Anda di halaman 1dari 6

PENDAHULUAN

Kesehatan gigi dan mulut seringkali disepelekan oleh sebagian besar


masyarakat indonesia. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketidaksadaran
masyarakat

terhadap

kesehatan

gigi

dan

mulut.

Diantaranya

adalah

ketidaktahuan atas resiko-resiko apabila masalah gigi dan mulut dibiarkan saja.
Banyak penyakit yang dapat terjadi di rongga mulut. Tentu saja untuk
mengatasinya perlu bantuan dan supervisi langsung dari dokter spesialis bedah
mulut atau minimal dokter gigi umum. Salah satu penyakit yang sering terjadi
pada rongga mulut adalah abses subgingiva .
Secara harfiah abses merupakan suatu lobang yang berisi nanah dalam
jaringan yang sakit. Abses ini merupakan suatu lesi yang bagi tubuh sulit
ditangani, karena kecenderungannya untuk meluas dengan mencairnya lebih
banyak jaringan, kecenderungan untuk menggalidan resistennya terhadap
penyembuhan. Sebenarnya jika sudah terbentuk suatu abses, maka sulit
mengirimkan agen-agen teurapetik kedalam abses itu melalui darah. Abses
subgingiva merupakan suatu nanah yang terjadi pada gusi (gingiva). Terjadi
karena faktor iritasi, seperti plak, kalkulus (karang gigi), invasi bakteri, impaksi
makanan atau trauma jaringan. Terkadang pula akibat gigi yang akan tumbuh.

Abses Subgingiva
Gingiva adalah bagian mukosa mulut yang mengelilingi gigi. Gingiva melekat pada gigi
dan tulang alveolar. Pada permukaan vestibulum di kedua rahang, gingiva secara jelas
dibatasi
mukosa mulut yang lebih dapat bergerak oleh garis yang bergelombang disebut
perlekatan
mukogingiva. Garis demarkasi yang sama juga ditemukan pada aspek lingual mandibular
antara
gingival dan mukosa mulut. Pada palatum, gingiva menyatu dengan palatum dan tidak
ada
perlekatan mukogingiva yang nyata
Gingiva dibagi menjadi tiga menurut daerahnya yaitu marginal gingival, attached
gingival
dan gingival interdental. Marginal gingival adalah bagian gingival yang terletak pada
daerah
korona dan tidak melekat pada gingiva. Dekat tepi gingiva terdapat suatu alur dangkal
yang
disebut sulkus gingiva yang mengelilingi setiap gigi. Pada gigi yang sehat kedalaman
sulkus
gingival bervariasi sekitar 0,5 2 m. Attached gingiva merupakan kelanjutan dari
marginal
gingiva. Jaringan padat ini terikat kuat dengan periosteum tulang alveolar dibawahnya.
Permukaan luar dari attached gingiva terus memanjang ke mukosa alveolar yang lebih
kendur dan
dapat digerakkan, bagian tersebut disebut mucogingival juntion. Interdental gingiva
mewakili
gingiva embrasure, dimana terdapat ruang interproksimal dibawah tempat
berkontaknya gigi.
Interdental gingiva dapat berbentuk piramidal atau berbentuk seperti lembah .
Abses merupakan suatu penyakit infeksi yang ditandai oleh adanya lobang yang berisi
nanah (pus) dalam jaringan yang sakit. Abses subgingival merupakan suatu kumpulan
pus pada gusi (gingiva), yaitu terletak di antara mukosa gingiva dan.

