Anda di halaman 1dari 17

TRIKOMONIASIS

Tri Astuti, Rohana Sari Suaib

I. Pendahuluan
Trikomoniasis merupakan infeksi saluran urogenital bagian bawah pada
wanita maupun pria, dapat bersifat akut atau kronik, disebabkan oleh
Trichomonas vaginalis dan penularannya biasanya melalui hubungan
seksual.1
Trichomonas yang menghinggapi manusia terdiri dari 3 spesies yaitu
Trichomonas tenax, Trichomonas hominis dan Trichomonas vaginalis (T.
vaginalis). Hanya Trichomonas vaginalis yang dapat menyebabkan penyakit.
Trikomoniasis pada saluran urogenital dapat menyebabkam vaginitis dan
sistitis. Walaupun sebagian besar tanpa gejala, akan tetapi dapat menimbulkan
masalah kesehatan yang tidak kurang pentingnya, misalnya perasaan
dispareunia,

kesukaran

melakukan

hubungan

seksual

yang

dapat

menimbulkan ketidakserasian dalam keluarga. Pada pria dapat menyebabkan


uretritis dan prostatitis yang kira-kira merupakan 15% kasus uretritis
nongonore.1,2
Donne pada tahun 1836 pertama kali menemukan parasit ini dalam
sekret vagina seorang penderita wanita dengan vaginits. Pada tahun
berikutnya ia menamakan parasit ini Trichomonas vaginalis.2
Trikomonas vaginalis merupakan salah satu penyebab trikomoniasis
yang menginfeksi 2 3 milyar wanita di Amerika Serikat, sedangkan di dunia
menginfeksi hampir 180 milyar wanita. Meskipun demikian, sangat sulit
untuk memperkirakan jumlah infeksi pada pria karena sering bersifat
asimtomatik. Sekarang, 30 40% pria yang diinfeksi dapat terdeteksi.3

II. Anatomi dan Fisiologi Alat Kelamin


Alat kelamin dibagi atas 2 jenis :
I.
Alat kelamin laki-laki
a. Penis
Di dalam zakar (penis) terdapat 3 badan pengembung
(erektil) :
1.
Korpus spongiosum penis yang meliputi uretra
Badan pengembung ini melebar di kedua
ujungnya dengan membentuk bulbus penis di akar
penis dan di ujung bebasnya, yakni glans penis. Glans
penis diliputi oleh preputium yang di sebelah ventral
berhubungan dengan glans melalui frenulum preputil.
Di kedua sisi frenulum ini bermuara saluran kelenjar
sebasea,

yaitu

glandula Tyson

yang

membuat

smegma.1
Duktus parauretralis berupa pipa buntu yang
teratur yang sejajar dengan bagian terakhir uretra dan
bermuara di sekitar bibir orifisium uretra eksternum.
Glans penis dan permukaan dalam preputium dilapisi
epitel gepeng.1
Gambar 1. Anatomi penis (Atlas netter hal.362)4
2.
Korpus kavernosum penis, di sebelah dorsolateral dan
kiri korpus spongiosum penis
Kedua korpus kavernosum penis di akar penis
berpencar masing-masing membentuk krus penis yang
memperoleh fiksasi pada ramus inferior osis pubis
dan ramus superior osis iskii. 1
b. Uretra

Uretra adalah organ berbentuk pipa yang terdapat


antara ostium uretrae internum dan ostium uretrae
eksternum. Panjangnya 20cm dan menyerupai huruf S
terbalik dalam kedudukan horizontal, dari kandung kencing
ke simfisis pubis melengkung dengan cekungan ke depan
atas, sedangkan bagian selanjutnya melengkung dengan
cekungan menghadap ke bawah belakang. Pada uretra dapat
dibedakan :
Pars prostatika
Pars membranasea
Pars spongiosa
1.

