Anda di halaman 1dari 70

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Hipertensi dikenal secara umum sebagai penyakit kardiovaskular. Penyakit
ini diperkirakan menyebabkan 4,5% dari beban penyakit secara global dan
prevalensinya hampir sama besar di negara berkembang maupun di negara maju
(WHO, 2003). Penyakit ini merupakan salah satu faktor risiko utama gangguan
jantung. Selain mengakibatkan gagal jantung, hipertensi dapat mengakibatkan
terjadinya gagal ginjal maupun penyakit serebrovaskular (Depkes, 2006). Hipertensi
merupakan faktor risiko primer penyakit jantung dan stroke. Pada saat ini hipertensi
adalah faktor risiko ketiga terbesar yang menyebabkan kematian dini. Hipertensi
menyebabkan 62% penyakit kardiovaskular dan 49% penyakit jantung. Penyakit ini
telah membunuh 9,4 juta warga dunia setiap tahunnya. Badan Kesehatan Dunia
(WHO) memperkirakan jumlah hipertensi akan terus meningkat seiring dengan
jumlah penduduk yang membesar. Pada 2025 mendatang, diproyeksikan sekitar 29%
atau sekitar 1,6 miliar orang di seluruh dunia mengalami hipertensi (Tedjasukmana,
2012).

WHO menyebutkan, 40% negara ekonomi berkembang memiliki penderita


hipertensi, sedangkan negara maju hanya 35 %. Kawasan Afrika memegang posisi
puncak penderita hipertensi sebanyak 46%. Sementara kawasan Amerika sebanyak
35%, 36% terjadi pada orang dewasa menderita hipertensi (Candra, 2013). Untuk
kawasan Asia, penyakit ini telah membunuh 1,5 juta orang setiap tahunnya. Hal ini
menandakan satu dari tiga orang menderita tekanan darah tinggi. Menurut Khancit,
pada 2011 WHO mencatat ada satu miliar orang terkena hipertensi. Di Indonesia,
angka penderita hipertensi mencapai 32% pada 2008 dengan kisaran usia diatas 25
tahun. Jumlah penderita pria mencapai 42,7% , sedangkan 39,2% adalah wanita
(Candra, 2013). Di Indonesia angka kejadian hipertensi berkisar 6-15% dimana
masih banyak penderita yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan terutama
daerah pedesaan. Sementara itu, berdasarkan data NHANES (National Health and
Nutrition Examination Survey) memperlihatkan bahwa risiko hipertensi meningkat
sesuai dengan peningkatan usia. Data NHANES 2005-2008 memperlihatkan
kurang lebih 76,4 juta orang berusia 20 tahun adalah penderita hipertensi, berarti
1 dari 3 orang dewasa menderita hipertensi (Candra, 2013).
Menurut Data Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, hipertensi termasuk
dalam 5 besar penyakit terbanyak. Pada tahun 2011, penderita hipertensi sebanyak
6755 orang dan mengalami peningkatan pada tahun 2012 dengan jumlah penderita
sebanyak 20.116 orang (Dinkes, 2011, 2012). Hipertensi adalah penyebab kematian

utama ketiga di Indonesia untuk semua umur, yaitu mencapai 17-21 % dari
proporsi penduduk dan kebanyakan tidak terdeteksi (Depkes, 2008). Di Indonesia,

angka kejadian hipertensi itu berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskedas)


Departemen Kesehatan RI tahun 2007 mencapai sekitar 31% dan angkanya pun
meningkat 2-3 kali lipat. Data pasien hipertensi di Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo (RSCM) yang mengunjungi poli rawat jalan maupun rawat inap
periode tahun 2010-2012 sebanyak lebih dari 15.000 kunjungan penderita
(Girsang, 2013).
Secara nasional, 10 kabupaten/kota dengan prevalensi hipertensi pada
penduduk umur >18 tahun tertinggi adalah Natuna (53,3%), Mamasa (50,6%),
Katingan (49,6%), Wonogiri (49,5%), Hulu Sungai Selatan (48,2%), Rokan Hilir
(47,7%), Kuantan Senggigi (46,3%), Bener Meriah (46,1%), Tapin (46,1%), dan
Kota Salatiga (45,2%). Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai prevalensi
hipertensi pada penduduk umur >18 Tahun terendah adalah Jayawijaya (6,8%),
Teluk Wondama (9,4%), Bengkulu Selatan (11,0%), Kepulauan Mentawai
(11,1%), Tolikara (12,5%), Yahukimo (13,6%), Pegunungan Bintang (13,9%),
Seluma (14,6%), Sarmi (14,6%), dan Tulang Bawang (15,9%). Di Bengkulu
dimana kejadian hipertensi pada tahun 2007 sekitar 23,7 % dan pada tahun 2013
menurun menjadi 21,3 % (Rikesdas, 2013).
Efek dari hipertensi tersebut bagi individu berdampak pada kemandirian
pasien dalam melakukan aktivias sehari-hari, dimana dalam keadaaan sakit pasien
tidak dapat melakukan aktivias secara mandiri. Penyakit ini jika tidak terkontrol,
akan menyerang target organ dan dapat menyebabkan serangan jantung, stroke,

gangguan ginjal, serta kebutaan. Beberapa penelitian dilaporkan bahwa penyakit


hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan peluang 7 kali lebih besar
terkena stroke, 6 kali lebih besar terkena congestive heart failure, dan 3 kali lebih
besar terkena serangan jantung sehingga diperlukan tindakan untuk dapat
mengatasi penyakit ini (WHO, 2005). Salah satu tindakan yang dapat
memperbaiki status kesehatan seseorang adalah dengan memberikan tindakan
asuhan keperawatan yang holistik, dimana asuhan keperawatan dilakukan dengan
keyakinan bahwa setiap orang mempunyai kemampuan untuk merawat diri
sendiri sehingga membantu individu memenuhi kebutuhan hidup, memelihara
kesehatan dan kesejahteraannya (Dorothy, 2006).
Survey yang dilakukan di rumah sakit M. yunus Bengkulu dalam
penanganan pasien dalam melakukan asuhan keperawatan dimana asuhan
keperawataan yang ada meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi,
implementasi dan evaluasi perawat hanya berfokus dalam pemberian obat saja
tampa melakukan pemeriksaan fisik secara utuh dengan pasien, sehingga sulit
bagi pasien untuk mencapai kesembuhan yang optimal. Maka dari itu dalam kasus
ini penulis ingin melakukan tindakan keperawatan holisti yang berjudul Asuhan
Keperawatan Pada Pasien Ny. I, dengan Hipertensi di ruangan kenanga RSUD.
DR. M. Yunus Bengkulu tahun 2015.

B. Batasan Penulisan
Ruang lingkup penulisan makalah ini terbatas pada pemberian asuhan
keperawatan pada klien Tn. Y dengan hipertensi di Ruang teratai RSUD M.
Yunus

Bengkulu

meliputi

tahap

pengkajian,

perencanaan,

diagnosa,

implementasi, dan evaluasi.


C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Mendeskripsikan asuhan keperawatan pada klien dengan hipertensi, secara
komprehensip meliputi aspek bio, psiko, sosio, spiritual.
2. Tujuan khusus
Melalui pendekatan proses keperawatan aspek bio, psiko, sosio, spiritual
diharapkan mahasiswa:
1. Mendeskripsikan hasil pengkajian terhadap klien dengan hipertensi
2. Mendeskripsikan perumusan diagnosa keperawatan sesuai dengan
prioritas masalah.
3. Mendeskripsikan perencanaan dan rasional dalam praktek nyata sesuai
dengan masalah yang diprioritaskan.
4. Mendeskripsikan implementasi dalam praktek nyata sesuai dengan
masalah yang telah diprioritaskan.

5. Mendeskripsikan evaluasi hasil dari tindakan yang telah dilaksanakan


pada klien hipertensi.
D. Manfaat penulisan
1. Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan dan evaluasi yang diperlukan dalam pelaksanaan
praktek pelayanan keperawatan khususnya dengan hipertensi
2. Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan
Laporan studi kasus ini memberikan sumbangan kepada mahasiswa
keperawatan sebagai referensi untuk menambah wawasan dan bahan masukan
dalam kegiatan belajar mengajar yang berkaitan dengan asuhan keperawatan
pada klien dengan hipertensi
3. Bagi Profesi Keperawatan
Laporan studi kasus ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran
dan informasi tentang asuhan keperawatan pada klien dengan hipertensi

BAB II
TINJAUAN TEORI
A Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan curah
jantung dan/atau kenaikan pertahanan perifer (Brunner & Suddarth, 2002).
Menurut The Joint National Commitee of Prevention, Detection, Evaluation and
Treatment of The Blood Pressure (2004) dikatakan hipertensi jika tekanan
darah sistolik yang lebih besar atau sama dengan 140 mmHg atau peningkatan
tekanan darah diastolik yang lebih besar atau sama dengan 90mmHg.
Umumnya tekanan darah normal seseorang 120 mmHg/80 mmHg.
Hasil pemeriksaan tersebut dilakukan 2 atau lebih pemeriksaan dan diratarata.
B Etiologi Hipertensi
1 Stres atau perasaan tertekan.
Stress merupakan masalah yang memicu terjadinya hipertensi dimana
hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf
simpatis. Peningkatan saraf simpatis dapat menaikan tekanan darah secara
intermiten

(tidak

menentu).

Stress

yang

berkepanjangan

dapat

mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum


terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi
dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan
pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota
(Dunitz, 2001).

Kegemukan (Obesitas).
Perubahan struktur dan fungsi vaskuler berhubungan dengan patogenesis
hipertensi pada obesitas. Beberapa penelitian yang dilakukan oleh para
ahli melaporkan terjadinya penurunan komplians arteri, penurunan
distensibilitas dan penurunan fungsi endotel pada penderita obes
dibandingkan kontrol. Meskipun data tersebut menjelaskan potensi
hipertensi pada obesitas, tetapi mekanisme terjadinya hipertensi pada

obesitas masih belum jelas diketahui (Subardja, 2004).


Kebiasaan merokok.
Adapun hubungan merokok dengan hipertensi adalah nikotin akan
menyebabkan peningkatan tekana darah karena nikotin akan diserap
pembulu darah kecil dalam paru-paru dan diedarkan oleh pembulu darah
hingga ke otak, otak akan bereaksi terhadap nikotin dengan memberi
sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas efinefrin (Adrenalin). Hormon
yang kuat ini akan menyempitkan pembulu darah dan memaksa jantung
untuk bekerja lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi. Selain itu,
karbon monoksida dalam asap rokok menggantikan oksigen dalam darah.
Hal ini akan menagakibatkan tekana darah meningkat karena jantung
dipaksa memompa lebih cepat untuk memasukkan oksigen yang cukup
kedalam orga dan jaringan tubuh (Astawan, 2002).

Kurang berolahraga.
Aktivitas sangat mempengaruhi terjadinya hipertensi, dimana pada orang
yang kuat aktvitas akan cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung

yang lebih tingi sehingga otot jantung harus bekerja lebih keras pada tiap
kontraksi. Makin keras dan sering otot jantung memompa maka makin
5

besar tekanan yang dibebankan pada arteri (Amir, 2002 ).


Kelainan kadar lemak dalam darah (Dislipidemia).
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan
peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi
lipid yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL,

trigliserida serta penurunan kadar kolesterol HDL (Dunitz, 2001).


Konsumsi berlebihan garam, alkohol, dan makanan yang berlemak tinggi.
Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi
apabila terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan, akibat
gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam
yang berlebihan. Peningkatan pelepasan renin atau aldosteron maupun
penurunan aliran darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan
garam oleh ginjal. Peningkatan volume plasma akan menyebabkan
peningkatan volume diastolik akhir sehingga terjadi peningkatan volume
sekuncup dan tekanan darah. Peningkata preload biasanya berkaitan
dengan peningkatan tekanan sistolik (Amir,2002).

