Anda di halaman 1dari 13

Nama

: Vindy Virgine Gucci

NIM

: 145020301111078

Kelas

: CB

UTS Manajemen Risiko

KASUS
Berdasarkan permasalahan yang terjadi terkait dengan PT Energy Horizon yang
merugikan masyarakat sekitar pabrik tersebut, sebaiknya manajer Pabrik Horizon
secepatnya mengambil beberapa langkah hal dibawah ini untuk mengatasi tiap
permasalahan tersebut :
1. Segera memecahkan masalah cara mengolah limbah agar limbah dari pabrik PT
Energy Horizon ini tidak mencemari lingkungan. Salah satu faktor yang harus
dimiliki oleh pabrik manapun yang sangat penting adalah faktor lingkungan.
Seperti yang kita tahu bahwa faktor lingkungan ini menjadi penting karena jika
perusahaan tidak mengolah limbahnya dengan baik maka hal tersebut akan
mencemari lingkungan dan tidak hanya lingkungan saja yang tercemar, hal
tersebut akan berdampak pada makhuk hidup yang lingkungan atau tempat
tinggalnya tercemar. Akibatnya terjadi pencemaran lingkungan dan banyak
mahkluk hidup yang mati jika hal tersebut tidak segera ditangani maka hal itu
akan berdampak buruk terhadap ekosistem yang ada. Terlebih jika ikan-ikan di
laut telah tercemar dengan limbah yang tidak diolah dari PT Energy Horizon ini
dan kemudian ikan-ikan tersebut dikonsumsi oleh masyarakat maka hal tersebut
akan berdampak buruk pada kesehatan manusia. PT Energy Horizon seharusnya
bertindak lebih cepat dengan adanya masalah ini. Jika PT Energy Horizon tidak
memiliki tenaga ahli dalam penanganan limbah hasil pabrik yang mengolah
limbah agar limbah yang dibuang bukan merupakan limbah yang berbahaya
bagi lingkungan sekitar maka sebaiknya PT Energy Horizon mendatangkan
tenaga ahli lingkungan untuk mengatasi masalah limbah tersebut dan segera
membuat pengolahan atas limbah pabrik yang kotor diolah menjadi limbah yang
tidak berbahaya bagi lingkungan.
2. Sebagai perusahaan besar PT Energy Horizon sebaiknya membuka lapangan
pekerjaan bagi masyarakat sekitar karena selain mengurangi pengangguran yang

ada di lingkungan masyarakat tempat pabrik berada, PT Energy Horizon juga


dapat berinteraksi secara baik dengan masyarakat melalui pembukaan lapangan
kerja bagi masyarakat sekitar. Dengan membuka lapangan perkerjaan untuk
masyarakat sekitar pabrik PT Energy Horizon, masyarakat pun akan merasa
lebih dihargai dan lebih diperhatikan oleh PT Energy Horizon yang tempat
pabriknya berada dekat dengan penduduk Banglades.
3. Selain membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar pabrik PT Energy
Horizon, perusahaan sebaiknya juga mendukung para pengusaha lokal pencipta
produk yang produknya dapat digunakan oleh PT Energy Horizon. Jika
spesifikasi produk dinilai kurang sesuai dengan keinginan PT Energy Horizon,
sebagai manajer PT Energy Horizon sebaiknya melakukan komunikasi kepada
para pengusaha local untuk menawarkan kontrak kepada para pengusaha
masyarakat local dalam hal ini misalnya para pengusaha pengusaha furniture
untuk membuat produk yang diinginkan oleh PT Energy Horizon dan dengan
spesifikasi yang jelas sesuai dengan keinginan PT Energy Horizon. Dengan
begitu, para pengusaha furniture local akan merasa lebih dihargai oleh PT
Energy Horizon karena PT Energy Horizon memakai produk mereka. Sehingga
hal tersebut akan berdampak postif bagi citra perusahaan di mata masyarakat
sekitar maupun publik.
4. Sebagai manajer PT Energy Horizon, hendaknya segera mengambil langkah yang
tepat terhadap permasalahan dengan masyarakat Bangladesh yang menganggap
bahwa PT Energy Horizon tidak memberi kesempatan kepada masyarakat
Bangladesh untuk berkembang dan tidak berhak untuk bekerja di PT Energy
Horizon yang dimanfaatkan oleh separatis untuk memberontak dan melawan
keberadaan PT Energy Horizon. Selain 3 hal penting yang harus dilalakukan
oleh PT Energy Horizon, hal yang tidak kalah penting yang harus dilakukan
adalah melakukan kegiatas CSR (Corporate Social Responsibility) adalah
meruapakan suatu tindakan yang dilakukan oleh perusahaan dalam hal ini PT
Energy Horizon sebagai rasa tanggung jawab perusahaan terhadap sosial
maupun lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada, seperti melakukan
suatu kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dan
menjaga lingkungan, memberikan beasiswa untuk anak tidak mampu di daerah
tersebut, dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk
membangun desa/fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk

masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan


tersebut

berada. Dengan

CSR,

PT

Energy

Horizon

juga

memikirkan

akan sustainability perusahaan jangka panjang yang juga penting daripada


sekedar profitability perusahaan. Kegiatan CSR akan menjamin keberlanjutan
bisnis yang dilakukan. Hal ini disebabkan karena dengan CSR PT Energy
Horizon dapat Menurunkan gangguan social yang sering terjadi akibat
pencemaran lingkungan, bahkan dapat menumbuh kembangkan dukungan atau
pembelaan masyarakat setempat.
Pertanyaan
1. Jelaskan pengertian risiko pasar dalam perspektif bisnis !
Risiko pasar merupakan suatu risiko yang diakibatkan oleh suatu
perusahaan karena terjadinya dinamika kondisi dan situasi pasar yang di luar
dari kendali perusahaan itu sendiri. Risiko pasar adalah salah satu elemen
penting dalam menjalankan suatu bisnis perusahaan karena dengan semakin
berkembangnya dunia perusahaan dan juga meningkatnya kompleksitas
aktivitas dari sebuah perusahaan yang akan menimbulkan dampak akan
semakin tingginya tingkat risiko pasar yang dihadapi oleh suatu perusahaan.
Dengan mengetahui risiko pasar, maka akan melindungi perusahaan dari adanya
ancaman kerugian yang mungkin timbul. Manajer perusahaan juga harus dapat
menemukan kerugian potensial atas terjadinya kemungkinan risiko pasar dan
mencari solusi untuk menangani risiko pasar. Dalam pasar pun juga tidak luput
dari ketidakpastian. Ketidakpastian dalam pasar akan menyebabkan terjadi
risiko bisnis. Risiko pasar juga sangat penting bagi perusahaan karena dengan
mengetahui risiko pasar maka perusahaan akan mengidentifikasi risiko tersebut
kemudian manajer juga mengindentifikasi bentuk-bentuk risiko, menempatkan
ukuran-ukuran risiko pasar, menempatkan alternatif-alternatif, menganalisis tiap
alternative, memutuskan satu alternatif yang dirasa paling baik, melaksanakan
alternative yang dipilih tersebut untuk memecahkan masalah risiko pasar dan
mengontrol serta mengevaluasinya. Sebuah perusahaan juga dapat mengelola
risiko pasar dengan berbagai alternative dalam manajemen risiko. Misalkan
untuk menghindari atas terjadinya risiko pasar suku bunga dalam negeri yang
turun maka perusahaan juga memiliki valuta asing agar menghindari terjadinya
hal yang tidak diinginkan oleh perusahaan yaitu dengan memiliki valas yang
dinilai stabil di pasaran.

