Anda di halaman 1dari 66

PENGUJIAN AKTlVlTAS ANTITROMBOTIK BEBERAPA VARIETAS

BAWANG PUTlH (Allium sativum, 1 . 1 YANG TUMBUH Dl INDONESIA

Ole h

ARIF

HARTOYO

F 26. 0623

1 9 9 4

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN


INSTITUT PERTANIAN BOGOR

B O G O R

Arif Hartoyo. F26.0623. Pengujian Aktivitas Antitrombotik Beberapa Varietas Bawang


Putih (Allilrin sativum, L) yang Tumbuh di Indonesia. Di bawah bimbingan Deddy Muclitadi
dan C. Hanny Wijaya.

Ringkasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antitrombotik beberapa varietas
bawang putih yang tumbuh di Indonesia.

Penelitian ini merupakan tahap awal dari suatu

rangkaian penelitian untuk menghasilkan "antithrombotic-agent" yang dapar digunakan sebagai


"Health Food Suplement" pencegah timbulnya penyakit jantung koroner.
Lima varietas bawang putih yaitu varietas Jawi berasal dari Tawangmangu (Solo),
Lengkong dari Kretek (Wonosobo), Lumbu ijo dari Ciwidey (Bandung), varietas lokal dari
Padang (Sumatera Barat) dan Belu (NTT),disiapkan dalam bentuk ekstrak-metanol. Ekstrak ini
dianaiisis antitrombotiknyadengan metode Born (1963) menggunakan alat agrecoder: kandungan
senyawa volatil pereduksi dengan alat VRS; dan profil senyawa volatil akrifnya dengan alar
kromatografi gas. Untuk bawang putih utuh dianalisis kadar airnya.
Hasil analisis dari data yang diperoleh didapat bahwa konsentrasi minimum ekstrak
bawang putih untuk menghambat agregasi trombosit sebesar 50 % (D,,)dari varietas Jawi
sebesar 0.035 mglml PPP, varietas lokal Padang sebesar 0.048 mglml PPP. varietas Lumbu ijo
sebesar 0.115 mglml PPP serta varietas Lengkong dan lokal Belu masing-masing sebesar 0.1 16
dan 0.160 mglml PPP.
Jumlah bawang putih yang diperlukan setiap varietas untuk mendapatkan konsentrasi
ekstrak bawang putih minimum yang dapat menghambat agregasi trombosit sebesar 50 % (D,,)
dari varietas Jawi, lokal Padang, Lumbu Ijo, Lengkong dan lokal Belu secara berurutan adalah
3.21, 5.40, 5.22, 4.69 dan 15.46 g.

Kadar air bawang putih yang diuji berkisar antara 51.50-62.20 %.

Sedangkarl

rendemen ekstrak bawang putih berkisar antara 0.06 - 0.18 g1100 g. Dari data kadar air dan
rendemen didapat bahwa kadar air yang iendah tidak selalu rnenghasilkan rendernen ekstrak yang
tinggi. Selain itu bawang putih dengan rendernen ekstrak yang tinggi tidak selalu diikuti dengan
aktivitas antitrornbotik yang tinggi pula.
Hasil pengukuran kandungan senyawa volatil pereduksi (VRS) menghasilkan nilai
berkisar 3225.17

10353.32 meqlg. Dari data VRS didapat bahwa tidak ada korelasi antara

nilai VRS dengan kemarnpuan antitrombotik.

Dari hasii penelitian yang telah dilaporkal~

dikecahui bahwa tidak sernua komponen volatil bawang bersifat antitrobotik dan sebaliknya
ko~nponendalarn bawang putih yang bersifat antitrornbotik tidak semuanya bersifat volatil.
Hasil analisis profil kornponen volatil aktif rnenggunakan krornatografi gas
~nenunjukltan bahwa bawang putih varietas Jawi yang mempunyai aktivitas antitrombotik
rertinggi ~nempunyaipersentase lkornpone~l bersifat antitrombotik lebih besar dibandingkan
densan varietas lokal Belu yang mernpunyai aktivitas antitrombotik rerendah.

Persenrase

kornponen volatil bersifat antitrombotik dalam varietas Jawi dan lokal Belu secara berururan
adalah sebagai berikut : Metil allil trisulfid (1.64 dan 0.34), 3-vinil-(4H)-I.7-ditiin (19.15 darl
17.49). Diallil trisulfid (42.90 dan 32.91) dan 2-vinil-(4H)-I,3-ditiin (15.57 dan 8.47).

Dari

liasil ini diduga bahwa perbedaan aktivitas antitrombotik dalam bawang putih disebabkan
persentase komponen bersifat antitrombotiknya yang berbeda.
Berdasarkan kernarnpuan aktivitas antitrombotik (nilai D,,,) dan jumlah bawang putih
yang diperlukan untuk rnendapatkan D,

bawang putih variecas Jawi dan Lengkong rnempunyai

potensi untuk dirnanfaatkan dalam pengolahan lebih lanjut.

PENGUJIAN AKTIVITAS ANTITROMBOTIK BEBERAPA VARIETAS


BALVANG PUTIK (Allimn sntivrtm, L.) YANG TUMBUH DI INDONESIA

SKRIPSI
sebzgai saizh sari syarat ulituk memperolzh gelai

SARJAhT.4 TEKNOLOGI PERTANIAN


pad? j~rusanTek:iologi Pangan dac? Gizi
Fakulras Teknoiogi Pertania~?
Insriiut Perranian Bogor

Oleh
ARIF HARTOErO
F 26.0623

1994
FAXULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR.
BOGOR

NSTITUT PERTANLAN BOGOR


FAKULTAS TEXCNOLOGI PERTANLAN

BAWANG PUTIH (Allium sativum, L) YANG TUMBIM DX INDONESIA

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar


SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada Jurusan Telcnologi Pangan dan Gizi
Fakultas Telmologi Pertanian
h t i t u t Pertanian Bogor

Oleh
ARLF EfARTOYO
F 26.0623
Dilahirltan pada tanggal 30 April 1970
Di Purbaiingga
Tanggal lulus : 14 Juli 1994

Dr. Ir. C. Hamy Wijaya, M.Sc.


Dosen Pembimbiig 11

.Deddy Muchtadi, M.S.


Dosen Pembiibing I

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Illahi Robbi. Hanya dengan karuiiia dan
rahmmat-Nya, laporan ini dapat diselesaikan. Laporan ini disusun bkrdasarkan hasil penelitian
yang dilaksanakan di laboratorium Kimia dan Biokimia, PAU Pangan dan Gizi IPB; laboratorium
jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fakultas Teknologi Pertanian IPB; laboratorium Patologi
Klinik RSCM Jakarta.
Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga
kepada:
I.

Bapak (Alm.) dan lbu penulis, yang dengan tulus ikhlas memberikan dorongan serta doa
restu untuk keberhasilan penulis.

2.

Bapak Dr. Ir. Deddy Muchtadi, EV1.S. dan lbu Dr. Ir. Hanny Wijaya, MSc. yang
~nembimbingpenulis selama kuliah di jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Fateta. IPB.

3.

lbu dr. Rahayuningsih yang banyak ~nemberikansaran dan inasukan kepada penulis.

4.

Bapak Ir. Herianus dan Agung Prihambodo, atas kerjasama yang terjalin rapi selarna
penelitian.

5.

Kakak-kakakku tercinta yang banyak memberikan dorongan.

6.

Rekan-rekanku seperjuangan.

7.

Semua pihak yang dengan senang hati membantu selama penelitian sampai tersusunnya
laporan ini.
Semoga laporan penelitian ini bermanfaat bagi yang memerlukannya. Amin.
Bogor,

Agustus 1994

Penulis

DAFTAR LSI

Halaman

...............................................................
DAFTAR IS1..........................................................................
DAFIAR GAMBAR ................................................................
DAFTAR TABEL ....................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................
I . PENDAHULUAN..............................................................
A. LATAR BELAKANG ....................................................
B. TUJUAN PENELITIAN.................................................
KATA PENGANTAR

II. TINJAUAN PUSTAKA .......................................................

........................................................
1. Botani dan Kandungan Zat Gizi Bawang Putih ................
2 . Komponen Bioaktif Bawang Putih ................................
B. AGREGASI TROMBOSIT .............................................
1. Proses Pembentukan Trombosit ...................................
2 . Proses Pembekuan Darah ...........................................
m. BAHAN DAN METODE PENELITW .................................
A. BAHAN DAN ALAT .....................................................
1.Bahan ....................................................................
2 . Alat ......................................................................
B . METODE ..................................................................
1. Persiapan Sampel .....................................................
2 . Analisis ..................................................................
a . Aktivitas Antitrombotik ..........................................
A. BAWANG PUTM

i
ii

iv
v
vi
1
I

2
3

3
3

6
9
9
14

20
20
20
20
21

21
21
21

.......................................
c.Analisis Profil Komponen Volatil Aktif .......................
d. Kadar Air ...........................................................
e. Rendemen Hasil Ekstraksi .......................................
IV . HASDL DAN PEMBAHASAN ..............................................
A. AKTNITAS ANTITROMBOTM:.....................................
.

b Senyawa VolatiI Pereduksi

.
......................................
C. SENYAWA VOLATIL PEREDUKSI (VRS)..........................
D. PROFIL SENYAWA VOLATIL AKTIF...............................
V . KESIMPULAN DAN SARAN ..............................................
A . KESIMPULAN ............................................................
B. SARAhi ......................................................................
DAFTAR PUSTAKA ................................................................
B KADAR AIR DAN RENDEMEN

D r n A R GAMBAR

Halaman

............
Gambar 2 . Proses pembekuan darah ..........................................
Gambar 1 Konsep perangsangan trombosit serta akibatnya

........
Gambar 4 . Skema cara mendapatkan PRP-PPP ............................
Gambar 5 . Tipe kurva agregasi dengan beberapa konsentrasi ADP ...
Gambar 6 . Kurva agregasi darah ..............................................
Gambar 7 . Grafik hubungan a g r e g a s i m a k s i dengan konsentrasi
ekstrak bawang putih ..............................................
Gambar 8 . Kadar air bawang putih ...........................................
Gambar 9 . Rendemen ekstrak bawang putih ................................
Gambar 3 . Diagram prosedur penyiapan ekstrak bawang put ih

Gambar 10. Kandungansenyawa volatilpereduksiekstrak bawang putih

......................................................................
Gambar 11. Kromatogram kromatografi gas senyawa standar ...........
Gambar 12. Pola kromatogram dari referensi ................................
Gambar 13. Kromatogram kromatografi gas ekstrak bawang putih varietas Jawi

13
16
19
21
27
28
29
32
33
34
39
40

............................................................

