Anda di halaman 1dari 27

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM

LAPSUS

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

APRIL 2016

Pneumotoraks ec TB Paru dan CHF

MAKASSAR APRIL 2016 Pneumotoraks ec TB Paru dan CHF OLEH AAN SUCITRA 10542 0256 11 DIBAWAKAN

OLEH

AAN SUCITRA 10542 0256 11

DIBAWAKAN DALAM RANGKA MEMENUHI TUGAS KEPANITRAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2016

LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menerangkan, bahwa:

Nama

: Aan Sucitra

NIM

: 10542 0256 11

Judul Referat

: Pneumotoraks ec TB Paru dan CHF

Telah menyelesaikan Laporan Kasus dalam rangka Kepanitraan Klinik di

Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah

Makassar.

Makassar, 15 April 2016

Pembimbing,

(dr. Zakaria Mustari, Sp.PD)

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR Assalamu Alaikum WR.WB Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat,

Assalamu Alaikum WR.WB

Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas

rahmat, hidayah, kesehatan dan kesempatan-Nya sehingga laporan kasus dengan

judul “Pneumotoraks ec TB paru dan CHF” ini dapat diselesaikan. Salam dan

shalawat senantiasa tercurah kepada baginda Rasulullah SAW, sang pembelajar

sejati yang memberikan pedoman hidup yang sesungguhnya.

Pada kesempatan ini, secara khusus penulis mengucapkan terima kasih dan

penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dosen pembimbing dr. Zakaria Mustari,

Sp.PD yang telah memberikan petunjuk, pengarahan dan nasehat yang sangat

berharga dalam penyusunan sampai dengan selesainya laporan kasus ini.

Penulis

menyadari

sepenuhnya

masih

banyak

terdapat

kelemahan

dan

kekurangan dalam penyusunan laporan kasus ini, baik dari isi maupun penulisannya.

Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak senantiasa penulis harapkan demi

penyempurnaan laporan kasus ini.

Demikian, Semoga laporan kasus ini bermanfaat bagi pembaca secara umum

dan penulis secara khususnya.

Billahi Fi Sabilill Haq Fastabiqul Khaerat

Wassalamu Alaikum WR.WB.

Makassar, April 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul

i

Lembar Pengesahan

ii

Kata Pengantar

iii

Daftar Isi

iv

BAB I Tinjauan Pustaka

1.1 Pendahuluan

1

1.2 Diagnosis

4

1.3 Penatalsanaan

5

BAB II Status Pasien

2.1 Identitas Pasien

7

2.2 Anamnesis

7

2.3 Pemeriksaan Fisik

8

2.4 Pemeriksaan Penunjang

11

2.5 Resume

15

BAB III Pembahasan

19

Daftar Pustaka

BAB I

TINJAUAN PUSATAKA

1.1 Pendahuluan

Pneumotoraks adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga

pleura. Pada keadaan normal rongga pleura tidak berisi udara, supaya paru-paru

leluasa mengembang terhadap rongga dada.

Insidensi pneumotoraks sulit diketahui karena episodenya banyak dan tidak

diketahui. Perbandingan pria dan wanita 5:1. Pneumotoraks spontan primer sering

dijumpai pada individu sehat, tanpa riwayat paru sebelumnya., dan lebih sering pada

pria dengan usia dekade 3 dan 4. Salah satu penelitian menyebutkan sekitar 81%

kasus pneumotoraks spontan primer berusia kurang dari 45 tahun.

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh

Mycobacteria. Pada manusia kebanyakan yang menginfeksi adalah Mycobacterium

tuberculosis. Biasanya tuberkulosis menyerang paru, namun dapat juga menyerang

Central Nervus System, sistem limfatikus, sistem urinaria, sistem pencernaan, tulang,

sendi dan lainnya.

Karena penyakit TB bersifat kronis dan resistensi kuman terhadap obat cukup

tinggi, maka tidak jarang menimbulkan komplikasi. Salah satu komplikasi yang bisa

ditimbulkan adalah pneumotoraks. Di mana Pneumotoraks yang terjadi adalah

pneumotoraks spontan sekunder.

Seaton

dkk.

Melaporkan

bahwa

pasien

tuberkulosis

aktif

mengalami

komplikasi pneumotoraks sekitar 1,4% dan jika terdapat kavitas paru, komplikasi

meningkat lebih dari 90%.