Uretra posterior
Uretra anterior

Uretra pars prostatika


Bagian ini terletak di dalam glandula
prostate, antara ostium uretra internum dan fasia
diafragma urogenitale superior, panjangnya 3
cm dan merupkan bagian uretra terlebar dengan
daya dilatasi terbesar. Uretra dilapisi oleh epitel

2.

transisional. 1
Uretra pars membranasea
Merupakan bagian uretra terpendek ( 1,2
cm), mulai dari ujung prostat sampai umbi zakar
dan juga dilapisi epitel transisional. Kecuali di
ostium uretra eksternum, bagian ini merupakan
bagian uretra tersempit. Di sebelah dorsolateral,
masing-masing sebelah kanan dan kiri, terletak
glandula

bulbo

uretralis

Cowper.

Pars

membranasea

ini

dilingkari

otot

lingkar

m.sfingter uretra eksternum. 1


3.

Uretra pars spongiosa


Merupakan bagian uretra terpanjang ( 15
cm) dari fasia diafragma urogenitale inferior
sampai ostium uretra eksternum. Dilapisi epitel
torak, kecuali 12 mm terakhir (fossa navikularis)
yang dilapisi epitel gepeng berlapis. Potongan
melintangnya 0,5 cm melebar di fosa navikularis,
kemudian menyempit kembali di orifisium uretra
eksternum. Di dinding atas dan sisi terdapat
muara kelenjar-kelenjar uretra (Littre) yang
mengarah ke muka. 1

Gambar 2. Anatomi Uretra dan Prostat (Atlas netter hal.365)4


c. Prostat

Berukuran 4 x 4 cm, terletak di bawah kandung


kencing, di atas diafragma urogenitale dan meliputi bagian
pertama uretra. Terdiri atas 2 lobus lateral dab 1 lobus
medial, salurannya dilapisi oleh epitel torak dan bermuara
pada uretra pars prostatika.1
II.

Alat kelamin wanita


a. Uretra
Panjang uretra wanita hanya 3 cm. epitelnya ialah epitel
transisional di bagian proksimal dan epitel berlapis di
bagian distal. Kelenjar Skene terletak di sebelah kanan dan
kiri lateral dari orifisium uretra eksternum, salurannya
dilapisi epitel torak dan bermuara di vestibulum vagina atau
orifisium uretra eksternum. 1

Gambar 3. Anatomi Uretra dan Prostat (Atlas netter hal.348)4

b. Vagina
Vagina adalah saluran penghubung antara vestibulum
pudendi dan serviks uteri. Panjang dinding depannya 9 cm
dan dinding belakang 14 cm, epitelnya adalah epitel gepeng
berlapis yang mengandung banyak glikogen.1
III.

Morfologi dan daur hidup

Trichomonas vaginalis tidak mempunyai bentuk kista. Bentuk trofozoit


berukuran 7 25 mikron (kira-kira 17 mikron), mempunyai 4 flagel anterior
dan satu flagel posterior yang melekat pada tepi membran bergelombang.
Membran ini pendek bentuknya dan ujungnya tidak ke luar badan sel.
Membran bergelombang ini mempunyai kosta yang halus. Intinya berbentuk
lonjong dan sitoplasmanya berbutir halus dengan butir-butir kromatin tersebar
rata sepanjang kosta dan aksostil. Sitostom tidak nyata. Aksostil halus
bentuknya dan menonjol ke luar badan. Pada wanita tempat hidup parasit ini
di vagina dan pada pria di uretra dan prostat. Parasit ini hidup di mukosa
vagina dengan makan bakteri dan leukosit. T. vaginalis bergerak dengan cepat
berputar-putar di antara sel-sel epitel dan leukosit dengan menggerakkan
flagel anterior dan membran bergelombang. Trichomonas berkembang biak
secara belah pasang longitudinal. Di luar habitatnya, parasit mati pada suhu
50C, tetapi dapat hidup selama 5 hari pada suhu 0C. dalam biakan, parasit
ini mati pada pH kurang dari 4,9, inilah sebabnya parasit tidak dapat hidup di
sekret vagina yang asam (pH 3,8 4,4). Parasit ini tidak tahan pula terhadap
disinfektans, zat pulasan dan antibiotik.2

