Anda di halaman 1dari 26

A.

PENGERTIAN
Kanker Cerviks yaitu keganasan pada leher rahim yang merupakan keganasan
pada bagian terendah rahim yang menonjol ke liang sanggama / vagina ( Depkes RI,
2006) . Kanker Cerviks merupakan pertumbuhan dari Human Papilloma Virus (Kline,
2007). Kanker serviks adalah penyakit kanker yang terjadi pada daerah leher rahim, yaitu
daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk kearah rahim,
letaknya antara rahim (uterus) dengan liang senggama wanita (vagina) (Wijaya, 2010).
Kanker leher rahim / serviks adalah kanker kedua terganas yang menyebabkan kematian
pada perempuan. ( Prof. Dr. Samsurizal Djauzi, SpPD. 2008 ).Kanker leher rahim /
serviks adalah tumor ganas yang tumbuh di leher rahim / serviks ( bagian terendah dari
rahim yang menempel pada puncak vagina ). ( Ratna Dewi Pudiastuti, Pentingnya
Menjaga Organ Kewanitaan, 2010 ).
B. Etiologi
Menurut Wijaya (2010), ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan peluang
seorang wanita untuk terkena kanker serviks. Faktor-faktor tersebut adalah :
a. Infeksi Virus Human Papilloma (HVP)
Faktor resiko dari infeksi HPV adalah factor yang terpenting dalam timbulnya
penyakit kanker serviks ini. Human Papilloma Virus adalah sekelompok lebih dari
100 virus yang berhubungan yang dapat menginfeksi sel-sel pada permukaan kulit,
ditularkan melalui kontak kulit seperti vaginal, anal, atau oral seks. Virus ini berasal
dari familia Papovaridaedan genus Papilloma virus. Hubungan seks yang tidak
aman terutama pada usia muda atau melakukan hubungan seks dengan banyak
pasangan, memungkinkan terjadinya infeksi HPV. Organ reproduksi wanita pada
usia remaja (12-20 tahun) sedang aktif berkembang. Bila terjadi rangsangan oleh
penis/sperma dapat memicu perubahan sifat sel menjadi tidak normal, apalagi bila
terjadi luka saat berhubungan seksual dan kemudian terjadi infeksi virus HPV.
b. Pasangan Seksual yang Berganti-ganti
Dari berbagai penelitian yang dilakukan timbulnya penyakit kanker serviks
berkaitan erat dengan perilaku seksual seperti mitra seks yang berganti-ganti.
Resiko kanker serviks lebih dari 10 kali bila berhubungan dengan 6 atau lebih mitra
seks.
c. Usia Pertama Melakukan Hubungan Seks
Wanita yang melakukan hubungan seks pertama sekali pada umur dibawah 17
tahun hampir selalu 3x ;lebih mungkin terkena kanker serviks di usia tuanya.
Semakin muda seorang wanita melakukan hubungan seks maka semakin besar

resiko terkena kanker serviks. Hal ini disebabkan karena alat reproduksi wanita
pada usia ini belum matang dan sangat sensitif.
d. Merokok
Tembakau atau rokok mengandung bahan-bahan karsinogenik baik yang dikunyah
atau dihisap sebagai rokok atau sigaret. Penelitian menunjukkan lendir serviks pada
wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya terdapat di dalam rokok.
Produk sampingan rokok seringkali ditemukan pada mukosa serviks dari wanita
perokok.
e. Jumlah Anak
Wanita yang sering melahirkan mempunyai resiko 3-5 x lebih besar terkena kanker
leher rahim. Terjadinya trauma pada bagian leher rahim yang tipis dapat merupakan
penyebab timbulnya suatu peradangan dan selanjutnya berubah menjadi kanker.
Menurut berapa pakar, jumlah kelahiran yang lebih dari 3 akan meningkatkan
resiko wanita terkena kanker serviks.
f. Kontrasepsi
Pil KB yang dipakai dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan resiko terkena
kanker serviks.Dari beberapa penelitian menemukan bahwa resiko kanker serviks
meningkat berkaitan dengan semakin lama wanita tersebut menggunakan pil KB,
dan cenderung akan menurun pada saat pil tersebut dihentikan. Beberapa penelitian
juga menunjukkan bahwa pemakaian pil KB akan menyebabkan wanita lebih
sensitif terhadap HPV sehingga makin meningkatkan resiko terkena kanker serviks.
g. Riwyat Keluarga
Sama seperti jenis kanker lainnya, maka pada kanker leher rahim juga akan
meningkatkan resiko lebih besar terkena pada wanita yang mempunyai keluarga
(ibu atau kakak perempuan) terkena kanker leher rahim.
h. Kekebalan Tubuh
Seseorang yang melakukan diet ketat, diet rendah sayuran dan buah-buahan,
rendahnya konsumsi vitamin A,C, dan E setiap hari dapat menyebabkan kurangnya
daya tahan tubuh, sehingga oang tersebut gampang terinfeksi oleh berbagai kuman,
termasuk HPV. Penurunan kekebalan tubuh dapat juga mempercepat pertumbuhan
sel kanker dari noninvasive menjadi invasif.

C. Klasifikasi

STADIUM
0
I
Ia

KRITERIA
Karsinoma in situ atau karsinoma intra epitel
Proses terbatas pada serviks dan uterus
Karsinoma serviks preklinis, hanya dapat didiagnosis secara
mikroskopik, lesi tidak lebih dari 3 mm, atau secara
mikroskopik kedalamannya > 3 5 mm dari epitel basal dan

Ib
II

memanjang tidak lebih dari 7 mm.


