Anda di halaman 1dari 27

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan


Laut tahun 2004

PENDAHULUAN
Wilayah pesisir dan laut merupakan situs strategis dimana umat manusia
memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dari lingkungan darat dan laut sekaligus.
Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan intensitas pembangunan, dan
kenyataan bahwa sumberdaya alam di daratan (semisal hutan, lahan pertanian,
peternakan, bahan tambang dan lain-lain) terus menipis atau sukar dikembangkan,
maka

sumberdaya

kelautan

menjadi

tumpuan

harapan

bagi

kesinambungan

pembangunan ekonomi nasional di masa mendatang.


Sumberdaya alam di wilayah pesisir merupakan aset bangsa yang strategis
untuk dikembangkan dengan basis kegiatan ekonomi pada pemanfaatan sumberdaya
alam dan jasa-jasa lingkungan kelautan. Dalam perkembangan selanjutnya akibat dari
pertambahan jumlah penduduk, perluasan pemukiman dan kegiatan industri, maka
wilayah ini akan mendapat tekanan berat akibat eksploitasi sumberdaya alam di
lingkungan sekitarnya. Untuk itu langkah antisipatif dengan mencari alternatif
pendekatan/paradigma yang dapat mempertemukan berbagai tuntutan kepentingan
pemanfaatan vis--vis konservasi sumberdaya untuk pembangunan yang berkelanjutan
mutlak diperlukan.
Pembangunan sumberdaya kelautan pada saat ini layak untuk menjadi andalan
bagi bangsa Indonesia dalam melakukan pemulihan ekonomi akibat krisis multi-dimensi
yang masih terus mendera kehidupan berkebangsaan kita. Pada saat yang sama perlu
diperhatikan prospek keberlangsungan sumberdaya ini agar dapat memberikan manfaat
yang berkesinambungan hingga ke generasi mendatang. Oleh karena itu dibutuhkan
pendekatan dan paradigma dengan pemihakan yang jelas terhadap keberlanjutan
sumberdaya untuk menjadi arah penyusunan model-model pemanfaatan sumberdaya
yang sekaligus memperhatikan aspek preventif pengendalian kerusakan lingkungan
demi keberlanjutan potensi sumberdaya tersebut.

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

Tantangan utama kini bagi pemerintah, utamanya institusi penyusun kebijakan


dan instrumen pengendali pemanfaatan lingkungan -seperti BALITBANGPEDALDA,
selaku pengelola sumberdaya alam, adalah bagaimana memanfaatkan kekayaan alam
yang ada sebaik-baiknya untuk kemakmuran ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,
pada saat yang sama menjaga keseimbangan daya dukung lingkungan agar proses
pemanfaatan tersebut dapat senantiasa berlangsung dan berkelanjutan. Dengan kata
lain,

bagaimana

Berkelanjutan

mengimplementasikan

(Sustainable

Development)

kaidah-kaidah
ke

dalam

Pembangunan
kebijakan

dan

yang
aktifitas

pembangunan. Untuk mencapai hal tersebut salah satu masalah mendasar yang
penting untuk dilakukan adalah memahami secara umum kondisi sumberdaya alam
yang ada serta dinamika masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya tersebut.

Tujuan dan Kegunaan

Kegiatan ini bertujuan antara lain:

Mengkaji dan mengevaluasi secara makro kondisi ekosistem di wilayah


pesisir dan laut provinsi Gorontalo, tertuama ekosistem mangrove,
padang lamun, dan terumbu karang

Mengkaji kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir dalam kaitannya


dengan penggunaan sumberdaya di wilayah pesisir dan laut

Melakukan sosialisasi kepada mayarakat pesisir tentang arti penting


ekosistem pesisir dan laut dalam pembangunan dan kesejahteraan
masyarakat Gorontalo pada umumnya dan mayarakat pesisir pada
khususnya.

Kegiatan ini memiliki beberapa kegunaan antara lain:

Menjadi bench mark dalam pemantauan kondisi ekosistem pesisir dan


laut Gorontalo secara berkala di masa yang akan datang.

Data kondisi umum suatu ekosisitem secara makro yang disajikan dalam
bentuk time series akan merupakan informasi yang sangat berguna
dalam

menyusun

program

pembangunan

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

yang

strategis

serta

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

mengantisipasi pengendalian dampak lingkungan secara dini dan lebih


komprehensif.

Pemantauan

kondisi

sosial

ekonomi

masyarakat

serta

kegiatan

sosialisasi dapat memberikan gambaran umum tentang dinamika


masyarakat

didalam

berinterkasi

dengan

lingkungannya

untuk

memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut yang ada demi pemenuhan


dan peningkatan tarah hidupnya.

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

TINJAUAN PUSTAKA
Kawasan pesisir adalah daerah pertemuan antara ekosistem laut dan daratan,
dan merupakan habitat transisional yang unik. Pesisir pantai merupakan areal geografis
tempat bertemunya aspek-aspek terestrial, maritim dan atmosfer yang berpadu
membentuk suatu bentang alam dan sistem ekologis yang sangat dinamis. Dengan
kondisi lingkungan demikian, ditambah dengan aktifitas manusia di wilayah ini yang
tidak kalah dinamisnya, maka disadari bahwa menentukan batasan fisik kawasan pesisir
tidaklah semudah menarik garis diatas peta. Terlebih dahulu dibutuhkan pemetaan
persoalan, yang seringkali justru bersifat unik pada masing-masing kawasan yang
berbeda. Oleh karena itu, batasan wilayah pesisir sangat beragam dan cenderung
diidentifikasi berdasarkan kepentingan.
Dari sudut pandang ilmiah dan fungsional, luasnya suatu kawasan pesisir
bervariasi menurut bentang alam ekosistem dan konteks permasalahan kewilayahan
yang hendak ditangani. Secara umum dapat disepakati bahwa kawasan pesisir haruslah
mencakup areal subtidal, intertidal dan terrestrial. Namun seberapa jauh ke arah darat
ataupun ke arah laut luasan wilayah ini dicakup, sulit ditetapkan karena sangat
beragamnya topografi dan indikator geomorfologis di kawasan ini. Dari sudut pandang
pengelolaan sumberdaya, definisi Kawasan Pesisir harus mencakup fungsi-fungsi
ekosistem sekaligus jenis kegiatan manusia yang memanfaatkan sumberdaya
lingkungan tersebut. Perlu ditekankan bahwa substansi dari Pengelolaan Sumberdaya
Pesisir dan Laut justru adalah untuk mengelola kegiatan manusia dan bukan semata
mengurus lingkungan fisik. Batasan fisik wilayah pesisir memang beragam dan akan
sangat bergantung pada rezim pengelolaan wilayah dan sumberdaya yang hendak
diimplementasikan. Ringkasnya, batas wilayah pesisir adalah perluasan sepanjang
daerah pedalaman sampai ke daerah laut sesuai dengan kondisi dan tujuan
pengelolaan.
Karena banyaknya sumberdaya yang dikandung kawasan pesisir serta
aksesibiltas yang mudah, maka kawasan ini pada umumnya merupakan tempat
konsentrasi pemukiman penduduk beserta segenap kiprah pembangunannya. Di
wilayah pesisir inilah masyarakat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari dua
jenis sumberdaya: terrestrial dan maritim. Secara ekologis, pesisir pantai tropis,
termasuk Indonesia, merupakan merupakan wilayah yang sangat produktif dengan
Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

