Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sering dijumpai pada sebuah industri terjadi kelelahan kerja. Kelelahan kerja tersebut
disebabkan oleh faktor dari pekerja sendiri atau dari pihak menajemen perusahaan.
Kelelahan yang disebabkan oleh pihak pekerja sendiri, karena pekerja tidak mengatur
dengan benar posisi tubuh mereka saat sedang melakukan aktivitas kerja. Sedangkan
faktor penyebab yang ditimbulkan dari pihak manajemen, biasanya tidak adanya alat-alat
keselamatan kerja atau bahkan cara kerja yang dibuat oleh pihak manajemen masih
belum mempertimbangkan segi ergonominya. Misalnya pekerjaan mengangkat benda
kerja di atas 50 Kg tanpa menggunakan alat bantu. Kondisi ini bisa menimbulkan
kelelahan dan bahkan cidera pada pekerja. Untuk menghindari hal tersebut, pertamatama yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi resiko yang bisa terjadi akibat cara
kerja yang salah dan juga mengurangi resiko kelelahan kerja yang berlebihan. Setelah
jenis pekerjaan tersebut diidentifikasi, maka langkah selanjutnya adalah menghilangkan
cara kerja yang bisa mengakibatkan kelelahan berlebih dan cidera.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kelelahan kerja?
2. Bagaimana konsep kelelahan kerja?
3. Apa saja jenis jenis dari kelelahan kerja?
4. Bagaimana mekanisme kelelahan kerja?
5. Faktor apa saja yang menyebabkan kelelahan kerja?
6. Gejala-gejala apa saja yang dapat menimbulkan kelelahan kerja?
7. Apa saja akibat dari kelelahan kerja?
8. Bagaimana penanggulangan kelelahan kerja?
9. Bagaimana pengukuran kelelahan kerja?
10. Bagaimana kasus kelelahan kerja di tempat kerja?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi kelelahan kerja.
2. Untuk mengetahui konsep kelelahan kerja.
3. Untuk mengetahui jenis-jenis dari kelelahan kerja.
4. Untuk mengetahui mekanisme kelelahan kerja.
5. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kelelahan kerja.
6. Untuk mengetahui gejala-gejala yang dapat meni,bulkan kelelahan kerja.
7. Untuk mengetahui akibat dari kelelahan kerja.
8. Untuk mengetahui penanggulangan dari kelelahan kerja.
9. Untuk mengetahui pengukuran kelelahan kerja.
10. Untuk mengetahui kasus kelelahan kerja di tempat kerja.
1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Kelelahan Kerja
Kelelahan bagi setiap orang memiliki arti tersendiri dan bersifat subyektif. Lelah
adalah aneka keadaan yang disertai penurunan efisiensi dan ketahanan dalam bekerja.
Kelelahan merupakan mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh menghindari kerusakan
lebih lanjut, sehingga dengan demikian terjadilah pemulihan (Sumamur, 1996).
2

