Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

RASIONAL EMOTIF TERAPI

DibuatuntukmemenuhitugasmatakuliahTeori-TeoriKonseling II
DosenPengampu :HastinBudisiwi, S.Psi. M.Pd
Disusunoleh :
1. Anisah

1114500069

2. Indriana TitiNurjanah 1114500085


3. M. ArifRizqi

1114500026

4. Safutri Nurhidayah

1114500057

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2015
1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rational Emotive Therapy atau Teori Rasional Emotif mulai
dikembangan diAmerika pada tahun 1960-an oleh Alberl Ellis, seorang Doktor
dan Ahli dalam Psikologi Terapeutik yang juga seorang eksistensialis dan juga
seorang Neo Freudian. Teori ini dikembangkanya ketika ia dalam praktek terapi
mendapatkan bahwa sistem psikoanalisis ini mempunyai kelemahan-kelemahan
secara teoritis (Ellis, 1974).
Teori Rasional Emotif ini merupakan sintesis baru dari Behavior
Therapy yang klasik (termasuk Skinnerian Reinforcement dan Wolpein
Systematic Desensitization). Oleh karena itu Ellis menyebut terapi ini sebagai
Cognitive Behavior Therapy atauComprehensive Therapy.
Konsep ini merupakan sebuah aliran baru dari Psikoterapi Humanistik
yang berakar pada filsafat eksistensialisme yang dipelopori oleh Kierkegaard,
Nietzsche, Buber, Heidegger, Jaspers dan Marleu Ponty, yang kemudian
dilanjutkan dalam bentuk eksistensialisme terapan dalam Psikologi dan
Psikoterapi, yang lebih dikenal sebagai Psikologi Humanistik.
B. Rumusan Masalah
1. Pendekatan dan tokoh siapa saja yang terdapat dalam pendekatan konseling
Rasional Emotif ?
2. Bagaimana konsep dasar pendekatan konseling Rasional Emotif ?
3. Asumsi perilaku bermasalah apa saja yang terdapat dalam pendekatan
4.
5.
6.
7.

konseling Rasional Emotif ?


Apa tujuan konseling Rasional Emotif ?
Bagaimana peran konselor dalam pendekatan konseling Rasional Emotif ?
Bagaimana Deskripsi proses konseling Rasional Emotif ?
Teknik konseling apa saja yang dilakukan dalam pendekatan konseling

Rasional Emotif ?
8. Apa saja kelebihan dan keterbatasan dalam pendekatan konseling Rasional
Emotif ?
2

9. Bagaimana contoh penerapan pendekatan konseling Rasional Emotif ?


C. Tujuan
1. Mengetahui nama pendekatan dan tokoh dalam pendekatan konseling
Rasional Emotif.
2. Memahami konsep dasar pendekatan konseling Rasional Emotif.
3. Mengetahui asumsi perilaku bermasalah dalam pendekatan konseling
4.
5.
6.
7.

Rasional Emotif.
Mengetahui tujuan konseling pada pendekatan konseling Rasional Emotif.
Memahami peran konselor dalam pendekatan konseling Rasional Emotif.
Mengetahui deskripsi proses konseling Rasional Emotif.
Mengetahui teknik konselingyang terdapat dalam pendekatan konseling

Rasional Emotif.
8. Mengetahui kelebihan dan keterbatasan pendekatan konseling Rasional
Emotif.
9. Memahami contoh penerapan dalam pendekatan konseling Rasional Emotif.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Nama pendekatan dan Tokoh pendekatan konseling Rasional Emotif
Pelopor dan sekaligus promotor utama corak konseling ini adalah
Albert Ellis, menurut pengakuan Ellis sendiri, corak konseling rasional emotif
3

terapi berasal dari aliran pendekatan kognitif behavioristik. Ellis berpandangan


bahwa RET merupakan terapi yang sangat komprehensif, yang menangani
masalah-masalah yang berhubungan dengan emosi, kognisi, dan perilaku.
Albert Ellis dilahirkan pada tahun 1930 di Pittsburk dan kemudian
menetap di New York sejak umur empat tahun. Semasa kanak-kanak beliau
telah sembilan kali dimasukkan ke hospital karena nephiritis dan seterusnya
mendapat penyakit renal glycosuria pada umur 19 tahun dan kencing manis
pada umur 40 tahun. Walaupun begitu beliau menikmati kehidupan yang aktif
karena beliau berfikiran positif terhadap masalah kesehatannya dan senantiasa
menjaganya. Menyadari beliau boleh mengkonseling orang dengan baik dan
gembira melakukannya, beliau mengambil keputusan untuk menjadi ahli
psikologi. Selepas delapan tahun tamat pengajian kolej, beliau memasuki
program psikologi klinikal di Maktab Perguruan Columbia. Beliau mulai
menjalankan konseling perkawinan, konseling keluarga dan terapi seks. Ellis
percaya psikoanalisis adalah membentuk psikoterapi yang mendalam. Beliau
telah dilatih dalam psikoterapi di Sekolah Karen Horney. Dari tahun 1947
hingga

