Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI

MODUL MUSKULOSKELETAL

Disusun Oleh :
Kelompok C (1)
Galatia Nugraha

(I11109053)

Rohayatun

(I11109066)

Lya Novya

(I1011131004)

Zainul Arifin

(I1011131008)

Umi Nurrahmah

(I1011131009)

Dwi Wahyuningsih

(I1011131013)

Estela Salomina Momot (I1011131022)


Desra Aufar Alwafi

(I1011131026)

Fida Alawiyah

(I1011131027)

Antony Halim

(I1011131029)

Wiladatika Ananda

(I1011131043)

Arif Padillah

(I1011131045)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada praktikum fisiologi kali ini dilakukan pengukuran beban maksimum yang dapat
ditahan oleh otot bisep pada berbagai sudut sendi dan tes kinerja otot (muscle
performance test). Pengukuran beban maksimum yang dapat ditahan oleh otot bisep pada
berbagai sudut bertujuan untuk menguji konsep bahwa perbedaan sudut sendi akan
mengubah panjang otot dan keuntungan mekanisnya; sehingga akibatnya adalah berat
beban maksimum yang mampu ditahan akan bervariasi. Adapun tujuan dari tes kinerja
otot adalah untuk mengevaluasi kinerja otot melalui seperangkat tes kinerja otot dan
untuk menganalisis hasil dari kinerja otot individu dan kelompok.1
Otot merupakan spesialis kontraksi pada tubuh. Kontraksi otot rangka menyebabkan
tulang tempat otot tersebut melekat bergerak, yang memungkinkan tubuh melaksanakan
berbagai aktivitas motorik. Kontraksi otot terjadi akibat suatu potensial aksi yang berjalan
di sepanjang sebuah saraf motorik sampai ke ujungnya pada serabut otot. Secara umum,
mekanisme kontraksi otot berkaitan dengan pergeseran aktin dan miosin. Asetilkolin yang
dikeluarkan dari ujung terminal neuron motorik mengawali potensial aksi di sel otot yang
merambat ke seluruh permukaan tubuh. Pelepasan potensial aksi ke tubulus.T
mencetuskan pelepasan simpanan Ca++ dari kantung lateral retikulum sarkoplasma. Ca ++
berikatan dengan Troponin. Troponin-Tropomiosin tergeser ke samping dan membuka
tempat pengikatan jembatan silang aktin. Terjadi pengikatan jembatan silang ke molekul
aktin. Penekukan jembatan silang menghasilkan suatu gerakan mengayun yang kuat yang
menarik filamen tipis ke arah dalam. Setelahnya maka terjadilah kontraksi otot. Proses
kontraksi

dihentikan

ketika

asetilkolinesterase

menyingkirkan

ACh

dari

taut

neuromuskulus, yang menyebabkan potensial aksi di serat otot berhenti. Apabila tidak ada
lagi potensial aksi lokal yang mencetuskan pengeluaran Ca ++, aktifitas pompa Ca++
reticulum sarkoplasma akan mengembalikan Ca++ ke kantung lateral. Pembersihan Ca++
sitosolik ini memungkinkan kompleks troponin-tropomiosin bergeser kembali ke posisi
menghambatnya sehingga miosin dan aktin tidak lagi dapat berikatan di jembatan silang.
Untuk berkontraksi otot memerlukan energi berupa ATP.2
Untuk menambah kekuatan otot, seseorang dapat melakukan latihan yang rutin.
Latihan yang dilakukan seseorang bertujuan untuk mempertahankan daya ledak otot,

mengurangi kelelahan, dan membentuk adaptasi otot. Latihan beban meliputi beberapa
macam jenis alat yaitu : dumbell, barbell, mesin pembakar kalori atau dapat juga dengan
sit up dan push up.3
Berbagai jenis latihan menghasilkan pola lepas muatan neuron yang berbeda-beda ke
otot yang bersangkutan. Perubahan adaptif jangka panjang yang terjadi pada serat otot,
memungkinkan otot berespons dengan cara yang paling efisien terhadap berbagai jenis
tuntutan yang dikenakan kepadanya. Terdapat dua jenis perubahan yang dapat diinduksi
didalam serat otot : perubahan kapasitas dalam mensintesis ATP dan perubahan garis
tengah.2
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari kinerja kinetik otot dan kelelahan
otot pada manusia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan fisiologi otot rangka


Otot rangka adalah sekelompok serat otot yang disatukan oleh jaringan ikat dan
melekat pada tulang melalui tendon.2 Setiap serabut otot mengandung beberapa ratus
sampai beberapa ribu miofibril. Setiap miofibril tersusun oleh filamen myosin dan
filamen aktin yang merupakan molekul protein polimer besar yang bertanggung jawab
untuk kontraksi sesungguhnya.1
Melalui kontraksi dan relaksasi, jaringan otot rangka menjalankan 4 fungsi utama,
yaitu:4
a. Pergerakan tubuh.
Pergerakan tubuh secara keseluruhan seperti berjalan dan berlari ataupun
pergerakan yang terlokalisasi seperti mengangguk kepala merupakan hasil dari
kontraksi otot yang bergantung pada fungsi yang terintegrasi antara otot skeletal,
tulang, dan sendi.
b. Stabilisasi posisi tubuh
Kontraksi otot rangka menstabilisasi sendi dan membantu mempertahankan posisi
tubuh seperti berdiri atau duduk.
c. Produksi panas
Kontraksi otot rangka memproduksi panas melalui proses thermogenesis.
Otot rangka mempunyai 4 ciri khas yang berfungsi dan berkontribusi dalam
homeostatis, diantaranya:4
a. Dapat dieksitabilitasi secara elektris.
Kemampuan otot untuk merespon terhadap stimulasi tertentu yang dihasilkan oleh
potensial aksi.
b. Kontraktilitas
Kemampuan otot untuk berkontraksi dengan kekuatan maksimal ketika
distimulasi oleh potensial aksi.
c. Ekstentisibilitas.
Kemampuan otot rangka untuk meregang tanpa mengalami kerusakan.
d. Elastisitas.
Kemampuan jaringan otot untuk kembali ke panjang dan bentuk mula-mula
setelah kontraksi atau ekstensi.
2.2 Kontraksi Otot Rangka
2.2.1 Mekanisme kontraksi otot rangka
Timbul dan berakhirnya kontraksi otot terjadi dalam urtan tahap-tahap berikut:1

a. Suatu potensial aksi berjalan disepanjang sebuah saraf motorik sampai ke


ujungnya pada serabut otot.
b. Di setiap ujung, saraf menyekresi asetilkolin dalam jumlah sedikit.
c. Asetilkolin bekerja pada area setempat pada membran serabut otot untuk
membuka banyak kanal begerbang asetilkolin melalui molekul-molekul
protein yang terapung pada membran.
d. Terbukanya kanal memungkinkan sejumlah besar ion natrium untuk masuk
dalam membran serabut otot. Peristiwa ini akan menimbulkan suatu potensial
aksi pada membran.
e. Potensial aksi akan berjalan di sepanjang membran serabut otot dan
menimbulkan depolarisasi membran otot. Aliran listrik potensial aksi mengalir
malalui pusat serabut otot menyebabkan retikulum sarkoplasma melepaskan
sejumlah besar ion kalsium, yang telah tersimpan di dalam retikulum ini.
f. Ion-ion kalsium menimbulkan kekuatan menarik antara filamen aktin dan
miosin, yang menyebabkan kedua filamen tersebut bergeser satu sama lain,
dan menghasilkan proses kontraksi.
g. Setelah kurang dari 1 detik, ion klsium dipompa kembali ke dalam retikulum
sarkoplasma oleh pompa membran Ca++ , dan ion-ion ini tetap disimpan dalam
retikulum sampai potensial aksi otot yang baru datang; pengeluaran ion
kalsium dari miofibril akan menyebabkan kontraksi otot terhenti.
2.2.2

Kedutan otot
Respon sebuah motor unit terhadap satu potensial aksi pada motor neuronnya
disebut sebagai kedutan otot (muscle twitch). Serat-serat otot akan berkontraksi
secara cepat kemudian berelaksasi. Setiap kedutan terdiri atas 3 fase,
diantaranya:5

a. Periode laten
Periode laten merupakan beberapa milidetik mula-mula yang mengikuti
stimulasi ketika terjadi hubungan eksitasi-kontraksi (excitation-contraction
coupling). Selama periode ini, tegangan otot (muscle tension) mulai meningkat
tetapi tidak ada respon yang dapat dilihat di miogram.
b. Periode kontraksi
Disebut sebagai periode kontraksi ketika cross bridge sudah aktif, dari mulai
berkembangnya tegangan otot sampai tegangan maksimal (puncak garis
miogram).
c. Periode relaksasi

Periode relaksasi dimulai setelah periode kontraksi berakhir. Karena kontraksi


tidak lagi dihasilkan, tegangan otot akan menurun hingga mencapai angka nol.