Kelelahan menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu, tetapi


semuanya bermuara pada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta ketahanan
tubuh (Tarwaka, 2004). Kelelahan adalah aneka keadaan yang disertai penurunan efisiensi
dan ketahanan dalam bekerja (Sumamur, 1989). Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja
dan menambah tingkat kesalahan kerja (Eko Nurmianto, 2003).
Menurut Cameron kelelahan kerja merupakan kriteria yang kompleks yang tidak
hanya menyangkut kelelahan fisiologis dan psikologis tetapi dominan hubungannya dengan
penurunan kinerja fisik, adanya perasaan lelah, penurunan motivasi dan penurunan
produktivitas kerja. Selain itu, kelelahan kerja (job bournout) adalah sejenis stress yang
banyak dialami oleh orang-orang yang bekerja dalam pekerjaan-pekerjaan pelayanan
terhadap manusia lainnya seperti perawat kesehatan, transportasi, kepolisian, dan sebagainya.
(Schuler, 1999).
Menurut Mc Farland kelelahan kerja merupakan suatu kelompok gejala yang
berhubungan dengan adanya penurunan efisiensi kerja, keterampilan serta peningkatan
kecemasan atau kebosanan. Kelelahan kerja sendiri biasanya ditandai oleh adanya perasaan
lelah, output menurun, dan kondisi fisiologis yang dihasilkan dari aktivitas terus-menerus.
(Anastesi, 1993). Kelelahan akibat kerja sering kali diartikan sebagai menurunnya efisiensi,
performans kerja dan berkurangnya kekuatan / ketahanan fisik tubuh untuk terus melanjutkan
yang harus dilakukan (Wignjosoebroto, 2000).
2.2 Konsep Kelelahan Kerja
Kontraksi otot rangka yang lama dan kuat, dimana proses metabolisme tidak mampu
lagi meneruskan supply energi yang dibutuhkan serta membuang sisa metabolisme,
khususnya asam laktat. Jika asam laktat yang banyak dari persediaan ATP terkumpul, otot
akan kehilangan kemampuannya. Terbatasnya aliran darah pada otot ketika berkontraksi, otot
menekan pembuluh darah dan membawa oksigen sehingga menyebabkan terjadinya
kelelahan (Gempur Santoso, 2004).
Konsep kelelahan dewasa ini, sudah dilakukan percobaan-percobaan yang luas
terhadap manusia dan hewan, menyatakan bahwa keadaan dan perasaan kelelahan adalah
reaksi fungsional dari pusat kesadaran yaitu cortex cerebri, yang dipengaruhi oleh 2 sistem
antagonistik, yaitu sistem menghambat (inhibisi) dan sistem penggerak (aktivasi). Sistem
penghambat terdapat pada thalamus yang mampu menurunkan kemampuan manusia bereaksi
dan menyebabkan kecenderungan untuk mengantuk. Adapun sistem penggerak terdapat
3

dalam formation retikularis yang dapat merangsang pusat-pusat vegetatif untuk konversi
ergotropis dari peralatan dalam tubuh kearah bekerja, berkelahi, melarikan diri dan lain-lain
(Depkes RI, 2003 ).
Maka keadaan seseorang pada suatu saat sangat tergantung kepada hasil kerja
diantara 2 sistem antagonis dimaksud. Apabila sistem penghambat lebih kuat seseorang
dalam keadaan kelelahan. Sebaliknya manakala sistem aktivitas lebih kuat maka seseorang
dalam keadaan segar untuk bekerja (Depkes RI, 2003 ).
2.3 Jenis Kelelahan Kerja
Kelelahan kerja berakibat pada pengurangan kapasitas kerja dan ketahanan tubuh
(Sumamur, 1996). Kelelahan kerja dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:
1. Berdasarkan Proses Dalam Otot
Terdapat dua jenis kelelahan, yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum (AM
Sugeng Budiono, 2003).
a. Kelelahan Otot (Muscular Fatigue)
Fenomena berkurangnya kinerja otot setelah terjadinya tekanan melalui fisik
untuk suatu waktu disebut kelelahan otot secara fisiologi, dan gejala yang ditunjukan
tidak hanya berupa berkurangnya tekanan fisik, namun juga pada makin rendahnya
gerakan. Pada akhirnya kelelahan fisik ini dapat menyebabkan sejumlah hal yang
kurang menguntungkan seperti: melemahnya kemampuan tenaga kerja dalam
melakukan pekerjaannya dan meningkatnya kesalahan dalam melakukan kegiatan
kerja, sehingga dapat mempengaruhi produktivitas kerjanya. Gejala kelelahan otot
dapat terlihat pada gejala yang tampak dari luar atau external signs (AM Sugeng
Budiono,2003).
Sampai saat ini masih berlaku dua teori tentang kelelahan otot yaitu teori
kimia dan teori saraf pusat terjadinya kelelahan. Pada teori kimia secara umum
menjelaskan bahwa terjadinya kelelahan adalah akibat berkurangnya cadangan energi
dan meningkatnya sisa metabolisme sebagai penyebab hilangnya efisiensi otot.
Sedangkan perubahan arus listrik pada otot dan saraf adalah penyebab sekunder.
Sedangkan pada teori saraf pusat menjelaskan bahwa perubahan kimia hanya
merupakan penunjang proses. Perubahan kimia yang terjadi mengakibatkan
dihantarkannya rangsangan saraf melalui saraf sensoris ke otak yang disadari sebagai
kelelahan otot. Rangsangan aferen ini menghambat pusat-pusat otak dalam
4