1953

beliau

memperaktikan

analisis

klasik

dan

psikoterapi

berorientasikan analisis.
Selepas membuat kesimpulan bahan psikoanalisis adalah bentuk
rawatan yang tidak saintifik dan superficikal, beliau coba mengkaji beberapa
sistem yang lain. Pada awal 1955 beliau mengabungkan terapi humanistik,
falsafah dan tingkah laku untuk membentuk terapi rasional-emotif (yang
sekarang dikenal sebagai terapi rasional emotif tingkahlaku). Ellis dikenal
sebagai bapak teori RET. Ellis telah membina teori berasaskan kepada kognitif
tapi selepas itu beliau telah meluaskan asas teorinya yang memasukkan konsep
tingkah laku dan emosi. Teori ini adalah satu usaha yang konsisten untuk
memperkenalkan pendekatan pemikiran logika dan proses kognitif di dalam
konseling. Ellis percaya bahwa manusia mempunyai pemikiran dan
kepercayaan yang tidak rasional perkara ini lah yang selalu menyebabkan
gangguan emosi.

Rasional emotive adalah teori yang berusaha memahami manusia


sebagaimana adanya. Manusia adalah subjek yang sadar akan dirinya dan sadar
akan objek-objek yang dihadapinya. Manusia adalah makhluk berbuat dan
berkembang dan merupakan individu dalam satu kesatuan yang berarti manusia
bebas berpikir, bernafas, dan berkehendak.
2. Konsep dasar pendekatan konseling Rasional Emotif
Manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan
untukberpikir rasional dan irasional.Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional
manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan
bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif.
Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi,
interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan
psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan
irasional. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka,
sangat personal, dan irasional.
Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang
diperolehdari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara
irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak
logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat
menunjukkan cara berpikir yang tepat.Perasaan dan pikiran negatif serta
penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis,
yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi
yang rasional.
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat
dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang
membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan
Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan
konsep atau teori ABC yang di jelaskan bahwa pengertian tersebut merupakan :
Antecedent event (A)
Yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu.
Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau

sikap orang lain. Misalnya : Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi


siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent

event bagi seseorang.


Belief (B)
Yaitukeyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu
terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu :
keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang
tidak rasional (irrasional belief atau iB).
Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system
keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi
produktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan atau
sistem berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan

keras itu tidak produktif.


Emotional consequence (C)
Merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi
individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam
hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini
bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable
antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.

3. Asumsi perilaku bermasalah pendekatan konseling Rasional Emotif


Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku
bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir
yang irasional.
Ciri-ciri berpikir irasional :
a. tidak dapat dibuktikan.
b. menimbulkan perasaan

tidak

enak

(kecemasan,

kekhawatiran,

prasangka) yang sebenarnya tidak perlu.


c. menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari
yang efektif.
Dalam pendekatan konseling Rasional Emotif adapun sebab sebab
individu tidak mampu berpikir secara rasional :

a. Individu tidak berpikir jelas tentang saat ini dan yang akan datang,
antara kenyatan dan imajinasi.
b. Individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain.
c. Orang tua atau masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irasional
yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media.
Selain ciri-ciri dan sebab-sebab yang telah disebutkan dalam
pendekatan konseling Rasional Emotif ada beberapa indikator keyakinan
irasional juga terdapat beberapa macam yaitu :
a. Manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai
oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan.
b. Banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik, merusak,
jahat, dan kejam sehingga mereka patut dicurigai, disalahkan, dan
dihukum.
c. Kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka,
bencana yang dahsyat, mengerikan, menakutkan yang mau tidak mau
harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya.
d. Lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari
pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya.
e. Penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan
bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk
menghilangkan penderitaan emosional tersebut.
f. Pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap
kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu
pada saatsekarang.
g. Untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk
merasakan

