Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Hukum

Analisis Yuridis Pengembangan Kawasan Budaya Terpadu terhadap Peraturan


Daerah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar
Oleh
Ari Sambara (B11106690)
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Abstrak
Hasil penelitian menemukan bahwa pengembangan kawasan budaya terpadu di Kota
Makassar mengambil kasus proyek Gowa Discovery Park (GDP) diketahui bermasalah karena
menggunakan kawasan budaya Benteng Somba Opu untuk dijadikan tempat hiburan dan
pariwisata yang bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar
Budaya dan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Kota Makassar.
Hal ini tercermin dari adanya posisi kasus, laporan investigasi dan analisa fakta untuk melihat
apakah terjadi pelanggaran atau sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kompilasi
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya bersesuaian dengan Peraturan
Daerah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar dalam rangka
pengembangan kawasan budaya terpadu. Keterkaitan dengan kasus Gowa Discovery Park (GDP)
telah sesuai dengan aspek yang menimbang bahwa untuk mengarahkan pembangunan di wilayah
Kota Makassar dengan memanfaatkan ruang wilayah secara serasi, selaras, seimbang, berdaya
guna, berhasil guna, berbudaya dan berkelanjutan, khusus dalam pengembangan kawasan
budidaya, kawasan hijau lindung, kawasan hijau binaan, kawasan ekonomi prospektif, kawasan
sistem pusat kegiatan, kawasan budaya terpadu, kawasan bisnis dan pariwisata, ruang terbuka
hijau, perbaikan dan pemeliharaan lingkungan, serta panduan pembangunan kawasan.
Kata Kunci : Kawasan Budaya, Rencana Tata Ruang Wilayah, Kota Makassar
A. Pendahuluan
Pengembangan kawasan merupakan salah satu upaya untuk memanfaatkan segala potensi
kawasan dalam menunjang kegiatan pengembangan. Potensi kawasan merupakan modal dasar
pengembangan suatu masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya. Keberadaan potensi
kawasan menjadi sarana yang menunjang dalam berbagai aktivitas pengembangan, baik dilihat

dari potensi infrastruktur, potensi alam, potensi penduduk dan potensi usaha penduduk serta
potensi kawasan budaya terpadu yang dapat dimanfaatkan dan digunakan untuk meningkatkan
hasil-hasil pengembangan dalam rangka keadilan dan pemerataan suatu daerah.
Suatu wilayah daerah yang maju dan berkembang sangat ditunjang oleh adanya potensi
kawasan. Wilayah daerah merupakan kondisi geografis dari suatu daerah yang memberikan
adanya berbagai peluang bagi suatu daerah untuk mengelola potensi-potensi kawasan dalam
suatu wilayah, dalam hal ini kawasan budaya terpadu.
Menurut Frinds (2006:39) menyatakan bahwa suatu pengembangan kawasan akan maju
dan berkembang bila daerah tersebut mengembangkan kawasan budaya terpadu. Di mana
kawasan ini merupakan suatu kawasan yang menjadi tujuan kunjungan, dan meningkatkan
potensi kawasan budaya terpadu untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui
pengelolaan potensi yang konstruktif.
Dimana Proyek Gowa Discovery Park yang ada dilokasi Benteng Somba Opu
menimbulkan dampak negativ terhadap forum Somba Opu beserta arkeolog,sejarawan yang
dimana pembangunan Proyek Gowa Discovery Park ini dilaporkan bahwa melanggar UndangUndang no.11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Menurut apa yang saya analisis bahwa
pembangunan di area Benteng Somba Opu berdasarkan Peraturan Daerah nomor 6 tahun 2006
tentang Rencana Tata Ruang Kota Makassar sangat berpengaruh terhadap pembangunan Kota
Makassar yang berbasis pada masyarakat.
Kegiatan usaha masyarakat juga termasuk potensi kawasan yang produktif di dalam
memberikan kontribusi terhadap kegiatan pengembangan dan hasil-hasilnya. Adanya sumber
mata pencaharian dan pekerjaan yang dimiliki oleh suatu masyarakat dalam suatu wilayah, akan
memberikan kontribusi besar bagi kegiatan pengembangan, khususnya pada sektor ekonomi
yang potensial dalam meningkatkan kemampuan suatu daerah untuk menjadi mandiri.
Memahami pentingnya pengembangan kawasan budaya terpadu yang perlu untuk
dikembangkan secara terpadu oleh Pemerintah Kota Makassar, maka diperlukan adanya
kebijakan pemerintah daerah berupa Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2006 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Kota Makassar.
Berdasarkan uraian tersebut di atas menjadi suatu rujukan yang konkrit bahwa setiap
kegiatan penataan ruang yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kota Makassar senantiasa
mengacu bahwa seluruh kehidupan rakyat, termasuk perekonomiannya untuk membangun

