Anda di halaman 1dari 23

KASUS PANJANG

HORDEOLUM INTERNA

Norman Ardiansyah

105070100111024

Amanda Lupita Adi

105070104121003

Adelia Putri Wirandani

115070100111043

Pembimbing :
dr. Retnaniadi Supriadi, Sp.M

LABORATORIUM ILMU KESEHATAN MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
RUMAH SAKIT UMUM Dr. SAIFUL ANWAR
MALANG
2015

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Pendahuluan
Kesehatan indera penglihatan merupakan hal yang penting untuk

meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam meningkatkan kualitas hidup


masyarakat, dalam rangka mewujudkan manusia yang produktif, mandiri dan
sejahtera.
Salah satu bagian dari mata yang tidak boleh dilupakan adalah kelopak
mata atau palpebra. Kelopak mata berperan penting dalam memberikan proteksi
fisik untuk mata. Selain itu, kelopak mata juga berperan dalam mempertahankan
film air mata serta drainase atau pembuangan air mata. Kasus pada kelopak
mata yang banyak ditemukan di masyarakat salah satunya adalah hordeolum.
Pada penelitian mengenai hordeolum yang dilakukan pada tahun 1988 di
poliklinik Mata RSUP Dr Kariadi Semarang, didapatkan frekuensi penderita
hordeolum sebesar 1,6% dengan usia terbanyak pada golongan dewasa muda
sebanyak 56,25% dari penderita yang mengalami sakit berulang.
Hordeolum adalah infeksi yang meradang, purulen dan terlokalisir pada
satu atau lebih kelenjar sebasea (meibomian atau zeisian) kelopak mata. Bakteri
Staphylococcus aureus yang terdapat di kulit 90-95% ditemukan sebagai
penyebab hordeolum. Kuman lain yang dapat menyebabkan hordeolum antara
lain Staphylococcus epidermidis, Streptococcus dan Eschericia coli. Gejala
hordeolum biasanya berawal dari kemerahan, nyeri bila ditekan dan nyeri pada
tepi kelopak mata. Gejala lainnya, mata mungkin berair, peka terhadap cahaya
terang dan penderita merasa ada sesuatu di dalam matanya. Biasanya hanya
sebagian kecil di daerah kelopak yang membengkak, meskipun ada yang seluruh
kelopaknya membengkak. Di tengah daerah yang membengkak sering kali
2

terlihat bintik kecil yang berwarna kekuningan, selain itu bisa terbentuk abses
yang cenderung pecah dan mengeluarkan sejumlah pus atau nanah.
Penanganan hordeolum dapat dengan pemberian kompres hangat saja
dan dapat sembuh sendiri dalam 1-2 minggu. Dalam beberapa kasus yang lebih
serius dapat diberikan pemberian antibiotika atau jika sudah terdapat pus dapat
dilakukan tindakan insisi atau pembedahan untuk mengeluarkan pus. Pemberian
antibiotika pada penatalaksanaan hordeolum yaitu antibiotika topikal untuk
bakteri gram positif. Jika penderita mengalami tanda dan gejala bakteremia atau
pada kasus yang lebih parah juga diperlukan antibiotika sistemik. Penyulit
hordeolum yang sering terjadi adalah selulitis palpebra, yang merupakan radang
jaringan ikat jarang palpebra di depan septum orbita dan abses palpebra.
Dengan banyaknya kasus hordeolum, selayaknya dokter umum sebagai
ujung tombak pelayanan dapat membantu untuk meningkatkan kualitas hidup
pasien secara holistik. Maka dari itu, penulis menyusun laporan kasus yang
berjudul Hordeolum, agar dapat mempelajari lebih lanjut mengenai hordeolum.

1.2

Rumusan Masalah
- Apakah penyakit hordeolum itu?
- Bagaimana penegakan diagnosis hordeolum?
- Bagaimana penatalaksaan hordeolum?

