Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

SISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN


PADA BERBAGAI NEGARA DI ASIA

Oleh:
Isna Nur Khasanah
Nurul Aini
Rahmadani

PROGRAM STUDI PASCASARJANA MANAJEMEN FARMASI


UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN

Kesehatan adalah kebutuhan setiap manusia, yang memiliki banyak cara


dalam pemenuhannya. Masyarakat memiliki berbagai macam latar belakang,
terlebih dari segi kesejahteraan yang berbeda-beda. Tidak sedikit masyarakat
kurang mampu yang kurang dapat memperhatikan kesehatannya. Oleh karena itu
peran pemerintah sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan kesehatan.
Laporan Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO)
tahun 2000 menunjukkan bahwa angka kematian bayi di Indonesia pada tahun
1998 masih 48 per 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian bayi tersebut jauh lebih
tinggi dari angka kematian bayi di Muangtai (29), Filipina (36), Srilanka (18) dan
Malaysia (11). Berbagai studi, termasuk yang dilaporkan dalam World Health
Report 2000, menunjukkan bahwa rendahnya angka kematian bayi dan kinerja
sistem kesehatan lainnya mempunyai korelasi yang kuat dengan pembiayaan
kesehatan. Laporan WHO tersebut menempatkan kinerja sistem kesehatan
Indonesia pada urutan ke-92, yang jauh lebih rendah dari kinerja sistem kesehatan
negara tetangga seperti Malaysia (urutan ke 49), Muangtai (urutan ke 47) dan
Filipina (urutan ke 60). Secara rata-rata, laporan tersebut menunjukkan bahwa
pembiayaan kesehatan Indonesia menurut nilai tukar yang berlaku pada tahun
1997 adalah US$ 18 per kapita per tahun. Sementara negara-negara tetangga
seperti Filipina, Malaysia dan Muangtai sudah menghabiskan berturut-turut
sebesar US$ 40, US$ 110, dan US$ 133.
Melihat minimnya kemampuan masyarakat dan terbatasnya dana
kesehatan yang disediakan oleh negara, maka setelah berakhirnya Perang Dunia II
pemerintah beberapa negara mulai melakukan rekayasa manajemen pembiayaan
kesehatan melalui pengembangan asuransi kesehatan sebagai jaminan sosial bagi
penduduk utamanya bagi penduduk kurang mampu untuk mencapai Universal
Health Coverage. Dalam sidang ke-58 tahun 2005 di Jenewa, World Health
Assembly (WHA) menggarisbawahi perlunya pengembangan sistem pembiayaan

kesehatan yang menjamin tersedianya akses masyarakat terhadap pelayanan


kesehatan dan memberikan perlindungan kepada mereka terhadap risiko
keuangan. WHA ke-58 mengeluarkan resolusi yang menyatakan, pembiayaan
kesehatan yang berkelanjutan melalui Universal Health Coverage diselenggarakan
melalui mekanisme asuransi kesehatan sosial. WHA juga menyarankan kepada
WHO agar mendorong negara-negara anggota untuk mengevaluasi dampak
perubahan sistem pembiayaan kesehatan terhadap pelayanan kesehatan ketika
mereka bergerak menuju Universal Health Coverage.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Sistem Pembiayaan kesehatan


Yang dimaksud dengan biaya kesehatan adalah besarnya dana yang
harus disediakan untuk menyelenggarakan dan/atau memanfaatkan
berbagai upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan, keluarga,
kelompok dan masyarakat (Azrul A, 1996).
Dari pengertian di atas tampak ada dua sudut pandang ditinjau dari:
1. Penyelenggara pelayanan kesehatan (provider) yaitu besarnya dana
untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang berupa dana investasi
serta dana operasional.
2. Pemakai jasa pelayanan yaitu besarnya dana yang dikeluarkan untuk
dapat memanfaatkan suatu upaya kesehatan.
Adanya

