Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara biologis wanita dan pria memang tidak sama, akan tetapi
sebagai makhluk jasmani dan rohani yang dilengkapi dengan akal budi,
kedua macam insan itu mempunyai persamaan yang hakiki. Keduanya
adalah pribadi yang mempunyai hak sama untuk berkembang.
Dalam masa transisi menuju kemasyarakat industrial terdapat
perubahan sistem nilai. Hal ini erat hubungannya dengan pembangunan
yang mendatangkan teknologi barat bersama dengan nasihat-nasihatnya.
Dari teknologi barat ini manfaat yang diambil cukup besar, tetapi
disamping itu terdapat pula dampaknya, berupa benturan-benturan antara
kebudayaan tradisional dan barat.
Pertemuan antara kebudayaan secara mendadak itu menimbulkan
permasalahan sosial yang erat hubungannya dengan moralitas. Partisipasi
wanita dalam menangani masalah ini sangat diharapkan karena hal ini
sesuai dengan ketentuan tentang peranan wanita dalam GBHN 1988.
Ketentuan itu menerangkan bahwa peran wanita adalah mewujudkan dan
mengembangkan keluarga sehat, sejahterah dan bahagia, termasuk
pengembangan generasi muda, terutama anak dan remaja dalam rangka
pembangunan wanita seutuhnya.
Di era westernisasi seperti sekarang ini, perempuan sering dijadikan
komoditas bahkan dilecehkan dan menjadi korban dalam berbagai masalah
kehidupan. Hal tersebut yang mendasari bahwa wanita adalah rendah,
lemah dan paling sering mengalami permasalahan yang berkaitan dengan
status kehidupannya dalam dimensi sosial di masyarakat.
1.2 Tujuan dan Manfaat Penulisan
Tujuan dan manfaat dari penulisan makalah antara lain :
a. Untuk mengetahui dimensi sosial wanita
b. Untuk mengetahui status sosial wanita.
c. Untuk mengetahui nilai wanita.
d. Untuk mengetahui peran wanita.

e. Untuk mengetahui permasalahan kesehatan wanita dalam dimensi


sosial.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Dimensi Sosial Wanita
Dimensi sosial wanita adalah suatu fenomena gambaran yang
terjadi

pada

saat

sekarang

ini.

Kenyataannya

adalah

diskriminasi/ketidakadilan:
a. Marginalisasi
1. Peluang untuk menjadi pembantu rumah tangga lebih banyak
diberikan kepada perempuan.
2. Pemupukan dan pengendalian tekhnologi dilakukan oleh laki-laki.
b. Subordinasi
Yaitu keyakinan menetapkan kedudukan dan peran wanita lebih
rendah daripada laki-laki.
c. Pandangan steriotip
Penandaan yang sering bersifat negatif secara umum selalu
melahirkan ketidak adilan yang bersumber dari pandangan gender.
d. Kekerasan terhadap perempuan
Berbagai serangan terhadap fisik maupun integritas mental, psikologis
yang dialami oleh wanita.
e. Beban kerja
Suatu bentuk diskriminasi dimana beban kerja harus dijalankan oleh
salah satu jenis kelamin tertentu. Contoh : pembantu rumah tangga
banyak diberikan kepada perempuan.
2.2 Status Sosial Wanita
Menurut kamus besar bahasa indonesia (2001), status adalah
keadaan atau kedudukan orang/badan dan sebagainya dalam hubungannya
dengan masyarakat dan sekitarnya. Sosial berarti berkenaan masyarakat.
Status sosial wanita berarti kedudukan wanita dalam masyarakat. Dimensi
adalah pengukuran/parameter yang dibutuhkan untuk menggambarkan
posisi dan sifat-sifat objek dalam suatu ruang. Dimensi sosial-lingkungan
yaitu askpek pengetahuan tentang pengaruh kondisi sosial budaya serta
kondisi lingkungan kehidupan terhadap derajat kesehatan manusia.
Menurut Soejono (1990) status sosial atau kedudukan sosial adalah
tempat seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan

ortang lain dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya dan hak-hak


serta kewajibannya.
Status wanita mencakup 2 aspek yaitu:
1. Aspek onotomi wanita
Aspek ini mendeskripsikan sejauh mana wanita dapat mengontrol
ekonomi atas dirinya dibanding dengan pria.
2. Aspek kekuasaan sosial
Aspek ini menggambarkan seberapa berpengaruhnya wanita terhadap
orang lain di luar rumah tangganya.
Status wanita meliputi:
1. Status reproduksi, yaitu wanita sebagai pelestari keturunan. Hal ini
mengisyaratkan bila seorang wanita tidak mampu melahirkan anak,
maka status sosialnya dianggap rendah dibanding wanita yang bisa
mempunyai anak.
2. Status produksi, yaitu sebagai pencari nafkah dan bekerja di luar.
Santrock (2002) mengatakan bahwa wanita yang bekerja akan
meningkatkan harga diri. Wanita yang bekerja mempunyai status
yang lebih tinggi dibanding dengan wanita yang tidak bekerja.
Namun dewasa ini status wanita masih dipandang lebih rendah dari
pada status laki-laki. Apabila pasangan suami istri mengalami infertil,
kebanyakan masyarakat menganggap wanita yang mandul. Begitu pula
bila anak-anaknya nakal maka yang dipersalahkan adalah ibunya.
Walaupun wanita banyak yang telah bekerja menghasilkan nafkah, namun
dipandang masih belum mempunyai status sosial yang sama dengan lakilaki. Laki-laki dipandang lebih mampu, lebih cakap atau lebih kuat untuk
bekerja.
Hal tersebut yang mendasari bahwa wanita adalah rendah, lemah
dan paling sering mengalami permasalahan yang berkaitan dengan status
kehidupannya dalam dimensi sosial di masyarakat.
Usaha yang dapat dilakukan untuk memperbaiki status sosial diantaranya:

1.
2.
3.
4.

Memperbaiki derajat kesehatan.


Bicarakan dengan pasangan hidup atau keluarga.
Berusaha untuk memajukan kesehatan dan masa depan anak-anak.
Berbagi informasi.

2.3 Nilai Wanita


Nilai adalah sesuatu yang berharga, keyakinan yang dipegang
sedemikian oleh seseorang sesuai dengan tuntutan hati nuraninya. Nilai
bersifat pribadi, membentuk dasar perilaku seseorang, diperlihatkan
melalui pola perilaku yang konsisten, komponen intelektual dan
emosional.
Nilai dan kedudukan wanita saat ini yaitu wanita mempunyai
kedudukan khusus didunia yang dapat sejajar dengan laki-laki karena
sebenarnya dimata Tuhan tidak ada perbedaan antara wanita dengan lakilaki karena posisinya seorang wanita dapat menjadi penyebab keberhasilan
atau kegagalan dalam mencapai tujuan.
Ungkapan dalam masyarakat bahwa orang hilang kehormatan
karena wanita, awal dari permusuhan adalah wanita.
Kedudukan dan nilai wanita dalam Agama yaitu Islam
membolehkan poligami yang bukan berarti Islam melecehkan hak dan
martabat wanita, karena poligami yang diperbolehkan jika laki-laki itu
mampu berbuat adil. Islam mengharamkan perzinahan karena merupakan
perilaku pelecehan terhadap wanita dan perilaku yang tidak bertanggung
jawab. Pernikahan dianggap oleh masyarakat dan orang tua sebagai
puncak kesuksesan sebagai orang tua dan puncak kebahagiaan bagi anak
perempuan. Jika anak gadis sampai usia tertentu belum menikah dianggap
suatu aib bagi keluarga dan orang tua dianggap gagal dalam mengurus dan
membesarkan anak.
Tata nilai sosial:
1.
2.
3.
4.
5.

Norma kemurnian dan kesucian.


Norma kesucian pikiran.
Budaya perkawinan.
Budaya reproduksi.
Homoseksualitas.

2.4 Peran Wanita


Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2001) peran berarti
tingkah laku yang diharapkan yang dimiliki wanita sehubungan dengan
kedudukan dimasyarakat.
Menurut Soekanto Soerjono, (1990) peranan (role) merupakan
dinamis kehidupan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan
kewajiban sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu
peranan.
Menurut Kartono Kartini (1992) peran wanita sebagai berikut:
a. Peran wanita berkaitan dengan kedudukannya dalam keluarga
1. Ibu rumah tangga penerus generasi. Perempuan berperan aktif
dalam peningkatan kualitas generasi penerus sejak dalam
kandungan.
2. Istri dan teman hidup patner sex. Sikap istri mendampingi suami
merupakan relasi dalam hubungan yang setara sehingga dapat
tercapai kasih saying dan kelanggengan perkawinan.
3. Pendidik anak. Anak memperoleh pendidikan sejak dalam
kandungan. Memberikan contoh berperilaku yang baik karena
anak belajar berperilaku dari keluarga. Ibu dapat memberikan
pendidikan akhlak, budi pekerti, pendidikan masalah reproduksi.
4. Pengatur rumah tangga. Perempuan menjaga, memelihara,
mengatur rumah tangga, menciptakan ketenangan keluarga. Istri
mengatur ekonomi keluarga, pemelihara kesehatan keluarga,
menyiapkan makanan bergizi tiap hari, menumbuhkan rasa
memiliki dan bertangggung jawab terhadap sanitasi rumah tangga
juga menciptakan pola hidup sehat jasmani, rohani dan sosial.
b. Peran wanita berkaitan dengan kedudukannya dalam masyarakat
sebagai mahluk sosial yang berpartisipasi aktif.
Wanita berpatisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara. Wanita berperan aktif dalam pembangunan berbagai
bidang seperti dalam pendidikan, kesehatan, politik, ekonomi, sosial,
budaya untuk memajukan bangsa dan negara.
2.5 Permasalahan Kesehatan Wanita dan Upaya Mengatasinya
6