Gambar 2.1 Grafik periode pada kedutan otot


2.2.3

Jenis kontraksi otot rangka


Kontraksi otot rangka dapat dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya:6
a. Kontraksi isometric
Kontraksi yang terjadi tanpa pemendekan yang berarti diseluruh berkas otot
(dengan ukuran / panjang yang sama). Contohnya, ketika mempertahankan
sikap tubuh atau mendorong benda.
b. Kontraksi isotonic
Kontraksi melawan beban yang tetap, yang disertai pemendekan otot,
dinamakan kontraksi isotonik (tegangan yang sama). Contohnya, pada saat
mengangkat barbel.
Tabel 2.1 Jenis-jenis kontraksi7
Faktorfaktor

Jenis Kontraksi
Isometrik

deskriptif
dan definitif
Panjang otot tidak
agonis

ada memendek

Eksentrik

memanjang

perubahan yang

signifikan
Panjang otot tidak
antagonis

Isotonik
Konsentrik

ada memanjang

memendek

perubahan yang

signifikan
Arah sumbu berlawanan

berlawanan

searah

dengan

tubuh

dengan

gerakan

atau

sesuai

dengan gaya luar


Gerakan

Deskripsi

Penggunaan

(resistant)
tekanan,

dengan

gaya gravitasi/

gravitasi/

gaya luar lainnya

gaya

luar lainnya

tidak menghasilkan

mengontrol

menghasilkan

gerakan

gerakan

gerakan
statis, fiksasi

terjadi

terjadi

pemendekan,

pemanjangan,

gaya = resistensi

kerja positif
gaya > resistensi

kerja negatif
gaya < resistensi

tidak ada

percepatan

penurunan

otot (gaya vs
resistensi)
Percepatan
Aplikasi

melawan

meningkat
gaya menginisisasi

percepatan
memperlambat/

luar agar tidak pergerakan/

menghentikan

terjadi

memepercepat

pergerakan

pergerakan

pergerakan

2.2.4 Kekuatan kontraksi otot rangka


Kekuatan kontraksi otot rangka dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya:5
a. Jumlah serat otot yang distimulasi
Semakin banyak motor unit yang direkrut, semakin besar kekuatan kontraksi.
b. Ukuran serat otot
Semakin besar ukuran serat otot, semakin besar kekuatan kontraksi.
c. Frekuensi stimulasi
Pada saat sebuah otot distimulasi secara cepat, terjadi sumasi kontraksi,
sehingga kekuatan kontraksi yang dihasilkan menjadi lebih besar.
d. Tingkat keregangan otot (panjang otot)
Panjang optimal untuk serat otot adalah panjang dimana otot-otot tersebut
dapat menghasilkan kekuatan maksimum. Dalam satu sarkomer, hubungan
antara panjang dan tegangan otot yang ideal terjadi ketika otot sedikit
meregang dan filamen tipis dan tebal bertumpang tindih secara optimal, karena
hal ini akan membuat pergeserannya dapat mencapai hampir keseluruhan
panjang dari filamen tipis.5 Panjang otot yang bertepatan dengan tegangan
aktif maksimal biasanya disebut dengan panjang istirahat. Ketika serabut

berkontraksi secara isometrik, tegangan yang timbul sebanding dengan jumlah


ikatan silang yang terbentuk diantara molekul aktin dan myosin. Jika otot
diregang, tumpang-tindih antara aktin dan myosin berkurang, dan karena itu
jumlah ikatan silang akan berkurang. Sebaliknya, jika otot jauh lebih pendek
daripada panjang istirahat, jarak yang dapat ditempuh oleh filamen tipis akan
berkurang.6

Gambar 2.2 Grafik tingkat keregangan otot


2.2.5

Kecepatan dan durasi kontraksi


Kecepatan kontraksi dan berapa lama suatu otot dapat berkontraksi sebelum
terjadi kelelahan otot bervariasi. Hal ini dipengaruhi oleh jenis serat otot, beban
dan rekrutmennya.5
Ada beberapa cara untuk mengklasifikasi serat otot, tetapi secara umum serat
otot dibagi berdasarkan 2 jenis karakteristik fungsional pada otot, yaitu:5
a. Kecepatan kontraksi. Berdasarkan kecepatan pemendekan atau kontraksi,
terdapat serat otot lambat (slow fibers) dan serat otot cepat (fast fibers).
Perbedaan kecepatannya mencerminkan seberapa cepat ATPase myosin
memecah ATP dan pola aktivitas elektris pada motor neuronnya.
b. Jalur pembentukan ATP. Sel-sel yang paling banyak bergantung pada jalur a
(menggunakan oksigen) untuk pembentukan ATP adalah serat-serat otot
oksidatif, sedangkan sel yang lebih banyak bergantung pada glikolisis
anaerobik adalah serat-serat otot glikolitik.
Tabel 2.2 Karakteristik dari 3 jenis serat otot rangka1
Serat

Oksidatif Serat

Serat

Lambat

Oksidatif-

Glikolitik

Glikolitik

Cepat

Cepat
Karakteristik struktural
Diameter serat Kecil
Mioglobin
Banyak
Mitokondria
Banyak
Kapiler
Banyak
Warna
Merah
Karakteristik fungsional
Kapasitas ATP tinggi (aerobik)

sedang
banyak
banyak
banyak
merah muda

besar
sedikit
sedikit
sedikit
Putih

sedang

rendah

(anaerobik dan (anaerobik)


Kecepatan

Lambat

aerobik)
Cepat

cepat

kontraksi
Ketahanan otot
Keratin kinase
Glikogen
Urutan

Tinggi
Sedikit
Rendah
Pertama

sedang
sedang
sedang
Kedua

Rendah
Banyak
Tinggi
Ketiga

rekrutment
Banyak

otot-otot postural

otot

otot

ekstremitas

ekstremitas

terdapat pada
Fungsi utama

memepertahanka

bawah
atas
untuk berjalan untuk

n potur tubuh dan dan sprinting

pergerakan

aktivitas aerobik

yang

cepat

dalam durasi
yang pendek
Otot berkontraksi paling cepat apabila tidak ada beban. Semakin besar beban,
semakin lama periode laten, semakin lambat kontraksi, dan semakin cepat durasi
kontraksinya. Jika beban melebihi tegangan maksimum otot, kecepatan
pemendekan sama dengan nol dan kontraksi yang terjadi adalah kontraksi
isometrik.5
2.3 Metabolisme otot2
Kontraksi otot bergantung pada energi yang disediakan oleh ATP. Sebagian energi
ini dibutuhkan untuk menjalankan walk-along mecanism ketika jembatan silang
menarik filamen-filamen tetapi sejumlah kecil energi untuk : 1) memompa ion kalsium

dari sarkoplasma ke dalam reticulum sarkoplasma setelah kontraksi berakhir dan 2)


memompa ion-ion natrium dan kalium melalui membran serabut otot untuk
mempertahankan lingkungan ion yang cocok untuk pembentukkan potensial aksi
serabut otot.
Konsentrasi ATP didalam serabut otot, kira-kira 4 mmol, cukup untuk
mempertahankan kontraksi penuh hanya selama 1 sampai 2 detik. ATP tersebut dipecah
untuk membentuk ADP, yang memindahkan energi dari molekul ATP keperangkat
kontraksi serabut otot.

