Anda di halaman 1dari 13

Makalah Sediaan Khusus

Kit Radiofarmasi
Rheumatik Artritis dan Kanker Ovarium

Oleh:
Kelompok 4
Festires Kurnia Harefa
Filda Afriyati.S.
Hanifah
Hikal Abdullah
Jenny Destri

Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi


Padang
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang Kit Radiofarmasi dalam penyakit rheumatik artritis dan kanker
ovarium ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga
kami berterima kasih pada Ibuk Henny Rosaini M.Si selaku Dosen mata kuliah
Sediaan Khusus STIFARM yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai Kit Radiofarmasi, dan juga bagaimana
aplikasinya dalam penyakit rheumatik artritis dan kanker ovarium. Kami juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh
dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan
demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang
akan datang.

Kit Radiofarmasi
Rheumatik Artritis dan Kanker Ovarium
A. Kit Radiofarmasi
Teknologi nuklir untuk kemanusiaan telah terbukti sebagai salah satu
teknologi yang dapat memberi manfaat bagi seluruh bangsa di dunia, termasuk
Indonesia. Peningkatan kesejahteraan manusia melalui pemanfaatan teknologi
nuklir telah diimplementasikan dalam berbagai bidang diantaranya bidang
kesehatan, pertanian, hidrologi, industri, dan energi.
Teknologi produksi radioisotop dan radiofarmaka, serta pemanfaatan operasi
siklotron, harus senantiasa ditingkatkan pengembangan dan pendayagunaannya
agar dapat memenuhi kebutuhan pemakai. Pengembangan teknologi produksi
radioisotop dan radiofarmaka diarahkan pada inovasi produk berdayaguna tinggi
dan strategis sehingga dapat dimanfaatkan langsung dalam bidang kesehatan,
industri dan bidang-bidang lain. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)
melakukan penelitian dan pengembangan teknologi radioisotop dan radiofarmaka.
Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka penguasaan teknologi produksi
radioisotop dan radiofarmaka serta teknologi siklotron yang kompetitif dan
berdayaguna untuk kesejahteraan bangsa.
Radiofarmaka memegang peranan penting dalam perkembangan pengobatan
masa kini dan mendatang. BATAN telah mengembangkan radiofarmaka untuk
diagnostik dan terapi, terutama dalam penanganan penyakit kanker. Cara kerja
Pemberian radiofarmaka ke dalam tubuh pasien umumnya melalui injeksi atau
secara oral. Dengan modilitas tertentu, hasil pencitraan akan menunjukkan
seberapa jauh penyebaran dan akumulasi radiofarmaka tersebut dalam tubuh.
Intensitas pencitraan akan lebih kontras pada organ yang berpernyakit.
Radiofarmaka merupakan senyawa radioaktif yang digunakan kedalam tubuh
dengan cara diminumkan, disuntikkan atau dihisap melalui saluran pernafasan,
baik untuk tujuan terapi maupun diagnostic serta mengalami metabolisme ke
dalam tubuh manusia. Radiofarmaka adalah atom yang memancarkan radiasi
untuk mendeteksi kanker dalam tubuh, karena memiliki daya tembus yang tinggi.

Radiofarmaka diagnostik dikembangkan untuk pencitraan berbagai macam


organ dengan menggunakan peralatan kedokteran nuklir seperti SPECT dan PET
dengan akurasi yang tinggi. Pengembangan radiofarmaka terapi menggunakan
antibodi monoklonal dan peptida telah terbukti memberikan hasil. Untuk
pemenuhan

kebutuhan

ee'Tc

di

rumah

sakit,

BATAN

telah

berhasil

mengembangkan teknologi generator eeMo/ee-Tbce rbasisP ZC (Poly Zirconium


Compound) yang menggunakan Mo-99 dari hasil iradiasi Mo alam.
Selain digunakan untuk keperluan diagnosis dan terapi penyakit, radiofarmaka
juga digunakan untuk menghilangkanr asas akit (paliatif) yang disebabkan oleh
metastasis

