Anda di halaman 1dari 22

BAB I

LAPORAN KASUS
I.1. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. T

Usia

: 29 th

Pendidikan

: SMU

Alamat

: Gertas 04/05 Brongkol Jambu

Status

: Menikah

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Kelompok

: BPJS Non PBI

Ruang

: Bougenville kelas III

Masuk

: 11-04-2016

I.2. DATA DASAR


I.2.1. Anamnesis (Subjektif)
Autoanamnesis tanggal 11-04-2016
Keluhan Utama

jam 12.00

Pasien datang dengan keluhan nyeri perut sejak 2 hari SMRS


Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan nyeri sejak 2 hari SMRS. Keluhan nyeri perut
terasa sangat berat setiap kali menstruasi sejak 1 tahun SMRS. BAB dan BAK
tidak ada kelainan. Sejak 2 hari SMRS, nyeri perut jauh lebih berat dari biasanya,
sehingga pasien memutuskan untuk dirawat di rumah sakit.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat Penyakit Kencing Manis

: Disangkal

Riwayat Hipertensi

: Disangkal

Riwayat DM

: Disangkal

Riwayat Penyakit Jantung

: Disangkal

Riwayat Penyakit ginjal

: Disangkal

Riwayat Trauma

: Disangkal

Riwayat Kejang

: Disangkal

Riwayat Alergi

: Disangkal
1

Riwayat Penyakit Keluarga :


Riwayat Hipertensi

: Disangkal

Riwayat Penyakit DM

: Disangkal

Riwayat Asthma

: Disangkal

Riwayat Penyakit Jantung

: Disangkal

Riwayat Kelainan Kongenital

: Disangkal

Riwayat Kehamilan Kembar

: Disangkal

Riwayat Haid
Menarche

: 12 th

Lama haid

: 7 hari

Siklus

: Teratur, 28 hari

Riwayat Obestetri

Melahirkan 1x tahun 2010, berat anak 3200 gr, melahirkan di bidan, kondisi anak
baik.
Riwayat Penggunaan Obat
Disangkal
Riwayat Penggunaan Kontrasepsi
Menggunakan Kontrasepsi Suntik per 3 bulan sejak 1 tahun terakhir.
Riwayat Pribadi Sosial dan Ekonomi
Riwayat Makan dan Minum

: Pasien makan dan minum 3 kali


sehari dan teratur

Riwayat Olahraga

: Pasien Jarang Olahraga

Riwayat Merokok dan Alkohol

: Disangkal

I.2.2. PEMERIKSAAN FISIK (Obyektif)


Tanggal 11 April 2016
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis , GCS : E4 M6 V5

Tanda vital

: TD : 123/76 mmHg, Nadi: 88X/menit


Suhu: 36,6 0C, RR: 20 x/menit

Kulit

: Turgor kulit baik

Kepala

: Normocephal, rambut hitam, distribusi merata

Wajah

: Simetris, ekspresi tampak lelah

Mata

: Edema palpebra -/-, conjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-

Telinga

: Bentuk normal, simetris, lubang lapang, serumen -/-

Hidung

: Bentuk normal, tidak ada septum deviasi, sekret -/-

Mulut

: Mukosa bibir basah, faring tidak hiperemis, Tonsil T1-T1

Leher

: Simetris, tidak tampak pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada


deviasi trakhea, tidak teraba pembesaran KGB

Thorak

: retraksi suprasternal (-)


Pulmo : I : Normochest, dinding dada simetris
P : ekspansi dada simetris
P : Sonor di kedua lapang paru
A : Vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Cor

: I : Tidak tampak ictus cordis


P : Iktus cordis tidak teraba, thrill tidak teraba
P : Batas Kiri atas ICS II linea parasternal sinistra
Batas Kanan atas ICS II linea parasternal dextra
Batas kiri bawah ICS V linea midclavicula
Batas kanan bawah ICS V linea stemalis dextra
A : BJ I dan II reguler, Gallop -/-, Murmur -/-

Abdomen

: I : Perut datar
A : Bising usus (+) normal
P : Dinding perut supel, nyeri tekan (+)
P : Timpani

Ekstremitas

: Akral hangat, edema tungkai (-), sianosis (-), capilary refill


<2detik
3

I.2.3. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hb

: 13,9 g/dL (12-16)

Leuko

: 9,4 ribu

Eritro

: 4,59 juta (4,2-5,4)

Granulosit

: 7,2%

Limfosit

: 18,7 %

(25-40)

Monosit

: 4,8%

(2-8)

