Anda di halaman 1dari 21

PRAKTIKUM KEHARAAN TANAMAN

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR BUAH APEL HIJAU DARI


PEMANFAATAN LALAT LARVA HITAM (Hermetia illucens) TERHADAP
PERTUMBUHAN KACANG HIJAU (Vigna radiata L)

Oleh :
Danang Prasetyo
(13/349957/PN/13314)

Dosen Pembimbing :
Nasih Widya Yowono, S.P., M.P.

DEPARTEMEN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

Abstrak
Pupuk Cair Organik (POC) adalah zat penyubur tanaman yang berasal dari bahan-bahan organik
dan berwujud cair. Lalat Hitam (Hermetia illucens) merupakan salah satu jenis serangga potensial
untuk dimanfaatkan, antara lain sebagai agen pengurai limbah organik. Terdapat 2 perlakuan,
POC Botol Terbuka dan POC Botol Tertutup dengan buah Apel Hijau. Hasil yang didapat dari
analisis pH, DHL, Warna, Bau antara lain yaitu pada POC Botol Terbuka pH 2.88 DHL 2.24 ,
Warna cokelat-kehitaman, dan bau cukup menyengat sedangkan pada POC Botol Tertutup pH
2.65, DHL 2.07, Warna cokelat muda, dan bau kurang menyengat. Pertumbuhan tinggi tanaman
Kacang hijau perlakuan POC botol tertutup memiliki rerata tinggi tanaman paling tinggi,

sedangkan pada perlakuan Blanko memiliki rerata tinggi tanaman paling rendah.
Kata Kunci : POC, Apel Hijau, Larva Hermetia illucens, Kacang Hijau, Tinggi Tanaman
I.

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pupuk merupakan nutrisi atau unsur hara yang ditambahkan kepada tanaman, dimana
tanaman kekurangan akan unsur hara. Nutrisi pupuk dapat berupa bahan organik atau non
organik. Pupuk berbeda dengan suplemen. Pupuk mengandung bahan bakar yang diperlukan
pertumbuhan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran
proses metabolisme.
Penggunaan pupuk cair tidak hanya sebagai penyedia unsur hara, tetapi lebih diutamakan
untuk memperbaiki kondisi fisik tanah. Telah terbukti bahwa produk organik terutama pupuk
cair, mampu menjaga kesimbangan alam. Bahan organik seperti kompos memiliki peran penting
dalam menjaga efektivitas dan efisiensi penyerapan unsur hara dalam tanah. Tidak hanya itu,
pupuk cair dapat pula meningkatkan kapasitas tukar kation, menambah kemampuan tanah dalam
menahan air, meningkatkan aktivitas biologi dalam tanah, serta mampu meningkatkan pH pada
tanah asam.
Pupuk dapat berupa pupuk organik dan pupuk kimia.Pupuk kimia merupakan pupuk berasal
dari bahan-bahan kimia sehingga sangat berefek negatif pada lingkungan dan menurunkan
kuantitas dari tanaman, sedangkan pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa-sisa
pembusukan atau pengomposan.Pupuk organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, ataupun
kotoran ayam.Pupuk organik biasanya berupa zat padat. Akan tetapi, pupuk organik juga dapat
berupa pupuk cair. Pupuk organik cair adalah larutan dari pembusukan bahan-bahan organik
yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsur haranya
lebih dari satu unsur.
B. Tujuan

Mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik cair pada tanaman Kacang Hijau (Hermetia
illucens)

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Limbah organik dapat dimanfaatkan lagi menjadi sesuatu yang berguna lewat pembuatan
pupuk organik. Pupuk organik adalah nama kolektif untuk semua jenis bahan organik asal
tanaman dan hewan yang dapat dirombak menjadi hara tersedia bagi tanaman. Pupuk organik
adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari
tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair
yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi
tanah. Definisi tersebut menunjukkan bahwa pupuk organik lebih ditujukan kepada kandungan
C-organik atau bahan organik daripada kadar haranya, nilai C-organik itulah yang menjadi
pembeda dengan pupuk anorganik (Djuarnani, 2005).