C Anatomi fisiologi sistem sirkulasi


1. Jantung
a. Anatomi Fisiologi jantung

10

Gambar 2.1 Anatomi Janung


(Sloane, 1994)
1) Dinding jantung
Dinding jantung tersusun dari tiga lapisan, yaitu :
a) Epikardium
Epikardium tersusun dari lapisan sel-sel mesothelial yang berada
di atas jaringan ikat.
b) Miokardium
Miokardium terdiri dari jaringan otot jantung yang berkontraksi
untuk memompa darah.
c) Endokardium
endokardium tersusun dari lapisan endothelial yang terletak di
atas jaringan ikat.
2) Ruang Jantung
Ruang jantung terdiri dari 4 bagian, yaitu :
a) Atrium kanan
Atrium kanan terletak dalam bagian superior kanan jantung,
menerima darah dari seluruh jaringan kecuali paru-paru yang
dibawa oleh vena kava superior, inferior, dan sinus koroner.
Atrium kanan berfungsi sebagai tempat penyimpanan darah dan

11

penyalur darah dari vena-vena sirkulasi sistemik yang mengalir ke


ventrikel kanan.
b) Atrium kiri
Atrium kiri terletak di bagian superior kiri janrung, berukuran
lebih kecil dari atrium kanan, tetapi dindingnya lebih tebal.
Atrium kiri menerima darah teroksigenasi dari 4 vena pulmonalis
yang berasal dari paru-paru. Atrium kiri memiliki dinding yang
tipis dan bertekanan rendah.
c) Ventrikel kanan
Ventrikel kanan terletak di bagian inferior kanan pada apeks
jantung. Darah meninggalkan ventrikel kanan melalui trunkus
pulmonar dan mengalir melewati jalur yang pendek ke paru-paru.
Ventrikel kanan berbentuk bulan sabit yang unik guna
menghasilkan kontraksi bertekanan rendah yang cukup untuk
mengalirkan darah ke dalam arteri pulmonalis.
d) Ventrikel kiri
Ventrikel kiri terletak di bagian inferior kiri pada apeks jantung.
Tebal dindingnya 3 kali tebal dinding ventrikel kanan. Darah
meninggalkan ventrikel kiri melalui aorta dan mengalir ke seluruh
bagian tubuh kecuali paru-paru. Ventrikel kiri memiliki otot-otot
yang tebal dengan bentuk yang menyerupai lingkaran sehingga
mempermudah pembentukan tekanan tinggi selama ventrikel
berkontraksi.

12

Ventrikel kanan dan kiri berfungsi untuk mendorong darah ke luar


jantung menuju aorta dan arteri pulmonalis yang membawa darah
meninggalkan jantung.
e) Katup jantung
(1) Katup atrioventrikularis
Katup trikuspidalis dan Katup mitralis
(2) Katup semilunaris
Katup aorta dan Katup pulmonalis
Keempat katup jantung ini berfungsi untuk mempertahankan aliran
darah searah melalui bilik-bilik jantung.
2. Anatomi fisiologi pembuluh darah

Gambar 2.2 Anatomi pembuluh darah (Sherwood, 2003).

13

Pembuluh darah adalah prasarana jalan bagi aliran darah keseluruh


tubuh. Berikut bagian-bagian darah pembuluh darah :
a

Arteri
Arteri terdiri dari beberapa bagian yaitu :
Arteri Kepala dan Leher, arteri vertebralis, arteri basilaris, arteri
subklavia: terdiri dari dekstra yaitu cabang dari arteri anonima dan sinitra
cabang dari arkus aorta, arteri Rongga perut terdiri dari : arteri seliaka, A.
splinika, A. mesenterika superior, A. renalis, A. spermatika dan Ovarika,

A. mesenterika Inferior dan A. marginalis dan arteri dinding Abdomen


Aorta
Merupakan pembuluh darah arteri terbesar keluar dari jantung bagian
ventrikel sinistra melalui aorta asendes membelok kebelakang melalui
radiks pulmonalis sinistra, turun sepanjang kolumna vertebralis menembus
diafragma, turun ke abdomen. Jalan arteri ini terdiri dari 3 bagian yaitu
aorta asenden, arkus aorta dan aorta desenden. Aorta asenden mempunyai
cabang yaitu aorta torakalis dan aorta abdominalis. Aorta adalah pembuluh
arteri utama yang berfungsi menghubungkan jantung dengan semua organ

utama tubuh (otak, perut, ginjal, dll).


Vena
Pembuluh darah vena adalah kebalikan dari arteri yang membawa
darah dari alat-alat tubuh kembali ke jantung. Vena terbesar adalah vena
pulmonalis. Pembuluh darah vena yang terdapat dalam tubuh yaitu, Vena
ke jantung meliputi : Vena cava superior, inferior dan pulmonalis, vena
yang bermuara pada vena cava superior yaitu vena aurikularis posterior,

14

vena

retromadibularis,

vena

jugularis

eksterna

posterior,

vena

supraskapularis, vena jugularis anterior, Vena kulit kepala : vena troklearis


dan vena supraorbitalis, vena temporalis superfisialis, aurikularis posterior
dan oksipitalis, Vena wajah: fasialis, profunda fasialis, transversa fasialis,
Vena pterigoideus : Vena maksilaris, fasialis, lingualis, oftalmika, Vena
tonsil dan palatum, vena punggung, vena yang bermuara pada vena cava
interior, anastomisis portal sistemik, Vena dinding pelvis, vena anggota
gerak atas dan vena anggota gerak bawah. Vena berfungsi membawa darah
d

kembali ke atrium jantung.


Kapiler
Pembuluh darah yang paling kecil sehingga disebut dengan pembuluh
rambut. Kapiler terdiri dari:
1. Kapiler arteri
2. Kapiler vena
Kapiler darah berfungsi sebagai medium untuk penyaluran makanan,
mineral, lemak, glukosa, dan asam amino ke jaringan. Juga merupakan
medium untuk mengangkat bahan buangan (Black, J. M. & Hawks, J. H.
2005).

D Patofisiologi hipertensi
Tekanan darah dipengaruhi volume sekuncup dan Total Peripheral
Resistance. Apabila terjadi peningkatan salah satu dari variabel tersebut yang
tidak terkompensasi maka dapat menyebabkan timbulnya hipertensi (Corwin,
2001). Tubuh memiliki sistem yang berfungsi mencegah perubahan tekanan
darah

secara

akut

yang

disebabkan

oleh

gangguan

sirkulasi

dan

15

mempertahankan stabilitas tekanan darah dalam jangka panjang. Sistem


pengendalian tekanan darah sangat kompleks. Pengendalian dimulai dari
sistem reaksi cepat seperti refleks kardiovaskuler melalui sistem saraf, refleks
kemoreseptor, respon iskemia, susunan saraf pusat yang berasal dari atrium,
dan arteri pulmonalis otot polos. Sedangkan sistem pengendalian reaksi
lambat melalui perpindahan cairan antara sirkulasi kapiler dan rongga
intertisial yang dikontrol oleh hormon angiotensin dan vasopresin. Kemudian
dilanjutkan sistem poten dan berlangsung dalam jangka panjang yang
dipertahankan oleh sistem pengaturan jumlah cairan tubuh yang melibatkan
berbagai organ (Corwin, 2001).
Patofisiologi hipertensi primer terjadi melalui mekanisme :
1. Curah jantung dan tahanan perifer
Peningkatan curah jantung terjadi melalui dua cara yaitu peningkatan
volume cairan atau preload dan rangsangan saraf yang mempengaruhi
kontraktilitas jantung. Curah jantung meningkat secara mendadak akibat
adanya rangsang saraf adrenergik. Barorefleks menyebabkan penurunan
resistensi vaskuler sehingga tekanan darah kembali normal. Namun pada
orang tertentu, kontrol tekanan darah melalui barorefleks tidak adekuat
sehingga terjadi vasokonstriksi perifer (Williams et al, 1998). Peningkatan
volume sekuncup yang berlangsung lama terjadi apabila terdapat
peningkatan volume plasma berkepanjangan akibat gangguan penanganan
garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam berlebihan. Peningkatan

16

pelepasan renin atau aldosteron maupun penurunan aliran darah ke ginjal


dapat mengubah penanganan air dan garam oleh ginjal. Peningkatan
volume plasma menyebabkan peningkatan volume diastolik akhir sehingga
terjadi peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah. Peningkata
preload biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan sistolik (Murni,
2011). Keseimbangan curah jantung dan tahanan perifer sangat
berpengaruh terhadap normalitas tekanan darah. Tekanan darah ditentukan
oleh konsentrasi sel otot halus yang terdapat pada arteriol kecil.
Peningkatan konsentrasi sel otot halus berpengaruh pada peningkatan
konsentrasi kalsium intraseluler. Peningkatan konsentrasi otot halus
mengakibatkan penebalan pembuluh darah arteriol yang dimediasi oleh
angiotensin dan menjadi awal meningkatnya tahanan perifer yang
irreversible. (Gray et al, 2005).
Peningkatan resistensi perifer disebabkan oleh resistensi garam
(hipertensi tinggi renin) dan sensitif garam (hipertensi rendah renin).
Penderita hipertensi tinggi renin memiliki kadar renin tinggi akibat jumlah
natrium dalam tubuh yang menyebabkan pelepasan angiotensin II.
Kelebihan angiotensin II menyebabkan vasokonstriksi dan memacu
hipertrofi dan proliferasi otot polos vaskular. Kadar renin dan angiotensin
II yang tinggi pada hipertensi berkorelasi dengan kerusakan vaskular.
Sedangkan pada pasien rendah renin, akan mengalami retensi natrium dan
air yang mensupresi sekresi renin. Hipertensi rendah renin akan diperburuk

17

dengan asupan tinggi garam (Chris at al, 2010) Jantung harus memompa
secara kuat dan menghasilkan tekanan lebih besar untuk mendorong darah
melintasi pembuluh darah yang menyempit pada peningkatan Total
Periperial Resistence. Keadaan ini disebut peningkatan afterload jantung
yang berkaitan dengan peningkatan tekanan diastolik. Peningkatan
afterload yang berlangsung lama, menyebabkan ventrikel kiri mengalami
hipertrofi. Terjadinya hipertrofi mengakibatkan kebutuhan oksigen
ventrikel semakin meningkat sehingga ventrikel harus mampu memompa
darah lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tesebut. Pada hipertrofi,
serat-serat otot jantung mulai menegang melebihi panjang normalnya yang
akhirnya menyebabkan penurunan kontraktilitas dan volume sekuncup
(Wibowo, 2011).
2). Sistem renin-angiotensin
Ginjal mengontrol tekanan darah melalui pengaturan volume cairan
ekstraseluler dan sekresi renin. Sistem renin-angiotensin merupakan
sistem endokrin penting dalam pengontrolan tekanan darah. Renin
disekresi oleh juxtaglomerulus aparantus ginjal sebagai respon glomerulus
underperfusion, penurunan asupan garam, ataupun respon dari sistem
saraf simpatetik Mekanisme terjadinya hipertensi melalui terbentuknya
angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme
(ACE). ACE memegang peranan fisiologis penting dalam pengaturan
tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi hati,

18

kemudian oleh hormon renin yang diproduksi ginjal akan diubah menjadi
angiotensin I (dekapeptida tidak aktif). Angiotensin I diubah menjadi
angiotensin II (oktapeptida sangat aktif) oleh ACE yang terdapat di paruparu. Angiotensin II berpotensi besar meningkatkan tekanan darah karena
bersifat sebagai vasokonstriktor melalui dua jalur, yaitu:
a. Meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH
diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal
untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya
ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh
(antidiuresis) sehingga urin menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya.
Untuk mengencerkan, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan
dengan cara menarik cairan dari bagian instraseluler. Akibatnya volume
darah meningkat sehingga meningkatkan tekanan darah.
b. Menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron
merupakan hormon steroid yang berperan penting pada ginjal untuk
mengatur volume cairan ekstraseluler. Aldosteron mengurangi ekskresi
NaCl dengan cara reabsorpsi dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi
NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume
cairan ekstraseluler yang pada akhirnya meningkatkan volume dan
tekanan darah.
3). Sistem saraf simpatis

19

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah


terletak di pusat vasomotor pada medula otak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis
dan keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan
abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls
yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada
titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin yang merangsang
serabut saraf paska ganglion ke pembuluh darah, di mana dengan
dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah.
Sirkulasi sistem saraf simpatis menyebabkan vasokonstriksi dan dilatasi
arteriol.

