Anda di halaman 1dari 8

Faktor Risiko Terlambatnya Defekasi dan Hubungannya dengan Outcome Pasien Kritis:

Suatu Penelitian Retrospektif Observasional


Latar Belakang
Terlambatnya defekasi dilaporkan berhubungan denagn buruknya outcome klinis pada pasien
dengan penyakit kritis. Tetapi, banyak penelitian dibutuhkan untuk memeriksa etiologi dan
manifestasi klinis terlambatnya defekasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menginvestigasi
faktor risiko terlambatnya defekasi dan hubungannya dengan outcome klinis pasien di
Intensive Care Unit (ICU).
Metode
Pasien di suatu ICU dengan lama rawatan 7 hari antara bulan januari dan desember 2011,
diperiksa secara retrospektif. Berdasarkan lamanya waktu antara masuk dan defekasi
pertama, dibagi menjadi kelompok dengan onset defekasi lebih awal (<6 hari n=186) atau
terlambat (6 hari n=96). Perubahan pada variabel klinis pada waktu antara masuk dan hari
ke 7 dirawat di ICU diperiksa untuk menginvestigasi efek dari terlambatnya defekasi.
Outcome klinis dari mortalitas di ICU, lamanya rawat inap di ICU dan lamanya
menggunakan ventilasi mekanik.
Hasil
Terlambatnya pemberian nutrisi enteral (odds ratio (OR) 3,42; Confident Interval (CI) 1,886,22; P < 0.001), sedatif (OR
3.07; 95 % CI 1.715.52; P < 0.001), dan pembedahan (OR 1.86; 95 % CI 1.013.42; P =
0.047) adalah faktor risiko independen untuk terlambatnya defekasi. Median (interkuartil)
perubahan pada suhu tubuh (0.3 [0.4 hingga 1.0] vs 0.7 [0.1 hingga
1.5] C; P = 0.004), konsentrasi C-reactive protein serum (1.6 [0.5 hingga 6.6] vs 3.5 [0.7
hingga 8.5] mg/dL; P = 0.035), dan Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) score (1
[2 hingga 1] vs 0 [1 hingga 2]; P = 0.008) antara masuk dan hari ke 7 dirawat di ICU
secara signifikan lebih besar pada kelompok dengan onset defekasi yang terlambat
dibandingkan dengan onset defekasi lebih awal. Waktu rawat inap di ICU secara signifikan
lebih lama pada kelompok dengan onset defekasi yang terlambat (12 [9 hingga 19] vs 16 [10
hingga 23] hari; P = 0.021), dimana mortalitas ICU dan lamanya menggunakan ventilasi sama
pada kedua grup.
Kesimpulan
Terlambatnya pemberian nutrisi enteral, sedatif dan pembedahan adalah faktor risiko
independen untuk terlambatnya defekasi pada pasien kritis. Terlambatnya defekasi
berhubungan dengan memanjangnya waktu rawat inap di ICU.

Konstipasi merupakan salah satu dari banyaknya permasalahan gastrointestinal yang terjadi
pada pasien dengan penyakit kritis. Mostafa et al. melaporkan bahwa frekuensi konstipasi
adalah setinggi 83% di unit perawatan intensif (ICU). Waktu dari masuk ICU ke
defekasipertama biasanya adalah 4,8 hari. Ia juga melaporkan bahwa waktu untuk pertama
kali defekasipada pasien yang menggunakan ventilasi mekanis adalah hampir 6 hari.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa konstipasi dikaitkan dengan kesulitan
dalam menghentikan penggunaan ventilator, peningkatan tingkat infeksi dan kelemahan
fungsi organ, meningkatnya lama rawat inap ICU, dan peningkatan kematian di ICU. Studi
sebelumnya telah melaporkan bahwa konstipasi dikaitkan dengan berbagai faktor, termasuk
imobilitas, ketidakseimbangan neurogenik, hipotensi, hipoksemia dan dampak dari
pemberian opioid serta vasopressor. Dalam studi ini, peneliti mengeksplor permasalahan
konstipasi pada pasien dengan sakit kritis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki
faktor risiko defekasi dan hubungannya dengan outcome klinis pasien dengan sakit kritis.