sektor

pemerintah

dan

sektor

swasta

dalam

penyelenggaraan kesehatan sangat mempengaruhi perhitungan total biaya


kesehatan suatu negara. Total biaya dari sektor pemerintah tidak dihitung
dari besarnya dana yang dikeluarkan oleh pemakai jasa (income
pemerintah), tapi dari besarnya dana yang dikeluarkan oleh pemerintah
(expence) untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Total biaya
kesehatan adalah penjumlahan biaya dari sektor pemerintah dengan
besarnya dana yang dikeluarkan pemakai jasa pelayanan untuk sektor
swasta.
Pembiayaan kesehatan yang kuat, stabil dan berkesinambungan
memegang peranan yang amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan
kesehatan dalam rangka mencapai berbagai tujuan penting dari
pembangunan kesehatan di suatu negara diantaranya adalah pemerataan
pelayanan kesehatan dan akses (equitable access to health care) dan
pelayanan yang berkualitas (assured quality). Oleh karena itu reformasi
kebijakan kesehatan di suatu negara seyogyanya memberikan fokus
penting kepada kebijakan pembiayaan kesehatan untuk menjamin

terselenggaranya kecukupan (adequacy), pemerataan (equity), efisiensi


(efficiency) dan efektifitas (effectiveness) dari pembiayaan kesehatan itu
sendiri. Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan yang memadai
(health care financing) akan menolong pemerintah di suatu negara untuk
dapat

memobilisasi

sumber-sumber

pembiayaan

kesehatan,

mengalokasikannya secara rasional serta menggunakannya secara efisien


dan efektif. Kebijakan pembiayaan kesehatan yang mengutamakan
pemerataan serta berpihak kepada masyarakat miskin (equitable and pro
poor health policy) akan mendorong tercapainya akses yang universal.
B. Fokus Strategi Pembiayaan Kesehatan
Meskipun tiap-tiap negara mempunyai perbedaan dalam reformasi
pembiayaan kesehatannya bergantung dari isu-isu dan tantangannya
sendiri, akan tetapi pada dasarnya dalam banyak hal karakteristiknya sama
karena ke semua hal itu diarahkan untuk mendukung pencapaian tujuan
pembangunan kesehatan nasional, regional dan internasional. Organisasi
kesehatan se-dunia (WHO) sendiri memfokuskan strategi pembiayaan
kesehatan yang memuat isu-isu pokok, tantangan, tujuan utama kebijakan
dan program aksi itu pada umumnya adalah dalam area sebagai berikut:
1. meningkatkan investasi dan pembelanjaan publik dalam bidang
kesehatan,
2. mengupayakan pencapaian kepesertaan semesta dan penguatan
permeliharaan kesehatan masyarakat miskin,
3. pengembangan skema pembiayaan praupaya termasuk didalamnya
asuransi kesehatan sosial (SHI),
4. penggalian dukungan nasional dan internasional
5. penguatan kerangka regulasi dan intervensi fungsional,
6. pengembangan kebijakan pembiayaan kesehatan yang didasarkan
pada data dan fakta ilmiah, serta
7. pemantauan dan evaluasi.
C. Jenis Biaya Kesehatan
Dilihat dari pembagian pelayanan kesehatan, biaya kesehatan
dibedakan atas:

1. Biaya pelayanan kedokteran yaitu biaya untuk menyelenggarakan dan


atau memanfaatkan pelayanan kedokteran, tujuan utamanya lebih ke
arah pengobatan dan pemulihan dengan sumber dana dari sektor
pemerintah maupun swasta.
2. Biaya pelayanan kesehatan

