Anda di halaman 1dari 14

Kelelahan Kerja

Pengertian Kelelahan Kerja


Ada banyak pengertian kelelahan menurut pendapat beberapa ahli, yaitu :
a) Menurut Lientje (2010)
Kelelahan kerja adalah perasaan lelah dan adanya penurunan kesiagaan.
b) Menurut Tarwaka (2010)
Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari
kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat.
c) Menurut Tarwaka (2004)
Kelelahan menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu, tetapi
semuanya bermuara pada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta
ketahanan tubuh.
d) Menurut Sumamur P.K (1996)
Kata kelelahan menunjukkan keadaan yang berbeda-beda, tetapi semuanya berakibat
kepada pengurangan kapasitas kerja dan ketahanan tubuh.
e) Menurut A.M. Sugeng Budiono, dkk (2000)
Kelelahan (fatigue) merupakan suatu perasaan yang bersifat subyektif.Istilah
kelelahan mengarah pada kondisi melemahnya tenaga untuk melakukan suatu
kegiatan.
f) Menurut Eko Nurmianto (2003)
Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja.
Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja
dalam industri. Pembebanan otot secara statispun (static muscular loading) jika
dipertahankan dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan RSI (Repetition
Strain Injuries), yaitu nyeri otot, tulang, tendon, dan lain-lain yang diakibatkan oleh
jenis pekerjaan yang bersifat berulang (repetitive).

g) Menurut Sritomo Wignjosoebroto (2003)


Kelelahan akibat kerja seringkali diartikan sebagai proses menurunnya efisiensi,
performance kerja, dan berkurangnya kekuatan atau ketahanan fisik tubuh untuk terus
melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan.

h) Menurut Cameron (1973)


Kelelahan kerja merupakan kriteria yang kompleks yang tidak hanya menyangkut
kelelahan fisiologis dan psikologis tetapi dominan hubungannya dengan penurunan
kinerja fisik, adanya perasaan lelah, penurunan motivasi dan penurunan produktivitas
kerja.
Jenis Kelelahan
1) Berdasarkan Waktu Terjadinya
Berdasarkan waktu terjadinya kelelahan, maka kelelahan dibedakan menjadi 2 yaitu :
Kelelahan Akut
Kelelahan akut adalah kelelahan yang terjadi dengan cepat yang pada umumnya
disebabkan oleh kerja suatu organ atau seluruh tubuh yang berlebihan.
Kelelahan Kronis
Kelelahan kronis adalah kelelahan yang terjadi bila kelelahan berlangsung setiap hari
dan berkepanjangan (Grandjean dan Kogi, 1971). Kelelahan kronis merupakan
kelelahan yang terjadi sepanjang hari dalam jangka waktu yang lama dan kadangkadang terjadi sebelum melakukan pekerjaan, seperti perasaan kebencian yang
bersumber dari terganggunya emosi.Selain itu timbulnya keluhan psikosomatis seperti
meningkatnya ketidakstabilan jiwa, kelesuan umum, meningkatnya sejumlah penyakit
fisik seperti sakit kepala, perasaan pusing, sulit tidur, masalah pencernaan, detak
jantung yang tidak normal, dan lain-lain (AM.Sugeng Budiono, 2003).
Gejala yang nampak jelas akibat kelelahan kronis antara lain :
Meningkatnya emosi dan rasa jengkel sehingga orang menjadi kurang toleran
atau asosial terhadap orang lain.
Munculnya sikap apatis terhadap orang lain.
Depresi berat, dan lain-lain.
2) Berdasarkan Penyebab Terjadinya
Berdasarkan penyebab terjadinya kelelahan, maka kelelahan dibedakan menjadi 2
yaitu :
Kelelahan Fisiologis
Kelelahan fisiologis adalah kelelahan yang disebabkan oleh faktor fisik ditempat kerja
antara lain oleh suhu dan kebisingan (Singleton, 1972). Dari segi fisiologis, tubuh
manusia dianggap sebagai mesin yang mengkonsumsi bahan bakar dan member out
put berupa tenaga yang berguna untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari. Kerja fisik

