Anda di halaman 1dari 32

LEMBAR PENILAIAN DAN PENGESAHAN

No

Keterangan

Pendahuluan

Tinjauan Pustaka

Materi dan Metode

Hasil dan Pembahasan

Penutup

Daftar Pustaka

Lampiran

Nilai

Nilai Akhir
Semarang, 16 Juni 2015
Koordinator Asisten

Asisten

M Hafidz Ibnu Khaldun

M Hafidz Ibnu Khaldun

26020212130016

26020212130016

Mengetahui
Koordinator Mata Kuliah
Pasang Surut

Ir. Warsito Atmodjo, M.Si

2
8

NIP 19590328 198902 1 001

DAFTAR ISI
COVER...

Lembar Pengesahan dan Penilaian..

ii

Daftar Isi

iii

Daftar Gambar .. v
Daftar Tabel

vi

I.

PENDAHULUAN..

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan Praktikum...

1.3 Manfaat Praktikum.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pasang Surut 9


2.2 Gaya Pembangkit Pasang Surut.

10

2.3 Tipe Tipe Pasang Surut

11

2.4 Teknik Penempatan Palem Pasut Yang Benar .

14

2.5 Cara Pengikatan Stasiun Pasang Surut ..

16

2.6 Benchmark

16

III. .MATERI DAN METODE.

18

3.1 Waktu dan tempat. 18


3.2 Alat dan Bahan

18

3.3 Cara kerja 18


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...

20

4.1 Hasil.

20

4.2 Pembahasan.. 24
PENUTUP. 27

2
8

V.

5.1 Kesimpulan... 27

DAFTAR PUSTAKA..

28

LAMPIRAN.

29

2
8

5.2 Saran. 27

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kurva Tipe Pasang Surut.....................................................................14


Gambar 2. Sebaran Pasang Surut di Perairan Indonesia........................................14
Gambar 3. Grafik Pengamatan Pasang Surut.........................................................23

2
8

Gambar 4. Benchmark Stasiun 2............................................................................23

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Koordinat Palem Pasut.............................................................................20

2
8

Tabel 2. Hasil Pengamatan Pasang Surut...............................................................20

I. PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pasang surut merupakan salah satu fenomena naik turunnya air laut yang

disebabkan oleh gaya tarik menarik antara bumi dengan benda benda angkasa
terutama bulan dan matahari serta perputaran bumi pada porosnya (rotasi). Pasang
surut merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk melakukan suatu
penelitian maupun pembangunan wilayah pesisir selain gelombang dan arus.
Pasang

laut

menyebabkan

perubahan

kedalaman

perairan

dan

mengakibatkan arus pusaran yang dikenal sebagai arus pasang, sehingga perkiraan
kejadian pasang sangat diperlukan dalam navigasi pantai. Wilayah pantai yang
terbenam sewaktu pasang naik dan terpapar sewaktu pasang surut, disebut
mintakat pasang, dikenal sebagai wilayah ekologi laut yang khas. Berbagai
metode pengukuran pasut telah dikembangkan saat ini, seperti metode least
square dan metode Admiralty.
Pasang surut yang ada di bumi terbagi menjadi 2 jenis yaitu pasang purnama
dan pasang perbani. Pasang purnama merupakan pasang tertinggi karena posisi
bulan, bumi, dan matahari terletak dalam satu baris. Sedangkan pasang perbani
merupakan pasang terendah karena posisi bulan, berada 45o di atas maupun
dibawah bumi. Pasang surut juga mempunyai 4 tipe yaitu pasang surut harian
tunggal, pasang surut harian ganda, pasang surut campran condong ke harian
tunggal, dan pasang surut condong ke harian ganda. Untuk menghitung muka air
rata rata pada saat pasang surut dapat dilakukan dengan menggunakan metode
admiralty. Pengambilan data pasang surut dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu
manual maupun otomatis. Cara pengambilan data secara manual dapat dilakukan
dengan menggunakan palem pasut, seperti yang digunakan dalam praktikum
lapangan kali ini dengan memasang palem pasut untuk mengetahui pengukuran

2
8

pasang dan surut.