mengendalikan gerakan sehingga frekuensi potensial kegiatan pada sel saraf menjadi
berkurang. Berkurangnya frekuensi tersebut akan menurunkan kekuatan dan
kecepatan kontraksi otot dan gerakan atas perintah kemauan menjadi lambat. Dengan
demikian semakin lambat gerakan seseorang akan menunjukkan semakin lelah
kondisi otot seseorang (Tarwaka, 2004).
b. Kelelahan Umum (General Fatigue)
Gejala utama kelelahan umum adalah suatu perasaan letih yang luar biasa.
Semua aktivitas menjadi terganggu dan terhambat karena munculnya gejala kelelahan
tersebut. Tidak adanya gairah untuk bekerja baik secara fisik maupun psikis,
segalanya terasa berat dan merasa ngantuk (AM Sugeng Budiono, 2003).
Kelelahan umum biasanya ditandai berkurangnya kemauan untuk bekerja yang
disebabkan oleh karena monotoni, intensitas dan lamanya kerja fisik, keadaan
dirumah, sebab- sebab mental, status kesehatan dan keadaan gizi (Tarwaka, 2004).

2. Berdasarkan Penyebab Kelelahan


Menutut Kalimo dibedakan atas kelelahan fisiologis, yaitu kelelahan yang
disebabkan oleh faktor lingkungan (fisik) ditempat kerja, antara lain: kebisingan, suhu
dan kelelahan psikologis yang disebabkan oleh faktor psikologis (konflik-konflik
mental), monotoni pekerjaan, bekerja karena terpaksa, pekerjaan yang bertumpuktumpuk (Ambar, 2006). Menurut Phoon disebabkan oleh kelelahan fisik yaitu kelelahan
karena kerja fisik, kerja patologis ditandai dengan menurunnya kerja, rasa lelah dan ada
hubungannya dengan faktor psikososial (Ambar, 2006).

3. Berdasarkan Waktu Terjadinya


a. Kelelahan akut, terutama disebabkan oleh kerja suatu organ atau seluruh tubuh
secara berlebihan.
b. Kelelahan kronis, menurut Grandjean dan Kogi (1972) terjadi bila kelelahan
berlangsung setiap hari, berkepanjangan dan bahkan kadang-kadang telah terjadi
sebelum memulai suatu pekerjaan.
2.4 Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Kelelahan Kerja

