Anda di halaman 1dari 14

Pelanggaran Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik

Nama Kendaraan Bermotor

NAMA KELOMPOK :
1. Ni Putu Juwita Maharani

(1504742010168)

2. I Nyoman Sugiri Arwa Kumara

(1504742010181)

3. Luh Gede Yunita Megantari

(1504742010188)

4. Michael I Gede Darmawan

(1504742010172)

5. I Ketut Arianta

(1504742010189)

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat
dan karunia-Nyalah sehingga kami penulis dapat menyelesaikan makalah Hukum Pajak
dengan judul Pelanggaran Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan
Bermotor ini dengan baik dan lancar.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, mengingat
keterbatasan kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang kami miliki. Untuk itu
kritik, saran, bimbingan dan petunjuk-petunjuk dari berbagai pihak sangat kami
harapkan guna kelengkapan dan penyempurnaan tugas ini.

Denpasar, Mei 2016

Penulis

DAFTAR ISI
i

KATA PENGANTAR.

DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Tarif Pajak Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama
Kendaraan Bermotor............................................5
2.2 Sanksi terhadap pelanggaran Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik
Nama Kendaraan Bermotor............... 8
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan. 10
3.2 Saran... 10
DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan, Negara Kesatuan Republik
Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi terdiri atas daerahdaerah kabupaten dan kota. Tiap daerah-daerah tersebut mempunyai hak dan kewajiban
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya untuk meningkatkan
penyelenggaraan dan pelayanan kepada masyarakat. Untuk menyelenggarakan
pemerintahan tersebut, daerah berhak mengenakan pungutan biaya kepada masyarakat
berupa pajak. Pajak merupakan salah satu sumber pemasukan kas negara yang
digunakan untuk pembangunan dengan tujuan akhir kesejahteraan dan kemakmuran
rakyat. Oleh karena itu, sektor pajak memegang peranan penting dalam perkembangan
kesejahteraan bangsa. Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 yang menempatkan perpajakan sebagai salah satu perwujudan kenegaraan,
ditegaskan bahwa penempatan beban kepada rakyat, seperti pajak dan pungutan lain
yang bersifat memaksa diatur dengan undang-undang.
Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dan Undang-undang
No. 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan
daerah yang berlaku, memberikan dampak yang sangat luas terhadap perkembangan
pemerintahan di daerah. Pendapatan asli daerah sebagai sumber pendapatan dalam membiayai
pembangunan perlu dikelola dengan baik. Dalam hal ini dibutuhkan berbagai kebijakan yang
lebih komprehensif, efektif dan efisien dalam mengelolanya.
Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) adalah pajak atas kepemilikan atau penguasaan
kendaraan bermotor (kendaraan beroda dua atau lebih beserta gandengannya yang digunakan di
semua jenis jalan darat dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan
lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak
kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat besar yang bergerak).

Sedangkan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB)

adalah alih

kepemilikan kendaraan bermotor dari pemilik pertama (I) ke tangan pemilik kedua (II)
dan seterusnya dari dasar jual beli dan hibah kendaraan bermotor, setelah selesai proses
balik nama akan berubah nama pemilik di STNK dan di BPKB, tapi nomor polisi tidak
berubah kecuali pindah keluar daerah provinsi.
1

