Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH INSTRUMENTASI

MIKROSKOP ELEKTRON

Oleh Kelompok I:
Afifah Amiyustuti
Amalia Astrini
Anas Fadli Wijaya
Anggun Sari Mianti
Ari Safriansyah
Ayu Anulus
Denda Ajeng Angely M.P
Desi Rusharyandini
Dewi Ramdaniati
Dinda Urliani Widiantari

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MATARAM


JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN AJARAN 2013/2014
1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa berkat rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul Mikroskop Elektron.
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak,
karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang telah
memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar.
Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan
sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun penulis
berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang
kurang.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar
makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat
bagi semua pembaca.

Mataram, 13 November 2013

Penulis

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI............................................................................................................. 3
BAB I...................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN....................................................................................................... 4
A.

Latar Belakang................................................................................................ 4

B.

Rumusan Masalah............................................................................................ 4

C.

Tujuan........................................................................................................... 5

BAB II..................................................................................................................... 6
PEMBAHASAN......................................................................................................... 6
A.

Mikroskop Elektron......................................................................................... 6

B.

Jenis Mikroskop Elektron.................................................................................. 7

C.

Teknik Pembuatan Preparat Yang Digunakan Pada Mikroskop Electron..................12

D.

Penelitian Mikroskop Elektron.........................................................................14

BAB III.................................................................................................................. 19
PENUTUP.............................................................................................................. 19
A.

Kesimpulan................................................................................................... 19

B.

Saran........................................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 20

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Panca indra manusia memiliki kemampuan daya pisah yang sangat terbatas.
Oleh karna itu banyak masalah mengenai benda atau organisme yang akan diamati
hanya dapat di periksa dengan menggunakan alat bantu. Salah satu alat bantu yang
sering digunakan dalam pengamatan, terutama dalam bidang biologi adalah
mikroskop. Mikroskop berfungsi untuk meningkatkan kemampuan daya pisah
seseorang sehingga memungkinkan dapat mengamati objek yang sangat halus
sekalipun.
Mikroskop dalam (bahasa yunani: Micros = kecil dan scopein = melihat)
adalah sebuah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata
kasar. Dalam perkembangannya mikroskop mampu mempelajari organisme hidup
yang berukuran sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, sehingga
mikroskop memberikan kontribusi penting dalam penemuan mikroorganisme dan
perkembangan sejarah mikrobiologi.
Dalam perkembangannya, mikroskop memiliki beberapa jenis dengan
kemampuan yang berbeda-beda, salah satunya adalah mikroskop elektron. Mikroskop
elektron adalah sebuah mikroskop yang mampu untuk melakukan pembesaran objek
sampai 2 juta kali, yang menggunakan elektro statik dan elektro magnetik untuk
mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta memiliki kemampuan
pembesaran objek serta resolusi yang jauh lebih bagus daripada mikroskop cahaya.
Mikroskop elektron ini menggunakan jauh lebih banyak energi dan radiasi
elektromagnetik yang lebih pendek dibandingkan mikroskop cahaya. Dalam
perkembangannya mikroskop elektron juga memiliki beberapa jenis dengan
kemampuan yang berbeda pula.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu mikroskop elektron?
2. Apa saja jenis-jenis mikroskop elektron?
3. Bagaimana cara kerja dari masing-masing mikroskop elektron tersebut?
4. Apa saja bagian-bagian mikroskop?
5. Bagaimana cara merawat mikroskop?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu mikroskop eletron.
4

2.
3.
4.
5.

Untuk mengetahui jenis-jenis mikroskop elektron.


