Anda di halaman 1dari 7

A.

Pengertian Supervisi
Banyak ahli menggunakan tentang pengertian supervisi,
mulai dan pengertian yang sangat luas sampai pada defisini
supervisi yang lebih khusus. Supervisi dalam arti yang luas
memiliki dimensi yang beragam. Admosudiro (1982) dalam
Cahyati (2000) mendefinisikan supervisi sebagai suatu
pengamatan atau pengawasan secara langsung terhadap
pelaksanaan atau pengawasan secara langsung terhadap
pelaksanaan pekerjaan yang bersifat rutin. Swansburg (1990)
melihat dimensi supervisi sebagai suatu proses kemudahan
sumber-sumber yang diperlukan untuk penyelesaian suatu
tugas. Sementara Knon dan Gray (1987) mengartikan supervisi
sebagai
kegiatan
yang
merencanakan,
mengarahkan,
membimbing,
mengajar,
mengobservasi,
mendorong,
memperbaiki,
mempercayai
dan
mengevaluasi
secara
berkesinambungan anggota secara menyeluruh sesuai dengan
kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki anggota. Dalam arti
khusus supervisi dikaitkan dengan suatu disiplin ilmu tertentu
dalam hal ini adalah keperawatan. McFarland, Leonard, dan
Morris (1984) mengaitkan supervisi dalam konteks keperawatan
sebagai suatu proses kegiatan pemberian dukungan sumbersumber (resources) yang dibutuhkan perawat dalam rangka
menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat diambil suatu
kesimpulan bahwa supervisi merupakan suatu kegiatan yang
mengandung dua dimensi pelaku, yaitu pimpinan dan anggota
atau orang yang disupervisi. Kedua dimensi pelaku tersebut
walaupun secara administrative berbeda level dan perannya,
namun dalam pelaksanaan kegiatan supervisi keduanya
memiliki andil yang sama-sama penting. Pemimpin mampu
melakukan pengawasan sekaligus menilai seluruh kegiatan yang
telah direncanakan bersama, dan anggota mampu menjalankan
tugas-tugas yang menjadi tanggungjawab dengan sebaikbaiknya. Jadi, dalam kegiatan supervisi semua orang yang
terlibat bukan sebagai pelaksana pasif, namun secara bersama

sebagai mitra kerja yang memiliki ide-ide, pendapat, dan


pengalaman yang perlu didengar.
B. Prinsip Supervisi Keperawatan
Agar seorang manajer keperawatan mampu melakukan
kegiatan supervisi secara benar, ia harus mengetahui dasar dan
prinsip-prinsip supervisi. Prinsip tersebut harus memenuhi
syarat, antara lain disasarkan atas hubungan professional dan
bukan hubungan pribadi, kegiatan yang harus direncanakan
secara matang, bersifat edukatif, memberikan perasaan aman
pada perawat pelaksana, dan harus mampu membentuk
suasana kerja yang demokratis. Prinsip lain yang harius dipenuhi
dalam kegiatan supervisi adalah harus dilakukan secara objektif
dan mampu memacu terjadinya penilaian diri ( self evaluation),
bersifat
progresif,
inovatif,
progresif,
fleksibel
dapat
mengembangkan potensi atau kelebihan masing-masing orang
yang terlibat, bersifat konstruktif dan kreatif dalam
mengembangkan diri disesuaikan dengan kebituhan dan
supervisi harus dapat meningkatkan kinerja bawahan dalam
upaya meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.
Supervisi akan senantiasa
bersinggungan
dengan
hubungan interpersonal antara orang-orang yang terlibat.
Dalam konteks ini, pimpinan atau manajer keperawatan harus
mampu menempatkan dirinya secara proporsional dan
professional. Hubungan yang lebih kearah pribadi biasanya akan
memberikan dampak yang kurang baik seperti hanya akan
berhubungan dengan orang-orang tertentu, pengambilan
keputusan yang tidak tepat dan kadang dapat memunculkan
perasaan ewuh pakewuh pimpinan terhadap anggotanya.
Pimpinan kadang sulit untuk mengatakan tidak pada kondisi
yang memang seharusnya berkata tidak. Pada kondisi yang
sangat kritis sering terjadi kegagalan pencapaian tujuan
sebagaimana yang telah disepakati bersama orang-orang yang
terlibat.
Pada kondisi demikian, keterampilan komunikasi menjadi
faktor yang sangat menentukan. Dengan keterampilan
komunikasi yang baik, akan tercipta kesepahaman bukan