2.5.1

Kekerasan
a. Pengertian kekerasan
1) Pasal 89 KUHP

Melakukan

kekerasan

adalah

mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani tidak kecil


secara yang tidak sah misalnya memukul dengan tangan
atau dengan segala macam senjata, menepak, menendang
dan sebagainya.
2) KDRT menurut UU No 23 Tahun 2004 adalah setiap
perbuatan terhadap seorang perempuan, yang berakibat
timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik,
seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga,
termasuk

ancaman

untuk

melakukan

perbuatan,

pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan


hukum dalam lingkup rumah tangga.
b. Bentuk-bentuk kekerasan:
1. Kekerasan psikis. Misalnya: mencemooh,

mencerca,

menghina, memaki, mengancam, melarang berhubungan


dengan keluarga atau kawan dekat/masyarakat, intimidasi,
isolasi,melarang istri bekerja.
2. Kekerasan fisik. Misalnya:

memukul,

membakar,

menendang, melempar sesuatu, menarik rambut, mencekik,


dan lain-lain.
3. Kekerasan ekonomi. Misalnya: tidak memberi nafkah,
memaksa pasangan untuk prostitusi, memaksa anak untuk
mengemis, mengetatkan istri dalam keuangan rumah
tangga, dan lain-lain.
4. Kekerasan seksual. Misalnya: perkosaan, pencabulan,
pemaksaan kehendak atau melakukan penyerangan seksual,
berhubungan seksual dengan istri tetapi istri tidak
menginginkannya.
c. Penyebab terjadi kekerasan :
1. Perselisihan tentaing ekonomi.
2. Cemburu pada pasangan.
3. Pasangan mempunyai selingkuhan.

4. Adanya problema seksual (misalnya: impotensi, frigid,


hiperceks).
5. Pengaruh kebiasaan minum alkohol, drugs abused.
6. Permasalahan dengan anak.
7. Kehilangan pekerjaan/PHK/menganggur/belum mempunyai
pekerjaan.
8. Istri ingin melanj utkan studi/ingin bekerja.
9. Kehamilan tidak diinginkan atau infertilitas.
d. Alasan Tindak Kekerasan Oleh Pria
1. Tindakan kekerasan dapat mencapai suatu tujuan.
Bila terjadi konflik, tanpa harus musyawarah
kekerasan

merupakan

cara

cepat

penyelesaian

masalah.
Dengan melakukan perbuatan kekerasan, pria merasa
hidup lebih berarti karena dengan berkelahi maka pria

merasa menjadi lebih dikdaya.


Pada saat melakukan kekerasan

pria

merasa

memperoleh `kemenangan' dan mendapatkan apa yang


dia harapkan, maka korban akan menghindari pada
konflik berikutnya karena untuk menghindari rasa
sakit.
2. Pria merasa berkuasa atas wanita. Bila pria merasa
mempunyai

istri

kuat'

maka

dia

berusaha

untuk

melemahkan wanita agar merasa tergantung padanya atau


membutuhkannya.
3. Ketidaktahuan pria. Bila latar belakang pria dari keluarga
yang selalu mengandalkan kekerasan sebagai satu-satunya
jalan menyelesaikan masalah dan tidak mengerti cara lain
maka kekerasan merupakan jalan pertama dan utama
baginya sebagai cara yang jitu setiap ada kesulitan atau
tertekan karena memang dia tidak pernah belajar cara lain
untuk bersikap.
e. Akibat Kekerasan
1. Kurang bersemangat atau kurang percaya diri.
2. Gangguan psikologis sampai timbul gangguan sistem dalam
tubuh ( psikosomatik), seperti: cemas,tertekan, stress,
8

anoreksia ( kurang nafsu makan), insomnia ( susah tidur,


sering mimpi buruk, jantung terasa berdebar-debar, keringat
dingin, mual, gastritis,nyeri perut,pusing, nyeri kepala).
3. Cidera ringan sampai berat, seperti: lecet, memar, luka
terkena benda tajam, patah tulang, luka bakar.
4. Masalah seksual, ketakutan hubungan seksual, nyeri saat
hubungan seksual, tidak ada hasrat seksual, frigid.
5. Bila perempuan korban kekerasan sedang hamil dapat
terjadi abortus/keguguran.
f. Pencegahan kekerasan
1. Keluarga wajib mengamalkan ajaran agama. Bapak harus
menjadi imam bagi istri, anak-anak serta keluarga, dan
Ibu imam bagi anak-anak dan dalam mengatur urusan
rumah tangga.
2. Harus dikembangkan komunikasi timbal balik antara
suami, istri dan anak-anak.
3. Istri wajib mendidik anak sejak kecil, kalau marah jangan
memukul dan berkata kasar.
4. Kalau ada masalah harus diselesaikan dengan dialog.
5. Jika terjadi pertengkaran serius, salah satu atau keduaduanya harus meminta kepada orang yang dituakan untuk
memediasi.
g. Penanganan kekerasan
1. Istri dan suami lakukan dialog. Keduanya harus cari solusi
atas masalah yang dihadapi untuk memecahkan masalah
yang menjadi penyebab terjadinya KDRT. Jika anak-anak
sudah mulai besar, ajak mereka supaya berbicara kepada
bapak, kalau KDRT dilakukan bapak (suami).
2. Selesaikan masalah KDRT dengan kepala dingin. Cari
waktu yang tepat untuk sampaikan bahwa KDRT
bertentangan hukum negara, hukum agama, budaya dan
adat-istiadat masyarakat.
3. Laporkan kepada keluarga yang dianggap berpengaruh
yang bisa memberi jalan keluar terhadap penyelesaian
masalah KDRT supaya tidak terus terulang.