Untuk mengetahui cara kerja dari macam-macam mikroskop elektron.
Untuk mengetahui bagian-bagian dari mikroskop.
Untuk mengetahui cara merawat mikroskop.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Mikroskop Elektron
Mikroskop elektron adalah sebuah mikroskop yang mampu untuk melakukan
pembesaran objek sampai 2 juta kali, yang menggunakan elektro statik dan elektro
magnetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta memiliki
kemampuan pembesaran objek serta resolusi yang jauh lebih bagus daripada
mikroskop cahaya. Prototipe dari mikroskop elektron pertama kali ditemukan oleh
Max Knoll dan Ernst Ruska, yang merupakan insinyur dari Jerman pada tahun 1931.
Mikroskop elektron ini menggunakan jauh lebih banyak energi dan radiasi
elektromagnetik yang lebih pendek dibandingkan mikroskop cahaya.Meskipun
mikroskop elektronik yang sedang digunakan saat ini memiliki kemampuan pembesar
obyek sampai dua juta kali, namun mereka masih didasarkan pada prototipe yang
pertama kali dibuat oleh Ruska dan korelasi yang dibuat antara resolusi dan panjang
gelombang.

Gambar Mikroskop Elektron


Mikroskop elektron merupakan salah satu komponen yang paling penting dari
laboratorium modern. Hal ini digunakan oleh para peneliti untuk meneliti sel dan
mikroorganisme, sampel biopsi medis, berbagai molekul besar, struktur kristal dan
logam, dan fitur yang melekat pada berbagai permukaan.Hal ini banyak digunakan
untuk berbagai aplikasi dalam industri seperti analisis kegagalan, jaminan kualitas,
dan inspeksi, terutama dalam pembuatan perangkat semikonduktor.
Gambar-gambar hasil mikroskop elektron jenis SEM:

Gambar Bakteri Sinus Serbuk Sari

Gambar

Serangga
B. Jenis Mikroskop Elektron
Dalam perkembangannya ada banyak macam mikroskop elektron dengan cara kerja
yang berbeda pula. Berikut ini adalah jenis mikroskop elektron yang biasa digunakan
saat ini.
1. Mikroskop Transmisi Elektron (TEM)
Mikroskop transmisi elektron (Transmission electron microscope-TEM) adalah
sebuah mikroskop elektron yang cara kerjanya mirip dengan cara kerja proyektor
slide, di mana elektron ditembuskan ke dalam obyek pengamatan dan pengamat
mengamati hasil tembusannya pada layar.

a. Sejarah penemuan
Seorang ilmuwan bernama Ernst Ruska menggabungkan penemuan ini dan
membangun mikroskop transmisi elektron (TEM) yang pertama pada tahun
1931.

Untuk

hasil

karyanya

ini

maka

dunia

ilmu

pengetahuan

menganugerahinya hadiah Penghargaan Nobel dalam fisika pada tahun 1986.


Mikroskop yang pertama kali diciptakannya adalah dengan menggunakan dua
lensa medan magnet, namun tiga tahun kemudian ia menyempurnakan
karyanya tersebut dengan menambahkan lensa ketiga dan mendemonstrasikan
kinerjanya yang menghasilkan resolusi hingga 100 nanometer (nm) (dua kali
lebih baik dari mikroskop cahaya pada masa itu).
b. Cara kerja
7

Mikroskop transmisi eletron saat ini telah mengalami peningkatan kinerja


hingga mampu menghasilkan resolusi hingga 0,1 nm (atau 1 angstrom) atau
sama dengan pembesaran sampai satu juta kali. Meskipun banyak bidangbidang ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dengan bantuan mikroskop
transmisi elektron ini. Adanya persyaratan bahwa obyek pengamatan harus
setipis mungkin ini kembali membuat sebagian peneliti tidak terpuaskan,
terutama yang memiliki obyek yang tidak dapat dengan serta merta dipertipis.
Karena itu pengembangan metode baru mikroskop elektron terus dilakukan.
c. Preparasi sediaan
Agar pengamat dapat mengamati preparat dengan baik, diperlukan persiapan
sediaan dengan tahap sebagai berikut :
1) melakukan fiksasi, yang bertujuan untuk mematikan sel tanpa mengubah
struktur sel yang akan diamati. fiksasi dapat dilakukan dengan
menggunakan senyawa glutaraldehida atau osmium tetroksida.
2) pembuatan sayatan, yang bertujuan untuk memotong sayatan hingga
setipis mungkin agar mudah diamati di bawah mikroskop. Preparat
dilapisi dengan monomer resin melalui proses pemanasan, kemudian
dilanjutkan dengan pemotongan menggunakan mikrotom. Umumnya mata
pisau mikrotom terbuat dari berlian karena berlian tersusun dari atom
karbon yang padat. Oleh karena itu, sayatan yang terbentuk lebih rapi.
Sayatan yang telah terbentuk diletakkan di atas cincin berpetak untuk
diamati.
3) pelapisan/pewarnaan, bertujuan untuk memperbesar kontras antara
preparat