masyarakat yang adil dan makmur maka perlu ada tindakan pengaturan pengembangan kawasan
budaya terpadu yang sesuai dengan rencana tata ruang wilayah.
A.

Pengembangan Kawasan Budaya Terpadu di Kota Makassar


Pengembangan kawasan budaya terpadu di Kota Makassar merupakan salah satu upaya

untuk memanfaatkan segala potensi kawasan dalam menunjang kegiatan pengembangan. Potensi
kawasan juga termasuk dalam hal ini potensi infrastuktur yang dimiliki suatu daerah dan
merupakan suatu potensi yang mendukung aksesibilitas jalan pada kawasan budaya terpadu yang
mudah dikunjungi dan menjadi tujuan wisata dalam menunjang peningkatan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat. Misalanya ketersediaan aksesibilitas jalan yang memiliki konstruksi
yang kuat, panjang, dan lebar jalan yang memadai, memiliki drainase dan penerangan jalan yang
dapat menghubungkan berbagai alur jalan utama dan jalan alternatif.
Potensi kawasan yang dapat dikembankan berupa potensi partisipasi masyarakat, di mana
jumlah populasi dalam suatu wilayah daerah merupakan sumber segmen pasar yang potensial
untuk menjadi akses bagi suatu daerah di dalam memberikan peluang kepada penduduk untuk
berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan suatu daerah. Contoh, masyarakat di daearah
kawasan budaya terpadu melakukan pembangunan insfratruktur obyek wisata seperti rumah
makan yang tertata, tempat-tempat hiburan, penginapan dan sarana komunikasi untuk akses
informasi.

C. Pengembangan Kawasan Budaya Terpadu terhadap Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun


2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar

Kompilasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya bersesuaian


dengan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Makassar dalam rangka pengembangan kawasan budaya terpadu. Keterkaitan dengan kasus
Gowa Discovery Park (GDP) telah sesuai dengan aspek yang menimbang bahwa untuk
mengarahkan pembangunan di wilayah Kota Makassar dengan memanfaatkan ruang wilayah
secara serasi, selaras, seimbang, berdaya guna, berhasil guna, berbudaya dan berkelanjutan
dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan dan pertahanan
keamanan, perlu disusun Rencana Tata Ruang Wilayah. Dalam rangka mewujudkan keterpaduan
pembangunanantarsektor, Pemerintah Daerah dan masyarakat, maka RencanaTata Ruang
Wilayah merupakan arahan dalam pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu
yang dilaksanakan secara bersama oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, masyarakat, dan atau
dunia usaha.
Pelaksanaan proyek GDP tetap dilanjutkan karena sudah sesuai dengan ketentuan yang
berkaitan dengan rencana tata ruang, konstruk wilayah kota, rencana tata ruang wilayah, visi tata
ruang, misi tata ruang, kawasan lindung, kawasan budidaya, kawasan hijau lindung, kawasan
hijau binaan, kawasan tangkapan air, kawasan ekonomi prospektif, kawasan sistem pusat
kegiatan, kawasan terpadu, kawasan budaya terpadu, kawasan bisnsi dan pariwisata, ruang
terbuka hijau, perbaikan dan pemeliharaan lingkungan, serta panduan pembangunan kawasan.
Adapun yang dimaksud dengan uraian yang sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan
Daerah Nomor 6 Tahun 2006 Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar yang memperkuat
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yaitu bahwa Pemerintah Daerah
Kota Makassar dalam pelaksanaan GDP sudah sesuai dengan rencana tata ruang yang dimaksud
yaitu hasil perencanana tata ruang dengan konstruk wilayah kota yang mempunyai kegiatan

