Anda di halaman 1dari 114

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.

com

MORFOLOGI

Dosen Pembina:
Dr. Nani Sunarni, M. A.

Tugas UAS

Disusun oleh:
Teguh Santoso
180120140008

Universitas Padjajaran
Program Pasca Sarjana
Fakultas Ilmu Budaya
Konsentrasi Bidang Ilmu Linguistik Jepang
2014

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ..................................................................................................................... 2


BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................4
1.1 Latar Belakang...............................................................................................................4
1.2 Tipologi Bahasa Jepang.................................................................................................5
1.3 Morfologi.......................................................................................................................5
1.3.1 Morfem.....................................................................................................................6
1.3.2 Klasifikasi Morfem .................................................................................................7
1.3.3 Morf dan Alomorf ...................................................................................................9
1.4 Proses Morfologis.......................................................................................................10
1.5 Tipologi Morfologis....................................................................................................15
1.6 Konjugasi Bahasa Jepang............................................................................................16
1.7 Kedudukan Morfologi Dalam Linguistik.....................................................................19
1.8 Satuan Bahasa (Linguistik)..........................................................................................22
1.9 Komposisi, Gosei, Compounding, Composition : .......................................................27
BAB II KATEGORI GRAMATIKA NOMINA............................................................35
2.1 Fenomena Perubahan Pembentukan Kata ..................................................................35
2.2 Tenses ........................................................................................................................36
2.3 Aspek...........................................................................................................................47
2.4 Modalitas .....................................................................................................................60
2.5 Kesantunan ..................................................................................................................64
2

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

2.6 Voice ..........................................................................................................................66


BAB III KATEGORI GRAMATIKA............................................................................71
3.1 Kategori Gramatika Nomina ......................................................................................71
3.2 Kategori Gramatika Verba .........................................................................................80
3.2.1 Tei, Futei dan Kazu...................................................................................................87
3.2.2 Sei dan Kaku ............................................................................................................94
BAB IV PETA KONSEP ............................................................................................. 112
4.1 Peta Konsep 1 ............................................................................................................112
4.2 Peta Konsep 2 ............................................................................................................113
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................................114

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bahasa memiliki keterikatan terhadap manusia sebagai penggunanya. Dalam penggunaan
bahasa, berbeda maksud dan pikiran oleh penutur, maka berbeda pula bentuk dan tata bahasa
yang digunakan dalam menyampaikan maksud dan pikiran tersebut kepada lawan bicara.
Ketika kita menyampaikan ide, pikiran, hasrat dan keinginan kepada seseorang baik
secara lisan maupun secara tertulis, orang tersebut bisa menangkap apa yang kita maksud,
tiada lain karena dia memahami makna (imi) yang dituangkan melalui bahasa tersebut.
(Sutedi, 2003 : 2). Untuk dapat mengerti makna dari bahasa tersebut, maka dibutuhkan
bahasa yang sama-sama di mengerti oleh penutur maupun pendengar.
1.2 Tipologi Bahasa Jepang
Bahasa Jepang dapat dikatakan sebagai bahasa yang kaya dengan huruf tetapi miskin
dengan bunyi, karena hanya memiliki lima buah vokal dan beberapa buah konsonan yang
diikuti vokal tersebut dalam bentuk suku kata terbuka. Jumlah suku kata (termasuk bunyi
vokal) dalam bahasa Jepang hanya 102 buah, tidak ada suku kata tertutup atau yang diakhiri
dengan konsonan kecuali bunyi [N]. Untuk menyampaikan bunyi yang jumlahnya terbatas
tadi (102 bunyi) digunakan empat macam huruf, yaitu: 1. Huruf Hiragana; 2. Huruf Katakana.
3. Huruf Kanji dan 4. Huruf Romaji. Huruf Hiragana dan Katakana sering disebut juga huruf
Kana. Hiragana digunakan untuk menulis kosakata bahasa Jepang asli, apakah secara utuh
atau digabungkan dengan huruf Kanji. Huruf Katakana digunakan untuk menulis kata serapan
4

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

dari bahasa asing (selain bahasa Cina). Jumlah huruf Hiragana dan Katakana masing-masing
46 huruf dan dikembangkan dengan menambahkan tanda tertentu sehingga dapat membentuk
bunyi lainnya yang jumlahnya masing-masing menjadi 56 bunyi. Huruf-huruf tersebut
berbentuk suku kata, sehingga bunyi total bahasa Jepang kurang lebih hanya 102 suku kata.
Huruf Kanji berasal dari Cina, yang jumlahnya cukup banyak. Huruf Kanji yaitu huruf yang
merupakan lambang, ada yang berdiri sendiri,ada juga yang digabung dengan huruf Kanji
lainnya atau diikuti dengan huruf Hiragana. Huruf Kanji dalam bahasa Jepang ada dua
macam cara membacanya, yaitu: (1) ala Jepang (kun-yomi) dan (2) ala Cina (on-yomi).
Sedangkan huruf terakhir adalah Romaji atau huruf Alfabet (latin). (Sutedi, 2003 : 7-9).
1.3 Morfologi
Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa
sebagai satuan gramatikal. Istilah morfologi dalam bahasa Jepang disebut keitairon.
Morfologi adalah ilmu yang mengkaji tentang kata dan pembentukannya. Koizumi (1993: 89)
mengatakan: Ketairon wa gokei no bunseki ga chusin
to naru. Morfologi adalah suatu bidang ilmu yang meneliti pembentukan kata.
Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan
bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa
morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata
itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. (http://id.wikipedia.org/wiki/linguistik).
Kata Morfologi berasal dari kata morphologie. Kata morphologie berasal dari bahasa
Yunani morphe yang digabungkan dengan logos. Morphe berarti bentuk dan dan logos berarti
ilmu. Bunyi [o] yang terdapat diantara morphed an logos ialah bunyi yang biasa muncul
diantara dua kata yang digabungkan. Jadi, berdasarkan makna unsur-unsur pembentukannya
itu, kata morfologi berarti ilmu tentang bentuk.

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Dalam kaitannya dengan kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata.
Selain itu, perubahan bentuk kata dan makna (arti) yang muncul serta perubahan kelas kata
yang disebabkan perubahan bentuk kata itu, juga menjadi objek pembicaraan dalam morfologi.
Dengan kata lain, secara struktural objek pembicaraan dalam morfologi adalah morfem pada
tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi.
Itulah sebabnya, dikatakan bahwa morfologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk
kata (struktur kata) serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap makna (arti)
dan kelas kata.
1.3.1 Morfem
Morfem adalah unsur-unsur terkecil yang memiliki makna dalam tutur suatu bahasa
(Hookett dalam Sutawijaya, dkk.). Kalau dihubungkan dengan konsep satuan gramatik, maka
unsur yang dimaksud oleh Hockett itu, tergolong ke dalam satuan gramatik yang paling kecil.
Morfem, dapat juga dikatakan unsur terkecil dari pembentukan kata dan disesuaikan dengan
aturan suatu bahasa. Pada bahasa Indonesia morfem dapat berbentuk imbuhan. Misalnya kata
praduga memiliki dua morfem yaitu /pra/ dan /duga/. Kata duga merupakan kata dasar
penambahan

morfem

/pra/

menyebabkan

perubahan

arti

pada

kata

duga.

(http://id.wikipedia.org/wiki/linguistik).
Berdasarkan konsep-konsep di atas di atas dapat dikatakan bahwa morfem adalah satuan
gramatik yang terkecil yang mempunyai makna, baik makna leksikal maupun makna
gramatikal. Kata memperbesar misalnya, dapat kita potong sebagai berikut:
mem-perbesar
per-besar
Jika besar dipotong lagi, maka be- dan sar masing-masing tidak mempunyai makna.
Bentuk seperti mem-, per-, dan besar disebut morfem. Morfem yang dapat berdiri sendiri,
seperti besar, dinamakan morfem bebas, sedangkan yang melekat pada bentuk lain, seperti

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

mem- dan per-, dinamakan morfem terikat. Contoh memperbesar di atas adalah satu kata yang
terdiri atas tiga morfem, yakni dua morfem terikat mem- dan per- serta satu morfem bebas,
besar.

1.3.2 Klasifikasi Morfem


1. Morfem Bebas dan Morfem Terikat
Morfem ada yang bersifat bebas dan ada yang bersifat terikat. Dikatakan morfem bebas
karena ia dapat berdiri sendiri, dan dikatakan terikat jika ia tidak dapat berdiri sendiri.
Misalnya:
Morfem bebas saya, buku, dsb.
Morfem terikat ber-, kan-, me-, juang, henti, gaul, dsb.
2. Morfem Segmental dan Morfem Supra Segmental
Morfem segmental adalah morfem yang terjadi dari fonem atau susunan fonem segmental.
Sebagai contoh, morfem {rumah}, dapat dianalisis ke dalam segmen-segmen yang berupa
fonem [r,u,m,a,h]. Fonem-fonem itu tergolong ke dalam fonem segmental. oleh karena itu,
morfem {rumah} tergolong ke dalam jenis morfem segmental.
3. Morfem supra segmental adalah morfem yang terjadi dari fonem suprasegmental. Misal,
jeda dalam bahasa Indonesia. Contoh:
bapak wartawan
ibu guru

bapak//wartawan
ibu//guru

4. Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tak Bermakna Leksikal


Morfem yang bermakna leksikal merupakan satuan dasar bagi terbentuknya kata. morfem
yang bermakna leksikal itu merupakan leksem, yakni bahan dasar yzng setelah mengalami
pengolahan gramatikal menjadi kata ke dalam subsistem gramatika. Contoh: morfem
{sekolah}. berarti tempat belajar.

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Morfem yang tak bermakna leksikal dapat berupa morfem imbuhan, seperti {ber-}, {ter-},
dan {se-}. morfem-morfem tersebut baru bermakna jika berada dalam pemakaian. Contoh:
{bersepatu} berarti memakai sepatu.
5. Morfem Utuh dan Morfem Terbelah
Morfem utuh merupakan morfem-morfem yang unsur-unsurnya bersambungan secara
langsung. Contoh: {makan}, {tidur}, dan {pergi}.
Morfem terbelah morfem-morfem yang tidak tergantung menjadi satu keutuhan. morfemmorfem itu terbelah oleh morfem yang lain. Contoh: {kehabisan} dan {berlarian} terdapat
imbuhan ke-an atau {ke.an} dan imbuhan ber-an atau {ber.an}. contoh lain adalah
morfem{gerigi} dan {gemetar}. Masing-masing morfem memilki morf /g..igi/ dan /g..etar/.
Jadi, ciri terbelahnya terletak pada morfnya, tidak terletak pada morfemnya itu sendiri.
morfem itu direalisasikan menjadi morf terbelah jika mendapatkan sisipan, yakni morfem
sisipan {-er-} pada morfem {gigi} dan sisipan {-em-} pada morfem {getar}.
6. Morfem Monofonemis dan Morfem Polifonemis
Morfem monofonemis merupakan morfem yang terdiri dari satu fonem. Dalam bahasa
Indonesia pada dapat dilihat pada morfem {-i} kata datangi atau morfem{a} dalam bahasa
Inggris pada seperti pada kata asystematic.
Morfem polifonemis merupakan morfem yang terdiri dari dua, tiga, dan empat fonem.
Contoh, dalam bahasa Inggris morfem {un-} berarti tidak dan dalam bahasa Indonesia
morfem {se-} berarti satu, sama.
7. Morfem Aditif, Morfem Replasif, dan Morfem Substraktif
Morfem aditif adalah morfem yang ditambah atau ditambahkan. kata-kata yang mengalami
afiksasi, seperti yang terdapat pada contoh-contoh berikut merupakan kata-kata yang
terbentuk dari morfem aditif itu.
mengaji

2. childhood

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

berbaju

houses

Morfem replasif merupakan morfem yang bersifat penggantian. dalam bahasa Inggris,
misalnya, terdapat morfem penggantian yang menandai jamak. Contoh: {fut} {fi:t}.
Morfem substraktif adalah morfem yang alomorfnya terbentuk dari hasil pengurangan
terhadap unsur (fonem) yang terdapat morf yang lain. Biasanya terdapat dalam bahasa
Perancis.

1.3.3 Morf dan Alomorf


Morf dan alomorf adalah dua buah nama untuk untuk sebuah bentuk yang sama. Morf
adalah nama untuk sebuah bentuk yang belum diketahui statusnya (misal: {i} pada kenai);
sedangkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui statusnya atau
bisa dikatakan bahwa anggota satu morfem yang wujudnya berbeda, tetapi yang mempunyai
fungsi dan makna yang sama dinamakan alomorf. Dengan kata lain alomorf adalah
perwujudan konkret (di dalam penuturan) dari sebuah morfem. Jadi setiap morfem tentu
mempunyai almorf, entah satu, dua, atau enam buah. Contohnya, morfem meN- (dibaca: me
nasal): me-, mem- men-, meny-, meng-, dan menge-. Secara fonologis, bentuk meberdistribusi, antara lain, pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /I/ dan /r/; bentuk
mem- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /b/ dan juga /p/; bentuk
men- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya /d/ dan juga /t/; bentuk menyberdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya /s/; bentuk meng- berdistribusi pada
bentuk dasar yang fonem awalnya, antara lain konsonan /g/ dan /k/; dan bentuk mengeberdistribusi pada bentuk dasar yang ekasuku, contohnya {menge}+{cat}= mengecat. Bentukbentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama tersebut disebut alomorf.

1.4 Proses Morfologis

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Proses morfologis bahasa Jepang adalah apabila dua buah morfem disatukan,
mengakibatkan terjadinya penyesuaian diantara kedua morfem tersebut. Proses tersebut
terjadi dengan cara fukaatau penambahan, kejoatau penghapusan,
jufukuatau penambahan dan zero setsujiatau imbuhan kosong.
Sedangkan morfem adalah potongan terkecil dari kata yang memiliki arti. Potongan kata atau
morfem tersebut ada yang dapat berdiri sendiri dan ada yang tidak atau berbentuk terikat pada
morfem lain.
Koizumi membagi morfem menjadi empat macam, yaitu

a. Morfem Dasar ()
Morfem dasar adalah bagian kata yang menjadi kata dasar dari perpaduan dua buah
morfem atau lebih dalam proses morfologis.

b. Morfem Terikat ()
Morfem terikat adalah morfem yang ditambah untuk merubah arti atau makna kata dasar.
Morfem ini tidak memiliki arti apabila berdiri sendiri

c. Morfem Berubah ()

Morfem berubah adalah morfem yang bunyinya berubah apabila digabungkan dengan
morfem lain dalam pembentukan kata, baik morfem dasar maupun morfem terikat
berubah bunyinya apabila diikatkan satu sama lain.

d. Morfem Bebas ()
Morfem bebas adalah morfem yang tidak berubah bunyi walaupun ada proses
morfologis.
Proses morfologis verba bahasa Jepang terdapat rumusan sebagai berikut:
10

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

I.

Keduanya morfem bebas, yaitu baik morfem dasarnya maupun morfem terikatnya
adalah bebas.
Contoh
+ /tabe-/ + /-nai/

II.

Kata dasarnya morfem bebas kemudian diikuti oleh morfem terikat.


Contoh
+/ik-/ + /-eba/

III.

Kata dasarnya morfem terikat dan diikuti oleh morfem bebas.


Contoh
+ /k-/ + /-onai/

Dalam morfologi verba bahasa Jepang, terdapat gokan dan gobi. Koizumi (1993: 95)
mengatakan gokan adalah morfem yang maknanya terpisah dengan jelas. Sutedi (2003:43)
menambahkan bahwa gokan adalah morfem yang menunjukan makna aslinya.
Sedangkan gobi menurut Sutedi (2003 :43) adalah morfem yang menunjukan makna
gramatikalnya. Morfem terikat dalam bahasa Jepang disebut dengan jodoshiarti
kanjinya dalam bahasa Indonesia adalah kata Bantu verba. Karena tidak memenuhi ciri
sebuah kata yaitu berdiri sendiri dan mempunyai arti sendiri, maka lebih cocok disebut
dengan morfem pembentuk verba. Morfem ini berfungsi untuk memberi makna atau arti pada
dasar verba. Sutedi (2003: 42) mencontohkan verba /kaku/ terdiri dari dua bagian, yaitu /kak/ yang tidak mengalami perubahan disebut dengan gokan atau akar kata, dan bagian belakang
/-u/ yang mengalami perubahan disebut dengan goki
Para linguis yang sehari-hari bergelut dengan kata ini, hingga dewasa ini, kiranya tidak
pernah mempunyai kesamaan pendapat mengenai konsep apa yang di sebut dengan kata itu.

11

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Satu masalah lagi mengenai kata ini adalah mengenai kata sebagai satuan gramatikal.
Menurut verhaar (1978) bentuk-bentuk kata bahasa Indonesia, misalnya: mengajar, di ajar,
kauajar, terjar, dan ajarlah bukanlah lima buah kata yang berbeda, melainkan varian dari
sebuah kata yang sama. Tetapi bentuk-bentuk, mengajar, pengajar, pengajaran, dan ajarlah
adalah lima kata yang berlainan.
Kata adalah satuan terkecil dari kalimat yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna.
Kata-kata yang terbentuk dari gabungan huruf atau morfem baru kita akui sebagai kata bila
bentuk itu sudah mempunyai makna.
Kata ialah morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan
terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas. (Kridalaksana). Perhatikan kata-kata
di bawah ini.
1. Mobil
2. Rumah
3. Sepeda
Ketiga kata yang kita ambil secara acak itu kita akui sebagai kata karena setiap kata
mempunyai makna. Kita pasti akan meragukan, bahkan memastikan bahwa adepes, libma,
ninggib, haklab bukan kata dari bahasa Indonesia karena tidak mempunyai makna.
Dari segi bentuknya kata dapat dibedakan atas dua macam, yaitu (1) kata yang bermofem
tunggal, dan (2) kata yang bermorfem banyak. Kata yang bermorfem tunggal disebut juga
kata dasar atau kata yang tidak berimbuhan. Kata dasar pada umumnya berpotensi untuk
dikembangkan menjadi kata turunan atau kata berimbuhan. Perhatikan perubahan kata dasar
menjadi kata turunan dalam tabel di bawah ini.

12

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Kata terbentuk dari morfem atau morfem-morfem. Terbentuknya kata dari morfemmorfem itu melalui suatu proses yang disebut proses morfologik atau morfemik. Jadi, proses
morfologi adalah proses terbentuknya kata dari morfem-morfem. Pada umumnya dikenal
delapan proses morfologik, yaitu:
1. Derivasi
Derivasi adalah proses morfologis yang menghasilkan kata-kata yang makna
leksikalnya berbeda dari kata pangkal pembentuknya. Yaitu afiksasi yang
menurunkan kata atau unsur leksikal yang lain dari kata atau unsur leksikal tertentu.
Derivasi menghasilkan kata baru dari suatu kata dasar, yang kadang-kadang
mengubah kelas kata seperti perubahan noun menjadi verb
2. Afiksasi
Dalam proses ini leksem berubah menjadi kata kompleks. Dengan kata lain, afiksasi
adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Proses ini
dapat bersifat inflektif dan dapat pula derivatif. Dilihat pada posisi melekatnya pada
bentuk dasar biasanya dibedakan adanya prefiks, infiks, sufiks, konfiks, interfiks, dan
transfiks. Di samping itu masih ada istilah ambifiks dan sirkumfiks.
Proses afiksasi dapat dibagi menjadi lima, yaitu
a. Prefiks
Prefiks dalam bahasa jepang disebut dengan settouji. Koizumi (1993 : 95)
mengatakan settouji atau prefiks yaitu imbuhan yang ditambahkan di depan
kata dasar atau gokan. Bahasa Jepang memiliki ragam hormat yang disebut
dengan keigo. Keigo adalah kata-kata yang sesuai digunakan pada suatu
pembicaraan untuk menunjukan rasa hormat kepada lawan bicara pernyataan
bentuk hormat ditentukan oleh pilihan kosa kata dan sangat terbatas oleh
pembentukan kata dngan proses prefiksasi, seperti prefiks /o-/ dan /go-/

13

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

b. Sufiks
Sufiks dalambahasa Jepang disebut dengan setsubiji. Koizumi (1993:95)
mengatakan setsubiji atau akhiran yaitu imbuhan yang ditambahkan
dibelakang kata dasar. Sebagian imbuhan dalam bahasa Jepang adalah
berbentuk sufiks.
c. Infiks
Dalam bahasa Jepang infiks disebut dengan setsuchuji. Koizumi (1993 : 95)
mengatakan setsuchuji adalah imbuhan yang disisipkan ke dalam atau ke
tengah akar kata atau gokan.
d. Kombinasi Afik
Kombinasi afiks adalah kombinasi dari dua afiks atau lebih yang dilekatkan
pada dasar kata, oleh karena verba bahasa Jepang adalah polimorfemik, maka
proses afiksasi dengan kombinasi afiks pada proses kedua akan melekat pada
morfem jadian.
e. Partikel Afiks
Partikel afiks ialah satuan terkecil yang diletakan pada penanda akhir dan
dasar kata. Partikel berfungsi menegaskan kata yang ada di depannya.
3. Reduplikasi
Dalam proses ini leksem berubah menjadi kata kompleks dengan beberapa macam
proses pengulangan terhadap bentuk dasar , baik secara keseluruhan, sebagian
(parsial), maupun dengan perubahan buyi. Oleh karena itu, lazim dibedakan adanya
reduplikasi penuh, seperti meja-meja (dari dasar meja), reduplikasi sebagian, seperti
lelaki (dari dasar laki), dan reduplikasi dengan perubahan bunyi, seperti bolak-balik
(dari dasar balik). Selain itu, ada juga yang dinamakan dengan reduplikasi semu,

14

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

seperti mondar-mandir, yaitu sejenis bentuk kata yang tampaknya sebagai hasil
reduplikasi, tetapi tidak jelas bentuk dasarnya yang diulang.
4. Komposisi
Dalam proses ini dua leksem atau lebih berpadu dan outputnya adalah paduan leksem
atau kompositum dalam tingkat morfologi atau kata majemuk dalam tingkat sintaksis.
Komposisi terdapat dalam banyak bahasa. Dalam bahasa Indonesia, misalnya lalu
lintas, daya juang, dan rumah sakit.
Menurut Koizumi (1993:109) komposisi adalah merupakan penggabungan beberapa
morfem yang terbagi atas berbagai variasi.
5. Perubahan vokal
Dalam proses ini terjadi perubahan vokal-vokal pada kata, seperti kata dalam bahasa
Inggris foot---feet dan mouse---mice.