Sistem

saraf

otonom

memiliki

peran

penting

dalam

mempertahankan tekanan darah. Hipertensi terjadi karena interaksi antara


sistem saraf otonom dan sistem renin-angiotensin bersama dengan faktor
lain termasuk natrium, volume sirkulasi, dan beberapa hormon.30
Hipertensi rendah renin atau hipertensi sensitif garam, retensi natrium
dapat disebabkan oleh peningkatan aktivitas adrenergik simpatis atau
akibat defek pada transpor kalsium yang berpapasan dengan natrium.
Kelebihan

natrium

menyebabkan

vasokonstriksi

yang

mengubah

pergerakan kalsium otot polos (Anggi, 2010).


4). Perubahan struktur dan fungsi pembuluh darah
Perubahan struktural dan fungsional sistem pembuluh darah perifer
bertanggung jawab terhadap perubahan tekanan darah terutama pada usia

20

lanjut. Perubahan struktur pembuluh darah meliputi aterosklerosis,


hilangnya elastisitas jaringan ikat, dan penurunan relaksasi otot polos
pembuluh darah, yang mengakibatkan penurunan kemampuan distensi dan
daya regang pembuluh darah.23 Sel endotel pembuluh darah juga
memiliki peran penting dalam pengontrolan pembuluh darah jantung
dengan cara memproduksi sejumlah vasoaktif lokal yaitu molekul oksida
nitrit dan peptida endotelium. Disfungsi endotelium banyak terjadi pada
kasus hipertensi primer (Anggi, 2010).

Bagan. 2.1 patofisiologi hipertensi (Williams & Wilkins; 1998).


E Manifestsi klinis
Sebagian

besar

manifestasi

hipertensi bertahun-tahun, dan berupa :

klinis

timbul

setelah

mengalami

21

Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah,

2
3

akibat peningkatan tekanan darah intrakranium


Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi
Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan

4
5

saraf pusat
Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus
Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan

kapiler
F Klasifikasi hipertensi :
a Berdasarkan Nilai Tekanan Darahnya
Pada tahun 2004, The Joint National Commitee of Prevention,
Detection, Evaluation and Treatment of The Blood Pressure (JNC-7) mengeluarkan
batasan baru untuk klasifikasi tekanan darah, <120/80 mmHg adalah batas
optimal untuk risiko penyakit kardiovaskular. Didalamnya ada kelas baru
dalam klasifikasi tekanan darah yaitu pre-hipertensi. Kelas baru prehipertensi tidak digolongkan sebagai penyakit tapi hanya digunakan untuk
mengindikasikan bahwa seseorang yang masuk dalam kelas ini memiliki
resiko tinggi untuk terkena hipertensi, penyakit jantung koroner dan stroke
dengan demikian baik dokter maupun penderita dapat mengantisipasi
kondisi ini lebih awal, hingga tidak berkembang menjadi kondisi yang
lebih parah.

Tabel 2.1 Klasifikasi tekanan darah menurut WHO / ISH


Klasifikasi Tekanan
Darah

Hipertensi berat

Tekanan Darah
Sistolik (mmHg)

Tekanan Darah
Diastolik (mmHg)

180

110

22

Hipertensi sedang
Hipertensi ringan

160-179
140-159

100-109
90-99

Hipertensi perbatasan

140-149

90-94

Hipertensi sistolik
perbatasan
Hipertensi sistolik
terisolasi
Normotensi

140-149

< 90

> 140

< 90

Optimal

< 140

< 90

< 120

< 80

Dikutip dari: Mansjoer, dkk, Nefrologi dan Hipertensi. Jakarta: Media, 2001.

Berdasarkan Etiologinya
Hipertensi berdasarkan etiologi / penyebabnya dibagi menjadi 2 :
1

Hipertensi Primer atau Esensial


Hipertensi primer atau yang disebut juga hipertensi esensial atau
idiopatik adalah

hipertensi

yang

tidak

diketahui

etiologinya/penyebabnya. Paling sedikit 90% dari semua penyakit


hipertensi dinamakan hipertensi primer.
2

Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang terjadi sebagai akibat
suatu penyakit, kondisi dan kebiasaan. Karena itu umumnya hipertensi
ini sudah diketahui penyebabnya. Umumnya penyebab Hipertensi
sekunder dapat disembuhkan dengan pengobatan kuratif, sehingga
penderita dapat terhindar dari pengobatan seumur hidup yang sering
kali tidak nyaman dan membutuhkan biaya yang mahal.

Krisis Hipertensi

23

Krisis hipertensi didefinisikan sebagai kondisi peningkatan tekanan


darah yang disertai kerusakan atau yang mengancam kerusakan terget
organ dan memerlukan penanganan segera untuk mencegah kerusakan
atau keparahan target organ. Hipertensi ini ditandai nilai tekanan darah
yang tinggi yaitu 180 mmHg/120 mmHg dan ada atau tidaknya
kerusakan target organ pada hipertensi.
4

Hipertensi emergensi (darurat)


Ditandai dengan tekanan darah Diastolik > 120 mmHg, disertai
kerusakan berat dari organ sasaran yang disebabkan oleh satu atau lebih
penyakit/kondisi akut. Keterlambatan pengobatan akan menyebabkan
timbulnya sequele atau kematian.

Hipertensi urgensi (mendesak)


Hipertensi mendesak ditandai dengan tekanan darah diastolik >120
mmHg dan dengan tanpa kerusakan/komplikasi minimum dari organ
sasaran. Tekanan darah harus diturunkan secara bertahap dalam 24 jam
sampai batas yang aman memerlukan terapi oral hipertensi. Penderita
dengan hipertensi urgensi tidak memerlukan rawat inap di rumah sakit.
Sebaiknya penderita ditempatkan diruangan yang tenang tidak terang
dan tekanan darah diukur kembali dalam 30 menit.

24

G Tes diagnostik
Pemeriksaan penunjang pasien hipertensi terdiri dari:
Tes darah rutin yang terdiri dari :

25

a. Glukosa darah (sebaiknya puasa) : normal pada hipertensi essensial, pada


kasus hipertensi yang menyerang organ ginjal, hasil gula darah puasa
meningkat diatas 150 mg/dl.
b. Kolesterol LDL dan HDL serum : meningkat diatas 45 mg/dl
c. Urinalisis : tidak mengalami gangguan terkecuali pada pasien dengan
hiperensi sekunder mengalami gangguan pada pola eliminasi
urin.
d. Elektrokardiogram : Normal, pada kasus komplikasi yang menyerang organ
jantung, hasil EKG menunjukkan adanya pembesaran jantung. (Yogiantoro,
2006).
H Penatalaksanaan medis
1

Penatalaksanaan farmakologis
a

Terapi Tunggal
Penggunaan satu macam obat anti hipertensi untuk pengobatan
hipertensi dapat direkomendasikan bila nilai tekanan darah awal
mendekati nilai tekanan darah sasaran. Menurut JNC-7 nilai tekanan
darah awal mendekati nilai tekanan darah sasaran apabila selisihnya
kurang dari 20 mmHg untuk tekanan darah sistolik dan kurang darah
sistolik dan kurang dari 10 mmHg untuk tekanan darah diastolik. Hal
ini meliputi penderita hipertensi tahap 1 dan tekanan darah
sasaran<140/90 mmHg.

26

Terapi Kombinasi
Bila menggunakan terapi obat kombinasi, biasanya dipilih obat obat
yang dapat meningkatkan efektivitas masing masing obat atau
mengurangi efek samping masing-masing obat. Memulai terapi
dengan kombinasi dua obat direkomendasikan untuk penderita
hipertensi tahap 2 atau penderita hipertensi yang nilai tekanan darah
sasarannya jauh dari nilai tekanan darah awal ( 20 mmHg untuk
tekanan darah sistolik dan 10 mmHg untuk tekanan darah diastolik).
Contohnya kombinasi obat hipertensi adalah : ACE inhibitor kalsium
antagonis, ACE inhibitor diuretik, ACE inhibitor beta bloker, beta
bloker diuretik, beta bloker kalsium antagonis.

2. Penatalaksanaan non farmakologis ( diet)


Penatalaksanaan non farmakologis (diet) sering sebagai pelengkap
penatalaksanaan farmakologis, selain pemberian obat-obatan antihipertensi
perlu terapi dietetik dan merubah gaya hidup (Yogiantoro, 2006).
I. Komplikasi
Salah satu alasan mengapa kita perlu mengobati tekanan darah tinggi adalah
untuk mencegah kemungkinan terjadinya komplikasi yang dapat timbul jika
penyakit ini tidak disembuhkan. Beberapa komplikasi hipertensi yang umum
terjadi sebagai berikut:
a. Stroke

27

Pada penderita hipertensi dapat mengakibatkan stroke yang merupakan


stroke iskemik, yang disebabkan karena trombosis intra-arterial atau
embolisasi dari jantung dan arteri besar. Sisanya 20% disebabkan oleh
pendarahan (haemorrhage), yang juga berhubungan dengan nilai tekanan
darah yang sangat tinggi.
b. Penyakit jantung koroner
Nilai tekanan darah menunjukan hubungan yang positif dengan resiko
terjadinya penyakit jantung koroner (angina, infark miokard atau kematian
mendadak), meskipun kekuatan hubungan ini lebih rendah daripada
hubungan antara nilai tekanan darah dan stroke. Kekuatan yang lebih
rendah ini menunjukan adanya factor factor resiko lain yang dapat
menyebabkan penyakit jantung koroner.
c. Gagal jantung
Bukti dari suatu studi epidemiologik yang bersifat retrospektif
menyatakan bahwa penderita dengan riwayat hipertensi memiliki resiko
enam kali lebih besar untuk menderita gagal jantung dari pada penderita
tanpa riwayat hipertensi. Data yang ada menunjukan bahwa pengobatan
hipertensi, meskipun tidak dapat secara pasti mencegah terjadinya gagal
jantung, namun dapat menunda terjadinya gagal jantung selama beberapa
decade.
d. Hipertrofi ventrikel kiri
Hipertrofi ventrikel kiri

terjadi

sebagai

respon

kompensasi

terhadap peningkatan afterload terhadap jantung yang disebabkan oleh


tekanan darah yang tinggi. Pada akhirnya peningkatan massa otot melebihi

28

suplai oksigen, dan hal ini bersamaan dengan penurunan cadangan


pembuluh darah koroner yang sering dijumpai pada penderita hipertensi,
dapat menyebabkan terjadinya iskemik miokard.
e. Penyakit vaskular
Penyakit vaskular meliputi abdominal aortic aneurysm dan penyakit
vaskular perifer. Kedua penyakit ini menunjukan adanya atherosklerosis
yang diperbesar oleh hipertensi. Hipertensi juga meningkatkan terjadinya
lesi atherosklerosis pada arteri carotid, dimana lesi atherosklerosis yang
berat seringkali merupakan penyebab terjadinya stroke.
f. Retinopati
Hipertensi dapat menimbulkan perubahan vaskular pada mata yang
disebut retinopati hipersensitif. Perubahan tersebut meliputi bilateral
retinalfalmshaped haemorrhages, cotton woll spots, hard exudates dan
papiloedema. Pada tekanan yang sangat tinggi (diastolic >120 mmHg,
kadang-kadang setinggi 180 mmHg atau bahkan lebih) cairan mulai bocor
dari arteriol arteriol kedalam retina, sehingga menyebabkan padangan
kabur, dan bukti nyata pendarahan otak yang sangat serius, gagal ginjal
atau kebutaan permanent karena rusaknya retina.
g. Kerusakan ginjal
Dalam waktu beberapa tahun hipertensi parah dapat menyebabkan
insufiensi ginjal, kebanyakan sebagai akibat nekrosis febrinoid insufisiensi
arteri ginjal kecil. Pada hipertensi yang tidak parah, kerusakan ginjal
akibat arteriosklerosis yang biasanya agak ringan dan berkembang lebih
lambat. Perkembangan kerusakan ginjal akibat hipertensi biasanya
ditandai oleh proteinuria.

