Anda di halaman 1dari 19

TUGAS SOSIOLOGI

SUKU-SUKU BANGSA DI INDONESIA

DISUSUN OLEH :
SAKINAH HANI WAFIQOH
KELAS :
XI IPS 2

SMA NEGERI 1 METRO


1

TAHUN PELAJARAN 2010 / 2011

1. SUKU ACEH
Suku Aceh adalah nama sebuah suku yang mendiami ujung utara Sumatra.
Mereka beragama Islam. Bahasa yang dipertuturkan oleh mereka
adalah bahasa Aceh yang masih berkerabat dengan bahasa Mon Khmer
(wilayah Champa). Bahasa Aceh merupakan bagian dari bahasa MelayuPolynesia barat, cabang dari keluarga bahasa Austronesia.Banyak dari
budaya Aceh yang menyerap budaya Hindu India, dimana kosakata bahasa
Aceh banyak yang berbahasa Sanskerta. Suku Aceh merupakan suku di
Indonesia yang pertama memeluk agama Islam dan mendirikan kerajaan
Islam. Masyarakat Aceh mayoritas bekerja sebagai petani, pekerja tambang,
dan nelayan.
A). Sejarah
Penduduk Aceh merupakan keturunan berbagai suku, kaum, dan bangsa.
Leluhur orang Aceh berasal dari Semenanjung Malaysia, Cham, Cochin,
Kamboja. Di samping itu banyak pula keturunan bangsa asing di tanah
Aceh, bangsa Arab dan India dikenal erat hubungannya pasca penyebaran
agama Islam di tanah Aceh. Bangsa Arab yang datang ke Aceh banyak yang
berasal dari provinsi Hadramaut (Negeri Yaman), dibuktikan dengan margamarga mereka al-Aydrus, al-Habsyi, al-Attas, al-Kathiri, Badjubier, Sungkar,
Bawazier dan lain lain, yang semuanya merupakan marga marga bangsa
Arab asal Yaman. Mereka datang sebagai ulama dan berdagang. Saat ini
banyak dari mereka yang sudah kawin campur dengan penduduk asli Aceh,
dan menghilangkan nama marganya.Sedangkan bangsa India kebanyakan
dari Gujarat dan Tamil. Dapat dibuktikan dengan penampilan wajah bangsa
Aceh, serta variasi makanan (kari), dan juga warisan kebudayaan Hindu Tua
(nama-nama desa yang diambil dari bahasa Hindi, contoh: Indra Puri).
Keturunan India dapat ditemukan tersebar di seluruh Aceh. Karena letak
geografis yang berdekatan maka keturunan India cukup dominan di
Aceh.Pedagang pedagang Tiongkok juga pernah memiliki hubungan yang
erat dengan bangsa Aceh, dibuktikan dengan kedatangan LaksamanaCheng
Ho, yang pernah singgah dan menghadiahi Aceh dengan sebuah lonceng
2

besar, yang sekarang dikenal dengan nama Lonceng Cakra Donya, tersimpan
di Banda Aceh. Semenjak saat itu hubungan dagang antara Aceh dan
Tiongkok cukup mesra, dan pelaut-pelaut Tiongkok pun menjadikan Aceh
sebagai pelabuhan transit utama sebelum melanjutkan pelayarannya ke
Eropa.Selain itu juga banyak keturunan bangsa Persia (Iran/Afghan)
dan Turki, mereka pernah datang atas undangan Kerajaan Aceh untuk
menjadi ulama, pedagang senjata, pelatih prajurit dan serdadu perang
kerajaan Aceh, dan saat ini keturunan keturunan mereka kebanyakan
tersebar di wilayah Aceh Besar. Hingga saat ini bangsa Aceh sangat
menyukai nama-nama warisan Persia dan Turki. Bahkan sebutan Banda,
dalam nama kota Banda Aceh pun adalah warisan bangsa Persia (Bandar
arti: pelabuhan).Di samping itu ada pula keturunan bangsa Portugis, di
wilayah Kuala Daya, Lam No (pesisir barat Aceh). Mereka adalah keturunan
daripelaut-pelaut Portugis di bawah pimpinan nakhoda Kapten Pinto, yang
berlayar hendak menuju Malaka (Malaysia), dan sempat singgah dan
berdagang di wilayah Lam No, dan sebagian besar di antara mereka tetap
tinggal dan menetap di Lam No. Sejarah mencatat peristiwa ini terjadi
antara tahun 1492-1511, pada saat itu Lam No di bawah kekuasaan kerajaan
kecil Lam No, pimpinan Raja Meureuhom Daya. Hingga saat ini masih dapat
dilihat keturunan mereka yang masih memiliki profil wajah Eropa yang
masih kental.
2. SUKU BETAWI
Suku Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan
bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan
orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta.
Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang
sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda Jawa, Arab, Bali,
Sumbawa, Ambon, Melayu dan Tionghoa.
Suku Betawi
Pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada
justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut.
Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas
penduduk Batavia waktu itu.
Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis
dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas,
3

yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Husni Thamrin,
tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru
pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah
golongan, yakni golongan orang Betawi.Ada juga yang berpendapat bahwa
orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat campuran dalam benteng
Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga mencakup penduduk di luar
benteng tersebut yang disebut masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal di
luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu, yang
umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa
nasional.Selain itu, perjanjian antara Surawisesa (raja Kerajaan Sunda)
dengan bangsa Portugis pada tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk
membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa mengakibatkan perkawinan
campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis yang menurunkan
darah campuran Portugis. Dari komunitas ini lahir musik keroncong.
-

A ). Seni dan kebudayaan


Budaya Jakarta merupakan budaya mestizo, atau sebuah campuran budaya
dari beragam etnis. Sejak zaman Belanda, Jakarta merupakan ibu kota
Indonesia yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara. Sukusuku yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda,Minang, Batak,
dan Bugis. Selain dari penduduk Nusantara, budaya Jakarta juga banyak
menyerap dari budaya luar, seperti budaya Arab,Tiongkok, India,
dan Portugis.Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan
oleh penduduk pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke
wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten.
Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari Indonesia
maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi,
didirikanlah cagar budaya di Situ Babakan.

B ). Bahasa
Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan
Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam
kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun
kebudayaan asing.Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang
mendiami daerah sekitar Batavia juga dikelompokkan sebagai suku Betawi
awal (proto Betawi). Menurut sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang
berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang dan ditaklukkan
oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau
etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum Sumpah Pemuda,
4

sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera,


yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.Karena perbedaan bahasa
yang digunakan tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda menganggap
orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan
etnis Sunda dan menyebutnya sebagai etnis Betawi (kata turunan dari
Batavia). Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai
yang masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol,
Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan
kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lainlain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah
kuno Bujangga Manik[1] yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian,
Oxford, Inggris.Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta
adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan seharihari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi.
-

C ). Musik
Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang
Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga adaRebana yang
berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar
belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an.
Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang
Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong.

D ).Tari
Seni tari di Jakarta merupakan perpaduan antara unsur-unsur budaya
masyarakat yang ada di dalamnya. Pada awalnya, seni tari di Jakarta
memiliki pengaruh Sunda dan Tiongkok, seperti tari Jaipong dengan kostum
penari khas pemain Opera Beijing. Namun Jakarta dapat dinamakan daerah
yang paling dinamis. Selain seni tari lama juga muncul seni tari dengan gaya
dan koreografi yang dinamis.

D ).Cerita rakyat
Cerita rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita rakyat yang sudah
dikenal seperti Si Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan
Tulen atau si jampang yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam
perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal "keras". Selain mengisahkan
jawara atau pendekar dunia persilatan, juga dikenal cerita Nyai Dasima yang
menggambarkan kehidupan zaman kolonial.
5

E ). Kepercayaan
Sebagian besar Orang Betawi menganut agama Islam, tetapi yang menganut
agama Kristen; Protestan dan Katolik juga ada namun hanya sedikit sekali.
Di antara suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa
mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan
bangsa Portugis. Hal ini wajar karena pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja
Sunda mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis
membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa sehingga
terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini
sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara.
3. SUKU JAWA
Suku Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal
dari Jawa Tengah,Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk
Indonesia merupakan etnis Jawa. Selain di ketiga propinsi tersebut, suku
Jawa banyak bermukim di Lampung, Banten,Jakarta, dan Sumatera Utara.
Di Jawa Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan
Cirebon. Suku Jawa juga memiliki sub-suku, seperti Osing dan Tengger.

A ).Bahasa
Suku bangsa Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam
bertutur sehari-hari. Dalam sebuah survei yang diadakan majalah
Tempo pada awal dasawarsa 1990-an, kurang lebih hanya 12% orang Jawa
yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa mereka sehari-hari,
sekitar 18% menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia secara campur, dan
selebihnya hanya menggunakan bahasa Jawa saja.Bahasa Jawa memiliki
aturan perbedaan kosa kata dan intonasi berdasarkan hubungan antara
pembicara dan lawan bicara, yang dikenal dengan unggah-ungguh. Aspek
kebahasaan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa, dan
membuat orang Jawa biasanya sangat sadar akan status sosialnya di
masyarakat.