1.5 Tipologi Morfologis


Perhatikan Peta Konsep Linguistik berikut ini:
Gengogaku (Linguistik)
Mikro Linguistik

Makro Linguistik

Tougoron (Sintaksis)

Imiron (Makna)

Keitairon (Morfologi )

Onseigaku
(Fonetik-Fonologi)

morfologi
On-inron
(Semantik)

Goyouron
(Pragmatik )

15

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Tipologi morfologis yang menghasilkan tiga tipe bahasa, yaitu bahasa isolatif, bahasa
aglutinatif, dan bahasa fleksi.
2. Bahasa isolatif, yaitu bahasa yang dalam menyatakan hubungan gramatikalnya
dinyatakan dan bergantung pada urutan kata, sedangkan bentuk katanya tidak
mengalami perubahan bentuk kata secara morfologis melainkan perubahan yang ada
hanya karena perbedaan nada. Dan kata-katanya sering terdiri dari satu morfem
3. Bahasa aglutinatif, yaitu bahasa yang kata-katanya dapat dibagi dalam morfemmorfem tanpa kesulitan. Juga hubungan gramatikalnya dah struktur katanya
dinyatakan dengan kombinasi unsur-unsur bahasa secara bebas. Dalam tipe ini,
pembentukan kata dapat dilakukan dengan afiksasi (pembentukan kata melalui
pengimbuhan), komposisi (pembentukan kata melalui pemajemukan), dan reduplikasi
(pembentukan kata melalui pengulangan).
4. Bahasa fleksi, yaitu bahasa yang hubungan gramatikalnya tidak dinyatakan dengan
urutan kata, tetapi dinyatakan dengan infleksi. Bahasa yang bertipe fleksi struktur
katanya terbentuk oleh perubahan bentuk kata. Ada dua macam perubahan bentuk
kata dalam bahasa tipe ini, yaitu dengan deklinasi dan konjugasi. Deklinasi adalah
perubahan bentuk kata yang disebabkan oleh jenis, jumlah, dan kasus. Konjugasi
adalah perubahan bentuk kata yang disebabkan oleh perubahan persona, jumlah, dan
kala.

1.6 Konjugasi Bahasa Jepang


Konjugasi verba bahasa Jepang secara garis besar ada enam macam antara lain :
a) Mizenkei () yaitu perubahan bentuk verba yang didalamnya mencakup bentuk
menyangkal (bentuk NAI), bentuk maksud (OU/YOU), bentuk pasif (RERU) dan
bentuk menyuruh (bentuk SASERU).
16

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

b) Renyoukei

() yaitu perubahan bentuk verba yang mencakup bentuk sopan

(bentuk MASU), bentuk sambung (bentuk TE) dan bentuk lampau (bentuk TA).
c) Shuushikei () yaitu vera bentuk kamus atau yang digunakan di akhir kalimat.
d) Rentaikei () yaitu verba (bentuk kamus) yanf digunakan sebagai modifikator.
e) Kateikei () yaitu perubahan verba ke dalam bentuk pengandaian (bentuk BA).
f) Meireikei () yaitu perubahan verba ke dalam bentuk perintah.
Berikut ini adalah tabel perubahan verba dalam penggunaan berbagai konjugasi :

Verba

Arti

Mizenkei

Renyoukei Shuushikei Rentaikei

Kateikei

Meireikei

Menulis

Ka-kanai

Ka-kimasu

Ka-ku

Ka-ku

Ka-keba

Ka-ke

Ka-kou

Ka-ite

Ka-kereru

Ka-ita

Ka-ku

Ka-seru

II

Taberu

Makan

Ta-benai

Ta-bemasu

Ta-beru

Ta-beru

Ta-bereba

Ta-be

Ta-beyou

Ta-bete

Ta-

Ta-beta

berareru

Ta-besaseru

17

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

III

Ku-ru

Datang

Ko-nai

Ki-masu

Ku-ru

Ku-ru

Ko-reba

Ko-i

Ko-you

Ki-te

Ko-reru

Ki-ta

Ko-saseru

Dari tabel di atas, bisa diketahui bahwa adanya perbedaan pembatas morfem dalam
setiap bentuknya karena menggunakan dua jenis huruf yang berbeda (kanji dan hiragana).
Jika analisis morfemnya mengacu pada penggunaan huruf Jepang merupakan suatu silabis
atau suku kata, lain halnya dengan mengacu pada huruf Alfabet.
Machida dan Momiyama dalam Sutedi (2003: 50) berpendapat bahwa analisis
morfem jika mengacu pada huruf alphabet akan semakin jelas. Huruf alphabet yang
dimaksud yaitu menggunakan system Jepang (nihon-shiki) atau system kunrei, bukan
mengacu kepada system Hepburn.
Dari jenis-jenis perubahan di atas , shuushikei dan rentaikei kedua-duanya merupakan
verba bentuk kamus, yaitu bentuk yang tercantum dalam kamus. Perbedaannya shuushikei
digunakan diakhir kalimat atau sebagai predikat, sedangkan rentaikei berfungsi untuk
menerangkan nomina yang mengikutinya (sutedi 2003: 48- 49). Perubahan verba ke dalam
bentuk TE dan TA yang mengalami proses `onbin' <euphony>, onbin adalah perubahan
fonem atau bunyi karena pengaruh bunyi yang mengapitnya. Untuk verba kelompok I bisa
diklasifikasikan seperti berikut.(Sutedi 2003:53-54)
a.

Sokuonbin () yaku terjadi pada ren-youkei (bentuk MASU) dari verba yang
morfem keduanya berupa suku kata {i, ri, ti} serta {ki}. Atau jika bermula dari

18

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

verba bentuk kamus, setiap verba yang berakhiran suara/huruf U, TSU, RU (


) serta KU () pada verba iku <pergi> akan berubah menjadi TTE ().
b.

I-onbin() yajtu terjadi pada ren-youkei (bentuk MASU) dari verba yang
morfem ke duanya berupa suku kata {ki, gi} menjadi {ite, ide}. Atau jika bermula
dari verba bentuk kamus, setiap verba yang berakhiran bunyi/huruf KU, GU (,
) berubah menjadi ITE, IDE ().

c.

Hatsuonbin terjadi pada ren-youkei (bentuk MASU) dari verba yang morfem ke
duanya berupa suku kata { mi, ni, bi} menjadi {nde}. Atau jika bermula dari verba
bentuk kamus, setiap verba yang berakhiran bunyi/huruf MU, NU, BU (
) berubah menjadi NDE ().

1.7 Kedudukan Morfologi Dalam Linguistik


Kedudukan morfologi (keitaron) merupakan salah satu dari cabang ilmu linguistik.
Pendapat tersebut sesuai dengan pernyataan Sutedi (2003: 41) yang mengatakan bahwa
morfologi merupakan cabang dari linguistik yang mengkaji tentang kata dan proses
pembentukannya. Objek yang dipelajarinya yaitu tentang kata ( go/tango) dan
morfem ketaiso. Sutedi (2003: 41) juga mengatakan morfem merupakan
satuan bahasa terkecil yang memiliki makna dan tidak bisa di pecah lagi ke dalam satuan
makna yang lebih kecil lagi. Koizumi (1993:91) mengatakan morfem adalah potongan yang
terkecil dari kata yang mempunyai arti. Koizumi (1993:93) membagi morfem berdasarkan
bentuk menjadi dua, yaitu:
1. jiyuukei atau Bentuk bebas : morfem yang dilafalkan/ diucapkan secara tunggal
(berdiri sendiri).
19

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

2. ketsugoukei Bentuk terikat : morfem yang biasanya digunakan dengan cara


mengikatnya dengan morfem lain tanpa dapat dilafalkan secara tunggal (berdiri sendiri).
Sutedi (2003:43) juga mengatakan kata yang bisa berdiri sendiri dan bisa menjadi suatu
kalimat tunggal disebut morfem bebas. Sedangkan kata yang tidak bisa berdiri sendiri
dinamakan morfem terikat. Menariknya dalam bahasa Jepang, lebih banyak morfem
terikatnya daripada morfem bebasnya. Ada beberapa istilah yang berhubungan dengan
morfologi bahasa Jepang, diantaranya morfem (keitaiso), Sutedi (2003: 44-45) berpendapat,
dalam bahasa Jepang, selain terdapat morfem bebas dan morfem terikat, morfem bahasa
Jepang juga dibagi menjadi dua, yaitu morfem isi dan morfem fungsi.
Morfem isi naiyoukeitaiso adalah morfem yang menunjukkan makna aslinya.
Seperti: nomina, adverbia, dan gokan dari verba atau adjektiva. Sedangkan morfem fungsi
kinoukeitaiso adalah morfem morfem yang menunjukan fungsi gramatikalnya,
seperti partikel, gobi dari verba atau adjektiva, kopula dan morfem pengekpresi kala
(jiseikeitaiso).
Koizumi (1993:95) juga menggolongkan morfem berdasarkan isinya menjadi dua yaitu
1. Akar kata (gokan): morfem yang memiliki arti yang terpisah (satu per satu) dan
kongkrit.
2. Afiksasi (setsuji): morfem yang menunjukkan hubungan gramatikal.
Dapat diketauhi, dalam pembentukan kata dalam bahasa Jepang terdapat dua unsur
penting antara lain dilihat bedasarkan bentuknya, yaitu bentuk bebas dan bentuk terikat, serta
berdasarkan isi, yaitu akar kata dan afiksasi atau dari segi gramatikalnya.
Hasil dari pembentukan kata dalam bahasa Jepang sekurang-kurangnya ada 4 macam,
yaitu

20

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

1. Haseigo
Kata yang terbentuk dari penggabungan naiyou-keitaiso dengan setsuji disebut haseigo
kata jadian. Proses pembentukannya bisa dalam bentuk settouji+morfem isi atau morfem
isi+setsubiji. Awalan { o-, go-, su-, ma-, ka-, suQ-} bias digolongkan ke
dalam settouji. Sedangkan akhiran {sa, -mi, -teki, -suru} termasuk ke dalam
setsubiji. Misalnya: o+nomina = o-kuruma: mobil (sopan), go+nomina = go-kazoku:
keluarga (sopan), su+nomina = su-ashi: kaki telanjang, ma+nomina = ma-gokoro: setulus
hati, ka+adjektiva= ka-guroi: hitam pekat. Contoh akhiran termasuk dalam setsubiji, antara
lain: gokan dari adjektiva+sa = samusa : dinginnya, gokan dari adjektiva+mi= amami:
manisnya, nomina verba+suru= benkyou suru : belajar, nomina+teki = keizaiteki: ekonomis.
2. Fukugougo/goseigo
Kata yang terbentuk sebagai hasil penggabungan beberapa morfem isi disebut dengan
fukugougo atau gokeisei kata majemuk. Misalnya:
a. Dua buah morfem isi nomina+nomina ama-gasa : payung hujan, hon-dana rak buku
b. Morfem isi+setsuji: nomina+verba =higaeri pulang hari itu, verba+nomina =
tabemono makanan; verba+verba =verba: toridasu mengambil, verba+verba =
nomina: ikikaeri pulang-pergi
3. Karikomi/shouryaku
Merupakan akronim yang berupa suku kata (silabis) dari kosakata aslinya. Misalnya:
terebishon = terebi : televise
4. Toujigo

21

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Merupakan singkatan huruf pertama yang dituangkan dalam huruf Alfabet. Misalnya:
Nippon Housou Kyoukai = NHK : radio TV Jepang.
Kata yang mengalami perubahan bentuk dalam bahasa Jepang disebut yougen, sedangkan
kata yang tidak mengalami perubahan bentuk disebut taigen.

1.8 Satuan Bahasa/Linguistik


Satuan-satuan bahasa meliputi fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana.
a. Fonem
Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan
makna kata.
Contohnya:/ a /,/i/,/b/,/c/
b. Morfem
Morfem adalah suatu bentuk bahasa terkecil yang mengandung arti atau mendukung
arti.
Morfem terbagi menjadi dua yaitu:
1. Morfem segmental adalah morfem yang tidak mengalami perubahan kelas kata.
Morfem segmental terbagi menjadi dua yaitu morfem bebas dan morfem terikat
a) Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri
Contohnya : bom, ban, cat
b) Morfem terikat adalah morfem morfem yang belum dapat berdiri sendiri.
Conrohnya : Me latih = melatih
Me naik = menaik
2. Morfem supra-segmental adalah morfem yang mengalami perubahan kata.
Perubahan kelas kata tersebut disebabkan oleh:
22

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

-intonasi
- penempatan atau letak
Perubahan karena intonasi contohnya:
1. Pukul besi artinya pukul yang terbuat dari besi.
2. Pukul besi itu artinya besi itu disuruh pukul.
Perubahan penempatan atau letak contohnya:
1)

Sungai itu dalam : menunjukan kata keadaan

2)

Dalam sungai itu : menunjukan kata benda

c. Kata
Kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian atau, kata adalah deretan
huruf yang diapit oleh dua sepasi dan mempunyai satu arti. Contohnya : spidol, sikat,
penghapus.
Dalam bahasa Jepang, pembentukan kata (word-formation ) meliputi dua kajian, yaitu
1. Gokouzo; yaitu: menganalisis kata secara internal
2. Gokeisei atau zougohou; mengkaji kata secara internal juga secara diakronik sampai
kajian etimologi kata tersebut.
Kata terdiri dari beberapa bagian, yaitu
1. Dasar Kata (Base- Goki)
Dalam bahasa Jepang menurut (Sunarni dan Johana:12-13) dasar kata (goki)
merupakan salah satu unsur pembentuk kata yang menunjukkan bagian yang tersisa
setelah semuanya dipisahkan dari imbuhan. Berikut contoh goki dalam bahasa Jepang:
Dasar Kata (Goki)

Kata Turunan

Asal Kata

hanasa

hanasareru

hanasu
berbicara

Kaka

kakareru

Kaku

23

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

menulis
Sebagai perbandingan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dasar kata merupakan
morfem yang dapat diperluas dengan dibubuhi afiks.
Contoh: juang dalam berjuang (satu dasar), bark dalam disembarkation
2. Akar Kata (Root-Gokon)
Akar kata disebut pula root atau radical. Beberapa linguis ada pula yang menyebut akar
kata ini sama dengan dasar kata (base). Akar kata merupakan unsur yang menjadi dasar
pembentukan kata. Contoh: sawayaka segar, hanayaka meriah/berbunga-bunga
3. Pangkal Kata (Stem-Gokan)
Kridalaksana (1999:153) menyebutkan bahwa pangkal kata dapat berupa morfem yang
bergabung dengan afiks.
Contoh: olah pangkal dari mengolah, tani pangkal dari bertani, unqualifi(y) pangkal dari
unqualified, refreshment pangkal dari refresthments, kak- pangkal dari kaku menulis, tabepangkal dari tabemasu makan
Dalam bahasa Jepang, pangkal kata (gokan) merupakan salah satu unsur pembentuk kata
yang merupakan bagian yang tersisa setelah dipisahkan dari afiks impleksional.
Kata

stem

afiks impleksi

afiks

hanashimasu

hanas-

-i-

masu

tog-

-i-

masu

berbicara
togimasu
Mengasah
Pangkal kata dalam tabel diatas dapat disebut pula kihon gokan (stem dasar). Selain itu,
terdapat pula pangkal kata yang memiliki konjugasi khusus yang disebut dengan onbin gokan
(stem asimilasi). Onbin gokan terdiri dari 3 jenis yaitu;

24

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

a.

I onbin; adalah perubahan bunyi yang terjadi di akhir atau di tengah suatu kata
berdasarkan kesesuaian nasal yang berdasarkan suatu syarat.

b.

Soku onbin; adalah proses asimilasi bunyi yang disebabkan oleh pertemuan silabel
ru, u menghadapi fonem /t/

c.

Hatsu onbin; adalah proses asimilasi bunyi yang disebabkan oleh pertemuan
silabel nu, menghadapi fonem /d/

Jenis Onbin

Verba Prakategorial

Contoh

i-onbin

Kaku menulis

Kai (-ta)

Soku onbin

Tsukuru membuat

Tsukutta

Nomu minum

noN(-da)

noN(-de)

noN(-dara)

Yobu memanggil

yoN(-da)

yoN(-de)

yoN(-dara)

Shinu mati

shiN(-da)

shiN(-de)

shiN(-dara)

Hatsu onbin

kai(-te)
tsukutte

Dengan demikian, kata dalam bahasa Jepang berstruktur:


Gokan+gobi
Contoh:
kak + u = kaku menulis
kak + e = kake tulis!

Gokan+ setsuji
Contoh:
tabe+ masu = tabemasu makan
nomi + masu = nomimasu minum
d.

Frase

25

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Frase adalah penggabungan dua buah bentuk atau lebih yang membentuk
kelompok kata dan tidak menimbulkan pengertian baru.
Contohnya : kaki meja
e.

Klausa
Klausa adalah kelompok kata yang hanya mengandung satu predikat
Klausa diklasifikasikan atas:
1. Klausa bebas contohnya Ayah pergi ke kantor.
2. Klausa terikat contohnya ibu memarahi anak itu.

f.

Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, yang
mempunyai pola intonasi akhir dan yang terdiri dari klausa.
Kalimat dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
1. Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas tanpa klausa
terikat.
Contohnya: Saya makan
Dia minum
2. Kalimat bersusun adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas dan sekurang
kurangnya satu klausa terikat.
Contohnya: Saya bangun sebelum ayam berkokok.
Dia pergi sebelum kami bangun.
3. Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari beberapa klausa bebas.
Contohnya : Saya mengambil sebuah buku dari lemari, kemudian saya
membacanya sampai tamat.

g.

Wacana

26

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Wacana diartikan sebagai organisasi bahasa yang lebih luas dari kalimat atau
klausa dan oleh karna itu dapat juga sebagai satuan linguistik yang lebih besar
misalnya percakapan lisan atau naskah tertulis.
Contonya :
Jalan adalah urat nadi perekonomian, hampir seluruh aktivitas perekonomian
ditentukan oleh keberadaan infrastuktur jalan. Semakin mulus jalan yang
ada, semakin lancar pula jalanya perekonomian.