Metode
desain penelitian
Penelitian ini merupakan analisis retrospektif single-center yang dilakukan di 20 bed ICU
sebuah rumah sakit universitas di Yamaguchi Prefecture, Jepang. Penelitian ini disetujui oleh
Institutional Review Board Rumah Sakit Universitas Yamaguchi, dan informasi tentang
penelitian ini dipublikasikan pada halaman Web rumah sakit sampai bulan Agustus 2013.
seleksi pasien dewasa (18 tahun) yang dirawat di ICU kami antara 1 Januari hingga 31
Desember 2011, disaring untuk dimasukkan dalam penelitian ini. Pasien yang dirawat di ICU
selama <7 hari diekslusikan. Kriteria eksklusi lainnya adalah sebagai berikut: pasien dengan
feses berdarah, memiliki kolostomi permanen, menggunakan ventilasi mekanik untuk> 2 hari
sebelum masuk, menjalani operasi pada area perut 7 hari setelah masuk atau yang
sebelumnya diberikan pengobatan agresif.
Pengumpulan data
Data pada penelitian ini diperoleh dari rekam medis pasien: usia, jenis kelamin, indeks massa
tubuh, Acute Physiology and Chronic Health Evaluation score (APACHE) II, diagnosis
utama, tanggal masuk dan defekasipertama, riwayat penggunaan obat yang mempengaruhi
usus (magnesium oksida, laktulosa, sennoside, bisacodyl supositoria, natrium bikarbonat
supositoria atau gliserin enema), tanggal pemberian nutrisi enteral awal, penggunaan ventilasi
mekanik, penggunaan obat-obatan dan jenis operasi besar yang dilakukan. "Penggunaan
obat" didefinisikan sebagai pemberian terus menerus obat, seperti obat penenang, opioid, dan
vasopressor untuk >24 jam. "Penggunaan ventilasi mekanis" didefinisikan sebagai
penggunaan ventilator untuk >24 jam setelah intubasi. Lamanya rawat inap di ICU, lamanya
penggunaan ventilasi mekanik, dan kematian di ICU dicatat sebagai outcome klinis. Data
suhu tubuh, hitung sel darah putih, serum C-reactive protein (CRP) dan skor Sequential
Organ Failure Assessment (SOFA) pada waktu masuk dan hari ke 7 di ICU juga diperoleh
dari catatan medis pasien. Secara umum, pengambilan sampel darah rutin dan pengujian
laboratorium dilakukan setiap hari pada pasien di ICU. Jika pengambilan sampel darah tidak
dilakukan pada hari ke 7 di ICU, data laboratorium diperoleh dari hari terdekat

Definisi
Berdasarkan penelitian sebelumnya oleh van der Spoel et al., defekasi awal didefinisikan
sebagai defekasi 5 hari setelah masuk ICU dan terlambatnya defekasi didefinisikan sebagai
defekasi 6 hari setelah masuk ICU. Terlambatnya pemberian nutrisi enteral didefinisikan
sebagai inisiasi nutrisi enteral 2 hari setelah masuk ICU menurut pedoman yang ditetapkan
oleh American Society for Parenteral and Enteral Nutrition (ASPEN).
Analisis statistik
variabel kategori disajikan sebagai angka dan persentase serta dianalisis menggunakan uji 2.
