Anda di halaman 1dari 5

[Hadir dan Khawatir]

Oleh : Moh Izam Ghali

Stagnasi, salah paham, informasi masuk tanpa permisi.Merangsek meminta penjelasan.Menuntut


cepat alasan.Demi sebuah kesimpulan.
Siang menjelang sore.Seisi kepala wanita itu menggambarkan ibu kota.Ramai, pedagang
asongan lalu lalang menjajakan minuman.Kicauan burung tenggelam oleh klakson metromini
yang sahut menyahut persis ketukan empat perempat sebuah orkestra, saling menyalahkan,
saling mengabaikan.Disusul suara gemuruh mesin yang menjulang tinggi, nyaris tak
terabaikan(Katanya proyek kereta cepat Jakarta-Bandung).Lampu jalan sebatas wujud simbolis,
tak diperhatikan.Merah, kuning, hijau(ah semua sama saja).Raja jalanan hampir tak beri jalan,
sepanjang lintasan serasa milik sendiri.Para Entertainer jalanan antusisas melantunkan satu dua
lagu andalan (dari kejauhan terdengar ia bernyanyi).
Namun yang sesungguhnya ada disini.Wanita karir itu.Kepalanya mungkin bukan ibu
kota, namun isi kepalanya sedang ber-ibukota.Kebingungan seperti mencari-cari yang
hilang.Terjerembab meraba aspal.Sekilas mendesiskan sesuatu, Kaca mataku, kaca mataku,
kaca mataku, mana kaca mataku ? Berulang ulang ia katakan.Namun tidak ada yang peduli, tak
ada yang mendengar, semua melihat lantas pura-pura bodoh.Menutup mata.Tak mau tahu.Semua
terbirit-birit.Menyelamatkan diri.
Persis disebelahnya tergeletak pria muda berbadan gepal bugar namun terluka.Tak
sadarkan diri.Menggenggam sebuah alat rekam yang tak jarang kita jumpai di teve-teve.Pria
terluka itu adalah seorang wartawan, mungkin tidak, mungkin dia seorang kameramen.Apa yang
dilakukan seorang kameramen diatas aspal !? terjengkang pula !? namun darah menjelaskan
semua.Kepala kameramen itu terselimuti lautan darah.Tanpa perban.peristiwa itu baru saja
terjadi.

10 Hari yang lalu.


Maaaa !! Vina berangkat dulu yaa
Iya, hati hati dijalan Vin.
Hari itu, adalah hari pertamanya bekerja di salah satu percetakan ternama di Jakarta.
Hari itu, 4 Januari 2016.
Di kantor
Mbae gimana laporan kemaren ?
Hmm, yang mana slim ?
Yang kemaren pejabat korupsi dana APBD, gimana sih Mbae, baru kamaren kok lupa.Ga niat
kerja ya ?bicara ngawur
Sembarangan lu slim,itu berita kan udah dari jaman kapan, lagian aku juga baru
masuk.tersenyum ringan.

