Anda di halaman 1dari 5

SASARAN KESELAMATAN PASIEN

>/= 80% Terpenuhi


20-79%
Terpenuhi
sebagian
< 20%
Tidak terpenuhi

STANDAR, MAKSUD DAN TUJUAN, ELEMEN PENILAIAN

Standar SKP. 1 (Identifikasi Pasien)


Rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk memperbaiki/meningkatkan ketelitian identifikasi pasien .
Maksud dan tujuan SKP. 1
Kesalahan karena keliru dalam mengidentifikasi pasien dapat terjadi di hampir semua aspek/tahapan diagnosis dan pengobatan. Kesalahan identifikasi
pasien bisa terjadi pada pasien yang dalam keadaan terbius/tersedasi, mengalami disorientasi, tidak sadar, bertukar tempat tidur/kamar/ lokasi di
rumah sakit, adanya kelainan sensori, atau akibat situasi lain. Maksud sasaran ini adalah untuk melakukan dua kali pengecekan yaitu: pertama, untuk
identifikasi pasien sebagai individu yang akan menerima pelayanan atau pengobatan; dan kedua, untuk kesesuaian
pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.
Elemen Penilaian SKP.1

SASARAN TELUSUR

MATERI

SKOR

DOKUMEN

1. Pasien diidentifikasi menggunakan Pimpinan RS


Strategi
pelaksanaan,
0
dua identitas pasien, tidak boleh Petugas Admisi RS
mekanisme
monitoring
dan
5
menggunakan nomor kamar atau Petugas medis dan paramedis
evaluasi,
serta
sistem
10
lokasi pasien.
pelaporannya
RS
2. Pasien diidentifikasi sebelum
0
Regulasi RS:
Penyusunan
regulasi,
pemberian obat, darah, atau produk
5 Kebijakan/Panduan/SPO
Penyediaan
fasilitas
dan
darah.
10
pemasangan gelang
dukungan
pembiayaan
RKA
3. Pasien diidentifikasi sebelum
identitas
rumah sakit
mengambil darah dan spesimen lain
Pelaksanaan pelatihan untuk
untuk pemeriksaan klinis.
pemasangan gelang identitas
4. Pasien diidentifikasi sebelum

evaluasi pemasangan gelang


pemberian
pengobatan
dan
identitas
tindakan/prosedur.
5.
Kebijakan
dan
prosedur
0
mengarahkan
pelaksanaan
5
identifikasi yang konsisten pada
10
semua situasi dan lokasi.
Standar SKP.2 (Komunikasi yang efektif dalam pemberian informasi dan edukasi)
Rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk meningkatkan efektivitas komunikasi antar para pemberi layanan.
Maksud dan tujuan SKP. 2
Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh pasien, akan mengurangi kesalahan, dan menghasilkan
peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat berbentuk elektronik, lisan, atau tertulis. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan kebanyakan
terjadi pada saat perintah diberikan secara lisan atau melalui telepon. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan yang lain adalah pelaporan kembali
hasil pemeriksaan kritis, seperti melaporkan hasil laboratorium klinik cito melalui telepon ke unit pelayanan. Rumah sakit secara kolaboratif
mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk perintah lisan dan telepon termasuk: mencatat (atau memasukkan ke komputer) perintah
yang lengkap atau hasil pemeriksaan oleh penerima perintah; kemudian penerima perintah membacakan kembali (read back) perintah atau hasil

pemeriksaan; dan mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah dituliskan dan dibaca ulang adalah akurat.