Semua variabel kontinyu disajikan sebagai median dan kisaran interkuartil (IQRs), dan uji
Mann-Whitney digunakan untuk membandingkan dua kelompok. univariat dan multivariat
menggunakan regresi logistik dengan prosedur seleksi bertahap yang dilakukan untuk
mengidentifikasi variabel yang terkait dengan akhir buang air besar. Karakteristik dasar
pasien, skor APACHE II, dan parameter lainnya dengan nilai P <0,10 pada analisis univariat
dimasukkan ke dalam analisis multivariat. Semua analisa statistik dilakukan dengan tes twotailed, dan P <0,05 dianggap signifikan. Semua analisis dilakukan dengan IBM SPSS
Statistics untuk Windows Versi 19.0 (SPSS Inc, Chicago, IL).
hasil
Dari 876 pasien yang dirawat di ICU, 309 memenuhi syarat untuk penelitian ini. Dua puluh
tujuh pasien kemudian dieksklusikan karena mengandung kriteria eksklusi. Oleh karena itu,
data untuk 282 pasien tersedia untuk analisis. Berdasarkan definisi dari studi ini, pasien
dibagi menjadi dua kelompok: kelompok buang air besar awal (N = 186, 66%) atau
kelompok buang air besar akhir (n = 96, 34%). Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam
karakteristik fisiologis dasar atau variabel laboratorium antara kedua kelompok, kecuali
untuk konsentrasi serum CRP pada saat masuk ICU (Tabel 1). Dasar diagnosa pada saat
masuk terdistribusi sama pada kedua kelompok. Pada total kohort pasien, waktu
median/interquartil (IQR) antara masuk dengan defekasi pertama adalah 4 (3-6) hari,
intervensi untuk memicu eliminasi usus dilakukan lebih awal pada kelompok defekasi awal.
Proporsi pasien yang menerima intervensi tersebut secara signifikan lebih sedikit pada
kelompok defekasi awal (n = 93, 50 %) dibandingkan dengan kelompok defekasi terlambat
(n = 83, 86 %; P < 0.001).. Pemberian nutrisi enteral diberikan secara signifikan lebih awal
pada kelompok defekasi awal dibandingkan kelompok defekasi terlambat. Proporsi pasien
yang menerima nutrisi enteral 2 hari setelah masuk (terlambatnya pemberian asupan nutrisi)
secara signifikan lebih sedikit pada grup defekasi awal ((n = 85, 46 %) dibandingkan grup
defekasi terlamat (n = 76, 79 %; P < 0.001).
ventilasi mekanis digunakan secara lebih signifikan pada pasien dalam kelompok defekasi
terlambat daripada kelompok defekasi di awal. Sedatif dan fentanil (satu-satunya opioid yang
digunakan dalam populasi pasien) diberikan secara lebih
signifikan pada pasien dalam kelompok defekasi akhir dibandingkan pada kelompok defekasi
awal. Jenis-jenis obat penenang digunakan untuk pasien didistribusikan sama pada kelompok

defekasi awal dan terlambat: Propofol, 44/73 (60%) vs 49 / 71 (69%); midazolam, 24/73
(33%) vs 19 /71 (27%); lain, 5/73 (7%) vs 3/71 (4%) (P = 0,52). Di antara pasien dengan
ventilasi mekanik, obat penenang yang terus menerus diberikan kepada 62 (83%) pasien
dalam kelompok defekasi awal dan ke 56 (95%) pasien dalam kelompok defekasi akhir.
Pembedahan dilakukan secara signifikan lebih banyak pada pasien dalam kelompok defekasi
akhir dibandingkan kelompok defekasi awal. Jenis operasi didistribusikan sama pada kedua
kelompok, dan semua operasi dilakukan dalam situasi darurat, termasuk 60 bedah saraf untuk
cedera otak traumatis, stroke, perdarahan subarachnoid, dan herniasi otak.
Analisis regresi logistik univariat menunjukkan bahwa pemberian nutrisi enteral yang
terlambat, ventilasi mekanik, penggunaan obat penenang, penggunaan fentanyl, dan operasi
berhubungan dengan defekasi yang terlambat (Tabel 2). Model multivariat berdasarkan
variabel yang dipilih dalam analisis univariat mengungkapkan terlambatnya pemberian
nutrisi enteral, penggunaan obat penenang, dan operasi adalah faktor risiko independen untuk
terlambatnya defekasi.
