Anda di halaman 1dari 32

Hubungan Antara Dokter dengan Pasien dan Sejawatnya dalam

Menanggapi Kelalaian Dokter Lain

DISUSUN OLEH:
Kelompok B4
Joana De Chantal Laiyan 102011152
Stacia Cicilia 102012132
Arya Darmadi 102012174
Yovita Indriana 102012225
Dian Nurul Hikmah 102012292
Anestesya Monica 102012410
Viqtor Try Junianto 102012414
Ariff Kamal Bin Zulkafli 102012501

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Alamat Korespondensi :
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510 No. Telp (021) 5694-2061
Tahun 2015 / 2016

Pendahuluan
STUDI KASUS
Seorang pasien bayi dibawa orang tuanya datang ke tempat praktek dokter A, seorang
dokter anak. Ibu pasien bercerita bahwa ia adalah pasien seorang dokter Obgyn B sewaktu
melahirkan, dan anaknya dirawat oleh dokter anak C. Baik dokter B maupun C tidak pernah
mengatakan bahwa anaknya menderita penyakit atau cedera sewaktu lahir dan dirawat disana.
10 hari pasca lahir orang tua bayi menemukan benjolan di pundak kanan bayi.
Setelah diperiksa oleh dokter anak A dan pemeriksaan radiologi sebagai
penunjangnya, pasien dinyatakan menderita fraktur klavikula kanan yang sudah berbentuk
kalus. Kepada dokter

A mereka meminta kepastian apakah benar terjadi patah tulang

klavikula, dan kapan kira kiar terjadinya. Bila benar patah tulang tersebut terjadi sewaktu
kelahiran, maka aan menuntut dokter B karena telah mengakibatkan patah tulang dan dokter C
karena lalai tidak dapat mediagnosisnya. Mereka juga menduga bahwa dokter C kurang
kompeten sehingga sebaiknya ia merawat anaknya kedokter A saja. Dokter A berpikir apa
yang sebaiknya ia katakan.
Isi
Pembahasan
Prinsip-prinsip etika kedokteran
Aspek etik kedokteran yang mencantumkan juga kewajiban memenuhi standar profesi
mengakibatkan penilaian perilaku etik seseorang dokter yang diadukan tidak dapat dipisahkan
dengan penilaian perilaku profesinya. Etik yang memiliki sanksi moral dipaksa berbaur dengan
keprofesian yang memiliki sanksi disiplin profesi yang bersifat administratif.
Keadaan menjadi semakin sulit sejak para ahli hukum menganggap bahwa standar prosedur
dan standar pelayanan medis dianggap sebagai domain hukum, padahal selama ini profesi
menganggap bahwa memenuhi standar profesi adalah bagian dari sikap etis dan sikap
profesional. Dengan demikian pelanggaran standar profesi dapat dinilai sebagai pelanggaran
etik dan juga sekaligus pelanggaran hukum.
Kemungkinan terjadinya peningkatan ketidakpuasan pasien terhadap layanan dokter
atau rumah sakit atau tenaga kesehatan lainnya dapat terjadi sebagai akibat dari (a) semakin

tinggi pendidikan rata-rata masyarakat sehingga membuat mereka lebih tahu tentang haknya
dan lebih asertif, (b) semakin tingginya harapan masyarakat kepada layanan kedokteran
sebagai hasil dari luasnya arus informasi, (c) komersialisasi dan tingginya biaya layanan
kedokteran dan kesehatan sehingga masyarakat semakin tidak toleran terhadap layanan yang
tidak sempurna, dan (d) provokasi oleh ahli hukum dan oleh tenaga kesehatan sendiri.1
Etik Profesi Kedokteran
Etik profesi kedokteran mulai dikenal sejak 1800 tahun sebelum Masehi dalam bentuk
Code of Hammurabi dan Code of Hittites, yang penegakannya dilaksanakan oleh penguasa
pada waktu itu. Selanjutnya etik kedokteran muncul dalam bentuk lain, yaitu dalam bentuk
sumpah dokter yang bunyinya bermacam-macam, tetapi yang paling banyak dikenal adalah
sumpah Hippocrates yang hidup sekitar 460-370 tahun SM. Sumpah tersebut berisikan
kewajiban-kewajiban dokter dalam berperilaku dan bersikap, atau semacam code of conduct
bagi dokter.
World Medical Association dalam Deklarasi Geneva pada tahun 1968 menelorkan
sumpah dokter (dunia) dan Kode Etik Kedokteran Internasional. Kode Etik Kedokteran
Internasional berisikan tentang kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewajiban
terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri sendiri. Selanjutnya, Kode Etik Kedokteran
Indonesia dibuat dengan mengacu kepada Kode Etik Kedokteran Internasional.1
Selain Kode Etik Profesi di atas, praktek kedokteran juga berpegang kepada prinsipprinsip moral kedokteran, prinsip-prinsip moral yang dijadikan arahan dalam membuat
keputusan dan bertindak, arahan dalam menilai baik-buruknya atau benar-salahnya suatu
keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi moral. Pengetahuan etika ini dalam
perkembangannya kemudian disebut sebagai etika biomedis. Etika biomedis memberi
pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat keputusan klinis yang etis (clinical ethics)
dan pedoman dalam melakukan penelitian di bidang medis.
Nilai-nilai materialisme yang dianut masyarakat harus dapat dibendung dengan
memberikan latihan dan teladan yang menunjukkan sikap etis dan profesional dokter, seperti
autonomy (menghormati hak pasien, terutama hak dalam memperoleh informasi dan hak
membuat keputusan tentang apa yang akan dilakukan terhadap dirinya), beneficence
(melakukan tindakan untuk kebaikan pasien), non maleficence (tidak melakukan perbuatan

yang memperburuk pasien) dan justice (bersikap adil dan jujur), serta sikap altruisme
(pengabdian profesi).
Pendidikan etik kedokteran, yang mengajarkan tentang etik profesi dan prinsip moral
kedokteran, dianjurkan dimulai dini sejak tahun pertama pendidikan kedokteran, dengan
memberikan lebih ke arah tools dalam membuat keputusan etik, memberikan banyak latihan,
dan lebih banyak dipaparkan dalam berbagai situasi-kondisi etik-klinik tertentu (clinical
ethics), sehingga cara berpikir etis tersebut diharapkan menjadi bagian pertimbangan dari
pembuatan keputusan medis sehari-hari. Tentu saja kita pahami bahwa pendidikan etik belum
tentu dapat mengubah perilaku etis seseorang, terutama apabila teladan yang diberikan para
seniornya bertolak belakang dengan situasi ideal dalam pendidikan.
IDI (Ikatan Dokter Indonesia) memiliki sistem pengawasan dan penilaian pelaksanaan
etik profesi, yaitu melalui lembaga kepengurusan pusat, wilayah dan cabang, serta lembaga
MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) di tingkat pusat, wilayah dan cabang. Selain
itu, di tingkat sarana kesehatan (rumah sakit) didirikan Komite Medis dengan Panitia Etik di
dalamnya, yang akan mengawasi pelaksanaan etik dan standar profesi di rumah sakit. Bahkan
di tingkat perhimpunan rumah sakit didirikan pula Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit
(Makersi).
Pada dasarnya, suatu norma etik adalah norma yang apabila dilanggar hanya akan
membawa akibat sanksi moral bagi pelanggarnya. Namun suatu pelanggaran etik profesi dapat
dikenai sanksi disiplin profesi, dalam bentuk peringatan hingga ke bentuk yang lebih berat
seperti kewajiban menjalani pendidikan / pelatihan tertentu (bila akibat kurang kompeten) dan
pencabutan haknya berpraktik profesi. Sanksi tersebut diberikan oleh MKEK setelah dalam
rapat/sidangnya dibuktikan bahwa dokter tersebut melanggar etik (profesi) kedokteran.
Dalam melakukan pemeriksaannya, Majelis berwenang memperoleh :
1. Keterangan, baik lisan maupun tertulis (affidavit), langsung dari pihak-pihak terkait
(pengadu, teradu, pihak lain yang terkait) dan peer-group / para ahli di bidangnya yang
dibutuhkan
2. Dokumen yang terkait, seperti bukti kompetensi dalam bentuk berbagai ijasah/ brevet dan
pengalaman, bukti keanggotaan profesi, bukti kewenangan berupa Surat Ijin Praktek
Tenaga Medis, Perijinan rumah sakit tempat kejadian, bukti hubungan dokter dengan