Pemungutan PKB dan BBNKB di Indonesia saat ini didasarkan pada dasar hukum
yang jelas dan kuat sehingga harus dipatuhi oleh masyarakat dan pihak yang terkait.
Dasar hukum pemungutan PKB dan BBNKB pada suatu provinsi adalah sebagai
berikut:
1) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 yang merupakan perubahan atas
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah;
2) Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah;
3) Peraturan daerah provinsi yang mengatur tentang PKB dan BBNKB. Peraturan
daerah ini dapat menyatu, yaitu satu peraturan daerah untuk PKB dan BBNKB,
tetapi dapat juga dibuat secara terpisah misalnya Peraturan Daerah tentang PKB
dan BBNKB;
4) Keputusan gubernur yang mengatur tentang PKB dan BBNKB sebagai aturan
pelaksanaan peraturan daerah tentang PKB dan BBNKB pada provinsi
dimaksud. Sebagaimana poin 3 (tiga) di atas, keputusan gubernur yang mengatur
tentang PKB dan BBNKB dapat dibuat menyatu, yaitu suatu keputusan gubernur
untuk PKB dan BBNKB, tetapi dapat juga dibuat secara terpisah misalnya
Keputusan Gubernur tentang PKB dan BBNKB.
Ada beberapa yang menjadi dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor adalah hasil
perkalian dari 2 (dua) unsur pokok:
a. Nilai Jual Kendaraan Bermotor
b. Bobot yang mencerminkan secara relatif tingkat kerusakan jalan dan/atau
pencemaran lingkungan akibat penggunaan Kendaraan Bermotor. Bobot
ini dinyatakan dalam koefisien yang nilainya 1 (satu) atau lebih besar
dari 1 (satu), dengan pengertian sebagai, koefisien sama dengan 1 (satu)
berarti

kerusakan

jalan

dan/atau

pencemaran

lingkungan

oleh

penggunaan Kendaraan Bermotor tersebut dianggap masih dalam batas


toleransi, dan koefisien lebih besar dari 1 (satu) berarti penggunaan
Kendaraan Bermotor tersebut dianggap melewati batas toleransi.

Bobot ini dihitung berdasarkan faktor-faktor :


2

a. Tekanan gandar, yang dibedakan atas dasar jumlah sumbu/as, roda, dan berat
Kendaraan Bermotor;
b. Jenis bahan bakar Kendaraan Bermotor yang dibedakan menurut solar,
bensin, gas, listrik, tenaga surya, atau jenis bahan bakar lainnya;
c. Jenis, penggunaan, tahun pembuatan, dan ciri-ciri mesin Kendaraan
Bermotor yang dibedakan berdasarkan jenis mesin 2 tak atau 4 tak, dan isi
silinder.
Khusus untuk Kendaraan Bermotor yang digunakan di luar jalan umum, dasar
pengenaan pajak kendaraan bermotor hanyalah nilai jual kendaraan bermotor. nilai jual
kendaraan bermotor ditentukan berdasarkan harga pasaran umum atas suatu kendaraan
bermotor. Penghitungan dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor ditinjau kembali
setiap tahun. Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor dilakukan oleh Pemerintah
Provinsi (melalui Samsat) bersamaan dengan penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan
Bermotor (STNK). Pajak Kendaraan Bermotor dikenakan untuk Masa Pajak 12 (dua
belas) bulan berturut-turut terhitung mulai saat pendaftaran Kendaraan Bermotor yang
dibayar sekaligus di muka. Dasar Pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
sebagai berikut :
a. Dasar pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah nilai jual
Kendaraan Bermotor;
b. Nilai jual Kendaraan Bermotor sebagaiman dimaksud pada angka (1)
diperoleh berdasarkan harga pasaran umum atas suatu Kendaraan
Bermotor.
Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah yang memberikan kontribusi
cukup besar bagi pembiayaan pemerintahan dan pembangunan daerah.

1.2 Rumusan Masalah


3

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut, yaitu :
1.2.1

Bagaimana tarif Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama


Kendaraan Bermotor?

1.2.2

Bagaimana sanksi terhadap pelanggaran Pajak Kendaraan Bermotor dan


Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor?