Timbulnya rasa lelah dalam diri manusia merupakan proses yang terakumulasi dari
berbagai faktor penyebab yang mendatangkan ketegangan (stress) yang dialami oleh tubuh
manusia (Wignjosoebroto,2000). Green (1992) dan Sumamur (1994) dari proceeding
mengemukakan faktor yang mempengaruhi kelelahan ada dua yaitu :
a. Faktor Internal antara lain : faktor somatis atau faktor fisik, gizi, jenis kelamin, usia,
pengetahuan dan sikap atau gaya hidup.
b. Faktor Eksternal adalah keadaan fisik lingkungan kerja (kebisingan, suhu,
pencahayaan, faktor kimia (zat beracun), faktor biologis (bakteri, jamur), faktor
ergonomi, kategori pekerjaan, sifat pekerjaan, disiplin atau peraturan perusahaan,
upah, hubungan sosial dan posisi kerja atau kedudukan.
Menurut Grandjean (1988) faktor penyebab kelelahan kerja berkaitan dengan: sifat
pekerjaan yang monoton (kurang bervariasi), intensitas lamanya pembeban fisik dan mental.
Lingkungan kerja misalnya kebisingan, pencahayaan & cuaca kerja. Faktor psikologis
misalnya rasa tanggungjawab dan khawatir yang berlebihan, serta konflik yang kronis/
menahun, status kesehatan dan status gizi.
Menurut Siswanto yang dikutip dari Ambar (2006), faktor penyebab kelelahan kerja
berkaitan dengan:
a. Pengorganisasian kerja yang tidak menjamin istirahat dan rekreasi, variasi kerja dan
intensitas pembebanan fisik yang tidak serasi dengan pekerjaan.
b. Faktor Psikologis, misalnya rasa tanggungjawab dan khawatir yang berlebihan, serta
konflik yang kronis/ menahun.
c. Lingkungan kerja yang tidak menjamin kenyamanan kerja serta tidak menimbulkan
pengaruh negatif terhadap kesehatan pekerja.
d. Status kesehatan (penyakit) dan status gizi.
e. Monoton (pekerjaan/ lingkungan kerja yang membosankan).
Menurut Sumamur (1989) terdapat lima kelompok sebab kelelahan yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.

Keadaan monoton
Beban dan lamanya pekerjaan baik fisik maupun mental
Keadaan lingkungan seperti cuaca kerja, penerangan dan kebisingan
Keadaan kejiwaan seperti tanggungjawab, kekhawatiran atau konflik
Penyakit, perasaan sakit dan keadaan gizi
Faktor-faktor yang berkaitan dengan terjadinya kelelahan (Grandjean, 1988) :

Kelelahan merupakan hasil dari berbagai ketegangan yang dialami oleh tubuh manusia
sehari-hari. Untuk mempertahankan kesehatan dan efisiensi, banyaknya istirahat dan
pemulihan harus seimbang dengan tingginya ketegangan kerja. Penyegaran terjadi terutama

selama waktu tidur malam, tetapi periode istirahat dan waktu berhenti kerja juga dapat
memberikan penyegaran.
Menurut Setyawati (1994), faktor individu seperti umur juga dapat berpengaruh
terhadap waktu reaksi dan perasaan lelah tenaga kerja. Pada umur yang lebih tua terjadi
penurunan kekuatan otot, tetapi keadaan ini diimbangi dengan stabilitas emosi yang lebih
baik dibanding tenaga kerja yang berumur muda yang dapat berakibat positif dalam
melakukan pekerjaan.
2.5 Gejala Kelelahan Kerja
1. Menurut Gilmer (1966) dan Cameron (1973)
Gilmer (1966) dan Cameron (1973) menyebutkan bahwa gejala-gejala kelelahan
adalah sebagai berikut :
a. Gejala yang Mungkin Berakibat pada Pekerjaan
Gejala kelelahan kerja yang mungkin berakibat pada pekerjaan, seperti :

Penurunan kesiagaan dan perhatian.


Penurunan dan hambatan persepsi.
Cara berpikir atau perbuatan anti sosial.
Tidak cocok dengan lingkungan.
Depresi
Kurang tenaga
Kehilangan inisiatif

b. Gejala Umum yang Sering Menyertai Gejala diatas


Gejala kelelahan kerja bisa disertai dengan gejala-gejela umum, seperti :

Sakit kepala
Vertigo
Gangguan fungsi paru dan jantung.
Kehilangan nafsu makan.
Gangguan pencernaan

2. Menurut A.M. Sugeng Budiono, dkk., (2000)


A.M. Sugeng Budiono, dkk.,(2000) mempunyai gambaran mengenai gejala
kelelahan (fatigue symptoms) secara subyektif dan obyektif antara lain :
a.
b.
c.
d.

Perasaan lesu, ngantuk, dan pusing.