yang

akan

diamati

dengan

lingkungan

sekitarnya.

Pelapisan/pewarnaan dapat menggunakan logam berat seperti uranium dan


timbal.
2. Mikroskop pemindai transmisi elektron (STEM)

Mikroskop pemindai transmisi elektron (STEM) adalah merupakan salah satu tipe
yang merupakan hasil pengembangan dari mikroskop transmisi elektron
(TEM).Pada sistem STEM ini, electron menembus spesimen namun sebagaimana
halnya dengan cara kerja SEM, optik elektron terfokus langsung pada sudut yang
sempit dengan memindai obyek menggunakan pola pemindaian dimana obyek
tersebut dipindai dari satu sisi ke sisi lainnya (raster) yang menghasilkan lajurlajur

titik

(dots)yang

membentuk

gambar

seperti

yang

dihasilkan

oleh CRT pada televisi / monitor.


3. Mikroskop pemindai elektron (SEM)
Mikroskop pemindai elektron (SEM) yang digunakan untuk studi detail arsitektur
permukaan sel (atau struktur jasad renik lainnya), dan obyek diamati secara tiga
dimensi.

a. Sejarah penemuan
Tidak diketahui secara persis siapa sebenarnya penemu Mikroskop pemindai
elektron (Scanning Electron Microscope-SEM) ini. Publikasi pertama kali
yang mendiskripsikan teori SEM dilakukan oleh fisikawan Jerman dR. Max
Knoll pada 1935, meskipun fisikawan Jerman lainnya Dr. Manfred von
Ardenne mengklaim dirinya telah melakukan penelitian suatu fenomena yang
kemudian disebut SEM hingga tahun 1937.
Pada 1942 tiga orang ilmuwan Amerika yaitu Dr. Vladimir Kosma Zworykin,
Dr. James Hillier, dan Dr. Snijder, benar-benar membangun sebuah mikroskop
elektron metode pemindaian (SEM) dengan resolusi hingga 50 nm atau
magnifikasi 8.000 kali.
b. Cara kerja
Cara terbentuknya gambar pada SEM berbeda dengan apa yang terjadi pada
mikroskop optic dan TEM. Pada SEM, gambar dibuat berdasarkan deteksi
elektron baru (elektron sekunder) atau elektron pantul yang muncul dari
permukaan sampel ketika permukaan sampel tersebut dipindai dengan sinar
elektron. Elektron sekunder atau elektron pantul yang terdeteksi selanjutnya
9

diperkuat sinyalnya, kemudian besar amplitudonya ditampilkan dalam gradasi


gelap-terang pada layar monitor CRT(cathode ray tube). Di layar CRT inilah
gambar struktur obyek yang sudah diperbesar bisa dilihat. Pada proses
operasinya, SEM tidak memerlukan sampel yang ditipiskan, sehingga bisa
digunakan untuk melihat obyek dari sudut pandang 3 dimensi.
c. Preparasi sediaan
Agar pengamat dapat mengamati preparat dengan baik, diperlukan persiapan
sediaan dengan tahap sebagai berikut :
a) melakukan fiksasi, yang bertujuan untuk mematikan sel tanpa mengubah
struktur sel yang akan diamati. Fiksasi dapat dilakukan dengan
menggunakan senyawa glutaraldehida atau osmium tetroksida.
b) dehidrasi, yang bertujuan untuk memperendah kadar air dalam sayatan
sehingga tidak mengganggu proses pengamatan.
c) pelapisan/pewarnaan, bertujuan untuk memperbesar kontras antara
preparat

yang

akan

diamati

dengan

lingkungan

sekitarnya.

