Anda di halaman 1dari 18

KONSEP MEDIS VERTIGO

A. Pengertian
Vertigo

adalah

suatu

penyakit

yang

berhubungan

dengan

keseimbangan saraf, terutama karena gangguan di dalam telinga (bagian


keseimbangan) dan keluhan yang ada adalah pusing tujuh keliling disertai
dengan bunyi berdengung pada kuping (tinitus).
(Brunner and Suddarth. 2001)
B. Etiologi
Penyebab dari vertigo bermacam-macam, bisa karena mabuk
perjalanan, sehabis naik jet coaster, atau karena infeksi pada telinga bagian
dalam sampai karena tumor otak kecil juga trauma pada cerebellum.
C. Patofisiologi
Vertigo yang dalam bahasa Yunani artinya memutar ini, sebagian besar
disebabkan oleh gangguan sistem vestibular yang sering dibarengi gangguan
sistem otonom (mual, pucat, keringat dingin, muntah, perubahan denyut nadi,
tekanan darah dan diare) karena sistem keseimbangan dalam otak terganggu
sehingga perasaan berputar muncul. Yang mengatur sistem keseimbangan
adalah sistem vestibuler, sistem cerebellum (otak kecil) dan sistem korteks
(lapisan luar) serebri dan batang otak.
"Vertigo karena gangguan pada sistem vestibular ini datangnya bisa
mendadak (akut) dan dirasakan berat," kata dr. Robert Loho Sp.S. dari RS
Siloam Gleneagles, Lippo Karawaci, Tangerang. "Penderita merasa seolaholah berputar, pusing tujuh keliling sampai mual dan muntah-muntah."

Page
1

Pathways

Trauma
cerebellum

Ukuran lensa mata


tidak sama

Aliran darah
ke otak

Infeksi pada
telinga dalam (vestibuler)

Vertigo

Penurunan
fungsi kognitif

Tekanan intra
kranial

Cemas

Nyeri

Stress meningkat

Tekanan pada
otot leher

Koping individu tidak


efektif

Gangguan pola
tidur

D. Klasifikasi vertigo
Page
2

Vertigo diklasifikasikan menjadi dua :


1. Vertigo ringan :
a. Vertigo posisional, yakni vertigo akan muncul hanya pada sikap atau
posisi kepala tertentu, misalnya miring ke kanan atau kiri dan telinga
yang terganggu ditempatkan di sebelah bawah. Sindrom ini pada
umumnya hanya berlangsung beberapa detik atau menit saja, namun
disertai rasa mual.
b. Vertigo situasional yakni vertigo muncul setiap kita berhadapan
dengan keramaian, atau sebaliknya, saat kita berada di tengah
lapangan luas yang kurang penerangan.
c. Vertigo stress, yakni Penderita bisa saja mengalami gejala kepala
berputar tujuh keliling sampai muntah-muntah karena stress. Namun
begitu stress dapat dihilangkan, gejala akan sirna.
2. Vertigo berat :
a. Vertigo yang disebabkan karena adanya tumor di otak kecil
(cerebellum) sehingga harus dilakukan tindakan operasi untuk
mengatasinya.
b. Vertigo karena trauma diarea cerebellum dapat menyebabkan
gangguan

keseimbangan

karena

cerebellum

merupakan

pusat

keseimbangan sentral pada tubuh manusia.


c. Vertigo yang disebabkan karena infeksi pada area keseimbangan
dalam telinga (vestibular) yang sifatnya sangat sensitif terhadap
perubahan atau kelainan apa pun pada organ tersebut. Misalnya akibat
salesma berat, masuk angin, atau kurang tidur terjadi infeksi pada
telinga, sehingga aliran darah kurang sempurna. Semuanya ini bisa
menyebabkan vertigo.
E. Manifestasi klinis
Page
3

1.

Vertigo Sentral

Gejala yang khas bagi gangguan di batang otak misalnya diplopia, paratesia,
perubahan serisibilitas dan fungsi motorik. Biasanya pasien mengeluh lemah,
gangguan koordinasi, kesulitan dalam gerak supinasi dan pronasi tanyanye
secara berturut-turut (dysdiadochokinesia), gangguan berjalan dan gangguan
kaseimbangan. Percobaan tunjuk hidung yaitu pasien disuruh menunjuk jari
pemeriksa dan kemudian menunjuk hidungnya maka akan dilakukan dengan
buruk dan terlihat adanya ataksia. Namun pada pasien dengan vertigo perifer
dapat melakukan percobaan tunjuk hidung sacara normal. Penyebab vaskuler
labih sering ditemukan dan mencakup insufisiensi vaskuler berulang, TIA dan
strok. Contoh gangguan disentral (batang otak, serebelum) yang dapat
menyebabkan vertigo adalah iskemia batang otak, tumor difossa posterior,
migren basiler.
2.