masyarakat

yaitu

biaya

untuk

menyelenggarakan dan/atau memanfaatkan pelayanan kesehatan


masyarakat, tujuan utamanya lebih ke arah peningkatan kesehatan dan
pencegahan dengan sumber dana terutama dari sektor pemerintah.
D. Sumber Biaya Kesehatan
Pelayanan kesehatan dibiayai dari berbagai sumber, yaitu:
1. Pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah
(propinsi dan kabupaten/kota) dengan dana berasal dari pajak (umum
dan penjualan), deficit financial (pinjaman luar negeri) serta asuransi
sosal.
2. Swasta, dengan sumber dana dari perusahaan, asuransi kesehatan
swasta, sumbangan sosial, pengeluaran rumah tangga serta communan
self help.
E. Prinsip - Prinsip Universal
Prinsip-prinsip Universal itu adalah:
1. kepesertaan bersifat wajib, terhadap penduduk sesuai perundangan.
Jerman dan Jepang memulai dari kelompok tenaga kerja tertentu,
untuk kemudian berkembang ke kelompok-kelompok lain sampai
tenaga kerja nonformal dan mencapai 100 persen penduduk. Korea
Selatan memulai dari sektor formal dengan jumlah tenaga kerja
yang besar (500 tenaga kerja) untuk secara bertahap menurun, 400,
300, 200, 100 dan kahirnya mencakup kelompok nonformal. Korea
mencapai cakupan kepesertaan 100 persen penduduk hanya dalam
waktu beberapa tahun, karena kuatnya political will dari
pemerintah (Dekrit Presiden, 1976).
2. iuran ditanggung bersama, ditetapkan secara proporsional, sesuai
tingkat pendapatan, antara pemberi kerja dan penerima kerja.
Pendekatan seperti ini, sebenarnya mengantisipasi perkembangan
masa-depan, di mana biaya pelayanan kesehatan akan menjadi
6

amat mahal, sehingga tidak mampu ditanggung penerima kerja


(sendiri) atau pemberi kerja (sendiri).
Kekeliruan dalam sistem pembiayaan yang telah kita laksanakan
adalah, di dalam pembiayaan kesehatan Askes seluruh iuran
ditanggung penerima kerja, sedang pada Jamsostek seluruhnya
ditanggung

pemberi

kerja.

Untuk Askes, telah

dilakukan

perubahan, di mana pemberi kerja (pemerintah) harus ikut


memberi iuran dan subsidi, namun belum terlaksana (UU No
43/1999)
3. jenis santunan/benefit package berupa pelayanan kesehatan, sesuai
kebutuhan medis. Ruang lingkupnya ditetapkan berdasar peraturan
(pemerintah). Badan penyelenggara akan membangun sebuah
sistem pembiayaan dan pelayanan kesehatan, untuk dapat
memperoleh tingkat efisiensi yang tinggi, yang kini sering dikenal
sebagai Managed healtheare concept.
4. kegotongroyongan di antara peserta, dengan demikian amat
lengkap. Antara kaya miskin, tua muda, sehat sakit, bahkan yang
memiliki resiko sakit tinggi dan rendah. Kegotongroyongan seperti
ini sesuai dengan sifat pelayanan kesehatan itu sendiri, yang
selayaknya bobot wajah sosial masih dapat dipertahankan.
5. Kelima, berdasar studi perbandingan di banyak negara, negaranegara yang menganut prinsip ini, ternyata juga membelanjakan
biaya kesehatan yang lebih rendah dibanding negara yang
menganut prinsip asuransi kesehatan komersial. Jepang hanya
membelanjakan sekitar 50 persen biaya kesehatan dibanding AS.
Demikian

juga

peningkatan

pembiayaan

kesehatan

setiap

tahunnya, AS lebih tinggi dibanding Jepang.


6. badan penyelenggara juga harus bersifat not for profit, sehingga
lebih menguntungkan peserta. Sisa hasil usaha diperuntukkan bagi
peningkatan pelayanan kesehatan, misalnya, pembangunan sarana
kesehatan. Dengan luasnya kepesertaan dalam sisetm ini, badan
penyelenggara juga memperoleh peluang menikmati harga
komoditas kesehatan, misalnya obat-obatan dengan harga lebih
7

murah. Dampaknya, tentu amat luas pada ekonomi kesehatan.


