Anda di halaman 1dari 30

1

KAJIAN ASPEK PERTUMBUHAN, REPRODUKSI, DAN


KEBIASAAN MAKAN IKAN KEMBUNG LELAKI (Rastraliger
kanagurta, Cuvier 1817) DI PERAIRAN SELAT SUNDA

ASTRID WIDYA TAMARA


Kelompok 2

BAGIAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERIKANAN


DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
ABSTRAK
2016

ASTRID WIDYA TAMARA. C24140026. Kajian Aspek Pertumbuhan, Reproduksi, Dan Kebiasaan
Makan Ikan Kembung Lelaki (Rastraliger kanagurta), Cuvier 1817) di Perairan Selat Sunda. Dibimbing
oleh NANA FIRMANSYAH.
Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) merupakan salah satu jenis ikan pelagis kecil yang
memiliki nilai ekonomis dan ekologis. Jenis ini banyak ditemukan di Perairan Selat Sunda dan sekitarnya
dan sering tertangkap dengan alat tangkap bagan maupun purse seine. Sampai sekarang penelitian aspekaspek biologi terutama tentang pertumbuhan, reproduksi, dan kebiasaan makan ikan belum banyak
dilakukan. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui tingkat eksploitasi sumberdaya tersebut. Analisa
berdasarkan data frekuensi panjang, data panjang bobot dan faktor kondisi merupakan hasil pengukuran
langsung secara acak dari hasil tangkapan nelayan pada bulan Februari 2016. Data analisa distribusi
frekuensi panjang dengan membandingkan frekuensi panjang ikan dengan selang kelasnya, data panjang
bobot menggunakan uji regresi, dan faktor kondisi menggunakan persamaan Ponderal Index. Hasil
analisa menunjukkan sumberdaya ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) di Perairan Selat Sunda
dan sekitarnya pertumbuhannya adalah allometric negative, yang ditunjukkan oleh nilai b<3 dan uji t
menunjukkan bahwa t hitung < t tabel. Hasil uji chi-square pada selang kepercayaan 95% ( = 0,05)
terhadap nisbah kelamin menunjukkan hasil nyata bahwa nisbah kelamin ikan jantan dan betina adalah
tidak seimbang dengan perbandingan sebesar 3:7. Ukuran pertama kali matang gonad ikan kembung
lelaki yang betina dan jantan dengan menggunakan metode Spearman-Karber terdapat pada selang kelas
panjang 175 187 mm dan bobot tubuh ikan 40-95 gram. Hubungan antara fekunditas dengan bobot
tubuh lebih erat dibandingkan dengan panjang total tubuh adalah erat. Potensi reproduksi berkisar antara
13469-41584 butir telur pada kisaran panjang tubuh 136-185 mm dengan bobot tubuh 40-95 gram. Pola
pemijahan ikan kembung lelaki bersifat total spawner.
Kata kunci: Ikan kembung lelaki, pertumbuhan, reproduksi dan eksploitasi.

ABSTRACT
ASTRID WIDYA TAMARA. C24140026. Aspect of Growth, Reproduction, and Eating Habits Indian
Mackerel (Rastraliger kanagurta), Cuvier 1817) In Sunda Strait. Supervised by NANA FIRMANSYAH.
Indian Mackerel (Rastrelliger kanagurta) is one of the important ecologic and economic fish.
After found around surrounding in Selat Sunda water, wich at the moment is being commercially
exploited by purse seine. The research carried out on February 2016 to investigatebiological aspect
especially about length frequency, length weight relationship, and factor condiction. Method used in this
research were comparison of length frequency and interval class, regretion test and ponderal index. The
result showed that the fish resource of Rastrelliger kanagurta which the growth was negative allometrcs
(b<3) and (t test<t table). The result of "chi-square" on interval 95% ( = 0.05) which at sex ratio was
not balanced, 3:7. First ripe gonad size Indian Mackerel females and males using the Spearman-Karber
method contained in the class interval length of 175-187 mm and weight of 40-95 grams. The relationship
between fecundity with body weight more closely than The relationship between fecundity with total
length Reproductive potential ranges between 13469-41584 eggs in the range of 136-185 mm and weight
of 40-95 grams. Indian Mackerel spawning patterns was total spawning).
Keywords: Indian Mackerel, growth, reproduction, and exploitation.

Judul Laporan
Nama
NIM

: Kajian Aspek Pertumbuhan, Reproduksi, Dan Kebiasaan Makan


Ikan Kembung Lelaki (Rastraliger kanagurta, Cuvier 1817) di
Perairan Selat Sunda
: Astrid Widya Tamara
: C24140026

Disetujui,

Nana Firmansyah
Asisten Pembimbing

Tanggal Pengesahan :

DAFTAR ISI
PERNYATAN HAK CIPTA
LEMBAR PENGESAHAN
ABSTRAK

i
ii
iii

DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
METODE
Waktu dan Tempat
Alat dan Bahan
Prosedur Kerja
Analisis Data
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Pembahasan
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA

iv
1
1
2
2
2
3
6
6
6
7
8
11
11
18
23
23
23
23

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Perairan Selat Sunda merupakan perairan yang menghubungkan Laut Jawa


dengan Samudera Hindia. Karakteristik perairan Selat Sunda yang sempit dan relatif
dangkal di wilayah dekat Laut Jawa (Oktavia et al 2011). Selat Sunda merupakan salah
satu perairan yang memiliki potensi ikan pelagis cukup tinggi yaitu lebih dari 17987
ton/tahun (Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten 2014) yang salah satunya
adalah ikan kembung lelaki. Salah satu daerah yang berbatasan langsung dengan Selat
Sunda adalah Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten dengan satu PPI, yaitu PPI
Labuan dan tujuh TPI, yaitu TPI Panimbang, TPI Carita, TPI Citeureup, TPI Sidamuki,
TPI Sumur, TPI Tamanjaya dan TPI Pulu Merak (Dinas Kelautan dan Perikanan
Provinsi Banten 2014).
Ikan kembung lelaki merupakan salah satu jenis ikan pelagis kecil yang
memiliki nilai ekologis dan ekonomis penting. Ikan ini juga merupakan salah satu
sumber protein bagi manusia (Fandri 2012). Ikan pelagis kecil ini hidupnya berada pada
lapisan permukaan, dimana terdiri dari banyak spesies dan ukuran yang badannya
relative tetap kecil walaupun sudah dewasa (Yusron 2005). Karakteristik lain ikan
pelagis kecil adalah hidup bergerombol sebagai upaya memudahkan mencari makan,
mencari pasangan dalam memijah dan taktik untuk menghindar atau mempertahankan
diri dari serangan predator (Fandri 2012). Ikan kembung lelaki dapat ditangkap dengan
bagan (Yuda et al 2012) dan purse seine (Yusron 2005) di kawasan Perairan Indonesia
sebelah barat yaitu Selat Malaka, Laut Jawa, dan Selat Bali.
Sebagai ikan ekonomis penting, maka perlu ada upaya untuk memelihara
kelestarian sumberdaya ikan kembung agar dapat memberikan hasil yang optimum dan
berkesinambungan melalui suatu pengelolaan yang didukung oleh informasi biologi dari
sumberdaya bersangkutan diantaranya adalah aspek pertumbuhan, biologi reproduksi,
dan kebiasaan makan (Brojo dan Sari 2002). Pertumbuhan merupakan proses biologis
yang rumit, pada tingkat individu secara sederhana adalah pertambahan ukuran panjang
atau bobot tubuh ikan selama waktu tertentu (Irdayanto dan Wardiatno 2014).
Kebiasaan makanan umumnya makanan yang masuk dari luar untuk semua ikan
adalah plankton yang bersel tunggal yang berukuran kecil dalam mengawali hidupnya
dan apabila telah dewasa ikan akan mengikuti kebiasaan induknya. Kebiasaan makanan
ikan kembung adalah plankton besar/kasar, Copepode atau Crustacea (Suwarso 2010).
Pentingnya mempelajari kebiasaan makan ikan adalah untuk mengetahui hubungan
ekologi diantara organisme-organisme yang ada di perairan dan menentukan gizi
alamiah ikan sehingga akan sangat berpengaruh terhadap populasi, pertumbuhan dan
kondisi ikan. Biologi reproduksi merupakan mata rantai penting dalam siklus hidup ikan
yang berperan dalam kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, sangat penting
mempelajari biologi reproduksi ikan untuk memperoleh parameter dan pemijahan ikan
kembung di Selat Sunda (Suwarso 2010).
Perumusan Masalah
Identifikasi masalah dari praktikum ini yaitu Bagaimana pengelolaan ikan
kembung lelaki yang mengalami penurunan jumlah tangkapan di Selat Sunda serta
kaitannya dengan aspek-aspek biologi perikanan (pertumbuhan, reproduksi, kebiasaan
makan). Gambaran perumusan masalah disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Skema Perumusan Masalah


Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui informasi biologi dari ikan kembung
lelaki yang difokuskan pada aspek pertumbuhan, biologi reproduksi, dan kebiasaan
makan.
Manfaat Praktikum
Manfaat dari praktikum ini adalah praktikan dapat memberikan rekomendasi
dalam pemanfaatan sumberdaya ikan sehingga aplikasi dari informasi biologi dari aspek
pertumbuhan, biologi reproduksi, dan kebiasaan makan ikan dapat digunakan sebagai
alat pengelolaan suberdaya ikan kembung lelaki secara langsung berhubungan dengan
sumberdaya masyarakat.
TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi Biologi dan Ikan Kembung Lelaki (Rastreliger kanagurta Cuvier 1817)

