Anda di halaman 1dari 9

Middle Test

Multiparadigm Accounting

KONSEP PENGENDALIAN INTERNAL PADA ENTITAS RUMAH IBADAH


By:
Farhani Kautsar Nugraha
146020310011014

Lectured by:
Prof. Eko Ganis Sukoharsono, S.E, M.Com-Hons, CSRS, CSRA, Ph.D

ACCOUNTING MAGISTER PROGRAM


FACULTY OF ECONOMIC AND BUSINESS
BRAWIJAYA UNIVERSITY
MALANG

2016KONSEP PENGENDALIAN INTERNAL PADA ENTITAS RUMAH


IBADAH
Farhani Kautsar Nugraha
146020310011014
Pendahuluan
Pengendalian internal merupakan pengembangan ilmu akuntansi yang
berada dalam lingkup sistem informasi akuntansi. Konsep pengendalian internal
yang digunakan di seluruh dunia selalu mengacu pada konsep yang diusulkan oleh
Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO).
Sementara konsep ini tidak bisa diterapkan sepenuhnya pada organisasi-organisasi
nirlaba seperti organisasi rumah ibadah. Ilmu dan praktik akuntansi merupakan
hal yang sangat penting dalam bisnis, tetapi dalam entitas nirlaba rumah ibadah
seperti masjid, ilmu dan praktek akuntansi tidak begitu diperhatikan [1].
Manfaat yang diberikan oleh sebuah sistem pengendalian internal yang
baik tidak hanya berupa manfaat secara finansial, tetapi juga non-finansial [2].
Pengurus masjid misalnya yang menggunakan sebuah sistem informasi dapat
memperoleh manfaat finansial berupa peningkatan efisiensi. Sedangkan manfaat
non-finansial yang diperoleh berupa peningkatan kinerja yang berakibat pada
meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada pengurus masjid. Penerapan
pengendalian internal yang baik akan menjadi salah satu bentuk akuntabilitas
masjid kepada masyarakat dalam melakukan transaksi penerimaan dan
pengeluaran kas berdasarkan asas kepercayaan [3].
Pengendalian internal yang buruk tidak hanya akan menimbulkan
kecurangan tetapi juga menjadikan operasional organisasi menjadi tidak efektif
[4] terkait informasi dan komunikasi. Selain itu, aset menjadi tidak aman dan
tidak dapat dioptimalkan. Penerapan pengendalian internal yang baik juga akan
membantu organisasi dalam mencapai tujuannya [5].
Konsep yang ada dalam COSO tentu saja mengarah pada kapitalisme barat
yang belum tentu cocok bahkan bisa saja bertolak belakang dengan konsep agama
dalam pengelolaan sebuah organisasi. Maka perlu adanya konsep spiritualis yang
lebih sesuai digunakan untuk merepresentasikan keadaan dan konsep
pengendalian rumah ibadah.
Tujuan studi ini adalah untuk mendeskripsikan konsep pengendalian
internal masjid ditinjau dari perspektif spiritualis. Pembahasan dalam studi ini
dapat digunakan oleh praktisi dalam menerapkan pengendalian internal serta
menambah wacana yang ada pada ilmu akuntansi, khususnya konsep
pengendalian internal pada entitas nirlaba rumah ibadah.

Paradigma Penelitian Akuntansi


Upaya untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian menggunakan
metode yang berbagai macam. Metode atau model tersebut biasa disebut dengan
paradigma [6]. Setiap paradigma memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-