ADP mengalami refosforilasi untuk membentuk ATP baru

dalam sepersekian detik lagi, yang membiarkan otot melanjutkan kontraksi terdapat
beberapa sumber energi untuk proses refosforilasi ini.
Sumber energi pertama yang digunakan untuk menyusun kembali ATP adalah
substansi keratin fosfat yang membawa ikatan fosfat berenergi tinggi yang serupa
dengan ikatan ATP. Ikatan fosfat berenergi tinggi dari keratin fosfat memiliki jumlah
energi bebas yang sedikit lebih tinggi dari pada yang dimiliki oleh setiap ikatan ATP.
Karena itu, keratin fosfat segera dipecahkan, dan pelepasan energi menyebabkan
terikatnya sebuah ion fosfat baru pada ADP untuk menyusun kembali ATP. Namun,
jumlah total keratin fosfat pada serabut otot sangat kecil, hanya sekitar 5 kali lebih
besar dari pada jumlah ATP. Karena itu, kombinasi energi dari ATP cadangan, dan
keratin fosfat di dalam otot dapat menimbulkan kontraksi otot maksimal hanya untuk 5
sampai 8 detik.
Sumber energi penting kedua, yang digunakan untuk menyusun kembali keratin
fosfat dan ATP, adalah glikolisis dari glikogen yang sebelumnya tersimpan dalam sel
otot. Pemecahan glikogen secara enzimatik menjadi asam piruvat dan asam laktat yang
berlangsung akan membebaskan energi yang digunakan untuk mengubah ADP menjadi
ATP. ATP kemudian dapat digunakan secara langsung untuk memberi energi untuk
kontraksi otot tambahan dan juga untuk membentuk kembali simpanan keratin fosfat.
Dua makna penting dari mekanisme glikolisis adalah pertama, reaksi glikolisis ini
dapat terjadi bahkan tidak ada oksigen, sehingga kontraksi otot dapat tetap
dipertahankan untuk berdetik-detik dan kadang lebih dari 1 menit, bahkan bila oksigen
yang dihantarkan lewat darah tidak tersedia. Kedua, kecepatan pembentukkan ATP oleh
proses glikolisis kira-kira 2,5 kali kecepatan pembentukkan ATP sebagai tanggapan dari
zat makanan sel yang bereaksi dengan oksigen. Namun, begitu banyak produk akhir
dari glikolisis akan berkumpul dalam sel otot sehingga glikolisis juga kehilangan
kemampuannya untuk mempertahankan kontraksi otot maksimum setelah sekitar 1
menit.

Sumber energi ketiga sekaligus terakhir adalah metabolisme oksidatif. Hal ini
berarti mengkombinasikan oksigen dengan produk akhir glikolisis dan berbagai zat
makanan sel untuk membebaskan ATP. Lebih dari 90% energi yang digunakan oleh otot
untuk kontraksi jangka panjang yang berkesinambungan yangg berasal dari sumber ini.
Zat makanan yang dikonsumsi adalah kabohidrat, lemak, dan proein. Untuk aktivitas
yang berlangsung sangat lama-lebuh dari berjam-jam-proporsi energi yang terbesar
berasal dari lemak, tatpi untuk periode kontraksi selama 2 samapai 4 jam, separuh dari
energinya dapat berasal dari karbohidrat.
2.4 Kekuatan, daya, dan ketahanan otot
Kekuatan otot merupakan kondisi fisik yang sangat penting diperlukan dan
merupakan salah satu kualitas fisik terpenting yang betul-betul berpengaruh besar pada
kecepatan pelaksanaan gerak serta kegiatan yang memerlukan stamina dan kemampuan
dalam meningkatkan prestasi. Kekuatan adalah kemampuam kondisi fisik seseorang
dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja. Kekuatan otot
adalah kemampuan otot-otot atau sekelompok otot untuk mengatasi suatu beban atau
tahanan dalam menjalankan suatu aktivitas.2
Ada dua faktor penentu kekuatan otot. Pertama adalah hubungan tegangan
panjangnya yang didasarkan pada interaksi serabut-serabut aktin (filamen bagian gelap)
dan miosin (filamen bagian terang) yang mikroskopis. Kedua adalah biomekanika dari
sistem muskuloskeletal.2
Faktor fisiologis yang dapat mempengaruhi kekuatan otot adalah faktor usia, jenis
kelamin dan suhu. Faktor-faktor yang menentukan baik atau tidaknya kekuatan atlet
diantaranya tergantung pada besar kecilnya fibril atau proses hypertopy dan tergantung
pula pada banyaknya fibril yang ikut serta dalam melawan beban serta tonus otot,
bentuk rangka tubuh (makin besar rangka tubuh makin baik), faktor umur juga ikut
menentukan, bagi atlit yang usianya tua makin lemah pula kekuatannya, dan psikis dari
luar atau dalam.2
Dalam batasan-batasan di atas dapat dikatakan bahwa kekuatan atau strength itu
menyangkut fungsi otot atau sekelompok otot yang berkontraksi dengan kualitas
maksimum yang dilakukan dalam waktu relatif singkat. Kebanyakan jaringan dalam
tubuh terdiri dari satuan-satuan sel hidup yang susunannya disesuaikan dengan fungsi
jaringan tertentu. Dalam hal ini otot rangka mempunyai sifat khusus, yaitu satuan sel
dalam jaringan disebut serabut otot. 2
Kerja otot pada suatu penampilan olahraga adalah hasil dari berbagai kerja otot
yang terkoordinasi untuk menghasilkan gerakan yang di kehendaki. Proses ini sangat

tergantung pada kemampuan sistem saraf untuk menyusun dan mengurutkan kegiatan
banyak otot rangka secara efisien.2
Kekuatan sebuah otot ditentukan terutama oleh ukurannya dengan suatu daya
kontraktillitas maksimum antara 3 dan 4 kg/cm 2 pada suatu daerah potongan otot.
Kekuatan yang mempertahankan otot kira-kira 40% lebih besar dari kekuatan kontraksi.
Daya kontraksi otot merupakan suatu pengukuran dari jumlah total kerja yang
dilakukan oleh otot dalam satu satuan waktu. Oleh karena itu, daya ditentukan tidak
hanya oleh kekuatan kontraksi otot tetapi juga oleh jarak kontraksi otot dan jumlah otot
yang berkontraksi setiap menit.5
Kekuatan dibutuhkan agar otot mampu membangkitkan tenaga terhadap suatu
tahanan. Sedangkan daya tahan diperlukan untuk bekerja dalam durasi yang panjang.
Daya tahan otot sendiri merupakan perpaduan antara kekuatan dan daya tahan. Daya
tahan fisik menghasilkan perubahan-perubahan fisiologi dan biokimia pada otot,
sehingga daya tahan secara umum bermanifestasi melalui daya tahan otot.5
Daya tahan otot adalah kemampuan otot rangka atau sekelompok otot untuk
meneruskan kontraksi pada periode atau jangka waktu yang lama dan mampu pulih
dengan cepat setelah lelah. Kemampuan tersebut dapat diperoleh melalui metabolisme
aerob maupun anaerob. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat daya tahan
otot, antara lain:8
a. Aktivitas Fisik
Kekuatan dan ketahanan otot yang sudah dicapai dapat dipertahankan dengan
latihan 1 kali seminggu. Setahun tanpa latihan 45 persen kekuatan masih dapat
dipertahankan. Sedangkan bed rest selama 12 minggu dapat menurunkan kekuatan
otot sebesar 40 persen. Namun demikian, istirahat yang cukup setiap malam
dibutuhkan untuk mempertahankan tingkat daya tahan otot.
b. Kualitas Otot
Tiap unit mikroskopis otot mempengaruhi kontraksi otot yang ditimbulkan.
Dengan kontraksi optimal otot akan dapat beraktivitas lebih lama dibandingkan
dengan ketika berkontraksi secara maksimal.
c. Kontraksi Otot
Kontraksi berturut-turut secara maksimum akan mengurangi cadangan sumber
energi dalam otot. Lama-kelamaan hal tersebut menyebabkan kemampuan kontraksi
otot menurun.
d. Vascularisasi dan Inervasi

Vascularisasi berfungsi menyalurkan oksigen dan nutrisi untuk metabolisme


penghasil energi.

Semakin banyak pasokan oksigen dan nutrisi, akan semakin

banyak energi yang dihasilkan, sehingga otot dapat beraktivitas lebih lama.
Rangsang diterima saraf sensorik, lalu dijalarkan ke pusat, kemudian ke saraf
motorik untuk menggerakkan otot. Selama saraf masih mampu menghantarkan
impuls, otot akan tetap mampu bergerak ketika ada rangsang.
e. Kekuatan Otot
Kombinasi antara kekuatan dan daya tahan akan menghasilkandaya tahan otot.
Tingkat kekuatan otot berbanding lurus dengan tingkat ketahanan otot. Atlet dengan
bench-press maksimal 200 pon akan dapat melakukan pengulangan lebih banyak
dengan beban 100 pon daripada atlet dengan bench-press maksimal 150 pon.
f. Cadangan Glikogen dan Nutrisi
Waktu untuk menuju kelelahan salah satunya ditentukan oleh seberapa banyak
cadangan glikogen yang masih mampu diubah menjadi glukosa. Pada akhirnya,
glukosa digunakan sebagai energy untuk melakukan aktivitas.
Cadangan glikogen sebagian besar bergantung pada dukungan nutrisi yang
tepat. Diet tinggi karbohidrat akan memberikan lebih banyak cadangan dalam otot
dibanding diet campuran maupun tinggi lemak.
g. Berat badan
Berat badan yang rendah dapat menunjukkan massa otot yang rendah. Dengan
demikian, metabolisme penghasil energi di otot akan lebih sedikit. Hal ini
menyebabkan jumlah cadangan energi untuk aktivitas menjadi lebih kecil.
h. Usia
Pada orang-orang terlatih, ketahanan otot akan terus meningkat dan mencapai
ketahanan otot maksimal di usia 20 tahun. Setelah itu, tingkat ketahanan otot akan
menetap 3-5 tahun yang kemudian akan berangsur-angsur turun.
i. Jenis Kelamin
Kekuatan otot perempuan kira-kira 2 per 3 laki-laki. Selain itu, otot perempuan
lebih kecil daripada otot laki-laki. Saat awal pubertas, testosteron akan
meningkatkan massa otot, sedangkan estrogen cenderung menambah jaringan lemak.
Sehingga secara umum daya tahan otot perempuan lebih rendah dari laki-laki.
Sebagian besar otot terdiri dari campuran jenis serat yang secara metabolisme
berbeda-beda, sebagian lebih resisten terhadap kelelahan dibandingkan dengan yang