1.3

Tujuan
- Mengetahui hordeolum mencakup definisi, epidemiologi, etiologi, dan
klasifikasi.
- Mengetahui cara penegakan diagnosis hordeolum.
- Mengetahui penatalaksaan hordeolum.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Palpebra

Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat
menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Berkedip melindungi kornea
dan konjungtiva dari dehidrasi. Palpebra superior berakhir pada alis mata;
palpebra inferior menyatu dengan pipi.1
Palpebra terdiri atas lima bidang jaingan utama. Dari superfisial ke dalam
terdapat lapis kulit, lapis otot rangka (orbikularis okuli), jaringan areolar, jaringan
fibrosa (tarsus) dan lapis membran mukosa (konjungtiva palpebra).
1. Kulit
Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena tipis,
longgar dan elastis dengan sedikit folikel rambut tanoa lemak
subkutan.
2. Muskulus orbikularis okuli
Fungsi otot ini adalah untuk menutup palpebra, serat ototnya
mengelilingi fissura palpebra secara konsentris dan meluas sedikit
melewati tepian orbita. Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi.
Bagian otot yang terdapat di dalam palpebra dikenal sebagai bagian
pratarsal; bagian diatas septum orbita adalah bagian praseptal.
Segmen luar palpebra disebut bagian orbita. Orbikularis okuli
dipersarafi oleh nervus facialis.
3. Jaringan Areolar
Terdapat di bawah muskulus orbikularis okuli, berhubungan dengan
lapis subaponeurotik dari kulit kepala.
4. Tarsus
Struktur penyokong utama dari palpebra adalah lapis jaringan fibrosa
pat yang disebut tarsus superior dan inferior. Tarsus terdiri atas
jaringan penyokong kelopak mata dengan kelenjar meibom (40 buah
di kelopak atas dan 20 buah di kelopak bawah).
4

5. Konjungtiva Palpebra
Bagian

postreior

palpebra

dilapisi

selapis

membran

mukosa,

konjungtiva palpebra, yang melekat erat pada tarsus.2


Tepian palpebra dipisahkan oleh garis kelabu (batas mukokutan) menjadi
tepian anterior dan posterior. Tepian anterior terdiri dari bulu mata, glandula
zeiss dan moll. Glandula zeiss adalah modifikasi kelenjar sebasea kecil yang
bermuara dalam folikel rambut pada dasar bulu mata. Glandula moll adalah
modifikasi kelenjar keringat yang bermuara ke dalam satu baris dekat bulu
mata. Tepian posterior berkontak dengan bola mata dan sepanjang tepian ini
terdapat muara-muara kecil dari kelenjar sebasea yang telah termodifikasi
(glandula meibom atau tarsal).1,2
Punktum lakrimalis terletak pada ujung medial dari tepian posterior
palpebra. Punktum ini berfungsi menghantarkan air mata ke bawah melalui
kanalikulus terkait ke sakus lakrimalis.1,2
Fissura palpebra adalah ruang elips di antara kedua palpebra yang
dibuka. Fissura ini berakhir di kanthus medialis dan lateralis. Kanthus lateralis
kira-kira 0,5 cm dari tepian lateral orbita dan membentuk sudut tajam.1
Septum orbita adalah fasia di belakang bagian muskularis orbikularis
yang terletak di antara tepian orbita dan tarsus dan berfungsi sebagai sawar
antara palpebra orbita. Septum orbita superior menyatu dengan tendon dari
levator palpebra superior dan tarsus superior; septum orbita inferior menyatu
dengan tarsus inferior.1
Retraktor palpebra berfungsi membuka palpebra. Di palpebra superior,
bagian otot rangka adalah levator palpebra superior, yang berasal dari apeks
orbita dan berjalan ke depan dan bercabang menjadi sebuah aponeurosis dan
bagian yang lebih dalam yang mengandung serat-serat otot polos dari
muskulus rektus muller (tarsalis superior). Di palpebra inferior, retraktor utama
5

adalah muskulus rektus inferior, yang menjulurkan jaringan fibrosa untuk


membungkus muskulus obliqus inferior dan berinsersi ke dalam batas bawah
tarsus inferior dan orbikularis okuli. Otot polos dari retraktor palpebra disarafi
oleh nervus simpatis. Levator dan muskulus rektus inferior dipasok oleh nervus
okulomotor.2
Pembuluh darah yang menyuplai palpebra adalah a. palpebra. Persarafan
sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal nervus V, sedang
kelopak mata bawah oleh cabang kedua nervus V.