Berdasarkan terjadinya, pneumothoraks dibagi atas:

1)

Pneumotoraks Traumatik :

- Pneumotoraks traumatik non iatrogenik

- Pneumotoraks traumatik iatrogenik :

Pneumotoraks traumatik iatorgenik aksidental

Pneumotoraks traumatik iatrogenik artifisial

2)

Pneumotoraks Spontan

- Pneumotoraks spontan primer

Umumnya disebabkan oleh pecahnya suatu bleb subpleura yang biasanya

terdapat di daerah apeks paru. Factor resiko utama adalah merokok. Pada

beberapa kasus

faktor

herediter juga memegang peranan,

penderita berpostur tinggi dan kurus.

- Pneumotoraks spontan sekunder

umumnya

Terjadi sebagai komplikasi penyakit paru dasarnya (underlying lung

disease).

Beberapa

penyakit

yang

sering

menjadi

penyebab

pneumothoraks antara lain PPOK tipe emfisema dan tuberkulosis paru.

Pneumotoraks

dibagi

menjadi

tension

dan

non

tension

pneumotoraks.

Tension pneumotoraks merupakan kondisi bahaya dimana terjadi akumulasi dari

udara di ruangan pleura ketika setiap bernafas. Peningkatan tekanan intratorakal

menghasilkan pergeseran yang masif dari mediastinum ke arah paru yang sehat dan

menekan ke pembuluh darah. Sebaliknya nontension pneumothoraks tidak begitu

berbahaya karena tidak ada penumpukan udara dan penekanan organ dalam paru.

Paru terdapat dalam rongga dada, dengan rongga yang sempit. Udara masuk

ke dalam rongga paru melewati diafragma. Rongga paru antara dinding dada dengan

paru, jika udara masuk ke dalam rongga ini, mau itu dari dalam paru (closed

pneumothorax) ataupun dari luar rongga dada (open pneumothorax) akan terjadi

kolaps dari paru yang menyebabkan orang tersebut menjadi tidak bisa bernafas,

walaupun dengan saluran pernafasan yang terbuka. Jika jaringan membentuk saluran

satu arah yang dapat membuat udara masuk ke dalam rongga dada namun tidak bisa

kabur, maka tekanan yang terlalu tinggi terbentuk setiap kali bernafas, hal ini

diketahui sebagai tension pneumotoraks. Hal ini dapat menyebabkan kolaps dari

system pernafasan, kedua kondisi tersebut memerlukan tindakan yang cepat karena

mengancam jiwa.

Pneumotoraks biasanya dimanifestasikan dengan nafas yang pendek- pendek

yang timbul tiba-tiba, batuk berdahak, sianosis dan rasa sakit pada dada, pundak dan

tangan. Pada penetrasi luka di dada akan terdengar suara udara melewati lubang

pungtur yang berarti mengindikasikan pneumotoraks . jika tidak dilakukan tindakan

maka akan terjadi hipoksia yang kemudian akan berujung pada kehilangan kesadaran

dan koma. Selain itu terjadi pendorongan mediastinum ke arah paru yang sehat yang

dapat berakibat juga penekanan pada vena cava superior dan inferior yang berakibat

pada berkurangnya cardiac preload dan menurunnya cardiac output.

Pada kasus yang berat, pneumothoraks dapat berujung kematian dalam

hitungan waktu yang cepat. Pneumotoraks dapat juga terjadi pada suatu prosedur

kesehatan seperti pemasangan kateter intravena, pada vena subclavia atau vena

jugularis.

Pneumotoraks

merupakan

suatu

kondisi

paru

yang

mengancam

jiwa,

pneumotoraks dapat disebabkan oleh berbagai sebab. Salah satunya akibat penyakit

tuberkulosa.

Gejala

pneumotoraks

pneumotoraks

akibat

tuberkulosa

karena

penyebab

lainnya.

Gejala

tidak

berbeda

yang muncul

seberapa luas pneumotoraks yang terjadi.

dengan

gejala

tergantung dari

Penatalaksanaannya pun tidak jauh berbeda. Apabila pasien datang dengan

pneumotoraks et causa tuberculosa maka dilakukan tindakan untuk menyelamakan

jiwa yaitu menangani pneumotoraks terlebih dahulu baru kemudian tuberkulosanya

diobati.

