Anda di halaman 1dari 50

MATA

PALPEBRA
Anatomi palpebra :
Struktur anatomi palpebra dapat kita bagi menjadi :
1.
Grey Line -> merupakan struktur penting karena membagi palpebra menjadi lamella
anterior, yang terdiri dari kulit dan musculus orbicularis oculi dengan lamella posterior yang
terdiri
dari
tarsal
plate
dan
konjungtiva
2. Glandula -> terletak pada amrgo palpebra, glandula ini dapat menjadi sumber
pembentukkan kista dan kadang kadang tumor
Glandula meibom , merupakan glandula sebaseosa modifikasi yang terletak di tarsal
plate dan berperan dalam menyeksresikan lapisan lipid yang menjadi komponen
paling luar dari air mata (precornea film tear)
Glandula zeis , merupakan glandula sebaseosa modifikasi yang beruhubungan dengan
folikel bulu mata

Glandula moll, merupakan glandula sudorifera (keringat). Duktus dari glandula ini
bermuara pada folikel bulu mata dan margo anterior palpebra diantara bulu mata

3. Bulu mata (cilium). Bulu mata mempunyai jumlah yang lebih banyak pada palpebra
superior (kira kira 100) dibandingkan palpebra inferior. Radiks dari cilium ini menempel
pada permukaan anterior tarsus pada spacium antara musculus orbicularis oculi dan musculus
riloan dan keluar dari kulit pada margo anterior palpebra. Semua cilum secara paralel
melengkung kearah luar berlawanan dengan bulbus oculi. Cilium ini tidak memiliki musculus
erector pilorum , sehingga posisi dari cilium ini dipengaruhi oleh musculus orbicularis oculi,
musculus riolan dan tarsal plate. Oleh karena itu apabilatarsus ataupun musculus orbicularis
oculi abnormal, maka posisi cilium dan arah nya juga akan terpengaruh.
4. Upper Lid Elevator.
The levator aponeurosis berfusidengan septum orbita sekitar 4 mm diatas margo
superior tarsus. Serabut posterior dari otot ini melekat pada 1/3 bawah permukaan
anterior tarsus. Cornu medial dan lateral meluas menjadi ligamentum buccalis.
Aponeurosis dapat diakses saat operasi melalui kulit ataupun konjungtiva.
Muller muscle -> terletak pada margo superor tarsus dan dapat diakses
transconjunctival
5. Lower lid retractor
Aponeurosis tarsal inferior, merupakan ekspansi kapsulopalpebral dari musculus
rectus inferior dan analog terhadap aponeurosis levator palpebra
Musculus tarsalis inferior analog dengan musculus muller
6. Drainase limfatik
Palpebra superior dan canthus lateral drainase limfatik menuju lnn. Preauricular
Palpebra inferior dan canthus medial drainase limfatik menuju limfonodi
submandibular

Gangguan Palpebra :
1. Trichiasis
Definisi

Kondisi misdireksi atau gangguan arah dari cilium yang karena pertumbuhannya yang salah
ataupun akibat fibrosis pada margo palpebra akibat blefaritis kronis, herpes zooster
ophtalmicus, dan trachoma. Trichiasi harus dapat dibedakan dengan pseudotrichisis akibat
entropion karena pada beberapa kasus entropion intermiten dan kondisi ini sering salah
diagnosis
dengan
trichiasis
dan
terapi
yang
tidak
sesuai.
Tanda
Misdireksi cilium ke posterior yang berasal dari origo normal. Trauma epitelium kornea
dapat menyebabkan erosi epitel punctata dan iritasi oculi yang diperburuk dengan
mengedipkan mata. Pada kasus yang kronis dapat terjadi ulkus kornea dan pembentukkan
pannus.
Terapi
1.Epilasi,teknikinimenggunakanforcepataupinsetepilasi.
2. Elektrolisis. Metode ini dilakukan pada cilium yang mengalami trichiasis dalam jumlah
sedikit dan terisolasi.
Metode ini dilakukan dengan menggunakan suatu
jarum
electrocautery Selanjutnya cilium diambil. Terapi ulang untuk rekurensi sering dapat
meyebabkan fibrosis.
3. Cryotherapy , metode ini sangat efektif untuk mengeliminasi banyak bulu mata. Metode ini
menggunakan cryoprobe dengan double freeze thaw cycle pada suhu 20o C. Komplikasi
yang dapat terjadi meliputinekrosis kutis, depigmentasikulit hitam, kerusakan glandula
meibom yang dapat mempengaruhilapisan air mata, dan terbentuknya takik atau cekungan
pada margo palpebra.
4. Argon laser Ablation. Berguna untuk bulu mata yang tersebar dalam jumlah sedikit,
dilakukan dengan cara
Setting awal 50um, o,2 detik, dan 1000mW
Laser diberikan pada radiks ciliumdan akan terbentuk kawah kawah kecil

Ukuran titik atau area diperluas menjadi 200 um dan kawah diperalam untuk
mencapai folikel

Metode ini diberikan 12 kali dalam satu sesi dan kebanyakan pasien sembuh dengan 2
atau 3 sesi

5. Surgical -> mencangkup reseksi dengan bentuk baji atau eksisi lamellar anterior berguna
untuk mengambil bulu mata yang resisten terhadap metode terapi lain. Kebanyakan trichiasis
membutuhkan
reposis
lamelar
anterior.

Congenital distichiasis
Definisi
Congenital distichiasis merupakan suatu kondisi dimana bulu mata baik komplit maupun
parsial keluar pada atau dibelakang dari muara glandula meibom. Kondisi ini jarang dapat
merupakan kondisi yang sporadik muncul atau bisa juga diturunkan. Pada minoritas pasien
juga memiliki manifestasi limphoedema kronis, spinal arachnoid cyst, dan congenital heart
defect (Lymphoedema-trichiasis syndrome)
Tanda
Baris kedua bulu mara baik parsial maupun komplit muncul pada atau sedikit dibelakang
pada muara glandula meibom. Bulu mata yang mengalami gangguan cenderung lebih tipis,
lebih pendek, dan kurang berpigmen dibandingkan dengan bulu mata yang normal dan sering
mengarah ke posterior
Terapi

Terapinya mencangkup lamellar eyelid division dan cryotherapy


Incisi dibuat sepanjang grey line yang membagi palpebrae menjadi lamella anterior
dan lamella posterior

Lamella posterior dan folikel cilium dilakukan frozen dengan double freeze thaw
cycle dengan suhu -20o C

Kemudian lamella disatukan kembali

Acquired distichiasis
Definisi
Acquired distichiasis(metaplastic lashes) disebabkan oleh metaplasia atau dediferensiasi
glandula meibom menjadi cilium. Penyebab utama adalah pada tahap lanjut sikatrik pada
konjungtivitis yang berhubungan denga trauma kimia, SJS dan pemphigoid sikatrikal oculi
Tanda -> culu mata tampak berasal dari muara glandula meibom
Terapi -> kasus yang ringan diterapi sama seperti trichiasis. Pada kasus yang berat
membutuhka lamellar eyelid division dan cryotherapy.

Phthiriasis palpebrum
Causative agent -> kutu pthriasi pubis . Pthiriasis pubis dapat tinggal pada rambut pubis.
Seseorang yang terinfeksi kutu ini, dapat mengalami keluhan yang sama pada daerah
berambut lain ditubuh meliputi rambut dada, axilla, maupun palpebra. Biasanya menginfeksi
anak anak dengan higienitas yang rendah dan dapat menyebabkan rasa gatal dan iritasi
kronis
Tanda -> Kutu akan menempel pada bulu mata. Ova dan tempurung tampak berbentuk
mutiara oval, coklat menempel pada basis cilia.
Terapi

Memangkas cillia sampe basis cillia -> berperan pada pemberantasan ova da kutu,
menghancurkan habitat untuk perlindungan dan reproduksi kutu.
Membunuh kutu dengan menggunakan obat topikal yellow mercuric oxide 1% atau
anticholinesterase agent, laser atau cryotherapy, apabila memangkas cilia tidak
memungkinkan
Menghilangkan kutu dari pasien, keluarga, baju, tempat tidur untuk mencegah
rekurensi

2. Herpes zooster ophtalmicus


Merupakan infeksi pada mata (mencangkup palpebra) yang disebabkan oleh varicella zooster
virus. Biasanya sering mengenai orang tua namun dapat juga terjadi pada usia sangat muda
dan bisa menjadi berat pada pasien dengan imunocompromised.
Manifestasi klinis
Presntasi -> nyeri pada distribusi nervus trigeminalis / cranialis V cabang I (n. Ophtalmicus)
Tanda :
Maculopapular pada daerah frontal
Progresi menjadi vesikel, pustul, crust, dan ulserasi

Edema periorbital dapat menyebar ke sisi yang lain sehingga dapat menyebabkan
misdiagnosis dengan kondisi bilateral

Komplikasi pada mata.

Terapi
1. Sistemik -> diberkan selam 7 hari dengan
valacyclovir 1 gram 3 kali sehari
Famcyclovir 250 mg 3kali sehari atau 750 mg sekali sehari
2. Topikal digunakan 3 kali sehari hingga krusta terlepas atau hilang.
Krim asiklovir atau pancyclovir
Kombinasi steroid antibiotik seperti
o

Fucidin H (Hydrocortison 1%, fucdic acid 2%)

Terra-cortil (hydrocortisone 1 % oxytetracycline 3%)

3. Blepharitis
Blepharitis merupakan peradangan atau inflamasi yang terjadi pada palpebra. Blepharitis
dapat dibagi menjadi 2, yaitu
a. Blepharitis anterior
Berkaitan dengan seborhoic dermatitis yang mencangkup daerah scalp, plica
nasolabialis, area retroauricular, dan sternum. Kondisi berkaitan dengan pemecahan

lemak yang berlebih oleh bakteri corynebacterium acne menjadi asam lemak yang
bersifat iritatif.
Berkaitan dengan causa bakteri staphylococcal

b. Blepharitis posterior -> memiliki manifestasi terhadap glandula meibom yang mengalami
disfungsi (rosacea oculi) berhubungan dengan rosacea facial.
Meibomian seborhea
Meibomianitis
Blepharitis anterior
Manifestasi klinis
1. Gejala -> margo palpebra terasa terbakar, rasa bepasir, photophobia ringan , krusta dan
kemerahan. Biasanya makin buruk pada pagi hari dan menunjukkan gejala eksaserbasi dan
remisi.
2. Tanda
Staphylococcus blepharitis -> memiliki karakteristik hyperemia dan talangectasia
pada anterior margo palpebra dengan skuama yang keras yang terletak pada basis
cilium
Seborrhoeic blepharitis -> memiliki karakteristik margo palpebra anterior hiperemis
dan berminyak disertai bulu mata terlihat lengket. Skuama halus dan terlihat pada
margo palpebra dan cilium

Severe long-standing anterior blepharitis -> khususnya pada kausa staphylococcal


dapat menyebabkan hypertrophy dan fibrosis pada margo palpebrae, madarosis,
trichiasis, dan poliosis

3. Association
Hordeolum eksternal -> dapat berkembang melalui penyebaran infeksi pada glandula
zeis moll
Terjadi ketidakstabila tear film pada 30 50% kasus
Differential diagnosis
Dry eye -> ddapat menyebabkan gejala yang serupa, namun berbeda dengan
blepharitis, iritasi ocular jarang berat pada pagi hari dan biasanya berkembang pada
kemudian hari
Infiltrating lid tumor -> harus dicurigai pada pasien dengan tampakan blepharitis
kronik yang unilateral atau asimetris, khususnya ketika berhubungan dengan
madarosis
Terapi

Hygienitas palpebrae -> membersihkan krusta dan produk toxic dengan cara
membersihkan margo palpebrae setiap hari dengan lid scrub, atau cotton bud yang
dicelupkan pada larutan shampoo bayi 25% atau larutan sodium bicarbonat lemah.
Antibiotik salep -> pemberian salep antibiotik ini dilakukan setelah melakukan
hygienitas palpebrae. Salep yang biasa digunakan yaitu sodium fusidat atau
kloramfenikol untuk mengobati foliculitis akut

Steroid topical lemah -> fluorometholone diberikan dalam jangka waktu pendek 4 kali
sehari -> berguna untuk konjungtivitis papilar dan marginal keratitis sekunder

Tear subtitusi -> dibutuhkan berkaitan dengan tear film instability

Blepharitis posterior
Meibomian Seborrhoea
Memiliki karakteristik sekresi glandula meibom yang berlebih. Tanda klinis lain
meliputi
Pada muara glandula meibom ditutupi oleh globul minyak yang kecil. Tekanan pada
tarsus dapat menybabkan ekspresi sejumlah minyak glandula meibom

Lapisan air mata -> berminyak dan seperti sabundan pada beberapa kasus
terakumulasi pada margo palpebra atau canthus medial