41

Gambar 14 Kromatogram kromatografi gas ekstrak bawang putih varietas lokal Belu

42

.....................................................

.
.............
Tabel 2. Kandungan zat gizi umbi bawang ....................................
Tabel 3 . Faktor-faktor pembekuan darah......................................
Tabel 4.Konsentrasi minimum ekstrak bawang putihuntuk menghambat agregasi 50% @, ) ..................................................
Tabel 5 .Jumlah bawang putih yang diperlukanuntukmendapatkannilai D5........................................................................
Tabel 6. Persentase komponen senyawa volatil bawang put& .............

Tabel 1 Perkembangan produksi bawang put& di Indonesia

5
6
15
30
32
37

Halaman
Lampiran 1. Data agregasi maksimum darah k e b c i dengan penambahan ekstrak bawang putih vartietas Lumbu Ijo

..........

49

Lampiran 2. Data agregasi maksimum darah kelinci dengan penambahan ekstrak bawang putih vartietas Jawi

..................

50

Lampiran 3. Data agregasi maksimum darab kelinci dengan penambahan ekstrak bawang putih vartietas Lengkong

...........

51

Lampiran 4. Data agregasi maksimum darah kelinci dengan penambahan ekstrak bawang putih vartietas lokal Padang

.......

52

Lampiran 5. Data agregasi maksimum darah kelinci dengan penambahan ekstrak bawang putih vartietas lokal Belu

53

...........

A. LATAR BELAKANG
Memasuki era Pembangunan Jangka Panjang ke dua (PJP 11) selain masalah gizi yang
berkaitan dengan masalah kemiskinan dan penyakit infeksi, Indonesia dihadapkan pula pada
masalah peningkatan penderita penyakit kronik non-infeksi, diantaranya penyakit jantung
koroner. Data hasil Survey Rumah Tangga yang diperoleh Dep.Kes. R1 pada tahun 1980
menunjukkan bahwa prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia telah meningkat dan
menempati urutan ke 6, serta menempati urutan ke 3 penyebab kematian. Bahkan menurut
hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga tahun 1992, penyakit ini menjadi pembunuh nomer
satu (Baraas, 1992).
Dengan meningkatnya pendapatan dan perubahan gaya hidup sebagian pendudub
akibat keberhasilan pembangunan ekonomi dan pengaruh budaya global, maka masalah gizi
lebih (over nutrition) akan mengancam kehidupan penduduk golongan menegah ke aras
serta kelompok usia lanjut. Dikala angka kematian turun 15 per 1000 penduduk, dikala
usia harapan hidup meningkat antara 55-60 tahun, maka penyakit jantung dan pernbuluh
darah muncul sebagai persoalan utania kesehatan di negara-negara dunia ke tiga, termasuk
Indonesia

I).

Oleh karena itu pencegahan dan penanggulangan masalah tersebut harus

segera diupayakan.
Bawang, terutama bawang merah dan bawang putih meskipun dalam jumlah sedikit
tak pernah terpisahkan dalam setiap masakan Indonesia. Bahan tersebut menjadi penyedap

Kompas tanggal 18 Oktober 1990

.2

yang memberikan rasa dan aroma yang disukai banyak orang. Selain sebagai bumbu,
bawang (terutama bawang putih) telah lama dikenal mampu menanggulangi berbagai
penyakit seperti stroke, atherosklerosis, "platelet agregation", kanker dan berbagai
penyakit lainnya (Nakata, 1973; Ariga et al., 1981; Bordia, 1978)
Mengingat bawang putih mempunyai potensi baik dari rasa, gizi serta khasiatnya,
~nalcaperlu dilakukan usaha untuk menghasilkan suatu produk yang tidak hanya diterima
dari segi rasa, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh.

B. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi antitrombotik beberapa
varietas bawang putill yang tumbuh di Indonesia.
Penelitian ini merupakan tahap awal dari rangkaian penelitian untuk menghasilkan
"antithrombotic agent" yang dapat digunakan sebagai "Health Food Suplement" pencegall
timbulnya penyakit jantung koroner.

11. TINJAUAN PUSTAKA


A.

BAWANG PUTIFl

1.

Botani dan Kandungan Zat Gii Bawang Putih


Bawang (Allium) merupakan salah satu jenis tanaman dalam famili
Liliaceae yang memiliki lebih dari 500 spesies. Diduga tanaman ini berasal dari
Asia Tengah, Asia Barat dan Mediterania yang kemudian diusahakan secara
meluas di daerah Asia yang beriklim tropis (Tindall, 1986). Di Indonesia tumbuh
dan dikembangkan beberapa jenis bawang diantaranya bawang merah (Allium

ascolonicum), bawang putih (Allium satvum, L.), bawang bombay (Allium cepa
Val-.

cepa) dan bawang kucai (Allium schoenoprasum) (Soetomo, 1987).


Bawang putih umumnya diusahakan di daerah dataran tinggi dengan iklim

kering.

Tanaman ini memiliki daun yang pipih, lurus dan padat, sedangkan

umbinya terbagi menjadi bagian kecil-kecil atau dalam bentuk tunggal yang
dililidungi lapisan kulit (Tindall, 1986). Bawang putih dapat dipanen apabila
tanda-tanda umur panen tanaman sudah terlihat yaitu bila 35-65 % daunnya sudah
mengu~iing,ulnbi berhenti tumbuh dan menonjol di atas permukaan tanah serta
ujung umbi mulai berwarlia kecoklatan. Umumnya bawang putih dipanen pada
umur 105-120 hari (Purnomowati et al., 1992).
Waktu panen yang tidak tepat akan mempengaruhikualitas bawang putili
yang dillasilkan. Pemanenan yang terlalu dini dapat lneltyebabkan unibi lnenjadi
keriput, tidak licin dan dagingnya menjadi agak lunak setelah dikeringkan.

4
Sedangkan pemanenan yang terlambat akan memungkinkan timbulnya akar-akar
sekunder selama penyimpanan (Wibowo, 1990).
Setelah dipanen bawang putih kemudian dikeringkan, dibersihkan dari
kotoran, dikelompokkan menurut mut dan ukurannya kemudian disimpan atau
langsung dipasarkan (Purnomowati et al., 1992).
Bawang putih diusahakan di berbagai daerah di Indonesia. Jenis bawang
putih yang banyak dijumpai di Indonesia adalah Lumbu Ijo dan Lumbu Kuning
yang merupakan varietas unggul, Lengkong, Cirebon, Tawangmangu, jenis llocos
dari Philipina dan jenis Tl~ailand. Beberapa jenis bawang putih yang lain dapat
ditemukan di berbagai daerah Indonesia. Tempi jenis-jenis lain itu berasal dari
sumber yang sama. Diduga merupakan modifikasi dari yang sudah ada. Karena
bawang putih diperbanyak dengan umbi secara terus menerus

kernungkinan

terjadi murasi sangat besar yang akan mengubah sifat-sifat bawang putih. Jenis
Santong di Lombok

misalnya, serupa dengan varietas Lumbu Ijo.

Jenis

Tawangmangu dan Cirebon serupa dengan varietas Lumbu Kuning (Wibowo,


1990).
Senira produksi bawang putih di Indonesia antara lain di Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa timur, Bali dan Nusa Tenggara.

Pada tahun 1989 , dari total

produksi diseluruh wilayali Iiidonesia sebesar 107.407 ton, 42.344 ton (39.4 %)
dihasilkan didaerah Jawa Tengah, 23.669 ton (22 %) dari Jawa Tirnur, Jawa
Barat sebesar 8.94 ton (8.3 %), Bali dan Nusa Tenggara sebesar 22.459 toll (20,9
%).

Meskipun produksi bawang putih di Indonesia meningkat dari tahun ke

tahun, tetapi masih jauh dari mencukupi kebutuhan di daam negeri.

Untuk

mencukupi kebutuhan bawang putih di dalam negeri sarnpai saat ini Indonesia
memerlukan impor yang cukup besar. Kecenderungan peningkatan produksi dan
konsumsi tampak pada Tabel 1. Diperkirakan jumlah konsumsi bawang putih di
lndonesia akan terus meningkat dari tahun ke tahun (Purnomowati, et al., 1992).
Tabel 1.

Perkernbangan produksi bawang putih di Indonesia, 1979-1985


(dalam ton).

Tahun

Produksi

lmpor

Kaanrsl

Sumber : BPS (Purnomowati er al., 1992)


Nilai gizi bawang bervariasi untuk setiap jenis bawang serta bagian yang
dirnakan. Menurut Fenwick dan Hanley (1985) faktor lain yang dapar mempengaruhi kandungan zat gizi bawang adalah kondisi pertumbuhan, waktu panen,
penyimpanan dan pengolahan. Kandungan zat gizi beberapa jenis bawang dapat
dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2.

X a n d u n g a n z a t g i z i umbi b a w a n g / 1 0 0 g bagian yang dapat


dimakan

A i r (ml)
Energi (kal)
P r o t e i n (g)
Lemak ( g )
Karbohidrat (g)
S e r a t (g)
K a l s i u m (mg)
P h o s p o r (mg)
B e s i (mg)
V i t . A (ug)
V i t . E l (mg)
" ~ i n d a l l (1986)

."

b .putihl'

b .merahl'

b .b o m b a y "

66
122
7
0.3
25
1.1
26
109
1.2
kelumit
0.23

81
67
1.9
0.3
15
0.7
36
45

87.5
45
1.4
0.2
10.3

0.8

kelumit
0.04

32
44
0.5
50
0.03

Soetomo (1987)

2. Komponen Bioaktif Bawang Putih

Bawang-bawangan banyab mengandung senyawa belerang sebagai


komponen cita rasa (Shagir et al., 1964; Wahlroos dan Vitanen, 1965). Hasil
identifikasi menunjukkan bahwa seperiima kandungan

minyak netralnya

merupaltan senyawa belerang.