Gambar 2.1 Tampilan Mata dari Arah Anterior

Gambar 2.2 Bagian dari Kelopak Mata 3

2.2

Definisi Hordeolum
Hordeolum merupakan infeksi atau peradangan pada kelenjar di tepi

kelopak mata bagian atas maupun bawah yang disebabkan oleh bakteri.
Hordeolum dapat timbul pada satu kelenjar kelopak mata atau lebih. Kelenjar

kelopak mata tersebut meliputi kelenjar meibom, kelenjar zeiss dan kelenjar
moll.1
Berdasarkan tempatnya, hordeolum terbagi menjadi 2 jenis, yaitu;
hordeolum interna terjadi peradangan pada kelenjar meibom. Pada hordeolum
interna ini benjolan mengarah ke konjungtiva. Hordeolum eksterna terjadi
peradangan pada kelenjar zeiss dan kelenjar moll. Benjolan ini nampak dari luar
pada kulit kelopak mata.1,2

Gambar 2.3 Hordeolum Interna (kiri) dan Hordeolum Eksterna (kanan)

2.3

Epidemiologi
Data epidemiologi Internasional terbaru menyebutkan bahwa hordeolum

merupakan jenis penyakit infeksi kelopak mata yang paling sering ditemukan.
Insidensi tidak bergantungan dengan ras dan jenis kelamin. Dapat mengenai
semua usia, tapi lebih sering menyerang pada dewasa muda.5

2.4

Etiologi
Hordeolum

merupakan

infeksi

yang

disebabkan

oleh

bakteri

Staphylococcus dan Streptococcus pada kelenjar sebasea kelopak mata.


Staphylococcus aureus merupakan agen infeksi pada 90-95% kasus hordeolum.4
2.5

Klasifikasi

Berdasarkan tempatnya, hordeolum terbagi menjadi 2 jenis (Ehrenhaus, 2012):


1.

Hordeolum interna, infeksi kelenjar meibom yang sering disebabkan oleh

stafilokokus. Blokade kelenjar meibom memicu infeksi stafilokokus. Lesi yang


terbentuk berupa benjolan berinti putih yang mengarah ke konjungtiva (selaput
kelopak mata bagian dalam) (Jimmy and Siret, 2008).

Gambar 2.4 Hordeolum Interna (Yanoff and Duker, 2004)

2.

Hordeolum eksterna, lokal inflamasi akut dengan pembentukan abses dan

sering disebabkan oleh S.aureus pada kelenjar zeis dan kelenjar moll.
Hordeolum eksterna berhubungan dengan stafilokokus blefaritis dan berpeluang
untuk terjadi rekurensi (Jimmy and Siret, 2008).

Gambar 2.5 Hordeolum Eksterna (Langerman et al 2010)

2.6

Patofisologi
Hordeolum eksterna timbul dari blockade dan infeksi dari kelenjar zeiss dan

moll sedangkan hordeolum interna timbul dari infeksi pada kelenjar meibom yang
terletak di dalam tarsus. Obstruksi dari kelenjar-kelenjar ini memberikan reaksi
pada tarsus dan jaringan di sekitarnya. Patogenesis hordeolum eksterna diawali
dengan pembentukan pus dalam lumen kelenjar oleh infeksi stafilokokus aureus
(90 95 % kasus), .Infeksi tersebut dapat mengenai kelenjar Meibom
(hordeolum interna), maupun kelenjar Zeis dan Moll (hordeolum eksterna).
Proses tersebut diawali dengan pengecilan lumen dan statis hasil sekresi
kelenjar. Statis ini akan mencetuskan infeksi sekunder oleh Staphylococcus
aureus sehingga terjadi pembentukan pus dalam lumen kelenjar. Secara
histologis

akan

tampak

gambaran

abses,

polimorfonuklear (PMN) dan debris nekrotik.

dengan

ditemukannya

sel

Nyeri, hiperemis, dan edema

palpebral adalah gejala khas pada hordeolum. Intensitas nyeri mencerminkan


beratnya edema palpebra. Apabila pasien menunduk, rasa sakit bertambah.

Pada pemeriksaan terlihat suatu benjolan setempat, warna kemerahan,


mengkilat dan nyeri tekan, dapat disertai bintik kuning atau putih yang
merupakan akumulasi pus pada folikel silia (Sundaram et al., 2008; Khurana,
2007; Ehrenhaus, 2012)
Terjadinya pembentukan pus dalam lumen kelenjar, secara histologi akan tampak
sebagai abses dan ditemukannya sel debris nekrotik. Hordeolum interna terjadi
akibat lesi sekunder kelenjar meibom di lempeng tarsal (Vaughan & Asbury,
2010).

