Anda di halaman 1dari 11

.

Tinjauan Pustaka
Trauma Tumpul pada Mata

Nama :
Putri Chairani (112014007)
Nathania Putri Tambunan (112014009)

Pembimbing:
dr. Bambang
dr. Devi

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
RSUD Tarakan Jakarta Pusat
Periode 13 Juli 2015 22 Agustus 2015

1 | Page

TINJAUAN PUSTAKA
Walaupun mata mempunyai sistem pelindung yang cukup baik seperti rongga orbita,
kelopak, dan jaringan lemak retrobulbar selain terdapat nya reflek memejam atau mengedip,
mata sering mendapat trauma dari luar. Trauma mata merupakan penyebab umum kebutaan
unilateral pada anak dan dewasa muda, kelompok usia ini mengalami sebagian besar cedera
mata yang parah . Dewasa muda terutama pria merupakan kelompok yang paling mungkin
mengalami trauma tembus mata. Kecelakaan di rumah dan pada saat bekerja, kekerasan,
ledakan aki, cedera yang berhubungan dengan olahraga, dan kecelakaan lalu lintas.
Merupakan keadaan-keadaan yang paling sering menyebabkan trauma. Akibat dari trauma
bisa sangat ringan yang hanya sedikit mengganggu fungsi dan kosmetik sampai sangat berat
dah bahkan menyebabkan kematian. Kerusakan yang

diakibatkan oleh trauma akan

memberikan penyulit sehingga mengganggu fungsi penglihatan.


Pada mata dapat terjadi trauma dalam bentuk-bentuk berikut :
-

Trauma tumpul
Trauma tembus bola mata
Trauma kimia
Trauma radiasi

Anatomi dan histologi kornea

Gambar 1

2 | Page

Kornea (Latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata
yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan
terdiri atas lapis:
1. Epitel
Epitel kornea merupakan lapis paling luar kornea dengan tebal 50 m dan berbentuk epitel
gepeng berlapis tanpa tanduk.Bagian terbesar ujung saraf kornea berakhir pada epitel
ini.Setiap gangguan epitel akan memberikan gangguan sensibilitas kornea berupa rasa sakit
atau mengganjal. Daya regenerasi epitel cukup besar, sehingga apabila terjadi kerusakan akan
diperbaiki dalam beberapa hari tanpa membentuk jaringan parut.
2. Membran Bowman
Membran bowman yang terletak di bawah epitel merupakan suatu membrane tipis yang
homogen terdiri atas susunan serat kolagen kuat yang mempertahankan bentuk kornea. Bila
terjadi kerusakan pada membrane bowman maka akan berakhir dengan terbentuknya jaringan
parut.
3. Stroma
Merupakan lapisan yang paling tebal dari kornea dan terdiri atas jaringan kolagen yang
tersusun dalam lamel-lamel dan berjalan sejajar dengan permukaan kornea.Di antara seratserat kolagen ini terdapat matriks. Stroma bersifat higroskopis yang menarik air dari bilik
mata depan. Kadar air di dalam stroma kurang lebih 70%. Kadar air dalam stroma relative
tetap yang diatur oleh fungsi pompa sel endotel dan penguapan oleh epitel. Apabila fungsi sel
endotel kurang baik maka akan terjadi kelebihan kadar air, sehingga timbul sembab kornea
(edema kornea). Serat di dalam stroma demikian teratur sehingga memberikan gambaran
kornea yang transparan atau jernih. Bila terjadi gangguan dari susunan serat di dalam stroma
seperti edema kornea dan sikatriks kornea akan mengakibatkan sinar yang melalui kornea
terpecah dan kornea terlihat keruh.