1.9 Komposisi , Gosei, Compounding, Composition


Proses komposisi atau pemajemukan dalam bahasa Jepang ada dua macam, yaitu
komposisi sintaksis (tougokouzou) dan komposisi sederajat (heiretsukouzou). Secara struktur
komposisi dapat dilihat dari jenis kata unsur pembentuk pemajemukan yang terdiri dari
1. N+V

Contoh:
yama+aruki(u) yamaaruki: jalan-jalan di gunung
Korelasi kedua unsur pembentuk kata majemuk tersebut memiliki hubungan secara
sintaksis, yaitu dengan partikel kasus seperti contoh berikut:
a. Shukaku (nominatif) yang memiliki struktur
N

ga

Vsuru

Contoh:
Higure : matahari terbenam
Hi ga kure(ru)
Matahari terbenam
b. Taikaku (objektif) yang memiliki struktur
N

Vssuru (transitif)
27

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Contoh:
Sukimi : melihat bulan
Suki o mi(ru)
bulan melihat
c. Gukaku (instrumental) yang memiliki struktur

de

Vsuru

Contoh:
Pengaki: penulisan dengan pulpen
Pen

de

kaki(u)

Bolpen

dengan

menulis

d. Kichakukaku (terminatif) yang memiliki struktur


N

ni

Vsuru

Contoh:
Satogaeri: pulang kampung
Sato

ni

kaeri(u)

Kampung halaman

ke

pulang

e. Bashokaku (lokasional) yang berstruktur


N

de/ni

Vsuru

28

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Contoh:
Toukyousodachi:...yang dibesarkan di Tokyo
Toukyou

ni

sodachi(tsu)

f. Dakkaku (ablatif) yang berstruktur


N

kara

Vsuru

Contoh:
Parigaeri: pulang dari Paris
Pari

kara

kaeri(u)

Paris

dari

pulang

g. Kyokaku (komitatif) yang berstruktur


N

to

Vsuru

Contoh:
Kinjozukiai: bertetangga
Kinjo

to

tsukiai(u)

Tetangga

bergaul

h. Inyoukaku (kutip) yang berstruktur


to

Vsuru (reporting verb)

Contoh:
Doroboyobawari: mendapat sebutan pencuri
Dorobo
Pencuri
i.

to

yobawari
disebut

Kizunkaku (komparatif) yang berstruktur

29

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

yorimo/to kurabete/ni

Vsuru

Contoh:
Otokomasari: perempuan yang tingkah lakunya seperti laki-laki
Otoko

yorimo

masari

Laki-laki
j.

lebih dari

Genn riyuukaku (sebab) yang berstruktur


N

no tame ni/de

Vsuru

Contoh:
Amayadori : berlindung karena hujan
Ame

de

yadori(u)

Hujan

karena

berteduh

k. Houkoukaku (arah) yang berstruktur


N

Vsuru

Contoh:
Minamimuki: menghadap ke selatan
e

Minami

muki

Selatan

ke arah
menghadap

l.

Touchakukaku (tiba) yang berstruktur

made

Vsuru
30

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Contoh
Sokobie: dingin sampai ke kaki
Soko

made

bie (hieru)

Dasar

terasa dingin

m. Shikakukaku (kualifikasi) yang berstruktur


toshite

Vsuru

Contoh:
Mamakoatsukai : diperlakukan sebagai anak tiri
mamako

toshite

atsukai

anak tiri

sebagai

perlakuan

Perubahan fonem vokal dalam komposisi, meliputi:


1. Meishi+meisshi (nomina+nomina)
a. Fonem vokal /a/ +/ a/
Contoh: /ito/ + /ame/ = itosame. Dari penambahan morfem tersebut tidak
mengalami perubahan fonem, melainkan pemunculan fonem /s/, yaitu fonem
vokal /a/ menjadi fonem /s/, pada awal kata ito : benang , ame: hujan =
itosame : gerimis.
b. Fonem vokal /i/+/o/ dan /i/ + /u/.
Contoh: /ki/ +/kuchi/ = koguchi : ujung kayu. Terdiri dari penggabungan dua
morfem yang terdiri dari fonem /i/ dari kata /ki/ berubah menjadi /ko/.
Perubahan vokal /i/ mengalami proses morfofonemik, yaitu: fonem /i/+o dan
fonem vokal /i/+/u/, contohnya: /tsuki/+/yo/= tsukuyo: malam terang bulan.

31

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Dari penggabungan kedua morfem tersebut, fonem /i/ dari kata tsuki berubah
menjadi fonem /u/ sehingga /tsuki/ = /tsuku/. Perubahan fonem vokal /i/ ini
mengalami proses morfofonemik, yaitu fonem /i/ menjadi /u/.
c. Fonem vokal /u/ = /u/
Pada pemajemukan fonem vokal /u/ tidak mengalami perubahan, baik diawal
maupun diakhir kata.
d. Fonem vokal /e/ =/a/
Contoh: /ame/+/kasa/ = amagasa: payung hujan. Kata /ame/ berubah menjadi
fonem /a/, sehingga menjadi /ama/. Perubahan fonem vokal /e/ ini mengalami
proses morfofonemik, yaitu: fonem /e/ menjadi /a/.
e. Fonem vokal /o/ = /a/
Contoh: /shiro + /ito = shiraito: benang putih. Dari penggabungan kedua
morfem tersebut, fonem /o/ dari kata /shiro/ berubah menjadi fonem /a/
sehingga menjadi shira. Perubahan fonem vokal /o/ ini mengalami proses
morfofonemik, yaitu: fonem /o/ menjadi /a/.
Perdebatan para ahli dan peneliti bahasa mengenai penggunaan istilah suku kata
dalam bahasa Jepang terjadi karena adanya dua aliran ilmu bahasa pada bahasa Jepang.
Sebagian besar dari pengguna bahasa Jepang, khususnya masyarakat asli Jepang tidak
begitu mempedulikan pendapat mengenai penggunaan istilah suku kata dalam bahasa
Jepang. Umumnya, istilah tersebut muncul pada pembelajaran mengenai struktur kata di
dalam fonologi bahasa Jepang. Akan tetapi, pembelajaran mengenai istilah ini akan
memperdalam pengetahuan mengenai bahasa Jepang secara detail.
Perbedaan pendapat dari dua aliran ilmu bahasa di Jepang meliputi:
a. Kokugogaku (Ilmu bahasa Jepang Tradisional)

32

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

b. Gengogaku (Ilmu bahasa Jepang Masa Kini) mengenai istilah untuk satuan ucapan
terkecil, atau yang biasa disebut suku kata, disebabkan adanya konsep yang berlainan
mengenai cara pengucapan sebuah kata dalam bahasa Jepang.
Memiliki tradisi khas Jepang dalam penyusunan kata pada bahasa Jepang yang
terlepas dari ilmu bahasa Barat, termasuk gramatika yang sudah ada sejak zaman Edo.
Sementara, Gengogaku mengadaptasi konsep bahasa dari Barat yang diterapkan pada bahasa
Jepang mulai dari gramatika, fonologi, morfologi, dan sintaksis. Namun, ada sedikit
perbedaan dalam struktur kata bahasa jepang dengan bahasa lain
Pada umumnya kata dalam bahasa Inggris maupun Indonesia mengenal adanya Syllable
sebagai satuan ucapan terkecil dalam pengucapan sebuah kata. Akan tetapi, bahasa Jepang
menggunakan Mora sebagai satuan ucapan terkecil dalam sebuah kata. Namun, ada pendapat
lain mengenai penggunaan Haku yang dianggap sebagai satuan ucapan terkecil yang dipakai
dalam bahasa Jepang. Beberapa hasil penelitian dari peneliti bahasa dan ahli bahasa
menyimpulkan buah pemikiran mereka mengenai satuan ucapan terkecil atau suku kata yang
ada pada bahasa Jepang dengan konsep yang berbeda-beda
Penelitian mengenai Suku kata yang dipakai dalam bahasa Jepang terus berlanjut
hingga kini. Ada yang beranggapan bahasa Jepang yang termasuk ke dalam Pitch-accent.
Language menggunakan Mora sebagai satuan ucapan terkecil. Ada yang berpendapat bahasa
Jepang menggunakan Haku sebagai satuan ucapan terkecilnya. Pendapat lain dari beberapa
ahli bahasa menggunakan istilah Onsetsu, atau yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai
Syllable, sebagai satuan ucapan terkecil dalam sebuah kata pada bahasa Jepang.
Perdebatan para ahli dan peneliti bahasa mengenai penggunaan istilah suku kata
dalam bahasa Jepang terjadi karena adanya dua aliran ilmu bahasa pada bahasa Jepang.
Sebagian besar dari pengguna bahasa Jepang, khususnya masyarakat asli Jepang tidak begitu
mempedulikan pendapat mengenai penggunaan istilah suku kata dalam bahasa Jepang.

33

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Umumnya, istilah tersebut muncul pada pembelajaran mengenai struktur kata di dalam
fonologi bahasa Jepang. Akan tetapi, pembelajaran mengenai istilah ini akan memperdalam
pengetahuan mengenai bahasa Jepang secara detail.

34

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

BAB II
KATEGORI GRAMATIKA NOMINA

2.1 Fenomena Perubahan Pembentukan Kata


Pembentukan kata dapat dikatakan juga suatu proses morfermis atau proses pengimbuhan.
Morfologi merupakan cabang dari linguistik yang mengkaji tentang kata dan proses
pembentukannya. Dalam bahasa jepang pembentukan kata disebut dengan istilah gokeisei.
Dalam pembentukan kata dalam bahasa Jepang terdapat dua unsur penting antara lain dilihat
bedasarkan bentuknya, yaitu bentuk bebas dan bentuk terikat, serta berdasarkan isi, yaitu akar
kata dan afiksasi atau dari segi gramatikalnya. Pembentukan kata bahasa Jepang memiliki 3
pokok bahasan utama yaitu pada afiksasi (setsuji), reduplikasi (jufuku), dan komposisi
(fukugo).
Objek yang dipelajarinya yaitu tentang kata (go/tango) dan morfem (keitaiso). Batasan
dan ruang lingkup morfologi dalam bahasa Jepang yaitu kata (tango), morfem (keitaiso) dan
jenisnya, alomorf (ikeitai), pembentukan kata (gokeisei), imbuhan (setsuji), perubahan bentuk
kata (katsuyou), dan sebagainya.
Hasil pembentukan kata (gokeisei) dalam bahasa jepang sekurang-kurangnya ada empat
macam yaitu: 1. haseigo, 2. fukugougo/ goseigo 3. karikomi/ shouryaku dan 4. toujigo. Kata
yang terbentuk dari penggabungan morfem isi (naiyou-keitaiso) dengan imbuhan (setsuji)
disebut kata kajian (haseigo). Proses pembentukkannya: awalan (settouji) + morfem atau
morfem + akhiran (setsubiji). Awalan O-, GO-, SU-,MA-, KA- bisa digolongkan ke dalam
settouji, sedangkan akhiran -SA, -MI, -TEKI, - SURU termasuk ke dalam setsubiji.

35

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Pembahasan mengenai pembentukan kata dalam bahasa Jepang khususnya pada kelas
kata adjektiva (keiyoushi) memiliki suatu fenomena kebahasaan dalam proses pembentukan
katanya. Hal ini dapat dilihat dari contoh pembentukan kelas kata adjektiva melalui proses
morfologis atau proses pengimbuhan (setsuji). Misalnya kelas kata nomina (meishi) yang jika
ditambahkan sufiks/akhiran PPOI yang memiliki makna menjadi seperti yang
berfungsisebagai sufiks pembentuk kata sifat akan mengubah kelas kata nomina (meishi)
menjadi pembentukan kelas kelas kata adjektiva (keiyoushi). Contohnya:
onna = = perempuan

(kelas kata nomina) jika ditambahkan sufiks PPOI

(sufiks pembentuk adjektiva) onnappoi= = keperempuanan, feminim


(kelaskata adjektiva) Berikut penguraian pembentukan katanya akibat proses morfologi atau
pengimbuhan :(onna = perempuan )

(onna + ppoi)

(onnappoi = keperempuan)

Uraian diatas sebagai salah satu contoh dari suatu masalah fenomena kebahasan pada proses
pembentukan kata bahasa Jepang (gokeisei) khususnya pada kelas kata adjektiva (keiyoushi).
Bagaimanapun dalam suatu proses pembentukan kata dalam bahasa Jepang memiliki suatu
aturan tertentu.

2.2 Tenses
Kala atau tenses dalam bahasa jepang disebut dengan (jisei) atau (tensu)
adalah kategori gramatikal yang menyatakan waktu terjadinya suatu oeristiwa atau
berlangsungnya suatu aktifitas dengan bertitik tolak dari waktu saat kalimat tersebut
diucapkan.Kala merupakan salah satu kategori semantik fungsional verba terkait waktu. Kala
dalam bahasa Jepang disebut dengan Jisei atau tensu. Dalam bahasa Ingris disebut dengan
tenses.

36

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Kala dalam kategori gramatika verba yang dinyatakan dengan perbedaan gramatika
dengan melihat waktu pengerjaan kegiatan dan saat pengucapan kalimat (ujaran). Dengan
kata lain, kala adalah bentuk verba untk menyatakan hubungan waktu. Kala menunjukkan
apakah suatu kegiatan itu dilakukan di masa lalu, sekarang atau akan datang. Kala pun
menunjukkan apakah kegiatan itu sudah, sedang, atau akan, atau akan selesai dikerjakan, atau
masih dikerjakan dalam waktu tertentu (Sunarni 2010:119).
1. Pembagian Kala
Waktu terjadinya peristiwa atau aktifitas tersebut ada tiga :
a. Waktu sebelumnya yang telah berlalu (kako)
b. Waktu saat berbicara (hatsuwaji)
c. Waktu yang akan datang (mirai)
2. Fungsi Kala
Kala berfungsi untuk menegaskan kegiatan verba yang dilakukan, menunjukkan waktu
keadaan/tindakan yang diungkapkan oleh verba pada saat penuturan.
Dalam bahasa Jepang,untuk menyatakan kala lampau-sekarang-mendatang
(, , kako-genzai-mirai) hanya digunakan dua bentuk verba saja :
a. Bentuk akan
b. Bentuk lampau
Verba bentuk lampau di dalamnya mencakup bentuk halus, yakni bentuk MASHITA dan
MASENDESHITA. Verba bentuk biasa, yakni bentuk TA dan NAKATTA. Verba bentuk
akan di dalamnya mencakup bentuk kamus (RU), NAI, dan bentuk halusnya seperti bentuk
MASU dan MASEN, bahkan bentuk TE IRU pun termasuk ke dalam kategori ini. Jadi,
berdasarkan pada bentuk verbanya, kala dalam bahasa Jepang hanya ada dua macam, yakni
kala lampau (kako) dan kala bukan lampau (hikako)

37

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Kala dalam Kalimat Tunggal


Contoh penggunaan ketiga bentuk verba tersebut dalam menyatakan kala dalam kalimat
tunggal :
1.
Watashi wa kon-ya terebi o mimasu. (kala akan)
(Saya nanti malam akan nonton TV)
2.
Watashi wa ima terebi o mite imasu. (kala kini)
(Saya sekarang sedang nonton TV)
Untuk menyatakan kala sedang tidak harus menggunakan verba bentuk TE + IRU
melainkan bisa juga dinyatakan dengan verba bentuk akan yang lain, seperti bentuk kamus
atau bentuk MASU. Verba TE + IRU juga digunakan untuk menyatakan suatu keadaan.
3.
Watashi wa kesa terebi o mimashita. (kala lampau)
(Saya tadi pagi nonton TV)
Contoh kala dalam kalimat :
1.
Kinou, eiga o mi ni ikimashita.
(Kemarin pergi nonton film)
Verba bentuk MASHITA digunakan untuk menyatakan kala lampau (kako)
2.
Kyou eiga o mi ni ikimasu.
(Hari ini (akan) pergi nonton film)
Verba bentuk MASU (=RU) digunakan untuk menyatakan kala akan (mirai)
3.
38

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Kono hon, dou omoimasu ka.


(Buku ini, menurut Anda bagaimana?)
4.
Nihongo ga dekimasu ka.
(Apakah bisa berbahasa Jepang)
5.
Asoko ni nani ga arimasu ka.
(Di sana ada apa?)
Bentuk MASU pada contoh 3, 4, dan 5 digunakan untuk menyatakan kala sekarang (
genzai). Kala lampau dinyatakan dengan verba bentuk MASHITA (TA), digunakan untuk
menyatakan kejadian atau perbuatan yang telah berlalu. Bentuk MASU (RU), digunakan
untuk menyatakan kala mendatang dan kala sekarang.
Kala dalam Kalimat Majemuk
Tensis (kala) dalam kalimat inti (induk kalimat):
1. Kala lampau
2. Kala mendatang
3. Kala kini (sekarang)
(i) verba bentuk RU (MASU)
Verba bentuk RU (MASU) adalah verba yang mengatakan arti keberadaan sesuatu benda,
kemampuan, pemikiran, keadaan dan sejenisnya, seperti verba : (aru) (iru)
(dekiru) (omou) (iru) (ki ga suru) dan lain-lain.
(ii) verba bentuk TE + IRU

39

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Verba bentuk TE + IRU adalah verba yang menyatakan suatu aktivitas yang ada batas
akhirnya, seperti: (taberu) (nomu) (yomu) (kaku), dan
sebagainya.
Dalam anak kalimat, kala lampau tidak selalu dinyatakan dengan verba bentuk lampau,
atau sebaliknya kala akan tidak selalu dinyatakan dengan verba bentuk akan.
Contoh :
1.
Nihon e iku toki, kamera o katta.
2.
Nihon e itta toki, kamera o katta.
3.
Nihon e iku toki, kamera o kau.
4.
Nihon e itta toki, kamera o kau.
Pada contoh 1 dan 3, kamera dibeli sebelum berangkat ke Jepang, sedangkan pada
contoh 2 dan 4, kamera dibeli setelah berangkat di Jepangai g atau di Jepang. Perbdaan pada
keempat contoh diatas, dapat diperjelas dengan gambar di bawah sebagai berikut.
(1) Kala lampau:

Membeli kamera pergi ke jepang


(2) Kala akan:

40

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Membeli kamera pergi ke jepang


Dari contoh diatas, diketahui bahwa bentuk TA (lampau) dan benruk RU (kamus) dalam
anak kalimat, kedua-duanya digunakan tanpa dipengaruhi oleh bentuk kala dalam induk
kalimatnya. Jadi, apakah kala dalam induk kalimat tersebut kala lamp[au ataupun kala kini,
tetap werba bentuk RU dan bentuk TA bisa digunakan.
Verba bentuk TA dan bentuk RU dalam anak kalimat tersebut juga bisa diikuti oleh kata
yang lainnya yang menyatakan waktu seperti mae dan ato. Seperti cotoh berikut:
1.
Jadi, untuk anak kalimat yang menggunakan verba bentuk kamus (RU) dan bentuk
lampau (TA), tidak selalu bahwa verba bentuk kamus hanya untuk menunjukan kala akan,
dan verba bentuk lampau hanya untuk kala lampau saja, melainkan bias juga digunakan untuk
kedua-duanya. Hal ini disebabkan karena kata mae jika mengikuti verba bentuk kamus
artinya ; sedangkan kata ato jika mengikuti verba bentuk TA artinya kemudian, lalu.
Menurut kridalaksana (2008:103) pembedaan bentuk verba untuk membedakan
perbedaan

waktu atau jangka perbuatan atau keadaan; biasanya dibedakan antara kala

lampau, kala kini, dan kala mendatang.


a. Kala Kini
Bentuk kala dari veba yang menunjuka perbuatan terjadi pada waktu pengujaran
b. Kala Lampau
Bentuk kala dari verba yang menunjuka perbuatan terjadi sebelum pengujaran
c. Kala mendatang

41

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Bentuk kala dari verba yang menyatakan perbuatan akan berlangsung dalam waktu
mendatang akan.
d. Kala perfektum
Kala yang menunjukan perbuatan terjadi pada waktu lampau dalam hubungannya
dengan kini.
e. Kala perfektum mendatang
Kata yang menunjukan perbuatan mendatang
f. Kala Pluperfektum
Kala yang menunjukan perbuatan yang terjadi sebelum masa lampau.
Tenses atau

kala

menunjukkan titik

waktu

suatu

keadaan/perbuatan dimana

keadaan/perbuatan tersebut telah atau belum selesai pada titik waktu sekarang. (Inoue ,
1976:160). Sedangkan menurut Kindaichi (1976: 60), tenses/kala adalah hubungan waktu
yang terdapat pada kata kerja. Hal ini ditinjau apakah si pembicara berbicara sesuai atau
sebelum kejadian atau tepat dengan waktu kejadian.
Contoh:
Morfem [ru] pada kalimat berikut:
Tarou ga jobun o honyaku shiteru darou ne.
Taro sedang menterjemah kata sambutan.
Tenses/kala dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
a. Kakojisei Kala lampau
Contoh:
42

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Gakusei wa sakujitsu repouto o teishutsu shita.