keaneka-ragaman hayati yang tinggi. Garis pantai Indonesia merupakan yang kedua
terpanjang di dunia setelah Kanada Diperkirakan bahwa dua pertiga penduduk
Indonesia bermukim di wilayah pesisir, dan delapan dari sepuluh pusat urban (kota yang
berkembang pesat) Indonesia berlokasi di daerah pantai. Konsekuensinya, laju
pertumbuhan penduduk di wilayah pesisir cenderung lebih tinggi dibanding wilayah
pedalaman darat (hinterland atau up-land). Oleh karena itu, berbagai persoalan sosial
ekonomi muncul di kawasan pesisir sebagai refleksi dari banyaknya kegiatan manusia di
tempat ini. Dengan potensi wilayah yang demikian tinggi ditambah dengan beban
penduduk yang besar, maka pemahaman dampak dari sebuah kebijakan terhadap
wilayah pesisir merupakan hal yang krusial dan selanjutnya membutuhkan perhatian
yang lebih serius dari pihak pengambil kebijakan delam mengelola sumberdaya yang
ada di wilayah ini.
Secara umum, pengertian wilayah pesisir adalah daerah yang merupakan
peralihan antara lautan dan daratan. Berdasarkan Bengen (2001) batas wilayah pesisir
ke daerah laut adalah daerah-daerah yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami
di daratan seperti sedimentasi dan aliran air tawar ke laut serta wilayah laut yang masih
dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan, sedangkan batas wilayah
pesisir ke arah daratan meliputi daerah-daerah yang tergenang air atau yang masih
dipengaruhi oleh proses-proses laut seperti pasang-surut, angin laut dan intrusi air laut.
Dari segi ekologis, wilayah pesisir dan laut memiliki nilai yang sangat penting dimana
terdapat beberapa ekosistem utama yang dinamis dan produktif dan saling terkait satu
sama lain. Beberapa jenis ekosistem pesisir yang umum dijumpai di Gorontalo adalah
(1) hutan mangrove, (2) estuaria/perairan payau (3) padang lamun dan (4) terumbu
karang.

TERUMBU KARANG
Terumbu karang merupakan ekosistem yang kompleks dengan keanekaragaman
hayati tinggi ditemukan di perairan dangkal daerah tropis (English et.al., 1997).
Walaupun memiliki kompleksitas dan keanekaragaman hayati yang tinggi, namun
ekosistem ini tidak stabil, karena sensitif terhadap gangguan yang timbul, baik secara
alami maupun akibat aktifitas manusia.
Terumbu karang selalu hidup bersama-sama dengan hewan lain.

Rangka

karang itu sendiri memberikan tempat perlindungan berbagai macam spesies hewan,

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

termasuk jenis penggali lubang dari golongan moluska, cacing polychaeta, dan kepiting.
Terumbu karang juga merupakan tempat hidup yang sangat baik bagi ikan hias, selain
itu dapat melindungi pantai dari hempasan ombak sehingga bisa mengurangi proses
abrasi (Hutabarat dan Evans, 1986).
Karena letaknya di dasar laut, walaupun hanya pada wilayah laut dangkal,
perhatian masyarakat pada umumnya dan pemerintah pada khususnya terhadap
pentingnya nilai dan permasalahan terumbu karang di Indonesia dinilai cukup lambat.
Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala termasuk masalah teknologi dan kemampuan
penyelaman, serta kebijakan pemerintah, sehingga informasi masalah kondisi terumbu
karang baru mendapat perhatian yang lebih serius pada tahun 90'an. Keterlambatan ini
menyebabkan tingkat kerusakan terumbu karang di Indonesia dinilai sudah sangat
parah, dimana lebih dari 70 % ekosistem terumbu karang kita telah mengalami
kerusakan (Hopley dan Suharsono, 2000; Edinger dkk., 1998; Jompa, 1996). Penyebab
kerusakan ini disamping disebabkan oleh fenomena alam seperti bleaching atau
pemutihan, juga disebabkan oleh berbagai aktifitas manusia, baik secara langsung oleh
nelayan maupun secara tidak langsung oleh masyarakat di daratan melalui penggunaan
lahan di daerah hulu yang tidak tepat, serta pembuangan limbah, dll. (Dahuri dkk. 1996).
Sampai saat ini, usaha rehabilitasi kawasan terumbu karang yang telah
mengalami kerusakan di Indonesia masih sangat kurang, salah satu upaya yang biasa
dilakukan untuk maksud tersebut adalah dengan melakukan transplantasi karang
dewasa (misalnya Fox dkk., 2000). Namun demikian, untuk memperbaiki lahan yang
cukup luas maka akan dibutuhkan sumber karang dewasa yang cukup banyak. Hal ini
dinilai bisa merusak habitat tempat dimana dilakukan pengambilan karang dewasa
tersebut, lagi pula sering kali tingkat kelangsungan hidupnya untuk jangka panjang
belum memuaskan (Jompa, unpub.).
Karang membutuhkan kejernihan air yang tinggi dan jumlah unsur hara atau
nutrient yang rendah. Karana zooxanthella (alga simbiosa) membutuhkan cahaya untuk
fotosintesis, maka cahaya adalah salah satu faktor utama yang mempengaruhi distribusi
vertikal karang pembentuk terumbu (karang hermatypic). Olehkarena itu, kebanyakan
pertumbuhan karang yang paling aktif terdapat pada kedalaman 2-10 meter.Hubungan
simbiosa

antara

zooxanthellae

dan

karang

merupakan

faktor

penting

dalam

pembentukan terumbu karang. Alga bersel satu ini mendapatkan perlindungan yang baik
dalam jaringan karang dan memperoleh suplai nutrient atau unsur hara dari hasil sekresi
karang dan karbon dioksida dari hasil respirasi hewan karang. Kedua unsur tersebut

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

akan dimanfaatkan oleh zooxanthella untuk pertumbuhan dan perkembangannya


melalui proses fotosinthesis. Hasil dari fotosintesis tersebut yang merupakan senyawa
karbon selanjutnya dimanfaatkan oleh karang sebagai sumber energi.
Untuk pertumbuhan terumbu karang yang baik, dibutuhkan kondisi lingkungan
yang cocok misalnya; konsentrasi oksigen yang cukup, temperatur yang hangat,
salinitas antara 32-36 ppt, PH air yang sedang (7,5 8,5), kecerahan yang baik (cahaya
tembus > 20m), konsentrasi nutrient rendah, biomassa fitoplankton rendah, sedimentasi
rendah, suplai air tawar kecil, bebas pencemaran, dll. Secara alamiah, fungsi ekosistem
terumbu karang sangat kompleks, dimana juga berkaitan dengan ekosistem mangrove
dan padang lamun yang berdekatan. Secara fisik terumbu karang juga berfungsi
sebagai pemecah ombak untuk melindungi daerah pesisir. Secara kimiawi, terumbu
karang merupakan penangkap karbon yang diikat dalam bentuk kalsium karbonat. Nilai
yang selama ini dikenal sangat vital adalah dalam hal mendukung sumberdaya
perikanan. Lebih dari 30 % ikan-ikan yang merupakan pemasok protein ditangkap di
daerah terumbu karang. Masih banyak fungsi lain yang nilainya tidak kalah penting
misalnya sebagai sumber 'natural product', dan juga sebagai tempat pendidikan,
penelitian dan pariwisata (Jompa dkk, 2003)
Komunitas ikan merupakan salah satu sumberdaya hayati utama dalam
ekosistem terumbu karang karena didapatkan dalam jumlah terbanyak dan menyolok
(Montgomery, 1990).

