Anda di halaman 1dari 14

Dampak Pencemaran Udara dan

Penanggulangannya

1)
2)
3)
4)

PENDAHULUAN
Udara dimana di dalamnya terkandung sejumlah oksigen, merupakan
komponen esensial bagi kehidupan, baik manusia maupun makhluk hidup lainnya.
Udara merupakan campuran dari gas, yang terdiri dari sekitar 78 % Nitrogen, 20 %
Oksigen; 0,93 % Argon; 0,03 % Karbon Dioksida (CO2) dan sisanya terdiri dari Neon
(Ne), Helium (He), Metan (CH4) dan Hidrogen (H2). Udara dikatakan "Normal" dan
dapat mendukung kehidupan manusia apabila komposisinya seperti tersebut diatas.
Sedangkan apabila terjadi penambahan gas-gas lain yang menimbulkan gangguan
serta perubahan komposisi tersebut, maka dikatakan udara sudah
tercemar/terpolusi.
Akibat aktifitas perubahan manusia udara seringkali menurun kualitasnya.
Perubahan kualitas ini dapat berupa perubahan sifat-sifat fisis maupun sifat-sifat
kimiawi. Perubahan kimiawi, dapat berupa pengurangan maupun penambahan salah
satu komponen kimia yang terkandung dalam udara, yang lazim dikenal sebagai
pencemaran udara. Kualitas udara yang dipergunakan untuk kehidupan tergantung
dari lingkungannya. Kemungkinan disuatu tempat dijumpai debu yang bertebaran
dimana-mana dan berbahaya bagi kesehatan. Demikian juga suatu kota yang
terpolusi oleh asap kendaraan bermotor atau angkutan yang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan.
Penulisan ini kami susun sebagai berikut :
Pencemaran udara
Dampak pencemaran udara
Penanggulangan pencemaran udara
Desain Rekayasa Teknik Lingkungan untuk Kualitas Udara
1).

PENCEMARAN UDARA
Pencemaran Udara adalah kondisi udara yang tercemar dengan adanya bahan,
zat-zat asing atau komponen lain di udara yang menyebabkan berubahnya tatanan
udara oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas udara menjadi
kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Pencemaran
udara mempengaruhi sistem kehidupan makhluk hidup seperti gangguan kesehatan,
ekosistem yang berkaitan dengan manusia.

Jenis-jenis pencemaran udara


Menurut bentuk : Gas, Pertikel
Menurut tempat : Ruangan (indoor), udara bebas (outdoor)
Gangguan kesehatan : Iritansia, asfiksia, anetesia, toksis
Menurut asal : Primer, sekunder

Bahan atau Zat pencemaran udara dapat berbentuk gas dan partikel :
Pencemaran udara berbentuk gas dapat dibedakan menjadi :
Golongan belerang terdiri dari Sulfur Dioksida (SO2), Hidrogen Sulfida (H2S) dan
Sulfat Aerosol.
Golongan Nitrogen terdiri dari Nitrogen Oksida (N2O), Nitrogen Monoksida (NO),
Amoniak (NH3) dan Nitrogen Dioksida (NO2).
Golongan Karbon terdiri dari Karbon Dioksida (CO2), Karbon Monoksida (CO),
Hidrokarbon .
Golongan gas yang berbahaya terdiri dari Benzen, Vinyl Klorida, air raksa uap.
Pencemaran udara berbentuk partikel dibedakan menjadi :
Mineral (anorganik) dapat berupa racun seperti air raksa dan timah.
Bahan organik terdiri dari ikatan hidrokarbon, klorinasi alkan, Benzen.
Makhluk hidup terdiri dari bakteri, virus, telur cacing.
Pencemaran udara menurut tempat dan sumbernya dibedakan menjadi
dua :
Pencemaran udara bebas (Out door air pollution), Sumber Pen-cemaran
udara bebas : Alamiah, berasal dari letusan gunung berapi, pembusukan, dll. Dan
Kegiatan manusia, misalnya berasal dari kegiatan industri, rumah tangga, asap
kendaraan, dll.
Pencemaran udara ruangan (In door air pollution), berupa pencemaran
udara didalam ruangan yang berasal dari pemukiman, perkantoran ataupun gedung
tinggi.
Pencemaran udara berdasarkan pengaruhnya terhadap gangguan
kesehatan dibedakan menjadi 3 jenis :
Irintasia. Biasanya polutan ini bersifat korosif. Merangsang proses peradangan
hanya pada saluran pernapasan bagian atas, yaitu saluran pernapasan mulai dari
hidung hingga tenggorokkan. Misalnya Sulfur Dioksida, Sulfur Trioksida,Amoniak,
debu. Iritasi terjadi pada saluran pernapasan bagian atas dan juga dapat mengenai
paru-paru sendiri.
Asfiksia. Disebabkan oleh ber-kurangnya kemampuan tubuh dalam menangkap
oksigen atau mengakibatkan kadar O2 menjadi berkurang. Keracunan gas Karbon
Monoksida mengakibatkan CO akan mengikat hemoglobin sehingga kemampuan
hemoglobin mengikat O2 berkurang terjadilah Asfiksia. Yang termasuk golongan
ini adalah gas Nitrogen, Oksida, Metan, Gas Hidrogen dan Helium.
Anestesia. Bersifat menekan susunan syaraf pusat sehingga kehilangan kesadaran,
misalnya aeter, aetilene, propane dan alkohol alifatis.

