Anda di halaman 1dari 21

RANCANGAN GARDU DISTRIBUSI

Pemilihan dan Pemasangan Sistem Rel (Bus bar) pada Kubikal


Tegangan Menengah dengan Kapasitas 1000 kVA, 20 kV / 400V

OLEH:
WAHYU APRILIANTO

TEKNIK OTOMASI LISTRIK INDUSTRI


POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat dan karunianya saya dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini dibuat
sebagai tugas dari perkuliahan Rancangan Gardu Distribusi, dan ditujukan sebagai pegangan
maupun referensi bagi penulis sendiri maupun para pembaca.
Terimakasih banyak kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung,
khususnya untuk dosen mata kuliah Rancangan Gardu Distribusi yang telah memberikan
bimbingan, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Jika masih terdapat banyak kesalahan dalam makalah ini, penulis khususnya meminta
maaf yang sebesar-besarnya. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca akan sangat bermanfaat untuk saya jadikan evaluasi dikedepannya. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Depok, 29 Mei 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang
Dalam perkembangannya, kebutuhan energi listrik semakin meningkat, serta
masyarakat sebagai konsumen energi listrik juga bertambah jumlahnya dan menuntut
mutu serta kualitas pelayanan energi listrik yang lebih baik secara kontinyu. Pada
pelanggan besar, sering ditemukan suatu perangkat instalasi listrik yang disebut
kubikel atau perangkat hubung bagi. Pelanggan-pelanggan besar ini merupakan
konsumen pada tegangan menengah.
Fungsi dari kubikel adalah sebagai pembagi beban serta pengukuran. Kubikel
didalamnya mempunyai berbagai alat seperti PMT, PT, CT, Relay, Rel (Busbar), dll.
Pada makalah ini, saya akan membahas salah satu komponen yang ada pada kubikel
tersebut, yakni busbar. Melalui makalah ini, diharapkan nantinya saya dapat
memberikan penjelasan kepada para pembaca untuk memahami konsep tentang
pemilihan serta cara pemasangan busbar pada kubikel tegangan menengah.

I.2

Permasalahan
Dalam laporan ini dibahas mengenai cara pemilihan dan pemasangan sistem
rel (busbar) pada kubikal tegangan menengah dengan kapasitas 1000 kVA, 20 kV /
400 Volt.

I.3

Tujuan
Pembuatan laporan ini bertujuan untuk:
a. Menambah pengetahuan mengenai rel (busbar) pada kubikal tegangan menengah
20 kV.
b. Mengetahui lebih jauh mengenai cara pemilihan rel (busbar) untuk kubikal
jaringan tegangan menengah dengan kapasitas 20 kV.
c. Mengetahui cara pemasangan rel (busbar) pada kubikal pada jaringan tegangan
menengah dengan kapasitas 20 kV.

I.4

Sistematika Penulisan
Dalam pengerjaan makalah ini, perlu diadakan sistematika penulisan guna tercapainya
tujuan penulisan laporan. Ada beberapa bab yang terdapat dalam penulisan ini, antara
lain :

BAB I

PENDAHULUAN

BAB II

LANDASAN TEORI

BAB III

PEMBAHASAN DAN ANALISA

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR KEPUSTAKAAN

BAB II
LANDASAN TEORI

II.1

Kubikel Tegangan Menengah (20 kV)

Gambar 1. Kubikel 20 Kv

Kubikal 20 kV adalah seperangkat peralatan listrik yang dipasang pada gardu


distribusi yang mempunyai fungsi sebagai pembagi, pemutus, penghubung,
pengontrol, dan proteksi sistem penyaluran tenaga listrik tegangan 20 kV. Kubikal
biasa terpasang pada gardu distribusi ataupun gardu hubung. Salah satu fungsi dari
kubikal tegangan menengah (20 kV) yaitu membagi sirkuit yang dilakukan oleh
pembagi jurusan atau kelompok (busbar). Jika dilihat dari fungsi atau penempatannya,
kubikal dapat dibedakan menjadi:

a. Kubikal Incoming : Berfungsi sebagai penghubung dari sisi sekunder trafo daya
ke busbar 20 kV.
b. Kubikal Outgoing : Berfungsi sebagai penghubung atau penyalur dari busbar ke
beban.
c. Kubikal Pemakaian Sendiri (Trafo PS) : Berfungsi sebagai penghubung dari
busbar ke beban pemakaian sendiri GI.
d. Kubikal Kopel (Bus Kopling) : Berfungsi sebagai penghubung antara rel (busbar)
1 dengan rel (busbar) 2.
e. Kubikal PT / LA : Berfungsi sebagai sarana pengukuran dan proteksi pengaman
terhadap surja.