B ).Kepercayaan
Orang Jawa sebagian besar secara nominal menganut agama Islam. Tetapi
ada juga yang menganut agama Protestan dan Katolik. Mereka juga terdapat
di daerah pedesaan. Penganut agama Buddha dan Hindu juga ditemukan
6

pula di antara masyarakat Jawa. Ada pula agama kepercayaan suku Jawa
yang disebut sebagai agama Kejawen. Kepercayaan ini terutama berdasarkan
kepercayaan animisme dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat.
Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme kepercayaannya. Semua
budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga
kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur.
-

C ).Profesi
Mayoritas orang Jawa berprofesi sebagai petani, namun di perkotaan mereka
mendominasi pegawai negeri sipil, BUMN, anggota DPR/DPRD, pejabat
eksekutif, pejabat legislatif, pejabat kementerian dan militer. Orang Jawa
adalah etnis paling banyak di dunia artis dan model. Orang Jawa juga
banyak yang bekerja di luar negeri, sebagai buruh kasar dan pembantu
rumah tangga. Orang Jawa mendominasi tenaga kerja Indonesia di luar
negeri terutama di negara Malaysia, Singapura, Filipina, Jepang, Arab
Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Taiwan, AS dan Eropa.

D ).Stratifikasi sosial
Masyarakat Jawa juga terkenal akan pembagian golongan-golongan
sosialnya. Pakarantropologi Amerika yang ternama, Clifford Geertz, pada
tahun 1960-an membagi masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok:
kaum santri, abangan dan priyayi. Menurutnya kaum santri adalah penganut
agama Islam yang taat, kaum abangan adalah penganut Islam secara
nominal atau penganut Kejawen, sedangkan kaum Priyayi adalah kaum
bangsawan. Tetapi dewasa ini pendapat Geertz banyak ditentang karena ia
mencampur golongan sosial dengan golongan kepercayaan. Kategorisasi
sosial ini juga sulit diterapkan dalam menggolongkan orang-orang luar,
misalkan orang Indonesia lainnya dan suku bangsa non-pribumi seperti
orang keturunan Arab, Tionghoa, dan India.

E ).Seni
Orang Jawa terkenal dengan budaya seninya yang terutama dipengaruhi oleh
agama Hindu-Buddha, yaitu pementasan wayang. Repertoar cerita wayang
atau lakon sebagian besar berdasarkan wiracarita Ramayana
dan Mahabharata. Selain pengaruh India, pengaruh Islamdan Dunia
Barat ada pula. Seni batik dan keris merupakan dua bentuk ekspresi
masyarakat Jawa. Musik gamelan, yang juga dijumpai di Bali memegang
peranan penting dalam kehidupan budaya dan tradisi Jawa.
7

4. SUKU BANTEN
Suku Banten adalah penduduk asli yang mendiami bekas daerah
kekuasaan Kesultanan Banten di luar Parahiyangan, Cirebon dan Jakarta.
Menurut sensus BPS tahun 2000, suku Banten populasinya 2,1 % dari
penduduk Indonesia. Orang Banten menggunakan bahasa Banten. Bahasa
Banten adalah salah satu dialek bahasa Sunda yang lebih dekat kepada
bahasa Sunda kuna yang pada tingkatan bahasa Sunda modern
dikelompokkan sebagai bahasa kasar. Bahasa ini dilestarikan salah satunya
melalui program berita Beja ti Lembur dalam bahasa Banten yang disiarkan
oleh siaran televisi lokal di wilayah Banten.
-

A ).Asal kata suku Banten


Orang asing kadang menyebut penduduk yang tinggal pada bekas kersidenan
ini sebagai Bantenese yang mempunya arti orang Banten. Contohnya,
Guillot Claude menulis pada halaman 35 bukunya The Sultanate of Banten:
These estates, owned by the Bantenese of Chinese origin, were concentrated
around the village of Kelapadua. Dia menyatakan bahwa keturunan Cina
juga adalah Bantenese atau penduduk Banten.Hanya saja setelah
dibentuknya provinsi Banten, ada sebagian orang yang menterjemahkan
Bantenese menjadi suku Banten sebagai kesatuan etnik dengan budaya yang
unik.
5. SUKU ALAS
Suku Alas merupakan salah satu suku yang bermukim di Kabupaten Aceh
Tenggara, Provinsi Aceh. Kata "alas" dalam bahasa Alas berarti "tikar". Hal
ini ada kaitannya dengan keadaan daerah itu yang membentang datar
seperti tikar di sela-sela Bukit Barisan. Daerah Tanah Alas dilalui banyak
sungai, salah satu diantaranya adalah Lawe Alas (Sungai Alas).Sebagian
besar suku Alas tinggal di pedesaan dan hidup dari pertanian dan
peternakan. Tanah Alas merupakan lumbung padi untuk daerah Aceh. Tapi
selain itu mereka juga berkebun karet, kopi,dan kemiri, serta mencari
berbagai hasil hutan, seperti kayu, rotan, damar dan kemenyan. Sedangkan
binatang yang mereka ternakkan adalah kuda, kambing, kerbau, dan
sapi.Kampung atau desa orang Alas disebut kute. Suatu kute biasanya
didiami oleh satu atau beberapa klan, yang disebut merge. Anggota satu
8