Demikianlah, prinsip-prinsip universal dalam asuransi kesehatan
sosial yang banyak dianut. Satu hal yang perlu ditegaskan, dalam
prinsip asuransi sosial, sudah tentu pemerintah banyak berperan,
khususnya di dalam regulasi dan dorongan politis.
F. Sistem Pembiayaan Kesehatan di Berbagai Negara
Hubungan pembiayaan dengan derajat kesehatan tidak selalu
berbanding lurus, sangat tergantung dari pembiayaan khususnya yang
berkaitan erat dengan pengendalian biaya. Dengan pembiayaan langsung,
bukan hanya masyarakat miskin, tetapi orang yang mengalami sakit pada
saat tidak mempunyai uang pun tidak dapat akses terhadap pelayanan
kesehatan. Salah satu cara pembiayaan yang merupakan pengendalian
biaya, sehingga meningkatkan aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan
adalah dengan asuransi.
Pembiayaan kesehatan semakin meningkat dari waktu ke waktu
dan dirasakan berat baik oleh pemerintah, dunia usaha terlebih-lebih
masyarakat pada umumnya. Untuk itu berbagai Negara memilih model
sistem pembiayaan kesehatan bagi rakyatnya, yang diberlakukan secara
nasional.

Berbagai

model

yang

dominan

yang

implementasinya

disesuaikan dengan keadaan di Negara masing-masing. Beberapa model


yang dominan adalah:
1. Model asuransi kesehatan sosial (Social Health Insurance).
Model ini dirintis sejak Jerman dibawah Bismarck pada tahun 1882.
Model inilah yang berkembang di beberapa Negara Eropa, Jepang
(sejak 1922) dan kemudian ke Negara-negara Asia lainnya yakni
Philipina, Korea, Taiwan dll. Kelebihan sistem ini memungkinkan
cakupan 100% penduduk dan relatif rendahnya peningkatan biaya
pelayanan kesehatan.
2. Model asuransi kesehatan komersial (Commercial/Private Health
Insurance).
Model ini berkembang di AS. Namun sistem ini gagal mencapai
cakupan 100% penduduk. Sekitar 38% penduduk tidak tercakup

dalam sistem. Selain itu terjadi peningkatan biaya yang amat besar
karena terbukanya peluang moral hazard. Sejak tahun 1993; oleh
Bank Dunia direkomendasikan pengembangan model Regulated
Health Insurance dimana kepesertaan berdasarkan kelompok dengan
syarat jumlah minimal tertentu sehingga mengurangi peluang moral
hazard
3. Model NHS (National Health Services)
Dirintis pemerintah Inggris sejak usai perang dunia kedua. Model ini
juga

membuka

peluang

cakupan

100%

penduduk.

Namun

pembiayaan kesehatan yang dijamin melalui anggaran pemerintah


akan menjadi beban yang berat.
G. Sistem Pembiayaan Kesehatan di Indonesia
Indonesia adalah salah satu negara dari sedikit negara-negara di
dunia, yang belum memiliki sistem pembiayaan kesehatan yang mantap.
Padahal kita telah merdeka lebih dari 50 tahun. Banyak negara yang lebih
muda, yang merdeka setelah Indonesia, justru telah memiliki sistem
pembiayaan kesehatan yang lebih mantap, yang menjadi model dan
berlaku secara nasional. Dampaknya, jelas terkait dengan kemampuan
menyediakan dana kesehatan bagi seluruh rakyat. Ini terlepas, status
kesehatan rakyat tidak semata-mata tergantung besarnya biaya yang
dikeluarkan.
Sistem Pembiayaan kesehatan di Indonesia yang berlaku saat ini
adalah Jaminan Kesehatan Nasional yang dimulai pada tahun 2014 yang
secara bertahap menuju ke Universal Health Coverage. Jaminan Kesehatan
Nasional adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta
memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan & perlindungan dalam
memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yg diberikan kepada setiap orang yg
telah membayar iuran/ iurannya dibayar oleh Pemerintah.
Sesuai dengan UU No 40 Tahun 2004 tentang SJSN, maka Jaminan
Kesehatan Nasional dikelola dengan prinsip:
1. Gotong royong. Dengan kewajiban semua peserta membayar iuran
maka akan terjadi prinsip gotong royong dimana yang sehat
membantu yang sakit, yang kaya membantu yang miskin
9