utama yang menyusun fungsi kawasan sebagai tempat pemusatan dan distribusi pelayanan jasa
sosial dan kegiatan ekonomi.
Rencana tata ruang wilayah merupakan hasil perencanaan tata ruang wilayah yang
memiliki visi untuk menggambarkan arah dan pengelolaan wilayah kota dan misi tata ruang
sebagai komitmen dan panduan arah bagi pembangunan dan pengelolaan wilayah sesuai dengan
visi pembangunan.
Pelaksanaan peraturan ini bersesuaian dengan kawasan lindung yang merupakan kawasan
yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup
sumber daya alam dan sumber daya buatan. Selain itu, kawasan budidaya juga menjadi perhatian
karena merupakan kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas
dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan.
Selanjutnya kawasan hijau lindung sebagai suatu kawasan yang memiliki karakteristik alamiah
yang perlu dilestarikan untuk tujuan perlindungan habitat setempat maupun untuk tujuan
perlindungan wilayah yang lebih luas.
Termasuk perlunya kawasan hijau binaan dan kawasan tangkapan air. Kawasan hijau
binaan sebagai bagian dari kawasan hijau di luar kawasan hijau lindung untuk tujuan
penghijauan yang dibina melalui penanaman, pengembangan, pemeliharaan maupun pemulihan
vegetasi yang diperlukan dan didukung fasilitasnya yang diperlukan baik untuk sarana ekologis
maupun sarana sosial kota yang didukung oleh fasilitas sesuai keperluan untuk penghijauan.
Sementara kawasan tangkapan air adalah kawasan atau areal yang mempunyai pengaruh secara
alamiah, atau binaan terhadap keberlangsungan badan air.
Untuk mempertahankan kawasan tersebut lebih maju, maka dikembangkan kawasan
ekonomi prospektif, kawasan sistem pusat kegiatan, kawasan terpadu, kawasan budaya terpadu,

kawasan bisnis dan pariwisata, ruang terbuka hijau, perbaikan dan pemeliharaan lingkungan,
serta panduan pembangunan kawasan. Kawasan ekonomi prospektif sebagai kawasan yang
mempunyai nilai strategis bagi pengembangan ekonomi kota. Kawasan sistem pusat kegiatan
diarahkan bagi pemusatan berbagai kegiatan campuran maupun yang spesifik, memiliki fungsi
strategis dalam menarik berbagai kegiatan pemerintahan, sosial, ekonomi dan budaya serta
kegiatan pelayanan kota menurut hirarki terdiri dari sistem pusat kegiatan utama yang berskala
kota, regional, nasional dan internasional dan sistem pusat penunjang yang berskala lokal.
Kawasan terpadu sebagai kawasan yang memiliki fungsi lebih dari satu, terdiri atas
fungsi utama dan penunjang, yang saling terkait dan bersinergi serta saling mempengaruhi dan
mendukung dalam satu sistem. Kawasan budaya terpadu diarahkan dan diperuntukkan sebagai
kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan budaya yang dilengkapi
dengan kegiatan penunjang yang lengkap dan saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang
solid. Kawasan bisnis dan pariwisata diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan
pengembangan kegiatan bisnis dan pariwisata yang dilengkapi dengan kegiatan penunjang yang
lengkap yang sling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid.
Pelaksanaan proyek ini juga memperhatikan pentingnya keberadaan ruang terbuka hijau
sebagai kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk
fungsi perlindungan habitat tertentu, dan atau sarana Kota/lingkungan, dan atau pengaman
jaringan prasarana, dan atau budidaya pertanian. Hal ini sebagai bentuk perbaikan dan
pemeliharaan lingkungan. Perbaikan lingkungan merupakan pola pengembangan kawasan
dengan tujuan untuk memperbaiki struktur lingkungan yang telah ada, dan dimungkinkan
melakukan pembongkaran terbatas guna penyempurnaan pola fisik prasarana yang telah ada.
Sedangkan pemeliharaan lingkungan adalah pola pengembangan kawasan dengan tujuan untuk