rumah sakit, hospital bylaws, SOP dan SPM setempat, rekam medis, dan surat-surat lain
yang berkaitan dengan kasusnya.
Majelis etik ataupun disiplin umumnya tidak memiliki syarat-syarat bukti seketat pada
hukum pidana ataupun perdata. Bars Disciplinary Tribunal Regulation, misalnya,
membolehkan adanya bukti yang bersifat hearsay dan bukti tentang perilaku teradu di masa
lampau. Cara pemberian keterangan juga ada yang mengharuskan didahului dengan
pengangkatan sumpah, tetapi ada pula yang tidak mengharuskannya. Di Australia, saksi tidak
perlu disumpah pada informal hearing, tetapi harus disumpah pada formal hearing (jenis
persidangan yang lebih tinggi daripada yang informal). Sedangkan bukti berupa dokumen
umumnya disahkan dengan tandatangan dan/atau stempel institusi terkait, dan pada bukti
keterangan diakhiri dengan pernyataan kebenaran keterangan dan tandatangan (affidavit).
Dalam persidangan majelis etik dan disiplin, putusan diambil berdasarkan bukti-bukti
yang dianggap cukup kuat. Memang bukti-bukti tersebut tidak harus memiliki standard of
proof seperti pada hukum acara pidana, yaitu setinggi beyond reasonable doubt, namun juga
tidak serendah pada hukum acara perdata, yaitu preponderance of evidence. Pada beyond
reasonable

doubt

tingkat

kepastiannya

dianggap

melebihi

90%,

sedangkan

pada

preponderance of evidence dianggap cukup bila telah 51% ke atas. Banyak ahli menyatakan
bahwa tingkat kepastian pada perkara etik dan disiplin bergantung kepada sifat masalah yang
diajukan. Semakin serius dugaan pelanggaran yang dilakukan semakin tinggi tingkat kepastian
yang dibutuhkan.1
Perkara yang dapat diputuskan di majelis ini sangat bervariasi jenisnya. Di MKEK IDI
Wilayah DKI Jakarta diputus perkara-perkara pelanggaran etik dan pelanggaran disiplin
profesi, yang disusun dalam beberapa tingkat berdasarkan derajat pelanggarannya. Di Australia
digunakan berbagai istilah seperti unacceptable conduct, unsatisfactory professional conduct,
unprofessional conduct, professional misconduct dan infamous conduct in professional respect.
Namun demikian tidak ada penjelasan yang mantap tentang istilah-istilah tersebut, meskipun
umumnya memasukkan dua istilah terakhir sebagai pelanggaran yang serius hingga dapat
dikenai sanksi skorsing ataupun pencabutan ijin praktik.
Putusan MKEK tidak ditujukan untuk kepentingan peradilan, oleh karenanya tidak
dapat dipergunakan sebagai bukti di pengadilan, kecuali atas perintah pengadilan dalam bentuk
permintaan keterangan ahli. Salah seorang anggota MKEK dapat memberikan kesaksian ahli di

pemeriksaan penyidik, kejaksaan ataupun di persidangan, menjelaskan tentang jalannya


persidangan dan putusan MKEK. Sekali lagi, hakim pengadilan tidak terikat untuk sepaham
dengan putusan MKEK.
Eksekusi Putusan MKEK Wilayah dilaksanakan oleh Pengurus IDI Wilayah dan/atau
Pengurus Cabang Perhimpunan Profesi yang bersangkutan. Khusus untuk SIP, eksekusinya
diserahkan kepada Dinas Kesehatan setempat. Apabila eksekusi telah dijalankan maka dokter
teradu menerima keterangan telah menjalankan putusan.
Kode Etik Kedokteran Indonesia
Kewajiban Umum
Pasal 1
Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter.
Pasal 2
Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan
standar profesi yang tertinggi.
Pasal 3
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi
oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.
Pasal 4
Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri.
Pasal 5
Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik
hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan
pasien.
Pasal 6
Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan
setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang
dapat menimbulkan keresahan masyarakat.
Pasal 7
Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa
sendiri kebenarannya.

Pasal 7a
Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis
yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang
(compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.
Pasal 7b
Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya,
dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam
karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam menangani
pasien
Pasal 7c
Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak
tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien
Pasal 7d
Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk
insani.
Pasal 8
Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan
masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial, serta berusaha menjadi
pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya.
Pasal 9
Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang
lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati.
Kewajiban Dokter Terhadap Pasien
Pasal 10
Setiap dokten wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan
ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien,ia wajib menujuk pasien kepada
dokten yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.

Pasal 11
Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat
berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah
lainnya.
Pasal 12
Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang
pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.
Pasal 13
Setiap

dokter

wajib

melakukan

pertolongan

darurat

sebagai

suatu

tugas

perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.
Kewajiban Dokter Terhadap Teman Sejawat
Pasal 14
Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin
diperlakukan.
Pasal 15
Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dan teman sejawat, kecuali dengan
persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.
Kewajiban Dokter Terhadap Diri Sendiri
Pasal 16
Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik.
Pasal 17
Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi kedokteran/kesehatan.2
Hubungan dokter-pasien
Hubungan hukum dokter - pasien adalah hubungan anta subjek hukum dengan subjek
hukum. Dokter sebagai subjek hukum dan pasien sebagai subjek hukum secara sukarela dan
tanpa paksaan saling mengikatkan diri dalam sebuah perjanjian atau kontrak yang disebut
kontrak terapeutik. Dalam hubungan hukum ini maka segala sesuatu yang dilaukan oleh dokter
terhadap pasiennya dalam upaya peyembuhan penyakit pasien adalah merupakan perbuatan

hukum yang kepadanya dapat dimintai petrtanggug jawaban hukum. Mungkin masih banyak
teman sejawat dokter yang melaksanakan tugas profesionalnya, memberikan pelayanan medik
kepada pasien tidak menyadari bahwa perbuatannya adalah sebuah perbuatan hukum. Dalam
benak para teman sejawat tiada lain hanyalah melakukan tindakan profesional kedokteran
sesuai dengan kode etik profesional dan sumpah jabatan dokter, yaitu melakukan tindakan
medis, pengobatatan penyakit dan perawatan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehan
masyarakat yang setinggi-tingginya.
Hubungan hukum dokter-pasien akan menempatkan dokter dan pasien berada pada
kesejajaran, sehingga setiap apa yang dilakukan oleh dokter terhadap pasien tersebut harus
melibatkan pasien dalam menentukan apakah sesuatu tersebut dapat atau tidak dapat dilakukan
atas dirinya. Salah satu bentuk kesejajaran dalam hubugan hukum dokter-pasien adalah melalui
informed consent atau persetujuan tindakan medik. Pasien berhak memutuskan apakah
menerima atau menolak sebagian atau seluruhnya rencana tindakan da pengobatan yang akan
dilakukan oleh dokter terhadap dirinya.
Hubungan hukum dokter-pasien menempatkan keduanya sebagai subjek hukum yang
masng-masing pihak mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang harus di hormati.
Dokter sebagai subjek hukum mempunyai kewajiban untuk memenuhi segala sesuatu yang
menjadi hak-hak pasien dan sebaliknya pasien mempunyai kewajiban yang sama untuk
memenuhi hak-hak dokter. Pengingkaran atas pelaksanaan kewajiban masing-masing pihak
akan menimbulkan disharmonisasi dalam hubungan hukum tersebut yang dapat berbuntut pada
gugatan atau tuntutan hukum oleh pihak-pihak yang merasa dirugikan hak-haknya atau
kepentigan-kepentingannya.
Dokter tidak boleh ertindak arogan dan semena-mena atas superioritas yang dimilikinya
atas pasien karena memiliki keahlan dan kecakapan di bidang IPTEK kedokteran dan
kesehatan. sehingga pasien merasa sangat tergantung pada dokter. . Perbuatan seperti itu adalah
sebuah perbuatan melanggar hukum karena tidak menghargai hak-hak pasien dalam perjanjian
terapeutik tersebut.
Hubungan hukum dokter pasien mengacu pada Pasal 1320 KUHPerdata yang mengatur
syarat-syarat sahnya sebuah perjajiajan atau perikatan hukum Syarat-syarat tersebut yaitu
antara lain :