Vertigo perifer
Lamanya vertigo berlangsung:
a.

Episode (Serangan ) vertigo yang berlangsung beberapa detik.


Vertigo perifer paling sering disebabkan oleh vertigo posisional
berigna (VPB). Pencetusnya adalah perubahan posisi kepala
misalnya berguling sewaktu tidur atau menengadah mengambil
barang dirak yang lebih tinggi. Vertigo berlangsung beberapa detik
kemudian mereda. Penyebab vertigo posisional berigna adalah
trauma kepala, pembedahan ditelinga atau oleh neuronitis
vestibular prognosisnya baik gejala akan menghilang spontan.

b. Episode Vertigo yang berlangsung beberapa menit atau jam.


Dapat dijumpai pada penyakit meniere atau vestibulopati
berulang. Penyakit meniere mempunyai trias gejala yaitu
ketajaman pendengaran menurun (tuli), vertigo dan tinitus. Usia

Page
4

penderita biasanya 30-60 tahun pada permulaan munculnya


penyakit.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan penurunaan pendengaran dan
kesulitan dalam berjalan Tandem dengan mata tertutup. Berjalan
tandem yaitu berjalan dengan telapak kaki lurus kedepan, jika
menapak tumit kaki yang satu menyentuh jari kaki lainnya dan
membentuk garis lurus kedepan.
Sedangkan pemeriksaan elektronistagmografi sering memberi
bukti bahwa terdapat penurunan fungsi vertibular perifer.
Perjalanan yang khas dari penyakit meniere ialah terdapat
kelompok serangan vertigo yang diselingi oleh masa remisi.
Terdapat kemungkinan bahwa penyakit akhirnya berhenti tidak
kambuh

lagi

pada

sebagian

terbesar

penderitanya

dan

meninggalkan cacat pendengaran berupa tuli dan timitus dan


sewaktu

penderita

mengalami

disekuilibrium

(gangguan

keseimbangan) namun bukan vertigo. Penderita sifilis stadium 2


atau 3 awal mungkin mengalami gejala yang serupa dengan
penyakit meniere jadi kita harus memeriksa kemungkinana sifilis
pada setiap penderi penyakit meniere.
c. Serangan Vertigo yang berlangsung beberapa hari sampai beberapa
minggu.
Neuronitis vestibular merupakan kelainan yang sering dijumpai
pada penyakit ini mulanya vertigo, nausea, dan muntah yang
menyertainya ialah mendadak. Gejala ini berlangsung beberapa
hari sampai beberapa minggu. Sering penderita merasa lebih lega
namun tidak bebas sama sekali dari gejala bila ia berbaring diam.
Pada Neuronitis vestibular fungsi pendengaran tidak terganggu
kemungkinannya disebabkan oleh virus. Pada pemeriksaan fisik
dijumpai nistagmus yang menjadi lebih basar amplitudonya. Jika
Page
5

pandangan digerakkan menjauhi telinga yang terkena penyakit ini


akan mereda secara gradual dalam waktu beberapa hari atau
minggu.
Pemeriksaan

elektronistagmografi

(ENG)

menunjukkan

penyembuhan total pada beberapa penyakit namun pada sebagian


besar penderita didapatkan gangguan vertibular berbagai tingkatan.
Kadang terdapat pula vertigo posisional benigna. Pada penderita
dengan serangan vertigo mendadak harus ditelusuri kemungkinan
stroke serebelar. Nistagmus yang bersifat sentral tidak berkurang
jika dilakukan viksasi visual yaitu mata memandang satu benda
yang tidak bergerak dan nigtamus dapat berubah arah bila arah
pandangan berubah. Pada nistagmus perifer, nigtagmus akan
berkurang bila kita menfiksasi pandangan kita suatu benda contoh
penyebab vetigo oleh gangguan system vestibular perifer yaitu
mabok kendaraan, penyakit meniere, vertigo pasca trauma
NO