4. Kalau sudah parah KDRT seperti korban sudah luka-luka,


maka dilakukan visum.
5. Laporkan kepada yang berwajib telah terjadi KDRT.
Melapor ke polisi merupakan tindakan paling terakhir
karena bisa berujung kepada perceraian.
2.5.2

Perkosaan
a. Pengertian Perkosaan
1. Perkosaan adalah setiap tindakan laki-laki memasukkan
penis, jari atau alat lain ke dalam vagina/alat tubuh seorang
perempuan tanpa persetujuannya.
2. Dikatakan suatu tindakan perkosaan tidak hanya bila
seorang perempuan disiksa, dipukuli sampai pingsan, atau
ketika perempuan meronta, melawan, berupaya melarikan
diri, akan tetapi meski korban tidak melawan, apapun yang
dilakukan perempuan, bila perbuatan tersebut bukan
pilihan/keinginan perempuan berarti termasuk tindak
perkosaan, bukan kesalahan wanita.
b. Macam-macam perkosaan
1. Pemerkosaan oleh orang yang dikenal:
a) Pemerkosaan oleh suami atau bekas suami
b) Perkosaan oleh pacarnya
c) Perkosaan oleh teman kerja/atasan
d) Pelecehan seksual pada anak-anak
1) Anak perempuan diperkosa ayahnya
2) Anak perempuan diperkosa paman
3) Anak perempuan diperkosa kakek
2. Pemerkosaan oleh orang yang tidak dikenal
a) Perkosaan oleh sekelompok pelaku (diperkosa lebih dari
1 orang)
b) Perkosaan dipenjara (diperkosa oleh polisi atau sipir/
penjaga penjara)
c) Pemerkosaan saat perang (tentara atau gerilyawan
sering menggunakan perkosaan untuk menakut-nakuti
wanita.
c. Penyebab terjadi perkosaan
1. Pria ingin menunjukkan kekuasaan yang bertujuan untuk
menguasai korban dengan cara mengancam (dengan senjata

10

secara,

fisik

mengertak)

menyakiti
dan

dengan

perempuan,

verbal

dengan

penetrasi

sebagai

simbol

kemenangan.
2. Luapan perilaku sadis, pelaku merasa puas telah membuat
penderitaan bagi orang lain.
d. Dampak perkosaan
1. Dampak perkosaan bagi korban perkosaan biasanya pada
wanita dan keluarganya, dimana peristiwa diperkosa
merupakan tragedi yang sangat menyakitkan dan sulit
dilupakan sepanjang hidup mereka. Bahkan, sering kali
menyebabkan trauma yang berkepanjangan. Peristiwa ini
melahirkan rasa malu dan aib selama hidup yang akhirnya
menimbulkan rasa rendah diri, terutama pada saat harus
menjalani kehidupan sosial mereka selanjutnya.
2. Biasanya perkosaan pada perempuan juga melibatkan
kekerasan fisik, sehingga mungkin saja terjadi luka dan rasa
sakit di beberapa bagian tubuh, seperti di daerah genital.
3. Perkosaan mengalami gangguan emosi dan psikologis.
Beberapa juga dapat mengalami trauma, meskipun diawal
mereka mencoba untuk mengelak bahwa meraka telah
diperkosa dan mencoba melanjutkan hidup seperti biasa
seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah perkosaan umumnya
yang timbul adalah kemarahan, ketakutan, perasaan tidak
aman, depresi, insomnia (sulit tidur), sering mimpi buruk,
menghindari kontak seksual dan sebagainya.
e. Penyebab perempuan rentan menjadi korban perkosaan
1. Kekurangan fisik dan mental, adanya suatu penyakit atau
permasalahan yang berkaitan dengan fisik sehingga
perempuan duduk diatas kursi roda, bisu, tuli, buta atau
keterbelakangan mental. Mereka tidak mampu mengadakan
perlawanan.
2. Pengungsi, imigran, tidak mempunyai rumah, anak
jalanan/gelandangan, di daerah peperangan.
3. Korban tindak kekerasan suami/pacar.