1.2

Tujuan Praktikum
.1 Memahami dan mengetahui cara pemasangan palem pasang surut dengan
benar.
.2 Memahami dan mengetahui cara pengukuran pasang surut dengan
menggunakan palem pasang surut.
.3 Mampu menjelaskan faktor faktor yang mempengaruhi pasang surut
Manfaat Praktikum
.1 Mahasiswa mengerti dan mampu melakukan pemasangan palem pasang
surut dengan benar.
.2 Mahasiswa mampu melakukan pengukuran pasang surut dengan
menggunakan palem pasang surut

2
8

1.3

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1

Pengertian Pasang Surut


Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya

permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi
dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi
dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih
jauh atau ukurannya lebih kecil. Faktor non astronomi yang mempengaruhi pasut
terutama di perairan semi tertutup seperti teluk adalah bentuk garis pantai dan
topografi dasar perairan (Poerbandono, 2005).
Menurut Pariwono (1989), fenomena pasang surut diartikan sebagai naik
turunnya muka laut secara berkala akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa
terutama matahari dan bulan terhadap massa air di bumi. Sedangkan menurut
Dronkers (1964) pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik
turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya
gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh
matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan
karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil.Pasang surut yang terjadi di
bumi ada tiga jenis yaitu: pasang surut atmosfer (atmospheric tide), pasang surut
laut (oceanic tide) dan pasang surut bumi padat (tide of the solid earth).
Menurut Dronkers (1964) pasang surut laut merupakan suatu fenomena
pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh
kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi
terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat
diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil.Pasang surut yang
terjadi di bumi ada tiga jenis yaitu: pasang surut atmosfer (atmospheric tide),
pasang surut laut (oceanic tide) dan pasang surut bumi padat (tide of the solid
earth).
Sedangkan menurut Poerbandono (2005)

Pasang surut adalah fluktuasi

2
8

muka air laut karena adanya gaya tarik menarik benda-benda dilangit, terutama

matahari dan bulan terhadap massa air laut dibumi. Gaya tarik bulan yang
mempengaruhi pasang surut adalah 2,2, kali lebih besar dari pada gaya tarik
matahari.
2.2

Gaya Pembangkit Pasang Surut


Semua benda angkasa yang mempengaruhi proses pembentukan pasang

surut air laut, hanya matahari dan bulan yang sangat berpengaruh melalui tiga
gerakan utama yang menentukan muka air laut di bumi ini. Ketiga gerakan
adalah :
.1 Revolusi bulan terhadap bumi, dimana orbitnya berbentuk elips dan
periode yang diperlukan untuk menyelesaikan revolusi itu adalah 29,5
hari untuk menyelesaikan revolusinya.
.2 Revolusi bumi terhadap matahari dengan orbitnya berbentuk elips dan
periode yang diperlukan untuk itu adalah 365,25 hari.
.3 Perputaran bumi terhadap sumbunya sendiri dan waktu yang diperlukan
untuk gerakan ini adalah 24 jam.
(Pariwono, 1989).
Menurut Poerbandono, (2005) gaya pembangkit pasut secara umum
terbagi 2 (dua), yaitu : non astronomi dan astronomi berkala perubahan
permukaan laut. Gaya non-astronomi merupakan hasil dari variasi massa air laut
yang disebabkan oleh perubahan iklim dunia dan efek meteorologi (misalnya
atmosfer, tekanan, angin, arus, dan penguapan dan presipitasi. Efek ini
menyebabkan perubahan permukaan laut seperti permukaan laut yang signifikan.
Kenaikan (100 m) pada periode postglacial, mengarah ke perubahan pasang
surut . Faktor-faktor non astronomi yang mempengaruhi tunggang air (interval
antara air tinggi dan air rendah) dan waktu datangnya air tinggi atau waktu air
rendah adalah morfologi pantai, kedalaman perairan dan kedalaman meteorologi
serta faktor hidrografi lainnya.
Gaya astronomi pembangkit pasang surut ditimbulkan oleh gaya tarik
menarik bumi, bulan dan matahari (Poerbandono, 2005). Gaya tarik menarik

2
8

antara bumi dan bulan tersebut menyebabkan sistem bumi-bulan menjadi satu

sistem kesatuan yang beredar bersama-sama sekeliling sumbu perputaran bersama


(common axis of revolution). Selain itu, terdapat gaya sentrifugal yang
mengimbangi gaya tarik bumi-bulan dan matahari. Resultan gaya yang berbedabeda tersebut menyebabkan gaya pembangkit pasut.
2.3