DOKUMEN
Elemen Penilaian SKP. 2

SASARAN TELUSUR

MATERI

1. Perintah lengkap secara lisan


Strategi pelaksanaan, mekanisme
dan yang melalui telepon atau hasil Dokter ruangan
monitoring dan evaluasi, serta
pemeriksaan
dituliskan
secara Instalasi rawat Inap
sistem pelaporannya
lengkap oleh penerima perintah.
Penyusunan regulasi, penyediaan
Instalasi Gawat Darurat
2. Perintah lengkap lisan dan telpon Instalasi Rawat Intensif
fasilitas dan dukungan pembiayaan
atau hasil pemeriksaan dibacakan
RKA rumah sakit
kembali
secara
lengkap
oleh
Pelaksanaan
pelatihan
untuk
penerima perintah.
meningkatkan
komunikasi
yang
3. Perintah atau hasil pemeriksaan
efektif
dikonfirmasi oleh pemberi perintah
Rencana dan evaluasi komunikasi
atau
via telepon
yang menyampaikan hasil
pemeriksaan
4.
Kebijakan
dan
prosedur
mengarahkan
pelaksanaan
verifikasi keakuratan komunikasi
lisan atau melalui telepon secara
konsisten.
Standar SKP 3 (Pelayanan Farmasi tentang obat-obat high alert)
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk memperbaiki keamanan obat-obat yang perlu diwaspadai

SKOR
0
5
10

Regulasi RS:
Kebijakan/Panduan/SPO
komunikasi Via Telepon

0
5
10
0
5
10

(high-alert).

Maksud dan tujuan SKP 3


Bila obat-obatan menjadi bagian dari rencana pengobatan pasien,manajemen harus berperan secara kritis untuk memastikan keselamatan pasien.
Obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-alert medications) adalah obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius (sentinel
event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse outcome) seperti obat-obat yang terlihat mirip dan
kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM, atau Look Alike Soun Alike/LASA). Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan
suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk membuat daftar obat-obat yang perlu diwaspadai berdasarkan data yang ada di rumah sakit. Kebijakan
dan/atau prosedur juga mengidentifikasi area mana saja yang membutuhkan elektrolit konsentrat, seperti di IGD atau kamar operasi, serta pemberian
label secara benar pada elektrolit dan bagaimana penyimpanannya di area tersebut, sehingga membatasi akses, untuk mencegah pemberian yang
tidak sengaja/kurang hati-hati.
SKOR
DOKUMEN
Elemen Penilaian SKP 3
SASARAN TELUSUR
MATERI

1. Kebijakan dan/atau prosedur


dikembangkan agar memuat proses
identifikasi, menetapkan lokasi,
pemberian label, dan penyimpanan

elektrolit konsentrat.

2. Implementasi kebijakan dan

Farmasi
Dokter ruangan
Tim medis dan paramedic
Instalasi rawat inap
Instalasi gawat darurat
Instalasi perawatan intensif

prosedur.
3. Elektrolit konsentrat tidak berada
di unit pelayanan pasien kecuali
jika dibutuhkan secara klinis dan
tindakan diambil untuk mencegah
pemberian yang kurang hati-hati di
area tersebut sesuai kebijakan.

Pengawasan obat High Alert dan


elektrolit
konsetrat
yang
dilaksanakan, strategi pelaksanaan,
mekanisme monitoring dan evaluasi,
serta sistem pelaporannya
Penyusunan regulasi, penyediaan
fasilitas dan dukungan pembiayaan
RKA rumah sakit
Pembentukan Tim,pengorgnisasian,
operasional,
program
kerja,
monitoring
dan
evaluasi
pelaksanaannya
Pelaksanaan
pelatihan
untuk
meningkatkan
keselamatan
pemberian obat
Rencana dan evaluasi pengawasan
obat high alert

0
5
10
0
5
10

0
5
10

4.
Elektrolit
konsentrat
yang
disimpan pada unit pelayanan
pasien harus diberi label yang jelas,
dan disimpan pada area yang
dibatasi ketat (restricted).
Standar SKP 4 (Pelayanan Bedah tentang Surgical Safety Checklist)
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk memastikan tepat lokasi, tepat-prosedur, dan tepat- pasien.