Karena jumlahnya yang besar dan mengisi seluruh daerah di

terumbu, maka terlihat dengan jelas bahwa mereka merupakan penyokong hubungan
yang ada di dalam ekosistem terumbu. Salah satu sebab tingginya keragaman spesies
di terumbu karang adalah variasi habitat terumbu yang terdiri dari karang, daerah
berpasir, teluk dan celah, daerah alga, dan juga perairan yang dangkal dan dalam serta
zona-zona yang berbeda yang melintas karang (Nybakken, 1988).

Selain itu, ikan

karang mempunyai komposisi jenis yang beragam dan berbeda pada patch reef yang
berbeda (Sale, 1991). Secara komersial, ikan-ikan karang memegang peranan penting
dalam sektor perikanan dan pariwisata (Allen dan Steene, 1996; English dkk., 1997).
Kelompok ikan terumbu karang terdiri dari jenis ikan yang hidup menetap di
karang atau yang minimal menggunakan wilayah terumbu karang sebagai habitatnya.
Kadang-kadang ditemui juga jenis ikan yang hanya berada di terumbu karang pada
sebagian siklus hidupnya, misalnya saat juvenil, dan pada saat dewasa beruaya ke luar
terumbu. Beberapa jenis ikan karang keluar dari ekosistemnya ke biotope lain, seperti
ke daerah lamun (Sorokin, 1993).

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

Sekitar 30 sampai 100 spesies dari beberapa famili ikan karang yang banyak
mendominasi. Diantaranya adalah Chaetodontidae (ikan kepe-kepe), Pomacentridae
(ikan betok laut), Acanthuridae (ikan pakol), Scaridae (ikan kakatua), Apogonidae (ikan
serinding), Gobiidae (ikan gobi) dan Serranidae (ikan kerapu).

Umumnya ikan-ikan

karang ini mudah ditandai dari warna, corak dan struktur badannya yang berbeda,
sehingga memudahkan dalam pengamatan jenis dan tingkah laku ikan-ikan karang.
Dalam pengelompokannya, ikan-ikan karang ini dibedakan menurut maksud
tujuan pengamatan yang dilakukan (Husain dan Arniati, 1996).

Berdasarkan

karakteristik taksonomi, ikan karang dikelompokkan atas sub-ordo Labridae (terdiri dari
famili

Labridae,

Scaridae

dan

Pomacentridae),

sub-ordo

Acanthuridae

(famili

Acanthuridae, Siganidae dan Zanclidae), dan sub-ordo Chaetodontidae (famili


Chaetodontidae dan Pomachantidae) (Hutomo, 1993). Dilihat dari pemanfaatannya, ikan
karang

dikelompokkan

ke

dalam

ikan

hias

(famili

Pomacentridae,

Labridae,

Chaetodontidae, Pomacanthidae, Zanclidae, Balistidae, Scorpaenidae) (Kvalvagnaes,


1980); dan ikan pangan atau konsumsi (famili Caesionidae, Serranidae, Siganidae,
Haemulidae, Lutjanidae, Lethrinidae, Labridae, Scaridae, Holocentridae, Priacanthidae)
(McWilliams dan Hatcher, 1983).

PADANG LAMUN
Padang lamun ditemukan hidup pada perairan dangkal, perairan pantai
bersubstrat lunak dan terlindung pada daerah estuaria. Padang lamun memiliki peranan
penting dalam ekosistem pantai, selain berfungsi sebagai tempat berlindungnya larva
ikan dan biota laut lainnya, juga sebagai daerah mencari makanan ikan dan udang (den
Hartog, 1970; Stevenson, 1988).

Padang lamun juga

berperan dalam melindungi

pantai dari abrasi, karena daun dan batang tumbuhan ini dapat meredam ombak dan
memperlambat aliran arus (Scoffin, 1970; Fonseca et al., 1982).
Lamun terdiri dari 12 genera yang berasal dari 2 famili, yaitu famili
Hydrocharitacea, 3 genera, dan famili Potamogetonacea, terdiri atas 9 genera dan 60
spesies. Dari kedua belas genera tersebut, 7 genera menghuni perairan tropis, yaitu:
Enhalus, Halophila dan Thallassia dari famili Hydrocharitaceae; serta Cymodecea,
Halodule, Syringodium, dan Thalassodendron dari famili Potamogetonaceae (den
Hartog, 1970).

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

EKOSISTEM MANGROVE
Tumbuhan mangrove adalah satu-satunya jenis tanaman tingkat tinggi yang
sangat berhasil mendiami daerah intertidal yang merupakan pertemuan antara daratan
dan lautan. Hutan mangrove secara spesifik mendominasi daerah pesisir di sepanjang
pantai tropis sampai sub-tropis (Clough, 1982).
Ekosistem mangrove memiliki fungsi signifikan baik dilihat dari aspek atau nilai
ekologi, lingkungan, maupun sosial ekonomi, seperti mempertahankan kualitas air di
kawasan pantai, melindungi pantai dengan mengurangi dampak dari badai, gelombang,
dan banjir, berfungsi sebagai daerah pemijahan dan tempat makan berbagai jenis ikan
(komersial dan lokal), merupakan tempat makan berbagai hewan-hewan laut baik yang
bersifat bentik maupun pelagis serta berbagai jenis burung, dan dapat berfungsi sebagai
sumber bahan atau produksi kayu (English et al., 1997).

DEGRADASI HABITAT DAN KUALITAS LINGKUNGAN


Dampak kegiatan pembangunan sebagaimana yang telah berlangsung selama
ini dapat dengan jelas terlihat pada menurunnya kualitas fisik lingkungan dan integritas
ekosistem pesisir. Secara garis besar dampak lingkungan ini terdiri atas tiga jenis, yakni:

a. Kerusakan Fisik Habitat Ekosistem Pesisir


Kerusakan fisik habitat ekosistem wilayah pesisir di Indonesia terjadi pada ketiga
jenis ekosistem yang menyusun wilayah pesisir, yakni: bakau, terumbu karang dan
padang lamun. Pada ekosistem mangrove, selama duapuluh tahun terakhir diperkirakan
telah menyusut lebih dari setengah, dari 5,21 juta ha menjadi hanya sekitar 2,5 juta ha.
Demikian pula dengan terumbu karang yang umumnya berada dalam kondisi rusak dan
diperkirakan hanya 6% dalam kondisi yang sangat baik. Kerusakan terumbu karang
umumnya disebabkan oleh kegiatan penagkapan ikan secara destruktif disamping
kegiatan penambangan karang untuk bahan bangunan dan reklamasi pantai. Hilangnya
mangrove dan rusaknya sebagian terumbu karang telah mengakibatkan terjadinya erosi
pantai. Erosi ini semakin diperburuk oleh kondisi perencanaan dan pengembangan
wilayah yang kurang tepat.