Pelapisan/pewarnaan dapat menggunakan logam mulia seperti emas dan


platina.
4. Mikroskop pemindai lingkungan elektron (ESEM)

Mikroskop ini adalah merupakan pengembangan dari SEM, yang dalam bahasa
Inggrisnya disebut Environmental SEM (ESEM) yang dikembangkan guna
mengatasi obyek pengamatan yang tidak memenuhi syarat sebagai obyek TEM
maupun SEM.
Obyek yang tidak memenuhi syarat seperti ini biasanya adalah bahan alami yang
ingin diamati secara detail tanpa merusak atau menambah perlakuan yang tidak
perlu terhadap obyek yang apabila menggunakat alat SEM konvensional perlu
ditambahkan beberapa trik yang memungkinkan hal tersebut bisa terlaksana.
a. Sejarah penemuan
Teknologi ESEM ini dirintis oleh Gerasimos D. Danilatos, seorang kelahiran
Yunani yang bermigrasi ke Australia pada akhir tahun 1972 dan memperoleh
gelar Ph.D dari Universitas New South Wales (UNSW) pada tahun 1977
dengan judul disertasi Dynamic Mechanical Properties of Keratin Fibres .
10

Dr. Danilatos ini dikenal sebagai pionir dari teknologi ESEM, yang merupakan
suatu inovasi besar bagi dunia mikroskop elektron serta merupakan kemajuan
fundamental dari ilmu mikroskopi.
b. Cara kerja
Pertama-tama dilakukan suatu upaya untuk menghilangkan penumpukan
elektron (charging) di permukaan obyek, dengan membuat suasana dalam
ruang sample tidak vakum tetapi diisi dengan sedikit gas yang akan
mengantarkan muatan positif ke permukaan obyek, sehingga penumpukan
elektron dapat dihindari.
Hal ini menimbulkan masalah karena kolom tempat elektron dipercepat dan
ruangfilamen di

mana

elektron

yang

dihasilkan

memerlukan

tingkat vakum yang tinggi. Permasalahan ini dapat diselesaikan dengan


memisahkan sistem pompa vakum ruang obyek dan ruang kolom serta
filamen, dengan menggunakan sistem pompa untuk masing-masing ruang. Di
antaranya kemudian dipasang satu atau lebih piringan logamplatina yang biasa
disebut

(aperture)

berlubang

dengan

diameter

antara

200

hingga

500 mikrometer yang digunakan hanyauntuk melewatkan elektron , sementara


tingkat kevakuman yang berbeda dari tiap ruangan tetap terjaga.
5. Mikroskop refleksi elektron (REM)
Reflection Electron Microscope (REM), adalah mikroskop elektron yang memiliki
cara kerja yang serupa dengan cara kerja TEM, namun sistem ini menggunakan
deteksi pantulan elektron pada permukaan objek. Tehnik ini secara khusus
digunakan dengan menggabungkannya dengan tehnik refleksi difraksi elektron
energi tinggi (Reflection High Energy Electron Diffraction) dan tehnik Refleksi
pelepasan spektrum energi tinggi (reflection high-energy loss spectrum RHELS)
6. Spin-Polarized Low-Energy Electron Microscopy (SPLEEM)
Spin-Polarized Low-Energy Electron Microscopy (SPLEEM) ini adalah
merupakan Variasi lain yang dikembangkan dari teknik yang sudah ada
sebelumnya, dan digunakan untuk melihat struktur mikro dari medan magnet.
C. Teknik Pembuatan Preparat Yang Digunakan Pada Mikroskop Electron
Materi yang akan dijadikan objek pemantauan dengan menggunakan mikroskop
elektron ini harus diproses sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu sampel
yang memenuhi syarat untuk dapat digunakan sebagai preparat pada mikroskop
elektron.Teknik yang digunakan dalam pembuatan preparat ada berbagai macam
tergantung pada spesimen dan penelitian yang dibutuhkan, antara lain :
11