yang continue dipengaruhi oleh faktor lingkungan fisik, misal : penerangan,


kebisingan, panas, dan suhu.
Kelelahan Psikologis
Kelelahan psikologis adalah kelelahan yang disebabkan oleh faktor psikologis
(Singleton, 1972). Kelelahan psikologis terjadi oleh adanya pengaruh diluar diri
berupa tingkah laku atau perbuatan alam memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti :
suasana kerja, interaksi dengan sesama pekerja maupun dengan atasan.
3) Berdasarkan Proses Terjadinya
Berdasarkan proses terjadinya kelelahan, maka kelelahan dibedakan menjadi 2 yaitu :
Kelelahan Otot
Kelelahan otot adalah suatu penurunan kapasitas otot dalam bekerja akibat kontraksi
yang berulang.Kontraksi otot yang berlangsung lama mengakibatkan keadaan yang
disebut dengan kelelahan otot.Otot yang lelah menunjukkan kurangnya kekuatan,
bertambahnya waktu kontraksi dan relaksasi, berkurangnya koordinasi serta otot
menjadi bergetar.
Menurut A.M. Sugeng Budiono, dkk. (2000) gejala kelelahan otot dapat terlihat dan
tampak dari luar (external signs). Dalam beberapa pekerjaan, kelelahan otot ditandai
dengan :
Menurunnya ketinggian beban yang mampu diangkat.
Merendahnya kontraksi dan relaksasi.
Interval antara stimulusdan awal kontraksi menjadi lebih lama.

Menurut Anies (2002) dalam upaya menghadapi kelelahan otot dapat dilakukan
beberapa cara yaitu :
Seleksi yang baik yaitu dipilih tenaga kerja yang berkondisi prima.
Pengaturan jadwal dan istirahat.
Ruang istirahat dimaksudkan agar tenaga kerja tidak beristirahat
disembarang tempat.
Kelelahan Umum
Kelelahan umum adalah suatu perasaan yang menyebabkan yang disertai adanya
penurunan kesiagaan dan kelambanan pada setiap aktivitas. Perasaan adanya
kelelahan secara umum dapat ditandai dengan berbagai kondisi antara lain :
Lelah pada organ penglihatan.
Mengantuk.
Stress menyebabkan pikiran tegang.
Rasa malas bekerja.
Menurunnya motivasi kerja yang diakibatkan oleh kelelahan fisik dan psikis.

Menurut A.M. Sugeng Budiono, dkk. (2000) jenis kelelahan umum adalah :

Kelelahan penglihatan, muncul dari terlalu letihnya mata.


Kelelahan seluruh tubuh, karena beban fisik bagi seluruh organ tubuh.
Kelelahan mental, karena pekerjaan yang bersifat mental dan intelektual.
Kelelahan syaraf, karena terlalu tertekannya sistem psikomotorik.
Kelelahan kronis, karena terjadi kelelahan dalam waktu panjang.
Kelelahan siklus hidup, bagian dari irama hidup siang dan malam.

Di samping kelelahan otot dan kelelahan umum, Grandjean (1988) juga


mengklasifikasikan kelelahan kedalam 7 bagian yaitu :
Kelelahan visual, yaitu meningkatnya kelelahan mata.
Kelelahan tubuh secara umum, yaitu kelelahan akibat beban fisik yang
berlebihan.
Kelelahan mental, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh pekerjaan mental atau
intelektual.
Kelelahan syaraf, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh tekanan berlebihan
pada salah satu bagian sistem psikomotor, seperti pada pekerjaan yang
membutuhkan keterampilan.
Pekerjaan yang bersifat monoton.
Kelelahan kronis, yaitu kelelahan akibat akumulasi efek jangka panjang.
Kelelahan sirkadian, yaitu bagian dari ritme siang-malam, dan memulai
periode tidur yang baru.
Faktor yang Mempengaruhi Kelelahan
Faktor penyebab terjadinya kelelahan di industri sangat bervariasi, dan untuk
memelihara atau mempertahankan kesehatan dan efisiensi, proses penyegaran harus
dilakukan diluar tekanan (cancel out stress). Penyegaran terjadi terutama selama waktu tidur
malam, tetapi periode istirahat dan waktu-waktu berhenti kerja juga dapat memberikan
penyegaran (Tarwaka, 2004).
Menurut Sumamur (2009) Kelelahan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
sebagai berikut :
a) Usia
Pada usia meningkat akan diikuti dengan proses degenerasi dari organ, sehingga
dalam hal ini kemampuan organ akan menurun. Dengan menurunnya kemampuan
organ, maka hal ini akan menyebabkan pekerja akan semakin mudah mengalami
kelelahan.