b. Overeksploitasi Sumberdaya Hayati Laut


Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

Meskipun sering dikumandangkan bahwa pemanfaatan sumberdaya hayati laut


kita masih dibawah potensi yang ada, namun sudah banyak diantara stock sumberdaya
hayati ini yang mengelami overeksploitasi. Sebagai contoh adalah sumberdaya
perikanan. Meskipun secara agregat (nasional) sumberdaya perikanan laut baru
dimanfaatkan sekitar 58% dari total potensi lestarinya (MSY) namun dibeberapa
kawasan perairan, beberpa stok sumberdaya ikan telah mengalami overfishing. Kondisi
ini juga mnedorong kemungkinan punahnya sejumlah species asli kawasan perairan ini.
Kondisi overfishing ini bukan hanya karena tingkat penangkapan yang tinggi, tapi juga
karena kualitas lingkungan laut sebagai habitat hidup ikan mengalami penurunan akibat
kerusakan oleh pencemaran dan degradasi fisik hutan mangrove, padang lamun dan
terumbu karang yang merupakan tempat pemijahan, asuhan dan menari makan bagi
sebagian besar biota laut tropis.

c. Pencemaran
Tingkat pencemaran pada beberapa kawasan pesisir dan lautan Indonesia pada
saat ini telah berada pada kondisi yang memprihatinkan. Kondisi perairan pesisir di
kawasan padat penduduk dan tinggi intensitas kegiatan pembangunannya, seperti Selat
Malaka dan Pantai Utara Jawa telah mengalami pencemaran serius. Sumber utama
pencemaran pesisir dan lautan terdiri dari tiga jenis kegiatan di darat (land-based
pollution sources) yakni kegiatan industri, rumah tangga dan kegiatan pertanian.
Sementara itu, bahan utama yang terkandung dalam buangan limbah dari ketiga sumber
tersebut berupa sedimen, unsur hara, pestisida, organisme patogen dan sampah.
Secara sederhana dapat dilihat bahwa kawasan-kawasan di Indonesia yang tercemar,
merupakan kawasan pesisir yang padat penduduk, kawasan industri dan juga pertanian.

Kemiskinan masyarakat pesisir


Tidak dapat disangkal bahwa karakteristik utama saat kita membicarakan
komunitas pesisir adalah kondisi masyarakatnya yang miskin. Hingga kini sebagian
besar masyarakat pesisir yang didominasi oleh nelayan masih senantiasa dililit
kemiskinan. Berbagai fenomena kerusakan lingkungan dapat diasosiasikan pula dengan
kondisi kemiskinan ini, akibat keterpaksaan mereka mengeksploitasi sumberdaya yang
secara ekologis amat rentan (seperti terumbu karang yang merupakan daerah nursery
dan spawning ikan) dengan cara yang tidak ramah lingkungan dan semata terdorong
oleh Kecenderungan pemenuhan kebutuhan ekonomi orientasi jangka pendek.
Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

10

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

Semuanya ini akibat tidak adanya alternatif mata pencaharian bagi komunitas ini.
Kemiskinan komunitas ini juga menjadi alasan sulitnya mengembangkan kualitas SDM
di kawasan pesisir. Secara garis besar ada tiga faktor yang saling terkait dalam hal ini,
yakni:
a. Rendahnya kualitas SDM
b. Keterbatasan alokasi dana untuk fasilitas publik di pesisir
c. Kecenderungan pemenuhan kebutuhan ekonomi orientasi jangka pendek
Untuk

mengatasi

persoalan

kemiskinan

masyarakat

pesisir

dibutuhkan

pendekatan secara komprehensif yang mempertimbangkan ketiga hal diatas secara


simultan.

KONFLIK PENGGUNAAN RUANG

Konflik penggunaan ruang di kawasan pesisir dan lautan sering terjadi karena
belum adanya pola pemanfaatan tata-ruang yang baku yang dapat dijadikan acuan oleh
segenap sektor yang berkepentingan. Disamping itu, potensi multi-guna yang inherent
pada sumberdaya pesisir dan laut menyebabkan banyak pihak yang berupaya untuk
memanfaatkannya sehingga menimbulkan konflik pemanfaatan. Karena lemahnya
penegakan hukum maka konflik justru menjadi berkembang sehingga melibatkan pihakpihak lain yang sebenarnya bisa diatasi bila ada koordinasi yang baik antara institusi
yang berwenang terhadap pola pemanfaatan sumberdaya tersebut. Secara garis besar
ada tiga faktor yang saling terkait dalam hal konflik tata ruang ini, yakni:
a. Lemahnya Koordinasi diantara Stakeholders
b. Lemahnya Penegakan Hukum
c. Konflik kepentingan akibat potensi multi-guna sumberdaya
Penanganan masalah pemanfaatan tata-ruang (spatial arrangement) wilayah
pesisir perlu melibatkan semua stakeholders sekaligus disertai dengan konsensus atas
pola pemanfaatan yang dilindungi dengan penegakan hukum yang konsisten.
Bila kita hendak membedah lebih jauh, konfigurasi kebijakan pengelolaan
sumberdaya di wilayah pesisir selama masa kekuasaan regime Orde Baru ditandai

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

11

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

dengan tiga ciri utama, yakni didasarkan pada doktrin Milik Bersama (common property),
sentralistik, dan mengabaikan pluralisme hukum masyarakat. Kebijakan pengelolaan
sumberdaya laut dan pesisir yang didasarkan pada doktrin milik bersama telah
menyebabkan wilayah laut nasional menjadi arena pertarungan bagi pelaku-pelaku yang
memanfaatkan sumberdaya perikanan di bawah sistim yang mendekati anarkhisme:
siapa yang lebih kuat keluar sebagai pemenang. Sentralisme kebijakan dan
antipluralisme hukum secara sinergis telah menciptakan konflik antar pelaku pengguna
sumberdaya dan tumpang tindihnya wilayah penangkapan. Di mata nelayan kecil
(tradisional), kebijakan perikanan lebih dipahami sebagai legalisasi persekongkolan
penguasa dengan pengusaha untuk menguras sumberdaya alam tanpa kepedulian
pada kepentingan nelayan.
Dampak kegagalan kebijakan pengelolaan ini serupa dengan Tragedy of the
Common yang dikhawatirkan oleh Garret Hardin. Kegagalan perlindungan hukum
terhadap sumberdaya alam telah memporak-porandakan agenda konservasi, suatu
agenda yang telah menjadi tuntutan masyarakat global sebagaimana tercantum dalam
Konvensi Hukum Laut PBB (1982), Agenda 21 Global (1992), dan paling mutakhir dalam
Code of Conduct for Responsible Fisheries yang dikeluarkan FAO pada 1995.
Implikasi sosial dan ekonomi (social and economic costs) yang dapat timbul
karena kesalahan dalam penyusunan kebijakan pemanfaatan sumberdaya bisa
berakibat fatal terhadap tingkat kesejahteraan dan pola penghidupan komunitas pesisir.
Oleh karenanya, sistem perumusan kebijakan menyangkut pengelolaan sumberdaya
perlu diformulasikan dengan baik dengan memperhatikan setidaknya tiga faktor berikut:

Sistem pengendalian kerusakan ekosistem harus tumbuh secara inherent di


dalam kebijakan tersebut

Menyiapkan sarana pendukung bagi masyarakat untuk bertumbuh dan tidak


kaku terhadap perubahan strategi pengelolaan sumberdaya. Dengan kata lain
harus merupakan kebijakan dengan pola penerapan manajemen adaptif.