Selanjutnya menurut Yuliarti (2009), Pupuk organik merupakan suatu hasil akhir dari
penguraian bahan-bahan atu sisa-sisa seresah tanaman dan binatang, misalnya pupuk kandang,
pupuk hijau, pupuk kompos, bungkil, guano, tepung tulang dsb. Pupuk organik mampu
menggemburkan lapisan permukaan tanah(top soil), meningkatkan populasi jasad renik,
mempertinggi daya serap dan daya simpan air, yang oleh karenanya kesuburan tanah menjadi
meningkat. Agar dapat disebut sebagai pupuk organik, pupuk yang dibuat dari bahan-bahan
alami tersebut harus memenuhi berbagai persyaratan, diantaranya zat N atau zat lemasnya harus
terdapat dalam bentuk senyawa organik yang dapat dengan mudah diserap oleh tanaman, pupuk
tresebut tidak meninggalkan sisa asam organik di tanah dan pupuk tersebut mempunyai kadar
senyawa C-organik yang tinggi seperti hidrat arang.
Berdasarkan bentuknya, pupuk organik dibagi menjadi dua, yakni pupuk cair dan padat.
Pupuk organik cair adalah larutan dari hasil pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari
sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih dari satu unsur.
Sedangkan pupuk organik padat adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas
bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan kotoran manusia yang
berbentuk padat (Hadisuwito, 2012).
Penggunaan pupuk organik mampu menjadi solusi dalam mengurangi aplikasi pupuk
anorganik yang berlebihan dikarenakan adanya bahan organik yang mampu memperbaiki sifat
fisika, kimia, dan biologi tanah. Perbaikan terhadap sifat fisik yaitu menggemburkan tanah,
memperbaiki aerasi dan drainase, meningkatkan ikatan antar partikel, meningkatkan kapasitas
menahan air, mencegah erosi dan longsor, dan merevitalisasi daya olah tanah. Fungsi pupuk
organik terhadap sifat kimia yaitu meningkatkan kapasitas tukar kation, meningkatkan
ketersediaan unsur hara, dan meningkatkan proses pelapukan bahan mineral. Adapun terhadap
sifat biologi yaitu menjadikan sumber makanan bagi mikroorganisme tanah seperti fungi, bakteri,
serta mikroorganisme menguntungkan lainnya, sehingga perkembangannya menjadi lebih cepat (
Amilia, 2011 ).
Pupuk cair organik adalah jenis pupuk yang berbentuk cair tidak padat yang mudah sekali
larut pada tanah dan membawa unsur-unsur penting guna kesuburan tanah. Pupuk organik cair
adalah pupuk yang dapat memberikan hara yang sesuai dengan kebutuhan tanaman pada tanah,
karena bentuknya yang cair, maka jika terjadi kelebihan kapasitas pupuk pada tanah maka
dengan sendirinya tanaman akan mudah mengatur penyerapan komposisi pupuk yang

dibutuhkan.

Pupuk cair organik dalam pemupukan jelas lebih merata, tidak akan terjadi

penumpukan konsentrasi pupuk di satu tempat (Slamet, dkk, 2005).


Kelebihan dari pupuk cair organik adalah dapat secara cepat mengatasi defesiensi hara, tidak
bermasalah dalam pencucian hara dan mampu menyediakan hara secara cepat. Dibandingkan
dengan pupuk cair anorganik, pupuk organik cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman
walaupun sesering mungkin digunakan. Selain itu, pupuk ini juga memiliki bahan pengikat,
sehingga larutan pupuk yang diberikan ke permukaan tanah bisa langsung digunakan oleh
tanaman. Pupuk cair dikatakan bagus dan siap diaplikasikan jika tingkat kematangannya
sempurna. Pengomposan yang matang bisa diketahui dengan memperhatikan keadaan bentuk
fisiknya, dimana fermentasi yang berhasil ditandai dengan adanya bercak bercak putih pada
permukaan cairan. Cairan yang dihasilkan dari proses ini akan berwarna kuning kecoklatan
dengan bau yang menyengat (Purwendro dan Nurhidayat, 2007).
Menurut Parman (2007), Penggunaan pupuk organik alam yang dapat dipergunakan untuk
membantu mengatasi kendala produksi pertanian adalah Pupuk Organik Cair. Pupuk organik ini
diolah dari bahan baku berupa kotoran ternak, kompos, limbah alam, hormon tumbuhan dan
bahan-bahan alami lainnya yang diproses secara alamiah selama 4 bulan. Pupuk organik cair
selain dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, membantu meningkatkan produksi
tanaman, meningkatkan kualitas produk tanaman, mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan
sebagai alternatif pengganti pupuk kandang.
Pemberian pupuk organik cair harus memperhatikan konsentrasi atau dosis yang
diaplikasikan terhadap tanaman. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk
organik cair melalui daun memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman yang lebih baik daripada
pemberian melalui tanah. Semakin tinggi dosis pupuk yang diberikan maka kandungan unsur
hara yang diterima oleh tanaman akan semakin tinggi, begitu pula dengan semakin seringnya
frekuensi aplikasi pupuk daun yang dilakukan pada tanaman, maka kandungan unsur hara juga
semakin tinggi. Namun, pemberian dengan dosis yang berlebihan justru akan mengakibatkan
timbulnya gejala kelayuan pada tanaman (Suwandi & Nurtika, 1987 dalam Rizqiani, 2007).