1). Pelaku perjanjian harus dapat bertindak sebagai subjek hukum


2). Perjanjian antara subjek hukum tersebut harus atas dasar sukarela dan tanpa paksaan
3), Perjanjian tersebut memperjanjikan sesuatu di bidang pelayanan kesehatan
4). Perjanjian tersebut harus atas sebab yang halal dan tidak bertentangan dengan hukum.
Dalam penelitian Gibb diungkapkan bahwa semakin sering orang menggunakan perilaku di
sebelah kiri, maka semakin besar kemungkinan komunikasi menjadi defensive. Sebaliknya,
komunikasi defensif berkurang dalam iklim suportif
1.

a. Evaluasi

Evaluasi artinya penilaian terhadap orang lain yaitu dengan cara memuji atau mengecam.
Dalam mengevaluasi, kita seringkali mempersoalkan nilai dan motif orang lain. Bila kita
menyebutkan kelemahan dan kekurangan orang lain, maka kita akan melahirkan sikap defensif.
Pada evaluasi, kita sering menggunakan kata sifat (salah, ngawur, bodoh). Kita sering
mengevaluasi pada gagasan dan kinerja orang lain, bukan pada diri sendiri.
b. Deskripsi
Deskripsi artinya penyampaian perasaan dan persepsi anda tanpa menilai. Pada deskripsi,
biasanya kita menggunakan kata kerja. Deskripsi dapat terjadi ketika kita sedang
mengevaluasi orang lain, tetapi orang merasa bahwa kita menghargai diri mereka.
2.

a. Kontrol

Kontrol artinya berusaha untuk mengendalikan bahkan cenderung ingin mengubah orang lain
dari sikap, pendapat dan tindakannya. Melakukan kontrol juga berarti ingin menentukan
sikap, pendapat dan tindakan orang lain sesuai dengan yang kita inginkan. Itu berarti kita tidak
menerima sikap, pendapat dan tindakan orang lain. Sehingga kalau terjadi kontrol orang lain
terhadap kita, maka kita ada perasaan menolaknya.
b. Orientasi Masalah
Orientasi masalah berarti mengkomunikasikan keinginan untuk bekerja sama mencari
pemecahan masalah. Kita mengajak orang lain bersama-sama untuk menetapkan tujuan dan
memutuskan bagaimana mencapainya.
3.

a. Strategi

Strategi adalah penggunaan cara untuk mempengaruhi orang lain. Kita menggunakan strategi
apabila orang menduga kita mempunyai motif tersembunyi. Kita berkomunikasi dengan

10

udang di balik batu. Apabila orang lain tahu kita melakukan strategi, maka ia akan menjadi
defensif.
b. Spontanitas
Spontanitas artinya sikap jujur, apa adanya dan dianggap tidak memiliki motif yang terpendam.
Apabila kita melakukan spontanitas, maka kita mempunyai iklim suportif.
4.

a. Netralitas

Netralitas berarti sikap impersonal dan memperlakukan orang lain tidak sebagai persona,
melainkan sebagai obyek. Bersikap netral bukanlah bersifat obyektif, melainkan
menunjukkan sikap acuh tak acuh dan tidak menghiraukan kelebihan orang lain.
b. Empati
Empati artinya memahami orang lain yang tidak mempunyai arti emosional bagi kita, sebagai
keadaan ketika pengamat bereaksi secara emosional karena ia menanggapi orang lain yang
mengalami emosi. Tanpa empati, orang seakan-akan menjadi mesin yang hampa perasaan dan
tanpa perhatian. Dengan empati, kita akan menumbuhkan iklim yang suportif.
5.

a. Superioritas

Superioritas artinya kita menunjukkan sikap lebih tinggi atau lebih baik dibanding orang lain
karena status atau kekuasaan atau kekayaan atau kemampuan intelektual (dalam istilah Islam
disebut Takabur). Superioritas akan melahirkan iklim defensif.
b. Persamaan
Persamaan adalah sikap memperlakukan orang lain secara horizontal dan demokratis. Dalam
sikap persamaan, kita tidak mempertegas perbedaan. Maksudnya status boleh jadi berbeda
tetapi komunikasi kita tidak vertikal, kita tidak menggurui tetapi berkomunikasi pada tingkat
yang sama. Dengan persamaan, kita mengkomunikasikan penghargaan dan rasa hormat pada
perbedaan pandangan (Dalam istilah Islam disebut Tawadlu). Kalau kita senantiasa dapat
menciptakan persamaan maka akan timbul iklim yang suportif.
6.

a. Kepastian

Orang yang memiliki kepastian bersifat dogmatis, ingin menang sendiri, dan melihat
pendapatnya sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat diganggu gugat. Bersikap kepastian
cenderung mengarah ke iklim defensif.

11

b. Provisionalisme
Provisionalisme adalah kesediaan untuk meninjau kembali pendapat kita, untuk mengakui
bahwa pendapat manusia adalah tempat kesalahan yaitu siap untuk mengakui dan mengoreksi
kesalahan yang kita perbuat, karena itu wajar juga kalau suatu saat pendapat dan keyakinan
kita bisa berubah. Provisonal dalam bahasa Inggris, artinya bersifat sementara atau
menunggu sampai ada bukti yang lengkap.
Hubungan kesejawatan
Pertumbuhan pengetahuan ilmiah yang berkembang pesat disertai aplikasi klinisnya
membuat pengobatan menjadi kompleks. Dokter secara individu tidak bisa menjadi ahli untuk
semua penyakit yang diderita oleh pasiennya, sedangkan perawatan tetap harus diberikan
sehingga membutuhkan bantuan dokter spesialis lain dan profesi kesehatan yang memiliki
keterampilan khusus seperti perawat, ahli farmasi, fisioterapis, teknisi laboratorium, pekerja
social dan lainnya.
Seorang dokter sebagai anggota profesi kesehatan, diharapkan memperlakukan profesi
kesehatan lain lebih sebagai anggota keluarga dibandingkan sebagai orang lain, bahkan sebagai
teman. Deklarasi Geneva dari WMA juga memuat janji: Kolega saya akan menjadi saudara
saya. Interpretasi janji ini bervariasi dari satu negara dan negara lain sepanjang waktu.
Dalam tradisi etika kedokteran Hippocrates, dokter memiliki hutang penghargaan
khusus terhadap guru mereka. Deklarasi Geneva menyatakan: Saya akan memberikan guru
saya penghormatan dan terima kasih yang merupakan hak mereka.
Sebagai balasan atas kehormatan yang diberikan masyarakat dan kepercayaan yang
diberikan oleh pasien, maka profesi kesehatan harus membangun standar perilaku yang tinggi
untuk anggotanya dan prosedur pendisiplinan dalam menyelidiki tuduhan adanya tindakan
yang tidak benar dan jika perlu menghukum yang berbuat salah. Kewajiban untuk melaporkan
kolega yang melakukan tindakan yang tidak kompeten, mencelakakan, perbuatan tidak
senonoh ditekankan dalam Kode Etik Kedokteran Internasional yang dikeluarkan oleh WMA
menyatakan: Dokter harus berusaha keras untuk menyatakan kekurangan karakter dan
kompetensi dokter ataupun yang terlibat dalam penipuan atau kecurangan. Penerapan prinsip
ini tidaklah mudah, di satu sisi seorang dokter mungkin menyerang reputasi koleganya karena
motif yang tidak benar seperti karena rasa iri atau terhina oleh koleganya. Dokter juga merasa