Mempertimbangkan pola kehidupan masyarakat sebagai sebuah entitas sosiobudaya.


Kebaikan dan keunggulan suatu sistem pengelolaan harus teruji secara nyata di

lapangan. Meskipun secara yuridis formal, suatu sistem manajemen sumberdaya


dirumuskan dengan baik, akan tetapi bila secara nyata tidak berjalan maka dapat

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

12

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

dikatakan bahwa sistem pengelolaan sumberdaya itu tidak berhasil. Bila persoalanpersoalan diatas hendak dicarikan jalan keluarnya, maka menjadi kewajiban kita
bersama untuk memikirkan alternatif pola pengelolaan dan melakukan reorientasi
mekanisme kebijakan dalam menangani sumberdaya di wilayah pesisir.

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

13

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

METODE PELAKSANAAN KEGIATAN

Pemilihan Lokasi
Lokasi yang dipilih untuk kegiatan pemantauan ekosistem pesisir dan laut serta
kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir di Gorontalo dibagi dalam dua kelompok
lokasi yakni pantai utaran yang meliputi Kecamatan Kwandang, Kecamatan Atinggola,
dan Kecamatan Anggrek Kab. Gorontalo. Kelompok kedua adalah pantai selatan yang
meliputi Desa Petandu Timur Kecamatan Tilamuta Kabupaten Boalemo dan Desa
Torosiaje Kecamatan Popayatu Kabupaten Pohuwato.
Beberapa posisi pengamatan masing-masing daerah sampling adalah sebagai
berikut:
Desa Petandu Timur, Kecamatan Tilamuta
-

Sampling I N 00o30`486 dan E.122 o 21 369

Sampling II N. 00 o 30102 dan E.122 o 21 657

Sampling III N 00o29`330 dan E. 122 o 21 291

Sampling IV N 00o29`140 dan E. 122 o 21 333

Desa Torosiaje, Kecamatan Popayatu Kab. Pohuwato


Sampling I N 00o28`165 dan E. 121 o 26 266
Sampling II N 00o29`131 dan E. 121 o 26 203
Sampling III N 00o27`934 dan E. 121 o 26 073

Desa Dumolado, Kecamatan Atinggola Kab. Gorontalo


Sampling I N 00o55426 dan E. 123 o 03 499
Sampling II N 00o55426 dan E. 123 o 03 335

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

14

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

Pengamatan Ekosistem
Pengamatan terhadap ekosistem pesisir meliputi Hutan Mangrove, Padang
Lamun, dan Terumbu Karang. Metode pengamatan yang dipilih adalah dengan
pendekatan Rapid Resource Assessment (RRA). Metode ini khususnya digunakan untuk
mendapatkan gambaran umum tentang kondisi ekosistem secara lebih luas dalam
waktu yang relatif singkat.
Langkah-langkah yang dilakukan adalah, pertama menentukan titik koordinat
dengan menggunakan GPS, setelah itu dilakukan estimasi tehadap komposisi jenis dan
kondisi menyeluruh ekosistem tersebut pada luasan yang bisa diprediksi secara visual
misalnya luasan 5 x 30 m2 secara imaginary.

Pengamatan Terhadap Kualitas Lingkungan


Pengamatan terhadap kualitas lingkungan dilakukan dengan mengukur
beberapa parameter kualitas air, misalnya salinitas, oksigen, pH, suhu, dan SPM.
Kualitas air dilakukan bersamaan dan pada titik dimana dilakukan pengamatan terhadap
kondisi ekosistem. Alat yang digunakan adalah portable water quality analizer untuk
mengukur secara insitu salinitas, oksigen, suhu, dan pH. Untuk SPM, sampel air diambil
dan dianalisa di laboratorium.

Sosialisasi dan Pengamatan Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi


Masyarakat Pesisir
Pengamatan terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir dilakukan
dengan menggunakan teknik wawancara secara terbuka terhadap aktifitas masyarakat
pesisir dalam hubungannya dengan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di wilayah

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

15

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

pesisir dan laut. Wawancara juga difokuskn untuk melihat kondisi ekonomi masyarakat
pesisir dan usaha perikanan yang dilakukan selama ini, termasuk hambatan-hambatan
yang mereka hadapi dan harapan-harapan yang mereka miliki terhadap peningkatan
taraf hidupnya.
Observasi terhadap masalah-masalah sosial ekonomi juga dilakukan pada saat
sosialisasi tentang pentingnya memelihara lingkungan pesisir untuk pelestarian dan
pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal dan berkelanjutan. Masyarakat diajak
berdiskusi tentang bagaimana mencari solusi yang terbaik terhadap semakin maraknya
pengrusakan sumberdaya pesisir yang dihadapi saat ini, baik itu hutan mangrove,
padang lamun, dan lebih-lebih terumbu karang yang sering dirusak dengan
menggunakan bom dan bius.

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

16

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN


Secara umum kondisi ekosistem pesisir Provinsi Gorontalo masih tergolong
sedang, dengan tingkat kerusakan yang bervariasi mulai dari rusak berat, ringan,
sampai kondisi yang masih cukup baik. Berikut ini dijelaskan kondisi tiap ekosistem
pesisir mulai dari ekosistem mangrove, padang lamun, dan ekosistem terumbu karang

Kondisi Ekosistem Mangrove


Ekosistem mangrove memiliki fungsi signifikan baik dilihat dari aspek atau nilai ekologi,
lingkungan, maupun sosial ekonomi, seperti mempertahankan kualitas air di kawasan
pantai, melindungi pantai dengan mengurangi dampak dari badai, gelombang, dan
banjir, berfungsi sebagai daerah pemijahan dan tempat makan berbagai jenis ikan
(komersial dan lokal), merupakan tempat makan berbagai hewan-hewan laut baik yang
bersifat bentik maupun pelagis serta berbagai jenis burung, dan dapat berfungsi sebagai
sumber bahan atau produksi kayu (English et al., 1997).
Hutan Mangrove di Provinsi Gorontalo memiliki luasan sekitar 12.000 ha. Hasil
pengamatan ini menunjukkan bahwa pantai selatan Provinsi Gorontalo masih memiliki
kondisi hutan mangrove yang relative baik, dimana jenis yang palin dominan adalah
Xylocarpus sp dan Rhizophora mucronata. Hasil kajian PKSPL-IPBK (2000) juga
melaporkan bahwa kerapatan jenis untuk tingkat pohon adalah 10.294 ind/ha. Jenisjenis mangrove lainnya yang ditemukan adalah Ceriops, Brugeria gymnorhiza,
Excocaria, Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Avicennia marina, dan Avicennia
alba.
Khusus untuk daerah Tilamuta, kondisi sebagian besar mangrove yang masih
tersisa masih dalam kondisi baik, walaupun sudah mengalami pembabatan pada