Kurang mampu berkonsentrasi.
Berkurangnya tingkat kewaspadaan.
Persepsi yang buruk dan lambat.
7

e. Berkurangnya gairah untuk bekerja.


f. Menurunnya kinerja jasmani dan rohani.
Beberapa gejala tersebut dapat menyebabkan penurunan efisiensi dan efektivitas
kerja fisik dan mental.Sejumlah gejala tersebut manifestasinya timbul berupa keluhan
oleh tenaga kerja dan seringnya tenaga kerja tidak masuk kerja.
3. Menurut Sumamur P.K. (1996)
Sumamur P.K. (1996) membuat suatu daftar gejala yang ada hubungannya
dengan kelelahan yaitu :
a. Gejala yang Menunjukkan Pelemahan Kegiatan
Gejala kelelahan kerja yang menunjukkan pelemahan kegiatan, seperti :

b.

Perasaan berat dikepala.


Menjadi lelah seluruh badan.
Kaki merasa berat.
Menguap
Merasa kacau pikiran.
Menjadi mengantuk
Merasakan beban pada mata.
Kaku dan canggung dalam gerakan.
Tidak seimbang dalam berdiri.
Mau berbaring
Gejala yang Menunjukkan Pelemahan Motivasi
Gejala kelelahan kerja yang menunjukkan pelemahan motivasi, seperti :

c.

Merasa susah berpikir.


Lelah bicara
Menjadi gugup
Tidak dapat berkonsentrasi.
Tidak dapat mempunyai perhatian terhadap sesuatu.
Cenderung untuk lupa.
Kurang kepercayaan
Cemas terhadap sesuatu.
Tidak dapat mengontrol sikap.
Tidak dapat tekun dalam pekerjaan.
Gambaran Kelelahan Fisik Akibat Keadaan Umum
Gejala kelelahan fisik akibat keadaan umum dapat berupa :

Sakit kepala
Kekakuan dibahu
Merasa nyeri dipunggung.
Merasa pernafasan tertekan.
Haus
8

Suara serak
Merasa pening
Spasme dari kelopak mata.
Tremor pada anggota badan.
Merasa kurang sehat.

2.6 Akibat Kelelahan Kerja


Konsekuensi kelelahan kerja menurut Randalf Schuler (1999) antara lain :
a. Pekerja yang mengalami kelelahan kerja akan berprestasi lebih buruk lagi daripada
pekerja yang masih penuh semangat.
b. Memburuknya hubungan si pekerja dengan pekerja lain.
c. Dapat mendorong terciptanya tingkah laku yang menyebabkan menurunnya kualitas
hidup rumah tangga seseorang.
Menurut Sumamur (1996) ada 30 gejala kelelahan yang terbagi dalam 3 kategori
yaitu :
a. Menunjukkan Terjadinya Pelemahan Kegiatan
Perasaan berat di kepala, menjadi lelah seluruh badan, kaki merasa berat,
sering menguap, merasa kacau pikiran, manjadi mengantuk, marasakan beban pada
mata, kaku dan canggung dalam gerakan, tidak seimbang dalam berdiri, mau
berbaring.
b. Menunjukkan Terjadinya Pelemahan Motivasi
Merasa susah berpikir, lelah berbicara, menjadi gugup, tidak berkonsentrasi,
tidak dapat mempunyai perhatian terhadap sesuatu, cenderung untuk lupa, kurang
kepercayaan, cemas terhadap sesuatu, tidak dapat mengontrol sikap, tidak dapat tekun
dalam pekerjaan.
c. Menunjukkan Gambaran Kelelahan Fisik Akibat Keadaan Umum
Sakit kepala, kekakuan di bahu, merasa nyeri di punggung, terasa pernafasan
tertekan, haus, suara serak, terasa pening, spasme dari kelopak mata, tremor pada
anggota badan, merasa kurang sehat.
Kelelahan yang terus menerus terjadi setiap hari akan berakibat terjadinya kelelahan
yang kronis. Perasaan lelah tidak saja terjadi sesudah bekerja pada sore hari, tetapi juga
selama bekerja, bahkan kadang-kadang sebelumnya. Perasaan lesu tampak sebagai suatu
gejala. Gejala-gejala psikis ditandai dengan perbuatan perbuatan anti sosial dan perasaan
tidak cocok dengan sekitarnya, sering depresi, kurangnya tenaga serta kehilangan inisiatif.
9