12

sungkan atau ragu untuk melaporkan tindakan koleganya yang tidak benar karena simpati atau
persahabatan. Konsekuensi pelaporan tersebut dapat berakibat kurang baik bagi yang melapor,
yang tertuduh atau bahkan dari kolega lain.2,3
Kerjasama Dokter Dengan Sejawat Menurut KKI
1. Merujuk pasien
Pada pasien rawat jalan, karena alasan kompetensi dokter dan keterbatasan fasilitas
pelayanan, dokter yang merawat harus merujuk pasien pada sejawat lain untuk mendapatkan
saran, pemeriksaan atau tindakan lanjutan. Bagi dokter yang menerima rujukan, sesuai
dengan etika profesi, wajib menjawab/memberikan advis tindakan akan terapi dan
mengembalikannya kepada dokter yang merujuk. Dalam keadaan tertentu dokter penerima
rujukan dapat melakukan tindakan atau perawatan lanjutan dengan persetujuan dokter yang
merujuk dan pasien. Setelah selesai perawatan dokter rujukan mengirim kembali kepada
dokter yang merujuk.
Pada pasien rawat inap, sejak awal pengambilan kesimpulan sementara, dokter dapat
menyampaikan kepada pasien kemungkinan untuk dirujuk kepada sejawat lain karena alasan
kompetensi. Rujukan dimaksud dapat bersifat advis, rawat bersama atau alih rawat. Pada saat
meminta persetujuan pasien untuk dirujuk, dokter harus memberi penjelasan tentang alasan,
tujuan dan konsekuensi rujukan termasuk biaya, seluruh usaha ditujukan untuk kepentingan
pasien. Pasien berhak memilih dokter rujukan, dan dalam rawat bersama harus ditetapkan
dokter penanggung jawab utama.
Dokter yang merujuk dan dokter penerima rujukan, harus mengungkapkan segala
informasi tentang kondisi pasien yang relevan dan disampaikan secara tertulis serta bersifat
rahasia.
Jika dokter memberi pengobatan dan nasihat kepada seorang pasien yang diketahui
sedang dalam perawatan dokter lain, maka dokter yang memeriksa harus menginformasikan
kepada dokter pasien tersebut tentang hasil pemeriksaan, pengobatan, dan tindakan penting
lainnya demi kepentingan pasien.

13

2. Bekerjasama dengan sejawat


Dokter harus memperlakukan teman sejawat tanpa membedakan jenis kelamin, ras,
kecacatan, agama/kepercayaan, usia, status social atau perbedaan kompetensi yang dapat
merugikan hubungan profesional antar sejawat.
Seorang dokter tidak dibenarkan mengkritik teman sejawat melalui pasien yang
mengakibatkan turunnya kredibilitas sejawat tersebut. Selain itu tidak dibenarkan seorang
dokter memberi komentar tentang suatu kasus, bila tidak pernah memeriksa atau merawat
secara langsung.
3. Bekerjasama dalam tim
Asuhan kesehatan selalu ditingkatkan melalui kerjasama dalam tim multidisiplin. Apabila
bekerja dalam sebuah tim, dokter harus :
a. Menunjuk ketua tim selaku penanggung jawab
b. Tidak boleh mengubah akuntabilitas pribadi dalam perilaku keprofesian dan asuhan yang
diberikan
c. Menghargai kompetensi dan kontribusi anggota tim
d. Memelihara hubungan profesional dengan pasien
e. Berkomunikasi secara efektif dengan anggota tim di dalam dan di luar tim
f. Memastikan agar pasien dan anggota tim mengetahui dan memahami siapa yang
bertanggung jawab untuk setiap aspek pelayanan pasien
g.Berpartisipasi dalam review secara teratur, audit dari standar dan kinerja tim, serta
menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk memperbaiki kinerja dan kekurangan tim
h. Menghadapi masalah kinerja dalam pelaksanaan kerja tim dilakukan secara terbuka dan
sportif.
4. Memimpin tim
Dalam memimpin sebuah tim, seorang dokter harus memastikan bahwa :
a. Anggota tim telah mengacu pada seluruh acuan yang berkaitan dengan pelaksanaan dan
pelayanan kedokteran
b. Anggota tim telah memenuhi kebutuhan pelayanan pasien

14

c Anggota tim telah memahami tanggung jawab individu dan tanggung jawab tim untuk
keselamatan pasien. Selanjutnya, secara terbuka dan bijak mencatat serta mendiskusikan
permasalahan yang dihadapi
d Acuan dari profesi lain dipertimbangkan untuk kepentingan pasien
e. Setiap asuhan pasien telah terkoordinasi secara benar, dan setiap pasien harus tahu siapa
yang harus dihubungi apabila ada pertanyaan atau kekhawatiran
f. Pengaturan dan pertanggungjawaban pembiayaan sudah tersedia
g. Pemantauan dan evaluasi serta tindak lanjut dari audit standar pelayanan kedokteran dan
audit pelaksanaan tim dijalankan secara berkala dan setiap kekurangan harus diselesaikan
segera
h. Sistem sudah disiapkan agar koordinasi untuk mengatasi setiap permasalahan dalam kinerja,
perilaku atau keselamatan anggota tim dapat tercapai
i. Selalu mempertahankan dan meningkatkan praktek kedokteran yang benar dan baik.
5. Mengatur dokter pengganti
Ketika seorang dokter berhalangan, dokter tersebut harus menentukan dokter pengganti
serta mengatur proses pengalihan yang efektif dan komunikatif dengan dokter pengganti.
Dokter pengganti harus diinformasikan kepada pasien.
Dokter harus memastikan bahwa dokter pengganti mempunyai kemampuan,
pengalaman, pengetahuan, dan keahlian untuk mengerjakan tugasnya sebagai dokter pengganti.
Dokter pengganti harus tetap bertanggung jawab kepada dokter yang digantikan atau ketua tim
dalam asuhan medis.
6. Mematuhi tugas
Seorang dokter yang bekerja pada institusi pelayanan/ pendidikan kedokteran harus
mematuhi tugas yang digariskan pimpinan institusi, termasuk sebagai dokter pengganti.
Dokter penanggung jawab tim harus memastikan bahwa pasien atau keluarga pasien
mengetahui informasi tentang diri pasien akan disampaikan kepada seluruh anggota tim yang
akan memberi perawatan. Jika pasien menolak penyampaian informasi tersebut, dokter
penanggung jawab tim harus menjelaskan kepada pasien keuntungan bertukar informasi dalam
pelayanan kedokteran.

15

7. Pendelegasian wewenang
Pendelegasian wewenang kepada perawat, mahasiswa kedokteran, peserta program
pendidikan dokter spesialis, atau dokter pengganti dalam hal pengobatan atau perawatan atas
nama dokter yang merawat, harus disesuaikan dengan kompetensi dalam melaksanakan
prosedur dan pemberian terapi sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dokter yang
mendelegasikan tetap menjadi penanggung jawab atas penanganan pasien secara keseluruhan.

Hubungan dan kinerja teman sejawat


Seorang dokter harus melindungi pasien dari risiko diciderai oleh teman sejawat lain,
kinerja maupun kesehatan. Keselamatan pasien harus diutamakan setiap saat. Jika seorang
dokter memiliki kekhawatiran bahwa teman sejawatnya tidak dalam keadaan fit untuk praktek,
dokter tersebut harus mengambil langkah yang tepat tanpa penundaan, kemudian kekhawatiran
tersebut ditelaah dan pasien terlindungi bila diperlukan. Hal ini berarti seorang dokter harus
memberikan penjelasan yang jujur mengenai kekhawatiran terhadap seseorang dari tempat ia
bekerja dan mengikuti prosedur yang berlaku.
Jika sistem setempat tidak memadai atau sistem setempat tidak dapat menyelesaikan
masalah dan seorang dokter masih mengkhawatirkan mengenai keselamatan pasien, maka
dokter harus menginformasikan badan pengatur terkait.2,3
1. Menghormati teman sejawat
Seorang dokter harus memperlakukan teman sejawatnya dengan adil dan rasa hormat.
Seorang dokter tidak boleh mempermainkan atau mempermalukan teman sejawatnya,
atau mendiskriminasikan teman sejawatnya dengan tidak adil.
Seorang dokter harus tidak memberikan kritik yang tidak wajar atau tidak berdasar kepada
teman sejawatnya yang dapat mempengaruhi kepercayaan pasien dalam perawatan atau
terapi yang sedang dijalankan, atau dalam keputusan terapi pasien.
2. Berbagi informasi dengan teman sejawat
Berbagi informasi dengan teman sejawat lain sangatlah penting untuk keselamatan dan
keefektifan perawatan pasien. Ketika seorang dokter merujuk pasien, dokter tersebut harus