III.

METODOLOGI

Praktikum Keharaan Tanaman yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik
dari pemanfaatan larva Hermetia illucens (lalat hitam) dengan bahan buah apel hijau
dilaksanakan pada Tanggal 11 Maret 2016 hingga 2 Mei 2016 di Rumah Kaca , Fakultas
Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat yang digunakan antara lain pasir kuarsa,
kapas, 2 botol aqua 1,5 L, 2 botol aqua 600 mL, 2 ember kecil, 2 pot, label, penggaris, alat tulis,
gelas ukur ukuran 100ml dan 1000ml , serta alat dokumentasi. Bahan yang digunakan dalam
praktikum antara lain buah apel hijau, lalat hitam (Hermetia illucens), kacang hijau, dan air.
Langkah pertama yang dilakukan yaitu menyiapkan 2 botol aqua ukuran 1,5 L serta buah
apel hijau yang telah di potong terlebih dahulu. Buah apel hijau dimasukan dalam botol hingga

dari ukuran botol aqua. Dilakukan dua perlakukan dengan botol aqua tertutup yang telah
dilubangi terlebih dahulu bagian tutup botolnya dan botol aqua tanpa tutup. Untuk botol aqua
tertutup diberikan larva Hermetia illucens sebanyak 15 larva yang belum dewasa. Untuk
perlakuan tanpa tutup tidak diberi larva. Perubahan tekstur buah, bau, warna buah, pergerakan
larva, dan warna larva diamati untuk kedua perlakuan botol aqua akan tetapi pada botol aqua
tanpa tutup diamati juga terdapat tidaknya larva dan lalat.
Pada tanggal 14 April 2016, dilakukan persiapan tanaman kacang hijau dan pengenceran
POC untuk perlakuan. Langkah pertama yang dilakukan yaitu menyiapkan media tanam yaitu
pasir kuarsa. Pasir kuarsa dimasukan kedalam 2 pot yang telah diberikan kapas dibagian dasar
terlebih dahulu. Biji kacang hijau sebanyak 10 biji ditanam dalam pot berisi pasir kuarsa. Setelah
7 hari, tanaman kacang hijau disisakan 3 tanaman yang sama tingginya.
Langkah selanjutnya yaitu melakukan pengenceran POC untuk perlakuan. 2 buah botol aqua
ukuran 600 mL di siapkan. Larutan POC apel hijau dari tiap perlakuan tutup dan tanpa tutup
diencerkan dengan perbandingan 1 : 100 (5 ml POC : 500 mL air ). POC yang telah diencerkan
dimasukan kedalam botol aqua ukuran 600ml dan didiamkan selama semalam. Larutan POC
yang telah didiamkan semalam di berikan kepada tanaman kacang hijau tiap hari selama 7 hari
(23 April 2016 hingga tanggal 29 April 2016). Tinggi tanaman, jumlah daun, dan warna daun
diamati tiap harinya.

IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Tabel Hasil Analisi pH, DHL,Warna dan Bau
N
O
1
2

PERLAKUAN
POC BOTOL TERBUKA
POC BOTOL TERTUTUP

PH
2.88
2.65

2. Tabel Rata-Rata Tinggi Tanaman


Hari

Tinggi Tanaman (cm)

TABEL HASIL ANALISIS


DHL
WARNA
2.24 cokelat-kehitaman
2.07 cokelat-muda

BAU
++
+
++

ke1
2
3
4
5
6
7

Blank POC Botol


POC Botol
o
Terbuka
Tertutup
14.2
3
14.70
16.33
15.1
7
15.33
16.67
15.6
3
16.13
18.03
15.9
7
16.90
18.73
16.0
3
17.33
19.00
16.0
3
17.67
19.27
16.0
3
18.00
19.50