Perubahan pada pasien fisiologis dan parameter laboratorium antara waktu masuk dan hari
ke 7 dibandingkan antara kelompok defekasi awal dan terlambat (Tabel 3). Meskipun tidak
semua pasien menjalani pengambilan sampel darah pada hari ke 7, proporsi pasien dengan
sampel darah yang diperoleh pada hari ke 7 adalah serupa pada kelompok defekasi awal
(162/186, 87%) dan kelompok defekasi akhir (86/96, 90%; P = 0.70). Perubahan suhu tubuh,
konsetrasi CRP serum, dan skor SOFA secara signifikan lebih besar pada kelompok defekasi
terlambat daripada kelompok defekasi di awal, sedangkan jumlah sel darah putih tidak
berbeda secara signifikan antara kedua kelompok. Tingkat kematian ICU tidak berbeda secara
signifikan antara kelompok defekasi awal dan akhir (Tabel 4).
Lamanya dirawat di ICU secara signifikan lebih besar pada kelompok defekasi akhir
dibandingkan kelompok defekasi awal. Ketika korban dan non-korban dianalisis secara
terpisah, lamanya di rawat di ICU secara signifikan lebih besar pada kelompok defekasi
terlambat daripada kelompok defekasi awal. Lamanya penggunaan ventilasi mekanik tidak
berbeda secara signifikan antara dua kelompok, meskipun cenderung lebih lama pada
kelompok defekasi terlambat. (Tabel 4).
Dalam penelitian ini, defekasi terlambat dikaitkan dengan rawat inap di ICU yang
berkepanjangan. Konsisten dengan hasil penelitian kami, dua penelitian sebelumnya
menunjukkan bahwa lamanya dirawat di ICU secara signifikan lebih lama pada pasien
dengan defekasi yang terlambat dari pada mereka dengan defekasi awal [3, 4] Penelitian
tersebut juga menunjukkan bahwa pemulihan fungsi organ yang terganggu pada pasien
dengan defekasi. Pada penelitian saat ini, meskipun skor SOFA pada saat masuk ke ICU tidak
berbeda antara kedua kelompok, skor pada ICU hari 7 tetap tinggi pada kelompok defekasi
akhir, sedangkan skor pada kelompok dewasa awal mengalami penurunan. tingkat suhu
tubuh dan serum CRP juga meningkat lebih antara waktu masuk dan ICU hari 7 pada
kelompok defekasi akhir. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa terlambatnya buang
air besar berhubungan dengan kegagalan organ berkelanjutan dan inflamasi.

Infeksi adalah penyebab yang paling umum dari peradangan pada pasien kritis. Sejauh yang
kami tahu, ini adalah studi pertama untuk menilai potensi hubungan antara penanda inflamasi
dan sembelit pada pasien ICU. Gacouin et al. [3] melaporkan bahwa infeksi bakteri yang
diperoleh lebih umum pada pasien dengan konstipasi.
Selain itu, telah dilaporkan bahwa lebih dari 90% pasien di ICU dengan infeksi memiliki
setidaknya satu episode infeksi yang disebabkan oleh bakteri gastrointestinal [14]. Ini
Menunjukkan bahwa gangguan peristaltik mungkin menyebabkan translokasi progresif
bakteri dan endotoksin dari usus ke dalam sirkulasi sistemik, merangsang suatu respon
inflamasi sistemik [15]. Selanjutnya, perubahan mikrobiota, yang sering diamati pada pasien
kritis, berkaitan erat dengan peradangan. Studi terbaru telah membahas interaksi dua arah
antara mikrobiota usus dan sistem kekebalan tubuh Host melalui komunikasi fungsional
antara sel B, sel-sel T, dan immunoglobulin A [16, 17]. penulis lain menyarankan jalur antara
perubahan mikrobiota usus dan disfungsi gastrointestinal mencakup interaksi langsung
dengan epitel mukosa, melalui imunosit, dan melalui kontak ke ujung saraf, sehingga
menyebabkan peningkatan permeabilitas usus, dan perubahan motilitas, sekresi, aliran darah,
dan aktivitas sistem imun pada mukosa [18-21]. Akibatnya, penyakit kritis, peradangan,dan
defekasi berhubungan erat satu sama lain, menyebabkan hari rawatan yang berkepanjangan di
ICU.