1.2 Diagnosis

Anamnesis :

Sesak nafas (didapatkan pada 80-100% kasus)

Nyeri dada ( didapatkan pada 75-90% kasus)

Batuk-batuk (didapatkan pada 25-35% kasus)

Pemerikasaan fisik :

Pada pneumotoraks yang kecil, biasanya hanya menimbulkan takikardia ringan dan

gejala

yang

tidak

khas.

Pada

pneumotoraks

takikardia berat, hipotensi serta:

yang

besar,

biasanya

didapatkan

Inspeksi

: dinding dada yang terkena tertinggal pada pergerakan, pergeseran

mediastinum atau trakea

Palpasi

: taktil fremitus menurun

Perkusi

: bisa normal atau meningkat (hipersonor)

Auskultasi

: VBS menurun, Vocal resonan menurun sampai menghilang

Pemeriksaan penunjang :

Analisis gas darah arteri memberikan gambaran hipoksemia meskipun pada

kebanyakan pasien sering tidak diperlukan.

 

Pada pemeriksaan foto toraks bisa didapatkan daerah hiperlusen, corkan

vaskular paru menghilang, dengan garis paru pada sisi medial

 

Hilangnya suara pernafasan dalam stetoskop dapat mengindikasikan bahwa

paru

tidak

memenuhi

rongga

dada.

Tanda

ini

disertai

oleh

hipersonor

pada

pemeriksaan perkusi di dinding dada menambah dugaan pneumotoraks. Pemeriksaan

koin test dapat positif. Jika tanda-tanda pneumotoraks meragukan maka dilakukan

foto rontgen, namun pada hipoksia berat atau ada tanda-tanda tension pneumotoraks

maka penanganan terhadap pneumotoraks tersebut dilakukan pertama kali. Pada

posisi supine rongent akan didapatkan deep sulcus sign, yang dikarakteristikan

sebagai sudut rendah lateral dari costophrenicus pada sisi yang terinfeksi. Tempat di

mana rusuk dan diafragma bertemu terlihat lebih rendah pada rontgen dengan deep

sulcus sign memberikan diagnostik pneumotoraks.

1.3 Penatalaksanaan

Setelah diagnosis yang tepat ditegakan maka observasi yang cermat perlu

dilaksanakan. Bila pasien sesak nafas sekali maka dilakukan pemasangan WSD

(water sealed drainage). Pada pasien yang gawat sekali maka pemasangan WSD

harus segera dilakukan dengan menusukan jarum ke rongga pleura yang berfungsi

sebagai penyelamat.

Tujuan dari penatalaksanaan pneumotoraks adalah mengeluarkan udara dari

rongga

toraks

dan

mencegah

pneumotoraks

yang

berulang.

Pada

simple

pneumothorax

minimal

(<15%

hemithorax)

biasanya

dilakukan

pengobatan

konservatif, karena akan sembuh sendiri dengan sendirinya, tidak perlu invasive

kemudian

penderita harus

istirahat

di

tempat

tidur

selama beberapa

hari

dan

observasi keluhan sesak dan tanda-tanda vital. Kemudian berikan oksigen 2-4 L dan

obati penyakit dasar yang menyebabkan pneumotoraks. Untuk memeriksanya apakah

ada

perbaikan

atau

tidak

maka

dilakukan

foto

rontgen

berulang

kemudian

dibandingkan

antara

yang

lama

dan

baru.

Pneumotoraks

yang

terlalu

kecil

membutuhkan thoracostomy tabung dan terlalu besar untuk tidak dilakukan tindakan

maka dilakukan aspirasi dengan kateter kecil.

Pada tensional pneumotoraks atau simple pneumothorax > 15% hemithoraks

dengan dispnea berat, gangguan respirasi, hipoksia arteri yang nyata (PO2 <55

mmHg), kolaps total total pada satu paru, pembesaran pneumothorax bilateral, harus

segera dilakukan pemasangan pipa torakostomi (chest tube). Teknik pengeluaran

(drainage) udara keluar dari rongga pleura dapat dilakukan dengan :

- Simple aspirasi

- Pemasangan WSD (water sealed drainage)

Merupakan sistem kedap air yang digunakan untuk drainase cairan dan/atau

udara

dari

rongga

intrapleura.