Meibomianitis
Memiliki karakteristik inflamsi dan obstruksi pada glandula meibom. Tanda tanda
lain :
Margo palpebrae posterior tampak hiperemi, telangiectesia dan obstruksi muara
glandula meibom. Pada kasus yang kronis terjadi dilatasi kistik dari duktus meibom,
dengan penebalan da cekungan pada margo palpebra

Sekresi glandula meibom tampak turbid sperti plak pasta gigi, pada kasus yang kronis
tidak tampak sekresi meibom

Komplikasi
Pembentukkan khalazion, dan terjadi rekurensi
Ketidakstabilan lapisan air mata pada 30% pasien. Hal ini dapat terjadi akibat
ketidakseimbangan komponen cair dan lemak -> evaporasi dan kering
Konjungtivitis papilar dan erosi epitel kornea inferior
Terapi
1. Tetracycline sistemik -> namun tetap tidak dapat digunakan pada anak anak dibawah usia
12 tahun, ibu hamil dan menyusui karena dapat menyebabkan terdeposisi pada tulang dan
gigi yang sedang tumbuh dapat menyebabkna pewarnaan pada gigi dan hipoplasia dental.
Tetracycline 250 mg 4 kali sehari selama 1 minggu dan kemudian 2 kali sehari selama
6 12 minggu berikutnya
Doxycycline 100 mg 2 kali sehari selama 1 minggu dan kemudian 1 kai sehari selama
6 -12 minggu

Minocycline 100 mg sekali sehari selama 6-12 minggu

2. Eritromycin azytromycin ketika ada kontraindikasi terhadap tetracycline


3.
Hygienitas
palpebra,
steroid
topikal
lemah,
dan
tear
subtitutes
4. Kompres hangat untuk mencairkan sebum yang megeras dan tekanan mekanik pada

glandula meibom untuk mengurangi lemak yang iritatif didalam glandula


5. Topical sodium fusidate gel pada pasienyang berhubnungan dengan acne rosacea.

4. Hordeolum
Hordeolum interna
Definisi
Hordeolum interna merupakan abses yang disebabkan oleh infeksi stafilococus pada glandula
meibom yang bersifat akut
Tanda
Palpebra bagian tarsal terasa nyeri, nyeri tekan, edema. Lesi dapat membesar dan dapat
menghasilkan discharge baik keposterior menuju konjungtiva atau ke anterior menuju kulit
Terapi
Insisi dan kuretase dibutuhkan jika nodul sisa tetap ada seteah infeksi akut hilang
External Hordeolum
Definisi
Hordeolum eksterna atau stye merupakan abses staphylococcal pada folikel bulu mata yang
bersifat akut yang berhubungan dengan glandula zeis moll yang biasanya megenai anak
anak.
Tanda
Pembengkakan disertai nyeri tekan pada margo palpebrae pada kulit. Pada kondisi ini dapat
terjadi lesi multipel dan beberapa abses dapat mencangkup seluruh palpebra.
Terapi
Kompres panas dan epilasi pada bulu mata yang berhubungna dengan infeksi nya dapat
mempercepat resolusi atau penyembuhan.
5. Chalazion
Definisi
Chalazion merupakan lesi peradangan lipogranulomatosa steril, dan kronis yang disebabkan
oleh blok muara glandula meibom dan terhentinga sekresi sebaceosa dari glandula meibom.
Pasien dengan acne rosacea atau dermatitis seborrhoic memiliki resiko lebih tinggi terjadi nya
kondisi ini , dan sering multipel dan rekuren
Manifestasi klinis
Presentasi -> pembesaran nodul yang tidak nyeri. Kadang khalazion pada palpebrae
superior dapat menekan kornea dan menginduksi astigmatism dan menyebabkan
pandangan kabur.
Tanda -> lesi kokoh, bulat, tidak nyeri, terletak pada tarsal plate dengan berbagai
ukuran, dapat multipel dan bilateral. Eversi dari palpebrae dapat menunjukkan

berhubungna dengan granuloma polypoidal jika lesi sudah ruptur pada konjungtiva
tarsalis
Terapi
Chalazion kecil kadang kadang tidak tampak secara spontan. Lesi yang menetap dapat
diobati dengan cara :
Operasi pembedahan -> palpebra di eversikan dengan klem khusus, kemudian kista di
insisi secara vertikal, dan konten didalamnya dicuretase pada tarsal plate. Sangat
penting agar tidak salah mendiagnosis dengan carcinoma glandula sebaceosa pada
recurrent chalazion. Pada kasus yang meragukan , lesi harus dibiopsi dan diperiksa
secara histopathology
Injeksi steroid pada lesi. Diberikan injeksi 0,1 0,2 ml triamcinolone diacetate
aquous di encerkan dengan lignocaine hingga konsentrasinya 5mg/ml pada
konjungtiva dengan menggunakan jarum 30 gauge. Tingkat kesuksesan 1 injeksi
mencapai 80%. Pada kasus yang tidak responsif, injeksi yang kedua dapat diberikan
dengan jarak 2 minggu.

Tetracycline sistemik -> dibutuhkan sebagai profilaksis pada pasien dengan recurent
chalazia, khususnya jika berhubungan dengan acne rosacea atau dermatitis seborhoic.

KATARAK
Katarak adalah cacat mata yang disebabkan pengapuran pada lensa mata sehingga
penglihatan menjadi kabur dan daya akomodasi berkurang.
JENIS-JENIS KATARAK
1. Katarak kongenital
adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang
dari 1 tahun.
- Penyebab katarak kongenital :

Mungkin herediter dengan atau tanpa penyakit mata atau penyakit sistemik lain.
Infeksi teratogenik yang diderita ibu saat kehamilan seperti campak jerman, cacar air,
penyakit gondong, hepatitis dan poliomyelitis.
Infeksi maternal selama masa kehamilan seperti pada infeksi toksoplasmosis
Ibu hamil penderita diabetes melitus
Kelainan genetik seperti Trisomi 21, galaktosemia dan sindrom Lowe

- Katarak kongenital digolongkan menjadi 2 macam katarak :


a. Kapsulolentikuler dimana pada golongan ini termasuk katarak kapsuler dan katarak Polaris
b. Katarak lentikuler termasuk dalam golongan ini katarak yang mengenai korteks atau
nucleus lensa.

- Jenis-jenis katarak kongenital :


1. Katarak nuklear
2. Katarak zonular
3. Katarak bentuk kumparan
4. Katarak polar anterior dan posterior
5. Katarak piramidal
- Katarak kongenital dapat menimbulkan komplikasi lain berupa nistagmus dan strabismus
- Tindakan pengobatan adalah operasi, operasi dilakukan bila refleks fundus tidak tampak,
biasanya bila katarak bersifat total, operasi dapat dilakukan pada usia 2 bulan atau lebih
muda. Tindakan bedah pada katarak kongenital yang umum dikenal adalah disisio lensa,
ekstraksi linier, ekstraksi dengan aspirasi.
- Waktu pengobatan katarak kongenital tergantung pada :
a. Katarak totak bilateral, dimana sebaiknya dilakukan pembedahan secepatnya segera setelah
katarak terlihat.
b. Katarak total unilateral, dilakukan pembedahan 6 bulan sesudah terlihat atau segera
sebelum terjadiny juling; bila terlalu muda akan mudah terjadi ambliopia bila tidak dilakukan
tindakan segera.
c. Katarak total atau kongenital unilateral, mempunyai prognosis yang buruk, karena mudah
sekali terjadi ambliopia; karena itu sebaiknya dilakukan pembedahan secepat mungkin, dan
diberikan kacamata segera dengan latihan beban mata.
d. Katarak bilateral partial, biasanya pengobatan lebih konservatif sehingga sementara dapat
dicoba dengan kacamata atau midriatika, bila terjadi kekeruhan yang progresif disertai
dengan mulainya tanda-tanda juling dan ambliopia maka dilakukan pembedahan, biasanya
mempunyai prognosis yang lebih baik.

2. Katarak Rubela
- Rubella pada ibu dapat mengakibatkan katarak pada lensa fetus.
- Terdapat 2 bentuk kekeruhan yaitu kekeruhan sentral dengan perifer jernih seperti mutiara
dan kekeruhan diluar nuclear yaitu korteks anterior dan posterior atau total.
- Mekanisme terjadinya tidak jelas, akan tetapi diketahui bahwa rubella dapat dengan mudah
menular melalui barier plasenta. Virus ini dapat masuk atau terjepit di dalam vesikel lensa
dan bertahan di dalam lensa sampai 3 tahun

3. Katarak Juvenil
- Kekeruhannya halus dan bulat, umumnya timbul pada usia tigapuluhan
- Katarak ini perkembangannya lamban dan biasanya tidak mengganggu penglihatan.
- Jika kekeruhan ini menyatu akan berbentuk cincin di perifer yang disebut katarak
koronaria, apabila tipis dan kebiru-biruan disebut katarak serulea.
- Biasanya merupakan penyulit penyakit sistemik ataupun metabolik dan penyakit lainnya
seperti katarak metabolik, distrofi miotonik, katarak traumatic dan katarak komplikata.
4. Katarak Senil
- Biasanya timbul pada usia 50 tahun
- Secara klinik dikenal dalam 4 stadium yakni insipient, imatur, matur dan hiper matur
- Pada stadium awal (katarak insipiens) mungkin ada celah-celah kekeruhan di bagian perifer
atau berbentuk baji (kuneiform). Keadaan ini bisa diperburuk dengan adanya katarak nuklear
yang merupakan lanjutan daripada sklerosis nuclear fisiologis. Dengan berlanjutnya
pertumbuhan katarak, tajam penglihatan menjadi terganggu (katarak imatur).
Katarak dikatakan matur bila lensa sudah keruh seluruhnya sehingga fundus tidak dapat
dilihat lagi. Di antaranya ada stadium intemusen yaitu stadium membengkaknya lensa dan
edema lensa. Pada akhirnya katarak matur berubah menjadi stadium hipermatur, yaitu
korteksnya mencair sehingga intinya mengambang turun ke dasar kantong kapsul. Pada
stadium ini mungkin terjadi reaksi fakolitik dan glaukoma. Bila proses katarak berjalan lanjut
disertai dengan kapsul yang tebal maka korteks akan memperlihatkan bentuk menjadi
sekantong susu disertai dengan nukleus yang terbenam di dalam korteks lensa karena lebih
berat. Keadaan ini disebut sebagai katarak morgagni.
- Katarak senile dibagi menjadi 2 jenis yakni
1. Katarak kortikal
Kekeruhan korteks lensa perifer berbentuk ruji roda yang dipisahkan oleh celah-celah air.
Meningkatnya cairan yang masuk ke dalam lensa mengakibatkan terjadinya separasi lamellar
dan akhirnya terjadi kekeruhan korteks berwarna abu-abu putih yang tidak merata.
2. Katarak nuklear
Kekeruhan inti embrional dan inti dewasa yang berwarna kecoklatan. Korteks anterior dan
posterior relative jernih dan masih tipis. Bentuk kekeruhan nuklear ini bisa menyebabkan
terjadinya miopia berat yang memungkinkan penderita membaca jarak dekat tanpa memakai
kaca mata koreksi seperti seharusnya (second sight)
5. Katarak Brunesen

- Katarak yang berwarna coklat sampai hitam (katarak nigra) terutama pada nukleus lensa,
juga dapat terjadi pada katarak pasien diabetes mellitus dan myopia tinggi. Sering tajam
penglihatan lebih baik daripada dugaan sebelumnya dan biasanya ini terdapat pada orang
berusia lebih dari 65 tahun yang belum memperlihatkan adanya katarak kortikal posterior.
6. Katarak diabetes
- Diakibatkan karena adanya penyakit diabetes mellitus.
- Terbagi dalam 3 bentuk :
Pasien dengan dehidrasi berat, asidosis dan hiperglikemia nyata, pada lensa akan terlihat
kekeruhan berupa garis akibat kapsul lensa berkerut. Bila dehidrasi lama akan terjadi
kekeruhan lensa, kekeruhan akan hilang bila terjadi rehidrasi dan kadar gula normal kembali
Pasien diabetes juvenile dan tua tidak terkontrol, dimana terjadi katarak serentak pada
kedua mata dalam 48 jam, bentuk dapat snow flake atau bentuk piring subkapsular.
Katarak pada pasien diabetes dewasa dimana gambaran secara histologik dan biokimia
sama dengan katarak pasien nondiabetik.

RETINA
Anatomi Retina :
Retina manusia terdiri atas sepuluh lapis. Urutan lapisan-lapisan tersebut (ke arah kornea)
adalah:
1. Retinal pigment epithelium (RPE)
2. Lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar.(Rods/Cones)
3. Membran limitans eksterna - Lapisan yang membatasi bagian dalam fotoreseptor dari
inti selnya
4. Lapisan luar inti sel fotoreseptor
5. Lapisan luar plexiformis - Pada bagian makular, ini dikenal sebagi "Lapisan serat
Henle" (Fiber layer of Henle).
6. Lapisan dalam badan inti
7. Lapisan dalam plexiformis
8. Lapisan sel ganglion - Lapisan yang terdiri dari inti sel ganglion dan merupakan asal
dari serat syaraf optik.
9. Lapisan serat syaraf - Yang mengandung akson - okson sel ganglion yang berjalan
menuju ke nervus opticus.
10. Membran limitans interna - Tempat sel-sel Mller berpijak.
Gangguan pada Retina :
1. Retinopati Diabetikum

adalah kerusakan progresif pada retina akibat diabetes menahun.