29

K. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian Keperawatan hipertensi
a) Identitas
Nama, umur (lebih sering terjadi pada pasien umur 45 tahun keatas),
jenis kelamin (sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan),
tanggal masuk, agama, pendidikan, kultur, alamat, tanggal pengkajian,
tanggal masuk Rumah Sakit, nomor register medik, diagnosa medik,
Dx medik.
b) Keluhan Utama
Pasien merasakan nyeri pada daerah kepala dan tengkuk, pada kasus
hipertensi berat pasien dapat merasakan nyeri pada tungkai serta
dispnea.
c) Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
Pasien biasanya mengatakan sakit pada daerah kepala, pusing, mata
berkunang-kunang nafsu makan berkurang, pada sebagian kasus
hipertensi berat pasien merasakan dyspnea dan adanya penggunaan
otot bantu pernafasan.
2) Riwayat kesehatan masa lalu
Pasien biasanya memiliki

kebiasaan

merokok,

dan

sering

mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung garam dan


kolestrol, pasien memiliki riwayat obesitas dengan kurangnya pola
aktivitas sehari-hari, pada sebagian kasus hipertensi sekunder pasien
memiliki riwayat penyakit lain yang menyertai penyakit hipertensi
seperti penyakit ginjal dan DM serta penyakit jantung.
3) Riwayat kesehatan keluarga

30

Biasanya pada pasien dengan hipertensi, memiliki riwayat kesehatan


keluarga yang terkena hipertensi dan adanya penyakit keturunan yang
dapat menyebabkan seseorang menderita hipertensi sekunder.
d) Riwayat Psikososial
Riwayat psikososial pasien terdiri dari :
Pada pasien dengan hipertensi ringan pasien hampir tidak mengalami
gangguan psikososial, berbeda pada pasien dengan hipertensi berat
yang lebih memberikan efek pada kondisi psikososial pasien yang
berupa adanya perubahan kepribadian pada pasien berupa pasien
menjadi ansietas, depresi, euphoria dan marah kronis. Dalam hal ini,
hipertensi berat juga dapat memberikan dampak kepada keluarga
dimana secara langsung pasien tidak dapat bekerja dan berakivitas
mandiri serta pasien perlu mendapatkan perawatan dirumah sakit yang
dapat membebani keuangan keluarga.
e) Riwayat spiritual
Nilai keagamaan pada pasien dengan hipertensi ringan biasanya dalam
keadaan baik dikarenakan pada pasien ini seluruh sistem organ masih
berfungsi dengan baik, dalam beberapa kasus seperti hipertensi sekunder
dan hipertensi berat, kebanyakan pasien menjadi depresi dan mengalami
gangguan spiritual.
f) ADL
1. Nurisi
Makanan yang biasa dikonsumsi mencakup makanan tinggi natrium
sperti makanan awitan, tinggi lemak, tinggi kolestrol, mual, muntah,

31

perubahan berat badan (meningkatkan/menurun) riwayat pengguna


diuretik.
2. Eliminasi
Biasanya pada pasieen dengn hipertensi tidak mengalami gangguan
pada pola eliminasi kecuali hipertensi yang diderita sudah menyerang
target organ seperti ginjal dan akan mengakibatkan gangguan pada
proses eliminasi urin.
3. Personal hygine
Pada pasien dengan hipertensi ringan tidak mengalami gangguan
pada proses personal hyginenya, dalam beberapa kasus pada pasien
dengan hipertensi berat dengn komplikasi mengakibatkan pasien
mengalami gangguan dalam pemenuhan personal hyginenya,
contihnya pada pasien dengan stoke yang menyerang organ otak
mengaakibatkan pasien mengalami kelumpuhan sehingga pasien
tidak dapat melakukan pola aktivitas personal hygine dengan mandiri.
4. Istirahat tidur
Aktivitas istirahat
pada hipertensi ringan, aktivitas pasien dalam keadaan baik, pada
kasus hipertensi berat terjadinya kelelahan fisik, letih, nafas pendek,
gaya hidup monoton dengan frekuensi jantung meningkat,
perubahan trauma jantung dan takipnea.
g. Review of system (Doengoes, 1999).

32

1. Pemeriksaan fisik umum


Pada pasien dengan hipertensi biasanya memiliki berat badan yang
normal atau melebihi indek masa tubuh, berat badan normal,
tekanan darah >140/100 mmhg, nadi >100 x/menit, frekuensi nafas
16-20 x/menit pada hipertensi berat terjadi pernafasan takipnea,
ortopnea, dyspnea nocturnal paroksimal, suhu tubuh 36,2-37 C pada
hipertensi berat suhu tubuh dapat menurun dan mengakibatkan
pasien hipotermi, Keadaan umum pasien compos mentis pada kasus
hipertensi berat dengan komplikasi dapat mengakibatkan pasien
mengalami gangguan kesadaran dan sampai pada koma, contohnya
stroke hemoragik
2. Sistem pengelihatan
Pada pasien dengan hipertensi memiliki sistem pengelihatan yang
baik, pada kasus hipertensi berat pasien mengalami pengelihatan
kabur dan dapat terjadinya anemis pada konjungtiva.
3. Sistem pendengaran
Pada kasus hipertensi, pasien tidak mengalami gangguan pada
fungsi pendengaran dan fungsi keseimbangan.
4. Sistem wicara
Pasien dengan hipertensi ringan tidak mengalami gangguan pada
sistem wicara. Pada kasus hipertensi berat terjadinya gangguan
pola/isi bicara dan orientasi bicara.
5. Sistem pernafasan
Secara umu baik dengan frekuensi nafas 16-20x/menit dengan
irama teratur, pada kasus hipertensi tertentu seperti hipertensi berat
pasien mengalami gangguan sistem pernafasan seperti takipne,

33

dyspnea dan ortopnea, adanya distress pernafasan/ penggunaan otot


otot pernafasan pada hipertensi berat, frekuensi pernafasan >
20x/menit Dengan irama pernafasan tidak teratur, kedalaman nafas
cepat dan dangkal, adanya batuk dan terdapat sputum pada batuk
pasien sehingga mengakibatkan sumbatan jalan nafas dan terdapat
bunyi mengi.
6. Sistem kardiovaskuler
a. Sirkulasi perifer
Secara umum keadaan sirkulasi perifer pada pasien dengan
hipertensi ringan dalam keadaan normal dengan frekuensi nadi
60-100 x/menit, irama teratur. Pada kasus hipertensi berat
frekuensi nadi pasien dapat mencapai > 100 x/menit, irama tidak
teratur dan lemah, TD > 140/100 mmhg, terjadinya distensi vena
jugularis dan pasien mengalami hipotermi, Warna kulit pucat
(sianosis). Udema terjadi dengan hipertensi sekunder dari ginjal,
pada hipertensi berat, kecepatan pengisihan kapiler dapat
menurun sehingga capilarirefil > 3 detik.
b. Sirkulasi jantung
Pada kasus hipertensi ringan, sirkulasi jantung dalam keadaan
normal dengan kecepatan denyut jantung apikal teratur dan
terdapat bunyi jantung tambahan (S3), adanya nyeri dada pada
kasus hipertensi sekunder dengan komplikasi kelainan jantung.
7. Sistem hematologi
Pasien mengalami gangguan hematologi pada hiperensi berat yang
ditandai

dengan

keadaan

umum

pucat,

perdarahan

yang

34

mengakibatkan stroke

dikarenakan

obstruksi dan pecahnya

pembuluh darah.
8. Sistem syaraf pusat
Pada hipertensi ringan adanya rasa nyeri pada daerah kepala dan
tengkuk, kesadaran compos mentis, pada hipertensi berat kesadaran
dapat dapat menurun menjadi koma, refleks fisiologi meliputi
refleks biceps fleksi dan triceps ekstensi, serta refleks patologis
negative.
9. Sistem pencernaan
Sistem pencernaan pada pasien hipertensi dalam keadaan baik, pada
kasus hipertensi berat dengan komplikasi menyerang organ pada
abdomen mengakibatkan pasien mengalami nyeri pada daerah
abdomen.
10. Sistem Endokrin
Pada pasien dengan hipertensi tidak mengalami gangguan pada
sistem endokrin.

11. Sistem urogenital


Terjadinya perubahan pola kemih pada hipertensi sekunder yang
menyerang

organ

ginjal

sehingga

menyebabkan

terjadinya

gangguan pola berkemih yang sering terjadi pada malam hari.


12. Sistem integument
Turgor kulit buruk pada hipertensi berat dan adanya udema pada
hipertensi sekunder di daerah ekstremitas.
13. Sistem muskulo skeletal

35

Pada hipertensi ringan pasien tidak mengalami gangguan [ada


sistem musculoskeletal, tetapi pada hipertensi berat pasien
mengalami Kesulitan dalam bergerak dan kelemahan otot.
2. Diagnosa keperawatan
a. Pola nafas tidak efekif berhubungan dengan hiperventilasi
b. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan vascular serebral
c. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
inadekuat
d. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan retensi cairan dan
natrium oleh ginjal
e. Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan hipoksemia
jaringan
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
g. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan (Nanda, NIC NOC,
2010).

36

BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
Tanggal Pengkajian pasien 4 Desember 2013 diruang kenanga Kelas II
dengan

Diangnosa medis hipertensi dan AKI. Tanggal Masuk rumah sakit 4

Desember 2013 dengan nomor register 8233


1. Idenitas klien
Paien dengan nama Ny. I jenis kelamin perempuan, usia 34 tahun beragama
islam, riwayat pendidikan terakhir SMA dan pekerjaan wiraswasta. Alamat
pasien Ny. I Arga makmur dengan status sudah menikah
2. Riwayat keperawatan
a. Keluhan utama : pasien mengatakan nyeri kepala.

Pengkajian

dilakukan pada tanggal 4 Desember 2013 pukul 13.00 Wib


b. Riwayat kesehatan sekarang : Pasien mengatakan nyeri pada bagian
kepala. susah untuk makan, meriang, demam naik turun, pasien tampak
meriang. Keadaan nyeri dapat dikategorikan sebagai berikut, dengan P:
peningkatan tekanan intrakranial, Q : nyeri seperti dituuk-tusuk R : di
daerah kepala pada bagian frontal dan pada bagian tengkuk, S : 3, T :
lebih kurang 5 menit. Pasien mengalami mual dan diikuti dengan keadaan
pasien yang sulit untuk bergerak, hal ini dapat dilihat dari kemampuan
pasien tidak dapat mempertahankan posisi berdiri dalam waktu lama.
Pasien memiliki oedema pada area tangan dan saat pengkajian didapatkan
hasil TTV pasien : TD : 160/90 mmhg, T : 36,9 C, N : 78x/menit, dan RR
: 22 x/menit

37

c. Riwayat kesehatan masa lalu : pasien pernah dirawat dirumah sakit


dengan keluhan lupus dan pasien juga memiliki riwaya penyakit ginjal.
d. Riwaya kesehatan keluarga :
Bagan 3.1

Keterangan :
: Laki-Laki
: Perempuan
-----: Lk / Pr Meninggal

: tinggal serumah
: pasien I (Pasien)

: Menikah
e. Tidak ada keluarga yang pernah menderita penyakit yang menjadi faktor
resiko terjadinya penyakit pada pasien I.
f. Riwayat psikososial
1. Adakah orang terdekat dengan pasien : Ada, istri pasien
2. Pola komunikasi : Baik, pasien memiliki komunikasi yang baik
dengan istri dan keluargaa besar pasien
3. Dampak penyakit pasien pada keluarga : dampak penyakit pasien pada
keluarga adalah dapat dilihat dari sisi aktivitas keluarga yang
terganggu akibat menjaga pasien dirumah sakit dan berdampak pula

38

dari sisi ekonomi keluarga pasien dimana pasien merupakan kepala


rumah tangga dan juga merupakan tulang punggu keuarga.
4. Mekanisme koping terhadap stress : Dibantu keluarga
5. Sistem kepercayaan :
Nilai-nilai yang bertentangan dengan kesehatan : tidak ada
g. Kondisi Lingkungan Rumah : Kondisi lingkungan rumah pasien baikdan
tidak memiliki hubungan dengan kondisi atau penyakit yang diderita
pasien saat ini.
3. Pola kebiasaan
a. Pola nutrisi
Pasien I mengatakan pola kebiasaan pasien dirumah dan dirumah sakit
yang diantaranya adalah pola nutrisi : makan 2 x sehari dirumah dengan
porsi makan tidak dihabiskan dirumah sakit pasien belum dapat dikaji pola
asupan nurisinya dikarenakan pasien baru masuk ruangan. Di rumah,
pasien tidak memiliki kebiasaan mengkonsumsi obat sebelum makan
sedangkan di rumah sakit pasien dianjurkan untuk meminum obat
hipertensi dan obat-obatan sebelum makan yang diantaranya adalah
ambroxol 15 mg, amlodipin 100 mg, Caco3 50 gram. Pada pasien I
memiliki diet khusus untuk konsumsi makanan dirumah sakit yang
berbeda dengan pola kebiasaan nutrisi pasien dirumah yang tidak
terkonntrol.dalam mengkonsumsi makanan pasien tidak menggunakan ala
bantu makan NGT.
b. Pola eliminasi
Pasien mengatakan frekuensi BAK dirumah sakit adalah 4 x sehari dengan
warna urin kuning dan jumlah urin yang keluar sediki dan tidak ada
keluhan nyeri pada saat mengeluarkan urin, berbeda dengan frekuaensi