Tanda-tanda psikis ini sering disertai kelainan-kelainan psikolatis seperti sakit kepala,
vertigo, gangguan pencernaan,tidak dapat tidur dan lain-lain. Kelelahan kronis demikian
disebut kelelahan klinis. Hal ini menyebabkan tingkat absentisme akan meningkat terutama
mangkir kerja pada waktu jangka pendek disebabkan kebutuhan istirahat lebih banyak atau
meningkatnya angka sakit. Kelelahan klinis terutama terjadi pada mereka yang mengalami
konflik-konflik mental atau kesulitan-kesulitan psikologis. Sikap negatif terhadap kerja,
perasaan terhadap atasan atau lingkungan kerja memungkinkan faktor penting dalam sebab
ataupun akibat (Sumamur, 1996).

2.7 Penanggulangan Kelelahan


a. Lingkungan kerja bebas dari zat berbahaya, penerangan memadai, sesuai dengan jenis
pekerjaan yang dihadapi, maupun pengaturan udara yang adekuat, bebas dari
b.
c.
d.
e.
f.

kebisingan, getaran, serta ketidaknyamanan.


Waktu kerja diselingi istirahat pendek dan istirahat untuk makan.
Kesehatan umum dijaga dan dimonitor.
Pemberian gizi kerja yang memadai sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerja.
Beban kerja berat tidak berlangsung terlalu lama.
Tempat tinggal diusahakan sedekat mungkin dengan tempat kerja, kalau perlu bagi

tenaga kerja dengan tempat tinggal jauh diusahakan transportasi dari perusahaan.
g. Pembinaan mental secara teratur dan berkala dalam rangka stabilitas kerja dan
kehidupannya.
h. Disediakaan fasilitas rekreasi, waktu rekreasi dan istirahat dilaksankan secara baik.
i. Cuti dan liburan diselenggarakan sebaik-baiknya.
j. Diberikan perhatian khusus pada kelompok tertentu seperti tenaga kerja beda usia,
wanita hamil dan menyusui, tenaga kerja dengan kerja gilir di malam hari, tenaga
baru pindahan .
k. Mengusahakan tenaga kerja bebas alkohol, narkoba dan obat berbahaya.
2.8 Pengukuran Kelelahan Kerja
Sampai saat ini belum ada metode pengukuran kelelahan yang baku karena kelelahan
merupakan suatu perasaan subyektif yang sulit diukur dan diperlukan pendekatan secara
multidisiplin (Tarwaka, 2004). Banyak parameter yang digunakan untuk mengukur
kelelahan kerja antara lain : Waktu Reaksi Seluruh Tubuh atau Whole Body Reaction Test
(WBRT), Uji Ketuk Jari (Finger Taping Test), Uji Flicker Fusion, Uji Critical Fusion, Uji
Bourdon Wiersma, Skala kelelahan IFFRC (Industrial Fatique Rating Comite), Skala Fatique
Rating (FR Skala), Ekresi Katikolamin, Stroop Test (Sumamur,1995).
10

Kriteria-kriteria kelelahan kerja, yaitu :


a.
b.
c.
d.