mempertahankan kualitas suatu lingkungan yang sudah baik agar tidak mengalami penurunan
kualitas lingkungan.
Hal ini sesuai dengan panduan pembangunan kawasan yaitu panduan bagi pembangunan
kawasan sebagai implementasi dari hasil panduan rancang kota dan memuat ketentuan-ketentuan
yang mengatur mengenai komposisi peruntukan-peruntukan, intensitas pemanfaatan ruang,
tahapan dan tata cara pembangunan, pembiayaan pembangunan, dan pengaturan mengenai
keseimbangan antara manfaat ruang yang diperoleh para pihak yang terkait dengan kewajiban
penyediaan prasarana, fasilitas umum, fasilitas sosial, utilitas umum, dan sarana lingkungan,
serta sistem pengelolaan kawasan yang akan dibangun.
Strategi pengembangan kawasan budaya terpadu dalam melihat pengembangan proyek
GDP yang dilanjutkan karena telah sesuai dengan penetapan kawasan sekitar Benteng Somba
Opu sebagai kawasan konservasi budaya dan sejarah dan menjadi pusat budaya Sulawesi Selatan
yang di tata secara terpadu. Mengembangkan dengan cara menyusun kembali Masterplan
Kawasan Taman Miniatur Sulawesi (TMS) menjadi Kawasan Somba Opu yang lebih terpadu dan
bernilai produktivitas ekonomi tinggi, yang mana selama ini cenderung menunjukkan keadaan
lingkungan yang tidak terurus dan terdegradasi berat secara fisik yang disebabkan oleh besarnya
beban biaya pemeliharaan. Mengalihkan orientasi pintu utama ke arah barat melewati pinggir
danau dan membuka pintu utama yang baru dari arah Selatan melalui pinggir Sungai Jeneberang,
serta mengembangkan kawasan ini menjadi Pusat Hijau Binaan dengan tingkat tutupan hijau
(green cover) minimum 60% (enam puluh persen), mengembangkan sentra-sentra bisnis
berwawasan budaya, kegiatan wisata air, kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exibition
(MICE) dan kegiatan hotel serta restoran sebagai kegiatan pendukung dan pelengkap fungsi
utama kawasan.

Pengembangan kawasan budaya terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan


seluas 28,33 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
a. Mengarahkan