Toksis. Titik tangkap terjadinya berbagai jenis, yaitu :


Menimbulkan gangguan pada sistem pembuatan darah, mi-salnya benzene, fenol,
toluen dan xylene. Keracunan terhadap susunan syaraf, misalnya karbon disulfid,
metil alkohol.
Pencemaran udara dapat pula dikelompokkan kedalam :
Pencemar primer. Polutan yang bentuk dan komposisinya sama dengan ketika
dipancarkan, lazim disebut sebagai pencemar primer, antara lain CO, CO2,
hidrokarbon, SO, Nitrogen Oksida, Ozon serta berbagai partikel.
Pencemar Sekunder. Berbagai bahan pencemar kadangkala bereaksi satu sama
lain menghasilkan jenis pencemar baru, yang justru lebih membahayakan
kehidupan. Reaksi ini dapat terjadi secara otomatis ataupun dengan cara
bantuankatalisator (zat yang mempercepat reaksi), seperti sinar matahari.
Pencemar hasil reaksi disebut sebagai pencemar sekunder. Contoh pencemar
sekunder adalah Ozon (O3 yg langsung sampai ke bumi), formal dehida, dan Peroxy
Acyl Nitrate (PAN).
2). DAMPAK/PENGARUH PENCEMARAN UDARA
Dampak/pengaruh pencemaran udara bisa mempengaruhi terhadap makhluk hidup
baik secara langsung maupun tidak langsung dapat di lihat Tabel 1 dan Tabel 2
Dampak pencemaran udara terhadap kesehatan secara tidak langsung.
Pencemaran udara disamping berdampak langsung bagi kesehatan
manusia/individu, juga berdampak tidak langsung bagi kesehatan. Efek SO2
terhadap vegetasi dikenal dapat menimbulkan pemucatan pada bagian antara tulang
atau tepi daun. Emisi oleh Fluor (F), Sulfur Dioksida (SO2) dan Ozon (O3)
mengakibatkan gangguan proses asimilasi pada tumbuhan. Pada tanaman sayuran
yang terkena/mengandung pencemar Pb yang pada akhirnya memiliki potensi
bahaya kesehatan masyarakat apabila tanaman sayuran tersebut di konsumsi oleh
manusia.
Pencemaran Udara Menyebabkan Penyakit Degeneratif
Pencemaran Udara menjadi salah satu pemicu munculnya penyakit degeneratif
yang belakangan makin meningkat prevalensinya. Oleh sebab itu, pengendalian
Pencemaran Udara harus dilakukan secara terpadu.
Tim ahli Teknik Lingkungan bekerja sama dengan penelitian JICA, badan
peneliti dari Jepang, menunjukkan adanya peningkatan jumlah penderita hipertensi
akibat pencemaran timbal (Pb).
Meningkatnya penderita hipertensi ini disebabkan keracunan Pb yang
ditemukan di dalam darah si penderita. Penyakit hipertensi ini bisa berkomplikasi
dengan jantung, ginjal maupun gula darah sehingga menyebabkan penderita
mengalami diabetes hipertensi.