2.7

Manifestasi Klinis

2.7.1 Gejala Klinis


Tanda-tanda hordeolum sangat mudah dikenali, yaitu tampak adanya
benjolan pada kelopak mata bagian atas atau bawah, berwarna kemerahan dan
nyeri. Hordeolum eksterna adalah infeksi pada kelenjar Zeis dan kelenjar Moll.
Benjolan nampak dari luar pada kulit kelopak mata bagian luar (palpebra).
Hordeolum interna adalah infeksi yang terjadi pada kelenjar Meibom. Pada
hordeolum interna ini benjolan mengarah ke konjungtiva (selaput kelopak mata
bagian dalam). Benjolan akan nampak lebih jelas dengan membuka kelopak
mata. Hordeolum internum biasanya berukuran lebih besar dibanding hordeolum
eksternum (Ming, 2012; Schlote et al., 2006)

2.7.2 Tanda klinis


Pada stadium selulitis (infiltratif) ditandai dengan adanya benjolan keras,
kemerahan, lokal, nyeri, edema, umumnya pada margo palpebral.
Pada stadium abses (supuratif) ditandai dengan adanya pus yang dapat terlihat
berupa bintik kuning atau putih pada kelopak mata pada silia yang terifeksi.

10

Umumnya pembentukan hordeolum tunggal, namun bisa lebih dari satu/multipel


(hordeola) (Khurana, 2007).
Pseudoptosis atau ptosis dapat terjadi akibat bertambah beratnya kelopak mata
sehingga sukar diangkat. Pada pasien dengan hordeolum, kelenjar preaurikel
kadang ditemukan ikut membesar. Keluhan lain yang umumnya dirasakan oleh
penderita hordeolum diantaranya rasa mengganjal pada kelopak mata, nyeri
tekan dan intensitas nyeri bertambah bila pasien menunduk. Hordeolum dapat
membentuk abses di kelopak mata dan pecah dengan mengeluarkan pus
(Ehrenhaus, 2012; Ming, 2012; Schlote et al., 2006).

2.8

Diagnosis Banding

2.8.1 Kalazion
Keluhan benjolan dan nyeri pada palpebra pada hordeolum mirip dengan
kalazion.

Hal

yang

membedakan

adalah

kalazion

merupakan

radang

granulomatosa kronis yang steril dan idiopatik pada kelenjar meibom; umumnya
ditandadai dengan ditandai oleh pembengkakan setempat yang tidak terasa sakit
dan berkembang dalam beberapa minggu. Awalnya dapat berupa radang ringan
disertai nyeri tekan mirip hordeolum. Dibedakan dengan hordeolum karena tidak
ada tanda-tanda radang akut. Kebanyakan kalazion mengarah ke permukaan
konjungtiva, yang mungkin sedikit merah dan meninggi (Wessels, 2009).

11

Gambar 2.6 Chalazion (Kanski, 2011)

Keterangan : Infeksi kronis pada Kelenjar Meibom Umumnya ditandai Oleh


pembengkakan Setempat Tanpa Rasa Sakit.

Tabel 2.1 Perbedaan Hordeolum dengan Chalazion. (Langerman et al, 2010)


Hordeolum

Chalazion

Visus

Tidak dipengaruhi

Tidak dipengaruhi

Discharge

Tidak ada

Tidak ada

Lokasi

Folikel atau Kelenjar pada


daerah tarsal

Kelenjar ada daerah tarsal

Etiologi

Steril atau inflamasi purulen

Obstruksi

Nyeri

Nyeri

Tidak nyeri

Rencana Terapi

Kompres hangat, antibiotic

Kompres hangat, insisi atau


drainase

2.8.2 Blefaritis Anterior


Blefaritis anterior adalah radang bilateral kronik yang umumnya terjadi di
tepi palpebra. Ada dua jenis; stafilokok dan seboroik. Blefaritis stafilokok dapat
disebabkan oleh infeksi stafilokokus aureus yang sering ulcerative atau
stafilokokus epidermidis. Gejala utamanya adalah iritasi, rasa terbakar, dan gatal
pada tepi palpebra. Mata yang terkena bertepi merah, banyak sisik atau
granulasi terlihat menggantung pada bulu mata palpebra superior maupun

12

inferior. Blefaritis stafilokok dapat disertai komplikasi hordeolum atau kalazion.


Kedua bentuk blefaritis merupakan predisposisi terjadinya konjungtivitis berulang
(Vaughan & Asbury, 2010).