Tipe Tipe Pasang Surut


Menurut Poerbandono (2005) terdapat empat jenis tipe pasang surut yang

didasarkan pada periode dan keteraturannya, yaitu pasang surut harian (diurnal),
tengah harian (semi diurnal) campuran condong ke harian ganda (mixed tides) dan
campuran condong ke harian tunggal (prevailing diurnal). Dalam sebulan, variasi
harian dari rentang pasang surut berubah secara sistematis terhadap siklus bulan.
Rentang pasang surut juga bergantung pada bentuk perairan dan konfigurasi lantai
samudera.
Penentuan tipe pasang surut juga dapat menggunakan konstanta harmonik
pasut yang merupakan hasil dari pengolahan data pasut dapat digunakan untuk
penentuan tipe pasut yang terjadi di suatu perairan dengan menentukan
perbandingan antara amplitudo (tinggi gelombang) unsur-unsur pasang surut
tunggal utama dengan unsur-unsur pasang surut ganda utama menggunakan
bilangan formzahl ( Pariwono, 1989).
Menurut Pariwono (1989), pasang surut di Indonesia dibagi menjadi 4 tipe
yaitu:
1. Pasang surut harian tunggal (Diurnal Tide), merupakan pasut yang

hanya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari. Ini terdapat di

2
8

Selat Karimata.

Gambar 1. Pola gerak pasut harian tunggal (diurnal tide)


2. Pasang surut harian ganda (Semi Diurnal Tide), merupakan pasut yang

terjadi dua kali pasang dan dua kali surut yang tingginya hampir sama dalam satu
hari. Ini terjadi di Selat Malaka dan Laut Andaman.

Gambar 2. Pola gerak pasut harian ganda (semi diurnal tide)


3. Pasang surut campuran condong harian tunggal (Mixed Tide,

Prevalling Diurnal), merupakan pasut yang tiap harinya terjadi satu kali pasang
dan satu kali surut tetapi terkadang dengan dua kali pasang dan dua kali surut
yang sangat berbeda dalam tinggi dan waktu. Ini terdapat di Pantai Selatan

2
8

Kalimantan dan Pantai Utara Jawa Barat.

Gambar 3. Pola gerak pasut harian campuran condong harian


tunggal
4. Pasang surut campuran condong harian ganda (Mixed Tide, Prevailing

Semi Diurnal), merupakan pasut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut
dalam sehari tetapi terkadang terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dengan
memiliki tinggi dan waktu berbeda. Ini terjadi di Pantai Selatan Jawa dan Bagian
Timur Indonesia.

2
8

Gambar 4. Pola gerak pasut harian campuran condong harian ganda

Gambar 5. Kurva Tipe Pasang Surut

Gambar 6. Sebaran Pasang Surut di perairan Indonesia


2.4

Teknik Penempatan Palem Pasut Yang Benar


Metode yang digunakan untuk mengukur pasang surut yaitu dengan Tide

Pole yang merupakan alat pengukur pasut yang paling sederhana yang berupa
papan dengan tebal 1 2 inci dan lebar 4 5 inci. Sedangkan panjangnya harus
lebih dari tunggang pasut. Dimana pemasangan tide pole ini haruslah pada kondisi
muka air terendah (lowest water) skala nolnya masih terendam air, dan saat
pasang tertinggi skala terbesar haruslah masih terlihat dari muka air tertinggi
(highest water). Dengan demikian maka tinggi rendahnya muka air laut dapat kita
ketahui dengan melihat menggunakan teropong atau melakukan pengamatan
secara langsung mendekati pelem pasut tersebut, kita dapat mengetahui pola
pasang surut pada suatu daerah pada waktu tertentu. Lokasi pemasangan palem