39

BAK dirumah lebih kurang 2 x sehari dan pengeluaran urin sedikit dengan
warna urin kuning dan tidak ada keluhan saat mengeluarkan urin. Dalam
pengeluaran BAB pada pasien I dirumah pasien mengalami kesulitan
dalam pengeluaran BAB ketika dirumah sakitdengan frekuensi 1x atau
tidak sama sekali dengan konsistensi feses padat, berbeda dengan keadaan
pasien sebelum masuk rumah sakit, dimana frekuensi pengeluaran feses
dirumah 2 x sehari dengan konsisensi padat dan tidak ada keluhan ketika
BAB.
c. Personal hygine
kebiasaan kebersihan diri pribadi pasien dirumah sakit dengan frekuensi
mandi 1 x sehari, menggosok gigi 1 x sehari dan mencuci rambut 1 x
sehari dan hal tersebut dilakukan dengan dibantu oleh keluarga pasien
dalam menyiapkan peralatan mandi kebersiha diri pasien sedangkan ketika
dirumah pasien melakukan aktivitas kebersihan diri secara mandiri dengan
frekuensi mandi 2 x sehari dan menggosok gigi serta mencuci rambut 2 x
sehari.
d. Pola istirahat tidur
Tidak ada perbedaan pola tidur dirumah dan dirumah dakit bagi pasien
dimana waktu tidur dirumah dan dirumah sakit pada pasien I dam yaitu 68 jam dengan tidak adanya keluhan saat tidur.
e. Pola aktivitas
Dirumah sakit pasien memiliki kesulitan dalam melakukan aktivitas yang
berat, pasien dapat melakukan aktivitas mandiri dalam kegiatan yang
ringan seperti personal hygine, ketika dirumah pasien biasanya melakukan

40

pekerjaan yang berat sendiri seperti menguruh warung manisan dirumah


dengan dibantu oleh suami I.
f. Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan
Pasien I tidak merokok, tetapi dalam keadaan pola konsumsi makanan
pasien dirumah tidak terkontrol dan menjadi faktor resiko penyakit yang
diderita pasien saat ini.

4. Pengkajian fisik
a. Pemeriksaan fisik umum
Ketika dilakukan pemeriksaan fisik pada pasien Y pada tanggal 25-112014 didapakan hasil berat badan pasien 56 kg dengan tinggi badan 153
CM dan tekanan darah pasien 160/90 mmhg, nadi pasien 78x/menit.
Frekuensi nafas pasien 20 x/menit suhu tubuh pasien dalam batas normal
dengan 36,9 C dan kesadaran pasien kompos mentis.
b. Sistem pengelihatan
Posisi mata klien I simetris antara kiri dan kanan dengan kelopak mata
normal, konjungiva pasien ananemis serta pupil pasien berespon terhadap
cahaya, fungsi pengelihatan pasien baik
c. Sistem pendengaran
Keadaan daun telinga pasien simetris antara kiri dan kanan dengan kondisi
telinga tengah sedikit kotor, tidak terdapatnya cairan dalam telinga dengan
fungsi pendengaran pasien baik. Tidak terdapat gangguan keseimbangan
pada psien I.
d. Sistem wicara
Pasien ketika ditanyai seputar identitasnya pasien dapat menjawab dengan
baik dan tidak mengalami gangguan dalam menyampaikan jawaban dari
pertanyaan yang diberikan.

41

e. Sistem pernafasan
Keadaan jalan nafas pasien baik, tidak mengalami sumbatan dari cairan
dan benda padat, tidak adanya penggunaan otot bantu nafas pada pasien
dengan frekuensi pernafasan 20 x/menit dengan irama teratur dan
kedalaman pernafasan normal. Pasien juga mengalami batuk tampa
seputum, tidak adanya darah ketika pasien batuk dan suara nafas klien
vaskuler.
f. Sistem kardiovaskuler
Frekuensi nadi pasien 78 x/mnt dengan irama regular dan lemah dengan
tekanan darah 160/90 mmhg, tidak terdapatnya distensi vena jugularis
dengan temperatur kulit 36,9 C. warna kulit gelap dengan adanya edema
pada ekstremitas bawah dengan kapilarirefil pasien < 3 detik.
g. Sirkulasi jantung
pasien yang diperiksa oleh penulis yaitu kecepatan denyut apical teratur
dengan bunyi jantung S1, S2 normal dengan irama teratur dan pasien tidak
mengalami nyeri dada.
h. Sistem hematologi
Dalam sistem hematologi pasien pucat tetapi tidak mengalami perdarahan,
i. Sistem syaraf pusat
Pasien I mengalami nyeri atau pusing kepala dengan kualitas nyeri seperti
tertusuk benda tajam dan region nyeri di daerah frontal kepala dengan
skala nyeri 4 dan durasi waktu terjadinya nyeri lebih kurang 5 menit.
Tingkat kesadaran pasien kompos mentis dengan nilai GCS adalah 15
menit, reflex fisiologis pasien yang terdiri dari biceps dan triceps secara

42

berturut turut adalh fleksi dan ekstensi dan tidak adanya refleks patologis
yang terjadi.
j. Sistem pencernaan
Keadaan sistem pencernaan pasien baik dengan keadaan mulut pasien
yang berupa gigi utuh serta keadaan lidah bersih, pasien tidak mengalami
muntah serta tidak mengalami nyeri pada bagian abdomen, konsistensi
feses padat dan ketika dilakukan palpasi pada bagian abdomen tidak
terabanya pembesaran hepar dan keadaan abdomen kembung
k. Sistem Endokrin
Ketika dilakukan pemeriksaan fisik pada bagian sistem endokrin,
didapatkan hasil tidak adnya pembesaran kelenjar tiroid dan tidak adanya
l.

bau keton pada nafas serta tidak terdapatnya luka gangren


Sistem urogenital
terdapatnya perubahan pola kemih yang ditandai dengan 4 x sehari dalam
BAK dengan warna urin kuning dan tidak adanya distensi kandung kemih,

tidak adanya keluhan sakit pinggang pada pasien I.


m. Sistem integument
keadaan turgor kulit pasien baik dengan warna kulit gelap dan keadaan
kulit terdapat luka tidak ada dan gatal-gatal pada kuli tidak ada serta
kondisi kuli pasien baik. Tidak adanya kelainan pada kulit dan terjadinya
udem pada daerah kulit yang terpasan infus dan pada daerah ekstremitas
atas dan bawah, keadaan tekstur rambut pasien baik dan kebersihan
rambut pasien baik.
n. Sistem muskulo skeletal
pasien mengalami gangguan kesulitan dalam bergerak dikarenakan
keadaan pasie yang lemah, yang ditandai dengan pasien sering berbaring
di tempa tidur dan sulit untuk melakukan kegiatan yang berat.

43

l. Data penunjang
25-11-2014 : 00:52
Tabel 3.1
No

Yang diperiksa

Hasil

Nilai rujukan

Satuan

1.

GDS

101

70-120

Mg/dl

2.

Ureum

35

20-40

Mg/dl

3.

Creatin

1,6

0,5-1,2

Gr/dl

4.

Hematocrit

32

Lk:37-47%
Pr : 40-54 %

Gr/dl

5.

Hb

11,6

Lk:13,00-18,0
Pr : 12,0-16,0

Gr/dl

6.

Leukosit

11.600

4000-10.000

Mm3

7.

Trombosit

470.000

150.000-400.000

Sel/mm3

B. Penatalaksanaan
Infus RL = 20 tts/menit, Drip ondan/kolop 1 ampul
Glukosa 10% 30 tts/menit
1. Obat Parenteral
Tabel 3.2
No

Obat

Dosis

1.

Ranitidin

25 mg/ml 2x1 ampul

2.

Ceftriaxone

10 mg/ml 2x1 ampul

3.
4.

Furosemide
Ketorolac

10 mg/ml 1x1 ampul


10 mg/ml 3x1 ampul

4.

Ondan

10 mg/ml 3x1 ampul

25-11-14
09.00
21.00
09.00
12.00
12.00

26-11-14
09.00
21.00
09.00
21.00
12.00
12.00
20.00
12.00
20.00

27-11-14
12.00
24.00
12.00
24.00
12.00
12.00
20.00
04.00
12.00
20.00
04.00

44

2. Obat oral
Tabel 3.3
No
1.
2.

Obat
Amlodipin
As. Folat

Dosis
100 mg/ml 1x1 tablet
1 mg 3x1 tablet

25-11-14

3.

Caco3

50 gr 3x1 tablet

09.00
14.00

4.

Ambrokol

15 mg 3x1 tablet

09.00
14.00

09.00
14.00

26-11-14
21.00
06.00
12.00
17.00
06.00
12.00
17.00

27-11-14
21.00
06.00
12.00
17.00
06.00
12.00
17.00

06.00
12.00
17.00

06.00
12.00
17.00

Analisa data
Tabel 3.4
N
o

Data penunjang

1.

DS : Pasien mengatakan pusing dan


nyeri pada daerah kepala dengan
P : Peningkatan tekanan intrakranial
Q : seperti ditusuk-tusuk
R : Di daerah kepala
S:3
T : 5 menit
DO : Pasien terkadang meringis
TTV : N : 78 x / menit
TD : 160/90 mmhg
P : 20x/menit
S : 36,9 C
Diagnosa medis : Hipertensi + AKI

2.

DS: Pasien mengatakan mual muntah


dan tidak nafsu makan

Etiologi

Masalah

Peningkatantekanan
intra kranial

Nyeri akut

Intake dan output


tidakadekuat

Nutrisi
kurang
dari
kebutuhan
tubuh

45

DO: Lidah pasien tampak kotor


Makan 3xsehari dengan porsi tidak
habis. Pasien tampak lemah

3.

DS : Pasien mengatakan lemah sulit


untuk bangun dan berjalan
DO : Pasien dibantu dalam berjalan
ke kamar mandi oleh keluarga
Tonus otot pasien lemah
Pola aktifitas pasien di rumah
sakir buruk.