1. Kriofiksasi yaitu suatu metode persiapan dengan menggunakan teknik pembekuan


spesimen dengan cepat yang menggunakan nitrogen cair ataupunhelium cair,
dimana air yang ada akan membentuk kristal-kristal yang menyerupai kaca. Suatu
bidang ilmu yang disebut mikroskopi cryo-elektron (cryo-electron microscopy)
telah dikembangkan berdasarkan tehnik ini. Dengan pengembangan dari
Mikroskopi cryo-elektron dari potongan menyerupai kaca (vitreous) atau disebut
cryo-electron microscopy of vitreous sections (CEMOVIS), maka sekarang telah
dimungkinkan untuk melakukan penelitian secara virtual terhadap specimen
biologi dalam keadaan aslinya.
2. Fiksasi - yaitu suatu metode persiapan untuk menyiapkan suatu sampel agar
tampak realistik (seperti kenyataannya ) dengan menggunakan glutaraldehiddan
osmium tetroksida.
3. Dehidrasi - yaitu suatu metode persiapan dengan cara menggantikan air dengan
bahan pelarut organik seperti misalnya ethanol atau aceton.
4. Penanaman (Embedding) yaitu suatu metode persiapan dengan cara
menginfiltrasi jaringan dengan resin seperti misalnya araldit atau epoksi untuk
pemisahan bagian.
5. Pembelahan (Sectioning)- yaitu suatu metode persiapan untuk mendapatkan
potongan tipis dari spesimen sehingga menjadikannya semi transparanterhadap
elektron.

Pemotongan

ini

bisa dilakukan

dengan

ultramicrotomedengan

menggunakan pisau berlian untuk menghasilkan potongan yang tipis sekali. Pisau
kaca juga biasa digunakan oleh karena harganya lebih murah.
6. Pewarnaan (Staining) yaitu suatu metode persiapan dengan menggunakan metal
berat seperti timah, uranium, atau tungsten untuk menguraikan elektron gambar
sehingga menghasilkan kontras antara struktur yang berlainan di mana khususnya
materi biologikal banyak yang warnanya nyaris transparan terhadap elektron
(objek fase lemah).
7. Pembekuan fraktur (Freeze-fracture) yaitu suatu metode persiapan yang
biasanya digunakan untuk menguji membran lipid. Jaringan atau sel segar
didinginkan dengan cepat (cryofixed) kemudian dipatah-patahkan atau dengan
menggunakan microtome sewaktu masih berada dalam keadaan suhu nitrogen
( hingga mencapai -100% Celsius).
Patahan beku tersebut lalu diuapi dengan uap platinum atau emas dengan sudut 45
derajat pada sebuah alat evaporator en:evaporator tekanan tinggi.
8. Ion Beam Milling - yaitu suatu metode mempersiapkan sebuah sampel hingga
menjadi