16

memberikan semua informasi yang relevan mengenai pasiennya, termasuk riwayat medis
dan kondisi saat itu.
Jika seorang dokter spesialis memberikan terapi atau saran untuk seorang pasien kepada
dokter umum, maka ia harus memberitahu hasil pemeriksaan, terapi yang diberikan dan
informasi penting lainnya kepada dokter yang ditunjuk untuk kelangsungan perawatan
pasien, kecuali pasien tersebut menolak.
Jika seorang pasien belum dirujuk dari dokter umum kepada dokter spesialis, dokter
spesialis tersebut harus menanyakan kepastian pasien tersebut untuk memberitahu dokter
umumnya sebelum memulai terapi, kecuali dalam keadaan gawat darurat atau saat keadaan
yang tidak memungkinkan. Jika dokter spesialis tersebut tidak memberitahu dokter umum
yang merawat pasien tersebut, dokter spesialis tersebut harus bertanggung jawab untuk
menyediakan atau merencanakan semua kebutuhan perawatan.
Dampak buruk akibat keputusan dokter
Dalam membahas mengenai dampak hukum yang mungkin timbul akibat keputusan
seorang dokter, ada dua aspek yang penting untuk diketahui, yaitu mengenai kelalaian medis
dan dasar hukum yang mengatur kelalaian medis tersebut termasuk di dalamnya dasar hukum
penuntutan.2
Kelalaian Medik
Dalam beberapa tahun terakhir kasus penuntutan terhadap dokter atas dugaan adanya
kelalaian medis ataupun malpraktik medis tercatat meningkat dibandingkan tahun-tahun
sebelumnya. Seirama dengan itu, tercatat jumlah kasus pengaduan pelanggaran etik kedokteran
yang diajukan ke MKEK juga meningkat. Bahkan akhir-akhir ini juga terdapat beberapa kasus
pidana kelalaian yang mengakibatkan kematian yang menyangkut dokter atau petugas rumah
sakit lain sebagai terdakwa.4,5
Alasan peningkatan jumlah penuntutan hukum
Kalangan kedokteran umumnya berpendapat bahwa tingginya jumlah penuntutan
hukun tidak berhubungan dengan kualitas layanan kedokteran pada umumnya dan kompetensi
para dokter yang memberikan layanan. Bahkan mereka berpendapat bahwa motivasi finansial,
pemberlakuan undang-undang perlindungan konsumen dan peranan para penasehat hukumlah

17

yang lebih bertanggungjawab atas peningkatan keberanian masyarakat untuk mengajukan


penuntutan hukum kepada dokter.
Sementara itu, Tan Soo Yong menyebutkan 4 alasan yang dapat menjelaskan fenomena
di atas, yaitu:
1.

Pendidikan yang lebih baik dan meningkatnya sikap asertif masyarakat, terutama di bidang
kesadaran tentang sistem hukum dan kedokteran. Mereka sadar bahwa dokter juga dapat
bertindak lalai dalam menjalankan profesinya dan bertanggungjawab atas kelalaian itu.3

2.

Meningkatnya pengharapan masyarakat atas hasil tindakan medis. Sosialisasi pencapaian


ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran melalui media masa ternyata tidak
sesuai dengan pencapaian dalam praktek.2

3.

Komersialisasi upaya pelayanan kedokteran disertai erosi kualitas hubungan kepercayaan


antara dokter pasien. Pendidikan kedokteran yang mahal dan dibayar sendiri,
terlupakannya pendidikan etik kedokteran dan sikap empati, rumah sakit yang boleh
berorientasi profit, dan kompetisi tak sehat antar pemberi layanan kedokteran adalah sedikit
dari banyak fakta yang mendukung alasan ini.3

4.

Peningkatan biaya layanan kedokteran dan masih sedikitnya pembiayaan pelayanan


kedokteran melalui asuransi. Adalah suatu fakta bahwa semakin tinggi seseorang harus
membayar untuk suatu layanan maka semakin tinggi pula toleransinya terhadap ketidaksempurnaan layanan tersebut.2

Dampak Penuntutan
Sebenarnya, banyak kasus penuntutan hukum kepada dokter yang diduga melakukan
kelalaian medik apabila dilakukan sesuai dengan proporsinya dapat diharapkan berperan
sebagai upaya menjaga mutu pelayanan kedokteran kepada masyarakat. Namun di sisi lain,
penuntutan tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak negatif.5
Selain itu, besarnya tuntutan ganti rugi yang semakin hari kian meningkat merupakan
salah satu hal yang harus diperhitungkan. Gugatan yang tidak dibatasi akan meningkatkan legal
cost, akibat adanya biaya proses persidangan, pengacara dan success fee. Oleh karena itu dapat
ditempuh jalur lain untuk menyelesaikan tuntutan ganti rugi, seperti lebih memilih
penyelesaian melalui arbitrase daripada melalui pengadilan.2

18

Penuntutan juga mengakibatkan tekanan psikologis bagi para dokter. Penuntutan


tersebut sudah mengakibatkan kegelisahan, depresi, perasaan bersalah, dan kehilangan rasa
percaya diri para dokter, karena nama baik dan reputasi dokter dapat tercemar. Para dokter
yang pernah mengalami penuntutan akan menderita litigation stress sindrome dengan derajat
yang bervariasi.2
Malpraktik Medis
Blacks Law Dictionary mendefinisikan malpraktik sebagai professional misconduct
or unreasonable lack of skill atau failure of one rendering professional services to exercise
that degree of skill and learning commonly applied under all the circumstances in the
community by the average prudent reputable member of the profession with the result of injury,
loss or damage to the recipient of those services or to those entitled to rely upon them. 2
Dari segi hukum, di dalam definisi di atas dapat ditarik pemahaman bahwa malpraktik
dapat terjadi karena tindakan yang disengaja seperti pada misconduct tertentu, tindakan
kelalaian, ataupun suatu ketidak-kompetenan yang tidak beralasan.2
Professional misconduct yang merupakan kesengajaan dapat dilakukan dalam bentuk
pelanggaran ketentuan etik, ketentuan disiplin profesi, hukum administratif, serta hukum
pidana dan perdata, seperti melakukan kesengajaan yang merugikan pasien, fraud,
penanahan pasien, pelanggaran wajib simpan rahasia kedokteran, aborsi ilegal, euthanasia,
penyerangan seksual, misepresentasi, keterangan palsu, menggunakan iptekdok yang belum
teruji, berpraktek tanpa SIP, berpraktek diluar kompetensinya, dan sengaja melanggar standar.2
Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa malpraktik bukanlah dilihat dari hasil
tindakan medis melainkan harus dilihat dari proses tindakan medis itu sendiri. 2
Suatu hasil yang tidak diharapkan di bidang medik sebenarnya dapat diakibatkan oleh
beberapa kemungkinan, yaitu:
1.

Hasil dari suatu perjalanan penyakit itu sendiri yang tidak mempunyai hubungan dengan
tindakan medis yang diterima pasien.

2.

Efek samping dari tindakan medis yang tidak dapat dihindari, baik yang telah diketahui
sebelumnya maupun yang tidak tetapi dianggap masih dapat diterima.

3.

Hasil dari kelalaian medik.

4.

Hasil dari suatu kesengajaan.

19

Pengertian dan Syarat Kelalaian Medik


Pada dasarnya kelalaian terjadi apabila seorang melakukan apa yang seharusnya tidak
dilakukan oleh orang lain yang memiliki kualifikasi yang sama pada keadaan dan situasi yang
sama.
Pengertian istilah kelalaian medik tersirat dari pengertian malpraktek medis menurut
World Medical Asscociation (1992), yaitu: medical malpractice involves the physicians
failure to conform to the standard of care for treatment of the patients condition, or lack of
skill, or negligence in providing care to the patient, which is the direct cause of an injury to the
patient.
WMA mengingatkan pula bahwa tidak semua kegagalan medis adalah akibat
malpraktek medis. an injury occuring in the course of medical treatment which could not be
forseen and was not the result of the lack of skill or knowledge on the part of the treating
physician is untoward result, for which the physician sould not bear any liability.
Kelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk, yaitu malfeasance, misfeasance, dan
nonfeasance. Malfeasance berarti melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak
tepat/layak. Misfeasance berarti melaksanakan tindakan medis yang tepat tetapi dilakukan
dengan tidak tepat. Nonfeasance adalah tidak melakukan tindakan medis yang merupakan
kewajiban bagi seorang tenaga medis.
Suatu perbuatan atau sikap tenaga medis dianggap lalai apabila memenuhi 4 unsur di
bawah ini, yaitu:
1.

Kewajiban tenaga medis untuk melakukan sesuatu tindakan medis atau untuk tidak
melakukan sesuatu tindakan tertentu pada situasi dan kondisi tertentu.

2.

Dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban.

3.

Damage atau kerugian.

4.