Lesi invasif > 5 mm, dibagi atas lesi 4 cm dan > 4 cm.
Proses keganasan telah keluar dari serviks dan menjalar ke 2/3
bagian atas vagina dan atau ke parametrium, tetapi tidak

Iia

sampai ke dinding panggul.


Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari

Iib

infiltrat tumor.
Penyebaran ke parametrium, uni atau bilateral, tetapi belum

III

sampai ke dinding panggul.


Penyebaran sampai 1/3 distal vagina atau parametrium sampai

IIIa

dinding panggul.
Penyebaran sampai 1/3 distal vagina, namun tidak sampai ke

IIIb

dinding panggul.
Penyebaran sampai ke dinding panggul, tidak ditemukan
daerah bebas infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul,
atau proses pada tingkat I atau II, tetapi sudah ada gangguan

IV

faal ginjal atau hidronefrosis.


Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan
melibatkan

mukosa

rektum

dan

atau

vesika

urinaria

(dibuktikan secara histologi) atau telah bermetastasis keluar


Iva
Ivb

panggul atau ke tempat yang jauh.


Telah bermetastasis ke organ sekitar
Telah bermetastasis jauh

Klasifikasi Menurut Pertumbuhan Sel Kankers Serviks


A. Mikroskopis
1. Displasia
Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal epidermis. Displasia berat
terjadi pada dua pertiga epidermi hampir tidak dapat dibedakan dengan
karsinoma insitu.
2. Stadium karsinoma insitu.
Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan
epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa. Karsinoma insitu yang tumbuh
didaerah ektoserviks, peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel cadangan
endoserviks.
3. Stadium karsinoma mikroinvasif.
Pada karksinoma mikroinvasif, disamping perubahan derajat pertumbuhan sel
meningkat juga sel tumor menembus membrana basalis dan invasi pada stoma
sejauh tidak lebih 5 mm dari membrana basalis, biasanya tumor ini
asimtomatik dan hanya ditemukan pada skrining kanker.
4. Stadium karsinoma invasif.
Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol besar dan
bentuk sel bervariasi. Petumbuhan invasif muncul diarea bibir posterior atau

anterior serviks dan meluas ketiga jurusan yaitu jurusan forniks posterior atau
anterior, jurusan parametrium dan korpus uteri.
B. Makroskopis
1. Stadium preklinis.
Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa
2. Stadium permulaan.
Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum
3. Stadium setengah lanjut.
Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio
4. Stadium lanjut.
Terjadi pengerusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya seperti ulkus
dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah.

D. Patofisiologi
Serviks mempunyai dua jenis sel epitel yang melapisi nektoserviks dan endoserviks,
yaitu sel epitel kolumner dan sel epitel squamosa yang disatukan oleh Sambungan
Squamosa Kolumner (SSK).Proses metaplasia adalah proses pergantian epitel kolumner
dan squamosa. Epitel kolumner akan digantikan oleh squamosa baru sehingga SSK akan
berubah menjadi Sambunga SquamosaSquamosa (SSS)/ squamosa berlapis.
Pada awalnya metaplasia berlangsung fisiologis Namun dengan adanya mutagen dari
agen yang ditularkan melalui hubungan seksual seperti sperma, virus herpes simplek tipe
II, maka yang semula fisiologis berubah menjadi displasia. Displasia merupakan
karakteristik konstitusional sel seperti potensi untuk menjadi ganas.
Hampir semua ca. serviks didahului dengan derajat pertumbuhan prakanker yaitu
displasia dan karsinoma insitu. Proses perubahan yang terjadi dimulai di daerah
SquamosaColumner Junction (SCJ) atau SSK dari selaput lendir portio. Pada awal
perkembangannya, ca. serviks tidak memberikan tanda-tanda dan keluhan. Pada
pemeriksaan speculum, tampak sebagai portio yang erosive (metaplasia squamosa) yang
fisiologik atau patologik.
Tumor dapat tumbuh sebagai berikut:
i. Eksofitik, mulai dari SCJ kearah lumen vagina sebagai masa proliferasi yang
mengalami infeksi sekunder dan nekrosis.
ii. Endofitik, mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stroma serviks dan cenderung untuk
mengadakan infiltrasi menjadi ulkus.

iii. Ulseratif, mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dan
melibatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas.
Displasia pada serviks disebut Neoplasia Servikal Intraepitelial (CIN). CIN ada tiga
tingkatan yaitu:
1. CIN I

: Displasia ringan, terjadi di epitel basal lapisan ketiga, perubahan sitoplasmik


terjadi di atas sel epitel kedua dan ketiga.

2. CIN II

: Displasia sedang, perubahan ditemukan pada epitel yang lebih rendah dan
pertengahan, perubahan sitoplasmik terjadi di atas sel epitel ketiga.

3.

CIN III : Displasia berat, terjadi perubahan nucleus, termasuk pada semua lapis sel
epitel, diferensiasi sel minimal dan karsinoma insitu.