Wertheim (1844,1845) lelah mengisolasi beberapa senyawa volatil dari
minyak bawang putih dengan destilasi uap, Senyawa tersebut terutama terdiri atas
diallil disulfida dan sedikit dialil trisulfida serta diallil polisulfida. Bau khas
bawang baru timbul bila jaringan tanaman tersebut terluka. Stoll dan Seebeck
(1949) dalam penelitiannya pada bawang putih mendapatkan bahwa alliin yang
terkandung dalam jaringan tanaman akan berubah menjadi allisin berdasarkan
reaksi enzimatis. Pada reaksi ini enzim allinase akan bekerja terhadap alliin
sehingga terbentuk allisin, piruvat dan amonia.
Bau dan rasa beberapa jenis bawang dibedakan oleh adanya turunan Spropil dan S-propenil. Prekursor utama pada bawang merah, bawang bombay.

bawang kucai dan beberapa jenis bawang lainnya adalah S-(1 propeni1)-sistein
sulfoksida yang akan terhidrolisis dengan cepat oleh enzim allinase secara
hipotetis membentuk asam sulfonat, asam piruvat dan amonia. Selanjutnya asam
sulfonat akan berubah lebih lanjut menghasilkann senyawa "lacrimatory" dan
thiopropanal.5-oksida. Sedangkan pada bawang putih prekursor utamanya adalah
S-(2-propeni1)- sistein sulfoksida yang oleh allinase terhidrolisis membentuk 2propenil propenethiosulfonat (allil thiosulfonat, allisin) (Freeman, 1979).
Jumlah senyawa belerang yang merupakan komponen cita rasa dalam
bawang tergantung pada varietas, kematangan, kultur, kondisi lingkungan, dan
metode dalam persiapan sampel (Shagir et al., 1965). Diallil dlsulfida adalah
komponen utama dalam hancuran bawang putih yang terdapat pada "head spacr"
(Brondnist et al., 1971). Bawang putih yang diekstrak dengan destilas~u i
menghasilkan diallil sulfida sebagai komponen utama. Bila diekstrak dengan etil
alkohol dan air pada suhu ruang akan dihasilkan allisin dan bila diekstrak dengan
etil alkohol murni pada suhu di bawah P C dihasilkan alliin (Block, 1985).
Komponen belerang yang dikandung bawang tidak hanya memberiltan
flavor khas tetapi juga memiliki beberapa sifat sebagai senyawa biologis akt~f.
Paavo Airola yang dikutip oleh Soetomo (1987) berhasil mengisolasi dan
menemukan sejumlah komponen bio-aktif pada bawang putih. Senyawa bio-aktif
tersebut antara lain (1) Allisin, yang bersifat antibakteri dan daya anti radang, (2)
Alliin, bersifat antibiotik, (3) Gurwithrays, merangsang pertumbuhan sel tubuh
dan mempunyai daya peremajaan pada sernua fungsi tubuh, (4) Antihemofillk

..

8
faktor, faktor anti lesu darah, (5)Scordinin, mempercepat pertumbuhan tubuh,
menyembuhkan penyakit kardiovaskuler dan sebagai antioksidan, (6)Merilallil
trisulfida, mencegah pengentalan darah (trombosis) yang dapat menyumbat
pembuluh darah ke jantung dan otak.
Secara tradisional, bawang-bawangan dimanfaatkan sebagai pengawet.
Sifat pengawet bawang terutama disebabkan oleh sifat antimikroba dari senyawa
belerang yang terkandung seperti halnya alliin, allisin dan diallil disulfida dan
sebagainya (Cavallito et aL.,1984; Stoll dan Seebeck, 1951). Selain itu juga
sebagai antioksidan dan obat berbagai penyakit.
Khasiat bawang dalam pengobatan telah lama dikenal. Bangsa Mesir,
Cina, dan India menggunakan bawang putih untuk mengobati berbagai penyaltit
seperti keracunan, cacingan, tumor dan sebagainya. Aristoteles dan Hipocrates
merekomendasikan bawang putih mengingat daya pengobatannya yang luar biasa
(Block, 1985).
Di samping khasiatnya sebagai pencegah tumor atau menghalangi
pengembangan berbagai jenis kanker ke stadium lanjut (Nakata, 1973; Belman,
1983; Cadwel dan Danzer, 1988), bawang-bawanganpun dikenal dengan
khasiatnya sebagai antikolesterol (Bordia, 1978) serta mencegah penyumbatan
pembululi darah (anti-trombotic) dengan komponen-komponennya: meeril allil
trisulfid (Ariga et al., 1981), alliin (Kyriakides et al., 1985), allisin (Kyriakides
et al., 1985), vinilditiins, dialiltrisulfid dan ajoene (Apitz-Castro et al., 1986) yang

umumnya juga berperan sebagai komponen rasa.

B.

AGREGASI TROMBOSIT
1.

Proses Pembentukan Trombosit


Secara alami, bila terjadadi perdarahan tubuh akan bereaksi mencegah
kehilangan darah lebih lanjut. Proses penghentian perdarahan yang terjadi akibat
trauma terputusnya integritas pembuluh darah disebut hemostasis (Mayes et al.,
1987).

Ada beberapa sistem yang berperan dalam hemostasis yaitu sistem

vaskuler, sistem trombosit dan sistem pembekuan darah (Oesman dan Setiabudy,
1992).
Apabila pembuluh darah mengalami luka, maka akan terjadi vasokonstrilcsi
yang mula-mula secara reflektoris dan kemudian akan dipertahankan ole11 faktor
lokal seperti 5-hidroksitriptamin (5-HT, serotonin) dan epinefrin. Vasokonstriksi
ini akan mengurangi aliran darah pada daerah yang luka.
Aktivasi trombosit terjadi ketika lapisan endotel pembuluh darah rusak
yang menyebabkan jaringan ikat di bawah endotel seperti serat kolagen, serat
elastin dan membraii basalis terbuka. Aktivasi trombosit ini menyebabkan adesi
trombosit daii pernbentukan sumbat trombosit. Di samping itu terjadi aktifasi
faktor peinbekuan darah baik jalur intrinsik maupun jalur ekstrinsik yang
menyebabkan peinbentukan fibrin.
Troinbosit adalah suatu sel yang tidak berinti, besarnya antara 2-3 inikron.
Berbentuk lonjong dan pipih seperti cakrain dan pada keadaan tertentu dapat

10
beruball menjadi bulat dengan tepi yang tidak rata karena tonjolan yang disebut
pseudopod (Wintrobe, 1981).
Di dalam trombosit metabolisme yang penting adalah metabolisme
nukleotida dan metabolisme prostaglandin untuk menghasilkan energi dan
menjalankan fungsinya. Nukleotida dalam trombosit terdapat dalam dua pool yaitu
pool metabolik dan pool penyimpanan. Pool metabolik menyediakan kebutuhan
energi untuk melaksanakan fungsi trombosit, sedangkan pool penyimpanan berisi
ADP dan ATP yang tidak aktif dalam metabolisme dan dikeluarkan dalam proses
"release" (Wintrobe, 1981).
Dalam metabolisme prostaglandin, fosfolipid dari membran trombosit
diubah menjadi asam arakhidonat oleh fosfolipase, yang selanjutnya ole11
siklooksigenase diubah menjadi prosraglandin endoperoksida (PGG2 dan PGH2).
Zat ini merupakan pelopor terjadinya tromboksan A2 (TXA2) dengan bantuan
tromboksan sintetase. TXA2 ini penting dalam proses agregasi trombosit yang
dalaln waktu singkat akan diubah menjadi tromboksan B2 (TXB2) yang lama
berada dalam darah (Smith, 1980). Di dalam dinding pembuluh darah PGG2 dan
PGH2 oleh pei~garuh mikrosom diubah menjadi prostasiklin (PG12). Zat ini
menghainbat agregasi dan melebarkan pembuluh darah (Mielke dan Rodvien,
1978).
Fungsi trombosit dalam hemostasis adalah membentuk sumbat trombosit.
Pembentukan sumbat trombosit ini melalui beberapa tahap yaitu perubahan
bentuk, adesi, agregasi primer yang diikuti "release", agregasi sekunder yang

11

disusul dengan proses koagulasi, stabilisasi dan konsolidasi (Wintrobe, 1981).


Pembentukan sumbat trombosit ini terjadi karena adanya kerusakan endotel
sehingga terjadi kontak langsung antara trombosit denga jaringan sub endotel
(Born dan Foulks, 1977).
Agregasi trombosit adalah peristiwa melekatnya trombosit dengan
trombosit lainnya. Peristiwa ini terjadi bila trombosit mengalami perangsangan
oleh satu atau lebih induktor. Banyak zat yang merangsang trombosit untuk
beragregasi , baik yang berasal dari dalam (faktor endogen) maupun yang berasal
dari luar (faktor eksogen). ADP yang berasal dari plasma darah, adanya virus,
bakteri , endotoksin da~isel kanker termasuk faktor eksogen. Sedangkan yang
termasuk faktor endogen adalah ADP yang dikeluarkan pada proses "release",
juga serotonin, fibrinogen dan asam arakhidonat.

