Anda di halaman 1dari 4

1. Interpretasi data pada pemicu?

PEMERIKSAAN

PASIEN
NORMAL
PEMERIKSAAN FISIK
Compos mentis
Normal
Konjungtiva
anemis

Pemeriksaan Pasien

Sklera tidak
ikterik

Hb
Ht
Eritrosit

INTERPRETASI
Kesadaran umum baik
konjungtiva pucat, karena
darah

tidak

sampai

ke

perifer tanda anemia.


-

Normal

Normal
(tak ada pembesaran organ )
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
4,5 g/dL
10,5-14,5 g/dl
Menurun
(tanda anemia)
14,5 %
30-46%
Menurun
(tanda anemia)
2,14 juta/l
4-5,5 juta/ l
Menurun
(Anemia, kehamilan,
Organomegali (-)

6800/ l

6000-17000/

415000/ l

l
150000-

malaria, dll)
Leukosit
Trombosit

400000 /l
MCV

68 fl

80-96 fl

MCH

21 pg

27-33 pg

MCHC

31 g/dL

33-36 g/dL

Basofil
Eosinofil
Hitung
N. Batang
Jenis
N. Segmen
Leukosit
Limfosit
Monosit
Serum Iron

1
6
2
60
27
4
6 g/dl

0-1
1-3
3-5
50-70
25-35
4-6
59-158

Total Iron Binding

405 g/dl

259-388

Capacity
Ferritin

3 ng/ml

18-240

Normal
Meningkat
(kehamilan, kontrasepsi
oral, penyakit jantung, dll)
Menurun
(anemia microcytic)
Menurun
(anemia hipokrom)
Menurun
Normal
Meningkat
Menurun
Normal
Normal
Normal
Menurun
(anemia defisiensi besi)
Meningkat
(anemia defisiensi besi)
Menurun

Retikulosit
Warna
pH
BJ
Protein
Glukosa
Keton
Bilirubin
Urobilinnogen

Darah samar
Nitrit
Epitel
Sedimen
urin

Eritrosit
Leukosit
Kristal
Silinder
Bakteri

Warna
Konsistensi
Darah
Lendir
Pus
Eritrosit
Leukosit
Epitel
Parasit

1,1 %
0,5 1,5
URINALISIS
Kuning jernih
Kuning
6,5
1,015
0,2 EU

Normal

transparan
4,8-7,4
1,015 1,025
0.2-1.0 mg/dL

Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

or
<17

Normal

micromol/L
-

0-1/LPB
0-4/LPB
PEMERIKSAAN FESES
Coklat
Kuning coklat
Lembek
Agak lunak
+
3-5/LPB
1-2/LPB
+
Telut

(anemia defisiensi besi)


Normal

Normal
Normal
Normal apabila jumlahnya
sedikit
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

dan berbentuk
Sedikit lendir
1-3/LPB
1-5/LPB
Sedikit
-

Perdarahan
Normal
Normal
Meningkat
Normal
Normal
Infeksi Parasit

Normal

ancylostoma
Darah Samar Feses

duodenale (+)
-

14. Hubungan antara pekerjaan pasien dengan keluhan yang dialami?


Pekerjaan pasien pada pemicu adalah petani. Dalam melakukan pekerjaan sehari-hari
yang kontak langsung dengan tanah, sebagian petani menggunakan alas kaki, sebagian lagi
tidak. Soil Transmitted Helminths (STH) merupakan istilah yang mengacu kepada
sekelompok penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing nematoda yang ditularkan kepada
manusia melalui tanah yang terkontaminasi feces. Jenis cacing yang ditransmisikan tanah
yang menjadi adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Necator americanus dan
Ancylostoma duodenale. Apabila melihat dari pemeriksaan feses pasien, ditemukan infeksi
parasite telur ancylostoma duodenale.
Spesies cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) merupakan
jenis nematoda yang termasuk dalam kelompok Soil Transmitted Helminth. Di negara tropis
mempunyai iklim yang lembab karena hujan dan panas terjadi sepanjang tahun. Indonesia
terletak di daerah tropis yang panasnya merata sepanjang tahun dan mempunyai dua musim.
Banyak sekali faktor lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan larva
ataupun telur cacing tambang antara lain, seperti ; adanya lahan pertanian/perkebunan,
pertambangan, kelembaban, temperatur/suhu, curah hujan dan kontur tanah. Para petani
pengolah lahan perkebunan atau persawahan setiap hari melakukan kontak secara langsung
antara kulit dengan tanah, jika kulit tidak menggunakan alat pelindung dapat menyebabkan
infeksi cacing tambang. Sehingga perkembangan larva cacing tambang di tanah dapat masuk
melalui pori-pori kulit (penetrasi).
Infeksi terjadi bila larva filariform menembus kulit. Setelah menembus kulit manusia
dengan menggunakan enzim hyaluronidase dan matalloproteates untuk menembus antara
keratinosit epidermal dan melalui substansi dasar dermis. Larva memasuki venula, dibawa
ke kapiler paru-paru, masuk ke kantung alveolar, bermigrasi ke bronki dan trakea, dan
melewati epiglotis dan bawah kerongkongan untuk mencapai usus kecil. Setelah sampai
usus halus, cacing tambang hidup dalam rongga usus halus dan melekat dengan giginya pada
dinding usus untuk menghisap darah dan makan dari pembuluh darah kecil di selaput lender
usus. Hal ini yang menyebabkan kehilangan darah secara perlahan-lahan sehingga penderita
mengalami anemia. Tiap cacing Ancylostoma duodenale setiap hari menyebabkan
kehilangan darah sekitar 0,08-0,34 cc disertai terjadinya eosinophilia.

Sumber : Wijaya NH. Beberapa Faktor Risiko Kejadian Infeksi Cacing Tambang Pada Petani
Pembibitan Albasia Program Magister Epidemiologi Pascasarjana Universitas Diponegoro
Semarang, 2015.