Variabel

Definisi

Cara Ukur

Umur

Rentang umur Responden

Instrumen

Hasil Ukur

Skala

Daftar

Kuesioner

1. <18

Nominal

Pustaka
WHO&

responden

mengisi

2. 18 -25

ILO

yang

pertanyaan

tahun

2006

mengikuti

umur

2. >25 tahun

Riskesda

penelitian

kuesioner

dalam

dari

s 2010

tahun yang

yang dihitung diberikan


dari

tanggal

lahir

dalam

tahun
Pendidikan

Tahapan

Responden

pendidikan
yang
ditetapkan
berdasarkan
tingkat

mengisi item

1. Rendah

pendidikan

sekolah)

2003

terakhir yang

2. Sedang

Bab I,

pernah

(SD-SMP)

Pasal 1

3.Tinggi

Ayat 8

kuesioner.

(SMA,
perguruan

tujuan

tinggi)

akan

dicapai,

dan
kemampuan
yang
dikembangkan

UU No.
20 Tahun

peserta didik,
yang

Ordinal

(tidak

diikuti pada

perkembangan

Kuesioner

.Tingkat
pendidikan
formal

terdiri

atas
pendidikan
rendah,
pendidikan
sedang,

dan

pendidikan
Status

tinggi.
Semua

kependuduk

yang

an

berdomisili di pertanyaan

orang Responden a Kuesioner

1. pend

mengisi

wilayah

adakah

geografis

keluarga

tersebut

tersebut

Nominal

uduk

http://re
pository.

tetap
2. pend

usu.ac.i
d

uduk
seme
ntara

selama 6 bulan memiliki


atau lebih dan tempat
atau

mereka

tinggal

yang

sendiri/bersa

berdomisili

ma

kurang dari 6

orangtuanya,

bulan

tetapi atau

bertujuan

mengontrak

menetap

Sosialisasi
kader

Proses
komunikasi
dan proses
interaksi yang
dilakukan oleh
kader dengan
masyarakart.

Responden
mengisi
pertanyaan
dengan
pilihan
jawaban
benar
berdasar

Kuesioner
3

1.Baik (3)
2. sedang (12)
3.buruk (0)

ordinal

eprints.
walison
go.ac.id

hasil survey
10%
Pengetahuan

Kemampuan
orangtua
untuk
menjawab
pertanyaan
mengenai
posyandu

populasi.
Responden

Kuesioner

mengisi 5

1.Baik (>3)

Ordinal

pository.

2. sedang (2-

pertanyaan

usu.ac.i

3)

kuesioner,

http://re

pilihan

3.buruk (<2)

jawaban
benar
berdasar
hasil survey
10%
populasi

Tindakan

Reaksi atau
respon
orangtua yang
terbuka suatu
stimulus atau
objek

Responden
mengisi

Kuesioner
3

pertanyaan
dengan
pilihan
jawaban
benar
berdasar
hasil survey
10%
populasi.

1.Baik ( >3)
2. sedang (12)
3.buruk (0)

ordinal

http://re
pository.
usu.ac.i
d

Perilaku

Penjumlahan

Menjumlahk

Kuesioner

1.Baik

Ordinal

http://re

hasil skor dari an hasil

( >75% , skor

pository.

tingkat

kuisoner

>7)

usu.ac.i

pengetahuan

pengetahuan,
dan tindakan

2. sedang

dan tindakan.

(40-75%,
skor 4-7)
3.buruk
(<40%, skor
<4)