Pada proses agregasi ini

diperlukan dikation misalnya ion Ca atau Mg dan fibrinogen (Day, 1978:


Packham, 1983).
Menurut beberapa peneliti agregasi trombosit dapat terjadi rnelalui
beberapa mekanisme yaitu efek langsung terhadap trombosit, pelepasan ADP dan
serotonin dari granula trombosit, pembentukan prostaglandin peroksida (PGG2
da~iPGH2) dan TXA2 serta melalui aktivasi oleh "platelet activating factor "
(PAF) (Day, 1978; Packham, 1983).
ADP dapat menimbulkan agregasi trombosit yang reversibel tanpa inelalui
pe~igeluaranisi gra~iulalnaupuli pembentukan PGG2, PGH2 dan TXA2. I-Ial ini
terjadi pada medium dengan kadar ion Ca yang fisiologik. Pada inedium dengan

12

kadar ion Ca rendah, kadar ADP yang rendah menimbulkan agregasi yang
reversibel, sedangkan kadar ADP yang tinggi menimbulkan agregasi yang
ireversibel karena pengeluaran isi granula dan aktivasi jalur arakhidonat.
Kolagen, komplek anti gen-antibodi, virus, dan bakteri menimbulkan agregasi
melalui pelepasan isi granula trombosit dan aktivasi jalur arakhidonat (Packham,
1983).
Bila trombosit mengalami aktivasi maka fosfolipase A2 akan diaktifl~an
sehingga aka11 dilepaskan asam arakhidonat dari fosfolipid membran trombosit.
Selanjutnya asam arakhidonat akan diubah menjadi PGG2 dan PGH2 oleh enzim
siklooksigenase. Kemudian PGH2 akan diubah oleh tromboksan sintetase ineiljadi
TXA2. TXA2 ini dapat merangsang agregasi trombosit (Marcus, 1983). TXA:!
akan merangsang mobilisasi ion Ca dari tempat penyimpanannya. yang
\ ase.
mengakibatkan pelepasan ADP dan penghambatan aktivitas adenilat sil-l

Penghambatan adenilat siklase melibatkan penurunan kadar c AMP (Marcus,


1983). Konsep perangsangan trombosit serta akibatnya dapat diliihat pada Gambar
1.
PGG2 dan PGH2 dalain endotel pembuluh darah akan diubah oleh
prostasiklin sintetase menjadi prostasiklin (PGI2). PGI2 merangsang adenilat
siklase sehingga kadar c AMP meningkat. SikIik AMP menghambat aktivitas
fosfolipase A2 dan siklooksigenase serta mobilisasi ion Ca, sehingga pelepasan
ADP dari granula dan agregasi dillambat. Jadi PG12 meinpuilyai sifat yang
berlawanan dengan TXA2 yaitu menghambat agregasi (Marcus, 1983).

Gambar 1.

Konsep perangsangan trombosit serta akibatnya

Beberapa keadaan seperti diabetes mellitus, hiperlipoproteine~nia.


kebiasaan nierokok serta pemakaian kontrasepsi hormonal dapat menyebabkan
agregasi tro~nbosityang meningkat (Bprne, 1977). Pada penderita diaberes
lnellitus pelnbenrukan PGI2 berkurang.

Pada hiperlipoproteinemia ierjadi

peningkatan aktivitas trombosit karena kolesterol dapat mengubah karakteristik


niembran tro~nbositmenjadi lebih aktif. Pada perokok terjadi peningkatan karbon
nionoksida yang rneyebabkan pengeluaran epinefrin dari kelenjar anak gi~ijal
meningkat seliingga menginduksi agregasi trombosit.

Dilaporkan bahwa

14
kontrasepsi hormonal dapat meningkatkan agregasi trombosit , tetapi mekanisme
yang jelas belum diketahui.

2.

Proses Pembekuan Darah


Proses pembekuan darah terdiri dari rangkaian reaksi enzimatik yang
melibatkan protein plasma, fosfolipid, dan ion Ca. Lebih dari 30 substansi yang
mempengaruhi proses pernbekuan darah. Mereka ditemukan di dalam darah dan
jaringan lainnya, sebagai "procoagualan" dan "anticoagulan". Membeku tidaknya
darah tergantung keseimbangan dari kedua substansi tersebut (Guyton, 1964).
Menurut Guyton (1964) proses pembekuan darah melalui tiga taliapan
dasar yaitu: (1) Suatu substansi yang disebut tromboplastin akan dibebaskan ltetika
suatu jaringan teriuka.

(2) Tromboplastin tersebut akan menginisiasi suatu

rangkaian reaksi kimia daiam plasma yang mengubah protrombin menjadi


trombin. (3) Trombin melakukan aktivitas sebagai enzim mengubah fibrinogen
menjadi benang-benang fibrin yang akan mengikat sel darah merah, platelet dan
plasma membentuk suatu bekuan yang disebut trombus.

Berbagai faktor

pembekuan (Tabel 3) turut mengambil bagian.


Teori yang banyak dianut untuk menerangkan proses pembekuan adalah
teori Cascade dan Waterfall.

Menurut teori ini tiap faktor pembekuan darah

diubah menjadi bentuk aktif oleh faktor sebelumnya dalam reaksi enzimatik.
Faktor pembekuan darah beredar dalam darah sebagai prekursor yang akan diubali
menjadi enziln bila diaktifkan. Etizim ini akan mengubah prekursor selanjutnya

menjadi enzim.

Jadi mula-mula faktor pembekuan darah bertindak sebagai

substrat dan kemudian sebagai enzim (Oesman dan Setiabudy, 1992).


Tabel 3. Faktor-faktor pembekuan darah '
Faktor

Nama

I
I1
I11
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X
XI
XI1
XI11

Fibrinogen
Protrombin
Faktor jaringan
Ion Ca
Proakselerin
Prokonvertin
Faktor Anti Hemofili (AHF)
Komponen tromboplastin plasma
Faktor Stuart
Anteceden Tromboplasti~iPlasma (PTA)
Faktor Hageman
Faktor penstabil fibrin (PSF)
High Moleculer Weight Kininogen (HMWK)
Pre Kallikrein (PK)

Tortura dan Anagnosrakos (1990)


Proses pembekuan darah dimulai melalui dua jalur intrinsik yang
dicetuskan oleh aktivasi kontak dan melibatkan F XII, F XI, F IX, F VIII,
HMWK, PK, Platelet Faktor 3 (PF 3) dan ion Ca, s e r a jalur ektrinsuik yang
dicetuskan oleh tromboplastin jaringall dan melibatkan F VII, ion Ca. Ke dua
jalur i ~ i kemudian
i
aka11bergabung menjadi jalur bersama yang melibatkan F X,
F V, PF 3, protrombin dan fibrinogen (Oesman dan Setiabudy, 1992). Proses
pembekuan selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 2.

INTRINSIT
Kerusakan

EKSTRINSIT

Jaringan rusak
:.

yaktor jaringan (TF)

VII

VII ter- <-

-> VII teraktivasi

> X terak-

X ter- <aktivasi

AKTIVATOR
PROTROMBIN

Y
TABAP 2

PROTRONBIN

'>

TROMBIN

XI11
TAh'AP 3

G a m b a r 2.

FIBRINOGEN ->

BENANG-BENANG
FIBRIN LEPAS

Proses p e m b e k u a n d a r a h
n o s t a k o s , 1990)

BENANG FIBRIN STABIL

(Tortora dan Anaq-

17
Menurut Guyton (1964) pada dasarnya pembekuan darah terjadi karena
dua ha1 yaitu: (1) Permukaan pembuluh darah yang kasar (kemungkinan
dikarenakan arterosklerosis, infeksi atau luka) yang menyebabkan melekatnya
platelet dan selanjutnya menginisisasi pembekuan darah (2) Darah kadang-kadang
membeku ketika mengalir sangat lambat melalui pembuluh darali yang
mengakibatkan konsentrasi faktor-faktor pembekuan meningkat cukup tinggi untuk
lnenginisiasi koagulasi.
Pembekuan darah merupakan proses autokatalitik dimana sejumlah enzini
yang terbentuk pada tiap reaksi akan menimbulkan enzim dalam julnlah besar
pada reaksi selanjutnya.
mencegah aktivasi dan

Oleli karena icu perlu ada lnekanislne kontrol untuk


pemakaianfaktor pembekuan darah secara berlebiliaii

yaitu melalui aliran darah, mekanisme pelnbersihan (clereance) seluler dan


inhibitor alamiah (Oesman dan Setiabudy, 1992).
Aliran darah akan menghilangkan dan mengencerkan faktor pembekuan
darah yang aktif dari tempat luka. Di samping itu faktor pembekuan darah yang
aktif akan dibersihlcan dari sirkulasi darah oleh hati. Sel retikuloendotial pada
hati berperan dalam menghilangkan F IXa, F Xa dan F VIIa (Oesman dan
Setiabudy, 1992).
Permukaan yang halus dari endotial mengliindari melekatnya platelet dan
selanjutnya mencegah pembebasan trornboplastin dari platelet (Guyton, 1964).
Dalaln keadaan normal plasma lnengandung sejumlah protein yang yang dapat
~iienghambatenziln proteolitik dan disebut inhibitor protease, seperti antitrombin

18

3 (AT 3), alfa-2 makroglobulin, C1 esterase inhibitor, alfa-1 antitripsin dan


protein C (Oesman dan Setiabudy, 1992).
AT 3 memegang peranan penting dalam mekanisme kontrol karena
disamping menghambat aktivitas trombin, juga menghambat F XIIa, F XIa, F Xa,

F IXa, F VIIa, plasmin dan kallikrein. AT 3 disebut juga kofaktor heparin


karena heparin tidak dapat bekerja tanpa AT 3, sebaliknya aktivitas AT 3 akan
diperbesar dengan adanya heparin.
C1 inhibitor mempunyai fungsi utama menghambat F Xla, F Xla dan
kallikrein. Alfa-1 antitripsin adalah inhibitor protease yang paling tinggi kadarnya
di dalam plasma serta berperan menginaktifkan trombin, F Xla, kallikrein dan

HMWK.
Protein C berperan dalam menginaktifkan F Va dan F VIIa. Protein C
beredar dalam bentuk tidak aktif dan akan diaktifkan oleh trombin dengan adanya
kofalctor trombomodulin yang dikeluarkan oleh sel endotel. Protein C yang aktif
akan memecah faktor Va dan F VIIIa menjadi bentuk yang tidak aktif.
Tortora dan Anagnostakos (1990) menjelaskan bahwa walaupun dalam
tubuh manusia terdapat mekanisme antikoagulan tertentu untuk mengontrol
pembekuan darah, namun pembekuan darah masih dapat terjadi dalam sistern
peredaran darah (kardiovaskuler).

Bila terjadi penyumbatan aliran darah ke

organ-organ fital akibat adanya bekuan darah dapat rnenyebabkan stroke.