Mahasiswa kemarin memberikan lapora.
b. Ginzaijisei Kala sekarang
Contoh:
Toukyou wa shicuu ni kouen ga takusan aru.
Di kota Tokyo ada banyak taman.
c. Miraijisei
Contoh:
Ashita wa Kato-san ga sono kaigi ni deru.
Besok Tuan Kato akan datang pada rapat itu
Menurut Inoue, kata kerja dalam bahasa Jepang dibagi menjadi 8 kelompok, yaitu:
a. Kata kerja yang memiliki ciri semantis (+keadaan) (+kontinyu) dengan morfem [te
shimau.
Contoh:
Kare wa uchi ga gunyou douro no soba ni atte shimatta node, hantai undou ni sanka
sezaru o enaktta.
Karena rumahnya ada disebelah jalan raya yang digunakan tentara, maka ia terpaksa
turut serta dalam gerakan penentangan.
Kalimat diatas menyatakan kadaan nyata/fakta (jitsugensou).

43

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

b. Kata kerja yang mempunyai ciri semantis (+keadaan) (-kontinyu) dengan morfem [te iru]
Contoh:
Kono akanbou wa chichi oya ni yoku nite iru.
Anak bayi ini mirip sekali dengan ayahnya
Kalimat diatas menyatakan suatu keadaan (joutaisou).
c. Kata kerja yang mempunyai ciri semantis (+perbuatan) (+kontinyu) (+sempurna) dengan
semua morfem berupa kata bantu kata kerja.
Contoh:
Chichi ga kusabana o uete iru
Ayah menanam bunga
Kalimat diatas menyatakan keadaan sedang berlangsung (shinkosou) dan menyatakan
keadaan akibat (kekkajoutaisou), misalnya:
Tarou ga heya o katazukete shimatta.
Taro sudah mengatur kamar
Kalimat diatas menyatakan keadaan yang telah dilakukan dan selesai dengan
sempurna (kanketsusou) dan dapat menyatakan keadaan yang nyata (jitsugensou). Kata
kerja yang tergolong dalam kelompok ini antara lain: yomu membaca, tsukuru
membuat, ueru menanam, kiru memotong, dll.
d. Kata kerja yang mempunyai ciri semantis (+perbuatan) (+kontinyu) (-sempurna) hampir
sama dengan kelompok c diatas

44

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Contoh:
Yuki ga futte iru
Salju sedang turun
Kalimat diatas menyatakan shinkosou (sedang berlangsung) dan kekkajoutaisou
(keadaan yang berakibat) . Kata kerja yang tergolong dalam kelompok ini antara lain:
tooru melewati, odoru menari, hataraku bekerja, matsu menunggu, dll
e. Kata kerja yang mempunyai ciri semantis (+perbuatan) (-kontinyu) dengan morfem [te
iru]
Contoh:
Hanako wa arudake no sara o tsugi tsugi ni watte iru.
Hanako terus memecahkan piring yang ada.
Kalimat diatas menyatakan hanpukusou (keadaan berulang-ulang). Kalimat lain yang
menyatakan kekkajoutaisou contohnya:
Tarou wa kekkon shite iru.
Taro sudah menikah
Kata kerja yang tergolong kelompok ini diantaranya: shinu mati, mageru belok, toru
mengambil, dll
f. Kata kerja yang memiliki ciri semantis (-perbuatan) (+kontinyu), (+subjektif) dengan
morfem [ru] pada subjek orang pertama/dengan morfem [te iru] pada subjek orang ketiga.
Contoh:

45

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

1. Watashi wa kono mondai ga shinken ni tougi sareru koto o kibou suru.


Saya menginginkan masalah ini didiskusikan dengan sungguh-sungguh.
2. Kokumin wa hayaku kezaijijou ga kouten suru koto o nozonde iru.
Rakyat mengharapkan cepat-cepat terjadinya perubahan ekonomi yang lebih baik.
Kalimat diatas menyatakan genzai no shintekijoutai keadaan mental sekarang. Kata
kerja yang termasuk golongan ini antara lain: shinjirupercaya, kanjiru merasa, omou
berpikir, kibou suru berharap, dll.
g. Kata kerja yang mempunyai ciri semantis (-perbuatan), (+kontinyu) (-subjektif) hampir
sama dengan kelompok f diatas, tetapai untuk menyatakan keadaan mental sekarang
digunakan morfem rangkap [te iru] tanpa memperhatikan kata ganti orang pada subjek.
Contoh:
Wareware wa daigakuin o susumou ka shuushoku shiyou ka to, mayotte iru.
Kami bingung apakah mencari pekerjaan atau meneruskan ke pascasarjana.
Kalimat diatas menyatakan genzai no shintekijoutai keadaan mental sekarang. Kata
kerja yang tergolong dalam kelompok ini antara lain: koroshimu menderita, mayou
bimbang, dll.
h. Kata kerja yang memiliki ciri semantis (-perbuatan) (-kontinyu) dengan morfem rangkap
[te iru]
Contoh:
Jijitsu wo shitte shimatta ijou, karera mo damatteru koto ga dekinakatta.
Setelah mengetahui kenyataan, merekapun tidak dapat diam.
Kata kerja yang tergolong dalam kelompok ini antara lain: shiru, tanu, wakaru.
Menurut Kindaichi tenses dalam bahasa Jepang dibagi menjadi 5 bagian, antara lain:
1. Waktu keadaan lampau
46

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

2. Waktu akan datang


3. Waktu sekarang
4. Waktu keadaan waktu luar biasa
5. Waktu perbuatan selesai
Sedangkan menurut Inoue, tenses/kala dalam bahasa Jepang terbagi atas tiga macam:
1. Waktu sekarang
2. Waktu lampau
3. Waktu akan datang

2.3 Aspek
Menurut Chaer (2007: 259), aspek atau aspektualitas adalah cara untuk memandang
pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian atau proses.
Aspek sering dibandingkan dan erat kaitannya dengan kala/tense. Kala merupakan kategori
gramatikal yang menyatakan tentang waktu untuk menegaskan kegiatan verba yang
dilakukan, misalnya: dengan dibubuhi kata kinou kemarin, kyou hari ini, atau ashita
besok. Aspek hanya menerangkan kegiatan yang dilakukan tersebut tanpa dikaitkan oleh
waktu. Namun, pembahasan mengenai aspek sangat sedikit dibandingkan dengan kala. Hal
ini dikarenakan dibandingkan dengan kala, aspek memiliki banyak jenis.
Aspek dalam bahasa Jepang disebut asupekuto atau sou. Menurut Katou,
dkk (1989:146) aspek adalah:

Hanashite ga settei shita wadai no jiten ni oite, wadai no kotogara ga hajimaru kaidan ni

47

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

aru noka, hajimatte keizoku shite iru kaidan ni aru noka, owatta kaidan ni aru noka to
itta, kotogara no hataraki no kaidan o arawasu bunpouteki hanchuu o asupekto to iu.
Aspek adalah kategori gramatikal yang menunjukkan apakah topik pembicaraan baru
akan dimulai, sudah dimulai dan berlanjut atau sudah berakhir, dilihat dari titik waktu
pembicaraan.
Aspek menurut Sutedi (2003: 86) adalah kategori gramatikal dalam verba yang
menyatakan kondisi suatu perbuatan atau kejadian apakah baru dimulai, sedang berlangsung,
sudah selesai atau berulang-ulang.
Menurut Kindaichi (1976: 60) , Aspek adalah keadaan dari berlangsungnya suatu
perbuatan.

Dan aspek tidak memakai kyougusei sifat keadaan. Misalnya : kata benda

kotoshi : tahun ini, kinou: kemarin, dll, dalam kata kerja misalnya: kuru: datang, yaru :
melakukan, iku : pergi , dll. Aspek merupakan sifat kedudukan dari keadaan atau perbuatan
yang ditunjukkan oleh predikat. (Inoue, 1976: 6). Aspek merupakan subkategori semantik
fungsional yang mempelajari bermacam-macam sifat unsur waktu internal situasi (peristiwa,
proses, atau keadaan), yang secara lingual (bahasa) terkandung dalam semantik verba. Terdiri
dari dua, yaitu :
(1). Aspek Perfektif
Aspek yang menggambarkan perbuatan selesai. Ditandai dengan morfem terikat

~te

shimatta.
Contoh : Kemarin film ini telah selesai ditonton
(2). Aspek Imperfektif
Aspek yang menggambarkan perbuatan yang belum selesai. Ditandai morfem terikat ~ta,
~da dan ~te iru.
Contoh : - kemarin film ini telah ditonton
48

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

- kemarin membaca buku ini


- mobil mati/ berhenti/ tidak jalan
Kelompok aspek dalam bahasa Jepang terbatas pada morfem [ru], [ta], morfem rangkap
[te iru] dan morfem rangkap [te ita].
Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal dalam suatu
situasi, keadaan, kejadian atau proses. Bentuk ~te iru adalah salah satu aspek hyougen yang
berkenaan dengan waktu (jikan wo arawasu hyougen).
Teramura (1988:119) membagi aspek bahasa Jepang menjadi 3 bagian yaitu:
A. Aspek Suru (mizen tidak lampau) dan shita (kizen lampau)
Bentuk suru yang digunakan untuk menyatakan kegiatan yang belum terjadi
sedangkan bentuk shita digunakan untuk menyatakan kegiatan telah terjadi. Bentuk aspek ini
sering disamakan dengan bentuk kala. Untuk membedakan kedua bentuk ini (kala dan aspek),
kala sering ditandai dengan keterangan waktu dalam kalimat, sedangkan aspek sering
ditandai dengan kata keterangan mou sudah.
B. Aspek verba bentuk ~te + verba bantu (hojodoushi)
verba bantu yang mengikuti verba utama (bentuk ~te) meliputi:
a. Verba bantu ~te iru, ~te aru, ~te shimau, ~te iku, ~te kuru
b. Verba bantu ~te oku, ~te miru, ~te miseru
c. Verba bantu ~te yaru/ageru, ~te morau/itadaku, ~te kureru/kudasaru
C. Aspek verba bentuk renyou + verba (fukugoudoushi)

49

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Aspek ini dibagi menjadi ke dalam 3 bentuk, yaitu:


a. Menyatakan aspek waktu, terdiri dari:
1. Menyatakan dimulainya suatu aksi, meliputi: verba ~hajimeru, ~dasu, ~kakeru
2. Menyatakan keberlangsungan suatu aksi, meliputi: verba ~tsuzukeru, ~tsudzuku.
3. Menyatakan selesainya suatu aksi, meliputi: verba ~owaru, ~oeru, ~yamu
b. Menyatakan aspek ruang, terdiri dari:
1. Menyatakan arah pergerakan ke atas dan ke bawah, meliputi: verba

~ageru,

~agaru, ~orosu, ~kudaru, ~sagaru, ~sageru, ~ochiru


2. Menyatakan arah pergerakan keliling, bagian dalam dan bagian luar, meliputi:
verba ~komu, ~komeru, ~dasu, ~mawasu
3. Menyatakan pergerakan pada suatu sasaran, meliputi: verba

~kakeru, ~kakaru,

~tsukeru, ~tsuku, ~~kaeru, ~au


4. Menyatakan aspek tingkat, derajat, kekuatan, makna dan penyelesaian suatu aksi,
meliputi : verba ~nuku, ~~kiru, ~komu, ~toosu, ~tsumeru, ~tsukusu
Menurut Sutedi (2003 :108) untuk menyatakan aspek dalam bahasa Jepang, secara garis
besarnya dapat dikelompokkan menjadi menjadi 2 macam, yaitu:
1. Menggunakan verba bentuk te + verba bantu (hojo-doushi)
2. Menggunakan verba selain bentuk te
Verba bantu (hojo-doushi) yang mengikuti verba utama (hondoshi) bentuk Te yang
berhubungan dengan aspek, yaitu: iru, kuru, iku, aru, oku dan shimau. Setiap aspek tersebut
digunakan seperti berikut:

50

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

a. ... Te iru ()
1. Menyatakan aktivitas/kejadian yang sedang berlangsung
Contoh:

Kodomotachi wa niwa de asonde imasu


Anak-anak sedang bermain di halaman (tengah berlangsung)
2. Menyatakan kondisi hasil suatu perbuatan/kejadian
Contoh:

Doa ga shimatte iru.


Pintu (dalam keadaan ) tertutup (kondisi/keadaan)
3. Keadaan yang terjadi secara alami
Contoh:

Kono michi ga magatte iru.


Jalan ini membelok. (keadaan kondisi alam)
4. Pengalaman
Contoh:

51

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Ano kyouju wa hon o takusan kaite iru.


Profesor itu banyak menulis buku.
5. Pengulangan (perbuatan yang dilakukan berulang-ulang).
Contoh:

Ie ni wa mainichi nagashi ga kite iru.


Ke rumah saya setiap hari datang pengamen. (terus menerus).
b. ...Te Kuru dan ... Te Iku ()
1. Proses muncul dan hilangnya sesuatu
Contoh:

Kotoba wa ningen no seikatsu no naka kara umarete kuru.


Bahasa lahir dari dalam kehidupan manusia

Ano senshu wa chikara o ushinatte itta.


Atlit itu telah kehabisan tenaga.
2.

Proses terjadinya perubahan sesuatu

52

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Contoh:

Onaka ga suite kita.


Perut menjadi lapar.

Chichi no byouki wa masumasu omoku natte itta.


Penyakit ayah semakin berat.
3. Bermulanya suatu aktifitas/kejadian (untuk Te Kuru)
Contoh:

Ame ga futte kita.


Hujan mulai turun.
4. Aktifitas/kejadian yang terus berlangsung

Haha wa kyou made kurushii seikatsu o shite kita.


Ibu saya sampai hari ini hidup dalam kesusahan

Omae tachi wa itsuka ni shinu koto o kangaete ikite iku beki da.

53

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Kamu semua semestinya (terus) hidup dengan memikirkan bahwa suatu saat
akan mati.
e. ...Te Shimau ()
1. Menyatakan aktivitas/kejadian yang dilangsungkan sampai tuntas
Contoh:

Kanojo wa ringo o mittsu tomo tabeshite shimatta.


Dia (wanita) telah menghabiskan apel 3 buah.
2. Perbuatan yang tidak disengaja (tidak diharapkan) terlanjur terjadi
Contoh:

Sake o nomisugite shimatta.


Terlalu banyak minum sake.
Selain aspek yang menggunakan verba bentuk ~Te diatas, adapula aspek yang tidak
menggunakan jenis verba selain bentuk ~Te, diantaranya dengan menggunakan sufiks pada
verba majemuk, atau menggunakan bentuk verba yang lainnya.
Sufik dalam verba majemuk yang bisa digunakan untuk menyatakan aspek, yaitu
...hajimeru, ...dasu, ...kakeru, ...tsudzukeru, ...toosu, ...owaru, ...ageru. Akhiran ---hajimeru
dan ---dasu digunakan untuk menyatakan dimulainya suatu kegiatan atau kejadian, sedangkan
---kakeru, ---tsudzukeru dan ---toosu digunakan untuk menyatakan aspek sedang

54

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

berlangsungnya suatu kegiatan/kejadian. Untuk menyatakan aspek berakhir/selesainya suatu


kegiatan/kejadian bisa digunakan sufik ---owaru dan ---ageru/agaru.
Selain itu, untuk menyatakan dimulainya suatu kegiatan/kejadian bisa digunakan verba
bentuk you/ou + to suru, verba bentuk ru + tokoro, atau verba bentuk (masu) + sou da.
Masih ada cara lain untuk menyatakan tengah berlangsungnya suatu perbuatan/kejadian,
seperti dengan menggunakan verba bentuk (masu) + tsutsu aru.
Bagi pembelajar bahasa Jepang sebagai bahasa asing, masalah aspek dan kala sering
menjadi penghambat. Salah satu penyebabnya antara lain karena kedua hal tersebut dapat
dinyatakan dengan dua bentuk verba yang sama. Misalnya verba bentuk TA selain digunakan
untuk menyatakan kala lampau, bisa digunakan untuk menyatakan aspek selesai (kanryou).
Contoh:
1.

Mou shukudai o yatta ka?

Mada, yaranai.

Mada, yatte inai.

Mada, *yaranakatta.

2.

Kinou shukudai o yatta ka?

Kinou, *yaranai.

Kinou, *yatte inai.

Kinou, yaranakatta.

55

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Pada contoh (1) berhubungan dengan aspek, sedangkan contoh (2) merupakan
kala bentuk lampau. Pada contoh (1) ditanya dengan Sudah mengerjakan PR?, hal ini tidak
berhubungan dengan kala (lampau, sedang, atau akan), sehingga ada dua jawaban yang
memungkinkan yaitu : yaranai atau yatte inai yang kedua-duanya menyatakan arti belum
dikerjakan. Lain halnya dengan pertanyaan (2), dengan diberikan ruang lingkup waktu, yaitu
kata kinou (kemarin), maka jawabannya hanya satu yaitu: yaranakatta (tidak mengerjakan)
dalam bentuk lampau.
Aspek sering dibandingkan dan erat kaitannya dengan kala/tense. Kala merupakan
kategori gramatikal yang menyatakan tentang waktu untuk menegaskan kegiatan verba yang
dilakukan, misalnya: dengan dibubuhi kata kinou kemarin, kyou hari ini, atau ashita
besok. Aspek hanya menerangkan kegiatan yang dilakukan tersebut tanpa dikaitkan oleh
waktu. Namun, pembahasan mengenai aspek sangat sedikit dibandingkan dengan kala. Hal
ini dikarenakan dibandingkan dengan kala, aspek memiliki banyak jenis.
Menurut Kindaichi (1989:66), pembagian aspek hyougen ada dua macam, yaitu:
1. Joutaisou no asupekuto (aspek yang berdasarkan keadaan)
2. Dousasou no asupekuto (aspek yang berdasarkan aktivitas)
Berdasarkan jenisnya, joutaisou no asupekuto atau aspek yang berdasarkan keadaan
dibagi menjadi 7 macam, yaitu: ~te iru, ~te aru, ~te oku, ~tsutsuaru, ~te kuru, ~te iku, dan
~te tsudzukeru.
Sedangkan dousasou no asupekuto atau aspek yang berdasarkan aktifitas, ada 8
macam, yaitu: ~kakeru, ~kakaru, ~hajimeru, ~dasu, ~owaru/oeru, ~tsukusu, ~kiru, ~te
shimau

56

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Aspek ~teiru termasuk dalam joutaisou no asupekuto, dan diklasifikasikan makna dan
cara pemakaiannya menjadi 5 jenis, yaitu:
1. Dousa /Saiyou no Keizoku (aktivitas atau kejadian yang sedang berlangsung)
Contoh:

Kodomo ga soto de asonde imasu.


Anak-anak sedang bermain diluar
2. Kekka no Joutai (hasil dari suatu keadaan)
Contoh:

Ki ga taorete iru
Pohon dalam keadaan tumbang
3. Joutai no Keizoku (keadaan yang terjadi secara alami)
Contoh:

Kono michi ga magatte iru


Jalan ini membelok
4. Keiken (pengalaman)
Contoh:

Kare wa ninen mae ni daigaku o sotsugyou shite iru.


Laki-laki itu lulus dari perguruan tinggi 2 tahun yang lalu.
5. Kurikaeshi (kejadian yang berulang-ulang)
Contoh:

57

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Asoko no fuufu wa mainichi kenka shite iru.


Menurut Kindaichi aspek dalam bahasa Jepang terbatas pada morfem [ru], morfem [ta] ,
morfem rangkap [te iru] dan morfem rangkap [te ita], yaitu:
1. Aspek keadaan sedang berlangsung
2. Aspek keadaan sedang berlangsung berulang-ulang
3. Aspek keadaan sederhana
4. Aspek perbuatan sederhana
5. Aspek perbuatan terus-menerus
6. Aspek perbuatan terus menerus berulang-ulang
Menurut Chaer (2007:259) dari berbagai bahasa dikenal adanya berbagai macam aspek ,
antara lain:
1. Aspek kontinuatif, yaitu yang menyatakan perbuatan terus berlangsung.
2. Aspek inseptif, yaitu yang menyatakan peristiwa atau kejadian baru mulai.
3. Aspek progresif, yaitu aspek yang menyatakan perbuatan sedang berlangsung.
4. Aspek repetitif, yaitu yang menyatakan perbuatan itu terjadi berulang-ulang.
5. Aspek perfektif, yaitu yang menyatakan perbuatan sudah selesai.
6. Aspek imperfektif, yaitu yang menyatakan perbuatan berlangsung sebentar.
7. spek sesatif, yaitu yang menyatakan perbuatan berakhir.
Dalam bahasa Indonesia untuk menyatakan aspek perfektif digunakan unsur leksikal
sudah seperti pada kalimat (1); untuk menyatakan aspek inseptif, baru mulai, digunakan
partikel pun dan lah seperti dalam kalimat (2); dan untuk menyatakan aspek repetitif
Menurut kridalaksana aspek terdiri dari 18 macam ( 2008:21), yaitu :
1.