3 | Page

Gambar 2
4. Membran Descement
Merupakan suatu lapisan tipis yang bersifat kenyal, kuat, tidak berstruktur dan bening,
terletak di bawah stroma.Lapisan ini merupakan pelindung atau barrier infeksi dan masuknya
pembuluh darah.
5. Endotel
Terdiri atas satu lapis sel yang merupakan jaringan terpenting untuk mempertahankan
kejernihan kornea.Sel endotel adalah sel yang mengatur cairan di dalam stroma kornea.
Endotel tidak mempunyai daya regenerasi sehingga bila terjadi kerusakan, endotel tidak akan
normal lagi. Endotel dapat rusak atau terganggu fungsinya akibat trauma bedah, penyakit
intraocular.Usia lanjut akan mengakibatkan jumlah endotel berkurang.Kornea tidak
mengandung pembuluh darah, jernih dan bening, selain sebagai dinding, juga berfugsi sebagai
media penglihatan. Dipersarafi oleh nervus V
Fisiologi kornea
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas cahaya
menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan oleh strukturnya yang uniform, avaskuler
dan deturgesensi. Deturgesensi atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan
oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel.Dalam
mekanisme dehidrasi ini, endotel jauh lebih penting daripada epitel, dan kerusakan kimiawi
atau fisis pada endotel berdampak jauh lebih parah daripada kerusakan pada epitel.Kerusakan
sel-sel endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya,
kerusakan pada epitel hanya menyebabkan edema stroma kornea lokal sesaat yang akan
4 | Page

meghilang bila sel-sel epitel telah beregenerasi. Penguapan air dari lapisan air mata
prekorneal menghasilkan hipertonisitas ringan lapisan air mata tersebut, yang mungkin
merupakan faktor lain dalam menarik air dari stroma kornea superfisial dan membantu
mempertahankan keadaan dehidrasi.
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam perjalanan
pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan
tidak ada pembuluh darah.Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari
kornea.Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan
bayangan yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat
menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil.

Definisi
Trauma tumpul mata adalah trauma padamata yang diakibatkan benda yang keras atau benda
yang tidak keras dengan ujung yang tumpul, yang secara langsung mengenai organ atau akibat
dari getaran yang ditimbulkannya oleh karena benturan dengan benda tumpul. Akibat yang
ditimbulkan dapat berupa kontusio atau jika gaya yang mengenai orbita sangat kuat dapat
mengakibatkan ruptur bola mata.
Anamnesis
Trauma mata oleh benda tumpul merupakan peristiwa yang sering terjadi. Kerusakan
jaringan yang terjadi akibat trauma demikian bervariasi mulai dari yang ringan hingga berat
bahkan sampai kebutaan. Untuk mengetahui kelainan yang ditimbulkan perlu diadakan
pemeriksaan yang cermat, terdiri atas anamnesis dan pemeriksaan.
Pada anamnesis kasus trauma mata ditanyakan mengenai :

Proses terjadinya trauma

Benda apa yang mengenai mata tersebut

Bagaimana arah datangnya benda yang mengenai mata itu


(Apakah dari depan, samping atas, samping bawah, atau dari arah lain)

Bagaimana kecepatannya waktu mengenai mata

5 | Page

Berapa besar benda yang mengenai mata

Bahan benda tersebut


(Apakah terbuat dari kayu, besi atau bahan lainnya)

Apabila terjadi pengurangan penglihatan ditanyakan :

Apakah pengurangan penglihatan itu terjadi sebelum atau sesudah kecelakaan tersebut

Kapan terjadi trauma itu

Apakah trauma tersebut disertai dengan keluarnya darah dan rasa sakit

Apakah sudah pernah mendapatkan pertolongan sebelumnya.

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada penderita trauma mata harus dilakukan secara hati-hati dan teliti.
Keterangan bisa diperoleh baik dari korban trauma ataupun saksi mata pada saat kejadian.
Anestesi topikal akan membuat pasien merasa nyaman, sehingga dianjurkan memberikan
tetrakain atau pantokain tetes mata agar saat pemeriksaan penderita tidak merasa nyeri.
Pemeriksaan visus harus dilakukan, bila perlu dalam kondisi berbaring. Beberapa
pemeriksaan objektif

bisa dilakukan kemudian setelah pasien dalam keadaan tenang.