Pengguna lalu lintas yang aktif seperti polisi, penjaga pintu tol, pedagang
asongan maupun sopir merupakan orang yang berpotensi terkena hipertensi karena
timbal ini, sebab mereka sering berada di jalan.
Selain itu, angka harapan hidup pun rata-rata mencapai 50 tahun dari usia
harapan hidup untuk orang sehat selama ini, yakni 70 tahun. Selain hipertensi,
impotensi juga meningkat. Sebetulnya tidak hanya timbal saja. Pencemaran udara di
sekitar lokasi pabrik ataupun tambang emas telah terbukti menyebabkan penyakit
kanker dalam jangka waktu tertentu.
Penyakit lain yang dianggap sebagai akibat dari udara yang tercemar adalah:
1. Cough / batuk
2. Throat inflammation / radang tenggorokan
3. Asthma / asma
4. Emphysema / emfisema
5. Lung cancer / kanker paru-paru
6. Bronchitis / paru-paru basah
7. IQ decreasement / penurunan tingkat kecerdasan
8. Heart diseases / jantung
9. Hypertension / tekanan darah tinggi
10. Headache / sakit kepala
11. Brain & nerve cells damage / kerusakan sel-sel otak dan saraf
12. Infertillity / penurunan tingkat kesuburan
Penyakit yang ditimbulkan oleh udara yang tercemar, menurut ahli kesehatan Juga
dapat dibagi menjadi 5 bagian, diantaranya:
1. Penyakit Silikosis
Penyakit Silikosis disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas, berupa SiO2,
yang terhisap masuk ke dalam paru-paru dan kemudian mengendap. Debu silika
bebas ini banyak terdapat di pabrik besi dan baja, keramik, pengecoran beton,
bengkel yang mengerjakan besi (mengikir, menggerinda, dll). Selain dari itu, debu
silika juka banyak terdapat di tempat di tempat penampang bijih besi, timah putih
dan tambang batubara. Pemakaian batubara sebagai bahan bakar juga banyak
menghasilkan debu silika bebas SiO2. Pada saat dibakar, debu silika akan keluar dan
terdispersi ke udara bersama sama dengan partikel lainnya, seperti debu alumina,
oksida besi dan karbon dalam bentuk abu.
Debu silika yang masuk ke dalam paru-paru akan mengalami masa inkubasi
sekitar 2 sampai 4 tahun. Masa inkubasi ini akan lebih pendek, atau gejala penyakit
silicosis akan segera tampak, apabila konsentrasi silika di udara cukup tinggi dan
terhisap ke paru-paru dalam jumlah banyak. Penyakit silicosis ditandai dengan
sesak nafas yang disertai batuk-batuk. Batuk ii seringkali tidak disertai dengan
dahak. Pada silicosis tingkah sedang, gejala sesak nafas yang disertai terlihat dan
pada pemeriksaan fototoraks kelainan paru-parunya mudah sekali diamati. Bila

penyakit silicosis sudah berat maka sesak nafas akan semakin parah dan kemudian
diikuti dengan hipertropi jantung sebelah kanan yang akan mengakibatkan
kegagalan kerja jantung.
Tempat kerja yang potensial untuk tercemari oleh debu silika perlu
mendapatkan pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja dan lingkungan yang
ketat sebab penyakit silicosis ini belum ada obatnya yang tepat. Tindakan preventif
lebih penting dan berarti dibandingkan dengan tindakan pengobatannya. Penyakit
silicosis akan lebih buruk kalau penderita sebelumnya juga sudah menderita
penyakit TBC paru-paru, bronchitis, astma broonchiale dan penyakit saluran
pernapasan lainnya.
Pengawasan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pekerja akan
sangat membantu pencegahan dan penanggulangan penyakit-penyakit akibat kerja.
Data kesehatan pekerja sebelum masuk kerja, selama bekerja dan sesudah bekerja
perlu dicatat untuk pemantulan riwayat penyakit pekerja kalau sewaktu waktu
diperlukan.
2. Penyakit Asbestosis
Penyakit Asbestosis adalah penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh debu
atau serat asbes yang mencemari udara. Asbes adalah campuran dari berbagai
macam silikat, namun yang paling utama adalah Magnesium silikat. Debu asbes
banyak dijumpai pada pabrik dan industri yang menggunakan asbes, pabrik
pemintalan serat asbes, pabrik beratap asbes dan lain sebagainya.
Debu asbes yang terhirup masuk ke dalam paru-paru akan mengakibatkan
gejala sesak napas dan batuk-batuk yang disertai dengan dahak. Ujung-ujung jari
penderitanya akan tampak membesar / melebar. Apabila dilakukan pemeriksaan
pada dahak maka akan tampak adanya debu asbes dalam dahak tersebut.
Pemakaian asbes untuk berbagai macam keperluan kiranya perlu diikuti dengan
kesadaran akan keselamatan dan kesehatan lingkungan agar jangan sampai
mengakibatkan asbestosis ini.
3. Penyakit Bisinosis
Penyakit Bisinosis adalah penyakit pneumoconiosis yang disebabkan oleh
pencemaran debu napas atau serat kapas di udara yang kemudian terhisap ke dalam
paru-paru. Debu kapas atau serat kapas ini banyak dijumpai pada pabrik pemintalan
kapas, pabrik tekstil, perusahaan dan pergudangan kapas serta pabrik atau bekerja
lain yang menggunakan kapas atau tekstil; seperti tempat pembuatan kasur,
pembuatan jok kursi dan lain sebagainya.
Masa inkubasi penyakit bisinosis cukup lama, yaitu sekitar 5 tahun. Tanda-tanda
awal penyakit bisinosis ini berupa sesak napas, terasa berat pada dada, terutama
pada hari Senin (yaitu hari awal kerja pada setiap minggu). Secara psikis setiap hari
Senin bekerja yang menderita penyakit bisinosis merasakan beban berat pada dada