Gambar 2.7 Blepharitis Anterior (Kanski, 2011)

Keterangan : Tampak Reaksi Keradangan Sepanjang Tepi Palpebra Diikuti dengan Sekret
atau Krusta pada Bulu Mata.

2.8.3 Karsinoma Kelenjar Sebasea


Adeno karsinoma sebasea (AKS) adalah tumor yang berasal dari kelenjar
sebasea yang bersifat ganas. Karsinoma tersebut biasanya berasal dari kelenjar
meibom yang terletak pada tarsal plate, namun dapat juga berasal dari kelenjar
Zeis dekat bulu mata atau kelenjar sebasea pada karunkula, alis ataupun kulit
wajah. Diagnosis klinis adenoma karsinoma sebasea palpebra sulit ditegakkan
karena pada stadium dini dapat menyerupai lesi jinak. Penderita biasanya
mengeluh timbul benjolan pada palpebra dimana pada pemeriksaan benjolan
tersebut dapat menyerupai kalazion, bleparitis kronis, karsinoma sel basal atau
sel skuamosa, sikatriks pemfigoid okular, keratokonjungtivitis. Kesalahan
pengambilan spesimen histologis dan kesalahan interpretasi hasil pemeriksaan
sering ditemukan karena karsinoma tersebut dapat bersifat difus (Yuliawati,
2010).

13

Gambar 2.8 Adeno Karsinoma Sebasea (Kanski, 2011)

Keterangan : Tampak keganasan pada palpebra inferior berupa benjolan dengan ulkus

2.9

Penatalaksanaan
Pada umumnya hordeolum dapat sembuh sendiri (self limited) dalam 1-2

minggu, namun tidak jarang membutuhkan terapi khusus topical maupun


kombinasi dengan oral. Dapat dengan kompres air hangat 3-4 kali per hari
selama 10-15 menit akan sangat membantu. Terapi lini pertama yang diberikan
ialah dengan kompres hangat. Kompres hangat dapat membantu meningkatkan
tear-film lipid layer thickness (TFLT) dan sebagai terapi pada disfungsi kelenjar
meibom. Pada kondisi normal, titik leleh kelenjar meibom berada pada suhu 32 40oC, jika terdapat infeksi maka titik leleh meningkat sehingga terjadi stagnansi
kelenjar. Kompres hangat ditujukan untuk membantu peningkatan suhu
ini.Peningkatan aliran lipid pada meibom membantu untuk mengurangi evaporasi
okuler (Olson et al., 2011).

14

Apabila bintik pus sudah terbentuk dapat dilakukan evakuasi dengan


epilasi pada silia yang berkaitan. Insisi pembedahan jarang dilakukan kecuali
pada abses yang besar. Antibiotik tetes (3-4 kali sehari) dan salep antibiotik
(saat akan tidur) sebaiknya diberikan setiap tiga jam untuk mengontrol terjadinya
infeksi. Obat anti inflamasi dan analgetik dapat diberikan untuk mengurangi nyeri
dan edema.Pada kasus tertentu yang jarang terjadi, hordeolum dapat
menyebabkan timbulnya selulitis preseptal sekunder sehingga dibutuhkan
pemberian antibiotik sistemik.Antibiotik sistemik dapat digunakan pula untuk
kontrol segera infeksi. Pada hordeolum rekuren, perlu dicari dan diterapi kondisi
predisposisi yang berkaitan. Jika tidak ada perbaikan kondisi dalam 48 jam, insisi
dan drainase bahan purulent dapat diindikasikan (Vaughan & Ashbury, 2010;
Sundaram, 2008; Sullivan et al., 2004; Kanski, 2011).
Pada tindakan pembedahan berupa insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan
anestesia topikal dengan pantokain tetes mata. Dilakukan anestesi infiltrasi
dengan prokain atau lidokain di daerah hordeolum dan dilakukan insisi bila :
-

Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra.

Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus

pada margo palpebra.


Setelah dilakukan insisi dilakukan ekskohleasi atau kuretase seluruh isi jaringan
meradang di dalam kantongnya dan kemudian diberi salep antibiotic (Vaughan &
Asbury, 2010; Manfredi, 2011).

2.10 Komplikasi
2.10.1

Jika tidak ditangani dengan baik, hordeolum dapat menjadi infeksi

yang menyebar pada jaringan periorbita, seperti selulitis.


2.10.2

Gangguan visual jika terdapat defek penekanan pada kornea.