2. Salah satu faktor penyebab timbulnya risiko pasar adalah oleh kondisi dan
situasi internasional . Berikan penjelasan beserta contohnya!
Faktor penyebab timbulnya risiko pasar karena kondisi Internasional :
a. Salah satu faktor timbulnya risiko pasar tersebut dikarenakan terdapat berbagai
pihak yang bisa dengan gampangnya mengakses semua data dan informasi
mengenai keuangan dan non keuangan
Jika perusahaan-perusahaan lain ataupun negara lain dapat dengan
mudah mengakses seluruh data dan informasi yang bersifat internal, maka akan
mengancam terjadinya risiko pasar yang tidak diinginkan oleh perusahaan
manapun. Sebaiknya perusahaan ataupun pemerintah harus menghindari
terjadinya risiko pasar tersebut dengan adanya safety yang bagus atau keamanan
yang bagus untuk melindungi data-data keuangan atau data internal dari
ancaman pihak eksternal yang ingin menguasai atau menjatuhkan keuangan
perusahaan maupun pemerintah yang nantinya akan berdampak pada ekonomi
makro dan menimbulkan risiko pasar. Selain itu pihak lain juga bisa dengan
mudahnya mengakses atau mencari semua data dan semua informasi mengenai
keuangan dan non keuangan karena disebabkan oleh perkembangan informasi
melalui teknologi atau internet. Saat ini dapat dengan mudahnya mencari data
melalui internet dan internet juga dipergunakan sebagai perantara yang
menyebabkan hilangnya batas antara negara satu dengan negara lain sehingga
negara lain dapat mengakses keuangan negara kita.
b. Terdapat investor dari berbagai Negara di seluruh dunia yang juga ikut bermain
valas.
Saat ini banyak investor luar negeri yang memiliki valuta asing yang
menimbulkan dampak semakin tingginya suku bunga valuta asing disbanding
rupiah dalam negeri. Hal ini disebabkan karena semakin tingginya permintaan
atas valuta asing dibanding rupiah. Sehingga akan melemahkan rupiah karena
permintaan valuta asing tinggi sedangkan rupiah turun.
c. Equilibrium poin yang tidak diketahui. Meskipun banyak pihak analisis ekonomi
dan non ekonomi, dan juga para pelaku pasar serta government sebagai pihak
yang meregulatori, namun semua pihak tersebut tidak mengetahui dimana
posisi dari equilibrium poin tersebut.
d. Berbagai pihak mempunyai berbagai macam, bentuk data dan informasi yang
bersifat masa lalu. Karena adanya faktor dari sebuah data masa lalu yang
dijadikan sebagai suatu prediksi atau perkiraan untuk masa depan dikarenakan
data masa depan karena belum terjadi maka belum terdapat datanya.

3. Dalam transaksi derivative perbankan bisa terseret dalam kondisi yang


berisiko. Beri penjelasan anda !
Risiko Pasar meliputi antara lain risiko suku bunga, Risiko nilai tukar,
Risiko ekuitas, dan Risiko komoditas. Risiko ini dapat berasal baik dari posisi
trading book maupun posisi banking book. Derivatif dapat mengacu pada pada
berbagai jenis aset seperti misalnya komoditi, saham atau obligasi, suku bunga,
nilai tukar mata uang atau indeks ( seperti indeks pasar saham, indeks harga
konsumen.
Yang dimaksud dengan derivatif disini adalah suatu kontrak pemindahan
risiko. Dimana kontrak tersebut terikat antara pihak penanggung risiko dengan
pihak yang mengalihkan risiko, yang mana pihak sebagai penanggung risiko
(risk taker) menerima uang jasa/fee dari pihak yang mangalihkan risiko sebagai
kompensasi dari penanggungan itu. Karena hal tersebut derivatif mulanya
digunakan untuk tujuan hedging/lindung nilai. Misalnya perusahaanperusahaan kecil dalam perdagangan komoditi biasanya dihadapkan pada risiko
ketidakpastian atas harga jual dari barang dagangan mereka. Jika harganya
menurun terlalu tajam, maka hal ini dapat menjadi bencana bagi mereka. Dan
bagi perusahaan kecil, misalnya kerugian sebesar Rp. 100 juta dapat membuat
mereka bangkrut. Namun, tidak demikian halnya jika perusahaan yang memiliki
aset sampai berpuluh bahkan sampai berates miliar, kerugian yang seperti ini
tidaklah terlalu menggoncangkan mereka. Jadi mereka lebih tahan menanggung
risiko.
Sebenarnya transaksi derivative ini digunakan sarana untuk melakukan
lindung nilai/hedging. Sebaiknya tujuan utama dari transaksi tersebut adalah
untuk meminimumkan risiko bukan hanya sekedar untuk memaksimumkan
keuntungan atau spekulasi. Transaksi forward sebetulnya sangat sesuai,
misalnya, Eksportir yang memperoleh pendapatan dalam satuan dolar AS serta
importir yang memerlukan bahan baku dari luar negeri. Eksportir tentu
memerlukan rupiah untuk menjalankan usahanya di Indonesia sehingga, guna
menghindari gejolak nilai tukar, sang eksportir bisa membuat kontrak forward
jual dolar AS dengan bank. Sebaliknya, bagi importir yang memerlukan bahan
baku dari luar negeri, ia dapat membuat kontrak forward beli dolar AS sehingga
terdapat kepastian biaya impor bahan baku yang diperlukan.