serta sesak nafas. Reaksi alergi akibat adanya kapas yang masuk ke dalam saluran
pernapasan juga merupakan gejala awal bisinosis. Pada bisinosis yang sudah lanjut
atau berat, penyakit tersebut biasanya juga diikuti dengan penyakit bronchitis kronis
dan mungkin juga disertai dengan emphysema.
4. Penyakit Antrakosis
Penyakit Antrakosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh
debu batubara. Penyakit ini biasanya dijumpai pada pekerja-pekerja tambang
batubara atau pada pekerja-pekerja yang banyak melibatkan penggunaan batubara,
seperti pengumpa batubara pada tanur besi, lokomotif (stoker) dan juga pada kapal
laut bertenaga batubara, serta pekerja boiler pada pusat Listrik Tenaga Uap
berbahan bakar batubara.
Masa inkubasi penyakit ini antara 2 4 tahun. Seperti halnya penyakit silicosis
dan juga penyakit-penyakit pneumokonisosi lainnya, penyakit antrakosis juga
ditandai dengan adanya rasa sesak napas. Karena pada debu batubara terkadang
juga terdapat debu silikat maka penyakit antrakosis juga sering disertai dengan
penyakit silicosis. Bila hal ini terjadi maka penyakitnya disebut silikoantrakosis.
Penyakit antrakosis ada tiga macam, yaitu penyakit antrakosis murni, penyakit
silikoantraksosis dan penyakit tuberkolosilikoantrakosis.
Penyakit antrakosis murni disebabkan debu batubara. Penyakit ini memerlukan
waktu yang cukup lama untuk menjadi berat, dan relatif tidak begitu berbahaya.
Penyakit antrakosis menjadi berat bila disertai dengan komplikasi atau emphysema
yang memungkinkan terjadinya kematian. Kalau terjadi emphysema maka
antrakosis murni lebih berat daripada silikoantraksosis yang relatif jarang diikuti
oleh emphysema. Sebenarnya antara antrakosis murni dan silikoantraksosi sulit
dibedakan,
kecuali
dari
sumber
penyebabnya.
Sedangkan
paenyakit
tuberkolosilikoantrakosis lebih mudah dibedakan dengan kedua penyakit antrakosis
lainnya. Perbedaan ini mudah dilihat dari fototorak yang menunjukkan kelainan
pada paru-paru akibat adanya debu batubara dan debu silikat, serta juga adanya
baksil tuberculosis yang menyerang paru-paru.
5. Penyakit Beriliosis
Udara yang tercemar oleh debu logam berilium, baik yang berupa logam murni,
oksida, sulfat, maupun dalam bentuk halogenida, dapat menyebabkan penyakit
saluran pernapasan yang disebut beriliosis. Debu logam tersebut dapat
menyebabkan nasoparingtis, bronchitis dan pneumonitis yang ditandai dengan
gejala sedikit demam, batuk kering dan sesak napas. Penyakit beriliosis dapat timbul
pada pekerja-pekerja industri yang menggunakan logam campuran berilium,
tembaga, pekerja pada pabrik fluoresen, pabrik pembuatan tabung radio dan juga
pada pekerja pengolahan bahan penunjang industri nuklir.
Selain dari itu, pekerja-pekerja yang banyak menggunakan seng (dalam bentuk
silikat) dan juga mangan, dapat juga menyebabkan penyakit beriliosis yang tertunda