Kelemahan dalam
beraktiitas

Intoleransi
aktifitas

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b/d peningkatan vaskularitas cerebral
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d Intake inadekuat
3. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan fisik

C. PERENCANAAN
Tabel 3.5
No
1

Diagnosa
Nyeri akut
berhubunga
n dengan
agen cidera
biologi

NOC
NIC
Rasional
Indikator
Manajemen Nyeri :
Pengendalian
1. Lakukan
pengkajian
nyeri 1. Mengetahui
secara komprehensif termasuk
perkembangan nyeri
Nyeri:
lokasi, karakteristik, durasi,
dan tanda-tanda nyeri
1: Tidak pernah
frekuensi, kualitas dan faktor
sehingga
dapat
2: Jarang
presipitasi
menentukan intervensi
3: Kadang-kadang
selanjutnya
4: Sering
2. Mengetahui
respon
5: Selalu
pasien terhadap nyeri
2. Observasi reaksi nonverbal dari
3. Menumbuhkan sikap
Outcomes:
ketidaknyamanan
saling percaya
1. Mengenali
3. Gunakan teknik komunikasi
awitan nyeri
terapeutik untuk mengetahui

46

2. Menggunakan
pengalaman nyeri pasien
tindakan
pencegahan
4. Bantu pasien dan keluarga
3. Melaporkan
untuk mencari dan menemukan
nyeri
dapat
dukungan
dikendalikan 5. Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti
Indikator
suhu ruangan, pencahayaan dan
kebisingan
Tingkat Nyeri:
6. Kurangi faktor presipitasi nyeri
1: Sangat berat
2: Berat
7. Kaji tipe dan sumber nyeri
3: Sedang
untuk menentukan intervensi
4: Ringan
5: Tidak ada
8. Ajarkan tentang teknik non
Outcomes:
farmakologi
1. Ekspresi nyeri
pada wajah
2. Gelisah atau 9. Berikan
analgetik
untuk
ketegangan
mengurangi nyeri
otot
3. Durasi episode
nyeri
4. Merintih dan 10. Tingkatkan istirahat
menangis
5. Gelisah

4. Dukungan yang cukup


dapat
menurunkan
reaksi nyeri pasien
5. Menurukan rasa nyeri
pasien
6. Dapat
menurukan
tingkat nyeri pasien
7. Mengetahui
perkembangan nyeri
dan
menentukan
intervensi selanjutnya
8. Menurunkan
ketegangan otot, sendi
dan
melancarkan
peredaran
darah
sehingga
dapat
mengurangi nyeri
9. Analgetik
berfungsi
sebagai
depresan
system syaraf pusat
sehingga mengurangi
atau
menghilangkan
nyeri
10. Istirahat yang cukup
dapat
mengurangi
rasa nyeri

11. Berikan informasi tentang


nyeri seperti penyebab nyeri, 11. Pasien tidak merasa
cemas
dan takut
berapa lama nyeri akan
sebab-sebab nyeri
berkurang
dan
antisipasi
ketidaknyamanan
dari
prosedur
Medication Management
12. Ikuti lima benar obat

13. Verifikasiresepatau
obatsebelum memberikanobat
14. Monitortanda-tanda
vitaldanlaboratoriumnilaisebel

12. Menghindari
kesalahan
dalam
pemberian obat
13. Memastikan
tidak
terjadi
kesalahan

47

um
pemberianobat,
yang
dalam pemberian obat
sesuai
14. Informasi yang tepat
15. Bantupasien dalamminum obat
membantu
dalam
keefektifan intervensi
15. Memenuhi kebutuhan
Penatalaksanaan Analgesik :
dengan mendukung
16. Tentukan lokasi, karakteristik,
partisipasi
dan
kualitas, dan derajat nyeri
kemandirian
pasien
sebelum pemberian obat
17. Cek instruksi dokter tentang
jenis obat, dosis, dan frekuensi
16. Sebagai acuan dalam
pemberian dosis obat
18. Cek
riwayat
alergi
yang tepat
17. Menghindari
kesalahan
dalam
pemberian obat
19. Tentukan pilihan analgesik 18. Menghindari adanya
kemerahan,
gataltergantung tipe dan beratnya
gatal dan efek lain
nyeri
dari konsumsi obat
yang salah
20. Monitor vital sign sebelum dan
19.
Mengurangi
nyeri
sesudah pemberian analgesik
yang
dirasakan
pertama kali
sehingga
dapat
menentukan
intervensi selanjutnya
21. Evaluasi efektivitas analgesik, 20. Mengetahui
tanda
dan
gejala
(efek
perubahan
status
samping)
kesehatan
setelah
pemberian obat
21. Memberikan
informasi
untuk
membantu
dalam
menentukan pilihan/
keefektifan intervensi

48

ketidak
seimbangan
nutrisi
kurang dari
kebutuhan
tubuh
berhubunga
n dengan
intake yang
tidak
adekuat

Indikator Status
Gizi:
1: Tidak adekuat
2: Sedikit adekuat
3: Cukup adekuat
4: Adekuat
5: Sangat adekuat
Outcomes:
1. Makanan oral,
pemberian
makanan
lewat slang,
atau
nutrisi
parenteral
total
2. Asupan cairan
oral atau IV

Manajemen Nutrisi
1. Kaji adanya alergi makanan

2. Kolaborasi dengan ahli gizi


untuk menentukan jumlah
kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan
pasien.
3. Anjurkan
pasien
untuk
meningkatkan intake Fe
4. Anjurkan
pasien
untuk
meningkatkan protein dan
vitamin C
5. Berikan substansi gula
6. Yakinkan diet yang dimakan
mengandung tinggi serat
untuk mencegah konstipasi
7. Berikan
makanan
yang
terpilih
(
sudah
dikonsultasikan dengan ahli
gizi)
8. Ajarkan pasien bagaimana
membuat catatan makanan
harian.
9. Monitor jumlah nutrisi dan
kandungan kalori
10. Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
11. Kaji kemampuan pasien untuk
mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan
Monitoring Nutrisi
12. BB pasien dalam batas
normal
13. Monitor adanya penurunan
berat badan
14. Monitor tipe dan jumlah
aktivitas yang biasa dilakukan

1. Mengetahui intake
masukan pasien dan
menentukan
intervensi
yang
sesuai
2. Meningkatkan
keseimbangan nutrisi
yang adekuat
3. Meningkatkan
kesehatan pasien
4. Dapat meningkatkan
intake yang adekuat
5. Meningkatkan
darah

gula

6. Mempermudah
melancarkan
defekasi
7. Nutrisi yang adekuat
dapat meningkatkan
status kesehatan
8. Mempertahankan
nutrisi pasien yang
adekuat
9. Mepertahankan
keseimbangan nutisi
10. Pengetahuan
yang
cukup
dapat
meningkatkan
motivasi pasien
11. Menjaga kebutuhan
nutrisi

12. Meningkatkan
keseimbangan nutrisi
13. Penurunan
berat
badan menunjukkan

49

15. Monitor lingkungan selama


makan
16. Monitor kulit kering
perubahan pigmentasi
17. Monitor

turgor

14.

dan
15.
kulit

18. Monitor mual dan muntah

16.

19. Monitor makanan kesukaan

17.

20. Monitor kalori dan intake


nuntrisi

18.

19.
20.

Intoleransi
aktivitas
Berhubung
an dengan :
Kelemahan
fisik

NOC :
Self Care : ADLs
1: tergantung,tidak
bisa berpartisipasi
2:
memerlukan
bantuan
dan
penjagaan
3:memerlukan
bantuan 4:sedikit
mandiri
dengan
penjagaan
5: mandiri

Outcomes:

kebutuhan
nutrisi
yang tidak adekuat
Aktivitas yang baik
dapat
meningkat
intake
masukan
nutrisi
Lingkungan
yang
nyaman
meningkatkan nafsu
makan
Kulit
kering
menunjukkan
kurangnya
cairan
dalam tubuh
Menentukan
intervensi
lebih
lanjut
Mual
muntah
menurunkan
pemasukan
dann
memerlukan
intervensi
Meningkatkan
pemasukan oral
Mengidentifikasi
kekurangan nutrisi

NIC :
1. Observasi adanya pembatasan 1. Kesulitan dalam bergerak
berdampak pada tonus
klien
dalam
melakukan
otot pasien
aktivitas
2. Kaji adanya faktor yang
2. Faktor eksternal dan
menyebabkan
kelelahan
internal berpengaruh
3. Monitor nutrisi dan sumber
energi
yang
adekuat

terhadap faktor
kelelahan pada pasien

3. Nutrisi yang adekuat


membantu dalam
memberikan suplay
energy tambahan pada
4. Monitor pasien akan adanya
pasien dalam
kelelahan fisik dan emosi
beraktivitas
secara
berlebihan 4. Faktor emosi dapat

50

1. Berpartisipasi
dalam aktivitas
fisik
tanpa
disertai
peningkatan
tekanan
darah,
nadi dan RR
2. Mampu melakukan
aktivitas sehari
hari
(ADLs)
secara mandiri
3. Keseimbangan
aktivitas
dan
istirahat

menyebabkan
terkurasnya energy
yang berlebih terutama
dari sisi psikologis
pasien

5. Monitor respon kardivaskuler


terhadap aktivitas (takikardi,
disritmia,
sesak
nafas,
diaporesis, pucat, perubahan 5. Aktivitas yang ditandai
hemodinamik)
dengan respon patologis
dari kardiovaskuler
6. Monitor pola tidur dan lamanya
menandakan adanya
tidur/istirahat
pasien
kelemahan fisik yang
patologik
7. Kolaborasikan dengan Tenaga 6. Tingkat tirah baring yang
Rehabilitasi Medik dalam
tinggi berpengaruh
merencanakan progran terapi
terhadap energy yang
dimiliki pasien untuk
yang tepat.
beraktivitas
8.
Bantu
klien
untuk
mengidentifikasi aktivitas yang 7. Program terapi yang
adekuat memberikan
mampu
dilakukan
dampak tercapainya
rehabilitasi medis yang
9. Bantu untuk memilih aktivitas
baik
konsisten yang sesuai dengan 8. Aktivitas yang ringan dan
dapat dilakukan pasien
kemampuan fisik, psikologi
merupakan terapi awal
dan sosial.
untuk latihan fisik
10. Bantu untuk mengidentifikasi
pasien
dan mendapatkan sumber yang
9. Terapi aktivitas fisik yang
diperlukan untuk aktivitas
baik memberikan
yang diinginkan
dampak yang baik
11. Bantu untuk mendpatkan alat
terhadap latihan fisik
pada pasien
bantuan aktivitas seperti kursi
roda, kruk
10. Indentifikasi dini
memberikan informasi
12.Bantu untuk mengidentifikasi
yang tepat terhadap
aktivitas
yang
disukai
tindakan keperawatan
yang akan datang
11.
Alat bantu
13. Bantu klien untuk membuat
mempermudah untuk
jadwal latihan diwaktu luang
membantu pasien dalam
melatih aktivitas fisik
14. Bantu pasien/keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan 12. Aktivitas yang disukai
pasien memudahkan
dalam
beraktivitas

51

pasien dalam
melakukan aktivitas
fisik
13. Jadwal latihan yang
teratur mempermudah
latihan yang efektif
16.
Bantu
pasien
untuk
pada pasien
mengembangkan motivasi diri dan
14. Identifikasi dini
penguatan
terhadap kelemahan
fisik pada pasien
membantu menemukan
17. Monitor respon fisik, emosi,
terapi yang tepat pada
sosial dan spiritual
pasien
15. Sediakan penguatan positif
bagi yang aktif beraktivitas

15. Penguatan positif yang


adekuat berpengaruh
terhadap pemberian
motivasi dalam
beraktifitas optimal
16. Motivasi dan penguatan
yang baik berpengaruh
terhadap dorongan
pasien mengikuti terapi
fisik yang akan
dilakukan
17. Respon fisik yang pasif
menandakan keadaan
fisik pasien lemah dan
harus dilakukan
tindakan keperawatan

D. IMPLEMENTASI
Tabel 3.6
Nama Pasien : Ny. I

Dx. Medis

: Hipertensi, AKI

Umur

Ruangan

: Kenanga

NO
1.

: 25 tahun
Hari/
tanggal
Selasa,
25 Nov
2014

NO.
Implementasi
Diagnosa
I
1. Mengkaji nyeri pada
pasien

Respon hasil
1. Pasien mengatakan nyeri,
nyeri dengan sekala 3 di
daerah kepala, nyeri seperti

Paraf

52

2. Mengkaji TTV pasien

3. Mengobservasi respon
non verbal terhadap
nyeri
4. Mengajarkan tehnik
nafas dalam
5. Mengajarkan tehnik
distraksi
6. Kalaborasi pemberian
analgesic keterolak 1
ampul

2.

II

1. Mengkaji masukan
nutrisi pasien

ditusuk tusuk dengan durasi


3 menit
2. TTV :
TD : 160/90 mmhg
T : 36,9 C
N : 78 x/menit
RR : 20 x/menit
3. Pasien tampak meringis

4. Pasien dapt melakukan


teknik nafas dalam
5. Pasien dapat melakukan
teknik distraksi
6. Obat keterolak 1 ampul
berhasil diberikan

1. Pasien mendapatkan
masukan nutrisi dari infus,
air putih dan makanan
2. Pasien mengerti dan
melakukan instruksi
perawat
3. Makanan pasien tersedia
sesuai keadaan pasien

2. Menganjurkan pasien
untuk menghabiskan
makanan
3. Mengkalaborasikan
pemberian makanan
rendah garam pada ahli
gizi
4. Mengkalaborasikan obat 4. Obat ondan 1 ampul
berhasil diberikan
untuk mengurangi mual
muntah (ondan 1 ampul)
5. RL 10 % dalam 20 tts/mnt
5. Memberikan RL 10 %
berhasil diberikan
6. Memonitor penurunan
6. BB : 57 Kg
berat badan pasien

3.