PTT

: 12,2 detik

APTT

: 29,2 detik

GDS

: 89

(70-100)

SGOT

: 18

(0-30)

SGPT

:7

(0-35)

Ureum

: 8,1

(10-50)

Kreatinin

: 0,67 (0,45-0,75)

HBsAg

: Non-Reaktif

( 4-10)

(2-4)

I.2.4. ASSESMENT
Susp. Kista Ovarium
I.2.5. PLANNING

Pro USG

I.3. PENELUSURAN (FOLLOW UP)


16 11 2015

Jam 14.00

KU

: Baik, Kes : Compos mentis

TD

: 123/76 mmHg, N : 88 X/m , RR : 20 X/menit , S : 36,60C

Mata

: CA (-) SI(-)

Leher

: KGB tidak membesar

Thorax : Paru
Jantung

VBS(+/+), Wheezing (-/-), Rhonki (-/-)


BJ I II reguler, Gallop (-), Murmur (-)

Abdomen : Cembung, supel, nyeri tekan (+)


4

Ekstremitas : Akral Hangat, Udem (-), CRT < 2 detik


12 04 2016

Jam 07.00

S
Keluhan (-), Nyeri (-), Pusing (-), Sesak (-), Mual (-)
O
KU

: Baik, Kes : Compos mentis

TD

: 113/71 mmHg, N : 67 X/m , RR : 18 X/menit , S : 36,40C

Mata

: CA (-) SI(-)

Leher

: KGB tidak membesar

Thorax : Paru
Jantung

VBS(+/+), Wheezing (-/-), Rhonki (-/-)


BJ I II reguler, Gallop (-), Murmur (-)

Abdomen : Cembung, BU (+) normal, nyeri tekan (+)


Ekstremitas : Akral Hangat, Udem (-), CRT < 2 detik
USG

: Ditemukan massa abnormal di daerah pelvis, disertai cairan bebas.

A
Kista ovarium
P
Pro OP Laparotomi

13- 04- 2016

Jam 07.00

S
Nyeri perut (+)
O
KU

: TSR, Kes : Compos mentis

TD

: 120/80 mmHg, N : 67 X/m , RR : 17 X/menit , S : 36,40C

Mata

: CA (-) SI(-)

Leher

: KGB tidak membesar

Thorax : Paru

VBS(+/+), Wheezing (-/-), Rhonki (-/-)


5

Jantung

BJ I II reguler, Gallop (-), Murmur (-)

Abdomen : Cembung, Supel, BU (+) normal, nyeri tekan (+)


Ekstremitas : Akral Hangat, Udem (-), CRT < 2 detik
A
Kista ovarium
P
Pro OP Laparotomi

Laporan Operasi
Diagnosis Pre operatif:
Kista Ovarium
Diagnosis Post operatif:
Kehamilan Ektopik Terganggu
1. Pasien terlentang di meja operasi dalam keadaan anestersi SAB
2. Dilakukan sepsis dan antisepsis medan operasi, pasang duk steril
3. Insisi linea mediana diperdalam lapis demi lapis sampai peritoneum terbuka
4. Didapatkan hemoperitoneum + 200 cc
5. Dilakukan eksplorasi uterus dalam batas normal, ovarium dan salping dalam batas
normal, ovarium dekstra rupture dengan produk kehamilan dan lengket dengan
tuba dekstra
6. Dilakukan salpingo-ovorektomi dekstra, kontrol perdarahan negatif, kavum
abdomen dibilas, dinding abdomen dijahit lapis demi lapis
7. Alat dilepas, dihitung lengkap, dinding abdomen ditutup lapis demi lapis
8. Operasi selesai.
9. Keadaan umum baik, perdarahan total 750 cc

14 04 2016

Jam 06.00

S
Nyeri pada luka jahitan pasca operasi, lemas, sudah flatus.
O
KU

: Baik, Kes : Compos mentis

TD

: 110/70 mmHg, N : 64 X/m , RR : 18 X/menit , S : 36,70C

Mata

: CA (-) SI(-)

Leher

: KGB tidak membesar

Thorax : Paru
Jantung

VBS(+/+), Wheezing (-/-), Rhonki (-/-)


BJ I II reguler, Gallop (-), Murmur (-)

Abdomen : Datar, supel, nyeri tekan (+)


Ekstremitas : Akral Hangat, Udem (-), CRT < 2 detik
A
Kehamilan Ektopik post op
P
Perbaiki keadaan umum
15 04 2016