VERTIGO PERIFERAL

VERTIGO SENTRAL (NON-

(VESTIBULOGENIK)
Pandangan gelap

VESTIBULER)
Penglihatan ganda

Rasa lelah dan stamina menurun

Sukar menelan

Jantung berdebar wajah

Kelumpuhan otot-otot

Hilang keseimbangan

Sakit kepala yang parah

Tidak mampu berkonsentrasi

Kesadaran terganggu

Perasaan seperti mabuk

Tidak mampu berkata-kata

Otot terasa sakit

Hilangnya koordinasi

Mual dan muntah-muntah

Mual dan muntah-muntah

Memori dan daya pikir menurun

Tubuh terasa lemah

10

Sensitif pada cahaya terang dan

11

Suara
Berkeringat
Page
6

F. Pemeriksaan Penunjang
1.

Tes Romberg yang dipertajam


Sikap kaki seperti tandem, lengan dilipat pada dada dan mata kemudian
ditutup. Orang yang normal mampu berdiri dengan sikap yang romberg
yang dipertajam selama 30 detik atau lebih
2. Tes Melangkah ditempat (Stepping Test)
Penderita disuruh berjalan ditempat dengan mata tertutup sebanyak 50
langkah. Kedudukan akhir dianggap abnormal jika penderita beranjak
lebih dari satu meter atau badan berputar lebih dari 30 derajat
3. Salah Tunjuk(post-pointing)
Penderita merentangkan lengannya, angkat lengan tinggi-tinggi
(sampai fertikal) kemudian kembali kesemula
4. Manuver Nylen Barang atau manuver Hallpike
Penderita duduk ditempat tidur periksa lalu direbahkan sampai kepala
bergantung dipinggir tempat tidur dengan sudut 300 kepala ditoleh
kekiri lalu posisi kepala lurus kemudian menoleh lagi kekanan pada
keadaan abnormal akan terjadi nistagmus
5. Tes Kalori = dengan menyemprotkan air bersuhu 300 ketelinga
penderita
6. Elektronistagmografi
Yaitu alat untuk mencatat lama dan cepatnya nistagmus yang timbul
7. Posturografi
Yaitu tes yang dilakukan untuk mengevaluasi system visual, vestibular
dan somatosensorik.

G. Penatalaksanaan
1.

Vertigo posisional Benigna (VPB)

Page
7

Latihan : latihan posisional dapat membantu mempercepat remisi pada


sebagian besar penderita VPB. Latihan ini dilakukan pada pagi hari
dan merupakan kagiatan yang pertama pada hari itu. Penderita duduk
dipinggir tempat tidur, kemudian ia merebahkan dirinya pada posisinya
untuk membangkitkan vertigo posisionalnya. Setelah vertigo mereda ia
kembali keposisi duduk \semula. Gerakan ini diulang kembali sampai
vertigo melemah atau mereda. Biasanya sampai 2 atau 3 kali sehari,
tiap hari sampai tidak didapatkan lagi respon vertigo.
Obat-obatan : obat anti vertigo seperti miklisin, betahistin atau
fenergen dapat digunakan sebagai terapi simtomatis sewaktu
melakukan latihan atau jika muncul eksaserbasi atau serangan akut.
Obat ini menekan rasa enek (nausea) dan rasa pusing. Namun ada
penderita yang merasa efek samping obat lebih buruk dari vertigonya
sendiri. Jika dokter menyakinkan pasien bahwa kelainan ini tidak
berbahaya dan dapat mereda sendiri maka dengan membatasi
perubahan posisi kepala dapat mengurangi gangguan.
2. Neurotis Vestibular
Terapi farmokologi dapat berupa terapi spesifik misalnya pemberian
anti biotika dan terapi simtomatik. Nistagmus perifer pada neurinitis
vestibuler lebih meningkat bila pandangan diarahkan menjauhi telinga
yang terkena dan nigtagmus akan berkurang jika dilakukan fiksasi
visual pada suatu tempat atau benda.
3. Penyakit Meniere
Sampai saat ini belum ditemukan obat khusus untuk penyakit meniere.
Tujuan dari terapi medik yang diberi adalah:

Meringankan serangan vertigo: untuk meringankan vertigo dapat


dilakukan upaya : tirah baring, obat untuk sedasi, anti muntah dan
anti vertigo. Pemberian penjelasan bahwa serangan tidak

Page
8

membahayakan jiwa dan akan mereda dapat lebih membuat


penderita tenang atau toleransi terhadap serangan berikutnya.

Mengusahakan agar serangan tidak kambuh atau masa kambuh


menjadi lebih jarang. Untuk mencegah kambuh kembali, beberapa
ahli ada yang menganjurkan diet rendah garam dan diberi diuretic.
Obat anti histamin dan vasodilator mungkin pula menberikan efek
tambahan yang baik.