Beberapa jenis antikoagulan buatan telah diproduksi. Antikoagulan ini
dalam bentuk obat yang dipakai untuk mencegah terjadinya trombosis, yang

19

kerjanya menghambat proses pembekuan darah. Berdasarkan mekanisme kerjanya


antikoagulan buatan ini dapat dibagi 3 kelompok yaitu yang bekerja pada jalur
prostaglandin, yang bekerja dalam meningkatkan c AMP dan yang bekerja
langsung pada membran trombosit (Setiabudy, 1996).
Obat yang bekerja pada jalur prostaglandin dapat dibagi atas 3 kelompok
yaitu penghambat fosfolipase contohnya trifluoperazin, flurazepam dan mepakrin
(Smith, 1980), penghambat siklooksigenase contohnya aspirin (Hoak, 1983),
penghambat tromboksan sintetase contohnya simetidin dan dazoksiben (Barradas,
1985).
Obat yang bekerja dengan meningkatkan c AMP adalah perangsang
adenilat siklase, contohnya prostaglandin El (PGEI) (Moncada dan Vane 1978).
dan penghambat fosfodiesterase contohnya dipiridamol dan papaverin (Packham.
1983). Sedangkan obat yang bekerja langsung terhadap membran tro~nbosir
contohnya tiklopidin dan ekstrak bawang putih (Bruno, 1983; Apitz- Castro er ai.,
1986).

A.

BAHAN DAN ALAT


1.

Bahan
Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah umbi bawang putih
dari beberapa varietas yaitu varietas Jawi yang berasal dari Tawangmangu (Solo),
varietas Lengkong dari Kretek (Wonosobo), Lumbo Ijo dari Ciwidey (Bandung),
varietas lokal dari Padang (Sumatera Barat) dan Belu (Nusa Tenggara Timur).
Bahan baku bawang putih dipilih dari daerah sentra produksi bawang putih di
Indonesia.
Bahan kimia yang digunakan untuk persiapan sampel dan analisis antara lain
metanol, dietil eter, KMnO,, Na,SO,, KI, dan Na,S,O,.
Untuk pemeriksaan agregasi trombosit digunakan Platelet Rich Plasma (PRP)
dan Platelet Poor Plasma (PPP) darah kelinci ras white New-Zealand, dengan jenis
penginduksi ADP.

2.

Alat
Alat yang digunakan selama penelitian antara lain pisau, waring blender,
neraca analitik, aggrecoder, vakum evaporator, sentrifuse, kromatografi gas dan alatalat dari gelas.

1.

Persiapan Sampel
Pada penelitian ini sampel bawang putih disiapkan dalam bentuk ekstrak
dengan cara mengekstrak 200 gram bawang putih segar dengan metanol. Kemudian
dievaporasi pada suhu 50C dalam keadaan vakum.

Hasil evaporasi diekstralc

kembali dengan dietil eter. Fase eter dicuci dengan air destilata dan ditambahkan
an-hidrous sulfat untuk menghilangkan airnya.

Setelah dievaporasi kembali

kemudian liasilnya dilarutkan dalam metanol dan disimpan pada suhu -20C (ApitzCastro et al., 1986). Prosedur penyiapan ekstrak bawang putih selengkapnya dapat
dililiat pada Gambar 3.
Elcstrak bawang putih ini kemudian dianalisis aktivitas anti-trombotik, jumlali
komponen pembentuk senyawa volatil dengan alat VRS dan analisis profil kompoiien
aktif bawang dengan kromatografi gas. Untuk bawang putih utuh dianalisis kadar
airnya.

a.

Alctivitas Antitrombotik
Pengujian aktivitas antitrombotik dilakukan dengan cara in-vitro
inenggunakan platelet darah kelinci (Born, 1963) yaitu berdasarkan perubahail
transmisi callaya. Transrnisi cahaya rnelaui PRP adalah rendah. Dengan

penambahan agregator maka trombosit akan beragregasi dan mengendap


sehingga transmisi cahaya meningkat.

FILTRAT

BAWANG PUTIH

e
DIKUPAS

,&T-I

7
LABU PISAH

i-'
FILTRAT

+
'r'

'iSARINGAN VAKUM

LABU PISAH

EVAPORATORVAKUM
SUHU RUANG

EKSTRAK BAWANG PUTIH

ID1Sl3LPXS PXD.4 SUHU


Gambar 3. Diagram prosedur penyiapan ekstrak bawang putih

-70C

23

Pemeriksaan agregasi trombosit menggunakan aiat Aggrecoder Daiichi


PA 3210. Cara pemeriksaan agregasi trombosit adalah sebagai berikut : Darah
kelinci sebanyak 9 mi dicampur dengan 1 ml Sodium sitrat 0.109 M.
Campuran ini kemudian disentrifuse dengan kecepatan 1000 rpm selama 10
menit untuk mendapatkan PRP (Platelet Rich Plasma). Supernatan diambil dan
sisa darah disentrifuse lagi dengan kecepatan 2500 rpm selama 10 menit untuk
mendapatkan Platelet Poor Plasma (PPP).

sup=rna:zn

<50 ul

PRP

160 r 9/10'

caran slcrat

L.

2000 r

*/ 10

xuo.mrt,n

'

500 ul

Gambar 4. Skema cara mendapatkan PRP-PPP

PPP

24

Kemudian diambil PPP sebanyak 500 ul, dimasukkan ke dalam kuvet dan
ditempatkan dalam "optical chamber" dari aggrecoder. Tomb01 PPP ditekan
untuk menentukan transmisi 100% dan kuvet diangkat kembali. Selanjutnya
diambil PRP sebanyak 440 ul dan ditambahkan 10 ul ekstrak-metanol bawang
putih.

Sebagai blanko PRP sebanyak 440 ul ditambahkan 10 ul PPP

ditempatkan di kuvet lain dan ditempatkan di dalam "optical chamber".


Dilihat apakah tampak tanda panah ke atas pada layar. Bila tak tampak, kuvet
diangkat dan diinkubasi selama 90 detik. Ke dalam kuvet ini dimasukkan
sebutir magnet yang berfungsi sebagai pengaduk. Bila tampak tanda panah ke
atas berarti jumlah trombosit lebih banyak dari 500.000 per ul sehingga PPP
perlu diencerkan dengan PPP sampai tanda panah tak tampak.
Setelah diinkubasi, maka kuvet diletakkan kembali pada "optical
chamber" dan segera ditambahkan larutan kerja ADP 10 uM. Setelah 10 menil
akan diperoleh hasil berupa kurva.

Pada kertas rekaman ini pula tertera

absorbansi PRP, persen aggregasi maksimum dan waktu yang dibutuhkaii


untuk inencapai agregasi maksimum.
b.

Seuyawa Volatil Pereduksi (Volatil Reducing Substance, VRS)


Analisis ini dilakukan dengan menggunakan metode Farber dan Ferro
(1956). Satu gram colitoh dimasukkan ke dalam alat VRS, ditambah 10 ml air
destilata. Kemudian dipipet 10 ml KMNO, 0.02 N dan dimasukkan dalam
gelas reaksi pada alat VRS, diaerasi dengan pompa vakum selaina kurang lebih

25
40 menit. Setelah aerasi, semua KMNO, dipindahkan ke dalam erlenmeyer
dan dibilas dengan air destilata kemudian ditambahkan 5 ml H,SO, 6 N dan 3
ml KI 20 %.

Selanjutnya dititrasi sampai warna menjadi kuning, lalu

ditambah indikator amylum, titrasi kembali dengan Na,SO, 0.02 N sampai


warna biru hilang.
Selain contoh juga dilakukan titrasi terhadap blanko.

Kadar VRS

diliitung dengaii rumus :

VRS = (bl-c) x N x 100


---------------b
Dimana VRS =

c.

Volatil Reducing Substance


(meq/1000 g)

bl

jumlah larutan Na,S,O, titrasi


blank0 (ml)

jumlah larutan Na,S,O, titrasi


contoh (mi)

berat contoh (g)

normalitas larutan Na,SzOj

Analisis Profd Kon~ponenAktif Bawaiig

Sampel bawang putih yang mempunyai aktivitas antitrombotik tertinggi


dianalisis dengall inenggunakan Kromatografi Gas untuk mengetahui profil

26
senyawa bioaktifnya.

Analisis ini dilakukan dengan menggunakan alat

Kromatografi Gas "Shimadzu" GC-9AM dengan recorder "Shimadzu" CR-6A.


Ekstrak bawang putih yang dipilih disuntikkan pada alat kromatografi gas
dengan FID (Flame Ionization Detector), menggunakan fase stasioner kolom
DEGS (Diethylene Glycol Succinate), fase cair 5 % Carbowax 20 M dengan
fase pendukung Chromosorb 5-HP.

Suhu oven diprogram 40-180C

(peningkatan 5C per menit) dengan suhu injektor 225OC. Gas pembawa yang
digunakan adalah Helium.

d.

ICadar Air

Penetapan kadar air dilakukan dengall metode destilasi (Fardiaz er


al., 1986).

Air dikeluarkan dari contoh dengan cara destilasi azeotropik

konrinyu menggunakan pelarut Xilena.

Air dikumpulkan dalam tabung

penerima dan volume air yang terkumpul dapat diketahui.


Kadar Air = V/W x 100%
Dimana

V = Volume air yang terdestilasi (ml)

Jumlah contoli yang diambil (g)

Rendemen hasil ekstraksi diperoleh 'dengan cara menimbang hasil


ekstraksi per seratus gram bahan baku (bawang putih).

IV. H A S U DAN PEMBAFIASAN

Pengujian aktivitas anti trombotik dalam penelitian ini dilakukan dengan pemeriksaan
agregasi trombosit menurut cara Born (1963) yairu berdasarkan perubahan transmisi
caliaya.

Sedang agregator yang digunakan adalah ADP.

Menurut Priyana (1986)

pemeriksaan agregasi trombosit dengan cara inilah yang paling sering dipakai.
Hasil pelneriksaan agregasi trombosit dengan cara Born ini berupa suatu kurva yanz
menggambarkan perubahan tralismisi caliaya. Penilaian hasil dapat dilakukan dengall
lnelnperllarika~lbentul; kurva agregasi atau dengan menghitung persentase transmisi
caliaya inaksimum.

