Anda di halaman 1dari 3

ASPEK ETIK DAN HUKUM

PENGOBATAN TRADISIONAL

A. Pengertian Pengobatan Tradisional


Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1076, pengobatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan cara
dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun
secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan
norma yang berlaku di masyarakat. Definisi tersebut juga diterangkan dalam UU
RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan PP RI Nomor 103 Tahun 2014
tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional. Orang yang melakukan pengobatan
tradisional disebut pengobat tradisional. Keputusan Menkes Nomor 1076 Tahun
2003 menyatakan bahwa pengobat tradisional atau yang disingkat Battra adalah
seseorang yang diakui dan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai seorang yang
mampu melakukan pengobatan tradisional. Battra dibagi menjadi dua kategori,
yakni battra yang menggunakan ramuan dan battra yang menggunakan
keterampilan. Battra yang menggunakan ramuan disebut shinse atau tabib,
sedangkan battra yang menggunakan keterampilan dinamakan akupunturis,
refleksiologis, spa therapis, dukun urut, dll.
B. Klasifikasi dan Jenis Pengobatan Tradisional
Pelayanan Kesehatan Tradisional menurut PP RI Nomor 103 Tahun 2014
dapat dibagi menjadi tiga, antara lain :
1. Pelayanan Kesehatan Tradisional Empiris
Merupakan penerapan kesehatan tradisional

yang

manfaat

dan

keamanannya terbukti secara empiris. Pengobatan tradisional ini


mengutamakan keterampilan dan/atau ramuan yang dilakukan oleh
penyehat tradisional. Penyehat tradisional merupakan tenaga yang ilmu
dan keterampilannya diperoleh melalui turun-temurun atau pendidikan
nonformal. Dengan kata lain pengobatan yang bersifat empiris ini sudah
terkenal di kalangan masyarakat dengan bukti bahwa banyak masyarakat

yang berkunjung ke pengobatan tradisional tersebut dan memperoleh


kesembuhan.
2. Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer
Merupakan penerapan kesehatan tradisional yang memanfaatkan ilmu
biomedis dan biokultural dalam penjelasannya serta manfaat dan
keamanannya terbukti secara ilmiah. Pengobatan ini dilakukan dengan
menggunakan keterampilan (teknik manual, terapi energi, dan/atau terapi
olah pikir) atau ramuan (dapat berasal dari tanaman, hewan, mineral
dan/atau sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan lain) serta
dilakukan

oleh

tenaga

kesehatan

tradisional

yang

ilmu

dan

keterampilannya diperoleh melalui pendidikan tinggi di bidang


kesehatan, paling rendah diploma, tetapi tetap dilarang untuk
menggunakan alat kedokteran dan penunjang diagnostik kedokteran.
3. Pelayanan Kesehatan Tradisional Integrasi
Merupakan pelayanan kesehatan yang mengombinasikan pelayanan
kesehatan konvensional dengan komplementer. Pengobatan ini dilakukan
bersama-sama oleh tenaga kesehatan dengan tenaga kesehatan tradisional
untuk menyembuhkan pasien dan harus diselenggarakan di fasilitas
pelayanan kesehatan.
C. Obat Tradisional
Menurut UU RI No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, obat tradisional
merupakan bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan
hewan, bahan mineral, sediaan sarian atau campuran bahan tersebut yang secara
turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman serta
dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Obat
tradisional dikelompokkan menjadi tiga, yaitu jamu, obat herbal terstandar dan
fitofarmaka.
D. Aspek Hukum Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional
Dasar hukum penyelenggaraan pengobatan tradisional antara lain :
UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 006/Menkes/Per/2012, Tahun 2012,
tentang Industri dan Usaha Obat Tradisional

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 003/Menkes/Per/2010, Tahun 2010,


tentang Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis Pelayanan
Kesehatan
Peraturan Pemerintah RI Nomor 103 Tahun 2014 tentang Pelayanan
Kesehatan Tradisional
UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
PP RI No. 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat
Kesehatan
Berdasarkan perjanjian teurapetik, dasar untuk pertanggungjawaban
medis adalah wanprestasi (Pasal 1234 KUHPerdata) dan onrechtmatige
daad (perbuatan melawan hukum) yang terdapat dalam Pasal 1365
KUHPerdata