f. Kubikal Bus Riser / Bus Tie (Interface) : Berfungsi sebagai penghubung antar sel.
II. 2

Bagian Bagian dari Konstruksi Kubikel :

a.

Kompartemen

b.

Rel / Busbar

c.

Kotak Pemutus

d.

Pemisah Hubung Tanah

e.

Terminal Penghubung

f.

Fuse Holder

g.

Mekanik Kubikel

h.

Lampu Indikator

i.

Pemanas (Heater)

j.

Handle Kubikel (Tuas Operasi)

Penjelasan :
A.

Kompartemen

Merupakan rumah dari terminal penghubung, LBS, PMT, PMS, Fuse, Trafo ukur, (CT, PT)
peralatan mekanis dan instalasi tegangan rendah, sehingga tidak membahayakan operator
terhadap adanya sentuhan langsung ke bagian - bagian yang bertegangan Berupa lemari /
kotak terbuat pelat baja, terbagi menjadi 2 (dua) bagian, bagian atas untuk busbar dan bagian
bawah untuk penyambungan dengan terminasi kabel Komponen bagian bawah, pada bagian
depan berupa pintu yang dapat dibuka tetapi bisa dilakukan apabila tegangan sudah
dibebaskan dan terminasi kabel sudah ditanahkan
1.

Kompartemen busbar

2.

Kompartemen tegangan rendah

3.

Pemutus beban dan saklar pentanahan

4.

Kompartemen mekanik operasi

5.

Kompartemen kabel

B.

Rel (Busbar)

Busbar adalah salah satu komponen inti kedua setelah breaker. Busbar
merupakan komponen penghantar listrik yang dapat memadai arus dan tegangan
listrik kaopasitas besar. Busbar yang sangat umum memang sudah lazim dipakai
untuk perakitan panel dan terbuat dari tembaga. Karena tembaga memiliki tingkat
korosi yang sangat kecil atau bahkan 0%. Akan tetapi ada yang lebih baik dari
tembaga, yakni emas. Emas merupakan penghantar yang paling bagus karena
memiliki tingkat karat yang lebih rendah atau sama sekali tidak memiliki tingkatan
karat.

Jenis Busbar :
a. Sistem Cincin atau Ring
Busbar jenis ini yaitu semua rel/busbar yang ada tersambung satu sama lain dan
membentuk seperti ring/cincin. Busbar 20 kV ini terdapat dalam tabung SF 6
vacum. Bentuk rel ada yang bulat ada yang pipih.

Gambar 2. Busbar Sistem Cincin atau Ring


b. Busbar Tunggal atau Single Busbar
Busbar jenis ini memiliki semua perlengkapan peralatan listrik yang dihubungkan
hanya pada satu/single busbar. Pada umumnya gardu dengan sistem ini adalah
gardu induk di ujung atau akhir dari suatu transmisi.

Gambar 3. Busbar Sistem Tunggal atau Single Busbar

c. Busbar Ganda atau Double Busbar


Adalah gardu induk yang mempunyai dua/double busbar. Sistem ini sangat umum,
hampir semua gardu induk menggunakan sistem ini karena sangat efektif untuk
mengurangi pemadaman beban pada saat melakukan perubahan.

Gambar 4. Busbar Sistem Ganda atau Double Busbar

d. Busbar Satu Setengah atau One Half Busbar


Gardu induk dengan konfigurasi seperti ini mempunyai dua busbar pula seperti
pada busbar ganda. Tapi, konfigurasi busbar seperti ini dipakai pada Gardu Induk
Pembangkitan dan Gardu Induk yang sangat besar karena sangat efektif dalam
segi operasional dan dapat mengurangi pemadaman beban pada saat melakukan
perubahan sistem. Sistem ini menggunakan 3 buah PMT didalam satu diagonal
yang terpasang secara seri.