E. Manifestasi Klinis

Menurut Sukaca (2009), gejala penderita kanker serviks diklasifikasikan


menjadi dua yaitu gejala pra kanker serviks dan gejala kanker serviks.
Gejala pra kanker serviks ditandai dengan gejala :
a. Keluar cairan encer dari vagina(keputihan)
b. Pendarahan setelah sanggama yang kemudian dapat berlanjut menjadi pendarahan
yang abnormal.
c. Pada fase invasive dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan
dapat bercampur dengan darah.
d. Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi pendarahan kronis
e. Timbul nyeri panggul(pelvis) atau diperut bagian bawah bila ada radang panggul
Bila sel-sel tidak normal ini berkembang menjadi kanker serviks, maka
muncul gejala-gejala sebagai berikut :
a. Pendarahan pada vagina yang tidak normal.
Ditandai dengan pendarahan diantara periode menstruasi yang regular, periode
menstruasi yang lebih lama dan lebih banyak dari biasanya, pendarahan setelah
hubungan seksual.
Rasa sakit saat berhubungan seksual.
c. Bila kanker telah berkembang makin lanjut maka dapat timbul gejala-gejala seperti
b.

penurunan berat badan, nyeri panggul, kelelehan, berkurangnya nafsu makan,


keluar tinja dari vagina, dll.
F.

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Sitologi Pap Smear
Salah satu pemeriksaan sitologi yang bisa dilakukan adalah pap smear. Pap
smear merupakan salah satu cara deteksi dini kanker leher rahim. Test ini mendeteksi
adanya perubahan-perubahan sel leher rahim yang abnormal, yaitu suatu pemeriksaan
dengan mengambil cairan pada laher rahim dengan spatula kemudian dilakukan
pemeriksaan dengan mikroskop.
Saat ini telah ada teknik thin prep (liquid base cytology) adalah metoda pap
smear yang dimodifikasi yaitu sel usapan serviks dikumpulkan dalam cairan dengan
tujuan untuk menghilangkan kotoran, darah, lendir serta memperbanyak sel serviks
yang dikumpulkan sehingga akan meningkatkan sensitivitas. Pengambilan sampel
dilakukan dengan mengunakan semacam sikat (brush) kemudian sikat dimasukkan ke
dalam cairan dan disentrifuge, sel yang terkumpul diperiksa dengan mikroskop.
Pap smear hanyalah sebatas skrining, bukan diagnosis adanya kanker
serviks. Jika ditemukan hasil pap smear yang abnormal, maka dilakukan pemeriksaan
standar berupa kolposkopi. Penanganan kanker serviks dilakukan sesuai stadium
penyakit dan gambaran histopatologimnya. Sensitifitas pap smear yang dilakukan
setiap tahun mencapai 90%.

2. Kolposkopi
Pemeriksaan dengan pembesaran (seperti mikroskop) yang digunakan untuk
mengamati secara langsung permukaan serviks dan bagian serviks yang abnormal.
Dengan kolposkopi akan tampak jelas lesi-lesi pada permukaaan serviks, kemudian
dilakukan biopsi pada lesi-lesi tersebut.
3. IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)
IVA merupakan tes alternatif skrining untuk kanker serviks. Tes sangat mudah dan
praktis dilaksanakan, sehingga tenaga kesehatan non dokter ginekologi, bidan praktek
dan lain-lain. Prosedur pemeriksaannya sangat sederhana, permukaan serviks/leher
rahim diolesi dengan asam asetat, akan tampak bercak-bercak putih pada permukaan
serviks yang tidak normal.

Tabel 1 Kategori temuan IVA


Kategori
Normal
Atipik

Temuan
Licin, merah muda, bentuk porsio normal
Servisitis(inflamasi. hiperemis) banyak flour
ektropion polip atau ada kutil serviks

Abnormal(indikasi lesi prakanker Plaks putih, epitel acetowhite(bercak putih)


serviks)
Kanker serviks

Pertumbuhan

epitel

seperti

bunga

kol,

petumbuhan mudah berdarah.


Jadwal pemeriksaan IVA :
1. Bila hasil positif (+) adalah 1 tahun
2. Bila hasil negatif (-) adalah 5 tahun
Syarat mengikuti pemeriksaan IVA :
1.

Sudah pernah melakukan hubungan seksual

2.

Tidak sedang datang bulan/haid

3.

Tidak sedang hamil

4.

24 jam sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual

Kelebihan Pemeriksaan menggunakan IVA :


1. Lebih efektif, dan mudah
2. Biaya yang murah
3. Memerlukan peralatan yang lebih sederhana
4. Hasilnya segera diperoleh sehingga tidak memerlukan kunjungan ulang
5. Pada tahap penapisan tidak dibutuhkan tenaga skriner untuk memeriksa
sedian sitologi.
Kekurangan pemeriksaan menggunakan IVA :
1. Tidak memiliki sensitifitas yang lebih akurat dibandingkan dengan
pemeriksaan menggunakan pap smears
2. Tidak memiliki spesifisitas yang lebih akurat dibandingkan dengan
pemeriksaan menggunakan pap smears
3. Tidak memiliki dokumentasi sehingga tidak dapat dinilai ulang.

Tabel 2 Perbandingan skrining dengan pap smears dan IVA


Metode Skrining
Petugas kesehatan

Tes PAP
Pengambilan

Tes IVA
Pengambilan

sampel(bidan,perawat atua sampel(bidan,perawat atua


dokter umum atau dokter dokter umum atau dokter
spesialis)

spesialis)

Sensitifitas
Spesifisitas
Hasil
Sarana

Biaya
Dokumentasi

70% -80%
90% - 95%
1 hari -1 bulan
Sspekulum

65% -96%
54% - 98%
Langsung
Spekulum

Lampu sorot

Lampu sorot

Kaca bedah

Asam asetat

Laboratorium
15000- 75000 rupiah
Ada(dapat di nilai ulang)