Itu Muslim, rekan kerjanya sekaligus kameramen dan asisten pribadinya.Ia sudah kenal
Muslim sejak SMA, satu sekolah beda dinding.Mereka bertemu dan akrab di salah satu ekskul
sekolah, Mading.Awalnya ia kira Muslim adalah Arek Suroboyo.Tapi ternyata dia orang
Madura(mungkin karena jembatan SuroMadu1).Tak sedikit orang menyereotipkan Muslim
sebagai seorang yang galak, sangar , dan bengis.Namun Muslim tidak begitu, dia memiliki
perangai yang baik dan humoris.Walau begitu, perlahan Muslim bisa melebur dan diterima oleh
teman dan rekan kerja lainnya.Muslim lebih dulu diterima di percetakan professional ini.Sebab
dalam studinya, Muslim memiliki kualitas disiplin yang berbeda, semua bentuk disiplin itu ada
dan menjamah tak berhenti dalam rutinitasnya(Ah, sarajana muda).Omong omong Muslim hanya
lima bulan lebih muda darinya.
Vin, gimana ? kamu nyamankan bekerja disini ?
Iya Pak, selepas seminggu, pasti sudah akrab.bicara ringan
Bapak penasaran, kira kira berita apa ya yang akan kamu muat beberapa hari mendatang ?
Pastinya hangat dan teraktual Pak.jawab antusias sambil menyeringai tipis.
Kemampuan wanita karir ini memang tak bisa diragukan lagi.Semasa remajanya ia
pernah mendapat gelar juara, juara 1 lomba membaca dan menulis berita.Semua orang takjub,
bukan karena siapa juaranya, melainkan mengapa lomba itu ada.Karna sejak awal kehadiran
lomba itu, sejak awal pendaftaran lomba itu, semua orang tau. Semua orang tau siapa
pemenangnya.Vina Pringka Lestari.Namanya memang tak sepanjang dan sebanyak piala yang ia
dapat.Namun piala dan penghargaan yang ia dapat, menjelaskan semua, menjelaskan siapa dia
dibalik namanya.Kemampuan wanita karir ini memang tak bisa diragukan lagi.
Pulang larut malam bukanlah hobi Vina, ia adalah wanita baik baik.Wanita karir
bahkan.Tidak ada alasan baginya untuk pulang larut malam selain lembur kerja mengerjakan
laporan berita, untuk siap dicetak esok hari.Waktu adalah cambukan berkecamuk bagi
Vina.Tantangan membuatnya lebih kuat dari sebelumnya, membuatnya semakin bergairah
menuangkan ide idenya.
Pulang malem lagi Vin ?
Iya ni Ma, dari tadi beritanya belom kelar kelar.
Tapi ini udah hari ke empat lho Vin, mending kamu pulang sekarang aja, gimana ?
Aduh ma, ga bisa.Vina masih harus nyelesain 10 laporan berita lagi, besok deadline nya.
yaudahlah kalo emang gitu, tapi inget kesehatan kamu juga ya Vin, kesehatan nomor satu lho.
Iya Ma, besok pagi Vina pulang deh, janji.
10 laporan berita dalam satu malam.Menakjubkan.Vina benar-benar berpartisipasi dalam
mencerdaskan bangsa, Menghidupkan fungsi PERS, dan membuktikan dirinya bahwa ia layak
mengabdi pada negri.

Salah satu fungsi PERS adalah untuk membentuk opini masyarakat.Itulah Vina, Sang
Pembentuk.Semua berita itu terbungkus rapi lengkap dengan argumen narasumber dan
menjelma opini masyarakat.Berita Vina tersebar berhamburan melalui surat kabar, media atau
bahkan dari mulut ke mulut, mudah diakses,mudah didapat.Berita-berita itu bertaburan dalam
pergaulan,menjadi perbincangan hangat nan mengasyikan dalam pertemuan, dikunyah renyah
dalam hikmatnya perjamuan, atau bahkan menjadi basa-basi cemoohan dan penyesalan bagi
sebagian komplotan.Berita-berita itu berkembang seiring waktu dan pembahasan, disesuaikan
oleh siapa yang membahasnya,bagaimana penyamapaiannya dan bagaimana responnya.Hingga
pada akhirnya berita itu mengalami pergeseran yang pertanda informasi yang disampaikan Vina
telah berubah maknanya.Mungkin ada yang tidak sengaja merubahnya, tak sadarkan dalam
perbincangan amat dalam, atau mungkin ada yang sengaja merubahnya, memasukan bumbubumbu yang tak lazim dari sebuah masakan sehingga orang yang mendengar informasi hanya
mengagguk mengiyakan.Tak berkomentar.Tak tahu asal muasal bahwa berita yang mereka
dengar tak lagi sama.Terkadang yang awalnya hanya opini, sekejap merasuk menjelma sudut
pandang dan persepsi, meresap dan merasuki orang yang menghendaki dan terakhir menjadi
dogma dan terbawa dirutinitas sehari-hari.Demikianlah bagaimana tulisan bisa merubah
seseorang, menciptakan seseorang atau bahkan membunuh orang itu sendiri.Jangan pernah
mendustai informasi, jangan pernah percaya informasi, Jangan pernah meragukan
informasi.Jangan pernah ! dan akhirnya Memengaruhi adalah kata yang lebih tepat untuk
fungsi PERS yang kesekian(Ah sudahlah).
Vina pulang.Malam yang panjang baginya.Sepuluh laporan berita bagai sepuluh wahana
di Dufan.Mengasyikan.Namun fisik wanita karir ini terlalu lemah untuk semua itu, ringkih ditiup
angin.Rapuh.Otak yang ia kuras bahkan butuh lebih asupan gizi dari yang orang lain butuhkan.Ia
melangkah gontai menuju kamarnya, lantas tergeletak diatas kasur, meregangkan
badan.Tertidur.Mamanya hanya tersenyum manis memandangi wajah putri kecilnya yang
tumbuh dewasa.Menyelimuti Vina dengan selimut hangat miliknya,mencium keninnya.
Membiarkan Vina istirahat tanpa harus bertanya bagaimana kabarnya.Mengerti
keadaannya.Muslim tersenyum ringan berpamitan dengan Mama Vina, Mama Vina
tersenyum,menatap bermakna.Hari itu sabtu pagi.Vina pulang pagi.
Singkat cerita
Vina terbangun.Lantas melirik jam ditangan, menunjukan pukul 6 sore.Sepintas Vina
teringat sesuatu, namun tak yakin, seperti ada yang kurang.
Udah bangun Vin ?
Iya ma.bersuara malas nan berat sembari melawan kantuk.
Masih mencari-cari yang hilang.Mungkin tidak hilang.Mungkin yang dicari sedang bersembunyi
dalam pikiranya, bersemayam kelam dalam ingatan.Vina baru teringat janjinya bersama
Muslim.Sontak ia loncat dari kasurnya, bergegas terburu-buru.Membersihkan dirinya.Vina