Direct casual relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata. Dalam hal ini harus
terdapat hubungan sebab-akibat antara penyimpangan kewajiban dengan kerugian. 3

20

Gugatan ganti rugi akibat suatu kelalaian medik harus membuktikan adanya keempat
unsur diatas.
Dasar Hukum Penuntutan Ganti Rugi
Pasal 55 Undang-undang No 23 tahun 1992 tentang kesehatan : (1)setiap orang berhak atas
ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan.
Pasal 1365 KUH Perdata : tiap perbuatan yang melanggar hukum, yang membawa kerugian
kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salah menerbitkan kerugian itu,
mengganti kerugian tersebut.
Pasal 1366 KUH Perdata : setiap orang bertanggungjawab tidak saja untuk kerugian yang
disebabkan perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang
hati-hatiannya.
Pasal 1367 KUH Perdata : seorang tidaks aja bertanggungjwab untuk kerugian yang
disebabkan perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan perbuatan orangorang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan oleh barang-barang yang berada di bawah
pengawasannya.
Pasal 7 Undang-Undang No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen : Kewajiban
pelaku usaha adalah :

Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat


penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan.

Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa
yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

Pasal 1370 KUH Perdata : Dalam halnya suatu kematian dengan sengaja atau karena kurang
hati-hatinya seorang, maka suami atau isteri yang ditinggalkan, anak atau orang tua si korban
yang lazimnya mendapat nafkah dari pekerjaan si korban mempunya hak menuntut suatu ganti

21

rugi, yang harus dinilai menurut kedudukan dan kekayaan kedua belah pihak, serta menurut
keadaan.
Pasal 1371 KUH Perdata : Penyebab luka atau cacatnya sesuatu anggota badan dengan
sengaja atau karena kurang hati-hati memberikan hak kepada si korban untuk selain
penggantian biaya-biaya penyembuhan, menuntut penggantian kerugian yang disebabkan oleh
luka atau cacat tersebut. Juga penggantian kerugian ini dinilai menurut keadaan.
Pasal 1372 KUH Perdata : Tuntutan perdata tentang hal penghinaan adalah bertujuan mendapat
penggantian kerugian serta pemulihan kehormatan dan nama baik
Di bidang pidana juga ditemukan pasal-pasal yang menyangkut kelalaian, yaitu:

Pasal 359 KUHP : Barangsiapa karena kesalahannya (kelalaiannya) menyebabkan orang


lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan
paling lama satu tahun.

Pasal 360 KUHP : (1) Barangsiapa karena kesalahannya (kelalaiannya) menyebabkan


orang lain mendapat luka-luka berat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima
tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun. (2) barangsiapa karena kesalahannya
(kelalaiannya) menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehingga timbul
penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian selama waktu
tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan
paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah.

Pasal 361 KUHP : Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam
menjalankan suatu jabatan atau pencarian, maka pidana ditambah dengan sepertiga dan
yang bersalah dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencarian dalam mana dilakukan
kejahatan, dan hakim dapat memerintahkan supaya putusannya diumumkan.

Imform consent
Informed consent adalah suatu proses yang menunjukan komunikasi yang efektif antara
dokter dengan pasien, dan bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan apa yang tidak
akan dilakukan terhadap pasien.2 Dilihat dari sisi hukum, bukanlah sebagai perjanjian antara

22

dua pihak, melainkan lebih ke arah persetujuan sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak
lain:
Informed consent memiliki 3 elemen, yaitu:
1.

Threshold Elements
Elemen ini sebenarnya tidak tepat dianggap sebagai elemen, oleh karena sifatnya lebih

ke arah syarat, yaitu pemberi consent haruslah seseorang yang kompeten. Kompeten di sini
diartikan sebagai kapasitas untuk membuat keputusan (medis). Kompetensi manusia untuk
membuat keputusan sebenarnya merupakan suatu kontinuum, dari sama sekali tidak memiliki
kompetensi hingga memiliki kompetensi yang penuh. Diantaranya terdapat berbagai tingkat
kompetensi membuat keputusan tertentu (keputusan yang reasonable berdasarkan alasan yang
reasonable).
Secara hukum seseorang dianggap cakap (kompeten) adalah apabila telah dewasa, sadar
dan berada dalam keadaan mental yang tidak di bawah pengampuan. Dewasa diartikan sebagai
usia telah mencapai 21 tahun atau telah pernah menikah. Sedangkan keadaan mental yang
dianggap tidak kompeten adalah apabila ia mempunyai penyakit mental sedemikian rupa atau
perkembangan mentalnya terbelakang sedemikian rupa, sehingga kemampuan membuat
keputusannya terganggu.
2.

Information Elements
Elemen ini terdiri dari dua bagian, yaitu disclosure (pengungkapan) dan understanding

(pemahaman). Pengertian berdasarkan pemahaman yang adekuat membawa konsekuensi


kepada tenaga medis untuk memberikan informasi (disclosure) sedemikian rupa agar pasien
dapat mencapai pemahaman yang adekuat.2
Dalam hal ini, seberapa baik informasi yang harus diberikan kepada pasien dapat
dilihat dari 3 standar, yaitu:

Standar Praktek Profesi


Bahwa kewajiban memberikan informasi dan kriteria ke-adekuat-an informasi

ditentukan bagaimana biasanya dilakukan dalam komunitas tenaga medis (constumary pratices
of a professional community-Faden and Beauchamp, 1986). Standar ini terlalu mengarah ke
komunitas kedokteran, sehingga terkadang agak sulit dimengerti oleh pasien tentang informasi
tersebut.Dalam standar ini ada kemungkinan bahwa kebiasaan tersebut di atas tidak sesuai

23

dengan nilai-nilai sosial setempat, misalnya : risiko yang tidak bermakna (menurut medis)
tidak diinformasikan, padahal mungkin bermakna dari sisi sosial/ pasien.

Standar Subyektif
Bahwa keputusan harus didasarkan atas nilai nilai yang dianut oleh pasien secara

pribadi, sehingga informasi yang diberikan harus memadai untuk pasien tersebut dalam
membuat keputusan. Sebaliknya dari standar sebelumnya, standar ini sangat sulit dilaksanakan
atau hampir mustahil. Adalah mustahil bagi tenaga medis untuk memahami nilai-nilai yang
secara individual dianut oleh pasien.

Standar pada Reasonable Person3


Standar ini merupakan hasil kompromi dari kedua standar sebelumnya, yaitu dianggap

cukup apabila informasi yang diberikan telah memenuhi kebutuhan pada umumnya orang
awam. Sub-elemen pemahaman (understanding) dipengaruhi oleh penyakitnya, irrasionalis dan
imaturitas. Banyak ahli yang mengatakan bahwa apabila elemen ini tidak dilakukan maka
dokter dianggap telah lalai melaksanakan tugasnya memberi informasi yang adekuat.
3.

Consent Elements
Elemen ini juga terdiri dari dua bagian, yaitu voluntariness (kesukarelaan, kebebasan)

dan authorization (persetujuan). Kesukarelaan mengharuskan tidak ada tipuan, misrepresentasi


atau pun paksaan. Pasien juga harus bebas dari tekanan yang dilakukan tenaga medis yang
bersikap seolah olah akan dibiarkan apabila tidak menyetujui tawarannya.3
Consent dapat diberikan:
a)

Dinyatakan (expressed)
a.

Dinyatakan secara lisan

b.

Dinyatakan secara tertulis. Pernyataan tertulis diperlukan apabila dibutuhkan bukti di


kemudian hari. Permenkes tentang Persetujuan Tindakan Medis menyatakan bahwa
semua jenis tindakan operatif harus memperoleh persetujuan tertulis.

b)

Tidak dinyatakan (implied)

Pasien tidak menyatakannya, baik secara lisan maupun tertulis, namun melakukan tingkah laku
(gerakan) yang menunjukkan jawabannya. Meskipun consent jenis ini tidak memiliki bukti,
namun consent jenis inilah yang paling banyak dilakukan dalam praktek sehari-hari. Misalnya
adalah seseorang yang menggulung lengan bajunya dan mengulurkan lengannya ketika akan
diambil darahnya.