lain. Aktivitas jenis endurance (lebih mengutamakan daya tahan) yang lemah atau
sedang, unit-unit motorik yang lebih resisten terhadap kelelahan lebih dahulu direkrut.
Rekrutmen ini bertujuan untuk menunda atau mencegah kelelahan (fatigue,
ketidakmampuan mempertahankan ketegangan otot pada tingkat tertentu) selama
kontraksi menetap yang hanya melibatkan sebagian unit motirik otot, seperti yang
diperlukan oleh otot-otot yang menunjang gerak tubuh trerhadap gaya tarik bumi,
rekrutmen ini disebut rekrutmen unit motorik asinkron. Untuk aktivitas jenis endurance
ini, serat-serat yang paling akhir direkrut untuk memenuhi kebutuhan peningkatan
ketegangan otot adalah serat-serat yang cepat lelah. Dengan demikian individu dapat
melakukan aktivitas jenis daya tahan untuk waktu yang lama tetapi hanya dapat
mempertahankan gerakan tiba-tiba yang menguras tenaga dalam waktu singkat. Seratserat otot yang paling tahan pada akhirnya juga akan mengalami kelelahan jika
digunakan untuk mempertahankan tegangan yang terus-menerus dalam tingkat
tertentu.2
2.5 Kelelahan Otot2
Kelelahan otot adalah suatu kondisi dimana terjadi inabilitas fisiologis untuk
berkontraksi walaupun otot masih bisa menerima stimulus. Ketegangan otot menurun
seiring dengan timbulnya kelelahan. Faktor-faktor yang berperan dalam kelelahan otot
adalah penimbunan asam laktat, yang mungkin menghambat enzim-enzim kunci pada
jalur-jalur penghasil energi atau proses penggabungan eksitasi-kontraksi, dan habisnya
cadangan energi. Waktu timbulnya kelelahan berbeda-beda sesuai dengan jenis serat
otot, sebagian serat lebih tahan terhadap kelelahan dibandingkan serat lain, dan
intensitas olahraga, yakni aktivitas yang berintensitas tinggi lebih cepat menimbulkan
kelelahan.
Terdapat keterbatasan-keterbatasan kardiovaskuler mengenai jumlah O2 yang dapat
disalurkan ke otot. Pada saat kontraksi mendekati maksimum, pembuluh darah yang
terdapat di otot hampir tertutup oleh kontraksi yang sangat kuat, sehingga penyaluran
O2 ke serat otot sangat terganggu. Selain itu, bahkan walaupun O 2 tersedia, system
fosforilasi oksidatif yang relative lambat tidak mampu menghasilkan ATP dengan
cukup cepat untuk memenuhi kebutuhan otot selama aktivitas yang intensif. Jika
penyaluran O2 atau fosforilasi oksidatif tidak dapat mengimbangi kebutuhan ATP
seiring dengan peningkatan aktivitas olahraga, serat-serat otot semakin mengndalkan
glikolisis untuk menghasilkan ATP. Reaksi-reaksi kimia pada glikolisis menghasilkan

produk-prosuk yang akhirnya masuk ke jalur fosforilasi oksidatif, tetapi glikolisis juga
dapat terus berjalan sendiri walaupun produk-produknya tidak dioleh lebih lanjut oleh
fosforilasi oksidatif. Pada glikolisis semua molekul glukosa diuraikan menjadi dua
molekul asam piruvat, yang menghasilkan 2 ATP selama proses berlangsung. Asam
piruvat dapat diuraikan leih lanjut oleh fosforilasi oksidatif untuk mendapatkan lebih
banyak energy. Namun, glikolisis sendiri memiliki 2 keunggulan diabanding dengan
jalur fosforilasi oksidatif :
1. Glikolisis dapat membentuk ATP pada keadaan anaerob
2. Glikolisis dapat berjalan lebih cepat daripada fosforilasi oksidatif, karena
memerlukan lebih sedikit langkah reaksi.
Walaupun glikolisis mengekstraksi lebih sedikit molekul ATP dari semua molekul
nutrient yang diolahnya, proses ini dapat mengalahkan produksi fosforilasi oksidatif
dalam periode waktu tertentu apabila cukup tersedia glukosa.
Walaupun glikolisis anaerobic memungkinkan kita melakukan olahraga intensif
tanpa penyaluran O2 kapasitas fosforilasi oksidatif terlampaui, penggunaan jalur ini
memiliki 2 konsekuensi. Pertama, sejumlah besar nutrient harus diolah karena glikolisis
sangat kurang efisien dibandingkan dengan fosforilasi oksidatif dalam mengubah
energy makanan menjadi energi ATP. (glikolisis menghasilkan netto 2 molekul ATP
permolekul glukosa yang diolahnya, sedangkan fosforilasi oksidatif dapat mengekstrasi
36 molekul ATP dari setiap molekul glukosa). Sel-sel otot mampu menyimpan glukosa
dalam jumlah terbatas dalam bentuk glikogen, tetapi glikolisis anaerobic dengan cepat
menghabiskan simpanan glikogen otot. Kedua, produk akhir glikolisis anaerobic, yakni
asam piruvat, diubah menjadi asam laktat ketika asam piruvat tidak dapat asam piruvat
tidak dapat dioleh lebih lanjut memalui jalur fosforilasi oksidatif. Penimbunan asam
laktat menyebabkan nyeri otot yang timbil ketika olahraga intensif sedang berlangsung.
Namun, nyeri dan kekakuan otot yang mulai timbul sehari setelah penggunaan
otot/olahraga yang tidak biasa mungkin disebabkan oleh kerusakan struktural yang
reversible). Selain itu asam laktat yang diserap oleh darah merupakan penebab asidosis
metabolic yang menyertai olahraga berat. Habisnya simpanan energy dan penurunan
pH otot yang disebabkan oleh penimbunan asam laktat diperkirakan berperan
menimbulkan kelelaha otot.
Aktivitas kontraktil di otot tertentu tidak dapat dipertahankan pada tingkat yang
telah ditentukan selamanya. Pada akhirnya, ketegangan otot menurun seiring dengan

timbulnya kelelahan. Tampaknya terdapat 3 jenis kelelahan : kelelahan otot, kelelahan