Gambar 5. Busbar Sistem Satu Setengah atau One Half Busbar

Busbar memiliki fungsi yang sama dengan kabel. Tetapi kapasitas hantar
arus busbar lebih besar daripada kabel. Untuk arus diatas 250 A maka disarankan
untuk memakai busbar. Pemakaian busbar ini untuk mempermudah pemasangan
sambungan komponen-komponen lainnya pada panel atau kubikal. Apabila arus
250 A ke atas dan menggunakan kabel maka pemasangannya akan lebih sulit
untuk sambungan ke penghantar lainnya.
Hal ini dikarenakan pada busbar setiap bagian penampangnya terdapat
lubang-lubang yang dapat dijadikan tempat penghubung dengan penghantar
lainnya. Berdasarkan standar pada PUIL. maka dalam penggunaan busbar, tiap
fasanya diberi warna yang berbeda, antara lain:
-

Merah untuk fasa R


Kuning untuk fasa S
Hitam untuk fasa T
Biru untuk fasa N

Walaupun busbar telah diletakan di dalam kubikal, bukan berarti busbar bebas
dari pemeliharaan. Berikut ini cara pemeliharaan kontak busbar dan kabel pada
kubikal :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Bebaskan dari tegangan


Masukan saluran pentanahan, buka tutup pintu kubikal
Bersihkan kotoran / debu pada terminal kubikel dengan kuas
Lepaskan kontak dengan busbar dan kubikel
Oleskan varelum elektrik pada permukaan mur / baut
Lepaskan saluran pentanahan, masukkan lagi tegangan

C. Kontak Pemutus
Sebagai pemutus / penghubung aliran listrik kontak pemutus terdiri dari dua bagian yaitu
kontak gerak (moving contact) dan kontak tetap (fixed contact) sebagai peredam busur api
pada kubikel jenis LBS atau PMT digunakan media minyak, gas SF6, vacum atau dengan
hembusan udara, selain itu memperkecil terjadinya busur api dilakukan dengan pembukaan
dan penutupan kontak pemutus secara cepat secara mekanis.
D.

Sirkuit Pembumian

Semua bagian logam PHB yang bukan merupakan bagian sirkuit utama atau sirkuit bantu dan
yang dapat bermuatan sehingga membahayakan harus dihubungkan ke penghantar
pembumian .
Penghantar tersebut terbuat dari tembaga dan mampu mengalirkan arus sebesar 12,5 kA
selama 1 detik tanpa menjadi rusak. Kepadatan arus di sirkuit pembumian tidak boleh
melampaui 200 A/mm2 dengan luas penampang penghantar tidak kurang dari 30 mm2 Pada
setiap ujung penghantar disambung dengan instalasi sistem pembumian pembumian melalui
baut berukuran M12. Penghantar pembumian ditempatkan sedemikian sehingga tidak
merintangi tangan untuk mencapai terminal kabel. Selungkup kompartemen sekurangkurangnya harus terselubung di satu titik dengan penghantar bumi. Kontinuitas pembumian
antara badan kompartemen dan sekat atau tutup diyakinkan melalui pemasangan baut dan
mur atau cara lain yang dapat diandalkan. Kontinuitas pembumian antara bagian bergerak
yang berengsel dengan luas penampang tidak kurang dari 30 mm2 suatu penguat
ditambahkan pada pita tersebut untuk melindungi anyaman pita terhadap tegangan mekanis
yang tidak semestinya. Bagian sakelar pembumian harus terhubung ke penghantar utama
pembumian melalui penghantar tembaga yang kaku dan fleksibel dengan luas penampangnya
tidak kurang dari 30 mm2 . Setiap kubikel yang dilengkapi sakelar pembumian harus
dipasang terminal tembaga untuk pembumian yang dihubungkan ke penghantar pembumian
dengan penjepit pembumian sementara.

E.