pleura

dengan

tujuan

mengemballikan

tekanan

negatiff

BAB II

STATUS PASIEN

2.1 IDENTITAS PASIEN

Nama

: Tn. “H

Umur

: 63 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Jln. Melati

Status

: Menikah

Agama

: Islam

No. Reg

: 41 31 46

Tanggal MRS

: 26 Maret 2016

2.2 ANAMNESIS

Tipe Anamnesis

a. Keluhan utama

Sesak

: Autoanamnesis

:

b. Riwayat penyakit sekarang :

Seorang pasien laki-laki berumur 63 tahun masuk RSUD. Syekh

Yusuf Gowa dengan keluhan sesak nafas dan nyeri dada. Keluhan

dialami sejak 2 hari yang lalu. Pasien juga mengalami batuk berlendir

sudah 3 bulan. BAB dan BAK lancar.

Riwayat Penyakit Dulu

- Hipertensi

- CHF

:

2.3 PEMERIKSAAN FISIK

a.

Status Present

 

1.

Keadaan umum

 

- Sakit berat saat kambuh

- Composmentis (GCS 15)

-

Gizi Lebih

-

Berat Badan

: 72 kg

-

Tinggi badan

: 167 cm

-

IMT

: 26

 

2.

Tanda Vital

 

- Tekanan Darah

: 150/90 mmHg

- Nadi

: 90 x/menit

- Pernapasan

: 50 x/menit

- Suhu

: 36,5ºC

b.

Status General

1.

Kepala

- Bentuk kepala : Normocepali

- Rambut

: Hitam, Tebal

- Simetris

: Kiri-Kanan

- Deformitas

:

-

2.

Mata

- Eksoptalmus/enoptalmus : -

- Konjungtiva

: Anemis (-/-)

- Sklera

: Ikterik (-/-)

- Pupil

3. Telinga

- Pendengaran

4.

-

Nyeri tekan

Hidung

-

Bentuk

-

Perdarahan

: Bulat Isokor kiri-kanan

: Dalam batas normal

: (-/-)

: Simetris

:

-

5. Mulut

- Bibir

: Kering, tidak sianosis (-)

-

Lidah kotor

:

-

-

Caries gigi

:

-

6. Leher

 

- Inspeksi

: Simetris

- Palpasi

: Pembesaran KGB (-), Pembesaran tiroid (-)

-

DVS

:

4

7. Kulit

- Hiperpigmentasi : -

- Ikterik

:

-

- Petekhie

:

-

- Sianosis

:

-

- Pucat

:

-

8. Thorax

- Inspeksi

: dada cembung pada sisi kanan

- Palpasi

dengan kiri

- Perkusi

- Auskultasi

9. Cor

: Vocal fremitus kanan menurun tidak sama

: hipersonor pada sisi kanan

: Suara napas lemah

- Inspeksi

: Iktus cordis tampak (-)

- Palpasi

: Iktus cordis teraba (-)

-

Perkusi

:Batas kanan: melebar ke kanan

- Auskultasi

Gallop (-)

10. Abdomen

- Inspeksi

Batas kiri: melebar ke kiri

: Bunyi jantung I dan II murni (+), murmur (-),

: Simetris, datar, tidak ada benjolan

- Palpasi

: Nyeri tekan (-)

-

Perkusi

: tymphani

-

Auskultasi

: peristaltic (+) kesan normal

11. Punggung

- Tampak dalam batas normal

- Tidak terlihat kelainan bentuk tulang belakang

12. Genitalia

Tidak dievaluasi

13. Ekstremitas atas dan bawah

Dalam batas normal

2.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Darah Rutin

01-04-2016 (Laboratorium)

 

Hasil

Nilai Normal

HEMOGLOBIN

15

14,0 17,4 g/dL

MCV

93

80

- 96

MCH

31,9

28

- 33

MCHC

34,3

33 36 g/dl

TROMBOSIT

206.000

150.000 440.000 /uL

WBC

7.500

4000-12000/uL

RBC

4.700.000

4.000.000-6.200.000/Ul

b. Kimia Klinik

01-04-2016 (Lab.RSUD. Syekh Yusuf Gowa)