kanker ke tulang. BATAN telah mengembangkan beberapa

radiofarmaka paliatif ini. Pengembangank it RIA/IRMA untuk pemeriksaan invitro untuk kegunaan klinis terutama dalam hal penentuan kandungan analit
petanda tumor (tumor marker) juga telah dilakukan di BATAN, meliputi kit untuk
deteksi kanker ovarium dan payudara. Kit RIA/IRMA untuk non klinis untuk
menentukan kesuburan hewan ternak telah memasuki tahap pendayagunaan.
Pemberian radiofarmaka ke dalam tubuh pasien oleh dokter di rumah sakit
umumnya melalui injeksi, atau dapat diberikan secara oral. Dengan modalitas
tertentu seperti SPECT dan PET, hasil pencitraan akan menunjukkan seberapajauh
penyebaran dan akumulasi radiofarmaka tersebut dalam tubuh. Intensitas
pencitraan akan lebih kontras pada organ yang berpenyakit. Dari sudut keamanan,
pemakaian radiofarmaka dengan monoclonal antibody memberikan efek safety
yang tinggi karena dapat membunuh sel kanker secara terarah tanpa mengganggu
atau merusak sel/organ tubuh yang sehat.
Radiofarmaka terdiri dari dua komponen yaitu :
Komponen pembawa materi membawa bahan radioaktif ke organ tubuh
tertentu yang dapat ditempati atau dapat menangkap pembawa materi tersebut
Komponen radioaktif berada di organ tersebut dan menjadi sumber radiasi
Kit radiofarmaka adalah suatu bentuk sediaan yang mengandung senyawa dan
pereaksi dalam jumlah yang terukur dengan pelarut (kit basah) atau tanpa pelarut
(kit kering) yang diformulasi sedemikian rupa dan apabila diperlukan sudah siap
pakai untuk sediaan radiofarmasi tinggal menambahkan larutan radioisotop.

Rusaknya kit radiofarmaka sebelum waktu daluwarsa habis dapat dilihat dari
bentuk fisik (appearance) atau dari daya gunanya (performance). Secara fisik
dapat diamati dari bau, warna sediaan yang sudah berubah atau berwarna setelah
dilarutkan, serta perubahan pada kelarutannya. Dari segi performance terlihat
bahwa sediaan radiofarmaka tersebut tidak masuk ke organ yang dituju. Hal ini
sangat merugikan semua pihak, baik pemakai (pihak rumah sakit dan pasien)
maupun produsen sendiri.
Penyebab
1. Bahan baku
2. Komposisi dan kemasan kit radiofarmaka
3. Fungsi alat yang digunakan selama proses pembuatan kit
4. Reduktor
5. Kekeringan kit
6. Kualitas vial dan septa
7. proses preparasi yang tidak sesuai
Efek
1. radiokimia tersebut akan masuk ke organ lain
2. membentuk radikal bebas
3. merusak jaringan tubuh
4. penyakit akan menyebar ke jaringan yang normal
Cara mengatasi
Untuk menghindari instabilitas kit radiofarmaka ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan antara lain :
1. mutu bahan dasar
2. alat yang digunakan dan proses
3. pengerjaan harus sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan.
Berbagai ketentuan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:
1. pembuatan harus berfungsi dengan baik
2. komposisi kit sesuai dengan yang ditentukan
3. volume penandaan harus dalambatas-batas yang dipersyaratkan dan
4. kemasan harus memenuhi syarat dengan memperhatikan sifat senyawa
yang
terkandung dalam kit tersebut.
Berbagai

parameter

yang

menjadi

bahan

pertimbangan

mendesain sediaan radiofarmaka adalah sebagai berikut :


1. Spesifisitas

dalam

2.
3.
4.
5.
6.

Stoikhiometri
Muatan listrik dan berat molekul dari senyawa bertandanya
Kelarutan
Stabilitas
Lipofilisitas dan ikatan dengan protein plasma.