Pemisah Hubung Tanah (Pemisah Tanah)

Untuk mengamankan kubikel pada saat tidak bertegangan dengan menghubungkan terminal
kabel ketanah (grounding), sehingga bila ada personil yang bekerja pada kubikel tersebut
terhindar terhadap adanya kesalahan operasi yang menyebabkan kabel terisi tegangan. PMS
tanah ini biasanya mempunyai sistem interlock dengan pintu kubikel dan mekanik LBS pintu
tidak bisa dibuka jika PMS tanah belum masuk, LBS tidak bisa masuk sebelum PMS tanah
dibuka.
Posisi buka atau tutup ke tiga pisau sakelar pembumian harus dapat diperiksa melalui lubang
pengamatan terdapat pada PHB. Sebagai alternatif pisau-pisau sakelar pembumian dapat
dipasang indikator untuk menentukan posisi buka atau tutup.I ndikator tersebut harus sesuai
dengan posisi sebenarnya dari pisau-pisau sakelar pembumian tersebut. Sakelar pembumian
dan penghubung singkat harus mempunyai kapasitas penyambungan 31,5 kA (puncak), nilai
ini dapat dikurangi sehingga 2,5 kA jika rangkaian diamankan dengan pengaman beban jenis
HRC. Sakelar pembumian umumnya memeiliki kapasitas penyambungan 5,8 kA. Sakelar
pembumian harus dioperasikan manual secara terpisah.

F.

Terminal Penghubung

Untuk menghubungkan bagian-bagian kubikel yang bertegangan satu dengan yang lainnya,
ada beberapa terminal antara lain :

a.

Terminal busbar, tempat dudukan busbarT

b.

Terminal kabel, tempat menghubungkan kabel incoming dan out going

c.

Terminal PT, tempat menyambung transformator tegangan untuk pengukuran

d.

Terminal CT, tempat menyambungkan transformator arus untuk pengukuran

G.

Fuse Holder

Untuk menempatkan fuse pengaman trafo pada kubikel PB atau kubikel PT

H.

Mekanik Kubikel

Berfungsi untuk menggerakkan dan merubah posisi membuka / menutup kontak LBS PMT
dan PMS maupun pemisah hubung tanah dibuat sedemikian rupa, sehingga pada waktu
membuka dan menutup kontak pemutus berlangsung dengan cepat

I.

Lampu Indikator

Untuk menandai adanya tegangan (20 kV) pada sisi kabel, baik berasal dari sisi lain kabel
tersebut atau berasal dari busbar sebagai akibat alat hubung dimasukkan, lampu indikator
menyala dikarenakan adanya arus kapasitip yang dihasilkan oleh kapasitor pembagi
tegangan. Kubikel jenis PMT lampu indikator digunakan nuntuk menandai posisi alathubungnya dengan 2 ( dua ) warna yang berbeda untuk posisi masuk atau keluar. Sumber
listrik untuk lampu indikator berasal daris sumber arus searah ( DC ) yang dihubungkan
dengan kontak bantu yang bekerja serempak dengan kerja poros penggerak alat-hubung
utama.

J.

Indikator Hubung Singkat Dan Indikator Gangguan Ke Bumi (jika diperlukan)

a) Perlengkapan ini harus dipasang pada setiap penyulang keluar dan terdiri dari :
-Transformator arus jenis resin yang dipasang melingkari kabel.
-Satu kotak untuk rele, batere yang dapat dimuati kembali (rechargeable) dan alat
-pemberi muatan (changer) yang dipasang pada dinding di dalam gardu.
Catu daya sebesar 200 V 50 Hz.

b) Satu indikator luminious yang tahan cuaca yang dapat ditempatkan di bagian luar
bangunan pada dinding
c) Spesifikasi indikator hubung singkat dan indikator gangguan ke bumi.
-Current sensing 3 core type CT or 3 single core
-Fault current threshold : 40, 80, 160 A
-Resetting automatic with LV supply restoration
-Accuracy : 10 %

K.

Pemanas (Heater)

Untuk memanaskan ruang terminal kabel agar kelembabannya terjaga. keadaan ini
diharapkan dapat mengurangi efek corona pada terminal kubikel tersebut, besarnya tegangan
heater 220 V sumber tegangan berasal dari trafo distribusi
L.

Handle Kubikel

Untuk menggerakkan mekanik kubikel, yaitu membuka atau menutup posisi kontak hubung :
PMT, PMS, LBS, pemisah tanah (grounding) atau pengisian pegas untuk energi membuka /
menutup kontak hubung, pada satu kubikel, jumlah handle yang tersedia bisa satu macam
atau lebih

M.