Jenis Pemeriksaan

Hasil

Nilai Rujukan

satuan

Gula Darah Sewaktu

109

<140

Mg/dl

Ureum Darah

45

0-50

Mg/dl

Kreatinin Darah

1,1

<1,3

Mg/dl

SGOT

27

<38

U/L

SGPT

12

<41

U/L

LED

15

<20

Mm/jam

c. Foto Radiologi

c. Foto Radiologi Foto thorax PA - Tampak bayangan hiperlusen avascular submassive di hemithorax kanan disertai

Foto thorax PA

-

Tampak bayangan hiperlusen avascular submassive di hemithorax

kanan disertai collaps paru ke arah 1/3 medial paru

-

Cor membesar dengan CTR 56%

-

Pulmo sisistra= vascular supra hiliar tampak meningkat

-

Sinus lancip, diaphragma intak

-

Tulang-tulang intak

Kesan: -

Pneumotoraks dextra+collaps paru

-

Cardiomegali+ tanda-tanda bendungan paru

Foto thorax PA (control) - Hemithorax kanan = sudah tidak tampak lagi bayangan hyperlusen avascular

Foto thorax PA (control)

- Hemithorax kanan = sudah tidak tampak lagi bayangan hyperlusen

avascular dan gambaran colaps paru

- Tampak bercak infiltrat difus pada kedua paru disertai garis-garis

fibrosis dan bercak kalsifikasi

- Cor membesar, aorta dilatasi (CTR sulit dinilai)

- Tampak pula bayangan radiolusen di soft tissue sepanjang dinding

dada kanan

- Tulang-tulang intak

Kesan: - tidak tampak lagi Pneumotoraks

- TB paru duplex lama aktif

- Cardiomegali + dilatasi aorta

- Emfisema sub kutis- dinding dada kanan

a. Hasil EKG

a. Hasil EKG
a. Hasil EKG
a. Hasil EKG
EKG :- Sinus takikardi - LVH - OMI 2.5 RESUME Pada tanggal 26 Maret 2016,

EKG :-

Sinus takikardi

-

LVH

-

OMI

2.5 RESUME

Pada tanggal 26 Maret 2016, pasien MRS dengan keluhan sesak nafas dan

nyeri dada 2 hari yang lalu. Batuk berlendir sudah 3 bulan. Pasien telah

melakukan pemeriksaan Laboratorim dengan hasil : Hb 15,0 g/dL, WBC

7.500/uL, PLT 206.000/uL. GDS 109 mg/dL, ureum darah 45 mg/dL, kreatinin

darah 1,1 mg/dL, SGOT 27 U/L, SGPT 12 U/L, LED 15 mm/jam. Pada

pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah, tampak sakit berat saat

kambuh, kesadaran composmentis. Pemeriksaan tanda vital: Tekanan darah :

150/90 mmHg, Nadi : 90

kali/menit, Pernapasan : 50

kali/menit, dan Suhu :

36,5C. Pemeriksaan fisik yang bermakna, Inspeksi: dada cembung pada sisi

kanan. Palpasi : Vocal fremitus kanan menurun tidak sama dengan kiri. Perkusi :

hipersonor pada sisi kanan. Auskultasi : Suara napas lemah. Pemeriksaan Foto

Thorax PA pertama, kesan: Pneumotoraks dextra+collaps paru. Cardiomegali+

tanda-tanda bendungan paru. Foto thorax PA (kontrol), kesan: tidak tampak lagi

pneumothorrax, TB paru duplex lama aktif, Cardiomegali+ dilatasi Aorta,

Emfisema subkutis. Hasil Rekam Jantung (EKG): Sinus Takikardi, LVH, OMI.

FOLLOW UP

Tanggal

Perjalanan Penyakit

 

Instruksi Dokter

26/04/2016

Sesak (+)

 

IVFD RL 20 tpm

TD : 150/90 mmHg

Nyeri dada (+)

 

Lasix amp/12 jam/IV

N

: 90x/menit

Batuk berlendir (+)

micardis 1x1

P

: 50x/menit

neurodex 1x1

S

: 36,5ºC

pemeriksaan EKG

27/03/2016

 

IVFD RL 20 tpm

TD : 130/90 mmHg

Sesak (

TD : 130/90 mmHg  Sesak ( )  Lasix amp/12 jam/IV

)