neuromuskulus, dan kelelahan sentral.
Kelelahan otot terjadi apabila otot yang berolahraga tidak lagi dapat berespons
terhadap rangsangan dengan tingkat aktivitas kontraktil yang setara. Penyebab
mendasar kelelahan otot belum jelas. Faktor-faktor yang diperkirakan terutama
berperan adalah:
1. Penimbunan asam laktat yang mungkin menghambat enzim-enzim kunci pada jalurjalur penghasil energy atau proses penggabungan eksitasi-kontraksi.
2. Habisnya cadangan energi
Waktu timbulnya kelelahan berbeda-beda sesuai dengan jenis serat otot, sebagian
serat lebih tahan terhadap kelelahan dibandingkan dengan serat yang lain, dan intensitas
olahraga, yakni, aktivitas yang berintensitas tinggi cepat menimbulkan kelahan.
Bukti-bukti yang ada mengisyaratkan bahwa faktor pembatas pada aktivitas yang
kuat dan cepat mungkin terletak di taut neuromuskulus. Pada kelelahan neuromuskulus,
neuron motorik aktif tidak mampu mensintesis asetilkolin dengan cukup cepat untuk
mempertahankan transmisi kimiawi potensial aksi dari neuron motorik ke otot.
Kelelahan sentral, yang juga dikenal sebagai kelelahan psikologis, terjadi jika SSP
tidak lagi secara adekuat mengaktifkan neuron motorik yang mempersarafi otot yang
bekerja. Individu memperlambat atau menghentikan olahraganya walaupun ototototnya masih mampu bekerja. Selama olahraga berat, kelelahan sentral mungkin
berakar pada rasa tidak nyaman yang berkaitan dengan aktivitas. Diperlukan motivasi
kuat untuk secara sengaja bertahan walaupun terasa nyeri. pada aktivitas yang kurang
berat, kelelahan sentral mungkin menyebakan penurunan kinerja fisik berkaitan dengan
kebosanan atau kemonotonan atau keletihan (kurang tidur). Mekanisme yang berperan
dalam kelelahan sentral belum dipahami dengan jelas.
2.6 Pengaruh Latihan Fisik Terhadap Kerja Otot Rangka1
Garis besar penilaian kemampuan kerja otot adalah kekuatan maksimumnya (yaitu
kemampuan maksimum otot menghasilkan gaya pada satu kontraksi otot), yang disebut
juga muscle strength dan daya tahan otot dalam mempertahankan kontraksi (atau kerja
otot) yang disebut sebagai muscle endurance. Pada latihan otot, prinsip latihan yang
sangat penting adalah Progressive overload principle. Maksud prinsip ini adalah agar
otot dapat meningkat kekuatannya harus diberi beban kerja di atas beban kerja yang
biasa dilakukan oleh otot tersebut, dan selanjutnya setelah otot tersebut menjadi lebih

kuat maka beban yang diberikan harus lebih tinggi lagi untuk menghasilkan
kemampuan yang lebih meningkat.
Dengan menerapkan programlatihan yang memperhatikan prinsip ini, maka otot
senantiasa akan memperoleh rangsang yang memungkinkannya berubah, atau dengan
kata lain mengalami adaptasi latihan.
Otot rangka memperlihatkan kemampuan berubah atau plastisitas yang besar dalam
memberi respon terhadap berbagai bentuk perlatihan. Plastisitas ini berupa adaptasi
aktivitas kontraksi yang berbeda akibat bentuk latihan yang berbeda, yang dalam hal ini
adalah latihan kekuatan (strength) dan daya tahan (endurance).Di tingkat seluler,
adaptasi latihan dapat terlihat sebagai akumulasi sejumlah protein yang penyebab
utamanya adalah perubahan ekspresi gen. Di tingkat organ, perbedaan ini tampak
sebagai otot rangka yang berbeda karakteristiknya.
Dalam suatu latihan otot, beban kerja diberikan dalam bentuk massa yang harus
dilawan atau dipindahkan oleh gaya kontraksi otot. Dengan memperhatikan besar beban
(resistance/intensity) dan ulangan kontraksi otot (repetitions), pembebanan terhadap
otot dapat diatur.Secara umum, peningkatan kekuatan otot dapat dicapai dengan latihan
beban besar untuk kurang dari 6 kontraksi otot (higher resistances(high intensity) and
lower repetitions) sedangkan daya tahan otot meningkat pada latihan beban ringan
untuk kontraksi otot lebih dari 20 kali (lower resistances andhigher repetitions).
Perhatikan bahwa setiap jenis latihan tersebut merupakan rangsang yang sifatnya
spesifik yang akan menghasilkan suatu bentuk adaptasi otot yang juga bersifat spesifik.
Sifat spesifik dari perangsangan ini juga berlaku khusus pada otot/kelompok otot yang
diaktifkan sehingga analisis kerja otot khususnya otot penggerak utama (prime
mover) pada berbagai bentuk latihan harus diperhatikan agar latihan otot dapat
mencapai tujuan.
Pada suatu latihan kekuatan otot, peningkatan kekuatan otot awalnya disebabkan
oleh perbaikan kontrol sistem saraf motorik seperti penyelarasan rekrutmen motor unit,
penurunan penghambatan autogen Golgi tendon organ, koaktivasi otot agonis dan
antagonis serta frekuensi impuls motorik yang menuju motor unit. Perubahan struktur
dapat terjadi sebagai akibat latihan kekuatan, baik di neuromuscularjunction maupun di
serat otot.Pembesaran otot, atau disebut juga hipertrofi otot dapat terjadi sebagai akibat
dari latihan kekuatan otot.Pada otot yang hipertrofi terjadi peningkatan jumlah
miofibril, filamen aktin dan miosin, sarkoplasma, serta jaringan penunjang lainnya.
Peningkatan pembentukan protein yang dipengaruhi oleh testosteron diduga sebagai

faktor yang mempengaruhi perubahan ini Akibat latihan daya tahan, otot juga akan
mengalami sedikit hipertrofi namun adaptasi terbesar terjadi pada proses biokimiawi di
dalam otot. Mitokondria otot meningkat jumlahnya, disertai peningkatan jumlah dan
aktivitas enzim oksidatif yang ditunjang oleh perubahan struktur lain yang menunjang
peningkatan kerja otot seperti peningkatan mikrosirkulasi otot. Penelitian selanjutnya
memperlihatkan bahwa otot yang terlatih daya tahannya (endurance-trained) dapat
lebih efektif menggunakan trigliserida, glukosa dan asam lemak bebas sebagai sumber
energy sedemikian rupa sehingga sumber energi utama otot tersebut pada waktu
exercise.
Berbagai jenis latihan menghasilkan pola lepas muatan neuron yang berbeda-beda
ke otot yang bersangkutan. Bergantung pola aktifitas saraf, perubahan adaptif jangka
panjang terjadi pada serat otot, memungkinkan otot berespons dengan cara yang paling
efisien terhadap berbagai jenis tuntutan yang dikenakan kepadanya. Terdapat 2 jenis
perubahan yang dapat diinduksi di dalam serat otot:perubahan kapasitas dalam
mensintesis ATP dan garis tengah. Olahraga daya tahan (aerobic) yang teratur misalnya
lari (jogging) jarak jauh atau berenang, menginduksi perubahan metabolic di dalam
serat-serat oksidatif, yaitu serat-serat yang direkrut selama olahraga aerobic.perubahanperubahan tersebut memungkinkan otot-otot tersebut menggunakan O2 secara lebih
efisien. Sebagai contoh, mitokondria,organel yang mengandung enzim-enzim yang
berperan dalam jalur fosfolirasi oksidatif, meningkat jumlahnya di serat-serat oksidatif.
Selain itu, jumlah kapiler yang memperdarahi serat-serat ini juga meningkat.Otot-otot
yang telah beradaptasi demikian lebih mampu bertahan melakukan aktifitas
berkepanjangan

tanpa

mengalami

kelelahan,

tetapi

ukuran

mereka

tidak

berubah.Ukuran otot sebenarnya dapat ditingkatkan dengan olahraga berintensitas


tinggi, berdurasi singkat, anaerobic secara teratur, misalnya angkat beban.Pembesaran
otot yang terjadi terutama disebabkan oleh peningkatan garis tengah (hipertrofi) seratserat glikolotik-cepat yang direkrut selama otot berkontraksi kuat.Sebagian besar serat
menebal sebagai akibat peningkatan sintesis filament aktin dan myosin, yang
memungkinkan peningkatan kesempatan jembatan silang berinteraksi dan berikutnya,
meningkatkan kekuatan kontraktil otot.Otot-otot yang menonjol lebih beradaptasi
terhadap aktivitas-aktivitas yang memerlukan kekuatan untuk jangka pendek, tetapi
daya tahan (endurance) tidak meningkat.Selain itu, hiperpalsia (peningkatan jumlah sel
otot) diperkirakan sedikit berperan pada pembesaran otot.Sel-sel otot tidak mampu
membelah secara mitosis, tetapi bukti-bukti eksperimental mengisyaratkan bahwa serat

yang sangat membesar dapat terputus menjadi dua di tengahnya, sehingga terjadi
peningkatan jumlah serat.Perubahan-perubahan adaptif yang terjadi di otot rangka
secara bertahap dapat berbalik ke keadaan semula dalam periode beberapa bulan
apabila program latihan teratur yang menimbulkan perubahan itu dihentikan.
Pada keadaan ekstrim yang lain, jika suatu otot tidak digunakan, kandungan aktin
dan miosinnya akan berkurang, serat-seratnya menjadi lebih kecil, dan dengan
demikian otot berkurang massanya (atrofi) dan menjadi lebih lemah.
BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


a. Praktikum Muscle Performence ( Sit Up, Push up, dan Vertical Jump)
1) Pakaian olahraga
2) Matras
3) Marker
4) Meteran dari kertas yang ditempel di dinding.
5) Stop watch
b. Praktikum Pengukuran Beban Maksimum yang Dapat Ditahan oleh Otot Bisep
pada Berbagai Sudut Sendi
1) Karton berukuran 60 x 30 cm dengan gambar bisur derajat ( lihat gambar),
atau flaksometer.
2) Beban( dumbell) berbagai ukuran.