15

2.10.3

Dapat terjadi hordeolum rekuren apabila kurang menjaga

higienitas.
2.10.4

Deformitas

palpebra

atau

adanya

fistula

pada

palpebra

merupakan komplikasi pada tindakan drainase atau kuretase (Nessette,


2012).

2.11 Prognosis
Hordeolum biasanya sembuh spontan dalam waktu 1-2 minggu. Resolusi
lebih cepat dengan penggunaan kompres hangat dan ditutup yang bersih.
Hordeolum termasuk gangguan kelopak mata yang jinak, namun umumnya
sering rekuren. Apabila ditangani dengan cepat dan dapat menghindarkan
komplikasi, maka prognosisnya akan baik. (Lang, 2006; Sullivan et al., 2004).
Penekanan terhadap aksis penglihatan mungkin terjadi jika lesi semakin
tidak tertangani dan membesar. Terapi insisi dilakukan jika terapi lini pertama
dengan kompres hangat dan terapi lini kedua dengan medikamentosa tidak
menunjukan perbaikan. Scar bekas insisi kuretase menjadi focus perhatian akhirakhir ini sehingga pertimbangan kosmetik diperlukan. Terapi pembedahan tidak
menurunkan angka rekurensi sehingga masih didapatkan peluang munculnya
rekurensi. Follow up pasien diperlukan untuk evaluasi terhadap keluhan maupun
penyembuhan lesi (Hirunwiwatkul and Wachiasereechai, 2005).

16

BAB 3
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas
Nama
Jenis kelamin
Usia
Alamat
Pekerjaan
Agama/Suku
No. Register
Tgl. Pemeriksaan

: Ny. LM
: Perempuan
: 48 tahun
: Tlogo II/1 Kedoro, Blitar
: Ibu Rumah Tangga
: Islam/Jawa
: 11049xxx
: 27 Agustus 2015

3.2 Anamnesa
3.2.1 Keluhan Utama : Benjolan pada kantong mata
17

3.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang


Muncul benjolan di kantong mata kiri sejak 2 bulan lalu. Awalnya 1 buah
kemudian tumbuh 1 buah lagi ditempat yang berdekatan. Masing-masing
benjolan berukuran 1x1mm dan tidak bertambah besar. Benjolan merah, terasa
gatal hilang timbul dan nyeri. Keluar banyak kotoran dari mata sejak 3 bulan lalu,
nrocoh dan terasa silau saat sore hari.
3.2.3 Riwayat Terapi
Pasien pernah memberikan insto yang dibelinya sendiri dan digunakan 1x
setiap hari namun keluhan tidak membaik. Selain itu dari poli mata di Blitar,
pasien mendapat obat pil 3x1 dan obat tetes mata 1x1. Setelah penggunaan 3
hari pasien menghentikan pengobatan karena tidak ada perbaikan.
3.2.4 Riwayat Penyakit Terdahulu
Pernah muncul benjolan yang sama tahun lalu, namun hilang dengan
sendirinya. Saat ini hasil pemeriksaan Hepatitis B yang diderita pasien
sebelumnya telah negatif. Pasien memiliki hipertensi dan dalam pengobatan.
Pasien menyangkal memiliki kencing manis.
3.2.5 Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ditemukan riwayat sakit serupa di keluarga.
3.2.6 Riwayat Kacamata
Pasien menggunakan kacamata progresif sejak 5 bulan lalu.

3.3 Pemeriksaan Fisik (27 Agustus 2015)

18

OD

OS

5/7,5

Visus

Orthophoria

Kedudukan Bola

5/6,6
Orthophoria

Mata
Gerak Bola Mata

Massa padat kenyal kistik

x 2 mm pada palpebra
superior, mobile (+), hiperemia
(-)

Palpebra

Massa multiple batas


tidak tegas 3 buah pada
palpebra inferor , infiltrat
(+), hiperemia (+)

19

bintik supuratif (-)


skuama (+)
CI (-), PCI (-)
Jernih

Konjunctiva
Kornea

1 x 1 mm

Bintik supuratif (+)