masing, serta memiliki tujuan keilmuannya masing-masing. Di dunia umumnya


menggunakan paradigma positivis dalam menjawab rumusan masalah penelitian
dengan melakukan uji hipotesis. Namun dalam studi ini tidak menarik jika
melakukan uji tersebut untuk mencapai tujuan penelitian sehingga penulis tidak
menggunakan paradigma positivis dalam studi ini.
Dalam penelitian akuntansi dikenal lima paradigma yaitu positivis,
interpretivis, kritis, posmodernis, dan spiritualis. Spiritualis merupakan paradigma
terbaru dalam akuntansi yang bertolak belakang dengan paradigma barat yang
mainstream. Paradigma ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan adanya
paradigma ini bukan berarti paradigma lain tidak layak digunakan, seorang
peneliti sebaiknya mampu menerima paradigma-paradigma sebagai paradigma
yang saling melengkapi atau bisa disebut multiparadigma [7].
Tujuan penelitian paradigma spiritualis adalah untuk meningkatkan
keyakinan akan ketuhanan. Maka ilmu pengetahuan yang dihasilkan menjadi sarat
nilai. Misalnya konsep spiritualis terkait laba akuntansi akan meningkatkan
kesadaran ketuhanan para pengguna laporan akuntansi. Hal ini dapat terjadi jika
laba tersebut tidak dimaknai hanya sebagai sekadar materi tetapi misalnya laba
secara spiritual seperti dalam konsep akuntansi syariah. Peneliti dalam paradigma
spiritualis akan terus berusaha mengembangkan ilmu yang bertujuan untuk
meningkatkan kesadaran ketuhanan [7].
Dalam studi ini metode yang digunakan adalah telaah pemikiran dari
perspektif spiritualis, sehingga literatur-literatur menjadi objek kajian. Metode ini
juga biasa disebut kajian pustaka. Telaah atau kajian terhadap literatur tidak
semata-mata meneliti tulisan karena literatur sendiri adalah karya tulis yang
merupakan gagasan atau buah pemikiran seseorang atau sekelompok orang yang
umumnya merupakan pakar dalam bidang tersebut [6]. Sehingga dalam studi ini
penulis akan membandingkan konsep pengendalian internal dalam literaturliteratur kemudian menganalisisnya dengan intuisi dan penalaran (melakukan
proses tafakkur dan doa) untuk menemukan jawaban kebenaran.

Konsep Pengendalian Internal COSO


Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission
(COSO) menerbitkan Internal Control Integrated Framework pada tahun 1992
yang kemudian digunakan di seluruh dunia sebagai acuan dan landasan dalam
menerapkan dan mengimplementasikan pengendalian internal dalam organisasi
[5]. COSO melakukan update setiap terjadi perubahan dalam karakteristik dan
lingkungan bisnis.
Entitas menggunakan pengendalian internal untuk mencapai tujuan
penting dan memaksimalkan kinerja operasional yang efektif dan efisien serta
digunakan dalam pengambilan keputusan [5]. Kerangka yang disusun oleh COSO
ditujukan agar setiap tipe entitas dapat menerapkan pengendalian internal,
menggunakan pendekatan principles-based dalam penerapan pengendalian
internal, kemudian menyediakan standar komponen-komponen yang digunakan

dalam pengendalian internal yang efektif, serta mengembangkan sistem yang


dapat mengurangi tindak kecurangan.
COSO mendefinisikan pengendalian internal sebagai proses yang
dipengaruhi oleh pimpinan entitas, manajemen, atau orang lain, yang didesain
untuk menyediakan standar dalam mencapai tujuan organisasi terkait operasional,
pelaporan, dan kepatuhan. Tujuan operasional berarti organisasi berusaha
mencapai efektivitas dan efisiensi dalam operasi termasuk kinerja keuangan serta
menjaga aset organisasi. Tujuan pelaporan adalah mewujudkan akuntabilitas dan
transparansi. Kemudian tujuan kepatuhan adalah menyesuaikan kegiatan
organisasi dengan standar atau aturan yang berlaku. Komponen pengendalian
internal adalah sebagai berikut [5].
1. Lingkungan pengendalian
Lingkungan pengendalian adalah seperangkat standar, proses, dan struktur
dalam organisasi. Manajemen senior memegang peranan penting sebagai tone at
the top. Lingkungan pengendalian juga mencakup filosofi dan nilai etis dalam
manajemen. Keseluruhan implementasi pengendalian internal ditentukan oleh
lingkungan pengendalian.
2. Penilaian resiko
Setiap entitas menghadapi resiko baik dari internal maupun eksternal
organisasi. Resiko adalah kejadian atau peristiwa yang mempengaruhi pencapaian
tujuan organisasi. Penilaian resiko berarti melakukan proses yang iteratif untuk
mengidentifikasikan resiko sehingga organisasi dapat menghadapi kemungkinan
resiko tersebut. Maka sebelumnya entitas harus melakukan penentuan tujuan yang
jelas sehingga dapat diketahui resiko-resiko yang berkaitan dalam rangka
pencapaian tujuan.
3. Aktivitas pengendalian
Aktivitas pengendalian adalah tindakan atau aksi yang dilakukan untuk
mengimplementasikan kegiatan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan untuk
mencapai tujuan organisasi. Aktivitas pengendalian ini dilakukan di setiap level
dan unit organisasi, bisa merupakan langkah preventif atau detektif terkait
otorisasi, verifikasi, rekonsiliasi, dan review kinerja bisnis[5].
4. Informasi dan komunikasi
Informasi selalu dibutuhkan dalam organisasi untuk menunjukkan
pertanggungjawaban pengendalian internal untuk mendukung pencapaian tujuan.
Manajemen menggunakan informasi yang relevan dan berkualitas untuk
mendukung pencapaian tujuan baik dari sumber internal maupun eksternal.
Komunikasi berarti mengalirkan informasi yang berguna baik di lingkungan
internal untuk mendukung pengambilan keputusan, maupun komunikasi dengan
pihak eksternal sebagai bentuk pertanggungjawaban.