BAB II
4

PEMBAHASAN

2.1 Tarif Pajak Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan
Bermotor
2.1.1 Tarif PKB
Tarif PKB berlaku sama pada setiap Provinsi yang memungut PKB. Tarif
PKB ditetapkan dengan peraturan daerah provinsi. Sesuai peraturan
pemerintah No. 65 tahun 2001 Pasal 5 tarif PKB dibagi menjadi 3 kelompok
sesuai dengan jenis penguasaan kendaraan bermotor, yaitu :
a. 1,5% untuk kendaraan bermotor bukan umum;
b. 1% untuk kendaraan bermotor umum. Yaitu kendaraan bermotor yang
disediakan untuk kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan
oleh umum dengan dipungut bayaran;
c. 0,5% untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar.
2.1.2 Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor
PKB terutang harus dilunasi atau dibayar sekaligus di muka untuk masa
dua belas bulan. PKB dilunasi selambat-lambatnya tiga puluh hari sejak
diterbitkan SKPD (Surat Ketetapan Pajak Daerah), SKPDKB (Surat
Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar), SKPDKBT (Surat Ketetapan Pajak
Daerah Kurang Bayar Tambahan), STPD (Surat Tagihan Pajak Daerah), Surat
Keputusan pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, dan putusan banding
yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah. Pembayaran
PKB yang terutang dilakukan ke kas daerah bank, atau tempat lain yang
ditunjuk oleh gubernur, dengan menggunakan Surat Setoran Pajak Daerah
(SSPD). Apabila pembayaran pajak dilakukan di tempat lain yang ditunjuk,
hasil penerimaan pajak harus disetor ke kas daerah paling lambat 1x 24 jam
atau dalam waktu yang ditentukan oleh Gubernur. Apabila tanggal jatuh
tempo pembayaran pada hari libur, pembayaran dilakukan pada hari kerja
berikutnya.
Wajib pajak yang melakukan pembayaran pajak diberikan tanda bukti
pelunasan atau pembayaran pajak dan penning harus ditempelkan pada tanda
5

nomor kendaraan sebelah depan dan belakang. Bentuk, isi, kualitas, dan
ukuran tanda pelunasan pajak dan penning ditetapkan oleh Menteri Dalam
Negeri.
Wajib pajak yang terlambat melakukan pembayaran pajak akan dikenakan
sanksi, yaitu:
a) Keterlambatan pembayaran pajak yang melampaui saat jatuh tempo yang
ditetapkan dalam SKPD, dikenakan sanksi administrasi berupa denda
sebesar 25% dari pokok pajak, dan
b) Keterlambatan pembayaran pajak sebagaimana ditetapkan dalam SKPD
yang melampaui lima belas hari setelah jatuh tempo dikenakan sanksi
administrasi sebesar 2% sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau
terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 bulan dihitung sejak
saat terhutangnya pajak
Dalam keadaan tertentu Gubernur atau pejabat yang ditunjuk dapat
memberikan persetujuan kepada wajib pajak untuk mengangsur pembayaran
PKB terutang dalam kurung waktu tertentu setelah memenuhi persyaratan
yang ditentukan. Pembayaran persetujuan untuk mengangsur pembayaran
pajak diberikan atas permohonan wajib pajak. Angsuran pembayaran pajak
yang terutang harus dilakukan secara teratur dan berturut-turut dengan
dikenakan bunga sebesar 2% sebulan dari jumlah pajak yang belum atau
kurang dibayar. Selain memberikan persetujuan mengangsur pembayaran
pajak, Gubernur atau pejabat yang ditunjuk dapat memberikan persetujuan
kepada wajib pajak untuk menunda pembayaran pajak terutang dalam kurun
waktu tertentu setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan.
Pemberian persetujuan untuk menunda pembayaran pajak diberikan atas
permohonan wajib pajak, dengan dikenakan bunga sebesar 2% sebulan dari
jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar. Persyaratan untuk dapat
mengangsur atau menunda pembayaran pajak serta tata cara pembayaran
angsuran ditetapkan dengan keputusan gubernur.
2.1.3 Tarif BBNKB
Tarif BBNKB ditentukan berdasarkan tingkat penyerahan objek pajak yang
terjadi dan jenis kendaraan bermotor yang diserahkan. Tingkat penyerahan
kendaraan bermotor meliputi penyerahan pertama (kendaraan baru),
6