Skuama (+)
CI (-), PCI (-)
Jernih

Dalam
Radline
Round, pupil reflex (+), 3

COA
Iris
Pupil

Dalam
Radline
Round, pupil reflex (+),

mm
Jernih
Normal per palpasi

Lensa
TIO

3 mm
Jernih
Normal per palpasi

3.4 Diagnosis Kerja


- OD Chalazion
OS Hordeolum interna multiple fase supuratif
ODS Blepharitis anterior dd posterior
3.5 Rencana Terapi
- Pro ODS insisi dan kuretase Hordeolum + chalazion (SP (+)) insisi dan
-

kuretase OS dahulu
Cendoxytrol ed 4x1 ODS
Natrium diclofenac 2x50mg (bila nyeri)
Kompres hangat
KIE cuci silia dan higienitas cuci dengan shampo bayi

3.6 Rencana Monitoring


- Kontrol setelah 3 hari
- Keluhan subyektif
Evaluasi bintik supuratif
Respon dan efek samping terapi

3.7
-

Rencana Edukasi
Penjelasan mengenai penyakit yang diderita dan planning terapi
Penjelaskan bahwa penyakit ini dapat terjadi serangan berulang kapan

saja (recurrent).
Edukasi untuk menjaga higienitas (minimal cuci tangan sebelum

menyentuh mata).
Edukasi bahwa terapi pembedahan akan dilakukan dengan indikasi insisi
dan kuratase.

20

Komplikasi yang mungkin timbul adalah infeksi yang lebih luas dan
kemungkinan untuk terjadi penekanan \\\\\pada aksis penglihatan terutama

kornea.
Kontrol rutin diperlukan untuk mengevaluasi penyembuhan lesi dan
keluhan.

3.8

Prognosis
- Visam

: bonam

- Sanam

: bonam

- Vitam

: bonam

- Kosmetik

:bonam

- Fungtionam : bonam

3.9 Follow Up (3 September 2015)


Subjektif : nyeri (-), bengkak (-), benjolan pada mata kiri mengecil, mata
berair (+), gatal (-), kemerahan (-), penurunan tajam penglihatan (-)
Objektif :
Gambar 3.5 Foto Pasien Setelah Mendapat Pengobatan selama Satu Minggu.
Menunjukan adanya perbaikan dengan Hilangnya Tanda-Tanda Radang dan Benjolan

OD

OS

5/6,6
Massa padat kenyal kistik
x 2 mm pada palpebra

Visus
Palpebra

5/6,6
Spasme (-), edema (-), skuama
(+)

superior, mobile (+),


hiperemia (-)
bintik supuratif (-)

21

skuama (+)
edema (-), spasme (-)
CI (-), PCI (-)
Jernih

Konjunctiva
Kornea

CI (-), PCI (-)


Jernih

Dalam
Radline (+)
Round, pupil reflex (+), 3

CoA
Iris
Pupil

Dalam
Radline (+)
Round, pupil reflex (+), 3 mm

mm
Jernih
Normal per palpasi

Lensa
TIO

Jernih
Normal per palpasi

3.10 Diagnosis
- OD Chalazion
OS Post insisi dan kuretase hordeolum interna
ODS Blepharitis anterior dd posterior
3.11 Terapi
- Cendoxytrol ed 4x1 ODS
- Kompres hangat
- KIE cuci silia dan higienitas cuci dengan shampo bayi
3.12 Rencana Monitoring
- Kontrol setelah 1 minggu
- Keluhan subyektif

3.13

Edukasi
Dilakukan edukasi pada pasien untuk selalu menjaga kebersihan
terutama dengan mencuci tangan sebelum menyentuh mata dan rajin
membersihkan bulu mata dengan shampoo bayi 3x sehari.
Menjelaskan bahwa dapat terjadi serangan berulang kapan saja
(recurrent). Jika didapatkan tanda-tanda nyeri akut meminta pasien untuk
melakukan kompres hangat terlebih dahulu jika kondisi tidak membaik
sarankan untuk segera ke dokter mata terutama jika terdapat gangguan
pada fungsi penglihatan.

3.14

Prognosis

Visam

: bonam

Sanam

: bonam

22

Vitam

: bonam

Kosmetik

Fungtionam : bonam

: bonam

BAB IV
PEMBAHASAN

Hordeolum merupakan penyakit yang self limited namun rekuren.


Hordeolum lebih sering terjadi pada anak kecil dan dewasa muda, meskipun
tidak ada batasan umur. Insiden tidak bergantung pada ras dan jenis kelamin.
Pasien mempunyai kebiasaan mengucek mata atau menyentuh kelopak mata
dan hidung (Kurana,2007; Parima e al.,2012).

23

Anda mungkin juga menyukai