merge berasal dari satu nenek moyang yang sama. Pola hidup kekeluargaan
mereka adalah kebersamaan dan persatuan. Mereka menarik garis
keturunan patrilineal, artinya garis keturunan laki-laki. Mereka juga
menganut adat eksogami merge, artinya jodoh harus dicari di merge
lain.Suku Alas 100% adalah penganut agama Islam. Namun masih ada juga
yang mempercayai praktek perdukunan misalnya dalam kegiatan pertanian.
Mereka melakukan upacara-upacara dengan latar belakang kepercayaan
tertentu agar pertanian mereka mendatangkan hasil baik atau terhindar
dari hama.

A ).Bahasa
Bahasa Alas, selengkapnya bahasa Batak Alas-Kluet untuk para linguist,
dimasukkan dalam kelompok bahasa Batak, walau dari segi budaya dan jati
diri orang Alas tidak melihat dirinya sebagai orang Batak.

B ). Marga
Menurut buku (Sanksi dan Denda Tindak Pidana Adat Alas, Dr Thalib Akbar
MSC 2004) adapun margamarga etnis Alas yaitu : Bangko, Deski, Keling,
Kepale Dese, Keruas, Pagan, dan Selian kemudian hadir lagi marga Acih,
Beruh, Gale, Kekaro, Mahe, Menalu, Mencawan, Munthe, Pase, Pelis, Pinim,
Ramin, Ramud, Sambo, Sekedang, Sugihen, Sepayung, Sebayang dan marga
Terigan.
6.SUKU BANJAR
Suku Banjar adalah suku bangsa yang menempati sebagian besar
wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, dan sejak abad ke-17 mulai menempati
sebagian Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan
Timur terutama kawasandataran dan bagian hilir dari Daerah Aliran Sungai
(DAS) di wilayah tersebut. Suku Banjar terkadang juga disebut Melayu
Banjar, tetapi penamaan tersebut jarang digunakan. Suku bangsa Banjar
berasal dari daerah Banjar yaitu wilayah inti dari Kesultanan
Banjarmeliputi DAS Barito bagian hilir, DAS Bahan (Negara), DAS
Martapura dan DAS Tabanio. Sungai Barito bagian hilir merupakan
pusatnya suku Banjar.

A ). Sistem kekerabatan

Seperti sistem kekerabatan umumnya, masyarakat Banjar mengenal istilahistilah tertentu sebagai panggilan dalam keluarga. Skema di samping
berpusat dari ULUN sebagai penyebutnya.Bagi ULUN juga terdapat
panggilan untuk saudara dari ayah atau ibu, saudara tertua disebut Julak,
saudara kedua disebut Gulu, saudara berikutnya disebut Tuha, saudara
tengah dari ayah dan ibu disebut Angah, dan yang lainnya biasa
disebut Pakacil (paman) dan Makacil (bibi), sedangkan termuda
disebut Busu. Untuk memanggil saudara dari kai dan nini sama saja, begitu
pula untuk saudara datu.Untuk memanggil orang yang seumur boleh
dipanggil ikam, boleh juga menggunakan kata aku untuk menunjuk diri
sendiri. Sedangkan untuk menghormati atau memanggil yang lebih tua
digunakan kata pian, dan kata ulununtuk menunjuk diri sendiri.
-

B ).Bahasa
Bahasa Banjar merupakan bahasa ibu Suku Banjar. Banyak kosakatakosakata bahasa ini sangat mirip dengan Bahasa Dayak, Bahasa Melayu,
maupun Bahasa Jawa.

C ).Kebudayaan
Rumah Banjar adalah rumah tradisional suku Banjar. Arsitektur
tradisional ciri-cirinya antara lain mempunyai perlambang, mempunyai
penekanan pada atap, ornamental, dekoratif dan simetris. Rumah tradisonal
Banjar adalah tipe-tipe rumah khas Banjar dengan gaya dan ukirannya
sendiri mulai berkembang sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Dari
sekian banyak jenis-jenis rumah Banjar, tipe Bubungan Tinggi merupakan
jenis rumah Banjar yang paling dikenal dan menjadi identitas rumah
adat suku Banjar.