kesalahpahaman sehingga proses demokratisasi supervisi pun


juga akan dengan mudah tercapai.
C. Kompetisi yang Dimiliki Supervisor
Tidak mudah menjadi seorang supervisor yang baik. Oleh
karena itu, supervisor harus memiliki sejumlah kompetensi yang
sesuai. Kompetensi pertama yang harus dikuasai supervisor
keperawatan adalah kemampuan memberikan pengarahan dan
petunjuk yang jelas sehingga dapat dimengerti oleh staf dan
pelaksana keperawatan. Tidak setiap pimpinan mampu
memberikan pengarahan dan petunjuk yang baik. Pada satu
kesempatan mungkin mampu memberikan pengarahan dengan
baik, namun gagal memberikan petunjuk secara jelas, atau
sebaliknya, disuatu kesempatan mampu mengidentifikasi
petunjuk yang baik, namun kesulitan dalam memberikan
pengarahan yang dibutuhkan oleh staf dan pelaksana
keperawatan.
Kompetensi kedua adalah bahwa supervisor harus mampu
memberikan saran, nasihat, dan bantuan yang benar-benar
dibutuhkan oleh staf dan pelaksana keperawatan. Pemberian
saran kadang terkesan menggurui bagi sebagian orang,
terutama bila yang memberikan saran usianya lebih muda atau
pimpinan yang relatif baru berada di lingkungannya. Oleh
karena itu, supervisor harus betul-betul mampu melakukan
pendekatan yang asertif terhadap seluruh anggotanya. Pada
kondisi ini, supervisor dapat menfaatkan kesenioran anggotanya
untuk ikut berpartisipasi dalam pemberian saran atau balakan
kritik tidak hanya bagi seluruh anggota, namun juga bagi
supervisor ini sendiri. Pemilihan waktu yang tepat dalam
pemberian
saran,
nasehat
dan
bantuan
juga
perlu
dipertimbangkan oleh supervisor.
Kompetensi ketiga adalah kemampuan dalam memberikan
motivasi untuk meningkatkan semangat kerja staf dan
pelaksana keperawatan. Beberapa pertanyaan perlu dijawab
oleh seorang supervisor, antara lain kapan waktu yang tepat
untuk memotivasi bawahan dan dengan cara apa motivasi
dilakukan. Pemberian motivasi pada saat bawahan mengalami
stagnasi pekerjaan atau stres mungkin akan lenih sulit