Hasil yang diperoleh sangat tergantung pada jenis dan kadar

agregator yang dipakai. Pada pemakaian ADP sebagai agregator, dengan kadar ADP
yalig rendah akan menimbulkan agregasi primer yang reversibel dimana agregasi diikuti
dengan deagregasi.

Bila kadar ADP ditingkatkan akan dihasilkan agregasi yang

reversibel dengan kurva bifasik.

Hal ini karena terjadi proses pelepasan ADP dari

trombosit hingga agregasi primer segera diikuti degan agregasi sekunder. Dengan kadar
ADP yang lebih tinggi lagi akan diperoleli kurva yang monofasik karena gelombang
primer dan sekunder menjadi satu (Gambar 5).

Gambar 5. Tipe kurva agregasi dengan beberapa konsentrasi ADP


a. konsentrasi rendah
b. konsentrasi sedang
c. konsentrasi tinggi

Pada pengujian aktivitas antitrombotik dari ekstrak-metanol bawang putih digunakan


agregator ADP dengan kadar 10 uM. Dengan kadar 10 uM ini akan dihasilkan kurva
rnonofasik yang ireversibel (menetap). Dengan model kurva yang seperti ini bila ada
penghambafan akibat adanya penambahan ekstrak-metanol bawang putih akan tampak
nyata. Perbedaan dapat dilihat dengan mengamati bentuk kurva dimana blanko (tanpa
penambahan ekstrak-metanol bawang putih) rnenghasilkan kurva ireversibel yang

28
monofasik, sedangkan yang ditambahkan ekstrak-metanol bawang putih akan dihasilkan
kurva yang reversibel dimana agregasi akan diikuti deagregasi (Gambar 6).

19
Y *

o w m

-- a

0
,xi

.
0

-07
0

...

.rm-

7
9

m.
J

9.

ul

0)

QI

.C
9

...:.'.

..

--

I)

81)

LO I
n
Q rL
9
a 7 7 ,mu . .

l r W 9

1
9

13

mi
+
-

Xr.9
G
C c4 a

- /-:-J

..

.'K r 9

lX >t ;v
w

--

m-

I-.

xr77
0

-.v

13-

Gambar 6. Kurva agregasi darah


a). Ditambah ekstrak-metanol bawang putih
b). Blanko
Selain dengan melihat bentuk kurva agregasi, efek penghambatan ekstrak-metanol
bawang putih terhadap agregasi trombosit

dapat dilihat dari persentase agregasi

maksimum. Persentase agregasi maksimum ini berkorelasi negatif terhadap konsentrasi


ekstrak-metanol bawang putih yang ditambahkan. Semakin besar konsentrasi ekstrakmetanol bawang putih yang ditambahkan persentase agregasi illaksimum akan menjadi
semakin kecil (Gambar 7). Hal ini disebabkan jumlah komponen yang bersifat antiagregasi semakin besar dengan meningkatnya konsentrasi ekstrak-inetanol bawang putih
pada tiap-tiap varietas.

29

Persentase agregasi

/ Y S - S I . ~ ~ - ~ O S . O Xr-0.87
.

0.05

-6-

Gambar 7 .

0.1

0.15
0.20 0.25
0.3
0.35
Konsentrasi (mg/ml PPP)

Y 2 (lokal Padang)

0.4

0.45

Y 5 (lokal Beiu)

Grafik hubungan agregasi maksimum dengan konsentrasi ekstrak-metanol


bawang putih

Untuk membandingkan aktivitas antitrombotik pada kelima varietas bawang putih


yang diuji, digunakan istilah D,, yaitu konsentrasi minimum ekstrak-metanol bawang
putih untuk menghambat agregasi tro~nbositsebesar 50 %. Dari Tabel 4 terlihat bawang
putih varietas Jawi mempunyai D,, terkecil yaitu sebesar 0.035 mglml PPP. Hal ini
menunjukkan bahwa varietas Jawi mempunyai aktivitas antitrombotik terbesar.
Kemudian diikuti varietas Lokal Padang, Lumbu Ijo, Lengkong dan varietas Lokal Belu.

Tabel 3. Konsentrasi ekstrak-metanol bawang putih minimum untuk menghambat


agregasi trombosit 50 % (D,,).

D,, (mg/ml PPP)

Varietas
Jawi
Lokal Padang
Lumbu Ijo
Lengkong
Lokal Belu

0.035
0.048
0.115
0.117
0.160

Dengan melihat hasil tersebut diatas ternyata bawang putih dapat mengurangi
kecenderungan trombosit untuk beragregasi. Hal ini dapat mengurangi resiko terjadinya
penyakit jantung koroner.
Ekstrak bawang putih secara selektif menghambat pembentukan platelet tromboksan
tanpa menghambat sintesis prostasiklin. Tromboksan diproduksi terutama dalam platelet.
Tromboksan ini mempunyai kemampuan sebagai inducer penggumpalan darah dan zat
yang mengerutkan pernbuluh darah. Sedangkan prostasiklin diproduksi di dalam sel
pembuluh darah (sel endotial) dan mempunyai kemampuan sebagai zat anti agregasi
platelet.

Keseimbangan diantara keduanya membantu lancarnya aliran darah dan

mencegah pembentukan trombus.

Menurut Setiabudy (1986) ekstrak bawang putih

termasuk antikoagulan yang bekerja langsung terhadap membran trombosit. Ekstrak


bawang putih ini mungkin mempengaruhi sifat fisiko kimia membran trombosit sehingga
mengganggu interaksi antara induktor dengall reseptor.
Senyawa dengan sifat anti-agregasi dalam bawang putih pernah diidentifikasi sebagai
metil allil trisulfida (Ariga et al., 1981), Allisin (Kyriakides, 1985), Vinilditiin, dialil
trisulfida dan ajoene (Apitz-Castro et al., 1983).

31
Perbedaan aktivitas antitrombotik pada kelima varietas bawang putih yang diuji
kemungkinan disebabkan jumlah komponen dengan sifat antitrombosit yang juga
merupakan komponen rasa berbeda. Menurut Kohman (1952), Drawert et al., (1982)
dan Mazza et al., (1980) kecepatan pembentukan senyawa volatil aroma tergantung pada
tingkat kerusakan jaringan.

Selain itu menurut Drawert et al., (1982) yang meneliti

dinamika dari biogenesis flavor bawang putih menggunakan teknik ekstrak cair
didapatkan variasi dalam konsentrasi masing-masing komponen yang berhubungan
langsung dengan waktu inkubasi.

B.

KADAR AIR DAN RENDEMEN


Dari Gambar 8 dan 9 tampak bahwa kadar air dan rendemen dari keliina varietas
yang diuji sangat bervariasi. Nilai kadar air berkisar antara 51.5% - 62.2%, sedangkan
rendemen berkisar antara 0.06 - 0.18 g/100 g bawang putih mentah.
Dengan melihat data tersebut nampak tidak ada korelasi (baik positif maupun negatif)
antara kadar air dengan rendemen. Kadar air yang lebih rendah tidak selalu diikuti
dengan jumlah rendemen yang besar. Demikian pula tampak tidak ada korelasi antara
rendemen dengan yang dihasilkan dengan kemampuan aktivitas antitroinbotik. Hal ini
menunjukkan bahwa kemampuan aktivitas antitrombotik dari suatu varietas bawang putih
sama sekali tidak tergantung jumlah rendemen hasil ekstraksi.
Dengan menggunakan data rendemen hasil ekstraksi, data konsentrasi minimum
untuk inenghambat agregasi troinbosit sebesar 50 % (D,,,) dapat dikonversi dalarn bentuk
data jumlah bawang putih yang diperlukan untuk mendapatkan D,, (Tabel 5).

Gambar 8. Kadar air beberapa varietas bawang putih

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa bawang putih varietas Jawi yang mempunyai
aktivitas antitrombotik tertinggi, memerlukan bawang putih dalam jumlah terkecil untuk
mendapatkan D,,.

Sedangkan varietas Lengkong memerlukan bawang putih yang relatif

lebih sedikit dibandingkan varietas lokal Padang dan varietas Lumbu Ijo yang mempunyai
aktivitas antitrombotik lebih tinggi (D,, lebih kecil).
Tabel 5. Jumlah bawang putih yang diperlukan untuk mendapatkan D,,.
Varietas
Jaw i
Lokal Padang
Lumbu Ijo
Lengkong
Lokal Belu

Jumlah bawang putih (gram)


3.21
5.40
5.22
4.69
15.46

33
Denganasumsi trombosit dapat beragregasi dengan sempurna (100 %), bawang putih
sebanyak 5.4 gram pada varietas lokal Padang, mampu menghambat terjadinya agregasi
trombosit sebesar 50 %. Dalam jumlah yang sama (5.4 gram), varietas Lumbu Ijo akan
menghambat agregasi trombosit sebesar 50.4 % sedangkan varietas Lengkong akan
menghambat agregasi trombosit sebesar 52 %.

Dengan demikian dari kelima varietas

bawang putih yang diuji, varietas Jawi mempunyai potensi terbaik untuk dimanfaatkan
dalam pengolahan lebih lanjut, diikuti varietas Lengkong, Lumbu Ijo, lokal Padang serta
varietas lokal Belu. Namun demikian beberapa fakror lain seperci harga dan ketersediaan
bawang putih perlu dipertimbangkan.

Garnbar 9. Rendemen ekstrak beberapa varietas


bawang putih

34
Menurut Saghir et al., (1965) jumlah senyawa sulfur yang merupakan komponen cita
rasa dalam bawang tergantung pada varietas, kematangan, kondisi lingkungan dan metode
dalam persiapan sarnpel. Selain itu perbedaan konsentrasi masing-masing komponen
bawang erat hubungannya dengan tingkat kerusakan jaringan (Kohman, 1952; Mazza et
al., 1980) dan waktu inkubasi (Drawert et al., 1982).

C. SENYAWA VOLATIL PEREDUKSI (VOLATLL REDUCING SUBSTANCE, VRS)


Hasil pengukuran senyawa volatil pereduksi dari ke lima varietas bawang putih yang
diuji menghasilkan nilai berkisar 3225.17

10353.32 meqlgram (Gambar 10).