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

17

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

beberapa daerah. Jenis yang paling dominan adalah jenis Rhizopohora mucronata,
yang secara nyata melindungi kawasan pantai dari hempasan gelombang yang
kemungkunan dapat menyebabkan terjadinya abrasi.
Kondisi mangrove di Torisiaje juga masih relatif baik khususnya pada kawasan
green belt, walaupun sebagian telah dibabat menjadi tambak. Masyarakat setempat
juga masih memanfaatkan pohon bakau sebagai bahan bangunan untuk rumah, pagar,
dan juga untuk dijadikan sebagai bahan bakar. Berdasarkan hasil diskusi dengan kepala
desa dan kelompok masyarakat setempat, ada kesepakatan untuk mempertahankan
zona jalur hijau mangrove kurang lebih 100 meter, walaupun masyarakat masih
diperbolehkan untuk mengambil kayu bakau seadanya untuk kebutuhan sehari-hari
asalkan dengan cara-cara yang tidak terlalu merusak misalnya dengan melakukan
tebang pilih diantara pohon-pohon besar (thinning).
Kondisi mangrove di pantai utara juga sebagian masih relatif baik, namun
pembukaan tambak nampaknya semakin meluas dan perlu segera diatur dengan
kebijakan yang ketat agar tidak menyebabkan kerusakan yang semakin parah. Jenis
mangrove yang mendominasi pantai utara adalah Rhizophora apiculata dan Aegiceras
corniculatum.
Beberapa daerah seperti di Kecamatan Angrek, masyarakat juga telah mencoba
untuk melakukan penanaman mangrove dari jenis Rhizophora apiculata untuk
mereboisasi kawasan pesisir yang dulu mangrovenya telah dibabat. Dampak aktivitas
pembangunan di kawasan pantai utara ini perlu diantisipasi agar tidak selalu
mengorbankan ekosistem pesisir yang ada, terutama ekosistem mangrove yang
merupakan pelindung pantai secara alami.

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

18

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

Kondisi Ekosistem Padang Lamun


Berdasarkan hasil pengamatan secara umum, kondisi padang lamun di
Gorontalo masih tergolong cukup baik, terutama di daerah pulau-pulau dimana kondisi
kualitas airnya masih relatif baik. Misalnya di Pulau Payunga dan Pulau Saronde,
ditemukan ada beberapa jenis vegetasi lamun yang termasuk dalam kondisi yang
sangat baik, yang pada umumnya didominasi oleh Enhalus dan Thallasia. Di Pulau
Saronde juga ditemukan jenis Cymodocea serrulata.
Ekosistem padang lamun ditemukan di semua lokasi pengamatan yang kadang
dijumpai dalam bentuk hamparan yang cukup luas. Bahkan di antara pemukiman suku
Bajo di Desa Torisiaje, ekosistem padang lamun ini masih tergolong cukup baik dengan
kerapatan yang masih relatif baik.
Namun demikian, pada lokasi yang mendapatkan input sedimen yang relatif
tinggi seperti teluk di Kwandang dan di sekitar TPI di Tilamuta, kondisi padang lamunnya
sudah termasuk dalam kategori jelek dengan kepadatan yang rendah. Suspensi partikelpartikel yang cukup tinggi di perairan pada kawasan ini bukan hanya mengurangi tingkat
kecerahan perairan, tetapi juga secara langsung menutupi permukaan daun vegetasi
lamun sehingga menyebabkan lamun tersebut mengalami kematian atau tidak bisa
berkembang dengan baik.

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang


Kondisi terumbu karang di Kabupaten Gorontalo masih banyak yang masuk
dalam kategori baik dan sedang, walaupun demikian pada beberapa tempat terlihat
adanya tingkat kerusakan yang cukup parah akibat penggunaan alat tangkap yang tidak
ramah lingkungan seperti bom dan sianida. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa
kondisi terumbu karang di sekitar pulau-pulau masih relatif baik dibandingkan dengan di
daerah pesisir yang berdekatan dengan massa daratan utama. Kondisi karnag di Pulau
Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

19

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

Payunga dan Pulau Saronde misalnya, menunjukkan kondisi karang yang termasuk
sedang dengan tingkat penutupan karang hidup berkisar 30-60%. Daerah slope pada
umumnya masih dalam kondisi baik, namun pada daerah reef flat telah banyak
mengalami kerusakan yang kemungkinan besar disebabkan oleh akitifitas pengeboman
dan penambangan batu karang. Penambangan batu karang di daerah Kwandang ini
terlihat jelas dari banyaknya tumpukan bata karang yang diambil oleh masyarakat
setempat untuk kebutuhan pembuatan pondasi rumah. Sampai pada saat pelatihan ini
dilaksanakan, aktifitas penambangan ini masih terlihat jelas dari adanya beberapa
masyarakat yang menaikkan batu karang yang baru saja diambil dari laut ke pinggir
jalan raya dengan menggunakan perahu.
Beberapa kawasan terumbu karang yang nampaknya masih dalam
kondisi baik diantaranya adalah Pulau Dulupi, Pulau Asiangi 2, Pulau Lamua Daa, Pulau
Raja dan Pulau Popaya serta pulau-pulau lainnya yang kondisi perairannya baik dan
tekanan eksploitasi dalam bentuk destructif fishing rendah. .

Gambaran Kondisi Terumbu Karang di Pulau Saronde, yang potensil untuk


menghasilkan ikan-ikan karang ekonomis penting, sekaligus obyek
wisata bahari yang menarik

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

20

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

Kondisi karang teluk Kwandang dan di sekitar TPI di Tilamuta yang tingkat
sedimentasinya relatif cukup tinggi menunjukkan nilai penutupan karang hidup yang
relatif rendah, yakni sekitar 10-20 %. Demikian pula halnya di sekitar pemukiman Suku
Bajo di desa Torisiaje, kondisi karangnya sudah masuk kategori kurang baik. Hal ini
bukan hanya disebabkan oleh adanya input sedimen yang relatif tinggi, tapi juga
disebakan oleh aktifitas penangkapan ikan yang merusak misalnya penggunaan bius
dan bom serta penambangan batu karang.
Kegiatan penambangan batu karang untuk bahan bangunan pondasi dan
pembuatan kapur nampaknya masih sangat intensif dilakukan hampir disemua daerah
penelitian. Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya tumpukan batu karang di mana-mana baik
di halaman rumah penduduk maupun yang masih ditumpuk di daerah pesisir siap untuk
dijual. Disamping itu, berdasarkan hasil pengamatan di lokasi pengamatan, daerah reef
flat dimana karang massive ini biasanya cukup berkembang, jumlahnya semakin sedikit
terutama yang berukuran sekitar 20-30cm.
Kondisi terumbu karang di pantai massa daratan utama baik di pantai utara
maupun di pantai barat menunjukkan angka penutupan karang hidup sekitar 15-30%.
Namun demikian, kondisi ini tidak merata terutama di daerah reef flat yang kondisisnya
agak parah serta adanya pendangkalan di bahagian bawah reef slope. Rata-rata
kedalaman di mana terumbu karang hidup di kawasan massa daratan utama ini hanya
sekitar 3-5 meter. Dibandingkan dengan di daerah kepulauan, terumbu karang
berkembang sampai pada kedalaman diatas 20 meter.