2. Nirlaba. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tidak diperbolehkan


mencari untung. Dana yang dikumpulkan dari masyarakat adalah
dana amanat, sehingga hasil pengembangannya harus dimanfaatkan
untuk kepentingan peserta.
3. Keterbukaan, kehati hatian, akuntabilitas, efisiensi, dan efektivitas.
Prinsip manajemen ini mendasari seluruh pengelolaan dana yang
berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangan
4. Portabilitas. Prinsip ini menjamin bahwa sekalipun peserta berpindah
tempat tinggal atau pekerjaan, selama masih di wilayah Negara
Republik Indonesia tetap dapat mempergunakan hak sebagai peserta
JKN
5. Kepesertaan bersifat wajib. Agar seluruh rakyat menjadi peserta
sehingga dapat terlindungi. Penerapannya tetap disesuaikan dengan
kemampuan ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan
penyelenggaraan program.
6. Dana Amanat. Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan
dana titipan kepada badan penyelenggara untuk dikelola sebaik
baiknya demi kepentingan peserta.
7. Hasil pengelolaan dana jaminan sosial dipergunakan seluruhnya
untuk pengembangan program dan untuk sebesar besar
kepentingan peserta.
Program Jaminan Kesehatan Sosial Nasional adalah merupakan
salah satu jaminan yang diselenggarakan BPJS. Jaminan kesehatan yang
diberikan bukan hanya pada saat memiliki penyakit kronis seperti jantung
atau kanker namun juga termasuk di dalamnya usaha-usaha pencegahan,
seperti imunisasi. Selain itu pelayanan jaminan kesehatan ini dapat
diterima diberbagai Rumah Sakit, baik milik pemerintah maupun swasta
apabila telah menandatangani kontrak. Dimana mutu pelayanan yang
diberikan merata terhadap setiap orang tidak bergantung pada besarnya
iuran, sehingga rakyat miskin tidak perlu khawatir mendapat perlakuan
berbeda.
Semua warga negara Indonesia wajib menjadi peserta JKN
termasuk warga negara asing yang sudah tinggal di Indonesia lebih dari 6

10

bulan dan wajib membayar iuran kepada BPJS, bagi yang tidak mampu
iuran

dibayarkan

pemerintah

(PBI)

yang

pesertanya

ditetapkan

pemerintah. Konsep iuran BPJS bagi pekerja maupun PNS adalah 3 persen
ditanggung pemberi kerja (perusahaan) dan 2 persen ditanggung pekerja
itu sendiri, sehingga totalnya 5 persen berdasarkan upah.

BAB II
PEMBAHASAN

UHC menjadi tujuan kesehatan global yang utama, Bank Dunia dan WHO
telah mendesak negara-negara untuk memprioritaskan UHC untuk mencapai
pembangunan berkelanjutan dan keamanan global. Dalam dua tahun sejak itu,
gerakan global menuju UHC terus mendapatkan momentum, yang berpuncak
pada peluncuran pertama "Universal Health Coverage Day" pada tanggal 12
Desember 2014, upaya yang disponsori oleh sebuah koalisi global yang anggota
termasuk Rockefeller Foundation, WHO, Bank Dunia, dan lebih dari 500
organisasi dari seluruh dunia. Tujuan utama koalisi adalah untuk "menekankan
pentingnya akses universal terhadap layanan kesehatan untuk menyelamatkan
nyawa, berakhir kemiskinan, membangun ketahanan terhadap efek kesehatan dari
perubahan iklim dan berakhir epidemi mematikan seperti Ebola.
Pada tinjauan di beberapa Negara di Asia, keadaan ekonomi Negaranegara tersebut memberikan pendeketan sistem perawatan kesehatan yang
berbeda-beda, misalnya Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong, Cina, dan Vietnam.
11