B. Kanker Ovarium
Sebuah penyakit di mana ovarium yang hanya di miliki wanita memiliki
perkembangan sel-sel abnormal. Secara umum, kanker ovarium merupakan suatu
bentuk kanker yang menyerang ovarium. Kanker ini bisa berkembang sangat
cepat, bahkan, dari stadium awal hingga stadium lanjut bisa terjadi hanya dalam
satu tahun saja. Kanker ovarium merupakan suatu proses lebih lanjut dari
suatu tumor malignan di ovarium. Tumor malignan sendiri merupakan suatu
bentuk perkembangan sel-sel yang tidak terkontrol sehingga berpotensi menjadi
kanker.
Beberapa gejala umum kanker ovarium adalah sebagai berikut:
1.

Sering marasakan nyeri di perut

2.

Ukuran perut semakin besar

3.

Susah makan atau tidak nafsu makan

4.

Sering merasa kekenyangan

5.

Sering muntah dan buang air besar

6.

Kembung terus-menerus

7.

Terjadi pendarahan pada vagina

8.

Berat badan turun secara signifikan

9.

Sering merasa lelah dan sakit kepala

Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Ovarium


Sama seperti kanker pada umumnya, penyebab kanker ovarium juga belum
diketahui secara pasti. Tetapi para pakar menduga terdapat beberapa faktor yang
bisa meningkatkan risiko seorang wanita untuk terkena kanker ini.
Faktor-faktor risiko tersebut meliputi:

Usia.

Kanker ovarium cenderung terjadi pada wanita berusia 50 tahun ke atas.

Faktor

keturunan dan genetika. Risiko Anda untuk terkena kanker ovarium akan

meningkat jika ada anggota keluarga kandung yang mengidap kanker ovarium
atau kanker payudara. Begitu juga dengan pemilik gen BRCA1 dan BRCA2.
Terapi

penggantian hormon estrogen, terutama yang jangka panjang dan berdosis

tinggi.
Mengidap
Tidak

endometriosis.

pernah hamil.

Mengalami

siklus menstruasi sebelum usia 12 tahun dan menopause setelah usia

50 tahun.
Menjalani

proses pengobatan kesuburan.

Merokok.
Menggunakan

alat kontrasepsi IUD.

Proses Diagnosis Kanker Ovarium


Setelah menanyakan gejala yang dialami, riwayat kesehatan
keluarga,

dan

melakukan

pemeriksaan

fisik,

selanjutnya

pemeriksaan lebih mendetail. Proses tersebut biasanya meliputi


USG, tes darah dan biopsi.Teknik yang banyak dilakukan adalah
dengan in-vitro assay, yaitu teknik immunoradiometricassay (IRMA)
atau disebut juga dengan penggunaan kit IRMA CA-125 dengan
menentukan kadar antigen CA-125 dalam serum darah seseorang yang
diduga mengidap kanker ovarium. Di dalam serum darah manusia
normal ditemukan kadar CA-125 tidak lebih dari 35 U/ml . Teknik IRMA
merupakan salah satu teknik immunoassay

yang menggunakan

radionuklida sebagai perunut agar dalam jumlah kecil masih mudah


dideteksi. Teknik ini sangat cocok digunakan untuk penentuan tumor
marker yang kadarnya sangat bervariasi pada orang normal dan
pasien kanker, dalam serum yang memiliki matriks yang kompleks.
Teknik assay ini didasarkan pada reaksi antara antigen (Ag) yang
terdapat pada cuplikan/standard dan antibodi yang bertanda radioaktif
(Ab*) dalam jumlah berlebih membentuk kompleks antigen-antibodi
(Ag-Ab*). Dengan demikian, semakin tinggi kadar antigen (Ag), makin

tinggi pula kompleks antigen-antibodi yang terbentuk sehingga akan


memberikan cacahan radioaktivitas yang kian tinggi.