Kelainan ini bisa terjadi pada penderita diabetes yang mendapatkan insulin maupun yang
tidak.
Diabetes bisa menyebabkan 2 macam perubahan pada retina:
1. Retinopati non-proliferatif
Terjadi robekan dan kebocoran pada pembuluh darah kecil (kapiler) di dalam retina.
Daerah di sekeliling robekan kapiler membengkak, menbentuk tonjolan kecil yang
mengandung endapan protein darah.
Pada stadium awal penyakit ini tidak menyebabkan kebutaan.
Perdarahan retina yang kecil bisa merubah bagian lapang pandang. Jika perdarahan terjadi
di dekat makula, maka penglihatan menjadi kabur.
2. Retinopati proliferatif
Kerusakan pada retina merangsang pertumbuhan pembuluh darah yang baru.
Pembuluh darah yang baru tumbuh secara abnormal, menyebabkan terbentuknya jaringan
parut dan ablasio retina (kadang-kadang).
Pembuluh darah bisa tumbuh dan mengalami perdarahan ke dalam humor vitreus.
Retinopati proliferatif bisa menyebakan kebutaan total.
PENYEBAB
Retinopati diabetikum terjadi karena adanya kerusakan pada pembuluh darah yang menuju
ke retina.
Kadar gula darah (glukosa) yang tinggi pada diabetes menyebabkan penebalan pembuluh
darah yang kecil.

Pada stadium awal (retinopati non-proliferatif), pembuluh darah menjadi berlubang-lubang


dan isinya merembes ke dalam retina, menyebabkan penglihatan menjadi kabur.
Pada stadium lanjut (retinopati proliferatif), terjadi pertumbuhan pembuluh darah yang baru
di dalam mata.
Pembuluh darah yang baru ini sangat rapuh dan bisa mengalami perdarahan sehingga
menyebabkan penurunan fungsi penglihatan.
Beratnya retinopati dan penurunan fungsi berhubungan dengan kadar glukosa dan lamanya
seseorang menderita diabetes.

Biasanya retinopati baru terjadi dalam waktu 10 tahun setelah seseorang menderita diabetes.
GEJALA
Gejalanya berupa:
# Penurunan ketajaman penglihatan
# Penderita melihat bintik-bintik yang malayang-layang.
Banyak penderita yang tidak menunjukkan gejala lain sebelum terjadi perdarahan utama pada
mata.
DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata.
Pemeriksaan yang biasa dilakukan untuk menilai keadaan retina adalah pemeriksaan dengan
oftalmoskop dan fotografi retina.
PENGOBATAN
Tujuan pengobatan adalah mengontrol diabetes dan tekanan darah tinggi.
Pengobatan terhadap diabetes dan tekanan darah tinggi biasanya tidak menyebabkan
perbaikan kerusakan yang telah terjadi, tetapi akan memperlambat perkembangan retinopati.
Untuk menghancurkan pembuluh darah yang baru dan menyumbat pembuluh darah yang
bocor, dilakukan fotokoagulasi laser.

Jika terjadi perdarahan hebat dari pembuluh darah yang telah mengalami kerusakan,
dilakukan vitrektomi (pembedahan untuk membuang darah dari humor vitreus).
Setealah vitrektomi, fungsi penglihatan akan menunjukkan perbaikan dan secara bertahap
mata akan membentuk humor vitreus yang baru.
PENCEGAHAN
Cara pencegahan yang terbaik adalah mengontrol diabetes dan tekanan darah tinggi.
Penderita diabetes sebaiknya menjalani pemeriksaan mata secara rutin (1 kali/tahun), yang
dimulai pada tahun ke 5 setelah terdiagnosis menderita diabetes.

2. Kelainan Pembuluh Darah Retina


Kelainan pembuluh darah yang menuju ke mata bisa berupa perdarahan, tidak adekuatnya
pasokan darah dan penyumbatan pembuluh darah.

Akibat yang serius adalah kerusakan retina, yang kadang-kadang menetap dan menyebabkan
penurunan fungsi penglihatan bahkan kebutaan.

Retinopati Arteriosklerotik
Pada keadaan ini, arteri-arteri kecil yang membawa darah ke mata mengalami penyumbatan
parsial karena dindingnya menebal.
Dengan menggunakan oftalmoskop, bisa terlihat pembuluh darah yang menebal dan petunjuk
lainnya dari menurunnya pasokan darah ke retina.
Penebalan pembuluh darah itu sendiri biasanya tidak mengganggu penglihatan, tetapi
merupakan petunjuk bahwa pembuluh darah di mata dan bagian tubuh lainnya tidak sehat
sehingga perlu dilakukan tindakan pencegahan dan pengobatan.

Retinopati Hipertensif
Retinopati Hipertensif adalah kerusakan retina akibat tekanan darah tinggi (hipertensi).
Penyakit ini terjadi jika tekanan darah sangat tinggi (misalnya pada hipertensi maligna dan
toksemia gravidarum).
Hipertensi bisa menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah di dalam mata.
Semakin tinggi dan semakin lama hipertensi berlangsung, maka semakin berat kerusakan
yang terjadi.

Beratnya kerusakan retina (retinopati) digambarkan dengan skala I sampai IV.


Pada derajat I biasanya tidak ditemukan gejala.
Pada derajat IV terjadi pembengkakan saraf optikus (disebut papilledema) dan makula (pusat
penglihatan pada retina), yang bisa menyebabkan penurunan fungsi penglihatan.
Pada stadium lanjut, darah bisa merembes ke dalam retina.
Bercak retina mengalami kerusakan karena kekurangan pasokan darah dan lama-lama lemak
akan tertimbun di dalam retina.
Selain gangguan penglihatan, penderita juga bisa merasakan sakit kepala.
Dengan menggunakan oftalmoskop, bisa dilihat adanya penyempitan pembuluh darah dan
kelebihan cairan yang merembes dari pembuluh darah.
Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan adalah angiografi fluoresensi.

Satu-satunya pengobatan untuk retinopati hipertensif adalah mengontrol tekanan darah.

Penyumbatan Arteri Retina


Arteri retina adalah pembuluh darah utama yang membawa darah ke retina.
Jika arteri retina tersumbat, maka akan terjadi kebutaan mendadak tanpa disertai rasa nyeri.
Penyumbatan ini bisa disebabkan oleh aterosklerosis, bekuan darah atau endapan lemak
(biasanya lemak yang berasal dari sumsum tulang yang patah dan masuk ke dalam aliran
darah sebagai emboli).
Penyebab lainnya adalah peradangan pembuluh darah di kepala (arteritis temporalis).
Pelebaran arteri retina bisa dilakukan dengan menghirup campuran karbon dioksida dan
oksigen.
Dengan cara ini penyumbatan akan turun ke bawah sehingga mengurangi daerah retina yang
terkena.
Bisa diberikan antikoagulan untuk mencegah pembentukan bekuan lebih lanjut atau untuk
mencegah penyebaran bekuan darah (yang bisa menyebabkan terjadinya stroke).

Penyumbatan Vena Retina


Vena retina adalah pembuluh darah utama yang membawa darah dari retina.
Penyumbatan vena retina menyebabkan vena yang lebih kecil membengkak dan berkelokkelok.
Permukaan vena menjadi bengkak dan darah bisa merembes ke dalam retina.
Penyumbatan vena retina terutama terjadi pada usia lanjut yang menderita glaukoma,
diabetes, tekanan darah tinggi atau suatu keadaan dimana darah menjadi lebih kental
(misalnya terlalu banyak sel darah merah).
Penyumbatan vena retina menyebabkan penurunan fungi penglihatan yang terjadi secara
lebih lambat dibandingkan dengan penyumbatan arteri retina.
Perubahan yang terjadi berupa pertumbuhan pembuluh darah baru yang abnormal di dalam
retina dan terjadinya glaukoma.
Angiografi fluoresensi bisa membantu menentukan luasnya kerusakan dan rencana
pengobatan.
Untuk menghancurkan pembuluh darah yang abnormal bisa digunakan laser.

Pelebaran vena retina bisa dilakukan dengan menghirup campuran karbon dioksida dan
oksigen.
Dengan cara ini penyumbatan akan turun ke bawah sehingga mengurangi daerah retina yang
terkena.
Pelebaran vena retina bisa dilakukan dengan menghirup campuran karbon dioksida dan
oksigen.
Dengan cara ini penyumbatan akan turun ke bawah sehingga mengurangi daerah retina yang
terkena.

3. Endoftalmitis
Endoftalmitis adalah peradangan pada seluruh lapisan mata bagian dalam, cairan dalam bola
mata (humor vitreus) dan bagian putih mata (sklera).
PENYEBAB
Penyebab terjadinya infeksi adalah:
# Luka yang menusuk mata
# Pembedahan
# Bakteri yang sampai ke mata melalui aliran darah.
GEJALA
Gejalanya seringkali berat, yaitu berupa:
- nyeri mata
- kemerahan pada sklera
- fotofobia (peka terhadap cahaya)
- gangguan penglihatan.
DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata.
PENGOBATAN
Endoftalmitis merupakan suatu keadaan darurat.
Pengobatan harus segera diberikan, menunda pengobatan bisa menyebabkan kebutaan.
Diberikan antibiotik dan corticosteroid.

Untuk mengeluarkan cairan yang terinfeksi dari bola mata mungkin perlu dilakukan
pembedahan.

4. Retinitis Pigmentosa
Retinitis Pigmentosa adalah suatu kemunduran yang progresif pada retina yang
mempengaruhi penglihatan pada malam hari dan penglihatan tepi dan pada akhirnya bisa
menyebabkan kebutaan.
PENYEBAB
Retinitis pigmentosa merupakan penyakit keturunan yang jarang terjadi.
Beberapa bentuk penyakit ini diturunkan secara dominan, hanya memerlukan 1 gen dari salah
satu orang tua; bentuk yang lainnya diturunkan melalui kromosom X, hanya memerlukan 1
gen dari ibu.
Penyakit ini terutama menyerang sel batang retina yang berfungsi mengontrol penglihatan
pada malam hari.
Pada retina bisa ditemukan pigmentasi yang berwarna gelap.
GEJALA
Gejala awal seringkali muncul pada awal masa kanak-kanak
Sel batang pada retina (berperan dalam penglihatan pada malam hari) secara bertahap
mengalami kemunduran sehingga penglihatan di ruang gelap atau penglihatan pada malam
hari menurun.
Lama-lama terjadi kehilangan fungsi penglihatan tepi yang progresif dan bisa menyebabkan
kebutaan.
Pada stadium lanjut, terjadi penurunan fungsi penglihatan sentral.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata dengan oftalmoskop.
Beberapa pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui keutuhan retina:
# Ketajaman penglihatan
# Tes refraksi
# Gangguan pengenalan warna

# Respon refleks pupil


# Pemeriksaan slit lamp
# Tekanan intraokuler
# USG mata
# Fotografi retina
# Angiografi fluoresensi
# Elektroretinogram.
PENGOBATAN
Belum ada pengobatan yang efektif untuk retinitis pigmentosa.
Pemakaian kaca mata gelap untuk melindungi retina dari sinar ultraviolet bisa
mempertahankan fungsi penglihatan.
Meskipun masih dalam perdebatan, penelitian terakhir menunjukkan bahwa pemberian
antioksidan (misalnya vitamin A palmitat) bisa menunda perkembangan penyakit ini.
Penderita dianjurkan untuk berkunjung secara teratur kepada spesialis mata untuk memantau
terjadinya katarak atau pembengkakan retina.
PENCEGAHAN
Penyuluhan genetik bisa membantu menemukan adanya resiko retinitis pigmentosa dalam
suatu keluarga.