Terapi bedah: diindikasikan bila serangan sering terjadi, tidak


dapat diredakan oleh obat atau tindaka konservatif dan penderita
menjadi infalid tidak dapat bekerja atau kemungkinan kehilangan
pekerjaannya.

4. Presbiastaksis (Disekuilibrium pada usia lanjut)


Rasa tidak setabil serta gangguan keseimbangan dapat dibantu obat
supresan vestibular dengan dosis rendah dengan tujuan meningkatkan
mobilisasi. Misalnya Dramamine, prometazin, diazepam, pada
enderita ini latihan vertibuler dan latihan gerak dapat membantu. Bila
perlu beri tongkat agar rasa percaya diri meningkat dan kemungkinan
jatuh dikurangi.
5. Sindrom Vertigo Fisiologis
Misalnya mabok kendaraan dan vertigo pada ketinggian terjadi karena
terdapat ketidaksesuaian antara rangsang vestibuler dan visual yang
diterima otak. Pada penderita ini dapat diberikan obat anti vertigo.
6. Strok (pada daerah yang didarahi oleh arteria vertebrobasiler)
TIA: Transient Ischemic Atack yaitu stroke ringan yang gejala
klinisnya pulih sempurna dalam kurun waktu 24 jam
RIND: Reversible Ischemic Neurologi Defisit yaitu penyembuhan
sempurna terjadi lebih dari 24 jam.

Page
9

Meskipun ringan kita harus waspada dan memberikan terapi atau


penanganan yang efektif sebab kemungkinan kambuh cukup besar, dan jika kambuh
bisa meninggalkan cacat.

Page
10

KONSEP KEPERAWATAN VERTIGO


1. Pengkajian
a.

Keluhan utama

Keluhan yang dirasakan pasien pada saat dilakukan pengkajian.


b.

Riwayat kesehatan sekarang

Riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah sakit. Pada pasien
vertigo tanyakan adakah pengaruh sikap atau perubahan sikap terhadap
munculnya vertigo, posisi mana yang dapat memicu vertigo.
c.

Riwayat kesehatan yang lalu

Adakah riwayat trauma kepala, penyakit infeksi dan inflamasi dan penyakit tumor
otak. Riwayat penggunaan obat vestibulotoksik missal antibiotik, aminoglikosid,
antikonvulsan dan salisilat.
d.

Riwayat kesehatan keluarga

Adakah riwayat penyakit yang sama diderita oleh anggota keluarga lain atau
riwayat penyakit lain baik
e.

Aktivitas / Istirahat

Letih, lemah, malaise

Keterbatasan gerak

Ketegangan mata, kesulitan membaca

Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala.

Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau
karena perubahan cuaca.

f.

Sirkulasi

Riwayat hypertensi

Denyutan vaskuler, misal daerah temporal.

Pucat, wajah tampak kemerahan.

Page
11

g.

Integritas Ego

Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu

Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi

Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala

Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik).


o Makanan dan cairan

Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang,keju,


alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus,hotdog, MSG
(pada migrain).

Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)

Penurunan berat badan5.


o Neurosensoris

h.

Pening, disorientasi (selama sakit kepala)

Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.

Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.

Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis.

Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore

Perubahan pada pola bicara/pola pikir

Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.

Penurunan refleks tendon dalam

Papiledema.

Nyeri/ kenyamanan

Karakteristik

nyeri

tergantung

pada

jenis

sakit

kepala,

migrain,ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.

Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah.

Fokus menyempit
Page
12

misal

i.

j.

Fokus pada diri sendiri

Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.

Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.

Keamanan

Riwayat alergi atau reaksi alergi

Demam (sakit kepala)

Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis

Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus).8.

Interaksi sosial
Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan
dengan penyakit.

k.

Penyuluhan / pembelajaran

Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga

Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. Kontrasepsioral/hormone,


menopause.

l.

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum
1. Sistem persepsi sensori
Adakah rasa tidak stabil, disrientasi, osilopsia yaitu suatu ilusi bahwa
benda yang diam tampak bergerak maju mundur.
2. Sistem Persarafan
Adakah nistagmus berdasarkan beberapa pemeriksaan baik manual
maupun dengan alat.
3. Sistem Pernafasan
Adakah gangguan pernafasan.
4.

Sistem Kardiovaskuler
Adakah terjadi gangguan jantung.

Page
13

5. Sistem Gastrointestinal
Adakah Nausea dan muntah
6. Sistem integument
7. Sistem Reproduksi
8. Sistem Perkemihan

Pola Fungsi Kesehatan


a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Adakah kecemasan yang dia lihatkan oleh kurangnya pemahaman
pasien dan keluarga mengenai penyakit, pengobatan dan prognosa.
b.