b) Jenis Kelamin
Pada pekerja wanita terjadi siklus setiap bulan di dalam mekanisme tubuhnya,
sehingga akan mempengaruhi turunnya kondisi fisik maupun psikisnya, dan hal itu
menyebabkan tingkat kelelahan wanita lebih besar dari pada tingkat kelelahan
pekerja laki-laki.
c) Penyakit Penyakit akan menyebabkan Hipo/hipertensi suatu organ, akibatnya akan
merangsang mukosa suatu jaringan sehingga merangsang syaraf-syaraf tertentu.
Dengan perangsangan yang terjadi akan menyebabkan pusat syaraf otak akan
terganggu atau terpengaruh yang dapat menurunkan kondisi fisik seseorang.
d) Keadaan Psikis Pekerja
Keadaan psikis pekerja yaitu suatu respon yang ditafsirkan bagian yang salah,
sehingga merupakan suatu aktivitas secara primer suatu organ, akibatnya timbul
ketegangan-ketegangan yang dapat meningkatkan tingkat kelelahan seseorang.
e) Beban Kerja Pada pekerjaan yang terlalu berat dan berlebihan akan mempercepat
kontraksi otot tubuh, sehingga hal ini dapat mempercepat pula kelelahan seseorang.
Beban kerja meliputi : iklim kerja, penerangan, kebisingan, debu dan lain-lain.
Menurut Siswanto (1991) faktor penyebab kelelahan kerja berkaitan dengan :
1) Pengorganisasian kerja yang tidak menjamin istirahat dan rekreasi, variasi kerja dan
intensitas pembebanan fisik yang tidak serasi dengan pekerjaan.
2) Faktor Psikologis, misalnya rasa tanggungjawab dan khawatir yang berlebihan, serta
konflik yang kronis atau menahun.
3) Lingkungan kerja yang tidak menjamin kenyamanan kerja serta tidak menimbulkan
pengaruh negatif terhadap kesehatan pekerja.
4) Status kesehatan dan status gizi.
5) Monoton yaitu pekerjaan atau lingkungan kerja yang membosankan.
Menurut Grandjean (1995) penyebab terjadinya kelelahan kerja antara lain
sebagai berikut :
1)
2)
3)
4)
5)

Intensitas dan lama kerja mental dan fisik.


Lingkungan yaitu iklim, penerangan, kebisingan, getaran, dan lain-lain.
Circadian rhytm atau jam biologis yaitu jam tidur digunakan untuk kerja.
Problem fisik yaitu berupa tanggung jawab, kekhawatiran konflik.
Kenyerian dan kondisi kesehatan, tidak fit sehingga cepat lelah.

6) Nutrisi, yaitu apabila nutrisi pekerja kurang maka akan cepat mengalami kelelahan.
Kelelahan fisik disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
1) Kebiasan makan atau tidur tidak teratur.
2) Ketidakseimbangan pada tingkat-tingkat elektrolit darah misalnya sodium, potasium,
3)
4)
5)
6)

dan mineral-mineral lainnya.


Bertempat tinggal atau bekerja pada daerah yang panas dan lembab.
Anemia.
Pengaruh pilek dan flu yang berlarut-larut.
Penyakit-penyakit penyebab infeksi yang luput dari perhatian, seperti monokleosis

atau virus Epstein-Barr.