5. Kemunduran/Degenerasi Makula
Degenerasi Makula adalah suatu keadaan dimana makula mengalami kemunduran sehingga
terjadi penurunan ketajaman penglihatan dan kemungkinan akan menyebabkan hilangnya
fungsi penglihatan sentral.
Makula adalah pusat dari retina dan merupakan bagian yang paling vital dari retina.
Makula merupakan bagian dari retina yang memungkinkan mata melihat detil-detil halus
pada pusat lapang pandang.
Ada 2 macam degenerasi makula:
1. Degenerasi makula atrofik (kering) : terdapat endapan pigmen di dalam makula tanpa
disertai pembentukan jaringan parut, darah atau perembesan cairan lainnya

2. Degenerasi makula eksudatif (basah) : perembesan cairan membentuk endapat yang


seringkali dikelilingi oleh daerah perdarahan yang kecil. Pada akhirnya endapan ini akan
mengkerut dan meninggalkan jaringan parut.
Kedua jenis degenerasi tersebut biasanya mengenai kedua mata secara bersamaan.
PENYEBAB
Degenerasi terjadi sebagai akibat dari kerusakan pada epitel pigmen retina.
Epitel pigmen retina adalah lapisan pemisah antara retina dan koroid (lapisan pembuluh darah
di belakang retina).
Fungsi dari epitel pigmen retina adalah sebagai penyaring yang menentukan zat gizi dari
koroid yang sampai ke retina.
Bagian dari darah yang berbahaya bagi retina dibuang/dijauhkan dari retina oleh epitel
pigmen retina.
Kerusakan pada epitel pigmen retina mempengaruhi metabolisme pada retina,
Terjadi penipisan retina sehingga memungkinkan masuknya bahan yang berbahaya dari darah
ke dalam retina dan menyebabkan kerusakan serta pembentukan jaringan parut.
Dengenerasi makula terjadi pada usia lanjut, cenderung diturunkan, lebih banyak ditemukan
pada orang kulit putih dan tampaknya lebih sering ditemukan pada perokok.
GEJALA
Secara tiba-tiba ataupun secara perlahan akan terjadi kehilangan fungsi penglihatan tanpa
rasa nyeri.
Kadang gejala awalnya berupa gangguan penglihatan pada salah satu mata, dimana garis
yang sesungguhnya lurus terlihat bergelombang.
Degenerasi makula menyebabkan kerusakan penglihatan yang berat (misalnya kehilangan
kemampuan untuk membaca atau mengemudi), tetapi jarang menyebabkan kebutaan total.
Penglihatan pada tepi luar dari lapang pandang dan kemampuan untuk melihat warna
biasanya tidak terpengaruh, yang terkena hanya penglihatan pada pusat lapang pandang.
DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata.
Beberapa pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai retina:
# Ketajaman penglihatan
# Tesa refraksi

# Respon refleks pupil


# Pemeriksaan slit lamp
# Fotografi retina
# Angiobrafi fluoresensi.
PENGOBATAN
Jika di dalam atau di sekeliling makula ditemukan pertumbuhan pembuluh darah baru,
dilakukan fotokoagulasi laser untuk menghancurkannya.
Tidak ada pengobatan khusus untuk degenerasi makula.
Pemberian seng bisa memperlambat perkembangan penyakit.
Pada stadium awal, bisa dilakukan pembedahan laser untuk membekukan pembuluh darah
koroid yang merembes ke retina.
Pilihan pengobatan lainnya adalah terapi fotodinamik, dimana pengobatan laser dilakukan
setelah penyuntikan zat warna untuk menambah kepekaan pembuluh darah yang merembes
terhadap sinar laser.
PENCEGAHAN
Jika ada anggota keluarga yang menderita degenerasi makula, sebaiknya para perokok segera
berhenti merokok.

6. Ablasio Retina
Ablasio Retina adalah terpisahnya/terlepasnya retina dari jaringan penyokong di bawahnya.
Jaringan saraf yang membentuk bagian peka cahaya pada retina membentuk suatu selaput
tipis yang melekat erat pada jaringan penyokong di bawahnya.
Jika kedua lapisan tersebut terpisah, maka retina tidak dapat berfungsi dan jika tidak kembali
disatukan bisa terjadi kerusakan permanen.
Ablasio bisa bermula di suatu daerah yang kecil, tetapi jika tidak diobati, seluruh retina bisa
terlepas.
Pada salah satu bentuk ablasio, retina betul-betul mengalami robekan. Bentuk ablasio ini
biasanya terjadi pada penderita miopia atau penderita yang telah menjalani operasi katark
atau penderita cedera mata.
Pada ablasio lainnya, retina tidak robek tetapi terpisah dari jaringan di bawahnya.

Pemisahan ini terjadi jika gerakan cairan di dalam bola mata menarik retina atau jika cairan
yang terkumpul diantara retina dan jaringan di bawahnya mendorong retina.
PENYEBAB
Retina merupakan selaput transparan di bagian belakang mata yang mengolah bayangan yang
difokuskan di retina oleh kornea dan lensa.
Ablasio retina seringkali dihubungkan dengan adanya robekan atau lubang pada retina,
sehingga cairan di dalam mata merembes melalui robekan atau lubang tersebut dan
menyebabkan terlepasnya retina dari jaringan di bawahnya.
Hal tersebut bisa terjadi akibat:
# Trauma
# Proses penuaan
# Diabetes berat
# Penyakit peradangan,
tetapi ablasio retina sering kali terjadi secara spontan.
Pada bayi prematur, ablasio retina bisa terjadi akibat retinopati akibat prematuritas.
Selama proses terlepasnya retina, perdarahan dari pembuluh darah retina yang kecil bisa
menyebabkan kekeruhan pada bagian dalam mata yang dalam keadaan normal terisi oleh
humor vitreus.
Jika terjadi pelepasan makula, akan terjadi gangguan penglihatan pusat lapang pandang.
Faktor resiko terjadinya ablasio retina adalah:
- Rabun dekat
- Riwayat keluarga dengan ablasio retina
- Diabetes yang tidak terkontrol
- Trauma.
GEJALA
Ablasio retina tidak menimbulkan nyeri, tetapi bisa menyebabkan gambaran bentuk-bentuk
ireguler yang melayang-layang atau kilatan cahaya, serta menyebabkan penglihatan menjadi
kabur.
Hilangnya fungsi penglihatan awalnya hanya terjadi pada salah satu bagian dari lapang
pandang, tetapi kemudian menyebar sejalan dengan perkembangan ablasio.

Jika makula terlepas, akan segera terjadi gangguan penglihatan dan penglihatan menjadi
kabur.
DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata.
Beberapa pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui keutuhan retina:
# Oftalmoskopi direk dan indirek
# Ketajaman penglihatan
# Tes refraksi
# Respon refleks pupil
# Gangguan pengenalan warna
# Pemeriksaan slit lamp
# Tekanan intraokuler,
# USG mata
# Angiografi fluoresensi
# Elektroretinogram.
PENGOBATAN
Pembedahan laser bisa digunakan untuk menutup lubang atau robekan pada retina yang
biasanya ditemukan sebelum terjadinya ablasio.
Dengan kriopeksi (pemberian dingin dengan jarum es) akan terbentuk jaringan parut yang
melekatkan retina pada jaringan di bawahnya.
Teknik ini digunakan bersamaan dengan penyuntikan gelembung udara dan kepala
dipertahankan pada posisi tertentu untuk mencegah penimbunan kembali cairan di belakang
retina.
Penempelan kembali retina melalui pembedahan terdiri dari pembuatan lekukan pada sklera
(bagian putih mata) untuk mengurangi tekanan pada retina sehingga retina kembali
menempel.
PENCEGAHAN
Gunakan kaca mata pelindung untuk mencegah terjadinya trauma pada mata.
Penderita diabetes sebaiknya mengontrol kadar gula darahnya secara seksama.
Jika anda memiliki resiko menderita ablasio retina, periksakan mata minimal setahun sekali

7. Retinopati Hipertensi (Hypertensive Retinopathy)


adalah kerusakan pada retina sebagai akibat tekanan darah tinggi.
PENYEBAB
Ketika tekanan darah menjadi tinggi, seperti pada hipertensi, retina menjadi rusak. Bahkan
hipertensi ringan bisa merusak pembuluh darah retinal jika segera diobati dalam setahun.
Hipertensi merusak pembuluh darah kecil pada retina, menyebabkan dinding mereka menebal
dan dengan demikian mempersempit pembuluh darah terbuka dan mengurangi suplai darah
menuju retina. Potongan kecil pada retina bisa menjadi rusak karena suplai darah tidak
tercukupi. Sebagaimana perkembangan Retinopati Hipertensi (Hypertensive retinopathy),
darah bisa bocor ke dalam retina. Perubahan ini menyebabkan kehilangan penglihatan secara
bertahap, terutama sekali jika mereka mempengaruhi macula, bagian tengah retina.
DIAGNOSA
Dokter membuat diagnosa Retinopati Hipertensi (Hypertensive retinopathy) menggunakan
ophthalmoscope untuk melihat penampakan khusus pada retina pada seseorang dengan
tekanan darah tinggi. Ketika tekanan darah sangat tinggi, dokter kemungkinan bisa melihat
perubahan lain pada mata, seperti pembengkakan pada bagian depan saraf mata.
PENGOBATAN
Tujuan pengobatan Retinopati Hipertensi (Hypertensive retinopathy) adalah untuk
merendahkan tekanan darah. ketika tekanan darah tinggi adalah berat dan mengancam nyawa,
pengobatan kemungkinan diperlukan segera untuk menyelamatkan penglihatan dan
menghindari komplikasi lain, termasuk stroke, gagal jantung, gagal ginjal, dan serangan
jantung.

8. Pelepasan Retina
Pelepasan retina adalah pemisahan retina dari lapisan dasar pada pembuluh darah.
Ketika retina lepas, terpisah dari bagian persediaan darahnya, mencegahnya berfungsi
sebagaimana mestinya. Hingga retina terpasang kembali, hal tersebut bisa rusak secar
permanent.
Pelepasan bisa dimulai pada area yang kecil, biasanya sebagai akibat robekan retina jika
bagian kecil tersebut tidak menempel kembali, seluruh retina bisa lepas. Sobekan retina yang
bisa menyebabkan pelepasan retina lebih mungkin terjadi pada orang rabun ayam parah
(miopi) atau yang telah mengalami operasi katarak. Sobekan juga lebih mungkin terjadi
setelah luka mata. Cairan atau darah dari kerusakan pembuluh darah bisa menumpuk antara
retina dan jaringan di bawahnya, lebih lanjut memperburuk penglihatan.

GEJALA
Pelepasan retina tidak terasa sakit. Orang biasanya melihat benda kecil, mengambang
(floater) atau sorotan cahaya terang yang berlangsung lebih dari satu detik. Hilangnya
penglihatan di pinggir biasanya pertama kali terjadi, dan kehilangan penglihatan menyebar
sebagaimana perkembangan pelepasan tersebut. Hilangnya penglihatan menyerupai tirai atau
kerudung yang jatuh melintangi garis penglihatan. Jika macula menjadi terlepas, penglihatan
dengan segera memburuk, dan segala sesuatu menjadi buram.
Seorang dokter meneliti retina melalui ophthalmoscope dan biasanya pelepasan bisa dilihat.
Jika pelepasan tidak terlihat, ultrasound scan pada mata bisa menunjukkannya.
PENGOBATAN
Seseorang yang mengalami hilangnya penglihatan dengan tiba-tiba harus mengunjungi ahli
mata dengan segera. Tergantung pada pelepasan tersebut, operasi laser atau operasi
pembekuan (cryopexy) kemungkinan digunakan untuk memperbaiki retina tersebut. Operasi
laser menutup lubang pada retina. Terapi pembekuan menyebabkan sebuah goresan
terbentuk, yang menahan retina tetap di tempat.
Jika retina tersebut terpasang kembali dalam 2 sampai 7 hari, kemungkinan penglihatan
biasanya akan bertambah baik. Jika retina telah terlepas untuk jangka waktu yang lama atau
jika pendarahan atau goresan telah terjadi, kemungkinan penglihatan bertambah baik akan
Berkurang.

9. Kanker Yang Mempengaruhi Retina


Kanker yang mempengaruhi retina secara umum mulai pada choroid, lapisan padat pembuluh
darah yang menyuplai retina. Choroid terjepit di antara retina dan sclera (bagian putih mata
luar). Karena retina bergantung pada choroid untuk persediaan darah dan menopangnya,
kerusakan pada choroid oleh kanker mungkin mempengaruhi pandangan.

1. Choroidal Melanoma
Choroidal melanoma adalah kanker yang berasal dari sel yang menghasilkan zat warna
(melanocytes) choroid. Choroidal melanoma adalah kanker yang paling sering berasal dari
mata. Paling sering terjadi pada orang dengan warna kulit putih dan mata biru. Pada tahap
awal, kanker biasanya tidak mengganggu pandangan. Kemudian, hal itu dapat menyebabkan
pandangan kabur atau kehilangan pandangansecar menyeluruh karena pelepasan retinal.
Metastases ke bagian badan lain mungkin terjadi.