Taiwan dan Korea Selatan


Taiwan dan Korea Selatan telah mengadopsi sistem pembayar tunggal,
dengan sistem asuransi kesehatan yang dikelola pemerintah, tidak hanya
mengelola pembiayaan, tetapi juga pengolahan klaim, pemantauan kualitas, biayanegosiasi dan pembayaran provider. Taiwan dan Korea Selatan telah mencoba
untuk memperluas basis pendapatan yang memungut premi untuk meningkatkan
keadilan di kontribusi keuangan. Secara historis kedua sistem ini hanya
mengandalkan pendapatan gaji yang memungut premi.
Pada Januari 2013 Taiwan menerapkan skema pembiayaan baru, tambahan
yang menambahkan premi 2% pada enam tambahan sumber pendapatan non-gaji
(bunga, dividen, pendapatan sewa, biaya profesional, pendapatan dari pekerjaan
kedua, dan bonus) untuk dasar gaji premium berdasarkan dasar, dikenakan pada
4,91% dari gaji dan upah . Reformasi ini meningkat secara signifikan tidak hanya
status keuangan dari NHI, mengubahnya dari status defisit besar, tetapi juga
keadilan dalam keuangan kontribusi.
Asuransi Kesehatan Nasional Taiwan (NHI) berdiri sebagai contoh sistem
yang berfungsi dengan baik yang mencapai keadilan dan solidaritas sosial,
pengendalian biaya yang baik, dan administrasi efisiensi. Hal ini cakupan
kesehatan yang universal untuk 23,4 juta warganya. Kepuasan publik tinggi, NHI
menikmati dan keadaan politik Taiwan juga stabil. membuat skema UHC Taiwan
akan berkelanjutan di masa mendatang.
Di Korea Selatan, sistem pembayar Asuransi Kesehatan Nasional tunggal
cukup mirip dengan Asuransi Kesehatan Nasional pembayar tunggal Taiwan,
namun dalam banyak hal, belum mampu untuk mengendalikan pertumbuhan
pengeluaran kesehatan. Korea telah menjadi negara dengan tingkat pertumbuhan
tertinggi pengeluaran kesehatan.
Hongkong
HongKong menggunakan aturan sistem pembiayaan kesehatan Inggris
dengan mentransplantasi ide NHS dalam bentuk HongKong Rumah Sakit Otorita

12

yang dikelola baik pembiayaan dan pemberian perawatan kesehatan. Dalam hal
itu menyerupai sistem Veteran AS Administration. ini "obat sosial" dalam bentuk
yang paling nyata.
China
China dapat dikatakan masih dalam tahap awal bergerak menuju UHC.
Pada Tahun 2003, masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi memiliki cakupan
untuk perawatan kesehatan yang lebih canggih. Harga perawatan kesehatan pergi
menjulang tinggi, fakta yang dinikmati oleh banyak produsen produk perawatan
kesehatan di dalam Cina dan luar negeri. Pada tahun 2009, China mulai reformasi
kesehatan yang komprehensif yang ditujukan semua daerah penting. Reformasi
yang diperlukan, yaitu, asuransi kesehatan ekspansi, pembentukan daftar obat
esensial, perluasan kapasitas sistem pengiriman kesehatan berfokus pada fasilitas
sumber perawatan kesehatan dan tenaga kerja, perluasan dan pemerataan
pelayanan kesehatan masyarakat, dan masyarakat reformasi rumah sakit.
Hari ini sebagian besar penduduk China memiliki akses ke asuransi
kesehatan (lebih dari 96% dan 99-100% di beberapa pedesaan daerah) atau
beberapa paket manfaat, meskipun pelayanan kesehatan tertentu bervariasi secara
signifikan antar provinsi dari berbagai kekayaan di perkotaan dan pedesaan
daerah. Tujuan utama pemerintah China adalah untuk menjembatani jurang ini
dalam cakupan manfaat. Saat ini, Cina tampaknya bergulat dengan membedakan
peran sektor publik dan swasta dan mencari yang sesuai peran sektor swasta,
misalnya, terlibat asuransi komersial swasta untuk melakukan fungsi pengolahan
klaim, pemantauan kualitas, dan pembayaran penyedia. Ini adalah pekerjaan yang
sedang berjalan, melalui percobaan dan kesalahan.
Maksud asli dari reformasi kesehatan China sejak 2009 telah
mengembangkan "Masyarakat yang harmonis" di mana "semua orang menikmati
akses yang sama ke perawatan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan". Namun,
kecuali bahwa upaya reformasi dipantau sangat erat dengan pemerintah dan terus
disalurkan ke arah itu, Sistem perawatan kesehatan Cina mungkin berakhir lebih
seperti sistem AS, yang merupakan tambal sulam sistem asuransi kesehatan sangat