Jam 06.30

S
Nyeri pasca operasi sudah berkurang
O
KU

: Baik, Kes : Compos mentis

TD

: 120/70 mmHg, N : 79 X/m , RR : 22 X/menit , S : 36,50C

Mata

: CA (-) SI(-)

Leher

: KGB tidak membesar


8

Thorax : Paru
Jantung

VBS(+/+), Wheezing (-/-), Rhonki (-/-)


BJ I II reguler, Gallop (-), Murmur (-)

Abdomen : Abdomen datar, supel, nyeri tekan (-)


Ekstremitas : Akral Hangat, Udem (-), CRT < 2 detik
A
Kehamilan ektopik post op
P
Observasi
16 04 2016

Jam 07.00

S
Nyeri sudah berkurang
O
KU

: Baik, Kes : Compos mentis

TD

: 110/70 mmHg, N : 88 X/m , RR : 18 X/menit , S : 36,50C

Mata

: CA (-) SI(-)

Leher

: KGB tidak membesar

Thorax : Paru
Jantung

VBS(+/+), Wheezing (-/-), Rhonki (-/-)


BJ I II reguler, Gallop (-), Murmur (-)

Abdomen : Nyeri tekan (-), supel, BU (+) normal


Ekstremitas : Akral Hangat, Udem (-), CRT < 2 detik
A
Kehamilan ektopik post op
P
Diperbolehkan pulang

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Definisi
Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang tempat implantasi/ nidasi/ melekatnya buah
kehamilan di luar tempat yang normal, yakni di luar rongga rahim. Sedangkan yang
disebut sebagai kehamilan ektopik terganggu adalah suatu kehamilan ektopik yang
mengalami abortus ruptur pada dinding tuba
II.2. Etiologi
Etiologi kehamilan ektopik terganggu telah banyak diselidiki, tetapi sebagian besar
penyebabnya tidak diketahui. Beberapa faktor yang berhubungan dengan penyebab
kehamilan ektopik terganggu antara lain:
1. Faktor mekanis: hal-hal yang mengakibatkan terhambatnya perjalanan ovum yang
dibuahi ke dalam cavum uteri, antara lain:
a) Salpingitis, terutama endosalpingitis yang menyebabkan aglutinasi silia lipatan
mukosa tuba dengan penyempitan saluran atau pembentukan kantong-kantong
buntu. Berkurangnya silia mukosa tuba sebagai akibat infeksi juga menyebabkan
implantasi hasil zigot pada tuba falopii.
b) Adhesi peritubal setelah infeksi pasca abortus/ infeksi pasca nifas, apendisitis,
atau endometriosis, yang menyebabkan tertekuknya tuba atau penyempitan lumen
c)Kelainan pertumbuhan tuba, terutama divertikulum, ostium asesorius dan
hipoplasi. Namun ini jarang terjadi.
d) Bekas operasi tuba memperbaiki fungsi tuba atau terkadang kegagalan usaha
untuk memperbaiki patensi tuba pada sterilisasi.
e) Tumor yang merubah bentuk tuba seperti mioma uteri dan adanya benjolan pada
adneksa.
f) Penggunaan IUD
10

2. Faktor Fungsional:
a). Migrasi eksternal ovum terutama pada kasus perkembangan duktus mulleri
yang abnormal.
b). Refluks menstruasi.
c). Berubahnya motilitas tuba karena perubahan kadar hormon estrogen dan
progesteron
3. Peningkatan daya penerimaan mukosa tuba terhadap ovum yang dibuahi.
4.

Hal lain seperti; riwayat KET dan riwayat abortus induksi sebelumnya.

II.3. Klasifikasi
Klasifikasi kehamilan ektopik berdasarkan lokasinya antara lain:
1. Tuba Fallopii :
a) Pars-interstisialis
b) Isthmus
c) Ampula
d) Infundibulum
e) Fimbrae
2. Uterus :
a) Kanalis servikalis
b) Divertikulum
c) Kornu
d) Tanduk rudimenter
3. Ovarium