Aspek Augmentatif, aspek yang menggambarakn perbuatan meningkat.


58

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

2.

Aspek Diminutif, aspek yang menggambarkan perbuatan mengurang.

3.

Aspek fequentatif, aspek yang menggambarkan perbuatan berulang berkali-kali.

4.

Aspek Habituatif, aspek yang menggambarkan pembuatan yang menjadi


kebiasaan.

5.

Aspek Inperfektif (aspek inkompletif),

6.

Aspek Inkoatif, aspek yang menggambarkan perbbuatan mulai.

7.

Aspek inkompletif, aspek yang menggambarkan belum selesai

8.

Aspek Inseptif (aspek inkoatif)

9.

Aspek Kompletif, aspek yang menggambarkan perbuatan selesai.

10. AspekKontinuatif, aspek yang menggambarkan perbuatan berlangsung.


11. Aspek Momentan, aspek yang menggambarkan perbuatan sebentar.
12. Aspek perspektif ( aspek kompletif).
13. Aspek Permansif, aspek yang menggambarkan keadaan permanen sebagai akibat
dari perbuatan yang selesai.
14. Aspek Progresi (aspek kontinuatif)
15. Aspek Pungtiliar, aspek yang menggambarkan perbuatan yang dipandang sebagai
satuan temporal tunggal.
16. Aspek Repertitif, aspek yang menggambarkan perbuatan berulanag.
17. Aspek Sesatif, aspek yang menggambarkan perbuatan berakhir.
18. Apek Simulfaktif, aspek yang menggambarkan perbuatan berlangsung serentak.
Aspek bisa dilakukan secara morfemis, yaitu dengan sufiks i seperti tampak pada kalimat
(3)
berikut.
(1) Dia sudah makan.
(2) Dia pun

59

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

berjalanlah.
(3) Dia memukuli pencuri itu.
Selain itu, dalam bahasa Indonesia ada juga aspek yang sudah dinyatakan secara
inferen oleh tipe verbanya. Misalnya, verba mengiris seperti dalam kalimat (4) dan
verba memukul seperti dalam kalimat (5) sudah menyatakan aspek momentan,
perbuatan berlangsung sebentar.
(1) Ibu mengiris bawang itu
(2) Dia memukul adiknya

2.4 Modalitas
Modalitas merupakan salah satu fenomena kesemestaan bahasa. (Alwi, 1992). Hal ini
berarti setiap bahasa di dunia, mempunyai modalitas, yakni penggambaran sikap pembicara
terhadap apa yang dikemukakan dalam tuturannya. Modalitas dalam bahasa Indonesia
meliputi: ingin, berkeinginan, mengingini, menghendaki, dan mendambakan. Sedangkan
modalitas dalam bahasa Jepang meliputi bentuk verba tai, hoshii, te hoshii, te moraitai, te
itadakitai, dan mai. Pemodifikasian bentuk tai dan hoshii menjadi ~tagatte imasu dan hoshii
rashii.
Contoh:
a. Watashi wa kamera o kaitai desu
Saya ingin membeli kamera.
b. Kare wa kamera o kaitagatte imasu
Dia ingin membeli kamera
c. Watashi wa kamera ga hoshii desu.

60

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Saya ingin kamera


d. Kare wa kamera ga hoshii rashii desu.
Dia sepertinya ingin kamera
Modalitas merupakan salah satu cara pembicara menyatakan sikap terhadap suatu situasi
dalam suatu komunikasi interpersonal. Seperti menginformasikan, menyuruh, melarang,
meminta, dsb.
Nitta ( 1991:18 ) memberikan definisi modalitas yaitu :


Modarity to wa, genjitsu to no kakawarini okeru, hatsuwa doki no hanashite no
tachiba karashita, gen omoto jidai mo taisuru haoku no shi hou, oyobi, sorerani tsuite
no hanashite no hatsuwa-dentatsu tekitaidou no ari hou no arawashi
wakenikakawaru bunpouteki hyougen de aru.
Modalitas adalah cara pandang terhadap keadaan tertentu dan ungkapan tata bahasa
berdasarkan sikap si penutur dalam berkomunikasi.
Sedangkan menurut Masuoka (1989:104) menggolongkan modalitas kedalam
beberapa jenis:
(1). Kakugen
Modalitas yang digunakan untuk menyatakan sesuatu yang dianggap pasti atas keyakinan
pembicara. Biasa diungkapkan dengan kalimat pernyataan.
Contoh : Manusia adalah mahluk yang akan mati.
(2). Meirei
Modalitas yang digunakan untuk memerintah lawan bicara agar melakukan sesuatu.

61

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Contoh : Cepat pergi !.


(3). Kinshi-kyoka
Modalitas untuk menyatakan larangan dan ijin untuk melakukan suatu perbuatan.
Contoh : Jangan minum obat ini.
Besok tidak datang juga tidak apa-apa
(4). Irai
Modalitas yang digunakan untuk menyatakan permohonan kepada orang lain, agar
melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Contoh : Tolong tutup jendela.
(5). Toui
Modalitas yang digunakan untuk menyatakan keharusan atau saran kepada seseorang.
Contoh : Besok harus datang ke kampus
pukul 7
Sebaiknya cepat menikah
(6). Ishi-moushide-kanyuu
Modalitas yang digunakan untuk menyatakan maksud melakukan sesuatu, menawarkan
sesuatu, dan mengajak sesuatu pada orang lain.
Contoh : Saya bermaksud pergi ke Jepang
Mari, saya panggilkan taksi
62

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Maukan pergi bersama-sama


(7). Ganbou
Modalitas yang digunakan untuk menyatakan keinginan, baik berupa perbuatan yang
ingin dilakukan sendiri, maupun menginginkan orang lain melakukan sesuatu perbuatan.
Contoh : Saya ingin menonton film itu
Saya ingin Tanaka juga datang
(8). Gaigen
Modalitas yang digunakan untuk menyatakan dugaan atau suatu kemungkinan terhadap
suatu hal, karena pembicara merasa tidak yakin; atau menyampaikan suatu berita yang
pernah didengarnya.
Contoh : Mungkin, Nida juga kan datang
Katanya pertandingan sudah berakhir
(9). Setsumei
Modalitas yang digunakan untuk menyatakan suatu alas an ketika menjelaskan sesuatu
hal.
Contoh

Taro saat itu

sedang dirawat di rumah sakit. Dengan kata lain, ia

tidak mengikuti ujian

63

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

2.5 Kesantunan
Kesantunan dalam bahasa, misalnya dalam bahasa Indonesia sangat dipengaruhi oleh
strategi interaktif ketika bertindak tutur karena bahasa Indonesia bukanlah bahasa yang
memiliki tingkat tutur secara ketat dengan menerapkan subsistem honorifiks pada tataran
leksikal, morfologis, dan sintaktis seperti dalam bahasa Jepang. Kesantunan dalam
penggunaan bahasa Jepang adalah pilihan bahasa otomatis dan wajib karena konsep
kesantunan

ditempatkan

sebagai

bentuk

pengacuan

sosial.

Wakimae

merupakan

keharmonisan sosiopragmatik, yaitu perilaku kesantunan kebahasaan seseorang didikte oleh


posisi sosialnya dan hubungan sosialnya dengan petutur. Dalam bahasa Indonesia, tidak ada
sistem tata bahasa Indonesia yang secara tetap digunakan untuk menunjukkan kesantunan
seperti yang ada dalam sistem bahasa Jepang, yang secara tegas membagi tingkat (undak
usuk) bahasa mereka ke dalam dua tingkat, yaitu tuturan santun (polite speech) dan tuturan
akrab (familiar speech). Wakimae bukanlah kemauan karena hal tersebut tidak bergantung
pada kebebasan penutur, tetapi merupakan pilihan (bentuk gramatikal) verbal yang wajib
secara sosial. Bertindak menurut wakimae berarti menunjukkan makna tempat atau peran
seseorang secara verbal (dan nonverbal) dalam situasi tertentu menurut konvensi sosial.
Perbedaan antara discerment atau wakimae dengan volition (kemauan) dapat dijelaskan
sebagai berikut. Discerment direalisasikan terutama melalui berbagai bentuk kebahasaan
formal, yang merupakan pilihan wajib, yang mengimplisitkan pesan tentang pemahaman
penutur atas situasi sosial. Hal itu melibatkan berbagai bentuk formal seperti honorifik,
pronomina, bentuk sapaan, tingkat tutur, formula tuturan, dan sebagainya. Karena itu, dalam
bahasa Jepang tidak ada bentuk netral secara sosial. Penutur harus selalu memilih antara
bentuk honorifiks atau nonhonorifiks dan hal itu selalu menyampaikan informasi tentang
hubungan penutur-petutur. Pemakaian bentuk honorifiks menjadi hal yang absolut karena
pemakaian honorifiks atau tidak bukanlah kebebasan pribadi yang sesuai dengan keinginan
64

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

penutur. Pemakaian honorifiks secara langsung menunjukkan karakteristik sosiostruktural


penutur-petutur. Keabsolutan pemakaian honorifiks ini kemudian bergandengan dengan
wakimae.
Dalam bahasa Jepang, tuturan santun biasanya berakhir dalam bentuk santun, yaitu
desu dan masu. Dalam tuturan akrab, tuturan diakhiri dengan bentuk biasa, yaitu bentuk
adjektiva dan verba seperti dalam kamus dan bentuk da. Perbedaan bentuk santun dan biasa
dalam bahasa Jepang tampak pada penggunaan verba, adjektiva, adjektiva semu, nomina, dan
perbedaan lain seperti penggunaan partikel. Karena itulah, penutur bahasa Jepang dalam
mewujudkan kesantunan verbal tidak bergantung pada pemilihan modifikasi internal seperti
dalam bahasa Indonesia
Bertindak menurut wakimae berarti bertindak dengan menunjukkan arti seseorang
secara verbal tentang tempat atau peran dalam situasi tertentu menurut konvensi sosial dan
bukan kehendak pribadi. Sementara itu, volition dilakukan dengan cara pemilihan strategi
interaktif verbal, seperti mencari persetujuan, membuat humor, menunjukkan rasa pesimistis,
meminimalisasi tekanan, dan sebagainya. Dalam hal ini, bahasa Indonesia menerapkan
konsep volition dan bahasa Jepang menerapkan konsep discerment.
Contoh:
1. Mou sukoshi kuwashiku setsumei shite itadakemasen ka?
Bisakah anda menjelaskan lebih detail?
2. Kore, chotto goran kudasaimasen ka?
Maukah anda melihat ini sebentar?
Ujaran-ujaran diatas memperhalus maksud penutur dalam meminta orang lain untuk
melakukan apa yang diperintahkan.

65

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

2.7 Voice
Setiap bahasa yang ada di dunia ini pasti memiliki perbedaan tersendiri jika dibandingkan
dengan bahasa-bahasa yang lainnya. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari segi struktur
(sintaksis), makna (semantik), pembentukan kata (morfologi), dan sebagainya. Hal ini selalu
menimbulkan kesulitan bagi seseorang dalam proses mempelajari bahasa asing sebagai
bahasa keduanya. Salah satunya yaitu tentang diatesis (voice) yang jenisnya berbeda-beda
dalam setiap bahasa.
Yang dimaksud diatesis (voice) yaitu sebuah kategori gramatikal yang menunjukkan
hubungan antara subjek atau agen atau pelaku dengan perbuatan yang dilakukannya. Dari
perbuatan atau peristiwa yang dilakukan itulah dapat diketahui apakah subjek gramatikalnya
dikenai pekerjaan atau menderita akibat perbuatan tersebut. Dalam Sunarni dan Johana,
(2009: 131-132) diatesis terbagi menjadi tiga, yaitu diatesis aktif [] (noudoutai),
diatesis pasif [] (judoutai), dan diatesis resiprokal [] (sougotai).
a. Diatesis aktif

b. Diatesis Pasif

c. Diatesis resiprokal

Persesuaian dan Penguasaan / (Concord and Government)


Persesuaian dalam bahasa Jepang sepadan dengan Icchi to shihai yang
bermaksud pada persesuaian antara satu kata dengan kata yang lain untuk menunjukkan

66

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

tautan gramatik dalam kalimat. Dapat terjadi dalam kategori gramatik, seperti jumlah, kasus,
jenis dan pelaku.
Penguasaan disebut government. Government atau reaction atau disebut pula syntactic
regiment adalah alat sintaksis. Dengan alat ini bentuk infleksi kata tertentu ditentukan
(dikuasai) oleh kata lain dalam satu konstruksi. Dengan demikian, kata yang harus dikuasai
haruslah mempunyai kasus, modus atau gramatik tertentu. Dalam bahasa Jepang satu kata
mengharuskan kesesuaian kata atau partikel yang mengikutinya. Misalnya, verba
mengharuskan kesesuaian dengan partikelnya.
Contoh : Verba yang menghendaki munculnya partikel .

Tanaka telah memutuskan untuk menikah dengan Natsuko.

Keduanya telah berbicara tentang kekhawatirannya.


Verba yang menghendaki munculnya partikel atau

Ibu telah berdiskusi dengan gurunya tentang anak laki-lakinya.

67

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Besok akan bertemu dengan teman di stasiun Tokyo.


Verba yang menghendaki munculnya partikel

Saya mengerti bahasa Jepang.

Saya bisa memainkan piano.


Verba yang menghendaki munculnya partikel

Saya tiap hari pergi ke kampus

Kemarin, pergi ke rumah teman

Minggu depan akan pulang ke kampung halaman.


68

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Dalam bahasa Indonesia dikenal empat macam diatesis, yaitu diatesis aktif, diatesis pasif,
diatesis refleksif, dan diatesis resiprokal. Jika subjeknya melakukan perbuatan (pelaku)
diatesis aktif, sedangkan jika subjeknya menjadi sasaran perbuatan tersebut (penderita)
disebut diatesis pasif. Diatesis refleksif adalah diatesis yang secara semantis hanya
melibatkan satu pihak yang berperan ganda, yaitu sebagai pelaku juga penderita. Diatesis
resiprokal adalah diatesis yang secara semantis melibatkan dua argumen yang sama-sama
bertindak sebagai pelaku juga penderita. (Sudaryanto,, dkk., 1991).
Menurut Ioiri (2001), dalam gramatikal bahasa Jepang tradisional pada umumnya diatesis
hanya terpusat dalam empat jenis, yaitu diatesis aktif (noudoutai), diatesis pasif (judoutai),
diatesis kausatif (sieki), dan aksi memberi-menerima (jujudou). Sedangkan menurut Muraki,
terdapat 11 macam diatesis yaitu:
1. Noudoutai (Diatesis aktif)
2. Judoutai (Diatesis pasif)
3. Shieki (Kausatif)
4. Kanou (Potensial)
5. Jihatsu (Spontaneus)
6. Taiou-jitadou (Transitif-intransitif)
7. Saiki (Refleksif)
8. Sougouteki nadousa-sayou (Resiprokal)
9. Jujudou (Aksi memberi-menerima)
10. Shite aru (Verba TE+ARU)
11. Shite oku (Verba TE+OKU)
Dari 11 macam diatesis diatas, dalam konteks tertentu beberapa diatesis bahasa
Jepang dapat dipadankan hanya kedalam satu jenis diatesis saja, yaitu diatesis pasif.

69

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Diatesis bahasa Indonesia dinyatakan dengan 4 jenis konstruksi yaitu: konstruksi verba
di-, konstruksi verba ter-, konstruksi verba zero, dan konstruksi verba ke-an.
Misalnya:
1. Gakusei ga sensei ni homete morau.
Siswa dipuji oleh guru.
2. Yama no ue kara michi ga miemasu.
Dari atas gunung terlihat/kelihatan kota.
3. Koukan ni michi no chizu ga hatte arimasu.
Di pos polisi tertempel peta kota.
4. Watashi wa imouto ni okashi o tsukutte moraimashita.
Saya dibuatkan kue oleh adik perempuan saya.

70

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

BAB III
KATEGORI GRAMATIKA

3.1 Kategori Gramatika Nomina


Menurut Sunarni (2010:81) kategori gramatikal dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
kategori gramatikal yang berkolerasi dengan nomina terdiri dari : 1. Tei takrif dan futei tak
takrif, 2. Suu jumlah, 3. Sei jenis dan kaku kasus dan kategori gramatikal yang
berkolerasi dengan verba terdiri dari : 1. Ninsho persona, 2. Taikyokusei negasi, 3. Jisei
kala, 4. Asupekuto aspek, 5. Hou modalitas dan 6. Tai voice, 7. Ichi to shihai
persesuaian dan penguasaan.
Berdasarkan bentuk, fungsi dan makna satuan linguistik dapat dikategorikan menjadi dua,
yaitu 1. Kategori leksikal: kelompok satuan bahasa yang dinyatakan dengan morfem bebas,
dan 2. Kategori graatikal dinyatakan dengan morfem terikat.
Jenis kata merupakan klasifikasi kata berdasarkan pada tataran gramatika. Untuk
mengklasifikasikannya perlu ditentukan kriteria/parameter. Parameter tersebut dapat beragam
bergantung pada pemahaman seseorang terhadap kaidah gramatika suatu bahasa atau
kesadaran seseorang terhadap rasa bahasanya. Oleh sebab itu, terdapat klasifikasi kata yang
bervariatif.
Berdasarkan bentuk, fungsi, dan makna satuan linguistik menurut Nani Sunarni dan
Jonjon Johana dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu kategori leksikal dan kategori
gramatikal. Kategori leksikal adalah kelompok satuan bahasa yang dinyatakan dengan
morfem bebas, sedangkan kategori gramatikal dinyatakan dengan morfem terikat.
Kategori gramatikal dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kategori gramatikal
yang berkolerasi dengan nomina dan kategori gramatikal yang berkolerasi dengan verba.
Kategori gramatikal yang berkolerasi dengan nomina terdiri dari:

71

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

1. Tei takrif dan Futei tak takrif


2. Suu jumlah
3. Sei jenis
4. Kaku kasus
Menurut Takayuki meishi nomina (1993:4) adalah:

Meishi to iu no wa watashitachi o mawari ni aru mono ya watashi tachi ga


okonau koto wa meishi ga tsukararete imasu. Toki ya basho ni tsuite mo sono
toki ya basho o meikaku ni shitari suru tame mo yobikata ga kimerarete imasu. Kono
you na namae o arawasu kotoba o meishi to iimasu.
Nomina adalah kata yang dipakai untuk menyatakan sesuatu yang ada pada kita, dan
sesuatu (peristiwa) yang terjadi pada kita. Cara penyebutannya sudah ditentukan
walaupun merupakan keterangan waktu atau keterangan tempat. Cara penyebutan
kata yang ini disebut dengan nomina.
Sedangkan menurut Matsumura (1998: 1321) menjelaskan bahwa:

Meishi to wa hinshi no hitotsu. Mono ya meishou de, jiritsugo de, katsuyou ga nai go.
Meishi merupakan salah satu jenis kata dan merupakan kata-kata yang dapat berdiri sendiri
namun tidak dapat mengalami perubahan dan berfungsi untuk menyatakan nama benda.
Berdasarkan dua teori tentang meishi di atas dapat disimpulkan bahwa meishi adalah salah
satu jenis kata yang berfungsi untuk menyatakan orang, benda dan lain-lain, serta dapat
menjadi subjek maupun objek dari keadaan yang digambarkan dalam suatu kalimat. Jadi,
yang dimaksud nomina adalah kata-kata yang mengacu pada suatu hal atau kejadian. Selain
itu, nomina juga merupakan kata yang digunakan untuk menunjukkan keterangan waktu
dan keterangan tempat.

72

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Menurut Takayuki (1993:4) nomina (meishi) digolongkan menjadi 4 macam, yaitu:


1. Nomina Biasa (/Futsuu Meishi)
Adalah nomina yang menyatakan nama-nama benda, barang, peristiwa, dan sebagainya
yang bersifat umum. Misalnya: tsukue meja, sensei guru, gakusei murid, neko
kucing, hon buku, jinsei kehidupan manusia, hoshi bintang, koofuku
kebahagiaan, dan lain-lain.
2. Nomina Nama Diri (/Koyuumeishi)
Adalah nomina yang menyatakan nama-nama yang menunjukkan benda secara khusus
seperti: nama daerah, nama negara, nama orang, nama buku dan sebagainya. Misalnya:
Nihon Jepang, Toukyou nama tempat, Yamada nama orang, Taheiyou samudera
pasifik, chuugoku negara China, dan lain-lain.
3. Kata Ganti (/Daimeshi)
Adalah nomina yang menunjukkan sesuatu secara langsung tanpa menyebutkan nama
orang, benda, barang, perkara, arah, tempat, dan sebagainya. Kata-kata yang dipakai untuk
menunjukkan orang disebut pronomina persona.