Sistem Interlock (Interlock) Dan Pengunci

Sistem interlock harus dilengkapi untuk mencegah kemungkinan kesalahan atau kelainan
operasi dari peralatan dan untuk menjamin keamanan operasi. Gawai interlock harus dari
jenis mekanis dengan standar pembuatan yang paling tinggi, tak dapat diganggu gugat dan
mempunyai kekuatan mekanis lebih tinggi dari kontrol mekanisnya. Pada kubikel jenis PMT
yang dilengkapi dengan motor listrik sebagai penggerak alat hubung dan dikontrol dengan
sistem kontrol listrik arus searah, maka sistem interlockpun juga diberlakukan pada sistem
kontrol listriknya. Yaitu bila posisi komponen kubikel belum pada posisi siap dioperasikan,
maka sistem kontrol tidak dapat dioperasikan .
Macam- macam sistem interlock pada Kubikel :
a) Interlock pintu
Pintu Kubikel harus tidak dapat dibuka jika :

Sakelar utama (sakelar tegangan menengah) dalam keadaan tertutup


Sakelar pembumian dalam keadaan terbuka.
Pintu Kubikel harus tidak dapat ditutup jika sakelar pembumian dalam
keadaan terbuka.
b) Interlock sakelar utama
Sakelar utama (sakelar tegangan menengah) harus tidak dapat dioperasikan jika:
- Pintu Kubikel dalam keadaan terbuka.
- Sakelar pembumian dalam keadaan tertutup.
c) Interlock sakelar pembumian
- Sakelar pembumian harus tidak dapat ditutup jika sakelar utama dalam
keadaan tertutup
d) Penguncian

Perlengkapan penguncian harus disediakan untuk :

Sakelar pembumian pada posisi terbuka atau tertutup


Sakelar utama atau pemutusan tenaga pada posisi terbuka
Pintu Kubikel

BAB III
PEMBAHASAN DAN ANALISA

III.1

Pemilihan Busbar untuk Tegangan Menengah


Busbar merupakan salah satu peralatan kelistrikan di dalam kubikal yang
memiliki peran penting. Maka dari itu, pemilihan busbar dalam penggunaannya
tidaklah boleh sembarangan agar busbar dapat bekerja tetap sesuai standarnya.

Di bawah ini adalah daftar ukuran busbar import yang ada di pasaran lokal.
Ukuran tersebut adalah tebal dan lebarnya, sedangkan panjang semua ukuran adalah 4
meter. Pembelian biasanya dengan timbangan (kilo).

Tabel 1. Tabel Ukuran Rel Tembaga Import dan Ampacity

Cara lain dalam penentuan dan pemilihan ukuran busbar yang akan digunakan
pada sebuah peralatan panel distribusi, hal yang mesti diperhatikan adalah sebagai
berikut :
1. Dimensi busbar dengan mempertimbangkan kondisi normal operasi.
2. Tegangan operasional saat beroperasi, baik antara line dengan line maupun antara
line dengan netral.
3. Arus yang akan mengalir pada busbar, yang akan mempengaruhi penentuan tipe
dan luas penampang busbar itu sendiri.
Selain hal diatas, yang juga patut diperhatikan adalah kemampuan isolator
tempat busbar dipasang, dimana kemampuan isolator tersebut harus bisa menanggung
dan tahan terhadap efek mekanikal yang timbul, baik yang disebabkan karena efek

kenaikan temperatur pada busbar maupun goncangan/getaran akibat gangguan


hubungan singkat (short circuit) yang menjalar dari busbar ke isolator.
Untuk melakukan perhitungan dalam menetapkan jenis dan ukuran busbar
yang akan digunakan, diperlukan beberapa parameter operasi sebagai referensi, yaitu:
1. Network short circuit (Ssc) - Nilai hubungan singkat pada jaringan - MVA
2. Rated Voltage (Rate Tegangan) - V
3. Operating Voltage (Tegangan Operasional) - V
4. Rated Current - Rated Arus - A
Sedangkan hal yang mesti diperhatikan untuk karakteristik fisik dari busbar adalah
sbb :