Gambar 2. Ikan Kembung Lelaki (Rastraliger kanagurta)


Kedudukan taksonomi ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) menurut
Saanin (1968) adalah sebagai berikut:
Kingdom
: Animalia
Filum
: Chordata
Kelas
: Pisces
Ordo
: Percomorpy
Famili
: Scombridae
Genus
: Rastrelliger
Spesies
: Rastrelliger kanagurta (Cuvier 1817)
Nama FAO : Indian Mackerel
Nama Lokal : Kembung Lelaki, Banyar, Como-como
Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) tergolong ikan pelagis yang
menghendaki perairan yang bersalinitas tinggi (Jayasankar et al 2004). Ikan ini suka
hidup secara bergerombol, kebiasaan makanan adalah memakan plankton besar/kasar,
Copepode atau Crustacea. Ikan kembung lelaki memiliki sisik-sisik yang menutupi
tubuh serta berukuran kecil dan seragam. Sirip punggung dalam dua berkas, diikuti oleh
5 sirip kecil tambahan. Jumlah sirip kecil tambahan yang sama juga terdapat di belakang
sirip anal, duri pertama sirip anal tipis dan kecil. Sepasang lunas ekor berukuran kecil
terdapat di masing-masing sisi batang ekor dan di depan dan belakang mata terdapat
pelupuk mata berlemak (adipose). Ikan kembung lelaki tersebar luas di perairan IndoBarat Pasifik dan termasuk jenis ikan yang bermigrasi (Jayasankar et al 2004).

Daerah Distribusi dan Persebaran Ikan

Gambar Daerah distribusi ikan kembung lelaki, Rastreligger kanagurta (Cuvier, 1817)
di Indonesia (http://www.aquamaps.org/receive.php?type_of_map=regular)
Menurut Hardenberg (1938) in Rifqie (2007) ikan kembung di Laut Jawa
dipengaruhi angin musim. Pada saat musim Angin Timur yaitu pada bulan Desember Februari, sekelompok ikan kembung bergerak dari arah Laut Jawa menuju arah Barat.
Kelompok ikan kembung ini perlahan-lahan menghilang dari Laut Jawa kemudian
selang beberapa minggu ikan kembung yang baru memasuki Laut Jawa dari arah Timur.
Sebaliknya, terjadi pada saat Musim Barat yaitu pada bulan Juni - September, dinamika
stok ikan kembung yang masuk ke Laut Jawa berasal dari Laut Cina Selatan dan
Samudera Hindia melalui Selat Sunda (Jayasankar 2014).
Musim penangkapan ikan kembung lelaki di Selat Sunda pada bulan Maret
hingga November. Penangkapan ikan terbanyak terjadi pada bulan Mei hingga Juni dan
selanjutnya jumlah tangkapan mulai menurun. Musim paceklik ikan kembung lelaki
terjadi pada bulan Januari hingga Februari. Jumlah tangkapan ikan kembung lebih
banyak tertangkap saat bulan gelap dibandingkan bulan terang (Jayasankar 2014).
Pertumbuhan
Pertumbuhan merupakan kenaikan dalam ukuran, maka terjadi pula perubahan
bobot tubuh sehingga pertumbuhan sering dikaitkan dengan berat hidup. Pertumbuhan
secara mudah yakni perubahan dalam ukuran di mana dapat diukur sebagai panjang,
volume, atau berat (Agustina 2013).
Hubungan Panjang Bobot
Menurut Effendie (2002) bahwa hubungan panjang dan berat ikan tidak mengikuti
hukum kubik (berat ikan sebagai pangkat tiga dari panjangnya), karena bentuk dan
panjang ikan berbeda-beda. Perbedaan tersebut karena adanya faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan, yaitu temperatur dan kualitas air, ukuran, umur dan jenis
ikan itu sendiri, dan jumlah ikan-ikan lain yang memanfaatkan sumber yang sama.
Selain faktor-faktor yang di atas, pertumbuhan juga dipengaruhi kematangan gonad ikan
itu sendiri.
Effendie (2002) menyatakan bahwa salah satu nilai yang dapat dilihat dari adanya
hubungan panjang dan berat ikan adalah bentuk atau tipe pertumbuhannya. Apabila b=3
maka dinamakan isometrik yang menunjukkan ikan tidak berubah bentuknya dan
pertambahan panjang ikan seimbang dengan pertambahan beratnya. Apabila b< 3 maka
dinamakan allometrik negatif yang menunjukkan pertambahan panjangnya lebih cepat
dibanding pertambahan beratnya, sedangkan apabila b >3 maka dinamakan allometrik
positif yang menunjukkan pertambahan beratnya lebih cepat dibanding pertambahan
panjangnya.

Faktor Kondisi
Faktor kondisi adalah keadaan atau kemontokan ikan yang dinyatakan dengan
angka-angka berdasarkan data panjang dan berat. Faktor kondisi menunjukkan keadaan
baik dari ikan dilihat dari segi kapasitas fisik untuk survival dan reproduksi. Nilai faktor
kondisi dipengaruhi oleh tingkat kematangan gonad dan jenis kelamin. Nilai faktor
kondisi ikan betina lebih besar dibandingkan ikan jantan, hal ini menunjukkan bahwa
ikan betina memiliki kondisi lebih baik dengan mengisi cell sex untuk proses
reproduksinya dibanding ikan jantan (Effendie 2002).
Reproduksi
Reproduksi merupakan kemampuan individu untuk menghasilkan keturunan
sebagai upaya untuk melestarikan jenisnya atau kelompoknya Fujaya (2004) in
Ambarwati (2008). Reproduksi merupakan mata rantai dalam siklus hidup yang
berhubungan dengan mata rantai lain untuk menjamin keberlanjutan spesies. Ikan
memiliki variasi strategi reproduksi agar keturunannya mampu bertahan hidup. Fujaya
(2004) in Ambarwati (2008) mengatakan bahwa berdasarkan strategi produksi yang
dimiliki oleh ikan maka dikenal tipe reproduksi seksual yaitu fertilisasi internal dan
fertilisasi eksternal.
Proses reproduksi pada ikan dapat dibagi dalam tiga periode, yaitu pre-spawning,
spawning, dan periode post-spawning. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses
reproduksi tersebut adalah makanan yang cukup dan kondisi perairan yang baik. Aspekaspek reproduksi berupa faktor kondisi, nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad,
indeks kematangan gonad, fekunditas, dan diameter telur penting diketahui untuk
kepentingan pengelolaan perikanan dan kelestarian spesies (Triana 2011).
Proporsi Kelamin
Proporsi atau rasio kelamin merupakan perbandingan jumlah ikan jantan dengan
jumlah ikan betina dalam suatu populasi dimana perbandingan 1:1 yaitu 50% jantan dan
50% betina merupakan kondisi ideal untuk mempertahankan spesies Ball dan Rao
(1984) in Ambarwati (2008). Namun pada kenyataanya di alam perbandingan rasio
kelamin tidaklah mutlak, hal ini dipengaruhi oleh pola distribusi yang disebabkan oleh
ketersediaan makanan, kepadatan populasi, dan keseimbangan rantai makanan Effendie
(1997) in Ambarwati (2008). Menurut Ball dan Rao (1984) in Ambarwati (2008),
penyimpangan dari kondisi ideal tersebut disebabkan oleh faktor tingkah laku ikan itu
sendiri, perbedaan laju mortalitas dan pertumbuhannya. Keseimbangan rasio kelamin
dapat berubah menjelang pemijahan. Pada waktu melakukan ruaya pemijahan, populasi
ikan didominasi oleh ikan jantan, kemudian menjelang pemijahan populasi ikan jantan
dan betina dalam kondisi yang seimbang, lalu didominasi oleh ikan betina.
Tingkat Kematangan Gonad
Tahapan tingkat kematangan gonad (TKG) adalah proses yang penting dalam
pemijahan karena dapat diketahui kapan ikan memijah, baru memijah atau sudah
memijah. Pencatatan tahap-tahap kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui
perbandingan ikan-ikan yang akan melakukan reproduksi dengan yang tidak (Sulistiono
et al. 2007). Nilai untuk menentukan panjang pertama kali matang gonad menggunakan
panjang ikan sampel yang mempunyai TKG IV. Hal itu dikarenakan Rastrelliger
kanagurta yang mempunyai TKG IV adalah ikan yang dalam kondisi siap memijah
(terdapat ova yang sudah matang atau translucent). King (1995) in Oktaviani (2014),
menyatakan bahwa ikan yang matang gonad merupakan ikan yang memeliki gonad