( /ninshoudaimeishi),

sedangkan kata-kata yang dipakai untuk menunjukkan benda, barang, perkara, arah, dan
tempat disebut prenomina penunjuk (/shijidaimeishi).
Contoh:
a. Sebagai pengganti orang, misalnya: watashi saya, anata anda, kamu, kare dia
laki-laki, kanojo dia perempuan
b. Sebagai penunjuk benda, misalnya: kore ini, sore itu dekat, are itu jauh dore
yang mana
c. Sebagai penunjuk tempat, misalnya: soko disini, soko disitu, asoko disana, doko
dimana
73

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

d. Sebagai penunjuk arah, misalnya: kochira disini, achira disana, sochira disitu,
dochira dimana
4. Kata Bilangan (/Suushimeishi)
Adalah nomina yang digunakan untuk menunjukkan urutan dan jumlah.
Contoh:
a. Sebagai penunjuk urutan, misalnya: niban nomor dua, ichijikan satu jam, yonka
pelajaran keempat
b. Sebagai penunjuk jumlah, misalnya: hitotsu satu buah (menerangkan benda seperti
telur, buah, dan lainnya), ippon satu batang (untuk benda yang pipih atau panjang),
sansatsu tiga buah (untuk buku dan sejenisnya), ippiki satu ekor (untuk binatang
kecil, seperti kucing), ichimai satu lembar (untuk benda tipis, seperti perangko dan
sejenisnya), ikken satu buah (untuk benda berupa bangunan, rumah), hitori satu
orang (untuk manusia, orang)
Meishi (kata benda) memiliki ciri-ciri seperti berikut :
1. Meishi (nomina) termasuk kelas kata yang berdiri sendiri (jiritsugo) dan tidak
mengenal konjugasi atau deklinasi. Kata-kata yang termasuk kelompok nomina tidak
mengalami perubahan misalnya kedalam bentuk lampau, bentuk negatif, dan
sebagainya. Ciri yang pertama ini membedakan meishi dengan dooshi, keyooshi,
keiyoodooshi, dan jodooshi. Keempat kelas kata yang disebutkan terakhir termasuk
kelas kata yang mengalami konjugasi/deklinasi.
2. Meishi dapat menjadi subjek, objek, predikat dan adverbia, sehingga secara langsung
dapat diikuti jooshi (partikel) atau jidooshi (verba bantu). Nomina yang diikuti joshi
dan nomina yang diikuti jodooshi itu dapat membentuk sebuah bunsetsu.
3. Meishi bila diikuti jooshi (partikel) wa, ga, mo kosa, dake, atau sae dapat menjadi
subjek atau tema dalam suatu kalimat.
74

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Contoh:
a.
Densha ga kimashita.
b.

Chikyuu wa marui.

c.
Sensei mo shusseki saremasu.
d.
Watashi koso shitsurei shimashita.
e.
Kare dake kimashita.
f.
Ame sae futte kita.
4. Meishi bila diikuti jooshi (partikel) yo, diikuti jodooshi (verba bantu) da, desu rashii,
dan diikuti jooshi (partikel) no + verba bantu yooda dapat menjadi predikat.
Contoh:
a.
Sore wa watashi no hon yo.
b.
Kore wa sakura da
c.
Chichi wa ongakuka desu.
d.
Kyoo wa hontoo ni haru rashii
75

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

e.
Sono keshiki wa e no yooda.
5. Meishi bila diikuti partikel o dapat menjadi objek Misalnya:
a.
Terebi o mimasu. Ringo o tabemasu. Piano o hikimasu.
6. Meishi bila diikuti partikel o, ni e, to, yori, kara, atau de dapat menjadi keterangan
(adverbia).
Contoh :.
a.
Sora o tobu
b.
Yama ni noboru
c.
Ane to dekakeru
d.
Kuuki yori karui
e.
Jakaruta kara kimashita
f.
Byooki de yasumu
7. Ada juga meishi yang berfungsi sebagai adverbia tanpa diikuti partikel.
Contoh:
a.
Chichi wa maiasa sanpo suru, Kinoo kaji ga atta.
76

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

8. Sedangkan apabila meishi didikuti joshi (partikel) no maka dapat menerangkan


meishi yang lainnya.
Contoh:
a.

Sekai no heiwa

b.
Nihon no rekishi
Menurut Sudjianto (1995: 35) meishi dibagi menjadi 5 jenis diantaranya adalah
sebagai berikut:
A. Futsuu meishi adalah kata yang menyatakan suatu benda/perkara. Dalam jenis meishi ini
terdapat kata-kata sebagai berikut:
a. Gutaiteki na mono (nomina konkret) misalnya: uchi (rumah), gakkou (sekolah), ki
(pohon), umi (laut), kuni (negara), hito (orang) dan lain-lain
b. Chuushouteki na mono (nomina abstrak) misalnya: Shiawase (kebahagiaan), seishin
(jiwa), kimochi (perasaan), kioku (ingatan), heiwa (perdamaian) dan lain-lain
c. Ichi ya hougaku wo shimesu mono (nomina yang menyatakan letak/posisi/kedudukan
dan arah/jurusan) misalnya: Migi (kanan), higashi (timur)
d. Settogo ya setsubigo no tsuita mono (nomina yang disisipi prefiks dan suffiks)
misalnya: Gohan (nasi), okane (uang), manatsu (pertengahan musim) dan lain-lain
e. Fukugou meishi/ fukugou go (nomina majemuk) misalnya: Asa + hi = asahi (matahari
pagi) Chika + michi = chikamichi (jalan pintas/terdekat)
f. Hofukugouka no hinshi kara tenjita mono (nomina yang berasal dari kelas kata lain)
misalnya: Verba hikaru = hikari (sinar/cahaya) Adjektiva-i samui = samusa
(dinginnya) Adjektiva-na majimeda , majimesa (rajinnya).
B. Koyuu meishi
77

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

adalah nomina yang menyatakan nama suatu benda, nama orang, nama tempat, buku dan
lain-lain Misalnya : Fuji san (gunung Fuji), Nagaragawa (sungai Nagara), Asahi
shinbunsha (perusahaan surat kabar), Tokyo (kota Tokyo), Monyoushuu (nama buku:
Monyoushuu), Taiheiyou (lautan pasifik)
C. Suushi
adalah nomina yang menyatakan jumlah, bilangan, urutan/kuantitas. Kata-kata yang
termasuk sushi antara lain:
a. Suuryou no meishi (nomina yang menyatakan jumlah/kuantitas)
1. Hansuushi (numeria pokok) misalnya: Ichi, ni, san, hitotsu, futatsu, yotsu dan lainlain
2. Hansuushi + josuushi (numeria pokok + kata bantu bilangan) misalnya: Ichiban
(nomor satu), daisan (ketiga), daigokaime (yang kelima kalinya), dan lain-lain
D. Daimeishi adalah nomina yang menunjukkan orang, benda, tempat/arah. Daimeishi juga
dipakai untuk menggantikan nama-nama yang ditunjukkan. Dalam bahasa Indonesia
disebut dengan pronominal
a. Ninshou daimeishi
Adalah kata-kata yang dipakai untuk menunjukkan orang (pronomina persona).
Ninshou daimeishi (pronomina persona terdiri dari:
1. Jishou, yaitu pronominal persona yang digunakan untuk menunjukkan diri sendiri.
Misalnya: watashi, ore, dan ware
2. Taishou, yaitu pronominal persona yang dipergunakan untuk menunjukkan orang
yang menjadi pokok pembicaraan selain persona kesatu dan persona kedua .
Misalnya: kono kata, sono kata, ano kata
b.

Shiji daimeishi
Adalah kata-kata yang dipakai untuk menunjukkan benda, barang, perkara, arah dan
78

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

tempat. Shiji daimeshi (pronomina penunjuk) ini terbagi atas:


1. Jibutsu ni kansuru mono (pronominal penunjuk benda) Misalnya: kore, sore, are,
nani
2. Basho ni kansuru mono (pronominal penunjuk tempat) Misalnya: koko, soko,
asoko, doko
3. Houkou ni kansuru mono (pronominal penunjuk arah) Misalnya: kochira, sochira,
achira, dochira
E. Keishiki meishi
Adalah nomina yang menyatakan formalitas dan menyatakan arti yang sangat abstrak
Misalnya: Toori (sebagaimana, sepertinya) Tokoro (waktu, hal, sedang, sesuatu, saat)
Toki (pada waktu, ketika saat) dan lain-lain
Bahasa Jepang adalah bahasa yang kaya akan kosakata. Jenisnya pun sangat beragam
tergantung dengan cara, standar, dan dari sudut apa kosakata tersebut dipandang. Misalnya
dilihat dari kelas katanya. Pembagian kelas kata dalam bahasa Jepang disebut hinshi bunrui.
Hinshi berarti jenis kata ataukelas kata ( word class, part of speech ), sedangkan
bunrui berart i penggolongan, klasifikasi, kategori, atau pembagian. Jadi hinshi bunrui
dapat berarti klasifikasi kelas kata berdasarkan berbagai karateristiknya secara gramatikal.
Selain diklasifikasikan berdasarkan kelas katanya, kosakata dalam bahasa Jepang juga
dapatdiklasifikasikan berdasarkan pada siapa yang menjadi penuturnya.
Seperti berdasarkan usia penutur, terdapat jidgo atau yjigo (bahasa anak-anak),
wakamono kotoba (bahasa anak muda), dan rjingo (bahasa orang tua). Berdasarkan jenis
kelamin penutur, terdapat danseigo (bahasa laki-laki) dan joseigo (bahasa perempuan). Di
samping beberapa yang telah diungkapkan di atas, kosakata dalam bahasa Jepang juga dapat
diklasifikasikan perbedaan zaman, tempat, asal-usul (goshu) seperti wago, kango, dan
gairaigo,dan sebagainya.
79

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Murakami (1986: 24 dalam Dahidi: 2004) membagi kata tango dalam bahasa Jepang
menjadi dua kelompok besar, yaitu jiritsugo dan fuzokugo. Kelas kata yang dengan
sendirinya dapat menjadi bunsetsu seperti meishi nomina, dooshi verba, keiyoshi adjektiva
atau ada juga yang menyebutnya i-keisyooshi adjektiva-i, keiyoodoshi atau ada juga yang
menyebutnya na-keiyooshi, adjektiva-na, fukushi adverbia, rentaishi, prenomina, setsuzokushi,
konjungsi, dan kandooshi interjeksi, itu semua termasuk kelompok jiritsugo, sedangkan kelas
kata yang dengan sendirinya tidak dapat menjadi bunsetsu seperti kelas kata joshi partikel,
dan jodooshi verba bantu termasuk kelompok fuzokugo. Yang dimaksud dengan jiritsugo
adalah kelompok kata yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna, sedangkan fuzokugo
adalah kelompok kata yang tidak dapat berdiri sendiri. Artinya, ia baru bermakna dan
berfungsi apabila bergabung dengan kata lain. Istilah jiritsugo hampir sama dengan istilah
morfem bebas dalam bahasa Indonesia, dan fuzokugo mirip dengan istilah morfem terikat.
3.2 Kategori Gramatikal Verba
Karakteristik Bahasa Jepang yang berkaitan dengan kosakata dibagi menjadi 3
jenis yaitu wago, kango, dan gairaigo, sedangkan berdasarkan gramatikanya dibagi
menjadi 10 kelompok kelas kata, yaitu doushi verba, i-keiyoshi ajektiva-i, nakeiyoushi ajektiva-na, meishi nomina, fukushi adverbia, reintaishi prenomina,
setsuzokushi konjungsi, kandooshi interjeksi, jodooshi verba bantu, dan joshi partikel.
Verba atau doushi adalah salah satu kelas kata (hinshi bunrui) yang
predikat

berperan sebagai

dalam sebuah kalimat. Takahashi (2003) menyatakan doushi sebagai berikut:

Doushi ha, gengoteki imi ni oite undou wo arawashite, bun no jutsugo tonaru koto wo
daiichi no ninmu to shi, sono koto to musubitsuite, gokei wo henka saseru tango no
guruupu de aru. Soshite, sono shotokuchou no naka de, undou wo arawasu koto to
jutsugo ni naru koto ga yori kihonteki dearu.
80

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Verba atau doushi adalah kelas kata yang menyatakan gerakan dalam arti leksikal ,
berperan utama sebagai predikat dalam kalimat serta mengubah bentuk kata. Di
antara berbagai keistimewaannya, menyatakan gerakan dan berperan sebagai
predikat adalah hal yang paling mendasar.
Dari 10 kelompok kelas kata diatas doushi merupakan kata yang sering digunakan di
dalam Bahasa Jepang. Menurut Masuoka (1993:12) doushi dibagi menjadi 3 jenis yaitu 1)
doutaidoushi joutaidoushi, 2) jidoushi tadoushi, 3) ishidoushi muishidoushi.
Doutaidoushi adalah kata kerja yang menunjukkan suatu gerakan seperti aruku, taoreru, dan
lain-lain, sedangkan joutaidoushi adalah kata kerja yang menunjukkan suatu keadaan
dan kepunyaan seperti aru, iru. Tadoushi adalah kata kerja yang menggunakan pelengkap
seperti meishi + partikel wo, sedangkan jidoushi tidak menggunakannya. Ishidoushi dan
muishidoushi yaitu kata kerja yang menunjukkan ada atau tidaknya kemauan dan biasanya
berhubungan dengan gerak orang. Kesulitan yang dirasakan oleh pemelajar Bahasa Jepang
dalam menggunakan doushi yaitu karena ada beberapa doushi di dalam sebuah kalimat yang
mempunyai arti yang sama seperti morau dan kureru.
Ichikawa (2000:2) menyebutkan bahwa doushi (verba) adalah kelas kata (hinshi) yang
berfungsi sebagai predikat, letaknya sejajar atau setara dengan voice, tense, aspek, dan
mood. Sehubungan dengan hal tersebut, Ichikawa membagi kelas kata sebagai berikut.
Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa doushi termasuk ke dalam jutsugo yang
dalam bahasa Indonesia berarti predikat.
Menurut Kindaichi, predikat kata kerja dibagi menjadi dua kelompok yaitu:
1. Joutaisou ()
Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kata kerja keadaan.
2. Dousasou ()
Dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kata kerja perbuatan.
Kindaichi juga membagi kata kerja (doushi) menjadi empat macam berdasarkan bisa

81

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

tidaknya dirubah menjadi bentuk , yaitu:


1. Joutai Doushi ()
Adalah kata kerja yang menerangkan kondisi atau keadaan. Dalam bahasa
Indonesia dapat diterjemahkan sebagai kata kerja keadaan. Bentuk kata kerja ini
tidak bisa dirubah kedalam bentuk .
Contoh:

dan lain-lain.
2. Keizoku Doushi ()
Adalah kata kerja yang menunjukkan suatu perbuatan yang berlangsung
secara berkelanjutan. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menadi kata kerja
berkelanjutan atau kontinuatif. Bentuk kata kerja ini dapat dirubah menjadi bentuk
dan menyatakan suatu keadaan yang tengah berlangsung. Contohnya:
-

Kegiatan yang dilakukan oleh manusia, yaitu:

dan lain-lain.

Yang menyatakan fenomena alam, yaitu:

dan lain-lain.
3. Shunkan Doushi ()
Adalah kata kerja yang menunjukkan perbuatan yang selesai dalam sesaat.
Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kata kerja sesaat. Bentuk kata kerja
ini dapat dirubah menjadi bentuk dan menunjukkan hasil setelah
82

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

perbuatan selesai dilakukan atau terjadi.

Contohnya:

dan lain-lain.
4. Daiyonshu no Doushi ()
Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kata kerja tipe empat.
Bentuk kata kerja ini menunjukkan keadaan ruang dan berfungsi untuk menunjukkan
suatu kondisi. Memiliki bentuk
Contohnya:

dan lain-lain.
Sama halnya dengan Sudjianto (2007:149) yang menyebutkan bahwa doushi dipakai
untuk menyatakan aktivitas, keberadaan, atau keadaan sesuatu. Dalam bentuk kamus, doushi
selalu diakhiri dengan vokal /u/ dan memiliki bentuk perintah. Doushi juga dapat mengalami
perubahan dan dapat menjadi predikat bahkan dengan sendirinya memiliki potensi untuk
menjadi sebuah kalimat. Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa doushi
berperan utama sebagai predikat dalam kalimat, menyatakan gerakan dalam arti leksikal,
serta dapat dipakai untuk menyatakan keberadaan, aktivitas, dan keadaan sesuatu.
Klasifikasi doushi dalam bahasa Jepang bisa dikatakan bervariasi tergantung dasar
pemikirannya. Doushi bisa diklasifikasikan berdasarkan hubungan keaspekannya, makna
gramatikal maupun yang lainnya.
Dedi Sutedi (2003:93) menyatakan bahwa jika dilihat dari hubungan keaspekannya, verba
atau doushi dapat dibagi menjadi empat macam yaitu shunkan doushi, keizoku doushi, joutai
doushi, dan daiyonshu no doushi. Shunkan doushi disebut juga henka doushi dan keizoku

83

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

doushi disebut juga dousa doushi. Shunkan doushi yaitu verba yang menyatakan suatu
aktivitas atau kejadian, mengakibatkan terjadinya suatu perubahan dalam waktu singkat,
contohnya shinu mati, kekkon suru menikah dan okiru bangun. Verba jenis ini
mengandung suatu perubahan yang terjadi dalam tempo singkat atau sesaat sehingga verba
ini tidak digunakan untuk suatu kebiasaan seseorang atau perbuatan yang dilakukan
berulang-ulang.
Keizoku Doushi yaitu verba yang menyatakan suatu aktivitas atau kejadian yang
memerlukan waktu tertentu , dan pada setiap bagian waktu tersebut terjadi suatu perubahan.
Sehingga waktu kapan dimulai dan kapan berakhirnya aktivitas atau kejaidan tersebut akan
terlihat jelas, contohnya kaku menulis, hashiru berlari, yomu membaca.
Joutai doushi, yaitu verba yang menyatakan keadaan sesuatu , jika dilihat dari titik waktu
tertentu, sama sekali tidak akan terlihat terjadinya suatu perubahan, contohnya aru atau iru
ada, dekiru bisa, iru perlu, kakeru bisa menulis. Sama halnya dengan Sutedi, Machino
(2012) juga mengklasifikasikan doushi berdasarkan aspek.
Doushi berdasarkan aspek dibagi menjadi joutai doushi dan dousa doushi. Dousa doushi
terdiri dari shunkan doushi dan keizoku doushi. Namun Machino membagi shunkan doushi
menjadi 2 tipe yaitu tipe pengulangan atau hanpukukei dan tipe mendekat atau sekkinkei.
Hanpukukei contohnya mabataki suru berkedip, bakuhatsu suru meledak, dan unazuku
mengangguk. Sekkinkei contohnya ochiru jatuh, wasureru lupa, dan kusaru
membusuk.
Daiyonshu doushi, yaitu verba yang menyatakan keadaan sesuatu secara khusus, dan
selalu dinyatakan dalam bentuk sedang (TE IRU). Pada verba ini pun jika dilihat dari titik
waktu tertentu , tidak akan terjadi suatu perubahan, karena memang sudah menjadi suatu
kondisi yang tetap, contohnya sugureru unggul, niru mirip dan sobieru menjulang tinggi.
Berbeda dengan Sutedi dan Machino, Yamaura (1987:2) menyatakan bahwa doushi
84

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

diklasifikasikan berdasarkan makna gramatikal, yaitu jidoushitadoushi, ishisei-muishisei,


keizokusei-shunkansei, dan joutaisei no doushi. Jidoushi adalah verba intransitif, yaitu verba
yang tidak memerlukan partikel wo untuk menunjukkan objeknya contohnya kuru datang,
okiru bangun, deru keluar, sedangkan tadoushi adalah verba transitif, yaitu verba yang
memerlukan partikel wo, contohnya motsu membawa, miru melihat, dan akeru
membuka. Ishisei no doushi adalah verba yang menunjukkan tindakan yang dikehendaki
manusia, contohnya benkyou suru belajar, yomu membaca. Muishisei no doushi adalah
verba yang menyatakan suatu hal yang tidak dapat dikontrol menurut kehendak manusia,
contohnya wasureru lupa, taoreru jatuh dan lain-lain.
Pengklasifikasian verba dalam bahasa Jepang ada berbagai macam. Salah satunya
menurut Yoshikawa (2010:70) adalah sebagai berikut:
Verba dalam bahasa Jepang terdiri atas jidoushi-tadoushi ,keizoku
doushi-shunkan doush atau keizoku doushi disebut juga dousa doushi
dan shunkan doushi disebut juga henka doushi (untuk selanjutnya
digunakan penamaan dousa doushi dan henka doushi), dan ishi
doushi-muishi doushi.
Jidoushi-tadoushi
Verba
Jidoushi
verba
intransitif
Tadoushi
verba
transitif

Definisi
Verba yang tidak menggunakan partikel

Ada

wo yang menunjukkan objek.

dengan tadoushi; ada yang

Contoh:
Verba yang menggunakan partikel
Doa ga akimasu.
wo yang menunjukkan objek.
Pintu terbuka.
Contoh:

hanya jidoushi; ada yang


Ada yang berpasangan
bentuknya sama dengan
dengan jidoushi; ada yang
tadoushi
hanya tadoushi, ada yang

Watashi wa shimbun wo yomimasu.