Carbohydrate Antigen-125 (CA-125) adalah glikoprotein antigenik yang


dilepaskan ke darah penderita kanker ovarium, dengan kadar sangat rendah pada
awalnya dan meningkat sesuai dengan keganasan kanker, sehingga deteksi kanker
ovarium dapat dilakukan dengan mengukur kadar rendah senyawa CA-125 di
dalam darah. Metode yang sesuai adalah immunoradiometricassay (IRMA).
Jika proses diagnosis menunjukkan positif mengidap kanker
ovarium, langkah berikutnya adalah mencari tahu stadium dan
perkembangan kanker. Proses ini umumnya meliputi CT atau MRI
scan, rontgen dada, serta prosedur biopsi untuk mengambil
sampel cairan rongga perut dan jaringan ovarium.
Mengetahui stadium kanker yang Anda derita akan membantu
dokter untuk menentukan langkah pengobatan terbaik untuk
Anda.
Secara umum, stadium kanker ovarium terbagi dalam
empat kategori yang meliputi:
Stadium

1: Kanker hanya menyerang salah satu atau kedua

ovarium tapi belum menyebar ke organ lain.


Stadium

2: Kanker sudah menyebar dari ovarium ke jaringan di

sekitar panggul.
Stadium

3:

Kanker

sudah

menyebar

ke

selaput

perut,

permukaan usus, dan kelenjar getah bening di panggul.


Stadium

4: Kanker sudah menyebar hingga bagian lain tubuh,

misalnya ginjal, hati, dan paru-paru.


Langkah Pengobatan Kanker Ovarium
Masing-masing pengidap kanker ovarium bisa membutuhkan
pengobatan yang berbeda. Hal ini akan ditentukan berdasarkan
stadium kanker, kondisi kesehatan, dan keinginan Anda untuk
memiliki keturunan. Langkah utama dalam pengobatan kanker
ovarium adalah operasi dan kemoterapi.

Terapi Tumor atau Kanker


Berbagai jenis tumor atau kanker dapat diterapi dengan radiasi. Sebenarnya,
baik sel normal maupun sel kanker dapat dirusak oleh radiasi tetapi sel kanker
atau tumor ternyata lebih sensitif (lebih mudah rusak). Oleh karena itu, sel kanker
atau tumor dapat dimatikan dengan mengarahkan radiasi secara tepat pada sel-sel
kanker tersebut.
Radioterapi
Teknik terapi radiasi mencakup instilasi kromium fosfat radioaktif ke
intraperitoneal dan radiasi external-beam ke abdomen dan pelvis. Pasien dengan
karsinoma epithelial ovarium yang dipilih untuk mendapat irradiasi pasca operasi
harus mendapat terapi pada seluruh abdomen dan juga radiasi padapelvis.
Lapangan terapi yang luas ini didasarkan pada analisis terhadap kekambuhan
pasca irradiasi pada tumor stadiumI dan II, yang menunjukkan bahwa sebagian
besar kekambuhan atau rekurensi terjadi diluar pelvis. Tidak ada penutup pada
pelvis, dan sel-sel maligna akan meluruh dari tumor ovarium primer dan
bersirkulasi melalui seluruh rongga abdomen. Penyebaran limfatik juga mungkin
terjadi (Gondo). Dua teknik terapi radiasi yang berbeda telah digunakan untuk
irradiasi abdomen. Biasanya digunakan portal yang besar, dengan dosis 25003000 cGy diberikan selama 4-5 minggu ke seluruh abdomen. Ginjal dan
kemungkinan lobus kanan hepar dilindungi untuk membatasi dosis hingga 200025000 cGy. Biasanya prosedur ini menyebabkan mual dan muntah. Terapi radiasi
sebagai terapi lini kedua pada pasien dengan kemoterapi persisten atau kanker
oarium rekuren semakin banyak pendukungnya.
Brakiterapi
Brakiterapi (internal radiotherapy) yaitu sumber radiasi diletakkan di
dalam tubuh pasien. Banyak digunakan untuk terapi kanker rahim (Ca cervix).
C. Artritis Reumatoid
Radang sendi atau artritis reumatoid (bahasa Inggris: Rheumatoid Arthritis,
RA) merupakan penyakit autoimun (penyakit yang terjadi pada saat tubuh
diserang oleh sistem kekebalan tubuhnya sendiri) yang mengakibatkan