11

f. Pencegahan perkosaan
1. Berpakaian santun, berprilaku, bersolek tidak mengundang
perhatian pria
2. Melakukan aktifitas secara bersamaan dalam kelompok
dengan banyak teman, tidak berduaan dengan lawan jenis
3. Di tempat kerja bersama teman / kelompok, tidak berduaan
sesama pegawai/atasan (pria)
4. Tidak menerima tamu laki-laki ke rumah, bila di rumah
seorang diri.
5. Bila merasa diikuti orang, ambil jalan ke arah yang
berlainan atau berbalik dan bertanya ke orang tersebut
dengan nada yang tegas apa maksudnya
6. Membawa alat yang bersuara keras seperti peluit, atau alat
bela diri seperti parfum spray, bubuk cabe/yang bisa
ditiupkan ke mata
7. Berteriak sekencang-kencangnya bila diserang
8. Jangan ragu mencegah dengan mengatakan tidak walaupun
pada atasan yang punya kekuasaan atau pada pacar yang
sanagt dicintai.
9. Tidak menginap, bila orang tersebut merayu tegaskan
bahwa perkataan dan sentuhannya membuat anda merasa
risih, tidak nyaman, dan cepatlah meninggalkannya.
10. Jangan abaikan kata hati. Ketika tidak nyaman dengan suatu
tindakan yang mengarah seperti dipegang, diraba, dicium,
diajak ke tempat sepi.
11. Waspada terhadap berbagai cara pemerkosaan seperti;
hipnotis, obaat-obatan dalm minuman, permen, snack dan
hidangan makanan.
12. Saat ditempat baru, jangan terlihat bingung. Bertanya pada
polisi, dan sejenisnya.
13. Menjaga jarak/space interpersonal dengan lawan jenis.
g. Tindakan saat terjadi perkosaan
1. Hindari menangis atau minta belas kasihan.
2. Hindari kepanikan, tetap waspada, bertindak saat pelaku
lengah.
3. Berjuang untuk pernbela diri seperti: menendang, teriak,
menawar, melakukan strategi perlawanan.
12

4. Amati ciri khusus pelaku.


5. Manfaatkan evaluasi situasi yang terbaik.
h. Penangan perkosaan
Tugas tenaga kesehatan dalam kasus tindak perkosaan:
1. Bersikap dengan baik, penuh perhatian dan empati.
2. Memberikan asuhan untuk menangani gangguan
kesehatannya, misalnya mengobati cidera, pemberian
kontrasepsi darurat
3. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan dan apa yang
sebenarnya terjadi.
4. Memberikan asuhan pemenuhan kebutuhan psikologis
5. Memberikan konseling dalam membuat keputusan.
6. Membantu memberitahukan pada keluarga.
2.5.3

Pelecehan Seksual
a. Pengertian pelecehan seksual
Pelecehan seksual adalah segala bentuk perilaku maupun
perkataan bermakna seksual yang berefek merendahkan
martabat

orang

yang

menjadi

sasaran.

Pendapat

lain

menyebutkan pelecehan seksual adalah setiap bentuk perilaku


yang memiliki muatan seksual yang dilakukan seseorang atau
sejumlah orang namun tidak disukai dan tidak diharapkan oleh
orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan akibat
negatif, seperti rasa malu tersinggung, terhina, marah,
kehilangan harga diri dan kehilangan kesucian.
b. Bentuk-bentuk pelecehan seksual
1. Mengucapkan kata-kata jorok tentang tubuh wanita.
2. Main mata, siulan nakal, isyarat jorok, sentuhan, rabaan,
remasan, usapan, elusan, colekan, pelukan, ciuman pada
bagian tubuh wanita.
3. Menggoda, kearah hubungan seksual.
4. Laki-laki memperlihatkan alat kelaminnya atau onani di
depan perempuan.
c. Faktor penyebab pelecehan seksual
1. Penayangan tulisan atau tontonan pada media massa yang
kerap merujuk pada segenap bentuk materi yang terkait
dengan seks.
2. Rusaknya moral dan sistem nilai yang ada di masyarakat.

13

3. Kurang berperannya agama dalam mencegah terjadinya


pelecehan seksual.
4. Hukuman yang diberikan kepada pelaku pelecehan seksual
yang

belum

setimpal

atau

hal-hal

lainnya

yang

mempengaruhi terjadinya pelecehan terhadap wanita.


5. Sikap toleran terhadap hal-hal kecil. Seorang remaja putri
yang bersenang-senang saja ketika tangannya dipegangi
oleh

lelaki

yang

jadi

idolanya,

adalah

awal

dari

kemungkinan seksual. Jika seperti ini perlu diwaspadai.


Tanpa disadari, sikap penerimaan yang tidak sabar itu bisa
saja ditafsirkan sebagai kode pembolehan oleh si pria untuk
melakukan aksi yang lebih jauh.
d. Akibat pelecehan seksual
1. Gangguan psikologis: marah, mengumpat, tersinggung
dipermalukan, terhina, trauma sehingga takut keluar rumah.
2. Kehilangan gairah kerja /belajar, malas.
e. Pencegahan pelecehan seksual
1. Sadarkan keluarga kita terutama anak-anak untuk
mengenali situasi potensial yang dapat menyeret ke jurang
pelecehan.
2. Hindari tempat-tempat yang rawan, gelap dan sunyi serta
jauh dari keramaian, kalaupun terpaksa harus melewati jalur
itu, lakukan secara berombongan. Kalau anak-anak pulang
malam, usahakan dijemput.
3. Hindari penggunaan busana minimalis. Penampilan yang
seronok dapat membuat penafsiran menyimpang bagi orang
lain. Selalu berpenampilan sopan dan tertutup. Selain itu
perkataan dan tutur kata juga harus selalu sopan.
4. Hindari berduaan dengan seseorang yang pernah melakukan
pelecehan seksual pada anda.
5. Hindari peluang berduaan dengan orang yang berkategori
playboy, suka daun muda atau orang yang berperilaku
aneh-aneh.
f. Penanganan pelecehan seksual
1. Mempertahankan Imej Profesional