2
8

pasut harus berada pada lokasi yang aman dan mudah terlihat dengan jelas, tidak

bergerak-gerak akibat gelombang atau arus laut. Tempat tersebut tidak pernah
kering pada saat kedudukan air yang paling surut. Oleh karena itu panjang rambu
pasut yang dipakai sangat tergantung sekali pada kondisi pasut air laut di tempat
tersebut. Pada prinsipnya bentuk rambu pasut hampir sama dengan rambu dipakai
pada pengukuran sifat datar (leveling) (Djaja, 1987).
Perbedaannya hanya dalam mutu rambu yang dipakai. Mengingat bagian
bawah palem pasut harus dipasang terendam air laut, maka palem dituntut pula
harus terbuat dari bahan yang tahan air laut. Biasanya titik nol skala rambu
diletakkan sama dengan muka surutan setempat, sehingga setiap saat tinggi
permukaan air laut terhadap muka surutan tersebut atau kedalaman laut dapat
diketahui berdasarkan pembacaan pada rambu. Palem pasut hampir selalu
digunakan pada pelabuhan-pelabuhan laut. Dengan demikian hal ini sangat
membantu bagi keamanan kapal yang akan berlabuh atau meninggalkan
pelabuhan (Djaja, 1987).
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemasangan palem pasut :
.1 Palem pasut dipasang di dermaga dalam keadaan tegak lurus
.2 Palem pasut dipasang dalam suatu posisi yang mudah dibaca oleh
pengamat.
.3 Palem pasut dipasang dengan kokoh dan posisinya tidak berubah.
.4 Skala nol pada palem pasut harus terletak di bawah permukaan air laut
pada saat air rendah terendah dan bacaan skala masih dapat dibaca pada
saat air tinggi tertinggi;
.5 Tidak pada daerah erosi maupun abrasi.
.6 Untuk keamanan palem pasut agar tidak terganggu oleh lalu lintas kapal
motor nelayan di lokasi pengamatan, maka perlu dipasang tanda
peringatan seperti bendera atau tulisan agar menjadi perhatian bagi yang
melintasi atau mendekati
.7 Tidak terletak di muara sungai.
.8 Menghubungi instansi atau masyarakat setempat guna keperluan
keamanan alat Pasut.
.9 Lokasi hendaknya tidak dipengaruhi pantulan gelombang oleh adanya
struktur bangunan pantai

2
8

(Tim Asisten Pasang Surut, 2015).

2.5

Cara Pengikatan Stasiun Pasang Surut


Menurut Poerbandono (2005) pengikatan stasiun pasang surut atau dalam

penelitian ini menggunakan palem bertujuan untuk menyatukan bidang referensi


antara ketinggian topografi dengan kedalaman perairan pada bidang muka surutan
peta. Palem (P) diikatkan terhadap Benchmark (BM) di darat dengan water
passing. Hasil yang diperoleh berupa tinggi BM terhadap suatu muka surutan peta.
Sebagai contoh muka surutan yang digunakan adalah MLLW, maka titik BM
terhadap MLLW dijelaskan dalam persamaan (1.1).
= .........................................................(1.1)
Keterangan :

: Tinggi titik BM terhadap muka surutan peta

: Rata rata selisih tinggi pengukuran pergi pulang stasiun pasut

dan BM

: Muka surutan peta yang ditentukan nilai MLLW diperoleh dari

hasil pengolahan
data pasut dari pengamatan pasut di stasiun pasut
2.6

Benchmark
Benchmark adalah titik yang telah mempunyai koordinat fixed, dan

direpresentasikan dalam bentuk monumen/patok di lapangan. Benchmark


memiliki fungsi penting pada kegiatan survey, yaitu sebagai titik ikat yang
mereferensikan posisi obyek pada suatu system koordinat global.
Untuk mendukung efisiensi dalam pengelolaan suatu area penambangan,
maka keberadaan benchmark sangat bermanfaat untuk :
1. Untuk memastikan bahwa area penambangan berada dalam wilayah
konsesi yang diijinkan oleh Pemerintah.
2. Mengintegrasikan area - area penambangan yang terpisah kedalam satu
system koordinat global.
3. Efektifitas dan efisiensi kegiatan penambangan, dari tahap eksplorasi
hingga tahap reklamasi

2
8

(Tim Asisten Pasang Surut, 2015).

Dalam melakukan pengukuran benchmark, kami menggunakan metode


penentuan posisi dengan teknologi Global Positioning System (GPS) yang
memiliki akurasi sampai dengan level subcentimeter. Selain metode pengukuran
yang tepat, desain persebaran titik-titiknya juga Kami perhatikan, karena hal
tersebut sangat berpengaruh pada hasil survey secara keseluruhan. Pembuatan
desain persebaran titik - titik benchmark yang paling sesuai dengan area
penambangan, merupakan bagian dari layanan Kami kepada konsumen. Dengan
desain tersebut, maka pekerjaan-pekerjaan survey selanjutnya akan lebih efisien

2
8

(Tim Asisten Pasang Surut,2015).