Teater
Satu-satunya seni teater tradisional yang berkembang di pulau
Kalimantan adalah Mamanda. Mamanda adalah seni teater atau
pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dibanding
dengan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip
dengan Lenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan
penonton. Interaksi ini membuat penonton menjadi aktif menyampaikan
komentar-komentar lucu yang disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih
10

hidup.Bedanya, Kesenian lenong kini lebih mengikuti zaman ketimbang


Mamanda yang monoton pada alur cerita kerajaan.
Musik
Salah satu kesenian berupa musik tradisional khas Suku Banjar
adalah Musik Panting. Musik ini disebut Panting karena didominasi oleh alat
musik yang dinamakan panting, sejenis gambus yang memakai senar
(panting) maka disebut musik panting. Pada awalnya musik panting berasal
dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan. Panting merupakan alat musik yang
dipetik yang berbentuk seperti gabus Arab tetapi ukurannya lebih kecil. Pada
waktu dulu musik panting hanya dimainkan secara perorangan atau secara
solo. Karena semakin majunya perkembangan zaman dan musik panting
akan lebih menarik jika dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya,
maka musik panting sekarang ini dimainkan dengan alat-alat musik seperti
babun, gong,dan biola dan pemainnya juga terdiri dari beberapa orang. Nama
musik panting berasal dari nama alat musik itu sendiri, karena pada musik
panting yang terkenal alat musik nya dan yang sangat berperan adalah
panting, sehingga musik tersebut dinamai musik panting. Dan sampai
sekarang ini musik panting terkenal sebagai musik tradisional yang berasal
dari Kalimantan Selatan. Selain itu, ada sebuah kesenian musik tradisional
Suku Banjar, yakni Musik Kentung. Musik ini berasal dari daerah
Kabupaten Banjar yaitu di desa Sungai Alat, Astambul dan kampung Bincau,
Martapura. Pada masa sekarang, musik kentung ini sudah mulai langka.
Masa dahulu alat musik ini dipertandingkan. Dalam pertandingan ini bukan
saja pada bunyinya, tetapi juga hal-hal yang bersifat magis, seperti kalau
dalam pertandingan itu alat musik ini bisa pecah atau tidak dapat berbunyi
dari kepunyaan lawan bertanding.
-

Tarian
Seni Tari Banjar terbagi menjadi dua, yaitu seni tari yang dikembangkan di
lingkungan istana (kraton), dan seni tari yang dikembangkan oleh rakyat.
Seni tari kraton ditandai dengan nama "Baksa" yang berasal dari bahasa
Jawa (beksan) yang menandakan kehalusan gerak dalam tata tarinya. Taritari ini telah ada dari ratusan tahun yang lalu, semenjak zaman hindu,
namun gerakan dan busananya telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi
dewasa ini. Contohnya, gerakan-gerakan tertentu yang dianggap tidak sesuai
dengan adab islam mengalami sedikit perubahan.
7. SUKU MINANGKABAU
11

Suku Minangkabau adalah kelompok etnik Nusantara yang berbahasa dan


menjunjung adat Minangkabau. Wilayah penganut kebudayaannya
meliputi Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu,
bagian barat Jambi, bagian selatan Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan
juga Negeri Sembilan di Malaysia. Dalam percakapan awam, orang Minang
seringkali disamakan sebagai orang Padang, merujuk kepada nama ibukota
propinsi Sumatera Barat yaitu kota Padang.
Saat ini masyarakat Minang merupakan masyarakat penganut matrilineal
terbesar di dunia. Selain itu, etnik ini juga telah menerapkan sistem protodemokrasi sejak masa pra-Hindu dengan adanya kerapatan adat untuk
menentukan hal-hal penting dan permasalahan hukum. Prinsip adat
Minangkabau tertuang singkat dalam pernyataan Adat basandi syara',
syara' basandi Kitabullah(Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan AlQur'an) yang berarti adat berlandaskan ajaran Islam.Orang Minangkabau
sangat menonjol dibidang perniagaan, sebagai profesional dan intelektual.
Mereka merupakan pewaris terhormat dari tradisi tua Kerajaan
Melayudan Sriwijaya yang gemar berdagang dan dinamis. Hampir separuh
jumlah keseluruhan anggota masyarakat ini berada dalam perantauan.
Minang perantauan pada umumnya bermukim di kota-kota besar,
-