pada tingkat kematangan lanjut yang sesuai dengan perbedaan antara TKG III dan TKG
IV.
Tingkat kematangan gonad dapat dipergunakan sebagai penduga status reproduksi
ikan, ukuran dan umur pada saat pertama kali matang gonad, proporsi jumlah stok yang
secara produktif matang dengan pemahaman tentang siklus reproduksi bagi suatu
populasi atau spesies (Sulistiono et al. 2001). Ukuran setiap ikan pertama kali matang
gonad berbeda, bahkan spesies yang sama namun berbeda pada ukuran yang berbeda
pula. Ukuran pertama kali matang gonad memiliki hubungan dengan pertumbuhan dan
pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan serta strategi reproduksinya Sulistiono et
al. (2009) in Yusra (2013). Beberapa faktor yang mempengaruhi saat ikan pertama kali
matang gonad antara lain adalah perbedaan spesies, umur dan ukuran, serta sifat-sifat
fisiologi individu yang berbeda jenis kelamin dan juga tempat berpijah yang sesuai
Lagler et al. (1997) in Yusra (2013). Tidak seimbangnya komposisi ikan betina dan ikan
jantan yang matang gonad yang teramati dapat terjadi sebagai akibat perbedaan tingkah
laku pergerakan ikan ataupun merupakan salah satu strategi reproduksi yaitu bahwa satu
individu ikan jantan akan membuahi beberapa individu betina (Yusra 2013).
Indeks Kematangan Gonad
Perkembangan gonad dapat diketahui dengan menghitung indeks kematangan
gonad (IKG), yaitu perbandingan antara bobot gonad dan bobot tubuh ikan uji (Solang
dan Lamondo 2009). Indeks kematangan gonad akan semakin meningkat nilainya dan
mencapai batas maksimum pada saat akan terjadi pemijahan, kemudian menurun
dengan cepat sampai selesai pemijahan. Umumnya, pertambahan bobot gonad pada ikan
betina lebih besar dari ikan jantan yaitu sebesar 10 25% dari bobot tubuhnya,
sedangkan pada ikan jantan sebesar 10-15%. Perubahan nilai indeks kematangan gonad
berhubungan erat dengan tahap perkembangan telur. Ukuran ikan ketika memijah dapat
diketahui dengan memantau perubahan indeks kematangan gonad dari waktu ke waktu
Effendie (1979) in Triana (2011).
Fekunditas
Fekunditas adalah jumlah telur yang matang sebelum dikeluarkan pada waktu
ikan memijah. Fekunditas adalah ukuran yang paling umum digunakan untuk mengukur
peluang produksi pada ikan karena relatif mudah dihitung. Fekunditas lebih sering
dihubungkan dengan panjang daripada dengan bobot, karena panjang penyusutannya
relatif kecil tidak seperti bobot yang dapat berkurang dengan mudah Effendie (1979) in
Triana (2011).
Hubungan fekunditas dengan variabel panjang total dan bobot tubuh ikan
menunjukkan korelasi yang rendah. Rendahnya korelasi ini diduga disebabkan karena
ikan memiliki ukuran panjang yang hampir sama bahkan sebagian besar memiliki
ukuran yang sama dengan fekunditas yang bervariasi atau memiliki batas kisar
fekunditas yang ekstrim. Menurut Effendie (2002), variasi jumlah telur ikan dapat
disebabkan karena adanya variasi kelompok ukuran ikan. Hubungan linier antara
fekunditas dengan bobot tubuh serta bobot gonad mengindikasikan bahwa jumlah telur
di dalam ovarium mengikut secara proporsional terhadap kedua variabel tersebut.
Jumlah telur yang dihasilkan oleh ikan akan meningkat sejalan dengan semakin
besarnya gonad dan pada umumnya fekunditas meningkat dengan meningkatnya ukuran
ikan betina. Semakin banyak makanan maka pertumbuhan ikan semakin cepat dan
fekunditasnya semakin besar (Hariyanti 2013). Selanjutnya, Andy Omar (2004) in

Hariyanti (2013) menyatakan bahwa fekunditas pada setiap individu betina tergantung
pada umur, ukuran, spesies, dan kondisi lingkungan, seperti ketersediaan pakan (suplai
makanan) serta dapat juga dipengaruhi oleh diameter telur (Hariyanti 2013).
Diameter Telur
Diameter telur adalah garis tengah atau ukuran panjang sebuah telur yang diukur
dengan mikrometer berskala yang sudah ditera, mikrometer tersebut biasanya ada
diletakkan di lensa mikroskop. Ukuran diameter telur akan semakin besar pada tingkat
kematangan gonad lebih tinggi terutama saat mendekati waktu pemijahan. Telur yang
berukuran besar akan menghasilkan larva yang berukuran lebih besar dari pada telur
yang berukuran kecil, hal ini berkaitan dengan nutrisi. Untuk menilai perkembangan
gonad ikan betina selain dilihat dari hubungan antara indeks kematangan gonad dengan
tingkat kematangan gonad, dapat pula dihubungkan dengan perkembangan diameter
telur yang dikandungnya. Perkembangan diameter telur semakin meningkat dengan
meningkatnya tingkat kematangan gonad, karena semakin mendekati waktu pemijahan
Effendie (1979) in Triana (2011).
Kebiasaan Makanan
Kebiasaan makanan adalah jenis, kuantitas, dan kualitas makanan yang dimakan
oleh ikan Effendie (1997) in Robiyanto (2006) di dalam perairan terutama dalam bentuk
pemangsaan (Effendie 2002). Kebiasaan makanan ikan dapat dibedakan atas empat
kategori berdasarkan hubungan antara ikan dengan makanannya yaitu makanan utama
adalah makanan yang paling banyak ditemukan dalam saluran pencernaan, makanan
pelengkap adalah makanan yang sering ditemukan dalam saluran pencernaan dengan
jumlah yang sedikit, dan makanan tambahan adalah makanan yang jarang ditemukan
dalam saluran pencernaan dan jumlahnya sangat sedikit, selain itu terdapat makanan
pengganti adalah makanan yang hanya dikonsumsi jika makanan utama tidak tersedia
Nikolsky (1963) in Robiyanto (2006).
Makanan merupakan faktor yang sangat penting dalam pertumbuhan ikan. Mutu
makanan dan jumlah yang cukup serta kondisi perairan yang sesuai dapat merangsang
pertumbuhan yang optimal. Makanan yang dimanfaatkan oleh ikan pertama kali
digunakan untuk memelihara tubuh dan menggantikan alat alat tubuh yang rusak,
sedangkan kelebihannyta untuk pertumbuhan dari tubuh ikan tersebut Asamawi (1983)
in Oktaviani (2006). Menurut Effendie (2002) in Oktaviani (2006), ikan dikelompokkan
berdasarkan makannanya, yaitu pemakan plankton, pemakan tanaman, pemakan dasar,
pemakan detritus, ikan buas, dan ikan pemakan campuran. Berdasarkan kepada jumlah
variasi dari macam macam makanan tersebut, ikan dapat dibagi menjadi eurypagic
yaitu ikan pemakan banyak jenis makanan, stenopagic yaitu ikan pemakan sedikit jenis
makanan, dan monopagic yaitu ikan pemakan satu jenis makanan (Oktaviani 2006).
Ketersediaan organisme makanan yang melimpah di dalam suatu perairan tidak
selalu menunjukkan bagian penting dalam susunan makanan ikan. Hal ini seseuai
dengan Padini (1998) in Robiyanto (2006). Kebiasaan makanan ikan dipengaruhi oleh
beberapa faktor, antara lain habitat hidupnya, kesukaan terhadap jenis makanan tertentu,
musim, ukuran, dan umur ikan. Struktur alat pencernaan juga berperan dalam adaptasi
makanan , seperti halnya mulut, gigi, taspis insang, lambung, dan usus Lagler (1961) in
Mahyashopa (2007). Kebiasaan makanan beberapa spesies ikan dapat berubah sejalan
dengan musim, perubahan stadia hidup, dan ketersediaan jenis makanan Lagler (1972)
in Mahyashopa (2007).

Makanan yang diambil oleh ikan, dimanfaatkan dalam siklus metabolisme tubuh
akan berpengaruh terhadap per-tumbuhan, reproduksi, dan tingkat keber-hasilan hidup
untuk tiap-tiap individu ikan di perairan tersebut. Ketersediaan makanan di suatu
perairan sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik kimia lingkungan seperti suhu, cahaya,
ruang dan luas permukaan, alkalinitas, unsur hara, ph, dan lain-lain Effendie (1997) in
Sulistiono (2010). Kebiasaan makanan ikan dapat memberikan informasi terkait
hubungan ekologis diantara individu di perairan tersebut. Misalnya bentuk bentuk
pemangsaan, persaingan, dan rantai makanan Effendie (1979) in Mahyashopa (2007).
METODE
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada Sabtu, 20 Februari 2016. Lokasi praktikum ini
adalah Laboratorium Biologi Perikanan, Departemen Manajemen Sumber daya
Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah masker, sarung
tangan karet, alat bedah, penggaris, baki, botol film, kain lap atau tissue, kantong plastik
atau trashbag, jarum pentul, kertas label, spidol permanen, kamera, timbangan digital,
ikan kembung lelaki (Rastraliger kanagurta) dan formalin 5% yang digunakan untuk
mengawetkan organ dalam ikan yang diambil, seperti usus dan gonad.

