P. 1
Tugas Akhir Semester Bahasa Indonesia Rangkuman dan Ringkasan 3 buku Fiksi dan 3 buku non fiksi

Tugas Akhir Semester Bahasa Indonesia Rangkuman dan Ringkasan 3 buku Fiksi dan 3 buku non fiksi

|Views: 900|Likes:
Dipublikasikan oleh Daffa Gifary

More info:

Published by: Daffa Gifary on May 17, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/23/2012

pdf

text

original

Daffa Gifary M.

P X-4 Fiksi
“Misteri Rara Jonggrang” Pengarang : S.Z. Hadisutjipto Penerbit : Balai Pustaka Tahun Terbit : 2000 Rangkuman Dahuku kala ada seorang Raja yang bernama Raja Boko dan mempunyai putri yang sangat cantik, Rara Jonggrang. Suatu hari Rara Jonggrang dilamar oleh seorang pemuda yang bernama Bandung Bondowoso. Rara Jonggrang pun menolaknya karena ia tidak mencintai Bandung. Bandung terus memaksa dan membujuk hingga akhirnya Rara Jonggrang pun setuju, asalkan permintaannya dikabulkan oleh Bandung. Permintaannya ialah ia minta didirikan 1.000 candi dalam waktu satu hari satu malam. Bandung Bondowoso setuju, lalu ia mulai membangun, tetapi setelah malam hari ia meminta bantuan makhluk halus agar pembangunan bisa lebih cepat selesai. Rara Jonggrang khawatir dan ia menyuruh dayang-dayangnya supaya membunyikan suarasuara berisik dan membangunkan hewan-hewan peliharaan supaya para makhluk halus takut. Ternyata benar, para makhluk halus mengira hari telah pagi dan mereka bersembunyi lagi. Bandung Bondowoso melihat bahwa jumlah candi hanya 999 dan ia tahu bahwa ia telah dikelabui oleh Rara Jongrang yang berbuat curang. Maka iapun murka dan menyihir Rara Jongrang menjadi patung batu yang menghias candi terakhir.

”Abu Nawas : Abu Nawas Membeli Baju” Pengarang : N. St. Iskandar Penerbit : Balai Pustaka Tahun Terbit : 2000 Rangkuman Suatu hari Abu Nawas sedang susah. Satu - satunya baju yg dimiliki Abu Nawas robek besar karena tersangkut kayu pintu rumahnya sendiri. Untuk memperbaiki baju itu, Abu Nawas malas karena robeknya lumayan besar. Lagipula baju itu sudah sangat jelek, banyak tambalan kecil di sana-sini. Sedangkan untuk beli baju baru, Abu Nawas tidak punya uang. Tapi Abu Nawas seperti biasa tidak pernah kehilangan akal. Sorenya, Abu Nawas pergi ke toko pakaian. Dipilihnya salah satu baju yg agak bagus dan mahal. Tapi dia memilih warna kuning yg tidak disukainya serta motif kotak2 yg norak. Dibawanya baju itu ke sang penjual. “Baju ini bagus bahannya tapi aku tidak suka warna dan motifnya, bisakah kau carikan aku alternatif lain?”. Walaupun agak pesimis melihat tampilan Abu Nawas, si penjual tetap dgn ramah menawarkan baju lain yg lebih murah berwarna putih polos, “Bagaimana kalo yg ini, Tuan? Harganya lebih murah daripada yg itu, tapi warnanya bagus dan cocok untuk Tuan.”. Abu Nawas mengambil baju tsb dan pura-pura menimbang-nimbang. “Hmmm… boleh juga. Baiklah, kalo begitu aku tukar saja baju ini“, sambil meletakkan baju yg tidak disukainya, “apa boleh?”. Karena si penjual tidak yakin Abu Nawas akan mampu membayar baju yg mahal itu, tentu saja si penjual dgn senang hati mengizinkan. “Tentu boleh, Tuan. Pembeli adalah raja!” ujar si penjual sambil tersenyum lebar. “Terima kasih, tolong dibungkuskan ya“, kata Abu Nawas tanpa menawar lagi. Si penjual pun dgn sigap membungkus baju tsb dan menyerahkannya pada Abu Nawas. “Harganya hanya dua puluh ribu rupiah saja, Tuan“, si penjual meminta uang pembayaran pada Abu Nawas. “Loh, kenapa aku harus membayar baju ini?“, Abu Nawas pura-pura protes. “Tuan kan sepakat beli baju ini, ya harus bayar dong“, jawab si penjual, agak bingung. “Gini ya… tadi aku kan mau beli baju kuning itu, tapi aku gak suka warnanya dan kau mengijinkan aku untuk menukarnya dengan baju putih ini“, Abu Nawas beralasan. “Iya… berarti Tuan harus bayar baju putih ini.“ “Lah… baju putih ini kan sudah aku tukarkan dgn baju yg kuning tadi, kenapa harus bayar lagi?“, kata Abu Nawas. “Iya… tapi… baju yg kuning tadi juga belum Tuan bayar“, si penjual jadi agak bingung. “Loh… kenapa aku harus bayar baju kuning itu? Kan aku tidak jadi beli itu. Kenapa aku harus bayar barang yg tidak jadi aku beli?“, kata Abu Nawas dengan penuh keyakinan. “O iya betul juga baiklah maafkan atas kekeliruan saya Tuan. Terima kasih sudah datang ke sini.“, kata si penjual. Si penjual pun kebingungan. Dengan santai dan senyum, Abu Nawas meninggalkan toko pakaian dan penjualnya sambil membawa bungkusan baju putih di tangan yg diperolehnya secara gratis.