60
45

990
0

120
120

3.2 Cara kerja


a) Praktikum Muscle Performence ( Sit Up, Push up, dan Vertical Jump)
1.) Sit Up
a. Kaki ditahan agar tetap menempel di matras.
b. tekuk bagian lutut kaki hingga membentuk sudut 90 derajat.
c. Letakan tangan di belakang kepala, lalu angkat badan mendekati lutut,
setelah itu turunkan kembali.

d. Punggung harus kembali ke matras.


e. Gerakan tersebut diulangi hingga satu menit dan dicatat banyaknya sit up
untuk setiap propandus.
f. Data diolah dengan menggunakan aplikasi di internet.
2.) Push Up
Laki-laki
a. Letakkan tangan di lantai dengan posisi terbuka lebar. kaki bertumpu pada
ujung jari-jari kaki. hingga seluruh tubuh dapat ditopang dengan lurus dan
sempurna.
b. Turunkan bahu sampai membentuk siku 90 derajat.
c. Gumpalan tangan diletakkan di bawah dada kemudian bagian dada dan
bagian tubuh di atas digenjot naik turun.
d. Jumlah push up yang dapat dilakukan selama 1 menit dihitung dan
disajikan dalam tabel.
e. Data diolah dengan menggunakan aplikasi di internet.
Perempuan
a.
b.
c.
d.
e.

Lutut diletakkan di atas matras.


Posisi tungkai bawah diangkat kira-kira setinggi 450 dan disilangkan.
Pinggul dan punggung diluruskan.
Push up dilakukan dengan posisi bahu sama tingginya dengan siku.
Jumlah push up yang dapat dilakukan selama 1 menit dihitung dan
disajikan dalam tabel.

f. Data diolah dengan menggunakan aplikasi di internet.


3.) Vertical Jump
a. Propandus berdiri pada sisi dinding dengan tumit merapat ke dinding,
selanjutnya tangan diangkat hingga ekstensi maksimal dan diukur
jangkauan tangan maksimal propandus tersebut.
b. Probandus melompat setinggi mungkin.
c. Jangkauan lompatan propandus setelah melompat diukur.
d. Jangkauan lompatan dicatat pada tabel.
b) Praktikum Pengukuran Beban Maksimum yang Dapat Ditahan oleh Otot Bisep
pada Berbagai Sudut Sendi
1) Lengan orang percobaan diletakkan di depan karton atau fleksometer, dengan
lengan atas (bahu hingga siku) mendatar di permukaan alas.
2) Lengan bawah diangkat hingga siku fleksi setinggi 30o, berpatokan pada garis
di kertas atau penunjuk fleksometer.
3) Berat beban yang akan mampu ditahan oleh propandus pada posisi tersebut
diperkirakan.

4) Dumbell yang sesuai beratnya diletakkan pada telapak tangannya. OP harus


berusaha menahan beban tersebut sesuai dengan posisi/sudut awalnya.
5) Jika OP masih bisa menahan beban, sedikit demi sedikit beban ditambahkan
hingga ia tak lagi dapat menahan beban tersebut.
6) Langkah 1-4 diulangi untuk sudut selanjutnya, serta lengan yang lain.
7) Hasil Percobaan kemudian dimasukkan kedalam tabel untuk dilaporkan lebih
lanjut.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kekuatan Otot Bisep


Kekuatan kontraksi optimalnya ketika panjang otot sekitar 80-120% dari panjang
relaksasinya. Pada praktikum ini penghitungan beban maksimum ini, dilakukan
pengujian konsep bahwa perbedaan sudut sendi akan mengubah panjang otot sehingga

menyebabkan berat beban maksimum yang mampu ditahan oleh otot dalam beberapa
sudut yang berbeda akan bervariasi.
Tiga otot fleksor yang terpenting adalah m. biceps brachiii, m.brachialis,dan m.
brachioradialis. Telah diketahui bahwa jarak origo dan insersio otot ini terpanjang jika
lengan bawah dalam posisi supinasi, sehingga kapasitas fleksi otot ini menjadi maksimal
pada posisi tersebut.
Praktikum kali ini dilakukan dengan cara Praktikan mengangkat dumble dengan
posisi telapak tangan menghadap ke atas (supinasi) karena dengan cara ini otot-otot
fleksor bekerja secara maksimal.9
Kemudian dilihat beban maksimum yang dapat ditahan pada masing-masing tangan
kanan dan tangan kiri. Pada saat kita mengangkat beban, otot-otot yang bekerja antara
lain:7
Sendi

Saat Mengangkat (Posisi Fleksi)


Saat Menurunkan (Posisi Ekstensi)
Aksi
Agonis
Aksi
Agonis
Pergelangan Fleksi
Fleksor
Carpi Fleksi
Fleksor
Carpi
Tangan

Radialis
Fleksor

Siku

Fleksi

Radialis
Carpi

Fleksor

Carpi

Ulnaris

Ulnaris

Palmaris Longus

Palmaris Longus

Fleksor

Fleksor

Digitorum

Digitorum

Profundus

Profundus

Fleksor

Fleksor

Digitorum

Digitorum

Superficialis

Superficialis

Pollicis Longus

Pollicis Longus

Bicep Brachii

Ekstensi

Bicep Brachii

Brachialis

Brachialis

Brachioradialis

Brachioradialis

Pada praktikum ini, pengukuran beban maksimum yang dapat ditahan oleh otot
bisep pada beberapa sudut sendi dilakukan oleh 2 probandus, 1 laki-laki dan 1
perempuan. Berikut ini hasil pengukuran beban maksimum pada salah satu probandus

untuk memperlihatkan hasil dan gambaran grafik peningkatan tahanan otot pada sudut
200-900 dan penurunan tahanan otot pada sudut di atas 900.
1. wanita
Sudu

Beban

t (0)
20
45
60
90
120

kanan
5,5 kg
6,5 kg
7,5 kg
8,5 kg
9,5 kg

maksimum

lengan

Beban maksimum lengan kiri


6,5 kg
10,5 kg
11,5 kg
11,5 kg
11,5 kg

2. pria
Sudu

Beban

t (0)
20
45
60
90
120

kanan
6,5 kg
7,5 kg
8,5 kg
8,5 kg
8,5 kg

maksimum

lengan

Beban maksimum lengan kiri


7,5
10,5
10,5
10,5
10,5

Grafik

Hasil pada praktikum yang diperoleh terhadap kemampuan tahanan otot dengan
beban menunjukkan hasil paling bagus pada sudut 90 0. Dimana terjadi Peningkatan
ketahanan dari sudut 200 hingga 900. Kemudian pada sudut lebih dari 900 mulai terlihat

penurunan ketahanan otot terhadap beban khususnya otot biseps. Di bawah 90 0, di saat
posisi tangan sedang ekstensi s panjang otot yang dimiliki lebih renggang dan akibatnya
tumpang-tindih antara aktin dan myosin berkurang, dan karena itu jumlah ikatan silang
akan berkurang. Sebaliknya, pada sudut di atas 900, posisi tangan lebih fleksi, sehingga
menyebabkan otot memendek. Jika otot lebih pendek daripada panjang istirahat, jarak
yang dapat ditempuh oleh filamen tipis akan berkurang. Sehingga, peningkatan dan
penurunan dari jangkauan panjang otot optimal ini mengakibatkan penurunan kekuatan
kontraksi dan menyebabkan tahanan otot berkurang, Cara

untuk menjelaskan

biomekanika berhubungan dengan otot bisep :


M x MA = R X RA M = RXRA/MA
Dengan :
M = besar gaya otot bisep(N)
MA = jarak otot ke siku (cm)
R = massa beban yang diangkat (kg)
RA = jarak beban ke siku (cm)

Secara biomekanis, kemampuan otot dalam berbagai sudut untuk menahan


beban dapat dijelaskan pada diagram berikut :