Prosedur Kerja
Pengukuran panjang ikan
Pengukuran panjang dilakukan menggunakan penggaris dengan ketelitian 1 mm
dan pengukuran bobot dengan menimbang ikan menggunakan timbangan digital yang
memiliki ketelitian 0,0001 gram. Pengukuran mulai dari panjang total, panjang baku,
dan panjang cagaknya.
Pembedahan ikan
Selanjutnya, untuk menentukan jenis kelamin dan tingkat kematangan gonad
maka ikan yang sudah diukur panjang dan bobot selanjutnya dibedah dengan
menggunakan alat bedah. Pembedahan ikan dimulai dari bagian anal dengan
menggunakan gunting bengkok. Tujuan penggunaan gunting runcing agar memudahkan
masuk ke dalam badan ikan dan tidak merusak organ dalam ikan. Ganti gunting runcing
menjadi gunting tumpul dan melanjutkan pembedahan hingga belakang operculum.
Pisahkan tubuh ikan dengan organ dalamnya terutama usus dan gonad ikan. Tingkat
kematangan gonad ikan kembung lelaki dapat dibagi menjadi lima tahap. Penentuan
tingkat kematangan gonad menggunakan klasifikasi kematangan gonad yang telah

ditentukan. Tingkat kematangan gonad ditentukan secara morfologi berdasarkan bentuk,


warna, ukuran, bobot gonad, serta perkembangan isi gonad.
Pengawetan gonad dan usus
Pengawetan gonad hanya TKG III dan TKG IV. Untuk mengawetkan gonad maka
gonad yang sudah ditimbang bobotnya selanjutnya dimasukkan ke dalam botol film
untuk dengan formalin 5%. Untuk pengawetan usus ikan yang sudah diburai juga
dimasukkan ke dalam botol film untuk dengan formalin 5%.
Pengamatan Gonad
Pengamatan gonad meliputi pengukuran bobot gonad, jumlah telur dan diameter
telur. Setelah gonad ditimbang dan diketahui bobotnya, kemudian gonad dibagi
menjadi tiga bagian utama yaitu anterior, tengah, dan posterior. Gonad dipisahkan
ketiganya dengan menempatkan pada tiga cawan petri yang berbeda, Masing-masing
dari ketiga bagian gonad tersebut selanjutnya diencerkan dengan 10 ml air pada masing
masing cawan petri dan diaduk agar butiran telur terpisah. Butiran telur yang sudah
terpisahkan. Pindahkan 1 ml telur menggunakan pipet tetes ke dalam cawan petri untuk
dihitung jumlah butir telur. Untu pengamatan diameter telur ikan menggunakan
mikroskop yang sudah dilengkapi dengan mikrometer okuler perbesaran 4 x 10.
Kebiasaan Makanan
Hal pertama yang harus dilakukan adalah siapkan usus ikan yang sudah diawetkan
dengan menggunakan formalin 5%. Timbang usus ikan menggunakan timbangan
ohauus dengan ketelitian 0,0001 gram. Catat hasil penimbangan. Usus yang telah
ditimbang, dikeluarkan isinya dengan cara dikerik menggunakan alat bedah hingga
bagian dalam usus keluar semua. Hasil kerikan usus ikan herbivora diencerkan dengan
air 10 ml atau aquades. Pada ikan karnivora, apabila sisa makanannya masih utuh, sisa
makanan tersebut dapat diidentifikasi langsung, sehingga dapat disimpulkan makanan
tersebut tercerna atau teridentifikasi. Tapi, untuk mengidentifikasi hasil kerikan usus
ikan herbivora dapat diambil satu tetes hasil kerikan usus yang telah diencerkan.
Kemudian amati menggunakan mikroskop. Pengamatan dilakukan sebanyak 3x
ulangan. Organisme amatan yang terlihat dapat diidentifikasi menggunakan buku
indentifikasi organisme yang sudah ada, dan catat jumlah dari organisme tersebut.
Analisis Data
Pertumbuhan
Analisis data yang dilakukan pada praktikum pertumbuhan meliputi sebaran
distribusi frekuensi, hubungan panjang dan berat ikan, dan faktor kondisi.
Distribusi frekuensi panjang
Pengolahan data mengenai distribusi frekuensi dilakukan dengan cara dicari
terlebih dahulu jumlah kelas, lebar kelas, nilai maksimum, dan nilai minimum
menggunakan rumus tertentu. Lalu disajikan Tabel berisi selang kelas atas, selang kelas
bawah, selang kelas, batas kelas atas, batas kelas bawah, batas kelas, median setiap
selang kelas (xi), frekuensi setiap selang kelas. Distribusi frekuensi yang sudah terolah
dan didapatkan hasilnya, kemudian disajikan juga dalam bentuk grafik (diagram batang)

dengan beberapa parameter yang ada di tabel yaitu, sumbu x merupakan selang kelas
dan sumbu y frekuensi setiap selang kelas.
Hubungan panjang dan berat
Analisis hubungan panjang berat menggunakan uji regresi, dengan rumus sebagai
berikut (Effendie 2002):
W =a Lb
Keterangan:
W
= Berat tubuh ikan (gram)
L
= Panjang ikan
a dan b = Konstanta
Uji t dilakukan terhadap nilai b untuk mengetahui apakah b=3 (isometrik) atau b
3 (allometrik). Apabila b=3 disebut isometrik yang menunjukkan ikan tidak
berubah bentuknya dan pertambhan panjang ikan seimbang dengan pertambahan
bobotnya. Apabila b<3 disebut alometrik negeatif yang artinya pertambahan panjangnya
lebih cepat dibanding pertambahan bobotnya. Jika b>3 disebut alometrik positif yang
menunjukkan bahwa pertambahan bobotnya lebih cepat dibanding dengan pertambahan
panjangnya.
Faktor kondisi
Faktor kondisi dihitung dengan menggunakan persamaan Ponderal Index, untuk
pertumbuhan isometrik (b=3) faktor kondisi (KTL) dengan menggunakan rumus
(Effendie 2002):
105 W
K TL= 3
L
Sedangkan jika pertumbuhan tersebut bersifat allometrik (b 3), maka faktor
kondisi dapat dihitung dengan rumusnya (Effendie 2002):
K n=

W
b
aL

Keterangan :
K
= faktor kondisi
W
= bobot ikan (gram)
L
= panjang total ikan (mm)
a dan b = konstanta
Reproduksi
Analisis data yang dilakukan pada praktikum pertumbuhan meliputi proporsi jantan dan
betina, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad, fekunditas dan diameter
telur.

Rasio Kelamin
Proporsi atau rasio kelamin dihitung dengan cara membandingkan jumlah ikan
jantan dan ikan betina :
P=

A
x 100
B

Keterangan :
P
= Proporsi kelamin
A
= Jumlah ikan jantan/betina (ekor)
B
= Jumlah ikan total (ekor)
Penentuan seimbang atau tidaknya rasio kelamin jantan dan betina dilakukan
dengan uji Chi-Square Steel dan Torie (1980) in Ambarwati (2008).
H0 : J = B
H0 : J B
Dengan menggunakan rumus :
2

Keterangan :
X 2 hitung

(oie i )

hitung = i
ei

= Chi-Square hitung

oi

= frekuensi ke-i

ei

= frekuensi harapan ke-i

Nilai X2 tabel diperoleh dari tabel nilai kritik sebaran khi-kuadrat. Untuk
penarikan keputusan dengan membandingkan X2 hitung dengan X2 tabel pada selang
kepercayaan 95%. Keputusan dapat diperoleh jika :
X2 hitung > X2 tabel
X2 hitung < X2 tabel

menolak hipotesa nol


menerima hipotesa nol (Walpole 1995).

Tingkat kematangan gonad (TKG)


Tingkat Kematangan Gonad merupakan tahap tertentu perkembangan gonad
sebelum dan sesudah ikan memijah. Pemahaman mengenai kematangan gonad
diperlukan untuk menentukan atau mengetahui perbandingan antara ikan yang matang
gonadnya dengan ikan yang belum matang gonadnya dari stok yang ada di perairan,
selain itu dapat diketahui ukuran dan umur ikan pertama kali matang gonad, mengetahui
waktu pemijahan, lama pemijahan, dan frekuensi pemijahan dalam satu tahun Effendie
(1997) in Ambarwati (2008).