pengembangan

wilayah

bagian

Selatan

Kota

di

sub

kawasan

pengembangan kawasan taman miniatur sulawesi dengan pola pengembangan


multifungsi yang tetap terintegrasi baik secara bentuk dan ruang sesuai dengan atmosfir
ruang budaya yang ingin dicapai;
b. Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang tetap terintegrasi dengan rencana
pengendalian dan revitalisasi Sungai Balang Beru dan Jeneberang secara terpadu;
c. Melestarikan dan menata fungsi-fungsi kawasan/bangunan bersejarah untuk mendukung
kegiatan perdagangan, jasa, dan pariwisata dengan pengaturan dan penataan lalulintas
beserta pedestrian yang lebih nyaman;
d. Mengembangkan sentra primer baru selatan kota, dengan penempatan sektor budaya
sebagai warna dari atmosfir pengembangan kawasan.
Pemerintah daerah menyadari bahwa apabila terjadi pelanggaran diluar ketentuan
peraturan daerah tersebut atas pelaksanaan proyek GDP, akan dikenakan sanksi sesuai dengan
peraturan yang berlaku. Sanksi tersebut tercantum dalam Pasal 91 Peraturan Daerah Nomor 6
Tahun 2006 yang menyatakan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam Peraturan
Daerah ini dapat dikenakan sanksi berupa sanksi administrasi, sanksi perdata dan sanksi pidana.
Pelanggaran terhadap Peraturan Daerah ini diancam dengan pidana kurungan selamalamanya 6 (enam) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) dengan atau tidak merampas barang tertentu untuk daerah, kecuali jika ditentukan lain
dalam peraturan perundangundangan. Selain sanksi sebagaimana dimaksud, dapat dikenakan
biaya paksaan penegakan hukum seluruhnya atau sebagian. WaliKota menetapkan cara
pelaksanaan dan besarnya biaya paksaan penegakan hukum.
Namun hal tersebut tidak terlepas dari adanya kegiatan penyidikan terlebih dahulu, di
mana Pejabat Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus
sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran Peraturan Daerah ini.
Wewenang Penyidik adalah :

a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan


dengan pelanggaran pidana dalam Peraturan Daerah ini, agar keterangan atau laporan
tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;
b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai Orang Pribadi atau Badan
tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan adanya pelanggaran;
c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari Orang Pribadi atau Badan sehubungan dengan
pelanggaran;
d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan
adanya tindakan pelanggaran;
e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dan
dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;
f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan terhadap
pelanggaran.
Setiap permasalahan yang terjadi di masyarakat, di dalamnya terdapat berbagai analisis
hukum, yang dapat dipahami dan diketahui faktor penyebab dari suatu masyarakat untuk
mentaati hukum dan melanggar aturan hukum. Faktor hukum sangat ditentukan oleh substansi
hukum, struktur kelembagaan, budaya kearifan lokal, sarana/prasarana dan pengetahuan
masyarakat.
D. Penutup
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, disimpulkan sebagai berikut:
1. Pengembangan kawasan budaya terpadu di Kota Makassar mengambil kasus proyek
Gowa Discovery Park (GDP) diketahui bermasalah karena menggunakan kawasan
budaya Benteng Somba Opu untuk dijadikan tempat hiburan dan pariwisata yang
bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan
Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Kota Makassar.
Analisa fakta menunjukkan pembangunan Gowa Discovery Park tetap dilanjutkan sesuai
dengan zonasi, ada beberapa proyek yang harus dipindah. Salah satunya pembangunan
area water boom yang semula berada tepat di dekat benteng dilakukan penggeseran
sesuai dengan Undang-Undang Pelestarian Benda Purbakala 2010, zonasi benteng dibagi
empat, yakni inti, penyangga, pengembangan, dan penunjang.

2. Kompilasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya bersesuaian


dengan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Kota Makassar dalam rangka pengembangan kawasan budaya terpadu. Keterkaitan
dengan kasus Gowa Discovery Park (GDP) telah sesuai dengan aspek yang menimbang
bahwa untuk mengarahkan pembangunan di wilayah Kota Makassar dengan
memanfaatkan ruang wilayah secara serasi, selaras, seimbang, berdaya guna, berhasil
guna, berbudaya dan berkelanjutan, khusus dalam pengembangan kawasan budidaya,
kawasan hijau lindung, kawasan hijau binaan, kawasan ekonomi prospektif, kawasan
sistem pusat kegiatan, kawasan budaya terpadu, kawasan bisnis dan pariwisata, ruang
terbuka hijau, perbaikan dan pemeliharaan lingkungan, serta panduan pembangunan
kawasan.