I
F
i

I
i

i
F
F

450

W
600

900
i

200F

1200

Jika berdasarkan ketahanan otot biseps antara tangan kanan dan kiri disaat
mengangkat dumble, tampak bahwa tangan kanan lebih dominan ketahanannya
daripada tangan kiri. Hal ini dikarenakan oleh lengan kanan lebih sering kita gunakan
dalam aktivitas sehari-hari, akibatnya timbul adaptasi otot tangan kanan terhadap
latihan/aktivitas yang sering kali lebih banyak menggunakan tangan kanan, sehingga
terjadi penambahan jumlah dan ukuran serat otot

tangan kanan yang sering

berkontraksi. Bertambahnya serat otot ini merupakan proses fisiologi. Oleh karena
sering digunakan, serat otot memperbanyak diri untuk mempertahankan homeostasis.
Selain itu terdapat pula perbedaan antar berat maksimum yang dapat dicapai pria
dan wanita. Rata-rata pria dapat menahan beban maksimum lebih besar daripada
wanita. Hal ini disebabkan oleh komposisi otot pada pria lebih besar dari wanita.
Perbedaannya terdapat pada hormon yaitu testosteron yang di sekresikan oleh testis
pria yang memiliki efek anabolik yang kuat terhadap penyimpanan protein yang
sangat besar di setiap tempat dalam tubuh, terutama di dalam otot, jadi otot pria akan
tumbuh sekitar 40 persen lebih besar daripada otot pada wanita.1
4.2

Sit-up
Sit up adalah suatu latihan untuk mempertahankan kekuatan dan ketahanan otot

perut. Selama mengangkat badan, otot-otot dinding perut merupakan otot-otot yang
antagonis terhadap otot-otot punggung. Otot-otot perut yang terlatih baik; akan
memfiksasi tulang belakang, dan membantu fungsi gerak otot-otot punggung. Otot yang
bekerja saat latihan sit up diantaranya:1
a M. rectus abdominalis, berorigo pada tulang rawan iga V, VI, VII, dan prosessus
xypoideus sterna dan berinsersio pada bagian atas os pubis. Kontraksinya
menyebabkan fleksi badan pada daerah torakal dan lumbal.
b

M. obliqus abdominalis externus, berasal dari permukaan depan bagian bawah rangka
dada ( iga bagian bawah ) lalu serabut-serabut ototnya membentang miring menjadfi
tendo yang lebar, menutupi m. rectus abdomalis, kea rah kaudal berinsersio pada
crista iliaca.

M. obliquus abdominalis internus, otot ini dimulai dari crista iliaca dan ligamentum
inguinale menuju ke atas dan menjadi tendo, lalu berada di bawah m. rectus
abdomalis untuk berinsersio pada pita jaringan ikat yang terdapat di antara pasangan
mm. rectus abdominis. Fungsi mm.obliquus abdominis membantu m. rectus
abdominis; di samping itu, otot-otot tersebut dapat memutar batang badan.

Pada saat melakukan gerakan sit up, badan harus dalam keadaan berbaring dengan
kaki ditekuk membentuk sudut 90 untuk membantu menetralisir tindakan fleksor
pinggul dan membuat otot-otot perut lebih bekerja.. Pada tubuh orang pada umunya
(normal), panjang tulang femoris berbanding tibia fibula adalah 1:1. Karena
perbandingan tersebut didapatkan tekukan kaki 90o sehingga sudut femur terhadap lantai
dan sudut tibia terhadap lantai masing-masing 45o. Jika femur terhadap lantai didapatkan
45o, maka sudut abdomen terhadap tibia adalah 135 o (hasil perhitungan dengan prinsip
sudut). Sudut 135 merupakan sudut optimum untuk mendapat keseimbangan dalam
usaha yang dilakukan ketika melakukan gerakan sit up. Ketika melakukan sit up,
haruslah menjaga posisi sudut tersebut, karena pada posisi ini akan ada tekanan ke bawah
akibat dari kontraksi otot perut yang menyebabkan plantar menekan ke arah lantai. Posisi
sudut tersebut sangatlah penting untuk melakukan sit-up yang benar sehingga pada saat
sit-up didapatkan posisi yang stabil.2
Pada pengulangan sit up, saat tubuh dinaikkan, perut dan dada harus sampai
menyentuh paha. Ketika tubuh diturunkan, kepala tidak boleh sampai menyentuh lantai,
tetapi pundak harus menyentuh lantai. Hal tersebut dilakukan dengan posisi jari tangan
harus tetap berada di belakang telinga agar kekuatan otot saat mengangkat beban
bertumpu pada kekuatan otot perut. Jika pergerakan atau pelaksanaan tidak sesuai
dengan prosedur yang ada, maka pengulangan tidak bisa dihitung. Berikut ini hasil dari
praktikum sit-up yang telah dilakukan terhadap enam orang probandus.

Sex
Perempua
n
Laki-Laki

P1
P2
P3
L1
L2
L3

Age

Repetition

19
19
19
Average
19
20
20
Average

25
30
42
32,33
32
35
54
40,33

Populatio

Scor

n Average
41
41
41

e
1
5
55
20,33
2
8
91
33,67

44
44
45

Rating
Poor
Poor
Average
Poor
Poor
Excellent

Berdasarkan praktek yang telah dilakukan didapatkan rata-rata untukgerakan sit up


laki-laki adalah 40 kali per menit, sedangkan untuk perempuan adalah 32 kali per menit.
Jumlah pengulangan sit up yang didapat oleh laki-laki lebih banyak dibandingkan
dengan perempuan. Laki-laki umumnya memiliki kekuatan otot yang lebih dari pada
wanita disebabkan karena laki-laki memiliki jaringan otot yang lebih kuat, ukuran otot

yang meningkat akibat adanya hormon testosteron dan massa otot yang lebih besar (1017 kali massa otot wanita) sehingga mengakibatkan semakin besar kekuatan orang
tersebut. Saat awal pubertas, testosteron akan meningkatkan massa otot, sedangkan
estrogen cenderung menambah jaringan lemak. Sehingga secara umum daya tahan otot
perempuan lebih rendah dari laki-laki.

4.3 Push-up
Push-up adalah suatu jenis senam kekuatan yang berfungsi untuk menguatkan otot
bisep maupun trisep. Posisi awal tidur tengkurap dengan tangan di sisi kanan kiri badan.
Kemudian badan didorong ke atas dengan kekuatan tangan. Posisi kaki dan badan tetap
lurus atau tegap. Setelah itu, badan diturunkan dengan tetap menjaga kondisi badan dan
kaki tetap lurus. Badan turun tanpa menyentuh lantai atau tanah. Otot yang berpegaruh
terhadap gerakan push-up antara lain:4
Sendi
Sendi bahu

Aksi

Segmen

Horizontal

pindah
Sumbu

adduksi

tubuh

Gaya

Otot

yang Kontraksi

Otot

bekerja
Pektoralis

Kosentrik

mayor,
deltoideus
anterior,
korakobrakia

Gelang

Abduksi

Skapula

Otot

bahu

lis
Pektoralis

kosentrik

minor,
seratus

Siku

Ekstensi

Lengan

Pergelanga

atas
Hiperekste Lengan

n tangan

nsi

bawah

Otot

anterior
Trisep

Kosentrik

Otot

ankoneus
Ekstensor

kosentrik

carpi radialis
longus
brevis,

dan

ekstensor
carpi ulnaris
Variasi pertama push up (siku tegak lurus batang tubuh) melibatkan m. deltoid
anterior, m. pectoralis major, dan m. coracobrachialis sewaktu melakukan aduksi
horizontal dari sendi bahu. Abduksi scapula dilakukan oleh m. pectoralis minor dan m.
seratus anterior . M. pectoralis major sewaktu fleksi pada sendi bahu dan rotasi kedepan
scapula (pada fase ini scapula di abduksikan) dan m. trisep brachii yang
mengekstensikan lengan pada sendi siku10
Pada push up, karena kedua tangan distabilkan melawan arah lantai, maka segmen
yang bergerak adalah: lengan bawah pada sendi pergelangan tangan, lengan atas pada
sendi siku dan batang tubuh. Pada sendi bahu (glenohumeral) latihan push up berfungsi
untuk melatih dan memperkuat otot abdominal, sehingga mencegah hiperekstensi
vertebral lumbal saat badan berada pada posisi ekstensi.
Saat seseorang melakukan gerakan push up, m. pectoralis major bekerja sama
dengan m. antenor deltoid untuk menggerakkan tangan ke atas, depan memutar ke
dalam. Beberapa otot lain yang juga bekerja sama adalah m. serratus anterior yang
berada di sisi tulang rusuk dan m. pectoralis minor yang berfungsi untuk menstabilkan
tulang bahu ketika menggerakkan tangan ke depan. Ada pula m. triceps brachii yang
mana berperan dalam gerakan mendorong dada.
Praktikum ini, didapatkan hasil yang berbeda antara pria dan wanita. Probandus pria
didapatkan, 1 orang tergolong average (rata-rata) dan 2 orang tergolong fair (dibawah
rata-rata). Sedangkan pada probadus wanita, 3 orang tergolong average (rata-rata).
Percobaan tersebut, menunjukkan bahwa dalam waktu yang sama, wanita cenderung
dapat melakukan pusp-up lebih banyak disbanding pria. Hasilnya ditunjukkan dalam
tabel berikut.
Age