Dalam penelitian ini, faktor-faktor risiko independen untuk defekasi terlambat adalah
lambatnya pemberian nutrisi enteral, obat penenang, dan operasi; faktor-faktor tersebut
semua terkait dengan praktek medis. Kami menemukan bahwa terlambatnya pemberian
nutrisi enteral merupakan faktor risiko untuk terlambtanya defekasi, konsisten dengan
laporan sebelumnya [22]. Bahkan, dalam penelitian ini, waktu rata-rata dari masuk hingga
inisiasi nutrisi enteral adalah 3 hari pada kelompok defekasi terlambat dibandingkan dengan 2
hari pada kelompok defekasi lebih awal. Terlambatnya pemberian nutrisi enteral itu sendiri
bisa menyebabkan terlambatnya defekasi dengan mengganggu stimulasi mekanik aktivitas
peristaltik. Jenis, dosis, dan frekuensi pemberian nutrisi enteral juga mempengaruhi defekasi.
Banyak pasien dalam penelitian ini diberikan nutrisi enteral yang tersedia secara komersial
baik diberikan secara intermiten atau terus menerus melalui NGT. Konsentrasi nutrisi pada
saat inisiasi pemberian dipertahankan tetap rendah, dan jumlah total energi dan frekuensi
pemberian nutrisi enteral disesuaikan setiap hari setelah mengevaluasi kondisi pasien serta
kebutuhan akan energi dan air. Biasanya, nutrisi enteral dimulai pada dosis 5-10 kkal / berat
badan ideal (dalam kg) / hari dan meningkat menjadi 20-25 kkal / berat badan ideal (kg) / hari
pada hari ke 7 di ICU. Namun, karena rejimen makanan yang bervariasi digunakan untuk
pasien dalam penelitian ini, kita tidak bisa menilai asosiasi antara kualitas nutrisi enteral dan
defekasi.
Berdasarkan laporan yang menunjukkan asosiasi antara pemberian nutrisi enteral lebih awal /
terlambat dengan mortalitas, morbiditas infeksi, dan lamanya tinggal di ICU, ASPEN
merekomendasikan untuk memulai pemberian nutrisi enteral pada pasien kritis dalam 24-48
jam setelah masuk ICU [14, 23, 24]. Namun, pada pasien kritis, inisiasi dini pemberian
nutrisi enteral sering terhambat karena gangguan peristaltik dengan berbagai penyebab,
seperti hipoksia dan hipotensi, yang sebelumnya diidentifikasi sebagai faktor risiko untuk

terlambatnya defekasi [3]. Meskipun pemberian nutrisi enteral dini tidak selalu mudah,
terutama di pasien kritis, waktu awal pemberian nutrisi enteral menjadi sangat penting.
Pemberian obat penenang adalah faktor independen untuk terlambatnya defekasi dalam
penelitian ini. Di ICU kami, kualitas sedasi dievaluasi menggunakan Richmond Agitation
Sedation Scale (RASS). Dokter mengatur target skor Rass untuk setiap pasien pada saat
masuk ke ICU, dan perawat menilai skor Rass seluruh pasien yang di rawat di ICU setiap 2-4
jam dan dosis obat penenang disesuaikan dengan rekomendasi dokter. Setengah dari pasien
yang terdaftar dalam penelitian ini terus menerus di berikan obat sedasi. Propofol dan
midazolam, terutama diberikan kepada pasien, mempengaruhi fungsi pencernaan dan
menghambat motilitas usus. Selain itu, pemberian obat penenang yang terus menerus dapat
menekan aktivitas tubuh pasien ' selama beberapa hari dan berhubungan dengan tingginya
insidensi konstipasi [7]. Oleh karena itu, hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian
obat penenang terus menerus merupakan faktor risiko untuk terlambatnya defekasi.