7) Beberapa gangguan endokrin, seperti kelenjar tiroid yang gagal berfungsi
sebagaimana mestinya atau gangguan neurologis.
Kelelahan emosional disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
1) Burnout yaitu merusak diri sendiri dengan bekerja terlalu keras.
2) Perubahan yang dihadapkan pada krisis kehidupan yang besar atau keputusan hidup
yang sulit seperti perceraian atau ancaman pensiun.
3) Kejenuhan karena hidup terasa monoton atau hilangnya kegairahan dalam rutinitas
sehari-hari.
4) Depresi
Gejala Kelelahan Kerja
Gilmer (1966) dan Cameron (1973) menyebutkan bahwa gejala-gejala kelelahan
adalah sebagai berikut :
Gejala yang Mungkin Berakibat pada Pekerjaan
Gejala kelelahan kerja yang mungkin berakibat pada pekerjaan, seperti :
Penurunan kesiagaan dan perhatian.
Penurunan dan hambatan persepsi.
Cara berpikir atau perbuatan anti sosial.
Tidak cocok dengan lingkungan.
Depresi.
Kurang tenaga.
Kehilangan inisiatif.
Gejala Umum yang Sering Menyertai Gejala diatas
Gejala kelelahan kerja bisa disertai dengan gejala-gejela umum, seperti :
Sakit kepala.
Vertigo.
Gangguan fungsi paru dan jantung.
Kehilangan nafsu makan.
Gangguan pencernaan

A.M. Sugeng Budiono, dkk.,(2000) mempunyai gambaran mengenai gejala kelelahan


(fatigue symptoms) secara subyektif dan obyektif antara lain :

Perasaan lesu, ngantuk, dan pusing.


Kurang mampu berkonsentrasi.
Berkurangnya tingkat kewaspadaan.
Persepsi yang buruk dan lambat.
Berkurangnya gairah untuk bekerja.
Menurunnya kinerja jasmani dan rohani.
Beberapa gejala tersebut dapat menyebabkan penurunan efisiensi dan efektivitas

kerja fisik dan mental.Sejumlah gejala tersebut manifestasinya timbul berupa keluhan oleh
tenaga kerja dan seringnya tenaga kerja tidak masuk kerja.
Sumamur P.K. (1996) membuat suatu daftar gejala yang ada hubungannya dengan
kelelahan yaitu :
Gejala yang Menunjukkan Pelemahan Kegiatan
Gejala kelelahan kerja yang menunjukkan pelemahan kegiatan, seperti :
Perasaan berat dikepala.
Menjadi lelah seluruh badan.
Kaki merasa berat.
Menguap.
Merasa kacau pikiran.
Menjadi mengantuk.
Merasakan beban pada mata.
Kaku dan canggung dalam gerakan.
Tidak seimbang dalam berdiri.
Mau berbaring
Gejala yang Menunjukkan Pelemahan Motivasi
Gejala kelelahan kerja yang menunjukkan pelemahan motivasi, seperti :
Merasa susah berpikir.
Lelah bicara.
Menjadi gugup.
Tidak dapat berkonsentrasi.
Tidak dapat mempunyai perhatian terhadap sesuatu.
Cenderung untuk lupa.
Kurang kepercayaan.
Cemas terhadap sesuatu.
Tidak dapat mengontrol sikap.
Tidak dapat tekun dalam pekerjaan.
Gambaran Kelelahan Fisik Akibat Keadaan Umum
Gejala kelelahan fisik akibat keadaan umum dapat berupa :
Sakit kepala.

Kekakuan dibahu.
Merasa nyeri dipunggung.
Merasa pernafasan tertekan.
Haus.
Suara serak.
Merasa pening.
Spasme dari kelopak mata.
Tremor pada anggota badan.
Merasa kurang sehat.