atau delayed berryliosis yang disebut juga dengan beriliosis kronis. Efek tertunda ini
bisa berselang 5 tahun setelah berhenti menghirup udara yang tercemar oleh debu
logam tersebut. Jadi lima tahun setelah pekerja tersebut tidak lagi berada di
lingkungan yang mengandung debu logam tersebut, penyakit beriliosis mungkin
saja timbul. Penyakit ini ditandai dengan gejala mudah lelah, berat badan yang
menurun dan sesak napas. Oleh karena itu pemeriksaan kesehatan secara berkala
bagi pekerja-pekerja yang terlibat dengan pekerja yang menggunakan logam
tersebut perlu dilaksanakan terus menerus.

3). PENANGGULANGAN PENCEMARAN UDARA


Penanggulangan pencemaran udara dapat dilakukan dengan cara mengurangi
polutan dengan alat-alat, mengubah polutan, melarutkan polutan dan
mendispersikan polutan, Penanggulangan pencemaran udara berbentuk gas di lihat
pada tabel 3.
Penanggulangan Polusi udara dari ruangan
Sumber dari pencemaran udara ruangan berasal dari asap rokok, pembakaran asap
dapur, bahan baku ruangan, kendaraan bermotor dan lain-lain yang dibatasi oleh
ruangan. Pencegahan pencemaran udara yang berasal dari ruangan bisa
dipergunakan :
Ventilasi yang sesuai, yaitu :
Usahakan polutan yang masuk ruangan seminimum mungkin.
Tempatkan alat pengeluaran udara dekat dengan sumber pencemaran. Usahakan
menggantikan udara yang keluar dari ruangan sehingga udara yang masuk ke
ruangan sesuai dengan kebutuhan.
Filtrasi, Memasang filter dipergunakan dalam ruangan dimaksudkan untuk
menangkap polutan dari sumbernya dan polutan dari udara luar ruangan.
Pembersihan udara secara elektronik. Udara yang mengandung polutan
dilewatkan melalui alat ini sehingga udara dalam ruangan sudah berkurang
polutannya atau disebut bebas polutan.
PENUTUP
Upaya penanggulangan terhadap pencemaran udara diberitahukan tentang berbagai
cara untuk penanggulangan dan pencegahan Pencemaraan udara yang tergantung
pada sifat dan sumber polutan udara, seperti mengurangi polutan, mengubah
polutan, melarutkan polutan dan mendisfersikan polutan. Diharapkan agar keadaan
lingkungan tetap sehat dan bersih dari pencemaran udara.

4).

Desain Rekayasa Teknik Untuk Kualitas Udara


Pengendalian pencemaran udara dilakukan dengan dua cara yaitu
pengendalian pada sumber pencemar dan pengenceran limbah gas. Pengendalian
pada sumber pencemar merupakan metode yang lebih efektif karena hal tersebut
dapat mengurangi keseluruhan limbah gas yang akan diproses dan yang pada
akhirnya dibuang ke lingkungan. Di dalam sebuah pabrik kimia, pengendalian
pencemaran udara terdiri dari dua bagian yaitu penanggulangan emisi debu dan
penanggulangan emisi senyawa pencemar.
Alat-alat pemisah debu bertujuan untuk memisahkan debu dari alirah gas
buang. Debu dapat ditemui dalam berbagai ukuran, bentuk, komposisi kimia,
densitas, daya kohesi, dan sifat higroskopik yang berbeda. Maka dari itu, pemilihan
alat pemisah debu yang tepat berkaitan dengan tujuan akhir pengolahan dan juga
aspek ekonomis. Secara umum alat pemisah debu dapat diklasifikasikan menurut
prinsip kerjanya:

Pemisah Brown
Alat pemisah debu yang bekerja dengan prinsip ini menerapkan prinsip gerak
partikel menurut Brown. Alat ini dapat memisahkan debu dengan rentang ukuran
0,01 0,05 mikron. Alat yang dipatenkan dibentuk oleh susunan filamen gelas
denga jarak antar filamen yang lebih kecil dari lintasan bebas rata-rata partikel.
Penapisan
Deretan penapis atau filter bag akan dapat menghilangkan debu hingga 0,1
mikron. Susunan penapis ini dapat digunakan untuk gas buang yang mengandung
minyak atau debu higroskopik.