Normal
Kelelahan Kerja Ringan
Kelelahan kerja Sedang
Kelelahan Kerja Berat

: waktu reaksi 150,0 240,0 milidetik


: waktu reaksi 240,0 < x < 410,0 milidetik
: waktu reaksi 410,0 x < 580,0 milidetik
: waktu reaksi 580,0 milidetik

Keterangan : x adalah hasil pengukuran dengan Reaction Timer


Menurut Tarwaka,dkk (2004), pengukuran kelelahan dapat dilakukan dengan berbagai
cara, yaitu:
1. Kualitas dan Kuantitas Hasil Kerja
Pada metode ini, kualitas output digambarkan sebagai jumlah proses kerja
(waktu yang digunakan setiap item) atau proses operasi yang dilakukan setiap
unit waktu. Namun demikian banyak faktor yang harus dipertimbangkan seperti;
target produksi; faktor sosial; dan perilaku psikologis dalam kerja. Sedangkan
kualitas output (kerusakan produk, penolakan produk) atau frekuensi kecelakaan
dapat menggambarkan terjadinya kelelahan, tetapi faktor tersebut bukanlah
merupakan causal factor (Tarwaka, 2004). Kuantitas kerja dapat dilihat pada
prestasi kerja yang dinyatakan dalam banyaknya produksi persatuan waktu.
Sedangkan kualitas kerja didapat dengan menilai kualitas pekerjaan seperti
jumlah yang ditolak, kesalahan, kerusakan material, dan lain-lain.
2. Pencatatan Perasaan Subyektif

Kelelahan Kerja, yaitu dengan cara

Kuesioner, Subjective Self Rating Tes dari Industrial Fatigue Research


Committee (IFRC) Jepang, merupakan salah satu kuesioner yang dapat untuk
mengukur tingkat kelelahan subjektif. Kuesioner tersebut berisi 30 daftar
pertanyaan yang terdiri dari:
10 Pertanyaan tentang pelemahan kegiatan: Perasaan berat di kepala, lelah di
seluruh badan, berat di kaki, menguap, pikiran kacau, mengantuk, ada beban
pada mata, gerakan canggung dan kaku, berdiri tidak stabil, dan ingin
berbaring.
10 Pertanyaan tentang pelemahan motivasi: Susah berfikir, lelah untuk bicara,
gugup, tidak berkonsentrasi, sulit untuk memusatkan perhatian, mudah lupa,
kepercayaan diri berkurang, merasa cemas, sulit mengontrol sikap, dan tidak
tekun dalam pekerjaan.
10 Pertanyaan tentang gambaran kelelahan fisik : Sakit dikepala, kaku di bahu,
nyeri di punggung, sesak nafas, haus, suara serak, merasa pening, spasme di
kelopak mata, tremor pada anggota badan, dan merasa kurang sehat.
3. Alat Ukur Perasaan Kelelahan Kerja (KAUPKK)
11

Menurut Setyawati KAUPK2 (Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan


Kerja) merupakan parameter untuk mengukur perasaan kelelahan kerja sebagai
gejala subjektif yang dialami pekerja dengan perasaan yang tidak menyenangkan.
Keluhan-keluhan yang dialami pekerja sehari-hari membuat mereka mengalami
kelelahan kronis (Hotmatua, 2009).
4.

Pengukuran

Gelombang

Listrik

Pada

Otak

Dengan

Electroenchepalography (EEG)
5. Uji Psiko-Motor (psychomotor test), dapat dilakukan dengan cara melibatkan
fungsi persepsi, interpretasi dan reaksi motor dengan menggunakan alat digital
reaction timer untuk mengukur waktu reaksi. Waktu reaksi adalah jangka waktu
dari pemberian suatu rangsang sampai kepada suatu saat kesadaran atau
dilaksanakan kegiatan. Dalam uji waktu reaksi dapat digunakan nyala lampu,
denting suara, sentuhan kulit atau goyangan badan. Terjadinya pemanjangan
waktu reaksi merupakan petunjuk adanya perlambatan pada proses faal syaraf dan
otot.
6. Uji mental, pada metode ini konsentrasi merupakan salah satu pendekatan yang
dapat digunakan untuk menguji ketelitian dan kecepatan dalam menyelesaikan
pekerjaan. Bourdon Wiersman test merupakan salah satu alat yang dapat
digunakan untuk menguji kecepatan, ketelitian dan konsentrasi.
Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa kelelahan biasanya terjadi
pada akhir jam kerja yang disebabkan oleh karena beberapa faktor, seperti monotoni, kerja
otot statis, alat dan sarana kerja yang tidak sesuai dengan antropometri pemakainya, stasiun
kerja yang tidak ergonomik, sikap paksa dan pengaturan waktu kerja-istirahat yang tidak
tepat. Sumber kelelahan dapat disimpulkan dari hasil pengujian tersebut. Pada penelitian ini
menggunakan alat ukur yang digunakan adalah Kuesioner Alat Ukur Kelelahan Kerja
(KAUPK2).