11

4. Intraligamenter

5. Abdominal :
a) Primer
b) Sekunder
6. Kombinasi kehamilan dalam dan luar uterus.
II.4. Epidemiologi
Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun
dengan umur rata-rata 30 tahun. Lebih dari 60% kehamilan ektopik terjadi pada wanita 2030 tahun dengan sosio-ekonomi rendah dan tinggal didaerah dengan prevalensi gonore dan
prevalensi tuberkulosa yang tinggi. Pemakaian antibiotik pada penyakit radang panggul
dapat meningkatkan kejadian kehamilan ektopik terganggu. Diantara kehamilankehamilan ektopik terganggu, yang banyak terjadi ialah pada daerah tuba (90%)
Antibiotik dapat mempertahankan terbukanya tuba yang mengalami infeksi tetapi
perlengketan menyebabkan pergerakan silia dan peristaltik tuba terganggu sehingga
menghambat perjalanan ovum yang dibuahi dari ampula ke rahim dan berimplantasi ke
tuba.
Penelitian Cunninghamdi Amerika Serikat melaporkan bahwa kehamilan etopik terganggu
lebih sering dijumpai pada wanita kulit hitam dari pada kulit putih karena prevalensi
penyakit peradangan pelvis lebih banyak pada wanita kulit hitam. Frekuensi kehamilan
ektopik terganggu yang berulang adalah 1-14, 6%.
Di negara-negara berkembang, khususnya di Indonesia, pada RSUP Pringadi Medan
(1979-1981) frekuensi 1:139, dan di RSUPN Cipto Magunkusumo Jakarta (1971-1975)
frekuensi 1:24, sedangkan di RSUP. DR. M. Djamil Padang (1997-1999) dilaporkan
frekuensi 1:110.
Kontrasepsi IUD juga dapat mempengaruhi frekuensi kehamilan ektopik terhadap
persalinan di rumah sakit. Banyak wanita dalam masa reproduksi tanpa faktor predisposisi
untuk kehamilan ektopik membatasi kelahiran dengan kontrasepsi, sehingga jumlah
12

persalinan turun dan frekuensi kehamilan ektopik terhadap kelahiran secara relatif
meningkat. Selain itu IUD dapat mencegah secara efektif kehamilan intrauterin, tetapi
tidak mempengaruhi kejadian kehamilan ektopik.
Menurut penelitian Abdullah dan kawan-kawan (1995-1997) ternyata paritas 0-3
ditemukan peningkatan kehamilan ektopik terganggu. Pada paritas >3-6 terdapat
penurunan kasus kehamilan ektopik terganggu. Cunningham dalam bukunya menyatakan
bahwa lokasi kehamilan ektopik terganggu paling banyak terjadi di tuba (90-95%),
khususnya di ampula tuba (78%) dan isthmus (2%). Pada daerah fimbrae (5%), intersisial
(2-3%), abdominal (1-2%), ovarium (1%), servikal (0,5%).
II.5. Patogenesis
Proses implantasi ovum di tuba pada dasarnya sama dengan yang terjadi di cavum uteri.
Telur di tuba bernidasi secara kolumnar atau interkolumnar. Pada nidasi secara kolumnar
telur bernidasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan telur selanjutnya
dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan direabsorbsi.
Pada nidasi interkolumnar, telur bernidasi antara dua jonjot endosalping. Setelah tempat
nidasi tertutup maka ovum dipisahkan dari lumen oleh lapisan jaringan yang menyerupai
desidua dan dinamakan pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba malahan
kadang-kadang sulit dilihat vili khorealis menembus endosalping dan masuk kedalam otototot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan janin selanjutnya
tergantung dari beberapa faktor, yaitu; tempat implantasi, tebalnya dinding tuba dan
banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas.
Di bawah pengaruh hormon esterogen dan progesteron dari corpus luteum graviditi dan
tropoblas, uterus menjadi besar dan lembek, endometrium dapat berubah menjadi desidua.
Beberapa perubahan pada endometrium yaitu; sel epitel membesar, nukleus hipertrofi,
hiperkromasi, lobuler, dan bentuknya ireguler. Polaritas menghilang dan nukleus yang
abnormal mempunyai tendensi menempati sel luminal. Sitoplasma mengalami vakuolisasi
seperti buih dan dapat juga terkadang ditemui mitosis. Perubahan endometrium secara
keseluruhan disebut sebagai reaksi Arias-Stella.
Setelah janin mati, desidua dalam uterus mengalami degenerasi kemudian dikeluarkan
secara utuh atau berkeping-keping. Perdarahan yang dijumpai pada kehamilan ektopik
terganggu berasal dari uterus disebabkan pelepasan desidua yang degeneratif.
Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 sampai 10
minggu. Karena tuba bukan tempat pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin
13