3000 rupiah
Tidak ada

4. Serviksografi
Servikografi terdiri dari kamera 35 mm dengan lensa 100 mm dan lensa
ekstensi 50 mm. Fotografi diambil oleh tenaga kesehatan dan slide (servikogram)
dibaca oleh yang mahir dengan kolposkop. Disebut negatif atau curiga jika
tampak kelainan abnormal, tidak memuaskan jika SSK tidak tampak seluruhnya
dan disebut defek secara teknik jika servikogram tidak dapat dibaca (faktor
kamera atau flash).
Kerusakan (defect) secara teknik pada servikogram kurang dari 3%.
Servikografi dapat dikembangkan sebagai skrining kolposkopi. Kombinasi

servikografi dan kolposkopi dengan sitologi mempunyai sensitivitas masingmasing 83% dan 98% sedang spesifisitas masing-masing 73% dan 99%.
Perbedaan ini tidak bermakna. Dengan demikian servikografi dapat di-gunakan
sebagai metoda yang baik untuk skrining massal, lebih-lebih di daerah di mana
tidak ada seorang spesialis sitologi, maka kombinasi servikogram dan kolposkopi
sangat membantu dalam deteksi kanker serviks.
5. Gineskopi
Gineskopi menggunakan teleskop monokuler, ringan dengan pembesaran
2,5 x dapat digunakan untuk meningkatkan skrining dengan sitologi. Biopsi atau
pemeriksaan kolposkopi dapat segera disarankan bila tampak daerah berwarna
putih dengan pulasan asam asetat. Sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 84%
dan 87% dan negatif palsu sebanyak 12,6% dan positif palsu 16%. Samsuddin dkk
pada tahun 1994 membandingkan pemeriksaan gineskopi dengan pemeriksaan
sitologi pada sejumlah 920 pasien dengan hasil sebagai berikut: Sensitivitas 95,8%;
spesifisitas 99,7%; predictive positive value 88,5%; negative value 99,9%; positif
palsu 11,5%; negatif palsu 4,7% dan akurasi 96,5%. Hasil tersebut memberi
peluang digunakannya gineskopi oleh tenaga paramedis / bidan untuk mendeteksi
lesi prakanker bila fasilitas pemeriksaan sitologi tidak ada.
6.

Pemeriksaan Penanda Tumor (PT)


Penanda tumor adalah suatu suatu substansi yang dapat diukur secara
kuantitatif dalam kondisi prakanker maupun kanker. Salah satu PT yang dapat
digunakan untuk mendeteksi adanya perkembangan kanker serviks adalah CEA
(Carcino Embryonic Antigen) dan HCG (Human Chorionic Gonadotropin). Kadar
CEA abnormal adalah > 5 L/ml, sedangkan kadar HCG abnormal adalah >
5g/ml. HCG dalam keadaan normal disekresikan oleh jaringan plasenta dan
mencapai kadar tertinggi pada usia kehamilan 60 hari. Kedua PT ini dapat
dideteksi melalui pemeriksaan darah dan urine.

7.

Pemeriksaan darah lengkap


Pemeriksaan

ini

dilakukan

untuk

mendeteksi

tingkat

komplikasi

pendarahan yang terjadi pada penderita kanker serviks dengan mengukur kadar
hemoglobin, hematokrit, trombosit dan kecepatan pembekuan darah yang
berlangsung dalam sel-sel tubuh.

G. Penatalaksanaan

i. Pembedahan
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar),
seluruh kanker sering kali dapat diangkat dengan bantuan pisau bedah ataupun melalui
LEEP (loop electrosurgical excision procedure) atau konisasi. Dengan pengobatan
tersebut, penderita masih bisa memiliki anak. Histerektomi adalah suatu tindakan
pembedahan yang bertujuan untuk mengangkat uterus dan serviks (total) ataupun salah
satunya (subtotal). Biasanya dilakukan pada stadium klinik IA sampai IIA (klasifikasi
FIGO).
ii. Terapi penyinaran (radioterapi)
Terapi radiasi bertujuan untuk merusak sel tumor pada serviks serta mematikan
parametrial dan nodus limpa pada pelvik. Kanker serviks stadium II B, III, IV
sebaiknya diobati dengan radiasi.
iii. Kemoterapi
Kemoterapi adalah penatalaksanaan kanker dengan pemberian obat melalui
infus, tablet, atau intramuskuler. Obat kemoterapi digunakan utamanya untuk
membunuh sel kanker dan menghambat perkembangannya. Tujuan pengobatan
menggunakan kemoterapi tergantung jenis kanker dan fase saat diagnosis. Kemoterapi
disebut sebagai pengobatan adjuvant ketika kemoterapi digunakan untuk mencegah
kanker kambuh. Kemoterapi sebagai pengobatan paliatif ketika kanker sudah
menyebar luas dan dalam fase akhir, sehingga dapat memberikan kualitas hidup yang
baik. (Galle, 2000). Kemoterapi bekerja saat sel aktif membelah, namun kerugian dari
kemoterapi adalah tidak dapat membedakan sel kanker dan sel sehat yang aktif
membelah seperti folikel rambut, sel disaluran pencernaan dan sel batang sumsum
tulang. Pengaruh yang terjadi dari kerja kemoterapi pada sel yang sehat dan aktif
membelah menyebabkan efek samping yang umum terlihat adalah kerontokan rambut,
kerusakan mukosa gastrointestinal dan mielosupresi. Sel normal dapat pulih kembali
dari trauma yang disebabkan oleh kemoterapi, jadi efek samping ini biasanya terjadi
dalam waktu singkat.
Macam-Macam kemoterapi
a. Obat golongan Alkylating agent, platinum Compouns, dan Antibiotik Anthrasiklin
obat golongan ini bekerja dengan antara lain mengikat DNA di inti sel, sehingga
sel-sel tersebut tidak bisa melakukan replikasi.
b. Obat golongan Antimetabolit, bekerja langsung pada molekul basa inti sel, yang
berakibat menghambat sintesis DNA.