Diagnosa awal adalah penting, karena kemungkinan penyembuhan choroid melanoma


berhubungan dengan ukuran tumor. Diagnosa dibuat menggunakan ophthalmoscope, scaning
ultrasound, dan potret serial.
Jika melanoma kecil, pengobatan dengan laser, radiasi, atau penanaman bahan radioaktif
dapat memelihara pandangan dan menyelamatkan mata. Jika kanker besar, mata harus
disingkirkan. Jika kanker besar tidak dihilangkan, bisa menjalar secara langsung ke dalam
rongga mata (orbit) atau lewat aliran darah (metastasize) ke organ lain, menyebabkan
kematian.
2. Choroidal Metastases
Choroidal metastases adalah kanker yang sudah menjalar ke mata dari bagian badan lain.
Karena suplai darah terbaik di choroids, sering menjadi tempat datangnya kanker dari
penyebaran bagian badan lain. Pada wanita, kanker payudara adalah penebab yang paling
sering. Pada laki-laki, kanker paru-paru atau prostat adalah penyebab yang paling umum.
Sering kali, kanker tidak menimbulkan gejala dan tidak ditemukan selama pemeriksaan
mata rutin. Penyakit dengan gejala, gejala pertama berkurang pandangan dan adanya kilasan
cahaya. Pelepasan Retinal dan kehilangan pandangan hebat mungkin terjadi.
Diagnosa kadang-kadang dibuat selama pemeriksaan mata rutin dengan ophthalmoscope.
Diagnosa dibantu oleh scanning ultrasound. Penegasan diagnosa mungkin melibatkan
menggunakan sebuah jarum kecil untuk mengambil sampel jaringan untuk diperiksa di
bawah mikroskop (biopsi). Pengobatan biasanya dengan terapi kemoterapi dan radiasi.

GANGGUAN REFRAKSI MATA


adalah suatau keadaan dimana penglihatan terganggu karena terlalu pendek atau terlalu
panjang bola mata sehingga mencegah cahaya terfokus dengan jelas pada retina.
1. AMETROPIA
Ametropia adalah suatu keadaan mata dengan kelainan refraksi dimana mata yang dalam
keadaan tanpa akomodasi atau istirahat memberikan bayangan sinar sejajar pada fokus yang
tidak terletak pada retina.
Ametropia dapat ditemukan empat bentuk kelainan yaitu :
a. Myopia
Myopia adalah mata denga daya lensa positif yang lebih kuat sehingga sinar yang sejajar atau
datang dari tak terhingga di fokuskan di depan retina.
Etiologi :
1. Sumbu optik bola mata lebih panjang.

2. Pembiasan media penglihatan kornea lensa yang terlalu kuat.


Gejala:

Melihat jelas bila dekat dan melihat jauh kabur ( rabun jauh ).
Sakit kepala sering disertai juling.
Celah kelopak yang sempit.
Astemopia konvergensi.
Myopik kresen yaitu: gambaran bulan sabit yang terlihat pada polos posterior fundus
matamyopia yang terdapat pada daerah pupil saraf optik akibat tidak tertutupnya
sklera oleh koroid.
Degenerasi macula dan retina bagian perifer.

b. Hipermetropi
Merupakan keadaan gangguan kekuatan pembiasan mata dimana sinar sejajar jauh tidak
cukup dibiaskan sehingga titim fokusnya terletak dibelakang retina.
Etiologi:
1. Bola mata pendek atau sumbu anteropasterior yang pendek.
2. Kelengkungan kornea atau lensa kurang.
3. Indeks bias kurang pada sistem optik mata.
Gejala:

Penglihatan dekat dan jauh kabur.


Sakit kepala.
Silau
Diplopia atau penglihatan ganda.
Mata mudah lelah.
Sakit mata.
Astenopia akomodatif.
Ambiopia
Kelelahan setelah membaca.
Mata terasa pedas dan tertekan.

c. Afakia
Adalah suatau keadaan dimana mata tidak mempunyai lensa sehingga mata tersebut menjadi
hipermetropi tinggi.
Gejala:

Benda yang dilihat menjadi lebih besar 25% dibandingm ukuran sebenarnya.
Terdapat efek prisma lensa tebal sehingga benda terlihat seperti melengkung.
Bagian yang jelas terlihat hanya bagian sentral sedangkan penglihatan tepi kabur.

d. Astigmatisme
Adalah kelainan kelengkungan kornea mata.
Etiologi:
1.
2.
3.
4.

Kelainan kelengkungan permukaan kornea.


Kelainan pembiasan pada miridian lensa yang berbeda.
Infeksi kornea.
Truma distrofi.

Gejala:

Penurunan ketajaman mata baik jarak dekat maupun jauh.


Tidak teraturnya lekukan kornea.

2. PRESBIOPI
Adalah gangguan akomodasi pada usia lanjut yang dpat terjadi akibat kelemahan otot
akomodasi, lensa meta tidak kenyal atau berkurang elastisitasnya akibat sclerosis lensa.
Etiologi:
1. Kelemahan otot akomodasi.
2. Lensa mata tidak kenyal atau berkurangnya elastisitas akibat sklerosis lensa.
Gejala:

Kelelahan mata.
Mata berair.
Sering terasa pedas pada mata.

Penatalaksanaan Gangguan Refraksi Mata:


1. Non bedah.
Gangguan refraksi harus diperbaiki agar cahaya adapat terfokus pada retina. Perbaikan ini
dapat menggunakan sebuah lensa. jenis lensa yang digunakan tergantung dari jenis kelainan
refraksi.
a. Myopia menggunakan lencsa konkaf atau negatif.
b. Hipermetropia menggunakan lensa konveks atau positif.
c. Presbiopia dapat menggunakan lensa konveks tetapi jika pasien tidak dapat melihat jarak
jauh, menggunakan lensa konkaf konveks atau lensa ganda.
d. Astigmatisma menggunakan lensa silinder.

2. Bedah
Pembedahan dapat mejadi alternatif tindakan untuk kelainan refraksi. Radial keratotomy
merupakan tindakan bedah untuk mengatasi myopia sedang 8 16 insisi diagonal dibuat
melalui 90% pada periperal kornea. contac cornea tidak di insisi sehingga penglihatan tidak
dipengaruhi insisi pada kornea yang mana menurunkan panjang antereposterior mata dan
membantu gambaran terfokus pada retina. Komplikasi pada pembedahan ini diantaranya luka
atau scar pada kornea jika insisi terlalu dalam dan kegagalan untuk mencapai kecukupan
perbaikan jika insisi terlalu dangkal.
3. Prosedur bedah
Prosedur bedah yang lain yang dapat dilakukan untuk memperbaikai kelainan refraksi yaitu
epikeratophakia pembedahan dari donor jaringan kornea untuk klien kita yang mengalami
kelainan refraksi akan tetapi dalam hal ini jaringan donor yang digunakan untuk prosedur ini
tidak semua pasien dapat menerima transplantasi korne dari donor.

STRABISMUS
adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penyimpangan abnormal dari letak satu mata
terhadap mata yang lainnya, sehingga garis penglihatan tidak paralel dan pada waktu yang
sama, kedua mata tidak tertuju pada benda yang sama.
Etiologi:

Tarikan yang tidak sama pada 1 atau beberapa otot yang menggerakan mata
(strabismus non-paralitik). Strabismus non-paralitik biasanya disebabkan oleh suatu
kelainan di otak.
Kelumpuhan pada 1 atau beberapa otot penggerak mata (strabismus paralitik).
Kelumpuhan pada otot mata bisa disebabkan oleh kerusakan saraf.

Gejala:
- mata juling (bersilangan)
- mata tidak mengarah ke arah yang sama
- gerakan mata yang tidak terkoordinasi
- penglihatan ganda.
Diagnosa:
Pemeriksaan yang biasa dilakukan:

Pemeriksaan mata standar


Ketajaman penglihatan
Pemeriksaan retina
Pemeriksaan neurologis (saraf).

Terapi:
Jika sampai anak berumur 9 tahun strabismus tidak diobati, maka bisa terjadi gangguan
penglihatan yang permanen pada mata yang terkena (ambliopia).
Pada anak-anak yang lebih kecil, ambliopia lebih cepat terjadi; sedangkan pada anak-anak
yang lebih besar, penyembuhannya memerlukan waktu lebih lama. Karena itu semakin dini
pengobatan dilakukan, maka gangguan penglihatan yang terjadi tidak terlalu berat dan respon
yang diberikan akan lebih baik.
Esotropia akomodatif pada anak rabun dekat bisa diatasi dengan kaca mata sehingga pada
saat melihat benda pada jarak jauh, mata tidak perlu berakomodasi.
Perlu ditentukan accomodative convergence to accomodation (AC/C) ratio, didapat lebih
kecil dari 5.
Pengobatan lainnya adalah obat tetes mata ekotiofat, yang membantu mata memfokuskan
pada benda-benda jarak dekat.
Strabismus paralitik bisa diatasi dengan kaca mata yang terdiri dari lensa prisma (yang
membiaskan cahaya sehingga kedua mata menerima gambaran yang hampir sama) atau bisa
diatasi dengan pembedahan.
Sampai umur 10 tahun, anak sebaiknya menjalani pemeriksaan mata secara teratur.

TRAUMA PADA MATA


Trauma mata adalah rusaknya jaringan pada bola mata, kelopak mata, saraf mata dan atau
rongga orbita karena adanya benda tajam atau tumpul yang mengenai mata dengan
keras/cepat ataupun lambat.
Trauma pada mata dapat mengenai jaringan seperti kelopak mata, konjungtiva, kornea, uvea,
lensa, retina, papil saraf optik dan orbita secara terpisah atau menjadi gabungan trauma
jaringan mata.
I. Trauma Mekanik
1. Trauma tumpul

Trauma pada mata yang diakibatkan benda yang keras atau benda tidak keras dengan ujung
tumpul, dimana benda tersebut dapat mengenai mata dengan kencang atau lambat sehingga
terjadi kerusakn pada jaringan bola mata atau daerah sekitarnya.
Trauma tumpul biasanya terjadi karena aktivitas sehari-hari ataupun karena olah raga.
Biasanya benda-benda yang sering menyebabkan trauma tumpul berupa bola tenis, bola
sepak, bola tenis meja, shuttlecock dan lain sebagianya. Trauma tumpul dapat bersifat
Counter Coupe, yaitu terjadinya tekanan akibat trauma diteruskan pada arah horisontal di sisi
yang bersebrangan sehingga jika tekanan benda mengenai bola mata akan diteruskan sampai
dengan makula.
a. Hematoma Kelopak
Hematoma palpebra merupakan pembengkakan atau penibunan darah di bawah kulit kelopak
akibat pecahnya pembuluh darah palpebra.
Gambaran klinis
Hematoma kelopak merupakan kelainan yang sering terlihat pada trauna tumpul kelopak.
Bila perdarahan terletak lebih dalam dan mengenai kedua kelopak dan berbentuk seperti
kacamata hitam yang sedang dipakai, maka keadaan ini disebut hematoma kacamata.
Henatoma kacamata terjadi akibat pecahnya arteri oftalmika yang merupakan tanda fraktur
basis kranii. Pada pecahnya arteri oftalmika maka darah masuk kedalam kedua rongga orbita
melalui fisura orbita.
Penatalaksanaan
Penanganan pertama dapat diberikan kompres dingin untuk menghentikan perdarahan.
Selanjutnya untuk memudahkan absorpsidarah dapat dilakukan kompres hangat pada
kelopak.

b. Edema konjungtiva
Jaringan konjungtiva yang bersifal lendir dapat menjadi kemotik pada setiap kelainan
termasuk akibat trauma tumpul.
Gambaran klinis
Edema konjungtiva yang berat dapat mengakibatkan palpebra tidak menutup sehingga
bertambah rangsangan terhadap konjungtivanya.
Penatalaksanaan

Pada edem konjung tiva dapat diberikan dekongestan untuk mencegah pembendungan cairan
di dalam selapt lendir konjungtiva. Pada edem konjungtiva yang berat dapat dilakukan disisi
sehingga cairan konjungtiva kemotik keluar melalui insisi tersebut.

c. Hematoma subkonjungtiva
Hematoma subkonjungtiva terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang terdapat dibawah
konjungtiva, seperti arteri konjungtiva dan arteri episklera. Pecahnya pembuluh darah ini bisa
akibat dari batuk rejan, trauma tumpul atau pada keadaan pembuluh darah yang mudah
pecah.
Gambaran klinis
Bila perdarahan ini terjadi akibat trauma tumpul maka perlu dipastikan tidak terdapat robekan
di bawah jaringan konjungtiva atau sklera. Pemeriksaan funduskopi perlu dilakukan pada
setiap penderita dengan perdarahan subkonjungtiva akibat trauma tumpul.
Penatalaksanaan
Pengobatan pertama pada hematoma subkonjungtiva adalh dengan kompres hangat.
Perdarahan subkonjungtiva akan hilang atau diabsorbsi dengan sendirinya dalam 1 2
minggu tanpa diobati.

d. Edema kornea
Gambaran klinis
Edema kornea dapat meberikan keluhan berupa penglihatan kabur dan terlihatnya pelangi
sekitar bola lampu atau sumber cahaya yang dilihat. Kornea akan terlihat keruh dengan uji
plasedo yang positif.
Penatalaksanaan
Pengobatan yang diberikan adalah larutan hipertonik seperti NaCL 5% atau larutan garam
hipertonik 2 8%, glukosa 40% dan larutan albumin. Bila terjadi peninggian tekanan bola
mata maka dapat diberikan asetozolamida. Dapat diberikan lensa kontak lembek untuk
menghilangkan rasa sakit dan memperbaiki tajam penglihatan.

e. Erosi kornea
Erosi kornea merupakan keadaan terkelupasnya epitel kornea yang dapat mengakibatkan oleh
gesekan keras pada epitel kornea.
Gambaran klinis