5. Pengawasan
Pengawasan adalah melakukan evaluasi terhadap lima komponen
pengendalian internal. Evaluasi dapat menggunakan standar atau aturan untuk
memastikan kinerja operasional organisasi pada setiap level dan unit organisasi.
COSO berusaha merumuskan konsep pengendalian internal yang dapat
digunakan oleh organisasi di mana pun di dunia. Sehingga dapat membantu
organisasi dalam pencapaian tujuannya. Pihak yang oleh COSO diharapkan dapat
menggunakan kerangka ini antara lain direktur, manajemen senior, auditor
internal, auditor independen, organisasi profesional lainnya, dan pendidik.

Konsep Pengendalian Internal dari Perspektif Spiritualis


Pusat aktivitas islam seringkali dilakukan di masjid. Masjid tidak hanya
digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai tempat menambah
pengetahuan [4]. Komunitas islam juga menggunakannya sebagai tempat
berkumpul pada saat-saat tertentu seperti hari raya dan akad nikah. Sebagai rumah
ibadah, masjid diklasifikasikan sebagai organisasi atau entitas nirlaba [8].
Dalam aktivitas keuangan, masjid dikelola oleh pengurus masjid dalam
menerima dana publik yang berdasarkan asas kepercayaan (trust agency) [1].
Dana publik tersebut bermacam-macam, di antaranya adalah dana zakat, infaq,
dan shodaqoh. Dana yang diterima berdasarkan kepercayaan tersebut membuat
masjid harus memiliki akuntabilitas dan pengendalian internal [4].
Pada awalnya masjid yang dibangun memang digunakan sebagai pusat
kegiatan dan administrasi masyarakat islam. Namun pada saat ini, fungsi tersebut
tidak sepenuhnya seperti pada awal kali masjid dibangun [3]. Peran masjid
sebagai sarana sosial umat muslim saat ini tetap berjalan karena umat muslim
rutin melakukan ibadah terutama ibadah jumat.
Praktik pengendalian internal masjid sudah mulai diteliti oleh para ahli di
dunia meskipun belum terlalu banyak [9]. Pengendalian internal ini tidak hanya
terkait dengan akuntansi dan pelaporan, tetapi juga terkait dengan komunikasi
antara pihak internal dan eksternal [4]. Namun seringkali penelitian di dunia
menggunakan konsep COSO dalam mengevaluasi pengendalian internal masjid.
COSO menjelaskan pengendalian internal sebagai langkah preventif dan detektif
terhadap potensi kecurangan. Sementara keuangan masjid adalah dibangun
berdasarkan sistem kepercayaan [1].
Masjid sebagai organisasi nirlaba memiliki karakteristik yang berbeda
dengan organisasi bisnis [4]. Masjid memiliki tanggung jawab dan bergantung
pada pihak eksternal (jamaah) dalam menjalankan operasionalnya. Namun pada
praktiknya, masjid tidak menerapkan pengendalian internal yang ketat untuk
menjaga aset yang dimilikinya [8]. Selain itu masjid pada umumnya tidak
menerapkan sistem akuntansi yang ideal sesuai dengan standar akuntansi. Akurasi
keuangan pun menjadi tidak sebaik organisasi-organisasi yang menerapkan
pengendalian internal dan sistem akuntansi yang ideal menurut kaum kapitalis.