c. Obat golongan Topoisomerase-inhibitor, Vinca Alkaloid, dan Taxanes bekerja pada


gangguan pembentukan tubulin, sehingga terjadi hambatan mitosis sel.
d. Obat golongan Enzim seperti, L-Asparaginase bekerja dengan menghambat
sintesis protein, sehingga timbul hambatan dalam sintesis DNA dan RNA dari selsel kanker tersebut.
H. Komplikasi
1. Komplikasi yang terjadi karena radiasi
Waktu fase akut terapi radiasi pelvik, jaringan-jaringan sekitarnya juga terlibat
seperti intestines, kandung kemih, perineum dan kulit. Efek samping gastrointestinal
secara akut termasuk diare, kejang abdominal, rasa tidak enak pada rektal dan
perdarahan pada GI. Diare biasanya dikontrol oleh loperamide atau atropin sulfate.
Sistouretritis bisa terjadi dan menyebabkan disuria, nokturia dan frekuensi.
Antispasmodik bisa mengurangi gejala ini. Pemeriksaan urin harus dilakukan untuk
mencegah infeksi saluran kemih. Bila infeksi saluran kemih didiagnosa, terapi harus
dilakukan segera. Kebersihan kulit harus dijaga dan kulit harus diberi salep dengan
pelembap bila terjadi eritema dan desquamasi. Squele jangka panjang (1 4 tahun
setelah terapi) seperti : stenosis pada rektal dan vaginal, obstruksi usus kecil,
malabsorpsi dan sistitis kronis.
2. Komplikasi akibat tindakan bedah
Komplikasi yang paling sering akibat bedah histerektomi secara radikal adalah
disfungsi urin akibat denervasi partial otot detrusor. Komplikasi yang lain seperti
vagina dipendekkan, fistula ureterovaginal, pendarahan, infeksi, obstruksi usus,
striktur dan fibrosis intestinal atau kolon rektosigmoid, serta fistula kandung kemih
I.

dan rektovaginal.
Pencegahan kanker serviks
Pencegahan kanker serviks menurut Hartati Nurwijaya, dkk (2010)
1.

Pencegahan primer
Pencegahan faktor penyebab kanker serviks, yaitu mencegah terjadinya infeksi
HPV baik dengan cara menghindari faktor-faktor yang menyebabkan infeksi HPV
dan melakukan vaksin HPV.
a) Promosi dan edukasi pola hidup sehat
b) Menunda onset aktivitas seksual sampai usia 20 tahun dan berhubungan hanya
dengan satu pasangan
c) Penggunaan kontrasepsi barrier yang berperan untuk proteksi terhadap agen
virus
d) Melakukan vaksin HPV

Vaksin HPV adalah obat yang berisi protein HPV (cangkang HPV)
yang dapat merangsang pembentukan antibodi dapat mematikan kuman atau
virus penyebab penyakit yang tidak mengandung DNA-HPV.
Ada dua jenis vaksin yang beredar saat ini yaitu cervarix dan
gardasil(vaksin tipe 16 dan 18) namun prosentase pencegahannya hanya 70%.
Evektivitas vaksin tersebut bertahan sampai 6 hingga 7 tahun.
Cara pemberian vaksin HPV dilakukan selama 3 kali yaitu jika diberikan
pada bulan ini maka bulan berikutnya juga diberikan, kemudian diberikan lagi 6
bulan kemudian.
Efek samping vaksin HPV :
a) Nyeri dan bengkak dibekas suntikan
b) Sakit kepala
c) Mual
d) Demam
e) Kematian,cacat permanen (jarang terjadi)
f)

Pembentukan pembekuan darah di jantung, paru-paru dan kaki

2. Pencegahan sekunder dengan melakukan skirining tes pap smear dan IVA

J. ASUHAN KEPERAWATAN
1.

Data Demografi
Seperti biasa pada data demografi selalu menuliskan identitas pasien serta
penanggung jawab pasien. Kanker serviks ini terjadi paling sering pada wanita di atas
usia 30 sampai dengan 40 tahun. Namun tidak dapat di pungkiri juga bahwa ada banyak
remaja yg dapat mengidap penyakit tersebut yg di karenakan pergaulan bebas. Kanker
serviks atau leher rahim ini hanya diderita pada wanita / perempuan saja. Lebih rentan
terjadi pada wanita yg berprofesi sebagai PSK ( Pelaku Seks Komersial ) karena mereka
sering melakukan gonta ganti pasangan. ( Dr. Boyke Dian Nugraha, SpOG ).

2.

Riwayat Sakit dan Kesehatan


a.

Keluhan utama

Pasien biasanya datang dengan keluhan intra servikal dan disertai keputihan
menyerupai air.
b.

Riwayat penyakit sekarang


Pasien mengeluh nyeri pada intra servikal, merasa lelah, letih, ada anemia, pasien
seorang perokok & meminum alcohol, ada perubahan pola defekasi ( konstipasi )
serta nyeri saat berkemih, nyeri pada saat senggama dan terjadi pendarahan saat
senggama, keputihan yang cair dan banyak serta bau yang khas, ada rasa kurang
nafsu makan, penurunan berat badan, nyeri panggul.

c.

Riwayat penyakit dahulu


Apakah pasien pernah mengalami kelainan menstruasi, lama, jumlah dan warna
darah, adakah hubungan perdarahan dengan aktifitas, apakah darah keluar setelah
koitus ( bersenggama ), apakah pekerjaan yang dilakukan pasien

d.