Perhatikan secara seksama apakah ada ruptur palpebra atau konjungtiva. Adanya kelainan
pada kornea berupa erosi, vulnus, dan perforasi. Perlu mendapat perhatian. Keadaan bilik
mata depan apakah dalam,dangkal , apakah ada hifema, benda asing di bilik mata depan, serta
adanya prolapsus iris harus diamati dengan teliti. Daerah yang paling lemah dan sering
mengalami ruptur adalah limbus kornea serta tempat perlekatan muskulus rektus dan oblikus
okuli. Kemungkinan adanya benda asing di kornea atau konjungtiva termasuk benda asing di
konjungtiva superior yang hanya bisa diketahui dengan cara membalik harus dicari dengan
teliti. Kemungkinan adanya benda asing intraokular harus selalu dicurigai pada adanya
trauma tembus.

Etiologi

6 | Page

Trauma tumpul pada mata dapat diakibatkan benda yang keras atau benda yang tidak
keras, dimana benda tersebut dapat mengenai mata dengan keras ataupun lambat. Trauma
tumpul akibat objek yang cukup kecil dan tidak menyebabkan impaksi pada pinggir orbita
(bola squash, sumbat botolmerupakan beberapa penyebab trauma). Perubahan tekanan
mendadak dandistorsi bola mata dapat menyebabkan kerusakan berat. Masuknya benda
asing (logam, debu, kayu, bahan tumbuhan, kaca, dan bahkan bulu serangga) ke dalam
kornea dapat terjadi saat memukulkan logam atau batu, tertiup ke mata oleh angin dan
juga lewat cara-cara lain yang tidak lazim. Biasanya ukuran benda asing itu kecil, terdapat
sisi yang tajam, dan dengan kecepatan yang tinggi. Hal ini dapat terjadi saat memukulkan
logam ke logam, memahat ataupun mengoperasikan bor logam. Benda kecil dengan
kecepatan tinggi yang masuk ke mata biasanya mengakibatkan kerusakan minimal dari
jaringan sekitar. Seringkali, luka di kornea atau antara kornea dan sklera bisa menutup
sendiri. Tempat akhir dari benda asing didalam mata dan juga kerusakan yang ditimbulkan
olehnya ditentukan oleh beberapa faktor antara lain ukuran,bentuk dan juga momentum
saat terjadi benturan, serta seberapa dalam penetrasinya di bola mata.

Patofisiologi
Trauma tumpul yang mengenai mata dapat menyebabkan robekan pada pembuluh darah
iris, akar iris dan badan silier sehingga mengakibatkan perdarahan dalam bilik mata depan.
Iris bagian perifer merupakan bagian paling lemah. Suatu trauma yang mengenai mata
akan menimbulkan kekuatan hidralis yang dapat menyebabkan hifema dan iridodialisis,
serta merobek lapisan otot spingter sehingga pupil menjadi ovoid dan non reaktif. Tenaga
yang timbul dari suatu trauma diperkirakan akan terus ke dalam isi bola mata melalui
sumbu anterior posterior sehingga menyebabkan kompresi ke posterior serta menegangkan
bola mata ke lateral sesuai dengan garis ekuator. Hifema yang terjadi dalam beberapa hari
akan berhenti, oleh karena adanya proses homeostatis. Darah dalam bilik mata depan akan
diserap sehingga akan menjadi jernih kembali.