III.2

Luas penampang busbar (Cross Section) - cm2

Jarak antara phasa - cm

Panjang isolator yang mendukung sebuah phasa - cm

Temperatur ruangan - oC

Kenaikan temperatur yang diizinkan

Profile Busbar (Flat atau Round)

Material Busbar (Tembaga (Copper) atau Aluminium)

Pemasangan Busbar (Flat Mounted atau Edge Mounted)

Pemasangan Busbar pada Kubikal Tegangan Menengah


III.2.1

Arti Pemasangan Secara Umum

Menurut KBBI, arti dari pemasangan yaitu suatu proses, cara, atau perbuatan
memasang. Melakukan pemasangan dari suatu alat tidak boleh sembarangan. Tetap
harus sesuai standar yang berlaku. Karena apabila pemasangan suatu alat tidaklah
sesuai dengan prosedur atau standarnya, maka kinerja dari alat tersebut tidak akan
sesuai dengan semestinya. Bahkan, kinerja alat tersebut dapat membahayakan hal-hal
lain nantinya.

III.2.2

Pemasangan Busbar
Dilihat dari pengertian pemasangan di atas, dapat disimpulkan bahwa
yang dimaksud dari pemasangan busbar yaitu cara atau proses memasang
busbar. Pertama, kompartemen busbar harus ditempatkan di bagian atas bilik.
Ini harus mencakup 3 paralel bar-mount tanpa fase memisahkan berarti.
Koneksi harus dibuat untuk bantalan atas switch atau pemisah chasis. Akses ke
busbar hanya akan mungkin setelah menghapus akses panel tunggal membawa
peringatan simbol bahaya sengatan listrik. Tidak ada sistem akses busbar
lainnya akan diterima.

Gambar 6. Bagian-bagian pada cubicle.

Secara umum dan secara ringkas, tahapan pemasangan rel atau busbar pada
tegangan menengah adalah sebagai berikut :
-

Pastikan kubikel bebas dari tegangan.

Membuka kubikel tegangan menengah 20 KV.


Pengerjaan dimulai dengan melepas mur dan baut pada kubikel guna
melepas casing kubikel yang diperlukan.
Siapkan rel tembaga atau busbar yang akan dipasang, melonggarkan atau
melepas connector bus (klem bus) yang ada didalam kubikel.
Memposisikan rel yang akan dipasang di klem bus
Mengencangkan kembali klem bus yang menjepit rel tersebut.
Terakhir, kembali pasangkan casing yang sebelumnya dilepas, dan
mengencangkan mur dan baut yang juga sebelumnya dilepas.
Tegangan dapat dialirkan kembali menuju kubikel.

Gambar (a). Rel yang akan dipasang

Gambar (b). Klem Bus

Di bawah ini merupakan contoh gambar-gambar pemasangan busbar pada


kubikal :

Dapat dilihat di atas bahwa untuk membedakan busbar antar fasa maka busbar
ditandai dengan cara di-cat sesuai dengan identitas warna masing-masing fasa dan
netral.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

IV.1

Kesimpulan

Kita dapat menyimpulkan bahwa kubikal memiliki jenis-jenis tersendiri yang dimana
fungsinya berbeda di setiap penempatannya. Di dalam kubikal terdapat beberapa peralatan
kelistrikan, antara lain Kompartemen, Rel (busbar), Kotak Pemutus, Pemisah Hubung Tanah,
Terminal Penghubung, Fuse Holder, dll. Dari keseluruhan peralatan kelistrikan tersebut,
pemilihan dan pemasangannya diharuskan secara tepat dan sesuai standart yang telah
ditentukan.
Salah satu alat yang berperan penting di dalam kubikal yaitu busbar. Pemilihan
ukuran dan jenis busbar tidaklah boleh sembarang dan tidak boleh disepelekan. Apabila kita
menyepelekan dalam pemilihannya, maka kinerja dari busbar akan membahayakan atau
merusak sistem dari kubikal itu sendiri. Untuk pemilihan busbar yang akan digunakan pada
kubikel tegangan menengah 20 KV, tersedia beberapa cara yang bisa digunakan agar kita
tidak salah dalam memilih. Antara lain yaitu dengan menggunakan tabel. Dari tabel tersebut
kita dapat melihat patokan dari besarnya arus yang mengalir.
Dalam pemasangan busbar kita harus memperhatikan dengan cermat bagian-bagian
dan posisinya. Supaya kinerja alat yang ada di dalam kubikel pun tidak terganggu. Maka dari
itu kita harus memasang busbar secara bertahap. Dari mulai memperhatikan supply yang
mengalir ke kubikal, sampai pengaturan bagian-bagian busbar tetap harus diperhatikan. Kita
juga bisa mengecat atau memberi tanda busbar sesuai dengan fasa dan netralnya, itu dapat
mempermudah kita saat maintenance alat.