Meskipun masjid dapat menggunakan konsep pengendalian internal yang


mapan pada organisasi bisnis untuk meningkatkan pendapatan dan kinerja
keuangan, perlu diingat kembali hakikat masjid sebagai tempat ibadah. Tanpa
kinerja keuangan dan akuntabilitas yang baik pun kegiatan ibadah akan tetap
berjalan karena adanya kebutuhan manusia untuk berinteraksi dengan Tuhannya
[1].
Selain itu, pengendalian internal yang menurut COSO efektif tidak dapat
sepenuhnya diterapkan. Misalnya pada penerimaan kas kotak amal, pengurus
masjid tidak mungkin membuat bukti transaksi pada setiap kali terdapat transaksi
shodaqoh yang bahkan pemberinya berusaha merahasiakan jumlah yang dia
berikan. Para jamaah yang menyumbangkan dananya juga tidak berharap uang
yang disumbangkan tersebut memberikan timbal balik pada dirinya berupa
keuntungan yang dalam perusahaan berorientasi profit disebut deviden pemegang
saham.
Para peneliti dunia mengkhawatirkan kejadian kecurangan yang pernah
terjadi di gereja seperti yang dikutip dalam Wall Street Journal [10] terulang pada
pengurus masjid era sekarang. Kenyataannya tidaklah demikian, kejadian tersebut
belum pernah terjadi sampai menimbulkan kerugian yang signifikan. Buktinya
kegiatan keagamaan tetap berjalan baik dan masjid terus mengalami pertumbuhan
dan pengembangan baik secara fisik maupun secara organisasi. Faktor yang
mempengaruhi pengendalian internal yang efektif terutama adalah perilaku
masyarakat [4]. Asumsi yang digunakan dalam COSO adalah potensi kecurangan
selalu ada dalam setiap organisasi. Asumsi tersebut tidak sepenuhnya tepat jika
digunakan dalam konteks pengelolaan keuangan masjid.
Untuk menjaga keamanan kas yang ada di dalam kotak amal, pengurus
masjid menggunakan kunci pada kotak tersebut dan dibuka secara berkala [11].
Kotak amal harus dibuka dan dihitung bersama-sama, minimal dilakukan oleh dua
orang. Bukti transaksi berupa kwitansi tidak dapat digunakan layaknya organisasi
bisnis. Pengendalian atas transaksi ini dilakukan oleh pihak yang memiliki
wewenang dan kejujuran tinggi. Terkait pencatatan akuntansi dapat dilakukan
seperti organisasi bisnis dengan tujuan pengendalian jumlah kas dan alokasi
penggunaannya.
Pengeluaran kas dapat dilakukan dengan otorisasi [11] dari pihak yang
memiliki kejujuran seperti tokoh agama pada masjid tersebut. Islam memiliki
tradisi menghormati pendapat seorang tokoh yang dianggap lebih menguasai
hukum-hukum islam.
Masjid tetap harus menerapkan pengendalian internal sebagai bentuk
akuntabilitasnya pada jamaah [1]. Akuntabilitas tidak berarti hanya terkait
keuangan, tetapi juga informasi-informasi non-keuangan yang penting [4].
Pengendalian transaksi keuangan yang rutin dilakukan pada masjid dan cenderung
lemah adalah sebagai berikut [2].
1. Penerimaan shodaqoh melalui kotak amal
Pengurus masjid melakukan penghitungan hasil penerimaan shodaqoh
setiap hari jumat secara kolektif. Bukti transaksi dibuat oleh pengurus masjid

berupa berita acara. Berita acara diumumkan kepada jamaah kemudian dilakukan
pencatatan akuntansi. Kas yang diterima tersebut disetor ke bank pada keesokan
harinya karena seusai sholat jumat bank sudah tutup sehingga tidak
memungkinkan untuk melakukan penyetoran pada hari itu juga.
2. Penggajian dan honorarium
Masjid pada era saat ini memberikan honor kepada tamir atau pengurus
masjid dan memberikan uang transportasi pada misalnya khotib atau penceramah.
Untuk penggajian kepada pengurus masjid masih memungkinkan untuk
menggunakan kwitansi sebagai bukti transaksi. Namun untuk khotib atau tamu
penting lainnya tidak mungkin menggunakan kwitansi karena tidak ada standar
jumlah gaji dan pemberian amplop ini bersifat tradisi. Sehingga
pengendaliannya hanya bisa dilakukan dengan otorisasi jumlah uang transportasi
dan pihak yang melakukan pembayaran adalah anggota yang dianggap memiliki
kejujuran tinggi, serta dilakukan minimal oleh dua orang.
3. Pembayaran PDAM/PLN/Telepon
Dalam melakukan pembayaran terkait operasional masjid, pengurus
memiliki divisi tersendiri yang memiliki wewenang tersebut. Sama seperti
pengendalian yang lain, pembayaran ini dilakukan minimal oleh dua orang.
Otorisasi juga menjadi hal penting. Selain itu, bukti tagihan dapat digunakan
sebagai acuan untuk mengendalikan pengeluaran kas yang dilakukan oleh divisi
tersebut.
4. Pemberian santunan yatim dan dhuafa
Tentunya pemberian santunan ini dilakukan secara bersama-sama sehingga
potensi kecurangannya sangat kecil. Fokus pengendalian internal pada transaksi
ini adalah peningkatan efektivitas karena pada hari pemberian santunan yatim dan
dhuafa yang diundang biasanya sangat banyak.
Dari penjabaran di atas dapat kita ketahui bahwa konsep pengendalian
internal yang ditawarkan oleh COSO tidak dapat digeneralisasikan untuk entitas
rumah ibadah seperti masjid. Masjid melakukan transaksi keuangan rutinnya
berdasarkan asas kepercayaan dan kejujuran. Selain itu masyarakat pengurus
masjid masih memegang tradisi, sehingga setiap masjid yang berada di tempat
berbeda memiliki tradisinya masing-masing.
Maka konsep pengendalian internal pada masjid adalah sesuai dengan
tradisi di mana masjid tersebut berdiri. Konsep dasar yang minimal harus ada
dalam pengendalian internal masjid adalah kejujuran pengurus masjid. Dengan
kejujuran yang dimiliki oleh pengurus masjid, potensi kecurangan bahkan bisa
mencapai tidak ada. Maka tidak sembarang orang dapat menjadi pengurus masjid
karena perilaku anggota organisasi sangat menentukan efektivitas pengendalian.