Mekanisme Kelelahan
Keadaan dan perasaan kelelahan adalah reaksi fungsional dari pusat kesadaran yaitu
korteks serebri, yang dipengaruhi oleh dua sistem antagonistik yaitu sistem penghambat
(inhibisi) dan sistem penggerak (aktivasi). Sistem penghambat terdapat dalam thalamus yang
mampu menurunkan kemampuan manusia bereaksi dan menyebabkan kecenderungan untuk
tidur. Sistem penggerak terdapat dalam formasio retikularis yang dapat merangsang peralatan
dalam tubuh kearah bekerja, berkelahi, melarikan diri dan sebagainya. Keadaan seseorang
pada suatu saat sangat tergantung kepada hasil kerja diantara dua sistem antagonis dimaksud.
Apabila sistem penghambat lebih kuat seseorang dalam keadaan lelah. Sebaliknya manakala
sistem aktivitas lebih kuat seseorang dalam keadaaan segar untuk bekerja. Konsep ini dapat
dipakai menjelaskan peristiwa-peristiwa sebelumnya yang tidak jelas. Misalnya peristiwa
seseorang dalam keadaan lelah, tiba-tiba

kelelahan hilang oleh karena terjadi peristiwa

yang tidak diduga sebelumnya atau terjadi tegangan emosi. Dalam keadaan ini, sistem
penggerak tiba-tiba terangsang dan dapat mengatasi system penghambat.
Demikian pula peristiwa dalam monotoni, kelelahan terjadi oleh karena hambatan
dari sistem penghambat, walaupun beban kerja tidak begitu berat. Kelelahan yang terus
menerus terjadi setiap hari akan berakibat terjadinya kelelahan yang kronis. Perasaan lelah
tidak saja terjadi sesudah bekerja pada sore hari, tetapi juga selama bekerja, bahkan kadangkadang sebelumnya. Perasaan lesu tampak sebagai suatu gejala. Gejala-gejala psikis ditandai
dengan perbuatan-perbuatan anti sosial dan perasaan tidak cocok dengan sekitarnya, sering
depresi, kurangnya tenaga serta kehilangan inisiatif. Tanda-tanda psikis ini sering disertai
kelainan-kelainan psikolatis seperti sakit kepala, vertigo, gangguan pencernaan, tidak dapat
tidur dan lain-lain. Kelelahan kronis demikian disebut kelelahan klinis. Hal ini menyebabkan
tingkat absentisme akan meningkat terutama mangkir kerja pada waktu jangka pendek
disebabkan kebutuhan istirahat lebih banyak atau meningkatnya angka sakit.

Kelelahan klinis terutama terjadi pada mereka yang mengalami konflik mental atau
kesulitan-kesulitan psikologis. Sikap negatif terhadap kerja, perasaan terhadap atasan atau
lingkungan kerja memungkinkan faktor penting dalam sebab ataupun akibat. Kelelahan diatur
secara sentral oleh otak. Pada susunan saraf pusat, terdapat sistem aktivasi dan inhibisi.
Kedua sistem ini saling mengimbangi tetapi kadang-kadang salah satu dari padanya lebih
dominan sesuai dengan keperluan. Sistem aktivasi bersifat simpatis, sedangkan inhibisi
adalah parasimpatis. Agar pekerja berada dalam keserasian dan keseimbangan, kedua sistem
tersebut harus berada pada kondisi yang memberikan stabilitasi kepada tubuh (Sumamur,
2009).
Akibat Kelelahan Kerja
1. Menurut Heru Setiarto (2002)
Kelelahan kerja merupakan komponen fisik dan psikis.Kerja fisik yang melibatkan
kecepatan tangan dan fungsi mata serta memerlukan konsentrasi terus menerus dapat
menyebabkan kelelahan fisiologis dan disertai penurunan keinginan untuk bekerja
yang disebabkan faktor psikis sehingga menyebabkan timbulnya perasaan lelah.
2. Menurut Sumamur PK (1999)
Kelelahan kerja dapat mengakibatkan penurunan kewaspadaan, konsentrasi dan
ketelitian sehingga menyebabkan terjadinya kecelakaan.
3. Menurut AM. Sugeng Budiono (2003)
Kelelahan kerja dapat mengakibatkan penurunan produktivitas.Jadi kelelahan kerja
dapat berakibat menurunnya perhatian, perlambatan dan hambatan persepsi, lambat
dan sukar berfikir, penurunan kemauan atau dorongan untuk bekerja, menurunnya
efisiensi dan kegiatan-kegiatan fisik dan mental yang pada akhirnya menyebabkan
kecelakan kerja dan terjadi penurunan poduktivitas kerja.
Cara Mengatasi Kelelahan
Kelelahan dapat diatasi dengan cara (Tarwaka, 2004) :
1) Menyesuaikan kapasitas kerja fisik, kapasitas kerja mental dengan pekerjaan yang
kita lakukan.
2) Mendesain stasiun pekerjaan yang ergonomi dan mendesain lingkungan kerja yang
nyaman.
3) Melakukan sikap kerja yang alamiah.
4) Memberikan variasi terhadap pekerjaan yang dilakukan.