Para nasabah yang ingin menjalin kontrak transaksi derivatif seharusnya


memahami tujuan dari kontrak tersebut dan berbagai risiko yang mungkin
terjadi. Transaksi derivative seperti forward dan option sebaiknya digunakan
untuk meminimumkan risiko (hedging), bukan untuk memaksimumkan
keuntungan (spekulasi). Selain itu, perlu diperhatikan pula kredibilitas
counterparty yang dihadapi oleh nasabah karena jangan sampai terjadi
wanprestasi atas kontrak tersebut.
Meskipun jika dilihat secara finansial itu akan selalu aman karena adanya
jaminan dari nasabah, tapi perbankan nasional sebaiknya tetap menerapkan
prinsip KYC/Know Your Customer dalam menawarkan produk derivatif. Dan
jangan sampai pihak perbankan hanya mengejar pendapatannya saja tanpa
memperhatikan sisi financial literacy dan juga kebutuhan nasabah itu sendiri.
Sudah terlalu sering nasabah perbankan kita merasa tertipu dan menjadi jera
karena tidak mendapat penjelasan serta pembelajaran yang semestinya dari
orang yang memang betul-betul paham tentang produk yang ditawarkan. Dan
memang sebagai perbankan itu sangat berkaitan erat dengan risiko yang
ditimbulkan dari derivative. Sehingga pihak perbankan sendiri sebainya harus
menerapkan manajemen risiko untuk mengantisipasi terjadinya risiko atau
timbulnya risiko dari derivative yang kegiatannya berkaitan erat dengan pihak
perbankan.
4. Dollar Amerika termasuk dalam kategori hard currency. Beri penjelasan
mengapa dollar dapat dapat masuk dalam kategori hard currency sedangkan
rupiah tidak ?
Dollar masuk dalam kategoti hard currency karena mata uang dolar
cenderung stabil dibandingkan dengan mata uang Negara berkembang. Selain
itu, mata uang dolar juga dijadikan sebagai acuan mata uang internasional
karena sifatnya yang stabil ini. Mata uang dollar merupakan mata uang yang
berasal dari Negara-negara maju dan dijadikan sebagai ukuran dalam
mengkonversikan uang.
Mata uang rupiah tidak dapat masuk dalam kategori hard currency
karena mata uang rupiah belum stabil seperti mata uang negara maju atau
dengan kata lain mata uang rupiah terus mengalami fluktuasi. Sehingga mata
uang rupiah tidak dapat dikategorikan sebagai hard currencies karena sifatnya
ini.