Electrostatic Precipitator

Gambar 1. Sketsa alat Elektrostatik precipitator

Pengendap elektrostatik
Alat ini mengalirkan tegangan yang tinggi dan dikenakan pada aliran gas yang
berkecepatan rendah. Debu yang telah menempel dapat dihilangkan secara
beraturan dengan cara getaran. Keuntungan yang diperoleh dari penggunaan

pengendap elektrostatik ini ialah didapatkannya debu yang kering dengan ukuran
rentang 0,2 0,5 mikron. Secara teoritik seharusnya partikel yang terkumpulkan
tidak memiliki batas minimum.

Pengumpul sentrifugal
Pemisahan debu dari aliran gas didasarkan pada gaya sentrifugal yang
dibangkitkan oleh bentuk saluran masuk alat. Gaya ini melemparkan partikel ke
dinding dan gas berputar (vortex) sehingga debu akan menempel di dinding serta
terkumpul pada dasar alat. Alat yang menggunakan prinsip ini digunakan untuk
pemisahan partikel dengan rentang ukuran diameter hingga 10 mikron lebih.

Pemisah inersia
Pemisah ini bekerja atas gaya inersia yang dimiliki oleh partikel dalam aliran
gas. Pemisah ini menggunakan susunan penyekat sehingga partikel akan
bertumbukan dengan penyekat dan akan dipisahkan dari aliran fasa gas. Alat yang
bekerja berdasarkan prinsip inersia ini bekerja dengan baik untuk partikel yang
berukuran hingga 5 mikron.
Pengendapan dengan gravitasi
Alat yang bekerja dengan prinsip ini memanfaatkan perbedaan gaya gravitasi
dan kecepatan yang dialami oleh partikel. Alat ini akan bekerja dengan baik untuk
partikel dengan ukuran yang lebih besar dari 40 mikron dan tidak digunakan sebagi
pemisah debu tingkat akhir.
Di industri, terdapat juga beberapa alat yang dapat memisahkan debu dan gas secara
bersamaan (simultan). Alat-alat tersebut memanfaatkan sifat-sifat fisik debu
sekaligus sifat gas yang dapat terlarut dalam cairan. Beberapa metoda umum yang
dapat digunakan untuk pemisahan secara simultan ialah:

Irrigated Cyclone Scrubber

Gambar 2. Sketsa Irrigated Cyclone Scrubber

Menara percik
Prinsip kerja menara percik ialah mengkontakkan aliran gas yang berkecepatan
rendah dengan aliran air yang bertekanan tinggi dalam bentuk butiran. Alat ini
merupakan alat yang relatif sederhana dengan kemampuan penghilangan sedang

(moderate). Menara percik mampu mengurangi kandungan debu dengan rentang


ukuran diameter 10-20 mikron dan gas yang larut dalam air.

Siklon basah
Modifikasi dari siklon ini dapat menangani gas yang berputar lewat percikan
air. Butiran air yang mendandung partikel dan gas yang terlarut akan dipisahkan
dengan aliran gas utama atas dasar gaya sentrifugal. Slurry dikumpulkan di bagian
bawah siklon. Siklon jenis ini lebih baik daripada menara percik. Rentang ukuran
debu yang dapat dipisahkan ialah antara 3 5 mikron.

Pemisah venturi
Metode pemisahan venturi didasarkan atas kecepatan gas yang tinggi pada
bagian yang disempitkan dan kemudan gas akan bersentuhan dengan butir air yang
dimasukkan di daerah sempit tersebut. Alat ini dapat memisahakan partikel hingga
ukuran 0,1 mikron dan gas yang larut di dalam air.

Tumbukan orifice plate


Alat ini disusun oleh piringan yang berlubang dan gas yang lewat orifis ini
membentur lapisan air hingga membentuk percikan air. Percikan ini akan
bertumbukkan dengan penyekat dan air akan menyerap gas serta mengikat debu.
Ukuran partikel paling kecil yang dapat diserap ialah 1 mikron.