A ). Adat dan budaya


Adat dan budaya Minangkabau bercorakkan keibuan (matrilineal), dimana
pihak perempuan bertindak sebagai pewaris harta pusaka dan kekerabatan.
Menurut tambo, sistem adat Minangkabau pertama kali dicetuskan oleh dua
orang bersaudara, Datuk Perpatih Nan Sebatangdan Datuk
Ketumanggungan. Datuk Perpatih mewariskan sistem adat Bodi Caniago
yang demokratis, sedangkan Datuk Ketumanggungan mewariskan sistem
adat Koto Piliang yang aristokratis. Dalam perjalanannya, dua sistem adat
yang dikenal dengan kelarasan ini saling isi mengisi dan membentuk sistem
masyarakat Minangkabau.Dalam masyarakat Minangkabau, ada tiga pilar
yang membangun dan menjaga keutuhan budaya serta adat istiadat. Mereka
adalah alim ulama, cerdik pandai, dan ninik mamak, yang dikenal dengan
istilah Tali nan Tigo Sapilin. Ketiganya saling melengkapi dan bahu
membahu dalam posisi yang sama tingginya. Dalam masyarakat
Minangkabau yang demokratis dan egaliter, semua urusan masyarakat
dimusyawarahkan oleh ketiga unsur itu secara mufakat.

B ).Bahasa
12

Bahasa Minangkabau merupakan salah satu anak cabang bahasa


Austronesia. Walaupun ada perbedaan pendapat mengenai hubungan bahasa
Minangkabau dengan bahasa Melayu, ada yang menganggap bahasa yang
dituturkan masyarakat ini sebagai bagian dari dialek Melayu, karena
banyaknya kesamaan kosakata dan bentuk tuturan di dalamnya, sementara
yang lain justru beranggapan bahasa ini merupakan bahasa mandiri yang
berbeda dengan Melayu serta ada juga yang menyebut bahasa Minangkabau
merupakan bahasa proto-Melayu. Selain itu dalam masyarakat penutur
bahasa Minang itu sendiri juga sudah terdapat berbagai macam dialek
bergantung kepada daerahnya masing-masing.
-

C ). Kesenian
Masyarakat Minangkabau memiliki berbagai macam atraksi dan kesenian,
seperti tari-tarian yang biasa ditampilkan dalam pesta adat maupun
perkawinan. Diantara tari-tarian tersebut misalnya tari pasambahan
merupakan tarian yang dimainkan bermaksud sebagai ucapan selamat
datang ataupun ungkapan rasa hormat kepada tamu istimewa yang baru saja
sampai, selanjutnya tari piring merupakan bentuk tarian dengan gerak cepat
dari para penarinya sambil memegang piring pada telapak tangan masingmasing, yang diiringi dengan lagu yang dimainkan oleh talempong
dan saluang.Silek atau Silat Minangkabau merupakan suatu seni bela diri
tradisional khas suku ini yang sudah berkembang sejak lama. Selain itu,
adapula tarian yang bercampur dengan silek yang disebut dengan randai.
Randai biasa diiringi dengan nyanyian atau disebut juga dengansijobang],
dalam randai ini juga terdapat seni peran (acting) berdasarkan skenario.Di
samping itu, Minangkabau juga menonjol dalam seni berkata-kata. Ada tiga
genre seni berkata-kata, yaitu pasambahan (persembahan), indang, dan
salawat dulang. Seni berkata-kata atau bersilat lidah, lebih mengedepankan
kata sindiran, kiasan, ibarat, alegori, metafora, danaphorisme. Dalam seni
berkata-kata seseorang diajarkan untuk mempertahankan kehormatan dan
harga diri, tanpa menggunakan senjata dan kontak fisik.

D ).Rumah adat
Rumah adat Minangkabau disebut dengan Rumah Gadang, yang biasanya
dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku tersebut
secara turun temurun. Rumah Gadang ini dibuat berbentuk empat persegi
panjang dan dibagi atas dua bagian muka dan belakang. Umumnya berbahan
kayu, dan sepintas kelihatan seperti bentuk rumah panggung dengan atap
yang khas, menonjol seperti tanduk kerbau yang biasa disebut gonjong dan
13

dahulunya atap ini berbahan ijuk sebelum berganti dengan atap seng.Namun
hanya kaum perempuan dan suaminya, beserta anak-anak yang jadi
penghuni rumah gadang. Sedangkan laki-laki kaum tersebut yang sudah
beristri, menetap di rumah istrinya. Jika laki-laki anggota kaum belum
menikah, biasanya tidur di surau.Surau biasanya dibangun tidak jauh dari
komplek rumah gadang tersebut, selain berfungsi sebagai tempat ibadah,
juga berfungsi sebagai tempat tinggal lelaki dewasa namun belum menikah.
-