transparan

terhadap

elektron

dengan

menggunakan

cara
12

pembakaranion( biasanya digunakan argon) pada permukaan dari suatu sudut


hingga memercikkan material dari permukaannya. Kategori yang lebih rendah dari
metode Ion Beam Milling ini adalah metode berikutnya adalah metodeFocused
ion beam milling, dimana galium ion digunakan untuk menghasilkan selaput
elektron transparan pada suatu bagian spesifik pada sampel.
9. Pelapisan konduktif (Conductive Coating) yaitu suatu metode mempersiapkan
lapisan ultra tipis dari suatu material electrically-conducting . Ini dilakukan untuk
mencegah terjadinya akumulasi dari medan elektrik statis pada spesimen
sehubungan dengan elektron irradiasi sewaktu proses penggambaran sampel.
Beberapa bahan pelapis termasuk emas, palladium(emas putih), platinum,
tungsten, graphite dan lain-lain, secara khusus sangatlah penting bagi penelitian
spesimen dengan SEM.
D. Penelitian Mikroskop Elektron
1. Penelitian : Lalat sebagai system pencitraan baru dunia kedokteran
a. Latar Belakang :
Peneliti Joseph Rosen dan David Abookasis dari Universitas Ben-Gurion di
Israel kini telah menemukan sebuah cara baru. Para ilmuwan mengumpulkan
sejumlah gambar dari obyek yang sedang dicitrakan dan menggabungkan
gambar-gambar ini sedemikian rupa untuk menghasilkan satu gambar bagus
dari obyek tersebut. Jadi, mereka mendapatkan sebuah gambar hasil rata-rata
dari gambar-gambar tersebut, dan cahaya yang dihamburkan oleh jaringan
tubuh, yakni "pengotor" pada gambar, dapat dihilangkan. Penggabungan ini
merupakan sebuah pemecahan masalah nyata terhadap permasalahanpermasalahan yang ditemukan pada peralatan-peralatan yang sudah ada. Akan
tetapi, rancangan yang menjadi ilham dari pemecahan masalah melalui cara
penggabungan [gambar] ini bukanlah alat buatan manusia. Dalam mencari
pemecahan masalah ini, para ilmuwan tersebut terilhami oleh "mata majemuk"
yang digunakan oleh lalat selama ratusan juta tahun. Bahkan, judul yang
mereka berikan pada penelitian mereka adalah "Seeing through biological
tissues using the fly eye principle" [Melihat Dengan Menembus Jaringan
Hidup Berdasarkan Prinsip Mata Lalat].
Mengambil rancangan pada mata lalat sebagai titik awal mereka, para
ilmuwan ini mempersiapkan serangkaian mikrolensa yang terdiri dari 132
buah lensa berukuran amat kecil. Untuk menguji gagasan mereka, para peneliti
tersebut mengambil dua potong [daging] dada ayam dan menyelipkan
sepotong tulang sayap di antara keduanya. Mereka lalu menyoroti salah satu
sisi dari daging itu dengan laser berkekuatan cahaya lemah dan meletakkan
serangkaian mikrolensa pada sisi yang lainnya. Gambar-gambar yang
ditangkap mikrolensa diteruskan ke kamera digital dengan lensa biasa.
Komputer lalu menghilangkan sebagian besar dari pengotor yang dihasilkan
oleh cahaya yang terhamburkan, sehingga menghasilkan sebuah gambar yang
lebih jelas dari tulang sayap yang tertutupi [dada ayam].

13

"Mikrolensa yang lebih banyak dan penyempurnaan-penyempurnaan lain


seharusnya dapat meningkatkan ketajaman gambar,' kata Rosen. 'Dengan
pendanaan untuk mengembangkannya lebih lanjut, perangkat kami mungkin
dalam waktu setahun dapat melihat tulang-tulang di dalam telapak tangan,
atau akar sepotong gigi.
Rosen menyatakan bahwa peralatan ini, yang bekerja berdasarkan prinsip mata
lalat, begitu menjanjikan, dan memunculkan kabar gembira bahwa dengan
penggunaan alat ini, endoskop yang tidak nyaman atau "kamera pil" yang
harus ditelan dalam pencitraan perut (abdomen scans) akan menjadi
peninggalan masa lalu.
b. Hasil Penelitian :
Rancangan Mata Lalat

Foto kepala lalat buah (Drosophilla melanogaster). Lalat ini banyak


digunakan dalam penelitian genetika.
Seekor lalat yang bergerak melintasi udara sungguh luar biasa lincah. Lalat
dapat mengubah arah terbangnya dalam sekejap ketika mengetahui adanya
gerakan sangat lemah yang diarahkan kepadanya. Lalat dapat memilih untuk
mendarat pada lantai, dinding atau langit-langit sebuah ruangan. Kenyataan
bahwa lalat memiliki sebuah perangkat penglihatan amat hebat sangatlah
penting dalam hal ini. Penelitian lebih dekat pada lalat dengan segera
memunculkan penjelasan tentang sebab ketangkasan [terbang] ini. Mata lalat
memiliki rancangan yang dikenal sebagai "mata majemuk" dan
yang memungkinkannya melihat melalui lensa [mata] yang
berjumlah banyak dan pada sudut pandang yang lebar.