III. MATERI METODE


3.1

Waktu dan Tempat


Hari, tanggal

: Sabtu Minggu, 6 7 Juni 2015

Waktu

: 10.30 10.30

Tempat

: Palem 1 ( Belakang Asrama Kampus Teluk Awur,

Jepara )
Palem 2 ( Dermaga Kampus Teluk Awur, Jepara )
3.2

Alat dan Bahan


.1 Palem Pasang Surut
.2 Alat tulis
.3 Papan Dada
.4 Stop Watch / Jam Tangan
.5 Global Positioning System ( GPS )

3.3.1

Cara Kerja
Penentuan Benchmark

.1 Alat dan Bahan disiapkan


.2 Tarik waterpass dari stasiun pasut ke pantai atau tempat BM, dicatat
panjang BM ke Palem
.3 Dicatat tinggi palem pasut dari bawah hingga atas.

2
8

3.3

.4 Dihitung dengan ratio antara panjang horizontal bm dengan palem dibagi


dengan tinggi palem pasut
.5 Didapatkan nilai benchmark pasang surut
3.3.2

Pengamatan Pasang Surut

1. Palem pasang surut dipasang pada 2 lokasi, lokasi pertama di belakang


asrama, dan lokasi 2 berada di dermaga.
2. Pasang palem pasang surut dengan benar ( skala 0 cm selalu terendam air
pada saat surut tersurut air laut) .
3. GPS disiapkan untuk mengerahui koordinat dari masing masing lokasi
pengamatan pasang surut.
4. Alat tulis dan stop watch / jam tangan disiapkan untuk melakukan
pengukuran.
5. Pengukuran pasang surut dilakukan setiap 15 menit sekali dalam kurun
waktu 24 jam.

2
8

6. Data yang diperoleh, dicatat ke dalam laporan sementara.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Lokasi Pengamatan (Koordinat)
PALEM PASANG SURUT
PALEM 1
PALEM 2
o
KOORDINAT
06 37 36,3 S
06o 37 01,25 S
o
100 38 15,2 E
110o 38 20,7 E
Kondisi Lingkungan Selama Pengamatan
.1 Kondisi Perairan

: Keruh dan banyak ikan

.2 Kondisi Cuaca

: Cerah berawan

Data Hasil Pengamatan


MSL
97.4091

Jam
Pengamatan
10.15 - 10.30
10.30 - 10.45
10.45 - 11.00
11.00 - 11.15
11.15 - 11.30
11.30 - 11.45
11.45 - 12.00
12.00 - 12.15
12.15 - 12.30
12.30 - 12.45
12.45 - 13.00
13.00 - 13.15
13.15 - 13.30
13.30 - 13.45
13.45 - 14.00
14.00 - 14.15
14.15 - 14.30

HHWL
148.5

LLWL
51.5

Palem 1
Atas
122
123
125
125
124
125
125
125
124
124
119
118
128
120
121
122
121

Bawah
120
120
120
123
122
122
120
123
123
123
118
117
125
115
116
118
115

Palem 2
Atas
142
146
145
145
146
147
145
147
146
145
145
147
150
145
144
145
138

Rata - Rata
Palem Palem
Bawah
1
2
140
121
141
143
121.5 144.5
141
122.5
143
144
124
144.5
144
127
145
145
123.5
146
142
122.5 143.5
143
124
145
143
123.5 144.5
143
123.5
144
139
118.5
142
141
117.5
144
147
118.5 148.5
133
117.5
139
134
118.5
139
137
120
141
132
118
135

2
8

4.1

113
110
113
110
108
105
104
99
99
98
95
93
90
88
84
79
78
76
74
73
72
74
65
67
62
63
61
62
59
59
54
52
57
57
54
53
58
63
62
63
66

110
105
108
108
104
103
102
96
98
96
93
90
87
85
79
75
77
75
73
72
71
73
64
65
61
62
60
61
58
58
53
51
56
56
53
52
57
61
61
62
64

137
131
131
133
126
125
118
118
117
116
115
110
106
99
101
100
108
99
97
97
95
94
96
87
88
85
83
84
81
81
76
74
79
79
76
75
80
85
84
85
88

129
129
126
129
120
122
114
115
116
112
114
105
104
98
99
98
98
97
95
96
94
93
95
85
83
84
82
83
80
80
75
73
78
78
75
74
79
83
82
84
86