III

1. Mengkaji respon
pasien terhadap
aktivitas
2. Memonitor nutrisi dan
sumber energi yang
adekuat
3. Melakukan instruksi
tirah baring pada
pasien

1. Pasien berbaring di tempa


tidur
2. Pasien tidak menghabiskan
porsi makanan
3. Pasien mengerti tentang
anjuran tirah baring

53

4. Memberikan dorongan
pada pasien untuk
melakukan aktivitas

NO
1.

Rabu,
26 Nov
2014

Hari/
NO. Diagnosa
tanggal
I
1. Mengkaji nyeri

Implementasi

2. Mengkaji TTV Pasien

3. Mengobservasi respon
non verbal terhadap
nyeri
4. Memotovasi pasien
melakukan tehnik nafas
dalam
5. Memotivasi pasien
melakukan teknik
distraksi pada
6. Kalaborasi pemberian
analgesic keterolak 1
ampul

1. Mengkaji masukan
nutrisi pasien
2.

II

4. Pasien mengerti untuk


melakukan aktivitas yang
ringan dan dapat dilakuka

2. Menganjurkan pasien
untuk menghabiskan
makanan
3. Mengkalaborasikan

Respon hasil

Paraf

1. Pasien mengatakan nyeri,


nyeri dengan sekala 3 di
daerah kepala, nyeri seperti
ditusuk tusuk dengan durasi
3 menit
2. TTV :
TD : 140/90 mmhg
T : 36,7 C
N : 80 x/menit
RR : 21 x/menit
3. Pasien tampak meringis

4. Pasien melakukan tehnik


nafas dalam
5. Pasien melakukan teknik
distraksi
6. Obat keterolak 1 ampul
berhasil diberikan

1. Masukan nutrisi pasien


berasal dari infus, nutrisi
dan makanan
2. Nafsu makan pasien
meningkat tetapi pasien
belum menghabiskan porsi
makannya
3. Makanan yang pasien
konsumsi sesuai dengan diit

54

pemberian makanan
pasien
rendah garam pada ahli
gizi
4. Obat ondan 1 ampul
4. Mengkalaborasikan
berhasil diberikan
obat untuk mengurangi
mual muntah (ondan 1
ampul)
5. RL 10 % dalam 20 tts/mnt
5. Memberikan glukosa 10
berhasil diberikan
%
6. BB : 57 Kg
6. Memonitor BB pasien

3.

III

1. Mengkaji respon pasien


terhadap aktivitas
2. Memonitor nutrisi dan
sumber energi yang
adekuat
3. Menganjurkan tirah
baring pada pasien
4. Memberikan dorongan
pada pasien untuk
melakukan aktivitas

1. Pasien berbaring di tempa


tidur
2. Pasien tidak menghabiskan
porsi makanan
3. Pasien mengerti tentang
anjuran tirah baring
4. Pasien melakukan aktivitas
yang ringan dan dapat
dilakukan seperti personal
hygine

D. IMPLEMENTASI
Nama Pasien : Ny. I

Dx. Medis

: Hipertensi, AKI

Umur

Ruangan

: Kenanga

: 34 tahun

Tabel 3.6
NO
1.

Hari/
tanggal
Kamis,
26
Nov
2014

NO.
Implementasi
Diagnosa
I
1. Mengkaji nyeri

2. Mengkaji TTV

Respon hasil
1. Pasien mengatakan nyeri,
nyeri dengan sekala 4 di
daerah kepala, nyeri
seperti ditusuk tusuk
dengan durasi 3 menit
2. TTV :
TD : 150/100 mmhg

Paraf

55

T : 36,7 C
N : 80 x/menit
RR : 21 x/menit
3. Pasien tampak rileks
3. Mengobservasi respon
non verbal terhadap
nyeri
4. Kalaborasi pemberian
analgesic keterolak 1
ampul

2.

II

1. Menganjurkan pasien
untuk menghabiskan
makanan

4. Obat keterolak 1 ampul


berhasil diberikan

1. Nafsu makan pasien


meningkat dan pasien
menghabiskan porsi
makannya
2. Makanan yang pasien
konsumsi sesuai dengan
diit pasien

2. Mengkalaborasikan
pemberian makanan
rendah garam pada ahli
gizi
3. Obat ondan 1 ampul
3. Mengkalaborasikan
berhasil diberikan
obat untuk mengurangi
mual muntah (ondan 1
ampul)
4. Memberikan glukosa 10 4. RL 10 % dalam 20 tts/mnt
berhasil diberikan
%
5.
BB : 57 Kg
5. Memonitor BB pasien
1. Mengkaji respon pasien
terhadap aktivitas
3.

III

2. Memonitor nutrisi dan


sumber energi yang
adekuat
3. Memberikan dorongan
pada pasien untuk
melakukan aktivitas

1. Pasien tampak bangun


dari tempat tidur
2. Pasien menghabiskan
porsi makanan
3. Pasien tampak melakukan
aktivitas yang ringan dan
dapat dilakukan seperti
personal hygine dan
berjalan disekitar ruangan

56

CATATAN PERKEMBANGAN
Nama Pasien : Tn. I
Umur

: 34 tahun

Dx. Medis
Ruangan

: Hipertensi, AKI
: Kenanga

Tabel 3.7
No
1

Diagnosa
Nyeri akut
berhubunga
n
dengan
peningkatan
vascular
serebral.

Nutrisi
kurang dari
kebutuhan
tubuh
berhubunga
n
dengan
intake
inadekuat

Intoleransi
aktivitas
berhubunga
n
dengan
kelemahan
fisik.

Evaluasi
S : pasien mengatakan nyeri berkurang
O : TD 150/100 mmhg, Nadi 84 x/mnt, RR 21 x/mnt, T
36,8 C dengan keadaan nyeri P : peningkatan
tekanan intra kranial, Q : seperti tertusuk tusuk
benda tajam, R : daerah kepala, S : 4, T : 5 menit,
pasien tampak rileks, pasien menggunakan teknik
non farmakologi dalam mengatasi nyeri.
A : nyeri berkurang, indikator tingkat nyeri ringan.
P : Intervensi dihentikan

S : pasien mengatakan mual berkurang, porsi makan


habis
O : Mual muntah berkurang, porsi makan habis,
BB 58 Kg, turgor kulit baik, konjungtiva ananemis
pemberian makanan melalui oral, asupan cairan
melalui oran dan IV.
A : indikator status gizi pasien dalam keadaan cukup
adekuat.
P : Intervensi dihentikan

S : Pasien mengatakan tubuh masih lemah


O : Pasien dapat berpartisipasi dalam aktifitas fisik
tanpa disertai peningkatan TD, nadi dan RR, pasien
melakukan aktivitas yang dapat dilakukan seperti
personal hygine dan berjalan disekitar ruangan,
pola aktifitas dan keseimbangan pasien dalam
keadaan baik.
A : pasien dapat melakukan aktivitas ringan secara
mandiri,

Paraf

57

P : Intervensi dilanjutkan oleh keluarga di masyarakat


no 3.

58

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis akan membahas tentang Asuhan Keperawatan pada
pasien I dengan Hipertensi di Ruangan Kenanga RSUD DR. M. Yunus Kota
Bengkulu Tahun 2014. Dalam melakukan asuhan keperawatan telah diterapkan
proses keperawatan sesuai teori yang ada. Dimana proses keperawatan yang
mempunyai 5 tahap yaitu: pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan
evaluasi.
A. Pengkajian
Hipertensi adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan curah
jantungdan atau kenaikan pertahanan perifer (Brunner & Suddarth, 2000).
Menurut The Joint National Commitee of Prevention, Detection, Evaluation and
Treatment of The Blood Pressure (2004) dikatakan hipertensi jikatekanan darah
sistolik yang lebih besar atau sama dengan 140 mmHg atau peningkatan tekanan
darah diastolik yang lebih besar atau sama dengan 90mmHg. Umumnya tekanan
darah normal seseorang 120 mmHg/80 mmHg. Hasil pemeriksaan tersebut
dilakukan 2 atau lebih pemeriksaan dan dirata-rata.
Pada studi kasus pasien I menderita hipertensi yang ditandai dengan
tekanan darah pada pasien dalam 3 hari berturut-turut adalah 160/90 mmhg,
140/90 mmhg, dan 150/100 mmhg, pasien mengalami gangguan pada sistem
syaraf pusat yang mengakibatkan pasien mengalami nyeri pada bagian frontalis
kepala, pasien mengalami mual dan penurunan nafsu makan serta pasien

59

mengalami kelemaha fisik yang digambarkan pada pemeriksaan kekuatan tonus


otot dalam keadaan lemah. Tanda dan gejala pasien pada kasus ini sudah tepat dan
sesuai dengan teori hipertensi.
Pada kasus Ny. I diberikan terapi berupa InfusRL drip ondan 1 ampul dengan
20 tts/menit dan keterolak 1 ampul dengan 20 tts/menit. Ny. I diberikan obat oral
berupa ranitidin 25 mg/ml 2x1 ampul, ceftriaxone 10 mg/ml 2x1 ampul,
furosemide 10 mg/ml 1x1 ampul. Paien juga diberikan obat oral berupa
amlodipine 100 mg/ml 1x1 tablet, Hct 25 mg 1x1 tablet, as. Folat 1 mg 3x1 tablet,
caco3 50 gr 3x1 tablet dan ambrokol 15 mg 3x1 tablet. Terapi pengobatan pada
Ny. I sudah tepat sesuai dengan penatalaksanaan pada penderita hipertensi seperti
amlodipin yang merupakan obat golongan dihydropyridine yang berfungsi untuk
mengatur tekanan darah. Tetapi pada kasus Ny. I juga diberikan obat seperti
furosemide, caco3 dan sejenisnya, ini dikarenakan pasien juga memiliki masalah
pada ginjal dan didapat dari diagnosa medis selain hipertensi pasien mengalami
AK.
B. Diagnosa
Diagnosa keperawatan merupakan pernyataan respon aktual atau potensial
klien terhadap masalah kesehatan yang perawat mempunyai izin dan berkompeten
untuk mengatasinya (Potter, 2005). Dalam teori pada hipertensi dapat diangkat 7
diagnosa yaitu, pola nafas tidak efekif berhubungan dengan penurunan suplay
oksigen, nyeri akut berhubungan dengan peningkatan vascular serebral, nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake inadekuat, kelebihan
volume cairan berhubungan dengan retensi cairan dan natrium oleh ginjal,

60

gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan hipoksemia jaringan,


intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik, ansietas berhubungan
dengan kurang pengetahuan. Dari hasil pengkajian yang dilakukan penulis,
penulis mengangkat 3 diagnosa yaitu nyeri akut b/d peningkatan tekanan
intrakranial,nutrisi kurang dari krbutuhan tubuh b/d intake inadekuat, intoleransi
aktivitas b/d kelemahan fisik.Berdasarkan hal tersebut di atas ada 7 diagnosa yang
terdapat dalam teori dan 4 diagnosa yang tidak ditemukan di lapangan. Hal ini
terjadi karena setiap individu berbeda satu sama lain dalam merespon suatu
penyakit sehingga diagnosa yang didapatkan dalam teori tidak semuanya bisa
diangkat sebagai diagnosa yang akan dikaji dan pada pasien Tn. Y pasien
mengalami hipertensi ringan, dan 4 diagnosa yang tidak diangkat tersebut terjadi
pada kasus hipertensi berat dimana pada kasus hipertensi berat pasien dapat
mengalami syok hipovolemik sehingga pasien mengalami gangguan pernafasan
yang mengakibatkan terjadinya masalah keperawatan pola nafas tidak efekif dan
gangguan perfui jaringan perifer, pada pasien dengan hipertensi berat dapat
beresiko merusak organ lain seperti ginjal sehingga mengakibatkan gangguan
fungsi ginjal dan mengakibakan retensi cairan dalam tubuh sehingga cairan
menumpuk pada bagian ekstratisial dan mengakibatkan udem. Kondisi ini dapat
mengakibatkan masalah keperawatan berupa kelebihan volume cairan. Dengan
kondisi yang buruk pada pasien dengan hipertensi berat dapat memberikan
dampak psikologis pada pasien terhadap kondisi kesehatannya, sehingga dapat
mengakibatkan masalah keperawatan ansietas.