Pada erosi pasien akan merasa sakit sekali akibat erosi merusak kornea yang mempunyai
serat sensibel yang banyak, mata berair, fotofobia dan penglihatan akan terganggu oleh media
yang keruh.
Pada korne akan terlihat adanya defek efitel kornea yang bila diberi fuorosein akan berwarna
hijau.
Penatalaksanaan
Anestesi topikal dapat diberikan untuk memeriksa tajam penglihatan dan menghilangkan rasa
sakit yang sangat. Anestesi topikal diberikan dengan hati-hati karena dapat menambah
kerusakan epitel.
Epitel yan terkelupas atau terlipat sebaiknya dilepas atau dikupas. Untuk mencegah terjadinya
infeksi dapat diberikan antibiotika spektrum luas seperti neosporin, kloramfenikol dan
sufasetamid tetes.
Akibat rangsangan yang mengakibatkan spasme siliar maka dapat diberikan sikloplegik aksipendek seperti tropikamida.
Untuk mengurangi rangsangan cahaya dan membuat rasa nyaman pada pasien, maka bisa
diberikan bebat tekan pada pasien minimal 24 jam.

f. Erosi kornea rekuren


Erosi rekuren biasanya terjadi akibat cedera yang merusak membran basal atau tukak
metaherpetik. Epitel akan sukar menutup dikarenakan terjadinya pelepasan membran basal
epitel kornea sebagai sebagai tempat duduknya sel basal epitel kornea.
Penatalaksanaan
Pengobatan terutama bertujuan melumas permukaan kornea sehingga regenerasi epitel tidak
cepat terlepas untuk membentuk membran basal kornea.
Pemberian siklopegik bertujuan untuk mengurangi rasa sakit ataupun untuk mengurangi
gejala radang uvea yang mungkn timbul.
Antibiotik dapat diberikan dalam bentuk tetes dan mata ditutup untuk mempercepat
pertumbuhan epitel baru dan mencegah infeksi skunder.
Dapat digunakan lensa kontak lembek pada pasien dengan erosi rekuren pada kornea dengan
maksud untuk mempertahankan epitel berada ditempatnya.
g. Iridoplegia
Kelumpuhan otot sfingter pupil yang bisa diakibatkan karena trauma tumpul pada uvea
sehingga menyebabkan pupi menjadi lebar atau midriasis.

Gambaran klinis
Pasien akan sukar melihat dekat karena gangguan akomodasi dan merasakan silau karena
gangguan pengaturan masuknya cahaya ke pupil. Pupil terlihat tidak sama besar atau
anisokoria dan bentuk pupil dapat menjadi ireguler. Pupil biasanya tidak bereaksi terhadap
sinar.
Penatalaksanaan
Penanganan pada pasien dengan iridoplegia post trauma sebaiknya diberikan istirahat untuk
mencegah terjadinnya kelelahan sfingter dan pemberian roboransia.

h. Hifema
Hifema adalah darah di dalam bilik mata depan yang dapat terjadi akibat trauma tumpul
sehingga merobek pembuluh darah iris atau badan siliar.
Gambaran klinis
Pasien akan mengeluh sakit disertai dengan epifora dan blefarospasme. Penglihatan pasien
akan sangat menurun dan bila pasien duduk hifema akan terlihat terkumpul dibagian bawah
bilik mata depan dan dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Zat besi di dalam bola
mata dapat menimbulkan siderosis bulbi yang bila didiamkan ftisis bulbi dan kebutaan.
Penatalaksanaan
Penanganan awal pada pasien hifema yaiu dengan merawat pasien dengan tidur di tempat
tidur yang ditinggikan 30 derajat pada kepala, diberi koagulansia dan mata ditutup. Pada
pasien yang gelisah dapat diberikan obat penenang. Bila terjadi glaukoma dapat diberikan
Asetazolamida.
Parasentesis atau pengeluaran darah dari bilik mata depan dilakukan pada pasien dengan
hifema bila terlihat tanda-tanda imbibisi kornea, glaukoma skunder, hifema penuh dan
berwarna hitam atau setelah 5 hari tidak terliaht tanda-tanda hifema berkurang.

i. Iridosiklitis
Yaitu radang pada uvea anterior yang terjadi akibat reaksi jaringan uvea pada post trauma.
Gambaran klinis
Pada mata akan terlihat mata merah, akbat adanya darah yang berada di dalam bilik mata
depan maka akan terdapat suar dan pupil mata yang mengecil yang mengakibatkan visus
menurun.

Sebaiknya pada mata diukur tekanan bola mata untuk persiapan memeriksa fundus dengan
midriatika.
Penatalaksanaan
Pada uveitis anterior diberikan tetes midriatik dan steroid topikal, bila terlihat tanda radang
berat maka dapat diberikan steroid sistemik.
Penanganan dengan cara bedah mata.

j. Subluksasi Lensa
Subluksasi Lensa adalah lensa yang berpindah tempat akibat putusnya sebagian zonula zinn
ataupun dapat terjadi spontan karena trauma atau zonula zinn yang rapuh (sindrom Marphan).
Gambaran klinis
Pasien pasca trauma akan mengeluh penglihatan berkurang. Gambaran pada iris berupa
iridodonesis. Akibat pegangan lensa pada zonula tidak ada, maka lensa akan menjadi
cembung dan mata akan menjadi lebih miopi. Lensa yang cembung akan membuat iris
terdorong ke depan sehingga bisa mengakibatkan terjadinya glaukoma sekunder.
Penatalaksanaan
Penanganan pada subluksasi lensa adalah dengan pembedahan. Bila tidak terjadi penyulit
seperti glaukoma dan uveitis, maka dapat diberi kaca mata koreksi yang sesuai.

k. Luksasi Lensa Anterior


Yaitu bila seluruh zonula zinn di sekitar ekuator putus akibat trauma sehingga lensa masuk ke
dalam bilik mata depan.
Gambaran klinis
Pasien akan mengeluh penglihatan menurun mendadak. Muncul gejala-gejala glaukoma
kongestif akut yang disebabkan karena lensa terletak di bilik mata depan yang mengakibatkan
terjadinya gangguan pengaliran keluar cairan bilik mata. Terdapat injeksi siliar yang berat,
edema kornea, lensa di dalam bilik mata depan. Iris terdorong ke belakang dengan pupil yang
lebar.
Penatalaksanaan
Penanganan pada Luksasi lensa anterior sebaiknya pasien segera dilakukan pembedahan
untuk mengambil lensa. Pemberian asetazolamida dapat dilakukan untuk menurunkan
tekanan bola mata.

l. Luksasi Lensa Posterior


Yaitu bila seluruh zonula zinn di sekitar ekuator putus akibat trauma sehingga lensa jatuh ke
dalam badan kaca dan tenggelam di dataran bawah fundus okuli.
Gambaran klinis
Pasien akan mengeluh adanya skotoma pada lapang pandangnya karena lensa mengganggu
kampus. Mata menunjukan gejala afakia, bilik mata depan dalam dan iris tremulans.
Penatalaksanaan
Penanganan yaitu dengan melakukan ekstraksi lensa. Bila terjadi penyulit maka diatasi
penyulitnya.

m. Edema Retina
Edem Retina adalah terjadinya sembab pada daerah retina yang bisa diakibatkan oleh trauma
tumpul.
Gambaran klinis
Edema retina akan memberikan warna retina lebih abu-abu akibat sukarnya melihat jaringan
koroid melalui retina yang sembab. Pada edema retina akibat trauma tumpul mengakibatkan
edema makula sehingga tidak terdapat cherry red spot. Penglihatan pasien akan menurun.
Penatalaksanaan
Penanganan yaitu dengan menyuruh pasien istirahat. Penglihatan akan normal kembali
setelah beberapa waktu, akan tetapi dapat juga penglihatan berkurang akibat tertimbunya
daerah makula oleh sel pigmen epitel.
n. Ablasio Retina
Yaitu terlepasnya retina dari koroid yang bisa disebabkan karena trauma. Biasanya pasien
telah mempunyai bakat untuk terjadinya ablasi retina. Seperti adanya retinitis sanata, miopia
dan proses degenerasi retina lainnya.
Gambaran klinis
Pada pasien akan terdapat keluhan ketajaman penglihatan menurun, terlihat adanya selaput
yang seperti tabir pada pandangannya. Pada pemeriksaan fundus kopi akan terlihat retina
berwarna abu-abu dengan pembuluh darah yang terangkat dan berkelok-kelok.
Penatalaksanaan
Ablasi retina ditangani dengan melakukan pembedahan oleh dokter mata.
o. Ruptur Koroid

Ruptur biasanya terletak pada polus posterior bola mata dan melingkar konsentris di sekitar
apil saraf optik, biasanya terjadi perdarahan subretina akibat dari ruptur koroid.
Bila ruptur koroid terletak atau mengenai daerah makula lutea maka akan terjadi penurunan
ketajaman penglihatan
p. Avulasi saraf optik
Saraf optik terlepas dari pangkalnya di dalam bola mata yang bisa diakibatkan karena trauma
tumpul.
Gambaran klinis
Penderita akan mengalami penurunan tajam penglihatan yang sangat drastis dan dapat terjadi
kebutaan.
Penatalaksanaan
Penderita perlu dirujuk untuk menilai kelainan fungsi retina dan saraf optiknya.

2. Trauma Tembus
Trauma tembus pada mata dapat diakibatkan oleh benda tajam atau benda asing lainya yang
mengakibatkan terjadinya robekan jaringan-jarinagan mata secara berurutan, misalnya mulai
dari palpebra,kornea, uvea sampai mengenai lensa..
Gambaran klinis
Bila trauma yang disebabkan benda tajam atau benda asing lainya masuk kedalam bola mata
maka akan mengakibatkan tanda-tanda bola mata tembus seperti :

- Tajam penglihatan yang menurun


- Tekanan bola mata yang rendah
- Bilik mata dangkal
- Bentuk dan letak pupil yang berubah
- Terlihat adanya ruptur pada kornea atau sklera
- Terdapat jaringan yang prolaps, seperti cairan mata, iris, lensa, badan kaca atau retina
- Konjungtivis kemotis

Penatalaksanaan

Bila terlihat salah satu atau beberapa tanda diatas maka dicurigai adanya trauma tembus bola
mata maka secepatnya dilakukan pemberian antibiotika topikal dan mata ditutup tetapi jangan
terlalu kencang dan segera dikirim ke dokter mata untuk dilakukan pembedahan dan
penanganan lebih lanjut.
Pembuatan foto bisa dilakukan untuk melihat adanya benda asing dalam bola mata. Benda
asing yang bersifat magnetik dapat dikeluarkan dengan magnet raksasa, dan benda asing yang
tidak bersifat magnetik dapat dikeluarkan dengan vitrektomi.
Komplikasi
Adanya benda asing intraokuler dapat mengakibatkan endoftalmitis, panoftalmitis, ablasi
retina, perdarahn intraokuler dan ptisis bulbi.

II. Trauma Fisika


1. Trauma Sinar Inframerah
Sinar inframerah dapat mengakibatkan kerusakan pada lensa, iris dan kapsul disekitar lensa.
Hal ini terjadi karena sinar yang terkumpul dan ditanglap oleh mata selama satu menit tanpa
henti akan menagkibatkan pupil melebar dan terjadi kenaikan suhu lensa sebanyak 9 derajat
selsius, sehingga mengakibatkan katarak dan eksfoliasi pada kapsul lensa. Sinar inframerah
yang sering didapatkan adalah dari sinar matahari dan dari tempat pekerjaan pemanggangan.
Gambaran klinis
Seseorang yang sering terpejan dengan sinar ini dapat terkena keratitis superfisial, katarak
kortikal anterior posterior dan koagulasi pada koroid. Biasanya terjadi penurunan tajam
penglihatan, penglihatan kabur dan mata terasa panas.
Penatalaksanaan
Tidak ada pengobatan terhadap akibat buruk yang telah terjadi, kecuali mencegah sering
terpapar oleh sinar infra merah ini. Pemberian steroid sistemik dimaksudkan untuk mencegah
terbentuknya jaringn parut pada makula dan untuk mengurangi gejala radang yang timbul.

2. Trauma Sinar Ultra Violet


Sinar ultra violet merupakan sinar gelombang pendek yang tidak terlihat, mempunyai panjang
gelombang antara 350 295 nM. Sinar ultra violet banyak dipakai pada saat bekerja las dan
menatap sinar matahari.
Sinar ultra violet akan segera merusak sel epitel kornea, kerusakan iniakan segera baik
kembali setelah beberapa waktu dan tidak memberikan gangguan tajam penglihatan yang
menetap.

Gambaran klinis
Biasanya pasien akan memberikan keluhan 4 6 jam post trauma, pasien akan merasakn
mata sangat sakit, terasa seperti ada pasir, fotofobia, blefarospasme dan konjungtiva kemotik.
Korne akan menunjukan adanya infiltrat pada permukaanyayang kadang-kadang disetai
dengan kornea yang keruh. Pupil akan terlihat miosis.
Penatalaksanaan
Pengobatan yang diberikan adalah sikloplegia, antibiotika lokal, analgetika dan mata ditutup
selama 2 3 hari. Biasanya sembuh setelah 48 jam.