14

Penampakan mata lalat di bawah elektron mikroskop.


Sebuah mata majemuk lalat tersusun atas satuan optik berjumlah sangat banyak,
masing-masing dengan lensa optiknya sendiri, dan menghasilkan sejumlah besar
gambar. Rangkaian saraf dari setiap satuan optik mengambil hasil rata-rata dari
gambar yang ada, sehingga dihasilkanlah sebuah bayangan gambar yang lebih
jelas daripada latar belakang yang dipenuhi pengotor. Mata lalat dapat mengindra
getaran cahaya 330 kali per detik. Ditinjau dari sisi ini, mata lalat enam kali lebih
peka daripada mata manusia.(3) Pada saat yang sama, mata lalat juga dapat
mengindra frekuensi-frekuensi ultraviolet pada spektrum cahaya yang tidak
terlihat oleh kita. Perangkat ini memudahkan lalat untuk menghidar dari
musuhnya, terutama di lingkungan gelap.
Mata majemuk lalat merupakan alat tubuh terpenting yang memainkan peran
dalam sistem penglihatan, sebuah fungsi teramat penting dalam kelangsungan
hidup binatang tersebut. Ketika alat tubuh ini diteliti, akan kita saksikan lensalensa, yang secara khusus menghamburkan cahaya, membentuk permukaan
cekung yang memberikan ruang penglihatan yang luas dan memusatkan
bayangan [gambar yang terbentuk] pada satu titik pusat. Sisi-sisi satuan optik
[optical unit] pada permukaan tersebut berbentuk segienam (heksagonal). Berkat
bentuk segienam ini, satuan-satuan optik itu satu sama lain terpasang rapat.
Dengan cara ini, celah-celah kosong yang tidak diinginkan -- yang muncul jika
bentuk geometris lain digunakan -- tidaklah terbentuk; dengan demikian
penggunaan paling menguntungkan dari luasan yang ada telah diterapkan.
Meskipun berkas-berkas cahaya yang berasal dari sejumlah besar lensa
diperkirakan akan menghasilkan sebuah bayangan gambar yang kacau, ini tidak
pernah terjadi, dan lalat dapat melihat sebuah ruang penglihatan yang luas dalam
satu bayangan gambar.
Terdapat rancangan unggul pada mata lalat. Prinsip teknik ini, yang telah
digunakan oleh manusia sejak beberapa ratus tahun lalu, telah ada pada lalat
selama sekitar 390 juta tahun. Pengkajian yang lebih umum pada sejarah alam
kehidupan menunjukkan bahwa rancangan mata majemuk (pada trilobita zaman
Kambrium) berasal sejak kurang lebih 530 juta tahun yang lalu.
Lalat telah memiliki struktur mata ini sejak saat binatang ini muncul menjadi ada.
2. Judul Penelitian : Pengaruh Terhadap Morfologi Sel
Electron Microscopy) (Belguith, et al. 2009 )

dengan SEM (Scanning

15

a. Latar Belakang :