”Abu Nawas : Abu Nawas dan Kambing” Pengarang : N. St. Iskandar Penerbit : Balai Pustaka Tahun Terbit : 2000 Rangkuman Di negeri Persia hiduplah seorang lelaki yang bernama Abdul Hamid Al-Kharizmi, lelaki ini adalah seorang saudagar yang kaya raya di daerahnya, tetapi sayang usia perkawinannya yang sudah mencapai lima tahun tidak juga dikaruniai seorang anak. Pada suatu hari, setelah shalat Ashar di Mesjid ia bernazar, “ya Allah swt. jika engkau mengaruniai aku seorang anak maka akan kusembelih seekor kambing yang memiliki tanduk sebesar jengkal manusia”. Setelah ia pulang dari mesjid, istrinya yang bernama Nazariah berteriak dari jendela rumahnya: “Hai, suamiku tercinta, ayo kemari, aku ingin ngomong”. Abdul heran dengan sikap istrinya seperti itu, dan langsung cepat-cepat dia masuk kerumah dengan penasaran. “Ada apa istriku yang cantik?”, kata Abdul. “Aku hamil kang mas”.“ Kamu hamil? ”. Sambil meloncat-loncat kegirangan di atas tempat tidur, Plok, dia terperosok ke dalam tempat tidurnya yang terbuat dari papan itu. Tidak lama setelah kejadian itu istrinya melahirkan seorang anak laki-laki yang sangat cantik dan lucu. Dan diberi nama Sukawati. Pak lurah : “Anak anda kan laki-laki, kenapa diberi nama Sukawati?” Abdul : “dikarenakan anak saya laki-lakilah makanya saya beri nama Sukawati, jika saya beri nama Sukawan dia disangka homo. Hai Malik (ajudannya) cepat kamu cari kambing yang mempunyai tanduk sebesar jengkal manusia”. Malik : “tanduk sebesar jengkal manusia?” ia heran “mau cari dimana tuan?” Abdul : “cari di dalam hidungmu! Ya cari diseluruh ke seluruh negeri ini” Beberapa hari kemudian. Malik : “Tuan Abdul, saya sudah cari kemana-mana tetapi saya tidak menemukan kambing yang punya tanduk sejengkal manusia” Abdul : “Bagaimana kalau kita membuat sayembara, cepat buat pengumuman ke seluruh negeri bahwa kita membutuhkan seekor kambing yang memiliki tanduk sejengkal manusia untuk disembelih” Menuruti perintah tuannya, Malik segera menempelkan pengumunan di seluruh negeri itu, dan orang-orang yang memiliki kambing yang bertandukpun datang kerumah Abdul, seperti pengawas Pemilu, Abdul memeriksa tanduk kambing yang dibawa tersebut. Abdul : “hai tuan anda jangan menipu saya, kambing ini tidak memiliki tanduk sebesar jengkal manusia”. Kemudian ia pergi ke kambing lain “jangan main-main tuan, ini tanduk kambing palsu”.