Potensi Pengembangan Pariwisata Bahari


Pariwisata saat ini sudah merupakan salah satu industri global penting yang
dapat menjadi primadona pemasukan devisa untuk perbaikan ekonomi suatu daerah
atau negara. Dan jenis pariwisata bahari merupakan salah satu jenis wisata yang
mempunyai prospek yang cukup baik. Sebagai contoh, lebih dari 70% wisatwan yang
berkunjung ke North Queensland Australia adalah untuk jenis wisata bahari, khususnya
untuk menikmati pemandangan terumbu karang. Setiap tahunnya, jumlah wisatawan
bahari ke daerah ini mencapai ratusan ribu dengan penghasilan devisa sebasar ratarata 300 juta US dollar (Burns, 1997). Menurut Hobson (1994), tiga faktor utama yang
dapat mempengaruhi perkebangan ke- pariwisataan adalah infrastruktur, masalahmasalah lingkungan, dan sumberdaya manusia.

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

21

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

Pengembangan kawasan wisata bahari di Provinsi Gorontalo dapat dimulai dari


mengelola dengan lebih baik objek wisata bahari yang sudah ada selama ini seperti;
taman laut Pulau Bitila, Pulau Asiangi, Pulau Lahe, Pulau Dulupi, Pulau Mohumbomba,
Pulau Pasia, Pulau Napo Libou, Pulau Mas, Pulua Popaya, Pulau Raja, Pulau Saronde,
Pantai Pasir Putih di Kec. Tilamuta dan Kec. Paguat, dan lainnya. Dalam upaya
pengembangan obyek wisata bahari tersebut, perlu mendapat perhatian dari berbagai
pihak, terutama masyarakat yang selama ini menggunakan daerah tersebut sebagai
tempat mencari nafkah. Harus ada aturan yang jelas tentang hak-hak tradisional
masyarakat sekitarnya serta adanya kesepakatan lintas sektoral dalam bentuk
penetapan tata ruang yang jelas.

Kondisi Kualitas Lingkungan


Berdasarkan hasil pengukuran di semua station pengamatan, kondisi oksigen
terlarut pada umumnya masih tergolong cukup baik yakni sekitar 7 8 ppm. Hal ini
hampir merata baik di pantai utara maupun di pantai selatan. Kandungan oksigen
terlarut relatif lebih kecil yakni sekitar 6 ppm pada daerah pesisir yang kondisi
perairannya relatif keruh seperti di sekitar TPI di Tilamuta dan di teluk Kwandang.
Suhu perairan yang terukur juga relatif stabil baik dipantai utara maupun di
pantai selatan yakni berkirsar antara 31 32,2 o C. Suhu perairan relatif lebih rendah di
sekitar Tilamuta pada kedalaman 5m yakni sekitar 30

C. Tidak terlihat adanya

pemanasan lokal perairan baik yang diakibatkan oleh pola oseanografis maupun oleh
aktifitas manusia seperti industri. Demikian pula halnya dengan Nilai pH yang juga relatif
seragam hampir di semua station yakni berkisar antara 7-7,4.
Pengukuran terhadap suspensi padat dalam air (SPM) menunjukkan nilai yang
bervariasi.

Nilai SPM pada daerah kepulauan pada

umumnya jauh lebih rendah

dibandingkan dengan pada kawasan yang berdekatan dengan massa daratan utama.
Di daerah pulau-pulau, nilai SPM berkisar antara 5-7 mg/l sedangkan di daerah pesisir
sekitar 15 25 mg/l. Tingginya nilai SPM di kawasan pesisir ini menunjukkan bahwa
tekanan sedimentasi dari daerah daratan sudah cukup tinggi dan jika hal ini terus
menerus terjadi, maka dapat mengganggu kestabilan ekosistem pesisir khususnya
ekosistem padang lamun dan terumbu karang.

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

22

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir


a.

Tilamuta
Pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut di daerah ini didominasi oleh aktivitas

penangkapan ikan. Aktivitas penangkapan tidak hanya dilakukan dilakukan di wilayah


pesisir tetapi juga di perairan Laut dalam.
Di

daerah

laut

dalam

aktivitas

penangkapan

ikan

dilakukan

dengan

menggunakan pancing dan purse seine dengan alat bantu rumpon. Di wilayah pesisir
aktivitas penangkapan ikan dilakukan dengan menggunakan berbagai jenis alat tangkap
pancing, jenis-jenis alat tangkap jaring dasar (Gill net) dan bagan dengan alat bantu
cahaya.
Dari hasil wawancara dengan nelayan Tilamuta terungkap bahwa dari sudut
jumlah tangkapan, ikan-ikan pelagis yang tertangkap seperti ikan teri, layang, dan tuna
cendrung stabil.

Sebaliknya ikan-ikan demersal seperti ikan lencam, baronang, biji

nangka, kwe, umumnya hasil tangkapan mulai menurun.


Penggunaan alat penangkapan ikan yang illegal dan dekstruktif (bom dan
cianida), pernah dilakukan oleh beberapa nelayan pada beberapa tahun yang lalu,
Namun dalam dua tahun terakhir ini kegiatan itu tidak lagi dilakukan, kecuali oleh
nelayan pendatang oleh. Nampaknya kesadaran masyarakat akan dampak illegal dan
dekstruktif fishing mulai meningkat sejalan dengan dampak menurunnya hasil
tangkapan ikan-ikan demersal.
Yang perlu diantisipasi dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir di wilayah
perairan Tilamuta adalah konflik penggunaan fishing ground oleh nelayan bagan.
Sampai saat ini belum jadi masalah tetapi jumlah alat tangkap bagan semakin banyak
maka peluang konflik ini akan terjadi. Untuk mengantisipasi hal ini maka kesepakatan
jarak antara nelayan bagan perlu diatur. Jarak 1 mil laut adalah jarak yang aman untuk
tidak saling mempengaruhi.
b.

Popayato
Pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut di daerah Popayato khususnya di

Desa Torosiaje didominasi oleh aktivitas penangkapan ikan.

Aktivitas penangkapan

umumnya hanya dilakukan di wilayah pesisir. Hal ini disebabkan karena alat tangkap

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

23

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

yang digunakan adalah alat tangkap tradisional. Pemanfaatan sumberdaya laut dalam
oleh masyarakat sangat minim. Umumnya sumberdaya wilayah pesisir di daerah ini
dilakukan oleh para suku bajo.
Di wilayah pesisir aktivitas penangkapan ikan dilakukan dengan menggunakan
berbagai jenis alat tangkap pancing, jenis-jenis alat tangkap jaring dasar (Gill net) dan
penyelaman untuk menangkap ikan karang teripang dengan menggunakan kompressor.
Dari hasil wawancara dengan nelayan Popayato terungkap bahwa dari sudut
jumlah tangkapan, ikan-ikan pelagis yang tertangkap seperti ikan selar, layang,
cendrung stabil.