IV.2

Saran

Untuk kemanan yang lebih terjamin, sebaiknya pilih untuk memasang busbar yang
menggunakan isolasi sehingga aman dari tegangan sentuhan. Busbar yang menggunakan
isolasi disebut Busduct. Di dalam Busduct terdapat busbar (sebagai penghantar) terdiri dari R,
S, T, N dan Ground dan antar phasa sudah diproteksi oleh isolator mika. Dan yang terakhir,
casing atau bagian yang paling luar ditutup dengan plat Al (untuk proteksi mekanis). Untuk
busbar jenis Busduct, biasanya digunakan untuk mengefisienkan pemasangan, tempat dan
kerapihan, tanpa perlu lagi ladder. Akan tetapi harganya relatif lebih mahal. Namun sudah
pasti lebih aman dari tegangan sentuh daripada busbar yang telanjang.

BAB V
DAFTAR PUSTAKA

Nida, Khoirin. makalah tentang kubikel 20kv. 25 Mei 2016.


http://ceritaguehhh.blogspot.co.id/2014/08/makalah-tentang-kubikel-20-kv.html

Bonggas L. Tobing, Peralatan Tegangan Tinggi, Jakarta : Penerbit PT Gramedia Pustaka


Utama, 2003.

Groupe Schneider Electric, Training Manual 20 kV System, Jakarta : Groupe Schneider


Electric, 1999.

Groupe Schneider Electric, Design, Operation and Maintenace Electrical Substation,


Jakarta : Groupe Schneider Electric, 1999.
Anton. Busbar Komponen Instalasi Listrik. 26 Mei 2016.
http://www.bloganton.info/2014/02/busbar-komponen-instalasi-listrik.html

Elektrik, Pratama. Gambar Cara Pemasangan Komponen Busbar Support. 26 Mei 2016.
http://pratamaelektrik.blogspot.com/2014/10/gambar-cara-pemasangan-komponenbusbar.html

Guntoro, Hanif. Perlengkapan Gardu Induk. 26 Mei 2016.


http://dunia-listrik.blogspot.com/2009/03/perlengkapan-gardu-induk.html

Kurniawan, Agung. Komponen-Komponen yang Sering Digunakan pada Pembuatan Panel


Listrik. 27 Mei 2016.
http://adzoeng.blogspot.com/2015/03/komponen-komponen-yang-seringdigunakan.html

Listrik, Direktori. Perhitungan Busbar Busbar Calculation. 27 Mei 2016.


http://direktorilistrik.blogspot.com/2013/02/perhitungan-busbar-busbarcalculation.html

Nida, Khoirin. Makalah Tentang Kubikel 20 KV. 27 Mei 2016.

http://ceritaguehhh.blogspot.com/2014/08/makalah-tentang-kubikel-20-kv.html

Pancoro, Bayu. Ukuran Rel Tembaga / Busbar. 28 Mei 2016.


https://bayupancoro.wordpress.com/2008/09/17/ukuran-rel-tembaga-busbar/

Syam, Khaerul. Persyaratan-Sistem-Komponen-Cubicle. 28 Mei 2016.


http://cubicletm.blogspot.com/2014/10/persyaratan-sistem-komponen-cubicle.html?
m=1

Tasmono, Gudi. Pengenalan Tentang Busduct. 28 Mei 2016.


http://busductsystem.blogspot.com/2011/04/pengenalan-tentang-busduct.html

Wijaya, Ady. Pemeliharaan Isolator Busbar, Kontak Busbar dan Kerangka Kubikel. 29 Mei
2016.
http://adyofficial.blogspot.com/2013/07/pemeliharaan-isolator-busbar-kontak.html