111.5
107.5
110.5
109
106
104
103
97.5
98.5
97
94
91.5
88.5
86.5
81.5
77
77.5
75.5
73.5
72.5
71.5
73.5
64.5
66
61.5
62.5
60.5
61.5
58.5
58.5
53.5
51.5
56.5
56.5
53.5
52.5
57.5
62
61.5
62.5
65

133
130
128.5
131
123
123.5
116
116.5
116.5
114
114.5
107.5
105
98.5
100
99
103
98
96
96.5
94.5
93.5
95.5
86
85.5
84.5
82.5
83.5
80.5
80.5
75.5
73.5
78.5
78.5
75.5
74.5
79.5
84
83
84.5
87

2
8

14.30 - 14.45
14.45 - 15.00
15.00 - 15.15
15.15 - 15.30
15.30 - 15.45
15.45 - 16.00
16.00 - 16.15
16.15 - 16.30
16.30 - 16.45
16.45 - 17.00
17.00 - 17.15
17.15 - 17.30
17.30 - 17.45
17.45 - 18.00
18.00 - 18.15
18.15 - 18.30
18.30 - 18.45
18.45 - 19.00
19.00 - 19.15
19.15 - 19.30
19.30 - 19.45
19.45 - 20.00
20.00 - 20.15
20.15 - 20.30
20.30 - 20.45
20.45 - 21.00
21.00 - 21.15
21.15 - 21.30
21.30 - 21.45
21.45 - 22.00
22.00 - 22.15
22.15 - 22.30
22.30 - 22.45
22.45 - 23.00
23.00 - 23.15
23.15 - 23.30
23.30 - 23.45
23.45 - 00.00
00.00 - 00.15
00.15 - 00.30
00.30 - 00.45

00.45 - 01.00
01.00 - 01.15
01.15 - 01.30
01.30 - 01.45
01.45 - 02.00
02.00 - 02.15
02.15 - 02.30
02.30 - 02.45
02.45 - 03.00
03.00 - 03.15
03.15 - 03.30
03.30 - 03.45
03.45 - 04.00
04.00 - 04.15
04.15 - 04.30
04.30 - 04.45
04.45 - 05.00
05.00 - 05.15
05.15 - 05.30
05.30 - 05.45
05.45 - 06.00
06.00 - 06.15
06.15 - 06.30
06.30 - 06.45
06.45 - 07.00
07.00 - 07.15
07.15 - 07.30
07.30 - 07.45
07.45 - 08.00
08.00 - 08.15
08.15 - 08.30
08.30 - 08.45
08.45 - 09.00
09.00 - 09.15
09.15 - 09.30
09.30 - 09.45
09.45 - 10.00
10.00 - 10.15
10.15 - 10.30

64
64
66
67
65
63
66
66
66
63
65
77
75
75
78
90
87
88
96
89
89
95
95
97
103
97
99
104
105
102
109
108
108
115
113
113
114
112
112

62
61
63
68
63
62
63
63
63
62
63
72
71
71
77
88
85
87
93
88
88
93
93
96
97
89
96
101
98
97
105
105
104
112
109
109
112
108
108

86
86
88
93
97
85
88
88
88
85
87
99
97
97
100
112
109
110
118
111
111
117
117
119
125
119
121
126
127
124
131
130
130
137
135
135
136
136
134

84
83
85
90
85
84
85
85
85
84
85
94
93
93
99
110
107
109
115
110
110
115
115
115
119
111
118
123
120
119
127
127
126
134
131
131
134
134
131

63
62.5
64.5
67.5
64
62.5
64.5
64.5
64.5
62.5
64
74.5
73
73
77.5
89
86
87.5
94.5
88.5
88.5
94
94
96.5
100
93
97.5
102.5
101.5
99.5
107
106.5
106
113.5
111
111
113
110
110

85
84.5
86.5
91.5
91
84.5
86.5
86.5
86.5
84.5
86
96.5
95
95
99.5
111
108
109.5
116.5
110.5
110.5
116
116
117
122
115
119.5
124.5
123.5
121.5
129
128.5
128
135.5
133
133
135
135
132.5

2
8

Grafik Pengamatan ( 2 Palem )