12

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setiap aktivitas seseorang pastilah menimbulkan kelelahan bagi tubuhnya yang selalu
melakukan aktivitasnya baik pada pagi hari, siang hari, sore hari hingga malam hari. Dimana
setiap makhluk hidup pastilah memiliki aktivitas setiap harinya, selama makhluk hidup itu
masih bernafas. Kelelahan sendiri merupakan mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh
menghindari kerusakan lebih lanjut, sehingga dengan demikian terjadilah pemulihan
(Sumamur, 1996).
Konsep kelelahan menyatakan bahwa keadaan dan perasaan kelelahan adalah reaksi
fungsional dari pusat kesadaran yaitu cortex cerebri, yang dipengaruhi oleh 2 sistem
antagonistik, yaitu sistem menghambat (inhibisi) dan sistem penggerak (aktivasi). Jenis
kelelahan kerja terbagi menjadi tiga bagian, yaitu : berdasarkan proses dalam otot,
berdasarkan penyebab kelelahan, dan berdasarkan waktu terjadinya. Selain itu, kelelahan
kerja juga disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi
aktivitas sipekerja dalam melakukan pekerjaannya (produksinya).
Gejala dari kelelahan kerja juga bisa diamati secara kasat mata pada pekerja yang
selalu lemas dan tidak bersemangat dalam bekerja. Akibat dari gejala kelehan kerja juga bisa
menimbulkan dampak-dampak negatif pada pekerja, seperti berkurangnya pendapatan akibat
kelelahan dalam kerja dan menurunkan produktivitas kerja perusahaan. Maka untuk itu, perlu
diadakannya pengukuran dan pengendalian pada tenaga kerja yang mengalami kelelahan
kerja.

3.2 Saran
Seharusnya para pekerja lebih peduli untuk memperhatikan keadaan diri mereka
sendiri agar pekerja dapat bekerja semaksimal mungkin dan dapat menghasilkan suatu
produktivitas yang maksimal dengan tidak mengganggu keadaan tubuh mereka. Diharapkan
pekerja melakukan pekerjaannya sesuai dengan aturan shift yang telah ditentukan oleh pihak
perusahaan dan menerima waktu lembur sesuai dengan peraturan perundang-undangan

13

maksimal 3jamhari atau 14jam/minggu. Pekerja juga harus menggunakan waktu sebaikbaiknya dan istarahat yang cukup.

DAFTAR PUSTAKA

Etikariena, Arum. (2014). Perbedaan Kelelahan Kerja Berdasarkan Makna Kerja Pada
Karyawan. Journal Psikogenesis. Vol.2, No.2 (2014).
Fitrihana,

Noor.

2008.

Kelelahan

Kerja.

https://batikyogya.wordpress.com/2008/09/09/kelelahan-kerja/. (Dikutip tanggal 02


Juni 2016, Pukul : 17.02).
Jadisoepri, S. 2012. Kelelahan Kerja. https://www.academia.edu/7365298/Kelelahan_Kerja.
(Dikutip tanggal 02 Juni 2016, Pukul : 17.08).
Wirotin, N.L.N. 2011. Analisis Faktor Kelelahan Kerja Pada Karyawan PT. Bintang
Arita Jaya Bagian Packaging. Skripsi. Program Studi Psikologi, Fakultas Dakwah,
Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

14