Jarak tempat Jarak


tinggal

yang

ditempuh

Responden

Kuesioner

1. dekat

mengisi

mulai

dari pertanyaan

rumah sampai

pilihan

ke osyandu

berdasar

interval

http://di

(<10

gilib.uni

mus.ac.i

mete

r)
2. jauh

hasil survey

(>10

10%

populasi

mete
r)
waktu

Jarak

yang

ditempuh
mulai

Responden

Kuesioner

mengisi
dari pertanyaan

(<15

mus.ac.i
d

meni

ke osyandu

berdasar

t)
lama

(>15

10%

menit)

populasi
Suatu alat atau Responden
yang

mengisi

dilakukan

pertanyaan

http://di
gilib.uni

pilihan
2

interval

at

rumah sampai

hasil survey

sarana

1. singk

kuisoner

1. jalan
kaki
2. moto
r

Nominal

http://re
pository.
usu.ac.i

untuk

pilihan

3. mobi

mencapai

berdasar

tujuan

hasil survey

10%
populasi

BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1

DESAIN PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional-analisis dengan desain penelitian

cross sectional. Jenis dan desain penelitian tersebut digunakan untuk menjawab permasalahan
penelitian dan mencapai tujuan penelitian. Pada desain cross sectional, peneliti melakukan
pengumpulan data baik variabel bebas, yaitu sosiodemografi, peran kader, perilaku keluarga dan
akses ke posyandu. Variable tergantung adalah partisipasi masyarakat pada kehadiran balita di
posyandu.
4.2

LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN


Penelitian dilakukan di posyandu Delima, posyandu Jeruk I, posyandu Anggur I dan

posyandu manggis I kelurahan Pondok Labu, kecamatan Cilandak - Jakarta Selatan. Waktu
penelitian dilakukan pada bulan September - Oktober 2014.

4.3

POPULASI DAN SAMPEL


Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah semua orangtua yang memiliki balita di

RW posyandu Delima, posyandu Jeruk I dan posyandu Jeruk II, kelurahan Pondok Labu.
Sedangkan sampel dari penelitian adalah sebagian dari populasi yang memiliki kriteria inklusi
sebagai berikut:
a. Orangtua atau wali yang memiliki anak usia dibawah lima tahun.
b. Orangtua atau wali yang bertempat tinggal di RW 01, RW 07, RW 09 dan RW 04.
c. Orangtua atau wali yang bersedia menjadi responden dan mengikuti prosedur
penelitian.
Dengan kriteria eksklusi sebagai berikut:
a. Orangtua atau wali dengan pilihan fasilitas kesehatan lain

Besar Sampling
Perkiraan besar sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan rumus:

= Tingkat kemaknaan yang dikehendaki 95% besarnya 1,96

= Prevalensi keadaan yang akan dicari sebesar 38,87%

= tingkat ketepatan absolut yang dikehendaki sebesar 5%

n = (1,96)2 x 0,38 x 0,62 = 362


(0,05)2
Rumus finit :
n = 362
1 + 362

= 362/ 1.78 = 203.37203

362/464
Dengan drop out 10% 223 sample.
Posyandu Jeruk 1 205/464 x 223 = 99 sampel

Posyandu Delima 114/464 x 223 = 55 sampel


Posyandu manggis I 40/464 x 223 = 19 sampel
Posyandu Anggur I 105/464 x 223 = 50 sampel

4.4

ALUR PENGAMBILAN SAMPEL

Pemilihan sampel dimulai dari kelurahan. Dipilih kelurahan Pondok Labu karena
penempatan penelitian ditempatkan pada Pondok Labu. Pemilihan Posyandu Delima ,posyandu
jeruk I, posyandu Posyandu manggis I dan Anggur I secara purposive sampling dikarenakan
kriteria inkulsi serta pada posyandu tersebut populasinya di bawah target dan sesuai target dalam
partisipasi masyarakat pada kehadiran balita di posyandu. Pada posyandu tersebut didapatkan
jumlah populasi 464. Pada pemilihan sample digunakan purposive sampling. Pada posyandu
delima diambil sample sebanyak 55 orangtua. Pada posyandu jeruk I diambil sample sebanyak
99 orang .Posyandu manggis I diambil sample sebanyak 19 orang. Posyandu Anggur I diambil
sample sebanyak 50 orang. Selanjutnya pengambilan sampel akan dilakukan dengan cara
purposive sampling pada posyandu-posyandu yang didatangi.
4.5

INSTRUMEN PENELITIAN

Data pada penelitian ini merupakan data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari
responden dengan menggunakan instrumen penelitian yaitu kuesioner. Kuesioner ini memuat
pertanyaan yang terdiri dari dua bagian. Bagian pertama merupakan karakteristik demografi
responden yaitu usia, pengetahuan dan status kependudukan. Bagian kedua merupakan
pertanyaan terkait dengan variabel bebas, yaitu peran kader, perilaku keluarga dan akses ke
posyandu.