3. Tabel Jumlah Daun


Hari
ke1
2
3
4
5
6
7

T1
0
0
0
0
1
1
1

Blanko
T2
0
0
0
0
1
1
1

T3
0
0
0
0
1
1
1

Jumlah Daun
Terbuka
T1
T2
T3
0
0
0
0
0
0
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

T1
0
0
3
3
3
3
3

Tertutup
T2
0
3
3
3
3
3
3

T3
0
0
0
0
3
3
3

B. PEMBAHASAN
Penggunaan pupuk organik mampu menjadi solusi dalam mengurangi aplikasi pupuk
anorganik yang berlebihan dikarenakan adanya bahan organik yang mampu memperbaiki sifat
fisika, kimia, dan biologi tanah. Perbaikan terhadap sifat fisik yaitu menggemburkan tanah,
memperbaiki aerasi dan drainase, meningkatkan ikatan antar partikel, meningkatkan kapasitas
menahan air, mencegah erosi dan longsor, dan merevitalisasi daya olah tanah.
Oleh karena itu penggunaan pupuk cair organik merupakan sebuah solusi yang terbaik untuk
tetap menjaga kesuburan tanah, dimana pupuk cair organik umumnya tidak merusak tanah dan
tanaman walaupun digunakan sesering mungkin

Pupuk organik cair adalah pupuk yang dapat memberikan hara yang sesuai dengan kebutuhan
tanaman pada tanah, karena bentuknya yang cair, maka jika terjadi kelebihan kapasitas pupuk
pada tanah maka dengan sendirinya tanaman akan mudah mengatur penyerapan komposisi
pupuk yang dibutuhkan. Pupuk cair organik dalam pemupukan jelas lebih merata, tidak akan
terjadi penumpukan konsentrasi pupuk di satu tempat (Slamet, dkk, 2005).
Langkah-langkah pembuatan pupuk organik cair yaitu menyiapkan 2 botol aqua ukuran 1,5 L
serta buah apel hijau yang telah di potong terlebih dahulu. Buah apel hijau dimasukan dalam
botol hingga dari ukuran botol aqua. Dilakukan dua perlakukan dengan botol aqua tertutup
yang telah dilubangi terlebih dahulu bagian tutup botolnya dan botol aqua tanpa tutup. Untuk
botol aqua tertutup diberikan larva Hermetia illucens sebanyak 15 larva yang belum dewasa.
Untuk perlakuan tanpa tutup tidak diberi larva. Perubahan tekstur buah, bau, warna buah,
pergerakan larva, dan warna larva diamati untuk kedua perlakuan botol aqua akan tetapi pada
botol aqua tanpa tutup diamati juga terdapat tidaknya larva dan lalat.
Pupuk organik cair yang sudah jadi memiliki ciri fisik yang baik menurut Hadisuwito (2012)
adalah berwarna kuning kecoklatan dan bahan pembentuknya sudah membusuk. Aktivitas
mikrobia dalam mendekomposisi bahan organik menurut Dwijoseputro (2010) juga akan
menghasilkan gas CO. Gas CO2 ini akan membentuk asam karbonat (H 2CO3) yang mudah terurai
menjadi ion H+ dan HCO3. Ion H ini akan mempengaruhi kemasaman sehingga pH larutan
menurun (kemasaman meningkat).
Pada praktikum pembuatan POC perlakuan tertutup ditambahkan larva lalat hitam (Hermetia
illucens) yang digunakan untuk mempercepat dekomposisi bahan organik. Larva lalat Black
soldier dapat digunakan untuk mengkonversi limbah seperti limbah industri pertanian,
peternakan, ataupun kotoran manusia (Oliver,2004). Sedangkan DuPonte (2003) menyebutkan
bahwa makanan utama dari larva dari lalat ini adalah kotoran ayam dan bahan-bahan organik.
Dalam siklus hidupnya lalat Hermetia illucens memiliki lima stadia (Diener, 2007). Lima stadia
tersebut yaitu fase dewasa, fase telur, fase prepupa, dan fase pupa.
Berdasarkan data hasil pengamatan,pH pupuk organik cair pada perlakuan terbuka dan
perlakuan tertutup berturut-turut sebesar 2.88 dan 2.65, sehingga dalam penggunaannya
diperlukan pengenceran yang lebih banyak agar pH-nya mendekati netral. Nilai Daya Hantar
Listri (DHL) pupuk organik cair perlakuan terbuka adalah 2.24 dan pada perlakuan tertutup
sebesar 2.07. Pada pupuk organik cair perlakuan terbuka memiliki warna cokelat-kehitaman