tumbuh secara utuh seperti dalam uterus. Beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi
adalah:
1. Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi : Pada implantasi secara kolumna, ovum
yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi yang kurang dan dengan mudah
diresorbsi total.
2. Abortus ke dalam lumen tuba : Perdarahan yang terjadi karena terbukanya
dinding pembuluh darah oleh vili korialis pada dinding tuba di tempat
implantasi dapat melepaskan mudigah dari dinding tersebut bersama-sama
dengan robeknya pseudokapsularis. Segera setelah perdarahan, hubungan antara
plasenta serta membran terhadap dinding tuba terpisah bila pemisahan
sempurna, seluruh hasil konsepsi dikeluarkan melalui ujung fimbrae tuba ke
dalam kavum peritoneum. Dalam keadaan tersebut perdarahan berhenti dan
gejala-gejala menghilang.
3. Ruptur dinding tuba : Penyebab utama dari ruptur tuba adalah penembusan
dinding vili korialis ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum.
Ruptur tuba sering terjadi bila ovum yang dibuahi berimplantasi pada isthmus
dan biasanya terjadi pada kehamilan muda. Sebaliknya ruptur yang terjadi pada
pars-intersisialis pada kehamilan lebih lanjut. Ruptur dapat terjadi secara
spontan, atau yang disebabkan trauma ringan seperti pada koitus dan
pemeriksaan vagina
II.6. Gejala Klinis
Gambaran klinis dari kehamilan ektopik terganggu tergantung pada lokasinya.
Tanda dan gejalanya sangat bervariasi tergantung pada ruptur atau tidaknya kehamilan
tersebut. Adapun gejala dan hasil pemeriksaan laboratorium antara lain:
a. Keluhan gastrointestinal : Keluhan yang paling sering dikemukakan oleh pasien
kehamilan ektopik terganggu adalah nyeri pelvis. Ditekankan pentingnya keluhan
gastrointestinal dan vertigo atau rasa pening. Semua keluhan tersebut mempunyai
keragaman dalam hal insiden terjadinya akibat kecepatan dan taraf perdarahannya
di samping keterlambatan diagnosis.
b. Nyeri tekan abdomen dan pelvis : Nyeri tekan yang timbul pada palpasi abdomen
dan pemeriksaan, khususnya dengan menggerakkan servik, dijumpai pada lebih
14

dari tiga perempat kasus kehamilan ektopik sudah atau sedang mengalami ruptur,
tetapi kadang-kadang tidak terlihat sebelum ruptur terjadinya.
c. Amenore : Riwayat amenore tidak ditemukan pada seperempat kasus atau lebih.
Salah satu sebabnya adalah karena pasien menganggap perdarahan pervaginam
yang lazim pada kehamilan ektopik sebagai periode haid yang normal, dengan
demikian memberikan tanggal haid terakhir yang keliru.
d. Spotting atau perdarahan vaginal : Selama fungsi endokrin plasenta masih
bertahan, perdarahan uterus biasanya tidak ditemukan, namun bila dukungan
endokrin dari endometrium sudah tidak memadai lagi, mukosa uterus akan
mengalami perdarahan. Perdarahan tersebut biasanya sedikit-sedikit, bewarna
cokelat gelap dan dapat terputus-putus atau terus-menerus.
e. Perubahan Uterus : Uterus pada kehamilan etopik dapat terdorong ke salah satu sisi
oleh masa ektopik tersebut. Pada kehamilan ligamentum latum atau ligamentum
latum terisi darah, uterus dapat mengalami pergeseran hebat. Uterine cast akan
dieksresikan oleh sebagian kecil pasien, mungkin 5% atau 10% pasien. Eksresi
uterine cast ini dapat disertai oleh gejala kram yang serupa dengan peristiwa
ekspulsi spontan jaringan abortus dari kavum uteri.
f. Tekanan darah dan denyut nadi : Reaksi awal pada perdarahan sedang tidak
menunjukkan perubahan pada denyut nadi dan tekanan darah, atau reaksinya
kadang-kadang sama seperti yang terlihat pada tindakan flebotomi untuk menjadi
donor darah yaitu kenaikan ringan tekanan darah atau respon vasovagal disertai
bradikardi serta hipotensi.
g. Hipovolemi : Penurunan nyata tekanan darah dan kenaikan denyut nadi dalam
posisi duduk merupakan tanda yang paling sering menunjukkan adanya penurunan
volume darah yang cukup banyak. Semua perubahan tersebut mungkin baru terjadi
setelah timbul hipovolemi yang serius.
h. Suhu tubuh : Setelah terjadi perdarahan akut, suhu tubuh dapat tetap normal atau
bahkan menurun. Suhu yang lebih tinggi jarang dijumpai dalam keadaan tanpa
adanya infeksi. Karena itu panas merupakan gambaran yang penting untuk
membedakan antara kehamilan tuba yang mengalami ruptura dengan salpingitis
akut, dimana pada keadaan ini suhu tubuh umumnya diatas 38oC.
i. Masa pelvis : Masa pelvis dapat teraba pada 20% pasien. Masa tersebut
mempunyai ukuran, konsistensi serta posisi yang bervariasi. Biasanya masa ini
berukuran 5-15 cm, sering teraba lunak dan elastis. Akan tetapi dengan terjadinya
15