Lasix amp/12 jam/IV

N

: 90x/menit

Nyeri dada (

 Nyeri dada (

)

micardis 1x1

P

: 38x/menit

Batuk berlendir (+)

neurodex 1x1

S

: 37 ºC

28/03/2016

Batuk berlendir (+)

IVFD RL 20 tpm

TD : 120/70 mmHg

Nyeri dada (

 Nyeri dada (

)

Lasix amp/12 jam/IV

N

: 88x/menit

 sesak (

sesak (

)

Letonal 1-0-0

P

: 20x/menit

 

S

: 36,8 ºC

29/03/2016

Batuk berlendir (+)

IVFD RL 20 tpm

TD : 120/80 mmHg

 Nyeri dada (

Nyeri dada (

)

Lasix amp/12 jam/IV

N

: 82x/menit

sesak (

N : 82x/menit  sesak ( )  Aspilet 1x1

)

Aspilet 1x1

P

: 18x/menit

 

Anbacim vial/8 jam/IV

S

: 36,5°C

   

30/03/2016

Batuk berlendir (+)

IVFD RL 20 tpm

TD : 120/70 mmHg

 Nyeri dada ( )

Nyeri dada (

)

Anbacim vial/8 jam/IV

N

: 88x/menit

 sesak (

sesak (

)

Ketorolac amp/ 12 jam/IV

P

: 22x/menit

 

S

: 36,5°C

31/03/2016

Batuk berlendir (+)

IVFD RL 20 tpm

TD : 110/60 mmHg

 Nyeri dada ( )

Nyeri dada (

)

Anbacim vial/8 jam/IV

N

: 88x/menit

sesak (

 sesak (

)

Ketorolac amp/ 12 jam/IV

P

: 20x/menit

 

S

: 36,5°C

01/04/2016

Batuk berlendir (+)

IVFD RL 20 tpm

TD : 100/60 mmHg

Nyeri dada (+)

Anbacim vial/8 jam/IV

N

: 88x/menit

 Sesak (

Sesak (

)

Ketorolac amp/ 12 jam/IV

P

: 22x/menit

Post op: krepitasi (+)=

S

: 36,5°C

emfisema subkutis

02/04/2016

Batuk berlendir (+)

IVFD RL 20 tpm

TD : 120/70 mmHg

 Sesak ( )

Sesak ( )

 

Anbacim vial/8 jam/IV

N

: 90x/menit

Batuk berlendir (+)

Ketorolac amp/ 12 jam/IV

P

: 20x/menit

Lasix amp/ 12 jam/IV

S

: 36,8°C

Aspilet 1x1

03/04/2016

Batuk berlendir (+)

 

IVFD RL 20 tpm

TD : 100/60 mmHg

Bekas WSD masih

 

Anbacim vial/8 jam/IV

N

: 92x/menit

mengeluarkan cairan

Ketorolac amp/ 12 jam/IV

P

: 21x/menit

Lasix amp/ 12 jam/IV

S

: 36,5°C

Aspilet 1x1

04/04/2016

   

TD : 100/60 mmHg

 Batuk berlendir (

Batuk berlendir (

 

)

Anbacim vial/8 jam/IV

N

: 88x/menit

Nyeri dada sebelah

 

Ketorolac amp/ 12 jam/IV

P

: 20x/menit

kanan (

P : 20x/menit kanan ( )

)

S

: 36,6°C

Sesak bila batuk (

S : 36,6 ° C  Sesak bila batuk ( )

)

05/04/2016

Tidak ada keluhan

 

Aspilet 1x1

TD: 100/80 mmHg

 

Neurodex 1x1

N:96x/menit

P:22x/menit

S:

36,5°C

Boleh pulang

Dari

hasil

anamnesis,

BAB III

PEMBAHASAN

pemeriksaan

fisik

dan

pemeriksaan

didapatkan daftar masalah sebagai berikut:

1)

Pneumotoraks spontan sekunder ec TB paru aktif

Pada anamnesis didapatkan:

- Sesak napas yang semakin bertambah

- Nyeri dada kanan

Pada pemeriksaan fisik paru didapatkan:

- Inspeksi

: dada cembung pada sisi kanan

penunjang

- Palpasi : Vocal fremitus kanan menurun tidak sama dengan kiri

- Perkusi

- Auskultasi

: hipersonor pada sisi kanan

: Suara napas lemah

Melemahnya atau hilangnya suara pernafasan dalam stetoskop

mengindikasikan bahwa paru tidak memenuhi rongga dada. Tanda ini

disertai

oleh

hipersonor

pada

pemeriksaan

perkusi

di

menambah dugaan pneumotoraks.