Data pengukuran BM
Data BM di Palem 2

Titik BM
56 Meter

2
8

2,47
Meter

4.2

Pembahasan

4.2.1 Kondisi Perairan Teluk Awur, Jepara


Perairan Teluk Awur Jepara terletak di bagian utara Jawa dimana di wilayah
ini terdapat jenis pantai yang kemiringannya landai. Substrat yang ada di daerah
perairan Teluk Awur Jepara adalah lumpur. Karena memiliki substrat lumpur,
maka warna dari perairan Teluk Awur Jepara adalah hijau kecoklatan. Warna hijau
didominasi oleh adanya vegetasi lamun sedangkan warna coklat didominasi oleh
substrat dan buangan limbah dari daratan. Kondisi pasang surut di daerah Teluk
Awur Jepara bisa dikategorikan cukup rendah dibandingkan dengan pasang surut
yang terjadi di daerah Laut Selatan. Hal tersebut dipengaruhi oleh topografi pantai
dan hubungan antara perairan Laut Utara dengan Samudra. Arus yang terdapat di
Teluk Awur Jepara tidak begitu kuat karena angin yang bertiup tiadk begitu
kencang. Namun untuk lahan budidaya, perairan Teluk Awur Jepara sangat
memiliki potensi seperti budidaya rumput laut.
Pantai utara Jawa memiliki garis pantai lebih dari 2000 km, dengan sekitar
800 km-nya berada di Provinsi Jawa Tengah. Salah satu daerah yang berada di
batas pantai utara adalah Kota Jepara. Secara alamiah, kondisi perairan di pantai
utara Jawa relatif lebih tenang daripada di pantai selatan Jawa. Ini dikarenakan
posisi geografis dan keadaan morfologi keduanya yang jauh berbeda. Pantai
selatan Jawa memiliki morfologi pantai yang pendek bagian dangkalnya dan
memiliki palung yang dalam. Sementara pantai utara Jawa memiliki morfologi
yang lebih landai. Hubungan langsung dengan samudera juga membuat pantai
selatan Jawa cenderung lebih besar dan ganas ombaknya dibanding perairan utara
Jawa yang berhadapan dengan laut Jawa.
Pantai Teluk Awur merupakan daerah yang rawan terjadi erosi pantai, upaya
yang sesuai guna menaggulangi permasalahan tersebut adalah dengan melakukan
proteksi pantai dengan pembuatan struktur keras, sehingga kajian dilakukan
dengan cara memodelkan perubahan garis pantai dengan penambahan tiga
skenario bangunan pelindung pantai. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui
perubahan garis pantai dan dampak terkecil pada skenario penambahan bangunan

2
8

pelindung.

4.2.2 Analisis Data


Nilai MSL, LLWL, dan HHWL
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan pada tanggal 6 7
Juni 2015, pasang tertinggi terjadi pada hari Sabtu pada pukul 13.30 setinggi
128 cm di palem 1 dan 150 cm di palem 2. Sedangkan surut terendah yang
tercatat selama pengamatan terjadi pada pukul 23.30 setinggi 52 cm di palem
1 dan 74 cm di palem 2. MSL pada perairan Teluk Awur Jepara adalah 97 cm.
HHWL dan LLWL di perairan Teluk Awur Jepara apabila dihitung dengan
menggunakan metode admiralty sebesar 148,5 cm dan 51,5 cm.
Grafik
Grafik pasang surut yang ada di atas didapatkan dari data pasang surut
yang telah diolah dengan menggunakan Ms. Excel. Dari grafik dapat dilihat
bahwa penempatan palem pasang surut sangat mempengaruhi nilai
pengamatan. Palem 1 yang diletakkan di belakang asrama kemungkinan
lokasi penempatannya kurang tepat karena pada saat malam hari, titik 0 pada
palem tidak tergenang air. Sehingga pengamatan palem dilakukan di palem 2.
Pemindahan pengamatan palem menyebabkan harus diadakannya proses
koreksi sebesar 22 cm dari palem palem 2 ke palem 1. Ketingian air pada
palem 2 jauh lebih tinggi daripada palem 1 karena palem 2 posisi dasarnya
sangat dalam. Pada saat pemasangan, ketinggian air di palem 2 mencapai 140
cm sedangkan palem 1 hanya 120 cm.
4.2.3 Fungsi Benchmark Terhadap Muka Air
Benchmark merupakan titik atau patok yang digunakan untuk mengetahui
lokasi ketinggian suatu wialayah berdasarkan MSL. Benchmark atau yang biasa
disebut dengan BM biasanya terukir di sebuah batu, patok semen ( cor coran ),
dll. Fungsi dari BM selain untuk mengetahui lokasi ketinggian suatu wilayah
berdasarkan MSL juga dapat berfungsi untuk mengoreksi data hasil pengukuran
pasang surut. MSL di laut selalu tetap sehingga BM yang terdapat di sebuah
wilayah pasti akan selalu benar nilainya. Permasalahan yang terjadi sekarang