E ).Perkawinan
Dalam adat budaya Minangkabau, perkawinan merupakan salah satu
peristiwa penting dalam siklus kehidupan, dan merupakan masa peralihan
yang sangat berarti dalam membentuk kelompok kecil keluarga baru pelanjut
keturunan. Bagi lelaki Minang, perkawinan juga menjadi proses untuk
masuk lingkungan baru, yakni pihak keluarga istrinya. Sedangkan bagi
keluarga pihak istri, menjadi salah satu proses dalam penambahan anggota
di komunitas rumah gadangmereka.Dalam prosesi perkawinan adat
Minangkabau, biasa disebut baralek, mempunyai beberapa tahapan yang
umum dilakukan. Dimulai dengan maminang (meminang), manjapuik
marapulai(menjemput pengantin pria), sampai basandiang (bersanding di
pelaminan). Setelah maminangdan muncul kesepakatan manantuan
hari (menentukan hari pernikahan), maka kemudian dilanjutkan dengan
pernikahan secara Islam yang biasa dilakukan di Mesjid, sebelum kedua
pengantin bersanding di pelaminan. Pada nagari tertentu setelah ijab
kabul di depan penghuluatau tuan kadi, mempelai pria akan diberikan gelar
baru sebagai panggilan penganti nama kecilnya. Kemudian masyarakat
sekitar akan memanggilnya dengan gelar baru tersebut. Gelar panggilan
tersebut biasanya bermulai dari sutan, bagindo atau sidi di kawasan pesisir
pantai. Sedangkan di kawasan luhak limo puluah, pemberian gelar ini tidak
berlaku.

F ).Sosial kemasyarakatan
Persukuan
Suku dalam tatanan Masyarakat Minangkabau merupakan basis dari
organisasi sosial, sekaligus tempat pertarungan kekuasaan yang
fundamental. Pengertian awal kata suku dalam Bahasa Minang dapat
bermaksud satu per-empat, sehingga jika dikaitkan dengan pendirian
suatu nagari di Minangkabau, dapat dikatakan sempurna apabila telah
terdiri dari komposisi empat suku yang mendiami kawasan tersebut.
14

Selanjutnya, setiap suku dalam tradisi Minang, diurut dari garis keturunan
yang sama dari pihak ibu, dan diyakini berasal dari satu keturunan nenek
moyang yang sama.Selain sebagai basis politik, suku juga merupakan basis
dari unit-unit ekonomi. Kekayaan ditentukan oleh kepemilikan tanah
keluarga, harta, dan sumber-sumber pemasukan lainnya yang semuanya itu
dikenal sebagai harta pusaka. Harta pusaka merupakan harta milik bersama
dari seluruh anggota kaum-keluarga. Harta pusaka tidak dapat
diperjualbelikan dan tidak dapat menjadi milik pribadi. Harta pusaka
semacam dana jaminan bersama untuk melindungi anggota kaum-keluarga
dari kemiskinan. Jika ada anggota keluarga yang mengalami kesulitan atau
tertimpa musibah, maka harta pusaka dapat digadaikan.
8.SUKU KARO
Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera
Utara,Indonesia. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di
salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten
Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo.
Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan
penuh dengan perhiasan emas.
-

A ).Wilayah Pengaruh Suku Karo


Sering terjadi kekeliruan dalam percakapan sehari-hari di masyarakat
bahwa Taneh Karo diidentikkan dengan Kabupaten Karo. Padahal,Taneh
Karo jauh lebih luas daripada Kabupaten Karo karena meliputi:

Kabupaten Tanah Karo


Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi Tanah Karo. Kota yang terkenal
dengan di wilayah ini adalah Brastagi dan Kabanjahe. Brastagi merupakan
salah satu kota turis di Sumatera Utara yang sangat terkenal dengan produk
pertaniannya yang unggul. Salah satunya adalah buah jeruk dan produk
minuman yang terkenal yaitu sebagai penghasil Markisa Jus yang terkenal
hingga seluruh nusantara. Mayoritas suku Karo bermukim di daerah
pegunungan ini, tepatnya di daerah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak
yang sering disebut sebagai atau "Taneh Karo Simalem". Banyak keunikankeunikan terdapat pada masyarakat Karo, baik dari geografis, alam, maupun
bentuk masakan. Masakan Karo, salah satu yang unik adalah disebut trites.