Operasi juga diidentifikasi sebagai fator risiko independen untuk terlambatnya defekasi
dalam penelitian ini. Hal ini juga diketahui bahwa operasi pada abdomen menghambat gerak
peristaltik usus, namun sebagian besar prosedur bedah dilakukan dalam penelitian ini adalah
operasi otak. Meskipun beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa penyakit saraf, seperti
stroke, mempengaruhi terjadinya konstipasi. Sepengetahuan penelitia, tidak ada laporan yang
menggambarkan hubungan antara operasi otak dan defekasi. Meskipun operasi otak tidak
diidentifikasi sebagai variabel independen ketika dianalisis kembali dalam analisis
multivariat (P = 0,066; data tidak ditampilkan), dapat dibayangkan bahwa operasi otak dapat
mengganggu fungsi pencernaan. Hubungan antara sistem saraf pusat dan sistem saraf enteral,
axis otak-usus-mikrobiota telah menjadi fokus banyak penelitian karena peran funsional yang
potensial. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa faktor neurotropik yang diturunkan
dari otak (BDNF), anggota dari keluarga faktor neurotropik, memainkan peran penting dalam
axis ini. Menariknya, BDNF menunjukkan hubungan yang dekat dengan mikrobiota. Suatu
penelitian eksperimental menunjukkan bahwa ekspresi hippocampal BDNF berkurang oleh
modulasi keseimbangan mikrobiota. Selanjutnya, ekspresi BDNF pada sel epitel mukosa dan
lamina propria dilaporkan lebih rendah pada pasien dengan konstipasi. Menurut temuan ini,
kami dapat berspekulasi bahwa perubahan pada mikrobiota usus dan mengurangi ekspresi
BDNF setelah operasi otak berkontribusi terhadap terlambatnya defekasi.
Dilaporkan bahwa penggunaan opioid, seperti penggunaan obat penenang, terkait dengan
terlambatnya defekasi pada pasien yang dirawat di ICU. Namun, fentanyl, satu-satunya
opioid yang diberikan kepada pasien dalam penelitian ini, termasuk golongan narkotik
shortacting. Oleh karena itu, obat ini memiliki pengaruh yang lemah pada motilitas usus.
Penelitian 3, 4, 34 juga melaporkan fentanyl dapat meningkatkan aliran darah mesenterika
dan memiliki pengaruh yang kecil pada Fungsi gastrointestinal [35, 36]. Temuan ini
mendukung data kami menunjukkan bahwa fentanyl bukan merupakan faktor risiko untuk
Terlambatnya defekasi.
Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa terlambatnya defekasi dikaitkan dengan
kegagalan penghentian penggunaan ventilator [1, 5] dan pemakaian ventilasi mekanis

berkepanjangan [3, 4]. Namun, analisis multivariat kami tidak menunjukkan hubungan yang
signifikan antara defekasi terlambat dengan penggunaan ventilasi mekanik. Kami
menganggap bahwa hubungan yang tidak signifikan antara faktor-faktor ini disebabkan oleh
pemberian obat-obatan sedatif. Umumnya, ventilasi mekanis digunakan daengan kombinasi
obat penenang. Bahkan, banyak pasien yang menggunakan ventilasi mekanis dalam
penelitian ini menerima obat sedatif menunjukkan bahwa hanya obat penenang atau
keduanya, obat sedatif dan ventilasi mekanis adalah faktor risiko untuk terlambatnya
defekasi. Secara statistik, karena asosiasi antara obat penenang dan ventilasi mekanik adalah
signifikan, ada kemungkinan bahwa efek tidak menguntungkan dari penggunaan ventilasi
mekanis pada defekasi adalah relatif tidak signifikan.