banyaknya

P1
push-up
P2
P3
dilakukan
L1
dan wanita
L2
L3
dipengaruhi oleh posisi

Repetition

Population

Score

Rating

Perbedaan

Average
repetisi
19
27
26
52
Average
19
25
26
48
Average yang dapat
21
25
25
50
Average oleh pria
19
35
45
33
Average
18
30
46
25
Fair
23
25
40
23
Fair
pusp-up antara wanita dan pria. Proporsi antara lengan bedan dan

lengan kerja. Jika proporsi lengan beban dan lengan kerja meningkta, maka usaha
diperlukan juga akan meningkat.
Push-up pada posisi wanita akan lebih mudah daripada posisi laki-laki, karena berat
badan akan diangkat dalam jarak yang lebih pendek dan posisi sendi yang
memungkinkan otot-otot siku dan bahu untuk mempermudah gerakan. Oleh karena itu,
pusp-up dalam pada posisi pria lebih membutuhkan banyak tenaga daripada dalam posisi
wanita.10 Selain itu dapat disimpulkan bahwa untuk faktor-faktor yang mempengaruhi
kemampuan otot seseorang, diantaranya adalah jenis kelamin, usia, status gizi dan
kondisi kesehatan.
4.3 Vertical Jump
Vertical jump adalah sebuah gerakan yang biasa dilakukan di sejumlah olahraga.
Dalam olahraga tertentu seperti basket dan voli, kesuksesan tergantung pada kemampuan
vertical jumping. Karena pentingnya kemampuan vertical jump, vertical jump telah
digunakan sebagai tes untuk memantau perbaikan dalam kemampuan melompat
mengikuti program kekuatan dan kondisi.11 Tujuan utama vertical jump, yaitu
perkembangan kelompok otot : m. quadriceps femoris, otot betis dan otot-otot pangkal
paha.9
Nama otot
origo
insertio
persarafan
M.
rectus Caput rectus: spina Melalui tendo n. N.

fungsi
Ekstensi

femoris

tungkai

iliaca

anterior quadriceps

inferior
Caput
ilium

femoris

femoralis
ke (L2,L3,

bawah pada

L4)

articulation

reflexum: patella,
cranial

dari kemudian

acetabulum

genus;

melalui

fleksi

ligamentum

tungkai atas

patella

ke

pada

tuberositas tibiae
M.
lateralis

vastus Ujung

atas

articulation

femur Melalui tendo n. N.

dan copus femoris

quadriceps

femoralis

coxae.
Ekstensi
tungkai

femoris

ke (L2,L3,

bawah pada

patella,

L4)

articulation

kemudian

genus

melalui
ligamentum
patella
M.

vastus

medialis

tuberositas tibiae
Melalui tendo n. N.

Ekstensi

quadriceps

tungkai

vastus

intermedius

femoralis

femoris

ke (L2,L3,

bawah pada

patella,

L4)

articulation

kemudian

genus ;

melalui

menstabilk

ligamentum

an patella

patella
M.

ke

ke

tuberositas tibiae
Melalui tendo n. N.

Ekstensi

quadriceps

tungkai

femoralis

femoris

ke (L2,L3,

bawah pada

patella,

L4)

articulation

kemudian

genus ;

melalui

articulatio

ligamentum

menarik

patella

ke

tuberositas tibiae

membrana
synovial

Pada saat melakukan vertical jump (VJ) terjadi beberapa tahap. Tahap takeoff dari
VJ dimulai dengan extensi sendi panggul, diikuti secara berurutan oleh lutut dan sendi
pergelangan kaki. berakhir ketika kaki memasuki tahap melayang. Fase take off
didahului oleh tahap persiapan, yang melibatkan fleksi pada pinggul dan sendi lutut dan
dorsofleksi pada sendi pergelangan kaki. Aktivitas otot umumnya eksentrik selama fase
persiapan.
Beberapa studi telah mengungkapkan bahwa urutan aktivasi otot selama VJ
mengikuti proksimal pola distal, dengan aktivasi otot pinggul diikuti oleh aktivitas otot
lutut dan pergelangan kaki. Model matematika dan mekanik tubuh manusia juga telah
digunakan untuk menunjukkan bahwa tinggi VJ dimaksimalkan oleh kehadiran
gastrocnemus dua sendi. Tinggi lompatan ditemukan menurun saat GAs yang

dimodelkan sebagai otot satu-sendi yang hanya melintasi sendi pergelangan kaki. Dari
hasil studi sebelumnya telah berkembang teori untuk menjelaskan peran dua otot sendi di
transfer energi mekanik selama melompat.
Mekanisme VJ sangat kompleks terjadi antara otot, sendi, tendo ataupun tulang.
Dorsofleksi dilakukan oleh m. tibialis anterior, m. extensor hallucis longus, m. extensor
digitorum longus dan m. peroneus tertius. Gerakan ini dihambat oleh tegangnya tendo
calcaneus,

serabut-serabut

posterior

ligamentum

mediale

dan

ligamentum

calcaneofibulare. Selama dorsofleksi sendi pergelangan kaki, bagian anterior yang lebih
lebar dari trochlea tali dipaksakan diantara malleolus medialis dan lateralis, yang
menyebabkan agak terpisah dan mengencangkan ligamentum-ligamentum sendi
tibiofibularis distal. Susunan seperti ini meningkatkan kestabilan sendi pergelangan kaki
bila kaki berada dalam posisi awal untuk gerak maju dalam berjalan, berlari dan
melompat. Dalam kesimpulan, banyak informasi yang telah diperoleh tentang fungsi
mekanik dari sistem muscloskeletal selama melompat vertical dan dibutuhkan penelitian
lebih lanjut untuk mekanisme secara detail.
Dari praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil dalam tabel berikut.

P1
P2
P3
L1
L2
L3

Age

Body
Weight

Difference

Population
Average

Score

21

40

42

33.528

86

19
19
23
18
19

49.5
47
57
74
44

36
29
53
53
28

33.528
33.528
49.53
49.53
49.53

63
28
59
59
13

Rating
Excellen
t
Average
Fair
Average
Average
Poor

Mean
Power
(kgm/sec)
169
154
95
370
480
145

Bedasarkan hasil praktikum menunjukan hasil yang berbeda beda pada ke 6


sampel. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti berat badan, kekuatan
otot itu sendiri, dan faktor latihan/stress pada otot.

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
1. Dumbell, sit up, push up, dan vertical jump dipengaruhi oleh aktivitas fisik,
kualitas otot, kontraksi otot, vaskularisasi dan innervasi, kekuatan otot, cadangan
glikogen, berat badan, usia , jenis kelamin dan nutrisi.
2.

Keempat aktivitas tersebut dapat menjadi latihan untuk meningkatkan kerja otototot tertentu dalam tubuh.

5.2

Saran
Sebaiknya untuk praktikum fisiologi selanjutnya dilakukan perbaikan dan
penyempurnaan terhadap beberapa aktivitas dalam pelaksanaannya agar hasil yang
diperoleh melalui perhitungan menjadi lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton AC. Buku ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC; 2008.
2. Sherwood L. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC; 2001.
3. Parahita A. Pengaruh Latihan Fisik Terprogram Terhadap Daya Tahan Otot. Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro. 2009; 2: 20-3
4. Tortora GJ, Derrickson B. Principles of Anatomy and Physiology 12th Edition. John
Wiley & Sons, Inc. Asia; 2009.
5. Madieb EN, Hoehn K. Human Anatomi & Physiologi 7 th Edition. Pearson Education
Inc. USA; 2007.
6. Ganong WF. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Ed 22. Jakarta: EGC; 2008.
7. Floyd,R.T. Manual of Structural Kinesiology 16th Edition. The Mc-Graw-Hill
Companies, Inc 2. USA. 2007; 8:203-10
8. Suleman

A.

2008.

Exercise

Physiology.

Emedicine.

Diunduh

dari

http://emedicine.medscape.com/article/88484-overview pada 4 Desember 2014


9. Widjaja S. Kinesiologi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 1998.
10. Hamilton, Cuttgens K. Kinesiology 10 th ed. New York:Mc.Graw Hill Companies;
2002.
11. Umberger BR. Mechanics of the Vertical Jump and Two-Joint Muscles: Implications
for Training. National Stength and Conditioning Association; 1998.