61

C. Rencana Keperawatan
Pada kasus pasien I, penulis melakukan rencana tindakan keperawatan.
Penulismerencanakan mengatasi masalah nyeri terlebih dahulu karena nyeri tidak
dapat diatasi dalam waktu singkat dan perlu penanganan terlebih dahulu karena
nyeri berhubungan dengan kebutuhan fisiologis, rasa nyaman dan harus terpenuhi
(Potter, 2006) dan kriteria hasil yang ditulis penulis yaitu pasien mengatakan
nyeri berkurang dengan skala nyeri (4-5).
Rencana tindakan diagnosa pertama untuk mengurangi nyeri yang dirasakan
pasien yaituLakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi, Observasi reaksi
nonverbal dari ketidaknyamanan, gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk
mengetahui pengalaman nyeri pasien, bantu pasien dan keluarga untuk mencari
dan menemukan dukungan, kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan, Kurangi faktor presipitasi
nyeri, kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi, ajarkan tentang
teknik non farmakologi, berikan analgetik untuk mengurangi nyeri, tingkatkan
istirahat, berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama
nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur, ikuti lima
benar obat, verifikasiresepatau obatsebelum memberikanobat, monitortandatanda vitaldanlaboratoriumnilaisebelum pemberianobatyang sesuai, bantupasien
dalamminum obat, tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri
sebelum pemberian obat, cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan
frekuensi, cek riwayat alergi, tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan

62

beratnya nyeri, monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik
pertama kali, evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping).
Pada diagnosa kedua untuk mengatasi nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
dilakukan Kaji adanya alergi makanan, kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien, anjurkan pasien
untuk meningkatkan intake Fe, anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan
vitamin C, berikan substansi gula, yakinkan diet yang dimakan mengandung
tinggi serat untuk mencegah konstipasi, berikan makanan yang terpilih ( sudah
dikonsultasikan dengan ahli gizi, ajarkan pasien bagaimana membuat catatan
makanan harian, monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori, berikan informasi
tentang kebutuhan nutrisi, kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan, BB pasien dalam batas normal, monitor adanya penurunan
berat badan, monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan, monitor
lingkungan selama makan, monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi,
monitor turgor kulit, monitor mual dan muntah, monitor makanan kesukaan,
monitor kalori dan intake nuntrisi.
Pada diagnosa ketiga untuk mengatasi intoleransi aktivitas dilakukan
rencana tindakan yaitu, observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan
aktivitas, kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan, monitor nutrisi dan
sumber energi yang adekuat, monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan
emosi secara berlebihan, monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas
(takikardi, disritmia, sesak nafas, diaporesis, pucat, perubahan hemodinamik),

63

monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien, kolaborasikan dengan


tenaga rehabilitasi medik dalam merencanakan progran terapi yang tepat, bantu
klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan, bantu untuk
memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan
sosial, bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan
untuk aktivitas yang diinginkan, bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas
seperti kursi roda, kruk, bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai,
bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang, bantu pasien/keluarga
untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas, Sediakan penguatan
positif bagi yang aktif beraktivitas, bantu pasien untuk mengembangkan motivasi
diri dan penguatan, monitor respon fisik, emosi, sosial dan spiritual.

D. Implementasi keperawatan
Implementasi pada paien I, dilakukan penulis sesuai rencana tindakan
keperawatan dimana pada diagnosa pertama dengan nyeri akut terdapat 21 item
yang terdapat dalam intervensi, tetapi dalam pelaksanaannya penulis hanya
melakukan 6 item tindakan. Item- item yang tidak digunakan seperi mengurangi
faktor presipitasi nyeri telah dikontrol dengan tindakan keperawatan lain seperi
mengkaji keadaan nyeri serta melakukan diit rendah garam kepada pasien. Pada
diagnosa kedua yaitu nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh terdapat 20 item

64

rencana tindakan dan hanya 6 item rencana tindakan yang dilakukan, tindakan
seperti mengkaji alergi makana pada pasien tidak dilakukan karena pasien tidak
memiliki riwayat alergi makanan sebelumnya.
Pada diagnosa ketiga yaitu intoleransi aktivitas, dari 17 item rencana
tindakan keperawatan hanya 4 yang dilakukan oleh penulis. Tindakan
keperawatan yang tidak dilakukan seperti bantu pasien untuk mendapatkan ala
bantu kursi roda atau kruk tidak dilakukan karena pada diagnosa ini penulis ingin
melatih kemampuan fisik pasien agar kembali optimal, sedangkan jika dilakukan
pemakaian alat bantu seperti kursi roda akan menghambat kriteria hasil penulis
dalam peningkatan akttivitas fisik pasien. Penulis pada pelaksanaan tindakan
keperawatan tidak mengalami kesulitan karena pasien kooperatif, tidak ada
rencana

keperawatan

yang

dilakukan

penulis

diluar

rencana

tindakan

keperawatan. Penulis tidak dapat melakukan implementasi lebih lanjut karena


pasien meminta pulang pada hari ke-4 pada pukul 11.00 WIB.
E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi tindakan yang diberikan selama 3 x 24 jam disusun dengan
menggunakan catatan perkembangan, pada diagnosa nyeri, keadaan nyeri pasien
sesuai dengan kriteria hasil dimana nyeri pada Ny. I berkurang, pasien tampak
rileks daan pasien mengetahui bagaimana cara mengurangi rasa nyeri dengan
menggunakan metode non farmakologi. Intervensi pada diagnosa pertama yaitu
nyeri dapat dihentikan. Pada diagnosa kedua adalah nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh didapatkan keadaan kondisi pasien sesuai dengan kriteria hasil dimana

65

indikator status gizi pasien dalam keadaan cukup adekuat dan dapat dilihat dari
porsi makan pasien dihabiskan.
Pada diagnosa ketiga yaitu intoleransi aktivitas dimana kemampuan
pasien dalam melakukan aktivitas meningkat yang ditandai dengan kriteria hasil
pasien dapat melakukan aktivitas ringan seperi personal hygine dan pasien juga
dapat melakukan kegiatan kecil seperti berjalan disekitar ruangan, maka dari itu
intervensi pada pasien Ny. Y untuk diagnosa intoleransi aktivitas dihentikan.

66

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Bersarkan data diatas, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan penulis dalam asuhan keperawatan ini sesuai
dengan teori. Beberapa tanda gejala dari peyakit hipertensi ditemukan saat
pengkajian baik anamnesa maupun pengkajian fisik. Hipertensi pada kasus
Ny. I adalah hipertensi ringan atau sekunder dan disebabkan oleh komplikasi
penyakit ginjal yang dideritanya.
2. Diagnosa yang muncul pada Tn. Y dengan hipertensi sudah tepat menurut
NANDA NIC NOC, yaitu nyeri akut berhubungan dengan peningkatan
vascular serebral, nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake inadekuat dan intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
fisik.
3. Perencanaan pada kasus ini telah dibuat sesuai dengan rencana keperawatn
berdasarkan NANDA NIC NOC. Perencanaan keperawatan pada Tn. Y telah
disusun menurut diagnosa yang muncul pada kasus Tn. Y.
4. Implementasi yang dilakukan sudah efektif dan telah dilakukan sesuai dengan
rencana yang telah ditetapkan. Tidak ada tindakan pada Tn. Y pada
implementasi yang tidak dapat dilakukan.
5. Evaluasi pada kasus Tn. Y dengan hipertensi yang terdiri dari 3 diagnosa
dimana pada diagnosa nyeri dalam waktu 3 hari belum mampu untuk
menghilangkan nyeri pada Tn. Y, pada masalah keperawatan nutrisi dan

67

intoleransi aktivias dapat teratasi dalam 3 hari pemberian asuhan keperawatan.


Evaluasi sudah didokumentasikan dalam bentuk catatan perkembangan serta
perencanaan lanjutan berupa discharge planning sudah dilakukan.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis memberi saran yang diharapkan
dapat bermanfaat:
1. Perawat
Memberikan asuhan keperawatan kepada klien dengan hipertensi diharapkan
perawat memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif dan sistematis
dengan mengikut sertakan klien dan keluarga, sehingga dapat mempermudah
dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.
2. Rumah Sakit
Rumah sakit diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan terhadap
klien dengan memberikan asuhan keperawatan yang menggunakan tahapan
proses keperawatan mulai dari pengkajian sampai tahap evaluasi secara
berkelanjutan dan berkesinambungan. Rumah sakit sebaiknya menyediakan
atau memberikan peningkatan pendidikan kesehatan kepada pasien melalui
keluarga terlebih pendidikan kesehatan tentang hipertensi.

Pada kasus

hipertensi, hendaknya rumah sakit menyediakan unit tersendiri untuk


mengontrol penyakit hipertensi baik untuk pasien rawat inap maupun pasien
rawat jalan.
3. Institusi pendidikan.

68

a.

Institusi pendidikan dimana mahasiswa keperawatan dalam melakukan


asuhan keperawatan pada pasien dilapangan hendaknya diberikan
bimbingan dan pengawasan dari pihak tenaga kependidikan sehingga
mahasiswa mendapatkan pengalaman dan dapat lebih menerapkan ilmu
yang dalam melakukan tindakan keperawatan khususnya penyakit
hipertensi dan asuhan keperawatannya.

b.

Institusi pendidikan dapat menambah dan melengkapi buku-buku tentang


asuhan keperawatan pada klien dengan hipertensi untuk dapat menunjang
penyusunan Karya Tulis Ilmiah.

4. Pasien dan keluarga


Pasien dan keluarga hendaknya dapat meningkatkan pengetahuan tentang
kesehatan terutama penanganan pada kasus hipertensi melalui pendidikan
kesehatan berupa penyuluhan ataupun mencari informasi kesehatan melalui
media elektronik. Keluarga hendaknya juga dapat memberikan dorongan
terhadapa pasien dengan hipertensi untuk dapat melakukan diit yang perlu
dilakukan pada pasien dengan hipertensi.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth , 2000. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Terjemahan
Suzanne C. Smeltzer. Edisi 8. Vol 8. Penerbit Buku Kedokteran EGC:
Jakarta.
Barry, L.C. 2004, Implementing the New Guidelinees for Hypertension : JNC VII,
ADA, WHA-ISH, J Manag Care Pharm.,10 (5):18-25
Subardja, D. (2004) Obesitas Primer Pada Anak. Bandung : PT Kiblat Buku Utama.

69

Yogiantoro M. (2006). Hipertensi Esensial dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid I edisi IV.Jakarta: FK UI.
Sloane, E., 1994. Anatomy and Physiology: An Easy Learner. Jones and Bartlett
Publisher, Inc, USA.
Sherwood, L. 2003. Fisiologi Manusia;dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta;EGC
Doenges Marlyn E, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, (Edisi 3), (Alih Bahasa 1 Made
Kriase), Jakarta: EGC.
Black, J.M, Hawks J.H, 2006, Medical Surgical Nursing, Clinical Management for
Positive Outcomes (8 Edition), Philadelpia: WB. Saunders Company
Corwin, Elizabeth J., 2001. Buku Saku PatofisiologI. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; hal 356
Gray, et al., 2005. Hipertensi. Lecturer Notes Kardiologi, Edisi ke-4, Jakarta:
Erlangga
Joanne, C. Mc. Closkey dan Bulechek, Gloria M. 2014. Nursing Intervention
classification (Nic). Edisi 2. St Louis : Mosby.
Johnson, et al. 2014. Nursing oucomes classification, (Noc), Edisi 2. St. Louis :
Mosby.
Dongeoes, dkk. 2010. Nursing care plans, guidelines for individualizing client care
across the life span. I group press Co., Ltd : Thailand
Kaplan M. Norman. Measurenment of Blood Pressure and Primary Hypertension:
Pathogenesis in Clinical Hypertension: Seventh Edition. Baltimore,
Maryland USA: Williams & Wilkins; 1998.
[RISKESDAS] Riset Kesehatan Dasar. 2007. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan, Republik Indonesia.
Judha, M. 2012. Teori Pengukuran Nyeri. Yogyakarta : Nuha Medika
Potter, P. A. Perry, A. G., 2015. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep
Proses Keperawatan dan Praktek, Vol. 1 E/4. Jakarta : EGC

70

E.J. Corwin. 2001. Buku Saku Patofisiologi Jakarta : EGC