Tabel 1 Tingkat kematangan gonad berdasarkan klasifikasi Cassie Effendie (1997) in


Habibun (2011)
TKG
Betina
Jantan
Ovari seperti benang, panjang Testis seperti benang, lebih pendek
I
sampai kedepan rongga tubuh. (terbatas dan terlihat ujungnya
Warna permukaan licin.
dirongga tubuh, warna jernih).
Ukuran ovari lebih besar. Pewarnaan Permukaan
testis
lebih
besar.
II
lebih gelap kekuningan. Telur belum Pewarnaan putih seperti susu, bentuk
terlihat jelas dengan mata.
lebih jelas daripada tingkat I.
Permukaan testis tampak bergerigi,
Ovari berwarna kuning dan secara
warna makin putih, testis makin besar,
III
morfologi telur mulai kelihatan
dalam keadaan diawaetkan mudah
butirnya dengan mata.
putus.
Ovari makin besar, telur berwarna
kuning, mudah dipisahkan. Butir
Seperti pada tingkat III dan tampak
IV
minyak tidak tampak, mengisi 1/2
lebih jelas. Testis lebih pejal.
sampai 2/3 rongga perut, usus
terdesak.
Ovari berkerut, dinding tebal, butir
Testis bagian belakang kempis dan
V
telur sisi terdapat di dekat pelepasan.
bagian dekat pelepasan.
Banyak telur seperti pada tingkat II.
Indeks kematangan gonad (IKG)
Indeks kematangan gonad (IKG) dianalisa berdasarkan berat gonad dan berat
tubuh ikan contoh dengan menggunakan rumus sebagai berikut Effendie (1997) in
Larasati (2011) :
B
IKG= g x 100
Bt
Keterangan :
IKG = Indeks kematangan gonad (%)
Bg
= Berat gonad (gram)
Bt
= Berat tubuh (gram)
Fekunditas
Perhitungan fekunditas dilakukan dengan metode gabungan gravimetrik dan
volumetrik Effendie (1997) in Larasati (2011) :
F=

G xV x X
Q

Keterangan :
F
= Fekunditas (butir)
G
= Berat gonad total (gram)
V
= Isi pengenceran (cc)
X
= Rataan telur contoh

a dan b = Konstanta
Diameter telur
Pola pemijahan dihitung berdasarkan data sebaran diameter telur dan untuk lebih
jelasnya dibuat grafik hubungan antara sebaran diameter telur dan frekuensinya.
Sebaran frekuensi telur tersebut akan menentukan tipe pemijahan ikan, apakah ikan
termasuk total spawner atau partial spawner.
Kebiasaan Makanan
Indeks bagian terbesar (Index preponderance)
Indeks bagian terbesar makanan dihitung dengan menggunakan rumus
perhitungan menurut Sulistiono (2010), yaitu :
IP ( )=

V i x Oi
n

x 100

(V i x Oi)
i=1

Keterangan:
IP(%) = indeks bagian terbesar (indeks of preponderance)
Vi
= persentase volume makanan ikan jenis ke-i
Oi
= persentase frekuensi kejadian makanan jenis ke-i
N
= jumlah organisme makanan Luas relung makanan dihitung
Luas relung makanan
Menurut Colwell dan Futuyma (1971) in Sulistiono (2010), luas relung makanan
dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus :
B i=

1
P ij2

Keterangan:
Bi
= luas relung jenis ikan ke-i
Pij
= proporsi jenis ikan ke-i yang dengan jenis makanan ke-j
Standarisasi nilai luas relung makanan bernilai antara 0-1, menggunakan rumus
perhitungan yang dikemukakan Hulbert (1978) in (Sulistiono 2010) :
B A=

Bi1
n1

Keterangan:
Ba
= standarisasi luas relung levins (kisaran 0- 1)
Bi
= luas relung levins
n
= jumlah seluruh organisme makanan yang dimanfaatkan
Tumpang Tindih

Indeks similaritas makanan dihitung dengan rumus penyederhanaan rumus Indeks


Morisita oleh Horn (1966) in Sulistiono (2010). Indeks similaritas makanan ini juga
dapat digunakan untuk menduga tumpang tindih relung makanan (Krebs (1989) in
Sulistiono (2010) yaitu :
CH =

2 Pij x Pik
2

P ij + Pik

Keterangan:
CH
= indeks morisita yang disederhana-kan
Pij, Pik = proporsi jenis organisme makanan ke-i yang digunakan oleh 2
kelompok ukuran ikan ke-j dan kelompok ukuran ikan ke-k
n
= jumlah organisme makanan

. HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Distribusi frekuensi panjang
Distribusi frekuensi panjang ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) yang
diamati memiliki panjang tubuh yang bervariasi. Berikut distribusi frekuensi panjang
ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) yang disajikan dalam grafik di bawah ini :

Frekuensi

60
50
40
30
20
10
0

betina
jantan

Selang Kelas

Gambar 3 Distribusi Panjang Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta)


Berdasarkan grafik di atas dapat diketahui bahwa distribusi panjang pada ikan
kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) yang diamati memiliki panjang tubuh yang
bervariasi. Ukuran panjang minimum ikan kembung lelaki yang diamati yaitu 110 mm
sedangkan panjang maksimumnya 224 mm. Distribusi panjang pada ikan jantan lebih
bervariasi dibandingkan distribusi panjang pada ikan betina. Distribusi terbesar terdapat
pada dua selang kelas, yaitu pada 123-148 dan distribusi terkecil pada selang kelas 175187. Sama halnya seperti distribusi panjang pada ikan betina yang terkecil pada selang
kelas 175-187. Distribusi panjang pada ikan betina yang terbesar pada selang kelas 136148.

Hubungan panjang dan bobot


Hubungan panjang-bobot bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan
dengan menggunakan parameter panjang dan bobot ikan jantan dan betina. Perhitungan
hubungan panjang-bobot antara ikan kembung jantan dan betina dipisahkan agar dapat
terlihat perbedaan antara pola pertumbuhan ikan betina dengan jantan. Berikut
hubungan panjang-bobot ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) jantan yang
disajikan dalam grafik di bawah ini :
150
100
Bobot

50
0
100

f(x) = 0 x^2.26
R = 0.79

120

140

160

180

200

220

Panjang

Gambar 4. Hubungan panjang bobot pada ikan kembung lelaki (Rastrelliger


kanagurta) jantan
Gambar 4 menujukkan hubungan panjang bobot ikan kembung lelaki jantan
dengan persamaan W = 0.0005L2.2608 dan nilai determinasi (R2) sebesar 78,96%.
Berdasarkan Uji T didapatkan nilai t-hitung sebesar 7.6534 dan nilai t-tabel yaitu
2.2647. Nilai t-hitung yang diperoleh lebih besar dari t-tabel sehingga dapat
disimpulkan bahwa hubungan panjang dan bobot ikan kembung lelaki jantan mengikuti
pola allomterik. Nilai b diketahui 2.2608 sehingga dapat dikatakan bahwa pola
pertumbuhan ikan kembung lelaki jantan termasuk dalam pola allometrik negatif.
Panjang total dapat menggambarkan pertambahan bobot ikan kembung lelaki jantan
sebesar 78,96%. Berikut hubungan panjang-bobot ikan kembung jantan (Rastrelliger
kanagurta) betina yang disajikan dalam grafik di bawah ini :
150
100
Bobot

f(x) = 0 x^2.63
R = 0.89

50
0
100

120

140

160

180

200

220

240

Panjang

Gambar 5. Hubungan panjang dan bobot pada ikan kembung lelaki (Rastrelliger
kanagurta ) betina
Gambar 5 menunjukkan hubungan panjang bobot ikan kembung lelaki betina
dengan persamaan W = 0.000094L2.6251 dan nilai determinasi (R2) sebesar 88.9%.

Berdasarkan Uji T didapatkan nilai t-hitung sebesar 3.0511 dan nilai t-tabel yaitu 2.3021
yang menunjukkan hubungan panjang dan bobot ikan kembung lelaki jantan mengikuti
pola allomterik. Nilai b diketahui 2.6251 sehingga dapat dikatakan bahwa pola
pertumbuhan ikan kembung lelaki jantan termasuk dalam pola allometrik negatif.
Panjang total dapat menggambarkan pertambahan bobot ikan kembung lelaki betina
sebesar 88.9%.
Faktor kondisi
Faktor kondisi adalah suatu angka yang menunjukkan kegemukan ikan. Berikut
faktor kondisi ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) jantan yang disajikan
dalam grafik di bawah ini :
1.5
1
FK rataan

0.5
0

Jantan

Selang Kelas

Gambar 6. faktor kondisi ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) jantan


Berdasarkan grafik di atas didapatkan nilai faktor kondisi tertinggi ikan kembung
lelaki jantan (1.1931) terdapat pada ikan dengan kisaran panjang total 175-187 mm.
Faktor kondisi terendah ikan kembung lelaki jantan (0,9755) terdapat pada ikan dengan
kisaran panjang total 188-200 mm. Berikut faktor kondisi ikan kembung lelaki
(Rastrelliger kanagurta) betina yang disajikan dalam grafik di bawah ini :

Gambar 7. Faktor kondisi ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) betina


Berdasarkan grafik di atas dapat diketahui bahwa nilai faktor kondisi tertinggi
ikan kembung lelaki betina (1.4388) terdapat pada ikan dengan kisaran panjang total
175-187. Faktor kondisi terendah ikan kembung lelaki betina (0.8346) terdapat pada
ikan dengan kisaran panjang total 214-226 mm.

Rasio Kelamin
Proporsi atau rasio kelamin dihitung dengan cara membandingkan jumlah ikan
jantan dan ikan betina. Berikut proporsi atau rasio kelamin ikan kembung lelaki
(Rastrelliger kanagurta) yang disajikan dalam tabel di bawah ini :
Tabel 2 Proporsi kelamin betina dan jantan
Jumlah
Total
Rasio Kelamin (%)
TKG
Jantan
Betina
Jantan
Betina
1
2
3
4

63
32
44
9
148

21
25
2
11
59

84
57
46
20
207

71.497584
5

28.502415
5

Keterangan
Tidak
seimbang

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa proporsi kelamin betina yaitu 0,2850
sedangkan proporsi jantan yaitu 0,7150. Setelah dilakukan uji Chi-square, didapatkan
nilai Xhit sebesar 30.2038 dan Xtab sebesar 3,1824. Artinya Xhit>Xtab yang berarti
tolak H0 dan dapat disimpulkan bahwa proporsi jenis kelamin ikan kembung jantan dan
betina tidak seimbang. Dari data dapat terlihat bahwa proporsi ikan betina jauh lebih
banyak dibandingkan ikan kembung jantan.