Gambar 4. (A) T. vaginalis dilihat dari broth kultur. Tampak aksostil, membran
undulasi dan flagel dapat terlihat jelas. (B) T. vaginalis pada
permukaan sel epitel vagina sebelum berubah ke bentuk amebik. (C)
bentuk amebik dari T. vaginalis yang terlihat dari kultur sel.
Perhatikan pada bagian yang berlawanan dari membran
bergelombang yang melekat dengan sel epitel.5

Infeksi terjadi secara langsung waktu bersetubuh melalui bentuk


trofozoit. Pada keadaan lingkungan sanitasi kurang baik dengan banyak orang
hidup bersama dalam satu rumah, infeksi secara tidak langsung melalui alat
mandi seperti lap mandi atau alat sanitasi seperti toilet seat, pernah
dilaporkan.2
IV.

Epidemiologi
Trikomoniasis vaginal ditemukan dimana-mana. Suatu penelitian
menunjukkan bahwa parasit ini ditemukan pada semua bangsa/ras dan pada
semua musim. Sukar untuk menentukan frekuensi penyakit ini di satu daerah
atau negeri, karena kebanyakan penelitian dilakukan pada golongan tertentu
saja seperti golongan wanita hamil (18 25% di AS) dan dari klinik
ginekologi (30 40% di Eropa Timur). Angka-angka untuk Indonesia yang
diambil dari hasil penelitian di RSCM Jakarta ialah 16% dari klinik
kebidanan dan 25% dari 1146 orang wanita dari klinik ginekologi. Cara
pemeriksaan yang berbeda dapat pula memberikan hasil yang berlainan. Pada
pria umumnya angka-angka yang ditemukan lebih kecil, mungkin sekali oleh
karena parasit lebih sukar ditemuakn dan oleh karena infeksi sering
berlangsung tanpa gejala. Pada wanita parasit lebih sering ditemukan pada
kelompok usia 20 49 tahun, berkurang pada usia muda dan usia lanjut dan
jarang pada anak gadis.2
Epidemiologi T. vaginalis juga dapat ditemukan pada kelompok
populasi yang sangat berisiko seperti pada orang-orang di dalam penjara,
pengguna obat-obatan terlarang dan pekerja seksual.6
Penelitian di Kosta Peru menemukan prevalensi terinfeksi T. vaginalis
sebagian besar pada kelompok sosial wanita muda dengan penghasilan

rendah. T. vaginalis lebih sering menginfeksi wanita yang lebih tua, wanita
yang tidak menyelesaikan pendidikan SMA, wanita yang belum menikah,
wanita yang tidak menggunakan alat kontrasepsi dan yang sering bergantiganti pasangan.7
V. Etiologi
Penyebab Trikomoniasis ialah T. vaginalis yang pertama kali ditemukan
oleh DONNE pada tahun 1836. Merupakan flagelaat berbentuk filiformis,
berukuran 15-18 mikron, mempunyai 4 flagela, dan bergerak seperti
gelombang.1
Parasit ini berkembang biak secara belah pasang memanjang dan dapat
hidup dalam suasana pH 5-7,5. Pada suhu 50C akan mati dalam beberapa
menit, tetapi pada suhu 0C dapat bertahan sampai 5 hari. Ada dua spesies
lainnya yang dapat ditemukan pada manusia, yaitu T. tenax yang hidup dalam
rongga mulut dan Pentatrichomonas horminis yang hidup dalam kolon, yang
pada umumnya tidak menimbulkan penyakit.1
VI.