Riwayat penyakit keluarga


Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang mungkin ada
hubungannya dengan penyakit klien sekarang, yaitu riwayat keluarga dengan
kanker serviks / leher rahim.

e.

Pemeriksaan Fisik (fokus)


Pemeriksaan fisik pada klien dengan kanker serviks / leher rahim meliputi
pemeriksaan fisik umum per system dari observasi keadaan umum, pemeriksaan
tanda-tanda vital, B1 (breathing), B2 (Blood), B3 (Brain), B4 (Bladder), B5
(Bowel), dan B6 (Bone).

a)

Pernafasan B1 (breath)
Pada kasus kanker serviks stadium lanjut atau ketika sel abnormal sudah mulai
menyebar ke organ-organ lain ( tahap stadium 4 ), dapat menimbulkan sesak
nafas.

b)

Kardiovaskular B2 (blood)
Adanya nyeri dada ( pada stadium lanjut ), bradikardi, dan tekanan darah
rendah dikarenakan pendarahan pada daerah intra-servikal

c)

Persyarafan B3 (brain)
Penglihatan (mata)

: Penurunan penglihatan, penglihatan menurun

dikarenakan hemoglobin yang menurun, karna anemia, konjungtiva anemis.


Penciuman (hidung)
d)

Perkemihan B4 (bladder)

:Mengeluh bau pada keputihan yang banyak.

Biasanya pasien mengeluh nyeri saat buang air kecil, adanya pendarahan.
e)

Pencernaan B5 (bowel)
Biasanya nafsu makan menurun, porsi makan kurang, berat badan menurun,
adanya konstipasi sehingga terjadi perubahan pola defekasi pada pasien.

f)

Muskuloskeletal/integument B6 (bone)
Biasanya ada nyeri pada bagian panggul sehingga sulit dalam bergerak dan
beraktivitas.

3.

Pengelompokan Data

a.

Data Subjektif

a)

Biasanya pasien mengeluh nyeri pada daerah kewanitaan ( vagina intra servikal )

b)

Biasanya pasien mengeluh kurang nafsu makan, dan berat badan menurun

c)

Biasanya pasien mengeluh terjadi pendarahan setelah ataupun tanpa melakukan


senggama

d)

Biasanya pasien mengeluh ada keputihan yang berlebih dan cair serta berbau

e)

Biasanya pasien mengeluh susah BAB ( konstipasi )

f)

Biasanya pasien mengeluh nyeri pada saat BAK

g)

Biasanya pasien mengeluh nyeri panggul

h)

Biasanya pasien mengeluh cepat lelah

i)

Biasanya pasien mengeluh merasa cemas, khawatir dengan penyakit yang


dialaminya

j)

Biasanya pasien sering bertanya mengenai penyakitnya

k)

Biasanya pasien mengungkapkan ada perubahan tubuh dan gaya hidupnya

b.

Data Objektif

a)

Biasanya terlihat konjungtiva anemis dan pucat

b)

Biasanya terlihat pasien menahan sakit

c)

Biasanya terlihat pasien lemas, letih

d)

Biasanya terlihat pasien meringis karena nyeri panggul

e)

Biasanya terlihat wajah pasien ekspresi cemas dan khawatir

f)

Biasanya pasien tidak menghabiskan porsi makan yang di sediakan

g)

Biasanya terjadi pendarahan pada vagina intra servikal

h)

Biasanya pasien terlihat gelisah

i)

Biasanya pasien terlihat kurang percaya diri

j)

Biasanya berat badan pasien menurun

DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.

Gangguan perfusi jaringan (anemia) berhubungan dengan perdarahan intraservikal

b.

Ansietas berhubungan dengan diagnosis kanker, takut akan rasa nyeri, kehilangan
femininitas dan perubahan bentuk tubuh.

c.

Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan seksualitas, fertilitas, dan hubungan
dengan pasangan dan keluarga.

d.

Perubahan eliminasi berhubungan dengan trauma mekanis, manipulasi bedah, adanya


edema jaringan lokal, hematoma, gangguan sensori/motor ; paradisis saraf.

e.

Nyeri berhubungan dengan pembedahan dan terapi tambahan lainnya.

f.

Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status


hipermetabolik berhubungan dengan kanker dan konsekuensi kemoterapi,radiasi dan

g.

pembedahan.
Kurangnya pengetahuan tentang aspek-aspek perioperatif histierektomi dan perawatan
diri

INTERVENSI KEPERAWATAN
1.

Gangguan perfusi jaringan (anemia) berhubungan dengan perdarahan intraservikal


Tujuan :
Klien akan mempertahankan perfusi jaringan secara adekuat
Kriteria Hasil :
a.

Perdarahan intra servikal sudah berkurang

b.

Konjunctiva tidak pucat

c.

Mukosa bibir basah dan kemerahan

d.

Ektremitas hangat

e.

Hb dalam batas normal 11-15 gr %

Rencana dan Tindakan :

Intervensi
Rasional
Observasi tanda tanda vital klien
Untuk mengetahui keadaan umum pasien.
Observasi perdarahan ( jumlah, warna, Untuk mengetahui tingkat respon verbal,
lama )
Cek Hemoglobin klien
Berikan

oksigen

motorik dan respon membuka mata


Berpengaruh terhadap tingkat nervus VII
jika

facialis
pasien Perubahan-perubahan ini menandakan ada

membutuhkan

perubahan tekanan intracranial dan penting

Pemasangan vagina tampon

untuk intervensi awal


Untuk mendeteksi tanda-tanda syok, yang
harus dilaporkan ke dokter untuk intervensi
awal.
Lingkungan yang nyaman dapat membantu

Pertahankan lingkungan yang tenang.