Tingkat Kematangan Gonad (TKG)


Perkembangan gonad menuju matang merupakan bagian dari reproduksi ikan
sebelum terjadi pemijahan. Pencatatan perubahan atau tahap-tahap kematangan gonad
diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan-ikan yang akan melakukan reproduksi
atau tidak. Berdasarkan pengetahuan tahap perkembangan gonad akan didapatkan
keterangan bilamana ikan itu memijah, baru memijah, atau telah selesai memijah
(Effendie 1997). Berikut adalah grafik presentase tingkat kematangan gonad ikan
kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) betina TKG 1-4.

Frekuensi relatif

100%
80%
60%
40%
20%
0%

TKG 4
TKG 3
TKG 2
TKG 1

Selang Kelas
Gambar 1 Presentase Tingkat kematangan gonad (%) kembung lelaki (Rastrelliger
kanagurta) betina pada setiap selang kelas panjang di Perairan Selat Sunda

Berdasarkan gambar 8 presentase tingkat kematangan gonad kembung lelaki


(Rastrelliger kanagurta) betina dapat diketahui bahwa terdapat 9 kelas ukuran panjang,
diperoleh informasi bahwa ikan betina yang mulai memasuki TKG IV (matang gonad)
ada pada selang kelas ukuran panjang 136-148, 162-174, dan 175-187. Hal ini
menunjukkan bahwa pada ukuran kelas 175-187 mm ikan betina paling banyak
mencapai matang gonad. Berikut adalah grafik presentase tingkat kematangan gonad
ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) jantan TKG 1-4.

Frekuensi relatif

100%
80%
60%
40%
20%
0%

TKG 4
TKG 3
TKG 2
TKG 1

Selang Kelas
Gambar 2 Presentase Tingkat kematangan gonad (%)kembung lelaki (Rastrelliger
kanagurta) jantan
Berdasarkan gambar 9 presentase tingkat kematangan gonad kembung lelaki
(Rastrelliger kanagurta) jantan dapat diketahui bahwa terdapat 9 kelas ukuran panjang,
diperoleh informasi bahwa ikan jantan yang mulai memasuki TKG IV (matang gonad)
ada pada selang kelas ukuran panjang 110-122 mm, 123-135 mm, 149-161 mm, 175187 mm, dan 188-200 mm. Hal ini menunjukkan bahwa pada ukuran kelas 175-187
mm ikan jantan paling banyak mencapai matang gonad.
Indeks Kematngan Gonad
Indeks kematagan gonad merupakan nilai dalam persen sebagai hasil
perbandingan antara berat gonad dan berat tubuh , sehingga IKG akan meningkat
seiring dengan peningkatan berat gonad ikan. Berikut ini merupakan indeks kematangan
gonad ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) betina di perairan selat sunda
6.0000
5.0000
4.0000

IKG rata-rata

3.0000
2.0000
1.0000
0.0000

TKG
Gambar 3 Indeks kematangan gonad kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) betina

Berdasarkan gambar 10 dapat dilihat bahwa ikan kembung lelaki (Rastrelliger


kanagurta) betina memiliki IKG rata-rata terendah pada TKG 1 sebesar 0.0600 dan
IKG rata-rata tertinggi pada TKG 4 sebesar 5.4340. Berikut ini merupakan indeks
kematangan gonad ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) jantan di perairan selat
sunda.
1.2000
1.0000
0.8000

IKG rata-rata

0.6000
0.4000
0.2000
0.0000

TKG
Gambar 4 Indeks kematangan gonad ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta)
jantan
Berdasarkan gambar 11 dapat dilihat bahwa ikan kembung lelaki (Rastrelliger
kanagurta) jantan memiliki IKG rata-rata terendah pada TKG 1 sebesar 0.0692 dan
IKG rata-rata tertinggi pada TKG 4 sebesar 1.0591.
Fekunditas
Potensi reproduksi dapat diduga melalui jumlah telur yang masak sebelum
dikeluarkan pada waktu ikan memijah atau merupakan fekunditas. Fekunditas dihitung
pada ikan betina dengan TKG IV. Berikut ini diagram hubungan fekunditas dengan
panjang ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta).
50000
40000
30000

Fekunditas

20000
10000
0
130

f(x) = 1500.43 x^0.5


R = 0.03
140

150

160

170

180

190

Panjang (mm)
Gambar 5 Diagram hubungan fekunditas dengan panjang tubuh ikan kembung
lelaki (Rastrelliger kanagurta)

50000
40000
30000
Fekunditas 20000

f(x) = 3272.77 x^0.42


R = 0.11

10000
0
30

40

50

60

70

80

90

100

Bobot (gram)

Gambar 6 Diagram hubungan fekunditas dengan bobot tubuh ikan kembung


lelaki (Rastrelliger kanagurta)
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap hubungan antara fekunditas dengan
panjang total ikan kembung lelaki didapatkan persamaan F = 1500 x 4L 0.5017 dan
diperoleh koefisien determinasi (R2) sebesar 0.302. Artinya panjang total ikan
menggambarkan fekunditas hanya sebesar 3.02% sehingga antara panjang total ikan
dengan fekunditas memiliki hubungan yang tidak erat.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap hubungan antara fekunditas dengan berat total
ikan kembung Lelaki (Gambar 13) didapatkan persamaan F = 3272.8 x W 0.4166 dan
diperoleh koefisien determinasi (R2) sebesar 0,1073. Artinya bobot ikan
menggambarkan fekunditas hanya sebesar 10.73% sehingga antara bobot ikan dengan
fekunditas memiliki hubungan yang kurang erat.
.
Diameter Telur
Berikut merupakan diagram batang diameter telur ikan kembung lelaki
(Rastrelliger kanagurta)

Gambar 7 Diagram sebaran diameter telur ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta)
Gambar 14 menunjukkan sebaran diameter telur ikan kembung lelaki
(Rastrelliger kanagurta). Berdasarkan gambar grafik diatas dapat diketahui bahwa
sebaran diameter telur ikan yang diamti ada 12 selang kelas. Dari keseluruhan diameter
telur ikan yang dihitung, telur ikan terendah terdapat pada selang kelas 1.864-2.012,
yaitu sebanyak 5 butir dan diameter telur tertinggi terdapat pada selang kelas 0.82100.9690. Semakin besar TKG maka semakin besar pula uuran diameter telurnya. Pada
grafik tersebut juga dapat disimpulkan bahwa ikan kerapu yang diamati memiliki pola
pemijahan total spawner.

Pembahasan
Pada pengamatan distribusi frekuensi panjang ikan kembung lelaki (Rastrelliger
kanargurta) yang diamati memiliki panjang tubuh yang bervariasi. Ukuran panjang
terbesar ikan kembung lelaki yang diamati yaitu 224 mm sedangkan panjang terkecilnya
110 mm. Terdapat persamaan dan perbedaan dengan pengamatan sebelumnya yang
dilakukan oleh Fandri (2012) yang tertangkap di Selat Sunda yang didaratkan di PPI
Labuan yaitu panjang terbesar 224 mm sedangkan panjang terkecil yaitu 105 mm.
Sedangkan berbeda lagi halnya dengan observasi di Teluk Jakarta yang dilakukan Rifqie
(2007) hasil yang didapat bahwa kisaran ukuran panjang ikan kembung lelaki adalah
82-252 mm. Artinya ikan contoh yang tertangkap di Perairan Teluk Jakarta merupakan
ikan muda hingga ikan yang tua, namun berbeda dengan ikan contoh yang tertangkap di
Selat Sunda hanya ikan yang sudah dewasa atau tua saja. Hal tersebut menunjukan
bahwa contoh yang diambil dari Perairan Teluk Jakarta diharapkan lebih mewakili
keadaan populasi jika dibandingkan dengan contoh ikan yang diambil dari Selat Sunda.
Berdasarkan analisis hubungan panjang bobot ikan kembung lelaki di Selat
Sunda diperoleh nilai dugaan b atau koefisien regresi (p = 0,05) berkisar 2.2608-2.6251.
Menurut Rifqie (2007) ikan kembung di Perairan Teluk Jakarta memiliki nilai b sama
dengan 2.3221 yang menunjukan bahwa ikan-ikan kembung lelaki di perairan Selat
Sunda tersebut lebih gemuk dibanding dengan ikan kembung lelaki di Teluk Jakarta.
Menurut Mosse dan Hutubessy (1996) ikan kembung di Perairan Pulau Ambon dan
sekitarnya memiliki nilai b sama dengan 3,26 yang menunjukan bahwa ikan-ikan
kembung lelaki di perairan tersebut lebih gemuk dibanding dengan ikan kembung lelaki
di Selat Sunda. Hal serupa juga ditunjukan oleh Fandri (2012) di Selat Sunda 2.9843.141. Perbedaan kondisi ikan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya
yaitu faktor perbedaan kondisi lingkungan dan ketersediaan makanan (Effendie 2002).
Pada pengamatan hubungan panjang bobot, baik pada pengamatan ikan betina maupun
ikan jantan pada ikan kembung lelaki memiliki korelasi yang erat. Hal ini berdasarkan
nilai koefisien korelasi (R2) yang mendekati satu. Hasil nilai b ikan kembung lelaki yang
diperoleh pada pengamatan ikan jantan dan betina adalah kurang dari 3 berarti berarti
pola pertumbuhan ikan kembung lelaki adalah allometrik negatif.
Faktor kondisi ikan kembung lelaki jantan dan betina berkisar antara 0.97551.1931 dan 0.8346-1.4388. Berdasarkan nilai faktor kondisi diketahui bahwa ikan
kembung lelaki mempunyai bentuk tubuh ikan kurang pipih. Hal tersebut dipengaruhi
oleh makanan utama ikan kembung lelaki yaitu diatom (Rifqie 2007) dan tingkat
kematangan gonad. Faktor kondisi rata rata ikan kembung lelaki betina lebih besar
dibandingkan faktor kondisi rata rata ikan kembung lelaki jantan. Hal ini diduga
karena adanya variasi dari kisaran bobot dan kisaran panjang total ikan kembung lelaki
itu sendiri karena perbedaan pola pertumbuhan (ukuran panjang bobot ikan), umur, jenis
kelamin, persaingan makanan yaitu jumlah ikan-ikan lain yang memanfaatkan makanan
yang sama dan ketersediaan makanan di perairan (Biring 2011). Peningkatan nilai faktor
kondisi relatif terdapat pada waktu gonad ikan terisi dengan sel kelamin dan mencapai
puncaknya sebelum terjadi pemijahan Effendie (1997) in Biring (1997).
Nilai rasio ini diperoleh dari rasio antara jumlah ikan kembung masing-masing
berjumlah 148 ekor jantan (71.5%) dan 59 ekor betina (28.5%). Rasio kelamin dari data
yang didaptakan antara ikan kembung betina dan ikan kembung jantan adalah 3:7
dimana jumlah ikan jantan lebih banyak dibandingkan jumlah ikan betina. Nilai tersebut
menunjukkan bahwa rasio kelamin pada ikan kembung tersebut tidak mengikuti pola 1 :