ETIOLOGI

Karies: Karies atau luka berat mempengaruhi saraf dan pembuluh darah, kemudian gigi
menjadi terinfeksi dan mati. Pus tidak lain adalah jaringan-jaringan mati yang
membusuk. Pus kemudian dapat menyebar keluar gigi atau di bawah akar, untuk
menginfeksi tulang pada ujung akar, menciptakan abses atau kista. Penyebab umum dari
kerusakan gigi dan abses subgingiva adalah makanan yang terjepit di antara gigi dan gusi.
Penyakit periodontal: penyakit periodontal membuat gingiva menjauh dari gigi. Penyakit
gingiva seperti gingivitis dan infeksi juga dapat menyebabkan pocket atau kantung yang
dalam antara antara gigi dan gingiva.Bakteri dengan mudah dapat tinggal dan menetap
pada partikel makanan yang terjebak dalam pocket dan abses dapat timbul di gingiva.
Restorasi gigi: Bakteri memiliki akses yang mudah ke dalam pengisi gigi yang melemah
yang mungkin telah rusak dari waktu ke waktu. Hal ini dapat menyebabkan infeksi dan
abses.
Gigi retak atau fraktur : Fraktur atau retak pada enamel dan dentin dapat memungkinkan
bakteri masuk ke dalam pulpa, yang dapat menyebabkan infeksi dan abses.
Perubahan hormon: Kadang-kadang perubahan hormonal dapat menyebabkan abses
subgingiva.
Reaksi terhadap obat-obatan: Kadang-kadang reaksi terhadap beberapa obat yang
efeknya kuat dapat menyebabkan abses dentoalveolar di rahang.
Keturunan: Faktor genetik tidak berpengaruh dalam kasus penyakit gigi dan gusi.
Penyakit lain: Beberapa penyakit lain seperti kanker dapat menyebabkan abses gigi.
Merokok berlebihan: penggunaan berlebihan dari tembakau atau merokok dapat
menyebabkan karies dan abses dentoalveolar serta gingiva.

Manifestasi Klinis

Abses subgingiva biasanya terjadi pada tempat yang sebelumnya tidak ada kelainan
dan terbatas pada gingiva marginalis atau papilla interdental (Gambar 1.1). Lesinya
terlokalisir, nyeri, dan cepat
berkembang, biasanya bermanifestasi sebagai
respon peradangan akut akibat benda asing (sikat gigi atau makanan) yang dipaksa
masuk ke dalam jaringan gingiva. Pada awalnya, terdapat daerah yang bengkak,
merah
dengan permukaan
lembut,
mengkilap. Dalam 24
sampai
48 jam pertama, pada lesi tersebut akan timbul fluktuasi dan punctum maximum,
dan akan mengeluarkan eksudat seropurulen melalui lubang permukaan
tersebut. Jika
tidak
diobati, maka
biasanya akan pecah spontan.

Secara umum, gejala yang bisa muncul antara lain:


* Nyeri yang berat dan berdenyut di sekitar gusi atau gigi yang terinfeksi
* Kesulitan atau sakit saat membuka mulut, mengunyah atau menelan
* Gigi sensitif terhadap dari makanan atau minuman yang panas atau dingin
* Bengkak dan kemerahan pada mulut dan wajah
* Gusi meradang, kemerahan, dan lembut
* Kerusakan pada tulang dan membran atau ligamen yang menopang gigi
* Pendarahan sementara saat menyikat gigi atau makan
* Gigi goyang atau lepas

* Luka pada gusi atau mulut


* Pembengkakan kelenjar getah bening di leher
* Demam dan menggigil
* Mual, muntah, diare
* Pus keluar dari gusi
* Karies, gigi yang terangkat atau tanpak memanjang
* Napas yang berbau atau bau mulut
* Rasa yang tidak enak di mulut
Pada abses yang kronis, gejala nyeri biasanya tidak ada.

Pada gambaran histologi, abses subgingiva tampak sebagai


lesi bernanah dalam jaringan ikat yang
dikelilingi oleh infiltrasi leukosit polimorfonuckear yang
difus, edema, dan pembesaran pembuluh darah.