Gambar 10. Kandungan senyawa volatil pereduksi


ekstrak beberapa varietas bawang putih

35
Dari data tersebutnampak tidak ada korelasi antara kandungan senyawa volatil
pereduksi dengan kemampuan antitrombotik bawang putih. Dari beberapa penelitian
yang telah dilaporkan diketahui bahwa komponen dalam bawang putih yang mempunyai
sifat antitrombotik, tidak semuanya bersifat volatil, dan sebaliknya komponen volatil yang
terdapat dalam bawang putih tidak semuanya mempunyai sifat antitrombotik.
Pada pengukuran senyawa volatil pereduksi (VRS) digunakan sampel yang
mengandung metanol. Metanol diketahui dapat dioksidasi membentuk metanal dan
oksidasi selanjutnya membentuk asam metanoat.

Selain itu metanol dapat bereaksi

dengan logam Natrium atau Kalium membentuk senyawa metanolat (Anshory, 1987).
Dalam analisis senyawa volatil pereduksi ini digunakan pereaksi KMnO, yang bersifat
sebagai oksidator kuat, sehingga selain mengoksidasi senyawa volatil pereduksi dalam
bawang putih, senyawa ini juga bereaksi dengan metanol, sehingga mempengaruhi nilai

VRS yang terukur.


Selain itu juga proses pengolahan sewaktu membuat ekstrak bawang seperti tahap
penghancuran dan evaporasi dengan suhu 5OoC, mungkin menyebabkan perubahan,
kerusakan atau hilangnya senyawa yang dikandungnya.

Menurut Bernhard (1970)

karakteristik flavor dari bawang olahan menghasilkan juinlah dan kualitas yang berbeda
dalam komposisi komponen volatil terutama alk(en)yl disulfida dan trisulfida, thiosulfinat
dan thiosulfonat. Bernhard (1968) dan Boelen et al., (1971) menyatakan bahwa bawangbawangan yang "diproses" mengalami perubahan penting dalain intensitas flavor dan sifat
dari bahan mentahnya.

36

D.

PROFIL S E W A W A VOLATIL BAWANG PUTM


Komponen volatil yang terdapat pada bawang putih sebagian besar adalah senyawasenyawa belerang. Jumlal~senyawa belerang ini tergantung pada varietas, kematangan,
teknik budidaya, kondisi lingkungan dan metode persiapan sampel (Brodnitz et al.,

1971).

Untuk mengetahui secara kualitatif komponen volatil yang terdapat dalam

ekstrak-metanol bawang putih digunakan standar, berupa campuran senyawa-senyawa


murni yang disuntikkan pada gas kromatografi. Kromatogram dari senyawa standar
dapat dilihat pada Gambar 11, dimana senyawa dengan waktu retensi 11.592, 21.792 dan
28.525 menit diketahui berturut-turut sebagai diallil monosulfida, diallil disuifida dan
diallil trisulfida.

Puncak-puncak yang muncul pada kromatogram akan keluar

berdasarkan titik didih dan berat molekul. Semakin rendah titik didih dan berat molekul
suatu senyawa, puncaknya akan keluar terlebih dahulu.
Berdasarkan kromatogram standar dan beberapa referensi, ditentukan komponen
volatil yang terdapat dalam ekstrak bawang putih untuk varietas Jawi dan varietas lokal
Belu yang merupakan varietas dengan aktivitas antitrombotik tertinggi dan terendah.
Berdasarkan luas area pada kromatogram (Gambar 13 dan 14) diperoleh konsentrasi
senyawa penyusun ekstrak bawang putih tersebut (Tabel 6).
Dari ketujuh senyawa yang menyusun ekstrak bawang putih varietas Jawi dan
varietas Belu yang diidentifikasi, einpat diantaranya inerupakan senyawa yang mempunpai
sifat antitroinbotik, yaitu metil allil trisulfida (Block, 1985), 3-vinil-(4H)-l,2-ditiin dan
2-vinil-(4H)-l,3-ditiin (Nishiinura er al, 1988; Block, 1985), diallil trisulfida (ApitzCastro et al., 1983). Dilihat dari persentase keeinpat senyawa tersebut dalam bawang

37
putih varietas Jawi dan varietas Belu, dalam bawang Jawi persentasenya lebih besar
(Tabel 6 ) . Hal inilah yang mungkin menyebabkan ekstrak-metanol bawang putih Jawi
mempunyai aktivitas antitrombotik yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrakmetanol bawang putih varietas Belu. Namun ha1 ini perlu dikaji lebih lanjut sebab pada
analisis senyawa volatil pereduksi (VRS) didapatkan bahwa tidak ada korelasi antara nilai
VRS dengan sifat antitrombotik. Oleh karena itu perlu dikaji adanya senyawa non volatil
yang bersifat antitroinbotik, seperti ajoene.

Ajoene menurut (Block 1985) juga

merupakan senyawa yang mempunyai aktivitas antitrombotik, namun senyawa ini tidak
terdeteksi dalam analisis dengan menggunakan kromatografi gas.
Tabel 6. Persentase kompone~isenyawa volatil bawang putih
No. puncak
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Nama

Diallil monosulfida
Metil allil disulfida
Diallil disulfida
Metil allil trisulfida
3-vinil-(4H)-1.2-ditiin
Diallil trisulfida
2-vinil-(4H)-1,3-ditiin

var. jawi (%)


1.24
4.44
6.98
1.64
19.15
42.90
15.57

var. Belu (%)


1.26
2.50
2.03
0.34
17.49
32.91
8.47

Dua komponen besar yang terdapat pada ekstrak-metanol bawang putih dikellal
sebagai 3-vinil-l,2-ditliii-5-enedan 3-vinil-l,2-ditliii-4-ene.Keduanya dibentuk dengan
cara dehidrasi di(2-propenil) thiosulfinat (allisin) dalam gas krolnatografi (Brodnitz et al.,
1971). Menurut Lawson (1991) kedua senyawa tersebut juga ditemukan dalaln ekstrak
bawang putih yang dialialisis dengall kromatografi kinerja tinggi (NPLC), sehingga

38
dipastikan kedua senyawa tersebut ada dalam ekstrak-metanol bawang putih yang diuji
aktivitas anti trombotiknya.
Menurut Block (1985) allisin akan terdekomposisi dengan sendirinya membentuk
asam 2-propene-sulfonat dan thioacrolein. Kodensasi dari dua molekul asam 2-propenesulfonat akan membentuk kembali allisin. Kondensasi dari dua molekul thioacrolein
menghasilkan dua macam komponen siklik, yaitu 2-vinil-(4H)-1,3-dithiin dan 3-vinil(4H)-1,2-dithiin.

Dekomposisi allisin juga dapat terjadi apabila 3 molekul allisin

bergabung dan menghasilkan dua molekul 4,5,9-tritl1iadodeka-1,6,11-triene-9-oksida


(ajoene).

Gainbar' 11. Kromatogram krornatograk gas senyawa standar

Keternngau:
1. DiaW mauosulfid
2. hfefil allil dinulfid
3. DiaW disulfid
4. Metil allil trisulfid
5. 3-viuil-(4H)-1,2-dit&
6. DiaW triwlfid
7. 2-viuil-(Jhl-1.3-dit&

STD

. .

\valitu retensi (menit)

Gambar 12. Pola kromatogram dari referensi


a. Yu et a1.,1989
b. Nishimura et a1.,1991

.:*JK

Kctcraugati:
1. Diallil menosullid
2. Xlctil ifllil disidfid
3. Diallii disldfid
4. hletil ;Illit trisalfid
5. 3-vbd-(4H)-l,2-6ilhru1
6 . l)iallil trisllltid

"3

A*.?.

...

.T.hF.

.;,..>

7. 2-~i11iI-(Jh)-1,34I!liiu

--.,
-----P
S

;
1

'li

10

20

30

\\At" retensi (menit)

Gambar 13. Kromatogram kromatografi gas ekstrak bawang


putih varieras jawi

10

20

30

walitu retensi (menit)

Gambar 14 . Kromatogram kromatografi gas ekstrak bawang


putih varietas lokal Belu

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A.

KESIMPULAN
Pengujian aktivitas antitrombotik terhadap lima varietas bawang putih dilakukan
dengan cara in-vitro menggunakan platelet darah kelinci. Agregator yang digunakan
adalah ADP dengan kadar 10 uM. Hasil analisis dari data yang diperoleh didapat bahwa
konsentrasi minimum ekstrak bawang putih untuk menghambat agregasi trombosit sebesar
50 % (D,,) dari varietas Jawi sebesar 0.035 mglml PPP, varietas lokal Padang sebesar
0.048 mglml PPP, varietas Lumbu Ijo sebesar 0.115 mglml PPP serta varietas Lengkong
dan lokal Belu masing-masing sebesar 0.116 dan 0.160 mglml PPP.
Jumlah bawang putih yang diperlukan setiap varietas untuk mendapatkan konsentrasi
ekstrak bawang putih minimum yang dapat menghambat agregasi trombosit sebesar 50 %
(D,,) dari varietas Jawi, lokal Padang, Lumbu Ijo, Lengkong dan lokal Belu secara
berurutan adalah 3.21 gram, 5.40 gram, 5.22 gram, 4.69 gram dan 15.46 gram.
Kadar air dari kelima varietas bawang putih yang diuji berkisar antara 51.5 - 62.2
%.