infiltrasi dinding tuba yang luas oleh darah masa tersebut dapat teraba keras.
Hampir selalu masa pelvis ditemukan di sebelah posterior atau lateral uterus.
Keluhan nyeri dan nyeri tekan kerap kali mendahului terabanya masa pelvis dalam
tindakan palpasi.
j. Hematokel pelvik : Pada kehamilan tuba, kerusakan dinding tuba yang terjadi
bertahap akan diukuti oleh perembesan darah secara perlahan-lahan ke dalam
lumen tuba, kavum peritonium atau keduanya. Gejala perdarahan aktif tidak
terdapat dan bahkan keluhan yang ringan dapat mereda, namun darah yang terus
merembes akan berkumpul dalam panggul, kurang lebih terbungkus dengan
adanya perlekatan dan akhirnya membentuk hematokel pelvis.
II.7. Diagnosis
Berikut ini merupakan jenis pemeriksaan untuk membantu diagnosis kehamilan
ektopik:
a. HCG- : Pengukuran subunit beta dari HCG-(Human Chorionic GonadotropinBeta) merupakan tes laboratorium terpenting dalam diagnosis. Pemeriksaan ini dapat
membedakan antara kehamilan intrauterin dengan kehamilan ektopik.
b. Kuldosintesis : Tindakan kuldosintesis atau punksi Douglas. Adanya darah yang
diisap berwarna hitam (darah tua) biar pun sedikit, membuktikan adanya darah di
kavum Douglasi.
c. Dilatasi dan Kuretase : Biasanya kuretase dilakukan apabila sesudah amenore terjadi
perdarahan yang cukup lama tanpa menemukan kelainan yang nyata disamping
uterus.
d. Laparaskopi : Laparaskopi hanya digunakan sebagai alat bantu diagnosis terakhir
apabila hasil-hasil penilaian prosedur diagnostik lain untuk kehamilan ektopik
terganggu meragukan. Namun beberapa dekade terakhir alat ini juga dipakai untuk
terapi.
e. Ultrasonografi : Keunggulan cara pemerikssan ini terhadap laparoskopi ialah tidak
invasif, artinya tidak perlu memasukkan rongga dalam rongga perut. Dapat dinilai
cavum uteri, kosong atau berisi, tebal endometrium, adanya massa di kanan kiri
uterus dan apakah cavum Douglas berisi cairan.

16

f. Tes Oksitosin : Pemberian oksitosin dalam dosis kecil intravena dapat membuktikan
adanya kehamilan ektopik lanjut. Dengan pemeriksaan bimanual, di luar kantong
janin dapat diraba suatu tumor.
g.

Foto Rontgen : Tampak kerangka janin lebih tinggi letaknya dan berada dalam letak
paksa. Pada foto lateral tampak bagian-bagian janin menutupi vertebra ibu.