Penutup
Berdasarkan proses tafakkur yang dilakukan oleh penulis, diketahui bahwa
konsep pengendalian internal yang ditawarkan oleh COSO tidak dapat

digeneralisasikan secara utuh ke entitas nirlaba rumah ibadah. Konsep


pengendalian internal yang digunakan di masjid sebagai rumah ibadah adalah
kepercayaan dan kejujuran. Nilai kepercayaan dan kejujuran dapat meningkatkan
keyakinan seseorang kepada ketuhanan. Dengan menerapkan pengendalian
internal berdasarkan nilai ini, maka setiap anggota organisasi dapat meningkatkan
keimanannya.
Penelitian di masa mendatang jika ingin melakukan penelitian terkait
pengendalian internal masjid hendaknya fokus pada efektivitas pengendalian
untuk meningkatkan kinerja operasional, bukan fokus pada pencegahan potensi
kecurangan. Hal ini disebabkan oleh transaksi keuangan entitas masjid dilakukan
berdasarkan asas kepercayaan dan kejujuran yang tidak dapat diukur secara
akurat.

Daftar Pustaka
[1]

D. A. Simanjuntak and Y. Januarsi, Akuntabilitas dan Pengelolaan


Keuangan di Masjid, in Simposium Nasional Akuntansi XIV Aceh, 2011,
pp. 2122.

[2]

F. K. Nugraha, E. D. Wahyuni, and A. S. H. Anwar, Desain Sistem


Informasi Akuntansi Keuangan Masjid, J. Akunt. dan Investasi, vol. 15,
no. 1, pp. 4755, 2014.

[3]

M. A. M. Adil, Z. Mohd-Sanusi, N. A. Jaafar, M. M. Khalid, and A. A.


Aziz, Financial Management Practices of Mosques in Malaysia, GJAT,
vol. 3, no. 1, pp. 2330, 2013.

[4]

I. S. Mohamed, N. H. A. Aziz, M. N. Masrek, and N. M. Daud, Mosque


fund management: issues on accountability and internal controls,
Procedia - Soc. Behav. Sci., vol. 145, pp. 189194, 2014.

[5]

COSO, Internal Control Integrated Framework Executive Summary,


2013.

[6]

E. G. Sukoharsono, Laba Akuntansi dalam Multiparadigma. 2009.

[7]

I. Triyuwono, [makrifat] metode penelitian kualitatif [dan kuantitatif]


untuk pengembangan disiplin akuntansi, 2013.

[8]

M. I. M. Jazeel, Financial Management Practice of Mosque in Sri Lanka:


an Observation, in Arabic and Islamic Education, pp. 544548.

[9]

I. S. Mohamed, M. N. Masrek, N. M. Daud, R. Arshad, and N. Omar,


Mosques Fund Management: A Study on Governance and Internal
Controls Practices, Recent Adv. Financ. Sci. Manag., pp. 4550.

[10]

M. Sulaiman, S. A. Siraj, and S. H. M. Ibrahim, Internal Control Systems


in West Malaysias State Mosques, Am. J. Islam. Soc. Sci., vol. 25, no. 1,
pp. 6381.

[11]

M. N. Masrek, I. S. Mohamed, N. M. Daud, R. Arshad, and N. Omar,


Internal Financial Controls Practices of District Mosques in Central
Region of Malaysia, Int. J. Trade, Econ. Financ., vol. 5, no. 3, pp. 255
258, 2014.