sesuatu

yang

menyenangkan

memerlukan

kekuatan

supranatural.
h. Nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri
tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan
oleh orang lain terhadap individu.
4. Tujuan konseling pendekatan Rasional Emotif
Adapun tujuan dari konseling Rasional Emotif yang di jelaskan sebagai
berikut :
a. Memperbaiki dan meruban sikap, persepsi, cara berfikir, keyakinan serta
pandangan klien yang irasional dan logis menjadi rasional dan logis agar
7

klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan self actualizationnya


seoptimal mungkin melalui prilaku kognitif dan afektif yang positif.
b. Menghilangkan gangguan emosional yang merusak diri sendiri,seperti
rasa benci,rasa takut, rasa bersalah,rasa berdosa, rasa cemas, rasa waswas, dan rasa marah dengan melatih system keyakinan hidup secara
rasional serta membangkitkan keberanian untuk memiliki kepercayaan
dan kemampuan diri sendiri dalam menghadapi masa depan.
Secara lebih khusus Ellis (Corey, 1986; 215) menyebutkan bahwa
terapi ini akan tercapai pribadi yang ditandai dengan :
1) Minat kepada diri sendiri
2) Minat sosial
3) Pengarahan diri
4) Toleransi terhadap pihak lain
5) Fleksibelitas
6) Menerima ketidakpastian
7) Komitmen terhadap sesuatu diluar dirinya
8) Berfikir ilmiah
9) Penerimaan diri
10) Berani mengambil resiko
11) Non utopianism yaitu menerima kenyataan.
Karakteristik terapi rasional-emotif :
1. Aktif-direktif
Dalam hubungan konseling lebih aktif membantu mengarahkan klien
dalam menghadapi dan memecahkan masalah.
2. Kognitif-eksperiensial
Hubungan yang dibentuk harus berfokus pada aspek kognitif dari klien
dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
3. Emotif-eksperiensial
Hubungan yang dibentuk juga melihat aspek emotif klien dengan
mempelajari sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar
akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.
4. Behavioristik
Hubungan yang dibentuk harus menyentuh dan mendorong terjadinya
perubahan perilaku dalam diri kliennya.
5. Kondisional

Hubungan dalam terapi rasional emotif dilakukan dengan membuat


kondisi tertentu terhadap klien melalui berbagai teknik kondisioning
untuk mencapai tujuan terapi konseling.
Beberapa gambaran tentang apa yang dilakukan oleh seorang praktisi
rasional-emotif, yaitu :
1.

Mengajak klien untuk menanggalkan ide-ide irasional yang mendasari


gangguan emosional dan perilaku.

2.

Menantang klien dengan berbagai ide yang valid dan rasional.

3.

Menunjukkan kepada klien asas logis dalam berfikir.

4.

Menggunakan analisis logis untuk mengurangi keyakinan irasional klien.

5.

Menunjukkan bahwa keyakinan irasional ini adalah kooperative.


Menggunakan humor untuk menantang irasionalitas pemikiran klien.

6.

Menjelaskan kepada klien bagaimana ide yang irasional ini dapat


ditempatkan kembali atau didistribusikan kepada ide-ide rasional yang
harus secara empirik melatarbelakangi kehidupannya

7.

Mengajarkan bagaimana mengaplikasikan pendekatan ilmiah, obyektif dan


logis dalam berfikir.

5. Peran Konselor
Dalam proses konseling pendekatan RET ini peran konselor aktif,
direktif namun tetap obyektif.Konselor meyakinkan konseli bahwa pikiran
rasional dan irasional harus dipisahkan. Setelah itu konselor menunjukkan
bahwa pikiran irasional itu adalah sumber dari permasalahan yang sedang
dihadapi konseli. Pada konseling RET ,konselor dapat menjadi model bagi
konseli yang mengarahkan konseli untuk membebaskan diri dari pikiran
irasional
Fungsi konselor dalam Rational Emotive Therapy ini adalah mengajak
dan membuka ketidaklogisan pola berfikir klien dan membantu klien
mengubah pikirannya yang irasional dengan mendiskusikannya secara terbuka
dan terus terang.