5) Mengorganisasi kerja yang baik.


6) Mencukupi kebutuhan kalori yang seimbang.
7) Melakukan istirahat setelah bekerja selama 2 jam dengan sedikit kudapan.
Pengukuran Kelelahan Kerja Sampai saat ini belum ada cara untuk mengukur tingkat
kelelahan kerja secara langsung. Pengukuran-pengukuran yang dilakukan hanya berupa
indikator yang menunjukkan terjadinya kelelahan akibat kerja.
Metode pengukuran tingkat kelelahan kerja ada beberapa cara, antara lain (Tarwaka,
2004) :
1) Kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan Pada metode ini, kualitas output
digambarkan sebagai jumlah proses kerja atau proses operasi yang dilakukan setiap
unit waktu .
2) Uji Psiko-motor Pada metode ini pengukuran yang digunakan adalah perhitungan
waktu reaksi. Waktu reaksi adalah jangka waktu dari pemberian rangsang sampai pada
suatu saat kesadaran atau dilaksanakannya suatu kegiatan.
3) Uji Fliker Fusion
Dalam kondisi yang lelah kemampuan tenaga kerja untuk melihat kelipan akan
berkurang. Semakin lelah maka semakin panjang waktu yang diperlukan untuk jarak
antar dua kelipatan.
4) Perasaan kelelahan secara subjektif
Subjective Self Rating test dari Industrial Fatique Research Committe (IFRC) Jepang
merupakan salah satu kuesioner yang dapat untuk mengukur tingkat kelelahan. Secara
subjektif , perasaan lelah juga dapat di ukur dengan menggunakan Kuesioner Alat
Ukur Perasaan Kelelahan Kerja (KAUPK2) yang disusun oleh Lientje Setyawati
(1994) yang terdiri dari 17 pertanyaan tentang keluhan subjektif yang dapat diderita
oleh tenaga kerja, antara lain : sukar berpikir, lelah berbicara, gugup menghadapi
sesuatu, tidak pernah berkonsentrasi mengerjakan sesuatu, tidak punya perhatian
terhadap sesuatu, cenderung lupa, kurang percaya diri, tidak tekun dalam
melaksanakan pekerjaan, enggan menatap orang lain, enggan bekeja dengan cekatan,
tidak tenang bekerja, lelah seluruh tubuh, lamban, tidak kuat berjalan, lelah sebelum,
daya pikir menurun dan cemas terhadap sesuatu.
5) Uji mental Pada uji ini konsentrasi merupakan salah satu pendekatan yang dapat
digunakan untuk menguji ketelitian dan kecepatan menyelesaikan pekerjaan.

Waktu reaksi yang diukur dapat merupakan reaksi sederhana atas rangsang tunggal
atau reaksi-reaksi yang memerlukan koordinasi. Waktu reaksi adalah jangka waktu dari
pemberian suatu rangsang sampai kepada saat kesadaran atau dilaksanakan kegiatan tertentu.
Rangsang yang digunakan pada alat ini berupa cahaya dan suara. Satuan waktu reaksi adalah
milidetik. Pada saat pemakaian alat, perlu diperhatikan agar hasil lebih akurat :
1.
2.
3.
4.