dinding

dada

Pada pemeriksaan foto toraks didapatkan:

- Pneumotoraks kanan

- Kolaps paru kanan (+)

Plan terapi : -

Oksigen nasal 3 liter/menit

- Pemasangan WSD di paru kanan

- Anbacim /8 jam

- Ketorolac/ 12 jam

Plan monitoring : Keluhan subjektif, objektif, foto toraks, hasil WSD

Plan edukasi : - Menjelasken tentang penyakit, pemeriksaan, dan terapi

kepada pasien

- Menganjurkan pasien agar beristirahat

Paru terdapat dalam rongga dada, dengan rongga yang sempit. Udara masuk ke

dalam rongga paru melewati diafragma. Rongga paru antara dinding dada dengan

paru, jika udara masuk ke dalam rongga ini, mau itu dari dalam paru (closed

Pneumotoraks) ataupun dari luar rongga dada (open Pneumotoraks) akan terjadi

kolaps dari paru yang menyebabkan orang tersebut menjadi tidak bisa bernafas.

kolaps dari paru yang menyebabkan orang tersebut menjadi tidak bisa bernafas. Skema patogenesis pneumothoraks ec TB

Skema patogenesis pneumothoraks ec TB paru

Alveolus disangga oleh kapiler yang memiliki dinding lemah dan mudah robek.

Pada infeksi tuberkulosis, pneumotoraks terjadi disebabkan karena adanya proses

inflamasi di alveolus atau bisa juga karena peningkatan tekanan intraalveolar akibat

batuk

yang menyebabkan rupturnya alveolus. Sehingga terbentuk bleb di subpleura

viseralis. Bleb tersebut pecah, kemudian udara masuk ke rongga pleura.

2)

CHF

Pada pemeriksaan penunjang:

- EKG : sinus takikardi, LVH, OMI

- Foto thorax PA: kardiomegali, CTR 56%

Plan terapi : -

Lasix /12 jam

-

Aspilet 1x1

-

Micardis 1x1

Plan edukasi : - Menjelasken tentang penyakit, pemeriksaan, dan terapi

kepada pasien

CHF

adalah

suatu

keadaan

patofisiologis

dimana

jantung

gagal

mempertahankan

sirkulasi

adekuat

untuk

kebutuhan

tubuh

meskipun

tekanan

pengisian cukup. Gagal jantung paling sering disebabkan oleh gagal kontraktilitas

miokard,

seperti

kardiomiopati.

yang

terjadi

pada

infark

miokard,

hipertensi

lama,

atau

Diagnosis dari gagal jantung dapat didasarkan atas kriteria Framingham 3) Diagnosis Banding - Miokardium infark

Diagnosis dari gagal jantung dapat didasarkan atas kriteria Framingham

3)

Diagnosis Banding

- Miokardium infark akut:

nafas yang pendek dan sakit dada, namun sakit dada pada MI biasanya spesifik

seperti di hancurkan, sentral dan menyebar ke daerah rahang, tangan kiri atau

perut. Namun pasien dengan MI bisa juga superinfeksi dengan penyakit paru.

- Emphysema :

kehilangan fungsi jaringan paru dan digantikan dengan rongga berudara yang

juga menyebabkan nafas yang pendek-pendek, berkurangnya asupan udara dan

meningkatnya resonansi pada pemeriksaa. Emphysema merupakan penyakit

kronik, bedanya emphysema difus sedangkan Pneumotoraks local, anamnesis,

pemeriksaan fisik dan foto rontgen harus dilakukan dan dinilai teliti sehingga

dapat didapatkan hasil yang akurat.

Sudoyo

Aru.W,

dkk.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Ajar

Ilmu

Penyakit

Dalam

ed

V,

jl

III.Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2009

Hisyam Barmawi, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam ed V, jl III. Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2009

TBGerdunas. PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ed

II. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.Jakarta:2007

Alsagaf H, Mukty A. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Arlangga university press.

Surabaya: 2009

Tanto C, Liwang C. Kapita Selekta Kedokteran ed. IV, jl I. Media Aesculapius.

Jakarta: 2014