Peran konselor dalam proses konseling rasional emotif akan tampak


jelas dengan langkah-langkah konseling sebagai berikut:
a) Langkah pertama
Dalam langkah ini konselor berusaha menunjukkan kepada klien
bahwa masalah yang dihadapinya berkaitan dengan keyakinannya yang
tidak rasional. Disini klien harus belajar untuk memisahkan keyakinan
rasional dari yang tidak rasional.
Pada tahap ini peranan konselor adalah sebagai propagandis yang
berusaha mendorong, membujuk, meyakinkan, bahkan sampai kepada
mengendalikan klien untuk menerima gagasan yang logis dan rasional. Jadi,
pada langkah ini peran konseling ialah menyadarkan klien bahwa gangguan
atau masalah yang dihadapinya disebabkan oleh cara berfikirnya yang tidak
logis.
b) Langkah kedua
Peranan konselor adalah meyadarkan klien bahwa pemecahan
masalah yang dihadapinya merupakan tanggung jawab sendiri. Maka dari
itu dalam konseling rasional emotif ini konselor berperan untuk
menunjukkan dan menyadakan klien, bahwa gangguan emosional yang
selama ini dirasakannya akan terus menghantuinya apabila dirinya akan
tetap berfikir secara tidak logis. Oleh karenanya klienlah yang harus
memikul tanggung jawab secara keseluruhan terhadap masalahnya sendiri.
c) Langkah ketiga
Pada langkah ketiga ini konselor berperan mengajak klien untuk
menghilangkan cara berfikir dan gagasan yang tidak rasional. Konselor
tidaklah cukup menunjukkan klien bagaimana proses ketidaklogisan berfikir
ini, tetapi lebih jauh dari itu konselor harus berusaha mengajak klien
mengubah cara berfikirnya dengan cara menghilangkan gagasan-gagasan
yang tidak rasional.
d) Langkah keempat
Peranan konselor mengembangkan pandangan-pandangan yang
realistis dan menghindarkan diri dari keyakinan yang tidak rasional.
Konselor berperan untuk menyerang inti cara berfikir yang tidak rasional

10

dari klien dan mengajarkan bagaimana caranya mengganti cara berfikir yang
tidak rasional dengan rasional.

6. Deskripsi proses konseling Rasional Emotif


Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur
yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk
mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersamasama oleh konselor dan klien.
Tugas konselor menunjukkan bahwa

masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-

pikiran yang tidak rasional


usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebabsebab permulaan.
Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada

klien, dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan, khususnya pada
tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung; (b)
menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki
cara berpikir klien, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik
dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide
irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien; (c)
mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya; (d)
menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan
menekan sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional.
Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif :
1. Aktif-direktif, artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor
lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan
memecahkan masalahnya.

11

2. Kognitif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk


berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan
masalah yang rasional.
3. Emotif-ekspreriensial, artinta bahwa hubungan konseling yang
dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan
mempelajari

sumber-sumber

gangguan

emosional,

sekaligus

membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari


gangguan tersebut.
4. Behavioristik, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan
hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah
laku klien.
7. Teknik Konseling Rasional Emotif (RET)
Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik
yang bersifat kogntif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi
klien. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut.
1. Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
a. Assertive adaptive
Teknik yang digunakan

untuk

melatih,

mendorong,

dan

membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya


dengan tingkah laku yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan
lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
b. Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang
menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang
dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas
c.

mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.


Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah
laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah
lakunya sendiri yang negatif.

12

2. Teknik-teknik Behavioristik
a) Reinforcement
Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih
rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward)
ataupun hukuman (punishment). Teknik ini dimaksudkan untuk
membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan
menggantinya dengan sistem nilai yang positif.Dengan memberikan
reward ataupun punishment, maka klien akan menginternalisasikan
sistem nilai yang diharapkan kepadanya.
b) Social modeling
Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada
klien. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model
sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru), mengobservasi,
dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma
dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah
disiapkan oleh konselor.
3. Teknik-teknik Kognitif
a) Home work assigments
Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk
melatih, membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai
tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan.
Dengan tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat
mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang
tidak rasional dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang
ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru,
mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan.
Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor
dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan
konselor.
Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan
sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta

13

kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien dan


mengurangi ketergantungannya kepada konselor.
b) Latihan assertive
Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan
tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain
peran, latihan, atau meniru model-model sosial.
Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong
kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan
dengan emosinya; (b) membangkitkan kemampuan klien dalam
mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi
hak asasi orang lain; (c) mendorong klien untuk meningkatkan
kepercayaan dan kemampuan diri; dan (d) meningkatkan kemampuan
untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri
sendiri.
8. Kelebihan dan keterbatasan
Pendekatan rasional emotif yang dikembangkan oleh Albert Ellis
mempunyai Kelebihan sebagai berikut :
1. Rasional Emotif menawarkan dimensi kognitif dan menantang klien untuk
meneliti rasionalitas dari keputusan yang telah diambil serta nilai yang
klien anut.
2. Rasional Emotif memberikan penekanan untuk mengaktifkan pemahaman
yang di dapat oleh klien sehingga klien akan langsung mampu
mempraktekkan perilaku baru mereka.
3. Rasional emotif menekankan pada praktek terapeutik yang komprehensif
dan eklektik.
4. Rasional emotif mengajarkan klien cara-cara mereka bisa melakukanterapi
sendiri tanpa intervensi langsung dari terapis.