Tanggal

BI Rate

Siaran Pers

21 April 2016

6.75 %

Pranala Siaran Pers

17 Maret 2016

6.75 %

Pranala Siaran Pers

18 Februari 2016

7.00 %

Pranala Siaran Pers

14 Januari 2016

7.25 %

Pranala Siaran Pers

17 Desember 2015

7.50 %

Pranala Siaran Pers

17 Nopember 2015

7.50 %

Pranala Siaran Pers

15 Oktober 2015

7.50 %

Pranala Siaran Pers

17 September 2015

7.50 %

Pranala Siaran Pers

18 Agustus 2015

7.50 %

Pranala Siaran Pers

14 Juli 2015

7.50 %

Pranala Siaran Pers

18 Juni 2015

7.50 %

Pranala Siaran Pers

19 Mei 2015

7.50 %

Pranala Siaran Pers

14 April 2015

7.50 %

Pranala Siaran Pers

17 Maret 2015

7.50 %

Pranala Siaran Pers

17 Februari 2015

7.50 %

Pranala Siaran Pers

15 Januari 2015

7.75 %

Pranala Siaran Pers

11 Desember 2014

7.75 %

Pranala Siaran Pers

18 Nopember 2014

7.75 %

Pranala Siaran Pers

13 Nopember 2014

7.50 %

Pranala Siaran Pers

7 Oktober 2014

7.50 %

Pranala Siaran Pers

11 September 2014

7.50 %

Pranala Siaran Pers

14 Agustus 2014

7.50 %

Pranala Siaran Pers

10 Juli 2014

7.50 %

Pranala Siaran Pers

12 Juni 2014

7.50 %

Pranala Siaran Pers

8 Mei 2014

7.50 %

Pranala Siaran Pers

8 April 2014

7.50 %

Pranala Siaran Pers

13 Maret 2014

7.50 %

Pranala Siaran Pers

13 Februari 2014

7.50 %

Pranala Siaran Pers

9 Januari 2014

7.50 %

Pranala Siaran Pers

12 Desember 2013

7.50 %

Pranala Siaran Pers

12 Nopember 2013

7.50 %

Pranala Siaran Pers

8 Oktober 2013

7.25 %

Pranala Siaran Pers

12 September 2013

7.25 %

Pranala Siaran Pers

29 Agustus 2013

7.00 %

Pranala Siaran Pers

15 Agustus 2013

6.50 %

Pranala Siaran Pers

11 Juli 2013

6.50 %

Pranala Siaran Pers

13 Juni 2013

6.00 %

Pranala Siaran Pers

14 Mei 2013

5.75 %

Pranala Siaran Pers

11 April 2013

5.75 %

Pranala Siaran Pers

7 Maret 2013

5.75 %

Pranala Siaran Pers

12 Februari 2013

5.75 %

Pranala Siaran Pers

10 Januari 2013

5.75 %

Pranala Siaran Pers

11 Desember 2012

5.75 %

Pranala Siaran Pers

8 Nopember 2012

5.75 %

Pranala Siaran Pers

11 Oktober 2012

5.75 %

Pranala Siaran Pers

13 September 2012

5.75 %

Pranala Siaran Pers

9 Agustus 2012

5.75 %

Pranala Siaran Pers

12 Juli 2012

5.75 %

Pranala Siaran Pers

12 Juni 2012

5.75 %

Pranala Siaran Pers

10 Mei 2012

5.75 %

Pranala Siaran Pers

12 April 2012

5.75 %

Pranala Siaran Pers

8 Maret 2012

5.75 %

Pranala Siaran Pers

9 Februari 2012

5.75 %

Pranala Siaran Pers

12 Januari 2012

6.00 %

Pranala Siaran Pers

8 Desember 2011

6.00 %

Pranala Siaran Pers

10 Nopember 2011

6.00 %

Pranala Siaran Pers

11 Oktober 2011

6.50 %

Pranala Siaran Pers

8 September 2011

6.75 %

Pranala Siaran Pers

9 Agustus 2011

6.75 %

Pranala Siaran Pers

12 Juli 2011

6.75 %

Pranala Siaran Pers

9 Juni 2011

6.75 %

Pranala Siaran Pers

12 Mei 2011

6.75 %

Pranala Siaran Pers

12 April 2011

6.75 %

Pranala Siaran Pers

4 Maret 2011

6.75 %

Pranala Siaran Pers

4 Februari 2011

6.75 %

Pranala Siaran Pers

5 Januari 2011

6.50 %

Pranala Siaran Pers

3 Desember 2010

6.50 %

Pranala Siaran Pers

4 Nopember 2010

6.50 %

Pranala Siaran Pers

5 Oktober 2010

6.50 %

Pranala Siaran Pers

3 September 2010

6.50 %

Pranala Siaran Pers

4 Agustus 2010

6.50 %

Pranala Siaran Pers

5 Juli 2010

6.50 %

Pranala Siaran Pers

3 Juni 2010

6.50 %

Pranala Siaran Pers

5 Mei 2010

6.50 %

Pranala Siaran Pers

6 April 2010

6.50 %

Pranala Siaran Pers

4 Maret 2010

6.50 %

Pranala Siaran Pers

4 Februari 2010

6.50 %

Pranala Siaran Pers

6 Januari 2010

6.50 %

Pranala Siaran Pers

3 Desember 2009

6.50 %

Pranala Siaran Pers

4 Nopember 2009

6.50 %

Pranala Siaran Pers

5 Oktober 2009

6.50 %

Pranala Siaran Pers

3 September 2009

6.50 %

Pranala Siaran Pers

5 Agustus 2009

6.50 %

Pranala Siaran Pers

3 Juli 2009

6.75 %

Pranala Siaran Pers

3 Juni 2009

7.00 %

Pranala Siaran Pers

5 Mei 2009

7.25 %

Pranala Siaran Pers

3 April 2009

7.50 %

Pranala Siaran Pers

4 Maret 2009

7.75 %

Pranala Siaran Pers

4 Februari 2009

8.25 %

Pranala Siaran Pers

7 Januari 2009

8.75 %

Pranala Siaran Pers

4 Desember 2008

9.25 %

Pranala Siaran Pers

6 Nopember 2008

9.50 %

Pranala Siaran Pers

7 Oktober 2008

9.50 %