4.6

ALUR PENGAMBILAN DATA

4.7

ANALISIS DATA
Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan program software SPSS

22.0.
1. Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik masing-masing
variabel yang diteliti. Analisis univariat menggambarkan frekuensi dari seluruh variabel
yang diteliti yaitu sosiodemografi (pekerjaan, pendidikan, status kependudukan dan usia),
peran kader (sosialisasi), perilaku keluarga (pengetahuan dan tindakan), akses posyandu
(jarak tempuh, waktu tempuh, trasportasi) dan partisipasi masyarakat pada kehadiran
balita di posyandu. Peneliti akan mengolah data tersebut menjadi bentuk proporsi atau
persentase dan tabel.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel bebas dengan
variabel tergantung. Dalam penelitian ini yang akan dianalisis adalah hubungan antara
sosiodemografi orangtua, peran kader, perilaku keluarga dan akses ke posyandu terhadap
partisipasi masyarakat pada kehadiran balita di posyandu kelurahan pondok labu.
Perhitungan analisis bivariat pada kedua variabel akan menggunakan uji statistik Chi
Square, dilakukan dalam batas kepercayaan (alpha = 0,05) yang artinya apabila diperoleh
nilai p <= 0,05 berarti ada hubungan yang signifikan antara variabel bebas dan variabel
tergantung. Bila pada perhitungan uji Chi Square ditemukan jumlah nilai harapan kurang
dari 5 sebanyak lebih dari 20% jumlah seluruh sel, maka dilakukan uji Fisher Exact.
Untuk mengetahui derajat hubungan pada desain penelitian cross sectional digunakan
ukuran Odds Ratio (OR), dengan membandingkan odds pada kelompok terekspos dengan
kelompok tidak terekspos apabila OR = 1 artinya; OR < 1 artinya ada efek perlindungan
(efek protektif), dan OR > 1 artinya sebagai penyebab.
4.8

PENYAJIAN DATA
Data yang telah terkumpul dan diolah akan disajikan dalam bentuk :

a. Tekstular
Penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan kalimat
b. Tabular
Penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan tabel
c.

Grafik
Penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan diagram batang dan pie
chart

DAFTAR PUSTAKA

1. Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. Jakarta:


Rineka Cipta.
2. Soetomo., 2006. Strategi-Strategi Pembangunan Masyarakat, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
3. Mikkelsen, B. 2003. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-Upaya Pemberdayaan.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
4. Ndraha, Taqliziduhu, 1990. Pembangunan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta
5. Notoatmodjo, 2005. Pomosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.
6. Dep.Kes RI, 1991. Partisipasi Masyarakat Dalam Bidang Kesehatan. Jakarta: Depkes
RI
7. Dep.Kes RI, 2006. Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu. Jakarta: Depkes RI.
8. BKKBN. 2004. Pelayanan Posyandu. Diakses pada tanggal 10 September 2014.
Available at http://bkkbn.go.id/news_detail.php?nid=132
9. Subagyo W. 2010. Kemampuan Kader dan Partisipasi Masyarakat Pada Pelaksanaan
Program Posyandu di Karang Pucung, Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas.
Diakses pada tanggal 12 September 2014. Available at
http:/jos.unsoed.ac.id./index.php/keperawatan/aarticle/download/0-005203
10. Depkes dan Kesos RI. 2001. Panduan Penggunaan KMS Balita. Jakarta : Depkes dan
Kasos
11. Slamet, Margono. 2003. Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Bogor: IPB
Press.
12. Levesque J, Harris M, Russell G. 2013. Patient-centred Access To Health Care:
Conceptualising Access at The Interface of Health Systems and Population. International
Journal for Equity in Health