berjanji dengan Muslim untuk makan malam.Makan malam ? tidak, Muslim hanya sebatas
teman.Partner In Crime.Mereka hanya ingin mendiskusikan peracangan kedepan,mengatur
jadwal, menata ulang keperluan, mengurutkan prioritas.Barangkali ada anggaran belanja bulanan
yang harus mereka diskusikan bersama beberapa teman lainnya.Beginilah Team Work
bekerja.Mengadakan rapat kecil-kecilan, diselingi makanan ringan atau bahkan secangkir
kopi.Para konseptor berkumpul membaca.Membaca ide ataupun membaca wajah.Nyaris tipis,
tak berbeda. Mereka mengangkat dan membedah satu persatu materi yang disajikan, mengkritik
yang janggal, mengembangkan ide jika perlu.Terakhir menyimpulkan dan memberi catatan pada
draft.Ya benar, itu adalah tim Development2 rancangan Muslim.Draft Novel kesekian Muslim
yang sedang di revisi.
Pukul 09.45 malam
Rapat Development selesai.Para konseptor memberi catatan kecil dibeberapa part novel yang
dianggap daya gedor3 nya belum mengena dan juga beberapa penyajian set-up anekdot yang
harus diperbaiki.Demikian catatan untuk Muslim.Catatan untuk Vina ? Perbanyak istirahat
barangkali.Vina lelah, tapi bukan perkumpulan develop novel Muslim sebabnya.Ada alasan yang
berpengaruh lebih pada Vina.
Lima hari kemudian
Sembari Vina mencari kacamatanya, Muslim terbangun, mengeluh kesakitan.Muslim
terkena percikan ledakan, kepalanya terbentur aspal.Hari itu 14 Januari 2016 Sarinah, Thamrin.
55 menit sebelum kejadian.
Vina sedang berada dikedai kopi, sebutlah starbucks.Reuni SMA mengharuskan wanita
karir ini untuk beristirahat sejenak, melepas rindu yang teramat dalam, menanyakan kabar karir
teman lainnya sambil berbicara ringan(Ah rasanya baru kemarin mereka lulus dan
perisahan).Ditemani beberapa temanya, Vina memesan kopi yang biasanya ia pesan(tanpa
sianida tentunya) Capuccino Latte.Tak terasa waktu begitu singkat, sudah dua puluh lima menit
mereka berbincang.Tiba-tiba, seorang berpakaian kaus oblong dilengkapi armor merangsek
berhenti merunduk dibalik salah satu mobil teman Vina.Apa yang dilakukan pria itu ? seperti
sedang bersembunyi, tidak lebih tepatnya berlindung.Gayanya seperti difilm-film.Tak lama suara
pistol menghujani telinga pelanggan.
Celaka !?Refleks Vina dalam hati
Celaka yang dimaksud bukan untuknya, ia tidak mengkhawatirkan dirinya, ia mengkhawatirkan
Muslim yang sedang menuju kedai kopi.Celaka petaka.