Patogenesis
T. Vaginalis adalah salah satu penyakit menular seksual yang
disebabkan oleh parasit protozoa yang menginfeksi epitel vagina dan uretra
penyebab mikroulserasi. Pada wanita, organisme dapat ditemukan dalam
vagina, ureta, serviks, kelenjar bartolini dan vesika urinaria. Pada pria,
organisme hanya ditemukan pada alat genital eksterna, uretra anterior,
epididimis, prostat, dan semen. Masa inkubasi hingga menimbulkan gejala
biasanya antara 4 hingga 28 hari. Pada wanita, jarak antara manifestasi infeksi
dari asimtomatik dapat menjadi ke derajat inflamasi vaginitis. Sebenarnya,

peningkatan kadar keasaman vagina terjadi setelah menstruasi. Kebanyakan


pria tidak mengeluhkan adanya gejala.3
Walaupun banyak penelitian tentang Trikomoniasis yang disebabkan
oleh T. vaginalis dan di dunia adalah penyebab paling sering dari penyakit
menular seksusal yang non-virus, mekanisme patogenesis pastinya belum
dapat dijelaskan secara pasti. Penelitian modern terfokus pada keadaan
adanya infeksi pertama yang ditemukan. Banyak mekanisme yang berkaitan
dan termasuk dalam adhesi sel ke sel, hemolisis, dan faktor-faktor ekskresi
yang dapat diuraikan seperti protein ekstraseluler dan CDF. Interaksi antara T.
vaginalis dengan flora-flora normal vagina sangat erat kaitannya, dan seperti
infeksi protozoa lainnya, T. vaginalis memberikan gambaran untuk
menghindari sistem imun. Hubungan antara host dan parasit sangat kompleks,
dan biasanya tidak hanya melibatkan satu mekanisme saja.5
Permukaan sel yang terinfeksi trikomonas berhubungan dengan tahap
adhesi, interaksi parasit dan host, dan keseimbangan nutrisi, dan adanya
protein dan glycoprotein yang memiliki fungsi yang saling berkaitan.5
Pada saat perlengketan parasit ke sel epitel dimediasi oleh 4 molekul
protein seperti: AP65, AP51, AP33, dan AP 23 yang berperan pada reseptor
ligand spesifik, tergantung pada waktu, temperatur, dan pH. Proses adhesi,
tidak selalu berhubungan langsung dengan virulensi penyakit, dapat
memberikan banyak perbedaan sejak proses virulensi berlangsung hingga
menimbulkan gejala tergantung dari kemampuan sel pejamu. Dengan kata
lain, aktivitas parasit berhubungan dengan faktor virulensi. Saat T. vaginalis
kehilangan kemampuan untuk sintesis lipid, eritrosit merupakan sumber asam
lemak bebas yang dibutuhkan oleh parasit. Disertai zat besi yang sangat

penting bagi nutrisi parasit, sehingga dapat ditemukan lisis oleh sel darah
merah.8
PH dan hormon juga dapat berhubungan dengan gejala yang
ditimbulkan oleh Trikomoniasis, menurut penelitian gejala dapat timbul
selama masa menstruasi. Darah menstruasi sangat baik bagi tempat
reproduksi T. vaginalis, karna memiliki pH yang tinggi dibanding keadaan
vagina normal. Adanya darah dapat menimbulkan peningkatan jumlah zat
besi dimana yang dapat meningkatkan kemampuan T. vaginalis hingga ke
VII.

epitel vagina.8
Gambaran Klinis
Trikomoniasis pada wanita menyerang dinding vagina, dapat bersifat
akut maupun kronik. Pada kasus akut terlihat sekret vagina seropurulen
berwarna kekuning-kuningan, kuning-hijau, berbau tidak enak (malodorous),
dan berbusa. Dinding vagina tampak kemerahan dan sembab. Kadang-kadang
terbentuk abses kecil pada dinding vagina dan serviks, yang tampak sebagai
granulasi berwarna merah dan dikenal sebagai strawberry appearance dan
disertai

gejala

dispareuria,

perdarahan

pascakoitus

dan

perdarahan

intermenstrual. Bila sekret banyak yang keluar, dapat timbul iritasi pada lipat
paha atau di sekitar genital eksterna. Selain vaginitis dapat pula terjadi
uretritis, bartholitis, skenitis, dan sistitis yang pada umumnya tanpa keluhan.
Pada kasus yang kronik gejala lebih ringan dan sekret vagina biasanya tidak
berbusa.1
Trikomoniasis pada laki-laki yang diserang terutama uretra, kelenjar
prostat dan kadang-kadang preputium, vesikula seminalis, dan epididimis.
Pada umumnya gambaran klinis lebih ringan dibandingkan dengan wanita.