Pemberian rangsang tidak kontinyu.


Jarak maksimal sumber rangsang dengan subyek yang diperiksa maksimum 0,5 m.
Konsentrasi subyek hanya pada sumber rangsang dan tidak boleh melihat operator.
Waktu reaksi yang digunakan dapat keduanya atau hanya salah satu yaitu suara atau
cahaya saja.

Kriteria :
1.
2.
3.
4.

Normal
Kelelahan Kerja Ringan
Kelelahan kerja Sedang
Kelelahan Kerja Berat

: waktu reaksi 150,0 240,0 milidetik.


: waktu reaksi 240,0 < x < 410,0 milidetik.
: waktu reaksi 410,0 x < 580,0 milidetik.
: waktu reaksi 580,0 milidetik.

Keterangan : x adalah hasil pengukuran dengan Reaction Timer.


Pengukuran Stres Kerja
Pengukuran stres kerja dapat dilakukan dengan menggunakan kuesioner Depression
Anxiety Stres Scale (DASS). Kuesioner DASS terdiri dari 42 item pernyataan yang
menggambarkan tingkat stres dan kecemasan. DASS adalah satu set tiga laporan diri skala
yang dirancang untuk mengukur keadaan emosional dari depresi, kecemasan dan stres.
Masing-masing dari tiga skala DASS berisi 14 item pernyataan.
Skala depresi menilai dysphoria, putus asa, devaluasi hidup, sikap meremehkan diri,
kurangnya minat/keterlibatan, anhedonia, dan inersia. Skala kecemasan menilai gairah
otonom, efek otot rangka, kecemasan situasional, dan pengalaman subjektif dari
mempengaruhi cemas. Skala stres sensitif terhadap tingkat kronis non-spesifik gairah. Ini
menilai kesulitan santai, gairah saraf, dan menjadi mudah marah/gelisah, mudah
tersinggung/over-reaktif dan tidak sabar. Subyek diminta untuk menggunakan 4 poin
keparahan/skala frekuensi untuk menilai sejauh mana mereka telah mengalami masingmasing pernyataan selama seminggu terakhir. Menurut Nursalam (2008) skala frekuensi yang
digunakan dalam kuesioner DASS yaitu:
a. Skor 0 untuk setiap pernyataan yang tidak pernah dialami.
b. Skor 1 untuk setiap pernyataan yang jarang dialami.
c. Skor 2 untuk setiap pernyataan yang sering dialami.

d. Skor 3 untuk setiap pernyataan yang selalu dialami.

Kasus Kelelahan Kerja


Berita kematian seorang gadis muda berprofesi sebagai copywriter di agency, Y&R (Young &
Rubicam) Asia karena 30 jam tidak tidur menggemparkan ranah Twitter Minggu sore
(15/12/2013).
Gadis muda bernama Mita Diran tersebut bekerja tak kenal waktu selama tiga hari tanpa
tidur. Hal itu diketahui dari twitter terakhir yang ditulisnya pada pukul 05:47 PM Sabtu 14
Desember 2013.
Twitter terakhir Mita Diran tersebut berbunyi: "30 hours of working and still going
strooong," tulis Mita melalui akun Twitternya, @mitdoq. Sehari setelah menulis di Twitter
tersebut, teman-teman di twitternya dikagetkan dengan kabar meninggalnya Mita Diran pada
Minggu 15 Desember 2013.
Sebelum ramai di Twitter, kabar duka ini muncul untuk pertama kalinya di jejaring sosial
Path, di mana sang ayah, Yani Syahrial mengabarkan bahwa sang anak tumbang dan dilarikan
ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP)
"Hi everyone, since last night and until now my daughter who is a copywriter in Y&R in
coma in RSPP. Chances not very good. She collapsed after continuous working overtime for
3 days last night. Working over the limit. I have not slept since then," tulis Yani di Path-nya.
Di Twitter, disebutkan juga oleh teman-temannya bahwa selama bekerja ekstra itu gadis
cantik berambut pendek ini sempat mengonsumsi minuman berenergi yang memiliki kafein
tinggi.