Menara dengan packing


Prinsip penyerapan gas dilakukan dengan cara mengkontakkan cairan dan gas
di antara packing. Aliran gas dan cairan dapat mengalir secara co-current, countercurrent, ataupun cross-current. Ukuran debu yang dapat diserap ialah debu yang
berdiameter lebih dari 10 mikron.

Pencuci dengan pengintian


Prinsip yang diterapkan adalah pertumbuhan inti dengan kondensasi dan
partikel yang dapat ditangani ialah partikel yang berdiameter hingga 0,01 mikron
serta dikumpulkan pada permnukaan filamen.

Pembentur turbulen
Pembentur turben pada dasarnya ialah penyerapan partikel dengan cara
mengalirkan aliran gas lewat cairan yang berisi bola-bola pejal. Partikel dapat

dipisahan dari aliran gas karena bertumbukkan dengan bola-bola tersebut. Efisiensi
penyerapan gas bergantung pada jumlah tahap yang digunakan.
Pemilihan Teknologi
Teknologi pengendalian harus dikaji secara seksama agar penggunaan alat tidak
berlebihan dan kinerja yang diajukan oleh pembuat alat dapat dicapai dan
memenuhi persyaratan perlindungan lingkungan dan disertai juga dengan
perhitungan desain teknis rekayasa engineer serta analisa laboratorium dengan
pengolahan data dari hasil verifikasi. Secara umum faktor-faktor yang
mempengaruhi pemilihan teknologi pengendalian dan rancangan sistemnya ialah:
1. watak gas buang atau effluent
2. tingkat pengurangan limbah yang dibutuhkan
3. teknologi komponen alat pengendalian pencemaran
4. kemungkinan perolehan senyawa pencemar yang bernilai ekonomi
Industri-industri di Indonesia terutama industri milik negara telah
menerapakan sistem pengendalian pencemaran udara dan sistem ini terutama
dikaitkan dengan proses produksi serta penanggulangan pencemaran debu.

NO
1.

2.
3.

4.

5.

BAHAN
PENCEMAR
Sulfur Dioksida
(SO2)

Hidrogen Sulfa
(H2S)
Nitrogen Oksida
(N2O)
Nitrogen
Monoksida (NO)
Nitrogen Dioksida
(NO2)
Amoniak (NH3)

Karbon Dioksida
(CO2)Karbon
Monoksida
(CO)Hidrokarbon

Tabel 1 Dampak pencemaran udara berupa gas


SUMBER
DAMPAK/AKIBAT PADA
INDIVIDU/MASYARAKAT
Batu bara atau bahan bakar
Menimbulkan efek iritasi pada saluran nafas
minyak yang mengandung
sehingga menimbulkan gejala batuk dan sesak
Sulfur.
nafas.
Pembakaran limbah pertanah.
Proses dalam industri.
Dari kawah gunung yang masih
Menimbulkan bau yang tidak sedap, dapat
aktif.
merusak indera penciuman (nervus olfactory)
Berbagai jenis pembakaran.
Menggangu sistem pernapasan.
Gas buang kendaran bermotor.
Melemahkan sistem pernapasan paru dan
Peledak, pabrik pupuk.
saluran nafas sehingga paru mudah terserang
infeksi.
Proses Industri

Semua hasil pembakaran.Proses


Industri
.

Menimbulkan bau yang tidak


sedap/menyengat.
Menyebabkan sistem pernapasan, Bronchitis,
merusak indera penciuman.
Menimbulkan efek sistematik, karena
meracuni tubuh dengan cara pengikatan
hemoglobin yang amat vital bagi oksigenasi
jaringan tubuh akaibatnya apabila otak
kekurangan oksigen dapat menimbulkan
kematian.
Dalam jumlah kecil dapat menimbulkan
gangguan berfikir, gerakan otot, gangguan
jantung.

NO
1.

NO
1.