Pranala Siaran Pers

4 September 2008

9.25 %

Pranala Siaran Pers

5 Agustus 2008

9.00 %

Pranala Siaran Pers

3 Juli 2008

8.75 %

Pranala Siaran Pers

5 Juni 2008

8.50 %

Pranala Siaran Pers

6 Mei 2008

8.25 %

Pranala Siaran Pers

3 April 2008

8.00 %

Pranala Siaran Pers

6 Maret 2008

8.00 %

Pranala Siaran Pers

6 Februari 2008

8.00 %

Pranala Siaran Pers

8 Januari 2008

8.00 %

Pranala Siaran Pers

6 Desember 2007

8.00 %

Pranala Siaran Pers

6 Nopember 2007

8.25 %

Pranala Siaran Pers

8 Oktober 2007

8.25 %

Pranala Siaran Pers

6 September 2007

8.25 %

Pranala Siaran Pers

7 Agustus 2007

8.25 %

Pranala Siaran Pers

5 Juli 2007

8.25 %

Pranala Siaran Pers

7 Juni 2007

8.50 %

Pranala Siaran Pers

8 Mei 2007

8.75 %

Pranala Siaran Pers

5 April 2007

9.00 %

Pranala Siaran Pers

6 Maret 2007

9.00 %

Pranala Siaran Pers

6 Februari 2007

9.25 %

Pranala Siaran Pers

4 Januari 2007

9.50 %

Pranala Siaran Pers

7 Desember 2006

9.75 %

Pranala Siaran Pers

7 Nopember 2006

10.25 %

Pranala Siaran Pers

5 Oktober 2006

10.75 %

Pranala Siaran Pers

5 September 2006

11.25 %

Pranala Siaran Pers

8 Agustus 2006

11.75 %

Pranala Siaran Pers

6 Juli 2006

12.25 %

Pranala Siaran Pers

6 Juni 2006

12.50 %

Pranala Siaran Pers

9 Mei 2006

12.50 %

Pranala Siaran Pers

5 April 2006

12.75 %

Pranala Siaran Pers

7 Maret 2006

12.75 %

Pranala Siaran Pers

7 Februari 2006

12.75 %

Pranala Siaran Pers

9 Januari 2006

12.75 %

Pranala Siaran Pers

6 Desember 2005

12.75 %

Pranala Siaran Pers

1 Nopember 2005

12.25 %

Pranala Siaran Pers

4 Oktober 2005

11.00 %

Pranala Siaran Pers

6 September 2005

10.00 %

Pranala Siaran Pers

9 Agustus 2005

8.75 %

Pranala Siaran Pers

5 Juli 2005

8.50 %
Pranala Siaran Pers
Data tersebut merupakan data BI Rate yang saya ambil dari sumber
http://www.bi.go.id/id/moneter/bi-rate/data/Default.aspx . Berdasarkan data
BI Rate tersebut, dapat kita ketahui bahwa BI Rate mengalami kenaikan dan
penurunan dan masih belum stabil. Namun kita juga harus mengapresiasi

kinerja pemerintah dan BI Rate yang telah bekerja dengan keras mengatur
sedemikian rupa. Dan juga oleh karena faktor ini maka mata uang rupiah tidak
dapat masuk dalam kategori hard currencies.
5. Negara di kawasan Asia sangat rentan mengalami risiko pasar salah satunya
negara Indonesia. Jelaskan mengapa dikatakan rentan dan berikan
contohnya !
Menurut saya Indonesia saat ini masih rentan mengalami risiko pasar
karena Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) yang kurang meskipun saat ini
pemerintah beserta menteri keuangan telah bekerja cukup baik. SSK yang pada
intinya membahas bahwa suatu sistem keuangan memasuki tahap tidak stabil
pada saat sistem tersebut telah membahayakan dan menghambat kegiatan
ekonomi.
Sistem keuangan yang stabil mampu mengalokasikan sumber dana dan
menyerap kejutan (shock) yang terjadi sehingga dapat mencegah gangguan
terhadap kegiatan sektor riil dan sistem keuangan.
Sistem keuangan yang stabil adalah sistem keuangan yang kuat dan tahan
terhadap berbagai gangguan ekonomi sehingga tetap mampu melakukan fungsi
intermediasi, melaksanakan pembayaran dan menyebar risiko secara baik.
Stabilitas sistem keuangan adalah suatu kondisi dimana mekanisme ekonomi
dalam penetapan harga, alokasi dana dan pengelolaan risiko berfungsi secara
baik dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Arti stabilitas sistem keuangan dapat dipahami dengan melakukan
penelitian terhadap faktor-faktor yang dapat menyebabkan instabilitas di sektor
keuangan. Ketidakstabilan sistem keuangan dapat dipicu oleh berbagai macam
penyebab dan gejolak. Hal ini umumnya merupakan kombinasi antara kegagalan
pasar, baik karena faktor struktural maupun perilaku. Kegagalan pasar itu
sendiri dapat bersumber dari eksternal (internasional) dan internal (domestik).
Risiko yang sering menyertai kegiatan dalam sistem keuangan antara lain risiko
kredit, risiko likuiditas, risiko pasar dan risiko operasional.
Meningkatnya kecenderungan globalisasi sektor finansial yang didukung
oleh perkembangan teknologi menyebabkan sistem keuangan menjadi semakin
terintegrasi tanpa jeda waktu dan batas wilayah. Selain itu, inovasi produk