Kabar meninggalnya Mita Diran dibenarkan oleh pihak Y&R Group Indonesia, tempat ia
bekerja. Bahkan, demi menghormati Mita yang dikenal sebagai karyawati murah senyum dan
ceria, pihak Y&R Group Indonesia meliburkan satu hari seluruh karyawannya, hanya untuk
mengantarkan jenazah gadis cantik itu ke peristirahatan terakhir, di Tempat Pemakaman
Umum (TPU) Jeruk Purut pada Senin 16 Desember 2013 pukul 10:00 WIB.

Mita Diran (27 tahun), gadis cantik yang bekerja pada bidang periklanan di salah satu agency
ternama di Indonesia, Y&R (Young & Rubicam) meninggal dunia dikarenakan kerja terlalu
ekstra. Lantas, bagaimana kronologis sebenarnya?
Salah seorang sahabat dekat ayahanda Mita Diran, Handoko Hendroyono menuturkan bahwa
sebelum akhirnya Mita menghadap Tuhan Yang Maha Esa untuk selama-lamanya, gadis
cantik itu sempat pulang ke rumah dan berpamitan untuk bertemu salah seorang kerabatnya.
"Setelah 3 hari berturut-turut kerja, Mita sempat pulang ke rumah. Tapi, cuma mandi dan dia
pergi lagi karena harus ketemu temannya dari Singapura," kata Handoko selaku Ketua
Bidang Branding dan Advertising dari P3I, saat diwawancarai Health Liputan6.com, Senin
(16/12/2013)
Ditambahkan Handoko, semua musibah itu terjadi pada saat Mita pamit untuk bertemu
temannya itu. Sebab, belum ada beberapa jam Mita keluar rumah, orang rumah mendapatkan
kabar Mita pingsan, dan segera dibawa ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). "Setelah
Mita pingsan, dibawa ke RSPP, dan koma. Tidak sampai 24 jam, Mita meninggal dunia," kata
Handoko lagi. Menurut Handoko, kejadian ini sendiri terjadi pada Sabtu (14/12/2013) dan
Mita meninggal dunia pada Minggu (15/12/2013) "Yang disesalkan ini, karena Mita tidak
punya

waktu

untuk

dirinya

sendiri,"

kata

Handoko

menambahkan.

Dilanjutkan oleh pria yang sehari-hari menghabiskan waktunya di OneComm Indonesia ini
bahwa Mita memiliki riwayat kesehatan, di mana dia sempat menjalani operasi kista pada
tahun 2012. Di mata keluarga, tambah Handoko, Mita merupakan sosok anak yang
multitalented. Bukti bahwa Mita adalah anak yang berbakat, terlihat jelas dari beberapa
penghargaan yang dia dapatkan selama ini. Menurut Handoko kedua orangtua Mita hanya
heran dan kecewa, tapi tidak dapat protes apa-apa. Karena memang, orangtua Mita pun

berasal dari satu profesi yang sama, yaitu periklanan. Kabar meninggalnya Mita sempat
menghebohkan ranah jejaring sosial, Twitter kemarin malam. Sampai hari ini, ucapan berbela
sungakawa

terus

mengalir

deras

ke

akun

pribadi

Mita

(@Mitdoq)

Di Twitter, disebutkan juga oleh teman-temannya bahwa selama bekerja ekstra itu, gadis
cantik berambut pendek ini mengonsumsi minuman berenergi dan memiliki kafein tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.academia.edu/7365298/Kelelahan_Kerja
http://renirs.blogspot.co.id/2013/05/teori-kelelahan.html
http://health.liputan6.com/read/776028/kronologi-wafatnya-mita-diran-gadis-yang-kerja-nonstop-30-jam?wp.hdln