13

berbeda dari obat social untuk veteran, pembayar tunggal untuk orang tua dan
orang miskin, dan sistem kesehatan secara substansial tersegmentasi berdasarkan
resiko untuk orang lain, dan yang terakhir, yaitu sebuah sistem yang selalu akan
menjadi sangat mahal dan selalu akan menimbulkan banyak hal yang tidak sia-sia.
Vietnam
Vietnam, yang baru-baru ini masuk dalam jajaran negara-menengah
berpenghasilan rendah, telah membuat kemajuan yang signifikan terhadap UHC
di bawah sistem kesehatan pembayar tunggal yang dikelola pemerintah. Struktur
inti bergantung pada jaringan nasional fasilitas perawatan primer dan penekanan
kuat pada kesehatan masyarakat. Vietnam sedang melakukan upaya terhadap
UHC dan prestasi yang bagus tidak akan mungkin dicapai tanpa dukungan dan
komitmen dari pimpinan puncak negara itu, sekali lagi ditambah dengan investasi
yang signifikan di sektor kesehatan melalui pembiayaan publik dan komitmen
yang kuat untuk prinsip solidaritas dan ekuitas, dan birokrasi pelayanan kesehatan
yang kompeten di bawah Departemen Kesehatan.
Negara-negara berkembang dan negara-negara yang sedang tumbuh
sebaiknya menuju UHC dengan sistem kesehatan sosial tunggal pembayar sistem
asuransi seperti Asuransi Kesehatan Nasional Taiwan untuk ekuitas, pengendalian
biaya yang baik, dan efisiensi administrasi, dan memungkinkan baik penyedia
publik dan swasta untuk bersaing dan memberikan pelayanan kesehatan.
Pendekatan Taiwan mengikuti rekomendasi pada tahun 1989 dari ekonom
Princeton Uwe Reinhardt untuk mengadopsi sistem asuransi kesehatan singlepembayar, rekomendasi yang Pemerintah diadopsi pada tahun 1990. Menurut
Reinhardt, setelah pembiayaan dan administrasi berada di tangan pemerintah,
kekuatan pasar bisa bergerak di mana mereka tidak kontra-produktif untuk
pencapaian tujuan sosial yang diinginkan seperti di Taiwan, sistem kesehatan
egaliter dan terjangkau. Sistem multi-pembayar asuransi sosial cenderung lebih
mahal untuk menjalankan, seperti halnya dengan asuransi kesehatan sosial Jerman
sistem, sistem Swiss, atau Amerika Serikat Medicare sistem Keuntungan.

14

BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan jurnal yang telah dibahas sebelumnya, dapat disimpulkan


bahwa:
1. Seluruh dunia dikelola oleh Bank Dunia, WHO, dan ratusan organisasi yang
ditujukan untuk penyebabnya untuk UHC akan memerlukan perjuangan yang
sangat panjang dan sangat keras. Reformasi kesehatan memakan waktu lama
bahkan bagi negara terkaya (AS, Swiss, Belanda, dan sebagainya).
2. Memiliki atau membangun sistem kesehatan universal yang berkelanjutan bisa
dilakukan, kemajuan yang signifikan dapat dicapai dengan sumber daya
terbatas melalui pendekatan bijaksana untuk mengorganisir pembiayaan dan
pemberian layanan kesehatan penting.

15

DAFTAR PUSTAKA

Azrul A., 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan Edisi ketiga, Binarupa Aksara;
Jakarta
Ihsan

Taufiq

Rahman.

2016.

Jaminan

Kesehatan

Nasional.

http://www.academia.edu/8425735/Jaminan_Kesehatan_Nasional, Diakses
tanggal 01 Juni 2016
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Buku Pegangan Sosialisasi
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial
Nasional. DepKes RI; Jakarta
Mei Cheng T., JD, MA, 2015. Universal Health Coverage: an Overview and
Lessons from Asia. Harvard Public Health Review
Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. 2016. Program Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN). http://www.tnp2k.go.id/id/tanya-jawab/klasteri/program-jaminan-kesehatan-nasional-jkn/. Diakses tanggal 01 Juni 2016

16