keuangan semakin dinamis dan beragam dengan kompleksitas yang semakin


tinggi. Berbagai perkembangan tersebut selain dapat mengakibatkan sumbersumber pemicu ketidakstabilan sistem keuangan meningkat dan semakin
beragam, juga dapat mengakibatkan semakin sulitnya mengatasi ketidakstabilan
tersebut.
Identifikasi terhadap sumber ketidakstabilan sistem keuangan umumnya
lebih bersifat forward looking (melihat kedepan). Hal ini dimaksudkan untuk
mengetahui potensi risiko yang akan timbul serta akan mempengaruhi kondisi
sistem keuangan mendatang. Atas dasar hasil identifikasi tersebut selanjutnya
dilakukan analisis sampai seberapa jauh risiko berpotensi menjadi semakin
membahayakan, meluas dan bersifat sistemik sehingga mampu melumpuhkan
perekonomian.
Sistem keuangan memegang peranan yang sangat penting dalam
perekonomian. Sebagai bagian dari sistem perekonomian, sistem keuangan
berfungsi mengalokasikan dana dari pihak yang mengalami surplus kepada
yang mengalami defisit. Apabila sistem keuangan tidak stabil dan tidak
berfungsi secara efisien, pengalokasian dana tidak akan berjalan dengan baik
sehingga dapat
menghambat
pertumbuhan
ekonomi.
Pengalaman
menunjukkan, sistem keuangan yang tidak stabil, terlebih lagi jika
mengakibatkan terjadinya krisis, memerlukan biaya yang sangat tinggi untuk
upaya penyelamatannya.
Pelajaran berharga pernah dialami Indonesia ketika terjadi krisis
keuangan tahun 1998, dimana pada waktu itu biaya krisis sangat signifikan.
Selain itu, diperlukan waktu yang lama untuk membangkitkan kembali
kepercayaan publik terhadap sistem keuangan. Krisis tahun 1998 ini
membuktikan bahwa stabilitas sistem keuangan merupakan aspek yang sangat
penting dalam membentuk dan menjaga perekonomian yang berkelanjutan.
Sistem keuangan yang tidak stabil cenderung rentan terhadap berbagai gejolak
sehingga mengganggu perputaran roda perekonomian.
Secara umum dapat dikatakan bahwa ketidakstabilan sistem keuangan dapat
mengakibatkan timbulnya beberapa kondisi yang tidak menguntungkan
seperti:

Transmisi kebijakan moneter tidak berfungsi secara normal sehingga

kebijakan moneter menjadi tidak efektif.


Fungsi intermediasi tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya akibat
alokasi dana yang tidak tepat sehingga menghambat pertumbuhan
ekonomi.
Ketidakpercayaan publik terhadap sistem keuangan yang umumnya
akan diikuti dengan perilaku panik para investor untuk menarik
dananya sehingga mendorong terjadinya kesulitan likuiditas.
Sangat tingginya biaya penyelamatan terhadap sistem keuangan apabila
terjadi krisis yang bersifat sistemik.

Atas dasar kondisi di atas, upaya untuk menghindari atau mengurangi


risiko kemungkinan terjadinya ketidakstabilan sistem keuangan sangatlah
diperlukan, terutama untuk menghindari kerugian yang begitu besar lagi.