14

Berusaha

untuk

mempertahankan

imej

atau

citra

profesional. Kenakanlah busana yang rapi dan terhormat ke


kantor sehingga tidak mengundang perhatian rekan kerja
yang jahil, terutama pria.
2. Tegas dan Percaya Diri
Seorang pengganggu dan yang suka melecehkan biasanya
kerap senang menyakiti orang lain. Jadi senjata terbesar
yang dibutuhkan adalah kekuatan. Jika menunjukkan bahwa
diri lemah dan rentan, mereka justru akan memanfaatkan
kelemahan tersebut.
3. Jangan Mengumbar ke Banyak Orang
Jika mengalami pelecehan seksual, cukup ceritakan pada
teman dekat atau atasan yang punya wewenang menegur
dan memberi sanksi terhadap karyawan yang berperilaku
menyimpang karena jika mengumbar ke banyak orang bisa
menjadi bumerang.
4. Membuat Catatan Tertulis
Catatlah tanggal dan waktu kejadiannya secara lengkap.
Mencatat identitas pelaku, lokasi kejadian dan perilaku serta
ucapan si pelaku. Hal ini untuk menguatkan laporan ke
bagian personalia, lembaga bantuan hukum atau kepolisian,
jika memang kasus ini perlu dibawa ke jalur hukum.
5. Membina Tim
Ketika upaya secara individu gagal untuk menegaskan
kepada si pelaku untuk tidak melakukan pelecehan,
sebaiknya membina satu tim dengan rekan kerja terpercaya.
Dengan begitu ketika si pelaku mulai ingin melecehkan,
beberapa saksi yang juga bisa membantu keluar dari situasi
tersebut.
2.5.4

Single Parent
a. Pengertian single parent
Single parent adalah keluarga yang mana, hanya ada satu orang
tua tunggal, hanya ayah atau ibu saja. Keluarga yang terbentuk

15

bisa terjadi pada keluarga sah secara hukum maupun keluarga


yang belum sah secara hukum, baik hukum agama maupun
hukum pemerintah.
b. Sebab-sebab terjadinya single parent
1. Perceraian. Adanya, ketidakharmonisan dalam keluarga
yang

disebabkan

adanya

perbedaan

persepsi

atau

perselisihan yang tidak mungkin ada jalan keluar, masalah


ekonomi/pekerjaan,

salah

satu

pasangan

selingkuh,

kematangan emosional yang kurang, perbedaan agama,


aktifitas suami istri yang tinggi di luar rumah sehigga
kurang komunikasi, problem seksual dapat merupakan
faktor timbulnya perceraian.
2. Orang tua meninggal. Takdir hidup dan mati manusia di
tangan Tuhan. Manusia hanya bisa berdoa dan berupaya.
Adapun sebab kematian ada berbagai macam. Antara lain
karma kecelakaan, bunuh diri, pembunuhan, musibah
bencana alam, kecelakaan kerja, keracunan, penyakit dan
lain-lain.
3. Orang tua masuk penjara. Sebab masuk penjara antara lain
karena melakukan tindak kriminal seperti perampokan,
pembunuhan, penciarian, pengedar narkoba atau thicial,
perdata seperti hutang, jual beli, atau karma tidak pidana
korupsi sehingga sekian lama tidak berkumpul dengan
keluarga.
4. Study ke pulau lain atau ke negara lain. Tuntutan profesi
orang tua untuk melanjutkan study sebagai peserta tugas
belajar mengakibatkan harus, berpisah dengan keluarga
untuk sementara waktu, atau bisa terjadi seorang anak yang
meneruskan pendidikan di pulau lain atau luar negeri dan
hanya bersama ibu saja sehingga menyebabkan anak untuk
sekian lama tidak didampingi oleh ayahnya yang harus tetap
kerja di negara atau pulau atau kota. kelahiran.

16

5. Kerja di luar daerah atau luar negeri. Cita-cita untuk


mewujudkan kehidupan yang lebih baik lagi menyebabkan
salah satu orang tua meninggalkan daerah, terkadang ke
luar negeri.
c. Dampak single parent
1. Dampak negatif
a) Perubahan perilaku anak. Bagi seorang anak yang tidak
siap,

ditinggalkan

mengakibatkan

orang

tuanya

bisa

menjadi

perubahan

tingkah

laku.