dibandingkan pada saat bawahan sedang giat melakukan suatu


tugas. Demikian juga pemberian motivasi melalui pemberian
sesuatu yang terlihat dan terasakan langsung mungkin lebih
midah dibandingkan dengan motivasi akan dirasakan dalam
waktu yang relatif lama.
Kompetensi keempat adalah kemampuan memberikan
latihan dan bimbingan yang diperlukan oleh staf dan pelaksana
keperawatan. Pada banyak keadaan, seorang supervisor tidak
mampu mengambil hati staf dan pelaksana keperawatan
hanya karena pada saat berlangsungnya kegiatan supervisi, dia
tidak mampu memperagakan kemampuan untuk memberikan
latihan dan bimbingan secara benar. Pimpinan yang berkonotasi
kearah kemampuan manajerial tidak seharusnya melupakan
kemampuan praktis yang suatu saat ditanyakan oleh
bawahannya. Bagaimana mungkin seorang supervisor mampu
mengidentifikasi bahwa tindakan yang dilakukan bawahannya
kurang tepat, jika ia sendiri tidak tahu tentang prinsip dasar dan
tindakan tersebut dilakukan.
Kompetensi kelima bersingguangan dengan kemampuan
dalam melakukan penilaian objektif dan benar terhadap kinerja
keperawatan. Beberapa faktor kadang dapat mempengaruhi
dalam pemberian penilaian secara objektif. Misalnya, hubungan
yang terlalu dekat dengan bawahan tidak lagi hubungan
profesional, namun lebih ke arah hubungan pribadi. Kondisi ini
dapat memunculkan efek halo (hallo efffect) karena supervisor
tidak tega memberi nilai kurang pada seorang bawahan hanya
karena ia teman dekatnya. Untuk itu, disanping supervisor harus
mampu mengeliminasi perasaan pakewuh tersebut, ia harus
juga mampu membuat standar penilaian yang digunakan untuk
penilaian kinerja perawat.
D. Tehnik Supervisi
Cara melakukan supervisi dapat dilakukan secara
langsung maupun tidak langsung. Supervisi cara langsung
dilakukan pada kegiatan yang sedang berlangsung. Pada
supervisi kontemporer, seorang supervisor dapat terlibat
kegiatan secara langsung agar proses pengarahan dan
pemberian petunjuk tidak dirasakan suatu perintah. Pada

kondisi ini, umpan balik dan perbaikan dapat sekaligus dilakukan


tanpa bawahan merasakan sebagai suatu beban. Proses
supervisi langsung, dapat dilakukan dengan cara perawat
melakukan secara mandiri suatu tindakan keperawatan
didampingi supervisor. Selama sprose supervisi, supervisor
dapat memberikan dukungan, reinforcement, dan petunjuk,
kemudian supervisor dan perawat pelaksana melakukan diskusi
untuk menguatkan yang telah sesuai dengan apa yang
direncanakan dan memperbaiki segala sesuatunya yang
dianggap masih kurang. Agar pengarahan, petunjuk, dan
reinfircement efektif maka harus memenuhi syarat-syarat
tertentu, seperti pengarahan harus lengkap tidak terputus dan
bersifat partial, mudah dipahami, menggunakan kata-kata yang
tepat, mengguankan alur yang logis, dan jangan terlalu
kompleks.
Supervisi juga dapat dilakukan secara tidak langsung. Cara
ini biasanya dilakukan melalui laporan baik tertulis maupun
lisan. Cara tidak langsung ini memungkinkan terjadinya salah
pengertian
(misunderstanding)
dan
salah
persepsi
(misperpection) karena supervisor tidak melihat secara langsung
kegiatan-kegiatan yang dilakukan.
E. Supervisi Individu
Supervisi individu
paling banyak dilaksanakan dalam
praktik keperawatan. Supervisi dilakukan secara reguler dalam
praktik keperawatan dan terjadwal berdasarkan topik-topik yang
sudah disepakati pleh supervisor dan supervisee. Supervisi
individual dilaksanakan pada individu perawat, terutama mereka
yang memiliki sifat introvert agar lebih senang berinteraksi,
mendapat bimbingan dan dukungan face to face daripada
berkelompok. Individu tersebut tidak hanya merasa sangat
nyaman ketika berkomunikasi dengan supervisornya (kepada
unit/kepala
ruangan/ketua
tim),
tetapi
juga
dapat
menghilangkan perasaan tidak mampu di hadapan staf lainnya
yang lebih vokal dan pintar. Pelaksanaan supervisi individu akan
lebih kondusif dalam meningkatkan hubungan apabila
didasarkan keterbukaan, sikap saling memahami, dan percaya.