h. Histerosalpingografi : Memberikan gambaran kavum uteri kosong dan lebih besar


dari biasa, dengan janin diluar uterus. Pemeriksaan ini dilakukan jika diagnosis
kehamilan ektopik terganngu sudah dipastikan dengan USG (Ultra Sono Graphy) dan
MRI (Magnetic Resonance Imaging).
i. Trias klasik yang sering ditemukan adalah nyeri abdomen, perdarahan vagina
abnormal, dan amenore.
II.8. Diagnosis Banding
Yang perlu dipikirkan sebagai diagnosis banding dari KET adalah:
1.Infeksi pelvis : Gejala yang menyertai infeksi pelvik biasanya timbul waktu haid dan
jarang setelah mengenai amenore. Nyeri perut bagian bawah dan tahanan yang dapat
diraba pada pemeriksaaan vaginal pada umumnya bilateral. Pada infeksi pelvik
perbedaan suhu rektal dan ketiak melebihi 0,5 0C, selain itu leukositosis lebih tinggi
daripada kehamilan ektopik terganggu dan tes kehamilan menunjukkan hasil negatif.
2.Abortus iminens/ Abortus inkomplit : Dibandingkan dengan kehamilan ektopik terganggu
perdarahan lebih merah sesudah amenore, rasa nyeri yang sering berlokasi di daerah
median dan adanya perasaan subjektif penderita yang merasakan rasa tidak enak di perut
lebih menunjukkan ke arah abortus imminens atau permulaan abortus incipiens. Pada
abortus tidak dapat diraba tahanan di samping atau di belakang uterus, dan gerakan
servik uteri tidak menimbulkan rasa nyeri.
3.Tumor/ Kista ovarium: Gejala dan tanda kehamilan muda, amenore, dan perdarahan
pervaginam biasanya tidak ada. Tumor pada kista ovarium lebih besar dan lebih bulat
dibanding kehamilan ektopik terganggu.
4.Appendicitis : Pada apendicitis tidak ditemukan tumor dan nyeri pada gerakan cervix uteri
seperti yang ditemukan pada kehamilan ektopik terganggu. Nyeri perut bagian bawah
pada apendisitis terletak pada titik McBurney.
II.9. Penatalaksanaan
17

Prinsip umum penatalaksanaan kehamilan ektopik terganggu ialah:


1. Segera dibawa ke rumah sakit
2. Transfusi darah dan pemberian cairan untuk mengoreksi anemia dan hipovolemia.
3. Operasi segera dilakukan setelah diagnosis ditegakkan. Jenis operasi yang
dikerjakan antara lain berupa salpingektomi yang dilakukan pada kehamilan tuba
dan oovorektomi atau salpingoovorektomi pada kehamilan di kornu. Pada kehamilan
di kornu jika pasien berumur >35 tahun sebaiknya dilakukan histerektomi, bila
masih muda sebaiknya dilakukan fundektomi. Pada kehamilan abdominal, bila
kantong gestasi dan plasenta mudah diangkat sebaiknya diangkat saja tetapi bila
besar dan susah diangkat maka anak dilahirkan dan tali pusat dipotong dekat
plasenta, plasenta ditinggalkan dan dinding perut ditutup.
Penanganan terhadap kehamilan tuba paling sering berupa salpingektomi untuk
mengangkat tuba fallopi yang koyak dan mengalami perdarahan, dengan atau tanpa
ooforektomi ipsilateral. Tujuan penanganan tersebut harus dan tetap terletak dalam
upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu. Akhir-akhir ini, penanganan terhadap
kehamilan ektopik telah berubah dari salpingektomi menjadi prosedur untuk
mempertahankan fungsi tuba.
1. Salpingektomi
2. Ooforektomi ipsilateral
3. Sterilisasi
4. Menyelamatkan tuba fallopi
Beberapa tindakan bedah rekonstruksi tuba dibahas dibawah ini:
a.) Salpingostomi
Teknik ini digunakan untuk mengangkat kehamilan yang kecil dengan panjang
yang biasanya kurang dari 2 cm dan terletak dalam sepertiga distal tuba fallopi.
b.) Salpingotomi
Suatu insisi longitudinal dilakukan pada batas antimesenterik tuba fallopi
langsung di daerah implantasi ektopik.
c.) Reseksi segmental dan anastomosis
Prosedur ini dianjurkan untuk kehamilan ektopik yang mengalami ruptur
dalam bagian isthmus tuba, mengingat salpingotomi atau salpingostomi
kemungkinan akan menimbulkan jaringan parut dan selanjutnya penyempitan
lumen tuba yang kecil ini.
d.) Evakuasi fimbria
18

Pada kehamilan tuba yang implantasinya di bagian distal diusahakan untuk


mengosongkan hasil konsepsi dengan cara mengurut atau mengisap
implantasi ektopik tersebut dari dalam lumen tuba. Tindakan ini tidak dianjurkan
karena akan disertai dengan angka kehamilan ektopik rekuren yang besarnya dua
kali lipat bila dibandingkan dengan salpingotomi.