1 atau rasio kelamin tidak seimbang. Menurut pernyataan Effendie (1979) in Syahriani
et al (2015) bahwa kondisi populasi ikan dalam suatu perairan dengan melihat
perbandingan antara jumlah jantan dan jumlah betina dalam suatu populasi, dimana
rasio 1 : 1. Hasil penelitian ini berbeda dengan yang dilaporkan oleh Syahriani et al
(2015) bahwa nisbah kelamin ikan kembung lelaki di perairan Selat Malaka, termasuk
kondisi ideal dimana rasio 1 : 1. Pengaruh ketidakseimbangan tersebut diduga karena
tingginya intensitas penangkapan dari tahun ke tahun. Tidak seimbangnya jumlah antara
ikan jantan dan betina dalam suatu populasi akan berdampak terhadap penurunan
populasi ikan di alam. Hal ini terjadi karena adanya kelebihan tangkapan atau kegiatan
penangkapan yang tidak terkendali (Yusra 2011).Nilai rasio kelamin ikan kembung
lelaki antara jantan dan betina yang didapatkan oleh Oktaviani (2013) dari hasil
tangkapan di Teluk Mayalibit Kabupaten Raja Ampat yaitu nilai persentase jantan lebih
kecil (49.76%) daripada jantan (50.24%). Kondisi tersebut menggambarkan bahwa nilai
rasio jenis kelamin tidak selalu sama diduga karena dipengaruhi beberapa faktor tempat,
waktu, dan peluang tertangkap. Hal itu dapat disebabkan oleh tabiat makan, tabiat
memijah, dan tabiat migrasi Bal & Rao (1984) in Oktaviani (2013). Selain itu,
perubahan nisbah kelamin dapat disebabkan oleh aktivitas penangkapan yang tinggi,
faktor lingkungan, serta selektivitas alat tangkap Pulungan et al.(1994) in Yusra (2013).
Berdasarkan pengamatan TKG didapatkan bahwa ikan kembung Lelaki
(Rastrelliger kanagurta) yang pertama kali matang gonad terdapat pada ukuran kelas
136-148 mm dan untuk ikan jantan pada ukuran 110-122 mm dengan dengan
persentase masing-masing sebesar 9.53% dan 4%. Pada ukuran kelas 175-187 mm ikan
kembung lelaki paling banyak mencapai matang gonad dengan persentase masingmasing betina dan jantan sebesar 80% dan 100%. Adanya perbedaan ukuran pertama
kali matang gonad dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain perbedaan spesies,
kebiasaan makanan, umur dan ukuran, serta kondisi fisiologis dari ikan tersebut
(Larasati 2011).
Berdasarkan hasil penelitian, IKG ikan kembung lelaki betina terbesar adalah
5.4340% dan IKG ikan jantan terbesar adalah 1.0591%. Hal ini sesuai dengan besarnya
nilai IKG pada ikan betina dapat diartikan bahwa bobot gonad ikan betina lebih besar
dibandingkan ikan jantan. Menurut pernyataan Effendie (1979) in Syahriani (2015)
bahwa nilai indeks gonad somatik akan bertambah sampai mencapai kisaran maksimum
ketika akan memijah, lalu akan menurun kembali dengan cepat selama pemijahan
berlangsung sampai selesai. Hasil yang didapat serupa dengan penelitian (Rusni 2002)
pada ikan kembung lelaki jantan (Rastrelliger kanagurta) bahwa nilai rerata tertinggi
pada jantan mencapai 0,253-2,426% sedangkan pada betina mencapai 0,398-2,677%.
Hal ini serupa juga dengan penelitian Oktaviani (2013) pada ikan kembung lelaki di
Teluk Mayalibit Kabupaten Raja Ampat, menemukan bahwa nilai IKG ikan jantan
umumnya lebih kecil daripada ikan betina pada tiap kematangan gonad. Hal ini
menunjukkan bahwa nilai Indeks Kematangan Gonad ikan betina lebih tinggi dari ikan
jantan pada TKG yang sama. IKG ikan betina lebih tinggi dari ikan jantan pada TKG
yang sama, disebabkan karena IKG sangat dipengaruhi oleh berat gonad dan berat tubuh
dimana gonad yang berisi telur (betina) lebih berat dibandingkan gonad yang berisi
sperma (jantan) Effendie (1977) in Oktaviani (2013).
Fekunditas total ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) di Perairan Selat
Sunda berkisar antara 13469-41584 butir telur pada kisaran panjang tubuh 136-185 mm.
Hasibuan (2015) di perairan Selat Malaka mendapatkan fekunditas pada kisaran 30.250
57.240 butir telur, dengan kisaran panjang total 164-170 mm. Hasil penelitian sesuai

dengan yang dilaporkan oleh Safarini (2013) di Teluk Banten Serang, fekunditas ikan
kembung lelaki mengeluarkan 9.058 55.181 butir. Perbedaan fekunditas tersebut
diduga karena dipengaruhi oleh faktor kondisi lingkungan yang berbeda terutama yang
berhubungan dengan ketersediaan makanan. Nilai fekunditas dipengaruhi oleh jenis atau
spesies, umur, ukuran individu ikan, makanan, faktor fisiologi tubuh, sifat ikan,
kepadatan populasi dan lingkungan hidup ikan itu sendiri Safarini (2013). Hariyanti
(2013) menambahkan bahwa besar kecilnya fekunditas dipengaruhi oleh makanan,
ukuran ikan dan kondisi lingkungan, serta dapat jugadipengaruhi oleh diameter telur.
Fekunditas ikan kembung lelaki pada penelitian yang didapat berkisar antara
13469 41584 butir telur pada kisaran bobot tubuh 40-95 gram. Tidak selamanya ikan
yang mempunyai bobot tubuh maksimal memiliki fekunditas yang banyak. Hal ini
diduga karena bobot tubuh meningkat disebabkan oleh bobot lambung yang besar,
sedangkan bobot gonadnya kecil, sehingga fekunditas pada bobot tersebut berkurang.
Penyebab lainnya adalah dengan adanya persediaan makanan tambahan (Hariyanti
2013). Menurut Effendie (2002), sampai ukuran bobot tertentu fekunditas akan
bertambah kemudian menurun lagi akibat respon terhadap perbaikan makanan
melalui kematangan gonad yang terjadi lebih awal, menambah kematangan individu
yang lebih gemuk dan mengurangi jarak antara siklus pemijahan. Faktor lingkungan
juga berpengaruh terhadap fekunditas, namun hal ini sangat sulit untuk diketahui secara
pasti. Menurut Bagenal (1963) in Hariyanti (2013) bahwa satu-satunya faktor
lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap fekunditas ikan adalah ketersediaan
makanan yang tinggi. Selain itu juga dipengaruhi oleh segar tidaknya ikan pada saat
penimbangan bobot tubuh. Ikan yang telah menurun kesegarannya akan menurun pula
bobot tubuhnya (Hariyanti 2013).
Hasil analisis ukuran diameter terkecil sebesar 0.2250 mm dan terbesar ialah
2.0000 mm. Banyaknya ukuran diameter telur yang berbeda dalam ovarium ikan yang
mengandung telur masak menunjukkan waktu pemijahan yang panjang dan terus
menerus Lumbanbatu (1979) in Larasati (2011). Kelompok ukuran diameter telur yang
besar merupakan perkembangan dari kelompok ukuran diameter telur sebelumnya dan
mungkin merupakan sekumpulan telur yang terakhir dilepaskan setelah pemijahan
pertama semala musim pemijahan (Larasati 2011). Menurut Effendie (2002), ukuran
garis tengah telur yang terbesar didapatkan pada waktu akan terjadi pemijahan sebagai
ukuran telur yang masak ikut dalam pemijahan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Distibusi ukuran panjang ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) di Selat
Sunda bervariasi, ukuran panjang minimum ikan kembung lelaki yang diamati yaitu 110
mm sedangkan panjang maksimumnya 224 mm. Pada ikan kembung lelaki jantan dan
betina memiliki pola pertumbuhan yaitu pola allomterik negatif. Faktor kondisi rata
rata ikan betina lebih besar dibandingkan faktor kondisi rata rata ikan jantan. Nisbah
kelamin ikan kembung lelaki jantan dan betina adalah tidak seimbang (3:7). Ikan jantan
maupun ikan betina pada saat pertama kali matang gonad terdapat pada ukuran selang
kelas panjang 175 187 mm. Hubungan antara fekunditas dengan bobot tubuh lebih
erat dibandingkan dengan panjang total tubuh adalah erat. Potensi reproduksi berkisar