Kota Medan
15

Pendiri kota Medan adalah seorang putra Karo yaitu Guru Patimpus
Sembiring Pelawi.
-

Kota Binjai
Kota Binjai merupakan daerah yang memiliki interaksi paling kuat dengan
kota Medan disebabkan oleh jaraknya yang relatif sangat dekat dari kota
Medan sebagai Ibu kota provinsi Sumatera Utara.

Kabupaten Dairi
Wilayah kabupaten Dairi pada umumnya sangat subur dengan kemakmuran
masyarakatnya melalui perkebunan kopinya yang sangat berkualitas.
Sebagian kabupaten Dairi yang merupakan Taneh Karo:

Marga
Suku Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan
nama merga silima, tutur siwaluh, dan rakut sitelu. Masyarakat Karo
mempunyai sistem marga (klan). Marga atau dalam bahasa Karo
disebut merga tersebut disebut untuk laki-laki, sedangkan
untukperempuan yang disebut beru. Merga atau beru ini disandang di
belakang nama seseorang. Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima
kelompok, yang disebut dengan merga silima, yang berarti marga yang lima.
Kelima merga ini masih mempunyai submerga masing-masing. Setiap orang
Karo mempunyai salah satu dari merga tersebut. Merga diperoleh secara
otomatis dari ayah. Merga ayah juga merga anak. Orang yang mempunyai
merga atau beru yang sama, dianggap bersaudara dalam arti mempunyai
nenek moyang yang sama. Kalau laki-laki bermarga sama, maka mereka
disebut (b)ersenina, demikian juga antara perempuan dengan perempuan
yang mempunyai beru sama, maka mereka disebut juga (b)ersenina.
9. SUKU BADUY
Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok masyarakat
adat Sunda di wilayah Pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten. Populasi

mereka sekitar 5.000-8.000 orang dan mereka merupakan salah satu suku
yang menerapkan isolasi dari dunia luar.
A ). Wilayah

16

Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 62727 6300


LS dan 10839 106455 BT (Permana, 2001). Mereka bermukim tepat di
kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar,
Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota
Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng
dengan ketinggian 300 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut
mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah
rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara),
tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan).
suhu rata-rata 20 C. Tiga desa utama orang Kanekes Dalam adalah
Cikeusik, CIkertawana, dan Cibeo.
B ). Bahasa
Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek SundaBanten.
Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan
Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan
tersebut dari sekolah. Orang Kanekes Dalam tidak mengenal budaya tulis,
sehingga adat-istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya
tersimpan di dalam tuturan lisan saja.
Orang Kanekes tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal
berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Mereka menolak usulan
pemerintah untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa mereka. Bahkan
hingga hari ini, walaupun sejak era Suharto pemerintah telah berusaha
memaksa mereka untuk mengubah cara hidupmereka dan membangun
fasilitas sekolah modern di wilayah mereka, orang Kanekes masih menolak
usaha pemerintah tersebut. Akibatnya, mayoritas orang Kanekes tidak dapat
membaca atau menulis.
C ). Kepercayaan
Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan
berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada
perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Buddha, Hindu, dan
Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau
ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang
Kanekes (Garna, 1993). Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat
Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap
paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan
17

pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003
bertepatan dengan bulan Juli. Hanya Pu'un atau ketua adat tertinggi dan
beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan
pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang
yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu
lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi
masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun
tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya,
apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda
kegagalan panen.
D ). Pemerintahan
Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem
nasional, yang mengikuti aturan negara Indonesia, dan sistem adat yang
mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut
digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi
benturan. Secara nasional, penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa
yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan
secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu
"Pu'un".
E ). Mata pencaharian
Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun, maka mata
pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma. Selain
itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buahbuahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji,
serta madu hutan.

10. SUKU BUGIS


Suku Bugis merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi
Selatan. Penciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat,
sehingga pendatang Melayu danMinangkabau yang merantau
ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang
18

di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga dikategorikan sebagai orang


Bugis.
Berdasarkan sensus penduduk Indonesia tahun 2000, populasi orang Bugis
sebanyak sekitar enam juta jiwa. Kini orang-orang Bugis menyebar pula di
berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi
Tengah, Papua, Kalimantan Timur, danKalimantan Selatan. Orang Bugis
juga banyak yang merantau ke mancanegara.
-

Perkembangan
Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk
beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan,
bahasa, aksara, dan pemerintahanmereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis
klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng
dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses
pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar
dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten
yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng,Sidrap, Pinrang, Barru. Daerah peralihan
antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros,
Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah
Kabupaten Polmas dan Pinrang.

Mata Pencaharian
Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir,
maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan.
Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain
itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasipemerintahan dan menekuni
bidang pendidikan

19