Keterbatasan dari pendekatan ini adalah sebagai berikut :


1. Rasional emotif tidak menekankan kepada masa lalu sehingga dalam
proses terapeutik ada hal-hal yang tidak diperhatikan.

14

2. Rasional emotif kurang melakukan pembangunan hubungan antara klien


dan terapis sehingga klien mudah diintimidasi oleh konfrontasi cepat
terapis.
3. Klien dengan mudahnya terbius dengan oleh kekuatan dan wewenang
terapis

dengan

menerima

pandangan

terapis

tanpa

benar-benar

menantangnya atau menginternalisasi ide-ide baru.


4. Kurang memperhatikan faktor ketidaksadaran dan pertahanan ego.
9. ContohPenerapanPendekatanKonselingRasionalEmotif
Penerapan teori konseling Rasional-emotif ini sangat ideal apabila
diterapkan disekolah, terutama oleh:Guru,Konselor atau pemimbing yang
berwibawa. Contoh penerapan di gunakan pada kasus, berpikir mengenai halhal yang tidak rasional.
Guru/konselor yang berwibawa akan mampu untuk membantu siswa
yang mengalami gangguan mental atau gangguan emosional untuk
mengarahkan secara langsung pada para siswa yang memiliki pola berfikir
yang tidak rasional, serta mempengaruhi cara berfikir mereka yang tidak
rasional untuk meninggalkan anggapan atau pandangan yang keliru itu
menjadi rasional dan logis.
Guru melalui bidang studi yang diajarkan kepada siswanya secara
langsung

bisa

mengaitkan

pola

bimbingan

yang

terpadu

untuk

mempengaruhinya, untuk meninggalkan tindakan pikiran dan perasaan yang


tidak rasional.
Pendekatan ini pada menekankan pentingnya pemikiran sebagai dasar
dari gangguan-gangguan pribadi. Sumbangan utamanya adalah penekananya
pada keharusan praktek dan bertindak menuju perubahan tingkah laku
masalah.
Contoh kasusnya :

15

Ada seorang siswa yang maumenghadapi UjianNasional. Ia takut,cemas


akan ujiannya nanti,ia takut tidak lulus.Padahal ujian masih 4 bulan lagi. Siswa
tersebut berpikir irasionalatauberfikirannegatif.
Konselor membantu klien agar klien sadar dan bisa berpikir rasional
karena jika klien tetap berpikir irasional itu akan membuat klien tidak siap
menghadapi ujian dan bisa berakibat pada konsentrasi saat mengerjakan soal
ujian sehingga, bisa berakibat buruk.
Konselor membantu klien mengubah pikiran irasional menjadi rasional
sehingga klien menyadari akan pikirannya itu,klien bisa berpikir rasional
dengan belajar selama 4 bulan itu dan menjadi siap menghadapi ujian.

BAB III
PENUTUP

16

A. Kesimpulan
Pelopor dan sekaligus promotor utama corak konseling ini adalah
Albert Ellis, menurut pengakuan Ellis sendiri, corak konseling rasional emotif
terapi berasal dari aliran pendekatan kognitif behavioristik. Menurut Ellis
(dalam Latipun, 2001 : 92) berpandangan bahwa RET merupakan terapi yang
sangat komprehensif, yang menangani masalah-masalah yang berhubungan
dengan emosi, kognisi, dan perilaku.
Tujuan Rational Emotive Therapyyaitumemperbaiki dan mengubah
segala perilaku yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar
klien dapat mengembangkan dirinya.
B. Saran
Diharapkan agar konselor mampu memahami dan mengubah klien

mempunyai fikiran rasional dari fikiran irasional sebelumnya.


Konselor diharapkan mampu mengubah sikap positif terhadap klien
yang diawali dengan mengubah fikiran irasional menjadi rasional.

DAFTAR PUSTAKA
Corey Gerald.2007.Teori dan Paktek Konseling & Psikoterapi.Bandung: PT
Refika Aditama
Hayat,Abdul.2010.Teori dan Teknik Pendekatan Konseling.Banjarmasin:Lanting
Media Aksara

17

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2257215-konsep-dasar-tentangmanusia-menurut/#ixzzlomAqbP8Q
http://www.scribd.com/doc/76026377/Model-Model-Konseling-Rasional-EmotifTerapi

18