antara 13469-41584 butir telur pada kisaran panjang tubuh 136-185 mm dengan bobot
tubuh 40-95 gram. Pola pemijahan ikan kembung lelaki bersifat total spawner.
Saran
Saran untuk melengkapi informasi mengenai ikan kembung lelaki adalah perlu
adanya penelitian terkait dengan pengamatan yang lebih lama mengenai aspek
pertumbuhan dan biologi reproduksi agar mendapatkan informasi pertumbuhan dan
biologi reproduksi ikan kembung lelaki yang lebih akurat, selain itu agar data yang
tersedia untuk pengelolaan ikan ini lebih lengkap, maka perlu adanya penelitian lebih
lanjut terkait dengan aspek kebiasaan makanan serta kajian stok ikan kembung lelaki.
DAFTAR PUSTAKA
Agustina D, Iriyanti N, Mugiyono S. 2013. Pertumbuhan dan konsumsi pakan pada
berbagai jenis itik lokal betina yang pakannya di suplementasi probiotik. Jurnal
Ilmiah Peternakan 1(2): 691 698.
Ambarwati DVS. 2008. Studi Biologi Reproduksi Ikan Layur (Superfamili
Trichiuroidea) di Perairan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat [skripsi].
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Brojo M. dan Sari SP. 2002. Biologi reproduksi ikan kurisi (nemipterus tambuloides
blkr.) yang didaratkan di tempat pelelangan ikan labuai{, pandeglang. Jurnal
Perikanan Indonesia. 2(1):9-13.
Biring D. 2011. Hubungan Bobot Panjang dan Faktor Kondisi Ikan Pari (Dasyatis
Kuhlii, Muller & Henle, 1841) yang Didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan
Paotere Makassar Sulawesi Selatan [skripsi]. Makassar (ID): Universitas
Hasanuddin.
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten. 2014. Buku Kelautan dan Perikanan
Dalam Angka 2014. Serang (ID): Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi
Banten.
Effendie MI. 1997. Biologi Perikanan. Yogyakarta (ID): Yayasan Pustaka Nusantara.
Effendie MI. 2002. Biologi Perikanan. Yogyakarta (ID): Yayasan Pustaka Nusantara.
Fandri D. 2012. Pertumbuhan dan reproduksi ikan kembung lelaki (Rastrelliger
kanagurta Cuvier 1817) di selat sunda. [Skripsi]. Bogor (ID): Departemen
Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor.
Irdayanto dan Wardiatno. 2014. Habitat lechitocladium angustiovum pada ikan
kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma) di perairan teluk banten dan
pelabuhan ratu. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 19(3):145-149.
Hariyanti. 2013. Fekunditas dan diameter telur ikan gabus (Channa Striata bloch, 1793)
di Danau Tempe, Kabupaten Wajo. Jurnal Saintek Perikanan. 8(2):18-24.
Hasibuan JS. 2015. Hubungan panjang bobot dan reproduksi ikan kembung lelaki
(Rastrelliger kanagurta) di perairan Selat Malaka Tanjung Beringin Serdang
Bedagai Sumatera Utara. [Skripsi]. Medan (ID): Universitas Sumatra Utara.
Habibun EA. 2011. Aspek Pertumbuhan Dan Reproduksi Ikan Ekor Kuning (Caesio
cuning) Yang Didaratkan Di Pangkalan Pendaratan Ikan Pulau Pramuka,
Kepulauan Seribu, Jakarta [skripsi]. Departemen Manajemen Sumberdaya
Perairan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Bogor.

Jayasankar P, Thomas PC, Paulton MP, dan Mathew J. 2004. Morphometric and genetic
analyzes of indian mackerel (Rastrelliger kanagurta) from peninsular india.
Journal of Asian Fisheries Science. 17:201-205.
Larasati DA. 2011. Kajian Biologi Reproduksi Ikan Kembung Perempuan (Rastrelliger
brachysoma Bleeker, 1851) Di Perairan Teluk Jakarta, Jakarta Utara [skripsi].
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu
Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Oktavia R, Pariwono JI, Manurung P. 2011. Variasi muka laut dan arus geostrofik
permukaan perairan selat sunda berdasarkan data pasut dan angina tahun 2008.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 3(2):127-152.
Oktaviani D. 2013. Etnozoologi, biologi reproduksi, dan pelestarian ikan lema
rastrelliger kanagurta (cuvier, 1816) di teluk mayalibit kabupaten raja ampat
papua barat Indonesia. [Desertasi]. Depok (ID): Universitas Indonesia.
Rifqie GL. 2007. Analisis Frekuensi Panjang Berat Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger
kanagurta) di Teluk Jakarta. . [Skripsi]. Bogor (ID): Departemen Manajemen
Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor.
Robiyanto M. 2006. Kebiasaan Makanan Ikan Tembang (Clupea fimbriata) Di Perairan
Ujung Pangkah, Jawa Timur [skripsi]. Departemen Manajemen Sumberdaya
Perairan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Solang M, Lamondo D. 2009. Peningkatan pertumbuhan dan indeks kematangan gonad
ikan nila (Oreochromis niloticus L.) melalui pemotongan sirip ekor. Torani
(Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan) 19(3): 143 149.
Sulistiono, Firmansyah A, Sofiah S, Brojo M, Affandi R, Mamangke J. 2007. Aspek
biologi ikan butini (Glossogobius matanensis) di Danau Towuti, Sulawesi
Selatan. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia 14(1): 13-22.
Sulistiono, Kurniati TH, Riani E, Watanabe S. 2001. Kematangan gonad beberapa jenis
ikan buntal (Tetraodon lunuris, T fluviatilis, T. reticularrs) di Perairan Ujung
Pangkah, Jawa Timur. Jurnal Iktiologi Indonesia 1(2): 25-30.
Suwarso. 2010. Biologi reproduktif, prefferensi habitat pemijahan dan dugaan stok
pemijah ikan kembung (Rastrelliger brachysoma, Fam. Scombridae) di pantai
utara jawa. Laporan Penelitian. Jakarta (ID): Balai Riset Perikanan Laut, Badan
Riset Kelautan Dan Perikanan, Kementerian Kelautan Dan Perikanan.
Syahriani J, Basyuni M, dan Suryanti A. 2015. Hubungan panjang bobot dan reproduksi
ikan kembung lelaki Rastrelliger kanagurta (Cuvier, 1817) di perairan Selat
Malaka Tanjung Beringin Serdang Bedagai Sumatera Utara. Medan (ID):
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara.
Triana N. 2011. Pola Pertumbuhan dan Reproduksi Ikan Kuniran (Upeneus moluccensis
Bleeker, 1855) di Perairan Teluk Jakarta, Jakarta Utara [skripsi]. Bogor (ID):
Institut Pertanian Bogor.
Walpole RE. 1995. Pengantar Statistika Edisi Ke 3. Jakarta (ID) : PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Yuda LK, Iriana D, dan Khan AMA. Tingkat keramahan lingkungan alat tangkap bagan
di perairan pelabuhanratu kabupaten sukabumi. Jurnal Perikanan dan Kelautan.
3(3):7-13.

Yusra. 2013. Nisbah kelamin dan pertama kali matang gonad ikan laying (Decapterus
macrosoma bleeker, 1851) tertangkap di perairan selat makassar, kabupaten
barru, sulawesi selatan. [Skripsi]. Makassar (ID): Fakultas Ilmu Kelautan dan
Perikanan, Universitas Hasanuddin Makassar.
Yusron M. 2005. Analisis potensi dan tingkat pemanfaatan ikan pelagis kecil di perairan
kepulauan samataha dan sekitarnya. [Tesis]. Semarang (ID): Program
Pascasarjana, Universita Diponegoro Semarang.