peradangan dalam waktu lama pada sendi. Penyakit ini menyerang persendian,
biasanya mengenai banyak sendi, yang ditandai dengan radang pada membran
sinovial dan struktur-struktur sendi serta atrofi otot dan penipisan tulang.
Umumnya penyakit ini menyerang pada sendi-sendi bagian jari, pergelangan
tangan, bahu, lutut, dan kaki. Pada penderita stadium lanjut akan membuat si
penderita tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan kualitas hidupnya
menurun. Gejala yang lain yaitu berupa demam, nafsu makan menurun, berat
badan menurun, lemah dan kurang darah. Namun kadang kala si penderita tidak
merasakan gejalanya. Diperkirakan kasus Rheumatoid Arthritis diderita pada usia
di atas 18 tahun dan berkisar 0,1% sampai dengan 0,3% dari jumlah penduduk
Indonesia.
Gejala
Penderita selalu menunjukkan simtoma ritme sirkadia dari sistem kekebalan
neuroindokrin. umumnya ditandai dengan adanya beberapa gejala yang
berlangsung selama minimal 6 minggu, yaitu :
1.

Kekakuan pada dan sekitar sendi yang berlangsung sekitar 30-60 menit di
pagi hari

2.

Bengkak pada 3 atau lebih sendi pada saat yang bersamaan

3.

Bengkak dan nyeri umumnya terjadi pada sendi-sendi tangan

4.

Bengkak dan nyeri umumnya terjadi dengan pola yang simetris (nyeri
pada sendi yang sama di kedua sisi tubuh) dan umumnya menyerang sendi
pergelangan tangan

Pada tahap yang lebih lanjut, dapat dikarakterisasi juga dengan adanya nodulnodul rheumatoid, konsentrasi rheumatoid factor (RF) yang abnormal dan
perubahan radiografi yang meliputi erosi tulang.

Penyebab Rheumatoid Arthritis

Penyebab rheumatoid arthritis adalah sistem kekebalan tubuh yang


seharusnya melawan infeksi, tetapi justru menyerang sel normal pada persendian
dan membuat sendi terasa nyeri, bengkak, dan kaku.
Walau alasan kenapa sistem kekebalan tubuh keliru menyerang tubuh
dalam rheumatoid arthritis masih belum diketahui, ada beberapa faktor yang bisa
meningkatkan risiko, seperti faktor usia, hormon, genetika, dan kebiasaan
merokok.
Diagnosis Rheumatoid Arthritis
Ada beberapa tes yang bisa membantu diagnosis rheumatoid arthritis,
yaitu pemeriksaan fisik, tes darah, dan pemindaian X-ray. Penanda Rheumatoid
Arthritis terdahulu: Rheumatoid Factor (RF) merupakan antibodi yang sering
digunakan dalam diagnosis RA dan sekitar 75% individu yang mengalami RA
juga memiliki nilai RF yang positif. Kelemahan RF antara lain karena nilai RF
positif juga terdapat pada kondisi penyakit autoimun lainnya, infeksi kronik, dan
bahkan terdapat pada 3-5% populasi sehat (terutama individu usia lanjut).Oleh
karena itu, adanya penanda spesifik dan sensitif yang timbul pada awal penyakit
sangat dibutuhkan. Anti-cyclic citrullinated antibody (anti-CCP antibodi)
merupakan penanda baru yang berguna dalam diagnosis RA. Walaupun memiliki
keterbatasan, RF tetap banyak digunakan sebagai penanda RA dan penggunaan
RF bersama-sama anti-CCP antibodi sangat berguna dalam diagnosis RA. AntiCCP IgG merupakan penanda RA yang baru dan banyak digunakan dalam
diagnosis kondisi RA. Beberapa kelebihan Anti-CCP IgG dalam kondisi RA
antara lain :
1. Anti-CCP IgG dapat timbul jauh sebelum gejala klinik RA muncul.
Dengan adanya pengertian bahwa pengobatan sedini mungkin sangat
penting untuk mencegah kerusakan sendi, maka penggunaan Anti-CCP
IgG untuk diagnosis RA sedini mungkin sangat bermanfaat untuk
pengobatan sedini mungkin.
2. Anti-CCP IgG sangat spesifik untuk kondisi RA. Antibodi ini terdeteksi
pada 80% individu RA dan memiliki spesifisitas 98%. Antibodi ini juga