24

Informed consent memiliki lingkup terbatas pada hal-hal yang telah dinyatakan
sebelumnya, tidak dapat dianggap sebagai persetujuan atas semua tindakan yang akan
dilakukan. Dokter dapat bertindak melebihi yang telah disepakati hanya apabila gawat darurat
dan keadaan tersebut membutuhkan waktu yang singkat untuk mengatasinya.
Proxy-consent adalah consent yang diberikan oleh orang yang bukan si pasien itu
sendiri, dengan syarat bahwa pasien tidak mampu memberikan consent secara pribadi, dan
consent tersebut harus mendekati apa yang sekiranya akan diberikan oleh pasien apabila ia
mampu memberikannya. Umumnya urutan orang yang dapat memberikan proxy-consent
adalah suami/istri, anak, orang tua, saudara kandung, dll.
Hak menolak terapi lebih sukar diterima oleh profesi kedokteran daripada hak
menyetujui terapi. Banyak ahli yang mengatakan bahwa hak menolak terapi bersifat absolut.
Hal ini karena dokter akan mengalami konflik moral dengan kewajiban menghormati
kehidupan, kewajiban dengan mencegah perbuatan bunuh diri, kewajiban melindungi pihak
ketiga, dan intergritas etis profesi dokter.2
Pengaruh konteks
Doktrin informed consent tidak berlaku pada 5 keadaan yaitu keadaan darurat medis,
ancaman terhadap kesehatan masyarakat, pelepasan hak memberikan consent (waiver), clinical
privilege, dan pasien yang tidak kompeten memberikan consent.
Contextual circumstances juga seringkali mempengaruhi pola perolehan informed
consent. seorang yang dianggap sudah pikun, orang yang dianggap memiliki mental yang
lemah untuk dapat menerima kenyataan, dan orang dalam keadaan terminal sering kali tidak
dianggap cakap menerima informasi yang bener apalagi keputusan medis. Banyak keluarga
pasien melarang para dokter untuk berkata benar kepada pasien tentang keadaan sakitnya.
Pengaruh budaya Indonesia atau budaya Timur pada umumnya sangat terasa dalam
praktek informed consent. Umumnya keputusan medis dipahami sebagai proses dalam
keluarga, pasien sendiri umumnya mendesak untuk berkonsultasi dahulu dengan keluarganya
untuk menjaga keharmonisan keluarga. Budaya sebagian besar suku bangsa di Indonesia
tampaknya sangat sesuai dengan budaya Jepang di atas. Persetujuan tindakan medis umumnya
diberikan oleh keluarga dekat pasien oleh karena pasien cenderung untuk menyerahkan

25

permasalahan medisnya kepada keluarga terdekatnya. Nilai yang lebih bersifat kolektif seperti
ini juga terlihat pada rahasia kedokteran.2
Budaya, kebiasaan dan tingkat pendidikan juga mempengaruhi cara dan keadekuatan
berkomunikasi antara dokter dan pasien.3
Keluhan pasien tentang proses informed consent adalah:
1.

Bahasa yang digunakan untuk menjelaskan terlalu teknis

2.

Perilaku dokter yang terlihat terburu buru atau tidak perhatian, atau tidak ada waktu
untuk tanya jawab

3.

Pasien sedang stress emosional sehingga tidak mampu mencerna informasi

4.

Pasien dalam keadaan tidak sadar atau mengantuk3

Sebaliknya dokter juga mengeluhkan hal-hal di bawah ini:

Pasien tidak mau diberitahu

Pasien tidak mampu memahami

Risiko terlalu umum atau terlalu jarang terjadi

Situasi gawat darurat atau waktu yang sempit.

Solusi dokter
Majelis Kehormatan Etik Kedokteran
Dalam hal seorang dokter diduga melakukan pelanggaran etika kedokteran (tanpa
melanggar norma hukum), maka ia akan dipanggil dan disidang oleh Majelis Kehormatan Etik
Kedokteran (MKEK) IDI untuk dimintai pertanggungjawaban (etik dan disiplin profesi) nya.
Persidangan MKEK bertujuan untuk memperatahankan akuntabilitas, profesionalisme dan
keluhuran profesi. Saat ini MKEK menjadi satu-satunya majelsi profesi yang menyidangkan
kasus dugaan pelanggaran etik dan atau disiplin profesi di kalangan kedokteran. MKEK dalam
perjalanannya telah diperkuat dengan landasan hukum yang diatur dalam UU No.18 tahun
2002 tentang ilmu pengetahuan dan teknologi. 3

26

Di kemudian hari, Majelis Kehormatan Disipin Kedokteran Indonesia (MKDKI),


lembaga yang dimandatkan untuk didirikan oleh UU No. 29/2004, akan menjadi majelis yang
menyidangkan dugaan / pelanggaran disiplin profesi kedokteran.3
MKDKI bertujuan menegakkan disiplin dokter / dokter gigi dalam menyelenggarakan
praktik kedokteran. Domain atau yurisdiksi MKDKI adalah pdisiplin profesi, yaitu
permasalahan yang timbul sebagai akibat dari pelanggaran seorang profesional atas peraturan
internal profesinya, yang menyimpangi apa yang diharapkan akan dilakukan oleh orang
(profesional) dengan pengetahuan dan ketrampilan yang rata-rata. Dalam hal MKDKI dalam
sidangnya menemukan adanya pelanggaran etika, maka MKDKI akan meneruskan kasus
tersebut kepada MKEK. 3
Proses persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan terpisah dari proses persidangan
gugatan perdata atau tuntutan pidana oleh karena domain dan jurisdiksinya berbeda.
Persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan oleh MKEK IDI, sedangkan gugatan perdata
dan tuntutan pidana dilaksanakan di lembaga pengadilan di lingkungan peradilan umum.
Dokter tersangka pelaku pelanggaran standar profesi (kasus kelalaian medik) dapat diperiksa
oleh MKEK, dapat pula diperiksa di pengadilan tanpa adanya keharusan saling berhubungan di
antara keduanya. Seseorang yang telah diputus melanggar etik oleh MKEK belum tentu
dinyatakan bersalah oleh pengadilan, demikian pula sebaliknya. 3
Persidangan MKEK bersifat inkuisitorial khas profesi, yaitu Majelis (ketua dan
anggota), bersikap aktif melakukan pemeriksaan tanpa adanya badan atau perorangan sebahai
penuntut. Persidangan MKEK secara formiel tidak menggunakan sistem pembuktian
sebagaimana lazsimnya di dalam hukum acara pidana ataupun perdata, namun demikian tetap
berupaya melakukan pembuktian mendekati ketentuan-ketentuan pembuktian yang lazim. 3
Dalam melakukan pemeriksaaannya, Majelis berwenang memperoleh :
1.

Keterangan, baik lisan maupun tertulis (affidavit), langsung dari pihak-pihak terkait
(pengadu, teradu, pihak lain yang terkait) dan peer group / para ahli di bidangnya yang
dibutuhkan.

2.

Dokumen yang terkait, seperti bukti kompetensi dalam bentuk berbagai ijazah/brevet dan
pengalaman, bukti keanggotaan profesi, bukti kewenangan berupa Surat Ijin Praktik
Tenaga Medis, Perijinan rumah sakit tempat kejadian, bukti hubungan dokter dengan

27

rumah sakit, hospital by laws SOP dan SPM setempat, rekam medis, dan surat-surat lain
yang berkaitan dengan kasusnya.3
Majelis etik ataupun disiplin umumnya tidak memiliki syarat-syarat bukti seketat pada
hukum pidana ataupun perdata. Bars Disciplinary Tribunal Regulation, misalnya,
membolehkan adanya bukti yang bersifat hearsay dan bukti tentang perilaku teradu di masa
lampau. Cara pemberian keterangan juga ada yang mengharuskan didahului dengan
pengangkatan sumpah, tetapi ada pula yang tidak mengharuskannya. Di Australia, saksi tidak
perlu disumpah pada informal hearing, tetapi harus disumpah pada formal hearing (jenis
persidangan yang lebih tinggi daripada yang informal). Sedangkan bukti berupa dokumen
umumnya disahkan dengan tanda tangan dan atau stempel institusi terkait, dan pada bukti
keterangan diakhiri dengan pernyataan kebenaran keterangan dan tanda tangan (affidavit).3
Dalam persidangan majelis etik dan disiplin, putusan diambil berdasarkan bukti-bukti
yang dianggap cukup kuat. Memang bukti-bukti tersebut tidak harus memiliki standard of
proof seperti pada hukum acara pidana, yaitu setinggi beyond reasonable doubt, namun juga
tidak serendah pada hukum acara perdata, yaitu preponderance of evidence. Pada beyond
reasonable