Sebaliknya ikan-ikan demersal seperti ikan lencam, baronang, biji

nangka, kwe, umumnya hasil tangkapan mulai menurun.


Penggunaan alat penangkapan ikan yang illegal dan dekstruktif (bom dan
cianida), pernah dilakukan oleh beberapa nelayan pada beberapa tahun yang lalu,
Namun dalam dua tahun terakhir ini kegiatan itu tidak lagi dilakukan, kecuali oleh
nelayan pendatang.

Nampaknya kesadaran masyarakat akan dampak illegal

dan

dekstruktif fishing mulai meningkat sejalan dengan dampak menurunnya hasil


tangkapan ikan-ikan demersal.
Yang perlu diantisipasi dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir di wilayah
perairan Popayatu adalah konflik penggunaan alat tangkap modern seperti purse seine
(pajeko) oleh nelayan dari luar daerah tersebut.

Pada Saat yang lalu menurut

wawancara dengan nelayan masalah ini terjadi.


Konsisi mongrove sangat baik dan cenderung tidak dimanfaatkan biota di
dalamnya seperti jenis-jenis kepiting bakau. Namun pengambilan batu karang sebagai
bahan bangunan, khususnya pondasi rumah sangat menonjol di daerah ini.

c.

Kwandang
Pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut di daerah Kuandang telah dilakukan

oleh masyarakat dalam bentuk aktivitas penangkapan ikan. Aktivitas penangkapan ikan
tidak hanya dengan menggunakan alat tangkap tradisional tetapi juga relatif modern
seperti penggunaan alat tanngkap mini purse seine, dengan alat bantu rumpon.

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

24

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

Dari hasil wawancara dengan nelayan terungkap bahwa ada kecenderungan


ukuran ikan hasil tangkapan semakin kecil. Ini menunjukkan adanya tekanan eksploitasi
di wilayah pesisir dan laut.
Di daerah Kuandang beberapa kegiatan yang merusak wilayah pesisir dan laut
yang masih dilakukan oleh nelayan adalah pengambilan batu karang untuk untuk bahan
bangunan rumah. Selain itu kegiatan pengeboman dan pembiusan ikan masih sering
dilakukan oleh nelayan setempat dan nelayan dari luar Kuandang. Hal ini masih sering
dilakukan karena tidak adanya penegakan hukum terhadap para pelakunya.
Hasil wawancara dengan nelayan terungkap bahwa solusi terbaik untuk
mengatasi pengrusakan karang adalah dengan memberika bantuan berapa alat
penangkapan ikan seperti yang telah dijanjikan oleh proyek PEM. Alasan ini sangat
mengada-ada karena motivasinya hanya untuk mendapatkan bantuan, bukan untuk
penyelamatan lingkungan.
Peraturan-peraturan pemerintah mengenai penyelamatan lingkungan wailayah
pesisir dan laut, umumnya belum tersosialisasi dengan baik, walaupun beberapa aturan
tersebut telah ditempel di kantor Desa (seperti di Desa Dambalo).

Nampaknya

sosialisasi kepada masyarakat masih perlu ditingkatkan.


d. Atinggola
Dari sudut pengrusakan lingkungan wilayah pesisir dan laut daerah Atinggola
merupakan daerah yang mempunyai penggunaan alat tangkap yang banyak merusak
lingkungan.

Pengeboman dan pembiusan dilakukan secara sadar oleh sebagian

masyarakat.
Sosialisasi peraturan-peraturan mengenai pengelolaan dan pemanfaatan wilayah
pesisir dan laut tidak pernah dilakukan oleh pihak pemerintah. Dari hasil wawancara
dengan nelayan terungkap bahwa ada diantara mereka Tidak mau berhenti mengebom,
kalau tidak diberi bantuan PEMP.

e. Angrek
Pemanfaatan wilayah pesisir dan laut di perairan Anggrek khususnya perikanan
tangkap, didominasi oleh perikanan tradisional. Jenis-jenis jaring ikan dasar (Bottom gill
net monofilament) dan pancing merupakan alat tangkap yang dominan. Beberapa unit

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

25

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

alat tangkap bagan apung juga beroperasi di perairan ini.

Secara umum intensitas

penangkapan ikan masih rendah.


Kegiatan lain yang banyak digunakan oleh oleh masyarakat pesisir di wilayah
perairan Anggrek adalah aktivitas budidaya rumput laut. Aktivitas ini membawa dampak
positif terhadap persepsi mereka mengenai penggunaan bius. Mereka umumnya
mengetahui jika menggunakan bius akan berdampak negatif terhadap kualitas budidaya
rumput laut.
Penggunaan alat tangkap yang illegal dan dekstruktif tidak dilakukan oleh
masyarakat setempat. Namun demikian masyarakat sering mendengan letusan bom di
laut yang digunakan oleh nelayan yang berasal dari luar perairan Anggrek.

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

26

Kajian dan Evaluasi Ekosistem Wilayah Pesisir dan Laut tahun 2004

REKOMENDASI
Dari hasil monitoring lapangan di Wilayah pesisir provinsi Gorontalo dapat diusulkan
beberapa rekomendasi, sebagai berikut:

1. Perlu koordinasi dengan instansi terkait untuk menghentikan pengambilan


karang oleh masyarakat misalnya di daerah Popayatu yang selama ini banyak
digunakan sebagai pondasi rumah. Selanjutnya kondisi mangove yang baik di daerah
tersebut perlu dipelihara dan dipertahankan.
2. Kondisi pemanfaatan sumberdaya pesisir dalam bentuk perikanan tangkap
yang dilakukan oleh nelayan lokal di wilayah Selatan Perairan Gorontalo
dinilai masih menggunakan alat tangkap yang legal, namun beberapa nelayan
pendatang perlu di monitor baik keberadaanya maupun alat tangkap yang
digunakan mengingat banyak yang menggunakan destruktif fishing.
3. Perlu koordinasi dengan instansi terkait secara serius untuk menghindari
penggunaan alat destruktif fishing yang sering digunakan oleh nelayan lokal
di perairan Kuandang dan Atingola tangkap yang dilakukan secara sengaja
dengan menggunakan alasan ekonomi.
4. Perlu diantisipasi terjadinya konflik fishing ground antara nelayan Pajeko (purse
seine) dengan nelayan lokal yang dapat menimbulkan keresahan sosial masyarakat
nelayan.
5. Perlunya dilakukan penyuluhan dan monitoring secara rutin minimal sekali dalam 6
bulan untuk melihak perkembangan dinamika pemanfaatan sumberdaya wilayah
pesisir dan persepsi masyarakat
6. Perlu pengamatan dalam bentuk penelitian yang lebih intensif pada semua kawasan
pesisir dan laut agar masalah-masalah lingkungan yang mungkin terjadi di masa
yang akan datang dapat diantisipasi sedini mungkin.

Laporan Kegiatan: BALITBANGPEDALDA, Provinsi Gorontalo

27