Regulasi RS
Kebijakan/Panduan/SPO
seleksi
SPO pengadaan
SPO penyimpanan
SPO
pemesanan/peresepan
SPO pencatatan
(transcribe)
SPO pendistribusian
SPO persiapan
(preparing)
SPO penyaluran
(dispensing)
SPO pemberian
SPO pendokumentasian
SPO pemantauan
(monitoring
Daftar obat-obat NORUM
Daftar obat elektrolit
konsentrat

Maksud dan tujuan SKP 4


yang menkhawatirkan dan tidak jarang terjadi di rumah sakit. Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau yang tidak adekuat
antara anggota tim bedah, kurang/tidak melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk verifikasi lokasi
operasi. Di samping itu, asesmen pasien yang tidak adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang tidak mendukung
komunikasi terbuka antar anggota tim bedah, permasalahan yang berhubungan dengan tulisan tangan yang tidak terbaca (illegible handwritting) dan
pemakaian singkatan adalah faktor-faktor kontribusi yang sering terjadi. Rumah sakit perlu untuk secara kolaboratif mengembangkan suatu
kebijakan dan/atau prosedur yang efektif di dalam mengeliminasi masalah yang mengkhawatirkan ini. Digunakan juga praktek berbasis bukti, seperti
yang digambarkan di Surgical Safety Checklist dari WHO Patient Safety (2009), juga di The Joint Commissions Universal Protocol for Preventing Wrong
Site, Wrong Procedure, Wrong Person Surgery.
SKOR
DOKUMEN
Elemen Penilaian SKP 4
SASARAN TELUSUR
MATERI
1. Rumah sakit menggunakan suatu
tanda yang jelas dan dimengerti
untuk identifikasi lokasi operasi dan
melibatkan pasien di dalam proses
penandaan.

Dokter spesialis
Tim anestesi
Tim bedah
Tim kamar operasi

Rencana dan evaluasi pelayanan


bedah
Pelayanan
Bedah
yang
dilaksanakan, strategi pelaksanaan,

0
5
10

Regulasi RS:
Kebijakan/Panduan/SPO
Panduan Daftar
Keselamatan Bedah

2. Rumah sakit menggunakan suatu


checklist atau proses lain untuk
memverifikasi saat preoperasi tepat
lokasi, tepat prosedur, dan tepat
pasien dan semua dokumen serta
peralatan yang diperlukan tersedia,
tepat, dan fungsional.
3. Tim operasi yang lengkap
menerapkan
dan
mencatat
prosedur sebelum insisi/time-out
tepat sebelum dimulainya suatu
prosedur/tindakan pembedahan.
4.
Kebijakan
dan
prosedur
dikembangkan untuk mendukung
proses
yang
seragam
untuk
memastikan tepat lokasi, tepat
prosedur,
dan
tepat
pasien,
termasuk prosedur medis dan
dental yang dilaksanakan di luar
kamar operasi.

mekanisme monitoring dan evaluasi,


serta sistem pelaporannya
Penyusunan regulasi, penyediaan
fasilitas dan dukungan pembiayaan
RKA rumah sakit
Pembentukan
Tim
bedah
dan
anestesi,
pengorgnisasian,
operasional,
program
kerja,
monitoring
dan
evaluasi
pelaksanaannya
Pelaksanaan
pelatihan
Surgical
Safety Checklist untuk mengurangi
kesalahan pembedahan
Rencana dan evaluasi pelayanan
bedah

0
5
10

0
5
10

Standar SKP 5 (Hand Hygiene)


Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko infeksi yang terkait pelayanan kesehatan.
Maksud dan tujuan SKP 5
Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan, dan peningkatan biaya untuk mengatasi
infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan kesehatan.
Infeksi biasanya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih, infeksi pada aliran darah (blood stream
infections) dan pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis). Pusat dari eliminasi infeksi ini maupun infeksi-infeksi lain adalah cuci
tangan (hand hygiene) yang tepat. Pedoman hand hygiene bisa dibaca kepustakaan WHO, dan berbagai organisasi nasional dan internasional.
Rumah sakit mempunyai proses kolaboratif untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang menyesuaikan atau mengadopsi petunjuk hand
hygiene yang diterima secara umum dan untuk implementasi petunjuk itu di rumah sakit.