dengan bau cukup menyengat. Sedangkan pada pupuk organik cair perlakuan tertutup memiliki
warna cokelat muda dengan bau tidak terlalu menyengat.
Syarat minimal pH pupuk organik cair berdasarkan hasil pembahasan para pakar lingkup
Puslitbangtanak, Direktorat Pupuk dan Pestisida, IPB jurusan Tanah, Depperindag, serta Asosiasi
Pengusaha Pupuk dan Pengguna tahun 2006 yaitu 4-8. Sedangkan menurut Peraturan Menteri
Pertanian No 70/Permentan/SR.140/10/2011 tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan
Pembenah Tanah menentukan tingkat kemasaman suatu pupuk organik cair dengan nilai pH 4-9.

Grafik Tinggi Tanaman Kacang Hijau


25
20

blanko

15

terbuka

TInggi Tanaman 10

tertutup

5
0

1 2 3 4 5 6 7

Hari ke-

Grafik 1. Tinggi tanaman Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.) setiap perlakuan POC
(Blanko, Botol Terbuka dan Botol Tertutup)
Berdasarkan Grafik 1. diketahui bahwa Kacang Hijau yang diberi Pupuk Organik Cair
perlakuan Pupuk Organic Cair (POC) botol tertutup memiliki tinggi tanaman rata-rata paling
tinggi dibandingkan dengan perlakuan POC blanko dan POC botol tertutup. Hal ini dikarenakan
pada perlakuan POC botol tertutup diduga memiliki kandungan hara makro serta mikro yang
lebih tinggi dibandingkan perlakuan lain. Serta pada perlakuan POC botol tertutup ditambahkan
beberapa larva lalat hitam yang membantu mempercepat pendekomposisian buah apel. Larva
lalat hitam berperan penting dalam pendekomposisian bahan organik sehingga dapat
dimanfaatkan tanaman. Sedangkan pada tanaman Kacang Hijau yang diberi perlakuan POC botol
terbuka, tinggi tanaman tidak menunjukan perubahan yang signifikan karena bahan-bahan
organiknya belum terurai secara sempurna sehingga kandungan unsur hara makro dan mikro
tidak terlalu banyak. Pada tanaman Kacang Hijau yang diberi perlakuan POC blanko, tidak
terdapat pengaruh begitu signifikan pada tinggi tanaman di bandingkan dengan perlakuan yang
lain. Dikarenakan, perlakuan blanko hanya menggukan air tanpa adanya penambahan bahan lain
sehingga kandungan hara pada media tanam kurang. Tanaman membutuhkan unsur hara seperti

N, P dan K untuk merangsang pembesaran diameter batang, pembentukan akar sebagai


penunjang berdirinya tanaman serta pembentukan tinggi tanaman pada masa penuaian atau masa
panen tanaman (Nurdin dkk., 2009).
Tabel 4. Analisis F-test POC Botol Terbuka dengan Blanko pada tinggi tanaman kacang hijau
F-Test Two-Sample for
Variances

Mean
Variance
Observati
ons
df
F
P(F<=f)
one-tail
F Critical
one-tail

Blank
o
15.58
571
0.458
836

POC
Terbuka
16.5809
5238
1.52587
3016

7
6
0.300
704
0.084
675
0.233
434

7
6

Berdasarkan Tabel 4. dapat dilihat bahwa hasil analisis F-test untuk tinggi tanaman perlakuan
POC botol terbuka dengan blanko memiliki hasil yaitu P-val > alfa (0.05) jadi, varians kedua
populasi homogen.