Saya membaca koran.

Ciri
yang berpasangan

bentuknya

sama

dengan

jidoushi.
85

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Ishi doushi-muishi doushi


Ishi doushi

Verba yang menunjukkan perbuatan yang bergantung pada kehendak


manusia.

Muishi doushi

Contoh:
Verba yang menunjukkan perbuatan yang terjadi di luar kehendak
Watashi wa terebi wo mimasu.
manusia. Contoh:
Saya menonton televisi.
Atsui toki ni nodo ga kawakimasu.
Ketika panas terasa haus.
Ada empat macam: subjeknya selain makhluk hidup, menunjukkan
Dousa doushi-henka doushi dan joutai doushi
fenomena alam, menunjukkan fenomena yang ada pada tubuh

manusia, dan menunjukkan fenomena kejiwaan

Verba
Dousa doushi

Gerakan
ada

Hal yang Ditunjukkan


perbuatan dan peristiwa

Verba Bentuk Kamus


perbuatan dan peristiwa

Henka doushi
Joutai doushi

ada
tidak ada

perubahan keadaan
keadaan yang statis

di
masa
datang
masa
datang
keadaan sekarang

Ichikawa (2000:2) menyebutkan bahwa jidoushi dan tadoushi masuk ke dalam


kelompok doushi (). Kemudian, Ichikawa menyebutkan arti dan fungsi jidoushi
dan tadoushi sebagai berikut. Jidoushi berfungsi dan berarti suatu gerak atau suatu
tindakan yang tidak menyertakan pelaku dalam melakukan suatu perbuatan.
Contoh kalimat jidoushi adalah
1. (Jendela tersebut terbuka),
2. (Air mengalir), dan
3. (Anak tersebut menangis).
Sedangkan

fungsi

dan

arti

tadoushi

adalah

melakukan

pekerjaan

atau

menciptakan. Contoh kalimat jidoushi adalah

86

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

1. (Tuan Tanaka membuka jendela)


2. (Saya membangun rumah).
Masih dalam sumber yang sama, Ichikawa (2000:147) menjelaskan bahwa

Tadoushi wa tsuujou [mokutekigo + wo] wo tori, jidoushi wa toranai.


Pada umumnya tadoushi mempunyai pola (objek+o) akan tetapi hal tersebut tidak
berlaku pada jidoushi.
Diperkuat pula oleh pernyataan Suzuki (2000:40) yakni,



Tadoushi no baai wa [wo] o tori, jidoshi no baai wa [ga] o toru no ga futsuu da
ga, dochira ga tadoushi de, dochira ga jibun ka o kubetsu suru no ga gaikokujin
ni hijou ni muzukashii.
Memang sesuatu hal yang umum dalam menyertakan partikel o
dalam kalimat tadoushi dan menyertakan partikel ga dalam kalimat
jidoushi. Namun, sangat sulit bagi orang asing untuk membedakan
mana kalimat tadoushi dan mana kalimat jidoushi.
Oleh karena itu, jidoushi dan tadoushi harus benar-benar dimengerti dan
dipelajari dengan seksama agar lebih mudah membedakan dan mengaplikasikan
jidoushi dan tadoushi di dalam kehidupan sehari-hari.

3.2.1 Tei, Futei dan Kazu


I.

Tei Takrif dan Futei Tak Takrif


Menurut Kridalaksana (1993: 107) takrif atau ketakrifan adalah hal yang

bersangkutan dengan nomina atau frase nominal yang referennya atau acuannya telah
ditentukan atau dianggap sama-sama diketahui oleh pembicara dan pendengar dalam situasi
komunikasi. Takrif atau disebut pula ketakrifan dalam bahasa Inggris disebut definiteness.

87

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Bagian yang takrif biasanya mengandung hal tersebut, sedangkan sebagiannya atau berupa
nama diri. Dalam bahasa Indonesia contohnya:
1. Ia tinggal di rumah (tak takrif)
2. Ia tinggal di sebuah rumah (tak takrif)
3. Ia tinggal di rumah Amin (takrif)
4. Ia tinggal di rumah itu (takrif)
Dalam bahasa Jepang tei (takrif) adalah ko no tairitsu gainen ni motozoku bunpou
hanchuu no hitotsu (Tanaka, 1987:151) salah satu kategori gramatika berdasarkan konsep
yang berlawanan dari referensinya. Dari kedua pendapat tersebut terdapat titik singgung,
yaitu yang disebut dengan ketakrifan adalah persamaan konsep dari pembicara (penulis) dan
mitra wicara (pembaca) terhadap referensnya.
Contoh:
1. Utouto to shite me ga sameru to onna wa itsu no manika, tonari no jiisn to hanashi o
hajimete iru. (Koizumi, 1999: 112) (takrif)
Begitu terjaga dari kantukku entah sejak kapan perempuan itu mulai berbicara
dengan kakek-kakek yang ada disebelahnya.
2. Utouto toshite me ga sameru to onna ga itsu no manika, tonari no jiisan to hanashi o
hajimete iru (modifikasi Koizumi, 1999: 112) (tak takrif)
Begitu terjaga dari kantukku entah sejak kapan perempuan itu mulai berbicara
dengan kakek-kakek yang ada di sebelahnya

88

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Di

dalam

Tata

Bahasa

Bahasa

Indonesia

(2000:

43-44)

dikatakan

bahwa

pengacuan/referensi adalah hubungan antara satuan bahasa dan maujud yang meliputi benda
atau hal yang berada di dunia yang diacu oleh satuan bahasa itu. Jika frase nomina yang
mengacu pada kekhususan yang terindentifikasi maka itu merupakan pengacuan yang takrif.
Sedangkan menurut Kindaichi (1978:1315) takrif atau ketakrifan adalah:
[the] [le]
[der]
Tei kanshi no hitotsu meishi no mae ni tsuke, shiji ya gentei o shimesu, Eigo no the,
Furansu go no le, Doitsu go no der nado.
Artikel takrif yang menempel di depan salah satu nomina, dan merupakan kata yang
membatasi dan menunjukkan, dalam bahasa Inggris the, bahasa Perancis le, bahasa
Jerman der dan lain-lain.
Dalam buku Kyouiku Jiten:202) dijelaskan bahwa kopula da/desu juga dapat menjadi
pemarkah takrif yang bersifat penentu/penunjuk (shitei no jodoshi).
Contoh:
1. Tanaka san wa gakusei da.
Tanaka adalah seorang murid.
Kemudian menurut Kunihiro (227-229) ketakrifan dalam bahasa Jepang terbentuk dengan
pemakaian ko, so a (kono, sono, ano) untuk mengacu pada sesuatu dan juga dapat terbentuk
dari kasus kepemilikan pronomina (daimeishi no shoyu kaku).

89

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Kata bilangan atau numeralia secara semantis juga mengacu kepada pengungkap
kuantitas. Frase nomina yang menggunakan kata bilangan sebagai unsur pembentuknya dapat
mempengaruhi takrif dan tak takrif sebuah tuturan. Dalam kata bilangan ada pengertian
takrif , misalnya:
1. Koko ni mikan ga futatsu arimasu
Disini ada dua buah jeruk.
II.

Kazu/suu jumlah
Numeralia (jumlah) atau kata bilangan adalah kata yang dipakai untuk menghitung

banyaknya maujud (orang, binatang atau barang) dan konsep. (Alwi, 1998: 275). Pada
dasarnya dalam bahasa Indonesia ada tiga macam numeralia, yaitu:
I.

Numeralia Pokok
Adalah bilangan dasar yang menjadi sumber dari bilangan-bilangan yang lain.
Numeralia pokok juga disebut numeralia kardinal. Numeralia pokok terbagi menjadi 6
macam, yaitu:

1. Numeralia Pokok Tentu


Adalah numeralia yang mengacu pada bilangan pokok, yakni:
a. 0 = nol 10 = sepuluh
b. 1 = satu

200 = dua ratus

c. 2 = dua

1000 = seribu

d. 3 = tiga

7.450 = tujuh ribu empat ratus lima puluh

e. 4 = empat

1.000.000 = satu juta

f. 5 = lima

1. 000.000.000 = satu miliar, dst.


90

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

2. Numeralia Pokok Klitika


Disamping numeralia pokok yang telah disebutkan, ada pula numeralia lain yang
dipungut dari bahasa Jawa Kuno, tetapi numeralia itu umumnya berbentuk proklitika.
Jadi, numeralia semacam ini dilekatkan di muka nomina yang bersangkutan.
Contoh:
a. Eka satu

ekamatra

satu dimensi

b. Dwi dua

dwiwarna

dua warna

c. Tri tiga

triwulan

tiga bulan

d. Catur empat

caturwulan

empat bulan

e. Panca lima

pancasila

lima sila

f.

Sapta tujuh saptamarga

tujuh peraturan prajurit

g.

Dasa sepuluh dasalomba

sepuluh perlombaan

3. Numeralia Ukuran
Dalam bahasa Indonesia mengenal pula beberapa nomina yang menyatakan ukuran,
baik yang berkaitan dengan berat, panjang-pendek, maupun jumlah. Misalnya, lusin,
kodi, meter, liter, atau gram.
II.

Numeralia Tingkat
Numeralia tingkat hampir sama dengan numeralia kolektif yang dibentuk dengan
menambahkan ke, bedanya terletak bagaimana cara penggunaannya. Kalau numeralia
kolektif, numeralia ini diletakkan di di muka nomina yang diterangkan sedangkan
numeralia tingkat, ia diletakkan di belakang belakang nomina yang diterangkan.
Contoh:
91

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

a.

Kolektif

Tingkat

b.

Ketiga pemain

pemain ketiga

c.

Kedua jawaban itu

jawaban kedua itu

d.

*kesatu suara

suara kesatu

e.

*pertama suara

suara pertama

Pada numeralia kolektif, tidak ada bentuk kesatu atau pertama, sedangkan pada numeralia
tingkat ada.
III.

Numeralia Pecahan
Tiap bilangan pokok dapat dipecah menjadi bagian yang lebih kecil yang dinamakan
numeralia pecahan. Cara membentuk numeralia ini adalah dengan memakai kata perdiantara bilangan pembagi dan penyebut. Dalam bentuk huruf, per-ditempelkan pada
bilangan yang mengikutinya. Dalam bentuk angka, dipakai garis yang memisahkan
kedua bilangan itu.
Contoh:
1/2= seperdua, setengah, separuh
1/10 = sepersepuluh
7/16= tujuh perenam belas, dst

Jumlah pada dasarnya merujuk pada nomina. Dalam bahasa Jepang kehadiran sufiks-tachi
dalam kodomotachi anak-anak, onnatachi kaum perempuan dan sufiks-ra dalam karera
mereka (laki-laki) banyak, atau kanojora mereka (perempuan) banyak, shokun anda
sekalian, shokoku berbagai negara menunjukkan bahwa sesuatu yang dilekati tersebut

92

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

tidak satu, melainkan lebih dari satu jamak. Dalam bahasa Jepang jumlah selain ditandai
secara gramatikal dapat pula ditandai secara leksikal, yaitu dengan kehadiran satuan lingual
yang bersifat leksikal yang berupa numeralia.
Contoh:
1. Kyoushitsu ni gakusei ga sannin imasu
Di kelas ada tiga orang mahasiswa
2. Sannin no gakusei wa kyoushitsu ni imasu
Tiga orang mahasiswa ada di kelas
3. Gakusei wa minna mou soroimashita
Mahasiswa semuanya sudah terkumpul
4. Zenin mo kite imasu
Semuanya telah datang
5. Subete wa anata ni makasemasu
Semuanya saya serahkan kepada anda
Penunjuk jumlah pada kalimat (1) dan (2) berupa numerialia. Tetapi secara struktur dalam
kalimat (1) numerialia tersebut muncul setelah nomina sebelum predikat. Sedangkan dalam
kalimat (2) muncul di awal sebagai keterangan dari mahasiswa. Jumlah dalam kalimat (3)
ditandai oleh nomina sedangkan dalam kalimat (4) ditandai oleh prefiks zen yang memiliki,
dan kalimat (5) ditandai oleh adverbia. Penandaan-penandaan jumlah kalimat (3), (4), dan (5)
tersebut semuanya memiliki makna seluruh.
Selain itu, satuan lingual yang menunjukkan jumlah yang bersifat leksikal yang lain dapat
ditandai pula dengan kata sapaan minnasama hadirin dalam kalimat minasama ohayou
gozaimasu hadirin selamat pagi.
Penandaan jumlah selain satuan lingual yang bersifat leksikal maupun gramatikal, juga
dapat ditemui pula dalam proses morfemis yaitu dalam reduplikasi, seperti kata yama

93

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

gunung diulang menjadi yamayama gunung-gunung, hito orang diulang menjadi hitobito
orang-orang, dst.

3.2.2 Sei dan Kaku


1. Sei jenis/gender ()
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003:353) kata gender berarti jenis kelamin.
Dalam Webster,s New World, Gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara lakilaki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku, sedangkan dalam Women,s Stdies
Encyclpedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat
perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakterisk emosional
antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.
Sedangkan menurut Mansour Fakih (1999 : 8), mengungkapkan bahwa konsep gender
adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang
dikonstruksikan secara sosial maupun kultural. Misalnya bahwa perempuan itu dikenal lemah
lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sedangkan kaum laki-laki mempunyai sifat kuat,
rasional, jantan, dan perkasa. Ciri dari sifat itu merupakan sifat sifat yang dapat
dipertukarkan. Artinya laki-laki dapat bersifat emosional, lemah lembut, keibuan sebaliknya
perempuan dapat bersifat kuat, rasional, dan perkasa.
Kemudian menurut Munjin (dalam www.wordpress.co) ada dua masalah yang
menyebabkan terjadinya ekspresi bahasa gender, yaitu dominasi dan perbedaan. Dari
berbagai penelitian di bidang bahasa, kaitannya dengan kehidupan sosial politik dan budaya
masyarakat, terlihat bahwa perempuan memang berbeda dengan laki-laki. Budaya patriarki
mendudukkan posisi laki-laki menjadi lebih superior pada gilirannya akan melahirkan

94

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

perbedaa bahasa yang buka hanya terletak pada perbedaan suara, pemakaian gramatika,
pemilihan kata, tetapi juga pada cara penyampaian.
Ada dua hal yang dianggap andil dalam pembentukan perbedaan ini, yang pertama,
masalah hubungan sosil. Perkawinan dan bermain yang sejenis pada masa anak-anak dan
kemudian berlanjut sampai pershabatan dewasa akan melahirkan kelompok laki-laki dan
perempuan yang mempunyai sub-budaya sendiri. Pada masing-masing sub-budaya tersebut
juga mempunyai pola-pola dan gaya bahasa yang hanya cocok untuk kelompok mereka.
Masalah akan timbul manakala kedunya ingin berkomunikasi. Kedua, adalah hal yang
berkaitan dengan faktor biologis dan sosialisasi. Sebagai contoh, anak laki-laki dilarang main
dengan bunga karena bunga melambangkan suatu yang lembut, dan lembut itu adalah
perempuan. Sebaliknya perempuan dilarang pakai celana, main bola, pedang-pedangan,
karena permainan itu milik anak laki-laki dan bila ada anak perempuan yang tetap bermain, ia
akan dijuluki perempuan tomboy.
Dalam bahasa Jepang, kategori gramatikal terkait sei jenis dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu jenis yang terkait secara alamiah (shizensei) dan jenis yang terkait secara
gramatikal (bunpousei). Jenis yang disebutkan pertama banyak ditemukan berkategori
nomina secara leksikal, seperti chichi bapak, otousan bapak, kare dia laki-laki, kanojo
dia perempuan, haha ibu dan okaasan ibu.
Jenis secara gramatikal (bunpousei) ditemukan dalam verba yang berkolerasi dengan
nominanya. Dalam bahasa Jepang secara gramatikal nomina dapat dikelompokkan menjadi
nomina hidup dan nomina mati. Eksistensi kedua nomina ini ditandai oleh verba eksistensi
iru ada, dan aru ada.
Contoh :

95

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

1.

Obaasan no ie ni neko ga nihiki iru


Di rumah nenek ada dua ekor kucing

2. Obaasan no ie ni furui mono ga takusan aru


Di rumah nenek ada banyak benda kuno
3.

Obaasan wa okusan ga futari iru/aru


Nenek memiliki dua anak

4.

Takushi ga iru
Ada taksi

5.

Takushi ga aru
Ada taksi

6.

Mada shuuden ga iru kana


Masih adakah kereta terakhir

Kalimat (1) keberadaan neko kucing ditandai oleh verba iru ada untuk benda hidup,
sedangkan keberadaan furui mono barang kuno dalam kalimat (2) ditandai oleh verba aru
ada untuk benda mati. Keberadaan dalam kalimat (3) ditandai oleh kedua verba eksistensi
tersebut. Verba eksistensi iru ada dalam kaliamt (3) sama dengan kalimat (1), sedangkan
aru ada dalam kalimat tersebut menunjukkan makna posesif.
Begitu pula dalam kalimat (4) dan (5). Iru ada dalam kalimat (4) menunjuk keberadaan
untuk sopir taksi sedangkan aru ada dalam kalimat (5) menunjuk pada taksi yang masih
berada di tempat parkir di perusahaan atau sudah rusak ada dipinggir jalan.

96

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Dan iru ada dalam kalimat (6) pun bukan menunjuk pada kereta api, tetapi merujuk
pada masinis atau merujuk ke kereta terakhir yang masih beroperasi.
Dalam bahasa Jepang, ikhwal jenis selain hal di atas dapat ditemukan pula dalam bentuk
perbedaan penggunaan partikel akhir dalam tuturan laki-laki dan perempuan.
Contoh:
1. Hen da aneh
2. Hen da na aneh
3. Hen da wa aneh
4. Hen yo aneh
5. Iku ze pergi
6. Iku zo pergi
7.

Iku na pergi

8. Iku wa pergi
Kalimat (2), (5), (6), dan (7) merupakan tuturan laki-laki, sedangkan (3), (4), dan (8)
tuturan dari perempuan.
III.

Kaku kasus
Kasus merupakan kategori gramatikal dari nomina, frasa nominal, pronomina yang

memperlihatkan hubungannya dengan kata lain dalam kontruksi sintaksis. Yang dimaksud
dengan kata lain adalah verba (selanjutnya ditulis V) yang berfungsi sebagai predikat
(selanjutnya ditulis P) dalam sebuah kalimat yang memiliki valensi atau hubungan yang
bersumber dari V dan dapat dilihat dalam wujud peran. Peran secara semantis dapat berupa
agentif, objektif, benefaktif, dan lain-lain. Lebih sederhananya, kasus dapat dikatakan bahwa
nomina (N) melakukan apa yang dinyatakan (V) dan apa akibat dari hasil perbuatan N

97

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

tersebut. Adanya valensi antara nomina dan verba tersebut bervalensi pula pada partikelnya.
Partikel ini ini disebut partikel kasus. Dalam bahasa Jepang, kasus ditandai oleh partikel.
Dalam kalimat bahasa Jepang, nomina memiliki valensi dengan verba yang mengikutinya.
Macam-macam kasus dalam bahasa Jepang
a. Kasus Lokasional
Adalah kasus yang menandai makna lokasi atau tempat pada nomina. Jenis-jenis
kasus lokasional antara lain:
1. Kasus lokasional tipe satu
Nomina (tempat)

o (partikel kasus)

V (gerak-alih)

Contoh:
Ano hito wa michi o wataru
Orang itu menyeberang jalan
Seitotachi wa koen o hashiru
Para siswa berlari di taman
Kasus tipe satu nomina diduduki oleh tempat bervalensi dengan verba yang bermakna
gerak-alih (idou doushi). Partikel o wajib digunakan karena bermakna tempat yang dilalui
(tsuuka suru basho). Verba wataru, hashiru, aruku, oyogu dan tobu menunjukkan adanya
gerakan dari satu tempat ke tempat lain.
2. Kasus lokasional tipe dua
Nomina dalam kasus ini berupa nomina yang bermakna tempat atau kendaraan. Nomina
ini bervalensi dengan verba yang bersifat menjauh dari nomina tersebut. Antara nomina dan
verba tersebut bervalensi pula dengan partikel o dan partikel kasus ini bermakna berpisah
atau menjauh dari objek (hanareru taishou).
Nomina (tempat, kendaraan)

V (yang bersifat menjauh dari dari ...)