Tabel 2 Penanggulangan pencemaran udara benbentuk gas


BAHAN PENCEMAR
PENANGGULANGAN
KETERANGAN
Sulfur Dioksida (SO2)
Absorbsi
Dalam proses adsorbsi
dipergunakan bahan padat yang
Hidrogen Suldfida (H2S)
dapat menyerap polutan. Berbagai
Nitrogen Oksida (N2O)
tipe adsorben yang dipergunakan
Nitrogen Monoksida (NO)
antara lain karbon aktif dan silikat.
Adsorben mempunyai daya
Nitrogen Dioksida (NO2)
kejenuhan sehingga selalu
Amoniak (NH3)
diperlukan pergantian, bersifat
Karbondioksidak
disposal (sekali pakai buang) atau
(CO2)Karbon Monoksida
dibersihkan kemudian dipakai
(CO)Hidrokarbon
kembali.
Pembakaran
Mempergunakan proses oksidasi
panas untuk menghancurkan gas
hidrokarbon yang terdapat didalam
polutan. Hasil pembakaran berupa
(CO2) dan (H2O). Alat
pembakarannya adalah Burner
dengan berbagai tipe dan
temperaturnya adalah 1200o
1400o F
Reaksi Kimia
Banyak dipergunakan pada emisi
golongan Nitrogen dan golongan
Be-lerang. Biasanya cara kerja ini
merupakan kombinasi dengan cara
- cara lain, hanya dalam
pembersihan polutan udara dengan
reaksi kimia yang dominan.
Membersihkan gas golongan
nitrogen , caranya dengan
diinjeksikan Amoniak (NH3) yang
akan bereaksi kimia dengan
Nox dan membentuk bahan padat
yang mengendap. Untuk
menjernihkan golongan belerang
dipergunakan Copper Oksid atau
kapur dicampur arang.

BAHAN
PENCEMAR
Debu - partikel

Tabel 3 Dampak Pencemaran udara berupa partikel


SUMBER
DAMPAK/AKIBAT PADA
INDIVIDU/MASYARAKAT
Debu domestik maupun dari
Menimbulkan iritasi mukosa, Bronchitis,

industri
Gas buang kendaraan bermotor
Peleburan timah hitamPabrik
battere

Benzen

Partikel polutan
bersifat biologis
berupa : Bakteri,
jamur, virus,
telur cacing.

Kendaraan bermotor.Daerah
industri.
Daerah yang kurang bersih
lingkungannya

menimbulkan fibrosis paru.


Dampak yang di timbulkan amat
membahayakan, karena dapat meracuni
sistem pembentukan darah merah .
Menimbulkan gangguan pembentukan sel
darah merahPada anak kecil menimbulkan
penurunan kemampuan otakPada orang
dewasa menimbulkan anemia dan
gangguan tekanan darah tinggi.
Menimbulkan gangguan syaraf pusat.
Pada pencemaran udara ruangan yang ber
AC dijumpai beberapa jenis bakteri yang
mengakibatkan penyakit pernapasan.

Tabel 4 Penanggulangan pencemaran udara berbentuk partikel


No
.

BAHAN
PENCEMAR
Debu partikelTimah
hitam
(Pb)BenzenPartike
l polutan bersifat
biologis berupa
:Bakteri, jamur,
virus, telur cacing.

PENANGGULANGAN

KETERANGAN

Membersihkan(Scrubbing)Menggunaka
n filterMempergunakan Kolektor
MekanisProgram langit
biruMenggalakkan penanaman
Tumbuhan

Mempergunakan cairan
untuk memisahkan
polutan, dalam keadaan
alamiah (turun hujan)
maka polutan partikel
dapat turut dibawa
bersama air hujan. Alat
scrubbing ada berbagai
jenis, yaitu berbentuk plat,
masif, fibrous dan spray.
Dengan filtrasi
dimaksudkan menangkap
polutan partikel pada
permukaan flter. Filter
yang digunakan berukuran
sekecil mungkin.
Dengan menggunakan
tenaga gravitasi dan tenaga
kinetis atau kombinasi
untuk mengendapkan
polutan partikel. Sebagai
kolektor dipergunakan gaya
sentripetal yang memakai
silikon. Semakin besar
partikel secepat mungkin
proses pembersihan
Program langit biru yang

dikumandangkan oleh
pemerintah Indonesia
adalah mengurangi
pencemaran udara,
khususnya dari akibat
transportasi. Ada 3
tindakan yang dilakukan
terhadap pencemaran
udara akibat transportasi
yaitu mengganti bahan
bakar, mengubah mesin
kendaraan, memasang alatalat pembersih polutan
pada kendaraan.
Mempertahankan paruparu kota dengan
memperluas pertamanan
dan penanaman berbagai
jenis tumbuh-tumbuhan
sebagai penangkal
pencemaran udara.