Tabel 5. Analisis F-test POC Botol Tertutup dengan Blanko pada tinggi tanaman kacang hijau
F-Test Two-Sample for
Variances
Blanko

POC

Mean
Variance
Observatio
ns
Df
F
P(F<=f)
one-tail
F Critical
one-tail

15.585
71
0.4588
36
7
6
0.2863
84
0.0767
75
0.2334
34

Tertutup
18.2190
5
1.60216
9
7
6

Berdasarkan Tabel 5. dapat dilihat bahwa hasil analisis F-test untuk tinggi tanaman perlakuan
POC botol tertutup dengan blanko memiliki hasil yaitu P-val > alfa (0.05) jadi, varians kedua
populasi homogen.
Tabel 6. Analisis T-test POC Botol Terbuka dengan Blanko pada tinggi tanaman kacang hijau
t-Test: Two-Sample Assuming Equal
Variances

Mean
Variance
Observations
Pooled Variance
Hypothesized Mean
Difference
Df
t Stat
P(T<=t) one-tail
t Critical one-tail
P(T<=t) two-tail
t Critical two-tail

Blank
o
15.58
571
0.458
836
7
0.992
354
0
12
1.869
08
0.043
103
1.782
288
0.086
205
2.178
813

POC
Terbuka
16.58095
238
1.525873
016
7

Dari tabel 6. dapat dilihat bahwa hasil analisis T-test untuk tinggi tanaman perlakuan
POC botol terbuka dengan blanko memiliki hasil yaitu p-val > alfa atau t stat < t critical two tail
sehingga H0 diterima, jadi antara perlakuan blanko dan POC terbuka tidak ada perbedaan yang
nyata.
Tabel 7. Analisis T-test POC Botol Tertutup dengan Blanko pada tinggi tanaman kacang hijau
t-Test: Two-Sample Assuming Equal
Variances

Mean
Variance
Observations
Pooled Variance
Hypothesized Mean
Difference
Df
t Stat
P(T<=t) one-tail
t Critical one-tail
P(T<=t) two-tail
t Critical two-tail

Blanko
15.585
71
0.4588
36
7
1.0305
03

POC
Tertutup
18.2190
5
1.60216
9
7

0
12
4.8530
6
0.0001
98
1.7822
88
0.0003
96
2.1788
13

Dari tabel 7. dapat dilihat bahwa hasil analisis T-test untuk tinggi tanaman perlakuan POC
botol tertutup dengan blanko memiliki hasil yaitu p-val < alfa sehingga H0 diterima, jadi antara
perlakuan blanko dan POC tertutup ada perbedaan yang nyata.

V.
KESIMPULAN
1. Pupuk cair organik adalah jenis pupuk yang berbentuk cair tidak padat yang mudah sekali
larut pada tanah dan membawa unsur-unsur penting guna kesuburan tanah.
2. Tinggi tanaman yang diberi POC perlakuan botol tertutup memiliki rerata tinggi tanaman
paling tinggi dibandingkan dengan POC perlakuan botol terbuka dan Blanko. Pada
perlakuan POC botol tertutup proses pendekomposisiannya lebih cepat dari pada dua

perlakuan yang lain dikarenakan adanya larva lalat hitam yang mengurai bahan organik.
Sehingga unsur-unsur hara makro seperti N P K cukup tersedia pada perlakuan POC
botol tertutup.

DAFTAR PUSTAKA
Amilia, Yusefa. 2011. Penggunaan Pupuk Organik Cair Untuk Mengurangi Dosis Penggunaan
Pupuk Anorganik Pada Padi Sawah (Oryza Sativa L.). Departemen Agronomi Dan
Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
Diener S. 2007. Conversion of Organic Refuse by Saprophages. Eawag: Swiss Federal Institute
of Aquatic Science and Technology. Costa Rica p.1.
Djuarnani, N. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta
DuPonte M.W. and Larish L.B. Tropical Agriculture and Human Resources(CTAHR). Hawaii
Dwidjoseputro, 2010.Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit Djembatan. Jakarta.
Hadisuwito, S. 2012. Membuat Pupuk Organik Cair. PT Agromedia Pustaka.Jakarta.
Nurdin, Purnamaningsuh, Zulzain I dan Zakaria F. 2009. Pertumbuhan dan Hasil Jagung yang
Dipupuk N, P dan K pada Tanah Vertisol Isimu Utara Kabupaten Gorontalo. Jurnal Tanah
Trop. 14 (1): 49-56.
Oliver P. A. 2004. The Bio-Conversion of Putrescent Wastes. ESR LLC. Washington. P. 1-90.
Parman, S. 2007. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan dan Produksi
Kentang (Solanum tuberosum L.). Anatomi dan Fisiologi Vol 15 (2) Hal: 1-4
Purwendro, D. dan Nurhidayat T. 2007. Pembuatan Pupuk Cair. PT Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Rizqiani, F., Erlina, A dan Nasih, W, Y,. Pengaruh Dosis Dan Frekuensi Pemberian Pupuk
Organik Cair Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Buncis (Phaseolus Vulgaris L.) Dataran
Rendah. Ilmu Tanah Dan Lingkungan Vol. 7 (1) Hal: 43-45 .
Slamet, R., Arbianti, dan Daryanto. 2005. Pengolahan Limbah Organik (Fenol) Dan Logam
Berat (Cr6+ Atau Pt4+) Secara Simultan Dengan Fotokatalis TiO2, ZnO-TiO2, DAN CdSTiO2. Jurnal Makara Teknologi Vol. 9(2) Hal: 1-3.
Yuliarti, N. 209. 1001 Cara Menghasilkan Pupuk Organik. Lyli Publisher. Yogyakarta