Bentuk akut gejalanya mirip uretritis non gonore, misalnya disuria, poliuria,
dan sekret uretra mukoid atau mukopuruen. Urin biasanya jernih, tetapi
kadang-kadang ada benang-benang halus. Pada bentuk kronik gejalanya tidak
khas; gatal pada uretra, disuria, dan urin keruh pada pagi hari.1

Gambar 5. Trichomoniasis vaginalis 9


Wanita yang terinfeksi umumnya datang dengan keluhan bau busuk,
dengan sekret vagina yang berwarna kuning kehijauan, gatal pada daerah
sekitar vulva, dan kemerahan, nyeri saat melakukan hubungan seks, rasa tidak
nyaman pada perut bagian bawah, atau nyeri berkemih. Infeksi biasanya
terjadi pada pasangan yang aktif melakukan hubungan seksual. Pria biasanya
asimtomatik, sebagian lainnya datang dengan keluhan keluarnya sekret uretra
dan rasa terbakar pada saat berkemih yang semakin hari semakin terasa.
Diantara pria dan wanita dapat asimptomatik. Bayi baru lahir juga dapat
terinfeksi dari jalan lahir ibu yang terinfeksi. Infeksi pada anak-anak
merupakan tanda penyalahgunaan aktivitas seksual.3
VIII. Diagnosis
Pada hasil pemeriksaan fisis, dapat ditemukan adanya titik perdarahan
yang kemungkinan dapat dilihat pada dinding vagina dan serviks. Masa inilah
yang sering dikaitkan dengan perdarahan colpitis macularis atau strawberry
cervix. Ini merupakan tanda spesifik dari Trikomoniasis, ini hanya dapat

dilihat pada 1 - 2 % wanita pada saat pemeriksaan pelvis. Dapat meningkat


menjadi 45 % dengan penggunaan colposcopy. Pada pria biasanya ditemukan
balanitis, epididymitis dan prostatitis. Infeksi berulang dengan pasangan
seksual lainnya yang terinfeksi dapat mengakibatkan komplikasi.3

Gambar 6. Trichomonas vaginalis dengan gambaran Strawberry pada


daerah serviks disertai tanda perdarahan erosi.3
Laboratorium :
- PH sekret vagina > 5
- Tes sniff dapat positif
- Mikroskopis : sediaan basah (tampak trikomonas dengan
pergerakan yang khas dan peningkatan jumlah leukosit). Dapat
ditemukan clue cells karena biasa didapatkan bersamaan dengan
BV.9
Diagnosis :
Preparat kaca basah memperlihatkan protozoon fusiformis
uniseluler yang sedikit lebih besar dibanding sel darah putih. Ia
mempunyai flagella dan dalam spesimen dapat dilihat

gerakannya. Biasanya ada banyak sel radang.


Cairan vagina mempunyai pH 5,0 7,0.
Pasien yang terinfeksi tapi tidak ada keluhan mungkin diketahui
dengan ditemukannya Trichomonas pada usapan Pap.10

IX.