SKOR
Elemen Penilaian SKP 5

SASARAN TELUSUR

1. Rumah sakit mengadopsi atau Pimpinan RS

mengadaptasi
pedoman
hand Petugas medis dan paramedis
hygiene
Seluruh
Karyawan
rumah
terbaru yang diterbitkan dan sudah
sakit
diterima secara umum (al.dari

DOKUMEN

MATERI
Penyusunan regulasi, penyediaan
fasilitas dan dukungan pembiayaan
RKA
rumah
sakit
(penyediaan
poster, sabun, handuk, washtafel)

0
5
10

Regulasi RS:
Kebijakan/Panduan/SPO

Panduan Mencuci Tangan

WHO Patient Safety).


2.
Rumah
sakit
menerapkan
program hand hygiene yang
efektif.
3. Kebijakan dan/atau prosedur
dikembangkan untuk mengarahkan
pengurangan secara berkelanjutan
risiko dari infeksi yang terkait
pelayanan kesehatan.

Video cuci tangan


Pelaksanaan pelatihan cuci tangan
Rencana dan evaluasi pelaksanaan
Hand hygiene

0
5
10
0
5
10

Standar SKP 6 (Risiko Pasien Jatuh)


Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko pasien dari cedera karena jatuh.
Maksud dan tujuan SKP 6
Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai penyebab cedera bagi pasien rawat inap. Dalam konteks populasi/masyarakat yang dilayani, pelayanan
yang disediakan, dan fasilitasnya, rumah sakit perlu mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk mengurangi risiko cedera bila
sampai jatuh. Evaluasi bisa termasuk riwayat jatuh, obat dan telaah terhadap konsumsi alkohol, gaya jalan dan keseimbangan, serta alat bantu
berjalan yang digunakan oleh pasien. Program tersebut harus diterapkan rumah sakit.
Elemen Penilaian SKP 6
1. Rumah sakit menerapkan proses
asesmen awal atas pasien terhadap
risiko
jatuh
dan
melakukan
asesmen
ulang
pasien
bila
diindikasikan terjadi
perubahan

kondisi atau pengobatan, dan lainlain.


2.
Langkah-langkah
diterapkan
untuk mengurangi risiko jatuh bagi
mereka yang pada hasil asesmen
dianggap berisiko jatuh.
3.
Langkah-langkah
dimonitor
hasilnya,
baik
keberhasilan
pengurangan cedera akibat jatuh
dan dampak dari kejadian tidak
diharapkan.
4. Kebijakan dan/atau prosedur
dikembangkan untuk mengarahkan
pengurangan berkelanjutan risiko
pasien cedera akibat jatuh di
rumah sakit.

SASARAN TELUSUR
Petugas admisi
Petugas rekam Medik
Instalasi Gawat Darurat
Instalasi Rawat Inap
Instalasi Rawat Intensif

MATERI

Rencana dan evaluasi pemasangan


gelang identitas resiko jatuh
Strategi pelaksanaan, mekanisme
monitoring dan evaluasi, serta
sistem pelaporannya
Penyusunan regulasi, penyediaan
fasilitas dan dukungan pembiayaan
RKA rumah sakit (penyediaan bel,
tempat tidur khusus, alat bantu
berjalan)
Pelaksanaan pelatihan monitoring
harian untuk mengurangi resiko
jatuh pada pasien

SKOR

0
5
10

DOKUMEN
Regulasi RS:
Kebijakan/Panduan/SPO

Panduan

0
5
10

0
5
10

SPO pemasangan gelang


risiko pasien jatuh
Rekam Medis:pengkajian
resiko pasien jatuh
Daftar obat dengan efek
mengantuk