Menjadi

pemarah, berkata kasar, suka melamun, agresif, suka


memukul, menendang, menyakiti temannya. Anak juga
tidak berkesempatan untuk belaiar perilaku yang baik
sebagaimana, perilaku keluarga yang harmonis. Dampak
yang paling berbahaya biia anak mencari pelarian di
luar rumah, seperti menjadi anak jalanan, terpengaruh
penggunaaa

narkoba

untuk

melenyapkan

segala

kegelisahan dalam hatinya, terutama anak yang kurang


kasih sayang, kurang perhatian orang tuanya.
b) Perempuan merasa terkucil. Terlebih lagi

pada

perempuan yang sebagai janda atau yang tidak dinikahi,


di masyarakat terkadang mendapatkan cemooh dan
ejekan.
c) Psikologi anak terganggu. Anak Bering mendapat
ejekan diri Leman sepermainan sehingga anak menjadi
murung, sedih. Hai ini dapat mengakibatkan anak
menjadi kurang percaya diri dan kurang kreatif.
2. Dampak positif
a) Anak terhindar dari komunikasi yang kontradiktif dari
orang tua, tidak akan terjadi komunikasi yang
berlawanan

dari

orang

tua,

i-nisaInya

ibunya

mengijinkan teLapi ayahnya melarangnya. Nilai yang


diajarkan oleh ibu atau ayah d iterima penuh karena
tidak terjadi pertentangan.
b) Ibu berperan penuh dalam pengambilan keputusan.
17

c) Anak lebih mandiri dan berkepribadian kuat, karena


terbiasa

tidak

selalu

hal

didampingi,

terbiasa

menyelesaikan berbagai masalah kehidupan.


d. Upaya pencegahan single parent dan pencegahan dampak
negatif single parent
1) Pencegahan terjadinya kehamilan di luar nikah.
2) Pencegahan perceraian dengan mempersiapkan perkawinan
dengan baik dalam segi psikologis, ke-aangan, spiritual.
3) Menjaga kommikasi dengan berbagai sarana teknologi
informasi.
4) Menciptakan kebersamaan antar anggota keluarga.
5) Peningkatan spiritual dalam keluarga.
e. Penanganan single parent
1) Memberikan kegiatan yang positif. Berbagai macam
kegiatan yang dapat mendukung anak untuk lebih bisa
mengah, ualisasikan diri secara positif antara lain dengan
penyaluran. hobi, kursus sehingga menghindarkan anak
melakukan hal-hal yang negatif.
2) Memberi peluang anak belajar berperilaku baik. Bertandang
pada keluarga, lain yang harmonis memberikan kesempatan
bagi anak untuk meneladani figur orang tua yang tidak
diperoleh dalam lingkungan keluarga sendiri.
3) Dukungan komunitas. Bergabung dalam club sesama
keluarga dengan orang tua tunggal dapat memberikan
dukungan karena anak mempunyai banyak teman yang
bemasib sama sehingga tidak merasa sendirian.
2.5.5

Perkawinan Usia Muda dan Usia Tua


Perkawinan adalah ikatan batin antara pria dan wanita sebagai
suami istri dengan tujuan membentuk keluarga/ rumah tangga
yang bahagia dan kekal berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa (UU
Perkawinan No 1 Thahun 1974)
a. Perkawinan usia muda
1. Pengertian Perkawinan usia muda
Menurut UU Perkawinan No 1 Tahun 1974 pasal 7
bahwa perkawinan diij inkan bila laki-laki berumur 19

18

tahun dan wanita berumur 16 tahun. Namun pemerintah


mempunyai kebijakan tentang perilaku reproduksi manusia
yang ditegaskan dalam UU No 10 Tahun 1992 yang
menyebutkan bahwa pemerintah menetapkan kebijakan
upaya penyelenggaraan Keluarga Berencana. Banyaknya
resiko kehamilan kurang dari perkawinan diijinkan bila
laki-laki berumur 21 tahun dan perempuan berumur 19
tahun. Sehingga perkawinan usia muda adalah perkawinan
yang dilakukan bila pria kurang dari 21 tahun dan
perempuan kurang dari 19 tahun.
2. Kelebihan perkawinan usia muda
a) Terhidar dari perilaku seks bebas, karena kebutuhan
seksual terpenuhi.
b) Menginjak usia tua tidak lagi mempunyai anak yang
masih kecil.
3. Kekurangan perkawinan usia muda
a) Meningkatkan angka kelahiran sehingga pertumbuhan
pendudukan semakin meningkat.
b) Ditinjau dari segi kesehatan,perkawinan usia muda
meningkatkan angka kematian bayi dan ibu,risiko
komplikasi kehamilan,persalinan dan nifas.Selain itu
bagi perempuan meningkatkan risiko cerviks karena
hubungan seksual dilakukan pada saat secara anatomi
sel sel serviks belum matur. Bagi bayi risiko
terjadinya kesakitan dan kematian meningkat.
c) Kematangan psikologis belum tercapai sehingga
keluarga mengalami kesulitan mewujudkan keluarga
yang berkualitas tinggi.
d) Ditinjau dari segi sosial,dengan perkawinan mengurangi
kebebasan pengembangan diri,mengurangi kesempatan
melanjutkan pendidikan jenjang tinggi.
e) Adanya konflik dalam keluarga membuka peluang
untuk mencari pelarian pergaulan di luar rumah