penyerahan kedua dan selanjutnya (yang berarti penyerahan atas kendaraan


bekas), dan penyerahan karena warisan. Jenis kendaraan yang diserahkan
meliputi kendaraan bermotor bukan umum, kendaraan bermotor umum, dan
kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar.
Tarif BBNKB atas penyerahan pertama ditetapkan sebesar :
10% untuk kendaraan bermotor bukan umum
10% untuk kendaraan bermotor umum
3% untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar
Tarif BBNKB atas penyerahan kedua dan selanjutnya ditetapkan sebesar :

1% untuk kendaraan bermotor bukan umum


1% untuk kendaraan bermotor umum
0,3% untuk kendaraan alat berat dan alat-alat besar

Tarif BBNKB atas penyerahan karena warisan ditetapkan sebesar :

0,1% untuk kendaraan bermotor bukan umum


0,1% untuk kendaraan bermotor umum
0,3% untuk kendaraan bermotor alat berat dan alat-alat besar

2.2 Sanksi terhadap pelanggaran Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama
Kendaraan Bermotor
2.2.1 Sanksi terhadap pelanggaran Pajak Kendaraan Bermotor
Denda yang dikenakan karena keterlambatan pembayaran pajak yaitu denda
atas Pajak Kendaraan Bermotor dan denda atas SWDKLLJ (Sumbangan
Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan). Kedua hal tersebut yang
sebenarnya harus wajib pajak bayar tiap tahun. Apabila terlambat membayar

2 kategori pajak tersebut maka akan dikenakan denda yang cara


perhitungannya sebagai berikut:
1. Denda atas PKB, denda PKB adalah 25% dalam 1 tahun, apabila
motor/mobil wajib pajak terlambat baru dalam 3 bulan maka cara
perhitungannya: PKB x 25% x (3/12), kalau 6 bulan, PKB x 25% x (6/12),
dan seterusnya;
2. Denda atas SWDKLLJ ini akan terlihat sama antara terlambat 3 hari atau 1
tahun. Untuk Mobil ditetapkan dendanya sebesar 100.000,- sedangkan
Motor dendanya sebesar 32.000.
Dengan catatan, denda PKB dihitung per tahun dan bulan tidak ditotalkan
menjadi berapa bulan, sedangkan untuk sanksi SWDKLLJ dihitung per tahun.
2.2.2 Penagihan Pajak Kendaraan Bermotor
Jika pajak yang terutang tidak dilunasi setelah jatuh tempo pembayaran,
gurbenur atau pejabat yang ditunjuk akan melakukan tindakan penagihan
pajak. Penagihan pajak dilakukan terhadap pajak terutang dalam SKPD,
SKPDKB, SKPDKBT, STPD, Surat Keputusan pembetulan, Surat Keputusan
Keberatan, dan putusan banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus
dibayar bertambah.
Penagihan pajak dilakukan dengan terlebih dahulu memberikan surat
teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai awal
tindakan penagihan pajak. Surat teguran atau peringatan dikeluarkan tujuh
hari saat jatuh tempo pembayaran pajak dan dikeluarkan oleh pejabat yang
ditunjuk oleh gubernur. Dalam jangka 7 hari sejak surat teguran dan
peringatan atau surat lain yang sejenis diterima, wajib pajak wajib melunasi
pajak yang terhutang.
Selanjutnya, bila jumlah pajak terhutang yang masih harus di bayar tidak
di lunasi jangka waktu yang ditentukan dalam surat teguran atau peringatan
ataupun surat lain yang sejenis, akan ditangih dengan surat paksa. Tindakan
penarikan pajak dengan surat paksa dapat dilanjutkan dengan penyitaan,
pelelangan, pencegahan, dan penyanderaan jika wajib pajak tidak mau
melunasi utang pajaknya sebagaimana mestinya. Terakhir apabila dilakukan
penyitaan dan pelelangan barang milik wajib pajak yang disita, pemerintah
kabupaten atau kota diberi hak mendahulu untuk tagihan pajak atau barang8