Setelah sekian lama menyeleksi tanduk kambing yang dibawa oleh kontestan sayembara, ternyata tidak satupun yang sesuai dengan nazarnya kepada Allah swt. Abdul hampir putus asa, tiba-tiba, Abdul : “aha, saya ada ide, segera kamu ke ibu kota dan jumpai pak Abu Nawas dan katakan saya ingin meminta tolong masalah saya. Malik segera menuruti perintah tuannya, dan segera menuju ibu kota dan menjumpai Pak Abu Nawas. Setelah bertemu Abu Nawas, ia menceritakan permasalahan nya kepada Abu Nawas. Malik : ”Pak Abu bisa bantu tuan saya? ” Pak Abu : “katakan pada tuan kamu, bawa kambing yang punya tanduk dan bayinya tersebut besok pagi ke mesjid Fathun Qarib. Malik segera pulang dan memberitahukan kepada tuannya bahwa Pak Abu bisa membantu tuannya itu. Esok paginya Abdul menjumpai Pak Abu dengan seekor kambing yang punya tanduk dan anaknya yang masih bayi tersebut, beserta istrinya. Pak Abu : “Baiklah tuan Abdul, jika nazarmu kepada Allah swt. menyembelih kambing yang punya tanduk sebesar jengkal manusia, sekarang tunjukkan mana kambing yang kau bawa kemari, dan mana anakmu” Abdul : “ini kambing dan anak saya Pak Abu” Pak Abu kemudian mengukur tanduk kembing tersebut dengan jengkal anak bayi tersebut dan Pak abu memperlihatkannya ke Abdul. Pak Abu : “sekarang kamu sudah bisa membayar nazarmu kepada Allah swt. karena sudah dapat kambing yang pas”. Abdul : ”Pak Abu memang hebat”, dia meloncat-loncat kegirangan di dalam mesjid.

Non Fiksi
”Panglima Besar Jenderal Soedirman” Pengarang : Amrin Imran Penerbit : Adinda Tuti Kinasih Tahun Terbit : 1992 Ringkasan Jendral Besar Soedirman lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916. Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatarbelakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI). Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini. Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini. Sudirman yang dilahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat. Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang. Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes

tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang. Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya. Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang. Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi. Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara. Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan. Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia pada usia 34 tahun di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

”Serangan Umum 1 Maret 1949” Pengarang : Amrin Imran Penerbit : Mutiara Sumber Widya Tahun Terbit : 1985 Ringkasan Belanda melancarkan agresi militer kedua, 19 Desember 1948 setelah melakukan agresi pertama 27 Juli 1947. Pasukan NICA menduduki Yogya, masuk lewat Maguwo. Mereka tak terbendung karena sebagian besar pasukan TNI, termasuk Komando Wherkreise III pimpinan Letkol Soeharto, sudah ditarik keluar kota. Yang ada di kota tinggal satu kompi Pengawal Brigade dan Pengawal Presiden di bawah Komando Militer Kota (KMK) pimpinan Kapten Latief Hendraningrat. Para petinggi, termasuk Panglima Soedirman, dalam keadaan sakit, mengungsi dan meneruskan perang gerilya. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden M. Hatta memutuskan tetap berada di tempat. Kemudian mereka ditawan dan dikirim ke Prapat, Sumatera Utara, lantas dipindahkan ke Bangka. Bung Karno memerintahkan Sjafruddin Prawiranegara memimpin pemerintahan darurat dari Sumatra Barat. Dalam kondisi pemerintahan yang terpuruk, Letkol Soeharto merancang dan melancarkan serangan umum ke sejumlah markas dan pos pertahanan tentara Belanda di dalam kota Yogya, tanggal 1 Maret 1949. Dihantam dalam serangan dadakan, pasukan Belanda pimpinan Kolonel Van Langen, kocar-kacir. Mereka hanya bisa bertahan, meminta bala bantuan ke Magelang dan Semarang. Dalam pertempuran enam jam, Ibukota Yogyakarta, dikuasai pasukan gerilya. Para pejuang mengibarkan bendera Merah Putih di Jalan Malioboro, di jantung kota Yogya dan di beberapa tempat lainnya. Kemenangan ini disambut warga kota dengan sukacita. Mereka tak lupa menyediakan makanan dan minuman seadanya. Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang memegang pemerintahan sipil di Yogyakarta, memberi dukungan penuh. Letkol Soeharto banyak memperoleh informasi penting dari Sri Sultan. Juga memberi perlindungan bagi para pejuang yang memasuki Kraton, baik ketika menyiapkan penyerangan maupun ketika akan mengundurkan diri ke luar kota. Belakangan setelah Pak Harto mengundurkan diri sebagai presiden, muncul pernyataan bahwa pengambil inisyatif Serangan Umum 1 Maret 149 adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sayang sekali Sri Sultan sudah tiada saat pernyataan ini muncul. Namun, menurut Probosutedjo, yang kala masa perjuangan itu tinggal serumah dengan Pak Harto, kalau pun misalnya inisiatif itu dari siapa pun, tapi yang memimpin pertempuran, mempertaruhkan nyawa adalah Pak Harto. Probo menyebut Pak Harto, seorang militer lapangan, jenderal lapangan (field general). Tidak sekadar kaya inisyatif dan wacana, tetapi lebih lagi bertindak sigap dan tegas di lapangan tempur.