Berikan

obat-obatan

proses penyembuhan
sebagaimana Di indikasikan untuk mengurangi nyeri,

programnya.

tetapi dapat digunakan dengan tujuan untuk


membantu proses penyembuhan.

2.

Ansietas berhubungan dengan diagnosis kanker, takut akan rasa nyeri, kehilangan
femininitas dan perubahan bentuk tubuh.
Tujuan :
Rasa cemas klien hilang dan tidak cemas lagi
Kriteria Hasil :
Menunjukkan rentang yang tepat dari perasaan dan berkurangnya rasa takut dan cemas
Rencana dan Tindakan :
Intervensi
Rasional
Tinjau ulang pengalaman pasien/orang Membantu dalam identifikasi rasa takut dan
terdekat
Tentukan

sebelumnya
apakah

dengan
dokter

kanker. kesalahan

konsep

berdasarkan

pada

telah pengalaman pada kanker.

menjelaskan kepada pasien dan apakah


kesimpulan pasien telah dicapai.
Dorong pasien untuk mengungkapkan Memberikan kesempatan untuk memeriksa
pikiran dan perasaan.

rasa takut realistik serta kesalaahn konsep

tentang diagnostik.
Berikan informasi akurat, konsistensi Dapat
menurunkan
mengenai

prognosis,

ansietas

dan

hindari memungkinkan pasien membuat keputusan/

memperdebatkan tentang persepsi pasien pilihan berdasarkan realita.


terhadap situasi.
Jelaskan pengobatan yang dianjurkan, Membantu pasien menyiapkan pengobatan
tujuannya dan potensial efek samping.

dan dapat diajak bekerja sama dengan tim

kesehatan
Tingkatkan rasa tenang dan lingkungan Memudahkan istirahat, menghemat nergi,
tenang
dan mningkatkan kmampuan koping
Libatkan orang terdekat sesuai indikasi Menjamin system pendukung untuk pasien
bila keputusan mayor akan di buat

dan memungkinkan orang terdekat terlibat


dengan tepat

3.

Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan seksualitas, fertilitas, dan


hubungan dengan pasangan dan keluarga.
Tujuan :
Meningkatkan harga diri pasien
Kriteria Hasil :
Mengungkapkan pemahaman tentang perubahan tubuh, penerimaan diri dalam situasi.
Rencana dan Tindakan :
Intervensi
Dorong
diskusi

Rasional
tentang/pecahkan Dapat membantu menurunkan masalah

masalah tentang efek kanker/pengobatan yang

mempengaruhi

penerimaan

pada peran sebagai ibu rumah tangga, pengobatan atau merangsang kemajuan
orang tua dan sebagainya.
Berikan informasi bahwa

penyakit.
konseling Memvalidasi realita perasaan pasien dan

sering perlu dan penting dalam proses memberikan izin, untuk tindakan apapun
adaptasi.
Berikan

dukungan

pasien/orang

terdekat

emosi
selama

diagnostik dan fase pengobatan.

perlu untuk mengatasi apa yang terjadi.


untuk Meskipun
beberapa
pasien
tes beradaptasi/menyesuaikan diri dengan efek
kanker atau efek samping terapi, banyak

memerlukan dukungan tambahan selama


Rujuk

pasien/orang

terdekat

periode ini.
pada Kelompok pendukung

biasanya

sangat

program kelompok pendukung (bila ada). menguntungkan baik untuk pasien/ orang
terdekat, memberikan kontak dengan pasien
dengan kanker pada berbagai tingkatan
pengobatan dan/atau pemulihan.
Evaluasi struktur pendukung yang ada Membantu merencanakan perawatan saat di
dan digunakan oleh pasien / orang rumah sakit serta setelah pulang
terdekat

4.

Perubahan eliminasi berhubungan dengan trauma mekanis, manipulasi bedah, adanya


edema jaringan lokal, hematoma, gangguan sensori/motor ; paradisis saraf.
Tujuan :
Eliminasi kembali lancar seperti biasanya
Kriteria Hasil :
Mengosongkan kandung kemih secara teratur dan tuntas.
Rencana dan Tindakan :
Intervensi
Rasional
Perhatikan pola berkemih dan awasi Dapat mengindikasikan retensi urine bila
keluaran urine.

berkemih dengan sering dalam jumlah

sedikit/kurang (< 100 ml).


Palpasi kandung kemih, selidiki keluhan Persepsi kandung kemih penuh, distensi
ketidaknyaman, penuh ketidakmampuan kandung kemih di atas simpisis pubis
berkemih.

menunjukkan retensi urine.

Berikan tindakan berkemih rutin, posisi Meningkatkan relaksasi otot perineal dan
normal,

aliran

air

pada

baskom, dapat mempermudah upaya berkemih.

penyiraman air hangat pada perineum.


Berikan perawatan kebersihan perineal dan Meningkatkan kebersihan, menurunkan
perawatan kateter.
resiko ISK asenden.
Kaji karakteristik urine, perhatikan warna, Retensi urine, drainase

vagina,

dan

kejernihan, bau.

kemungkinan adanya kateter intermitten/


tak menetap meningkatkan resiko infeksi,
khususnya bila pasien mempunyai jahitan

Pemasangan kateter bila diindikasikan

parineal.
Edema atau pengaruh suplai saraf dapat
menyebabkan

atoni

kandungan

kemih/retensi

kandung

kemih

memerlukan dekompresi kandung kemih.

5.