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan ekstraoral, pada umumnya tidak ada kelainan.
Pada pemeriksaan intraoral, didapatkan pembengkakan atau
benjolan pada gingiva, dan teraba fluktuasi. Jika abses disebabkan
oleh proses peradangan akut, seperti pada periodontitis akut, maka
pemeriksaan perkusi dan tekanan positif. Pada umumnya, abses
gingiva disebabkan karena proses periodontitis kronis, sehingga
pemeriksaan perkusi dan tekanan pada umumnya negatif, dan
palpasi dapat positif. Selain itu kedalaman sulcus gingiva pada
umumnya lebih dari 2 mm.
penatalaksanaan
A. Farmakoterapi

Analgesik Abses subgingiva bisa sangat nyeri, sehingga dapat diberikan obat
penghilang sakit (analgesik), untuk mengurangi nyeri ketika menunggu perawatan
dari dokter gigi. Analgesics ini biasanya digunakan untuk penundaan perawatan abses
gigi.

Ikuti petunjuk di bawah tentang cara pemakaian analgesics dengan aman :

Jangan memakai ibuprofen jika menderita asma, atau jika kamu


mempunyai, atau pernah mempunyai ulcer gastric.

Jangan terlalu sering memakai obat penghilang sakit di satu waktu


tanpa lebih dulu berkonsultasi dengan dokter, perawat, healthcare profesional
lainnya. Ini dapat berbahayasebab banyak orang over-the-counter ( OTC) produk
berisi obat penghilang sakit serupa, seperti paracetamol atau ibuprofen dengan
atau tanpa codeine, dan terlalu banyak kombinasi produk.

Ibuprofen dan paracetamol kedua-duanya tersedia dalam bentuk


sirup untuk anak-anak.

Aspirin tidak cocok untuk anak-anak di bawah umur 16 tahun.

Untuk ibu hamil dan menyusui baik digunakan paracetamol

Jika nyeri hebat. boleh menentukan analgesics yang lebih kuat,


seperti codeine fosfat. sebagai alternatif, jika sedang mengkonsumsi codeine
dosis rendah, dokter boleh menyarankan meningkatkan dosis itu.

Antibiotics Antibiotik untuk abses gingiva digunakan untuk mencegah


penyebaran infeksi, dan dapat dipakai bersama anaigesik (painkiller). Antibiotik
seperti amoxicillin atau metronidazole dapat digunakan jika:

wajah bengkak, ini menunjukkan infeksi atau peradangan menyebar ke area


sekelilingnya.

terlihat tanda-tanda dari infeksi berat, seperti demam atau pembengkakan


kelenjar.

Daya tahan tubuh menurun, seperti orang yang telah di khemotherapi, atau
seperti infeksi HIV positif,

Peningkatan faktor resiko seperti diabetes millitus, dan resiko endocarditis.

B. Prosedur gigi
Langkah utama yang paling penting dalam penatalaksanaan abses subgingiva adalah
incisi abses, dan drainase abses. Pada abses subgingival, akan dilakukan drainase abses
dan secara menyeluruh membersihkan periodontal pocket. Kemudian melicinkan
permukaan akar gigi dengan scaling dan garis gusi untuk membantu penyembuhan dan
mencegah infeksi atau peradangan lebih lanjut. Ekstraksisi gigi penyebab dilakukan jika
penyakit periodontal yang mendasarinya sudah sangat berat dan didapatkan gigi goyang
terutama dengan derajat yang berat.
C. Bedah
Jika terjadi infeksi berulang maka dapat dilakukan pembentukan kembali jaringan gusi
dan membuang periodontal pocket. Dalam beberapa kasus, infeksi abses gingiva dapat
terulang bahkan setelah prosedur pembedahan. Jika ini terjadi, atau jika gigi telah pecah,
mungkin perlu dibuang semuanya.
KOMPLIKASI

Gigi lepas.
Perluasan abses ke spasium lain (Abses submukosa, abses subpalatal, abses
submandibula, abses bucal, abses subkutan, dll)

Infeksi ke jaringan lunak (selulitis fasial, angina Ludwig).

Infeksi ke jaringan tulang (osteomielitis mandibula atau maksila).

Infeksi ke bagian tubuh lain menyebabkan abses serebral, endokarditis,


pneumonia, dll.
Dapat terjadi sepsis

Anda mungkin juga menyukai