3. Trauma Sinar Ionisasi dan Sinar X


Sinar Ionisasi dibedakan dalam bentuk:
- Sinar alfa yang dapat diabaikan
- Sinar beta yang dapat menembus 1 cm jaringan
- Sinar gamma
- Sinar X
Gambaran Klinis
Sinar ionisasi dan sinar X dapat mengakibatkan kerusakan pada kornea yang dapat bersifat
permanen. Katarak akibat pemecahan sel epitel yang tidak normal dan rusaknya retina
dengan gambarandilatasi kapiler, perdarahan, mikroaneuris mata dan eksudat. Atrofi sel
goblet pada konjungtiva juga dapat terjadi dan mengganggu fungsi air mata.

Penatalaksanaan
Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika topikal, steroid sistemik dan sikloplegik.
Bila terjadi simblefaron pada konjungtiva dilakukan tindakan pembedahan.

III. Trauma Kimiawi


Trauma Kimia dapat terjadi pada kecelakaan yang terjadi di laboratorium, industri, pekerjaan
yang memakai bahan kimia, pekerjaan pertanian dan peperangan yang memakai bahan kimia.
Taruma kimia pada mata memerlukan tindakan segera, irigasi pada daerah mata yang terkena
bahan kimia harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya penyulit yang berat.

Pembilasan dapat dilakukan dengan memakai garam fisiologik atau air bersih lainya selama
15 30 menit
1. Trauma Asam
Bila bahan asam mengenai mata maka akan segera terjadi pengendapan ataupun
penggumpalan bahan protein permukaan. Biasanya akan terjadi kerusakan pada bagian
superfisisal saja, tetapi bahan asam kuat dapat bereaksi yang mengakibatkan trauma menjadi
lebih dalam.
Gambaran klinis
Pasien akan merasakan mata terasa pedih, seperti kering, seperti ada pasir dan ketajaman
mata biasanya menurun.
Penatalaksanaan

Pengobatan dilakukan dengan irigasi jaringan yang terkena secara perlahan-lahan dan
selama mungkin dengan air bersih atau garam fisiologik minimal selama 15 menit.

Antibiotika topikal untuk mencegah infeksi

Sikloplegik bila terjadi ulkus kornea atau kerusakan lebih dalam.

EDTA bisa diberikan satu minggu post trauma.

Prognosis
Baik bila konsentrasi asam tidak nterlalu tinggi dan hanya terjadi kerusakan superfisisal saja.

2. Trauma Basa
Trauma basa pada mata akan memberikan reaksi yang gawat pada mata. Alkali dengan
mudah dan cepat dapat menembus jaringan kornea, bilik mata depan dan bagian retina. Hal
ini terjadi akibat terjadinya penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan kimia basa bersifat
koagulasi sel dan terjadi proses persabunan disertai dangan dehidrasi.
Menurut klasifikasi Thoft maka trauma basa dapat dibedakan menjadi :
Derajat 1: heperimi konjungtiva diikuti dengan keratitis pungtata.
Derajat 2: hiperemi konjungtiva dengan disertai hilangnya epitel kornea.
Derajat 3: hiperemi disertai dengan nekrosis konjungtiva dan lepasnya epitel kornea.
Derajat 4: Konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak 50 %.

Gambaran klinis
Pasien akan merasakan mata terasa pedih, seperti kering, seperti ada pasir dan ketajaman
mata biasanya menurun. Pengujian dengan kertas lakmus saat pertama kali datang adalah
menunjukan suasana alkalis.
Penatalaksanaan

Tindakan yang dilakukan adalah dengan irigasi dengan garam fisiologik sekitar 60
menit segera setelah trauma.

Penderita diberikan sikloplegia, antibiotika, EDTA diberikan segera setelah trauma 1


tetes tiap 5 menit selama 2 jam dengan maksud untuk mengikat sisa basa dan untuk
menetralisir kolagenase yang terbentuk pada hari ketujuh post trauma.

Diberikan antibiotik lokal untuk mencegah infeksi

Analgetik dan anestesik topikal dapat diberikan untuk mengurangi rasa nyeri.

Komplikasi
Penyulit yang dapat timbul adalah simblefaron, kekeruhan kornea, katarak disertai dengan
terjadinya ftisis bola mata.

THT
FARING
Anatomi dan Fisiologi Faring :
Faring adalah suatu kantung fibromuskuler yang bentuknya seperti corong, yang besar di
bagian atas dan sempit di bagian bawah. Ke atas, faring berhubungan dengan rongga hidung
melalui koana, ke depan berhubungan dengan rongga mulut melalui isthmus faucium,
sedangkan dengan laring di bawah berhubungan melalui aditus pharyngeus, dan ke bawah
berhubungan esofagus.
Faring terdiri atas:

1. Nasofaring
Relatif kecil, mengandung serta berhubungan dengan erat dengan beberapa struktur penting,
seperti adenoid, jaringan limfoid pada dinding lateral faring, torus tubarius, kantong Rathke,
choanae, foramen jugulare, dan muara tuba Eustachius.

2. Orofaring
Struktur yang terdapat di sini adalah dinding posterior faring, tonsil palatina, fossa tonsilaris,
arcus faring, uvula, tonsil lingual, dan foramen caecum.
a. Dinding posterior faring, penting karena ikut terlibat pada radang akut atau radang kronik
faring, abses retrofaring, serta gangguan otot-otot di bagian tersebut.
b. Fossa tonsilaris, berisi jaringan ikat jarang dan biasanya merupakan tempat nanah
memecah ke luar bila terjadi abses.
c. Tonsil, adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dan
ditunjang kriptus di dalamnya. Ada 3 macam tonsil, yaitu tonsil faringeal (adenoid), tonsil
palatina, dan tonsil lingual, yang ketiganya membentuk lingkaran yang disebut cincin
Waldeyer. Epitel yang melapisi tonsil adalah epitel skuamosa yang juga meliputi kriptus. Di
dalam kriptus biasanya ditemukan leukosit, limfosit, epitel yang terlepas, bakteri, dan sisa
makanan.
3. Laringofaring
Struktur yang terdapat di sini adalah vallecula epiglotica, epiglotis, serta fossa piriformis.
Fungsi faring yang terutama adalah untuk respirasi, pada waktu menelan, resonansi suara,
dan untuk artikulasi.

Gangguan pada Faring :


FARINGITIS
Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang dapat disebabkan oleh virus (40-60%),
bakteri (5-40%), alergi, trauma, toksin, dan lain-lain. Virus dan bakteri melakukan invasi ke
faring dan menimbulkan reaksi inflamasi lokal. Penularan infeksi melalui sekret hidung dan
ludah/droplet infection.
Jenis-jenis faringitis:
1. Faringitis Akut

a. Faringitis Viral
Etiologi : Rinovirus
Gejala dan Tanda: Demam disertai rinorea, mual, nyeri tenggorok, dan sulit menelan. Pada
pemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis. EBV menyebabkan faringitis yang disertai
produksi eksudat pada faring yang banyak dan terdapat pembesaran kelenjar limfa seluruh
tubuh terutama retroservikal dan splenomegali. Sedangkan virus influenza tidak
menghasilkan eksudat.
Terapi: Istirahat dan minum cukup, kumur dengan air hangat, analgetika jika perlu dan tablet
isap.
b. Faringitis Bakterial
Etiologi : infeksi Streptococcus b hemolitikus grup A
Gejala dan Tanda: Nyeri kepala yang hebat, muntah, kadang-kadang disertai demam dengan
suhu yang tinggi, jarang disertai batuk. Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar, faring
dan tonsil hiperemis dan terdapat eksudat di permukaannya. Beberapa hari kemudian timbul
bercak petechie pada palatum dan faring. Kelenjar limfe leher anterior membesar, kenyal, dan
nyeri pada penekanan.
Terapi: a) Antibiotik: penicillin G banzatin, amoksisilin, eritromisin, b) Kortikosteroid:
deksametason, c) Analgetika, d) Kumur dengan air hangat atau antiseptik.
c. Faringitis fungal
d. Faringitis gonorea
2. Faringitis Kronik
Faktor predisposisi proses radang kronik di faring ini ialah rinitis kronik, sinusitis, iritasi
kronik oleh rokok, minum alkohol, inhalasi uap yang merangsang mukosa faring, dan debu.
a. Faringitis kronik hiperplastik
Terjadi perubahan mukosa dinding posterior faring menjadi tidak rata dan bergranular.
Gejala: Pasien mengeluh mula-mula tenggorok kering gatal dan akhirnya batuk yang beriak.
Terapi: Pengobatan simtomatis dengan obat kumur atau hisap. Jika perlu dapat diberikan obat
batuk antitusif atau ekspektoran.
b. Faringitis kronik atrofi
Sering timbul bersamaan dengan rinitis atrofi. Pada rinitis atrofi udara pernapasan tidak
diatur suhu serta kelembabannya, sehingga menimbulkan rangsangan serta infeksi pada
faring.

Gejala dan Tanda: Pasien mengeluh tenggorok kering dan tebal serta mulut berbau. Tampak
mukosa faring ditutupi lendir kental dan bila diangkat tampak mukosa kering.
Terapi: Pengobatan ditujukan pada rinitis atrofi dan untuk faringitisnya ditambahkan obat
kumur dan menjaga kebersihan mulut.

LARING
Anatomi dan Fisiologi Laring :
Laring merupakan bagian yang terbawah dari saluran napas bagian atas. Bentuknya
menyerupai limas segitiga terpancung dengan bagian atas lebih besar daripada bagian bawah.
Bangunan kerangka laring tersusun dari satu tulang, yaitu tulang hyoid, serta beberapa buah
tulang rawan, yaitu kartilago epiglotis, kartilago tiroid, kartilago krikoid, kartilago aritenoid,
kartilago kornikulata, kartilago kuneiformis, dan kartilago tritisea.
Laring mempunyai beberapa fungsi, antara lain :
1. Proteksi, yaitu mencegah makanan dan benda asing masuk ke dalam trakea dengan
jalan menutup aditus laring dan rima glottis secara bersamaan.
2. Refleks batuk
3. Fungsi respirasi, yaitu mengatur besar kecilnya rima glottis
4. Membantu proses menelan
5. Mengekspresikan emosi
6. Fonasi, yaitu dengan membuat suara serta menentukan tinggi rendahnya nada

Gangguan Pada Laring :


1. Laringitis Akut
Merupakan radang akut laring, pada umumnya merupakan kelanjutan dari rinofaringitis
(common cold).
Etiologi : bakteri yang menyebabkan radang lokal atau virus yang menyebabkan peradangan
sistemik.
Gejala dan Tanda : demam, malaise, suara parau sampai tidak bersuara sama sekali, nyeri
ketika menelan atau berbicara, batuk kering dan lama kelamaan disertai dengan dahak
kental. Tampak mukosa laring yang hiperemis, membengkak terutama diatas dan bawah pita
suara. Biasanya terdapat juga tanda radang akut di hidung, sinus paranasal, atau paru.
Terapi : istirahat berbicara selama 2-3 hari, menghindari iritasi pada laring dan faring,
antibiotik (bila peradangan berasal dari paru), pemasangan pipa endotrakea atau trakeostomi
apabila terdapat sumbatan laring.
2. Laringitis Kronik

Sering merupakan radang kronis laring disebabkan oleh sinusitis kronis, deviasi septum yang
berat, polip hidung, atau bronkitis kronis. Mungkin juga disebabkan oleh penyalahgunaan
suara seperti berteriak-teriak atau biasa berbicara keras.
Gejala dan Tanda : suara parau yang menetap, rasa tersangkut di tenggorok sehingga pasien
sering berdehem tanpa mengeluarkan sekret. Tampak mukosa laring menebal, permukaannya
tidak rata dan hiperemis.
Terapi : mengobati peradangan yang mungkin menjadi penyebab laringitis kronis tersebut,
istirahat berbicara.

3. Croup
Croup atau sesak napas adalah bentuk viral laryngitis khusus untuk anak-anak, biasanya
berusia antara enam bulan sampai enam tahun. Virus menghasilkan peradangan dan
pembengkakan laring dan struktur terkait, seperti trakea dan saluran udara menuju paru-paru.
Gejala umum termasuk:

Batuk yang terdengar seperti gonggongan


demam ringan
Pernapasan bising yang lebih buruk di malam hari
Kesulitan bernapas, karena pembengkakan.