2. Methotrexate sistemik
Methotreate (MTX) adalah analog asam folat yang banyak digunakan pada
pengobatan terhadap penyakit neoplasma, psoriasis berat, dan arthritis rematoid pada
orang dewasa. MTX secara kompetitif mengikat enzim dihidrofolic acid reduktase,
sebuah enzim yang mengubah dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat (bentuk aktif).
Tetrahisdrofolat berfungsi untuk transport 1 grup karbon selama sintetis nukleotid
purin dan thymidilate. Tanpa tetrahidrofolat sintetis DNA dan perbaikannya, dan
replikasi seluler mengalami gangguan. Proliferasi sel yang aktif seperti pada sel ganas,
sel pada sumsum tulang, sel fetal, demikian juga pada sel mukosa mulut, usus, dan
kandung kencing adalah yang paling sensitive terhadap efek dari MTX.
Pasien yang dapat diterapi dengan MTX harus stabil secara hemodinamik, yaitu
sesuai dengan hal-hal berikut :
1. Terapi medis gagal pada 5-10 % kasus, dan lebih sering terjadi pada kehamilan
lebih dari 6 minggu atau massa tuba lebih dari 4 cm.
2. Kegagalan terapi medis memerlukan terapi lebih lanjut, baik secara medis atau
pembedahan.
3. Pada pasien rawat jalan, transportasi yang cepat harus tersedia.
4. Tanda dan gejala rupture tuba seperti perdarahan vagina, nyeri abdomen dan
pleura, lemah, pusing, atau sinkop harus dilaporkan dengan cermat.
5. Hingga kehamilan ektopik sembuh, tidak diperbolehkan melakukan hubungan
seksual, minum alcohol, atau mengkonsumsi asam folat, termasuk vitamin
prenatal.
Dosis MTX :
1. Dosis tunggal : MTX 50 mg/m2 IM. Hitung kadar beta-hCG pada hari ke 4 dan 7
19

Bila penurunan > 15 %, diulang tiap minggu hingga tidak terdeteksi.


Bila penurunan < 15 %, ulangi pemberian MTX dan hitung sebagai hari
pertama.
Jika aktivitas jantung masih ada pada hari 7, ulangi pemberian MTX dan hitung
sebagai hari pertama.
Pembedahan bila kadar beta-hCG tidak turun atau aktivitas jantung persisten
setelah 3 dosis MTX.
2.

Dosis variable :

MTX 1 mg/kgBB IM, hari 1, 3, 5, 7

Leukovorin 0,1 mg/KgBB IM, hari 2, 4, 6, 8

Injeksi yang kontinyu diberikan hingga kadar beta-hCG berkurang 15 % dalam 48 jam, atau 4
dosis MTX diberikan, kemudian perminggu hingga beta-hCG tidak terdeteksi.

20

BAB III
ANALISIS KASUS
S (Subjektif)
Pasien datang dengan keluhan nyeri perut bawah sejak 2 hari SMRS. Keluhan nyeri perut
terasa sangat berat setiap kali menstruasi sejak 1 tahun SMRS. BAB dan BAK tidak ada
kelainan. Sejak 2 hari SMRS, nyeri perut jauh lebih berat dari biasanya.
O (Objektif)
Keadaan umum

: Tampak baik

Kesadaran

:Compos mentis , GCS : E4 M6 V5

Tanda vital

: TD : 123/76 mmHg, Nadi: 88X/menit


Suhu: 36,6 0C, RR: 20 x/menit

Status Generalis dan Lab dalam batas normal


Abdomen

: I : Perut datar
A : Bising usus (+) normal
P : Dinding perut supel, nyeri tekan (+)
P : Timpani

A (Assesment)
Dari anamnesis didapatkan pasien mengeluhkan keluhan nyeri perut sejak 2 hari
SMRS yang lebih hebat dari biasanya. Dari pemeriksaan fisik tampak perut datar dan nyeri
tekan (+).Kemudian di tunjang juga dari hasil USG, tampak hasil berupa massa abnormal di
daerah pelvis disertai cairan bebas. Dari data di atas kita mengambil diagnostik kehamilan
ektopik terganggu
P (Planning)

Pro OP Laparotomi

21

DAFTAR PUSTAKA
1.

Prawirohardjo S, Hanifa W. Gangguan Bersangkutan Dengan Konsepsi. Dalam: Ilmu


Kandungan, edisi II. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 2005;

2.

250-8.
Rachimhadhi T. Kehamilan Ektopik. Dalam :Ilmu Bedah Kebidanan. Edisi I. Jakarta:

3.

Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 2005; 198-10.


Wibowo B, Rachimhadhi T. KehamilanEktopik. Dalam :IlmuKebidanan. Edisi III.

4.

Jakarta: YayasanBinaPustakaSarwonoPrawiroharjo, 2002; 362-85


Cunningham FG, Macdonald PC, Gant NF. KehamilanEktopik. Dalam: Obstetri
William (Williams Obstetri). Edisi XVIII. Jakarta: PenerbitBukuKedokteran EGC.
2005; 599-26.

22