Dikenal sebagai serangan fajar, kemenangan pasukan Letkol Soeharto memberi dukungan sangat berarti bagi perjuangan diplomasi pemerintah RI di forum PBB. Juga membongkar kebohongan propaganda Belanda bahwa perlawanan TNI telah dipatahkan. Letkol Soeharto berpikir keras untuk membongkar kebohongan tersebut kepada masyarakat internasional. Berita kemenangan tersebut lantas disiarkan ke luar negeri melalui radio AURI di Playen, Wonosari. Siaran berita radio AURI ditangkap oleh PBB dan masyarakat dunia. Mereka akhirnya mengetahui bahwa rakyat bersama tentara terus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaaan Indonesia. Adalah India yang memprotes DK PBB menyatakan bahwa ternyata klaim Belanda telah menguasai kembali sepenuhnya Indonesia tidak benar. Walhasil, serangan umum itu memaksa Belanda mematuhi resolusi Dewan Keamanan PBB, dan kembali ke meja perundingan. Resolusi yang dikeluarkan 28 Januari 1949 itu, antara lain, menghendaki dihentikannya segera pertempuran (ceasefire), pemimpin-pemimpin republik yang ditawan Belanda dibebaskan tanpa syarat, dan dikembalikannya kekuasaan RI di Yogyakarta.

”Dewi Sartika” Pengarang : Penerbit : Tahun Terbit : Rangkuman

Rochiati Wiriaatmadja Mutiara Sumber Widya 1986

Dewi Sartika dilahirkan di Bandung, 4 Desember 1884 dari keluarga priyayi Sunda, Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula. Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari berkat didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda. Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar. Waktu itu Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena di waktu itu belum banyak anak-anak (apalagi anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan. Ketika sudah mulai remaja, Dewi Sartika kembali ke ibunya di Bandung. Jiwanya yang semakin dewasa semakin menggiringnya untuk mewujudkan cita-citanya. Hal ini didorong pula oleh pamannya, Bupati Martanagara, pamannya sendiri, yang memang memiliki keinginan yang sama. Tetapi, meski keinginan yang sama dimiliki oleh pamannya, tidak menjadikannya serta merta dapat mewujudkan cita-citanya. Adat yang mengekang kaum wanita pada waktu itu, membuat pamannya mengalami kesulitan dan khawatir. Namu karena kegigihan semangatnya yang tak pernah surut, akhirnya Dewi Sartika bisa meyakinkan pamannya dan diizinkan mendirikan sekolah untuk perempuan. Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seseorang yang memiliki visi dan cita-cita yang sama, guru di Sekolah Karang Pamulang, yang pada waktu itu merupakan Sekolah Latihan Guru. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu.

Usai berkonsultasi dengan Bupati R.A. Martenagara, pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda. Tenaga pengajarnya tiga orang; Dewi Sartika dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Murid-murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang, menggunakan ruangan pendopo kabupaten Bandung. Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910, menggunakan hartanya pribadi, sekolahnya diperbaiki lagi sehingga bisa lebih mememnuhi syarat kelengkapan sekolah formal. Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan. Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi "Sakola Raden Déwi". Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda. Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->