Analisis kerusakan morfologi sel dimaksudkan untuk mempelajari perubahan


morfologi dan struktur sel dari E. coli, dan Salmonella thypi akibat pengaruh
metabolic dari hydroid. Perubahan yang diamati diantaranya perubahan
penampakan sel secara umum, ketebalan dinding sel, dan lainnya yang dapat
teramati. Alat yang digunakan adalah Mikroskop Elektron Scanning (SEM).
b. Hasil Penelitian :
Metode SEM dilakukan dengan cara suspensi sel bakteri uji yang telah diberi
perlakuan asam heksadekanoat (3%), dan aglao E.Unhas (3%) diinkubasi
selama 24 jam pada inkubator bergoyang dengan kecepatan 150 rpm pada
suhu 37oC . Setelah disentrifius pada 3500 rpm selama 15 menit, supernatan
dibuang dan diambil pelet selanjutnya difiksasi dengan glutaraldehid 2,5%
dalam (0,1 M buffer sodium cacodilat pH 7,2) dibiarkan selama 1,5 jam, lalu
dicuci dua kali dengan buffer cacodilat 0,05M pH 7,2 selama 20 menit untuk
masing-masing perlakuan. Selanjutnya difiksasi dengan osmium tetraoxide 1%
dalam buffer cacodilat 0,05%, pH 7,2 selama 1-2 menit lalu dicuci dengan
akuabides (DDH2O) tiga kali masing-masing selama 2 menit, dihidrasi dengan
etanol pada berbagai konsentrasi 25, 50, 75 dan 100% sebanyak tiga kali
masing-masing selama 10 menit. Spesimen diambil dan dilewatkan pada

16

membran 0,2 m untuk selanjutnya direkatkan pada stub aluminium dan


dilapisi dengan emas melalui proses vakum (6-7 Pa) selama 20 menit. Sampel
diamati di bawah Scanning Electron Microscop tipe JEOL 5310.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Mikroskop elektron adalah sebuah mikroskop yang mampu untuk melakukan
pembesaran objek sampai 2 juta kali, yang menggunakan elektro statik dan elektro
magnetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta memiliki
kemampuan pembesaran objek serta resolusi yang jauh lebih bagus daripada
mikroskop cahaya. Prototipe dari mikroskop elektron pertama kali ditemukan oleh
Max Knoll dan Ernst Ruska, yang merupakan insinyur dari Jerman pada tahun 1931.
Mikroskop elektron ini menggunakan jauh lebih banyak energi dan radiasi
elektromagnetik yang lebih pendek dibandingkan mikroskop cahaya. Meskipun
mikroskop elektronik yang sedang digunakan saat ini memiliki kemampuan pembesar
obyek sampai dua juta kali, namun mereka masih didasarkan pada prototipe yang
17

pertama kali dibuat oleh Ruska dan korelasi yang dibuat antara resolusi dan panjang
gelombang.
Dalam perkembangannya ada banyak macam mikroskop elektron dengan cara
kerja yang berbeda pula. Antara lain : TEM, STEM, SEM, ESEM, REM, SPLEEM.
Dalam penggunaannya juga mikroskop harus di rawat dengan baik agar tidak mudah
rusak.
B. Saran
Bagi pembaca diharapkan dapat menemukan teori-teori baru tentang mikroskop
elektron sehingga makalah ini dapat lebih sempurna. Semoga makalah ini dapat
membantu dalam belajar oleh para mahasiswa.

DAFTAR PUSTAKA
Hariono, Bambang. 2009.Mikroskop Elektron. Yogyakarta: Kanisius.
http://www.biologi-sel.com/2013/03/mikroskop-elektron.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Mikroskop_elektron
http://www.praktikumbiologi.com/2011/06/mengenal-mikroskop-elektron.html
http://answers.yahoo.com/question/index?qid=20090831221800AAXkPe4
http://tesaputrikemala2011.blogspot.com/2013/07/perbedaan-mikroskop-cahayaelektron-dan_7230.html
astrophysicsblogs.blogspot.com/2013/06/bisakah-kita-membuat-mikroskopelektron.html
http://biologimediacentre.com/foto-foto-hasil-scanning-mikroskop-elektron/
http://www.kaskus.co.id/thread/5155bd991c76081422000002/makhluk-makhlukkecil-dilihat-dengan-mikroskop-elektron

18