Sedangkan rendemen ekstrak-metanol yang dihasilkan berkisar antara 0.06 - 0.18

mg1100 gram. Dari data kadar air, rendemen ekstrak-metanol dan aktivitas antitrombotik
nampak tidak ada korelasi (baik positif maupun negatif) antara kadar air dan rendemen
ekstrak-metanol

maupun rendemen ekstrak-metanol dengan kemalnpuan aktivitas

antitrombotik.
Data senyawa volatil pereduksi (Volatil Reducing Substance) menunjukkan nilai
berkisar antara 3225.17-10353.32 meqlgram. Dari data ini ternyata tidak ada korelasi

'

44
antara nilai VRS dengan kemampuan aktivitas antitrombotik. Nilai VRS yang tinggi pada
bawang putih tidak selalu mempunyai kemampuan aktivitas antitrombotik yang tinggi.
Dari analisis profil senyawa volatil aktif bawang diduga bahwa penyebab perbedaan
kemampuan aktivitas antitrombotik dari ke lima varietas bawang putih yang diuji adalah
perbedaan persentase komponen dalam bawang putih yang mempunyai sifat antitrombotik.
Dua varietas bawang putih yang disuntikkan pada alat kromatografi gas, yaitu varietas Jawi
(aktivitas trombotikliya tertinggi) dan varietas lokal Belu (aktivitas antitrombotik terendah)
~neliunjukkanpersentase senyawa aktif bersifat antitrombotik (metil allil trisulfida, vinil
ditiin, diallil trisulfida) pada varietas Jawi lebih besar dari varietas lokal Belu.
Berdasarkan kemampuan aktivitas antitrombotik (nilai D,,) dan jumlali bawang putih
yang diperlukan untuk mendapatkan D,,, bawang putih varietas Jawi dan Lengkong
mempunyai potensi untuk dimanfaatkan dalam pengolahan lebih lanjut.

B.

SARAN
Bawang-bawangan termasuk bawang putih dikonsumsi dalam bentuk olahan seperti
bawang goreng. Oleh karena itu perlu diteliti lebih lanjut pengaruh pengolahan terhadap
aktifitas antitrombotik yang dimiliki. Sehingga dapat diketahui bentuk produk yang masih
~nempunyaimanfaat bagi tubuh (sifat antitrombotik) tetapi masih dapat disulcai oleh
konsumen. Dalaln penelitian lanjutan tersebut dapat digunakan bawang putih varietas Jawi
atau Lengkong yang meliipuliyai potelisi untuk dimanfaatkan dalam pengolahan lebili
Ia~ijut.

DAFTAR PUSTAKA

Ariga, T., Oshiba, S. and Tamada, T. 1981. Platelet aggregation inhibitor in


garlic. Lancet. 1: 150.
Apitz-Castro, R., J. Escalante, R., R. Vargas and M.K. Jain. 1986. Thromb.
Res., 42:303.
Baraas, F. 1993. Tentang Kolesterol, Upaya Menuju Jantung Sehat. Data Jantung Indonesia. Jakarta.
Bernhard, R.A. 1968. Comparative distribution of volalile aliphatic dishulpides
derived from fresh and dehidrated onions. J. Food Sci. 33: 298.
Belman, S. 1983. Carcinogenesis, 4(8): 1063.
Block, E. 1985. The chemistry of garlic and onions.
March. : 94-95.

Scientific American.

Boelens, M., devalois, P.J., dan van der Gern, A. 1971. Volatile flavor cornpounds from anion. J. Agr. Food Chem. 19 : 984.
Bordia, A. 1978. Effect of garlic on human platelet aggregation in-vitro.
Atherosclerosis. 30:355.
Born, G.V.R. and M.J. Cross. 1963. The aggregation of blood platelet. J. Physiol., 168: 95-175.
Born G.V.R. and Foulk J.G. 1977. Inhibition by a stable analogue of adenosine
triphosphat of platelet aggregation by adenosine diphosphat. Br.J. of
Pharmac. 61: 9.
Brodnist, M.H., J.V. Pascale, dan L.V. Derslice. 1971. Flavour components
of garlic extract. J. Agr. Food Chem. 19(2): 273-275.
Bruno J.J. 1983. The mecanism of action ticlopidine. Throm Res. Suppl. IV :
59-67.
Byrne J.J. 1977. Platelet and diabetes mellitus. The New England J. Med. 297 :
7.

Cadwell, D.R. and Danzer , C.J. 1988. Effect of allil sulfides on the growrli of
predominan gut anaerobes. Curr Microb. 16: 273.
Cavallito, C.J. and J.H. Bailey. 1944. Alliicin, the antibacterial principle of
Allium sativum. I. Isolation, physical properties and antibacterial action. J. Am. Chem. Soc., 66:1952.

Day. 1978. Platelet and endothelial cell participation in hemostasis and thrombosis.Di dalam : Mielke and Rodvien R. (eds.). Mechanism of Hemostasis and Thrombosis. Is' ed. Stratton Intercont Med Book Corp. New
York.
Fardiaz, D., Anton A., Sedarnawati Y., Slamet B., Ni Luh P. 1986. Penuntun
Praktikum Analisa Pangan. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Freeman, G.G. 1979. Factor Affecting Flavour during, Growth, Storage, and
Processing of Vegetables. Di dalam: D.G. Land dan H.E. Nursten
(eds.). Progress in Flavour Research. Applied Science Publ. Ltd, London.
Fenwick, G.R. and A.B. Hanley. 1985. The genus Allium part 2. C.R.C.
Crit. Rev. Food Sci. Nutr., 22: 273.
Galetto, W.G., dan Bednarzyk, A.A. 1975. Relative flavor contribution of individual volatile of onion (Alliun cepa). J.Food Sci. 40 : 1165.
Guyton, A.C. 1964. Medical Physiology. W.B. Saunders Company, Philadelphia.
Harker L.A. Zimmerman. 1983. Measurement of Platelet Function. Churchill
Livingstone, New York. 1-24.
Hoak J. 1983. Mechanism of action aspirin . Throm Res. Suppl IV: 47-51.
Irfan Anshory. 1988. Penuntun Pelajaran Kimia untuk kelas 3 SMA. Ganexa
Exact. Bandung.
Kohman , E.F. 1952. Onion pungency and onion flavor.. Their chemical determination. Food Thechnol. 6: 288.
Kyriakides, L.M., Z. Sinakos and D.A. Kyriakides.
24(3) :600.

1985. Phytochemistry,

Lawson, L.D., J. Wang, and G. Hughers. 1991. Identification and HPLC


quantitation of the sulfides and dialk(en)yl thiosulfinat in comercial garlic product. Planta Med. 57:363.
Mazza, G., Lemaguer and Hadzier , D. 1980. Headspace sampling procedures
for onion (Allium cepa L.) aroma assesment . Cem. Inst. Food Schi.
Tech. J. 13-87.
Marcus A.J. 1983. Platelet Arachidonic Acid Metabolism. D i dalam : Harker
L.A. and Zimmerman (eds.) Measurement of Platelet Function. 1" ed.
Churchill Livingstone.
Mielke and Rodvien. 1978. Mechanism of Hemostasis and Thrombosis. Symposium sponsored by the Departement of Continuing Education, Presbyterian Hospital of Pasific Medical Centre. San Francisco.

Nakata, T. 1973. Effect of fresh garlic extract on tumor growth


gaka Zasshi. 27 :438.

. Nihon Eisei-

Moncada S., Vane J.R. 1978. Unstable metabolites of arachidonic acid and
role in haemostasis & thrombosis. Brit Med Bull. 34: 129.
Oesman dan R. Setyabudi. 1992. Fisiologi Hemostasis dan Fibrinolisis. Di
dalam Setyabudi, R. Hemostasis dan Fibrinolisis. Kumpulan Makalah
Seminar. Bagian Patologi Klinik FKUII RSCM. Jakarta.
Pacham, MA. 1983. Platelet function inhibitor. Thromb Hemostasis. 50: 610.
Priyana, A. 1986. Agregasi Thrombosis Terhadap ADP Pada Orang Indonesia
Dewasa Normal. Laporan Penelitian. Bagian Patologi Klinik FKUIRSCM, Jakarta.
Purnomowati, S, Sri Hartinah dan Retno Sumekar. 1992. Bawang Putih: Kegunaan dan Prospek Pemasaran. Pusat Dokumentasi dan Inforlnasi I I miah, LIPI. Jakarta.
Secyabudi, R. 1986. Obat Penghambat Agregasi Trombosit. Makalah Serninar. Bagian Patologi Klinik FKUI/RSCM. Jakarta.
Stoll, A. and E. Seebeck. 1949. Helv. Chem. Acta,

32 : 197

Stoll, A. and E. Seebeck. 1951. Chemical investigation on alliin, the specific


princi[ple of garlic. Adv. Enzymol., 11: 377.
Shaghir, A.R., L.K. Mann, R.A. Bernhard and J.V. Jacobson. 1964. Procc.
Am. Soc. Hort. Sci., 84:386.
Soetomo, S. 1987. Bertanam Bawang. BP Karya Bani, Jakarta.
Smith, J.B. 1980. The prostanoid in hemostasis and thrombosis. Am J. of Path.
99:61.
Tortora, G.J. and Anagnostakos , N.P. 1990. Principles of Anatomy and Physiology. Harper and Row Publisher, New York.
Wertheim, T. 1844. Investigation of garlic oil. Annalen, 55:297.
Wertheiln ,T. 1845. On the relation ship mustard and garlic oil. Annalen,
55:297.
Wahlroos, 0 . dan Virtanen, A.I. 1965. Volatiles from chives (Allium sclzoenoprasum). Acta Cherh. Scand. 19 : 1327.
Whitaker, J.R. 1976. Development of flavour , odor and pungency in onion
and garlic. Adv. Food Res., 22: 73.

Wintrobe, M.M. 1981. Platelet, Hemostasis and Coagulation : Thrombosis


and Antithrombotic Therapy. Di dalam: Lea and Febiger (eds.). Clinical
Hematology,. Philadelpia.
Wibowo, S. 1990. Budidaya Bawang Putih. Penebar Swadaya. Jakarta.

Lampiran 1. Data agregasi maksimum darah kelinci dengan penambahan


ektrak bawang putih varietas lumbo ijo

Lampiran 2. Data agregasi maksimum darah kelinci dengan penambahan


ekstrak bawang putih varietas jawi

Lampiran 3. Data agregasimaksimum darah kelinci dengan penambahan


ekstrak bawang putih varietas lengkong.

Lampiran 4. Data agregasi maksimum darah kelinci dengan penambahan


ekstrak bawang putih varietas lokal Padang

Lampiran 5 . Data agregasi maksimum darah kelinci dengan penarnbahan


ekstrak bawang putih varietas lokal Lombok.