Pola aktivitas dan latihan


Adakah pengaruh sikap atau perubahan sikap terhadap munculnya
vertigo, posisi yang dapat memicu vertigo.

c. Pola nutrisi metabolisme


Adakah nausea dan muntah
d. Pola eliminasi
e. Pola tidur dan istirahat
f. Pola Kognitif dan perseptua
Adakah disorientasi dan asilopsia
g. Persepsi diri atau konsep diri
h. Pola toleransi dan koping stress
i. Pola sexual reproduksi
j. Pola hubungan dan peran
k. Pola nilai dan kenyakinan
2. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial.

Page
14

b. Gangguan pola istirahat dan tidur berhubungan dengan tekanan pada otot
leher.
c. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan stres yang meningkat.
d. Ansietas berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif dan kurangnya
pengetahuan terhadap penyakitnya.
3. Intervensi
Diagnosa
Tujuan, KH
Nyeri
berhubungan Rasa nyeri berkurang setelah
dengan

peningkatan dilakukan tindakan

tekanan intrakranial.

intensitasnya, lokasinya

keperawatan selama 1x 24
jam dengan KH :

dan lamanya.

Catat kemungkinan

pasien mengatakan nyeri

patofisiologi yang khas,

berkurang.

misalnya adanya infeksi,

Pasien menunjukan skala

trauma servikal.

nyeri pada angka 3.

Intervensi
Teliti keluhan nyeri, catat

Ekspresi wajah klien

pada kepala

rileks.

Berikan kompres dingin


Anjurkan untuk beristirahat
diruangan yang tenang

Gangguan
istirahat

pola Setelah dilakukan tindakan


dan

berhubungan
tekanan
leher.

tidur keperawatan selama 1 x 24

pada leher sesuai dengan

dengan jam, istirahat dan tidur klien

pada

otot dapat terpenuhi dengan KH :

Berikan kompres hangat


kebutuhan.

Masase daerah leher jika

Pasien tidak sering

pasien dapat mentolelir

terbangun.

sentuhan.

Pasien tampak segar


wajahnya saat bangun
tidur.
Page
15

Koping individu tidak

Individu akan tahu tentang

efektif berhubungan

koping yang ia lakukan tidak

koping, seperti pemakaian

dengan stres yang

efektif setelah dilakukan

alkohol, kebiasaan

meningkat.

tindakan keperawatan 1 x 24

merokok, pola makan,

jam dengan KH:

strategi relaksasi.

Pasien akan

ramah dan perhatian. Ambil

perilaku koping yang

keuntungan dari kegiatan

tidak efektif dan

yang dapat diajarkan.

penurunan
kognitif
kurangnya

Sarankan klien untuk

Pasien akan

mengekspresikan

mengungkapkan

perasaannya dan diskusi

kesadaran tentang

mengenai bagaimana

kemampuan koping

vertigo menggangu kerja

yang dimiliki.

dan kesenangan hidup.

Ansietas

Dekati klien dengan penuh

mengidentifikasi

akibatnya.

Diskusikan tentang perilaku

b/d Setelah dilakukan tindakan

individual dari sakit kepala

fungsi keperawatan selama 1x 24


dan jam pasien tahu akan kondisi

bila diketahui.

penyakitnya dengan KH :

pengetahuan terhadap

Pasien mengungkapkan

penyakitnya.

kondisinya dan

Page
16

Diskusikan etiologi

Bantu pasien dalam


mengidentifikasi faktor
presdiposisi

Identifikasi dan diskusikan

bagaimana

resiko timbulnya bahaya

pengobatannnya.

yang tidak nyata dan terapi

Ekspresi wajah pasien

yang bukan terapi medis.

tidak tampak gelisah.

Diskusikan tentang
pentingnya posisi/ letak
tubuh yang normal.

Page
17

DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth. (2001). Text book of Medical-Surgical Nursing. EGC.
Jakarta.
Doengoes Merillynn. (1999) (Rencana Asuhan Keperawatan). Nursing care plans.
Guidelines for planing and documenting patient care. Alih bahasa : I Made
Kariasa, Ni Made Sumarwati. EGC. Jakarta.
Prince A Sylvia. (1995). (patofisiologi). Clinical Concept. Alih bahasa : Peter
Anugrah EGC. Jakarta.
Wilkinson, Judith M & Ahern, Nancy R. 2011. Buku Saku Diagnosa Keperawatan
NANDA, NIC NOC. Edisi 9. Jakarta ; EGC.

Page
18