bersifat spesifik karena dapat membedakan kondisi RA dari penyakit


artritis lainnya.
3. Anti-CCP IgG dapat menggambarkan risiko kerusakan sendi lebih lanjut.
Individu dengan nilai anti-CCP IgG positif umumnya diperkirakan akan
mengalami kerusakan radiologis yang lebih buruk bila dibandingkan
individu tanpa anti-CCP IgG.

Terapi Dengan Radiosinovektomi


Radiosinovektomi dengan bermacam-macam sediaan radiofarmaka telah
digunakan untuk mengurangi rasa sakit serta pembengkakan pada rheumatoid
arthritis dan penyakit persendian lainnya yang diperkenalkan oleh Fellinger dan
Schmidt sejak tahun 1952. Teknik terapi dengan radiosinovektomi dilakukan
dengan cara penyuntikan sediaan radiofarmaka pemancar sinar ke daerah
sinovial. Radiasi sinar tersebut akan menghancurkan atau merusak membran
yang meradang. Bila jaringan yang meradang telah hilang, jaringan baru yang
sehat dan normal akan terbentuk. Keuntungan radiasi menggunakan sinar adalah
daya tembusnya di dalam jaringan hanya beberapa milimeter saja, sehingga
tingkat kerusakan jaringan yang sehat disekitarnya dapat ditekan seminimal
mungkin.
Pengobatan Rheumatoid Arthritis
Pengobatan rematoid artritis selama ini dilakukan dengan cara
pembedahan yaitu dengan mengangkat membran sinovial yang meradang yang
disebut juga sinovektomi. Cara ini dianggap kurang praktis, sehingga diupayakan
untuk menggantikannya dengan cara sinovektomi radiasi. Telah dilakukan
percobaan pembuatan mikrosfer albumin bertanda Samarium-153 yang akan
digunakan untuk sinovektomi radiasi. Telah dilakukan serangkaian percobaan
untuk memperoleh kondisi pembuatan mikrosfer albumin yang optimal meliputi
waktu dan kecepatan pengadukan pada pembentukan partikel mikrosfer, dan
variasi parameter yang mempengaruhi reaksi penandaan dengan 153Sm yang
meliputi pH, jumlah natrium sitrat, Sm2O3 dan jumlah mikrosfer albumin.

Efisiensi penandaan diamati dengan cara memisahkan mikrosfer bertanda dan


cairan supernatannya, kemudian mengukur prosentase radio aktivitas mikrosfer
bertanda tersebut. Partikel albumin diharapkan berbentuk bulat berukuran rata rata
15-50 m. Efisiensi penandaan lebih dan 80 % dan 153Sm terikat kuat pada
partikel. Pengujian stabilitas in vitro 153Sm- mikrosfer albumin dilakukan dengan
cara mengamati ion 153Sm yang lepas dan partikel setelah partikel albumin
bertanda ini diinkubasi dalam larutan NaCl 0.9 % dan larutan HSA selama 7 hari,
sedangkan uji in vivo atau uji biodistribusi dilakukan dengan mengamati radio
aktivitas pada sendi yang diijeksi radioaktivitas selama 7 hari setelah
suspensi 153Sm-mikrosfer albumin disuntikkan secara intraartikular pada lutut
tikus putih. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kecepatan dan waktu
pengadukan yang dapat menghasilkan partikel dengan bentuk dan ukuran yang
diinginkan ialah 750 rpm selama 15 menit. Penandaan mikrosfer albumin
dengan 153Sm menghasilkan efisiensi penandaan tertinggi pada kondisi pH 5-6,
kadar natrium sitrat 10 mg/mL, kadar Sm2O3 125 g/mL dan jumlah partikel
mikrosfer albumin 10 mg. Sediaan mikrosfer 153Smalbumin yang diperoleh
stabil sampai hari ke-5 penyimpanan dalam lemari es.