Gejala klinis
7 | Page

Tanda dan Gejala


Mata merah
Rasa sakit
Penglihatan kabur
Penurunan visus
Infeksi konjunctiva
Trauma tumpul dapat menimbulkan perlukaan ringan yaitu penurunan penglihatan sementara
sampai berat, yaitu perdarahan didalam bola mata, terlepasnya selaput jala (retina) atau
sampai terputusnya saraf penglihatan sehingga menimbulkan kebutaan menetap.
Pemeriksaan fisis
Sebisa mungkin dilakukan pemeriksaan oftalmik lengkap termasuk
pemeriksaan visus, reaksi pupil, lapangan pandang, pergerakan otot-otot
ekstraokular, tekanan intraokular, pemeriksaan slit lamp, funduskopi dan lain-lain
Pemeriksaan tajam penglihatan harus dilakukan, dengan memperhatikan untuk
tidak menambah tekanan pada bola mata.
2
Jika memungkinkan, penentuan tajam penglihatan didahulukan
daripada pemeriksaan lainnya atau pengobatan dan tes setiap mata
secara terpisah dengan lensa koreksi. Tes pinhole dapat membantu
membedakan kelainan refraktif dari penglihatan yang belum
dikoreksi ketika kacamata tidak tersedia,
Tujuan dari tes adalah untuk mendapat keterangan penglihatan
secepat mungkin setelah trauma. Pemeriksa harus dapat
melaporkan status penglihatan pasien kepada dokter mata.
Gunakan alat pemeriksa tajam penglihatan yang sesuai usia seperti
Snellen chart, logmar, atau rosenbaum.
Jika penglihtan pasien terbatas, tentukan apakah pasien dapat
menghitung jari, lambaian tangan, atau persepsi cahaya.
Pemeriksaan Slit lamp
Periksa kornea dengan slit lamp untuk mencari penetrasi pada bilik
mata depan. Bilik mata depan yang dangkal, pupil yang tidak bulat
(bentuk air mata), hifema (darah pada bilik mata depan),
gelembung pada bilik mata depan, atau kornea yang mendatar
dapat menandakan perforasi kornea.
Kebocoran Aqueous humor dari bilik mata depan dapat diketahui
dengan melakukan seidel test. Tes ini dilakukan dengan
memberikan langsung fluoresin pada lesi kornea. Visualisasi dari
zat warna yang mencair dibawah cahaya hitam (tes positif)
menandakan kebocoran. Seidel tes yang negatif (tidak ada
pencairan fluoresin) menandakan trauma partial-thickness tetapi
8 | Page

mungkin terlihat kecil atau lesi yang menutup spontan.


Pastikan memeriksa benda asing yang terdapat di bilik mata depan,
terutama jika riwayat pasien menunjukkan laserasi kornea dari
benda kecil dengan kecepatan tinggi (seperti menempa logam).
Laserasi Full-thickness corneal
o Semua perforasi kornea perlu dirujuk ke dokter mata
o Jangan menekan bola mata
o Segera beri perlindungan pada mata yang terkena
o Minta pasien untuk tidak menggerakkan mata karena kontraksi otot
ekstraokular dapat menyebablan ekstrusi isi intraocular.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Trauma Tumpul Bola Mata
Prinsip penanganan trauma tumpul bola mata adalah apabila tampak jelas adanya ruptur bola
mata, maka manipulasi lebih lanjut harus dihindari sampai pasien mendapat anestesi umum. Sebelum
pembedahan, tidak boleh diberikan sikloplegik atau antibiotik topikal karena kemungkinan toksisitas
obat akan meningkat pada jaringan intraokular yang terpajan. Antibiotik dapat diberikan secara
parenteral spektrum luas dan pakai pelindung pada mata. Analgetik, antiemetik, dan antitoksin tetanus
diberikan sesuai kebutuhan, dengan restriksi makan dan minum. Induksi anestesi umum harus
menghindari substansi yang dapat menghambat depolarisasi neuromuskular, karena dapat
meningkatkan secara transien tekanan bola mata, sehingga dapat memicu terjadinya herniasi isi
intraokular.
Pada trauma yang berat, ahli oftalmologi harus selalu mengingat kemungkinan timbulnya
kerusakan lebih lanjut akibat manipulasi yang tidak perlu sewaktu berusaha melakukan pemeriksaan
mata lengkap. Anestetik topikal, zat warna, dan obat lainnya yang diberikan ke mata yang cedera
harus steril.
Kecuali untuk cedera yang menyebabkan ruptur bola mata, sebagian besar efek kontusiokonkusio mata tidak memerlukan terapi bedah segera. Namun, setiap cedera yang cukup parah untuk
menyebabkan perdarahan intraokular sehingga meningkatkan risiko perdarahan sekunder dan
glaukoma

memerlukan

perhatian

yang

serius,

yaitu

pada

kasus

hifema.