2
8

adalah hilangnya BM di kawasan kawasan pemukiman akibat dari pertumbuhan

ekanomi dan petumbuhan pembangunan suatu wilayah. Sehingga untuk melihat


seberapa tinggi wilayah tersebut harus mencari cari BM terlebih dahulu bahkan
sampai harus bertanya ke lembaga pemertintahan seperti BMKG.
4.2.4 Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Tipe Pasang Surut
Faktor faktor eksternal yang mempengaruhi pasang surut di perairan
secara umum adalah angin, densitas, curah hujan dan penguapan. Di perairan
Teluk Awur Jepara, angin bertiup tidak begitu kuat karena tekanan yang ada di
daratan hampir sama dengan tekanan yang ada di lautan. Kedua adalah faktor
topografi pantai dimana kecuraman di pantai Teluk Awur Jepara sangat landai
sehingga tiupan angin tidak begitu kuat. Tiupan angin akan membangkitkan arus
dan akhirnya akan membangkitkan gelombang. Setelah ada gelombang, akan
terjadi pola naik turunnya air laut secara harmonik. Selanjutnya adalah faktor
densitas yang di perairan Teluk Awur Jepara. Adanya perbedaan densitas akan
menyebabkan terjadinya arus bawah. Arus ini akan menggerakan permukaan air
yang ada diatasnya sehingga akan menimbulkan pergerakan arus secara vertikal.
Adanya arus vertikal akan menyababkan fenomena pasang surut air laut. Faktor
terakhir yang mempengaruhi terjadinya pasang surut adalah curah hujan dan
penguapan yang terjadi di suatu daerah. Semakin tinggi curah hujannya maka
semakin tinggi volume air yang ada di wilayah tersebut. Sedangkan semakin

2
8

sedikit curah hujan maka semakin berkurang volume air di perairan tersebut.

V. PENUTUP
5.1

Kesimpulan
.1 Pemasangan palem pasang surut, titik 0 cm harus berada dan selalu
terendam air pada saat kondisi air surut tersurut. Sehingga nilai dari surut
terendah dapat dilihat. Kedua, harus diletakkan secara tegak lurus. Ketiga
tidak boleh berada di jalur pelayaran kapal.
.2 Pengukuran pasang surut dengan menggunakan palem pasang surut ada
berbagai cara. Ada yang dilakukan dengan cara mencatat nilai pasang
surut setiap 15 menit sekali bahkan 1 jam sekali tergantung kebutuhan.
.3 Faktor faktor utama yang mempengaruhi pasang surut adalah gerak
rotasi dan revolusi bumi. Sedangkan faktor eksternalnya antara lain
angin, densitas, curah hujan dan penguapan serta limbah dari daratan.
Saran
.1 Sebaiknya praktikan lebih teliti dalam membaca nilai tertinggi dan nilai
terendah serta tidak lupa melakukan koreksi terhadap benchmark.

2
8

5.2

DAFTAR PUSTAKA
Djaja, Rochman. 1987. Cara Perhitungan Pasut Laut Dengan Metode Admiralty.
Asean-Australia Cooperative Programs On Marine Science Project I :Tides
and Tidal Phenomena. Jakarta: LIPI.
Pariwono, John. 1987. Gaya Penggerak Pasang Surut. Asean-Australia
Cooperative Programs On Marine Science Project I :Tides and Tidal
Phenomena. Jakarta: LIPI.
Poerbandono. 2005. Survei Hidrografi. Bandung: Refika Aditama.
Tim Asisten Pasang Surut, 2015. Modul Praktikum Lapangan Pasang Surut.

2
8

UNDIP. Semarang.

2
8

LAMPIRAN

Dokumentasi praktikum lapangan


Lokasi Pengamatan Stasiun I

2
8

Lokasi Pengamatan Stasiun II

2
8

Foto Stasiun Pengukuran Pasang Surut atau Palem Pasut II

2
8

Foto Stasiun Pengukuran Pasang Surut

Data pengukuran BM
Data BM di Palem 2

Titik BM
56 Meter

2
8

2,47
Meter