Dalam bentuk parah dari croup, daerah-daerah tertentu (seperti mulut atau ujung jari)
mungkin membiru karena kekurangan oksigen (sianosis). Kadang-kadang, bakteri dapat
menginfeksi laring, menyebabkan penyakit yang sama tetapi mengancam jiwa yang disebut
epiglotitis. Anak biasanya akan mengalami demam tinggi dan terlihat sangat sehat. Vaksinasi
HIB secara rutin diberikan kepada bayi yang biasanya mencegah epiglotitis. Sebuah benda
asing saat inhalasi juga dapat menghasilkan penyakit seperti croup.
Terapi : parasetamol, istirahat dan mungkin inhalasi uap biasanya semua yang diperlukan.
Ketika ada kesulitan bernapas, perawatan singkat kortikosteroid dapat digunakan. Dalam
kasus yang parah kesulitan bernapas, anak mungkin perlu dirawat di rumah sakit, diberikan
adrenalin nebulised dan Kadang diintubasi (tabung ditempatkan di saluran napas untuk
mengatasi sumbatan).
4. Polip dan Nodul Laring
Benjolan kecil dan benjolan di pita suara dapat disebabkan oleh penyalahgunaan kronis suara
(seperti berteriak) atau kontaksi yang terlalu lama atau iritasi seperti asap rokok. Setiap
pertumbuhan perlu penyelidikan menyeluruh untuk memastikan mereka tidak bersifat kanker.
Terapi : dengan pembedahan. Tetapi nodul pada anak kadang-kadang dapat diobati hanya
dengan terapi suara, yang mengajarkan mereka bagaimana menggunakan suara mereka tanpa
ketegangan yang tak perlu.

5. Kanker Laring
Dua jenis utama kanker laring termasuk karsinoma sel skuamosa dan karsinoma verrucous.
Sebagian besar kasus kanker secara langsung terkait dengan merokok. Suara serak awal
diikuti oleh batuk kering dan, kadang-kadang, batuk darah. Akhirnya, orang tersebut akan
mengalami kesulitan bernapas dan menelan.
Terapi : Terapi radiasi dan operasi, termasuk penghapusan sebagian atau lengkap dari laring
(laryngectomy). Dalam rangka untuk berbicara setelah menjalani laryngectomy, orang
tersebut dapat juga belajar untuk menelan dan menghembuskan udara melalui kerongkongan
mereka, atau menggunakan perangkat elektro-laring.
TONSIL
Anatomi Tonsil :
Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan
kriptus didalamnya.
Macam tonsil yaitu tonsil faringal (adenoid), tonsil palatina dan tonsil lingual yang ketigatiganya membentuk lingkaran yang disebut cincin waldeyer. Tonsil palatina yang biasanya
disebut tonsil saja terletak di dalam fosa tonsil. Pada kutub atas tonsil seringkali ditemukan
celah intratonsil yang merupakan sisa kantong faring yang kedua. Kutub bawah tonsil
biasanya melekat pada dasar lidah.
Gangguan pada Tonsil :
Tonsilitis
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer.
Penyebaran infeksi melalui udara, tangan, dan ciuman. Terjadi terutama pada anak. Jenisjenisnya:
1. Tonsilitis Akut
a. Tonsilitis viral
Gejala: Lebih menyerupai common cold disertai nyeri tenggorok. Penyebab tersering adalah
EBV.
Terapi: Istirahat, minum cukup, analgetik, dan antivirus jika gejala berat.
b. Tonsilitis bakterial
Etiologi : kuman grup A Streptococcus hemoliticus
Gejala dan Tanda: nyeri tenggorok, nyeri menelan, demam tinggi, lesu, nyeri pada sendi,
otalgia. Tampak tonsil membengkak, hiperemis, dan terdapat detritus (kumpulan leukosit,
bakteri yang mati, dan epitel yang terlepas yang tampak sebagai bercak kuning). Kelenjar
submandibula bengkak dan nyeri tekan.

Terapi: Antibiotik spektrum lebar penisilin, eritromisin. Antipiretik dan obat kumur
mengandung desinfeksan.
Komplikasi: Otitis media akut, sinusitis, abses peritonsil, dll.
2. Tonsilitis Membranosa

Tonsilitis difteri
Tonsilitis septik
Angina Plaut Vincent
Penyakit kelainan darah

3. Tonsilitis Kronik
Faktor predisposisi timbulnya tonsilitis kronik ialah rangsangan yang menahun dari rokok,
beberapa jenis makanan, hygiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik, dan
pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat.
Gejala dan Tanda : Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak
rata, kriptus melebar dan terisi detritus. Ada rasa mengganjal di tenggorok, kering, dan napas
berbau.
Terapi : Terapi lokal ditujukan pada hygiene mulut dengan berkumur atau obat isap.
Tonsilektomi dilakukan bila terjadi infeksi yang berulang atau kronik, gejala sumbatan jalan
napas, serta kecurigaan neoplasma.

Hipertrofi Adenoid
Secara fisiologik, adenoid membesar pada anak usia 3 tahun kemudian mengecil dan hilang
pada usia 14 tahun. Bila sering terjadi infeksi saluran napas bagian atas, maka dapat terjadi
hipertrofi adenoid. Akibat dari hipertrofi tersebut akan timbul gangguan tidur, tidur ngorok,
retardasi mental, pertumbuhan fisik berkurang, sumbatan koana dan sumbatan tuba
Eustachius.
Akibat sumbatan koana pasien akan bernapas melalui mulut sehingga terjadi fasies adenoid,
yaitu tampak hidung kecil, gigi insisivus ke depan, dan arkus faring tinggi yang
menyebabkan kesan wajah pasien tampak seperti orang bodoh. Selain itu, dapat juga
menyebabkan faringitis dan bronkitis, serta gangguan drainase sinus paranasal sehingga
menyebabkan sinusitis kronis.
Akibat sumbatan tuba Eustachius akan terjadi otitis media akut berulang, otitis media kronik,
dan akhirnya dapat terjadi otitis media supuratif kronik.
Terapi : adenoidektomi

Otitis Eksterna
Etiologi:

Faktor alergi
Infeksi bakteri
Infeksi Parasit
Infeksi Jamur

Gambaran Klinis:

Nyeri pada telinga, di mana dapat menjadi hebat dan parah apabila bagian luar telinga
yang terinfeksi ditarik.
Nyeri tekan telinga. Telinga nyeri saat ditekan di ujung telinga atau daun telinga
tersentuh
Gejala dan tanda lain seseorang terserang Otitis Eksterna yaitu demam, cairan telinga,
terjadi gejala tuli, rasa gatal di telinga, dan rasa sakit di telinga.

Terapi :

membersihkan telinga, pengobatan topikal, biasanya terdiri dari obat telinga yang
dioleskan ke dalam telinga satu atau dua kali sehari.
pemberian steroid untuk mengurangi nyeri dan peradangan
terapi antibiotik untuk menghindari infeksi bakterial akut atau ulcerasi
terapi antifungal untuk menghindari infeksi jamur
terapi anti alergi serta ivermectin untuk parasit telinga eksternal

Otitis Media
- Otitis Media Akut
Etiologi :

disebabkan oleh serangan virus dan bakteri


biasanya merupakan komplikasi dari common cold atau infeksi saluran pernafasan
bagian atas.

Gambaran Klinis :

akumulasi cairan pada daerah telinga tengah,


tanda-tanda dari infeksi pada telinga.
gejala lainnya yaitu gendang telinga menjadi menonjol juga disertai rasa nyeri
bisa juga gendang telinga berlubang, dan pada umumnya akan diikuti oleh aliran dari
materi bernanah

Terapi :

bisa sembuh dengan sendirinya tanpa harus menggunakan antibiotik


antibiotik dapat digunakan apabila kondisi penyakit sudah terlalu parah, tak mau
membaik bahkan memburuk.
diberikan obat untuk pereda rasa sakit dan juga memeriksa secara rutin hingga benarbenar sembuh.

- Otitis Media Kronik


Etiologi :

disebabkan karena infeksi telinga yang terjadi berulang kali


karena sebelumnya menderita Otitis media akut dan sudah diobati tapi tidak sembuh
dengan sempurna.

Terapi :

membersihkan telinga tengah dan saluran telinga menggunakan kapas pembersih


kering dan alat penghisap
berikan cairan dengan kandungan asam asetat dan hidrokortison
berikan antibiotik tetes telinga, apabila infeksi yang terjadi lebih berat, maka perlu
diberikan antibiotik yang diminum.

Otitis Interna
Peradangan telinga bagian dalam biasa disebut dengan Labirinitis
Etiologi :
Infeksi bakteri dan virus ke ruang perilimfe
Keracunan zat-zat toksik

Gejala :

Menyebabkan gejala vertigo,mual, muntah selama beberapa hari


dan minggu.
Gejala dan tanda serangan otitis interna adalah vertigo spontan dengan
derajat ringan- sedang dan nistagmus rotatoar, biasanya ke arah telinga
yang sakit.
Terdapat juga tuli sensorineural yang bersifat sementara.Kadang-kadang
disertaimual dan muntah, biasanya tidak berat.

Terapi :

Operasi harus segera dilakukan untuk menghilangkan infeksi dari telinga tengah
Diperlukan juga drenase nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis

Mastoiditis
adalah segala proses peradangan pada sel- sel mastoid yang terletak pada tulang temporal.
Etiologi :
infeksi yang lama pada telinga tengah, bakteri yang didapat pada mastoiditis biasanya sama
dengan bakteri yang didapat pada infeksi telinga tengah. Biasanya timbul pada anak-anak
atau orang dewasa yang sebelumnya telah menderita infeksi akut pada telinga tengah.
Gambaran Klinis:
demam, nyeri pada telinga, hilangnya sensasi pendengaran, bahkan kadang timbul suara
berdenging pada satu sisi telinga (dapat juga pada sisi telinga yang lainnya)
Pemeriksaan Fisik didapatkan:

Kemerahan pada kompleks mastoid


Keluarnya cairan baik bening maupun berupa lendir (warna bergantung dari bakteri)
Matinya jaringan keras (tulang, tulang rawan)
Adanya abses (kumpulan jaringan mati dan nanah)
Proses peradangan yang tetap melebar ke bagian dan organ lainnya.
Riwayat infeksi pada telinga tengah sebelumnnya

Terapi :

Pengobatan dengan obat-obatan seperti antibiotik (sesuai kultur), anti nyeri, anti
peradangan
Pembedahan pada mastoid. (bedah terbuka), dilakukan jika dengan pengobatan tidak
dapat membantu mengembalikan ke fungsi yang normal.

Sinusitis
Adalah peradangan, atau pembengkakan, dari jaringan yang melapisi sinus paranasal.
Biasanya sinus berisi udara, tetapi ketika sinus tersumbat dan berisi cairan, kuman (bakteri,
virus, dan jamur) dapat berkembang dan menyebabkan infeksi.
Di sekitar rongga hidung terdapat empat sinus yaitu

sinus maksilaris ( terletak di pipi)


sinus etmoidalis ( kedua mata)
sinus frontalis (terletak di dahi)
sinus sfenoidalis ( terletak di belakang dahi).

Etiologi :
1. Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung), segala sesuatu yang
menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sinusitis. Termasuk flu biasa,
rhinitis alergi (pembengkakan pada lapisan hidung), polip hidung (pertumbuhan kecil di
lapisan hidung), atau septum menyimpang (pergeseran di rongga hidung).
2. Dentogenik/Odontogenik (penyebabnya kelainan gigi), yang sering menyebabkan sinusitis
infeksi pada gigi geraham atas (pre molar dan molar)
Gambaran Klinis :

Napas berbau
Sakit kepala
Hidung tersumbat
Postnasal Drip
Batuk, biasanya akan memburuk saat malam
Rasa sakit atau adanya tekanan di daerah dahi, pipi, hidung & di antara mata
Berkurangnya daya pengecap
Hidung terus meler dengan warna hijau pekat
Demam
Berkurangnya daya penciuman
Gejala memburuk ketika malam hari

Terapi :
1. Sinusitis karena virus
Untuk sinusitis yang disebabkan oleh karena virus tidak diperlukan pemberian antibiotika.
Obat yang biasa diberikan untuk sinusitis virus adalah penghilang rasa nyeri seperti
parasetamol dan dekongestan.
2. Sinusitis karena bakteri
Curiga telah terjadi sinusitis infeksi oleh bakteri apabila terdapat gejala nyeri pada wajah,
ingus yang bernanah, dan gejala yang timbul lebih dari seminggu. Sinusitis infeksi bakteri
umumnya diobati dengan menggunakan antibiotika. Pemilihan antibiotika berdasarkan jenis
bakteri yang paling sering menyerang sinus karena untuk mendapatkan antibiotika yang
benar benar pas harus menunggu hasil dari biakan kuman yang memakan waktu lama.
Pilihan antiobiotika seperti amoxicillin, cefaclor, azithromycin, dan cotrimoxazole. Jika tidak
terdapat perbaikan dalam lima hari maka perlu dipertimbangkan untuk memberikan
amoxicillin plus asam klavulanat. Pemberian antibiotika dianjurkan minimal 10 sampai 14
hari.
Pemberian dekongestan dan mukolitik dapat membantu untuk melancarkan drainase cairan
mukus. Pada kasus kasus yang kronis, dapat dipertimbangkan melakukan drainase cairan
mukus dengan cara pembedahan.