Diagnosis Banding
1.
Bakterial Vaginosis

Bakterial vaginosis (BV) adalah penyebab vaginitis paling


sering. Umumnya tidak dianggap sebagai penyakit menular seksual
karena pernah dilaporkan kejadiannya pada perempuan muda
biarawati yang secara seksual tidak aktif. Tidak ada penyebab infeksi
tunggal tetapi lebih merupakan pergeseran komposisi flora vagina
normal dengan peningkatan bakteri anaerobik sampai sepuluh kali
dan kenaikan dalam konsentrasi Gardnerella vaginalis. Dalam waktu
yang bersamaan terjadi penurunan konsentrasi laktobasili.10
BV dapat meningkatkan terkenanya dan penularan HIV. BV
juga meningkatkan risiko penyakit radang panggul (PID). BV lebih
sering dijumpai pada pemakai AKDR dibanding kontrasepsi lain dan
meningkatkan risiko penyakit menular seksual. Pada ibu hamil
dengan BV meningkatkan infeksi klamidia dua kali dan gonorea
enam kali lipat.10
Keluhan dan gejala. Ciri-ciri keputihan BV adalah tipis,
homogen, warna putih abu-abu, dan berbau amis. Keputihannya bisa
banyak sekali dan pada pemeriksaan dengan spekulum lengket di
dinding vagina. Pruritus atau iritasi vulva dan vagina jarang terjadi.10
Diagnosa dibuat dengan cara sebagai berikut.
Identifikasi mikroskopik sel-sel clue pada usapan basah
(lebih dari 20%). Sel-sel clue adalah sel-sel epitel
vagina dengan kerumunan bakteri menempel pada
membran sel. Tampak juga beberapa sel radang atau

laktobasili.
pH cairan vagina sama atau lebih dari 4,5.

Uji whiff positif yang berarti keluar bau seperti anyir


(amis) pada waktu ditambahkan larutan potassium

2.

hidroksida (KOH) 10% sampai 20% pada cairan vagina.


Eritema vagina jarang.10
Kandidiasis vulvovaginal
Vaginitis kandida bukan infeksi menular seksual karena Candida
merupakan penghuni vagina normal. Pada 25% perempuan bahkan
dijumpai di rektum dan rongga mulut dalam presentase yang lebih
besar. Candida albicans menjadi pathogen pada 80% sampai 95%
kasus kandidiasis vulvovaginalis, dan sisanya adalah C. glabrata dan
C. tropicalis. Faktor risiko infeksi meliputi imunosupresi, diabetes
mellitus, perubahan hormonal (misal kehamilan), terapi antibiotika
spektrum luas, dan obesitas.10
Keluhan dan gejala. Beratnya keluhan tidak ada hubungannya
dengan jumlah organisme. Keluhan yang menonjol adalah pruritus,
seringkali disertai iritasi vagina, disuria, atau keduanya. Cairan
vagina klasik berwarna putih seperti susu yang menjendal dan tidak
berbau. Pemeriksaan spekulum seringkali memperlihatkan eritema
dinding vulva dan vagina, kadang-kadang dengan plak yang
menempel.10
Diagnosis

dibuat

kalau

preparat

KOH

cairan

vagina

menunjukkan hifa dan kuncup (larutan KOH 10% sampai 20%


menyebabkan

lisis

sel

darah

merah

dan

putih

sehingga

mempermudah identifikasi jamur). Mungkin diperlukan untuk


melihat banyak lapangan pandangan agar dapat menemukan
patogen. Preparat KOH negatif tidak mengesampingkan infeksi.

Pasien dapat diterapi berdasar gambaran klinis. Dapat dibuat biakan


dan hasilnya bisa diperoleh dalam waktu 24 sampai 72 jam.10
X. Penatalaksanaan
Terapi Trikomoniasis dapat diberikan Metronidazole 2 g per oral
dengan sekali dosis atau metronidazole 500 mg per oral, 2 kali sehari selama
7 hari. Rekomendasi alternatif lain yang dapat diberikan yaitu Tinidazole 2 g
dosis tunggal.3
Metronidazole sering diberikan pada pasien trikomoniasis, tetapi pada
wanita