barang milik wajib pajak atau penganggung pajak. Ketentuan hak mendahulu
meliputi pokok pajak, sanksi administrasi berupa kenaikan, bunga, denda, dan
biaya penagihan pajak.
Adanya ketentuan tentang hak mendahulu ini untuk memberikan jaminan
kepada daerah pelunasan utang pajak daerah bila pada saat yang bersamaan
wajib pajak memiliki utang pajak dan juga utang atau kewajiban perdata
kepada kreditur lainnya, sementara wajib pajak tidak mampu melunasi
utangnya sehingga dikatakan pailit. Selain itu, dalam kondisi tertentu
gubernur akan melakukan penagihan pajak tanpa menunggu batas waktu
pembayaran PKB yang ditetapkan gubernur berakhir. Hal ini dikenal sebagai
penagihan pajak seketika dan sekaligus.
2.2.3 Sanksi terhadap pelanggaran Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
Sanksi yang dikenakan dalam pelanggaran Bea Balik Nama Kendaraan
Bermotor

adalah

sanksi

administrasi,

dimana

jika

keterlambatan

melaksanakan pendaftaran melebihi waktu yang ditetapkan / tanggal jatuh


tempo, dikenakan denda berupa kenaikan sebesar 25% dari Pokok Pajak
ditambah Sanksi Administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan, dihitung
dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling
lama 24 bulan dihitung saat terhutangnya pajak.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adapun kesinpulan yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut :
3.1.1

Tarif PKB berlaku sama pada setiap Provinsi yang memungut PKB. Tarif
PKB ditetapkan dengan peraturan daerah provinsi. Sesuai peraturan
pemerintah No. 65 tahun 2001 Pasal 5, sedangkan Tarif BBNKB ditentukan

berdasarkan tingkat penyerahan objek pajak yang terjadi dan jenis


kendaraan bermotor yang diserahkan;
3.1.2

Sanksi yang diberikan terhadap pelanggaran Pajak Kendaraan Bermotor


adalah berupa denda yang dikenakan karena keterlambatan pembayaran
pajak yaitu denda atas Pajak Kendaraan Bermotor dan denda atas
SWDKLLJ, sedangkan sanksi yang dikenakan dalam pelanggaran Bea Balik
Nama Kendaraan Bermotor adalah sanksi administrasi, dimana jika
keterlambatan melaksanakan pendaftaran melebihi waktu yang ditetapkan /
tanggal jatuh tempo, akan dikenakan denda.

3.2 Saran
3.2.1

Penyuluhan kepada masyarakat mengenai tarif PKB dan BBNKB berdasarkan


tingkat penyerahan objek pajak yang terjadi dan jenis kendaraan bermotor yang
diserahkan.

3.2.2

Sebagai Warga Negara Indonesia yang baik seharusnya kita patuh terhadap
peraturan yang diberlakukan oleh Pemerintah, maka dari itu seharusnya kita
melakukan kewajiban kita untuk membayar pajak, terutama Pajak Kendaraan
Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor.

10

DAFTAR PUSTAKA
Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah
Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perubahan Kedua Atas
Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 2 Tahun 1998 Tentang Pajak
Kendaraan Bermotor
Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Perubahan Kedua Atas
Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 3 Tahun 1998 Tentang Bea
Balik Nama Kendaraan Bermotor
http://ondyx.blogspot.com/2014/02/pengertian-pajak-kendaraan-bermotor-pkb.html
http://130903101010.blogspot.com/2014/05/bea-balik-nama-kendaraan-bermotor.html
http://ramadhanningsih.blogspot.com/2014/10/hukum-pajak-pkb-bbn-kb.html

Anda mungkin juga menyukai