Dalam studi ini, intervensi untuk memicu eliminasi usus telah dimulai sebelumnya pada
kelompok defekasi dini dibandingkan pada kelompok defekasi yang terlambat. Proporsi
pasien yang menjalani intervensi tersebut secara signifikan lebih besar pada kelompok
defekasi terlambat daripada kelompok defekasi dini. Pada penelitian ini, kemungkinan obat
laksatif diresepkan oleh dokter untuk pasien yang defekasi pertamanya tertunda.
Sayangnya, dalam analisis statistik, hal ini sangat sulit untuk menyesuaikan secara tepat
pengaruh dari intervensi tersebut pada defejasi karena waktu dan Pilihan intervensi
ditentukan oleh dokter. Bahkan, ketika "intervensi" disertakan dalam analisis multivariat,
secara statistik signifikan (P <0,001), yang menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan
bukanlah penyebab dari terlambatnya defekasi tetapi disebabkan oleh defekasi yang tertunda.
Oleh karena itu, kami tidak memasukkan faktor intervensi dalam multivariat model untuk
memprediksi penyebab akhir dari terlambatnya defekasi.
Meskipun kami tidak menunjukkan implikasi klinis dari dilakukannya intervensi dalam
penelitian ini, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pelaksanaan protokol intervensi
untuk konstipasi mengurangi kejadian konstipasi [37]. van der Spoel et al. menunjukkan
dalam uji coba secara acak bahwa kedua laktulosa dan polietilen glikol lebih efektif dalam
mempromosikan eliminasi usus daripada plasebo dan bahwa lamanya rawat inap di ICU pada
pasien yang diberikan laktulosa secara signifikan lebih pendek daripada kelompok kontrol[6].
Data ini menunjukkan perlu dilakukan pencaharian mengenai efikasi dari intervensi untuk
evaluasi konstipasi dalam penelitian yang akan datang.
Kami telah membahas faktor-faktor risiko untuk terlambatnya buang air besar dan
hubungannya dengan hasil klinis, dan sangat sulit untuk membedakan apakah terlambatnya
defekasi adalah penyebab dari outcome yang buruk, akibat dari praktek medis, atau
mencerminkan keparahan kondisi pasien karena
faktor multidireksional yang terlibat pada pasien dengan sakit kritis. Namun, penting
bagi seorang dokter untuk tahu bahwa pasien sakit kritis berisiko tinggi untuk terjadinya
konstipasi, yang dapat mempengaruhi outcome klinis.
Ada beberapa keterbatasan dalam penelitian ini. Pertama, karena ini adalah sebuah penelitian
retrospektif satu pusat, termasuk jumlah pasien dengan latar belakang yang heterogen. Kedua,

definisi terlambatnya defekasi masih kontroversial. Dalam penlitian ini, kami menggunakan
nilai cut-off 6 hari untuk membedakan antara defekasi awal / akhir, seperti dalam beberapa
studi terbaru skala besar [3, 4, 6, 38], tapi penelitian lain telah menggunakan nilai cut-off dari
3 hari [1, 5, 22] atau 4 hari [2, 39]. Ketiga, mengenai analisis variabel yang berhubungan
dengan peradangan-, kami tidak melarang pasien untuk menggunakan obat atau prosedur
yang mungkin mempengaruhi marker inflamasi, terutama kortikosteroid, nonsteroidal obat
anti-inflamasi, dan sirkulasi extracorporeal. Keempat, kami tidak melakukan analisis
tambahan pada faktor-faktor risiko yang diidentifikasi sebelumnya untuk defekasi, seperti
hipotensi dan hipoksemia. Meskipun hasil kami harus ditafsirkan dengan hati-hati, kami
percaya bahwa ini Penelitian telah memberikan informasi penting untuk membantu peneliti
yang akan meneliti dengan desain studi prospektif di masa yang akan datang
KESIMPULAN
Penelitian ini mengungkapkan bahwa pemberian nutrisi enteral yang terlambat, penggunaan
obat penenang, dan operasi adalah faktor risiko independen untuk Terlambatnya defekasi
pada pasien sakit kritis dan terlambatnya buang air besar dikaitkan dengan lama rawat inap di
ICU yang berkepanjangan.