98

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Contoh:
Fune wa minato o hanareru
Kapal menjauh dari pelabuhan
Joukyaku wa basu o oriru
Para penumpang turun dari bus
3. Kasus lokasional tipe tiga
Kasus tipe ini ditandai dengan nomina (tempat) yang bervalensi dengan verba statis.
Nomina dan verba statis ini bervalensi dengan partikel ni di yang menunjukkan eksistensi
sesuatu. Verba statis yang menunjukkan keberadaan atau eksistensi suatu benda yaitu iru
dan aru ada
Tempat ni

Nomina ga

V (statis)

Contoh;
Toshokan ni gakuseitachi ga imasu
Di perpustakaan ada mahasiswa
Kouen ni hana ga arimasu
Di taman ada bunga
4. Kasus lokasional tipe empat
Tempat

de

V(dinamis)

Contoh:
Gakusei wa kyoushitsu de benkyou suru
Mahasiswa belajar di kelas
Chichi wa ousetsuma de shinbun o yonde iru

99

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Ayah sedang membaca koran di ruang tamu

b. Kasus yang berkolerasi dengan waktu yang dilalui


Kasus ini ditandai dengan nomina yang berwujud waktu (kikan). Nomina ini bervalensi
dengan verba yang memiliki semantis verba waktu yang dilalui. Nomina dan verba ini
bervalensi dengan partikel kasus o yang bermakna waktu yang dilalui (keika suru jikan).
wa

Nomina (kurun waktu) o

V(waktu yang dilewati)

Contoh:
Watashi wa obaasan no ie de yasumi o sugosu
Saya menghabiskan waktu liburan di rumah nenek
Tsumaranai jinsei o ikiru
Menjalani kehidupan yang membosankan
c. Kasus yang berkolerasi dengan arah
Menunjukkan korelasi antara nomina yang ditandai dengan nomina yang menunjukkan
arah dengan verba. Dalam bahasa Jepang, kasus ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1.

Kasus yang berkolerasi dengan arah (dousa no houkou)


Menunjukkan korelasi antara nomina yang ditandai dengan nomina yang

menunjukkan arah. Nomina ini bervalensi dengan verba yang digerakkan oleh indra
penglihatan untuk menunjuk suatu pandangan dan arah, seperti muku menghadap, miru
melihat. Nomina dan verba ini bervalesi dengan partikel kasus o yang memiliki mkna
arah.
Nomina (arah) o

V(menuju arah)

Contoh:
Ue o muku

100

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Menengadah
Shita o muite kudasai
Silakan menghadap ke bawah
Mae no hyou o mite kudasai
Perhatikan (melihat) ke depan
2. Kasus yang berkolerasi dengan arah pergerakan (idou no houkou)
Menunjukkan korelasi antara nomina yang menunjukkan tempat atau arah. Nomina
ini bervalensi dengan verba mukau menuju, kuru datang. Verba-verba ini
menunjukkan adanya perpindahan dari suatu gerakan untuk menuju suatu tempat atau
arah. Nomina dan verba ini bervalensi dengan partikel kasus o yang memiliki makna
arah pergerakan (idou no houkou) dari suatu aktifitas atau gerakan.

Nomina(tempat/arah)

ni

V(gerak-alih/perpindahan suatu aktifitas

Contoh:
Jakaruta ni mukau
Menuju jakarta
Watashi no hou ni kuru
Datang ke arah saya
Watashi ni tsikazuite kita
Mendekat ke saya
Kanojo wa omawarisan ni chikayotte itta
Dia mendekat ke arah polisi
d. Kasus yang menyatakan ketibaan
Kasus ini terdapat dua jenis, pertama ditandai oleh nomina yang berupa tempat yang
bervalensi dengan verba gerak alih (idou doushi), seperti iku pergi dan kuru pulang.

Nomina (tempat)

ni

V(gerak-alih)

101

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Nomina dan verba ini bervalensi dengan partikel kasus ni di yang menunjukkan titik
terminatif (touchakuten).

Contoh:
Nihon ni ikimasu
Pergi ke Jepang
Ie ni kite kudasai
Datanglah ke rumah
Kedua, kasus yang menyatakan ketibaan yang lain ditandai dengan nomina yang
menyatakan tempat yang bervalensi dengan verba yang menunjukkan ketibaan (touchakuten).
Nomina dan verba ini bervalensi dengan partikel kasus e ke.
Nomina (tempat)

V(ketibaan/terminatif)

Contoh:
Argo Wilis densha wa maiasa Yogyakarta e yoji ni tsuku
Kereta api Argo Wilis setiap pagi tiba di Yogya pada pukul 4.00
e. Kasus datif
Merupakan kasus yang menandai bahwa nomina adalah penerima suatu perbuatan. Kasus
ini ditandai oleh nomina yang menunjukkan manusia. Dan nomina ini bervalensi dengan
verba beri-terima. Nomina dan verba ini bervalensi dengan partikel kasus ni kepada.
N/penerima suatu perbuatan

ni

Objek

V(beri-terima)

Contoh:
Imouto ni hon o ageru
Memberikan buku kepada adik perempuan

102

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Haha wa musuko ni okane o ataeta.


Ibu memberikan uang kepada anak laki-lakinya
Gakusei ni shukudai o dasu
Memberikan PR kepada mahasiswa
Hana ni mizu o yaru
Menyiram bunga
f. Kasus translatif
Kasus yang menandai makna perubahan keadaan pada nomina atau pronomina. Dalam
bahasa Jepang kasus ini ada dua macam pertama: kasus translatif yang menandai kondisi
hasil perubahan pada nomina (henka kekka) yang ditandai oleh nomina yang memiliki salah
satu medan makna berubah, misalnya lampu lalu lintas. Nomina ini senantiasa berubahubah sesuai dengan aturan. Nomina seperti ini bervalensi dengan verba yang menyatakan
perubahan pula. Nomina dan verba ini bervalensi dengan partikel ni menjadi berubah.
Nomina (hasil perubahan)

ni

V(yang menyatakan perubahan

Contoh:
Ima kare wa chichioya ni natta.
Sekarang, Ia telah menjadi ayah
Shingou ga aka ni kawaru
Lampu lalu lintas berubah menjadi merah
Senzai o tsukatte, yunifoomu wa masshiro ni kawatta.
Dengan menggunakan sabun, baju seragam ini berubah menjadi putih sekali
Kasus translatif yang kedua ditandai dengan valensi nomina terhadap verba yang
menyatakan perubahan terhadap nomina. Valensi ini ditandai oleh partikel kasus kara dari,
yaitu dari kondisi sebelumnya menjadi kondisi hasil (sesudahnya).

103

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

ga ...... kara .....

ni

(kondisi sebelum perubahan)

V (yang menyatakan perubahan)


Kondisi setelah terjadi perubahan

Contoh:
Shingou ga aka kara ao ni kawaru
Lampu lalu lintas berubah warna merah menjadi warna hijau
Shatsu wa chairo kara masshiro ni kawatta
Baju berubah dari warna coklat menjadi warna putih
Gakusei kara kaishain ni natta
Dari mahasiswa menjadi pegawai perusahaan
g. Kasus yang menyatakan sumber
Adalah kasus yang menyatakan sumber pada nomina. Nomina pada kasus ini ditandai
oleh nomina yang berupa orang. Nomina ini bervalensi dengan verba. Nomina dan verba ini
bervalensi pada partikel kasus yang menandai sumber (dedokoro), yaitu ni dari .
Nomina(orang/sumber)

ni

V(sumber/asal)

Contoh:
Watashi wa chichi ni maitsuki okane o morau
Saya setiap bulan menerima uang dari ayah
Sensei ni sono nyuusu o kikimashita
Telah mendengar berita itu dari bapak guru
h. Kasus yang berkolerasi dengan waktu
Kasus ini ditandai dengan nomina yang diduduki oleh waktu. Nomina ini bervalensi
dengan verba yang menyatakan suatu peristiwa yang terjadi dalam suatu waktu. Nomina dan
verba tersebut bervalensi pula dengan partikel kasus ni pada.
Nomina (waktu)

ni

V(dinamis)

104

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Contoh:
Watashi wa mainichi goji ni okiru
Setiap pagi saya bangun pada pukul lima
Nihon no gakusei wa Soekarno Hatta no kuukou de hachiji ni tsuku yotei desu
Mahasiswa Jepang rencananya akan tiba di Bandara Soekarno Hatta pada
pukul 08.00.
i.

Kasus perbandingan
Kasus perbandingan pertama ditandai oleh nomina yang bermakna jumlah. Nomina ini

bervalensi dengan verba dinamis. Nomina dan verba ini bervalensi dengan partikel niyang
bermakna perbandingan.
Nomina (jumlah)

ni

perbandingan Vdinamis

Contoh:
Watashi wa futsuka ni ichido sentaku shimasu
Saya mencuci pakaian dua hri sekali
Haha wa ikkagetsu ni ikkai inaka e kaeru
Ibu saya satu kali dalam sebulan pulang ke kampung halaman
Kasus perbandingan berikutnya menyatakan perbandingan pada nomina. Nomina dalam
kasus ini ditandai oleh nomina yang berupa tempat, hal, benda sebagai pembanding. Nomina
ini bervalensi dengan adjektiva yang bermakna bandingan. Nomina dan adjektiva ini
bervalensi dengan partikel kasus yori daripada.
Nomina (yang dibandingkan)

wa

N (pembanding)

yori

Adjektiva

Contoh:
Jakaruta wa Bandon yori nigiyaka desu

105

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Jakarta lebih ramai daripada Bandung


Niku wa sakana yori takai desu
Daging lebih mahal daripada ikan.
j.

Kasus bahan
Kasus ini memperhatikan hubungan antara nomina yang bermakna bahan bervalensi

dengan verba yang menyatakan verba proses. Nomina dan verba ini bervalensi dengan
partikel kasus de dari dan atau kara dari yang memiliki makna bahan. Partikel kasus de
dari menunjukkan bahan yang yang dinyatakan nomina sebagai bahan tersebut mengalami
perubahan sehingga tidak terlihat bahan dasarnya.
O

Bahan dasar de/kara

Contoh:
Nendo de osara o tsukuru
Membuat piring dari tanah liat
Kecap wa daizu kara tsukutta.
Kecap terbuat dari kacang kedelai

k. Kasus instrumental
Merupakan kasus yang menandai alat pada nomina atau dengan kata lain nomina dalam
kasus ini ditandai oleh nomina yang menyatakan alat. Nomina ini bervalensi dengan verba
dinamis. Nomina dan verba ini pun bervalensi dengan partikel kasusu de dengan alat.
Alat de

Contoh:
Pasokon de ronbun o kaku
Menulis tugas akhir dengan menggunakan komputer

106

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Basu de daigaku ni kayotte iru


Pulang pergi ke sekolah dengan bus
Naifu de niku o kiru
Memotong daging dengan pisau
l.

Kasus sebab
Kasus ini adalah kasus yang menandai penyebab yang ditandai oleh nomina yang

bervalensi dengan verba. Nomina dan verba ini bervalensi dengan partikel kasus de sebab.
Nomina

de

topik

ga

Contoh:
Ooyuki de densha ga tomaru
Kereta berhenti karena salju yang lebat
Tsunami de Aceh ga tsubureta
Aceh hancur karena tsunami
Kaze de hashi ga kuzureta
Jembatan ambruk karena angin

m. Kasus limit
Adalah kasus yang menandai limit yang dinyatakan oleh nomina. Nomina dalam kasus ini
ditandai oleh nomina yang berupa masa (kikan). Nomina ini bervalensi dengan verba yang
memiliki makna semantis ketuntasan seperti oeru selesai, shiageru selesai/tuntas. Nomina
dan verba dalam kasus ini bervalensi dengan partikel kasus de yang menyatakan limit.
n. Kasus konklusi
Adalah kasus yang menandai konklusi yang dinyatakan oleh nomina. Nomina dalam
kasus ini ditandai oleh nomina yang berupa kapasitas (ryou). Nomina ini bervalensi dengan

107

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

verba dinamis. Nomina dan verbanya pun bervalensi dengan partikel kasus de menunjukkan
jumlah batas.
Jumlah de

V(dinamis)

Contoh:
Hitori de yuushoku o taberu
Makan malam sendirian
Minna de kaigai ryokou o shita
Wisata ke luar negeri dengan semuanya
o. Kasus isi
Adalah kasus yang menandai isi yang dinyatakan oleh nomina. Nomina dalam kasus ini
ditandai oleh nomina yang berupa isi suatu hal (naiyou). Nomina ini bervalensi dengan verba
dinamis. Dan diantara keduanya pun bervalensi dengan partikel kasus de menunjukkan isi
atau materi.
Nomina (isi/materi)

de

nomina (sumber)

V(dinamis)

Contoh:
Shingaku no koto de sensei ni soudan suru
Berdiskusi dengan dosen perihal melanjutkan sekolah
Miai no koto de oya ni soudan shita
Berdiskusi tentang pernikahan dengan orang tua.
p. Kasus komitatif
Adalah kasus yang menandai makna menemani yang dinyatakan oleh nomina. Nomina
dalam kasus ini ditandai oleh nomina yang bervalensi dengan partikel kasus to dengan yang
menunjukkan seseorang atau sesuatu yang menemani.

108

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Nomina (orang/binatang yang menemani)

to

V (dinamis)

Contoh:
Wanchan to mori ni hairimashita.
Masuk ke hutan bersama anjing
Kazoku to kaigai ryokou o shita
Berwisata ke luar negeri bersama keluarga
q. Kasus yang menyatakan persamaan atau perbedaan
Adalah kasus yang menandai makna adanya persamaan atau perbedaan yang dinyatakan
oleh nomina. Nomina dalam kasus ini ditandai oleh nomina yang berupa orang, binatang, dan
atau sesuatu yang dibandingkan. Nomina ini bervalensi dengan verba yang menyatakan
persamaan atau perbedaan. Nomina dan verba dalam kasus ini bervalensi dengan partikel
kasus to dengan yang menunjukkan persamaan atau perbedaan.
Nomina (pembeda)

to

V (persamaan/perbedaan)

Contoh:
Otousan to nite iru
Mirip dengan bapak
Kono ko wa otousan to kao ga chigau
Anak ini wajahnya berbeda dengan wajah ayahnya
r. Kasus dasar penilaian/bahan pertimbangan
Adalah kasus yang menandai makna dasar penilaian/bahan pertimbangan yang
dinyatakan oleh nomina. Nomina dalam kasus ini ditandai oleh nomina yang berupa sesuatu
yang dapat menjadi bahan penilaian atau pertimbangan. Nomina ini bervalensi dengan verba
yang menyatakan pertimbangan atau penilaian pula. Nomina dan verba dalam kasus ini
bervalensi dengan partikel kasus kara dari yang disebutkan nomina.
Nomina (yang menjadi bahan pertimbangan) kara V (yang bermakna penilaian)

109

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Contoh:
Chousa no kekka kara kangaeru to kondo mo mata oojishin ga okoru to
omowareru
Kalau dipikir berdasarkan hasil pemeriksaan, nanti juga akan terjadi gempa
besar
Kare no seikaku mite, sono youna koto wa shinai to omou
Dilihat dari sifatnya, saya kira ia tidak akan melakukan hal seperti itu.
s. Kasus penyebab tidak langsung
Merupakan kasus yang menyatakan tidak langsung pada nomina. Nomina dalam kasus ini
ditandai oleh nomina yang berupa penyebab. Nomina ini bervalensi dengan verba yang
menunjukkan akibat. Nomina dan verbanya juga bervalensi dengan kasus kara karena.

Nomina (penyebab tidak langsung)

kara

V (menunjukkan akibat)

Contoh:
Hi no fushimatsu kara kaji ni naru
Karena kealfaan terhadap api (kompor), terjadi kebakaran.
Tojimari no futsui kara dorobou ni hairarete shimatta
Karena tidak hati-hati dalam menutup pintu dan jendela, rumah kami
kemasukan maling.
t. Kasus titik muncul/awal dan titik ketibaan
Adalah kasus yang menandai makna munculnya atau awalnya sesuatu pada nomina.
Kasus ini merupakan kasus yang menandai makna ketibaan pada nomina. Nomina dalam
kasus ini diduduki oleh tempat dan waktu. Nomina tempat bervalensi dengan gerak alih,
sedangkan nomina waktu bervalensi dengan verba dinamis. Nomina dan verba ini bervalensi
dengan partikel kara yang memiliki makna dari.

110

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

Nomina (tempat)

kara

N (tempat) made

V (gerak alih)

Nomina (waktu)

kara

N (waktu) made

V (dinamis)

Contoh:
Ie kara eki made aruku
Berjalan dari rumah sampai stasiun
Geshuku kara dekakeru
Pergi dari tempat kost

111

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

BAB 1V
PETA KONSEP
4.1 Peta Konsep 1

onseigaku

on-in-ron

keitairon

tougoron

goyouron

imiron

shakaigengogaku

112

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

4.2 Peta Konsep 2


Keitairon (Morfologi)

Meliputi

Unsur-unsur

Kata

Keitaiso

Katsuyoukei

Hinshi

morfem

Pembentuk kata
Tanjungo/kata tunggal

Jiyuu keitaiso
morfem bebas

Gokan/stem

Konjyugasi

Tidak mengalami
perubahan

Mengalami
perubahan

Proses Morfemis

Mizenkei

Goseigo/kata gabung
Setsuji /afiks

Renyoukei

Kousoku
keitaiso
Morfem
terikat

Doushi
Shuushikei
meishi

Keiyoush
i

Rentaikei

Daimeishi
Kateikei
Suushi
Meireikei
Fukushi
Setsuzokus
hi
Kandoushi
Joshi

113

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.
Verhaar, J. W. M. 2004. Asas Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press.
Koizumi, Tamotsu. 1993. Nihongo Kyooshi no Tame no Gengogaku Nyuumon.
Linguistik Bagi Para Calon Guru Bahasa Jepang. Tokyo: Taishukan Shoten.
Sudjianto & Ahmad Dahidi. 2004. Linguistik Bahasa Jepang, Jakarta: Oriental- Kesaint
Blanc
....................... 2004. Pengantar Linguistik Bahasa Jepang. Bekasi: Kesaint Blanc
Sudaryanto dkk. 1991. Diatesis Bahasa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Alwi, H. 1992. Modalitas Dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius
Sudjianto. 1999. Gramatika Bahasa Jepang Modern. Jakarta: Kesaint Blanc
Kindaichi, H. 1976. Nihongo Doushi no Asupekuto. Toukyou:Mugishobo
Inoue, K. 1976. Henkei Bunpo to Nihongo Ue. Toukyou: Taishuukan
Sutedi, Dedi. 2003. Dasar-Dasar Linguistik Bahasa Jepang. Bandung: Humaniora Utama
Press.
Kushartanti, dkk. 2005. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama
Kridalaksana, Harimurti . 2007. Kelas Kata Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia pustaka.
Matsumura, Yamaguchi. 1998. Kokugo Jiten. Tokyo: Obunsha
Alwi, Hasan dkk. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka
Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik . Edisi Ketiga.Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Fakih, Mansoer. 2001. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Munjin. 2014. Ekspresi Bahasa dan Gender Sebuah Kajian Sosolinguistk.
(online).(www.wordpress.com. Diunduh, tanggal 16 Nopember 2014)

http://id.wikipedia.org/wiki/linguistik
Sunarni, Nani dan Jonjon Johana. 2010. Morfologi Bahasa Jepang: Sebuah Pengantar.
Bandung: Sastra Unpad Press.

114