Nyeri berhubungan dengan pembedahan dan terapi tambahan lainnya.


Tujuan :
Nyeri / rasa sakit pasien hilang atau dapat berkurang
Kriteria Hasil :
Melaporkan penghilangan nyeri maksimal/kontrol dengan pengaruh minimal.
Rencana dan Tindakan
Intervensi
Rasional
Tentukan riwayat nyeri, misalnya : lokasi Informasi memberikan data dasar untuk
uteri, frekuensi, durasi dan intensitas mengevaluasi

kebutuhan/keefektifan

(skala 0-10) dan tindakan kehilangan yang intervensi.


digunakan.
Berikan tindakan

kenyamanan

dasar Meningkatkan relaksasi dan membantu

(misalnya reposisi, gosokkan punggung) memfokuskan kembali perhatian.


dan aktifitas hiburan (misalnya musik,
televisi).
Dorong
manajemen

penggunaan
nyeri

keterampilan Memungkinkan

(teknik

berpartisipasi

relaksasi, secara aktif dan meningkatkan rasa kontrol

sentuhan terapeutik)
nyeri
Kembangkan rencana menejemen nyeri Rencana
dengan pasien dan dokter

pasien

yang

mengembangkan

terorganisasi

kesempatan

untuk

kontrol nyeri.
Kolaborasikan dengan tim medis untuk Nyeri adalah komplikasi sering dari
memberikan
indikasi

analgesik

sesuai

dengan kanker,meskipun
berbeda-beda.

respon

individual

6.

Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status


hipermetabolik berhubungan dengan kanker dan konsekuensi kemoterapi,radiasi dan
pembedahan.
Tujuan :
Tidak terjadi perubahan nutrisi;kurang dari kebutuhan
Kriteria Hasil :
Penambahan berat badan progresif ke arah tujuan normalisasi
Rencana dan Tindakan
Intervensi
Pantau masukan makanan setiap hari

Rasional
Mengidentifikasi kekuatan / defisiensi

nutrisi
Ukur Tinggi Badan, Berat Badan setiap Membantu
hari

sesuai

indikasi

mengidentifikasi

malnutrisi

pengukuran protein-kalori

antropometri )
Dorong pasien untuk makan diet tinggi Kebutuhan

jaringan

metabolik

kalori kaya nutrien, dengan masukan ditingkatkan begitu juga dengan cairan
cairan adekuat
Anjurkan pasien untuk makan sedikit Agar dapat mencukupi nutrisi pasien
sedikit tapi sering
secara adekuat
Kolaborasikan dengan tim medis untuk Membantu proses penyembuhan
memberikan obat obatan sesuai dengan
indikasi

7.

Kurangnya pengetahuan tentang aspek-aspek perioperatif histierektomi dan perawatan


diri
Tujuan :
Pasien mengetahui tentang prognosis penyakit dan kebutuhan pengobatan
Kriteria Hasil :
Mengungkapkan informasi yang akurat tentang diagnosa dan aturan pengobatan dan
melakukan dengan benar prosedur yang diperlukan.
Rencana dan Tindakan
Intervensi
Rasional
Bantu pasien menentukan persepsi tentang membantu identifikasi ide, sikap, dan rasa
kanker dan pengobatan

takut

Berikan informasi yang jelas dan akurat

Membantu penilaian diagnosa kanker,


memberikan informasi yang diperlukan

Minta pasien memberikan umpan balik Kesalahan konsep tentang kanker lebih
verbal, dan perbaiki kesalahan konsep

mengganggu
mempengaruhi

daripada

kenyataan

dan

pengobatan/penurunan

penyembuhan.
Tinjau ulang dengan pasien / orang Memvalidasi tingkat pemahaman saat ini,
terdekat pemahaman diagnose khusus, mengidentifikasi kebutuhan belajar dan
alternative pengobatan, dan sifat harapan

memberikan dasar pengetahuan dimana


pasien membuat keputusan berdasarkan
informasi.

Lakukan evaluasi sebelum pulang ke ruma Membantu dalam transisi ke lingkungan

sesuai indikasi

rumah dengan memberikan informasi


tentang kebutuhan perubahan pada situasi
fisik, penyediaan bahan yang di perlukan

2.2.4 Evaluasi
Hasil yang diharapkan dari tindakan keperawatan pada pasien kanker serviks / leher rahim
adalah :
a.

Ansietas pasien berkurang

b.

Meningkatkan harga diri pasien

c.

Eliminasi kembali lancar seperti biasanya

d.

Nyeri hilang/berkurang

e.

Tidak terjadi perubahan nutrisi;kurang dari kebutuhan

f.

Pasien mengetahui tentang prognosis penyakit dan kebutuhan pengobatan

Daftar Pustaka
Arif Mansjoer dkk (2000), Kapita Selekta Kedokteran , Edisi 3 , Jilid 1. EGC : Jakarta
Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad Bandung. (2000). Obstetri Fisiology. Bandung :
Elemen.
Doengoes, Marilynn E. (2001). Rencana Perawatan Maternal / Bayi Edisi 2. Jakarta : EGC.
Manuaba. (2001). Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta
: EGC.
Diagnosis Keperawatan NANDA Internasional: Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta:
EGC.
H. Syaifuddin. 2011.Anatomi Fisiologi: Kurikulum Berbasis Kompetensi Untuk Keperawatan
dan Kebidanan, Edisi ke-4. Jakarta:EGC.
Price, S.A.2006.Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta: EGC
Smeltzer Suzane C dan Brenda G. Bare. 1997. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddrath. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Anda mungkin juga menyukai