doubt,tingkat

kepastiannya

dianggap

melebihi

90%,

sedangkan

pada

preponderance of evidence dianggap cukup bila telah 51% ke atas. Banyak ahli menyatakan
bahwa pada tingkat kepastian perkara etik dan disiplin bergantung kepada sifat masalah yang
diajukan. Semakin serius dugaan pelanggaran yang dilakukan, semakin tinggi tingkat kepastian
yang dibutuhkan.3
Perkara yang diputuskan di majelis ini sangat bervariasi jenisnya. Di MKEK IDI
Wilayah DKI Jakarta

diputus perkara-perkara pelanggaran etik dan pelanggaran disiplin

profesi, yang disusun dalam beberapa tingkat berdasarkan derajat pelanggarannya. Di Australia
digunakan berbagai istilah seperti unacceptable conduct, unsatisfactory professional conduct,
unprofessional conduct, professional misconduct dan infamous conduct in professional respect.
Namun demikian, tidak ada penjelasan yang mantap tentang istilah-istilah tersebut, meskipun
umumnya memasukkan dua istilah terakhir sebagai pelanggaran yang serius hingga dapat
dikenai sanksi skorsing ataupun pencabutan ijin praktik. 3
Putusan MKEK tidak ditujukan untuk kepentingan peradilan, oleh karenanya tidak
dapat dipergunakan sebagai bukti di pengadilan, kecuali atas perintah pengadilan dalam bentuk
permintaan keterangan ahli. Salah seorang anggota MKEK dapat memberikan kesaksian ahli di

28

pemeriksaan penyidik, kejaksaan, ataupun di persidangan, menjelaskan tentang jalannya


persidangan dan putusan MKEK. Sekali lagi, hakim pengadilan tidak terikat untuk sepaham
dengan putusan MKEK. 3
Eksekusi Putusan MKEK Wilayah dilaksanakan oleh Pengurus IDI Wilayah dan atau
Pengurus Cabang Perhimpunan Profesi yang bersangkutan. Khusus untuk SIP, eksekusinya
diserahkan kepada Dinas Kesehatan setempat. Apabila eksekusi telah dijalankan maka dokter
teradu menerima keterangan telah menjalani putusan.
Kaidah moral
Otonomi kehendak = otonomi moral yakni : kebebasan bertindak, memutuskan
(memilih) dan menentukan diri sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik bagi dirinya yang
ditentukan sendiri tanpa hambatan, paksaan atau campur-tangan pihak luar (heteronomi), suatu
motivasi dari dalam berdasar prinsip rasional atau self-legislation dari manusia. Pandangan J.
Stuart Mill : otonomi tindakan/pemikiran = otonomi individu, yakni kemampuan melakukan
pemikiran dan tindakan (merealisasikan keputusan dan kemampuan melaksanakannya), hak
penentuan diri dari sisi pandang pribadi.Menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung,
membela, membiarkan pasien demi dirinya sendiri = otonom (sebagai mahluk bermartabat).
Berbuat baik (beneficence). Selain menghormati martabat manusia, dokter juga harus
mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya (patient welfare).
Pengertian berbuat baik diartikan bersikap ramah atau menolong, lebih dari sekedar
memenuhi kewajiban
General beneficence :

melindungi & mempertahankan hak yang lain

mencegah terjadi kerugian pada yang lain,

menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain,

Specific beneficence :

menolong orang cacat,

menyelamatkan orang dari bahaya.

Mengutamakan kepentingan pasien

29

Memandang pasien/keluarga/sesuatu tak hanya sejauh menguntungkan dokter/rumah


sakit/pihak lain

Maksimalisasi akibat baik (termasuk jumlahnya > akibat-buruk)

Menjamin nilai pokok : apa saja yang ada, pantas (elok) kita bersikap baik
terhadapnya (apalagi ada yg hidup).
Tidak berbuat yang merugikan (non-maleficence). Praktik Kedokteran haruslah

memilih pengobatan yang paling kecil risikonya dan paling besar manfaatnya. Pernyataan
kuno: first, do no harm, tetap berlaku dan harus diikuti.Sisi komplementer beneficence dari
sudut pandang pasien, seperti :

Tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien

Minimalisasi akibat buruk

Kewajiban dokter untuk menganut ini berdasarkan hal-hal :

Pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting

Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut

Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif

Manfaat bagi pasien > kerugian dokter (hanya mengalami risiko minimal).

Norma tunggal, isinya larangan.


Keadilan (justice). Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, pandangan politik,

agama dan faham kepercayaan, kebangsaan dan kewarganegaraan, status perkawinan, serta
perbedaan jender tidak boleh dan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya. Tidak
ada pertimbangan lain selain kesehatan pasien yang menjadi perhatian utama dokter.

Treat similar cases in a similar way = justice within morality.

Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan sebagai fairness) yakni :

a. Memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan mereka
(kesamaan sumbangan sesuai kebutuhan pasien yang memerlukan/membahagiakannya)

30

b. Menuntut pengorbanan relatif sama, diukur dengan kemampuan mereka (kesamaan beban
sesuai dengan kemampuan pasien).
Tujuan : Menjamin nilai tak berhingga setiap pasien sebagai mahluk berakal budi
(bermartabat), khususnya : yang-hak dan yang-baik
Jenis keadilan :
a. Komparatif (perbandingan antar kebutuhan penerima)
b. Distributif (membagi sumber) : kebajikan membagikan sumber-sumber kenikmatan dan
beban bersama, dengan cara rata/merata, sesuai keselarasan sifat dan tingkat perbedaan
jasmani-rohani; secara material kepada :
Setiap orang andil yang sama
Setiap orang sesuai dengan kebutuhannya
Setiap orang sesuai upayanya
Setiap orang sesuai kontribusinya
Setiap orang sesuai jasanya
Setiap orang sesuai bursa pasar bebas
c. Sosial : kebajikan melaksanakan dan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bersama :

Utilitarian : memaksimalkan kemanfaatan publik dengan strategi menekankan


efisiensi social dan memaksimalkan nikmat/keuntungan bagi pasien.

Libertarian : menekankan hak kemerdekaan social ekonomi (mementingkan


prosedur adil > hasil substantif/materiil). Komunitarian : mementingkan tradisi
komunitas tertentu

Egalitarian : kesamaan akses terhadap nikmat dalam hidup yang dianggap bernilai
oleh setiap individu rasional (sering menerapkan criteria material kebutuhan dan
kesamaan).

d. Hukum (umum) :
Tukar menukar : kebajikan memberikan / mengembalikan hak-hak kepada yang berhak.
pembagian sesuai dengan hukum (pengaturan untuk kedamaian hidup bersama) mencapai
kesejahteraan umum.

31

Kesimpulan
Hubungan antara dokter dengan pasien dan dokter dengan dokter harus berjalan baik
selama tindakan medis dan sesudah tindakan medis. Dalam kasus ini, pada bayi yang baru lahir
belum ditemukan kelainan, karena kelainan juga belum dapat terlihat. Namum ada kemugkinan
fraktur yang terjadi pada bayi akibat proses kelahiran. Jika benar fraktur tersebut akibat
kelalaian dokter yang membantu pasien melahirkan, maka proses berikutnya akan berlanjut ke
dewan Etik Kedokteran dan dokter yang bersangkutan harus bertanggung jawab dalam
pemberian terapi bayi tersebut sampai sembuh. Namun disini kita sebagai dokter A yang
ditanya pasien harus memberi informasi yang sebenarnya dan sejujurnya tanpa harus
memprovokasi pasien agar menuntut secara hukum dokter B dan C. Karena sejatinya dokter
tidak ada yang ingin mencelakakan pasiennya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Amir,Amri.Ilmu Kedokteran Forensik.Medan:Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran USU;2007.
2. Suryadi,Taufik. Pengantar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Buku Penuntun
Kepaniteraan Klinik Kedokteran Forensik dan Medikolegal.Banda Aceh: FK
Unsyiah/RSUDZA; 2009.
3. Mulyo,R Cahyono Adi. Perananan Dokter dalam Proses Penegakan Hukum
Kesehatan.Universitas Negeri Semarang; 2006.
4. Aji,Jati Pulung.Peranan Dokter Forensik dalam Praktek Peradilan Perkara
Pidana.Purworejo;2008.
5. Sampurna,Budi.Kedokteran Forensik Ilmu dan Profesi.Universitas Indonesia; 2009.

32

Anda mungkin juga menyukai