www.kebunpedia.com/threads/memilih-pupuk-organik-cair-poc-terbaik.5391/. Diakses tanggal


24 Mei 2016.

LAMPIRAN
perlakuan

TABEL PENGAMATAN APLIKASI KOMPOS


pengamatan
hari ketanaman 1
tanaman 2
tanaman 3

POC botol
tertutup

POC botol
terbuka

Blanko (Air)

rata-rata

1
16.4
18
14.6
16.33
333

tanaman 1
tanaman 2
tanaman 3

0
0
0

tanaman 1
tanaman 2
tanaman 3

15.4
13.7
15

rata-rata

14.7

tanaman 1
tanaman 2
tanaman 3

0
0
0

tanaman 1
tanaman 2
tanaman 3

15.3
12
15.4
14.23
333

Rata -rata
tanaman 1
tanaman 2
tanaman 3

0
0
0

2
3
4
tinggi tanaman
17
19.3
19.8
18
19
20
15
15.8
16.4
16.66 18.03 18.73
667
333
333
jumlah daun
0
3
3
3
3
3
0
0
0
tinggi tanaman
16
16.3
17
14
14.6
15.3
16
17.5
18.4
15.33 16.13
333
333
16.9
jumlah daun
0
3
3
0
3
3
0
3
3
tinggi tanaman
15.6
15.6
15.8
14.4
15.7
15.9
15.5
15.6
16.2
15.16 15.63 15.96
667
333
667
jumlah daun
0
0
0
0
0
0
0
0
0

20
20.5
16.5

20.6
20.9
17

19

20.3
20.8
16.7
19.26
667

3
3
3

3
3
3

3
3
3

17.4
15.8
18.8
17.33
333

18
16
19
17.66
667

18.2
16.4
19.4

3
3
3

3
3
3

3
3
3

16
15.9
16.2
16.03
333

16
15.9
16.2
16.03
333

16
15.9
16.2
16.03
333

1
1
1

1
1
1

1
1
1

19.5

18

F-Test Two-Sample for Variances

Mean
Variance
Observations
df
F
P(F<=f) one-tail
F Critical one-tail

Blank
o
15.58
571
0.458
836
7
6
0.300
704
0.084
675
0.233
434

POC
Terbuka
16.58095
238
1.525873
016
7
6

t-Test: Two-Sample Assuming Equal


Variances

Mean
Variance
Observations
Pooled Variance
Hypothesized Mean
Difference
df
t Stat
P(T<=t) one-tail
t Critical one-tail
P(T<=t) two-tail
t Critical two-tail

Blank
o
15.58
571
0.458
836
7
0.992
354
0
12
1.869
08
0.043
103
1.782
288
0.086
205
2.178
813

POC
Terbuka
16.58095
238
1.525873
016
7

F-Test Two-Sample for Variances

Mean
Variance
Observations
Df
F
P(F<=f) one-tail
F Critical one-tail

Blanko
15.585
71
0.4588
36
7
6
0.2863
84
0.0767
75
0.2334
34

POC
Tertutup
18.2190
5
1.60216
9
7
6

t-Test: Two-Sample Assuming Equal


Variances

Mean
Variance
Observations
Pooled Variance
Hypothesized Mean
Difference
df
t Stat
P(T<=t) one-tail
t Critical one-tail
P(T<=t) two-tail
t Critical two-tail

Blanko
15.585
71
0.4588
36
7
1.0305
03
0
12
4.8530
6
0.0001
98
1.7822
88
0.0003
96
2.1788
13

POC
Tertutup
18.2190
5
1.60216
9
7

Pupuk Organik Cair

Awal

Pertengahan

Hasil Akhir

Foto Tanaman Kedelai dengan Pemberian POC

Awal

Pertengahan

Akhir