hamil

dan

menyusui

belum

diketahui

dengan

pemberian

metronidazole dapat mempengaruhi kehamilannya. Dari penelitian metaanalisis disimpulakan bahwa tidak ada efek teratogenik dari metronidazole
bagi wanita hamil trimester pertama. Metronidazole dapat diberikan kepada
semua ibu hamil dan menyusui. Wanita yang mengeluh adanya gejala harus
diberikan terapi setelah didiagnosis, meskipun beberapa klinisi biasanya
menunda pemberian hingga trimester kedua. Di Inggris, pemberian dosis
tinggi tidak dianjurkan. Metronidazole juga dikeluarkan melalui ASI yang
terkandung di dalamnya. Tidak dianjurkan pula untuk meningkatkan dosis
pada ibu menyusui atau untuk penggunaan metronidazole dosis tunggal,
pemberian ASI dapat ditunda hingga 12-24 jam untuk menghindari paparan
terhadap bayinya. Tinidazole dapat diberikan kepada wanita hamil dan
menyusui, walaupun dalam trimester pertama tidak dianjurkan.11
Pada pasien dengan HIV, pemberian metronidazole 2 gr dosis tunggal
dianggap tidak efektif seperti 500mg metronidazole dengan dua kali
pemberian dalam sehari selama 7 hari pada Trkomoniasis wanita dengan
HIV.11

XI.

Komplikasi
Meskipun insidens trikomoniasis melebihi gonore dan klamidia,
penyakit ini tidak menjadi perhatian utama. Upaya pencegahan terhadap
trikomoniasis tidak menjadi sasaran utama layanan kesehatan untuk
mengurangi sumber penyebaran. Sejak dahulu masih termasuk dalam kategori
minor penyakit menular seksual. Salah satu faktor predisposisi yaitu wanita
hamil yang akan mengakibatkan ruptur membran yang prematur, kelahiran
prematur dan berat badan lahir rendah. Lebih lanjut dapat mengakibatkan
penularan HIV. Dulu, organisme ini sering tidak menimbulkan gejala, dan
dapat karier tetapi berperan penting dengan penularan HIV.8

XII.

Prognosis
Prognosis baik dengan pengobatan yang sesuai. Pengobatan juga
diperlukan bagi pasangannya untuk mencegah terjadinya re-infeksi.
Walaupun infeksi persisten masih dapat diberikan metronidazole, namun
diperlukan uji sensitivitas.3

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editor. Kelainan Rambut dalam Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi keenam. 2013. Jakarta: Badan Penerbit
FKUI.
2. Ganduhusada S, Illahude HD, Pribadi W. Parasitologi Kedokteran. Edisi
ketiga. 2006. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI.
3. Paus R, Olsen EA, Messenger AG. Disorder of Hair and Nail dalam
Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. 7th edition. Chicago:
McGraw-Hill Company, 2008.
4. Netter FH. Atlas of Human Anatomy. 5 Edition. 2011. United States.
5. Petrin D, Delgaty K, Bhatt R, Garry G. Clinical and Microbiological Aspects
of Trichomonas vaginalis. Vol. 11, No.2, Edisi April 1998. (download from
http://cmr.asm.org/ on May 1, 2016)
6. Johnston VJ, Mabey DC. Global epidemiology and control of Trichomonas
vaginalis. Current Opinion in infectious Disease 2008, 21:56-64. 2008.
London: Hospital for Tropical Disease, London School of Hygiene and
Tropical Medicine.
7. Leon SR, Konda KA, Bernstein KT, et al. Trichomonas vaginalis Infection
and Associated Risk Factors in a Socially-Marginalized Female Population
in Coastal Peru. 2009. Los Angeles: University of California.
8. Sood S, Kapil A. An Update on Trichomonas vaginalis. Indian J Sex
Transmition
Disease
2008;
Vol.29,
No.1.
(download
from
http://www.ijstd.org on Monday, May 02, 2011)
9. Murtiastutik D, Ervianti E, Agusni I, Suyoso S, editor. Atlas Penyakit Kulit
dan Kelamin. Edisi kedua. 2011. Surabaya: Airlangga University.
10. Anwar M, editor. Ilmu Kandungan. Edisi ketiga. 2011. Jakarta: PT Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
11. Sherrad J, authors. United Kingdom National Guidline on the Management of
Trichomonas vaginalis 2014. 2014. UK: British Association for Sexual
Health & HIV (BASHH).