19

sehingga

meningkatkan risiko penggunaan minuman

alkohol,narkoba,dan seks bebas.


f) Tingkat peceraian tinggi.Kegagalan kelurga dalam
melewati berbagai macam permasalahan meningkatkan
risiko perceraian
4. Penanganan perkawinan usia muda
a) Pendewasaan usia kehamilan dengan penggunaan
kontrasepsi sehingga kehamilan pada waktu usia
reproduksi sehat.
b) Bimbingan psikologis. Hal ini dimaksudkan untuk
membantu pasangan dalam menghadapi persoalanpersoalan agar mempunyai cara pandang dengan
pertimbangan

kedewasaan,

tidak

mengedepankan

emosi.
c) Dukungan keluarga. Peran keluarga sangat banyak
mernbantu kell 1,grga muda baik clukungan berupa
material maupun non material untuk kelanggengan
keluarga, sehingga lebih tahan terhadap hambatanhambatan yang ada.
d) Peningkatan
kesehatan

dengan

peningkatan

pengetahuan kesehatan, perbaikan gizi bagi istri yang


mengalami kurang gizi.
b. Perkawinan usia tua
1. Pengertian perkawinan usia tua
Adalah perkawinan yang dilakukan bila perempuan
berumur lebih dari 35 tahun.
2. Kelebihan perkawinan usia tua
Kematangan fisik, psikologis, sosial, financial sehingga
harapan

membentuk

keluarga

sejahtera

berkualitas

terbentang.
3. Kekurangan pernikahan usia tua
a) Meningkatkan angka kesakitan dan kematian ibu dan
bayi.

Kemungkinan/risiko

meningkat.

20

tejadi

ca

mammae

b) Meningkatnya risiko kehamilan dengan anak kelainan


bawaan, misalnya terjadi kromosom non disjunction
yaitu kelainan proses meiosis basil konsepsi (fetus)
sehingga

menghasilkan

kromosom

sejumlah

47.

Aneuploidy, yaitu ketika kromosom basil konsepsi tidak


tepat 23 pasang. Contohnya: trisomi 21 (down
syndrome), trisomi 13 (patau syndrome) dan trisomi 18
(edwards syndrome).
4. Penanganan Perkawinan Usia Tua
a) Pengawasan kesehatan: ANC secara rutin pada tenaga
kesehatan.
b) Peningkatan

kesehatan

dengan

peningkatan

pengetahuan kesehatan, perbaikan gizi bagi istri yang


mengalami kurang gizi.
c. Pencegahan perkawinan muda dan tua:
1. Penyuluhan kesehatan untuk menikah pada usia reproduksi
sehat.
2. Merubah cara pandang budaya atau cara pandang diri yang
tidak mendukung.
3. Meningkatkan kegiatan sosialisasi.

21

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dimensi sosial wanita Adalah suatu fenomena gambaran yang
terjadi

pada

saat

sekarang

diskriminasi/ketidakadilan seperti

ini.
:

Kenyataannya

Marginalisasi,

adalah

Subordinasi,

Pandangan Steriotip, Kekerasan terhadap perempuan, beban kerja.


Permasalahan yang berkaitan dengan dimensi sosial wanita yaitu
kekerasan, pemerkosaan, pelecehan seksual, single parent, perkawinan
usia muda dan tua, dan lain-lain.
3.2 Saran
Semoga setiap wanita selalu waspada dalam segala permasalahan
kesehatan dalam dimensi sosialnya.

22

DAFTAR PUSTAKA
Fatonah, Siti. 2013. Permasalahan Kesehatan Perempuan Dalam Dimensi Sosial
dan

Upaya

Mengatasinya.

http://bidansitifatonah.blogspot.co.id/2013/05/permasalahan-kesehatanperempuan-dalam_20.html. Visited 29 April 2016


MSH, Firla R. 2011. Dimensi Sosial Wanita dan Permasalahannya (Perkosaan).
http://firlyafhie-msh.blogspot.co.id/2011/06/dimensi-sosial-wanita-dan.html.
visited 29 April 2016
Nurlia, Is Anis. 2015. Makalah Dimensi Sosial Wanita dan Permasalahannya
(Lengkap).

http://isanisnurlia.blogspot.co.id/2015/04/makalah-dimensi-

sosial-wanita-dan.html. Visited 29 April 2016


Nurianti, Irma. ___. Dimensi Sosial Wanita dan Permasalahannya, [pdf].
Sihombing, Berliana. 2013. Dimensi Sosial Wanita dan Permasalahannya.
http://riannahasian2.blogspot.co.id/2013/02/dimensi-sosial-wanita-dan.html.
Visited 29 April 2016
Umar, Musni. 2012. Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Dalam Rumah
Tangga (KDRT). https://musniumar.wordpress.com/2012/07/09/pencegahandan-penanganan-kekerasan-dalam-rumah-tangga-kdrt/. Visited 29 April
2016
Widyatun, Diah. 2012. Dimensi Sosial Wanita dan Permasalahannya.
http://jurnalbidandiah.blogspot.co.id/2012/05/dimensi-sosial-wanitadan.html. Visited 29 April 2016

23