Selain dilaksanakan secara reguler, kegiatan supervisi individu


dapat pula dilaksanakan sewaktu-waktu apabila :
a. Individu perawat inginn lebih meluangkan waktu untuk
melakukan refleksi dan eksplorasi diri berkaitan dengan
kemampuan praktik keperawatannya.
b. Individu perawat pernh mengalami konflik hampir dengan
semua anggota tim sehingga perlu menjalani supervisi untuk
meningkatkan pemahaman individu tersebut mengapa
konflik terjadi dan memecahkan masalah serta menyusun
strategi koping.
c. Individu perawat ingin menggali dan mencari contoh praktik
keperawatan atau implementasi tindakan keperawatan yang
tepat dan baik bagi pasiennya serta meningkatkan
pemahaman tentang contoh-contoh tersebut agar bisa
dilaksanakan.
d. Individu perawat mengalami kesulitan dalam memberikan
asuhan keperawatan kepada pasien dengan kondisi tertentu
atau memiliki tingkat kesulitan adn risiko yang tinggi.
Individu tersebut umumnya memelukan supervisi untuk
mencari rasional atas tindakan keperawatan tertentu dan
mengatasi tantangan yang dijumpai dari pasien khusus
tersebut secara lebih efektif.
F. Supervisi Kelompok
Tujuan
supervisi
kelompok
adalah
memberikan
kesempatan pada supervisee untuk mempelajari keterampilan
yang diperlukan dalam kelompok dan berbagi pengalaman serta
dukungan dari anggota tim dalam memberikan asuhan
kjeperawatan yang lebih kompleks. Supervisi kelompok
terutama difokuskan untuk mengevaluasi fungsi tim (bagaimana
anggota kelompok bekerja sama menggali berbagai hambatan
serta kekuatan tim dalam mnyelesaikan tugas pada sif pagisore-malam). Kelebihan interaksi dalam supervisi kelompok
antara lain :
a. Memberikan kesempatan belajar dari hasil interaksi antara
pasien dan supervisor dalam mengembangkan kapasitas
kemampuan supervisee.
b. Supervisee dapat mempresentasikan pengalaman dan
pengetahuannya serta mengintegrasikan ilmu keperawatan

c.

d.
e.
f.
g.
h.
i.

a.
b.
c.
d.
e.

f.

terbaru kepada anggota tim perawat lainnya selama


memberikan asuhan keperawatan kepada pasien (mengatasi
masalah pasien dan modifikasi atau improvisasi yang
dilakukan).
Memberikan kesempatan refleksi dan diskusi. Proses kognitif
dalam supervisi paling jelas dirasakan pada saat refleksi
(berpikir kembali tentang pengalaman yang didapatkan untuk
dinilai dan dipahami lebih dalam ). Proses refleksi sangat
berkaitan dengan pertumbuhan profesionalitas perawat
dalam penerapan ilmu [engetahuan keperawatan terkini pada
praktik keperawatan. Anggota kelompok mendengarkan
refleksi dari hasil kerja anggota kelompok lainnya dan
mendiskusikannya secara bersama-sama.
Mengevaluasi kesenjangan dan hubungan anara teori dan
praktik.
Membantu mempelajari dinamika kelompok.
Memberikan kesempatan untuk menerapkan perilaku baru
dalam praktik keperawatan.
Mengembangkan evaluasi diri yang lebih akurat.
Menjaga kekohesifan kelompok dan memberikan pengalaman
yang lebih berharga.
Lebih mudah dilaksanakan di unit perawatan yang memiliki
beban kinerja tinggi.
Beberapa hal yang menyebabkan supervisi kelompok tidak
efektif antara lain :
Supervisi kelompok berubah jadi supervisi individu.
Supervisor tidak memberikan umpan balik.
Supervisor merasa terlalu banyak dikritik.
Komunikasi kurang terbuka.
Supervisor berbagi konflik personal dengan staf, pandanganpandangan negatif, dan keputusasaan dalam memberikan
layanan keperawatan.
Terjadi konflik dalam anggota tim yangb sedang disupervisi.