Kelainan pada palpebra dan konjungtiva akibat trauma tumpul, seperti edema dan perdarahan
tidak memerlukan terapi khusus, karena akan menghilang sendiri dalam beberapa jam sampai hari.
Kompres dingin dapat membantu mengurangi edema dan menghilangkan nyeri, dilanjutkan dengan
kompres hangat pada periode selanjutnya untuk mempercepat penyerapan darah. Pada laserasi
kornea , diperbaiki dengan jahitan nilon 10-0 untuk menghasilkan penutupan yang kedap air. Iris atau
korpus siliaris yang mengalami inkarserasi dan terpajan kurang dari 24 jam dapat dimasukkan ke
dalam bola mata dengan viskoelastik. Sisa-sisa lensa dan darah dapat dikeluarkan dengan aspirasi dan
irigasi mekanis atau vitrektomi. Luka di sklera ditutup dengan jahitan 8-0 atau 9-0 interrupted yang
9 | Page

tidak dapat diserap. Otot-otot rektus dapat secara sementara dilepaskan dari insersinya agar tindakan
lebih mudah dilakukan.
Prognosis pelepasan retina akibat trauma adalah buruk, karena adanya cedera makula,
robekan besar di retina, dan pembentukan membran fibrovaskular intravitreus. Vitrektomi merupakan
tindakan

yang

efektif

untuk

mencegah

kondisi

tersebut.

Pada hifema, bila telah jelas darah telah mengisis 5% kamera anterior, maka pasien harus
tirah baring dan diberikan tetes steroid dan sikloplegik pada mata yang sakit selama 5 hari. Mata
diperiksa secara berkala untuk mencari adanya perdarahan sekunder, glaukoma, atau bercak darah di
kornea

akibat

pigmentasi

hemosiderin.

Penanganan

hifema,

yaitu

1. Pasien tetap istirahat ditempat tidur (4-7 hari ) sampai hifema diserap.
2.Diberi tetes mata antibiotika pada mata yang sakit dan diberi bebat tekan.
3. Pasien tidur dengan posisi kepala miring 60 diberi koagulasi.
4. Kenaikan TIO diobati dengan penghambat anhidrase karbonat. (asetasolamida).
5. Di beri tetes mata steroid dan siklopegik selama 5 hari.
6. Pada anak-anak yang gelisah diberi obat penenang
7. Parasentesis tindakan atau mengeluarkan darah dari bilik mata depan dilakukan bila ada tandatanda imbibisi kornea, glaukoma sekunder, hifema penuh dan berwarna hitam atau bila setelah 5 hari
tidak terlihat tanda-tanda hifema akan berkurang.
8. Asam aminokaproat oral untuk antifibrinolitik.
9. Evakuasi bedah jika TIO lebih 35 mmHg selama 7 hari atau lebih 50 mmH selama 5 hari.
10. Vitrektomi dilakukan bila terdapat bekuan sentral dan lavase kamar anterior.
11.

Viskoelastik

dilakukan

dengan

membuat

insisi

pada

bagian

limbus.

Pada fraktur orbita, tindakan bedah diindikasikan bila:


- Diplopia persisten dalam 30 derajat dari posisi primer pandangan, apabila terjadi penjepitan
- Enoftalmos 2 mm atau lebih
- Sebuah fraktur besar (setengah dari dasar orbita) yang kemungkinan besar akan menyebabkan
enoftalmos.
Penundaan pembedahan selama 1 2 minggu membantu menilai apakah diplopia dapat
menghilang sendiri tanpa intervensi. Penundaan lebih lama menurunkan kemungkinan keberhasilan
10 | P a g e

perbaikan enoftalmos dan strabismus karena adanya sikatrik. Perbaikan secara bedah biasanya
dilakukan melalui rute infrasiliaris atau transkonjungtiva. Periorbita diinsisi dan diangkat untuk
memperlihatkan tempat fraktur di dinding medial dan dasar. Jaringan yang mengalami herniasi ditarik
kembali ke dalam orbita, dan defek ditutup dengan implan.

11 | P a g e